Anda di halaman 1dari 18

Kesehatan Lingkungan

Berbagai penyakit yang timbul di masyarakat sebenarnya merupakan indikator


yang cukup peka dari baik buruknya kondisi kesehatan lingkungan suatu
masyarakat. Penyakit-penyakit infeksi seperti diare, TB Paru, radang saluran
pernafasan, tetanus, tipus perut, campak, malaria, demam berdarah masuh
merupakan penyebab kematian terbesar yakni sebesar 46,8% dari seluruh
kematian. Disamping itu juga masih seringnya terjadi kejadian keracunan di
masyarakat.

Penyakit-penyakit tersebut erat kaitannya dengan masalah kesehatan lilngkungan


seperti kecukupan akan kebutuhan air bersih, sarana pembuangan kotoran
manusia dan limbah atau sampah domestik, sarana perumahan, masalah hygiene
makanan, penyemprotan pestisida dan perilaku sehat yang belum memasyarakat.

I. Definisi dan Ruang Lingkup

Kesehatan lingkungan berasal dari dua kata yaitu kesehatan dan lingkungan yang
pengertiannya sebagai berikut:

• Sehat (Menurut WHO)

Adalah suatu keadaan yang baik dari fisik, mental, sosial dan bukan hanya
terhindar dari penyakit atau cacat

• Lingkungan

Adalah segala sesuatu yang berada di alam sekitar baik berupa bahan, kekuatan,
kehidupan, zat, yang memiliki potensi menyebabkan penyakit

Dengan demikian Kesehatan Lingkungan adalah:

Ilmu yang mempelajari berbagai masalah kesehatan sebagai akibat dari hubungan
interaktif antara berbagai bahan, kekuatan, kehidupan, zat, yang memiliki potensi
penyebab sakit yang timbul akibat adanya perubahan lingkungan dengan
masyarakat, serta menerapkan upaya pencegahan gangguan kesehatan yang
ditimbulkannya.

II. Pokok Pemahaman Kesehatan Lingkungan

Hubungan interaktif antara komunitas (penduduk) dengan perubahan lingkungan


yang memiliki potensi bahaya atau menimbulkan gangguan kesehatan atau
penyakit dalam lingkup kesehatan lingkungan harus memahami beberapa hal
pokok yakni:

a. Paradigma (konsep/model) Kesehatan Lingkungan (dan atau Kesehatan Kerja)


yang menggambarkan hubungan-hubungan interaktif antara berbagai komponen
lingkungan dengan dinamika perilaku penduduk

PARADIGMA KESEHATAN LINGKUNGAN

Komponen lingkungan yang selalu berinteraksi dengan manusia dan seringkali


mengalami perubahan akibat adanya kegiatan manusia atau proyek besar adalah
air, udara, makanan, vektor atau binatang penular, manusia sendiri

Perubahan-perubahan yang harus diwaspadai pada dasarnya karena berbagai


komponen lingkungan seperti air maupun udara bahkan binatang seperti nyamuk
tersebut yang mengandung agen penyakit. Agen penyakit ini pada dasarnya
“menumpang” pada vehicle air, udara, dan lainnya.
b. Pemahaman terhadap dinamika atau kinetika perjalanan suatu bahan toksik
dan atau faktor penyakit (Fisik, Biologi, Kimia) yang “menumpang” atau berada
dalam vehicle atau kendaraan transmisi hingga kontak dengan manusia atau
penduduk.

c. Pemahaman terhadap berbagai parameter kesehatan lingkungan (dan atau


kesehatan kerja) serta bagaimana mengukur berbagai parameter perubahan atau
dinamika hubungan interaktif tersebut.

d. Kemampuan identifikasi (population at risk)

Penetapan population at risk pada dasarnya:

1. Ditentukan oleh pola kinetika agen yang berada di dalam wahana transmisi
2. Lokasi pengukuran pemajanan

e. Adanya Standar normalitas

f. Pemahaman terhadap desain studi epidemiologi lingkungan (Metodologi)

Studi epidemiologi lingkungan dapat dikatagorikan ke dalam investigasi studi


dalam keadaan endemik

g. Pemahaman terhadap analisis pemajanan

Untuk memperkirakan berapa jmlah population at risk berinteraksi (kontak)


dengan komponen lingkungan yang memiliki potensi dampak (yakni yang
mengandung agen penyakit) dikenal dengan istilah exposure atau pemajanan)

III. Agen Penyakit dalam Epidemiologi Lingkungan

1. Agen Fisik

Meliputi radiasi, medan magnit listrik, kebisingan, suhu udara, kelembaban,


intensitas suara, getaram panas, cahaya dan lain-lain
1. Agen Biologi

Terdapat 6 kelompok agen biologis yaitu

1.
1. Protozoa
2. Metazoa
3. Bakteri
4. Virus
5. Jamur
6. Rickettsia

1. Agen Kimia

Antara lain adalah pestisida, food additive, obat-obatan, limbah industri. Selain itu
juga meliputi zat-zat yang diproduksi oleh tubuh sebagai akibat dari suatu
penyakit, misalnya pada diabetik asidosis, uremia. Perlu diperhatikan cara
transmisi dari agen kimia tersebut sehingga dapat menimbulkan gangguan, yaitu
secara:

1.
1. Inhalasi, terdiri dari zat kimia yang berupa gas (misalnya karbon
monoksida), Uap (misalnya uap bensin), debu mineral (misalnya
asbestosis), partikel di udara (Misalnya zat-zat Allergen)
2. Ditelan, misalnya: Minuman keras/alkohol, obat-obatan,
kontaminasi makanan, seperti pada keracunan logam berat dan
lain-lain
3. Melalui Kulit, misalnya keracunan pada pemakaian kosmetika atau
pada keracunan yang disebabkan oleh racun tumbuh-tumbuhan
atau binatang

IV. Penilaian Dampak Kesehatan (Pengukuran prevensi penyakit)

Penilai dampak atau pemantauan pada manusia merupakan pemantauan dan


pengukuran simpul C dan D. Pada dasarnya baik pengukuran maupun pemantauan
pada simpul C dan D atau dampaknya pada manusia adalah community based.
Dengan demikian, data yang diperoleh dari instansi kesehatan seperti puskesmas,
rumah sakit, perlu dipertanyakan validitasnya.

Dibawah ini diuraikan beberapa jenis pemeriksaan pada manusia sehubungan


dengan kegiatan epidemiologi kesehatan lingkungan. Pengukuran dampak pada
manusia, terdiri dari:

1. Pengukuran behavior exposure/perilaku penajaman (Simpul C). Hasil


akhir pemajanan kemudian dianalisis memberikan gambaran jumlah atau
besarnya pemajanan tiap individu.
2. Pengukuran Bio Indikator atau Bio Marker (Simpul C)

Pengukuran biologik ini adalah merupakan pengukuran dan penilaian tentang


substansi tertentu atau dari hasil metabolismenya dalam jaringan, sekresi atau
eksresi atau udara nafas (expired air) atau gabungan dari itu untuk mengevaluasi
pemajanan dan resiko kesehatan dengan membandingkan terhadap nilai ambang
yang tepat.

1. Pengukuran atau Identifikasi Kasus

Yang dimaksud disini adalah penentuan apakah seseorang merupakan kasus yaitu
yang sudah terkena dampak atau belum. Dalam bahasa hukumnya apakah yang
bersangkutan merupakan “korban” atau bukan. Penentuan dampak kesehatan,
amatlah rumit, karena disamping memerlukan sekumpulan “gejala penyakit” juga
kadang memerlukan kemampuan deteksi gejala tersebut (health effect sign) dari
tingkat sederhana hingga amat canggih seperti alat-alat tehnik diagnostik.

Beberapa tehnik diagnostik baik yang merupakan pengamatan maupun perabaan


memerlukan konsistensi dalam pengukuran. Dengan demikian, haruslah dihindari
hal-hal seperti inter dan intra individual variability, inter labolatory variability dan
sebagainya.

V. Upaya Pengendalian Vektor


Epidemiologi satu penyakit yang ditularkan oleh vektor memberikan informasi
tentang hubungan antara spesies vektor penyakit dan penyebab penyakit (agen)
pada manusia atau penjamu lainnya (host) serta faktor lingkungan (environment),
khususnya tentang tempat perindukan dan habitat atau tanda-tanda keberadaan
suatu vektor penyakit tersebut melangsungkan kehidupannya.

Informasi vektor penyakit mencakup:

- Keberadaan vektor penyakit dan bionomiknya

- Kuantifikasi tingkat kepadatan dan atau kontak antara manusia dengan vektor
penyakit

- Keberadaan dan penyebaran organisme penyakit yang meliputi parasit atau


bakteria atau virus pada vektor penyakit

- Tingkat kesakitan penyakit yang ditularkan oleh vektor penyakit

- Status kerentanan dan reservoir terhadap pestisida

Teknologi Pengendalian Vektor penyakit

Pada dasarnya teknik pengendalian vektor penyakit dibedakan dalam cara-cara


fisik atau mekanis, cara kimiawi dan cara biologi. Oleh karena keberadaaan
vektor penyakit sangat erat kaitannya dengan lingkungan fisik dalam
perkembangannya pengendalian vektor penyakit secara fisik atau mekanik
dikelompokkan menjadi cara pengelolaan lingkungan. Cara biologi tidak
digabungkan dengancara pengelolaan lingkungan karena cara biologi lebih
mengembangkan tehnik-tehnik biologi dalam pengendalian vektor penyakit
ketimbang tehnik pengelolaan lingkungan yang lebih megedepankan aplikasi
tehnik sipil dan tehnik penyehatan/lingkungan dalam cara-cara pengendalian
vektor tersebut.

Karena itu, dewasa ini teknologi pengendalian vektor penyakit dibedakan menjadi
teknologi pengendalian vektor penyakit secara kimiawi, teknologi pengendalian
vektor penyakit secara biologi, teknologi pengendalian vektor penyakit dengan
penerapan tehnik lingkungan.

Pendekatan Pengendalian Vektor Penyakit

1. Pengendalian Vektor Penyakit secara terpadu (Integrated Vector Control).


Penerapan berbagai teknologi pengendalian vektor penyakit pada suatu program
pengendalian vektor atau program pemberantasan penyakit menular dalam
pelaksanaannya tidak dilakukan secara sendiri-sendiri seperti dilakukan dirumah,
akan tetapi sekaligus dalam tempo bersamaan diterapkan lebih dari satu tehnik
pengendalian vektor penyakit. Misalnya dalam rangka pengendalian penyakit
demam berdarah dengue (DBD); terhadap nyamuk dewasa dilakukan pengasapan
(Fogging) dengan malathion sedangkan untuk jentiknya dilakukan pemberantasan
jentik (Larvaciding) dengan pestisida Temephos, juga dilakukan pemberantasan
sarang nyamuk (PSN) yang dikenal dengan 3M yaitu menguras bak mandi,
menutup tempat-tempat persediaan air di rumah dan mengubur wadah yang sudah
tidak terpakai lagi.

Pendekatan tersebut dikenal dengan pengendalian vektor secara terpadu


(Integrated Vector Control), suatu penerapan cara-cara pengendalian vektor secara
terpadu untuk memberantas suatu jenis penyakit tertentu.

2. Pengendalian vektor penyakit secara komprehensif (Komprehensive Vector


Control). Pendekatan ini merupakan upaya pengendalian vektor penyakit yang
memberantas vektor penyakit-penyakit yang ditularkan oleh vektor sesuai dengan
kondisi atau keberadaan penyakit-penyakit yang ditularkan vektor di daerah
tersebut yang penyelenggaraannya terpadu dengan sistem pelayanan kesehatan di
tingkat akar rumput (primary health care). Bagi kecematan yang telah memiliki
“Klinik Kesehatan”, pelaksanaan comprehensive Vector Control dapat dimulai
dari klinik sanitasi.

Pendekatan ini lebih mengedepankan pengelolaan lingkungan (Modifikasi dan


manipulasi lingkungan) ketimbang tehnikk-tehnik pengendalian lainnya dengan
menggali dan menerapkan teknologi tepat guna dalam pengendalian vektor
penyakit. Pendekatan ini merupakan konsep baru dalam pengendalian vektor
penyakit yang tidak lagi terfokus pada pemberantasan suatu jenis penyakit
menular saja. Karenanya memerlukan perencanaan yang matang dan surveilans
vektor yang cermat.

VI. Kebijaksanaan Teknis Pengendalian Vektor sebagai berikut:

1. Pengendalian vektor penyakit diutamakan pada daerah endemis penyakit


yang ditularkan oleh vektor penyakit di daerah perkotaan dan pedesaan
2. Pemberdayaan masyarakat diarahkan untuk kemandirian masyarakat
dalam pengendalian vektor penyakit
3. Upaya pengendalian vektor penyakit diutamakan pada kegiatan
pengelolaan lingkungan berdasarkan bukti keberadaan vektor penyakit di
lingkungan itu
4. Pengendalian vektor penyakit menggunakan dan mengkaji cara-cara dan
bahan yang tepat guna terdapat di masyarakat setempat
5. Pemerintah berperan dalam mengarahkan upaya pengendalian vektor
penyakit di masyarakat di samping menanggulangi keadaan darurat vektor
6. Peningkatan profesionalisme petugas pengendalian vektor penyakit
pemerintah maupun swasta

VII. Analisis Situasi

1. Keadaan dan Masalah

Masalah vektor penyakit di propinsi DKI Jakarta ditandai dengan:

- Masih tingginya tingkat kesakitan penyakit-penyakit yang ditularkan oleh vektor


penyakit

- Munculnya kembali penyakit yang ditularkan oleh vektor penyakit di suaru


daerah yang semula telah dapat dikendalikan

- Makin bertambahnya daerah kota yang terjangkit penyakit yang ditularkan


vektor penyakit dimana pada mulanya belum pernah terjadi
- Masih terjangkitnya penyakit yang ditularkan vektor penyakit pada binatang
penjamu, yang dimungkinkan menulari penduduk di daerah tersebut.

- Masih terjadinya penyakit ditularkan oleh vektor penyakit di daerah endemis,


namun vektor penyakitnya belum tertangani

2. Faktor Resiko

Beberapa permasalahan yang merupakan faktor resiko dalam pengendalian vektor


penyakit adalah:

- Perubahan lingkungan fisik oleh kegiatan-kegiatan pertambangan, pembangunan


perumahan, dan industri menyebabkan timbulnya tempat berkembangbiaknya
vektor penyakit (man made breading places)

- Pembangunan bendungan akan beresiko berkembangbiaknya vektor penyakit

- Sistem penyediaan air dengan perpipaan yang belum menjangkau seluruh


penduduk sehingga masih diperlukan container untuk penyediaan air

- Kemajuan di bidang transportasi beresiko meningkatkan jangkauan dan


frekwensi penyebaran vektor penyakit, belum dipatuhinya ketentuan tentang
kualitas dan teknis bangunan beresiko timbulnya tempat perindukan vektor
penyakit di sekitar bangunan

- Sistem drainase pemukiman dan perkotaan yang tidak memenuhi syarat


sehingga menjadi tempat perindukan vektor penyakit

- Sistem pengelolaan sampah yang belum memenuhi syarat menjadikan sampah


sarang vektor penyakit

- Perilaku sebagian masyarakat dalam pemulihan lingkungan yang aman masih


belum memadai
- Penggunaan pestisida yang tidak bijaksana dalam pengendalian vektor penyakit
secara kimiawi beresiko timbulnya keracunan dan pencemaran lingkungan serta
timbulnya resistensi pestisida terhadap pengendalian vektor penyakit

Program Pengendalian Vektor Penyakit

Untuk menanggulangi masalah dan faktor-faktor resiko yang telah diuraikan


terdahulu maka dirumuskan kegiatan sebagai berikut:

1. Surveilans Vektor Penyakit

Informasi vektor penyakit mencakup:

1. Keberadaan vektor penyakit dan bionomik


2. Kuantifikasi tingkat kepadatan dan atau kontak antara manusia dengan
vektor penyakit
3. Keberadaan dan penyebaran organisme (parasit atau bakteria atau virus)
pada vektor penyakit tersebut.
4. Tingkat kesakitan penyakit yang ditularkan vektor penyakit
5. Status kerentanan vektor penyakit dan reservoir terhadap pestisida

2. Proteksi Diri terhadap Vektor Penyakit, adalah upaya perlindungan diri


sendiri, keluarga atau sekelompok orang yang tinggal atau bekerja bersama
terhadap vektor penyakit. Termasuk dalam tindakan ini adalah pencegahan
terjadinya kontak antara tubuh dengan vektor penyakit dan tindakan untuk
mencegah masuk, singgah, dan berkembangbiaknya vektor penyakit di dalam atau
di sekitar rumah. Kegiatan ini umumnya sederhana serta tidak mahal dan
seringkali dapat dilakukan oleh masyarakat tanpa bantuan petugas kesehatan.

3. Sanitasi Lingkungan

Sanitasi lingkungan mencakup pengelolaan sampah, limbah cair, termasuk tinja


dan sanitasi rumah yang ditujukan untuk mencegah kehadiran vektor penyakit

4. Manipulasi Lingkungan
Adalah suatu upaya pengelolaan lingkungann yang meliputi kegiatan yang
terencana yang bertujuan untuk mengubah kondisi sementara yang tidak
menguntungkan bagi perkembangbiakan vektor penyakit pada habitatnya. Sebagai
contoh adalah pengubahan kadar garam, penggelontoran, pengaturan permukaan
air waduk, pembersihan tanaman, peneduhan dan pengeringan rawa.

5. Modifikasi Lingkungan

Adalah upaya pengelolaan lingkungan yang meliputi perubahan fisik yang bersifat
permanen terhadap lahan, air dan tanaman yang bertujuan untuk mencegah,
menghilangkan atau mengurangi habitat vektor penyakit tanpa menyebabkan
terganggunya kualitas lingkungan hidup manusia. Termasuk kegiatan ini adalah
drainase, penimbunan tempak perindukan vektor penyakit berupa genangan air.

6. Pengendalian vektor penyakit secara biologis

Adalah pemanfaatan organisme hidup atau produknya untuk mengendalikan


vektor penyakit. Termasuk dalam organisme ini adalah virus, bakteri, protozoa,
jamur, tanaman parasit, predator dan ikan.

7. Pengendalian secara kimiawi

Adalah cara pengendalian vektor penyakit dengan menggunakan pestisida, baik


berupa racun, penolak (repellen) maupun hormon pengatur pertumbuhan

8. Pembinaan Masyarakat

Adalah upaya intervensi terhadap pengetahuan, sikap, dan perilaku masyarakat


agar sadar, mau, dan mampu mengendalikan vektor penyakit sehingga resiko
kesehatan yang ditimbulkan oleh vektor penyakit dapat ditekan serendah-
rendahnya. Pembinaan masyarakat disini termasuk pembinaan terhadap dunia
usaha yang menyelenggarakan pengendalian vektor penyakit baik dalam bentuk
bimbingan maupun pelatihan.

9. Penunjang
1. Pengembangan pedoman, standar dan persyaratan kriteria pedoman
dibidang pengendalian penyakit
2. Kemitraan yaitu kerjasama antara berbagai institusi yang bekerja atas
dasar prinsip kesetaraan, keterbukaan, saling menguntungkan secara
efektif dan efisien dalam pengendalian vektor penyakit dengan kondisi dan
kemampuan masing-masing institusi.
3. Sosialisasi pengendalian vektor penyakit yaitu menyebarluaskan informasi
tentang pengendalian vektor penyakit sehingga terwujud kondisi sanitasi
dan lingkungan yang tidak memberi peluang bagi perkembangbiakan
penyakit serta dalam rangka terwujudnya masyarakat yang mandiri dalam
pengendalian vektor penyakit
4. Kajian pengendalian vektor penyakit adalah untuk memperoleh gambaran
tentang kondisi kesehatan lingkungan di daerah endemis vektor penyakit,
sebagai bahan untuk penyusunan rencana pengendalian vektor penyakit
yang meliputi pengkajian cara-cara dan bahan yang tepat guna yang
terdapat di masyarakat setempat.
5. Pelatihan bagi pelaksana maupun perusahaan jasa pengendalian vektor
penyakit
KESEHATAN LINGKUNGAN

A. DEFINISI
Ada beberapa definisi dari kesehatan lingkungan :
1. Menurut WHO (World Health Organization), kesehatan lingkungan adalah
suatu keseimbangan ekologi yang harus ada antara manusia dan
lingkungan agar dapat menjamin keadaan sehat dari manusia.1
2. Menurut HAKLI (Himpunan Ahli Kesehatan Lingkungan Indonesia)
kesehatan lingkungan adalah suatu kondisi lingkungan yang mampu
menopang keseimbangan ekologi yang dinamis antara manusia dan
lingkungannya untuk mendukung tercapainya kualitas hidup manusia yang
sehat dan bahagia.2

B. RUANG LINGKUP KESEHATAN LINGKUNGAN


Menurut World Health Organization (WHO) ada 17 ruang lingkup kesehatan
lingkungan, yaitu :
1. Penyediaan Air Minum
2. Pengelolaan air Buangan dan pengendalian pencemaran
3. Pembuangan Sampah Padat
4. Pengendalian Vektor
5. Pencegahan/pengendalian pencemaran tanah oleh ekskreta manusia
6. Higiene makanan, termasuk higiene susu
7. Pengendalian pencemaran udara
8. Pengendalian radiasi
9. Kesehatan kerja
10. Pengendalian kebisingan
11. Perumahan dan pemukiman
12. Aspek kesling dan transportasi udara
13. Perencanaan daerah dan perkotaan
14. Pencegahan kecelakaan
15. Rekreasi umum dan pariwisata
16. Tindakan-tindakan sanitasi yang berhubungan dengan keadaan
epidemi/wabah, bencana alam dan perpindahan penduduk
17. Tindakan pencegahan yang diperlukan untuk menjamin lingkungan.

Di Indonesia, ruang lingkup kesehatan lingkungan diterangkan dalam Pasal 22


ayat (3) UU No 23 tahun 1992 ruang lingkup Kesling ada 8, yaitu :
1. Penyehatan Air dan Udara
2. Pengamanan Limbah padat/sampah
3. Pengamanan Limbah cair
4. Pengamanan limbah gas
5. Pengamanan radiasi
6. Pengamanan kebisingan
7. Pengamanan vektor penyakit
8. Penyehatan dan pengamanan lainnya, sepeti keadaan pasca bencana

C. SASARAN KESEHATAN LINGKUNGAN


Menurut Pasal 22 ayat (2) UU 23/1992, Sasaran dari pelaksanaan kesehatan
lingkungan adalah sebagai berikut :
1. Tempat umum : hotel, terminal, pasar, pertokoan, dan usaha-usaha yang
sejenis
2. Lingkungan pemukiman : rumah tinggal, asrama/yang sejenis
3. Lingkungan kerja : perkantoran, kawasan industri/yang sejenis
4. Angkutan umum : kendaraan darat, laut dan udara yang digunakan untuk
umum
5. Lingkungan lainnya : misalnya yang bersifat khusus seperti lingkungan
yang berada dalam keadaan darurat, bencana perpindahan penduduk
secara besar-besaran, reaktor/tempat yang bersifat khusus.

D. MASALAH-MASALAH KESEHTAN LINGKUNGAN DI INDONESIA


Masalah Kesehatan lingkungan merupakan masalah kompleks yang untuk
mengatasinya dibutuhkan integrasi dari berbagai sector terkait. Di Indonesia
permasalah dalam kesehatan lingkungan antara lain :
1. Air Bersih
Air bersih adalah air yang digunakan untuk keperluan sehari-hari yang
kualitasnya memenuhi syarat kesehatan dan dapat diminum apabila telah
dimasak. Air minum adalah air yang kualitasnya memenuhi syarat
kesehatan dan dapat langsung diminum.
Syarat-syarat Kualitas Air Bersih diantaranya adalah sebagai berikut :
• Syarat Fisik : Tidak berbau, tidak berasa, dan tidak berwarna
• Syarat Kimia : Kadar Besi : maksimum yang diperbolehkan 0,3
mg/l, Kesadahan (maks 500 mg/l)
• Syarat Mikrobiologis : Koliform tinja/total koliform (maks 0 per
100 ml air)
2. Pembuangan Kotoran/Tinja
Metode pembuangan tinja yang baik yaitu dengan jamban dengan syarat
sebagai berikut :
• Tanah permukaan tidak boleh terjadi kontaminasi
• Tidak boleh terjadi kontaminasi pada air tanah yang mungkin
memasuki mata air atau sumur
• Tidak boleh terkontaminasi air permukaan
• Tinja tidak boleh terjangkau oleh lalat dan hewan lain
• Tidak boleh terjadi penanganan tinja segar ; atau, bila memang
benar-benar diperlukan, harus dibatasi seminimal mungkin
• Jamban harus babas dari bau atau kondisi yang tidak sedap
dipandang
• Metode pembuatan dan pengoperasian harus sederhana dan tidak
mahal.
3. Kesehatan Pemukiman
Secara umum rumah dapat dikatakan sehat apabila memenuhi kriteria
sebagai berikut :
• Memenuhi kebutuhan fisiologis, yaitu : pencahayaan, penghawaan
dan ruang gerak yang cukup, terhindar dari kebisingan yang
mengganggu
• Memenuhi kebutuhan psikologis, yaitu : privacy yang cukup,
komunikasi yang sehat antar anggota keluarga dan penghuni rumah
• Memenuhi persyaratan pencegahan penularan penyakit
antarpenghuni rumah dengan penyediaan air bersih, pengelolaan tinja
dan limbah rumah tangga, bebas vektor penyakit dan tikus, kepadatan
hunian yang tidak berlebihan, cukup sinar matahari pagi, terlindungnya
makanan dan minuman dari pencemaran, disamping pencahayaan dan
penghawaan yang cukup
• Memenuhi persyaratan pencegahan terjadinya kecelakaan baik
yang timbul karena keadaan luar maupun dalam rumah antara lain
persyaratan garis sempadan jalan, konstruksi yang tidak mudah roboh,
tidak mudah terbakar, dan tidak cenderung membuat penghuninya
jatuh tergelincir.
4. Pembuangan Sampah
Teknik pengelolaan sampah yang baik dan benar harus memperhatikan
faktor-faktor /unsur, berikut:
• Penimbulan sampah. Faktor-faktor yang mempengaruhi produksi
sampah adalah jumlah penduduk dan kepadatanya, tingkat aktivitas,
pola kehidupan/tk sosial ekonomi, letak geografis, iklim, musim, dan
kemajuan teknologi
• Penyimpanan sampah
• Pengumpulan, pengolahan dan pemanfaatan kembali
• Pengangkutan
• Pembuangan
Dengan mengetahui unsur-unsur pengelolaan sampah, kita dapat
mengetahui hubungan dan urgensinya masing-masing unsur tersebut agar
kita dapat memecahkan masalah-masalah ini secara efisien.
5. Serangga dan Binatang Pengganggu
Serangga sebagai reservoir (habitat dan suvival) bibit penyakit yang
kemudian disebut sebagai vektor misalnya : pinjal tikus untuk penyakit
pes/sampar, Nyamuk Anopheles sp untuk penyakit Malaria, Nyamuk
Aedes sp untuk Demam Berdarah Dengue (DBD), Nyamuk Culex sp
untuk Penyakit Kaki Gajah/Filariasis. Penanggulangan/pencegahan dari
penyakit tersebut diantaranya dengan merancang rumah/tempat
pengelolaan makanan dengan rat proff (rapat tikus), Kelambu yang
dicelupkan dengan pestisida untuk mencegah gigitan Nyamuk Anopheles
sp, Gerakan 3 M (menguras mengubur dan menutup) tempat penampungan
air untuk mencegah penyakit DBD, Penggunaan kasa pada lubang angin di
rumah atau dengan pestisida untuk mencegah penyakit kaki gajah dan
usaha-usaha sanitasi.

Binatang pengganggu yang dapat menularkan penyakit misalnya anjing


dapat menularkan penyakit rabies/anjing gila. Kecoa dan lalat dapat
menjadi perantara perpindahan bibit penyakit ke makanan sehingga
menimbulakan diare. Tikus dapat menyebabkan Leptospirosis dari kencing
yang dikeluarkannya yang telah terinfeksi bakteri penyebab.
6. Makanan dan Minuman
Sasaran higene sanitasi makanan dan minuman adalah restoran, rumah
makan, jasa boga dan makanan jajanan (diolah oleh pengrajin makanan di
tempat penjualan dan atau disajikan sebagai makanan siap santap untuk
dijual bagi umum selain yang disajikan jasa boga, rumah makan/restoran,
dan hotel).
Persyaratan hygiene sanitasi makanan dan minuman tempat pengelolaan
makanan meliputi :
• Persyaratan lokasi dan bangunan
• Persyaratan fasilitas sanitasi
• Persyaratan dapur, ruang makan dan gudang makanan
• Persyaratan bahan makanan dan makanan jadi
• Persyaratan pengolahan makanan
• Persyaratan penyimpanan bahan makanan dan makanan jadi
• Persyaratan peralatan yang digunakan
• Pencemaran Lingkungan
Pencemaran lingkungan diantaranya pencemaran air, pencemaran tanah,
pencemaran udara. Pencemaran udara dapat dibagi lagi menjadi indoor air
pollution dan out door air pollution. Indoor air pollution merupakan
problem perumahan/pemukiman serta gedung umum, bis kereta api, dll.
Masalah ini lebih berpotensi menjadi masalah kesehatan yang
sesungguhnya, mengingat manusia cenderung berada di dalam ruangan
ketimbang berada di jalanan. Diduga akibat pembakaran kayu bakar,
bahan bakar rumah tangga lainnya merupakan salah satu faktor resiko
timbulnya infeksi saluran pernafasan bagi anak balita. Mengenai masalah
out door pollution atau pencemaran udara di luar rumah, berbagai analisis
data menunjukkan bahwa ada kecenderungan peningkatan. Beberapa
penelitian menunjukkan adanya perbedaan resiko dampak pencemaran
pada beberapa kelompok resiko tinggi penduduk kota dibanding pedesaan.
Besar resiko relatif tersebut adalah 12,5 kali lebih besar. Keadaan ini, bagi
jenis pencemar yang akumulatif, tentu akan lebih buruk di masa
mendatang. Pembakaran hutan untuk dibuat lahan pertanian atau sekedar
diambil kayunya ternyata membawa dampak serius, misalnya infeksi
saluran pernafasan akut, iritasi pada mata, terganggunya jadwal
penerbangan, terganggunya ekologi hutan.

DAFTAR PUSTAKA

World Health Organization (WHO). Environmental Health. Disitasi dari :


http://www.WHO.int. Last Update : Januari 2008

Setiyabudi R. Dasar Kesehatan Lingkungan. Disitasi dari :


http://www.ajago.blogspot.htm. Last Update : Desember 2007

Departemen Kesehatan Repubik Indonesia.. Undang-undang Nomor 23 tahun


1992 tentang Kesehatan.

Menteri Kesehatan RI. Peraturan Menteri Kesehatan No 416 tahun 1990 tentang
Syarat-syarat dan Pengawasan Kualitas Air.

Soeparman dan Suparmin. 2001.Pembuangan Tinja dan Limbah Cair : Suatu


Pengantar. Jakarta : EGC.

Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor


1098/MENKES/SK/VII/2003 tentang Persyaratan Hygiene Sanitasi Rumah
Makan dan Restoran