Anda di halaman 1dari 21

MAKALAH

PSIKOLOGI UMUM

(Faktor, Tahap, dan Implikasi terhadap Perkembangan

Sosio-Emosional dan Moral )

Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Psikologi Umum

Dosen Pengampu

Nanda Istiqomah, M.Pd

Disusun oleh :

Kelompok 1

Nurrizka Arina Rosyada (12205183148)


Amelia Raras Tri Wiyono (12205183149)
Andi Bagus Prayogo (12205183351)
Nabila Norsy Nur S (12205183170)
Nur Hayati (12205183352)
Kelas PGMI 1G
Semester I

PRODI PENDIDIKAN GURU MADRASAH IBTHIDAIYAH


FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI TULUNGAGUNG
September 2018
KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Wr.Wb.
Puji syukur ke hadirat Allat Swt, yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-
Nya, sehingga penulisan makalah ini dapat selesai tepat pada waktunya.
Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah untuk menyelesaikan tugas mata
kuliah Psikologi umum, fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan.
Tidak lupa kami sampaikan terima kasih kepada pihak-pihak yang telah
memberi bantuan dan kepercayaan kepada kami sehingga makalah ini dapat kami
selesaikan . Pertama – tama kami ucapkan kepada :
1. Dr. H. Maftukhin, M.Ag, selaku Rektor IAIN Tulungagung.
2. Nanda Istiqomah, M.Pd., selaku dosen pengampu mata kuliah Psikologi Umum.
3. Kedua orang tua yang telah memberikan semangat serta dukungannya.
4. Serta semua pihak yang telah membantu kami dalam menyelesaikan makalah ini.
Penulis menyadari segala kekurangan yang ada dalam makalah ini, kami
menerima kritik dan saran yang bersifat membangun sangat penyusun harapkan. Kami
sebagai penyusun makalah berharap agar makalah ini dapat bermanfaat dan menambah
keilmuan kita dalam mata kuliah Psikologi Umum.
Wassalamu’alaikum Wr.Wb.

.
Tulungagung, 08 September 2018

Penulis
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ......................................................................................... i

KATA PENGANTAR ........................................................................................ ii

DAFTAR ISI ....................................................................................................... iii

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang ......................................................................................... 1


B. Rumusan Masalah .................................................................................... 1
C. Tujuan Penulisan ...................................................................................... 2

BAB II PEMBAHASAN

A. Faktor –faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Sosio-Emosional


dan Moral ................................................................................................. 3
B. Tahap Perkembangan Sosio-Emosional dan Moral ................................. 8
C. Implikasi Tahap Perkembangan Sosio-Emosional dan Moral dalam
Proses Pembelajaran ................................................................................. 15

BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan .............................................................................................. 17
B. Saran ........................................................................................................ 17

DAFTAR PUSTAKA ......................................................................................... 18


BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Seiring berjalannya waktu kehidupan, manusia selalu mengalami perkembangan.
Baik fisik maupun spiritual. Perkembangan fisik itu sendiri di tandai dengan bertambah
dan berkembangnya sel-sel tubuh, jaringan tubuh, organ-organ tubuh, serta sistem tubuh
manusia. Sedangkan perkembangan spiritual di tandai dengan berkembangnya emosi,
intelektual dan tingkah laku sebagai hasil interaksi dengan lingkungannya.
Dalam rentang waktu kehidupan itu manusia harus melalui berbagai macam
masa seiring perkembangan usia mereka yaitu masa dari manusia itu lahir sampai
manusia itu mati. Setiap masa memiliki tugas perkembangan masing-masing yang
berbeda antara masa yang satu dengan yang lainnya. Oleh karena itu, Masing-masing
manusia dituntut untuk menyelesaikan setiap tugas di masa berkembangannya serta
mengetahui ciri dan karakteristik sesuai dengan tahapan masa yang dilaluinya dan
rentang usia yang sudah ditentukan pada tiap masa tersebut.
Dari berbagai macam masa dari lahir samapi mati tersebut. Ada masa yang harus
dilalui oleh setiap manusia yaitu masa bayi, masa anak - anak, masa remaja, masa dewasa
dan tua.
Oleh sebab itulah maka kami mengamati serta mempelajari “Psikologi umum
tentang rkembangan Manusia”, yang info serta sumbernya kami kumpulkan dalam
makalah ini.

B. Rumusan Masalah
1. Apa saja faktor yang mempengaruhi perkembangan sosio-emosional dan moral pada
anak, remaja, dan orang dewasa ?
2. Bagaimana tahap perkembangan sosio-emosional dan moral pada anak, remaja, dan
orang dewasa ?
3. Bagaimana implikasi tahap perkembangan sosio-emosional dan moral dalam proses
pembelajaran ?
C. Tujuan Penulisan
1. Untuk mengetahui dan memahami faktor yang mempengaruhi perkembangan sosio-
emosional dan moral pada anak, remaja, dan orang dewasa.
2. Untuk mengetahui dan memahami tahap perkembangan sosio-emosional dan moral
pada anak, remaja, dan orang dewasa.
3. Untuk mengetahui dan memahami implikasi tahap perkembangan sosio-emosional
dan moral dalam proses pembelajaran.
BAB II

PEMBAHASAN

Psikologi perkembangan pada prinsipnya merupakan cabang dari psikologi.


Psikologi sendiri merupakan sebuah istilah yang berasal dari bahasa inggris, yaitu
“psychology”. Istilah ini pada mulanya berasal dari kata dalam bahasa yunani “psyche”,
yang berarti roh, jiwa atau daya hidup dan “logos” yang berarti ilmu. Jadi, secara
“psychology” berarti “ilmu jiwa”.1
Psikologi perkembangan dirumuskan sebagai ilmu yang membahas tingkah laku
manusia yang sedang dalam taraf perkembangan mulai konsepsi sampai tua dan
selanjutnya, berdasarkan pertumbuhan, kematangan, belajar, dan pengalaman.2

A. Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Sosio-Emosional dan Moral


Beberapa faktor yang mempengaruhi perkembangan menurut Papalia et al. (2007)
dalam buku Human Development adalah:
1. Keturunan (nature), yaitu sifat bawaan dari orang tua biologis, misalnya
kecerdasan dan watak.
2. Lingkungan (nurture), yaitu tempat dan kondisi sosial di mana individu
tumbuh dan berkembang.
3. Kematangan, kesiapan individu untuk menguasai ketrampilan baru, misalnya
kematangan otak dan tubuh pada fase anak-anak awal, sehinggga mempunyai
kemampuan untuk berjalan dan berbicara.
4. Karakteristik diri dan pengalaman sangat berperan dalam beradaptasi dengan
lingkungan internal dan eksternal.
5. Keluarga (cara mendidik, perhatian dan memperlakukan anak)
6. Status sosial dan ekonomi (penghasilan, pendidikan, dan pekerjaan,
kemiskinan)
7. Budaya (adat, tradisi, kepercayaan, nilai-nilai, bahasa, perilaku modeling dari
orang tua)
8. Ras/suku (leluhur, bangsa, agama, bahasa, yang membentuk identitas diri).

1
Desmita, psikologi perkembangan, (bandung: PT. Remaja rosdakarya, 2005), hlm:1.
2
Elfi yuliani rochmah, psikologi perkembangan, (Yogyakarta: stain ponorogo pres, 2005), hlm:9.
Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan Sosial, Emosional, dan Moral pada
Anak, Remaja, dan Orang Dewasa.
1. Faktor yang mempengaruhi perkembangan sosial pada anak, remaja, dan orang
dewasa
a. Keluarga
Faktor pertama dan utama yang memberikan pengaruh terhadap berbagai
aspek perkembangan termasuk sosial yaitu faktor keluarga. Dalam setiap
keluarga pasti ada norma-norma kehidupan keluarga. Jadi intinya proses
pendidikan untuk mengembangkan kepribadian seseorang terbentuk oleh
keluarga.
b. Kematangan
Dalam bersosialisasi di lingkungan, seseorang membutuhkan kematangan
fisik dan psikisnya. Kematangan intelektual dan emosional sangat diperlukan
agar seseorang mampu mempertimbangkan dalam proses sosial, memberi dan
menerima pendapat orang lain. Selain itu kemampuan berbahasa sangat
menentukan seseorang dalam besosialisasi.
c. Status Sosial Ekonomi
Kehidupan sosial banyak dipengarungi oleh status sosial keluarga dalam
lingkungan bermasyarakat. Secara tidak langsung dalam pergaulan sosial
seseorang, masyarakat dan kelompoknya memperhitungkan norma yang
berlaku di dalam keluarganya.
d. Pedidikan
Salah satu proses sosialisasi yang terarah sesuai dengan norma yang
berlaku yaitu faktor pendidikan. Hakikat pendidikan sebagai proses
pengoperasian ilmu yang akan memberikan warna kehidupan sosial seseorang
di dalam masyarakat dan kehidupan mereka di masa yang akan datang.

e. Kapasitas Mental, Emosi, dan Intelegensi


Kemampuan seseorang dalam berfikir dipengaruhi oleh berbagai hal
contohnya seperti kemampuan dalam memecahkan masalah, kemampuan
belajar, dan kemampuan berbahasa. Anak yang memiliki intelektual yang
tinggi pasti mempunyai kemampuan dalam berbahasa yang baik.
Pengendalian emosional secara seimbang sangat menentukan keberhasilan
dalam perkembangan sosial anak. Keberhasilan dalam bersosialisasi
ditentukan oleh sikap saling pengertian dan kemampuan memahami orang
lain, hal ini akan dengan mudah dilakukan bagi anak yang memiliki
intelektual tinggi.

2. Faktor yang mempengaruhi perkembangan emosional pada anak, remaja, dan


orang dewasa
a. Keadaan anak
Keadaan individu pada seseorang, misalnya cacat tubuh ataupun
kekurangan pada diri seseorang akan sangat mempengaruhi perkembangan
emosional, bahkan akan berdampak lebih jauh pada kepribadian seseorang.
Misalnya: rendah diri, mudah tersinggung, atau menarik diri dari
lingkunganya.
b. Pola asuh Orang tua
Pola asuh orang tua terhadap anak bervariasi. Ada yang pola asuhnya
menurut apa yang dianggap terbaik oleh dirinya sendiri saja, sehingga ada
yang bersifat otoriter, memanjakan anak, acuh tak acuh, tetapi ada juga
dengan penuh cinta kasih. Perbedaan pola asuh dari orang tua seperti ini dapat
berpengaruh terhadap perbedaan perkembangan emosi peserta didik.

c. Temperamen.
Temperamen adalah jenis perilaku yang alamiah bagi anak. Dapat juga
didefinisikan sebagai suasana hati yang mencirikan kehidupan emosional kita.
Hingga tahap tertentu masing- masing individu memiliki kisaran emosi
sendiri-sendiri, temperamen merupakan bawaan sejak lahir, dan merupakan
bagian dari genetik yang mempunyai kekuatan hebat dalam rentang kehidupan
manusia. Tempramen anak sebagian merupakan hal yang biologis, namun
juga dipengaruhi faktor-faktor lain, seperti : Pengalaman hidup, Tantangan
fisik, Orang-orang yang di temui anak.
d. Jenis kelamin
Perbedaan jenis kelamin memiliki pengaruh yang berkaitan dengan adanya
perbedaan hormonal antara laki- laki dan perempuan, peran jenis maupun
tuntutan sosial yang berpengaruh pula terhadap adanya perbedaan
karakteristik emosi diantara keduanya.
e. Usia
Perkembangan kematangan emosi yang dimiliki seseorang sejalan dengan
pertambahan usianya. Hal ini dikarenakan kematangan emosi dipengaruhi
oleh tingkat pertumbuhan dan kematangan fisiologis seseorang. Ketika usia
semakin tua, kadar hormonal dalam tubuh turut berkurang, sehingga
mengakibatkan penurunan pengaruhnya terhadap kondisi emosi. Namun
demikian, dalam hal ini tidak menutup kemungkinan seseorang yang sudah
tua, kondisi emosinya masih seperti orang muda yang cenderung meledak-
ledak.
f. Perubahan interaksi dengan teman sebaya.
Seseorang sering kali membangun interaksi sesama teman sebayanya
secara khas dengan cara berkumpul untuk melakukan aktivitas bersama
dengan membentuk emacam geng. Interaksi antar anggotanya dalam suatu
kelompok geng biasanya sangat intens serta memiliki kohesivitas dan
solidaritas yang sangat tinggi. Faktor yang sering menimbulkan masalah
emosi pada masa ini adalah hubungan cinta dengan teman lawan jenis.3
g. Perubahan interaksi dengan sekolah.
Sekolah merupakan tempat pendidikan yang sangat diidealkan oleh
peserta didik. Para guru merupakan tokoh yang sangat penting dalam
kehidupan mereka karena selain tokoh intelektual, guru juga merupakan tokoh
otoritas bagi para peserta didiknya. Oleh karena itu tidak jarang anak-anak
lebih percaya, lebih patuh, bahkan lebih takut kepada guru daripada kepada
orang tuanya.4

3
Mohammad Ali dan Mohammad Asrori, psikologi remaja, (Jakarta: PT. Bumi Aksara,2006), hlm.70
4
Mohammad Ali dan Mohammad Asrori, psikologi remaja, (Jakarta: PT. Bumi Aksara,2006), hlm.71
h. Perubahan jasmani atau fisik
Perubahan atau pertumbuhan yang berlangsung cepat selama masa puber
menyebabkan keadaan tubuh menjadi tidak seimbang. Ketidakseimbangan ini
mempengaruhi kondisi psikis seseorang. Terutama perubahan tersebut
mempengaruhi penampilannya. Hal ini menyebabkan rangsangan didalam
tubuh seseorang yang sering kali menimbulkan masalah dalam perkembangan
psikisnya, khususnya perkembangan emosinya.5
i. Perubahan dalam hubungan orang tua
Orang tua yang mendidik anaknya yang sedang beranjak dewasa dengan
cara apa yang dianggap baik oleh orang tua, misal cara yang otoriter,
penerapan disiplin yang terlalu kaku, terlalu mengekang dapat menimbulkan
ketegangan antara orang tua dan anak, yang akan mempengaruhi
perkembangan emosinya.

3. Faktor yang mempengaruhi perkembangan moral pada anak, remaja dan dewasa
a. Faktor tingkat harmonisasi hubungan antara orang tua dan anak.6
b. Faktor lingkungan memegang peranan penting. Diantara segala segala unsur
lingkungan sosial yang berpengaruh, yang tampaknya sangat penting adalah
unsur lingkungan berbentuk manusia yang langsung dikenal atau dihadapi
oleh seseorang sebagai perwujudan dari nilai-nilai tertentu.
c. Faktor selanjutnya yang memengaruhi perkembangan moral adalah tingkat
penalaran. Perkembangan moral yang sifatnya penalaran menurut Kohlberg,
dipengaruhi oleh perkembangan nalar sebagaimana dikemukakan oleh piaget.
Makin tinggi tingkat penalaran seseorang menrut tahap-tahap perkembangan
piaget, makin tinggi pula tingkat moral seseorang.
d. Faktor Interaksi sosial dalam memberikan kesepakatan pada seseorang untuk
mempelajari dan menerapkan standart perilaku yang disetujui masyarakat,
keluarga, sekolah, dan dalam pergaulan dengan orang lain.

5
Mohammad Ali dan Mohammad Asrori, psikologi remaja, (Jakarta: PT. Bumi Aksara,2006), hlm.69
6
Yudrik Jahja, psikologi perkembangan, (Jakarta: prenadamedia group,2011), hlm:51
B. Tahap Perkembangan Sosio-Emosional dan Moral

Pada dasarnya perkembangan sosio-emosional itu merupakan kemampuan peserta


didik berinteraksi dengan lingkungannya dan bagaiman peserta didik menyikapi hal-hal
yang terjadi di sekitarnya.Perkembangan sosial pada peserta didik ditandai dengan
adanya perluasan hubungan, di samping dengan anggota keluarga juga dengan teman
sebaya, sehingga ruang gerak hubungan sosioalnya bertambah. Biasanya peserta didik
mulai memiliki kesanggupan menyesuaikan diri dari sikap berpusat pada diri sendiri
(egosentris), kepada sikap bekerja sama (koperatif) atau mau memerhatikan kepentingan
orang lain (sosiosentris). Hal ini berkaitan dengan sikap yang ada pada peserta didik itu
sendiri.Apakah dengan sikap atau emosi yang stabil seperti bersikap respect terhadap diri
sendiri dan orang lain atau bersikap tidak baik seperti tidak mau bergaul dengan orang
lain.

a. Masa Bayi
1. Perkembangan Sosial :
Perkembangan sosial berhubungan dengan perubahan – perubahan
perasaan atau emosi dan kepribadian serta perubahan dalam bagaimana
individu berhubungan dengan orang lain. Masa bayi adalah masa ketika
anak – anak mulai belajar berjalan, berpikir, berbicara, dan merasakan
sesuatu. Meskipun dalam pemenuhan kebutuhan bayi masih sangat
tergantung pada pengasuhnya, namun bukan berarti mereka sama sekali
pasif. Sebab, sejak lahir pengalaman bayi semakin bertambah dan ia
berpartisipasi aktif dalam perkembangan psikologinya sendiri, mengamati
dan berinteraksi dengan orang – orang di sekitarnya.
Bayi mempelajari apa yang di harapkan dari orang – orang yang
penting dalam hidupnya. Mereka mengembangkan suatu perasaan
mengenai siapa yang mereka senangi atau yang tidak mereka senangi dan
makanan apa yang mereka sukai atau yang tidak di sukai.7

7
Desmita, psikologi perkembangan, (bandung: PT. Remaja rosdakarya, 2005), hlm:115.
2. Perkembangan Emosional
Untuk dapat memahami secara pasti mengenai kondisi emosi bayi
sangat sulit. Sebab, informasi mengenai aspek emosi yang subjektif hanya
dapat di peroleh dengan cara intropeksi. Sedangkan bayi yang sesuai
dengan usianya yang sangat muda tidak dapat menggunakan cara tersebut
dengan baik. Beberapa ahli mencoba memahami kondisi emosi bayi
melalui ekspresi tubuh dan wajah, namun para ahli psikologi lain
mempertanyakan seberapa penting kedua ekspresi tubuh dan wajah itu
dapat menentukan apakah seorang bayi berada dalamsuatu kondisi
emsional tertentu.
Meskipun demikian, para ahli telah lama mempercayai bahwa
kemampuan untuk bereaksi secara emosional sudah ada pada bayi.Yang
baru lahir seperti menangis, tersenyum, dan frustasi.Bahkan beberapa
peneliti percaya bahwa beberapa minggu setelah lahir, bayi dapat
memperlihatkan bermacam – macam ekspresi dari semua emosi dasar,
termasuk kebahagiaan, perhatian, keheranan, ketakutan, kemarahan,
kesedihan, dan kemuakan sesuai dengan situasinya.8
3. Perkembangan Moral
Seorang bayi belum memiliki kepastian untuk mengembangkan
kecerdasan moralnya. Yang ia miliki hanyalah rasa benar dan salah
terhadap sesuatu yang berlaku untuk dirinya sendiri. Contohnya : bagi
bayi, rasa lapar itu adalah salah, sehingga ia menangis saat ia lapar.

b. Masa Anak – Anak


1. Perkembangan Sosial
Maksud perkembangan sosial pada masa ini adalah pencapaian
kematangan dalam hubungan sosial. Dapat juga di kaitkan sebagai proses
belajar untuk menyesuaikan dengan norma –norma kelompok, tradisi, dan
agama.Pada waktu mulai sekolah, anak memasuki “usia gang’’, yaitu usia
yang pada saat itu kesadaran social berkembang pesat. Menjadi pribadi

8
Desmita, psikologi perkembangan, (bandung: PT. Remaja rosdakarya, 2005), hlm:116.
yang sosial yang merupakan salah satu tugas perkembangan yang utama
dalam periode ini. Pada masa ini dunia anak semakin luas daripada
sebelumnya .untuk itu ia cenderung mengikuti nilai – nilai kelompok,
walau pun hal ini kadang – kadang menentang peraturan dari orang tua.
Aspek – aspek penting yang di pelajari anak dari proses sosialisasi yaitu,
belajar setia kawan, belajar bekerja sama, belajar menerima tanggung
jawab, belajar keadilan dan demokrasi, dll.9
2. Perkembangan Emosi
Emosi merupakan faktor dominan yang mempengaruhi tingkah
laku individu, termasuk pula perilaku belajar. Anak usia SD sudah
menyadari bahwa ia tidak dapat menyatakan dorongan emosinya begitu
saja tanpa mempertimbangkan lingkungannya. Ia mulai belajar
mengungkapkan perasaannya dalam perilaku yang dapat di terima secara
sosial.penumbuhan kesadaran ini tergantung dari bagaimana sikap orang
tua mendisiplinkan anak.
Pada umumnya masa kanak –kanak merupakan periode yang
relatif tenang yang berlangsung sampai mulainya puber. Pola emosi yang
umum adalah : amarah, takut, cemburu, ingin tahu, iri hati, gembira, sedih,
dan kasih sayang.10
3. Perkembangan Moral
Masa ini menemukan bahwa kelompok sosial terlibat dalam
berbagai tigkat kesungguhan pada berbagai macam perbuatan.Pada masa
ini pengertian anak tentang baik dan buruk, tentang keadilan, menjadi
lebih beragam dan lentur. Dalam hal penilaian baik dan buruk ia mulai
mempertimbangkan dampak dari situasi-situasi khusus. Ia mulai
memahami bahwa penelitian tentang baik dan buruk dapat berubah,
tergantung dari keadaan atau situasi munculnya perilaku itu.
Anak akan mengikuti aturan untuk mengambil hati orang lain dan
untuk mempertahankan hubungan-hubungan yang baik. Sehingga pada

9
Elfi yuliani rochmah, psikologi perkembangan, (Yogyakarta: stain ponorogo pres, 2005), hlm:171-172.
10
Elfi yuliani rochmah, psikologi perkembangan, (Yogyakarta: stain ponorogo pres, 2005), hlm:170-171.
usia ini, anak sudah dapat mengikuti peraturan-peraturan dari orang tuanya
atau lingkungan sosialnya. Anak juga sudah dapat memahami alasan yang
mendasari suatu perturan.Dan juga bisa mengasosiakan setiap bentuk
perilaku dengan konsep benar-salah atau baik-buruk.11

c. Masa Remaja
1. Perkembangan Sosial
Salah satu tugas perkembangan masa remaja yang tersulit adalah
berhubungan dengan penyesuaian sosial.Penyesuaian sosial ini dapat di
artikan sebagai kemampuan untuk mereaksi secara tepat terhadap realita
sosial, situasi, dan relasi.Remaja di tuntut untuk memiliki kemampuan
penyesuaian sosial ini baik dalam lingkungan keluarga, sekolah, dan
masyarakat.
Dalam perkembangan sosial, kontak dengan orang lain adalah hal
yang sangat penting. Untuk itu terdapat hal–hal yang sangat esensial
seperti bahasa, symbol-simbol , larangan-larangan atau norma-norma
sosial lainnya. Untuk mencapai tujuan daripolasosialisasi dewasa, remaja
harus membuat banyak penyesuaian baru.
Adanya perbedaan dalam sikap, kebiasaan, cita-cita, larangan-
larangan serta norma-norma sosia lainnya akan menimbulkan kesulitan
dan kebingungan bagi remaja. Demikian pula tentang apa-apa yang di
harapkan oleh masyarakat terhadap para remaja-remaja atau pemudanya
juga bereda-beda. Oleh karena itu, mereka harus belajar tentang peranan
masing-masing menurut usia dan taraf kematangannya.12

2. Perkembangan Emosi
Memahami remaja, kita harus mengetahui apa yang mereka
rasakan selain mengetahui apa yang mereka pikirkan. Bila mereka di tanya
tentang apa-apa yang dikagumi dan dibenci tentang dirinya, maka mereka

11
Elfi yuliani rochmah, psikologi perkembangan, (Yogyakarta: stain ponorogo pres, 2005), hlm:172-173.
12
Elfi yuliani rochmah, psikologi perkembangan, (Yogyakarta: stain ponorogo pres, 2005), hlm:203-205
sering menyebutkan ciri-ciri emosionalnya daripada ciri-ciri fisiknya atau
kemampuan mentalnya. Emosi terlibat di dalam segala hal, di mana remja
ter;ibat di dalamnya. Di antara lingkungan-lingkungan yang sangat
penting dalam membangkitkan emosi para remaja adalah semua hal yang
bertentangan dengan diri remaja, atau hal-hal yang membangkitkan
perasaan was-was mengenai dirinya.
Masa remaja merupakan puncak emosionalitas, yaitu perkembagan
emosi yang tinggi. Pada usia ini perkembngan emosinya menunjukkan
sifat yangsensitif dan reaktif yang sangat kuat terhadap berbagai situasi
atau sosial, emosinya bersifat negatif dan temperamental (mudah
tersinggung/marah, atau sedih/murung). Meskipun begitu remaja tidak lagi
mengungkapkan amarahnya dengan cara gerakan yang meledak-ledak,
melainkan dengan menggerutu, tidak mau berbicara, atau dengan suara
keras mengkritik orang-orang yang menyebabkan amarah.
Untuk itu, mencapai kematangan emosional merupakan tugas
perkembangan yang sangat sulit bagi remaja.13

3. Perkembangan Moral
Ketika memasuki masa remaja, kamampuan seseorang untuk
menggeneralisasi dan mengkonseptualisasi aturan dan prinsip-prinsip
moral juga bertambah.Dengan kemampuannya tersebut remaja mampu
bergerak di luar moralitas yang di dasarkan pada aturan-aturan yang
spesifik menuju ke arah moralitas yang di dasarkan pada prinsip-
prinsipyang meliputi aneka ragam situasi yang konkrit.
Pada periode ini remaja harus mengendalikan perilakunya sendiri,
yang sebelumnya menjadi tanggung jawab orang tua dan guru mampu
mempertimbangkan semua kemungkinan untuk menyelesaikan suatu
masalah dan mempertanggungjawabkannya terhadap suatu hipotesa atau
proporsi. mereka dapat memandang masalahnya dari beberapa sudut

13
Elfi yuliani rochmah, psikologi perkembangan, (Yogyakarta: stain ponorogo pres, 2005), hlm:200-201
pandang dan menyelesaikannya dengan mengambil banyak faktor sebagai
dasar pertimbangan.14

e. Masa Dewasa dan Tua


Pembagian perkembangan masa dewasa ada 3, yaitu:

1. Dewasa Awal
Dewasa Awal merupakan masa dewasa atau satu tahap yang dianggap
kritikal selepas alam remaja yang berumur dua puluhan (20-an) sampai
tiga puluhan (30 an).Ia dianggap kritikal karena disebabkan pada masa ini
manusia berada pada tahap awal pembentukan karir dan keluarga. Pada
peringkat ini, seseorang perlu membuat pilihan yang tepat demi menjamin
masa depannya terhadap pekerjaan dan keluarga. Pada masa ini juga
seseorang akan menghadapi dilema antara pekerjaan dan keluarga.
Berbagai masalah mulai timbul terutama dalam perkembangan karir dan
juga hubungan dalam keluarga.Dan masalah yang timbul tersebut
merupakan salah satu bagian dari perkembangan sosio-emosional.
Sosioemosional adalah perubahan yang terjadi pada diri setiap individu
dalam warna afektif yang menyertai setiap keadaan atau perilaku individu.

2. Dewasa Madya
Masa Dewasa Madya adalah masa peralihan dewasa yang berawal dari
masa dewasa muda yang berusia 40- 65 tahun.Pada masa dewasa madya,
ada aspek- aspek tertentu yang berkembang secara normal, aspek-aspek
lainnya berjalan lambat atau berhenti.Bahkan ada aspek- aspek yang mulai
menunjukkan terjadinya kemunduran- kemunduran. Aspek jasmaniah
mulai berjalan lamban, berhenti dan secara berangsur menurun.Aspek-
aspek psikis (intelektual- sosial- emosional- nilai) masih terus
berkembang, walaupun tidak dalam bentuk penambahan atau peningkatan
kemampuan tetapi berupa perluasan dan pematangan kualitas. Pada akhir

14
Elfi yuliani rochmah, psikologi perkembangan, (Yogyakarta: stain ponorogo pres, 2005), hlm:205-207.
masa dewasa madya (sekitar usia 40 tahun), kekuatan aspek- aspek psikis
ini pun secara berangsur ada yang mulai menurun, dan penurunannya
cukup drastic pada akhir usia dewasa. Untuk lebih jelasnya, berikut ini
akan disajikan uraian secara lebih rinci tentang perkembangan fisik,
intelektual, moral, dan karier pada masa dewasa.

3. Dewasa Akhir
Masa dewasa lanjut usia merupakan masa lanjutan atau masa dewasa akhir
(60 ke atas). Perlu memperhatikan khusus bagi orangtuanya yang sudah
menginjak lansia dan anaknya yang butuh dukungan juga untuk menjadi
seorang dewasa yang bertanggungjawab.Di samping itu permasalahan dari
diri sendiri dengan perubahan fisik, mulai tanda penuaan yang cukup
menyita perhatian.

Saat individu memasuki dewasa akhir, mulai terlihat gejala


penurunan fisik dan psikologis, perkembangan intelektual dalam
lambatnya gerak motorik, pencarian makna hidup selanjutnya. Menurut
erikson tahap dewasa akhir memasuki tahap integrity vs despair yaitu
kemampuan perkembangan lansia mengatasi krisis psikososialnya. Banyak
stereotip positif dan negatif yang mampu mempengaruhi kepribadian
lansia.Integritas ego penting dalam menghadapi kehidupan dengan puas
dan bahagia.

Menurut Erikson, perkembangan psikososial masa dewasa akhir ditandai


dengan tiga gejala penting, yaitu keintiman, generatif, dan integritas.
1. Perkembangan Keintiman
Keintiman dapat diartikan sebagai suatu kemampuan
memperhatikan orang lain dan membagi pengalaman dengan mereka.
Orang-orang yang tidak dapat menjalin hubungan intim dengan orang
lainakan terisolasi. Menurut Erikson, pembentukan hubungan intim ini
merupakan tantangan utama yang dihadapi oleh orang yang memasuki
masa dewasa akhir.
2. Perkembangan Generatif
Generativitas adalah tahap perkembangan psikososial ketujuh yang
di alami individu selama masa pertengahan masa dewasa. Ketika
seseorang mendekati usia dewasa akhir, pandangan mereka mengenai
jarak kehidupan cenderung berubah. Mereka tidak lagi memandang
kehidupan dalam pengertian waktu masa anak-anak, seperti cara anak
muda memandang kehidupan, tetapi mereka mulai memikirkan
mengenai tahun yang tersisa untuk hidup. Pada masa ini, banyak orang
yang membangun kembali kehidupan mereka dalam pengertian
prioritas, menentukan apa yang penting untuk dilakukan dalam waktu
yang masih tersisa.
3. Perkembangan Integritas
Integritas merupakan tahap perkembangan psikososial Erikson
yang terakhir.Integritas paling tepat dilukiskan sebagai suatu keadaan
yang dicapai seseorang setelah memelihara benda-benda, orang-orang,
produk-produk dan ide-ide, serta setelah berhasil melakukan
penyesuaian diri dengan bebrbagai keberhasilan dan kegagalan dalam
kehidupannya.Lawan dari integritas adalah keputusan tertentu dalam
menghadapi perubahan-perubahan siklus kehidupan individu, terhadap
kondisi-kondisi sosial dan historis, ditambah dengan kefanaan hidup
menjelang kematian.

C. Implikasi Tahap Perkembangan Sosio-Emosional dan Moral dalam Proses


Pembelajaran

Dalam proses belajar, kita tidak menyangkal bahwa peran intelegensi berpengaruh
terhadap prestasi pembelajaran. Namun, yang muncul saat ini tingkat keberhasilan
seseorang dalam pendidikan sangat difokuskan untuk diukur secara kuantitas
intelegensi yaitu dengan pengukuran Intelligence Quotient (IQ), peran IQ
diasumsikan sebagai hal utama yang berpengaruh terhadap keberhasilan. Akan tetapi,
perlu disadari bahwa IQ hanyalah merupakan pengukuran secara kuantitas mengenai
tingkat intelegensi yang dapat diukur dan bersifat konkret dan konvergen. Emosi
yang positif dapat mempercepat proses belajar dan mencapai hasil belajar yang lebih
baik, sebaliknya emosi yang negatif dapat memperlambat belajar atau bahkan
menghentikannya sama sekali.

Oleh karena itu, pembelajaran yang berhasil haruslah dimulai dengan


menciptakan emosi positif pada diri pelajar (peserta didik). Untuk menciptakan
emosi positif pada dirisiswa dapat dilakukan dengan berbagai cara, diantaranya
adalah dengan menciptakan lingkungan belajar atau lingkungan sosial yang
menyenangkan dan dengan penciptaan kegembiraan belajar. Kecerdasan emosi
merupakan kemampuan seseorang dalam mengelola emosinya secara sehat terutama
dalam berhubungan dengan orang lain.

Selain keceerdasan emosi interaksi antara pelajar dengan lingkungan tempat


sekolah juga mempengaruhi proses belajar. Apabila terjadi hubungan atau interaksi
yang baik antar pelajar dengan lingkungan sosial, lingkungan masyarakat, dan
lingkungan keluarga serta emosi dari para pelajar mampu disesuaikan dengan
lingkungan sosial tersebut, tentu saja proses belajar dari pelajar akan berjalan dengan
lancar. Maka dari hal tersebut dapat kita simpulkan bahwa dalam proses pendidikan,
emosi lingkungan sosial sangat berperan dan perlu dilibatkan dalam proses
pembelajaran karena emosi mempunyai suatu kekuatan yang dapat memicu kita
dalam mencapai suatu prestasi belajar dan lingkungan sosial menjadi wadah dalam
menjalankan proses belajar.

Maka dengan ini sangatlah keliru jika dianggap faktor utama penentu
keberhasilan adalah IQ yang tinggi. Banyak orang yang berhasil dalam sisi akademik
namun tidak bisa melakukan apapun dengan keberhasilannya dalam kehidupan yang
nyata. Oleh karena itu, keterlibatan emosi dan keterlibatan pelajar dalam lingkungan
sosialnya sangat penting dalam segala aktivitas, apalagi jika kita dapat mengelola
emosi itu dengan tepat dalam lingkungan sosial atau dengan kata lain cerdas dalam
menggunakan emosi. Kecerdasan emosi dan mampu berinteraksi dalam lingkungan
sosial ini akan sangat berperan terhadap keberhasilan seseorang dalam segala aspek
kehidupan.
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan
Kesimpulan yang dapat ditarik dari pembahasan di atas adalah bahwa psikologi
perkembangan dirumuskan sebagai ilmu yang membahas tingkah laku manusia yang
sedang dalam taraf perkembangan mulai konsepsi sampai tua dan selanjutnya,
berdasarkan pertumbuhan, kematangan, belajar, dan pengalaman.
Adapun sebagian faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan Sosial,
Emosional, dan Moral pada Anak, Remaja, dan Orang Dewasa yaitu keluarga,
kematangan, status sosial ekonomi, pendidikan kapasitas, mental, emosi, dan intelegensi,
dll. Karena masih banyak lagi faktor-faktor yang berasal dari berbagai pendapat yang
berbeda.
Dari berbagai macam masa dari lahir samapi mati. Ada masa yang harus dilalui
oleh setiap manusia yaitu masa bayi, masa anak - anak, masa remaja, masa dewasa dan
tua.
Dalam proses belajar, kita tidak menyangkal bahwa peran intelegensi berpengaruh
terhadap prestasi pembelajaran. Namun, yang muncul saat ini tingkat keberhasilan
seseorang dalam pendidikan sangat difokuskan untuk diukur secara kuantitas intelegensi
yaitu dengan pengukuran Intelligence Quotient (IQ), peran IQ diasumsikan sebagai hal
utama yang berpengaruh terhadap keberhasilan.

B. Saran

Dalam menyusun makalah ini, kami menyadari banyak kesalahan yang terdapat di
dalamnya.Saran dan kritik yang membangun diharapkan demi kesempurnaan makalah ini
dikemudian hari. Diharapkan kepada para pembaca sekalian, agar setelah memahami
materi yang kami sampaikan pada makalah ini, pembaca dapat mengerti dan menambah
ilmu serta wawasannya.
DAFTAR PUSTAKA

Jahja,Yudrik. 2011. Psikologi Perkembangan. Jakarta: Prenadamedia Group

Ali, Mohammad dan Mohammad Asrori. 2006. Psikologi Remaja. Jakarta: PT. Bumi Aksara

Deswita. 2005. Psikologi perkembangan. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya

Elfi Yuliani Rochmah. 2005. Psikologi perkembangan. Yogyakarta: Teras dan STAIN Ponorogo

https://aandesca.blogspot.com

http://rheeniyhanasj.wordpress.com

http://asyam forex.blogspot.com/201

http://www.porenting.co.id

http://kompositisme.blogspot.com