Anda di halaman 1dari 35

I.

JUDUL : PENDETEKSIAN UTILITAS PIPA METAL BAWAH


PERMUKAAN MENGGUNAKAN METODE GROUND
PENETRATING RADAR (GPR) (STUDI KASUS BANDARA
NGURAH RAI BALI)

II. PENDAHULUAN

2.1 Latar Belakang

Pendeteksian maupun identifikasi terhadap objek yang terkubur di bawah


permukaan tanah merupakan salah satu topik yang terus dikembangkan hingga
saat ini. Banyak kegiatan yang membutuhkan informasi mengenai keadaan bawah
permukaan tanah secara efisien tanpa harus menggali dan merusak permukaan
seperti dalam hal pencarian barang tambang, pencarian ranjau darat, perawatan
kabel-kabel maupun pipa-pipa yang ditanam di dalam tanah, dan penentuan
struktur lapisan bawah permukaan tanah.

Georadar atau Ground Penetrating Radar (GPR) adalah salah satu metode
geofisika yang bertujuan untuk mencitra kondisi bawah permukaan bumi. Metode
ini bersifat tidak merusak dan mempunyai resolusi yang tinggi, tetapi terbatas
sampai kedalaman beberapa puluh meter saja. Istilah GPR mengacu pada sebuah
metode geofisika yang menggunakan teknik gelombang elektromagnetik yang
diciptakan untuk merekam corak atau karakteristik bawah permukaan. GPR
mengirim pulsa energi antara 10-1000 MHz ke dalam tanah oleh antena pemancar
jika mengenai suatu lapisan atau objek dengan suatu konstanta dielektrik yang
berbeda. Pulsa akan dipantulkan kembali dan diterima oleh antena penerima,
waktu dan besar pulsa direkam. Metode ini telah banyak digunakan dalam
berbagai aplikasi seperti arkeologi, teknik sipil, forensik, geologi dan utilitas
deteksi (Daniels, 2004).

Gelombang yang dipancarkan oleh antena transmitter ke dalam tanah akan


dipantulkan kembali oleh reflektor akibat perbedaan sifat elektromagnetik seperti
konstanta dielektrik dan konduktivitas dengan lingkungan sekitarnya. Adanya

1
kontras nilai konstanta dielektrik pada batas permukaan, menyebabkan
terpantulnya gelombang radar dan kecepatan gelombang radar.
Pemetaan pipa bawah permukaan dilakukan untuk membantu dalam
perawatan jika terjadi kerusakan pada pipa. Dengan adanya hasil pemetaan
tersebut akan dapat membantu dalam mengetahui titik keberadaan pipa yang
mengalami kerusakan, dan jika akan dilakukan pemasangan pipa yang baru.
Adanya hasil pemetaan ini juga akan membantu untuk mengetahui area mana saja
yang merupakan area pemasangan pipa bawah permukaan, dan ketika akan
dipasang pipa bawah permukaan yang baru tidak akan merusak pipa yang telah
dipasang sebelumnya.
Dalam hasil pengolahan data Ground Penetreting Radar (GPR) dapat
diketahui kenampakan pipa bawah permukaan, kabel listrik, serta besi kongkrit
dan rebar. Ketika gelombang elektromagnetik yang dihasilkan oleh antena GPR
melewati suatu medium seperti pipa, kabel, dan rebar maka akan diterima antena
reciever dalam bentuk data GPR. Data yang diterima oleh antena reciever akan
berbentuk U atau V terbalik yang seringkali disebut dengan bentuk hiperbolik.
Hal ini terjadi karena ketika antena memancarkan gelombang dan ketika
gelombang direfleksikan akan membentuk lintasan yang menyerupai kerucut,
sehingga target dapat terdeteksi.
Pada penelitian ini, metode (GPR) digunakan untuk melihat kenampakan
atau utilitas bawah permukaan Bandara Ngurah Rai Bali. Bandara Ngurah Rai
Bali adalah salah satu bandara Internasional Indonesia yang dibangun pada
tahun1930 ( Gambar. 1) . Bandara Ngurah Rai Bali memiliki tingkat aktivitas
ketiga tertinggi setelah bandara Internasional Soekarno-Hatta dan bandara
Internasionan Juanda. Dengan banyaknya aktivitas maka banyak pula fasilitas
yang diperlukan seperti halnya listrik, air dan sebagainya. Karena terbatasnya
lokasi diatas permukaan tanah dalam hal pemasangan pipa, kabel dan sebagainya,
maka bawah permukaan tanah merupakan solusi yang dapat dipergunakan dalam
pemasangan pipa dan kabel tersebut. Hal ini melandasi pengunaan metode GPR
dalam penelitian ini karena pada dasarnya banyak sekali pipa yang terpasang
dibawah permukaan pada area bandara Ngurah Rai Bali. Dengan adanya hasil

2
pengolahan data serta identifikasi terhadap hasil survei GPR pada area bandara,
diharapkan akan membantu dalam proses pemetaan letak pipa, yang dapat
dipergunakan jika akan dilakukan pemasangan pipa bawah permukaan yang baru
dan perawatan pipa lama jika terjadi kerusakan.

Gambar. 1 Peta Pulau Bali dan letak Bandara Ngurah Rai Bali.

3
2.2 Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah dituliskan diatas, maka penulis


mengemukakan rumusan masalah sebagai berikut :

1. Bagaimana cara mengidentifikasi keberadaan pipa bawah permukaan


berdasarkan hasil pengolahan data GPR?
2. Bagaimana karakteristik pipa berdasarkan hasil pengolahan data GPR ?

2.3 Batasan Masalah

Adapun batasan masalah dalam penulisan tugas akhir ini adalah sebagai
berikut :

1. Data yang digunakan merupakan data hasil survei metode GPR pada area
sekitar Bandara Ngurah Rai Bali.
2. Identifikasi dilakukan hanya sebatas untuk melihat keberadaan pipa serta
jaringan pipa, yang akan digunakan dalam proses pemetaan keberadaan
pipa.

2.4 Tujuan

Adapun tujuan yang ingin dicapai dari penelitian yang dilakukan ini adalah
sebagai berikut :

1. Mengetahui titik keberadaan pipa Metal bawah permukaan pada daerah


penelitian.
2. Memetakan letak keberadaan pipa Metal berdasarkan hasil pengolahan
data GPR.
2.5 Manfaat

Manfaat penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi, memetakan


keberadaan pipa Metal, sehingga jika akan dilakukan pemasangan pipa baru tidak

4
akan merusak pipa yang telah terpasang sebelumnya, dan memudahkan dalam
perawatan pipa jika terjadi kerusakan.

III. TINJAUAN PUSTAKA

3.1 Pengertian Metode Ground Penetrating Radar (GPR)

Ground Penetrating Radar (GPR) merupakan suatu alat yang digunakan


untuk proses deteksi benda – benda yang terkubur di bawah tanah dengan tingkat
kedalaman tertentu, menggunakan gelombang radio, biasanya dalam range 10
MHz sampai 1GHz. Seperti pada sistem radar pada umumnya, sistem GPR
terdiri atas pengirim (trasmitter), yaitu antena yang terhubung pada sumber pulsa,
dan bagian penerima (receiver), yaitu antena yang terhubung pada unit
pengolahan sinyal dan citra.

Adapun dalam menentukan tipe antena yang digunakan, sinyal yang


ditransmisikan dan metode pengolahan sinyal tergantung pada beberapa hal, yaitu:

 Jenis objek yang akan dideteksi


 Kedalaman Objek
 Karakteristik elektrik medium tanah

Dari proses pendeteksian seperti di atas, maka akan didapatkan suatu citra
dari letak dan bentuk objek yang terletak di bawah tanah. Untuk menghasilkan
pendeteksian yang baik, suatu sistem GPR harus memenuhi empat persyaratan
sebagai berikut :
 Kopling radiasi yang efisien ke dalam tanah,
 Penetrasi gelombang elektromagnetik yang efisien,
 Menghasilkan sinyal dengan amplitudo yang besar dari objek yang
dideteksi,
 Band width yang cukup untuk menghasilkan resolusi yang baik.

5
3.2 Prinsip Kerja Metode Ground Penetrating Radar (GPR)

GPR sering dibandingkan dengan survey seismik refleksi. Sama halnya


dengan seismik yang dihasilkan ketika suatu gelombang seismik mengenai suatu
lapisan dibawah permukaan yang memiliki ciri fisik material berbeda, GPR
refleksi dihasilkan ketika suatu pulsa mengenai suatu objek atau lapisan dengan
karakteristik elektromagnetik berbeda. Objek dengan karakteristik
elektromagnetik berbeda mungkin berupa tangki bawah tanah, lapisan sedimen,
muka air tanah, atau batas daerah contaminant plume. Pada dasarnya, pemantulan
terjadi ketika ada suatu peningkatan konstanta dielektrik material di bawah
permukaan.

Konstanta dielektrik digambarkan sebagai kapasitas suatu material untuk


menyimpan muatan ketika suatu medan listrik diaplikasikan relatif diruang hampa
dengan kapasitas yang sama, dan dapat dihitung menggunakan persamaan sebagai
berikut :

2
c
r    (3.1)
v
dengan :

 r = Konstanta dielektrik relatif (farad/m)

c = Cepat rambat cahaya ( m/s )

v = Cepat rambat energi elektromagnet pada material (m/s)

6
Jika suatu pulsa GPR mengenai suatu lapisan atau objek dengan suatu
konstanta dielektrik berbeda, pulsa akan dipantulkan kembali, diterima oleh
antena receiver, waktu dan besaran pulsa direkam seperti ditunjukan oleh gambar
di bawah ini.

Gambar 2. Prinsip Kerja GPR (K. Budiono 2010)

Pada banyak kasus antena transmitter dan receiver adalah sama. Selama
transmitter GPR terus bergerak pada permukaan tanah dengan kecepatan konstan,
pada saat itulah gambar permukaan datar dapat diambil. Pada dasarnya GPR
bekerja dengan memanfaatkan pemantulan sinyal. Semua sistem GPR pasti
memiliki rangkaian pemancar (transmitter) yaitu sistem antena yang terhubung ke
sumber pulsa, dan rangkaian penerima (receiver), yaitu sistem antena yang
terhubung ke tempat pengolahan sinyal. Rangkaian pemancar akan menghasilkan
pulsa listrik dengan bentuk prf (pulse repetition frequency), energi dan durasi
tertentu. Pulsa akan dipancarkan oleh antena kedalam tanah dan pulsa ini akan
mengalami atenuasi dan cacat sinyal lainnya selama perambatannya di tanah. Jika
tanah bersifat homogen, maka sinyal dipantulkan akan sangat kecil. Jika pulsa
menabrak suatu inhomogenitas didalam tanah, maka akan ada sinyal yang
dipantulkan ke antena penerima. Kedalaman objek dapat diketahui dengan

7
mengukur selang waktu antara pemancar dan penerima pulsa. Dalam selang waktu
ini, pulsa akan bolak balik dari antena ke objek dan kembali lagi ke antena. Jika
selang waktu dinyatakan dalam t, dan kecepatan propagasi gelombang
elektromagnetik dalam tanah adalah v, maka kedalaman objek dapat dinyatakan
dalam h sehingga dapat dirumuskan sebagai berikut :

1
h tv (3.2)
2

Untuk mengetahui kedalaman objek yang dideteksi, kecepatan perambatan


dari gelombang elektromagnetik haruslah diketahui. Kecepatan perambatan
tersebut tergantung kepada kecepatan cahaya di udara, konstanta dielektrik relatif
medium perambatan. Perambatan tersebut dapat kita tuliskan sebagai berikut :

 c 
v 
   (3.3)
 r

Dengan frekuensi unit GPR (kebanyakan memiliki variabel frekuensi),


kecepatan sinyal elektromagnetik sehingga panjang gelombang sinyal dapat
ditentukan dengan rumus sebagai berikut :

v
 (3.4)
f

dengan :

 = Panjang gelombang (Meter)

v = Cepat rambat energi elektromagnetik pada material (m/s)

f = Frekuensi (Hz)

Jika konstanta dielektrik medium semakin besar maka kecepatan gelombang


elektromagnetik yang dirambatkan akan semakin kecil.

8
GPR secara berkala memancarkan gelombang elektromagnetik ke bawah
permukaan bumi, dan pantulannya diterima oleh antena penerima. Hasil
tangkapan ini direkam oleh GPR, dan hasilnya berupa gambar (image).

3.3 Persamaan Maxwell

Untuk memahami pemanfaatan gelombang elektromagnetik dalam


aplikasinya terhadap struktur bumi serta menentukan sifat listrik dan magnetik,
biasanya diawali dengan persamaan Maxwell.
Persamaan Maxwell terdiri atas empat persamaan medan, masing-masing
dapat dipandang sebagai hubungan antara medan dengan distribusi sumber
(muatan atau arus) yang bersangkutan.
Untuk menyederhanakan masalah, sifat fisik medium diasumsikan tidak
bervariasi terhadap waktu dan posisi (homogen isotropis). Maka persamaan
Maxwell dapat ditulis sebagai berikut :
 Persamaan Maxwell I, persamaan yang menyatakan bahwa medan listrik
dihasilkan dari perubahan medan induksi magnet:
B
 E   (3.5)
t
 Persamaan Maxwell II, persamaan yang menyatakan bahwa medan
magnet dihasilkan dari aliran arus:
D
 H  J  (3.6)
t
 Persamaan Maxwell III, persamaan yang menyatakan berlakunya sifat
loop tertutup perpindahan listrik pada suatu rapat muatan listrik:
 D  q (3.7)

9
 Persamaan Maxwell IV, persamaan yang menyatakan berlakunya sifat
loop tertutup untuk flux magnet jika tidak terdapat arus magnet bebas:
B  0 (3.8)
dengan :
E  Kuat medan Listrik ( Volt/ meter )
B  Induksi magnet ( Weber / meter2 )
D  Perpindahan Listrik (Coulomb / meter2 )
H  Kuat medan magnet ( Ampere / meter )
q  Rapat muatan listrik (Coulomb / meter3 )

J  Rapat Arus ( Ampere / meter2 )

3.4 Persamaan Material

3.4.1 Permitivitas Listrik

Permitivitas listrik relatif berkaitan dengan kemampuan untuk


mempolarisasikan dan mengontrol kecepatan gelombang elektromagnetik
dalam medium tersebut.

Persamaan yang menunjukkan hubungan intensitas medan listrik dan


pergeseran adalah :

D E (3.9)

Dengan  adalah permitivitas listrik.

Permitivitas listrik relatif berkaitan dengan kemampuan dari medium


untuk mempolarisasi medan listrik dan menentukan keceptan gelombang
elektromagnetik yang berjalan pada suatu medium.
Untuk medium yang berbeda, harga permitivitas relatif  r akan
menentukan harga kecepatan di media.

10
3.4.2 Konduktivitas Listrik

Persamaan Maxwell dapat menunjukkan karakteristik dan sifat


elektromagnetik, walaupun kenyataannya persamaan tersebut tidak memiliki
hubungan yang jelas antara sifat medan elektromagnetik dengan struktur
atau sifat bawah permukaan bumi.
Hubungan penting yang menunjukkan kaitan tersebut adalah hukum
Ohm, yang menghubungkan rapat arus dengan intensitas medan listrik
sebagai berikut :
J E (3.10)
dengan σ adalah konduktifitas listrik medium.
Konduktifitas suatu mineral tidak harus konstan, bergantung pada
waktu, temperatur, tekanan dan faktor lingkungan.

3.4.3 Permeabilitas Magnetik

Persamaan yang sangat berperan dalam aplikasi persamaan Maxwell


terhadap bumi, yang menghubungkan kuat medan magnetik dan induksi
magnetik :

B  H (3.11)

dimana μ adalah permeabilitas magnetik medium. Berbeda dengan sifat


permitivitas dan konduktifitas listrik, dalam eksplorasi geofisika harga
permeabilitas biasanya tidak bergantung dari kuat medan listrik, tetapi pada
medan magnetik.

dengan:

   0 x r  Permitivitas listrik medium (farad/meter)

 0  Permitivitas listrik dalam ruang vakum  8.85 1012 (farad/meter)

11
  0 r  Permeabilitas magnetik medium (Henry/meter)

0  Permeabilitas magnetik ruang vakum  4 107 (Henry/meter)

r  Permeabilitas magnetik relatif medium

  Konduktivitas listrik (Seimens/meter)

3.5 Sifat Dielektrik Material Bumi

Sifat dielektrik bumi dapat dijelaskan dengan permitivitas listrik (ε) dan
konduktifitas listrik (σ) yang saling berhubungan (Reynold, 1997).
Konduktivitas dan permitivitas dielektrik dinyatakan dalam persamaan
kompleks yaitu sebagai berikut :

     '    j ''   (3.12)

     '    j ''   (3.13)

Batuan umumnya memiliki konduktivitas seperti halnya polarisasi. Untuk medan


listrik harmonik, konduktivitas efektif σ* didefinisikan:

 *     *'    j *''      j (3.14)

Sedangkan permitivitas efektif  * didefinisikan :

 *   *'  j *''    j /  (3.15)

Sehingga dari persamaan 9 dan 10 dapat diperoleh :

 ''     '   
 *     '     j   ''   (3.16)
   

dengan melihat persamaan 12 dan 13 diatas jika frekuensi mendekati nol


maka  ' = Nilai real konduktivitas, sedangkan jika frekuensi mendekati tak
hingga maka  ' = Nilai real permitivitas.

12
Tabel 3.1 Konstanta dielektrik  K  , Konduktivitas Listrik   kecepatan  v 

dan atenuasi   dalam berbagai medium untuk frekuensi 100MHz

(Annan, 2001 dalam Nurhadi, 2006)

Material K  (mS/m) v
(nm/s)  (db/m)

Udara 1 0 0.3 0

Air Distilasi 80 0.01 0.033 2 x 10-3

Air Murni 80 0.5 0.033 0.1

Air Laut 80 3 x 103 0.01 103

Pasir Kering 3-5 0.01 0.15 0.01

Pasir Tersaturasi 20-30 0.1-1 0.06 0.03-0.3

Gamping 4-8 0.5-2 0.12 0.4-1

Serpih 5-15 1-100 0.09 1-100

Lanau 5-30 1-100 0.07 1-100

Lempung 5-40 2-1000 0.06 1-300

Granit 4-6 0.01-1 0.13 0.01-1

Garam Kering 5-6 0.01-1 0.13 0.01-1

Es 3-4 0.01 0.16 0.01

13
3.6 Perambatan Gelombang Radar

Prinsip perambatan gelombang radar merupakan prinsip gelombang


elektromagnetik. Persamaan Maxwell merupakan suatu perumusan dasar untuk
mengetahui perilaku penjalaran gelombang elektromagnetik didalam suatu
material. Penjalaran gelombang dapat ditulis dengan persamaan gelombang satu
dimensi seperti berikut :

2 E
 2 E   0
t 2 (3.17)

Solusi persamaan di atas adalah :

E  E0 e  j (t  kr )
(3.18)

dengan K adalah parameter perambatan atau bilangan gelombang, bagian rill dari
k berkaitan dengan faktor fasa   , rad / m  dan bagian Imajiner berkaitan dengan

konstanta atenuasi  , db / m  . Bagian rill dan imajiner bilangan gelombang k

dapat dituliskan kembali yang diungkapkan dalam bentuk faktor fasa konstanta
atenuasi :

k    i (3.19)

1
  
 2  2  
1 2
  
  2     1    1 
 2   2 2  
   (3.20)

dan

1
 
 2  2  
1 2
1   
    1  2 2   1 
  2     
  (3.21)

14
dimana   2 f , f adalah frekuensi (Hz),  adalah permeabilitas magnetik

 4 10 7
H / m  ,  konduktivitas Bulk pada frekuensi yang diberikan  S / m 

dan  adalah permitivitas dielektrik dimana    r  8.85 1012 F / m dan  r

 
merupakan konstanta dielektrik relatif Bulk. Sedangkan besaran   ekivalen
  

terhadap loss factor  P dimana P  tan D . Dari persamaan (21)

1
didefinisikan skin depth    saat tan D  1 , yang dapat dituliskan :

1
2  
     
2
(3.22)
    

dan secara numerik :

5.31  r
 (3.23)

Dimana  dalam mS/m.

Bilangan gelombang k merupakan fungsi dari sifat fisis bumi dan tergantung
pada frekuensi, sedangkan panjang gelombang bergantung pada konsanta listrik,
yaitu :

2
 (3.24)
 (  )1/ 2

15
Medan elektromagnetik yang merambat tersebut dapat digunakan untuk
mengukur jarak dari antena transmisi kesuatu massa batuan (reflektor) dan ke
antena penerima atau kedalaman dan besar frekuensi yang digunakan akan sangat
mempengaruhi kedalaman penetrasi dan resolusi radargram. Kedalaman dapat
dinyatakan sebagai resolusi optimal yang telah dirumuskan secara empiris, yaitu :

 75
d   (3.25)
 4  f r

Dengan f = frekuensi maksimum (Hz). Untuk kondisi ideal resolusi sama dengan
1/ 4 , tetapi pada kenyataannya adalah sekitar sepertiga sampai setengah panjang
gelombang.

3.7 Kecepatan Gelombang Radar

Kecepatan gelombang elektromagnet pada medium tergantung pada


frekuensi, konduktivitas listrik, konstanta dielektrik dan permeabilitas magnet,
yang secara matematis diturunkan sebagai berikut:

 c
Vm   (meter/sekon) (3.26)
  r r
1  tan D  1
2

dimana c adalah kecepatan cahaya di udara, εr adalah konstanta dielektrik relatif

dan μr adalah permeabilitas magnetik relatif. tan 2 D merupakan loss factor .


tan 2 D  (3.27)


16
Sebagian besar medium bawah permukaan kurang bersifat magnet (μr=1)

dan merupakan material dengan kondukivitas yang kecil (σ ≈ 0), maka kecepatan
gelombang dapat dituliskan seperti dibawah ini:

c 0.3
Vm   (meter/nanosekon) (3.28)
r r

dimana ε adalah konstanta dielektrik relatif.


r

3.8 Refleksi dan Transmisi Gelombang Elektromagnetik

Koefisien refleksi adalah perbandingan energi yang direfleksikan dengan


energi datang. Sedangkan koefisien transmisi adalah perbandingan energi yang di
transmisikan dengan energi datang. Kedua koefisien tersebut ditentukan oleh
perbedaan cepat rambat gelombang elektromagnetik dan lebih mendasar lagi
adalah perbedaan dari konstanta dielektrik relatif dari media yang berdekatan.

Sinyal elektromagnetik yang dipancarkan kedalam bumi selain dipantulkan


(Refleksi) ada juga diteruskan (Transmisi). Sinyal yang ditransmisikan ini akan
melemahkan sinyal refleksi begitu pula sebaliknya. Oleh karena itu refleksi yang
terbaca pada receiver mengalami pelemahan sebagai fungsi kedalaman. Secara
matematis dapat dirumuskan sebagai berikut :

V2  V1  r1   r 2
R 
V2  V1  r1   r 2
(3.29)

2V2
T
V2  V1 (3.30)

dengan :

1  Konstanta dielektrik pada lapisan 1

 2  Konstanta dielektrik pada lapisan 2

17
V1  Kecepatan rambat gelombang dalam medium 1

V2  Kecepatan rambat gelombang dalam medium 2

3.9 Hamburan Gelombang Elektromagnetik (Scattering)

Penerimaan gelombang hasil refleksi (Pemantulan) dari lapisan tanah tidak


selalu sempurna. Hal ini desebabkan karena sifat gelombang elektromagnetik itu
sendiri seperti refleksi, transmisi, dan absorpsi. Selain itu kondisi lapangan juga
berpengaruh terhadap refleksi dari sinyal elektromagnet.

Ketika gelombang mengenai suatu permukaan yang menjadi objek hampir


datar, maka gelombang hanya mengalami sedikit hamburan. Sedangkan ketika
gelombang mengenai objek permukaan berupa cekungan, maka gelombang akan
difokuskan karena bidang refleksinya yang berbentuk cekungan. Gelombang akan
mengalami hamburan acak ketika sinyal refleksi yang diterima receiver tidak
sempurna.

3.10 Skin Depth

Kedalaman pada saat amplitudo menjadi 1/e (sekitar 37%) dari amplitudo
permukaan dikenal sebagai kedalaman kulit (skin depth ). Kedalaman ini didalam
metode EM sering ditengarai sebagai kedalaman penetrasi gelombang. Pada
medium konduktor kedalaman penetrasi (skin depth) dalam metode GPR sangat
dipengaruhi oleh frekuensi yang digunakan saat pengambilan data. Semakin tinggi
frekuensi yang digunakan maka semakin dangkal kedalaman penetrasinya tetapi
memiliki resolusi yang tinggi. Untuk medium berkonduktivitas tinggi, jika
   , maka :


a (3.31)
2

18
1
 (3.32)

  2 f (3.33)
1
1 1 2 1   2
       503   (3.34)
a  r  r   f  f 
2

Tabel 4 Hubungan Frekuensi dengan kedalaman (Azizah, 2015)

Antena Frekuensi (MHz) Aproksimasi Range Penetrasi Kedalaman


Kedalaman (m) Maksimum (m)
25 5-30 35-60
40 4-20 20-30
100 2-15 15-25
200 1-10 5-15
400 1-5 3-10
1000 0.05-2 0.5-4

3.11 Resolusi

Resolusi menunjukkan suatu kemampuan untuk memisahkan dua objek


yang berbeda pada jarak yang berdekatan. Hal ini berhubungan erat dengan target
atribut geometri termasuk bentuk, ukuran, ketebalan dan lain-lain.

Ada dua komponen resolusi yang bekerja pada GPR, yaitu resolusi vertikal
dan resolusi lateral. Resolusi vertikal adalah suatu kemampuan untuk
membedakan dua objek pada waktu yang berdekatan. Sedangkan resolusi lateral
adalah suatu kemampuan untuk membedakan dua objek yang berdekatan secara
lateral.

19
Gambar 3. Resolusi GPR dibagi menjadi 2 bagian: Resolusi Vertikal (Δr)
dan Resolusi Lateral (Δl) (diadopsi dari Syukur, 2009).

Resolusi vertikal dirumuskan sebagai berikut :

c
r  (3.35)
4

dengan :

r  Resolusi Vertikal (meter)

c  Panjang gelombang dari frekuensi tengah antena (meter)

Sedangkan resolusi Lateral dirumuskan sebagai berikut:

c d
L  (3.36)
2

dengan :

L  Resolusi Lateral (meter)

d  Kedalaman (meter)

20
3.12 Noise

Noise pada sistem GPR lebih sering disebabkan oleh faktor sifat fisik
kelistrikan seperti kehadiran pembangkit listrik. Pemancar FM dan komponen
elektronika lainnya disekitar area sistem dimana dapat memberikan interferensi
sinyal.

Dalam praktiknya yang sering muncul adalah fenomena frekuensi rendah


(komponen DC) yang berinterferensi secara periodik. Hal ini diakibatkan oleh
saturasi antara komponen instrumen penerima (receiver) dengan amplitudo tinggi
gelombang udara dan gelombang langsung sebagai konsekuensi interaksi antara
antena dan tanah. Kondisi yang bersifat basah menyebabkan hal ini terjadi dimana
sinyal tidak dapat merambat melainkan terdifusi kedalam tanah.

Selain itu noise ini dapat berupa refleksi maupun difraksi yang cukup kuat
yang diakibatkan oleh scattering oleh objek permukaan di atas tanah atau lintasan
survei. Kondisi permukaan tanah tertentu yang telah mengatenuasi lebih banyak
sinyal mengakibatkan sinyal banyak merambat di permukaan.

3.13 Cara Memperoleh Data Ground Penetrating Radar (GPR)

Profil penggambaran permukaan hasil pengolahan data GPR sangat


ditentukan oleh pengaturan mode dan parameter pengambilan data lapangan
karena akan menentukan tingkat keberhasilan pengambaran bawah permukaan.

Terdapat tiga jenis metode pengambilan data yang umum dilakukan sampai
saat ini, yaitu Radar Reflection Profiling, Wide Angle Reflection and Refraction
(WARR) atau Common Mid Point (CMP) Sounding dan Transillumination atau
Radar Tomography.

21
1. Radar reflection Profiling

Cara ini dilakukan dengan membawa antena radar bergerak bersama di atas
permukaan tanah. Selanjutnya tampilan pada radargram merupakan kumpulan tiap
titik pengamatan.

Gambar.3 Konfiguasi Radar reflection Profiling (Syukur, 2009).

2. Wide Angel Reflection and Refraction (WARR) atau Common Mid Point
(CMP)

Cara WARR sounding ini dilakukan dengan menaruh transmitter pada


posisi yang tetap dan receiver dibawa pada area penyelidikan. WARR sounding
diterapkan pada kasus dimana bidang reflektor relatif datar atau memiliki
kemiringan yang rendah, karena asumsi tidak selalu benar pada banyak kasus
maka digunakan CMP sounding dimana kedua antena bergerak menjauh satu
sama lain dengan titik tengah pada posisi yang tetap.

22
Gambar.4 Konfigurasi Common Mid Point (CMP) (diadopsi dari Syukur,2009).

Gambar.5 Konfigurasi Wide Angel Reflection and Refraction (WARR)


(diadopsi dari Syukur, 2009).

3. Transillumination atau Radar Tomography

Metode ini dilakuan dengan cara menempatkan transmiter dan receiver


pada posisi yang berlawanan. Sebagai contoh jika transmitter diletakan pada satu

23
sisi, maka receiver diletakan pada sisi yang lain dan saling berhadapan. Umumnya
metode ini digunakan pada kasus nondestructivetesting (NDT) dengan
menggunakan frekuensi antena yang tinggi sekitar 900 MHz.

Gambar.6 Konfigurasi Transillumination (diadopsi dari Syukur, 2009)

Ketika unit GPR bergerak sepanjang garis survey pulsa energi dipancarkan
dari antena transmisi dan pantulannya diterima oleh antena receiver (antena
transmisi dan antena receiver bisa sama). Antena receiver mengirimkan sinyal ke
recorder. Data direkam pada suatu visual readout, paper chart, komputer atau
kombinasi ketiganya.

Unit GPR dengan frekuensi tinggi dapat digunakan untuk keperluan


memeriksa jembatan beton dan struktur lain. Unit GPR dengan frekuensi rendah
dapat digunakan untuk mendeteksi gejala umum di bawah permukaan, seperti
lokasi muka air tanah, kedalaman bedrock, dan struktur sedimen bawah
permukaan.

24
3.14 Karakteristik kenampakan hasil penampang survei Ground Penetrating
Radar (GPR)

Dalam hasil pengolahan data Ground Penetreting Radar (GPR) kita dapat
mengetahui kenampakan Pipa bawah permukaan, kabel listrik, serta besi kongkrit
dan rebar, berikut ini gambar kenampakan benda- benda tersebut berdasarkan
hasil penampang survei Ground Penetrating Radar (GPR) :

Kabel diatas pipa PVC

Gambar 7. Kenampakan Kabel (Sumber: GSSI Handbook for Concrete


inspection)

25
Pipa PVC Pipa Metal

Gambar 8. Kenampakan Pipa (Sumber: GSSI Handbook for Concrete


inspection).

Besi Kongkrit Jala Kawat Besi

Gambar 9. Kenampakan besi kongkrit dan kawat jala (Sumber: GSSI


Handbook for Concrete inspection).

26
GPR Merupakan suatu alat yang digunakan dalam pendeteksian benda-
benda yang berada dibawah permukaan. Terutama benda dengan nilai
konduktivitas listrik yang rendah. Kecepatan perambatan gelombang
elektromagnetik yang dihasilkan oleh GPR dalam menembus suatu medium
sangat berpengaruh pada nilai konduktivitas bahan dan konstanta dielektrik suatu
bahan yang berada dibawah permukaan. Semakin tinggi nilai konstanta dielektrik
suatu bahan maka nilai kecepatan gelombang dalam melewati medium tersebut
akan semakin kecil, begitu pun sebaliknya jika nilai konstanta dielektrik suatu
bahan semakin rendah konstanta dielektrik suatu bahan maka nilai kecepatan
gelombang dalam melewati suatu bahan tersebut akan semakin besar.

Gelombang elektromagnetik yang dihasilkan oleh antena transmiter akan


direfleksikan pada batas dua medium yang berbeda ketika gelombang
elektomagnetik tersebut mengenai atau melewati dua buah medium dengan nilai
konstanta dielektrik yang berbeda. Pada saat ini kecepatan gelombang akan tiba-
tiba berubah, perbedaan nilai konstanta dielektrik yang tinggi akan menghasilkan
nilai refleksi yang besar, begitu pula sebaliknya jika perbedaan nilai konstanta
dielektrik antara dua bahan tidak terlalu tinggi atau rendah maka refleksi yang
dihasilkan juga rendah.

Ketika gelombang elektromagnetik yang dihasilkan oleh antena transmiter


GPR melewati suatu medium seperti pipa, kabel, dan rebar maka akan diterima
antena reciever dalam bentuk data GPR . Data yang diterima oleh antena reciever
akan berbentuk U atau V terbalik seperti gambar-gambar yang telah di tunjukan
diatas yang sering kali disebut dengan bentuk hiperbolik. Hal ini terjadi karena
ketika antena memancarkan gelombang dan ketika gelombang direfleksikan akan
membentuk lintasan yang menyerupai kerucut, sehingga target dapat terdeteksi.

27
Bentuk hiperbola yang dihasilkan menunjukan bahwa antena mendeteksi
suatu target, target tepat pada puncak hiperbola yang dihasilkan. Bentuk
hiperbola yang dihasilkan pada saat pengukuran sangat dipengaruhi oleh dua hal,
adapun dua hal yang sangat mempengaruhi bentuk hiperbola tersebut adalah
sebagai berikut :

1. Spasi Scan
Jika spasi scan yang digunakan besar maka akan di peroleh hasil
pendeteksian dengan bentuk hiperbola yang kecil, begitupun sebaliknya jika spasi
scan yang digunakan kecil akan dihasilkan hasil pendeteksian dengan bentuk
hiperbola yang luas atau besar.
2. Kecepatan Sinyal Gelombang Elektromagnetik
Seperti yang telah dibahas sebelumnya bahwa kecepatan gelombang
elektromagnetik ketika melewati suatu bahan sangat bergantung pada nilai
konstanta dielektrik, ketika kecepatan gelombang elektromagnetik tinggi ( nilai
konstanta dielektrik bahan rendah ) akan dihasilkan bentuk pendeteksian dengan
hiperbola yang lebih luas atau besar, begitupun sebaliknya ketika kecepatan
gelombang elektromagnetik rendah (nilai konstanta dielektrik bahan tinggi) akan
dihasilkan bentuk pendeteksian dengan hiperbola yang lebih sempit atau kecil.

Kecerahan (amplitudo) dari refleksi hiperbolik sangat dipengaruhi oleh nilai


konduktivitas bahan, benda-benda logam memiliki nilai kecerahan (nilai
amplitudo) atau refleksi yang kuat jika di bandingkan dengan pipa PVC
walaupun memiliki bentuk yang sama tapi nilai kecerahan (amplitudo) lebih
rendah.

Diameter target yang di deteksi juga berpengaruh terhadap kecerahar


refleksi, jika diameter target yang di deteksi besar maka akan deperoleh nilai
kecerahan yang tinggi dan begitu pula sebaliknya jika diameter target yang
terdeteksi kecil maka nilai keceraahan refleksi yang di hasilkan juga kecil.

28
IV. METODOLOGI

4.1 Waktu dan Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilakukan di Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan


Alam Universitas Tanjungpura Pontianak pada bulan September 2016 hingga saat
ini.

4.2 Data

Data yang dugunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder hasil survei
GPR di area Bandara Ngurah Rai Bali.

4.3 Proses Pengolahan Data

1. Input Data

Input data merupakan proses pemasukan data dari raw data hasil perekaman
(recording).

2. Editing

Setelah dilakukan input data, kemudian data tersebut ditampilkan (viewing)

dalam bentuk tampilan penampang GPR. Dalam proses viewing tersebut

dimungkinkan untuk dilakukan proses editing. Proses editing bertujuan untuk

merubah atau memperbaiki trace atau record dari hal-hal yang tidak diinginkan.

Proses data editing antara lain reorganisasi data, pengumpulan data file, data

header, repositioning dan penambahan informasi elevasi data.

3. Gain

Akibat adanya pelemahan energi sinyal pada batuan atau lapisan tanah,
dimana frekuensi tinggi diserap lebih cepat dibandingkan dengan frekuensi
rendah. Pada saat yang sama terjadi peyebaran bola (spherical divergence), yaitu

29
energi gelombang yang menjalar meluruh berbanding terbalik dengan kuadrat dari
sumber. Dari dua faktor di atas energi/ amplitudo gelombang yang terefleksikan
akan meluruh terhadap jarak dan waktu. Untuk menghilangkan pengaruh ini maka
dilakukan suatu penguatan kembali amplitudo yang hilang sedemikian rupa
sehingga seolah-olah pada setiap titik mempunyai energi yang sama. Penguatan
(gain) dilakukan sesuai dengan fungsi persamaan peluruhan energi.

Persamaan fungsi gain atau g  t  adalah sebagai berikut :

Gain  dB   At.  B(20log( f ))  C


(4.1)

dengan:

t = waktu

A = faktor atenuasi

B = faktor Spherical divergence

C = faktor konstanta gain

4. Dewow

Wow adalah salah satu noise frekuensi rendah yang dapat terekam oleh
sistem radar. Terjadi akibat instrumen elektronik tersaturasi oleh nilai amplitudo
besar dari gelombang langsung dan gelombang udara. Wow merupakan fenomena
induksi atau akibat keterbatasan dari kisaran dinamis instrumen, adanya input
energi yang besar dari gelombang udara dan gelombang permukaan menyebabkan
sinyal yang tertangkap pada receiver mengalami saturasi dan receiver tidak
mampu mengatur perubahan yang besar pada saat stacking. Hal inilah yang
menimbulkan induksi frekuensi rendah yang kemudian mengalami peluruhan
pada frekuensi tinggi dari trace sinyal yang datang.
Filter dewow merupakan filter yang digunakan untuk memulihkan kembali
sinyal yang tersaturasi atau mengembalikan fenomena wow.

30
5. DC-Sihft

DC-Shift bertujuan untuk mengembalikan posisi trace yang mengalami


pergeseran ke posisi normal. Nilai yang dimasukan dalam proses DC-Shift sama
dengan pada proses dewow.

6. Move Start Time


Move start time dipakai untuk mengetahui titik awal dari sinyal pertama
yang masuk. Proses ini berkaitan dengan konversi kedalaman (depth conversion)
yang selanjutnya akan menentukan posisi atau kedalaman dari target/ objek.

7. Koreksi Statik

Koreksi statik dilakukan dengan tujuan agar radargram yang kita lihat
sesuai dengan topografi daerah survey, sehingga radargram yang kita lihat
mendekati keadaan sebenarnya.

8. Bandpass Butterworth Filter

Filtering adalah proses memisahkan/menghilangkan frekuensi-frekuensi


yang tidak diinginkan (noise) dengan tujuan utuk melindungi sinyal primer.
Dalam pengolahan data GPR ada beberapa jenis filter yang biasa digunakan,
yaitu: Mean filter, Median filter, Bandpass frequency, Bandpass butterworth, dan
Notchfilter. Bandpass butterworth filter merupakan filter 1-D yang dikenal juga
sebagai flat filter yang secara maksimal dikarakterisasikan oleh flat bandpass,
jenis filter ini sering digunakan sebagai anti – alias filter.

9. Dekonvolusi
Dekonvolusi merupakan proses invers filter kuadrat terkecil (least-square
inverse filter) yang diaplikasikan kepada data untuk menghasilkan sumber
wavelet terkompresi (compressed source wavelet). Berdasarkan teorinya, pulsa
radar yang ditransmisikan ke bawah permukaan, mengalami perubahan bentuk

31
pada sebagian gelombang elektromagnet. Tujuan filter ini adalah mengembalikan
bentuk output “ideal” sehingga menyerupai deret koefisien refleksi. Salah satu
metode yang digunakan adalah spike dekonvolusi, dimana proses ini
mengasumsikan bahwa wavelet yang digunakan berupa spike, sehingga output
yang diharapkan adalah suatu trace yang mendekati deret koefisien refleksi.

10. Background Removal

Konsep dari filter ini merupakan 2 – D filter yang berkerja dalam domain
jarak dan waktu. Background removal sangat berguna dalam menghilangkan
“ringing” dari antena, efektif untuk memunculkan sinyal yang lemah serta
meningkatkan energi koheren secara horizontal sehingga memperbesar energi
sinyal secara lateral.

11. F-K Filter

Proses pemisahan sinyal refleksi dari noise sangat sulit, sehingga diperlukan
suatu proses untuk mempermudah, dimana data yang kita olah tidak pada domain
jarak-waktu, tapi kita transformasikan pada domain yang lain. F-K filter adalah
filter dua dimensi yang akan memfilter frekuensi temporal dan spasial. Filter ini
didesain dalam fungsi bilangan gelombang. F-K filter umumnya digunakan untuk
menghilangkan noise koheren, yaitu noise yang terjadi secara teratur dari trace ke
trace sepanjang profil. Filter ini efektif untuk menghilangkan noise koheren
seperti ringing, multipel, gelombang udara, dan tanah langsung.

12. Migrasi

Migrasi bertujuan untuk mengoreksi letak titik refleksi pada posisi


sebenarnya. Proses migrasi mengembalikan bentuk-bentuk difraksi hiperbola,
reflektor-reflektor miring kepada posisi sebenarnya. Dalam pengolahan data pada
penelitian ini proses migrasi menggunakan metoda Migrasi Diffraction Stack.
Migrasi Diffraction Stack merupakan algoritma migrasi yang cepat dan efektif

32
dalam perhitungan serta memberikan hasil yang baik untuk data. Selain itu
migrasi ini juga cukup baik dalam menghilangkan difraksi.

4.4 Diagram Alir Penelitian

Studi Literatur

Pengolahan data

Raw Data Editing Gain Dewow

Koreksi Statik Move Start Time DC-Sihft

Bandpass Dekonvolusi Background Removal


Butterworth

FK-Filter

Migrasi

Analisis dan hasil


Pengolahan Data

Hasil dan kesimpulan

Gambar. 7 Diagram Alir Penelitian

33
Daftar Pustaka

Annan, A.P. 2003. Ground Penetrating Radar Principles, Procedures


&Applications.
Annan, A.P, Davis, J. L. 1989. Ground - Penetrating Radar for High Resolution
Mapping of Soil and Rock Stratigraphy, Geophysical Prospeting, Vol 37,
Hal 531-551.

Azizah, N., 2015. Pemetaan Geologi Bawah Permukaan dan Perhitungan Sumber
daya Pasir Besi diPesisir Kulon Progo Daerah Istimewa Yogyakarta
dengan Metode Ground Penetrating Radar (GPR). Skripsi Jurusan Teknik
Geologi Universitas Jendral Soedirman. Purwokerto.

Bagus, N., 2006. Identifikasi Dan Pemodelan Kedepan Terowongan Kereta Api
Sasaksaat Dengan Metoda Ground Penetrating Radar. Skripsi Program
Studi Teknik Geofisika Fakultas Ilmu Kebumian dan Teknologi Mineral
Institut Teknologi Bandung. Bandung.

Budiono, K, Hernawan U., Godwin., 2010. Penafsiran Geologi Bawah


Permukaan Lumpur Lapindo Sidoarjo Berdasarkan Penampang Ground
Penetrating Radar (GPR). Jurnal Geologi Indonesia, Penelitian dan
Pengembangan Geologi Kelautan (PPPGL) Bandung. Bandung.
Daniels, D .J., 2004. Ground Penetrating Radar. IEEE Radar Series, London.

GSSI Hanbook for Radar Inspection of Concerte. Geophyisical survey System,


Inc. 2001.

Syukur, A., 2009. Pemetaan batuan dasar sungai menggunakan metode Ground
Penetrating Radar (GPR). Skripsi program studi Geofisika Universtias
Indonesia, Depok.

34
35