Anda di halaman 1dari 9

Arsitektur Tematik

Mengulik berbagai tren arsitektur sebelumnya, beberapa hal yang bisa ditarik sebagai
kesimpulan adalah mulai beraninya para arsitek mengolah arsitektur dari sebuah rumah hunian.

Hal yang sama tercermin dari tren arsitektur satu ini yaitu arsitektur tematik. Yang dimaksud
dari arsitektur tematik adalah pengaplikasian sebuah tema secara total pada rancangan
arsitektur.

Contoh dari pengaplikasian arsitektur tematik adalah rancangan arsitektur rumah piano dengan
totalitas bentuk, rumah Jawa dengan implementasi elemen-elemen arsitektur Jawa secara
eksplisit, dan berbagai rumah dengan tema arsitektur berbeda namun diwujudkan secara total
dan eksplisit. Nggak cuma gaya modern dan futuristik, arsitektur tematik ini juga bisa
diterapkan dengan konsep vernakular dan tradisional.

Untuk kamu yang ingin mengekspresikan diri lewat hunian secara frontal, arsitektur tematik
bisa menjadi jawaban karena kamu bisa menerjemahkan berbagai tema secara harafiah dengan
mengikuti trend arsitektur ini.

1. Arsitektur vernakular
adalah gaya arsitektur yang dirancang berdasarkan kebutuhan lokal, ketersediaan bahan
bangunan, dan mencerminkan tradisi lokal. Definisi luas dari arsitektur vernakular adalah
teori arsitektur yang mempelajari struktur yang dibuat oleh masyarakat lokal tanpa intervensi
dari arsitek profesional. Arsitektur vernakular bergantung pada kemampuan desain dan tradisi
pembangunan lokal. Namun, sejak akhir abad ke-19 telah banyak arsitek profesional yang
membuat karya dalam versi gaya arsitektur vernakular ini.

Istilah vernakular berasal dari kata vernaculus di Bahasa Latin, yang berarti "domestik, asli,
pribumi", dan dari Verna, yang berarti "budak pribumi" atau "budak rumah-lahir". Dalam
linguistik, vernakular mengacu pada penggunakan bahasa tertentu pada suatu tempat, waktu,
atau kelompok. Dalam arsitektur, vernakular mengacu pada jenis arsitektur yang asli pada
waktu atau tempat tertentu (tidak diimpor atau disalin dari tempat lain). Arsitektur vernakular
ini paling sering digunakan untuk bangunan tempat tinggal.

Reethaus dengan atap jerami di Jerman (Sumber: commons.wikimedia.org)

Arsitektur vernakular memiliki konsep yang sangat terbuka dan komprehensif. Arsitektur
vernakular merupakan istilah yang juga merepresentasikan arsitektur primitif atau asli,
arsitektur adat, arsitektur leluhur atau tradisional, arsitektur pedesaan, arsitektur etnis,
arsitektur informal, atau arsitektur tanpa arsitek. Arsitektur vernakular tidak dapat disamakan
dengan arsitektur tradisional, meskipun ada hubungan di antara keduanya.

Replika rumah vernacular di Dubai, lengkap dengan windcatcher (Sumber: www.wikiwand.com)

Teori mengenai arsitektur vernakular telah ada sejak tahun 1800-an, yang berarti bahwa
konsep arsitektur vernakular bukanlah sebuah konsep baru, tetapi sudah ada sejak zaman
dahulu. Ide mengenai vernakularisme pada bangunan telah muncul dalam Bahasa Inggris
sejak tahun 1600-an, sedangkan istilah arsitektur vernakular telah secara eksplisit digunakan
sejak tahun 1818.

Arsitek mulai tertarik menggunakan vernakular dalam teori arsitektur pada awal abad ke-20.
Pada tahun 1964, sebuah pameran foto mengenai arsitektur vernakular bernama Architecture
Without Architects yang digelar di New York Museum of Modern Art (MOMA) menjadi
momen penting dari masuknya arsitektur vernakular ke dalam high architecture. Pameran ini
diselenggarakan oleh Bernard Rudofsky yang memiliki tujuan untuk mengangkat arsitektur
vernakular ke dalam kategori beaux-arts.

Arsitektur vernakular dipengaruhi oleh berbagai aspek berbeda, mulai dari perilaku manusia
hingga kondisi lingkungan, yang membuat bentuk bangunan menjadi berbeda-beda
tergantung fungsinya. (Vernakuler Iklim, Budaya, Lingkungan dan material bangunan)

2. High-Tech Dalam Arsitektur


Secara umum high-tech adalah sistem penggunaan terknol ogi tinggi,akan tetapi pada
kenyataannya high-tech memiliki pengertian yang tidak terbatas dan tidak hanya dengan

memandang high-tech sebagai bentuk penggunaan teknologi tinggi mengingat perkembangan


teknologi selalu mengalami siklus penyempurnaan hingga ke fase yang lebih tinggi (canggih)
sehingga pandangan umum ini tidak pernah memunculkan kesimpulan yang pasti dan tepat.

Hight tech merupakan buah pemikiran modern abad ke-20 yang mempopulerkan
pengunaan material industri. Wujudnya dipaparkan dalam buku yang berjudul High Tech: The
Industrial Style and Source Book for The Home oleh Joan Kron pada tahun 1978. Buku ini
menunjukkan bagaimana memadukan produk industri seperti sistem rak gudang dan penutup
lantai pabrik untuk sebuah rumah.

Dalam arsitektur sangat banyak digunakan istilah high-tech untuk menginterpretasikan sebuah
sistem teknologi yang digunakan pada suatu bnagunan dan semakin populer digunakan pada
awal 1970 untuk menggambarkan keberhasilan teknologi canggih yang dicapai pada saat itu
seperti yang terlihat pada arsitektur Pusat Georges Pompidou, Paris (1972-7) karya Renzo
piano dan Richer rogers yang memperlihatkan penggunaan material-material kaca dan logam
dengan mengekspose secara transparan bentuk bentuk jaringan dalam bangunan serta berbagai
fungsi-fungsi layanan seperti escalator,walkways dan ornament-ornamen diluar gedung.

Dalam sejarah perkembangannya istilah high-tech masih tetap digunakan sejak pertama kali
muncul pada awal 1970-an hingga sekarang dengan perkembangan teknologi yang semakin
tinggi dan kompleks(canggih) hal ini memperlihatkan tidak adanya kelas khusus sebuah
teknologi untuk dikatkan sebagai high-tech mengingat perkembangan teknologi selalu bergeser
dari waktu ke waktu,namun berdasarkan sejarahnya istilah high-tech telah disimpulkan sebagai
teknologi tercanggih saat ini (teknologi kekinian) yang diambil dari pengeneralisasian periode
perkembangan teknologi dimana disepakati bahwa perkembangan teknologi yang dimulai pada
tahun 1970 dikategorikan sebagai high-tech (teknologi tinggi) sehingga system teknologi pada
era 1960 ke bawah telah dipertimbangkan saat sekarang untuk tidak memasukkan kedalam
kategori high-tech dan pernyataan yang paling baru (2006) bahwa semua penemuan teknologi
dari tahun 2000 hingga kedepan dapat dianggap sebagai high-tech (teknologi tinggi).

Sifat-Sifat Teknologi

Teknologi sebagai ilmu prngetahuan mempunyai sifat-sifat sebagai berikut:

§ Obyektif dan universal, Tidak memihak pada suatu aliran tertentu maupun budaya
tertentu dan memiliki resiko yang berbeda dengan yang terdahulu

§ Rasional, Landasan penemuannya adalah berpikir logis

§ Tegas dan jelas, Sesuai dengan syarat pembuktian secara empiris

§ Sistematis dan akumulatif, Sifat rasional dan empiris membentukkerangka pikir


yang sistematis

§ Tumbuh,selalu berkembang, Teknologi akan selalu mengalami perkembangan dan


tidak pernah berhenti disebabkan karena sikap kritis dan perkembangan pola pikir
manusia yang mendasari perkembangan ini

§ Terbuka dan jujur, Mekanisme mengutaamakan unsur-unusur kebenaran yang


telibat diungkap secara jelas sehingga terbuka terhadap kemungkinan
penilaian,dukungan ataupun sanggahan

§ Dinamis dan progresif, Sifat yang senantiasa berkembang dan bergerak selalu
meneliti dan mencari serta menemukan hal yang baru.

Perkembangan Teknologi

Awal perkembangan teknologi dimulai pada tahun 5000 SM,pada masa itu bangsa
mesopotamia telah menemukan konsep roda yang kemudian sangat membantu aktivitas
mereka sehari-hari.

Perkembangan teknologi selanjutnya ditandai dengan revolusi industri yang telah


menjadi beberapa bagian,yaitu:

1. Revolusi industri I (1850), Sumber energi utama adalah batu bara

2. Revolusi industri II (1900), Sumber energi utama adalah minyak bumi dan listrik
3. Revolusi industri III (1950), Sumber energi utama adalah nuklir,matahari dan
dimulainya otamatisasi.

Pada masa masa revolusi industri tersebut ciri bangunan yang berkembang adalah ciri
bangunan pabrik.hal ini dilatar belakangi oleh perkembangan industri pada saat itu,bangunan-
bangunan lebih mengutamakan efesiensinya,dimana grid-grid yang diambil biasanya teratur
dan lurus,dan ornamen sangat jarang dipakai.kemudian pada dasawarsa 80-an,timbul sekurang-
kurangnya lima inovasi baru dalam lima bidang teknologi,yaitu:

a. Teknologi mikroprosesor,sebagai lanjutan dari revolusi elektronik

b. Teknologi serap optik(fiber optik)sebagai lanjutan dari teknologi komunikasi

c. Teknologi super konduktifsebagai lanjutan dari revolusi listrik

d. Teknologi antariksa

e. Teknologi rekombinasi DNA

Pada masa-masa tersebut ciri bangunan yang ada sudah banyak berubah kecanggihan
teknologi mulai mempengaruhi bentuk-bentuk bangunan bentuk-bentuk yang dipakai
seringkali adalah bentuk yang sama sekali baru untuk sebuah bangunan dan bangunan denngan
tema-tema ekologis mulai berkembang dan sekarang ini saat dunia mulai memasuki awal abad
ke 21 perkembangan terjadi semakin cepat dan hampir pada semua bidang teknologi dan
diantara perkembangan tersebut perkembangan dalam arsitektur dan konstruksi bangunan
adalah salah satu yang sangat penting untuk diperhatikan

3. Arsitektur Simbolis
Arsitektur Simbolis a d a l a h s e n i d a n i l m u k e t e k n i k a n b a n g u n a n
y a n g perencanaan dan perancangannya didasari oleh tanda dan lambang yang merupakan
e k s p r e s i ya n g l a n g s u n g . m e r e k a d i g u n a k a n d a l a m r a n c a n g a n a r s i t e k t u r
u n t u k m e m f o k u s k a n p e r h a t i a n p e m a k a i b a n g u n a n d e n g a n m e n ya m p a i k a n
p e m a h a m a n fungsi bangunan atau ruang-ruang dalam bangunan. Simbolis senantiasa
merupakan teknik perancangan utama yang memberi bentuk dan teknik yang dapa t
diterapkanmengenai hal-hal fungsional dan berdasarkan rencana untuk
memperkuat suatu artidan memberikan keutuhan pada komposisi secara menyeluruh.Ada
beberapa jenis simbol yang dikaitkan dengan simbol itu sendiri, kesanyang
ditimbulkan oleh bentuk simbolis dan pesan langsung yang disampaikan oleh
simbol, yang semuanya ditampilkan pada bentuk-bentuk tertentu, yaitu :
 Simbol agak tersamar
 Simbol methpora
 Simbol tanda pengenal
4. Arsitektur Metafora
Pengertian Metafora dalam Arsitektur adalah kiasan atau ungkapan bentuk, diwujudkan
dalam bangunan dengan harapan akan menimbulkan tanggapan dari orang yang menikmati
atau memakai karyanya.

Arsitektur yang Berdasarkan Prinsip-prinsip Metafora

1. Mencoba atau berusaha memindahkan keterangan dari suatu subjek ke subjek lain.
2. Mencoba atau berusaha untuk melihat suatu subjek seakan-akan sesuatu hal yang lain.
3. Mengganti fokus penelitian atau penyelidikan area konsentrasi atau penyelidikan
lainnya (dengan harapan jika dibandingkan atau melebihi perluasan kita dapat
menjelaskan subjek yang sedang dipikirkan dengan cara baru).

Kegunaan Penerapan Metafora dalam Arsitektur

Sebagai salah satu cara atau metode sebagai perwujudan kreativitas Arsitektural, yakni
sebagai berikut :

1. Memungkinkan untuk melihat suatu karya Arsitektural dari sudut pandang yang lain.
2. Mempengaruhi untuk timbulnya berbagai interprestasi pengamat.
3. Mempengaruhi pengertian terhadap sesuatu hal yang kemudian dianggap menjadi hal
yang tidak dapat dimengerti ataupun belum sama sekali ada pengertiannya
4. Dapat menghasilkan Arsitektur yang lebih ekspresif.

Kategori Metafora dalam Arsitektur

1. Intangible methaphors, (metafora yang tidak dapat diraba) metafora yang berangkat
dari suatu konsep, ide, hakikat manusia dan nilai-nilai seperti : individualisme,
naturalisme, komunikasi, tradisi dan budaya.
2. Tangible methaphors (metafora yang nyata), Metafora yang berangkat dari hal-hal
visual serta spesifikasi / karakter tertentu dari sebuah benda seperti sebuah rumah
adalah puri atau istana, maka wujud rumah menyerupai istana.
3. Combined methaphors (metafora kombinasi), merupakan penggabungan kategori 1
dan kategori 2 dengan membandingkan suatu objek visual dengan yang lain dimana
mempunyai persamaan nilai konsep dengan objek visualnya. Dapat dipakai sebagai
acuan kreativitas perancangan.

5. Arsitektur Dekonstruksi
Deconstructivism, atau deconstructivist architecture atau yang lazim disebut dekonstruksi
hadir pada tahun 1970an melengkapi berbagai langgam arsitektur yang masuk dalam
postmodernism atau langgam post-modern.

Arsitektur dekonstruksi merupakan suatu pendekatan desain bangunan yang merupakan


usaha-usaha percobaan untuk melihat arsitektur dari sisi yang lain
Arsitektur dekonstruksi juga telah menggariskan beberapa prinsip penting mengenai
arsitektur:

1. Tidak ada yang absolut dalam arsitektur, sehingga tidak ada satu langgam yang
dianggap terbaik sehingga semuanya memiliki kesempatan yang sama untuk
berkembang.
2. Tidak ada pen’dewa’an tokoh dalam arsitektur sehingga tidak timbul kecenderungan
pengulangan ciri antara arsitek satu dan yang lain hanya karena arsitek yang satu
dianggap dewa yang segala macam karyanya harus ditiru.
3. Dominasi pandangan dan nilai absolut dalam arsitektur harus diakhiri, sehingga
perkembangan arsitektur selanjutnya harus mengarah kepada keragaman pandangan
dan tata nilai.
4. Pengutamaan indera pengelihatan sebagai tolok ukur keberhasilan suatu karya dalam
arsitektur harus diakhiri. Potensi indera lain harus dapat dimanfaatkan pula secara
seimbang.

Arsitektur modern seringkali menyebut dirinya sebagai arsitektur yang paling rasional,
arsitektur yang paling memiliki teknologi tinggi, dan arsitektur yang memiliki sistem
fungional yang sempurna sehingga pada waktu itu tidak ada alternatif pemikiran lain di
dalam arsitektur selain ‘berpikir monoton’ seperti halnya paham fungsional yang dimiliki
oleh arsitektur modern.
Pengaruh dari suatu fenomena dari fungsi-fungsi yang dijanjikan dapat dirasakan pada
bentukan yang terjadi, sehingga menghasilkan bentukan-bentukan yang tidak berkembang,
seperti desain yang penuh dengan ‘kotak-kotak’ sederhana.
Makin lama keadaan ini menimbulkan kejenuhan, sehingga mulai timbul konflik
penyangkalan dan usaha-usaha untuk keluar dari ‘jalur’ yang ada.
Dekonstruksi merupakan salah satu jalan keluar yang patut dipertimbangkan dari
permasalahan-permasalahan yang timbul dari kejenuhan akan arsitektur modern.

Sehingga dapat dihasilkan pemahaman dan perspektif baru tentang arsitektur.

Pada arsitektur dekonstruksi yang ditonjolkan adalah geometri 3-D bukan dari hasil
proyeksi 2-D sehingga muncul kesan miring dan semrawut yang menunjuk kepada
kejujuran yang sejujur-jujurnya.
Penggunakan warna sebagai aksen juga ditonjolkan dalam komposisi arsitektur
dekonstruksi sedangkan penggunaan tekstur kurang berperan.

Bangunan yang menggunakan langgam arsitektur dekonstruksi memiliki tampilan yang


terkesan ‘tidak masuk akal’, dan memiliki bentukan abstrak yang kontras melalui
permainan bidang dan garis yang simpang siur.

Pada arsitektur dekonstruksi yang dikomunikasikan adalah:

a. unsur-unsur yang paling mendasar, essensial, substansial yang dimiliki oleh arsitektur.

b. Kemampuan maksimal untuk berarsitektur dari elemen-elemen yang essensial maupun


substansial.

Arsitektur dekonstruksi tidak mengikatkan diri kedalam salah satu dimensi Waktu
(Timelessness). Pandangan seperti ini mengakibatkan timbulnya pandangan terhadap
Dekonstruksi yang berbunyi "Ini merupakan kesombongan dekonstruksi."

6. Green Arsitektur

Konsep ‘green architecture’ atau arsitektur hijau menjadi topik yang menarik saat ini, salah
satunya karena kebutuhan untuk memberdayakan potensi site dan menghemat sumber daya
alam akibat menipisnya sumber energi tak terbarukan. Berbagai pemikiran dan interpretasi
arsitek bermunculuan secara berbeda-beda, yang masing-masing diakibatkan oleh
persinggungan dengan kondisi profesi yang mereka hadapi. Green arsitektur ialah”sebuah
konsep arsitektur yang berusaha meminimalkan pengaruh buruk terhadap lingkungan alam
maupun manusia dan menghasilkan tempat hidup yang lebih baik dan lebih sehat, yang
dilakukan dengan cara memanfaatkan sumber energi dan sumber daya alam secara efisien
dan optimal. Konsep arsitektur ini lebih bertanggung jawab terhadap lingkungan, memiliki
tingkat keselarasan yang tinggi antara strukturnya dengan lingkungan, dan penggunaan
sistem utilitas yang sangat baik. Green architecture dipercaya sebagai desain yang baik dan
bertanggung jawab, dan diharapkan digunakan di masa kini dan masa yang akan datang.

Dalam jangka panjang, biaya lingkungan sama dengan biaya sosial, manfaat lingkungan sama
juga dengan manfaat sosial. Persoalan energi dan lingkungan merupakan kepentingan
profesional bagi arsitek yang sasarannya adalah untuk meningkatkan kualitas hidup.

2.Prinsip – prinsip pada green architecture

PRINSIP-PRINSIP GREEN ARCHITECTURE :


1. Hemat energi / Conserving energy : Pengoperasian bangunan harus meminimalkan
penggunaan bahan bakar atau energi listrik ( sebisa mungkin memaksimalkan energi
alam sekitar lokasi bangunan ).
2. Memperhatikan kondisi iklim / Working with climate : Mendisain bagunan harus
berdasarkan iklim yang berlaku di lokasi tapak kita, dan sumber energi yang ada.
3. Minimizing new resources : mendisain dengan mengoptimalkan kebutuhan
sumberdaya alam yang baru, agar sumberdaya tersebut tidak habis dan dapat
digunakan di masa mendatang /
Penggunaan material bangunan yang tidak berbahaya bagi ekosistem dan sumber daya
alam.
4. Tidak berdampak negative bagi kesehatan dan kenyamanan penghuni bangunan
tersebut / Respect for site : Bangunan yang akan dibangun, nantinya jangan sampai
merusak kondisi tapak aslinya, sehingga jika nanti bangunan itu sudah tidak terpakai,
tapak aslinya masih ada dan tidak berubah.( tidak merusak lingkungan yang ada ).
5. Merespon keadaan tapak dari bangunan / Respect for user : Dalam merancang
bangunan harus memperhatikan semua pengguna bangunan dan memenuhi semua
kebutuhannya.
6. Menetapkan seluruh prinsip – prinsip green architecture secara keseluruhan / Holism :
Ketentuan diatas tidak baku, artinya dapat kita pergunakan sesuai kebutuhan
bangunan kita.

3.Sifat – sifat pada bangunan berkonsep green architecture.

Green architecture (arsitekture hijau) mulai tumbuh sejalan dengan kesadaran dari para
arsitek akan keterbatasan alam dalam menyuplai material yang mulai menipis.Alasan lain
digunakannya arsitektur hijau adalah untuk memaksimalkan potensi site.
Penggunaan material-material yang bisa didaur-ulang juga mendukung konsep arsitektur
hijau, sehingga penggunaan material dapat dihemat.
Green’ dapat diinterpretasikan sebagai sustainable (berkelanjutan), earthfriendly (ramah
lingkungan), dan high performance building (bangunan dengan performa sangat baik).

A.Sustainable ( Berkelanjutan ).

Yang berarti bangunan green architecture tetap bertahan dan berfungsi seiring zaman,
konsisten terhadap konsepnya yang menyatu dengan alam tanpa adanya perubahan –
perubuhan yang signifikan tanpa merusak alam sekitar.

B. Earthfriendly ( Ramah lingkungan ).

Suatu bangunan belum bisa dianggap sebagai bangunan berkonsep green architecture apabila
bangunan tersebut tidak bersifat ramah lingkungan. Maksud tidak bersifat ramah terhadap
lingkungan disini tidak hanya dalam perusakkan terhadap lingkungan. Tetapi juga
menyangkut masalah pemakaian energi.Oleh karena itu bangunan berkonsep green
architecture mempunyai sifat ramah terhadap lingkungan sekitar, energi dan aspek – aspek
pendukung lainnya.

C. High performance building.

Bangunan berkonsep green architecture mempunyai satu sifat yang tidak kalah pentingnya
dengan sifat – sifat lainnya. Sifat ini adalah “High performance building”. Mengapa pada
bangunan green architecture harus mempunyai sifat ini?. Salah satu fungsinya ialah untuk
meminimaliskan penggunaan energi dengan memenfaatkan energi yang berasal dari alam (
Enrgy of nature ) dan dengan dipadukan dengan teknologi tinggi ( High technology
performance ). Contohnya :

1). Penggunaan panel surya ( Solar cell ) untuk memanfaatkan energi panas matahari
sebagai sumber pembangkit tenaga listrik rumahan.

2.) Penggunaan material – material yang dapat di daur ulang, penggunaan konstruksi –
konstruksi maupun bentuk fisik dan fasad bangunan tersebut yang dapat mendukung konsep
green architecture.

Secara sederhana konsep green architecture ini bisa kita terapkan di dalam rancangan rumah
sederhana sekalipun, hanya apakah ada goodwill atau tidak untuk penerapannya.konsep-
konsep sedrehana seperti rumah hemat listrik, hemat air, dan sebagainya dapat mulai
diterapkan untuk mengantisipasi berkurangnya sumber listrik dan air di kehidupan sehari-
hari.