Anda di halaman 1dari 10

INVAGINASI

Pembimbing :

dr. Raya Henri Batubara Sp.B KBD

Disusun oleh :

Mitha Faramita

030.11.191

KEPANITERAAN KLINIK ILMU BEDAH


PERIODE 8 MEI – 22 JULI 2017
RUMAH SAKIT UMUM DAERAH BEKASI
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TRISAKTI JAKARTA

1
Definisi
Invaginasi adalah suatu proses di mana segmen intestin masuk ke dalam
bagian lumen usus yang dapat menyebabkan obstruksi pada saluran cerna.
Invaginasi artinya prolapsus suatu bagian usus ke dalam lumen bagian yang tepat
berdekatan. Bagian usus yang masuk disebut intususeptum dan bagian yang
menerima intususepturn dinamakan intususipiens. Oleh karena itu, invaginasi
disebut juga intususepsi.

Gambar 1. Invaginasi

Etiologi
Sebagian besar etiologi invaginasi pada anak tidak dapat ditentukan atau
disebut juga invaginasi primer. Faktor presipitasi invaginasi pada anak dapat
berupa infeksi virus dan pertumbuhan tumor intestinum. Dahulu, beberapa kasus
invaginasi berhubungan dengan vaksin rotavirus. Rotavirus adalah virus yang
dapat menyebabkan infeksi yang dapat mengakibatkan terjadinya diare, vomitus,
demam, dan dehidrasi. Pada orang dewasa invaginasi dapat disebabkan oleh
tumor jinak maupun ganas saluran cerna, parut (adhesive) usus, luka operasi pada
usus halus dan kolon, IBS (Irritable Bowel Syndrome), dan Hirschsprung.
Hipertrofi Payer’s patch di ileum dapat merangsang peristaltik usus
sebagai upaya mengeluarkan massa tersebut sehingga menyebabkan invaginasi.
Invaginasi sering terjadi setelah infeksi saluran napas bagian atas dan serangan
episodik gastroenteritis yang menyebabkan pembesaran jaringan limfoid.
Adenovirus ditemukan pada 50% kasus invaginasi. Invaginasi idiopatik umumnya
terjadi pada anak berusia 6 -36 bulan karena tingkat kerentanannya tinggi
terhadap virus.
2
Pada sekitar 5-10% penderita, dapat dikenali hal-hal pendorong untuk
terjadinya intususepsi, seperti appendiks terbalik, divertikulum Meckel, polip
usus, duplikasi atau limfosarkoma. Intususepsi juga dapat terjadi pada penderita
kistik fibrosis yang mengalami dehidrasi.

Patofisiologi
Invaginasi sekunder biasanya terjadi karena adanya lesi patologis atau
iritan pada dinding usus yang dapat menghambat gerakan peristaltic normal serta
menjadi lokus minoris untuk terjadinya invaginasi. Invaginasi dideskripsikan
sebagai prolaps internal usus proksimal dalam lekukan mesenterika dalam lumen
usus distal. Hal ini dapat mengakibatkan terjadinya obstruksi pada pasase isi usus
dan menurunkan aliran darah ke bagian usus yang mengalami invaginasi tersebut.
Akhirnya dapat mengakibatkan obstruksi usus dan peradangan mulai dari
penebalan dinding usus hingga iskemia dinding usus.
Mesenterium usus proksimal tertarik ke dalam usus distal, terjepit, dan
menyebabkan obstruksi aliran vena dan edema dinding usus yang akan
menyebabkan keluarnya feses berwarna kemerahan akibat darah bercampur
mucus (red currant stool). Jika reduksi intususepsi tidak dilakukan, terjadi
insufisiensi arteri yang akan menyebabkan iskemik dan nekrosis dinding usus
yang akan menyebabkan pendarahan, perforasi, dan peritonitis. Perjalanan
penyakit yang terus berlanjut dapat semakin memburuk hingga menyebabkan
sepsis.

Klasifikasi
Lokasi pada saluran cerna yang sering terjadi invaginasi merupakan lokasi
segmen yang bebas bergerak dalan retroperitoneal atau segemen yang mengalami
adhesive. Invaginasi diklasifikasikan menjadi 4 kategori berdasarkan lokasi
terjadinya:
1. Entero-enterika : usus halus masuk ke dalam usus halus
2. Colo-kolika: kolon masuk ke dalam kolon
3. Ileo-colica: ileum terminal yang masuk ke dalam kolon asendens
4. Ileosekal: ileum terminal masuk ke dalam sekum di mana lokus
minorisnya adalah katup ileosekal.

3
Invaginasi umumnya berupa intususepsi ileosekal yang masuk naik ke
kolon asendens dan mungkin terus sampai keluar dari rektum.

Diagnosis
Anamnesis memberikan gambaran yang cukup mencurigakan bila bayi
yang sehat mendapat serangan nyeri perut. Anak tampak gelisah dan tidak dapat
ditenangkan sedangkan di antara serangan biasanya anak tidur tenang karena
sudah capai sekali. Serangan klasik terdiri atas nyeri perut, gelisah sewaktu
serangan kolik, biasanya keluar lendir campur darah (red current jelly stool) per
anal, yang berasal dari intususepsi yang tertekan, terbendung atau mungkin sudah
mengalami strangulasi. Anak biasanya muntah sewaktu serangan dan pada
pemeriksaan perut dapat diraba massa yang biasanya memanjang dengan batas
yang jelas seperti sosis. Massa teraba di kuadran kanan atas dengan tidak
ditemukannya sensasi kekosongan di kuadran kanan bawah karena masuknya
sekum pada kolon ascenden (dance’s sign).
Bila invaginasi disebut strangulasi harus diingat kemungkinan terjadinya
peritonitis setelah perforasi. Invaginasi yang masuk jauh dapat ditemukan pada
pemeriksaan colok dubur. Ujung invaginatum teraba seperti portio uterus pada
pemeriksaan vagina sehingga disebut sebagai pseudoportio atau porsio semu.
Invaginatum yang keluar lewat rectum jarang ditemukan; keadaan tersebut
harus dibedakan dengan prolapsus mukosa rectum. Pada invaginasi didapatkan
invaginatum bebas dari dinding anus, sedangkan prolapsus berhubungan secara
sirkuler dengan dinding anus.
Pada inspeksi sukar sekali membedakan prolapsus rectum dari invaginasi.
Diagnosis dapat ditegakkan dengan pemeriksaan jari sekitar penonjolan untuk
menentukan ada tidaknya celah terbuka. Diagnosis invaginasi dapat diduga atas
pemeriksaan fisik, dan dipastikan dengan pemeriksaan rontgen dengan pemberian
enema barium.
Pemeriksaan foto polos abdomen, dijumpai tanda obstruksi dan massa di
kuadran tertentu dari abdomen menunjukkan dugaan kuat suatu invaginasi. USG
membantu menegakkan diagnosis invaginasi dengan gambaran target sign pada
potongan melintang invaginasi dan pseudo kidney sign pada potongan
longitudinal invaginasi. Foto dengan pemberian barium enema dilakukan jika

4
pasien ditemukan dalam kondisi stabil, digunakan sebagai diagnostik ataupun
terapeutik. Sumbatan oleh invaginatum biasanya tampak jelas pada foto.
Invaginasi pada orang muda atau orang dewasa jarang sekali idiopatik.
Umumnya ujung invaginatum pada orang dewasa merupakan polip atau tumor
lain di usus halus. Invaginasi juga disebabkan oleh pencetus seperti divertikulum
Meckel yang terbalik masuk lumen usus, duplikasi usus, kelainan vaskuler, atau
limfoma. Gejalanya berupa gejala dan tanda obstruksi usus, tetapi tergantung dari
letak ujung invaginasi.
Kriteria diagnosis invaginasi akut:
1. Invaginasi definitif (pasti invaginasi)
a. Kriteria bedah: ditemukannya invaginasi pada pembedahan
b. Kriteria radiologi: adanya baik gas maupun cairan kontras pada
enema pada usus halus yang berinvaginasi, adanya massa
intraabdominal yang dideteksi dengan USG
c. Kriteria autopsi: ditemukan invaginasi pada otopsi
2. Mungkin invaginasi (probable)
Memenuhi 2 kriteria mayor atau 1 kriteria mayor dan 3 kriteria minor
3. Possible invaginasi
Memenuhi paling sedikit 4 kriteria minor

Kriteria mayor pada invaginasi yakni:


1. Bukti adanya obstruksi saluran cerna
a. Riwayat muntah kehijauan
b. Distensi abdomen dan tidak adanya bising usus atau bising usus
abnormal
c. Foto polos abdomen menunjukkan adanya level cairan dan dilatasi
usus halus
2. Inspeksi
a. Massa di abdomen
b. Massa di rectal
c. Prolapsus intestinal
d. Foto polos abdomen, USG, CT menunjukkan invaginasi atau
massa dari jaringan lunak
3. Gangguan vaskuler intestinal dan kongesti vena
a. Keluarnya darah per rectal
b. Keluarnya feses yang berwarna red currant jelly
c. Adanya darah ketika pemeriksaan rectum

5
Adapun kriteria minor untuk invaginasi adalah: usia < 1 tahun, laki-laki,
nyeri perut, muntah, letargi, hangat, syok hipovolemik, foto polos
abdomen menunjukkan pola gas usus yang abnormal.

Gambar 2. Invaginasi ileo-ileal

Gambar 3. Invaginasi ileosekal

6
Gambar 4. Invaginasi ileokolika

Tatalaksana
Tatalaksana invaginasi secara umum mencakup beberapa hal penting
sebagai berikut:
1. Resusitasi cairan dan elektrolit
2. Dekompresi maksudnya menghilangkan peregangan usus dan
muntah dengan selang nasogastrik, pemberian antibiotik
3. Reposisi bisa dilakukan dengan konservatif / non operatif dan
operatif.
Pengelolaan reposisi hidrostatik dapat sekaligus dikerjakan sewaktu
diagnosis rontgen tersebut ditegakkan. Metode ini dengan cara memasukkan
barium melalui anus menggunakan kateter dengan tekanan tertentu. Syaratnya
ialah keadaan umum mengizinkan, tidak ada gejala dan tanda rangsangan
peritoneum, anak tidak toksik, dan tidak terdapat okbtruktif tinggi.
Tekanan hidrostatik tidak boleh melewati satu meter air dan tidak boleh
dilakukan pengurutan atau penekanan manual di perut sewaktu dilakukan reposisi
hidrostatik. Pengelolaan berhasil jika barium kelihatan masuk ileum. Reposisi
pneumostatik dengan tekanan udara semakin sering digunakan karena lebih aman
dan hasilnya lebih baik daripada reposisi dengan enema barium.
Jika reposisi konservatif ini tidak berhasil, terpaksa diadakan reposisi
operatif. Pasien dengan keadaan tidak stabil, didapatkan peningkatan suhu, angka
leukosit, mengalami gejala berkepanjangan atau ditemukan sudah lanjut yang
7
ditandai dengan distensi abdomen, feses berdarah, gangguan sisterna usus yang
berat sampai timbul syok atau peritonitis, pasien segera dipersiapkan untuk suatu
operasi. Tindakan selama operasi tergantung dari penemuan keadaan usus,
reposisi manual harus dilakukan dengan halus dan sabar, juga bergantung kepada
keterampilan operator dan pengalaman operator.
Sewaktu operasi akan dicoba reposisi manual dengan mendorong
invaginasi dari oral kearah sudut ileosekal:dorongan dilakukan dengan hati-hati
tanpa tarikan dari bagian proksimal. Reseksi usus dilakukan pada kasus yang tidak
berhasil direduksi dengan cara manual, bila viabilitas usus diragukan atau
ditemukan kelainan patologis sebagai penyebab invaginasi.
Terapi intususepsi pada orang dewasa adalah pembedahan. Pada
intususepsi yang mengenai kolon sangat besar kemungkinan penyebabnya adalah
suatu keganasan. Oleh karena itu, ahli bedah dianjurkan untuk segera melakukan
reseksi, dengan tidak melakukan usaha reduksi. Pada intususepsi dari usus halus
harus dilakukan usaha reduksi dengan hati-hati, tetapi jika ditemukan nekrosis,
perforasi, dan edema, reduksi tidak perlu dilakukan dan reseksi segera dikerjakan.
Pada kasus-kasus yang idiopatik, tidak ada yang perlu dilakukan selain reduksi.

Prognosis
Intususepsi pada bayi yang tidak ditangani akan selalu berakibat fatal.
Angka rekurensi pasca reduksi intususepsi dengan enema barium adalah sekitar
10% dan dengan reduksi bedah sekitar 2-5%; tidak pernah terjadi setelah
dilakukan reseksi bedah. Mortalitas sangat rendah jika penanganan dilakukan
dalam 24 jam pertama dan meningkat dengan cepat setelah waktu tersebut,
terutama setelah hari kedua.

8
9
DAFTAR PUSTAKA

1. Anderson DM, et al. Kamus kedokteran Dorland. 29 th ed. Jakarta: EGC;


2002.
2. Sjamsuhidajat R, Jong WD, editors. Buku ajar ilmu bedah. 2 nd ed. Jakarta:
EGC; 2004.
3. Miguel OR, Yalda L, Alfredo P, Teresa VM. Two year review of intestinal
intussusception in six large public hospitals of Santiago, Chile. Pediatric
Infectious Disease Journal. 2003;22:717-21.
4. Blanco FC. Pediatric intussusceptions. Medscape Reference [serial on the
Internet]. 2010; [cited 2011 Apr 26]; [about 4 p.]. Available from:
http://emedicine.medscape.com/article/930708-overview
5. Mayo Clinic [homepage on the Internet]. Arizona: Intussusception; c1998-
2011 [cited 2011 Apr 26]. Available from:
http://www.mayoclinic.com/health/intussusception/DS00798
6. Fardah AA, Ranuh RG, Sudarmo SM. Intususepsi. Fakultas Kedokteran
UNAIR. 2006 [cited 2011 Mar 13]; Available from:
http://www.pediatrik.com/isi03.php?
page=html&hkategori=pdt&direktori=pdt&filepdf=0&pdf=&html=07110-
dzti231.htm
7. Marinis A, Yiallourou A, Samanides L, Dafnios N, Anastasopoulos G,
Vassiliou S, et al. Intussusception of the bowel in adults: a review. World
Journal Gastroenterology. 2009;15(4):407-11.
8. King L. Intussusception in emergency medicine. 2010 June 15 [cited 2011
March 11]. Available from: URL:
http://emedicine.medscape.com/article/802424-media.
9. Spalding SC, Evans B. Intussusception. Emergency Medicine Journal.
2004;36(11):12-9.
10. Brunicardi FC,Andersen DK, Billiar TR, Dun DL, Hunter JG, Pollock RE.
Schwartz’s principle of surgery. 8th ed. United Stated of America: The
MacGraw-Hill Companies; 2007.
11. Shenlie. Intussusception. Olivarez College Paranaque Journal. 2010;1-10.

10