Anda di halaman 1dari 14

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Pelaksanaan Anggaran merupakan bagian dari siklus Anggaran Pendapatan dan Belanja
Negara (APBN). Salah satu indikator penting untuk mengetahui kinerja APBN adalah dengan
mengukur tingkat penyerapan anggaran dalam pelaksanaan anggaran. Besaran pagu anggaran
yang dapat direalisasikan dapat mencerminkan berjalannya fungsi-fungsi pemerintahan antara
lain mendorong pertumbuhan ekonomi, distribusi yang semakin merata dan stabilitas
perekonomian yang makin terjaga. Mengingat pentingnya penyerapan anggaran dalam
menggerakkan perekonomian bangsa, maka perlu dilakukan berbagai langkah untuk mendorong
percepatan penyerapan anggaran.
Direktorat Jenderal Perbendaharaan selaku Kuasa Bendahara Umum Negara bertugas
untuk mendorong percepatan realisasi penyerapan anggaran pada Kementerian Negara/Lembaga
dalam mencapai sasaran program dan kegiatan yang menjadi tanggung jawab. Sebagai
identifikasi awal, rendahnya penyerapan anggaran mengindikasikan adanya permasalahan baik
dari sisi teknis maupun regulasi. Hal ini menjadi landasan akan perlunya kegiatan monitoring
dan evaluasi penyerapan anggaran sehingga dapat diketahui permasalahannya serta sekaligus
mampu memberikan rekomendasi untuk mengatasi setiap hambatan yang dihadapi.

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan, maka rumusan masalahnya sebagai
berikut :
1. Bagaimana Pengertian, Jenis dan Fungsi Anggaran ?
2. Bagaiamana kondisi penyerapan anggaran di Indonesia ?
3. Apa saja yang menjadi akibat penyerapan anggaran yang rendah ?
4. Bagaimana cara mengatasi penyerapan anggaran yang rendah ?

1.3 Tujuan Penulisan


Penulisan karya ilmiah ini bertujuan :
1. Untuk mengetahui dan memahami pengertian, jenis dan fungsi anggaran

1
2. Untuk mengetahui dan memahami kondisi penyerapan anggaran di Indonesia
3. Untuk mengetahui dan memahami akibat penyerapan anggaran yang rendah
4. Untuk mengatasi penyerapan anggaran yang rendah

1.4 Manfaat Penulisan


Adapun manfaat penulisan makalah ini yaitu :
1. Bagi penulis, makalah ini diharapkan dapat lebih mengembangkan kemampuan dan
sebagai sarana untuk memperbaiki sikap dimasa mendatang dalam membuat suatu
makalah.
2. Bagi pembaca untuk menambah ilmu pengetahuan mengenai Manajemen Penyerapan
Anggaran.

2
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Anggaran


Anggaran merupakan pernyataan mengenai estimasi kinerja yang hendak dicapai selama
periode waktu tertentu yang dinyatakan dalam ukuran finansial. Setiap mendekati akhir tahun
anggaran, hampir selalu terjadi diskusi mengenai rendahnya penyerapan anggaran yang dianggap
cerminan dari buruknya kinerja birokrasi pemerintahan.
Anggaran publik merupakan kegiatan yang direpresentasikan dalam bentuk rencana
perolehan pendapatan dan belanja dalam satuan moneter. Penilaian paling adil mengenai
penggunaan anggaran adalah dengan menilai output dan outcome yang dihasilkan oleh suatu
kegiatan atau dengan menunggunakan indikator yang telah disertakan dalam Daftar Isian
Pelaksanaan Anggaran (DIPA). Dengan melihat aspek tersebut, suatu kegiatan akan dapat dinilai
efektivitas dan efisiensi dari kegitan yang dilaksankan. Dalam penganggaran Berbasis Kinerja,
sebenrnya penyerapan anggaran bukan merupakan tolak ukur penilaian suatu kegiatan. Aspek
penyerapan anggaran harus dilihat pula output dan outcome atas kegiatan tersebut. Penyerapan
anggaran yang tinggi namun bila diiringi dengan output dan outcome yang rendah, menunjukkan
pelaksanaan kegiatan tidak efektif.
Menurut (Mulyadi,2001) Anggaran merupakan suatu rencana kerja yang dinyatakan secara
kuantitatif yang diukur dalam satuan moneter standar dan satuan ukuran yang lain yang
mencakup jangka waktu satu tahun. Ada beberapa alasan penyebab anggaran dianggap penting
(Mardiasmo, 2009), yaitu:
a. Anggaran merupakan alat bagi pemerintah untuk menggerakkan pembangunan social
ekonomi, menjamin kesinambungan dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat.
b. Anggaran diperlukan karena adanya kebutuhan dan keinginan masyarakat yang tidak
terbatas dan terus berkembang, sedangkan sumber daya yang terbatas.
c. Anggaran diperlukan untuk meyakinkan bahwa pemerintah telah bertanggung jawab
terhadap biaya.

3
2.2 Jenis-Jenis Anggaran
Anggaran sektor publik terbagi atas 2 jenis, diantaranya adalah :
1. Anggaran Tradisional
Pendekatan penganggaran ini menggunakan paradigma sederhana yang berorientasi pada
pengendalian setiap jenis biaya. Pendekatan ini menggunakan asumsi bahwa setiap jenis biaya
akan dinaikkan jumlahnya pada tingkat kenaikan yang relative sama tanpa memperhatikan
kebutuhan yang seharusnya. Terdapat dua ciri utama dalam pendekatan tradisional, diantaranya
adalah :
a. Incrementalism, yakni hanya menambah atau mengurangi jumlah dana/uang pada
item-item anggaran yang sudah ada sebelumnya dengan menggunakan data masa lalu
tanpa mempertimbangkan keadaan yang terjadi pada saat ini sehingga keputusan
diambil tanpa kajian yang mendalam.
b. Line-item, maksudnya adalah dana yang dianggarkan sebagai penerimaan dan
pengeluaran saat ini adalah bersumber dari data atau item masa lalu, meskipun pada
kenyataannya item-item tersebut sudah tidak relevan lagi untuk digunakan pada saat
ini.
Disamping ciri utama diatas, masih ada lagi ciri yang dimiliki oleh anggaran tradisional,
diantaranya adalah cenderung sentralistis, bersifat spesifikasi, tahunan, menggunakan prinsip
anggaran bruto. Dengan demikian, maka satu-satunya tolok ukur yang dapat dijadikan sebagai
pengawasan hanyalah tingkat kepatuhan penggunaan anggaran.

2. Anggaran Modern atau New Public Management


Anggaran publik dengan pendekatan new publik management (NPM) mulai dikenal sejak
tahun 1980-an yang mulai merubah sistem anggaran tradisional yang terkesan kaku, birokratis,
dan hierarkis menjadi lebih fleksibel dan mementingkan pasar. NPM cenderung memiliki
karaktristik umum diantaranya komprehensif/komparatif, terintegrasi dan lintas departemen,
proses pengambilan keputusan yang rasional, berjangka panjang, spesifikasi tujuan dan
perangkingan prioritas, analisis total cost dan benefit, berorientasi input, output, dan outcome,
bukan sekedar input, serta adanya pengawasan kinerja. Terdapat tiga jenis penganggaran sektor
publik yang merupakan bagian dari NPM yang saat ini digunakan dengan penekanan yang

4
berbeda-beda untuk setiap pendekatan tersebut. Ketiga pendekatan dalam penganggaran ini
adalah :
a. Zero Based Budgeting (ZBB) adalah penganggaran yang didasarkan pada kebutuhan
saat ini dan tidak berpatokan pada anggaran tahun lalu sehingga item-item yang sudah
tidak relevan dan tidak diperlukan dalam pencapaian tujuan organisasi akan hilang dari
struktur anggaran. Konsep ini dimaksudkan untuk mengatasi kelemahan yang ada pada
sistem anggaran tradisional. Proses pengimplementasian ZBB terdiri dari tiga tahap
diantaranya mengidentifikasi unit-unit keputusan, penentuan paket-paket keputusan,
merangking dan mengevaluasi paket keputusan.
b. Planning, Programming, and Budgeting System (PPBS) lebih berorientasi pada output
dan tujuan yang lebih menekankan pada alokasi sumber daya berdasaarkan atas
analisis ekonomi. Sistem penganggaran yang dilakukan lebih berdasarkan program
dan bukan divisi-divisi seperti pada struktur tradisional. Dikarenakan sumber daya
yang dimiliki pemerintah terbatas jumlahnya, PPBS diterapkan untuk membantu
manajemen pemerintah dalam membuat keputussan alokasi sumber daya secara tepat.
Proses pengimplementasian PPBS dimulai dengan menentukan tujuan umum dan unit
organisasi dengan jelas, mengidentifikasi program-program, melakukan evaluasi dari
masing-masing program, pemilihan program yang efektif dan efisien, serta
pengalokasian sumber daya ke program-program yang disetujui.
c. Pendekatan Anggaran Dalam Dokumen RKA-KL sesuai amanat UU 17/2003 ada 3
pendekatan yaitu :
- Pendekatan Penganggaran Terpadu
Penganggaran terpadu merupakan unsur yang paling mendasar bagi penerapan
pendekatan penyusunan anggaran lainnya yaitu, Penganggaran Berbasis Kinerja
(PBK) dan Kerangka Pengeluaran Jangka Menengah (KPJM). Dengan kata lain
bahwa pendekatan anggaran terpadu merupakan kondisi yang harus terwujud
terlebih dahulu. Penyusunan anggaran terpadu dilakukan dengan
mengintegrasikan seluruh proses perencanaan dan penganggaran di lingkungan
K/L untuk menghasilkan dokumen RKA-K/L dengan klasifikasi anggaran
menurut organisasi, fungsi, dan jenis belanja. Integrasi atau keterpaduan proses
perencanaan dan penganggaran dimaksudkan agar tidak terjadi duplikasi dalam

5
penyediaan dana untuk K/L baik yang bersifat investasi maupun untuk keperluan
biaya operasional. Pada sisi yang lain penerapan penganggaran terpadu juga
diharapkan dapat mewujudkan Satuan Kerja (Satker) sebagai satu-satunya entitas
akuntansi yang bertanggung jawab terhadap aset dan kewajiban yang dimilikinya,
serta adanya akun (pendapatan dan/atau belanja) untuk satu transaksi sehingga
dipastikan tidak ada duplikasi dalam penggunaannya. Mengacu pada pendekatan
penyusunan anggaran terpadu tersebut di atas, penyusunan RKA-K/L
menggunakan hasil restrukturisasi program/kegiatan dalam kaitannya dengan
klasifikasi anggaran menurut program dan kegiatan, serta penataan bagian
anggaran dan satker untuk pengelolaan anggaran dalam kaitannya dengan
klasifikasi anggaran menurut organisasi.
- Pendekatan Kerangka Pengeluaran Jangka Menengah
Kerangka Pengeluaran Jangka Menengah (KPJM) adalah pendekatan penyusunan
anggaran berdasarkan kebijakan, dengan pengambilan keputusan yang
menimbulkan implikasi anggaran dalam jangka waktu lebih dari 1 (satu) tahun
anggaran. Secara umum penyusunan KPJM yang komprehensif memerlukan suatu
tahapan proses penyusunan perencanaan jangka menengah meliputi :
1. Penyusunan proyeksi/rencana kerangka (asumsi) ekonomi makro untuk
jangka menengah
2. Penyusunan proyeksi/rencana/target-target fiskal (seperti tax ratio, defisit,
dan rasio utang pemerintah) jangka menengah
3. Rencana kerangka anggaran (penerimaan, pengeluaran, dan pembiayaan)
jangka menengah (medium term budget framework), yang menghasilkan pagu
total belanja pemerintah (resources envelope), pendistribusian total pagu
belanja jangka menengah ke masing-masing K/L (line ministries ceilings).
Indikasi pagu K/L dalam jangka menengah tersebut merupakan perkiraan
batas tertinggi anggaran belanja dalam jangka menengah
- Pendekatan Penganggaran Berbasis Kinerja (PBK)
Penganggaran Berbasis Kinerja (PBK) merupakan suatu pendekatan dalam sistem
penganggaran yang memperhatikan keterkaitan antara pendanaan dan kinerja
yang diharapkan, serta memperhatikan efisiensi dalam pencapaian kinerja

6
tersebut. Yang dimaksud kinerja adalah prestasi kerja yang berupa keluaran dari
suatu kegiatan atau hasil dari suatu program dengan kuantitas dan kualitas yang
terukur.

2.3 Fungsi Anggaran


a. Alat Perencanaan
Anggaran dibuat untuk merencanakan tindakan apa yang akan dilakukan pemerintah,
berupa biaya yang dibutuhkan dan berapa hasil yang diperoleh dari belanja pemerintah.
Fungsi anggaran sebagai alat perencanaan adalah :
1. Merumuskan tujuan serta sasaran kebijakan agar sesuai dengan visi dan misi yang
ditetapkan
2. Merencanakan berbagai program dan kegiatan untuk mencapai tujuan organisasi serta
merencanakan alternatif sumber pembiayaannya
3. Mengalokasikan dana pada berbagai program dan kegiatan yang telah disusun
4. Menentukan indikator kinerja dan tingkat pencapaian strategi

b. Alat Pengendalian
Sebagai alat pengendalian, anggaran memberikan rencana detail atas pendapatan dan
pengeluaran pemerintah agar pembelanjaan yang dilakukan dapat dipertanggungjawabkan
kepada publik. Tanpa anggaran pemerintah tidak dapat mengendalikan pemborosan-pemborosan
pengeluaran. Bahkan tidak berlebihan jika dikatakan bahwa setiap oknum pemerintah dapat
dikendalikan oleh anggaran
Anggaran sebagai instrumen pengendalian digunakan untuk menghindari
adanya overspending, underspending dan salah sasaran dalam pengalokasian anggaran pada
bidang lain yang bukan merupakan prioritas. Pengendalian anggaran publik dapat dilakukan
melalui empat cara, yaitu :
1. Membandingkan kinerja aktual dengan kinerja yang dianggarkan
2. Menghitung selisih anggaran
3. Menemukan penyebab yang dapat dikendalikan dan tidak dapat dikendalikan atas
suatu varians
4. Merevisi standar biaya atau target anggaran untuk tahun berikutnya.

7
c. Alat Kebijakan Fiskal
Anggaran dapat digunakan sebagai alat menstabilkan ekonomi dan mendorong
pertumbuhan ekonomi. Melalui anggaran publik tersebut dapat diketahui arah kebijakan fiskal
pemerintah sehingga dapat dilakukan prediksi-prediksi dan estimasi ekonomi. Anggaran dapat
digunakan untuk mendorong, memfasilitasi dan mengkoordinasikan kegiatan ekonomi
masyarakat sehingga dapat mempercepat pertumbuhan ekonomi.

d. Alat politik
Pada sektor publik, anggaran merupakan dokumen sebagai bentuk komitmen eksekutif
dan kesepakatan legislatif atas penggunaan dana publik untuk kepentingan tertentu. Anggaran
bukan sekedar masalaah teknis, akan tetapi merupakan alat politik. Oleh karena itu, pembuatan
anggaran publik membutuhkan political skill, coalition, building, keahlian bernegosiasi dan
pemahaman tentang prinsip manajemen keuangan publik olej para manajer publik.

e. Alat Koordinasi dan Komunikasi


Setiap unit kerja pemerintahan terlibat dalam proses penyusunan anggaran. Anggaran
publik merupakan alat koordinasi antar bagian dalam pemerintahan. Anggaran publik yang
disusun dengan baik akan mampu mendeteksi terjadinya inkonsistensi suatu unit kerja dalam
pencapaian tujuan organisasi. Disamping itu, anggaran publik juga berfungsi sebagai alat
komunikasi antar unit kerja dalam lingkungan eksekutif. Anggaran harus dikomunikasikan ke
seluruh bagian organisasi untuk dilaksanakan.

f. Alat Penilaian Kinerja


Anggaran merupakan wujud komitmen dan budget holder (eksekutif) kepada pemberi
wewenang (legislatif). Kinerja eksekutif akan dinilai berdasarkan pencapaian target anggaran
dan efisiensi pelaksanaan anggaran. Kinerja manajer publik dinilai berdasarkan berapa yang
berasil di capai dikaitkan dengan anggran yang telah ditetapkan.

8
g. Alat Motivasi
Anggaran dapat digunakan sebagai alat untuk memotivasi manajer, dan stafnya agar
bekerja secara ekonomis, efektif, dan efisien dalam mencapai target dan tujuan organisasi yang
telah ditetapkan. Agar dapat memotivasi, anggaran hendaknya bersifat challenging but attainable
atau demanding but achieveable. Maksudnya adalah target anggaran hendaknya jangan terlalu
tinggi sehingga tidak dapat dipenuhi, namun juga jangan terlalu rendah sehingga terlalu mudah
untuk dicapai.

h. Alat Menciptakan Ruang Publik


Anggaran publik tidak boleh diabaikan oleh kabinet, birokrat, dan DPR/DPRD.
Masyarakat, LSM, Perguruan Tinggi, dan berbagai organisasi kemasyarakatan harus terlibat
dalam proses penganggaran publik. Kelompok masyarakat yang terorganisir akan mencoba
mempengaruhi anggaran pemerintah untuk kepentingan mereka.

2.4 Kondisi Penyerapan Anggaran Di Indonesia


Kondisi penyerapan anggaran pada pemerintah pusat dan daerah di Indonesia hampir sama,
diistilahkan menurut Bank Dunia yaitu lambat di awal tahun namun menumpuk di akhir tahun
(slow and back-loaded expenditure). Rendahnya penyerapan anggaran negara tiap tahunnya akan
berimplikasi kepada tersendatnya proses perencanaan pembangunan, baik pusat maupun daerah.
Pertanyaannya, bukankah Indonesia sudah menganut prinsip-prinsip good financial
governance (GFG) yang merupakan turunan dari prinsip good and clean governance? Ini
sebetulnya persoalan serius yang harus menjadi perhatian pemerintah. Walaupun sudah ada
aturan hukum diskresi dalam Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2014 tentang Administrasi
Pemerintahan, aturan pasal tersebut masih bias dalam penerapannya. Ukuran dan batasan
pemerintah dapat melakukan diskresi belum diatur secara konkret dalam UU, yang menimbulkan
multitafsir. Hal ini mengakibatkan pelaksanaan anggaran untuk pembangunan pun terganggu.
Faktor-faktor yang menyebabkan rendahnya penyerapan anggaran adalah sebagai berikut :
a. Lemahnya perencanaan anggaran

9
Jika perencanaan dilakukan dengan matang seharusnya tidak perlu adanya revisi-revisi
serta telah ada jadwal kegiatan yang pasti sehingga tidak menumpuk diakhir tahun
anggaran.
b. Lamanya proses pembahasan anggaran
Lamanya proses pembahasan anggaran di DPRD karena banyaknya tarik ulur
kepentingan. Tarik ulur ini efeknya juga menjadikan kegiatan yang diusulkan menjadi
tidak tepat sasaran.
c. Lambannya proses tender
Tidak sedikit pejabat pembuat komitmen dan kuasa pengguna anggaran yang masih
kurang memahami ketentuan pengadaan barang dan jasa serta pelaksanaan anggaran.
Peyebab lainnya adalah masalah penstandaran biaya. Biaya dilapangan tidak sesuai
dengan standar biaya umum dan standar biaya khusus, sehingga menyebabkan
terbatasnya peserta lelang, pelelangan ulang, serta sanggahan dalam proses lelang.
d. Ketakutan menggunakan anggaran
Sikap ketakutan pemerintah yang berlebihan menyebabkan alokasi pendanaan untuk
pembangunan menjadi stagnan. Faktanya memang banyak pimpinan K/L, kepala daerah,
PPK, KPA, dan bendahara yang berurusan langsung dengan aparat penegak hukum karena
ditemukan adanya dugaan penyimpangan pengelolaan keuangan negara dalam pelaksanaan
kegiatan. Hal ini menimbulkan stigma ketakutan dalam merealisasikan anggaran.

Beberapa hal yang mempengaruhi penyerapan anggaran sering kali berhubungan dengan
proses pengadaan barang dan jasa antara lain :
a. Kegiatan dilaksanakan pada tahap akhir tahun anggaran sehingga realisasi keuangan
masih berupa uang muka.
b. Keterbatasan sumber daya manusia (SDM) pada panitia lelang menyebabkan proses
pelelangan harus mengikuti ketersediaan tim atau panitia lelang. Hal ini
mempengaruhi keterlambatan penetepaan pemenang yang mempengaruhi penyerapan
anggaran.
c. Adanya perubahan jenis barang yang akan diadakan, sementara dokumen
perubahannya juga terlambat.

10
d. Adanya keterlambatan penetapan panitia lelang karena keterbatasannya SDM yang
telah bersetifikat dan adanya keengganan untuk mau terlibat menjadi anggota panitia.

2.5 Akibat Penyerapan Anggaran Yang Rendah


Penyerapan anggaran yang rendah akan menyebabkan kerugian bagi perekonomian,
diantaranya :
a. Rendahnya efek berganda dalam perekonomian nasional
Rendahnya pertumbuhan ekonomi berefek pada rendahnya penciptaan lapangan kerja
sehingga angka kemiskinan sulit diturunkan. Stimulus yang sangat diharapkan untuk
membantu perekonomian adalah belanja barang dan belanja modal pemerintah.
b. Anggaran yang dikeluarkan pemerintah menjadi sia-sia
Dalam mempersiapkan anggaran, pemerintah telah memperhitungkan defisit anggaran
yang kemudian dibiayai melalui utang. Jika utang sudah cair, adanya commitment
fee yang harus ditanggung pemerintah. Jika anggaran tidak segera digunakan,
pemerintah tetap dibebani commitment fee tersebut.
Kegagalan target penyerapan anggaran memang berakibat hilangnya manfaat belanja, karena
dana yang dialokasikan ternyata tidak semuanya dapat dimanfaatkan, yang berarti terjadinya
iddle money. Apabila pengalokasian anggaran efisien, maka keterbatasan sumber dana yang
dimiliki negara dapat dioptimalkan untuk mendanai kegiatan strategis. Umber-sumber
penerimaan negara yang terbatas mengharuskan pemerintah menyusun prioritas kegiatan dan
pengalokasian anggaran yang efektif dan efisien. Ketika penyerapan anggaran gagal memenuhi
target, berarti telah inefisien dan inefektivitas pengalokasian anggaran.

2.6 Cara Mengatasi Penyerapan Anggaran Yang Rendah


Untuk mengatasi permasalahan penyerapan anggaran yang cenderung terakumulasi pada
akhir tahun, diperlukan langkah-langkah antisipasi, antara lain :
a. Perumusan pola ideal penyerapan belanja sesuai dengan sifat masing-masing belanja
b. Perumusan mekanisme revisi dokumen anggaran yang lebih fleksibel
c. Perumusan sistem pengawasan dan evaluasi pelaksanaan anggaran
d. Penyempurnaaan sistem dan prosedur pembayaran maupun pencairan dana

11
e. Penjagaan kekonsistensian dalam melaksanakan kegiatan dan penarikan dana sesuai
dengan jadwal yang telah ditentukan sebelumnya
f. Penjaminan keterkaitan penggunaan anggaran dengan pencapaian kinerja
g. Pelaksanaan sistem pengawasan dan pengendalian internal yang konsisten
h. Adanya aturan mengenai pengadaan barang dan jasa yang fleksibel, yang
memungkinkan pelaksanaan pad awal tahun anggaran
i. Adanya penghargaan atau hukuman bagi instansi atau pemerintahan daerah yang
baik/buruk dalam penyerapan anggaran

12
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Anggaran berfungsi sebagai alat perencanaan, alat pengendalian, alat kebijakan fiskal, alat
politik, alat koordinasi dan komunikasi, alat penilaian kinerja, alat motivasi, serta alat untuk
menciptakan ruang publik. Dalam kerangka penganggaran berbasis kinerja, sebenarnya
penyerapan anggaran bukan merupakan target alokasi anggaran. Padahal apabila pengalokasian
anggaran efisien, maka keterbatasan sumber dana yang dimiliki negara dapat dioptimalkan untuk
mendanai kegiatan strategis.
Secara umum, penyerapan anggaran di indonesia masih sangat rendah. Rendahnya
penyerapan anggaran disebabkan pada dasarnya karena keterlambatan pencairan dana,
keterlambatan penetapan KPA dan Pejabat Pengelola Kegiatan.Keterlambatan tersebut terjadi
hampir di setiap satuan kerja (Satker), baik pusat maupun daerah.

3.2 Saran
Dalam pemanfaatan anggaran, sebaiknya pemerintah lebih memperhatikan ketercapaian
target dari program-program pemerintah secara efektif dan efisien. Anggaran yang sudah
dianggarkan seharusnya digunakan secara tepat sasaran, dan dapat diserap oleh seluruh
departemen secara baik dan tepat waktu. Diharapkan kendala-kendala yang menyebabkan
lambatnya penyerapan anggaran dapat diminimalisir dari berbagai aspek.

13
DAFTAR PUSTAKA

Yulsiati,Henny dkk. 2018. Manajemen Keuangan Sektor Publik. Palembang : Jurusan Akuntansi
Politeknik Negeri Sriwijaya
http://celineshan.blogspot.com/2015/04/manajemen-penyerapan-anggaran_24.html
http://jurnal-sdm.blogspot.com/2010/01/penganggaran-definisi-fungsi-manfaat.html
https://hpweblog.wordpress.com/tag/fungsi-anggaran/
http://ekonomister.blogspot.com/2010/10/penganggaran-sektor-publik.html
http://karangtangis.blogspot.com/2011/02/pendekatan-dan-jenis-jenis-anggaran.html

14