Anda di halaman 1dari 37

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Banyak bahan kimia yang digunakan untuk praktikum yang
berbentuk larutan. Untuk membuat larutan pada umumnya digunakan
pelarut air, dan ada pula beberapa larutan yang menggunakan pelarut lain.
Dalam praktikum sering digunakan larutan dan pereaksi. Dan
biasanya akan dilakukan percobaan tentang pembuatan larutan dimana
mahasiswa diharapkan dapat mengetahui serta memahami tentang
konsentrasi suatu larutan yang ada atau yang akan dibuat.
Dengan demikian mahasiswa harus memiliki pengetahuan tentang
larutan dan pereaksi. Pengetahuan mengenai cara pembuatan larutan
sangat penting karena sebagian besar reaksi kimia terjadi melalui bentuk
cairan atau larutan. Pengetahuan bukan saja mengenai jenisnya, tetapi juga
pengetahuan tentang pembuatan dan penanganannya.

B. Tujuan Percobaan
Untuk mengetahui pembuatan larutan sampel dan reagen.
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Larutan
Larutan adalah campuran homogen antara dua atau lebih zat yang
terdispersi baik sebagai molekul, atom maupun ion yang komposisinya
dapat bervariasi. Larutan dapat berupa gas, cairan, atau padatan. Larutan
encer adalah larutan yang mengandung sebagian kecil solute, relative
terhadap jumlah pelarut. Sedangkan larutan pekat adalah larutan yang
mengandung sebagian besar solute. Solute adalah zat terlarut. Sedangkan
solvent adalah pelarut (Baroroh, 2004).
Pada umumnya zat yang digunakan sebagai pelarut adalah air
(H2O), selain air yang berfungsi sebagai pelarut adalah alcohol, amoniak,
kloroform, benzena, minyak, asam asetat (Gunawan, 2004).
B. Konsentrasi Larutan
Konsentrasi didefinisikan sebagai jumlah zat terlarut dalam setiap
satuan larutan atau pelarut, dinyatakan dalam satuan volume zat terlarut
dalam sejumlah volume tertentu dari pelarut (Baroroh, 2014).
Konsentrasi merupakan salah satu faktor penting yang menentukan
cepat atau lambatnya reaksi berlangsung. Konsentrasi larutan menyatakan
banyaknya zat terlarut yang terdapat dalam suatu pelarut atau larutan.
Larutan yang mengandung sebagian besar solute relatif terhadap pelarut,
berarti larutan tersebut konsentrasinya tinggi atau pekat. Sebaliknya bila
mengandung sejumlah kecil solute, maka konsentrasinya rendah atau encer
(Puspita, 2013).
Konsentrasi dapat dinyatakan dalam beberapa cara. Antara lain
molaritas, molalitas, normalitas dan sebagainya.
1. Molaritas, adalah jumlah mol zat terlarut dalam satu liter larutan dan
biasanya dinyatakan dengan huruf besar M.
2. Molalitas, adalah jumlah mol zat terlarut dalam satu kilogram pelarut
dan biasanya dinyatakan dengan huruf kecil m.
3. Normalitas, adalah jumlah gram ekuivalen zat terlarut dalam satu liter
larutan dan biasanya dinyatakan dengan huruf besar N (Anshary,
1999).
C. Pengenceran
Proses pengenceran adalah mencampur larutan pekat (konsentrasi
tinggi) dengan cara menambahkan pelarut agar diperoleh volume akhir
yang lebih besar. Jika suatu larutan senyawa kimia yang pekat diencerkan,
kadang-kadang sejumlah panas dilepaskan. Contohnya pengenceran asam
sulfat pekat. Agar panas dapat dihilangkan dengan aman, asam sulfat yang
harus ditambahkan ke dalam air, tidak boleh sebaliknya (Anshary, 1999).
D. Reagen
Pereaksi atau sering disebut juga reagensia adalah suatu zat yang
berperan dalam suatu reaksi kimia atau diterapkan untuk tujuan analitis.
Reagen memiliki banyak kegunaan dan sebagian besar melibatkan
menyelamatkan nyawa aplikasi. Zat atau dua zat membuat, mengukur atau
membangun keberadaan reaksi kimia dengan bantuan reagen (Hurint,
2015).
Reagen digolongkan menjadi 2 jenis, yaitu :
1. Reagen padat, yaitu reagen yang berbentuk padatan atau serbuk.
Contohnya kalsium karbonat.
2. Reagen cair, yaitu reagen yang berbentuk cairan, baik encer maupun
kental. Contohnya asam klorida.
Menurut tingkat kemurniannya, reagen dibagi menjadi :
1. Reagen tingkat analitis (Analytical Reagent)
Reagen tingkat analitis adalah reagen yang terdiri atas zat-zat kimia
yang mempunyai kemurnian sangat tinggi. Kemurnian zat-zat tersebut
dianalisis dan dicantumkan pada botol atau wadahnya.
2. Reagen tingkat lain
Zat kimia lain tersedia dalam tingkatan dan penggunaan yang berbeda,
yaitu :
a) Tingkat kemurnian kimiawi (chemical pure grade)
Yang digunakan dalam tingkat ini yaitu beberapa bahan kimia
organik, tetapi penggunaannya sebagai reagen laboratorium
kesehatan harus melewati tahap pengujian yang teliti sebelum
dipakai.
b) Tingkat praktis (pratical grade)
c) Tingkat komersial (commercial grade)
Merupakan kadar zat kimia yang bebas diperjual belikan di pasaran
misalnya alkohol 70%.
d) Tingkat teknis (tehnical grade)
Umumnya zat kimia dalam tingkat ini digunakan di industri-
industri kimia (Anggraini, 2016).
BAB III

METODE PERCOBAAN

A. Alat dan Bahan


1. Alat yang digunakan :
1) Beaker glass
2) Erlenmeyer
3) Filler/bola hisap
4) Gelas ukur
5) Perkamen
6) Pipet tetes
7) Pipet ukur
8) Pipet volum
9) Timbangan analitik
2. Bahan :
1) Aquadest (Depkes, 1979)
a. Nama kimia : Aqua Destillata
b. Nama indonesia : Air Suling
c. Pemerian : Cairan tidak berwarna, tidak berbau, tidak
berasa
d. Kelarutan : Larut dengan semua jenis larutan
e. Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik
2) Pb(NO3)2 (Depkes, 1979)
a. Nama kimia : Nitrat Plumbous
b. Nama indonesia : Timbal Nitrat (P)
c. Pemerian : Hablur tidak berwarna atau putih atau
serbuk hablur putih
d. Kelarutan : Larut dalam air, larutan jernih dan tidak
berwarna
e. Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik
3) HCl (Depkes, 2014)
a. Nama kimia : Acidum Hydrochoridum
b. Nama indonesia : Asam Klorida
c. Pemerian :Cairan, tidak berwarna, berasap, bau
merangsang
d. Kelarutan :-
e. Penyimpanan : Dalam wadah tertutp baik
4) AgNO3 (Depkes, 1995)
a. Nama kimia : Argenti Nitras
b. Nama indonesia : Perak Nitrat
c. Pemerian : Hablur tidak berwarna atau putih, bila
dibiarkan terpapar cahaya adanya zat
organik, menjadi berwarna abu-abu atau
hitam keabu-abuan.
d. Kelarutan : Sangat mudah larut dalam air, terlebih
dalam air mendidih, agark sukar larut dalam
etanol, mudah larut dalam etanol mendidih,
sukar larut dalam eter
e. Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik
5) HNO3 (Depkes, 1995)
a. Nama kimia : Nitric Acid
b. Nama indonesia : Asam Nitrat
c. Pemerian : Cairan jernih berasap, hamper tidak
berwarna sampai berwarna kuning
d. Kelarutan :-
e. Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik
6) HgCl2 (Depkes, 1979)
a. Nama Kimia : Hydrargryi Bichloridum
b. Nama Indonesia : Raksa (II) Klorida
c. Pemerian : Hablur tidak berwarna atau serbuk
hablur putih, tidak berbau, berat
d. Kelarutan : Larut dalam 15 bagian air, dalam 2,1
bagian Air mendidih, dalam 3 bagian etanol
(95%) P, dalam 2 bagian etanol (95%) P,
mendidih, dalam 20 bagian eter P dan
dalam 15 bagian gliserol.
e. Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat
7) NaOH (Depkes, 1979)
a. Nama Kimia : Natrii Hydroxydum
b. Nama Indonesia : Natrium Hidroksida
c. Pemerian : Bentuk batang, butiran, massa hablur
atau keping, keras, rapuh, dan
menunjukkan susunan hablur, putih;
mudah meleleh basah. Sangat alkalis dan
korosif, segera menyerap CO2.
d. Kelarutan : Sangat mudah larut dalam air dan dalam
etanol (95%)
e. Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik
8) KI (Depkes, 1979)
a. Nama Kimia : Kalii Iodidum
b. Nama Indonesia : Kalii Iodidum
c. Pemerian : Hablur heksahedral, transparan atau tidak
berwarna, opak dan putih, atau serbuk
butiran putih, Higroskopik.
d. Kelarutan : Sangat mudah larut dalam air, lanih mudah
berwarna, opak dan putih, atau serbuk
butiran putih, Higroskopik.
e. Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik
9) CuSO4 (Depkes, 1979)
a. Nama Kimia : Cuprum Sulfas
b. Nama Indonesia : Tembaga (II) Sulfat
c. Pemerian : Serbuk hablur atau keabuan bebas dari
berwarna, opak dan putih, atau serbuk
butiran putih, Higroskopik.
d. Kelarutan : Larut dalam air dan etanol (95 %) P.
e. Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat

10) NaCl (Depkes, 1979)


a. Nama Kimia : Natrii Chloridum
b. Nama Indonesia : Natrium Klorida
c. Pemerian : Hablur heksahedral tidak berwarna atau
serbuk hablur putih; tidak berbau; rasa
asin.
d. Kelarutan : Larutan dalam 2,8 bagian air, dalam 2,7
bagian air mendidih dan dalam lebih kurang
10 bagian gliserol p; sukar larut dalam
etanol (95%) p
e. Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik
11) KBr (Depkes, 1979)
a. Nama Kimia : Kalii Bromidum
b. Nama Indonesia : Kalium Bromida
c. Pemerian : Hablur tidak berwarna, transparan atau
buram atau serbuk butir; tidak berbau; rasa
asin dan agak pahit.
d. Kelarutan : Larut dalam lebih kurang 1,6 bagian air
dan dalam lebih kurang 200 bagian etanol
(90%) P
e. Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik
12) H2SO4 (Depkes, 2014)
a. Nama Kimia : Sulfuric Acid
b. Nama Indonesia : Asam Sulfat
c. Pemerian : Cairan jernih seperti minyak; tidak
berwarna; bau sangat tajam dan korosif;
bobot jenis lebih kurang 1,84.
d. Kelarutan : Bercampur dengan air dan dengan etanol,
dengan menimbulkan panas
e. Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat
13) MgSO4 (Depkes, 1995)
a. Nama kimia : Magnesium Sulfat
b. Nama indonesia : Garam Inggris
c. Pemerian : Hablur, biasanya berbentuk jarum, tidak
berwarna, rasa dingin, asin dan pelarut.
Dalam udara kering dan hangat merekah.
d. Kelarutan : Mudah larut dalam air, mudah larut secara
perlahan dalam gliserin, sangat mudah larut
dalam air mendidih, agak sukar larut dalam
etanol.
e. Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat.
14) Na2CO3 (Depkes, 1995)
a. Nama kimia : Natrii Subcarbonas
b. Nama Indonesia : Natrium Bikarbonat
c. Pemerian : Serbuk hablur, putih. Stabil diudara
kering, tetap dalam udara lembab secara
perlahan-lahan terurai. Larutan segar
dalam air dingin, tanpa dikocok, bersifat
basa terhadap lakmus. Kebasaan
bertambah bila larutan dibiarkan,
digoyang kuat atau dipanaskan.
d. Kelarutan : Larut dalam air, tidak larut dalam etanol.
e. Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat.
15) NH4Cl (Depkes, 1995)
a. Nama kimia : Ammonii Choloridum
b. Nama Indonesia : Amonium Klorida
c. Pemerian : Hablur tidak berwarna atau hablur halus
atau kasar, warna utih rasa asin dan dingin,
higroskopik.
d. Kelarutan : Mudah larut dalam air dan dalam gliserin
atau lebih larut dalam air mendidih, sedikit
larut dalam etanol.
e. Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat.
16) ZnCl2 (Depkes 1995)
a. Nama Kimia : Zinci Clorida
b. Nama Indonesia : Zinc Klorida
c. Pemerian : Serbuk hablur atau gram hablur, putih atau
hampir putih; dapat berupa massa seperti
porselen atau berbentuk silinder.; sangat
mudah larut mencair; larutan (1 dalam 10)
bereaksi asam terhadap lakmus.
d. Kelarutan : Sangat mudah larut dalam air, mudah larut
dalam etanol dan dalam gliserin; larutan
dalam air atau etanol biasanya agak keruh,
tetapi kekeruhan hilang jika ditambahkan
sedikit asam klorida.
e. Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat.
17) Kalium Ferrosianida (Depkes 2014)
a. Nama Kimia : Kalium Ferrosianida
b. Nama indonesia : -
c. Pemerian :-
d. Kelarutan :-
e. Penyimpanan :-
18) Kalium Ferrisianida (Depkes 1995)
a. Nama Kimia : Kalium Ferrisianida
b. Nama Indonesia : -
c. Pemerian :-
d. Kelarutan :-
e. Penyimpanan :-
19) Am Oxalate (Depkes, 1979)
a. Nama kimia :-
b. Nama Indonesia : Ammonium Oksalat
c. Kelarutan : Larut dalam air
d. Pemerian : Hablur tidak berwarna
e. Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat
20) CaCl2 (Depkes, 1979)
a. Nama kimia : Calcium Choloride
b. Nama Indonesia : Kalsium Klorida
c. Pemerian : Hablur tidak berwarna, tidak
meleleh, rasa agak pahit.
d. Kelarutan : Larut dalam 0,25 bagian air, mudah
larut dalam etanol (95%).
e. Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat
21) BaCl2 (Depkes, 1979)
a. Nama kimia : Barium Choloridum
b. Nama indobesia : Barium Klorida
c. Pemerian : Hablur tidak berwarna
d. Kelarutan : Larut dalam methanol, tidak larut
dalam etanol, etil asetat.
e. Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat

B. Cara Kerja
1. Pembuatan Pb(NO3)2 0,25 M sebanyak 5 ml
1) Disiapkan alat dan bahan
2) Dihitung berapa banyak Pb(NO3)2 yang akan ditimbang
3) Ditimbang Pb(NO3)2 sebanyak 0,41375 gram menggunakan
timbangan analitik
4) Dimasukkan Pb(NO3)2 ke dalam Erlenmeyer
5) Ditambahkan aquadest sekitar 2,5 ml ke dalam Erlenmeyer
6) Digoyangkan leher Erlenmeyer perlahan-lahan agar homogen
7) Dipanaskan dengan hot plate hinga Pb(NO3)2 larut
8) Dipindahkan larutan Pb(NO3)2 ke dalam gelas ukur 25 ml
9) Ditambahkan aquadest sampai 5 ml
10) Dipindahkan ke botol reagen dan diberi label (nama larutan,
konsentrasi, tanggal pembuatan dan nama kelompok)
2. Pembuatan HCl 2 M sebanyak 10 ml dari larutan HCl pekat 6 M
1) Disiapkan alat dan bahan
2) Dihitung berapa banyak HCl yang akan diambil
3) Diambil HCl sebanyak 3,3 ml menggunakan pipet volum 2 ml dan
pipet ukur 1 ml
4) Dimasukkan HCl ke dalam Erlenmeyer
5) Ditambahkan aquadest sekitar 5 ml ke dalam Erlenmeyer
6) Digoyangkan leher Erlenmeyer perlahan-lahan agar homogen
7) Dipindahkan larutan HCl ke dalam gelas ukur 25 ml
8) Ditambahkan aquadest sampai 10 ml
9) Dipindahkan ke botol reagen dan diberi label (nama larutan,
konsentrasi, tanggal pembuatan dan nama kelompok)
3. Pembuatan AgNO3 0,1 M sebanyak 5 ml
1) Disiapkan alat dan bahan
2) Dihitung berapa banyak AgNO3 yang akan ditimbang
3) Ditimbang AgNO3 sebanyak 0,0845 gram menggunakan timbangan
analitik
4) Dimasukkan AgNO3 ke dalam Erlenmeyer
5) Ditambahkan aquadest sekitar 2,5 ml ke dalam Erlenmeyer
6) Digoyangkan leher Erlenmeyer perlahan-lahan agar homogen
7) Dipindahkan larutan AgNO3 ke dalam gelas ukur 25 ml
8) Ditambahkan aquadest sampai 5 ml
9) Dipindahkan ke botol reagen dan diberi label (nama larutan,
konsentrasi, tanggal pembuatan dan nama kelompok)
4. Pembuatan HNO3 2 M sebanyak 10 ml
1) Disiapkan alat dan bahan
2) Dihitung berapa banyak HNO3 yang akan diambil
3) Diambil HNO3 sebanyak 1,3 ml menggunakan pipet ukur 1 ml
4) Dimasukkan HNO3 ke dalam Erlenmeyer
5) Ditambahakan aquadest sekitar 5 ml ke dalam Erlenmeyer
6) Digoyangkan leher Erlenmeyer perlahan-lahan agar homogen
7) Dipindahkan larutan HNO3 ke dalam gelas ukur 25 ml
8) Ditambahkan aquadest sampai 10 ml
9) Dipindahkan ke botol reagen dan diberi label (nama larutan,
konsentrasi, tanggal pembuatan dan nama kelompok)
5. Pembuatan HgCl2 0,25 M sebanyak 5 ml
1) Disiapkan alat dan bahan
2) Dihitung berapa banyak HgCl2 yang akan ditimbang
3) Ditimbang HgCl2 sebanyak 0,338 gr menggunakan timbangan
analitik
4) Dimasukkan HgCl2 kedalam Erlenmeyer
5) Ditambahkan aquadest sekitar 2,5 ml kedalam Erlenmeyer,
kemudian digoyangkan agar HgCl2 larut
6) Diaduk dengan batang pengaduk karna belum larut setelah
digoyangkan
7) Dipanaskan dengan hot plate hingga HgCl2 larut
8) Dipindahkan HgCl2 kedalam gelas ukur 25 ml
9) Ditambahkan aquadest sampai 5 ml
10) Dipindahkan kedalam botol reagen dan diberi etiket (nama larutan,
konsentrasi, tanggal pembuatan dan nama kelompok)
6. Pembuatan NaOH 1 M sebanyak 50 ml
1) Disiapkan alat dan bahan
2) Dihitung berapa banyak NaOH yang akan ditimbang
3) Ditimbang NaOH sebanyak 2 gr menggunakan timbangan analitik
4) Dimasukkan NaOH kedalam Erlenmeyer
5) Ditambahkan aquadest sekitar 5 ml kedalam Erlenmeyer, kemudian
digoyangkan agar NaOH larut
6) Dipindahkan HgCl2 kedalam gelas ukur 25 ml
7) Ditambahkan aquadest sampai 5 ml
8) Dipindahkan kedalam botol reagen dan diberi etiket (nama larutan,
konsentrasi, tanggal pembuatan dan nama kelompok)
7. Pembuatan KI 2 M sebanyak 10 ml
1) Disiapkan alat dan bahan
2) Dihitung berapa banyak KI yang akan ditimbang
3) Ditimbang KI sebanyak 3,32 gr menggunakan timbangan analitik
4) Dimasukkan KI kedalam Erlenmeyer
5) Ditambahkan aquadest sekitar 5 ml kedalam Erlenmeyer, kemudian
digoyangkan agar KI larut
6) Dipindahkan KI kedalam gelas ukur 25 ml
7) Ditambahkan aquadest sampai 10 ml
8) Dipindahkan kedalam botol reagen dan diberi etiket (nama larutan,
konsentrasi, tanggal pembuatan dan nama kelompok)
8. Pembuatan CuSO4 0,55 M sebanyak 5 ml
1) Disiapkan alat dan bahan
2) Dihitung berapa banyak CuSO4 yang akan ditimbang
3) Ditimbang CuSO4 sebanyak 0,442 gr menggunakan timbangan
analitik
4) Dimasukkan CuSO4 kedalam Erlenmeyer
5) Ditambahkan aquadest sekitar 2,5 ml kedalam Erlenmeyer,
kemudian digoyangkan agar CuSO4 larut
6) Dipindahkan CuSO4 kedalam gelas ukur 25 ml
7) Ditambahkan aquadest sampai 10 ml
8) Dipindahkan kedalam botol reagen dan diberi etiket (nama larutan,
konsentrasi, tanggal pembuatan dan nama kelompok)
9. Pembuatan NaCl 0,2 M sebanyak 2ml
1) Disiapkan alat dan bahan
2) Ditimbang NaCl sebanyak 0,058 gram menggunakan timbangan
analitik
3) Dimasukkan kedalam erlemeyer
4) Diteteskan Aquadest sebanyak 2 mL kedalam erlemeyer yang
berisi NaCl, kemudian dicukupkaan Aquadest hingga 5 mL
5) Dihomogenkan Aquadest dan NaCl dengan cara menggoyangkan
erlemeyer
6) Ditutup larutan NaCl menggunakan kapas yang telah dibungkus
Alumunium foil.
7) Diberi label sesuai larutan tersebut
10. Pembuatan KBr 0,36 M sebanyak 5ml
1) Disiapkan alat dan bahan
2) Ditimbang KBr sebanyak 0,2083 gram menggunakan timbangan
analitik
3) Dimasukkan kedalam erlemeyer
4) Diteteskan Aquadest sebanyak 2 mL kedalam erlemeyer yang
berisi KBr, kemudian dicukupkaan Aquadest hingga 5 mL
5) Dihomogenkan Aquadest dan KBr dengan cara menggoyangkan
erlemeyer
6) Ditutup larutan KBr menggunakan kapas yang telah dibungkus
Alumunium foil.
7) Diberi label sesuai larutan tersebut
11. Pembuatan H2SO4 5N sebanyak 5ml
1) Disiapkan alat dan bahan
2) Diambil H2SO4 sebanyak 0,7 mL menggunakan pipet volum
3) Dimasukkan kedalam beaker gelas dengan meneteskan perlahan-
lahan kedinding beaker gelas
4) Diteteskan Aquadest sebanyak 2mL kedalam beaker gelas yang
terisi KBr, kemudian dicukupkan Aquadest hingga 5mL dengan
meneteskan kedinding beaker gelas
5) Dimasukkan H2SO4 kedalam botol coklat, ditutup rapat botol
tersebut
6) Diberi label sesuai larutan tersebut

12. Pembuatan MgSO4 0,2 M


1) Disiapkan alat dan bahan
2) Ditimbang MgSO4 sebanyak 0,12 g
3) Dimasukkan kedalam erlenmeyer
4) Diambil aquades menggunakan pipet kemudian diteteskan kedalam
gelas ukur dengan volume 2,5 ml
5) Dimasukkan aquades tersebut kedalam erlenmeyer dikocok hingga
larut
6) Dituangkan larutan MgSO4 kedalam gelas ukur kemudian
dicukupkan sampai 5 ml
7) Dimasukkan kembali larutan MgSO4 kedalam erlenmeyer
8) Diberi label larutan MgSO4
9) Ditutup dengan aluminium foil yang didalamnya berisi kapas,
hingga tertutup rapat
13. Pembuatan Na2CO3 2,5 M
1) Disiapkan alat dan bahan
2) Ditimbang Na2Cl sebanyak 1,05 g
3) Dimasukkan kedalam gelas kimia
4) Diambil aquades menggunakan pipet, kemudian diteteskan
kedalam gelas ukur dengan volume 2,5 ml
5) Dimasukkan aquades tersebut kedalam gelas kimia dikocok hingga
larut
6) Ditimbang larutan Na2CO3 kedalam gelas kimia, kemudian
dicukupkan sampai volume 5 ml
7) Dimasukkan kembali larutan Na2CO3 kedalam botol reagen
8) Diberi label larutan NaCO3
9) Ditutup botol reagen dengan rapat
14. Pembuatan NH4Cl 1 M
1) Disiapkan alat dan bahan
2) Ditimbang NH4Cl 0,265 g
3) Dimasukkan kedalam erlenmeyer
4) Diambil aquades menggunakan pipet, kemuudian diteteskan
kedalam gelas ukur dengan volume 2,5 ml
5) Dimasukkan aquades tersebut kedalam erlenmeyer dikocok hingga
larut
6) Dituangkan larutan NH4Cl kedalam gelas ukur, kemudian
dicukupkan sampai 5 ml
7) Dimasukkan kembali larutan NH4Cl kedalam erlenmeyer
8) Diberi label larutan NH4Cl
9) Ditutup dengan aluminium foil yang didalamnya berisi kapas,
hingga tertutup rapat.
15. Pembuatan ZnCl2 0,2 M 5 Ml.
1) Disiapkan alat dan bahan
2) Dihitung berapa banyak ZnCl2 yang akan digunakan
3) Ditimbang ZnCl2 yang telah dihitung
4) Dimasukkan kedalam labu datar menggunakan sendok taduk
5) Diambil air yang telah didestilasi dan dimasukkan kedalam beaker gelas
sebagai pelarut
6) Diteteskan air suling kedalam labu datar yang telah berisi ZnCl2 yang telah
ditimbang sedikit demi sedikit
7) Digoyangkan labu datar perlahan memutar searah jarum jam himgga larut
ZnCl2
8) Dituangkan larutan kedalam gelas ukur
9) Dilihat jika sudah mencukupi 5 Ml
10) Dicukupkan hingga 5 Ml, jika belum sampai pada batas 5 Ml
11) Dituangkan kedalam wadah botol kecil dan ditutup rapat
12) Diberikan etiket sebagai penanda larutan
16. Pembuatan kalium ferrosianida 0,5 M 10 Ml
1) Disiapkan alat dan bahan
2) Dihitung berapa banyak kalium ferrosianida yang akan digunakan
3) Ditimbang Kalium Ferrosianida yang akan digunakan
4) Dimasukkan kedalam labu datar menggunakan sendok taduk
5) Diambil air yang telah didestilasi dan dimasukkan kedalam beaker gelas
sebagai pelarut
6) Diteteskan air suling kedalam labu datar sedikit demi sedikit
7) Digoyang labu datar perlahan memutar searah arah jarum jam hingga larut
kalium ferrosianida
8) Dituangkan larutan kedalam gelas ukur
9) Dilihat jika sudah mencukupi 10 Ml
10) Dicukupkan hingga 10 Ml jika belum sampai batas 10 Ml larutan
11) Dituangkan kedalam labu datar lalu, kapas dibungkus dengan almunium foil
sesuai besar kecilnya kepala labu datar
12) Ditutup dan disumbat bagian kepala dari labu datar
13) Diberikan etiket sebagai penanda larutan.
17. Pembuatan kalium ferrisianida 0,5 M 10 Ml
1) Disiapkan alat dan bahan
2) Dihitung berapa banyak kalium ferrisianida yang akan digunakan
3) Ditimbang Kalium Ferrisianida yang akan digunakan
4) Dimasukkan kedalam labu datar menggunakan sendok taduk
5) Diambil air yang telah didestilasi dan dimasukkan kedalam beaker gelas
sebagai pelarut
6) Diteteskan air suling kedalam labu datar sedikit demi sedikit
7) Digoyang labu datar perlahan memutar searah arah jarum jam hingga larut
kalium ferrosianida
8) Dituangkan larutan kedalam gelas ukur
9) Dilihat jika sudah mencukupi 10 Ml
10) Dicukupkan hingga 10 Ml jika belum sampai batas 10 Ml larutan
11) Dituangkan kedalam labu datar lalu, kapas dibungkus dengan almunium foil
sesuai besar kecilnya kepala labu datar
12) Ditutup dan disumbat bagian kepala dari labu datar
13) Diberikan etiket sebagai penanda larutan.
18. Pembuatan Am oxalate
1) Disisapkan alat dan bahan
2) Dihitung berapa banyak bahan am oxalate yang akan ditimbang
3) Ditimbang am oxalate sebanyak 0,93 gram menggunakan timbangan analitik
4) Dimasukkan am oxalate kedalam erlemeyer
5) Ditambahahkan aquades sekitar 2,5 ml kedalam erlemeyer
6) Digoyang leher erlemeyer perlahan-lahan agar homogeny
7) Dipanaskan dengan hot plate hingga am oxalate larut
8) Ditambahakan aquades sampai 5 ml
9) Dipindahkan am oxalate ke botol reagen dan dibeli label
19. Pembuatan CaCl2
1) Disisapkan alat dan bahan
2) Dihitung berapa banyak bahan CaCl2 yang akan ditimbang
3) Ditimbang CaCl2 sebanyak 0,165 gram menggunakan timbangan
analitik
4) Dimasukkan CaCl2 kedalam erlemeyer
5) Ditambahkan aquades sekitar 2,5 ml kedalam erlemeyer
6) Digoyang leher erlemeyer perlahan-lahan hingga homogeny
7) Ditambahkan aquades sampai 5 ml
8) Dipindahakan CaCl2 kedalam reagen dan diberi label
20. BaCl2
1) Disisapkan alat dan bahan
2) Dihitung berapa banyak BaCl2 yang akan ditimbang
3) Ditimbang BaCl2 sebanyak 0,15525 gram menggunakan timbangan
analitik
4) Dimasukkan BaCl2 kedalam erlemeyer
5) Ditambahkan aquades sekitar 2,5 ml kedalam erlemeyer
6) Digoyang leher erlemeyer perlahan-lahan agar homogeny
7) Ditambahkan aquades sampai 5 ml
8) Dipindahkan BaCl2 kedalam reagen dan diberi label.
BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

Tujuan dari percobaan yaitu untuk mengetahui cara pembuatan


larutan sampel. Dalam percobaan ini terdapat beberapa bahan yang
dilarutkan yaitu Pb(NO3)2, HCl, AgNO3 dan HNO3. Larutan adalah
campuran homogen antara dua atau lebih zat yang terdispersi baik sebagai
molekul, atom maupun ion yang komposisinya dapat bervariasi. Larutan
encer adalah larutan yang mengandung sebagian kecil solute, relative
terhadap jumlah pelarut. Sedangkan larutan pekat adalah larutan yang
mengandung sebagian besar solute. Solute adalah zat terlarut. Sedangkan
solvent adalah pelarut (Baroroh, 2004).
Larutan yang dihasilkan pada pembuatan larutan Pb(NO3)2 adalah
larutan homogen dengan warna kuning pucat. Untuk reaksi yang didapat
pada larutan Pb(NO3)2 yaitu Pb(NO3)2 + H2O = Pb(OH)NO3 + HNO3
Larutan yang dihasilkan pada pembuatan larutan HCl adalah
larutan homogen dengan warna bening. Untuk reaksi yang didapat pada
larutan HCl yaitu HCl + H2O = H3O + CL-
Larutan yang dihasilkan pada pembuatan larutan AgNO3 adalah
larutan homogen dengan warna bening. Untuk reaksi yang didapat pada
larutan AgNO3 yaitu AgNO3 + H2O = Ag(OH) NO3 + HNO3
Larutan yang dihasilkan pada pembuatan larutan HNO3 adalah
larutan homogen dengan warna bening. Untuk reaksi yang didapat pada
larutan HNO3 yaitu HNO3 + H2O = H3O + NO3-
Larutan yang dihasilkan pada pembuatan larutan HgCl2 adalah
larutan homogen dengan warna bening. Untuk reaksi yang didapat pada
larutan HgCl2 yaitu HgCl2 + H2O = HgO + HCl.
Larutan yang dihasilkan pada pembuatan larutan NaOH adalah
larutan homogen dengan warna bening. Untuk reaksi yang didapat pada
larutan NaOH yaitu NaOH + H2O = Na+ + OH- + H2O
Larutan yang dihasilkan pada pembuatan larutan KI adalah larutan
homogen dengan warna bening. Untuk reaksi yang didapat pada larutan KI
yaitu KI + H2O = KOH + HI
Larutan yang dihasilkan pada pembuatan larutan CuSO4 adalah
larutan homogen dengan warna biru. Untuk reaksi yang didapat pada
larutan CuSO4 yaitu CuSO4 + H2O = Cu + O2 + H2SO4
Larutan yang dihasilkan pada pembuatan larutan NaCl adalah
larutan homogen dengan warna bening. Untuk reaksi yang didapat pada
larutan NaCl yaitu NaCl + H2O = NaOH + HCL.
Larutan yang dihasilkan pada pembuatan larutan KBr adalah
larutan homogen dengan warna bening. Untuk reaksi yang didapat pada
larutan KBr yaitu KBr + H2O = KOH + HBr.
Larutan yang dihasilkan pada pembuatan larutan H2SO4 adalah
larutan homogen dengan warna bening. Untuk reaksi yang didapat pada
larutan H2SO4 yaitu H2SO4 + H2O = H3O + HSO4.
Larutan yang dihasilkan pada pembuatan larutan MgSO4 adalah
larutan homogen dengan warna bening. Untuk reaksi yang didapat pada
larutan MgSO4 yaitu MgSO4 + H2O = MgO + H2SO4
Larutan yang dihasilkan pada pembuatan larutan Na2CO3 adalah
larutan homogen dengan warna bening. Untuk reaksi yang didapat pada
larutan NaCO3 yaitu NaCO3+ H2O = 2NaOH + HCO3
Larutan yang dihasilkan pada pembuatan larutan NH4Cl adalah
larutan homogen dengan warna bening. Untuk reaksi yang didapat pada
larutan NH4Cl yaitu NH4Cl + H2O = NH3 + HCl
Larutan yang dihasilkan pada pembuatan larutan ZnCl2 adalah
larutan homogen dengan warna bening. Untuk reaksi yang didapat pada
larutan ZnCl2 yaitu ZnCL2 + H2O = ZnO + HCl
Larutan yang dihasilkan pada pembuatan larutan kalium
ferrosianida adalah larutan homogen dengan warna kuning terang.
Larutan yang dihasilkan pada pembuatan larutan kalium
ferrisianida adalah larutan homogen dengan warna kuning kemerahan.
Larutan yang dihasilkan pada pembuatan larutan Am Oxalate
adalah larutan homogen dengan warna bening.
Larutan yang dihasilkan pada pembuatan larutan CaCl2 adalah
larutan homogen dengan warna bening. Untuk reaksi yang didapat pada
larutan CaCl2 yaitu CaCl2 + H2O = CaO + HCl
Larutan yang dihasilkan pada pembuatan larutan BaCl2 adalah
larutan homogen dengan warna bening. Untuk reaksi yang didapat pada
larutan BaCl2 yaitu BaCl2+ H2O = BaO + HCl
BAB VII

LAMPIRAN

A. Perhitungan
1. Dik : Mr Pb(NO3)2 = 331
M Pb(NO3)2 = 0,25 M
V Larutan = 5 ml = 0,005 liter
Dit : gram Pb(NO3)2 ?
Penye : M = mol
Liter
Mol = M x liter
= 0,25 x 0,005
= 0,00125 mol
Mol = gram
Mr
Gram = mol x Mr
= 0,00125 x 331
= 0,41375 gram
Jadi, berat Pb(NO3)2 yang akan ditimbang adalah 0,41375 gram
2. Dik : Konsentrasi HCl (M1) = 6 M
Konsentrasi HCl (M2) = 2 M
Volume larutan (V2) = 10 ml
Dit : Volume larutan HCl pekat (V1) ?
Penye : V1M1 = V2M2
V1 = V2M2
V1
= 10 x 2
6
= 20
6
= 3,3 ml
Jadi, banyaknya HCl pekat yang akan diambil adalah 3,3 ml
3. Dik : Mr AgNO3 = 169
M AgNO3 = 0,1 M
V Larutan = 5 ml = 0,005 liter
Dit : gram AgNO3 ?
Penye : M = mol
Liter
Mol = M x liter
= 0,1 x 0,005
= 5 mol
Gram = M x mol x Mr
1000
= 0,1 x 5 x 169
1000
= 0,0845 gram
Jadi, berat AgNO3 yang akan ditimbang adalah 0,0845 gram
4. Dik : Mr HNO3 = 63
Konsentrasi HNO3 (M1) = 2 M
V Larutan (V1) = 10 ml
BJ HNO3 = 1,51 gr/ml
BM HNO3 = 63/mol
Dit : Volume larutan HNO3 (V2) ?
Penye : M2 = 1000 x % x BJ
BM
= 1000 x 63/100 x 1,51
63
= 10 x 63 x 1,51
63
= 951, 3
63
= 15,1 M
M1V1 = M2V2
V2 = M1V1
M2
= 2 x 10
15,1
= 1, 3 ml
Jadi, banyaknya HNO3 yang akan diambil adalah 1,3 ml
5. Dik : M HgCl2 = 0,25 M
V Larutan = 5 ml = 0,005 L
Mr HgCl2 = 271
Dit : gr HgCl2 ?
Penye : M = mol/L
0,25 = (gr⁄271)/(o,oo5 )
0,25 × 0,005 = gr/271
0,00125 = gr/271
0,00125 × 271 = 0,338 gr
Jadi, berat HgCl2 yang akan ditimbang adalah 0,338 gr

6. Dik : M NaOH = 1 M

V Larutan = 50 ml = 0,05 L
Mr HgCl2 = 40
Dit : gr NaOH ?
Penye :
M = mol/L
1 = (gr⁄40)/(o,o5 )
1 × 0,05 = gr/40
0,05 = gr/40
0,05 × 40 = 2 gr
Jadi, berat NaOH yang akan ditimbang adalah 2 gr.
7. Dik : M KI = 2 M
V Larutan = 10 ml = 0,01 L
Mr HgCl2 = 166
Dit : gr KI ?
Penye :
M = mol/L
2 = (gr⁄166)/(o,o1 )
2 × 0,01 = gr/166
0,02 = gr/166
0,02 × 166 = 3,32 gr
Jadi, berat KI yang akan ditimbang adalah 3,32 gr.
8. Dik : M CuSO4 = 0,55 M
V Larutan = 5 ml = 0,005 L
Mr CuSO4 = 161
Dit : gr CuSO4 ?
Penye :
M = mol/L
0,55 = (gr⁄161)/(o,oo5 )
0,55 × 0,005 = gr/161
0,00275 = gr/161
0,00275 × 161 = 0,442 gr
Jadi, berat CuSO4 yang akan ditimbang adalah 0,442 gr.
9 . Dik : Mr NaCl = Ar Na + Ar Cl
= 23 + 35
= 58
M NaCl = 0,2 M
V larutan= 5 ml = 0,005 L
Dit : gram?
Peny : M = mol
L
0,2 M = mol
0, 005 L
mol = 0,005 L × 0,2 M
= 0,001 mol
mol = gr
Mr
0,001 mol = gr
58
gr = 58 × 0,001 mol
= 0,058 gr.
Jadi, berat NaCl yang akan ditimbang adalah 0,058 gram
10. Dik : Mr KBr = Ar K + Ar Br
= 39 + 80
= 119
M KBr = 0,35 M
V larutan = 5 ml = 0,005 L
Dit : gram?
Peny : M = mol
L
0,35 M = mol
0, 005 L
mol = 0,005 L × 0,35 M
= 0,00175 mol
mol = gr
Mr
0,00175 mol = gr
119

gr = 119 × 0,00175 mol

= 0,20825 gr.
Jadi, berat KBr yang akan ditimbang adalah 0,20825 gran.
11. Dik : N1 = 5 N
V1 = 5 ml
Konsenttrasi H2SO4 pekat 96%
Bm = 98,08 g/mol
Bj = 1,84 g/ml
H2SO4 = 2H+ + SO4
Be = 2
Dit : V2?
Peny : ( 1000 × % × Bj ) × Bj
Bm
(1000 × 96 × 1,84) × 2
= 100
98,08
= 3.532,8
98,08
= 36 N
V1.N1 = V2.N2
5 × 5 = V2 × 36
25 = V2
36
0,7 = V2
V2 = 0,7 ml
Jadi, H2SO4 yang akan diambil sebanyak 0,7 ml.
12. Dik : M MgSO4 = 0,2 M

V larutan = 5ml = 0,005L


Dit : gr?
mol
Peny : M = L

𝑚𝑜𝑙
0,2 =
0.005
0,2 𝑋 0,005 = 𝑚𝑜𝑙
0,001 = 𝑚𝑜𝑙
Mr MgSO4 = Ar Mg + Ar S + Ar O(4)
= 24 + 32 + 16x(4)
= 120
Gr = mol x Mr
= 0,001 x 120
= 0,12 g
Jadi, berat MgSO4 yang akan ditimbang adalah 0,12 gram

13. Dik : M NaCO3 = 2,5 M


V Larutan = 5ml = 0,005 L
Dit : gr?
Peny : M= mol
L

mol
2,5 = 0,005

2,5 X 0,005 = mol


0,0125 = mol

Mr = Ar Na + Ar C + Ar H + Ar O(3)
= 23 + 1 + 12 + 16(3)
= 84
Gr = mol x Mr
= 0,0125 x 84
= 1,05 g
Jadi, berat NaCO3 yang akan ditimbang adalah 1,05 gram.

14. Dik : M NH4Cl = 1 M


V Larutan = 5ml = 0,005 L

Dit : gr?
Peny : 𝑀= 𝑚𝑜𝑙
𝐿
𝑚𝑜𝑙
= 1 = 0,005
1 X 0,0005 = mol
0,005 = mol
Mr NH4Cl = Ar N + Ar H + Ar Cl
= 14 + 1(4) + 35
= 53
Gr = mol x Mr
= 0,005 x 53

= 0,625 g

Jadi, berat NH4Cl yang akan ditimbang adalah 0,625 gram

15. Dik : M ZnCl2 = 0,2 M


V ZnCl2 = 5 Ml => 0,005 L
Mr ZnCl2 = Ar Zn + Cl x 2
= 65 + 70
= 135
Dit : gr ZnCl2....?
Penye :
𝑀𝑂𝐿
M= 𝑉
𝑀𝑂𝐿
0,2 = 0,005𝑙

Mol = 0,0010
𝑔𝑟
0,0010 = 𝑚𝑟

gr = 0,0010 × 135
= 0,135 gr
Jadi, berat ZnCl2 yang akan ditimbang adalah 0,135 gram.
16. Dik : M K.ferro = 0,5 M 10 Ml
V K.Ferro = 10 Ml => 0,0,1 L
Mr K.ferro = 368
Dit : gr K.Ferro...?
Penye :
𝑚𝑜𝑙
M = 𝑉
𝑚𝑜𝑙
0,5 = 0,01

Mol = 0,005
𝑔𝑟
Mol = 𝑚𝑟

gr = 0,005 × 368
= 1,84 gr
Jadi, berat K.Ferro yang akan ditimbang adalah 1,84 gram.
17. Dik : M K.ferri = 0,5 M
V K.Ferri = 10 Ml => 0,01 L
Mr K.Ferri = 329
Dit : gr K. Ferri...?
Penye :
𝑚𝑜𝑙
M= 𝑉
𝑚𝑜𝑙
0,5 = 0,01

Mol = 0,005
𝑔𝑟
Mol = 𝑚𝑟

gr = 0,005 × 329
= 1,645 gr
Jadi, berat K.ferri yang akan ditimbang adalah 1,645 gram.
18. Dik : M Am oxalat = 1,5 M
V Larutan =5 ml = 0,005 L
Mr Am oxalate = 124
Dit : gr?
Peny : M = mol/L
1,5 = mol/(0,005 L)
mol = 1,5 M × 0,005 L
= 0,0075 mol
mol = gr/Mr
0,0075 mol = gr/124
gr = 0,0075 mol × 124
= 0,93 gr
Jadi, berat Am oxalat yang akan ditimbang adalah 0,93 gram.
19. Dik : M CaCl2 = 0,3 M
V Larutan = 5 ml = 0,005 L
Mr CaCl2 = 110
Dit : gr?
𝑚𝑜𝑙
Peny : M = 𝐿
𝑚𝑜𝑙
0,3 = 0,005 𝐿

mol = 0,3 M × 0,005 L


= 0,0015 mol
𝑔𝑟
mol = 𝑀𝑟
𝑔𝑟
0,0015 mol = 110

gr = 0,0015 mol × 110


= 0,165 gr
Jadi, berat CaCl2 yang akan ditimbang adalah 0,165 gram
20. Dik : M BaCl2 = 0,15 M
V Larutan = 5 ml = 0,005 L
Mr BaCl2 = 207
Dit : gr?
𝑚𝑜𝑙
Peny : M = 𝐿
𝑚𝑜𝑙
0,15 M = 0,005 𝐿

mol = 0,15 M × 0,005 L


= 0,00075 mol
𝑔𝑟
mol = 𝑀𝑟
𝑔𝑟
0,00075 mol = 207

gr = 0,00075 mol × 207


= 0,15525 gr
Jadi, berat BaCl2 yang akan ditimbang adalah 0,15525 gram.
B. Dokumentasi

Pb(NO3)2, HCl, AgNO3 dan HNO3 HgCl2,NaOH,KI danCuSO4

NaCl KBr H2SO4

MgSO,NA2CO3 dan NH4Cl Am Oxalat, CaCl2, BaCl2

ZnCl2,Kalium ferrosianida,Kalium ferrisianida


BAB V

PENUTUP

A. Kesimpulan
Setelah melakukan praktikum pembuatan larutan, mahasiswa dapat
mengetahui pembuatan larutan dengan benar. Pelarut yang digunakan
untuk praktikum ini adalah aquadest atau air suling. Setelah penambahan
aquadest atau pelarut dan adanya pengocokan maka campuran itu sudah
dinamakan larutan.

B. Saran
Saran dari kami para mahasiswa yaitu, peralatan di dalam
laboratorium perlu dilengkapi. Ada beberapa alat yang tidak lengkap dan
masih kurang contohnya seperti pipet tetesyang tidak cukup untuk
beberapa kelompok. Dan fasilitas yang ada di dalam laboratorium juga
masih kurang, seperti tidak tersedianya pendingin udara atau blower.
DAFTAR PUSTAKA

Anggraini, 2016. LARUTAN dan REAGEN DASAR.


https://www.academia.edu/26066431/LARUTAN_dan_REAGEN_
DASAR. Diakses tanggal 6 Oktober 2018.

Baroroh, Umi L.U. 2004. Diktat Kimia Dasar 1. Universitas Lambung


Mangkurat. Banjar Baru.

Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 1979. Farmakope Indonesia


Edisi III. Direktur Jendral Badan Pengawasan Obat dan Makanan.
Jakarta.

Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 1995. Farmakope Indonesia


Edisi IV. Direktur Jendral Badan Pengawasan Obat dan Makanan.
Jakarta.

Gunawan, Adi dan Roeswati. 2004.Tangkas Kimia. Kartika. Surabaya.

Hurint, 2015. LAPORAN AKHIR PRAKTIKUMMEDIA REAGENSIA I.


https://www.academia.edu/20623306/LAPORAN_AKHIR_PRAK
TIKUM_MEDIA_REAGENSIA_1. Diakses tanggal 6 Oktober
2018.

Puspita, 2013. Laporan pembuatan larutan.


https://www.academia.edu/10130388/Laporan_Pembuatan_Larutan
_Kimdas_2_. Diakses tanggal 6 Oktober 2018.