Anda di halaman 1dari 26

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Banyak diantara kaum muslimin yang menganggap ibadah hanyalah sekedar


sholat dan puasa. Dan juga banyak yang melakukan penyimpangan dalam
memaknai makna ibadah. Syaikhul Islam mengatakan :

“Ibadah adalah suatu istilah yang mencakup segala sesuatu yang dicintai dan
diridhai Allah SWT, baik berupa perkataan atau perbuatan, yang tersembunyi
maupun yang tidak tersembunyi”.

Secara umum ibadah mencakup mendirikan sholat, berpuasa, menunaikan


zakat dan melaksanakan haji serta melakukan hal-hal lain yang bernilai ibadah.

1
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Ibadah

Kata ibadah berasal dari kata ‘abada, yu’aabidu, ‘ibadatan, yang berarti tunduk,
patuh, taat. Seseorang yang tunduk, patuh dan merendahkan diri dihadapan yang
disembah disebut “abid” (yang beribadah). Budak disebut ‘abid karena dia harus
tunduk, patuh dan merendahkan diri kepada majikannya.

Kemudian pengertian ibadah secara terminologi atau secara istilah adalah sebagai
berikut :
 Menurut ulama tauhid dan hadis
Ibadah adalah “Mengesakan dan mengagungkan Allah sepenuhnya serta
menghinakan diri dan menundukkan jiwa kepada-Nya”. Menurut mereka ibadah
sama dengan tauhid.
 Para ahli di bidang akhlak
Ibadah adalah mengerjakan segala bentuk ketaatan badaniyah dan
menyelenggarakan segala syariat (hukum).
 Menurut ahli fikih ibadah adalah:
Ibadah adalah Segala bentuk ketaatan yang dikerjakan untuk mencapai keridhaan
Allah SWT dan mengharapkan pahala-Nya di akhirat.(Ritonga 1997:6)

Jadi dari pengertian, Ibadah adalah semua yang mencakup segala perbuatan yang
disukai dan diridhai oleh Allah SWT, baik berupa perkataan maupun perbuatan,
baik terang-terangan maupun tersembunyi dalam rangka mengagungkan Allah
SWT dan mengharapkan pahala-Nya.”
 Ahli tauhid, ahli tafsir dan hadis mengartikan ibadah sebagai berikut :
1. Ibadah adalah mengesakan Allah, mentazimkannya dengan sepenuh-penuh
tazim, serta menghinakan diri dan menundukan jiwa kepada-Nya.

2
2. Ibadah adalah tauhid (mengesakan Allah seru sekalian alam)
3. Segala lafaz ibadah dalam Al-Quran diartikan dengan tauhid
4. Tauhid adalah mengesakan Allah, Tuhan yang disembah (mengakui keesaan-
Nya) serta mengitikadkan pula keesaan-Nya pada zat-Nya dan pada pekerjaan-
Nya).

Para ulama membagi Ibadah kepada Ibadah Mahdhah dan Ibadah Ghairu Mahdhah.
Ibadah Mahdhah seperti Iman, Shalat dan Puasa. Ibadah Ghairu Mahdhah seperti
zakat dan khaffarat.

Mereka juga membagi ibadah atas lima yaitu :


1. Ibadah Badaniyah, seperti shalat
2. Ibadah Maliyah, seperti zakat
3. Ibadah Ijtima’iyah, seperti haji
4. Ibadah Ijabiyah, seperti thawaf
5. Ibadah Salbiyah, seperti meninggalkan segala yang di haramkan dalam masa
ihram.

Dengan demikian ibadah adalah hak Allah yang wajib dipatuhi dan ibadah adalah
tujuan hidup umat manusia. Oleh karena itu manusia wajib melaksanakan ibadah
kepada Allah SWT atas dasar ikhlas dan sesuai dengan petunjuk syara’.

B. Hakikat Ibadah
Tujuan diciptakannya manusia di muka bumi ini yaitu untuk beribadah kepada
Allah SWT.
dapun hakekat ibadah yaitu:
1. Ibadah adalah tujuan hidup kita, seperti yang terdapat dalam surat adz-dzariat
ayat 56, yang menunjukkan bahwa tugas kita sebagai manusia adalah untuk
beribadah kepada allah.

3
2. Hakikat ibadah itu adalah melaksanakan apa yang Allah cintai dan ridhai
dengan penuh ketundukan dan perendahan diri kepada Allah.
3. Ibadah akan terwujud dengan cara melaksanakan perintah Allah dan
meninggalkan larangan-Nya.
4. Hakikat ibadah sebagai cinta.
5. Jihad di jalan Allah (berusaha sekuat tenaga untuk meraih segala sesuatu yang
dicintai Allah).
6. Takut, maksudnya tidak merasakan sedikitpun ketakutan kepada segala bentuk
dan jenis makhluk melebihi ketakutannya kepada Allah SWT.

C. Dasar-dasar Ibadah
Ibadah harus dibangun atas tiga dasar yaitu cinta kepada Allah dan Rasul-Nya
dengan mendahulukan kehendak, perintah, dan menjauhi larangan-Nya.
Rasulullah saw. Bersabda:
“Ada tiga hal yang apabila terdapat dalam seseorang niscaya ia akan
mendapatkan manisnya iman, yaitu bahwa Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai
daripada yang lain; bahwa ia tidak mencintai seseorang melainkan semata karena
Allah; dan bahwa ia membenci kembali kepada kekufuran setelah Allah
menyelamatkannya, sebagaimana ia membenci untuk dilemparkan ke dalam
neraka.” (HR Bukhari dan Muslim, dari Anas bin Malik).

D. Fungsi ibadah
Ada tiga aspek fungsi ibadah dalam Islam yaitu :
1. Mewujudkan hubungan antara hamba dengan Tuhannya.
Orang yang beriman dirinya akan selalu merasa diawasi oleh Allah. Ia akan selalu
berupaya menyesuaikan segala perilakunya dengan ketentuan Allah SWT. Dengan
sikap itu seseorang muslim tidak akan melupakan kewajibannya untuk beribadah,
bertaubat, serta menyandarkan segala kebutuhannya pada pertolongan Allah SWT.
Demikianlah ikrar seorang muslim seperti tertera dalam Al-Qur’an surat Al-Fatihah
ayat 5 “Hanya Engkaulah yang Kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah Kami

4
meminta pertolongan.”Atas landasan itulah manusia akan terbebas dari
penghambaan terhadap manusia, harta benda dan hawa nafsu.

2. Mendidik mental dan menjadikan manusia ingat akan kewajibannya


Dengan sikap ini, setiap manusia tidak akan lupa bahwa dia adalah anggota
masyarakat yang mempunyai hak dan kewajiban untuk menerima dan memberi
nasihat. Oleh karena itu, banyak ayat Al-Qur'an ketika berbicara tentang fungsi
ibadah menyebutkan juga dampaknya terhadap kehidupan pribadi dan masyarakat.

3. Melatih diri untuk berdisiplin


Adalah suatu kenyataan bahwa segala bentuk ibadah menuntut kita untuk
berdisiplin. Kenyataan itu dapat dilihat dengan jelas dalam pelaksanaan sholat,
mulai dari wudhu, ketentuan waktunya, berdiri, ruku, sujud dan aturan-aturan
lainnya,

B. Macam-Macam Ibadah
Ditinjau dari jenisnya,ibadah dalam Islam terbagi menjadi dua jenis, dengan
bentuk dan sifat yang berbeda antara satu dengan lainnya.
a) Ibadah Mahdhah ( Ibadah Khusus )
Ibadah Mahdhah adalah ibadah yang mengandung hubungan dengan Allah
SWT semata-mata yaitu hubungan vertikal. Ciri-ciri ibadah mahdhah adalah
semua ketentuan dan aturan pelaksanaannya telah ditetapkan secara rinci
melalui penjelasan-penjelasan Al-Quran atau hadits. Ibadah mahdhah
dilakukan semata-mata bertujuan untuk mendekatkan diri (qurbah) kepada
Allah SWT.
Jenis ibadah yang termasuk mahdhah adalah :
a) Wudhu’
b) Tayammum
c) Mandi hadats

5
d) Shalat
e) Shiyam (Puasa)
f) Haji

Ibadah bentuk ini memiliki 4 prinsip, yaitu:

a) Keberadaannya harus berdasarkan adanya dalil perintah, baik dari al-


Quran maupun as-Sunnah, jadi merupakan otoritas wahyu, tidak boleh
ditetapkan oleh akal atau logika keberadaannya. Haram kita melakukan
ibadah ini selama tidak ada perintah.
b) Tatacaranya harus berpola kepada contoh Rasulullah s.a.w.. Salah satu tujuan
diutus rasul oleh Allah adalah untuk memberi contoh:

‫ست َ ْغ َف َر‬ َّ ْ‫ستَ ْغفَ ُروا‬


ْ ‫َّللاَ َوا‬ َ ُ‫َّللاِ َولَ ْو أَنَّ ُه ْم إِذ َّظلَ ُمواْ أَنف‬
ْ ‫س ُه ْم جَآؤُوكَ فَا‬ َّ ‫ع ِب ِإ ْذ ِن‬
َ ‫سو ٍل إِالَّ ِليُ َطا‬
ُ ‫س ْلنَا ِمن َّر‬َ ‫َو َما أ َ ْر‬
َّ ْ‫سو ُل َل َو َجدُوا‬
‫َّللاَ تَ َّوابًا َّر ِحي ًما‬ َّ ‫َل ُه ُم‬
ُ ‫الر‬

“Dan Kami tidak mengutus seseorang Rasul melainkan untuk ditaati dengan
seizin Allah. Sesungguhnya Jikalau mereka ketika menganiaya dirinya
[ialah: berhakim kepada selain Nabi Muhammad s.a.w.] datang kepadamu,
lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasulpun memohonkan ampun
untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima taubat lagi
Maha Penyayang”. (QS an-Nisa’4: 64)
‫ين َواب ِْن‬ َ ‫سو ِل َو ِلذِي ا ْلقُ ْر َبى َوا ْليَتَا َمى َوا ْل َم‬
ِ ‫سا ِك‬ َّ ‫سو ِل ِه ِم ْن أ َ ْه ِل ا ْلقُ َرى فَ ِللَّ ِه َو ِل‬
ُ ‫لر‬ ُ ‫ع َلى َر‬ َّ ‫َّما أ َفَاء‬
َ ُ‫َّللا‬
‫ع ْنهُ َفانتَ ُهوا َواتَّقُوا‬
َ ‫سو ُل َف ُخذُو ُه َو َما َنهَا ُك ْم‬ ُ ‫الر‬َّ ‫س ِبي ِل ك َْي ال َيكُونَ دُو َل ًة َب ْينَ األ َ ْغ ِن َياء ِمن ُك ْم َو َما آتَا ُك ُم‬
َّ ‫ال‬
ِ ‫شدِي ُد ا ْل ِع َقا‬
‫ب‬ َّ َّ‫َّللاَ إِن‬
َ َ‫َّللا‬ َّ

“Apa saja harta rampasan (fai’) yang diberikan Allah kepada RasulNya
(dari harta benda) yang berasal dari penduduk kota-kota, maka adalah
untuk Allah, untuk rasul, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang
miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan, supaya harta itu jangan
beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu. Apa yang
diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. dan apa yang dilarangnya

6
bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah.
Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya.” (QS al-Hasyr/59: 7).
d) Bersifat supra rasional (di atas jangkauan akal) artinya ibadah bentuk ini
bukan ukuran logika, karena bukan wilayah akal, melainkan wilayah wahyu,
akal hanya berfungsi memahami rahasia di baliknya yang disebut hikmah at-
tasyrî’. Shalat, adzan, tilawatul Quran, dan ibadah mahdhah lainnya,
keabsahannnya bukan ditentukan oleh mengerti atau tidak, melainkan
ditentukan apakah sesuai dengan ketentuan syari’at, atau tidak. Atas dasar ini,
maka ditetapkan oleh syarat dan rukun yang ketat.
e) Azasnya “taat”, yang dituntut dari hamba dalam melaksanakan ibadah ini
adalah kepatuhan atau ketaatan. Hamba wajib meyakini bahwa apa yang
diperintahkan Allah kepadanya, semata-mata untuk kepentingan dan
kebahagiaan hamba, bukan untuk Allah, dan salah satu misi utama diutus
Rasul adalah untuk dipatuhi.

b) Ibadah Ghair Mahdlah


Ibadah ghair mahdlah adalah ibadah yang tidak sekedar menyangkut hubungan
dengan agama Allah SWT, tetapi juga berkaitan dengan hubungan sesama
makhluk (hablum minallah wahablum minannas), di samping hubungan
vertikal, juga ada unsur hubungan horizontal. Hubungan sesama makhluk ini
tidak hanya terbatas pada hubungan antarmanusia, tetapi juga hubungan
manusia dengan lingkungannya, seperti ayat yang artinya: “ Dan janganlah
kamu membuat kerusakan di muka bumi sesudah (Allah) membersihkannya.”
(QS Al-A’raf 7: 56 )

Jenis ibadah yang termasuk ghair mahdlah adalah :

a) Dzikir
b) Menuntut Ilmu

Ibadah bentuk ini memiliki 4 prinsip,yaitu:

7
a) Keberadaannya didasarkan atas tidak adanya dalil yang melarang. Selama
Allah dan Rasul-Nya tidak melarang maka ibadah bentuk ini boleh
diselenggarakan. Selama tidak diharamkan oleh Allah, maka boleh melakukan
ibadah ini.
b) Tata pelaksananya tidak perlu berpola kepada contoh Rasulullah s.a.w., Oleh
karean itu, dalam ibadah bentuk ini tidak dikenal istilah bid’ah, atau jika ada
yang menyebutnya, segala hal yang tidak dikerjakan rasul bid’ah,
maka bid’ahnya disebut bid’ah hasanah, sedangkan dalam
ibadah mahdhah disebut bid’ah dhalalah.
c) Bersifat rasional, ibadah bentuk ini baik-buruknya, atau untung-ruginya,
manfaat atau madharatnya, dapat ditentukan oleh akal atau logika. Sehingga
jika menurut logika sehat, buruk, merugikan, dan madharat, maka tidak boleh
dilaksanakan.
d) Azasnya “Manfaat”, selama itu bermanfaat, maka selama itu boleh dilakukan.
Maka segala bentuk kegiatan baik yang ditujukan untuk meraih ridha Allah
masuk ke dalam ranah ibadah ghairu mahdhah.

8
IBADAH MAHDHAH

A. Wudhu’

Menurut lughat , wudhu’ adalah perbuatan, menggunakan air pada anggota


tubuh tertentu, sedangkan wadhu’ ialah air yang digunakan untuk berwudhu’. Kata ini
berasal dari wadha’ah yang berarti baik, dan bersih. Dalam istilah , wudhu’ ialah
perbuatan tertentu yang dimulai dengan niat.

1. Syarat Wudhu’

a) Islam
b) Tamyiz ( Baligh )
c) Air mutlak ( suci )
d) Tidak adanya penghalang, baik hissy maupun syar’i
e) Masuk waktu shalat

2. Fardhu Wudhu’

a) Niat
Niat artinya menyengaja (qashd) sesuatu serentak dengan melakukannya.
Waktu untuk berniat itu ialah pada awal membasuh muka.
b) Membasuh muka
Membasuh muka diwajibkan berdasarkan perintah membasuh muka pada
Basuhan itu harus merata keseluruh wajah yaitu bagian depan kepala. Batas
yang wajib di basuh ketika berwudhu’ ialahmemanjang dari tempat tumbuh
rambut sampai dengan ujung dagu dan melintang dari daun telinga ke daun
telinga lainnya. Dalam membasuh muka, air harus mengalir pada bagian luar
kulit maupun rambut yang terdapat pada wajah. Jadi, bagian dalam
mulut,hidung,dan mata tidak wajib terkena basuhan.

9
B. Shalat

Menurut istilah, shalat adalah suatu ibadah yang terdiri dari perkataan dan
perbuatan tertentu yang dimulai dengan takbir bagi Allah Swt. dan disudahi dengan
memberi salam. Perintah wajib shalat turun setahun sebelum tahun hijrah, yaitu pada
malam isra’ dan mikraj nya Nabi Muhammad SAW. Dalam sehari semalam ada lima
kali shalat yang wajib dikerjakan seoorang muslim, yaitu sholat subuh, dzuhur, ashar,
magrib, dan isya.

1. Syarat-Syarat Wajib Shalat

a) Islam
b) Suci dari haidh dan nifas
c) Berakal sehat
d) Baligh

2. Syarat-Syarat Sah Shalat

a) Suci dari hadas besar dan hadas kecil


b) Menutup aurat
Aurat laki-laki adalah antara pusar sampai lutut sedangkan aurat wanita seluruh
badannya kecuali muka dan dua telapak tangan.
c) Sudah masuk waktu shalat
Apabila melaksanakan shalat sebelum dan sesudah waktu tersebut, maka
shalatnya tidak sah, kecuali ada alasan menurut syara’
d) Menghadap kiblat
“Sesungguhnya Kami lihat muka engkau menengadah-nengadah ke langit,
maka Kami palingkan lah engkau kepada kiblat yang engkau ingini. Sebab itu
palingkanlah muka engkau ke pihak Masjidil Haram” ( QS Al-Baqarah 2: 144)

3. Rukun Shalat

a) Niat

10
Niat yaitu menyengaja melakukan shalat karena mengikuti perintah Allah agar
diridhai-Nya.
b) Berdiri
Dalam melaksanakan shalat fardhu, berdiri merupakan slah satu rukun yang
harus dilaksanakan sedangkan bagi orang-orang yang lemah, tidak diharuskan
untuk berdiri.
c) Takbiratul Ihram
Takbiratul Ihram yaitu dengn membaca “Allahu Akbar” dengan mengangkat
kedua tangan.
d) Membaca surat Al-Fatihah
e) Rukuk serta tuma’ninah
Rukuk dilakukan dengan membungkukan badan membentuk sudut siku-siku
sampai lurus punggung dan lehernya.
f) I’tidal serta tuma’ninah
I’tidal artinya tegak kembali sepert ketika membaca surat Al-Fatihah
g) Sujud dua kali serta tuma’ninah
Sujud sekurang-kurangnya meletakkan sebagian kening ke tempat shalat.
Sujud sempurna adalah meletakkan ke tempat shalat kedua tangan, lutut,
telapak kaki dan kening serta hidung.
h) Duduk diantara dua sujud serta tuma’ninah
i) Duduk tawarruk
Duduk tawarruk yaitu duduk dengan telapak kaki kanan dalam posisi terbalik,
sedangkan telapak kaki kiri dimasukkan ke bawah kaki kanan.
j) Membaca tashajud akhir,shalawat atas Nabi Muhammad SAW.
k) Salam

11
B. Puasa
Menurut syara’, puasa adalah menahan diri dari segala sesuatu yang
membatalkan puasa, sejak terbit fajar sampai terbenam matahari dengan niat
dan syarat-syarat khusus.

1. Syarat-Syarat Wajib Puasa

a) Islam
b) Baligh
c) Berakal
d) Kuat berpuasa, tidak wajib puasa bagi orang sakit dan orang yang sudah tua.

2. Rukun Puasa

a) Niat
b) Menahan diri dari segala yang membatalkan puasa, sejak terbit fajar sampai
terbenam matahari.

3. Macam-Macam Puasa

a) Puasa Wajib
Puasa pada bulan suci Ramadhan, puasa nazar dan puasa kifarat.
b) Puasa Sunnah
Puasa selain puasa ramadhan, puasa nazar, puasa kifarat dan puasa pada hari-
hari yang diharamkan berpuasa. Puasa sunnah terdiri dari puasa enam hari
dalam bulan syawal, puasa hari ‘asyura ( 10 Muharram ), Puasa bulan Sya’ban,
Puasa hari senin dan kamis, puasa tengah bulan ( 13,14,15 ) pada bulan
Qamariah.
c) Puasa Makruh
Puasa yang dilakukan pada hari yang diragukan apakah bulan ramadhan sudah
tiba atau belum dan puasa yang dilakukan pada hari jumat yang tidak didahului
puasa sehari atau sesudahnya

12
D. Ibadah Haji

Menurut syara’, ibadah haji adalah sengaja mengunjungi Ka’bah untuk


melaksanakan serangkaian amal dan ibadah sesuai dengan syarat dan rukun tertentu.
Menurut sebagian ulama, permulaan haji diwajibkan pada tahun kelima Hijriah.
Ibadah haji adalah salah satu rukun islam dan hukunnya fardhu’ain dan diwajibkan
sekali seumur hidup bagi orang- orang yang mampu.

1. Syarat-Syarat Wajib Ibadah Haji

a) Islam
b) Baligh
c) Berakal
d) Merdeka
e) Mampu

2. Rukun Haji

a) Ihram ( berniat menuaikan haji )


Ihram hendaklah dari miqat yang telah ditentukan dan disunahkan untuk mandi
atau berwudhu’ kemudian shalat dua raka’at . Setelah itu, barulah niat ihram
dilakukan dan dilanjutkan dengan membaca talbiyah.
b) Wuquf
Wuquf yaitu hadir di Padang Arafah mulai dari tergelincir matahari pada
tanggal 9 Zulhijjah sampai terbit fajar tanggal 10 Zulhijjah.
c) Thawaf
Thawaf ifadhah, yaitu berkeliling Ka’bah sebanyak tujuh kali. Thawaf dimulai
dari arah Hajar Aswad, kemudian ciumllah dia atau cukup dengan isyarat
dengan mengangkat tangan,dan berkeliling Ka’bah.

3. Wajib Haji

a) Ihram dari miqadnya

13
b) Berhenti di Muzdalifah, sesudah tengah malam, dimalam hari raya haji setelah
hadir di Arafah.
c) Bermalam di Mina selama dua tau tiga malam
d) Melempar Jumrah Aqabah pada Hari Raya Haji
e) Melontar tiga jumrah ( Jumrah Aqabah, Jumrah ‘Ula, Jumrah Wustha ) pada
tanggal 11,12, dan bulan haji. Tiap-tiap jumrah dilempar tujuh kali dengan batu
kecil dan dilakukan setelah tergelincir matahari.

IBADAH GHAIR MAHDLAH

A. Dzikir

Kata dzikir berasal dari bahasa Arab, adz-dzikr yang berarti mengingat, mengucap
atau menyebut, dan berbuat baik. Jika dikaitkan dengan Islam, maka memiliki
pengertian:

1. Dzikir berarti mengingat dan menyebut asma Allah SWT. Misalnya dengan
membaca: tahlil/tauhid, tasbih, istighfar, atau sholawat, dan juga berdoa kepada
Allah SWT.
2. Dzikir berarti berbuat baik (beramal saleh) dalam rangka mendekatkan diri
kepada Allah SWT sesuai dengan yang telah diajarkan oleh Rosulullah saw.
Beberapa di antaranya adalah: berbakti kepada orang-tua; berlaku jujur, objektif,
dan adil; menghormati yang lebih tua dan menyayangi yang lebih muda,
sekalipun kita tidak mengenalnya dengan baik; serta mengajak kepada kebaikan,
dan melarang terjadinya kemungkaran

Dzikir merupakan suatu kewajiban bagi umat Islam. "Wahai orang-orang yang
beriman, ingatlah kepada Allah dengan mengingat (nama- Nya) sebanyak-banyaknya,
dan bertasbihlah kepada-Nya pada waktu pagi dan petang." (QS.33/Al-Ahzab: 41-42)

Dzikir, menurut para ulama, dapat dibedakan dalam tiga macam :

14
1. Dzikir dengan lisan, yakni membaca atau mengucapkan kalimat-kalimat takbir,
tasbih, tahlil dan lain sebagainya dengan bersuara.
2. Dzikir dalam hati, yakni membaca atau mengucapkan kalimat-kalimat takbir,
tasbih, tahlil dan lain sebagainya dengan membatin. Sebagian ulama menafsirkan
dzikir dalam hati ini, adalah bertafakkur (memikirkan/merenungi) berbagai
ciptaan Allah SWT dan kenikmatannya dengan penuh keyakinan, dan perasaan
tulus. Inilah dzikir yang dianjurkan oleh Rasulullah saw. Dzikir dengan panca
indra atau anggota badan (dzikr bi al-jawarih),yakni menundukkan seluruh
anggota badan kepada Allah SWT dengan cara melaksanakan segala perintah dan
meninggalkan seluruh larangan-Nya.

B. Menuntut Ilmu

Menurut Al-Quran, manusia memiliki potensi untuk meraih ilmu dan


mengembangkannya dengan seizin Allah. Karena itu bertebaran ayat yang
memerintahkan manusia menempuh berbagai cara untuk mewujudkan betapa tinggi
kedudukan orang yang berpengetahuan. Sebagai mana firman Allah “Hai orang-
orang beriman apabila kamu dikatakan kepadamu: “Berlapang-lapanglah dalam
majlis”, Maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. dan
apabila dikatakan: “Berdirilah kamu”, Maka berdirilah, niscaya Allah akan
meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi
ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu
kerjakan.” (QS. Al-Mujadalah : 11)

Nabi Saw bersabda kepada Abu Dzar Al Ghifari

ْ‫و ألَن‬ َْ َّ‫عل‬


َْ ‫م تَغ ُد‬ َ ْ‫منْ آيَة‬
َ ‫ف َت‬ ِْ َّ ْ‫خير‬
ِ ِْ‫ّللا كِ َتاب‬ َ ‫ك‬ ِ ْ‫ى أَن‬
َْ َ‫منْ ل‬ َ ُ‫ة ت‬
َْ ِ‫صل‬ َْ َ‫مائ‬ َ ‫َرك‬
ِ ْ‫عة‬
“Bahwa sesungguhnya engkau pergi untuk mempelajari suatu ayat dari kitab Allah
adalah lebih baik daripada engkau melakukan shalat seratus raka’at.” (HR. Ibnu
Majah)

15
Imam Al-Ghazali juga memandang bahwa belajar atau menuntut ilmu adalah
sangat penting serta menilai sebagai kegiatan yang terpuji. Untuk menerangkan
keutamaan belajar tersebut Imam Al-Ghazali mengutip beberapa ayat Al-Qur’an,
hadits Nabi serta atsar. Di antara ayat , hadits dan atsar yang dikutip tersebut, yaitu
Allah berfirman “Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan
perang). mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa
orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi
peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya
mereka itu dapat menjaga dirinya.” (QS. At-Taubah : 122)

Nabi saw. bersabda “Barang siapa menjalin suatu jalan untuk menuntut ilmu, maka
dianugerahi Allah kepadanya jalan ke surga.” (HR. Muslim)

Nabi saw. bersabda pula: “Sesungguhnya malaikat itu membentangkan sayapnya


kepada penuntut ilmu tanda rela dengan usahanya itu” (HR. Ahmad, Ibnu Hibban
dan Al-Hakim dari Shafwan bin Assal)

Atha’ berkata: “Majelis ilmu pengetahuan itu, menutupkan tujuh puluh majelis yang
sia-sia.”

Imam Asy-Syafi’i berkata: “Menuntut ilmu itu adalah lebih utama daripada berbuat
ibadah sunnah.”

Abu Darda’ berkata: “Barang siapa berpendapat bahwa pergi menuntut ilmu bukan
jihad, maka adalah dia orang yang kurang pikiran dan akal.”

Belajar atau menuntut ilmu mempunyai peranan penting dalam kehidupan.


Dengan menuntut ilmu orang menjadi pandai, ia akan mengetahui terhadap segala
sesuatu yang dipelajarinya. Tanpa menuntut ilmu orang tidak akan mengetahui
sesuatu apapun.Di samping belajar dapat untuk menambah ilmu pengetahuan baik
teori maupun praktik, belajar juga dinilai sebagai ibadah kepada Allah. Orang yang
belajar sungguh-sungguh disertai niat ikhlas ia akan memperoleh pahala yang banyak.

16
Belajar juga dinilai sebagai perbuatan yang dapat mendatangkan ampunan dari Allah
SWT. Orang yang belajar dengan niat ikhlas kepada Allah diampuni dosanya.

Demikian pentingnya belajar–menuntut ilmu ini sehingga dihargai sebagai


jihad fisabililah yaitu pahalanya sama dengan orang yang pergi berperang dijalan
Allah untuk membela kebenaran agama.

Hubungan Ibadah dan Latihan Spiritual

Manusia dalam paham Islam,sebagai halnya dalam paham monoteisme


tersusun dari dua unsur yaitu unsur jasmani dan unsur rohani.Roh manusia bersifat
immateri dan mempunyai kebutuhan spiritual,sedangkan tubuh manusia berasal dari
materi dan mempunyai kebutuhan materiil.Badan,karena mempunyai hawa nafsu bisa
membawa pada kejahatan,dan roh berasal dari unsur yang suci dan membawa pada
kebaikan.

Oleh karena itu,pendidikan jasmani harus disempurnakan dengan pendidikan


rohani.Pengembangan daya jasmani seseorang tanpa dilengkapi dengan daya rohani
akan membuat hidupnya tidak seimbang.Orang yang seperti itu akan mengalami
kesulitan dalam duniawi, apalagi kalau hal itu membawa pada perbuatan tidak baik dan
kejahatan. Ia merupakan manusia yang membawa pada kerusakan bagi masyarakat dan
untuk melengkapi kehidupan kita membutuhkan roh yang baik.

Dalam Islam, ibadahlah yang memberikan latihan rohani yang diperlukan


manusia. Semua ibadah yang ada dalam Islam, salat,puasa, haji dan zakat bertujuan
membuat roh manusia supaya senantiasa tidak lupa pada Tuhan. Keadaan senantiasa
dekat pada Tuhan dapat mempertajam keadaan roh kita. Hal ini dapat menjadi rem bagi
hawa nafsu untuk melanggar nilai-nilai moral,peraturan dan hukum yang berlaku
dalam memenuhi keinginannnya.

Di antara ibadat Islam, shalatlah yang membawa manusia terdekat kepada


Tuhan. Di dalamnya terdapat dialog antara dua pihak yang saling berhadapan. Dalam
shalat, manusia berhadapan dengan Tuhan. Dalam sholat seseorang melakukan hal-hal

17
berikut: menuju ke-Maha Sucian Tuhan, menyerahkan diri kepada Tuhan, memohon
supaya dilindungi dari godaan syaitan, memohon diberi petunjuk ke jalan yang benar,
dan dijauhi dari perbuatan yang menyesatkan.Ketika sholat, terdapat dialog antara
manusia dengan Tuhan dan manusia meminta untuk menyucikan rohnya. Shalat
dilakukan wajib pada lima kali sehari dan rohnya akan menjadi bersih dan dijauhi dari
perbuatan-perbuatan jahat.

Puasa juga menyucikan roh. Di dalam berpuasa seseorang harus menahan hawa
nafsu makan, minum dan nafsu lainnya. Di samping itu ia juga harus menahan rasa
amanah, keinginan mengatai orang lain, bertengkar dan perbuatan-perbuatan kurang
baik lainnya. Latihan jasmani dan rohani di sini bersatu dalam usaha menyucikan roh
manusia. Di bulan puasa dianjurkan pula supaya orang banyak bersalat dan membaca
Al-Qur’an, yaitu hal-hal yang membawa manusia dekat kepada Tuhan. Latihan ini
disempurnakan dengan pernyataan rasa kasih kepada anggota masyarakat yang lemah
kedudukan ekonominya dengan mengeluarkan zakat fitrah bagi mereka.

Ibadah haji juga merupakan penyucian roh. Dalam mengerjakan haji ke


Mekkah, orang berkunjung ke baitullah (Rumah Tuhan dalam arti rumah peribadatan
yang pertama didirikan atas perintah Tuahan di dunia ini). Sebagai dalam salat, orang
di sini juga merasa dekat sekali dengan tuhan. Bacaan-bacaan yang diucapkan sewaktu
mengerjakan haji itu juga merupakan dialog antara manusia dengan Tuhan. Usaha
menyucikan roh di sini disertai oleh latihan jasmani dalam bentuk pakaian, makanan
dan tempat tinggal sederhana. Selama mengerjakan haji perbuatan-perbuatan tidak baik
harus dijauhi. Di dalam haji terdapat pula latihan rasa bersaudara antara semua
manusia, tiada beda antara kayak dan miskin, raja dan rakyat biasa, antara besar dan
kecil, semua sederajat.

Zakat, juga mengambil bentuk mengeluarkan sebagaian dari harta untuk


menolong fakir-miskin dan sebagainya juga merupakan penyuci roh. Di sini dilatih
menjauhi kerusakan pada harta dan menumpuk rasa bersaudara, rasa kasihan dan suka
menolong anggota masyarakat yang berada dalam kekurangan.

18
Ibadat dalam islam sebenarnya bukan bertujuan supaya Tuhan disembah dalam
arti penyembahan yang terdapat dalam agama-agama primitif. Pengertian serupa ini
adalah pengertian yang tidak tepat. Betul ayat 56 dari surah Al-Zariat mengatakan:

dan ini diartikan bahwa manusia diciptakan semata-mata untuk beribadat kepada
Tuhan yaitu mengerjakan salat, puasa, haji, dan zakat. Soal ibadat memang amat
penting artinya dalam ajaran islam, tetapi meskikah kata “liya'budun” di sana diartikan
ibadat, mengabdi atau menyembah? Sebenarnya Tuahan tidak berhajat untuk disembah
atau di puja manusia. Tuhan adalah Maha Sempurna dan tak berhajat kepada apapun.
Oleh karena itu kata “liya'budun” di sini lebih tepat kalau diberi arti lain dari pada arti
beribadat, mengabdi, memuja, apa lagi menyembah. Lebih tepat kelihatannya kalau
kata itu diberi arti tunduk dan patuh dan kata “ ‘abada“ memang mengandung arti
tunduk dan patuh sehingga ayat itu menjadi:

“ tidak kuciptakan jin dan manusia kecuali untuk tunduk dan patuh kepada-Ku”

Artinya ini lebih sesuai dengan arti yang terkandung dalam kata muslim dan muttaqi,
yaitu menyerah, tunduk dan menjaga diri dari hukuman Tuhan di Hari Kiamat dengan
mematuhi perintah-perintah dan larangan-larangan Tuhan. Dengan lain kata, manusia
diciptakan Tuhan sebenarnya ialah untuk berbuat baik dan tidak untuk berbuat jahat,
sesungguhpun di dunia ada manusia yang memilih kejahatan.

Selanjutnya arti sembah dan sembah yang diberikan kepada “‘abada“


dan“sholaa“ juga membawa pada kepada paham yang tidak falsafah lain dan falsafah
islam. Sembahyang mengandung arti menyebah kekuatan ghaib dalam paham
masyarakat animisme dan politeisme. Dalam falsafah masyarakat serupa ini kekuatan
ghaib yang demikian ditakuti dan mesti disembah dan diberi sesajen agar ia jangan
murka dan jangan membawa bencana bagi alam.

Kata sembahyang yang mengandung arti demikian, maka ketika dibawa ke


dalam konteks Islam, sebagaimana terjemanahan ‘abada’ dan ‘sholaa’, menimbulkan

19
perubahan dalam konsep Tuhan yang ada dalam Islam. Dalam Islam Tuhan bukanlah
merupakan suatu dzat yang ditakuti tetapi zat yang dikasihi. Ini ternyata dari ucapan:
“bismillahirrahmanirrahim “ yang tiap hari berkali-kali dibaca umat Islam. Rahman
dan Rahim berarti pengasih lagi Penyayang, jadi bukan Tuhan yang ditakuti,tetapi
Tuhan yang dikasihi manusia.

Tujuan ibadat dalam Islam bukanlah menyembah, tetapi mendekatkan diri


kepada Tuhan, agar roh manusia senantiasa diingatkan kepada hal-hal yang
positif,sehingga rasa kesucian dapat membawa ke budi pekerti yang baik dan luhur.
Oleh karena itu,ibadah di samping merupakan latihan spiritual, juga merupakan latihan
moral.

Shalat memang erat hubungannya dengan latihan moral.Ayat 45 dari Surat


Ankabut.

َ‫صلَوة‬ ِ ‫ي اِلَيْكَ ِمنَ ْال ِكت َا‬


َّ ‫ب َواَقِ ِم ال‬ ِ ُ ‫َآء َو ْال ُم ْنك َِرقلى صلى اُتْ ُل َمآ ا‬
َ ‫وح‬ ِ ‫صلَوة َ تَ ْن َهى َع ِن ْالفَحْ ش‬
َّ ‫َوهللاُ َولَ ِذ ْك ُر هللاُ ا َ ْكبَ ُرقلى ا َِّن ال‬
ْ َ‫َي ْعلَ ُم َما ت‬
َ‫ص َنعُ ْون‬

Arti : “Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu daripada al-Kitab dan
dirikanlah shalat; sesungguhnya shalat itu mencegah dari yang keji dan yang munkar.
Dan sesungguhnya ingat akan Allah itu adalah lebih besar. Dan Allah Mengetahui apa
pun yang kamu perbuat.” (QS. Al-Ankabut : 45)

Demikian juga puasa dekat hubungannya dengan latihan moral ,ayat 183 Surah
Al-Baqarah:

َ‫ب َعلَى الَّذِينَ ِم ْن قَ ْب ِل ُك ْم لَعَلَّ ُك ْم تَتَّقُون‬ َ ‫يَا أَيُّ َها الَّذِينَ آ َمنُوا ُك ِت‬
ِّ ِ ‫ب َعلَ ْي ُك ُم‬
َ ‫الصيَا ُم َك َما ُك ِت‬

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana


diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kamu bertakwa” (QS. Al Baqarah:
183)

20
Mengenai haji, Al-Baqarah:197

‫ض فَ َم ْن ۚ َم ْعلُو َمات أَ ْش ُهر ْال َح ُّج‬ َ ‫ث فَ َل ْال َح َّج فِي ِه َّن فَ َر‬
َ َ‫َي ْعلَ ْمه ُ َخيْر ِم ْن ت َ ْف َعلُوا َو َما ۗ ْال َح ِّجِ فِي ِجدَا َل َو َل فُسُوقَ َو َل َرف‬
ِ ُ‫ب أُو ِلي يَا َواتَّق‬
َّ ‫ون ۚ الت َّ ْق َوى‬
َّ ۗ ‫الزا ِد َخي َْر فَإ ِ َّن َوت َزَ َّود ُوا‬
ُ‫ّللا‬ ِ ‫ْاْل َ ْلبَا‬

“ Haji bulan-bulannya dikenal dan siapa telah memutuskan melakukan haji, maka
pada waktu itu tidak ada lagi kata-kata tak sopan, caci-cacian dan pertengkaran”

Menerangkan bahwa sewaktu mengerjakan haji orang tidak boleh mengeluarkan


ucapan-ucapan tidak senonoh, tidak boleh berbuat hal-hal tidak baik dantidak boleh
bertengkar

Tentang Zakat, Al-Taubah: 103

ْ‫صدَقَة أ َ ْم َوا ِل ِه ْم ِم ْن ُخذ‬ َ ُ ‫ص ِِّل ِب َها َوتُزَ ِ ِّكي ِه ْم ت‬


َ ‫ط ِِّه ُر ُه ْم‬ َ ‫ص َلتَكَ إِ َّن ۖ َعلَ ْي ِه ْم َو‬ َ ‫ّللاُ ۗ لَ ُه ْم‬
َ ‫سكَن‬ َّ ‫س ِميع َو‬
َ ‫َع ِليم‬

“Ambillah zakat dari harta mereka, dengan demikian engkau akan membersihkan dan
mensucikan mereka”

Menjelaskan bahwa zakat diambil dari harta untuk membersihkan dan mensucikan
pemiliknya.

Demikianlah Al-Qur’an dan hadis menjelaskan bahwa ibadat sebenarnya


merupakan latihan spiritual dan moral dalam usaha Islam membina manusia yang tidak
lago kehilangan keseimbangan,lagi berbudi pekerti luhur.

Hikmah Ibadah Mahdhah dalam Pembinaan Akhlak Mulia

1. Hikmah Ibadah Shalat


- Menjaga kesadaran dan pengendalian.

َّ ‫َّللاُ ََل إِ َٰلَهَ إِ ََّل أَنَا فَا ْعبُدْنِي َوأَقِ ِم ال‬


]٢٠:١٤[ ‫ص ََلة َ ِل ِذ ْك ِري‬ َّ ‫إِنَّنِي أَنَا‬

Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain
Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku.
(Q.S Taha : 14)

21
- Memupuk rasa persamaan, persatuan dan persaudaraan.

‫س َجد ُوا فَ ْليَ ُكونُوا ِمن َو َرائِ ُك ْم‬ َ ‫طائِفَةٌ ِ ِّم ْن ُهم َّم َعكَ َو ْليَأ ْ ُخذُوا أَ ْس ِل َحت َ ُه ْم فَإِذَا‬َ ‫ص ََلة َ فَ ْلتَقُ ْم‬
َّ ‫َو ِإذَا ُكنتَ فِي ِه ْم فَأَقَ ْمتَ لَ ُه ُم ال‬
ْ‫عن‬ ُ ُ ْ َ َ َّ َ ْ
َ َ‫صلوا َمعَكَ َوليَأخذوا ِحذ َر ُه ْم َوأ ْس ِل َحت َ ُه ْم ۗ َودَّ الذِينَ َكف ُروا ل ْو تَغفلون‬ُ ُ ْ ْ ُّ ْ
َ ُ‫صلُّوا فلي‬
َ َ ُ‫طا ِئفَةٌ أ ُ ْخ َر َٰى لَ ْم ي‬َ ‫ت‬ ِ ْ ‫َو ْلت َأ‬
‫ض َٰى‬ َ َ
َ ‫احدَة ً ۗ َو ََل ُجنَا َح َعلَ ْي ُك ْم ِإن كَانَ ِب ُك ْم أذًى ِ ِّمن َّم‬
َ ‫ط ٍر أ ْو ُكنتُم َّم ْر‬ ِ ‫أ َ ْس ِل َحتِ ُك ْم َوأ ْمتِ َعتِ ُك ْم فَ َي ِميلُونَ َعلَ ْي ُكم َّم ْيلَة َو‬
ً َ
]٤:١٠٢[ ‫َّللاَ أ َ َعدَّ ِل ْلكَافِ ِرينَ َعذَابًا ُّم ِهينًا‬ َّ ‫ضعُوا أ َ ْس ِل َحت َ ُك ْم ۗ َو ُخذُوا ِحذْ َر ُك ْم ۗ إِ َّن‬ َ َ ‫أَن ت‬

Dan apabila kamu berada di tengah-tengah mereka (sahabatmu) lalu kamu


hendak mendirikan shalat bersama-sama mereka, maka hendaklah
segolongan dari mereka berdiri (shalat) besertamu dan menyandang senjata,
kemudian apabila mereka (yang shalat besertamu) sujud (telah
menyempurnakan serakaat), maka hendaklah mereka pindah dari
belakangmu (untuk menghadapi musuh) dan hendaklah datang golongan
yang kedua yang belum bersembahyang, lalu bersembahyanglah mereka
denganmu], dan hendaklah mereka bersiap siaga dan menyandang senjata.
Orang-orang kafir ingin supaya kamu lengah terhadap senjatamu dan harta
bendamu, lalu mereka menyerbu kamu dengan sekaligus. Dan tidak ada
dosa atasmu meletakkan senjata-senjatamu, jika kamu mendapat sesuatu
kesusahan karena hujan atau karena kamu memang sakit; dan siap siagalah
kamu. Sesungguhnya Allah telah menyediakan azab yang menghinakan
bagi orang-orang kafir itu. (Q.S An Nisaa : 102)
- Mencegah perbuatan keji dan mungkar.
َّ ‫َاء َو ْال ُمنك َِر ۗ َولَ ِذ ْك ُر‬
ِ‫َّللا‬ ِ ‫ص ََلةَ ت َ ْن َه َٰى َع ِن ْالفَحْ ش‬ ِ ‫ي إِلَيْكَ ِمنَ ْال ِكتَا‬
َّ ‫ب َوأَقِ ِم ال‬
َّ ‫ص ََلة َ ۗ إِ َّن ال‬ َ ‫وح‬ِ ُ ‫اتْ ُل َما أ‬
]٢٩:٤٥[ َ‫صنَعُون‬ َّ ‫أَ ْك َب ُر ۗ َو‬
ْ َ ‫َّللاُ َي ْعلَ ُم َمات‬

Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Quran)
dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-
perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat)
adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah
mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Q.S Al Ankabut : 45)
- Menanamkan disiplin diri terhadap waktu.

22
2. Hikmah Ibadah Puasa
- Dengan merasakan haus dan lapar, maka diri kita akan merasa hibah
terhadap fakir dan miskin, sehingga tumbuh rasa sosial dengan memberikan
bantuan kepada yang membutuhkan.
- Dengan berpuasa akan melatih kesabaran dalam menghadapi berbagai
macam problema kehidupan.
- Dengan berpuasa akan mampu mendidik pribadi bersifat amanah dan
percaya diri.
- Dengan berpuasa akan mampu mendidik untuk berkata benar dan jujur.
3. Hikmah Ibadah Zakat
- Menumbuhkan sikap suka berkorban dan suka menolong orang lain.
- Menumbuhkan sikap murah hati, dermawan dan saling mengasihi di antara
sesamanya.
- Mempersempit jurang pemisah antara si miskin dan si kaya.
- Menghilangkan perasaan iri dan dengki dari si miskin terhadap si kaya.
- Menghilangkan sifat suka mementingkan diri sendiri.
- Meringankan beban si miskin.
- Menciptakan kemakmuran secara merata di masyarakat.
4. Hikmah Ibadah Haji
- Memperkokoh dan mempertebal rasa kepercayaan akan ke-Esaan, ke-
Besaran, ke-Kuasaan dan ke-Agungan Allah.
- Melatih keidsiplinan diri dalam melaksanakan setiap perintah Allah serta
tidak mudah terbujuk untuk melanggar larangan-larangan-Nya.
- Memperkokoh rasa persaudaraan di antara umat Islam sedunia, karena
meskipun berbeda dalam berbagai aspek, tetapi tetap satu dalam agama,
aqidah, dan kepercayaan.
5. Hikmah Ibadah Infaq dan Shadaqah
- Dapat meningkatkan rasa solidaritas di masyarakat.
- Merupakan tanda ketaqwaan kepada Allah

23
BAB III
PENUTUP

a. Kesimpulan :
Ibadah adalah segala perbuatan yang disukai dan diridhai oleh Allah SWT, baik
berupa perkataan maupun perbuatan, secara terang-terangan maupun
tersembunyi dalam rangka mengagungkan Allah SWT dan mengharapkan
pahala-Nya. Ibadah merupakan hak Allah yang wajib dipatuhi dan kewajiban
manusia untuk dilaksanakan. Ibadah harus dibangun atas dasar cinta kepada
Allah dan Rasul-Nya dengan mendahulukan kehendak, perintah, dan menjauhi
larangan-Nya. Dengan ibadah, kita dapat mendekatkan diri kepada Allah SWT
sehingga membuat rohani kita menjadi tenang.

Ibadah terbagi menjadi dua yaitu ibadah mahdhah dan ibadah ghairu mahdhah.
Ibadah mahdhah adalah ibadah yang berhubungan langsung dengan Allah
seperti shalat, puasa, zakat dan haji. Ibadah ghairu mahdhah adalah ibadah
dengan cara melakukan kebaikan terhadap sesama manusia, alam, tumbuhan
dan binatang dengan niat yang ikhlas.

b. Saran
Sebagai umat islam kita wajib melaksanakan perintah Allah SWT dengan
beribadah baik ibadah mahdhah maupun ghairu mahdhah dengan niat yang
ikhlas mengharap ridho Allah SWT.

24
Daftar Pustaka

Nasution, Harun. 1985. Islam ditinjau dari berbagai aspeknya jilid I. Jakarta :
Universitas Indonesia.

Z, Zurinal. 2008. Fiqih Ibadah. Jakarta : UIN.

Quthub, Muhammad. 1987. Koreksi atas pemahaman ibadah. Yogyakarta : Pustaka


Al-Kautsar.

Labib. Buku Pintar Masalah Agama Islam. Surabaya : Bintang Usaha Jaya.

H, Ruslan. 2012. Inilah 5 Keutamaan Sedekah.


http://khazanah.republika.co.id/berita/dunia-islam/hikmah/12/08/07/m8daxd-inilah-5-
keutamaan-sedekah. Diakses tanggal 27 September 2016 pukul 01.19

M, Zainal. 2014. Keutamaan Infaq, Zakat, dan Sedekah.


http://majelis.zainalm.com/2014/07/keutamaan-zakat-infak-dan-sedekah.html.
Diakses tanggal 27 September 2016 pukul 01.28

Nasution, Lahmuddin. 1994. Fiqh 1. Jakarta : Pustaka Amani.

25
26