Anda di halaman 1dari 27

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Semenjak manusia zaman purbakala sampai dengan zaman
sekarang, manusia selalu mengalami perkembangan dalam setiap periode
waktu yang dilewatinya. Peradaban manusia sekarang telah mengalami
banyak kemajuan. Selama perkembangan itu, manusia menjalani
kehidupan dengan bergantung pada pertanian dan agrikultur. Melalui
orientasi kehidupan tersebut, manusia selalu berusaha menjaga dan
melestarikan lingkungannya dengan sebaik-baiknya yang bertujuan untuk
menjaga kelangsungan hidup manusia. Manusia sekarang telah mengalami
zaman revolusi industri yang menggantungkan kehidupan pada bidang
perindustrian. Dengan menggunakan orientasi hidup tersebut, dunia
agrikultur pun mengalami kemunduran secara perlahan-lahan.

Nilai-nilai kehidupan manusia pun mengalami perubahan, terutama


dalam interaksi manusia dengan lingkungannya. Perubahan-perubahan
yang terjadi ini menghasilkan dampak positif maupun negatif. Salah satu
dampak revolusi industri yang telah terjadi dan masih terus berlanjut pada
masa sekarang dalam kehidupan dan peradaban manusia adalah
dampaknya bagi lingkungan yang ada di sekitar manusia itu sendiri.
Ekspansi usaha yang dilakukan oleh para pelaku industri seperti
pembangunan pabrik-pabrik dan pembuatan produksi dengan kapasitas
besar dengan mengesampingkan perhatian terhadap dampaknya bagi
lingkungan secara perlahan namun pasti telah mengakibatkan kelalaian
yang pada akhirnya akan merugikan lingkungan tempat tinggal manusia
dan kehidupannya.

1
Para ahli ilmiah percaya perubahan iklim seperti pemanasan global
telah terjadi sepanjang sejarah bumi dan akan terus terjadi di masa depan.
Beberapa bukti mengenai terjadinya pemanasan global sudah banyak
terlihat saat ini. Indonesia yang terletak di equator, merupakan negara
yang pertama akan merasakan dampak pemanasan global. Contohnya saja
perubahan iklim yang terjadi di Indonesia. Perubahan iklim yang
disebabkan oleh pemanasan global atau global warming telah menjadi isu
besar di dunia. Mencairnya es kutub utara dan kutub selatan yang akan
menyebabkan kepunahan habitat di sana merupakan bukti dari pemanasan
global. Deretan bencanapun kian panjang seperti banjir, tanah longsor,
kekeringan, gagal tanam dan panen hingga konflik-konflik horizontal di
dalam masyarakat

Para ahli lingkungan telah menemukan indikasi adanya dampak


yang terbesar bagi lingkungan dan dunia secara global akibat usaha
perindustrian yang dilakukan dan telah berkembang pesat saat ini. Dampak
negatif ini adalah terjadinya pemanasan di dunia dan sering disebut
sebagai Global Warming. Namun, masalah Global Warming sebagai
masalah lingkungan ini masih diperdebatkan kebenarannya oleh beberapa
pihak yang menganggap Global Warming adalah alasan yang diciptakan
untuk membatasi laju perkembangan perindustrian. Masalah Global
Warming ini tidaklah dapat diungkiri untuk diteliti dan diteliti lebih lanjut
demi kelangsungan kehidupan manusia.

1.2 Rumusan Masalah


1. Bagaimana penyebab terjadinya pemanasan global ?
2. Bagaimana dampak yang ditimbulkan dari pemanasan global ?
3. Bagaimana upaya pencegahan yang ditimbulkan dari pemanasan global ?

1.3 Tujuan Penulisan


1. Mengetahui tentang penyebab terjadinya pemanasan global.

2
2. Mengetahui dampak yang diakibatkan dari pemanasan global.
3. Mengetahui cara atau upaya pencegahan dari pemanasan global.

1.4 Manfaat Penulisan


1. Memberikan wawasan bagi penulis maupun pembaca terhadap penyebab
terjadinya pemanasan global yang dengan sengaja atau tidak terjadi dalam
kehidupan kita sehari-hari.
2. Memberikan wawasan bagi penulis maupun pembaca dampak yang
diakibatkan dari pemanasan global.
3. Mendorong penulis maupun pembaca untuk melakukan upaya pencegahan
terjadinya pemanasan global.

3
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Pemanasan Global


2.1.1 Pengertian Pemanasan Global Menurut Kamus Besar Bahasa
Indonesia
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, pemanasan berarti
proses, cara, perbuatan memanasi atau memanaskan. Sedangkan
global berarti bersangkut paut, mengenai, meliputi seluruh dunia.
Jadi, pemanasan global yaitu proses menaiknya suhu rata-rata bumi.
2.1.2 Pengertian Pemanasan Global Menurut Lembaga Dunia
Terdapat beberapa lembaga dunia yang mengemukakan
definisi dari pemanasan global, diantaranya yaitu Badan
Perlindungan Lingkungan Amerika Serikat, Asosiasi Energi New
Mexico, Dewan Pertahanan Sumber Daya Alam, dan National
Wildlife Federation. Penjelasannya sebagai berikut:
a. Badan Perlindungan Lingkungan Amerika Serikat
Menurut Badan Perlindungan Lingkungan Amerika Serikat,
pemanasan global adalah peningkatan suhu rata-rata di
permukaan bumi, baik yang telah berlalu dan yang terjadi pada
saat ini.
b. Asosiai Energi New Mexico
Menurut Asosiasi Energi New Mexico, pemanasan global
adalah peningkatan suhu atau temperatur rata-rata di permukaan
bumi akibat efek rumah kaca yang efek rumah kaca adalah
perangkap panas dalam acara bumi karena obstruksi gas emisi
seperti karbon dioksida di atmosfer akibat emisi kendaraan
bermotor, polusi udara dari pabrik atau industri -Pabrik dan
kebakaran hutan.

4
c. Dewan Pertahanan Sumber Daya Alam
Menurut Dewan Pertahanan Sumber Daya Alam,
pemanasan global adalah krisis lingkungan terbesar dan
kemanusiaan yang terjadi saat ini. Atmosfer bumi sangat panas
karena terperangkap oleh gas karbon dioksida yang bisa
mengancam perubahan iklim dan dapat menyebabkan bencana di
permukaan bumi.
d. National Wildlife Federation
Menurut National Wildlife Federation, pemanasan global
adalah peristiwa dimana bumi semakin hari panas demi hari,
semakin banyak hujan lebat dan banjir, badai yang lebih intens
dan kekeringan diperdalam. Peristiwa merupakan dampak nyata
yang terjadi sebagai akibat dari pemanasan global di bumi.
Pemanasan global juga mengubah lanskap kehidupan di bumi dan
mematikan banyak spesies.

2.2 Penyebab Pemanasan Global


2.2.1 Penipisan Lapisan Ozon
Ozon merupakan suatu lapisan oksigen yang tiap molekulnya
terdiri atas tiga atom O (rumus kimia: O3). Ozon merupakan gas
beracun sehingga apabila berada dekat permukaan tanah akan
berbahaya karena akan merusak paru-paru jika terhisap. Sebaliknya,
lapisan ozon di atmosfer melindungi kehidupan di Bumi dari bahaya
radiasi ultraviolet. Dalam industri, ozon digunakan untuk membunuh
kuman, meniadakan pencemaran dalam air (besi, arsen, hidrogen
sulfida, nitrit, dan bahan organik kompleks yang dikenal sebagai
warna), mencuci, dan memutihkan kain.
Molekul O2 banyak terdapat di troposfer. Adapun ozon dapat
ditemukan di dua lapisan atmosfer. Kira-kira 10 persen ditemukan di
troposfer. Sisanya (kira-kira 90 persen) menetap di stratosfer.

5
Sebagian besar ozon yang berada dalam lapisan stratosfer inilah
yang disebut lapisan ozon. Dengan demikian, lapisan ozon berada
pada stratosfer pada ketinggian 19 sampai 48 km.
Pengukuran menunjukkan bahwa ozon sangat sedikit terdapat di
atmosfer, yaitu kira-kira satu molekul per satu juta molekul dalam
atmosfer bumi. Walaupun ozon yang terdapat dalam stratosfer
berjumlah sangat kecil, keberadaanya sangat vital untuk
keberlangsungan hidup makhluk hidup di permukaan bumi. Tanpa
ozon di stratosfer akan lebih banyak radiasi UV sampai ke
permukaan bumi. Radiasi UB menyebabkan mutasi pada hampir
semua organisme. Terhadap manusia, radiasi UV berlebih dapat
menyebabkan kanker kulit. Tanpa perisai dari lapisan ozon,
dipercaya kasus kanker kulit dapat meningkat dengan pesat.
Bagaimana ozon di stratosfer dapat menjadi perisai bumi dari
radiasi UV berlebih? Konsentrasi ozon di stratosfer tidaklah statis
karena ada proses terus-menerus pembentukan dan pemusnahan
ozon. Ozon terbentuk atas bantuan dari sinar UV yang memiliki
energi lebih besar daripada cahaya tampak. Pertama, radiasi UV
gelombang pendek (energi tinggi) diserap oleh oksigen diatomik
(O2) yang berlimpah di atmosfer. Energi ini mampu memecah ikatan
kimia pada O2 sehingga menjadi atom O bebas yang bersifat reaktif.
O2 + UV O + O
Reaksi tersebut penting karena :
1. Radiasi UV berenergi tinggi dari sinar matahari telah disaring,
2. Atom O bebas yang reaktif tersebut akan bergabung dengan
oksigen diatomik untuk membentuk ozon, yang akan menyerap
radiasi berlebih.
Proses pembentukan dan penghancuran ozon di stratosfer
berlangsung terus, sehingga tanpa adanya gangguan dari luar, kadar
ozon stratosfer cenderung konstan. Sejak jutaan tahun silam, ozon di

6
stratosfer selalu mempertahankan keseimbangan dinamis melalui
proses pembentukan dan pemusnahan. Dengan kata lain, jumlah
ozon yang terbentuk dan musnah setiap saatnya selalu sama.
Dari sudut pandang pembentukan dan pemusnahan, ozon
berfungsi sebagai katalisator yang mengubah energi radiasi dari sinar
UV melalui penyerapan dalam pembentukan ozon menjadi panas
yang dilepaskan melalui proses pemusnahan ozon. Oleh karena itu,
semakin tinggi kita naik ke stratosfer, semakin tinggi suhunya. Hal
ini disebabnya semakin banyaknya energi radiasi UV yang diubah
menjadi panas oleh ozon.
Pada tahun 1950, ilmuwan memperkenalkan suatu senyawa baru
bernama Chlorofluorocarbon (CFC) dengan rumus kimia CF2Cl2
(dikenal dengan nama dagang Freon). Senyawa ini memiliki sifat
fisis maupun kimia yang menguntungkan dari aspek teknologi
karena sangat stabil, tidak berbau, tidak mudah terbakar, tidak
beracun terhadap manusia, serta tidak korosif terhadap logam-logam
di sekitarnya. Dengan sifat-sifat yang menguntungkan dan harga
CFC yang tidak mahal, CFC sering digunakan terutama untuk
mengganti senyawa-senyawa kimia seperti amonia dan sulfur
dioksida yang mudah terbakar, beracun, dan berbau menyengat
sebagai bahan pendingin dalam mesin pendingin ruangan (AC)
maupun lemari pendingin es. Penggunaan lain yang banyak dijumpai
dalam keseharian adalah pada pendorong aerosol.
Tidak seperti senyawa-senyawa kimia lain yang umumnya dapat
terurai di atmosfer dalam waktu beberapa jam, hari, minggu, atau
bulan, gas CFC yang sangat stabil dan secara kimia tidak reaktif,
tidak bisa diuraikan pada ketinggian rendah dari permukaan bumi.
Diperlukan waktu 5 sampai dengan 10 tahun untuk CFC yang
terlepas ke atmosfer untuk mencapai lapisan ozon. Setelah sampai,
CFC dapat bertahan di lapisan ozon selama 70 sampai 400 tahun.

7
Pada pertengahan 1970, sebelum lubang ozon ditemukan,
sekelompok peneliti menyadari bahwa CFC yang stabil ini dapat
menyebabkan kerusakan ozon dalam atmosfer. Seperti telah Anda
ketahui bahwa CFC dapat berada di stratosfer selama 100 tahun
tanpa mengalami kerusakan. Di lapisan ozon, oleh pengaruh radiasi
UV matahari berenergi tinggi, molekul-molekul CFC yang terurai
membebaskan atom-atom klorin (Cl). Atom-atom klorin yang
dibebaskan bereaksi dengan ozon, dan mengubah ozon menjadi
oksigen biasa (O2) dan klorin terbentuk kembali. Jadi, dalam reaksi
ini klorin bertindak sebagai katalis. Adapun reaksinya sebagai
berikut,
Kata-kata: (ozon + klorin + UV) menjadi (oksigen biasa + klorin).
Reaksi Kimia: 2O3 + Cl + UV 3O2 + Cl
Klorin yang terbentuk kembali selanjutnya dapat melakukan
reaksi berantai untuk memusnahkan ozon. Hal itu menyebabkan satu
atom klorin yang dibebaskan dari CFC dan tinggal di lapisan ozon
dapat memusnahkan 100.000 molekul ozon. Walaupun oksigen
diatomik (O2) yang terlepas dari ozon nantinya dapat bergabung lagi
membentuk ozon, proses ini memerlukan waktu cukup lama, lebih
lambat dibandingkan dengan pemusnahan ozon menjadi oksigen
diatomik oleh klorin yang dibebaskan dari CFC. Akibatnya,
penipisan lapisan ozon tetap berlangsung. Oleh karena itu, kerusakan
lapisan ozon yang teramati saat ini kemingkinan besar disebabkan
oleh CFC yang sebenarnya sudah terlepas ke atmosfer sejak 20-30
tahun sebelumnya.
Dugaan peneliti tersebut akhirnya terbukti ketika pada awal
tahun 1980-an, para peneliti yang bekerja di Antartika (kutub
selatan) mendekati hilangnya ozon secara periodik di atas benua
tersebut. Keadaan ini dinamakan lubang ozon (ozon hole), yaitu
suatu area ozon tipis pada lapisan ozon, yang terbentuk saat musim

8
semi di Antartika dan berlanjut selama beberapa bulan sebelum
menebal kembali. Studi-studi yang dilakukan dengan balon pada
ketinggian tinggi dan satelit-satelit cuaca menunjukkan bahwa
persentase ozon secara keseluruhan di Antartika terus menurun.
Dugaan penipisan lapisan ozon oleh CFC semakin diperkuat
ketika pada tahun 1986, ilmuwan menemukan daerah-daerah dalam
stratosfer dengan jumlah ozon yang sangat rendah. Sebuah libang
ozon besar ditemukan di atas Antartika. Lubang ozon yang lebih
kecil ditemukan di Kutub Utara.
2.2.2 Rumah Kaca
Berdasarkan urutan panjang gelombang, mulai dari yang
terpanjang ke yang terpendek, radiasi sinar matahari dibagi tiga,
yaitu infra merah (IM), cahaya tampak, dan ultraviolet (UV). Ketika
sinar matahari mengenai kaca sebuah rumah kaca (green house)
radiasi dengan gelombang pendek diserap oleh tanah dan tanaman di
dalam rumah kaca, dan tanaman menjadi hangat. Tanah dan tanaman
yang hangat dapat digolongkan sebagai sumber kalor yang lebih
dingin dibandingkan dengan matahari yang suhunya sangat tinggi.
Tanah dan tanaman sebagai sumber kalor yang lebih dingin pada
gilirannya akan memancarkan kembali kalor yang diserapnya dalam
bentuk radiasi IM dengan panjang gelombang yang lebih panjang.
Energi dari kalor radiasi IM yang dipancarkan kembali oleh tanah
dan tanaman ini tidak mampu menembus kaca. Energi ini diserap
oleh molekul-molekul udara dalam kaca sehingga suhu udara dalam
rumah kaca meningkat. Ini membuat suhu dalam rumah kaca dapat
tetap hangat dibandingkan suhu luarnya. Keadaan ini membuat
tanaman
dalam rumah kaca dapat tumbuh subur.
Sinar matahari sampai ke permukaan bumi setelah melalui
atmosfer bumi. Atmosfer berfungsi menyaring, menyerap, dan

9
memantulkan radiasi sinar matahari yang datang padaya. Bumi
memantulkan rata-rata 30% dari radiasi matahari, 20% dipantulkan
oleh awan, 6% dihamburkan oleh partikel-partikel udara, dan 4%
dipantulkan oleh permukaan bumi. Tentu saja persentase yang
dipantulkan bumi bergantung pada jangkauan penutupan awan,
jumlah debu di atmosfer, dan luas salju serta tumbuh-tumbuhan pada
permukaan. Perubahan besar dari variabel-variabel itu dapat
meningkatkan atau mengurangi pemantulan radiasi matahari, yang
akhirnya mengarah ke peningkatan pemanasan atau pendinginan
atmosfer.
Setelah melalui penyaringan, penyerapan, dan pemantulan,
hanya setengah dari radiasi matahari yang diserap oleh permukaan
bumi. Bebatuan, tanah, dan air menyerap energi radiasi matahari
yang sampai kepadanya, sehingga daratan menjadi hangat. Pada
giliran material sebagai sumber dingin ini akan memancarkan
kembali energi yang diserapnya menuju ke atmosfer dalam bentuk
radiasi IM yang memiliki panjang gelombang lebih panjang.
Frekuensi radiasi IM yang dipancarkan oleh material-material di
permukaan bumi ke atmosfer sesuai dengan beberapa frekuensi
alami getaran-getaran molekul-molekul gas rumah kaca (teruatama
karbon dioksidan dan uap air).
Kesesuaian frekuensi tersebut menyebabkan radiasi IM yang
dipancarkan oleh permukaan bumi dengan mudah diserap oleh
molekul-molekul gas rumah kaca seperti karbon dioksida dan uap
air. Energi IM yang diserap menyebabkan peningkatan energi kinetik
molekul-molekul gas rumah kaca, yang kemudian ditunjukkan
dengan peningkatan suhu. Sekarang molekul-molekul gas rumah
kaca dalam atmosfer dapat memancarkan radiasi IM mereka sendiri
ke segala arah. Sejumlah radiasi yang dipancarkan, diserap oleh
molekul-molekul lain dalam atmosfer, sebagian kecil dipancarkan ke

10
angkasa, dan sejumlah radiasi lainnya dipancarkan kembali ke
permukaan bumi. Secara total dapat dikatakan bahwa sejumlah kecil
radiasi IM menghilang ke luar angkasa, sedangkan sebagian besar
diarahkan kembali ke permukaan bumi untuk meningkatkan suhu
permukaan bumi.
Proses pemanasan atmosfer bagian bawah oleh penyerapan
radiasi gelombang pendek matahari dan pemancaran kembali
berbentuk radiasi gelombang panjang infra merah, inilah yang
disebut efek rumah kaca (greenhouse effect). Disebut efek rumah
kaca karena pemancaran kembali radiasi IM yang dihasilkan
permukaan bumi oleh atmosfer menuju ke permukaan bumi kembali
untuk menghangatkan bumi mirip dengan terkurungnya radiasi IM
yang dipancarkan kembali oleh tanah dan tanaman dalam rumah
kaca.
Efek rumah kaca alamiah sudah diatur oleh Yang Maha Kuasa
sehingga seluruh makhluk hidup bisa bertahan hidup di Bumi yang
diciptakan-Nya. Jika tidak ada efek rumah kaca alamiah ciptaan
Tuhan ini, suhu rata-rata bumi (siang-malam, musim dingin-musim
panas) kira-kira akan mencapai -20°C. Jika ini yang terjadi maka
kehidupan makhluk hidup seperti saat ini tidak mungkin
berlangsung. Dengan kata lain Bumi tidak layak untuk mendukung
kehidupan. Sebagai perbandingan, planet Mars dengan lapisan
atmosfer tipis dan tidak memiliki efek rumah kaca, bersuhu rata-rata
-32°C. Itulah sebabnya kita tidak menjumpai kehidupan di planet
Mars.
Walaupun fungsi gas rumah kaca sama dengan fungsi rumah
kaca, yaitu menjaga suhu di permukaan tetap hangat sekalipun tidak
ada sinar matahari, tetapi analogi menyamakan efek rumah kaca
yang terjadi di bumi dengan yang terjadi dalam rumah kaca dapat
menyesatkan. Pada rumah kaca, kaca mengijinkan radiasi matahari

11
dengan panjang gelombang pendek untuk lewat ke dalam rumah
kaca. Energi ini diserap oleh tanah dan tumbuh-tumbuhan dan
kemudian dipancarkan kembali sebagai radiasi IM dengan panjang
gelombang yang lebih panjang. Akan tetapi, radiasi IM ini tidak
diijinkan keluar oleh lapisan kaca pada rumah kaca. Dengan kata lain
kaca dari rumah kaca “mengurung” radiasi IM yang dipancarkan
kembali oleh tanah dan tumbuh-tumbuhan. Sebaliknya, molekul-
molekul karbon dioksida dan uap air tidak “mengurung” radiasi IM
melainkan terlibat dalam proses penyerapan dinamis dan
pemancaran kembali radiasi IM kembali ke arah bawah sehingga
meningkatkan suhu permukaan bumi. Semakin banyak molekul-
molekul karbon dioksida dan uap air yang terlibat dalam proses
dinamis ini, semakin banyak radiasi IM yang diarahkan kembali ke
permukaan bumi. Sebagai akibatnya suhu permukaan bumi akan
meningkat lebih besar. Sebaliknya, lapisan-lapisan kaca pada rumah
kaca tidak meningkatkan suhu dalam rumah kaca secara berarti.
Faktor pemanasan dalam rumah kaca sebenarnya adalah lapisan kaca
menahan konveksi kalor radiasi tetap dalam rumah kaca. Proses ini
tidak terjadi dengan kehadiran karbon dioksida dan uap air di
atmosfer.
2.2.3 Efek Umpan Balik
Efek umpan adalah salah satu dari efek rumah kaca yang
berpengaruh dari awan dan merupakan dampak dari pemanasan
global, dimana lapisan ozon rusak maka sinar matahari tak ada yg
menghalanginya, sehingga bumi makin panas.
Unsur-unsur penyebab pemanasan global juga dipengaruhi oleh
berbagai proses umpan balik yang dihasilkannya. Contohnya adalah
penguapan air. Dalam kasus pemanasan akibat gas rumah kaca seperti CO 2,
pemanasan pada awalnya akan menyebabkan lebih banyaknya air yang
menguap ke atmosfer.

12
Karena uap air tersebut adalah gas rumah kaca, pemanasan akan
berkelanjutan dan akan terus menambah kuota uap air di udara
hingga tercapainya kesetimbangan konsentrasi uap air. Efek rumah kaca
yang dihasilkan lebih besar dari efek CO2 saja.
Walaupun umpan balik ini meningkatkan kandungan air absolut di
udara, kelembaban relatif udara hampir konstan atau bahkan agak menurun
karena udara menjadi lebih hangat.Umpan balik ini hanya mempengaruhi
lambat karena CO2 memiliki waktu yang lama di atmosfer.
2.2.4 Variasi Matahari
Variasi Matahari adalah perubahan jumlah energi radiasi yang
dipancarkan oleh Matahari. Terdapat beberapa komponen periodik
yang memengaruhi variasi ini, yang terutama adalah siklus matahari
11-tahunan (atau siklus bintik hitam matahari), selain fluktuasi-
fluktuasi lainnya yang tidak periodik. Aktivitas matahari diukur
dengan menggunakan satelit selama beberapa dekade terakhir setelah
pada waktu sebelumnya pengukuran dilakukan melalui variabel-
variabel 'proksi'. Para ilmuan iklim tertarik untuk mengetahui apakah
variasi matahari berpengaruh terhadap Bumi.
Terdapat hipotesa yang menyatakan bahwa variasi dari
Matahari, dengan kemungkinan diperkuat oleh umpan balik dari
awan, dapat memberi kontribusi dalam pemanasan saat ini.
Perbedaan antara mekanisme ini dengan pemanasan akibat efek
rumah kaca adalah meningkatnya aktivitas Matahari akan
memanaskan stratosfer sebaliknya efek rumah kaca akan
mendinginkan stratosfer. Pendinginan stratosfer bagian bawah paling
tidak telah diamati sejak tahun 1960, yang tidak akan terjadi bila
aktivitas Matahari menjadi kontributor utama pemanasan saat ini.
(Penipisan lapisan ozon juga dapat memberikan efek pendinginan
tersebut tetapi penipisan tersebut terjadi mulai akhir tahun 1970-an.)
Fenomena variasi Matahari dikombinasikan dengan aktivitas gunung

13
berapi mungkin telah memberikan efek pemanasan dari masa pra-
industri hingga tahun 1950, serta efek pendinginan sejak tahun 1950.
Ada beberapa hasil penelitian yang menyatakan bahwa
kontribusi Matahari mungkin telah diabaikan dalam pemanasan
global. Dua ilmuan dari Duke University memperkirakan bahwa
Matahari mungkin telah berkontribusi terhadap 45-50% peningkatan
suhu rata-rata global selama periode 1900-2000, dan sekitar 25-35%
antara tahun 1980 dan 2000. Stott dan rekannya mengemukakan
bahwa model iklim yang dijadikan pedoman saat ini membuat
perkiraan berlebihan terhadap efek gas-gas rumah kaca dibandingkan
dengan pengaruh Matahari, mereka juga mengemukakan bahwa efek
pendinginan dari debu vulkanik dan aerosol sulfat juga telah
dipandang remeh. Walaupun demikian, mereka menyimpulkan
bahwa, bahkan dengan meningkatkan sensitivitas iklim terhadap
pengaruh Matahari sekalipun, sebagian besar pemanasan yang terjadi
pada dekade-dekade terakhir ini disebabkan oleh gas-gas rumah
kaca.
Pada tahun 2006, sebuah tim ilmuan dari Amerika Serikat,
Jerman dan Swiss menyatakan bahwa mereka tidak menemukan
adanya peningkatan tingkat "keterangan" dari Matahari pada seribu
tahun terakhir ini. Siklus Matahari hanya memberi peningkatan kecil
sekitar 0,07% dalam tingkat "keterangannya" selama 30 tahun
terakhir. Efek ini terlalu kecil untuk berkontribusi terhadap
pemansan global. Sebuah penelitian oleh Lockwood dan Fröhlich
menemukan bahwa tidak ada hubungan antara pemanasan global
dengan variasi Matahari sejak tahun 1985, baik melalui variasi dari
output Matahari maupun variasi dalam sinar kosmis.
Variasi dalam total solar irradiance (TSI) sebelumnya tidak
dapat diukur atau dideteksi hingga era penggunaan satelit, walaupun
sebagian kecil panjang gelombang ultraviolet bervariasi beberapa

14
persen. Output total matahari yang telah diukur (selama 3 kali
periode siklus bintik hitam 11-tahunan) menunjukkan variasi sekitar
0,1% atau sekitar 1,3 W/m2 dari maksimum ke minimum selama
siklus bintik hitam 11-tahunan. Jumlah radiasi matahari yang
diterima permukaan luar atmosfer Bumi sedikit bervariasi dari nilai
rata-rata 1366 watt per meter persegi (W/m2).
Fenomena variasi Matahari dikombinasikan dengan aktivitas
gunung berapi mungkin telah memberikan beberapa efek perubahan
iklim, sebagai contoh selama Maunder Minimum. Sebuah studi
tahun 2006 dan review dari beberapa literatur, yang dipublikasikan
dalam Nature, menyatakan bahwa tidak terdapat peningkatan tingkat
"keterangan" dari Matahari sejak 1970, dan bahwa perubahan output
matahari selama 400 tahun terakhir kecil kemungkinannya berperan
dalam pemanasan global. Perlu ditekankan, laporan tersebut juga
menyatakan, "Selain tingkat "keterangan" matahari, hal-hal lain yang
dapat memengaruhi iklim seperti radiasi sinar kosmik atau sinar
ultraviolet matahari tidak dapat dikesampingkan, kata penulis
tersebut. Akan tetapi, pengaruh-pengaruh lain ini belum dapat
dibuktikan, tambah mereka, karena model-model fisik untuk efek-
efek ini masih belum sempurna dikembangkan."
2.2.4 Konsumsi Energi Bahan Bakar Fosil
Bahan bakar fosil mengandung karbon, sehingga pembakaan
karbon pastilah menghasilkan gas rumah kaca karbon dioksida.
Amerikan mengemisikan 20 ton karbon dioksida per orang per tahun
dengan jumlah penduduk 1,1 milyar. Cina mengemisikan 3 ton
karbon dioksida per orang per tahun dengan jumlah penduduk 1,3
milyar. India mengemisikan 1,2 ton karbondioksida per orang per
tahun dengan 1 milyar penduduk. Tampak bahwa banyaknya gas
rumah kaca yang dibuang ke atmosfer berkaitan dengan gaya hidup
dan jumlah penduduk. Amerika Serikat merupakan negara dengan

15
penduduk yang gaya hidupnya sangat boros, dengan mengonsumsi
energi yang berasal dari bahan bakar fosil. Sebaliknya, negara
berkembang mengemisikan sejumlah gas rumah kaca karena
akumulasi jumlah penduduk.
2.2.5 Sampah Organik
Sampah organik menghasilkan gas rumah kaca metana (CH4).
Diperkirakan 1 ton sampah padat menghasilkan 50 kg gas metana.
Menurut kementrian lingkungan hidup pada tahun 1995 rata-rata
orang Indonesia di perkotaan menghasilkan sampah sebanyak 0,8 kg
per hari, dan setiap tahun kecenderungannya terus meningkat.
Dengan jumlah penduduk yang terus meningkat maka pada tahun
2020 diperkirakan dihasilkan sampah 500 juta kg per hari atau 190
ribu ton per tahun. Dengan jumlah ini maka sampah akan
mengemisikan metana sebesar 9.500 ton per tahun. Dengan
demikian sampah pada perkotaan berpotensi besar mempercepat
proses terjadinya pemanasan global.
2.2.6 Kerusakan Hutan
Salah satu fungsi tumbuhan yaitu menyerap karbon dioksida
(CO2) dan mengubahnya menjadi oksigen (O2). Gas karbon dioksida
merupakan gas rumah kaca sehingga kerusakan atau penggundulan
hutan secara besar-besaran berarti hilangnya faktor penyerap gas
rumah kaca karbon dioksida di atmosfer. Laju kerusakan hutan di
Indonesia, menurut data Forest Watch Indonesia (2001) sekitar 22
juta per tahun. Ini disebabkan oleh kebakaran hutan, perubahan tata
guna lahan, seperti perubahan hutan menjadi perkebunan kelapa
sawit secara besar-besaran. Dengan kerusakan hutan tentu saja
penyerapan karbon dioksida tidak optimal, sehingga akan
mempercepat terjadinya pemasan global.
2.2.7 Pertanian dan Peternakan

16
Sektor pertanian memberikan kontribusi terhadap peningkatan
emisi gas rumah kaca melalui sawah-sawah yang tergenang yang
menghasilkan gas metana, penggunaan pupuk, pembakaran sisa-sisa
tanaman dan pembusukan sisa-sisa pertanian. Bahkan dalam laporan
PBB (FAO) yang berjudul Livestock’s Long Shadow: Environmental
Issues and Options (dirilis bulan November 2006), PBB mencatat
bahwa industri peternakan merupakan penghasil emisi gas rumah
kaca yang terbesar (18%). Junlah itu lebih banyak dari gabungan
emisi gas rumah kaca seluruh transportasi di seluruh dunia (13%).
Emisi gas rumah kaca industri peternakan meliputi 9% karbon
dioksida, 37% gas metana (efek pemanasannya 72 kali lebih kuat
daripada karbon dioksida), nitrogen oksida (efek pemanasan 296 kali
lebih kuat daripada karbon dioksida), serta amonia penyebab hujan
asam. Peternakan menempati 30% dari seluruh permukaan tanah
kering di Bumi dan 33% dari are tanah subur yang dijadikan ladang
untuk menanam pakan ternak. Peternakan sudah menyebabkan 80%
penggundulan hutan Amazon. Menurut laporan yang baru saja dirilis
World Watch Institute menyatakan bahwa peternakan bertanggung
jawab terhadap sedikitnya 51 persen dari pemanasan global.

2.3 Dampak Pemanasan Global


Dalam laporan tahun 2013, IPCC telah menegaskan bahwa akibat
aktivitas manusia yang menghasilkan emisi gas-gas rumah kaca, teruatam
karbon dioksida, telah meningkatkan konsentrasi gas-gas rumah kaca di
atmosfer sehingga menimbulkan pemanasan global. Para ilmuwan
menggunakan model komputer dari suhu, pola presipitasi, dan sirkulasi
atmosfer untuk mempelajari pemanasan global. Berdasarkan model tersebut,
para ilmuwan telah membuat beberapa prakiraan mengenai dampak
pemanasan global terhadap iklim, tinggi permukaan air laut, pantai, pertanian,
kehidupan hewan liar, dan kesehatan manusia.

17
2.3.1 Iklim Mulai tidak Stabil
Para ilmuwan memperkirakan bahwa selama pemanasan
global, daerah bagian utara dari Belahan Bumi Utara akan
memanas lebih tinggi dibandingkan dengan daerah-daerah lain di
Bumi. Akibatnya, gunung-gunung es akan mencair dan daratan
akan berkurang. Akan lebih sedikit es mengapung di perairan
utara tersebut. Daerah-daerah yang sebelumnya mengalami salju
ringan mungkin tidak mengalaminya lagi. Pegunungan di daerah
subtropis bagian utara yang ditutupi salju akan semakin sedikit
serta akan lebih cepat mencair. Musim tanam akan lebih panjang
di beberapa daerah. Suhu pada musim dingin dan malam hari
akan cenderung meningkat. Daerah hangat akan menjadi lebih
lembap karena lebih banyak air yang menguap dari lautan.
Kelembapan yang tinggi akan meningkatkan curah hujan, secara
rata-rata sekitar 1 persen untuk setiap derajat Fahrenheit
pemanasan. Selain itu, air akan lebih cepat menguap dari tanah.
Akibatnya, beberapa daerah akan menjadi lebih kering dari
sebelumnya. Angin akan bertiup lebih kencang dan mungkin
dengan pola yang berbeda. Topan badai yang memperoleh
kekuatannya dari penguapan air akan menjadi lebih besar. Dengan
demikian, pola cuaca menjadi sukar diprediksi dan lebih ekstrem.
2.3.2 Peningkatan Permukaan Laut
Ketika atmosfer menghangat, air pada permukaan lautan juga
menghangat. Hal ini berarti volume air di lautan membesar karena
pemuaian sehingga menaikkan tinggi permukaan laut. Pemanasan
global juga akan mencairkan lempengan es di kutub, terutama di
sekitar Greenland, sehingga semakin memperbesar volume air
laut. Tinggi muka laut di seluruh dubia telah meningkat 10-25 cm
selama abad ke-20, dan para ilmuwan IPCC memprediksi akan
terjadi peningkatan lebih lanjut 9-88 cm pada abad ke-21.

18
Perubahan tinggi muka laut akan sangat mempengaruhi
kehidupan di daerah pantai. Kenaikan 100 cm saja misalnya akan
menenggelamkan 6% daerah Belanda, 17,5% daerah Bangladesh,
dan mungkin banyak pulau akan tenggelam. Erosi dari tebing,
pantai, dan bukit pasir akan meningkat. Ketika tinggi lautan
mencapai muara sungai maka akan terjadi banjir akibat air pasang
di daratan. Negara-negara kaya mungkin akan menghabiskan
banyak dana untuk melindungi daerah pantainya, sedangkan
negara miskin mungkin hanya bisa mengevakuasi penduduknya
untuk meninggalkan daerah pantai. Untuk negara kita mungkin
kenaikan permukaan laut akan menurunkan produksi tambak ikan
dan udang, serta terjadinya pemutihan terumbu karang.
2.3.3 Pertanian
Orang mungkin beranggapan bahwa Bumi yang hangat akan
menghasilkan lebih banyak makanan dari sebelumnya, tetapi hal
ini tidak sama di beberapa tempat. Sebagai contoh, bagian selatan
Kanada mungkin diuntungkan dari lebih tingginya curah hujan
dan lebih lamanya masa tanam. Di lain pihak, lahan pertanian
tropis semi kering di beberapa bagian Afrika mungkin tidak dapat
ditanami. Daerah pertanian gurun yang menggunakan air irigasi
dari gunung-gunung yang jauh dapat menderita jika kumpulan
salju musim dingin yang berfungsi sebagai cadangan (reservoir)
alami mencair sebelum puncak bulan-bulan masa tanam. Tanaman
pangan dan hutan dapat mengalami serangan serangga dan
penyakit yang lebih hebat. Kenaikan suhu global sebesar 4°C
menyebabkan penurunan produksi jagung sebesar 5% akibat
kekeringan dan meningkatnya potensi intrusi air asin pada
pertanian pesisir yang rentan akibat naiknya permukaan laut.
2.3.4 Kehidupan Hewan Liar dan Tumbuhan

19
Hewan dan tumbuhan merupakan makhluk hidup yang sulit
menghindar dari efek pemanasan global karena sebagian besar
lahan telah dikuasai oleh manusia. Akibat pemanasan global,
hewan cenderung untuk berimigrasi ke arah kutub atau ke atas
pegunungan untuk mencari wilayah yang lebih dingin. Tumbuhan
akan mengubah arah pertumbuhannya, mencari daerah baru
karena habitat lamanya menjadi terlalu hangat. Akan tetapi,
pembangunan yang dilakukan manusia akan menghalangi
perpindahan ini. Spesies-spesies yang berimigrasi ke utara atau
selatan yang terhalangi oleh kota-kota atau lahan-lahan pertanian
mungkin akan mati. Beberapa tipe spesies yang tidak mampu
secara cepat berpindah menuju kutub mungkin juga akan musnah.

2.3.5 Kesehatan Manusia


Kenaikan suhu global telah memicu banyaknya penyakit
yang berkaitan dengan panas dan kematian, seperti stress, stroke,
dan gangguan kardiovaskular. Tidak hanya itu, penyakit dengan
vektor seperti demam berdarah dan malaria juga mengalami
perluasan wilayah lokasi serangan dan durasi penularan yang
lebih lama. Penyebabnya adalah dengan meningkatnya suhu
daerah subtropis, memungkinkan perkembangan patogen di
daerah tersebut.

2.4 Upaya Pencegahan atau Mengurangi Pemanasan Global


Pada dasarnya, yang harus kita lakukan adalah mengurangi
semaksimal mungkin segala aktifitas yang menghasilkan emisi gas rumah
kaca. Ada empat hal utama yang dapat kita lakukan untuk menyelamatkan
planet bumi:

20
2.4.1 Batasilah Pemakaian Energi yang Menghasilkan Karbon Dioksida dan
Gas-Gas Lain.
Bila memungkinkan, carilah sumber-sumber energi alternatif
yang tidak menghasilkan emisi CO2 seperti tenaga matahari, air,
angin, nuklir, dan lain-lain. Bila terpaksa harus menggunakan bahan
bakar fosil (yang mana akan menghasilkan emisi CO 2), gunakanlah
dengan bijak dan efisien. Hal ini termasuk menghemat listrik dan
energi, apalagi Indonesia termasuk negara yang banyak
menggunakan bahan bakar fosil (minyak, batubara) untuk
pembangkit listriknya. Matikanlah peralatan listrik ketika tidak
digunakan, gunakan lampu hemat energi, dan gunakanlah panel
surya sebagai energi alternatif. Kurangi penggunaan atau pemakaian
kulkas dan AC yang akan menghasilkan gas CFC.
2.4.2 Tanamlah Lebih Banyak Pohon
Tanaman hijau menyerap CO2 dari atmosfer dan menyimpannya
dalam jaringannya. Tetapi setelah mati mereka akan melepaskan
kembali CO2 keudara. Lingkungan dengan banyak tanaman akan
mengikat CO2 dengan baik, dan harus dipertahankan oleh generasi
mendatang. Jika tidak, maka karbon yang sudah tersimpan dalam
tanaman akan kembali terlepas ke atmosfer sebagai CO2.
2.4.3 Daur Ulang (Recycle) dan Gunakan Ulang (Reuse)
Kalkulasi yang dilakukan di California menunjukkan bahwa
apabila proses daur ulang dapat diterapkan hingga di level negara
bagian California, maka energi yang dihemat cukup untuk
memberikan suplai energi bagi 1,4 juta rumah, mengurangi 7.047 ton
polusi air, menyelamatkan 14 juta pohon, dan mengurangi emisi gas
rumah kaca hingga setara dengan 3,8 juta mobil.
2.4.4 Batasi Penggunaan Kertas
Tanamkan di pikiran anda kuat-kuat, bahwa setiap anda
menggunakan selembar kertas maka anda telah menebang sebatang

21
pohon. Oleh karena itu gunakan kertas se-efektif mungkin misalnya
dengan mencetak print out bolak-balik pada setiap kertas. Bila Anda
menge-print sesuatu yang tidak terlalu penting, gunakanlah kertas
bekas yang dibaliknya masih kosong.
2.4.5 Ganti Bohlam Lampu
Segera ganti bola lampu pijar anda dengan lampu neon. Lampu
neon ini membutuhkan energi yang lebih sedikit dibanding lampu
pijar. Ingat setiap daya listrik yang Anda pakai maka Anda turut serta
menghabiskan sumber daya energi listrik yang kebanyakan berbahan
bakar fosil. Bahan bakar fosil adalah bahan bakar tak terbarukan, dan
dalam jangka sepuluh tahun ke depan mungkin bahan bakar jenis ini
akan habis.
2.4.6 Gunakan Pupuk Organik
Pupuk yang digunakan kebanyakan petani mengandung unsur
nitrogen, yang kemudian berubah menjadi N2O yang menimbulkan
efek GRK (Gas Rumah Kaca) 320 kali lebih besar dari pada karbon
dioksida (CO2). Jika Anda memiliki hobi berkebun, sebaiknya
gunakanlah pupuk organik. Disamping aman, juga memiliki harga
yang murah.
2.4.7 Naik Kendaraan Umum
Saat ini jumlah kendaraan pribadi sudah teramat banyak dan
bikin sumpek. Sector transportasi menyumbang sampai 13% emisi gas
rumah kaca ke atmosfer, jika kita menggunakan kendaran umum maka
kita mengurangi emisi gas rumah kaca.
2.4.8 Tidak Menggunakan Kantong Plastik
Di beberapa negara bagian Amerika, urusan kantong plastik
bahkan sampai dibuat undang-undangnya. LSM peduli lingkungan
mendorong pemerintah Negara setempat unutk melarang penggunaan
kantong plastik sebagai kantong belanjaan. Plastik ini memang unsur
yang sulit terurai, butuh 1000 tahun untuk mengurainya di dalam

22
tanah. Efek gas rumah kaca yang ditimbulkannya juga cukup besar.
Maka beralihlah ke kantong kain, misal dari kain serat alami.
2.4.9 Hidup Efisien
Apapun aktivitas manusia di bumi akan berdampak pada bumi
yang kita diami ini. Pola komsumsi energi, pola lingkungan dan
sebagainya. Hiduplah seefisien mungkin, gunakan sedikit energi,
komsumsilah sedikit makanan, tinggalkan pola hidup konsumtif,
ramahlah terhadap lingkungan, sedikit bicara lebih banyak berpikir,
dan sebagainya.
2.4.10 Mengemudi dengan Cerdas
Hindari perjalanan yang panjang dan menghabiskan waktu, bila
mungkin memotong jalan lakukanlah. Kurangilah aktivitas yang
menggunakan kendaraan pribadi. Jika terpaksa menggunakan
kendaraan pribadi, pilihlah jalan-jalan alternatif yang bebas macet dan
tidak mengkonsumsi energi. Bila Anda menunggu, matikan mesin
sebab gas buangan tetap keluar sementara bahan bahan bakar terpakai.

2.5 Perjanjian Internasional Berkaitan Ancaman Penipisan Lapisan Ozon


Pada tahun 1986 lubang besar ozon ditemukan di Antartika dan lubang
ozon kecil ditemukan di atas Kutub Utara. Secara mayoritas para ilmuwan
juga sudah sepakat bahwa pemicu utama penipisan lapisan ozon adalah
penggunaan gas CFC secara besar-besaran untuk industri. Kekhawatiran
tentang dampak penipisan lapisan ozon yang akhirnya akan membahayakan
kelangsungan hidup manusia, maka pada tahun 1986 dalam pertemuan
internasional di Montreal dihasilkan suatu perjanjian di mana seluruh Negara
industri dunia setuju untuk membatasi produk CFC sambil mencari bahan
pengganti yang tidak berbahaya, dan pada akhirnya CFC dilarang untuk
diproduksi.
Kebijakan penghapusan produksi gas CFC membuat perusahaan-
perusahaan kimia segera melakukan penelitian untuk mencari bahan

23
pengganti CFC yang tidak merusak lapisan ozon. Pada tahun 1992,
penggunaan CFC berhasil dikurangi secara cepat sehingga kemudian
dijadwalkan untuk menghilangkan produksi CFC pada tahun 1996. Jika
penggunaan CFC berhasil dikurangi secara besar-besaran pada tahun 1996,
maka hitungan menunjukkan bahwa lapisan ozon baru kembali akan normal
paling cepat pada abad dua puluh satu. Pemerintah kita melalui Kementrian
Lingkungan Hidup telah menerbitkan berbagai peraturan terkait larangan
memproduksi dan memperdagangkan bahan perusak lapisan ozon seperti
Freon. Pelarangan ini mulai berjalan pada akhir tahun 2013.

2.6 Perjanjian Internasional Berkaitan Pemanasan Global


Perjanjian internasional yang membahas masalah pemanasan global
dimuat dalam Protokol Kyoto. Protokol Kyoto adalah amandemen terhadap
konversi rangga kerja PBB tentang perubahan iklim (UNFCC), sebuah
persetujuan internasional mengenai masalah pemanasan global. Negara-
negara yang meratafikasi protokol ini berkomitmen untuk mengurangi emisi
karbon dioksida dan lima gas rumah kaca lainnya, atau bekerja sama dalam
perdagangan emisi jika mereka menjaga jumlah atau menambah emisi gas-
gas tersebut, yang telah dikaitkan dengan pemanasan global.
Jika berhasil diberlakukan, Protokol Kyoto diprediksi akan mengurangi
rata-rata cuaca global antara 0,02°C dan 0,28°C pada tahun 2050. Nama
resmi persetujuan ini adalah Kyoto Protocol to the United Nations
Framework Convention on Climate Change (Protokol Kyoto mengenai
Konvensi Rangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim). Protokol ini
dinegosiasikan di Kyoto pada Desember 1997, dibuka untuk
penandatanganan pada 16 Maret 1998 dan ditutup pada 15 Maret 1999.
Persetujuan ini mulai berlaku pada 16 Februari 2005 setelah ratifikasi resmi
yang dilakukan Rusia pada 18 November 2004.
Menurut siaran pers dari Program Lingkungan PBB: “Protokol Kyoto
adalah sebuah persetujuan sah di mana negara-negara industri akan

24
mengurangi emisi gas rumah kaca mereka secara kolektif sebesar 5,2%
dibandingkan dengan tahun 1990 (namun yang perlu diperhatikan adalah, jika
dibandingkan dengan perkiraan jumlah emisi pada tahun 2010 tanpa Protokol,
target ini berarti pengurangan sebesar 29%). Tujuannya adalah untuk
mengurangi rata-rata emisi dari enam gas rumah kaca, yaitu karbon dioksida,
metana, nitrogen oksida, sulfur heksafluorida, HFC, dan PFC, yang dihitung
sebagai rata-rata selama masa lima tahun antara 2008-2012. Target nasional
berkisar dari pengurangan 8% untuk Uni Eropa, 7% untuk Amerika Serikat,
6% untuk Jepang, 0% untuk Rusia, dan penambahan yang diizinkan sebesar
8% untuk Australia dan 10% untuk Eslandia.”

25
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
1. Penyebab dari pemanasan global adalah penipisan lapisan ozon, efek
rumah kaca, konsumsi energi bahan bakar fosil, sampah organik,
kerusakan hutan, pertanian, dan peternakan.
2. Dampak yang ditimbulkan oleh pemanasan global adalah iklim mulai tidak
stabil, peningkatan permukaan laut, pertanian yang menurun, kehidupan
hewan liar dan tumbuhan yang terancam, dan timbulnya penyakit bagi
kesehatan manusia.
3. Upaya untuk mencegah terjadinya pemanasan global yaitu dengan
mengurangi pemakaian energi yang menghasilkan gas-gas emisi yang
mengakibatkan terjadinya efek rumah kaca, menanam pohon lebih banyak
kembali dan melakukan 3R (reduce, reuse dan recycle).

3.2 Saran
1. Satu langkah kecil yang kita ambil untuk menyelamatkan bumi dari
pemanasan global akan menyelamatkan kehidupan semua makhluk bumi.
2. Mengajak sesama manusia untuk melakukan pencegahan terhadap dampak
pemanasan global.

26
DAFTAR PUSTAKA

As-syakur, A.R., 2008, “Hubungan Efek Rumah Kaca, Pemanasan Global dan
Perubahan Iklim”, wordpress, Bali.
(http://mbojo.wordpress.com/2008/07/17/hubungan-efek-rumah-kaca-
pemanasan-global-dan-perubahan-iklim/) di akses 10 Maret 2016 jam 20.38
WIB

Resita, Vira, 2014, “Global Warming”, Academia.edu, Malang.


(https://www.academia.edu/9646162/FISIKA_GLOBAL_WARMING ) di
akses 10 Maret 2016 jam 20.27 WIB

S, Agus, dkk. 2008. Global Warming. (e-book). Di akses 10 Maret 2016 jam 20.46
WIB

Wijayanti, Listya Komala, 2013, “Efek Rumah Kaca Silaukan Bumi”,wordpress,


Pasuruan. (http://jadikecil.wordpress.com/about/karya-ilmiah-bahasa-
indonesia-tentang-global-warming/) di akses 10 Maret 2016 jam 20.15 WIB

27