Anda di halaman 1dari 9

1.

Laporan Keuangan LPD

LPD merupakan salah satu unsur kelembagaan Desa Pakraman yang


menjalankan fungsi keuangan Desa Pakraman untuk mengelola potensi keuangan
Desa Pakraman. Lembaga ini sangat berpotensi dan telah terbukti dalam
memajukan kesejahteraan masyarakat desa dan memenuhi kepentingan Desa itu
sendiri. Lembaga Perkreditan Desa berfungsi sebagai salah satu wadah kekayaan
desa yang berupa uang atau surat berharga lainnya, menjalankan fungsinya dalam
bentuk usaha-usaha ke arah peningkatan taraf hidup krama desa dan dalam
kegiatan usahanya banyak menunjang pembangunan desa. Usaha-usaha dilakukan
dengan tujuan untuk mendorong pembangunan ekonomi masyarakat desa melalui
tabungan yang terarah serta penyaluran modal yang efektif; memberantas praktek
ijon, gadai gelap, dan lain-lain yang dapat dipersamakan dengan itu di pedesaan;
menciptakan pemerataan dan kesempatan berusaha bagi warga desa dan tenaga
kerja di pedesaan; meningkatkan daya beli, melancarkan lalu lintas pembayaran
dan peredaran uang di pedesaan
Lembaga Perkreditan Desa telah berkembang dengan pesat dan telah memberi
manfaat yang sangat luas bagi LPD dan anggota-anggotanya, dan seiring dengan
itu telah timbul berbagai kebutuhan baru berkenaan dengan eksistensi
kelembagaan, unsur-unsur manajemen, kegiatan dan operasionalnya, sehingga
diperlukan pengaturan yang lebih akurat untuk menjamin kepastian dan
perlindungan hukum bagi keberadaan dan kegiatan LPD dan keberadaan Krama
Desa yang menjadi anggotanya. Kekurang hati-hatian dalam mengelola LPD
dapat berakibat buruk terhadap kepercayaan masyarakat terhadap LPD. Karena itu
perlu dilakukan penyesuaian-penyesuaian terhadap kebutuhan kebutuhan baru
yang berkembang dari praktek kegiatan LPD.
Kebijakan akuntansi LPD adalah prinsip-prinsip dasar dalam pelaporan
keuangan yang disusun berdasarkan ksepakatan bersama sesuai dengan aturan dan
standar yang berlaku. Beberapa contoh yang menyangkut kebijakan akuntansi
LPD, diantaranya:
a. Dasar Penyusunan Laporan Keuangan
Laporan keuangan disusun dengan menggunakan harga perolehan. Harga
Perolehan adalah harga beli ditambah biaya-biaya yang dikeluarkan
sampai dengan aktiva siap digunakan. Artinya konsep ini adalah setiap
transaksi pembelian satu barang harus dicatat sebesar harga perolehan
tersebut. Contohnya, dibeli sebuah mesin seharga Rp. 9.500.000,00
sebelum operasi masih diperlukan biaya pemasangan Rp. 400.000,00
maka harga perolehan menjadi Rp. 9.900.000,00 (Rp.9.500.000,00 + Rp.
400.000,00). Sehingga nilai inilah yang dicatat dalam akuntansi. Harga
perolehan adalah jumlah uang yang dikeluarkan untuk memperoleh satu
unit barang atau jasa dalam pertukaran sampai barang tersebut siap
dipakai.

b. Pengakuan Pendapatan dan Beban


Pencatatan pendapatan dan beban menganut metode akrual basis yaitu
diakui pada saat terjadinya transaksi dan bukan pada saat realisasi
pembayaran.
1) Tidak dibenarkan mengantisipasi pendapatan, akan tetapi biaya-biaya
yang telah direalisasi sebelum tanggal neraca walaupun belum dapat
diketahui secara pasti, jumlahnya, harus dilaporkan dengan cara
estimasi yang wajar.
2) Namun demikian pelaksanaan prinsip diatas harus tetap memperhatikan
asas “proper matching cost against revenue” yaitu biaya dan pendapatan
dihadapkan secara tepat dalam periode yang sama agar tidak menjadi
pergeseran biaya atau pendapatan ke periode yang lain.
c. Piutang Usaha
Piutang usaha berupa kredit yang diberikan dicatat sebesar nilai perolehan
dikurangi dengan cadangan atas kemungkinan piutang yang tidak dapat
ditagih.
d. Beban Ditangguhkan (Biaya Praoperasi)
Semua beban yang dikeluarkan sebelum beroperasi komersial
ditangguhkan pembebanannya dan diamortisasi selama tahun dengan tarif
amortisasi 25% setiap tahun dari nilai saat transaksi.
e. Aktiva Tetap
Aktiva tetap dinyatakan di neraca berdasarkan harga peorlehan dikurangi
dengan akumulasi penyusutan. Aktiva tetap tidak termasuk tanah
disusutkan dengan metode garis lurus. Biaya pemeliharaan dan perbaikan
dibebankan pada laba-rugi pada saat terjadinya. Jika aktiva tetap sudah
tidak dapat digunakan lagi, maka harga perolehan dan akumulasi
penyusutannya akan dihapus dalam pembukuan. Laba atau rugi atas
pengalihan aktiva tetap diakui pada periode berjalan.
f. Akuntansi Utang Usaha
Utang usaha berupa simpanan dan deposito nasabah dinyatakan secara
lengkap sehingga menggambarkan seluruh kewajiban LPD pada akhir
periode. Untuk mengetahui batas waktu pembayaran, simpanan dan
deposito dilakukan pengelompokkan sesuai dengan jatuh temponya.
g. Penyampaian Laporan Keuangan LPD
Laporan keuangan LPD disampaikan kepada :
1. Bendesa Adat
2. Gubernur Provinsi Bali
3. Bupati Kabupaten
4. Camat
5. Lurah
6. Badan Pengawas LPD
7. Kelian Banjar
8. Krama Desa (Melalui paruman Banjar)
Dalam rangka menuju tata kelola organisasi yang baik, LPD perlu
memformalkan bahwa budaya perusahaan dalam bentuk “Catur Dharma
LPD” yang terdiri dari:
1. Menjadi milik yang bermanfaat bagi krama dan desa pakraman
2. Memberikan pelayanan yang terbaik bagi nasabah
3. Saling menghargai dan membina rasa kekeluargaan
4. Berusaha mencapai yang terbaik dengan menyediakan ruang dan
waktu untuk perbaikan berkelanjutan
Sampai saat ini LPD belum sepenuhnya menerapkan dasar
pengakuan akrual dalam laporan keuangannya. Dasar pengakuan yang
digunakan kebanyakan menggunakan cash basis yang dimodifikasi.
Dengan diberlakukan IFRS, ke depan kemungkinan laporan keuangan
LPD akan menunjukkan ke arah fair value.
Akuntan publik independen berperan dalam menilai dan
memberikan opini terhadap laporan keuangan LPD sesuai dengan prinsip
akuntansi yang berterima umum dan standar akuntansi yang ada. Akuntan
public harus berkomunikasi dengan BPI sebelum memulai suatu
penugasan audit. Untuk LPD yang mempunyai asset di atas 5 Milyar
disarankan untuk menggunakan jasa akuntan public independen.
Pengurus LPD adalah pelaksana utama atau actor tata kelola LPD.
Keseluruhan model tata kelola organisasi mengakui peran sentral dari
pengurus sebagai salah satu pelaku tata kelola organisasi. Dengan
menetapkan tekanan pada pengelola puncak dan menangani operasi sehari-
hari atau entitas, pengaruh pengelolaan atas kualitas tata kelola menjadi
signifikan. Pengelola bertanggung jawab memantau risiko organisasi dan
melaksanakan pengendalian untuk mengurangi resiko.

2. Analisis Laporan Keuangan LPD


Menurut Gede Edy Prasetya, dalam buku “Penyusunan & Analisis Laporan
Keuangan Pemerintah Daerah” (2005:17) menyebutkan bahwa analisis laporan
keuangan pada dasarnya merupakan analisis yang dilakukan terhadap berbagai
macam informasi yang tersaji dalam laporan keuangan.
Menurut Harahap (2004:190) memberikan pengertian mengenai Analisis
Laporan Keuangan yaitu menguraikan pos – pos laporan keuangan menjadi unit
informasi yang lebih kecil dan melihat hubungannya yang lebih signifikan atau
yang memiliki makna antara yang satu dengan yang lain baik antara data
kuantitatif maupun data non kuantitatif dengan tujuan untuk mengetahui posisi
keuangan lebih dalam yang sangat penting dalam proses menghasilkan keputusan
yang tepat.
Analisis laporan keuangan (financial statement analysis) adalah hubungan
antara suatu angka dalam laporan keuangan dengan angka lain yang mempunyai
makna atau dapat menjelaskan arah perubahan (trend) suatu fenomena
(Soemarso,1999:430).
Untuk mengetahui kinerja laporan keuangan maka diperlukan suatu analisis.
Salah satu analisis laporan keuangan adalah analisis sumber dan penggunaan
modal kerja yaitu suatu analisa untuk mengetahui sumber-sumber serta
penggunaan modal kerja atau untuk mengetahui sebab-sebab berubahnya modal
kerja dalam periode tertentu. Yang digunakan sebagai dasar perencanaan sumber
dan penggunaan modal kerja periode-periode berikutnya, serta dapat digunakan
sebagai dasar penilaian kebijaksanaan manajemen dalam mengelola modal
kerjanya dan dapat digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan oleh LPD
atau kreditur. Untuk membuat laporan sumber dan penggunaan modal kerja,
terlebih dahulu harus menyajikan laporan perbadingan neraca antara dua titik
waktu yang akan dianalisis. Dari laporan perbadingan neraca tersebut akan
disusun laporan perubahan modal kerja dan dapat dianalisis unsur-unsur Non
Current Acount yang mempunyai efek memperbesar dan memperkecil modal
kerja. Selanjutnya dikelompokkan dan disusun laporan sumber dan penggunaan
modal kerja.

3. Jenis laporan keuangan LPD


LPD harus menyampaikan laporan kepada Desa Pakraman melalui Pengawas
Internal dan kepada Gubernur, Bupati/Walikota serta MUDP melalui LPLPD
mencakup:
a. Laporan bulanan, terdiri dari :
1. Laporan kegiatan dan perkembangan pinjaman;
2. Neraca percobaan;
3. Laporan neraca; dan
4. Laporan rugi / laba.
b. Laporan tiga bulanan, mencakup:
1. Laporan penilaian kesehatan LPD (CAMEL), dan
2. Laporan penilaian peringkat risiko LPD.
c. Laporan tahunan , mencakup:
1. Laporan Rencana Kerja dan Anggaran Pendapatan Belanja LPD;
2. Laporan Pertanggung Jawaban Akhir Tahun; dan
3. Laporan hasil Pertanggung Jawaban Audit Pengawas Internal.

Laporan Bulanan
a. Laporan kegiatan dan perkembangan pinjaman adalah laporan yang
menyajikan kegiatan LPD dan perkembangan kegiatan pinjaman dari
dana Bantuan Langsung Masyarakat yang berasal dari APBN, APBD,
Swadaya Masyarakat maupun Partisipasi dari dunia usaha dan dana yang
bergulir secara periodik (per bulan). Indikator utama yang dapat dihasilkan
secara langsung dari laporan ini adalah saldo pinjaman, tingkat
pengembalian pinjaman dan jumlah tunggakan.
b. Neraca Percobaan merupakan ebuah daftar semua akun buku besar. Daftar
ini berisi nama akun dan nilainya. Nilai yang disajikan adalah saldo debit
maupun kredit. Saldo debit ditampilkan di sisi (kolom) debit dan saldo
kredit ditampilkan di sisi kredit.
c. Laporan Neraca merupakan bagian dari laporan keuangan LPD yang
dihasilkan pada suatu periode akuntansi yang menunjukkan posisi
keuangan LPD tersebut pada akhir periode tersebut. Neraca terdiri dari tiga
unsur, yaitu aset, liabilitas, dan ekuitas.

d. Laporan Laba/Rugi merupakan bagian dari laporan keuangan LPD yang


dihasilkan pada suatu periode akuntansi yang menjabarkan unsur-unsur
penerimaan dan biaya sehingga menghasilkan suatu laba (atau rugi) bersih.
Laporan 3 Bulanan
a. Laporan Penilaian Kesehatan LPD merupakan salah satu cara untuk
mengetahui keberhasilan atau perkembangan usaha LPD baik dalam
pengelolaan keuangan maupun manajemen usaha. Penilaian tingkat
kesehatan LPD hanya bisa dilakukan dengan menggunakan laporan
keuangan yang diterbitkan oleh LPD tersebut, sehingga adanya laporan
keuangan LPD menjadi sangat penting dalam pengambilan keputusan LPD
kedepannya. Berdasarkan Peraturan Gubernur Bali No. 11 Tahun 2013,
untuk menilai tingkat kesehatan LPD pada dasarnya menggunakan 5 aspek
penilaian yang disebut CAMEL yang meliputi Capital, Assets Quality,
Management, Earnings, dan Liquidity.
b. Laporan Penilaian Risiko merupakan suatu penilaian yang dilakukan untuk
menilai tingkat risiko yang dapat timbul dalam kegiatan operasi LPD.
Risiko-risiko yang dimaksud yakni risiko pinjaman yang diberikan, risiko
likuiditas, risiko operasional dan risiko modal.

Laporan Tahunan
a. Laporan Rencana Kerja dan Anggaran Pendapatan Belanja merupakan
laporan yang memuat pencapaian rencana kerja dan anggaran pendapatan
belanja LPD selama satu periode (satu tahun).
b. Laporan Pertanggungjawaban Akhir Tahun merupakan laporan yang
memuat pertanggungjawaban pengurus terhadap penggunaan sumberdaya
yang dimiliki LPD selama tahun berjalan.
c. Laporan Hasil Pertanggungjawaban Audit Internal merupakan laporan
yang memuat hasil audit pertanggungjawaban yang dilakukan oleh komisi
audit internal LPD.
4. Peraturan Daerah Provinsi Bali Nomor 3 Tahun 2017 Tentang Lembaga
Perkreditan Desa Perubahan Ketiga Atas Peraturan Daerah Provinsi
Bali Nomor 4 Tahun 2012 Tentang Lembaga Perkreditan Desa
1. Pasal 17
Prajuru LPD wajib menyampaikan laporan kegiatan, perkembangan keuangan
dan kinerja LPD kepada Bendesa dan LPLPD setiap :

a. 1 (satu) bulan;
b. 3 (tiga) bulan; dan
c. Tahunan.
2. Pasal 18
Prajuru LPD wajib menyampaikan Laporan Pertanggungjawaban Tahunan
paling lambat 3 (tiga) bulan setelah Tahun Buku LPD berakhir dalam Paruman
Desa.

3. Pasal 20
(1) LPD wajib dilakukan audit 1 (satu) kali dalam 1 (satu) tahun.
(2) Audit sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh :
a. Panureksa;
b. LPLPD; dan/atau
c. Lembaga Auditor yang ditunjuk.
4. Pasal 23
(1) Pembagian keuntungan bersih LPD pada akhir tahun pembukuan ditetapkan
sebagai berikut :
a. Cadangan Modal 60 % (enam puluh persen);
b. Dana Pembangunan dan pemberdayaan masyarakat Desa 20% (dua puluh
persen);
c. Jasa Produksi 10% (sepuluh persen);
d. Dana Pemberdayaan 5% (lima persen) atau paling banyak Rp.
300.000.000 (tiga ratus juta rupiah); dan
e. Dana Sosial 5% (lima persen).
(2) Prajuru LPD wajib menyetorkan Dana Pemberdayaan sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) huruf d kepada LPLPD.
(3) Ketentuan lebih lanjut mengenai penyetoran dan penggunaan Dana
Pemberdayaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf d diatur dalam
Peraturan Gubernur.

5. Contoh Laporan Keuangan LPD

Anda mungkin juga menyukai