Anda di halaman 1dari 22

TUGAS PANCASILA

“BUDAYA MASYARAKAT KONAWE SELATAN DALAM MENGAMALKAN’’ SILA-


SILA PANCASILA DALAM KEHIDUPAN

OLEH:

DESIANTI
NIM: D1B118031
KELAS: A

PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI


FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS HALU OLEO
KENDARI
2018
PENERAPAN PANCASILA DALAM MASYARAKAT LALOWATU DALAM
KEHIDUPAN SEHARI-HARI

Manusia hidup di dunia ini dengan berbagai pemikirannya sendiri-sendiri.


Pemikiran tentang kehidupan itu menghasilkan berbagai kemajuan di dalam
berbagai aspek dalam kehidupan manusia. Entah itu kemajuan ilmu, teknologi,
budaya, dan lain sebagainya. Dari hasil pemikiran itu pula, muncul berbagai
pandangan hidup yang mengarahkan arah hidup manusia dan memiliki banyak
pengaruh terhadap dinamika kehidupan manusia. Kita biasa mengenal pandangan
hidup sebagai ideologi. Kamus Besar Bahasa Indonesia memberikan definisi
ideologi yaitu suatu kumpulan dari konsep bersistem yang dijadikan asas atau dasar
pendapat atau kejadian yang memberikan arah dan tujuan untuk kelangsungan
hidup manusia. Keberadaan ideologi tersebut dapat kita lihat dengan adanya
berbagai jenis ideologi yang berseliweran di berbagai belahan dunia. Misalnya yaitu,
ideologi komunis yang mengutamakan meniadakan aspek ketuhanan dalam
kehidupan manusia, ideologi liberal yang mengutamakan kebebasan Indonesia, dan
ideologi yang kita pegang di negeri ini, yaitu ideologi Pancasila.

Pancasila lahir pada tanggal 1 Juni 1945 dari hasil perumusan yang dilakukan oleh
panitia sembilan yang merupakan kumpulan dari tokoh perumusan
Pancasila bentukan BPUPKI. Isi dari Pancasila itu sendiri yaitu lima butir sila yang
menjadi asas dari kehidupan berbangsa dan bernegara, yakni ketuhanan yang Maha
Esa, kemanusiaan yang adil dan beradab, persatuan Indonesia, kerakyatan yang
dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan dan perwakilan, dan
keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Dalam artikel ini, akan dibahas secara
lengkap suatu materi mengenai contoh penerapan Pancasila dalam kehidupan
sehari-hari. Terdapat banyak nilai-nilai yang terkandung dalam pancasila. Dengan
mengetahui contoh penerapan Pancasila tersebut, kita dapat lebih mudah untuk
mengamalkan Pancasila dalam keseharian kita. Menerapkan Pancasila merupakan
salah satu kewajiban kita sebagai warga negara Indonesia. dengan mengetahui
contoh penerapan Pancasila, kita juga dapat terhindar dari aktivitas yang mungkin
berlawanan dengan Pancasila. Nah, simak penjelasan lengkap mengenai contoh
penerapan Pancasila dalam masyarakat lalowatu dalam kehidupan sehari-hari
yaitu:

1. Sila Ketuhanan Yang Maha Esa Dalam Masyarakat Lalowatu


Penerapan Pancasila dalam masyarakat lalowatu adalah kehidupan sehari-
hari haruslah menjadi sesuatu yang harus kita lakukan. Hal ini dikarenakan
Pancasila merupakan falsafah hidup bangsa yang harus menjiwai setiap aktivitas
kita dalam kehidupan sehari-hari. Terlebih mengenai perkara ketuhanan, ia menjadi
sila pertama dalam Pancasila karena ketuhanan merupakan dasar dari kehidupan
spiritual dari manusia. Sila ini menjamin kebebasan beragama. Makna kemerdekaan
beragama bagi bangsa Indonesia sangatlah besar. Berikut ini merupakan uraian
lebih lanjut mengenai apa saja hal-hal yang termasuk kategori penerapan Pancasila
khususnya sila ketuhanan yang Maha Esa dalam kehidupan sehari-hari:
1. Memiliki satu agama dan menjalankan peribadatan dari agama tersebut.
Kepemilikan terhadap agama tersebut harus diikuti dengan ketakwaan pada
Tuhan.
2. Menjalankan agama dengan tetap memperhatikan kondisi di sekitar dan tidak
mengganggu ketertiban dan keamanan di tengah masyarakat
3. Menjaga toleransi atau saling hormat menghormati di antara umat beragama
agar tercapai kedamaian dan kenyamanan bersama.
4. Saling bekerja sama antar umat beragama dalam hal yang bersifat untuk
memajukan kepentingan umum, misalnya untuk kerja bakti di desa
5. Tidak memaksa seseorang untuk masuk ke dalam agama tertentu. Karena
sesuai dengan UUD 1945, setiap orang berhak untuk memilih dan memeluk
agama sesuai dengan apa yang dikehendakinya.

Sila pertama sangat mengutamakan aspek ketuhanan dalam masyarakat lalowatu


setiap segi kehidupan kita. Oleh karena itu, menjadi seseorang yang tidak menganut
agama merupakan salah satu bentuk penyimpangan terhadap Pancasila. Karena hal
inilah, ideologi komunis, marxisme, dan leninisme tidaklah mungkin untuk
diterapkan di Indonesia yang teramat kental dengan berbagai corak keagamaannya.
Dalam masyakat konsel memiliki kebudayaan yang berketuhanan dan kemanusiaan
masyarakat lalowatu kec.tinanggea dominal suku tolaki tepatx di daerah desa
lalowatu suku tolaki memiliki ciri khas yang selalunya di terapkan di daerah
lalowatu.

Konsel adalah daerah yang religius.kehidupan di daerah konsel sangat


beragama dan sangat terasa dengan banyaknya rumah ibadah yang ada di setiap
desa.ada beberapa agama yang dianut oleh daerah masyarakat konsel. Antara lain
islam,kristen,katolik,hindu,budha.meskipun terdapat beberapa agama dalam
masyarakat konawe selatan,namun tidak menyebabkan perpechan. Hal ini karena
rakyat konsel telah memilki toleransi sejak zaman dahulu awal di bagunnya konawe
selatan. Oleh karna itu kehidupan masyarakat konsel yang religius harus di
pertahankan dengan menjaga toleransi antar umat beragama.

Perikehidupan masyarakat konsel yang religius telah menjadi salah satu


dasar (sila) dalam pancasila, yaitu sila pertama yang berbunyi “ketuhanan yang
maha esa”.pancasila sebagai dasar negara merupakan pedoman sepatutnya diikuti
karena telah di rancang sesuai kebutuhan dan budaya masyarakat konsel. Pedoman
penghayatan dan pengamalan pancasila tersebut telah di atur dan di tetapkan dalam
TAP MPR NO.XVIII/MPR/1998.di dalam TAP MPR ini terdapat 45 butir pedoman
penghayatan dan pengamalan pancasila.

Ada 7 butir pedoman penghayatan dan pengamalan sila pertama pancasila dalam
pancasila dalam masyarakat desa lalowatu.

1. Masyarakat lalowatu menyatakan kepercayaan dan ketaqwannya terhadap


tuhan yang maha esa.
2. Masyarakat percaya dan taqwa terhadap tuhan yang maha esa, sesuai
dengan agama dan kepercayaan masing-masing menurut dasar kemanusiaan
yang adil dan beradab.
3. Mengembangkan sikap hormat menghormati dan bekerja sama antara
pemeluk agama dan penganut kepercayaannya yang berbeda-beda terhadap
tuhan yang maha esa.
4. Membina kerukunan hidup di antara sesama umat beragam dan kepercyaan
terhadap tuhan yang maha esa.
5. Agama dan kepercayaan terhadap tuhan yang maha esa adalah masalah yang
menyangkut hubungan pribadi manusia dengan tuhan yang maha esa.
6. Mengembangkan sikap saling menghormati kebebasan menjalankan ibadah
sesuai dengan agama dan
7. kepercayaannya masing-masing.
8. Tidak memaksakan suatu agama dan kepercayaan terhadap tuhan yang
maha esa kepada orang lain.

CONTOH-CONTOH PENGAMALAN SILA PERTAMA PANCASILA DALAM


MASYARAKAT LALOWATU.
1. meyakini adanya tuhan yang maha esa.
2. Percaya dan taqwa tuhan yang maha esa.
3. Menghormati agama orang lain.
4. Tidak mengganggu peribadatan orang lain yang berbeda agama.
5. Menjaga keturunan antar umat beragama di lingkungan sosial masyarakat.
6. Menghormati kebebasan beragama terhadap orang lain.
7. Tidak meamaksakan orang lain memeluk agama tertentu.
8. Menjalankan ibada sesuai dengan agama yang di anut.
9. Tidak mengganggu orang yang sedang beribadah.
10. Tidak menghina ajaran agama orang lain.
11. Menghargai perayaan hari-hari besar keagamaan.
12. Merayakan hari raya idul fitrhi bagi penganut agama islam.
13. Merayakan hari natal bagi penganut agama kristen.
14. Tidak menyinggung perasaan orang berbeda agama.
15. Bekerja sama dalam menjaga kerukunan antar agama lain.

Nilai sila pertama :ketuhanan yang maha esa dalam masyarakat lalowatu.

1. selalu tertib dalam menjalankan ibadah.


2. tidak berbohong kepada orang tua,ataupun lain sebagainya.
3. bersukur kepada tuhan karena memiliki keluarga atau masyarakat yang
menyanginya.
4. tidak meniru jawaban teman ketika ulangan atau ujian .
5. tidak menganggu teman yang berlainkan agama dalam beribadah.
6. menceritakan suatu kejadian yang di ketahuinya, tidak di tambah-tanbahkan
ataupundi kurangi.
7. menceritakan suatu kejadian berdasarkan sesuatu yang di ketahuinya, tidak
di tambah-tambahkan.
8. -Tidak meniru pekerjaan rumahnya dalam mengerjakan tugas di rumah.
9. percaya kepada kemampuan sendiri dalam melakukan apapun, kaena Allah
sudah memberi kelebihan dan kekurangan kepada setiap manusia.

2. Sila Kemanusiaan yang Adil dan Beradab dalam masyarakat lalowatu

Sila kemanusiaan yang adil dan beradab dalam masyarakat lalowtu adalah
yang merupakan suatu teramat mewakili keinginan bangsa Indonesia untuk berada
di posisi yang setara dengan bangsa-bangsa lain di dunia ini. Ketika negara
Indonesia dijajah oleh bangsa lain, seketika itu pula posisi Indonesia dianggap lebih
rendah dari posisi negara lain. Selama lebih dari 350 tahun bangsa Indonesia
dihinakan. Sila kedua dalam Pancasila ini juga menjunjung tinggi kesetaraan hak
dan kewajiban di antara penghuni negeri ini. Di bawah ini merupakan contoh
penerapan Pancasila sila kemanusiaan yang adil dan beradab dalam lingkungan
masyarakat lalowatu.

1. Saling Menghargai perbedaan di tengah masyarakat yang terdiri dari banyak


suku, agama, ras, dan adat istiadat (SARA)
2. Senantiasa menjaga adab atau kesopanan, kehalusan dan kebaikan budi pekerti
kita di dalam berbagai kondisi.
3. Tidak melakukan diskriminasi pada siapapun. Diskriminasi yang dimaksud
adalah pembedaan perlakuan terhadap sesama warga negara, entah perbedaan
karena tingkat pendidikan, kondisi ekonomi, dan lain sebagainya.
4. Berani untuk menyampaikan kebenaran dan menegur kesalahan dari seseorang
sesuai dengan adab yang berlaku di tengah masyarakat.
5. Menjaga keseimbangan dalam hal pelaksanaan hak dan kewajiban. Jangan
sampai hak dan kewajiban kita mencederai hak dan kewajiban orang lain.

Masyarakat lalowatu memiliki inti sila kemanusiaan yang adil dan beradab
yaitu adalah landasan manusia. Maka konsekuensinya dalam setiap aspek
penyelanggaraan negara antara lain hakikat negara, bentuk negara,tujuan
negara,kekuasaan negara, moral negara, dan para penyelenggara negara dan lain-
lainnya harus sesuai dengan sifat-sifat dan hakikat manusia.hal ini dapat di pahami
karena negara adalah lembaga masyarakat yang terdiri atas manusia-manusia, di
bentuk oleh anusia untuk memanusiakandan mempunyai suatu tujuan bersama
untuk desa lalowatu. Maka segala aspek penyelanggaraan negara harus sesuai
dengan hakikat dan sifat-sifat manusia daerah masyarakat lalowatu yang
monopluralis, terutama dalam pengertian yang lebih sentral palam pendukung
pokok negara berdasarkan sifat kodrat masyarakat monodualis yaitu manusia oleh
anusia untuk memanusia dan mempunyai suatu tujuan bersama untuk masyarakat.
Maka segala aspek penyelanggaraan masarakat harus sesuai dengan akikat dan
sifat-sifat masyarakat lalowatu yang monodualis, terutama dalam pengertian yang
lebih sentral pendukung pokok negara berdasarkaan sifat kodrat monodualis yaitu
masyarakat sebagai individu dan makhlu social.

Oleh karna itu dalam masyarakat lakowatu dalam kaitannya dengan hakikat negara
harus sesuai dengan hakikat sifat kodrat masyarakat yaitu sebagai makhaluk
individu dan makhaluk social. Maka bentuk dan sifat masyarakat lalowatu bukanlah
masyarakat individualis yang hanya menekankan makhakuk social, yang berarti
manusia hanya berarti bila ia dalam masyrakat secara keseluruhan. Maka sifat dan
hakikat masyarakat lalowatu kec. Tinanggea adalah monodualis yaitu baik sifat
kodrat individu makhluk social secara serasi, harmonis dan seimban. Selain itu
serasi, harmonis dan seimbang. Monoalis adalah yaitu baik sifat kodrat individu
maupun makluk social secara serasi, harmonis dan seimbang. Selain itu hakikat dan
sifat masyarakat lalowatu bukan hanya menekan segi kerja jasmani belaka, atau
juga bukan hanya menekankan segi rohaninya saja, namun sifat negara harus sesuai
dengan hakikat dan sifat tersebut yaitu baik kerja jasmani maupun kejiwaan secara
serasi dan seimbang, karena dalam praktek pelaksanaannya hakikat dan sifat
masyarakat harus sesuai dengan hakikat kedudukan kodrat masyarakat sebagai
masyarakat lalowatu.

Keterkaitan Manusia dan Keberadaban


Antara manusia dan peradaban mempunyai hubungan yang sangat erat karena
diantara keduanya saling mendukung untuk menciptakan suatu kehidupan yang
sesuai kodratnya. Suatu peradaban timbul karena ada yang menciptakannya yaitu
diantaranya ada faktor manusianya yang melaksanakan peradaban tersebut.

Suatu peradaban mempunyai wujud, tahapan dan dapat berevolusi / berubah sesuai
dengan perkembangan zaman. Dari peradaban pula dapat mengakibatkan suatu
perubahan pada kehidupan sosial. Perubahan ini dapat diakibatkan karena
pengaruh modernisasi yang terjadi di masyarakat.

Masyarakat yang beradab dapat diartikan sebagai masyarakat yang mempunyai


sopan santun dan kebaikan budi pekerti. Ketenangan, kenyamanan, ketentraman,
dan kedamaian sebagai makna hakiki manusia beradab dan dalam pengertian lain
adalah suatu kombinasi yang ideal antara kepentingan pribadi dan kepentingan
umum.

Perkembangan dunia IPTEK yang demikian mengagumkan itu memang telah


membawa manfaat yang luar biasa bagi kemajuan peradaban umat manusia. Jenis-
jenis pekerjaan yang sebelumnya menuntut kemampuan fisik yang cukup besar, kini
relatif sudah bisa digantikan oleh perangkat mesin-mesin otomatis, Demikian juga
ditemukannya formulasi-formulasi baru kapasitas komputer, seolah sudah mampu
menggeser posisi kemampuan otak manusia dalam berbagai bidang ilmu
dan aktifitas manusia.
Pengertian Sila kedua ( Kemanusiaan yang adil dan beradab )
Kemanusiaan yang berasal dari kata manusia, yaitu makhluk yang paling sempurna
dari makhluk – makhluk yang diciptakan oleh Tuhan Yang Maha Esa. Yang
membedakan manusia dengan yang lainya adalah manusia dibekali akal dan pikiran
untuk melakukan segala kegiatan. Oleh karena itulah manusia menjadi makhluk
yang paling sempurna dari semua makhluk cipaanNya. Kata adil memiliki arti
bahwa suatu keputusan dan tindakan didasarkan atas ukuran / norma-norma yang
obyektif, dan tidak subyektif, sehingga tidak sewenang-wenang.

Kata beradab berasal dari kata adab, yang memiliki arti budaya. Jadi adab
mengandung arti berbudaya, yaitu sikap hidup, keputusan dan tindakan yang selalu
dilandasi oleh nilai-nilai budaya, terutama norma – norma sosial dan
kesusilaan/moral yang ada di masyarakat.

Kemanusiaan yang Adil dan Beradab didasari dan dijiwai oleh sila Ketuhanan yang
Maha Esa dan mendasari ketiga sila berikutnya. Sila ke 2 memiliki arti bahwa adanya
kesadaran sikap dan perbuatan manusia yang didasarkan kepada potensi budi
nurani manusia dalam hubungannya dengan norma-norma dan kebudayaan
umumnya. Potensi kemanusiaan dimiliki oleh semua manusia di dunia, tanpa
memandang ras, keturunan dan warna kulit, serta bersifat universal.

Kemanusiaan yang adil dan beradab bagi bangsa Indonesia bersumber pada ajaran
Tuhan Yang Maha Esa yakni sesuai dengan kodrat manusia sebagai ciptaanNya.

Hal ini selaran dengan :


 Pembukaan UUD 1945 alinea pertama
 Pasal 27, 28, 29, 30 dan 31 UUD 1945

Sila Kedua, Kemanusiaan yang adil dan beradab; mengajak masyarakat untuk
mengakui dan memperlakukan setiap orang sebagai sesama manusia yang memiliki
martabat mulia serta hak-hak dan kewajiban asasi. Dengan kata lain, ada sikap
untuk menjunjung tinggi martabat dan hak-hak asasinya atau bertindak adil dan
beradap terhadapnya.

Dalam Etika Berpolitik, Sila Kedua, mewajibkan:


1. Negara untuk mengakui dan memperlakukan semua warga sebagai manusia
yang dikaruniai martabat mulia dan hak-hak serta kewajiban kewajiban asasi
2. Semua bangsa sebagai warga dunia bersama-sama membangun di dunia baru
yang lebih baik berdasa kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial

Kemanusiaan yang adil dan beradab


1. Mengakui dan memperlakukan manusia sesuai dengan harkat dan
martabatnya sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa.
2. Mengakui persamaan derajat, persamaan hak, dan kewajiban asasi setiap
manusia, tanpa membeda-bedakan suku, keturunan, agama, kepercayaan,
jenis kelamin, kedudukan sosial, warna kulit dan sebagainya.
3. Mengembangkan sikap saling mencintai sesama manusia.
4. Mengembangkan sikap saling tenggang rasa dan tepa selira.
5. Mengembangkan sikap tidak semena-mena terhadap orang lain.
6. Menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan.
7. Gemar melakukan kegiatan kemanusiaan.
8. Berani membela kebenaran dan keadilan.
9. Bangsa Indonesia merasa dirinya sebagai bagian dari seluruh umat manusia.
10. Mengembangkan sikap hormat menghormati dan bekerjasama dengan bangsa
lain.

Contoh sikap yang sesuai dengan sila kedua


Sila kedua pancasila berbunyi : Kemanusiaan yang adil dan beradab, Sila ini
berhubungan dengan perilaku kita sebagai manusia yang pada hakikatnya
semuanya sama didunia ini.

Contoh sikap yang mencerminkan sila tersebut:


- Tidak membeda bedakan manusia berdasarkan suku, agama, warna kulit,
tingkat ekonomi,maupun tingkat pendidikan
- Menyadari bahwa kita diciptakan sama oleh Tuhan
- Membela kebenaran dan keadilan
- Menyadari bahwa kita mempunyai hak dan kewajiban yang sama
- Tidak melakukan diskriminatif
Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab
Sila ini berhubungan terhadap perilaku kita sebagai manusia yang pada
hakikatnya semua sama di Dunia ini.
Berikut contoh sikap yang mencerminkan di sila Kedua :

a. Mengakui persamaan derajat, hak, dan kewajiban asasi setiap manusia tanpa
membedakan.
b. Mengembangkan sikap tenggang rasa.
c. Menyadari bahwa kita mempunyai hak dan kewajiban yang sama.
d. Memperlakukan manusia sesuai harkat dan martabatnya.
Pengamalan dalam kehidupan sehari - hari sesuai sila ke - 2
1. Bersikap adil terhadap sesama.
2. Tidak bersikap semena – mena.
3. Bertindak sesuai norma dan aturan yang berlaku.
4. Menumbuhkan sikap tenggang rasa.
1. Penerapan Pancasila: Sila Persatuan Indonesia dalam masyarakat
lalowatu
Persatuan di antara segenap rakyat lndonesia merupakan suatu kekuatan dasar
dalam mempertahankan keamanan dan pertahanan Indonesia dari ancaman baik
yang berasal dari dalam negeri maupun dari luar negeri. Maka dari itu, menjadi
penting bagi rakyat Indonesia untuk senantiasa menjaga persatuan dan kesatuan di
tengah masyarakat. Berdasarkan sejarah, kita mengetahui bahwa dulu perjuangan
melawan penjajahan amat bersifat kedaerahan. Dengan adanya Pancasila, seluruh
wilayah di Indonesia disatukan di bawah bendera merah putih. Di bawah ini
merupakan contoh penerapan Pancasila sila persatuan Indonesia:
a. Cinta pada tanah air untuk menjaga persatuan dan kesatuan di tengah
masyarakat karena menyadari bahwa kita bertanah air yang satu, Indonesia.
b. mencintai dan mengonsumsi produk dalam negeri agar perekonomian di
dalam negara menjadi lebih maju
c. Mengutamakan segala kepentingan negara yang dilakukan untuk
mewujudkan tujuan pembangunan nasional Indonesia.
d. Berusaha untuk menghasilkan prestasi yang dapat membanggakan bangsa
Indonesia baik di tingkat nasional maupun internasional.
e. Meningkatkan kreativitas dan inovasi dari diri sendiri untuk memajukan
bangsa Indonesia.
f. Memperluas pergaulan dengan orang-orang baru dari berbagai daerah.

Pengamalan dalam kehidupan sehari - hari sesuai sila ke – 3

1. Sikap toleran yang tinggi atau mudah memaafkan orang lain.


2. Menjaga suasana masyarakat agar selalu tentram dan tidak menimbulkan
perpecahan.
3. Menjunjung tinggi kepentingan bersama diatas kepentingan individu.
4. Rela berkorban Negara Kesatuan Republik Indonesia
Sila ketiga “Persatuan Indonesia“
Memiliki nilai Persatuan, sila ketiga ini memiliki kandungan moral bahwa
setiap orang wajib untuk menjunjung tinggi dan mencintai tanah air, bangsa, dan
negara Indonesia, ikut memperjuangkan kepentingannya, mengambil sikap yang
solider dan layak terhadap sesama warga negara
Contoh Perilaku yang sesuai :
a. Tidak mudah bertengkar di dalam rumah.
b. Senantiasa menjaga amarah dan emosi.
c. Berteman dengan siapa saja.
d. Menghindari perbuatan tawuran antar sekolah.
e. Tidak menciptakan kelompok-kelompok yang dapat menyebabkan
disintegrasi nasional.
f. Menempatkan kepentingan bangsa di atas kepentingan individu maupun
kelompok.

Makna Sila Ke 3 Pancasila Dalam Kehidupan Sosial Masyarakat Adalah


a) Menempatkan Persatuan,Kesatuan,Kepentingan Masyarakat / Orang Banyak
DiAtas Kepentingan Diri Sendiri
b) Pengakuan Terhadap Perbedaan Ras,Agama,golongan
c) Memiliki Rasa Nasionalisme / Cinta Tanah Air
Pengertian Sila ketiga Pancasila (Persatuan indonesia)
Pada pembukaan UUD 1945 ada bagian yang menuliskan “perjuangan
pergerakan Indonesia telah sampailah pada saat yang berbahagia dengan selamat
sentausa menghantarkan rakyat Indonesia kedepan pintu gerbang kemerdekaan
Negara Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur ”. Sudah
sangat jelas bahwa dalam pembukaan UUD 1945 menyatakan Persatuan Indonesia
sangat penting untuk menentukan keberhasilan rakyat indonesia. Persatuan adalah
syarat mutlak keberhasilan untuk membangun suatu negara. Bahkan setelah
merdeka pun, persatuan harus selalu dipupuk agar tercapai tujuan bersama rakyat
indonesia. Oleh kerena itu pengertian Persatuan Indonesia sebagai hasil yaitu dalam
wujud persatuan wilayah, bangsa, dan susunan negara, namun juga bersifat dinamis
yaitu harus senantiasa dipelihara, dipupuk, dan dikembangkan.

Jadi makna “ Persatuan Indonesia “ adalah bahwa sifat dan keadaan negara
Indonesia harus sesuai dengan hakikat satu. Sifat dan keadaan negara Indonesia
yang sesuai dengan hakikat satu berarti mutlak tidak dapat dibagi – bagi, sehingga
bangsa dan negara Indonesia yang menempati suatu wilayah tertentu merupakan
suatu negara yang berdiri sendiri memiliki sifat dan keadaannya sendiri yang
terpisah dari negara lain di dunia ini. Sehingga negara Indonesia merupakan suatu
diri pribadi yang memiliki ciri khas, sifat dan karakter sendiri yang berarti memiliki
suatu kesatuan dan tidak terbagi-bagi. Makna “ Persatuan Indonesia “dibentuk
dalam proses sejarah yang cukup panjang sehingga seluruh bangsa Indonesia
memiliki suatu persamaan nasib, satu kesatuan kebudayaan, kesatuan wilayah serta
satu kesatuan asas kerokhanian Pancasila yang terwujud dalam persatuan bangsa,
wilayah, dan susunan negara.

4. Sila Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat/Kebijaksanaan dalam


Permusyawaratan dan Perwakilan dalam masyarakat lalowatu
Sila keempat dari Pancasila ini mewakili semangat demokrasi yang menjadi
bentuk pemerintahan di negara Indonesia. Sistem demokrasi yang dijalankan di
Indonesia pun berbeda dengan yang ada di luar sana. Indonesia menggunakan
sistem demokrasi Pancasila dalam pelaksanaan kedaulatan rakyatnya. Sila ini
menginginkan segala kegiatan pemerintahan diperuntukkan bagi sebesar-besar
kepentingan rakyat sehingga dijadikanlah perwakilan dari rakyat untuk mengawasi
jalannya pemerintahan. Berikut ini merupakan contoh penerapan sila keempat dari
Pancasila:

1. Mengutamakan pengambilan keputusan dengan musyawarah mufakat untuk


menyelesaikan setiap permasalahan dalam kehidupan kita, apabila hal tersebut
berkenaan dengan kepentingan dua orang atau lebih.
2. Ikut serta dalam pemilihan umum dengan kita menggunakan hak pilih atau
mengajak orang lain untuk menggunakan hak pilihnya
3. Mencalonkan diri atau mengajukan seseorang untuk menjabat suatu jabatan
tertentu sebagai salah satu perwujudan demokrasi.
4. Tidak melakukan paksaan pada orang lain agar orang menyetujui apa yang kita
katakan ataupun lakukan. Begitupun sebaliknya, tidak ada yang dapat
memaksakan kehendaknya pada kita
5. Menghormati hasil musyawarah sekalipun bertentangan dengan pendapat kita
dan melaksanakannya dengan sepenuh hati.
6. Mengawasi dan memberikan saran terhadap jalannya penyelenggaraan
kedaulatan rakyat yang dilakukan oleh pemerintah.

REVOLUSI SPIRITUAL
Pada laman Kompasiana beberapa waktu yang lalu. Pernah dihadirkan penulis
tentang uraian makna sila pertama Pancasila “Ketuhanan Yang Mahaesa.” Uraian
makna sila kedua “Perikemanusiaan Yang Adil dan Beradab.” Uraian makna sila
ketiga “Persatuan Bangsa Indonesia.”
Sekarang disajikan uraian makna sila keempat “Kerakyatan yang dipimpin oleh
hikmah kebijaksanaan permusyawaratan perwakilan.” Dan uraian makna sila
kelima “Keadilan sosial bagi seluruh rakyat.”
Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan permusyawaratan
perwakilan (Sila keempat)
Kebijakan lembaga negara adalah kebijakan yang dikehendaki rakyat. Berdasar
hikmah kebijaksanaan permusyawaratan perwakilan oleh para negarawan yang
dipilih oleh rakyat dari rakyat untuk kepentingan rakyat.
Setiap warganegara dapat berpartisipasi dalam musyawarah, memberi sumbangan
pemikiran yang dibutuhkan dan telah teruji kebenarannya.
Musyawarah para negarawan sebagai wakil rakyat adalah pengamalan demokrasi
dalam negara yang berpancasila.
Dalam musyawarah jika membicarakan kepentingan satu golongan tertentu pasti
demi kepentingan setiap golongan yang lain.
Dalam musyawarah dan bermufakat tidak ada lawan atau oposisi.
Perbedaan-perbedaan pandangan merupakan pilihan-pilihan terbaik dan
teruji demi kepentingan seluruh rakyat untuk dimufakati mana yang dipilih. Yang
dimufakatkan untuk dimufakati dalam musyawarah harus disampaikan secara jelas
dan luas kepada rakyat. Agar setiap warga negara bisa memahami dan
berpartisipasi atas kebijakan yang harus diambil oleh pemerintah. Negara tidak
boleh menyimpan rahasia kepada rakyat. Rakyat harus tahu apa yang harus
diperlakukan secara rahasia oleh negara. Dan rakyat akan ikut menjaga yang
dirahasiakan negara.
Dalam musyawarah, harus memutuskan keputusan terbaik demi kemuliaan
dan kesejahteraan rakyat. Keputusan harus tidak ada yang bertentangan dengan
empat sila lainnya dari Pancasila. Yang demikian itulah yang disebut hikmah
kebijaksanaan bermusyawarah perwakilan.
Sila keempat pancasila berkenaan dengan kepemimpinan. meskipun dalam sla
tersebut kata "rakyat" ditulis di awal bukan berarti sila tersebut memaksudkan
rakyat yang harus bagaimana. marilah simak: "Kerakyatan yang dipimpin oleh
hikmat dan kebijaksanaan dalam permusyaratan dan perwakilan".

sila ini terkait dengan sistem kenegaraan, yaitu pemimpinnya dan sistemnya.
indonesia menganut sistem presidensiil dan sistem demokrasi tidak langsung
(perwakilan).

sila ini juga mengamanatkan bagi pemimpin dalam menjalankan tugasnya sebagai
kepala negara, "oleh hikmat dan kebijaksanaan" bukan "kepintaran atau
kecerdasan". kenapa? karena yang dipimpin adalah rakyat. dan rakyat indonesia
adalah masyarakat yang majemuk.

5. Sila Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia masyarakat lalowatu

Adanya keadilan tentunya menjadi sesuatu yang dicita-citakan oleh semua orang.
Terlebih oleh segenap bangsa Indonesia. dari sejarah kemerdekaan Indonesia kita
mengetahui bahwa pengalaman dijajah selama ratusan tahun membuat keadilan
menjadi sesuatu yang terus diperjuangkan oleh bangsa kita. Maka dari itu, para
pendiri bangsa menjadikan rumusan dari sila terakhir Pancasila seperti yang tertera
sebelumnya. Adanya sila ini diharapkan dapat mewujudkan kondisi yang
berkeadilan bagi rakyat maupun di tengah masyarakat. Di bawah ini merupakan
contoh penerapan Pancasila sila keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia:

1. Senantiasa berusaha sebaik mungkin untuk membantu orang-orang yang


sedang dilanda kesulitan.
2. Meningkatkan kepekaan sosial dengan mengadakan kegiatan yang dapat
membantu sesama seperti bakti sosial, donor darah, konser amal, dan lain
sebagainya.
3. Berusaha untuk adil dalam aktivitas apapun yang kita lakukan dan seperti
apapun orang yang kita hadapi, jangan sampai kita memberikan perlakuan yang
tidak adil pada siapapun.
4. Tidak mengganggu orang lain dengan apapun yang kita lakukan dan menegur
siapapun yang mengganggu ketertiban dan keamanan di tengah masyarakat.
5. Menghargai karya atau hasil karsa cipta yang dimiliki orang lain. Hargai pula
karya yang kita hasilkan sendiri.
6. Berani memperjuangkan keadilan baik untuk diri sendiri maupun untuk orang
lain dan membantu orang lain untuk memperjuangkan keadilan.

Sila Ketuhanan Yang Maha Esa terkandung nilai religius, antara lain :

Kepercayaan terhadap adanya Tuhan Yang Maha Esa sebagai pencipta segala
sesuatu dengan sifat-sifat yang sempurna dan suci seperti Maha Kuasa, Maha Peasih,
Maha Adil, Maha Bijaksana dan sebagainya;
1. Ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, yakni menjalankan semua
perintah- NYA dan menjauhi larangan-larangannya. Dalam memanfaatkan
semua potensi yang diberikan oleh Tuhan Yang Maha Pemurah manusia harus
menyadari, bahwa setiap benda dan makhluk yang ada di sekeliling manusia
merupakan amanat Tuhan yang harus dijaga dengan sebaik-baiknya; harus
dirawat agar tidak rusak dan harus memperhatikan kepentingan orang lain dan
makhluk-makhluk Tuhan yang lain.
Penerapan Sila ini dalam kehidupan sehari-hari yaitu : misalnya menyayangi
binatang; menyayangi tumbuh-tumbuhan dan merawatnya; selalu menjaga
kebersihan dan sebagainya. Dalam agama bahkan ditekankan, bahwa Tuhan
tidak suka pada orang-orang yang membuat kerusakan di muka bumi, tetapi
Tuhan senang terhadap orang-orang yang selalu bertakwa dan selalu berbuat
baik. Lingkungan hidup Indonesia yang dianugerahkan Tuhan Yang Maha Esa
kepada rakyat dan bangsa Indonesia merupakan karunia dan rahmat-NYA yang
wajib dilestarikan dan dikembangkan kemampuannya agar tetap dapat menjadi
sumber dan penunjang hidup bagi rakyat dan bangsa Indonesia serta makhluk
hidup lainya demi kelangsungan dan peningkatan kualitas Hidup itu sendiri.
Sila Kemanusiaan Yang Adil Dan Beradab, terkandung nilai-nilai perikemanusiaan
yang harus diperhatikan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam hal ini antara lain
sebagai berikut :
1. Pengakuan adanya harkat dan martabat manusia dengan sehala hak dan
kewajiban asasinya;
2. Perlakuan yang adil terhdap sesama manusia, terhadap diri sendiri, alam
sekitar
dan terhadap Tuhan;
3. Manusia sebagai makhluk beradab atau berbudaya yang memiliki daya cipta,
rasa,
karsa dan keyakinan.
Penerapan, pengamalan/ aplikasi sila ini dalam kehidupan sehari hari yaitu: dapat
diwujudkan dalam bentuk kepedulian akan hak setiap orang untuk
memperoleh lingkungan hidup yang baik dan sehat; hak setiap orang untuk
mendapatkan informasi lingkungan hidup yang berkaitan dengan peran dalam
pengelolaan lingkungan hidup; hak setiap orang untuk berperan dalam rangka
pengelolaan lingkungan hidup yang sesuai dengan ketentuan-ketentuan hukum
yang berlaku dan sebagainya (Koesnadi Hardjasoemantri, 2000 : 558). Dalam hal ini
banyak yang bisa dilakukan oleh masyarakat untuk mengamalkan sila ini, misalnya
mengadakan pengendalian tingkat polusi udara agar udara yang dihirup bisa tetap
nyaman; menjaga kelestarian tumbuh-tumbuhan yang ada di lingkungan sekitar;
mengadakan gerakan penghijauan dan sebagainya. Nilai-nilai Sila Kemanusiaan
Yang Adil Dan Beradab ini ternyata mendapat penjabaran dalam Undang-Undang
No. 23 Tahun 1997 di atas, antara lain dalam Pasal 5 ayat (1) sampai ayat (3); Pasal
6 ayat (1) sampai ayat (2) dan Pasal 7 ayat (1) sampai ayat (2). Dalam Pasal 5 ayat
(1) dinyatakan, bahwa setiap orang mempunyai hak yang sama atas lingkungan
hidup yang baik dan sehat; dalam ayat (2) dikatakan, bahwa setiap
orang mempunyai hak atas informasi lingkungan hidup yang berkaitan dengan
peran dalam pengelolaan lingkungan hidup; dalam ayat (3) dinyatakan, bahwa
setiap orang mempunyai hak untuk berperan dalam rangka pengelolaan lingkungan
hidup sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Dalam Pasal 6
ayat (1) dikatakan, bahwa setiap orang berkewajiban memelihara kelestarian fungsi
lingkungan hidup serta mencegah dan menanggulangi pencemaran dan perusakan
lingkungan hidup dan dalam ayat (2) ditegaskan, bahwa setiap orang yang
melakukan usaha dan/ atau kegiatan berkewajiban memberikan informasi yang
benar dan akurat mengenai pengelolaan lingkungan hidup. Dalam Pasal 7 ayat (1)
ditegaskan, bahwa masyarakat mempunyai kesempatan yang sama dan seluas-
luasnya untuk berperan dalam pengelolaan lingkungan hidup; dalam ayat (2)
ditegaskan, bahwa ketentuan pada ayat (1) di atas dilakukan dengan cara :

 Meningkatkan kemandirian, keberdayaan masyarakat dan kemitraan;


 Menumbuhkembangkan kemampauan dan kepeloporan masyarakat;
 Menumbuhkan ketanggapsegeraan masya-rakat untuk melakukan pengwasan
sosial;
 Memberikan saran pendapat;
 Menyampaikan informasi dan/atau menyam-paikan laporan

Sila Persatuan Indonesia terkandung nilai persatuan bangsa, dalam arti dalam hal-
hal yang menyangkut persatuan bangsa patut diperhatikan aspek-aspek sebagai
berikut :
1. Persatuan Indonesia adalah persatuan bangsa yang mendiami wilayah
Indonesia serta wajib membela dan menjunjung tinggi (patriotisme);
2. Pengakuan terhadap kebhinekatunggalikaan suku bangsa (etnis) dan
kebudayaan bangsa (berbeda-beda namun satu jiwa) yang memberikan arah
dalam pembinaan kesatuan bangsa;
3. Cinta dan bangga akan bangsa dan Negara Indonesia (nasionalisme).
Penerapan sila ini dalam kehidupan sehari-hari, antara lain: dengan melakukan
inventarisasi tata nilai tradisional yang harus selalu diperhitungkan dalam
pengambilan kebijaksanaan dan pengendalian pembangunan lingkungan di daerah
dan mengembangkannya melalui pendidikan dan latihan serta penerangan dan
penyuluhan dalam pengenalan tata nilai tradisional dan tata nilai agama yang
mendorong perilaku manusia untuk melindungi sumber daya dan lingkungan
(Salladien dalam Burhan Bungin dan Laely Widjajati , 1992 : 156-158). Di beberapa
daerah tidak sedikit yang mempunyai ajaran turun temurun mewarisi nilai-nilai
leluhur agar tidak melakukan perbuatan-perbuatan yang dilarang oleh ketentuan-
ketentuan adat di daerah yang bersangkutan, misalnya ada larangan untuk
menebang pohon-pohon tertentu tanpa ijin sesepuh adat; ada juga yang dilarang
memakan binatang-bintang tertentu yang sangat dihormati pada kehidupan
masyarakat yang bersangkutan dan sebagainya. Secara tidak langsung sebenarnya
ajaran-ajaran nenek leluhur ini ikut secara aktif melindungi kelestarian alam dan
kelestarian lingkungan di daerah itu. Bukankah hal ini sudah mengamalkan
Pancasila dalam kehidupan masyarakat yang bersangkutan sehari-hari.
Sila Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan Dalam Permusyawaratan
Perwakilan terkandung nilainilai kerakyatan. Dalam hal ini ada beberapa hal yang
harus dicermati, yakni :
1. Kedaulatan negara adalah di tangan rakyat;
2. Pimpinan kerakyatan adalah hikmat kebijaksanaan yang dilandasi akal sehat;
3. Manusia Indonesia sebagai warga negara dan warga masyarakat mempunyai
kedudukan, hak dan kewajiban yang sama;
4. Keputusan diambil berdasarkan musyawarah untuk mufakat oleh wakilwakil
rakyat.
Penerapan sila ini bisa dilakukan dalam berbagai bentuk kegiatan, antara lain
(Koesnadi Hardjasoemantri, 2000 : 560 ) :
 Mewujudkan, menumbuhkan, mengembangkan dan meningkatkan kesadaran
dan tanggung jawab para pengambil keputusan dalam pengelolaan lingkungan
hidup;
 Mewujudkan, menumbuhkan, mengembangkan dan meningkatkan kesadaran
akan hak dan tanggung jawab masyarakat dalam pengelolaan lingkungan hidup;
 Mewujudkan, menumbuhkan, mengembangkan dan meningkatkan kemitraan
 Masyarakat, dunia usaha dan pemerintah dalam upaya pelestarian daya dukung
dan daya tampung lingkungan hidup.
Sila Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia terkandung nilai keadilan sosial.
Dalam hal ini harus diperhatikan beberapa aspek berikut, antara lain :
1. Perlakuan yang adil di segala bidang kehidupan terutama di bidang politik,
ekonomi dan sosial budaya;
2. Perwujudan keadilan sosial itu meliputi seluruh rakyat Indonesia;
3. Keseimbangan antara hak dan kewajiban, menghormati hak milik orang lain;
4. Cita-cita masyarakat yang adil dan makmur yang merata material spiritual bagi
seluruh rakyat Indonesia;
5. Cinta akan kemajuan dan pembangunan.

Penerapan sila ini tampak dalam ketentuan-ketentuan hukum yang mengatur


masalah lingkungan hidup. Sebagai contoh, dalam Ketetapan MPR RI Nomor
IV/MPR/1999 tentang Garis-Garis Besar Haluan Negara (GBHN), Bagian H yang
mengatur aspekaspek pengelolaan lingkungan hidup dan pemanfaatan sumber daya
alam. Dalam ketetapan MPR ini hal itu diatur sebagai berikut (Penabur Ilmu, 1999 :
40) :

1. Mengelola sumber daya alam dan memelihara daya dukungnya agar bermanfaat
bagi peningkatan kesejahteraan rakyat dari generasi ke generasi;
2. Meningkatkan pemanfaatan sumber daya alam dan lingkungan hidup dengan
melakukan konservasi, rehabilitasi dan penghematan pengunaan dengan
menerapkan teknologi ramah lingkungan;
3. Mendelegasikan secara betahap wewenang pemerintah pusat kepada
pemerintah daerah dalam pelaksanaan pengelolaan sumber daya alam secara
selektif dan pemeliharaan ling-kungan hidup, sehingga kualitas ekosistem tetap
terjaga yang diatur dengan undangundang;
4. Mendayagunakan sumber daya alam untuk sebesar-besarnya kemakmuran
rakyat dengan memperhatikan kelestarian fungsi dan keseim-bangan
lingkungan hidup, pembangunan yang berkelanjutan, kepentingan ekonomi dan
budaya masyarakat lokal serta penataan ruang yang pengaturannya diatur
dengan undang-undang;
5. Menerapkan indikator-indikator yang memungkinkan pelestarian kemampuan.

Sila Ketuhanan Yang Maha Esa terkandung nilai religius, antara lain :

1. Kepercayaan terhadap adanya Tuhan Yang Maha Esa sebagai pencipta segala
sesuatu dengan sifat-sifat yang sempurna dan suci seperti Maha Kuasa, Maha
Pengasih, Maha Adil, Maha Bijaksana dan sebagainya;
2. Ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, yakni menjalankan semua
perintah- NYA dan menjauhi larangan-larangannya. Dalam memanfaatkan
semua potensi yang diberikan oleh Tuhan Yang Maha Pemurah manusia harus
menyadari, bahwa setiap benda dan makhluk yang ada di sekeliling manusia
merupakan amanat Tuhan yang harus dijaga dengan sebaik-baiknya; harus
dirawat agar tidak rusak dan harus memperhatikan kepentingan orang lain dan
makhluk-makhluk Tuhan yang lain.

Penerapan Sila ini dalam kehidupan sehari-hari yaitu : misalnya menyayangi


binatang; menyayangi tumbuh-tumbuhan dan merawatnya; selalu menjaga
kebersihan dan sebagainya. Dalam agama bahkan ditekankan, bahwa Tuhan tidak
suka pada orang-orang yang membuat kerusakan di muka bumi, tetapi Tuhan
senang terhadap orang-orang yang selalu bertakwa dan selalu berbuat baik.
Lingkungan hidup Indonesia yang dianugerahkan Tuhan Yang Maha Esa kepada
rakyat dan bangsa Indonesia merupakan karunia dan rahmat-NYA yang wajib
dilestarikan dan dikembangkan kemampuannya agar tetap dapat menjadi sumber
dan penunjang hidup bagi rakyat dan bangsa Indonesia serta makhluk hidup lainya
demi kelangsungan dan peningkatan kualitas Hidup itu sendiri.
Sila Kemanusiaan Yang Adil Dan Beradab, terkandung nilai-nilai perikemanusiaan
yang harus diperhatikan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam hal ini antara lain
sebagai berikut :
1. Pengakuan adanya harkat dan martabat manusia dengan sehala hak dan
kewajiban asasinya;
2. Perlakuan yang adil terhdap sesama manusia, terhadap diri sendiri, alam
sekitar
dan terhadap Tuhan;
3. Manusia sebagai makhluk beradab atau berbudaya yang memiliki daya cipta,
rasa,
karsa dan keyakinan.
Penerapan, pengamalan/ aplikasi sila ini dalam kehidupan sehari hari yaitu: dapat
diwujudkan dalam bentuk kepedulian akan hak setiap orang untuk
memperoleh lingkungan hidup yang baik dan sehat; hak setiap orang untuk
mendapatkan informasi lingkungan hidup yang berkaitan dengan peran dalam
pengelolaan lingkungan hidup; hak setiap orang untuk berperan dalam rangka
pengelolaan lingkungan hidup yang sesuai dengan ketentuan-ketentuan hukum
yang berlaku dan sebagainya (Koesnadi Hardjasoemantri, 2000 : 558). Dalam hal ini
banyak yang bisa dilakukan oleh masyarakat untuk mengamalkan sila ini, misalnya
mengadakan pengendalian tingkat polusi udara agar udara yang dihirup bisa tetap
nyaman; menjaga kelestarian tumbuh-tumbuhan yang ada di lingkungan sekitar;
mengadakan gerakan penghijauan dan sebagainya. Nilai-nilai Sila Kemanusiaan
Yang Adil Dan Beradab ini ternyata mendapat penjabaran dalam Undang-Undang
No. 23 Tahun 1997 di atas, antara lain dalam Pasal 5 ayat (1) sampai ayat (3); Pasal
6 ayat (1) sampai ayat (2) dan Pasal 7 ayat (1) sampai ayat (2). Dalam Pasal 5 ayat
(1) dinyatakan, bahwa setiap orang mempunyai hak yang sama atas lingkungan
hidup yang baik dan sehat; dalam ayat (2) dikatakan, bahwa setiap
orang mempunyai hak atas informasi lingkungan hidup yang berkaitan dengan
peran dalam pengelolaan lingkungan hidup; dalam ayat (3) dinyatakan, bahwa
setiap orang mempunyai hak untuk berperan dalam rangka pengelolaan lingkungan
hidup sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Dalam Pasal 6
ayat (1) dikatakan, bahwa setiap orang berkewajiban memelihara kelestarian fungsi
lingkungan hidup serta mencegah dan menanggulangi pencemaran dan perusakan
lingkungan hidup dan dalam ayat (2) ditegaskan, bahwa setiap orang yang
melakukan usaha dan/ atau kegiatan berkewajiban memberikan informasi yang
benar dan akurat mengenai pengelolaan lingkungan hidup. Dalam Pasal 7 ayat (1)
ditegaskan, bahwa masyarakat mempunyai kesempatan yang sama dan seluas-
luasnya untuk berperan dalam pengelolaan lingkungan hidup; dalam ayat (2)
ditegaskan, bahwa ketentuan pada ayat (1) di atas dilakukan dengan cara :
 Meningkatkan kemandirian, keberdayaan masyarakat dan kemitraan;
 Menumbuhkembangkan kemampauan dan kepeloporan masyarakat;
 Menumbuhkan ketanggapsegeraan masya-rakat untuk melakukan pengwasan
sosial;
 Memberikan saran pendapat;
 Menyampaikan informasi dan/atau menyam-paikan laporan

Sila Persatuan Indonesia terkandung nilai persatuan bangsa, dalam arti dalam hal-
hal yang menyangkut persatuan bangsa patut diperhatikan aspek-aspek sebagai
berikut :
1. Persatuan Indonesia adalah persatuan bangsa yang mendiami wilayah
Indonesia serta wajib membela dan menjunjung tinggi (patriotisme);
2. Pengakuan terhadap kebhinekatunggalikaan suku bangsa (etnis) dan
kebudayaan bangsa (berbeda-beda namun satu jiwa) yang memberikan arah
dalam pembinaan kesatuan bangsa;
3. Cinta dan bangga akan bangsa dan Negara Indonesia (nasionalisme).
Penerapan sila ini dalam kehidupan sehari-hari, antara lain: dengan melakukan
inventarisasi tata nilai tradisional yang harus selalu diperhitungkan dalam
pengambilan kebijaksanaan dan pengendalian pembangunan lingkungan di daerah
dan mengembangkannya melalui pendidikan dan latihan serta penerangan dan
penyuluhan dalam pengenalan tata nilai tradisional dan tata nilai agama yang
mendorong perilaku manusia untuk melindungi sumber daya dan lingkungan
(Salladien dalam Burhan Bungin dan Laely Widjajati , 1992 : 156-158). Di beberapa
daerah tidak sedikit yang mempunyai ajaran turun temurun mewarisi nilai-nilai
leluhur agar tidak melakukan perbuatan-perbuatan yang dilarang oleh ketentuan-
ketentuan adat di daerah yang bersangkutan, misalnya ada larangan untuk
menebang pohon-pohon tertentu tanpa ijin sesepuh adat; ada juga yang dilarang
memakan binatang-bintang tertentu yang sangat dihormati pada kehidupan
masyarakat yang bersangkutan dan sebagainya. Secara tidak langsung sebenarnya
ajaran-ajaran nenek leluhur ini ikut secara aktif melindungi kelestarian alam dan
kelestarian lingkungan di daerah itu. Bukankah hal ini sudah mengamalkan
Pancasila dalam kehidupan masyarakat yang bersangkutan sehari-hari.
Sila Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan Dalam Permusyawaratan
Perwakilan terkandung nilainilai kerakyatan. Dalam hal ini ada beberapa hal yang
harus dicermati, yakni :
1. Kedaulatan negara adalah di tangan rakyat;
2. Pimpinan kerakyatan adalah hikmat kebijaksanaan yang dilandasi akal sehat;
3. Manusia Indonesia sebagai warga negara dan warga masyarakat mempunyai
kedudukan, hak dan kewajiban yang sama;
4. Keputusan diambil berdasarkan musyawarah untuk mufakat oleh wakilwakil
rakyat.
Penerapan sila ini bisa dilakukan dalam berbagai bentuk kegiatan, antara lain
(Koesnadi Hardjasoemantri, 2000 : 560 ) :
 Mewujudkan, menumbuhkan, mengembangkan dan meningkatkan kesadaran
dan tanggung jawab para pengambil keputusan dalam pengelolaan lingkungan
hidup;
 Mewujudkan, menumbuhkan, mengembangkan dan meningkatkan kesadaran
akan hak dan tanggung jawab masyarakat dalam pengelolaan lingkungan
hidup;
 Mewujudkan, menumbuhkan, mengembangkan dan meningkatkan kemitraan
 Masyarakat, dunia usaha dan pemerintah dalam upaya pelestarian daya
dukung dan daya tampung lingkungan hidup.
Sila Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia terkandung nilai keadilan sosial.
Dalam hal ini harus diperhatikan beberapa aspek berikut, antara lain :
1. Perlakuan yang adil di segala bidang kehidupan terutama di bidang politik,
ekonomi dan sosial budaya;
2. Perwujudan keadilan sosial itu meliputi seluruh rakyat Indonesia;
3. Keseimbangan antara hak dan kewajiban, menghormati hak milik orang lain;
4. Cita-cita masyarakat yang adil dan makmur yang merata material spiritual bagi
seluruh rakyat Indonesia;
5. Cinta akan kemajuan dan pembangunan.
Penerapan sila ini tampak dalam ketentuan-ketentuan hukum yang mengatur
masalah lingkungan hidup. Sebagai contoh, dalam Ketetapan MPR RI Nomor
IV/MPR/1999 tentang Garis-Garis Besar Haluan Negara (GBHN), Bagian H yang
mengatur aspekaspek pengelolaan lingkungan hidup dan pemanfaatan sumber daya
alam. Dalam ketetapan MPR ini hal itu diatur sebagai berikut (Penabur Ilmu, 1999 :
40) :

1. Mengelola sumber daya alam dan memelihara daya dukungnya agar


bermanfaat bagi peningkatan kesejahteraan rakyat dari generasi ke generasi;
2. Meningkatkan pemanfaatan sumber daya alam dan lingkungan hidup dengan
melakukan konservasi, rehabilitasi dan penghematan pengunaan dengan
menerapkan teknologi ramah lingkungan;
3. Mendelegasikan secara betahap wewenang pemerintah pusat kepada
pemerintah daerah dalam pelaksanaan pengelolaan sumber daya alam secara
selektif dan pemeliharaan ling-kungan hidup, sehingga kualitas ekosistem
tetap terjaga yang diatur dengan undangundang;
4. Mendayagunakan sumber daya alam untuk sebesar-besarnya kemakmuran
rakyat dengan memperhatikan kelestarian fungsi dan keseim-bangan
lingkungan hidup, pembangunan yang berkelanjutan, kepentingan ekonomi
dan budaya masyarakat lokal serta penataan ruang yang pengaturannya
diatur dengan undang-undang;
5. Menerapkan indikator-indikator yang memungkinkan pelestarian
kemampuan

CIRI KHAS SUKU TOLAKI BUDAYA DAN ADAT ISTIADANYA.


1. CIRI KHAS SUKU TOLAKI DAN ADAT ISTIADAT
Sulawesi merupakan sebuah pulau dengan panjang garis pantai sekitar 3.500
mil, terdiri atas empat semenanjung utama yang terpisahkan oleh teluk dalam,
dengan dua semenanjung mengarah keselatan dan dua lainnya ke utara. Demikian
pula dengan suku tolaki di sulawesi tenggara, kendari atau tepatnya di konawe.
Mereka memiliki simbol adat yakni “kalo” sedangkan tradisinya disebut kalosara.
Kalo sendiri terbuat dari rotan dan dibuat secara melingkar. Kalo merupakan simbol
persatuan dan kesatuan. Biasanya, masyarakat tolaki mekongga dan tolaki jika
terjadi suatu masalah sosian yang memerlukan penyelesaian, maka mereka akan
kembali pada makna kalo.

2.DEFINISI SUKU TOLAKI

Suku tolaki adalah sebuah komunitas masyarakat yang mendiami pulau


sulawesi di sebelah tenggara persisnya di kota kendari, kabupaten konawe, konawe
selatan,konawe utara. Kebanyakan dari mereka memiliki fropesi sebagai petani
yang rajian dalam bekerja. Selain itu mereka juga punya semangat gotong royong
yang tinggi. Nama suku tolaki tidak begitu saja ada dan terjadi di balik nama tersebut
tentu memiliki arti atau sejarah, nama suku tolaki ini berasal dari kata TOLAKI, TO=
ORANG atau manusia, LAKI= JENIS KELAMIN LAKI-LAKI, Jadi artinya adalah
manusia yang memiliki kejantangan yang tinggi, berani dan menjunjung tinggi
kehormatan diri /harga diri. Sehingga hal tersebut akhirnya suku tolaki menjadi
salah satu suku terbesar yang ada di provinsi sulawesi tenggara di samping suku
buton dan suku muna yang terbesar di kab.kendari dan kab. Kolaka, yang berada di
kab. Kolaka dan mendiami daerah mowewe, rate-rate dan lambuya sedangkan yang
berada di kab. Kendari mendiami daerah aserah, lasolo, wawotobi, abuki, dan
tinanggea. Orang tolaki pada mulanya menamakan dirinya tolohianga (orang dari
langit). mungkin yang di maksud langit adalah kerajaan langit sebagai mana dikenal
dalam budaya cina. Dalam dugaannya, ada keterkaitan antara kata hiu yang dalam
bahasa cina berarti langit dengan kata heo (tolaki) yang berarti ikut pergi kelangit.

3.CIRI KHAS SENI BUDAYA SUKU TOLAKI

Soal seni budaya, kota kendari pun tak kala dengan daerah lain. Kalo aceh
identik dengan tari seudatik, jakarta tersohor dengan tari topeng betawi, maka kota
kendari pun memiliki tarian tradisional yang khas dan pantas di banggakan, seperti
tari monotambe dan lulo.
-TARI MONOTAMBE
Atau tari penjemputan misalnya merupakan tarian khas suku tolaki yang
kerap ditampilkan saat ada event berskala besar untuk menjemput tamu besar.
Misalnya saat pembukaan festival tekuk kendari (pestek) yang kerap dihadiri
beberapa tamu penting dari jakarta dan daerah lain. Sebagai catatan suku tolaki
merupakan penduduk asli kota kendari sebagai man suku betawi di kota jakarta.
Tarian ini di lakoni oleh 12 penari perempuan muda dan 2 penari lelaki sebagai
pengawal. Para penari perempuannya menggunakan busana motif tabere atau
hiasan, sarung tenun tolaki, dan aksesoris seperti nagalu atau ikat kepala, dan
kalung. Dalam tarian berdurasi sekitar 5-10 menit ini, beberapa penari perempuan
membawa bosara atau bokor dari rotan , sedangkan dua penari lelakinya memegang
senjata tradisional.
-TARI LULO
Merupakan tari pergaulan khas sulawesi tenggara yang juga populer di kota
kendari. Tarian ini biasanya dilakukan kawula muda sebagai ajang perkenalan. Kini
tari lulo kerap di sunggukan saat ada tamu kehormatan sebagai tanda persahabatan
antara warga kota kendari dengan pendatang, dalam hal ini wisatawan. Gerakan tari
lulo tidakn lah serumit tarian tradisional lain. Para penarinya saling berpegangan
tangan satu sama lain membentuk lingkaran yang saling menyambung. Dalam
sebuah acarah besar yang hadiri pengunjung dari luar kota kendari, para penari lulo
selalu mengajak tamu yang tidak bisa menari. Setiap tamu yang tidak bisa menari
akan di ajarkan cara melangkah atau menari ala tari lulo oleh penari yang
mengajaknya hingga terabiasa. Tari lulo ini pun terap di tampilkan pada petek.
Bahkan pada perayaan tersebut, tari ini perna di tampilkan secara kolosal dengan
mengikutsertakan warga kota dan wisatawan yang datang.
Suku tolaki, sosial budaya suku tolaki tolaki adalah suatu komunitas
masyrakat yang berdiam di kota kendari, konawe dan konawe selatan di sulawesi
tengara. Menurut cerita rakyat, yaitu korajaan konawe.
KABUPATEN KONAWE SELATAN
Konsel adalah salah satu daerah tingkat II di provinsi sulawesi tenggara,
indonesia. Ibukota kabupaten ini terletak di andoolo. Kabupaten ini berasal dari
hasil pemekaran kabupaten kendari yang di sahkan dengan UU nomor 4 tahun 2003,
tanggal 25 februari 2003.