Anda di halaman 1dari 35

BAB I

A. Latar Belakang
Konsep penyatuan agama dan negara hingga saat ini masih menjadi pro-
kontra dari berbagai pihak. Pendefinisian agama yang multiinterpretatif kemudian
mengarah pada pertimbangan sejauh mana agama harus diposisikan dalam urusan
politik kenegaraan. Di satu sisi agama dipandang sebagai hubungan transendental
yang bersifat pribadi dengan penciptanya. Dengan pernyataan ini agama menjadi
tanggungjawab serta urusan individu. Di sisi lain, oleh sebagian pemeluknya,
agama diyakini sebagai landasan pokok kehidupan yang turut mengatur segala
bentuk perilaku manusia secara komprehensif, termasuk di dalamnya adalah
urusan politik pemerintahan.
Sebagai salah satu agama dengan penganut besar di dunia, Islam turut
dijadikan rujukan untuk menjadi landasan dalam mengatur kehidupan
bermasyarakat. Keyakinan akan kesempurnaan aturan dalam Islam telah
mendorong sejumlah pemeluknya untuk menjadikannya sebagai totalitas yang
padu atas pemecahan semua masalah kehidupan sehingga harus diterima secara
keseluruhan (Effendy, 1998: 7). Dukungan akan aplikasi nilai-nilai Islam ini
cukup besar, meskipun upaya untuk mewujudkannya sebagai dasar hukum yang
mengikat seluruh masyarakat juga diwarnai oleh kritik, bahkan kecaman dari
sejumlah pihak.
Menurut Nur (2011: 20) di kalangan umat Islam sendiri, konsep tentang
negara telah menimbulkan pertentangan akut yang berawal dari pertanyaan
apakah Islam mewajibkan umatnya menegakkan sistem negara yang
menempatkan syariat(hukum Islam) sebagai dasar negara atau tidak. Pertanyaan
lain terkait bagaimana pula bentuk institusi formal negara dalam Islam juga
melahirkan pandangan yang beragam. Effendy (1998: 20) dalam bukunya “Islam
dan Negara” memberikan contoh perbedaan gambaran akan konsep negara Islam
oleh para penganut Muslim di sejumlah wilayah. Apa yang dianggap sebagai
negara Islam oleh kaum Muslim di Iran misalnya, dilihat secara berbeda oleh

1
saudara-saudaranya sesama Muslim di Arab Saudi. Bahkan pada kenyataannya,
masing-masing pernah berusaha menolak konsep yang mereka pandang sebagai
negara Islam.
Dalam konteks Indonesia, relasi antara Islam dan negara telah mengalami
dinamika yang panjang. Islam sejak bermunculannya gerakan-gerakan masyarakat
pribumi pada dekade pertama abad ke-20 telah memainkan peran yang amat
menentukan. Salah satu perwujudan politik Islam pada saat itu adalah Sarekat
Islam (SI) yang awalnya bernama Sarekat Dagang Islam (SDI) dan didirikan oleh
H. Samanhoedi di Solo tahun 1911 (Effendy, 1998: 62-63).
Di era demokrasi, kehadiran Islam pun memainkan peran penting dalam
kehidupan politik di Indonesia. Terlebih dengan adanya dukungan kemajuan
teknologi yang memungkinkan akses informasi dan pertukaran pesan secara luas.
Demokrasi memberikan peluang bagi organisasi akar rumput, termasuk di
dalamnya kelompok keagamaan, baik yang bergerak dalam wilayah sosial-
kemasyarakatan ataupun politik untuk mengembangkan organisasi dan
pemikirannya. Di bidang politik misalnya, kemunculan partai politik yang
bernuansa islami seperti Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Partai Amanat
Nasional (PAN), Partai Perjuangan Pembangunan (PPP), ataupun Partai Keadilan
Sejahtera (PKS) merupakan salah satu perwajahan Islam yang pernah tercermin
dalam peta perpolitikan Indonesia. Dari sisi organisasi keislaman yang dirintis
oleh tokoh lokal, di antaranya muncul nama Muhammadiyah dan Nadhatul Ulama
(NU) yang kini menjadi organisasi keagamaan besar dalam level nasional. Tidak
hanya itu, Indonesia bahkan termasuk salah satu negara yang tumbuh subur
berbagai jenis pergerakan Islam yang sifatnya transnasional, seperti halnya
Ikhwanul Muslimin, Hizbut Tahrir, Jamaah Tabligh, Kelompok Salafi ataupun
Kaum Syiah.
Ideologi dan cita-cita yang diusung oleh berbagai organisasi keagamaan di
Indonesia, jelas sangat beragam. Salah satu misi yang mendapatkan respon cukup
tinggi dari masyarakat, adalah perjuangan mewujudkan kembali kejayaan Islam
sebagaimana yang pernah terbentuk pada masa kenabian. Cita-cita ini
sebagaimana diusung oleh Hizbut Tahrir melalui konsep Khilafah Islamiyah, yang

2
kemudian di negara ini lebih dikenal dengan sebutan Hizbut Tahrir Indonesia
(HTI). Wacana untuk kembali kepada dasar hukum Islam secara menyeluruh ini
semakin keras digaungkan, terlebih ketika sistem pemerintahan dan politik lain
diaggap tidak mampu menyelesaikan persoalan bangsa, termasuk di dalamnya
adalah kegagalan sistem demokrasi dalam menyelenggarakan pemerintahan yang
bersih berdasarkan penilaian Hizbut Tahrir.
Berbeda dengan organisasi transnasional lain yang yang sifatnya lebih
moderat, Hizbut Tahrir lebih banyak mengambil jalan sebagai oposisi dan banyak
mengritik kebijakan pemerintah untuk kemudian menawarkan konsep Khilafah
Islamiyah sebagai solusi atas permasalahan yang dialami bangsa ini. Meski
mengaku sebagai partai politik, Hizbut Tahrir tidak memilih jalur perpolitikan
resmi dalam tatanan pemerintah. Hal ini berbeda dengan partai politik bernuansa
Islami di Indonesia seperti PKS, PPP, PKB, ataupun PAN. HTI menganggap
demokrasi merupakan jalan utopia dalam upaya mewujudkan Khilafah Islamiyah
(Al Jawi, 2012: 10). Hal ini berbeda dengan para kelompok dan simpatisan
organisasi transnasional lain, Ikhwanul Muslimin yang bergerak menyesuaikan
sistem pemerintahan negara dan secara struktural terikat di dalamnya. Ikhwanul
Muslimin berusaha memperbaiki kondisi umat Muslim dari level individu yang
nantinya berkembang pada keluarga dan masyarakat. Sedangkan Hizbut Tahrir
menganggap bahwa perubahan harus dilakukan dari level puncak yaitu negara,
yang nantinya dapat berdampak maksimal hingga level individu. Berbeda dengan
sarana pergerakan kelompok NU dan Muhammadiyah yang turut membidik
bidang pendidikan dan sosial kemasyarakat, sarana Hizbut Tahrir lebih banyak
menitikberatkan pada konsep pergerakan melalui ide dan wawasan.
Melihat karakter dan cita-cita HTI yang berbeda dengan organisasi Islam
lainnya di Indonesia, tentu praktik komunikasi yang baik dalam upaya
penyebarluasan pemikiran Hizbut Tahrir sangat diperlukan, sehingga HTI dapat
diterima oleh berbagai kalangan. Hal ini dikarenakan, dalam upayanya untuk
menegakkan Khilafah Islamiyah, HTI harus bersaing dengan organisasi keislaman
lain yang turut berusaha mendapatkan simpati kalangan umat Muslim Indonesia.
Dari kelompok partai politik Islam, HTI harus mampu menyiasati strategi

3
penjaringan massa dari PAN yang banyak membidik kelompok Muslim
berlatarbelakang Muhammadiyah, PPP yang banyak didukung oleh kelompok
NU, ataupun PKB yang memiliki kecenderungan dengan tokoh nasional NU
pengusung pluralisme, Gus Dur. Hizbut Tahrir pun harus bersaing pengaruh
dengan PKS yang aggotanya memiliki keterikatan dengan gerakan Islam
transnasional Ikhwanul Muslimin. Selain itu, usaha mewujudkan Khilafah
Islamiyah turut menghadapi tantangan dari kelompok Islam lain yang juga
memiliki tujuan pengangkatan seorang pemimpin utama umat Muslim seperti
halnya kelompok Syiah.
Jika menimbang isu Khilafah Islamiyah yang dibawa oleh HTI, konsep ini
masih menjadi kontroversi di kalangan masyarakat Indonesia, termasuk di
kalangan kaum Muslim itu sendiri. Kondisi bangsa Indonesia yang begitu
heterogen menjadikan pengangkatan isu dalam hal “penegasan identitas” yang
lebih memihak kepada satu golongan menjadi sebuah tema yang rawan konflik.
Belum lagi ketika HTI harus bersinggungan langsung dengan masyarakat pada
level wilayah, di mana masing-masing wilayah mempunyai karakter kebudayaan
dan pola pikir masyarakat yang beragam. Terlebih Hizbut Tahrir adalah lembaga
yang independen dan tidak mengikuti alur perpolitikan negara, meski mengaku
sebagai sebuah partai politik. Melihat kondisi ini, kemudian menimbulkan
pertanyaan apakah jalur yang kemudian ditempuh HTI dan bagaimana upaya
teknis yang berusaha dijalankan untuk mengubah sebuah sistem negara yang
sifatnya sangat fundamental? Jika tidak bersentuhan dengan sistem pemerintahan
yang ada, apakah HTI kemudian mempunyai prioritas untuk membidik golongan
di luar kelompok pro partai politik?Tentu dalam kondisi ketatnya persaingan
memperoleh simpati kaum Muslim Indonesia untuk bergabung dalam sebuah
barisan, diperlukan strategi komunikasi yang matang sehingga upaya yang
dijalankan dapat berbuah pada hasil yang maksimal.

4
B. Rumusan Masalah
Rumusan masalah yang ingin diangkat dalam penelitian ini adalah:
“Bagaimana strategi komunikasi Hizbut Tahrir Indonesia Daerah Istimewa
Yogyakarta (HTI DIY) dalam mempropagandakan Khilafah Islamiyah di era
demokrasi?”

C. Limitasi Masalah
Penelitian ini membatasi pada strategi komunikasiKhilafah Islamiyah yang
dilakukan HTI dalam praktiknya yang terlihat di lapangan. Peneliti akan lebih
banyak melihat bagaimana HTI berusaha mengomunikasikanKhilafah Islamiyah
kepada masyarakat di luar kelompok internal HTI.

D. Tujuan dan ManfaatPenelitian


Tujuan penelitian ini adalah:
1. Mengetahui diskripsi stratetgi komunikasiKhilafah Islamiyah yang
dilakukan oleh Hizbut Tahrir Indonesia
2. Mengetahui faktor-faktor yang berpengaruh dalam proses komunikasi,
serta upaya yang dilakukan Hizbut Tahrir Indonesia dalam menghadapi
tantangan menyampaikan pesanKhilafah Islamiyah.

Manfaat penelitian ini antara lain:


1. Sebagai dokumentasi dan rujukan referensi terkait strategi
komunikasiKhilafahIslamiyah yang dilakukan oleh Hizbut Tahrir
Indonesia.
2. Memperkaya kajian di bidang ilmu komunikasi, khususnya yang berkaitan
dengan strategi komunikasioleh organisasi keislaman.

5
E. Kerangka Pemikiran
1. Era Demokrasi: Dukungan dan Kritik
Demokrasi secara populer diartikan sebagai pemerintahan dari rakyat, oleh
rakyat, dan untuk rakyat. Nurtjahjo (2006:83) mengartikan demokrasi sebagai
spirit dan institusionalisasi dari prinsip-prinsip kebebasan dan kesamaan dengan
segala derifatifnya menuju persetujuan politik melalui kedaulatan suara mayoritas
yang dimasukkan dalam kerangka yuridis. Dalam hal ini, demokrasi mengandung
tiga fenomena sekaligus, yaitu fenomena politik (kekuasaan), fenomena etika
(ajaran moral), dan fenomena hukum yang saling berjalan kelindan dan menolak
tatanan kekuasaan yang otoriter.
Pada awal sejarahnya demokrasi hanya dimengerti melalui model
partisipasi politik langsung yang melibatkan seluruh warga yang sudah dewasa
dalam suatu proses politik di Yunani Kuno. Seiring dengan berjalannya waktu,
konsep demokrasi terus dikembangkan hingga akhirnya diaplikasikan oleh
sejumlah negara. Nurtjahjo (2006: 2) menyebutkan, demokrasi kemudian
dipercaya sebagai gagasan universal yang dapat diterima dalam ragam perspektif.
Sejak awal abad ke-20, demokrasi telah menjadi obsesi sejumlah masyarakat non-
Barat. Banyak wilayah jajahan Barat di Asia dan Afrika mulai bergerak untuk
mewujudkan nilai-nilai demokrasi di dalam masyarakat, salah satunya
dikembangkan untuk membebaskan diri dari belenggu penjajahan.
Demokrasi dianggap memiliki substansi etis dan diklaim sebagai dasar
dari etika politik modern karena sejumlah alasan. Menurut Nurtjahjo (2006:82),
demokrasi bermuatan etis karena adanya rasionalitas pertanggungjawaban atas
kekuasaan rakyat yang diberikan kepada wakil atau pemimpin yang dipilih secara
bebas. Demokrasi tidak menyetujui cara pemaksaan untuk tunduk pada kekuasaan
yang tidak disetujui. Demokrasi disebutkan pula mengakui kesamaan hak sebagai
warga dalam sebuah negara.
William Ebenstein dalam Nurtjahjo (2006: 72) menyebutkan adanya
delapan ciri utama dari demokrasi Barat, yakni: (1) empirisme rasional, (2)
penekanan pada individu, (3) negara sebagai alat, (4) kesukarelaan, (5) hukum di

6
atas hukum, (6) penekanan pada cara, (7) persetujuan sebagai dasar dalam
hubungan manusia, dan (8) persamaan semua manusia. Bernhard Sutor dalam
Nurtjahjo (2006: 72) menambahkan, demokrasi memiliki tanda-tanda empiris,
yaitu jaminan terhadap hak-hak untuk mengeluarkan pendapat, memperoleh
informasi bebas, kebebasan pers, berserikat dan berkoalisi, berkumpul dan
berdemonstrasi, mendirikan partai, beroposisi, serta pemilihan yang bebas, sama,
rahasia, atas dasar minimal dua alternatif, di mana para wakil dipilih untuk waktu
terbatas. Dari pernyataan Bernhard Sutor ini menunjukkan bahwa demokrasi
memberikan ruang gerak yang luas bagi organisasi “akar rumput” atau organisasi
yang berkepentingan lainnya untuk menyuarakan pendapatnya.
Demokrasi yang dianggap membawa nilai-nilai ideal dalam sistem sosial
dan politik kemudian banyak diterima oleh sejumlah kalangan, dan melebur
dalam sistem nilai yang sebelumnya dianut oleh masyarakat. Franz Magnis
Suseno dalam Jauhar (2007: 32) menyebutkan, dalam kacamata Islam di
Indonesia misalnya, setidaknya terdapat tiga alasan mengapa demokrasi diterima.
Alasan yang dikemukakan salah satunya karena banyak ayat Al-Quran dan Hadist
serta peristiwa dalam sejarah Islam terkait keutamaan musyawarah. Selain itu,
Islam menekankan pentingnya kontrol terhadap penguasa sebagai perwujudan dari
upaya saling menyuruh kepada kebaikan dan menjauhi kemungkaran. Ketiga,
demokrasi sebagaimana syariat, bertujuan untuk memelihara kemashalatan
manusia.
Di sisi lain, disamping digadang-gadang sebagai sebuah sistem politik
yang yang ideal, demokrasi juga tidak lepas dari sejumlah kritik. Faishal (2007: 7)
menyebutkan, banyak dilema dan persoalan yang muncul dari pengakuan atas
sistem pemilu sebagai sarana demokrasi satu-satunya yang akan menempatkan
pemenang untuk membuat aturan yang mengikat, sehingga pemilu dianggap
sebagai alat untuk melahirkan otoritas baru yang koersif. Faishal (2007: 25)
menambahkan, sistem perwakilan dalam demokrasi tidak lagi bisa diharapkan
dapat menampung usulan minoritas atau mengesahkan pengakuan terhadap
pluralisme dan hak-hak lokal apabila ditetapkan sebagai mekanisme yang
dicukupkan dengan menggelar pemilu.

7
Contoh kelompok yang menolak demokrasi, salah satunya muncul dari
kalangan umat Islam. Kaum Muslim yang menolak konsep demokrasi,
sebagiannya mengaitkan demokrasi sebagai produk sekuler sehingga tidak
mungkin cocok dengan Islam (Faishal, 2007: 32). Dalam konteks Indonesia,
kelompok umat Muslim yang dengan tegas menolak demokrasi misalnya dapat
dilihat pada organisasi Hizbut Tahrir.
Ketua DPP Hizbut Tahrir Indonesia, Rokhmat S Labib sebagaimana yang
dikutip dalam website resmi HTI mengemukakan tiga alasan pokok mengapa
demokrasi harus ditolak. Rokhmat mengatakan, bahwa demokrasi bertentangan
dengan akidah Islam, karena rakyat seolah-olah memberikan kekuasaan yang luas
kepada wakil rakyat dan penguasa untuk membuat dan menerapkan hukum sesuai
kehendak mereka. Alasan kedua, demokrasi dinilai banyak menghabiskan
anggaran dengan sistem pemilihan umum secara periodik, sedangkan penghabisan
anggaran ini tidak menjamin terpilihnya wakil rakyat yang kredibel dan
bertanggungjawab. Sedangkan menurut Rokhmat, dalam Islam, yang dipilih
hanya khalifah (pemimpin umat Islam dalam sebuah negara kekuasaan yang
dikenal dengan konsep Khilafah Islamiyah) yang kemudian berhak memilih para
pejabat di bawahnya. Masa kepemimpinan khalifah berlaku seumur hidup, selama
tidak melanggar hukum Islam, sehingga tidak perlu menghabiskan anggaran untuk
acara pemilu yang seringkali tidak akuntabel. Alasan ketiga, konsekuensi dari
borosnya demokrasi mengakibatkan wakil rakyat dan pejabat berkhianat kepada
rakyat agar mendapatkan dana segar untuk modal pemilu. Dari sinilah timbul
politik praktis yang hanya menguntungkan sejumlah pihak (http://hizbut-
tahrir.or.id/2012/12/09/tiga-alasan-tolak-demokrasi/).

2. Konsep Khilafah Islamiyah


Hakikat sistem Khilafah atau dikenal pula dengan sebutan Khilafah
Islamiyah adalah sistem pemerintahan yang mewakili Rasulullah SAW dalam hal
menegakkan hukum-hukum Allah (Hawwa, seri 04: 96). Mawardi (dalam Hawwa,
seri 04: 125) menyatakan khilafah adalah tugas pengganti kenabian dalam

8
memelihara agama dan politik dunia. Istilah khilafah dilahirkan dari kelompok
Islam Sunni, yaitu kelompok yang menganut paham bahwa kepemimpinan setelah
Muhammad SAWyang dilanjutkan secara berurutan oleh Abu Bakar, Umar bin
Khattab, Usman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib adalah sebuah kebenaran
sejarah yang memang sepantasnya terjadi. Sedangkan kelompok Islam Syiah
(kelompok yang beranggapan bahwa pengganti kepemimpinan atas kaum Muslim
setelah wafatnya Muhammad SAW sepantasnya dipegang oleh Ali bin Abi
Thalib) menyebutnya dengan istilah imamah (Nur, 2011:113).
Secara etimologis, kata khilafah berarti menggantikan seseorang. Dalam
semboyan politik Islam Sunni, kata itu merujuk pada wewenang seseorang yang
berfungsi sebagai pengganti Nabi dalam kapasitasnya sebagai pemimpin
masyarakat, namun bukan dalan fungsi kenabiannya. Kata imamah biasanya
merujuk pada negara Islam dalam arti yang umum dan dianggap mencerminkan
masa pemerintahan Nabi yang sesudahnya (Jindan, 1994: 9).
Sedangkan konsep Khilafah Islamiyah yang dipahami oleh Hizbut Tahrir
Indonesia sebagaimana yang tertulis dalam website resminya http://hizbut-
tahrir.or.id/2010/11/18/apa-itu-khilafah/ yaitu:
“Khilafah adalah kepemimpinan umum bagi seluruh kaum Muslim di dunia.
Khilafah bertanggung jawab menerapkan hukum Islam, dan menyampaikan
risalah Islam ke seluruh muka bumi. Khilafah terkadang juga disebut
Imamah; dua kata ini mengandung pengertian yang sama dan banyak
digunakan dalam hadits-hadits shahih.”

Berdasarkan sejarahnya, menurut Jindan (1994: 7), para pakar Syiahadalah


muslim pertama yang melahirkan teori tentang Imamah. Para pakar Syiah ini
berpendapat bahwa Imamah tidak hanya merupakan suatu sistem pemerintahan,
tetapi juga rancangan Tuhan, suatu kepercayaan yang dianggapsebagai penegas
keimanan. Dasar pemikiran mereka adalah hadist kontroversial yang
menyebutkan: “Siapapun meninggal dunia tanpa mengenal Imamah yang benar
pada masanya berarti ia mati sebagai orang yang tidak beriman.” Jindan
menambahkan, kaum Syi'ah beranggapan bahwa orang yang memenuhi syarat
untuk berperan sebagai pelindung dan penafsirhukum Tuhan hanyalah perantara
supra-manusiawi yang diberi petunjuk oleh sang pencipta hukum tersebut.

9
Di pihak golongan Kaum Sunni, Hizbut Tahrir berkeyakinan bahwa
memperjuangkan Khilafah Islamiyah adalah kewajiban setiap muslim. Pernyataan
ini sebagaimana yang tertulis dalam website resmi Hizbut Tahrir Indonesia:
“Menegakkan Khilafah dan menunjuk seorang Khalifah adalah kewajiban
bagi setiap Muslim di seluruh dunia, lelaki dan perempuan. Melaksanakan
kewajiban ini sama saja seperti menjalankan kewajiban lain yang telah Allah
Swt perintahkan kepada kita, tanpa boleh merasa puas kepada diri sendiri.
Khilafah adalah persoalan vital bagi kaum Muslim.”

Adapun tugas dan fungsi khalifah (pemimpin dalam sistem


Khilafah)menurut para fuqaha (ahli hukum) Islam, ada dua (Hawwa, seri 04:
124):
• Menegakkan agama Islamdan menjalankan hukum-hukumnya.
• Menegakkan politik negara sesuai dengan ketentuan yang telah digariskan
Islam.
Berdasarkan sejarah kepemimpinan umat Islam, Khilafah Islamiyah telah
berjalan melalui beberapa periode (Hawwa, seri 04: 96), yaitu:
• Periode Khulafaurrasyidin (Abu Bakar, Umar bin Khattab, 'Utsman bin
Affan, dan Ali bin Abi Thalib).
• Khilafah Umawiyah pertama sampai akhir kekuasaan Yazid.
• Khilafah Ibnu Zuber.
• Khilafah Umawiyah kedua sampai akhir kekuasaan Marwan bin
Muhammad.
• Khilafah 'Abbasyiyah sampai jatuhnya Baghdad.
• Khilafah 'Abbasyiyah di Kairo sampai pengangkatan Sulthan Salim.
• Khilafah 'Utsmaniyah yang berakhir pada tahun 1929.

Semenjak berakhirnya periode Khulafaurrasyidin, disebutkan oleh Hawwa


(seri 04: 110) sistem pemerintahannya tidak mencerminkan sebagai pemerintahan
Khilafah yangutuh. Sedangkan sistem pemerintahan zaman Nabi Muhammad dan
Khulafaurrasyidin dinggap merepresentasikan sistem pemerintahan terbaik,
sehingga sejumlah kalangan berharap sistem pemerintahan yang pernah terbentuk
tersebut dapat dibangun kembali, salah satunya oleh HTI.

10
HTI sebagai salah satu organisasi yang dengan tegas ingin
memperjuangkan Khilafah Islamiyah, yaitu membangun sistem pemerintahan
seperti masa kepemimpinan Nabi Muhammad dan Khulafaurrasyidin, tentunya
turut membutuhkan dukungan eksternal untuk menguatkan pijakan organisasi
mereka. Alasan ini mengingat aplikasi dari Khilafah Islamiyah ini nantinya akan
bersifat mengikat bagi masyarakat secara umum. Untuk itulah dalam hal
pencapaian perubahan besar, yaitu dalam hal ini mengganti sistem pemerintahan
yang telah mapan, diperlukan adanya dukunngan publik yang kuat.

3. Propaganda dan Perumusan Strategi Komunikasi


a. Propaganda sebagai bentuk komunikasi
Untuk membahas propaganda sebagai bentuk komunikasi, diperlukan
pemahaman tetnang komunikasi itu sendiri. Banyak definisi terkait komunikasi
yang disebutkan oleh sejumlah pakar. Meski demikian, Mulyana (2003: 42)
menyatakan bahwa tidak ada kebenaran mulak dalam sebuah definisi. Definisi
harus dilihat dari kemanfaatannya untuk menjelaskan fenomena yang didefiniskan
sehingga dapat berfungsi untuk mengevaluasi.
Komunikasi berasal dari kata Latin communis yang berarti “sama”,
communico, communicatio, communicare yang artinya “membuat sama”. Dari
asal kata ini menyiratkan bahwa komunikasi menyarankan adanya suatu pikiran,
makna, atau pesan dianut secara sama (Mulyana, 2003: 41-42). Definisi lain
disampaikan oleh Carl I. Hovland (dalam Effendy, 2001: 10) yang menyebutkan
komunikasi sebagai proses mengubah perilaku orang lain. John Fiske (1990: 1-2)
mengasumsikan komunikasi sebagai sebuah kegiatan yang melibatkan tanda dan
kode yang diciptakan atau ditransmisikan kepada orang lain. Dari sejumlah
definisi yang dikemukakan, terdapat unsur utama komunikasi yang meliputi
sumber, pesan, media, penerima, efek, umpan balik, noise dan konteks atau situasi
komunikasi(Mulyana, 2003: 62-65)
Komunikasi meliputi aktivitas yang sangat luas. Untuk melihat sebuah
kegiatan komunikasi dalam kategori yang lebih spesifik, kita dapat

11
mengategorikan berdasarkan metode komunikasi yang digunakan.Maksud dari
metode di sini adalah adalah rangkaian sistematis yang merujuk pada tata cara
yang sudah dibina berdasarkan rencana yang pasti, mapan dan logis. Kegiatan
komunikasi yang terorganisasi berdasarkan metodenya masing-masing menurut
Effendi (1993: 56) dapat mewujud dalam bentuk:
(1) Jurnalisme
(2) Hubungan Masyarakat (Public Relations)
(3) Periklanan (Advertising)
(4) Propaganda
(5) Perang Urat Syaraf
(6) Lain-lain
Sebagaimana disebutkan sebelumnya, konsep propaganda merupakan
bagian dari kegiatan komunikasi itu sendiri. Propaganda berasal dari bahasa latin
propagare yang artinya cara tukang kebun menyemaikan tunas suatu tanaman ke
sebuah lahan untuk memproduksi tanaman baru yang kelak akan tumbuh sendiri.
Dalam istilah lain bisa disebut pula mengembangkan atau memekarkan (untuk
tunas). Dari sejarahnya, propaganda pada mulanya digunakan untuk
mengembangkan dan memekarkan agama Katholik Roma baik di Italia maupun di
negara-negara lain (Nurudin, 2001: 9).
Sejalan dengan perkembangannya, propaganda tidak hanya digunakan
dalam bidang keagamaan saja, tetapi juga dalam bidang pembangunan, politik,
komersial, pendidikan, dan lain-lain. Brown dan Both dalam Werner J. Severin
dan James W. Tankard dalam Nurudin (2001: 9) menyebutkan bahwa
“Propaganda would include much of advertising, much of political campaigning
and much of public relations”. Sedangkan Lasswell dalam Sunarjo dan
Djoenaesih S. Sunarjo (1982:26) mnyebutkan bahwa propaganda semata-mata
merupakan kontrol opini yang dilakukan melalui simbol-simbol yang
mengandung arti, atau menyampaikan pendapat yang konkrit dan teliti melalui
cerita, rumor, laporan gambar-gambar dan bentuk lain yang bisa digunakan dalam
komunikasi sosial. Barnays dalam Nurudin (2001: 10) mengatakan, Propaganda
modern adalah suatu usaha yang bersifat konsisten dan terus menerus untuk

12
menciptakan atau membentuk peristiwa-peristiwa guna mempengaruhi hubungan
publik terhadap suatu usaha atau kelompok.
Klasifikasi propaganda yang dikenal di kalangan para ahli menurut
(Effendy, 2003: 163) antara lain dikemukakan oleh William E. Dauherty yang
membaginya sebagai berikut:
(1) White propaganda (Propaganda putih)
Jenis propaganda putih adalah kategori propaganda yang diketahui sumbernya,
sehingga disebut pula sebagai propaganda terbuka. Propaganda terang-terangan
dapat diketahui dengan mudah, terutama dari media massa. Secara umum, dalam
propaganda terbuka terjadi counter propaganda atau propaganda balasan. Sebagai
contoh, semasa peperangan Iran –Irak, hampir setiap hari dari surat kabar atau berita
radio dan televise setiap malamnya dapat diperoleh berita mengenai hasil setiap
pertempuran yang masing-masing menyiarkan kemenangannya.
(2) Black propaganda (Propaganda hitam)
Propaganda jenis ini dalam menyajikan informasi propaganda, tidak menunjukkan
sumber yang sebenarnya.propaganda hitam sering pula disebut sebagai covert
propaganda (propaganda terselubung), sehingga tidak diketahui sumber aslinya.
(3) Gray propaganda (Propaganda abu-abu
Aktor yang melancarkan propaganda abu-abu biasanya menghibdar identifikasi, baik
sebagai sumber yang bersahabat, maupun sebagai sumber yang mempunyai sikap
permusuhan. Ahli lain mengatakan propaganda jenis ini tidak lebih dari propaganda
hitam atau propaganda terselubung yang kurang mantap.
Nurudin (2001: 10-11) mengemukakan ciri-ciri dari propaganda yaitu:
(1) Selalu ada pihak yang dengan sengaja melakukan proses penyebaran pesan
untuk mengubah sikap dan perilaku sasaran.
(2) Propaganda dilkukan secara terus-menerus.
(3) Ada proses penyampaia ide, gagasan, kepercayaan, atau bahkan doktrin.
(4) Mempunyai tujuan mengubah pendapat, sikap dan perilaku indivisu atau
kelompok lain.
(5) Propaganda adalah usaha sadar.
(6) Menggunakan media yag tepat untuk mencapai tujuan kongkrit.

13
Perbedaan yang menyolok antara propaganda dan kampanye menurut
Sunarjo (1982: 25) adalah bahwa pada umumnya propaganda bersifat kontinyu
atau berkesinambugan sedangkan kampanye bersifat temporer. Dari ciri pokok
yang membedakan propaganda dan kampanye ini, kemudian dalam penelitian ini
digunakanlah konsep propaganda untuk melihat aktivitas penyampaian pesan
Khilafah Islamiyah yang dilakukan oleh HTI DIY. Hal ini mengingat aktivitas
penyampaian pesan Khilafah Islamiyah bersifat kontinyu dan tidak terbatas pada
kurun waktu tertentu saja. Adapun ketika HTI DIY memiliki sejumlah program
dengan tema tertentu yang hanya berlangsung dalam kurun waktu tertentu, hal itu
dianggap sebagai sebuah aktivitas yang berkelanjutan dari propaganda Khilafah
Islamiyah yang mereka canangkan. Berdasarkan ideologi dan pernyataan para
petinggi Hizbut Tahrir, perjuangan mereka akan terus dilakukan hingga akhirnya
cita-cita penerapan hukum Islam di bawah naungan Khilafah Islamiyahdapat
terwujud. Tentu saja perjuangan ini membutuhkan waktu yang panjang dan
melewati generasi demi generasi. Perjuangan yang panjang tanpa terikat waktu ini
peneliti sebut sebagai praktik propaganda.

b. Perumusan Strategi Komunikasi


Pemilihan kosa kata strategi komunikasi didasari karena aspek
komunikasi yang lebih luas. Komunikasi meliputi aktivitas yang beragam, baik itu
dalam bentuk kampanye, propaganda, iklan, dan lain-lain. Agar penelitian ini
nantinya dapat melihat unsur-unsur penyampaian pesan secara luas, maka
digunakanlah kata komunikasi. Strategi sendiri dapat didefinisikan dengan
merujuk pada pendapat Wilson and Ogden (2004:145) yang menyebutkan, “The
strategy inherently identifies the public, and then addresses what you are trying to
do in support of your objectives and the channel you propose to use to send the
appeal”.Di sini, Wilson and Ogden lebih menekankan pada upaya identifikasi
publik, pemilihan media dan usaha penyampaian pesan. Sedangkan
Effendy(2003:32)menyebutkan bahwa strategi mengandung unsur perencanaan
dan manajemen untuk mencapai suatu tujuan. Effendy menambahkan, dalam
pengertian strategi komunikasi, unsur perencanaan dan manajemen ini

14
dikontekskan pada proses dan tujuan dari komunikasi yang diharapkan.
Pengertian lain menyebutkan, strategi dianggap sebagai keseluruhan keputusan
kondisional tentang tindakan yang akan dijalankan guna mencapai tujuan.
Tujuan sentral dari strategi dalam komunikasi menurut R. Wayne
Pace, Brent D. Peterson, dan M. Dallas Burnet (dalam Effendy, 2003: 32) adalah
to secure understanding, to establish acceptance, dan to motivate action.Tujuan
yang pertama, strategi komunikasi harus dapat memastikan bahwa komunikan
mengerti pesan yang diterimanya. Kedua, setelah komunikan mengerti dan
menerima, maka ia harus dibina sehigga mencapai tujuan yang ketiga, yaitu
memotivasi kegiatan atau aksi.
Konsep kunci terkait strategi komunikasi menurut Arifin (1984: 59-
87) meliputi pengenalan khalayak, penyusunan pesan, penetapan metode
penyampaian pesan, pemilihan media dan peranan komunikator. Sejalan dengan
pendapat tersebut, Sayoga dalam Rais (2005: 17-18) menjelaskan bahwa langkah-
langkah dalam perencanaan komunikasi antara lain pengumpulan data base line
dan need assessment, merumuskan tujuan komunikasi, segmentasi khalayak,
pemilihan media, mendesain dan mengembangkan pesan, keterampilan
komunikator. Sedangkan menurut Effendi (1993: 301), strategi komunikasi harus
dipertautkan dengan komponen-komponen yang merupakan jawaban terhadap
rumus Lasswell terkait siapa komunikator, pesan, media yang digunakan,
komunikan yang dituju, serta efek yang diharapkan.
Dari komponen strategi komunikasi yang dikemukakan oleh sejumlah
sumber di atas, dapat diformulasikan sejumlah unsur pokok strategi
komunikasi.Poin penting yang diugkap di sini nantinya akan peneliti gunakan
sebagai rujukan dasar untuk melihat aspek-aspek strategi komunikasi yang
dijalankan HTI DIY dalam melangsungkan proses komunikasi pesan “Khilafah
Islamiyah”. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam penyusunan strategi
komunikasi kurang lebih dapat dijabarkandalampenjelasan dari berbagai sumber
sebagai berikut:

15
1) Analisis masalah dan penetapan tujuan
Sayoga dalam Rais (2005: 18-19) menyebutkan bahwa untuk
memahami masalah yang dihadapi perlu mengumpulkan data base line dan need
assessment. Data ini merupakan data dasar yang diperlukan sebagai titik tolak
dalam menyusun strategi. Need assessmentsendiri difungsikan sebagai upaya
untuk mengetahui kebutuhan nyata dari khalayak sasaran. Kebutuhan ini
merupakan acuan dalam menetapkan rencana program komunikasi.
Tujuan sendiri merupakan perumusan akan cita-cita dan harapan
yang ingin diraih dari sebuah rangkaian proses komunikasi yang
dijalankan.Ruslan (2007: 99-100) menyebutkan bahwa sebuah tujuan yang baik
adalah tujuan yang realistis. Akan lebih baik ada tujuan jangka panjang dan
jangka pendek. Tujuan ini disesuaikan dengan pertimbangan kuantitas yang ingin
dicapai, alokasi anggaran, serta daftar prioritas yang ditentukan. Sayoga dalam
Rais (2005: 19) menyebutkan bahwa tujuan hendaknya meliputi elemen sebagai
berikut:
• Menggambarkan hasil final pencapaian secara jelas dan tegas
• Spesifik dan persis, harus operasional, tidak utopis
• Menggambarkan perubahan yang dapat diukur dan dapat dilihat
• Menyatakan standar kualitas atau kriteria sebagai patokan untuk mengukur
tingkat keberhasilan
• Menggambarkan titik akhir dari program yang bersangkutan.

2) Mengenal khalayak
Mengenal khalayak penting dilakukan karena menurut Arifin
khalayak dipandang bersifat aktif sehingga tidak hanya dapat dipengaruhi melalui
pesan yang diberikan, tetapi juga dapat mempengaruhi komunikator dengan
argumennya. Dengan mengetahui latarbelakang khalayak, dapat diciptakan
adanya persamaan kepentingan dengan khalayak melalui perencanaan pesan,
metode dan media yang sesuai. Adapun dalam melihat latarbelakang khalayak ini
dapat dipahami melalui kerangka pengalaman dan kerngka referensi mereka.

16
Putra (1999:48) menyebutkan bahwa target khalayak ini pada
dasarnya sudah harus terlihat pada saat membuat pernyataan masalah (problem
statement) atas program yang ingin dijalankan. Sebagai upaya menjangkau secara
lebih khusus dan tepat publik sasaran, maka diperlukan sebuah segmentasi
khalayak yang akan dituju.
Heiptas (dalam Putra, 1999: 49) menawarkan cara penyeleksian
publik sebagai berikut:
• Abaikan general public.
• Buat batasan kategori yang masih luas, seperti kelompok kepentingan.
• Pilih dalam komponen yang lebih khusus untuk kasus yang dihadapi.
• Tentukan prioritas yang lebih diutamakan.
• Kenali kelompok yang disebut sebagai gatekeepers
• Perhatikan tumpang tindih yang terjadi karena sekelompok orang bisa
menjadi anggota kelompok publik yang lain.
Pendekatan lain dikemukakan oleh Boom dan Dozier (dalam Putra,
1999: 48-49) di mana terdapat sembilan pendekatan yang biasanya digunakan
secara kombinasi dalam melakukan segmentasi publik. Adapaun pendekatan
tersebut adalah sebagai berikut:
• Pendekatan geografis
Dalam pendekatan ini publik dilihat berdasarkan lokasi tempat tinggal.
Pendekatan ini penting dalam menentukan strategi media dan alokasi
program berdasarkan kepadatan penduduk.
• Aspek demografis
Dengan pendekatan ini, publik dilihat dari aspek-aspek jenis kelamin, umur,
pendapatan, status perkawinana, pendidikan, dan sebagainya. Biasanya
pendekatan ini dikombinasikan dengan faktor psikografis.
• Faktor psikografis
Melihat publik berdasar faktor psikologis maupun gaya hidup (life style).
• Pendekatan covert power
Publik dilihat dari faktor pengaruh yang mereka miliki terhadap orang lain.

17
• Faktor posisi
Aspek ini berkaitan dengan status profesi yang dimiliki seseorang. Posisi ini
berposisi untuk mempengaruhi oranglain karena pengetahuan dan keahlian
yang mereka miliki.
• Reputasi
Berkaitan dengan siapa yang paling tahu atau paham terhadap sebuah
persoalan.
• Keanggotaan
Keanggotaan publik terhadap berbagai organisasi penting karena biasanya
perilaku individu sering merefleksikan keanggotaan atau afiliasi mereka
dalam berorganisasi.
• Peranan dalam proses pengambilan keputusan
Dalam pembahasan ini, perlu dicermati siapa yang aktif atau memegang
peranan penting dalam pengambilan keputusan sebuah kelompok.
• Perilaku komunikasi publik
Termasuk di dalam pendekatan perilaku komunikasi publik ini adalah tingkat
keaktifan public dalam berkomunikasi, saluran komunikasi yang digunakan
dan aspek lain dalam komunikasi.

18
Diagram 1.1
Pendekatan Segmentasi Khalayak

Geografis • tempat tinggal

• usia
Demografis • jenis kelamin
• status perkawinan

Psikografi
• gaya hidup
s

Covert
Power, • profesi
Posisi, • pengaruh
Reputasi
• dominasi
Prioritas
kelompok

Boom dan Dozier; Heiptas dalam Putra (1999: 48-49)

3) Menyusun pesan
Penyusunan sebuah pesan merupakan faktor penting dalam sebuah
komunikasi. Hal ini mengingat sarana utama yang dipakai untuk merubah
persepsi maupun perilaku orang lain adalah melalui sebuah pesan atau informasi.
Jika tidak dikelola dengan baik, penyusunan pesan dapat tidak sesuai dengan
sasaran sehingga tujuan mencapai komunikasi yang efektif pun tidak dapat
tercapai.
Dalam praktek di lapangan, khalayak banyak ditempa berbagai
informasi dari sejumlah sumber. Untuk itulah, rencana penyusunan pesan menjadi
hal yang patut diperhatikan mengingat pesanlah yang akan menjadi acuan dasar
seseorang untuk memberikan pertimbangan untuk mendukung sebuah aksi
propaganda ataupun tidak. Putra (1999:57) menegaskan, karakter pesan harus
dipertimbangkan sebagai faktor penting dalam mempengaruhi khalayak terhadap
suatu gagasan. Putra menambahkan pendapat McGuire bahwa terdapat bagian dari

19
variabel pesan yang cukup penting untuk diperhatikan. Beberapa di antaranya
adalah:
• Faktor gaya pesan (content style)
Faktor gaya pesan berhubungan dengan bagaimana karakter cara penyajian
pesan kepada komunikan.
• Imbauan pesan (message appeals) yang biasa berupa imbauan rasional dan
semosional (ethos, pathos dan logos)
Imbauan rasional merupakan cara mengajak atau menganjurkan orang lain
untuk melaksanakan sebuah instruksi pesan dengan penguatan cara berfikir
melalui logika atau segala sesuatu yang dapat dinalar secara rasio.
Ethos sendiri dapat diartikan sebagai good sense, good moralcharacter and
goodwill. Etos berkaitan dengan moral, meskipun keduanya tidak seluruhnya
identik (Effendi, 1993: 306)
Pathos dan logos bisa diartikan sebagai simbol-simbol atau nilai-nilai yang
dianggap luhur dan dijadikan sebagai dasar untuk bertindak.
• Pengulangan pesan (message repetetition)
Pesan yang disampaiakan secara berulang kepada sasaran komunikasi akan
lebih mudah diingat daripada yang hanya disampaikan sekali dua kali saja.
Proses pengulangan pesan ini dapat disampaikan secara langsung oleh
komunikator ataupun melalui media-media komunikasi yang digunakan.
• Kesimpulan dalam pesan (implisit dan eksplisit)
Pesan yang memberikan kesimpulan ide pokok yang ingin disampaiakan akan
lebih mudah mengarahkan opini komunikan. Kesimpulan ini dapat disajikan
dengan terang-terangan ataupun secara implisit dalam pemaparan pesan yang
disampaikan.
• Pengorganisasian pesan
Dalam proses pengorganisasian pesan, dapat menggunakan pendekatan from
Attention to Action atau dikenal dengan nama A-A Procedure. Dalam A-A
Procedure ini meliputi unsur-unsur antara lain attenttion (perhatian), interest
(minat), desire (hasrat), decision (keputusan), dan action (kegiatan).
Penjelasan A-A Procedure ini sebagaimana dikemukakan oleh Effendi (1993:

20
305) bahwa dimulainya komunikasi dengan membangkitkan perhatian
merupakan awal sukses komunikasi. Ketika perhatian telah terbangkitkan,
maka hendaknya disusul dengan menumbuhkan minat (interst). Dari sini
dapat menjadi titik tolak bagi timbulnya hasrat (desire) untuk melakukan
kegiatan yang diharapkan. Hasrat yang kuat nantinya akan mendatangkan
keputusan (decision) untuk berujung pada aksi (action).

Wilbur Schramm dalam Arifin (1984: 68) merekomendasikan


syarat untuk keberhasilan pesan adalah sebagai berikut:
• Pesan harus direncanakan dan disampaikan agar menarik perhatian sasaran.
• Pesan harus menggunakan tanda-tanda yang didasarkan pada pengalaman
yang sama antara sumber dan sasaran.
• Pesan harus membangkitkan kebutuhan pribadi sasaran dan menyarankan
cara-cara untuk mencapai kebutuhann tersebut.
• Pesan harus menyarankan suatu jalan untuk memperoleh kebutuhan yang
layak bagi situasi kelompok dalam kondisi yang sadar untuk digerakkan.

Dalam upaya mendesain sebuah pesan, pendekatan lain


dikemukakan oleh Bettinghaus dan Johston (1994) dalam Venus, 2004: 71-78),
yaitu:

• Isi pesan
Unsur-unsur dalam isi pesan di sini terkait dengan materi atau tema,
visualisasi pesan, isi negatif pesan, pendekatan emosional, pendekatan rasa
takut, kreativitas dan humor, serta pendekatan kelompok rujukan.
• Struktur pesan

Aspek pertama yang termasuk dalam kategori struktur pesan antara lain
adalah unsur sisi pesan (message sidedness). Unsur ini melihat apakah pesan
disampaikan dengan hanya menyajikan satu sisi yang mendukung (one sided
message) atau pola dua sisi dengan turut menyajikan kelemahan posisinya
atau kelebihan pihak lain (two sided message). Aspek kedua terkait struktur

21
pesan adalah mengenai susunan penyajian pesan (order of presentation).
Dalam penyajian ini dilihatbagaimana argumentasi dalam pesan ditempatkan,
yaitu apakah di awal, tengah, atau akhir. Kemudian aspek ketiga dari struktur
pesan adalah pernyataan kesimpulan (drawing conclusion). Pernyataan
kesimpulan memperlihatkan apakah pelaku strategi komunikasi perlu
menyajikan kesimpulan pesan secara eksplisit atau membiarkan khalayak
menyimpulkan pesan sendiri (implisit).

Dari penjelasan berbagai sumber sebelumnya, dapat


diformulasikan sebuah cara melihat aspek penyusunan pesan dengan bagan
sebagai berikut:
Diagram 1.2
Strategi Penyusunan Pesan

•materi / tema
Isi •penciptaan
Pesan kebutuhan
•imbauan pesan

•sisi pesan
•gaya pesan
Struktur
•penyajian pesan
Pesan •pernyataan
kesimpulan

Diolah dari: McGuire dalam Putra (1999: 57), Wilbur Schramm dalam Arifin
(1984: 68), Bettinghaus dan Johston dalam Venus (2004: 71-78)

4) Menetapkan metode
Metode sebuah praktek komunikasi sepatutnya disesuaikan dengan
target sasaran yang akan diberikan stimulus. Dengan memperhatikan kebutuhan
khalayak, kita daapt menentukan bagaimana cara yang tepat dan dapat diterima

22
oleh komunikan sehingga pesan yang kita sampaikan dapat memberikan pengaruh
seperti yang kita harapkan.
Arifin (1999: 72-78) menjelaskan bahwa metode penyampaian atau
mempengaruhi dapat dilihat dari dua aspek, yaitu menurut cara pelaksanaannya
dan menurut bentuk isinya. Dari segi pelaksanaanya, metode dapat dibagi menjadi
bentuk metode redudancy (repetition) dan Canalizing. Redudancy merupakan
cara mempengaruhi khalayak dengan jalan mengulang-ulang pesan. Metode
Canalizing sendiri merupakan cara mempengaruhi khalayak dengan
memperhatikan kerangka referensi dan lapangan pengalaman sasaran.
Komunikator menyediakan saluran-saluran tertentu untuk menguasai motif yang
ada pada diri khalayak.
Berdasarkan bentuk isi, komuikasi dilihat dalam titik tekan bentuk
pernyataan atau bentuk pesan dan maksud yang dikandung. Metode dalam
kategori ini dapat dibagi menjadi metode informatif, persuasif, edukatif, dan
kursif. Metode informatif berusaha mempengaruhi khalayak dengan memberikan
penerangan melalui keterangan tertentu. Metode persuasif menggunakan jalan
membujuk dengan titik tekan perasaan atau alam bawah sadar. Sedangkan metode
edukatif lebih bersifat memahamkan khalayak dengan menyajikan fakta atau
pengalaman yang menguatkan pesan. Metode selanjutnya, yaitu kursiif berusaha
menggunakan jalan paksa dalam mempengaruhi khalayak, sehingga selain berisi
pendapat ada pula ancaman di dalamnya.
Berikut diilustrasikan bagan unsur metode penyampaian pesan yang
telah dipaparkan sebelumnya:

23
Diagram 1.3
Metode Penyampaian Pesan

Aspek • repetition
Pelaksanaa
n • canalizing

•informatif
Aspek •persuasif
Bentuk Isi •edukatif
•kursif

(Arifin, 1999: 72-78)

5) Seleksi dan penggunaan media


Selain sebagai implikasi tuntutan zaman yang serba modern, media
difungsikan sebagai pelipat ganda penerima pesan. Saat ini, media komunikasi
memiliki jumlah dan pilihan yang sangat variatif. Untuk itu, pemilihan media
perlu disesuaikan dengan kondisi geografis serta latarbelakang pendidikan,
psikologi, dan lingkungan sasaran yang dituju. Effendy (2003:37) menyebutkan,
untuk mencapai sasaran komunikasi, dapat dipilih salah satu atau gabungan dari
beberapa media. Pemilihan media ini disesuaikan dengan tujuan yang akan
dicapai, pesan yang akan disampaikan, dan teknik yang akan digunakan.
Pernyataan Marshall McLuhan ‘the medium is the message’ kini
telah banyak kita temui praktik pemanfaatanya di lapangan. Media kini tidak
hanya dinilai sebagai sarana pelipatganda pesan. Keberadaa media turut
difungsikan sebagai pesan bahwa media adalah representasi dari eksistensi sebuah
komunikator, baik individu ataupun kelompok. Dengan beragam media yang ada,
pesan yang ditransmisikan pun dapat lebih beragam, menyesuaiakan dengan
karakter dan sasaran media.
Varey dalam Venus (2004: 90) menyatakan bahwa seleksi media
yang digunakan sebagai saluran penyampaian pesan dipengaruhi oleh sembilan
aspek yang menentukan, yaitu jangkauan, tipe khalayak, ukuran khalayak, biaya,

24
tujuan komersialisasi, waktu, keharusan pembelian media, batasan/aturan, dan
aktivitas pesaing.Salah satu upaya untuk mengoptimalkan pesan yang
disampaiakan melalui media, dapat mengaplikasikan konsep media mix atau
bauran media.
Media mix yang didefinisikan Surmanek (1991: 29) sebagai
perujukan istilah pada penggunaan dua atau lebih bentuk media yang berbeda di
dalam suatu rencana iklan, banyak dipraktekkan mengingat setiap media memiliki
jenis, sifat dan karakteristik jangkauan yang berbeda. Jim Surmanek
mengemukakan keuntungan penggunaan media campuran antara lain adalah:
• Untuk menjangkau sasaran yang tidak terjangkau oleh media tertentu.
• Memberikan terpaan tambahan ke dalam media kedua yang tidak begitu
mahal setelah jangkauan yang optimum diperoleh dari media pertama.
• Memperluas keefektifan yang kreatif dari kampanye periklanan, seperti music
di radio atau copy yang panjang dalam media cetak.
• Untuk mencapai sinergisme pengaruh yang ditimbulkan oleh jumlah bagian-
bagian yang lebih besar dari keinginan yang diharapkan dengan semakin
banyak media yang digunakan.

Sayoga dalam Ahmad Rais (2005:27) mengemukakan beberapa hal


yang bisa dijadikan pedoman dalam menyusun kombinasi media tersebut, yaitu:
• Memilih media yang unik atau memeliki kelebihan tertentu yang bisa
mendukung pencapaian tujuan.
• Pilih media yang akrab dengan khalayak dan mudah diakses oleh mereka
• Media yang mudah digunakan untuk mengkoordinir pesan, media yang
melokal.
• Menggunakan media yang dukungan operasionalnya tersedia di daerah
setempat, bahan dapat diproduksi atau dikembangkan di wilayah setempat.
• Kombinasi media yang dapat saling melengkapi dan memantapkan satu sama
lain, tetapi mempunyai kekuatan fungsional utama yang berbeda.

25
6) Peran komunikator
Komunikator memegang andil yang besar dalam mencapai
keefektivan komunikasi. Untuk itulah, seorang komunikator perlu memperhatikan
dengan cermat uraian sebelumnya terkait pengenalan khalayak, penyusunan
pesan, pemilihan metoe serta media apa yang sesuai. Pemilihan komunikator
sendiri perlu didasarkan pada petimbangan-pertimbangan tersebut sehingga lebih
memahami situasi dan kondisi yang akan dihadapi. Pemilihan komunikator yang
sesuai dengan kondisi dan situasi yang ada, dapat mendorong komunikator untuk
mengalahkan kekuatan pengaruh dari pesan yang berasal dari komunikator lain.
Setidaknya terdapat dua faktor utama yang perlu ada pada diri
komunikator ketika ia melancarkan komunikasi (Effendy, 2003: 38-39), yaitu
sebagai berikut.
1) Daya tarik sumber
Seorang komunikator akan berhasil dalam komunikasi apabila
komunikan merasa ada kesamaan antara komunikator dengannya.
2) Kredibilitas sumber
Kepercayaan komunikan kepada komunikator menjadi hal yang perlu
diperhatikan untuk dapat mempengaruhi komunikan sesuai tujuan
komunikasi. Faktor kepercayaan ini banyak bersangkutan dengan
profesi atau keahlian yang dimiliki oleh seorang komunikator.
Sedangkan kredibilitas sumber menurut Arifin (1984: 91) dipengaruhi
oleh:
▪ Kemampuan komunikator berkaitan dengan pesan yang
disampaikan.
▪ Keterampilan menyajikan pesan sesuai dengan situasi yang
berkembang.
▪ Memiliki budi pekerti dan kepribadian yang baik dan disegani oleh
khalayak.
▪ Memiliki keakraban dan hubungan baik dengan khalayak.

26
Berdasarkan kedua faktor tersebut, Effendy menambahkan faktor
empati yang perlu dimiliki oleh seorang komunikator. Seorang komunikator
dituntut memiliki kemampuan untuk memproyeksikan dirinya kepada peranan
orang lain. Penyesuaian metode dan siasat berkomunikasi yang memperhatikan
kondisi sang komunikan adalah penting dilakukan.

F. Kerangka Konsep
Penyatuan konsep agama dan negara, salah satunya yang santer
didengungkan di Indonesia oleh organisasi Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) melalui
wacana Khilafah Islamiyah hingga saat ini masih mengalami pro-kontra. Sebagian
kalangan mendukung terwujudnya penyatuan umat Islam dalam satu negara,
sedang sebagian kelompok yang tidak setuju pun tidak mau kalah untuk
menyuarakan pendapat dan menggalang dukungan agar diterima masyarakat
umum.
PropagandaKhilafah Islamiyah yang dicita-citakan HTI sebagai sebuah
bentuk komunikasi, tentu tidak hanya mengalir begitu saja, tanpa perencanaan dan
strategi. Terlebih jika mengigat akan tujuan besar yang ingin dicapai, yaitu
menyatukan umat muslim di dunia untuk kembali menegakkan aturan Islam
secara menyeluruh. Dalam konteks Indonesia, proses propagandaKhilafah
Islamiyah ini tentumenghadapi tantangan yang cukup besar, mengingat Indonesia
adalah negara yang sangat heterogen. Untuk itulah, diperlukan sebuah strategi
komunikasi yang tersusun secara matang guna mendukung proses propaganda
yang dilakukan kepada masyarakat yang lebih luas. Dalam penelitian ini nantinya,
konsep Khilafah Islamiyah yang akan dijadikan rujukan untuk diteliti adalah
konsep yang diajukan oleh Hizbut Tahrir Indonesia sebagai objek dalam
penelitian ini.
Sebagai upaya untuk mencapai efektivitas penyampaian pesan serta
meraih tujuan-tujuan yang telah dicanangkan, strategi komunikasi menjadi faktor
yang sangat perlu diperhatikan, terutama untuk memaksimalkan penjaringan
massa guna mendukung sebuah isu yang ingin dicapai. Dalam konteks penelitian

27
ini, dalam mengaji strategi komunikasi yang dijalankan HTI DIY akan
menggunakan konsep-konsep kunci yang diringkas dari pemaparan kerangka
pemikiran sebelumnya. Dalam penelitian ini, beberapa hal yang akan diperhatikan
dalam melihat strategi komunikasi Khilafah Islamiyaholeh HTI DIY adalah
sebagai berikut:
1. Analisis masalah dan penetapan tujuan. Sebelum memulai langkah
geraknya, HTI perlu menetapkan apa sesungguhnya masalah yang sedang
dihadapi dan dianggap penting untuk ditindaklanjuti. Kemudian dari sini
akan dirumuskan tujuan yang hendak dicapai. Dari sini dapat pula
ditentukan, adakah tujuan jangka panjang dan jangka pendeknya.
2. Analisis khalayak yang akan menjadi sasaran. Mengingat masyarakat
memiliki latarbelakang sosial, demografis maupun geografis yang
beragam, maka HTI perlu mempertimbangkan kelompok khalayak mana
yang sekiranya lebih mudah diajak untuk mengikuti pemikiran HTI.
Pemilihan khalayak yang dianggap potensial ini akan sangat berpengaruh
terhadap penyusunan strategi komunikasi yang akan dijalankan. Analisis
khalayak dapat dilakukan sdengan mempertimbangkan unsur-unsur
penentua khalayak sebagaimana yang telah diuraiakan dalam kerangka
pemikiran yang mengacu pada Boom dan Dozier; Heiptas dalam Putra
(1999: 48-49) yaitu sebagai berikut:
a. Pendekatan geografis (lokasi tempat tinggal).
b. Aspek demografis (jenis kelamin, umur, pendapatan, status
perkawinan, dll)
c. Faktor psikografis (gaya hidup)
d. Faktor posisi (status profesi yang dimiliki seseorang)
e. Prioritas yang lebih diutamakan.

3. Penyusunan pesan. Pesan yang disusun harus didasarkan pada kebutuhan


dan disesuaikan dengan khalayak sasaran. Tentu saja pesan harus disusun
sedemikian rupa agar dapat mempersuasi dan bersifat menarik. Variabel
pesan yang penting untuk diperhatikan sebagaimana yang diringkas dari

28
McGuire dalam Putra (1999: 57), Wilbur Schramm dalam Arifin (1984:
68), Bettinghaus dan Johston dalam Venus (2004: 71-78) antara lain:
a. Isi Pesan yang meliputi:
- materi / tema
- penciptaan kebutuhan
- imbauan pesan
b. Struktur Pesan yang meliputi:
- sisi pesan
- gaya pesan
- penyajian pesan
- pernyataan kesimpulan
4. Penetapan metode penyampaian pesan. Metode yang sesuai perlu
diperhatikan agar pesan yang disampaikan dapat berjalan dengan efektif.
Sebagaimana yang dikemukakan oleh (Arifin, 1999: 72-78) seperti yang
telah dijabarkan dalam kerangka pemikiran, metode dapat dilihat dari sisi
pelaksanaannya dan isi pesannya. Dari segi pelaksanaanya, metode dapat
dibagi menjadi bentuk metode redudancy (repetition) dan canalizing.
Sedangkan dilihat dari bentuk isi pesannya, metode dapat dikategorikan
menjadi metode informatif, persuasif, edukatif, dan kursif.

5. Pemilihan media. Masing-masing media memiliki karakter dan kelebihan


yang seringkali tidak dimiliki oleh media lain. Untuk itu, penggunaan
media mix dapat menjadi bahan pertimbangan agar upaya penyebarluasan
dan penginternalisasian pesan kepada khalayak lebih masif dan efektif.
Tentu saja hal ini lagi-lagi harus didasarkan pada target khalayak yang
akan dituju. Untuk mengefektifkan penggunaan media, dapat
mempertimbangkan hal-hal berikut:
a. Pemilihan media perlu disesuaikan dengan kondisi geografis serta
latarbelakang pendidikan, psikologi, dan lingkungan sasaran yang
dituju.

29
b. Memilih media yang unik atau memeliki kelebihan tertentu yang bisa
mendukung pencapaian tujuan.
c. Pilih media yang akrab dengan khalayak dan mudah diakses oleh
mereka.
d. Media yang mudah digunakan untuk mengkoordinir pesan, media
yang melokal.
e. Menggunakan media yang dukungan operasionalnya tersedia di
daerah setempat, bahan dapat diproduksi atau dikembangkan di
wilayah setempat.
f. Kombinasi media yang dapat saling melengkapi dan memantapkan
satu sama lain, tetapi mempunyai kekuatan fungsional utama yang
berbeda (media mix).

6. Peranan komunikator. Apabila melihat isu Khilafah Islamiyah yang


dibawa oleh HTI merupakan isu yang masih menuai kontroversi, maka
pemilihan komunikator yang tepat perlu dijadikan pertimbangan yang
serius. Hal ini mengingat kredibilitas komunikator masih menjadi
perhatian bagi sebagian masyarakat Indonesia. Setidaknya terdapat dua
faktor utama yang perlu ada pada diri komunikator ketika ia melancarkan
komunikasi (Effendy, 2003: 38-39), yaitu sebagai berikut:
a. Daya tarik sumber (kesamaan dengan komunikan).
b. Kredibilitas sumber (bersangkutan degan profesi atau keahlian,
kepahaman akan pesan, keterampilan menyajikan pesan, memiliki budi
pekerti, kepribadian yang baik dan disegani oleh khalayak, keakraban
dan hubungan baik dengan khalayak, memiliki faktor empati).

Setelah dianalisis dengan berbagai faktor tersebut, strategi komunikasi


yang telah disusun pun kemudian diimplementasikan ke dalam sejumlah bentuk
perilaku komunikasi. Selanjutnya sejumlah evaluasi difungsikan untuk
memberikan penilaian sejauh mana strategi yang dijalankan dapat berjalan. Proses
evaluasi ini bersifat fleksibel, di mana tidak secara kaku harus dilakukan setelah

30
semua program terlaksana, namun dapat pula dilakukan evaluasi pada saat
program berjalan. Memperhatikan umpan balik dari berbagai pihak sangat
bermanfaat dalam menilai ukuran keberhasilan sebuah strategi yang dijalankan.
Secara singkat, hubungan beberapa komponen dalam strategi komunikasi yang
telah diuraikan dalam kerangka konsep ini dapat digambarkan dalam diagram
sebagai berikut:
Diagram 1.4
Diagram Perumusan Strategi Komunikasi

Analisis
Masalah
&Tujuan

Khalayak
komunikator

Strategi
Komunikasi

Media Pesan

Metode

Sumber: Dioalah dari Arifin (1984: 70-87) dan Sayoga dalam Rais ((2005: 18)

G. Metodologi
1. Lokasi Penelitian
Penelitian ini nantinya akan melihat bagaimana strategi komunikasi HTI
Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Wilayah DIY dipilih dengan pertimbangan
daerah ini dikenal dengan julukan kota pelajar, di mana institusi pendidikan yang
mewujud dalam bentuk universitas banyak tersebar luas di DIY. Sedangkan
apabila mengingat sejarah penyebaran ideologi HTI pada mulanya juga berbasis

31
pada wilayah kampus, yaitu Institut Pertanian Bogor (IPB). Hal ini selaras dengan
karakter Hizbut Tahrir yang menekankan pentingnya ide dan wawasan
(pemahaman konseptual) dalam menciptakan perubahan. Istilah pemahaman
konseptual ini lebih cocok berelasi dengan kaum intelektual yang mengenyam
dunia pendidikan, seperti halya mahasiswa ataupun kelompok pemikir lainnya. Di
sisi lain, di samping sebagai daerah cikal-bakal tumbuhnya organisasi nasional
Muhammadiah, DIY memiliki ciri khas sebagai wilayah yang kental dengan
nuansa kebudayaan. Banyak ritual budaya yang oleh sebagian kalangan dianggap
menyimpang dari ajaran Islam masih banyak dipraktekkan oleh masyarakatnya.
Sejumlah ritual kebudayaan ini bahkan dikuatkan dengan upaya “pelestarian”
yang dilakukan oleh Keraton Kesultanan Yogyakarta, yang tentu saja memiliki
tafsir tersendiri tentang Khilafah Islamiyah dan cara aplikasinya.

2. Metode Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah yang disebutkan sebelumnya, penelitian ini
menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Wirartha (2006:
90) mendefinisikan studi kasus sebagai tipe pendekatan dalam penelitian yang
menelaah suatu kasus secara intensif, mendalam, detail, dan komprehensif. Yin
(2005: 1) meyebutkan, secara umum studi kasus merupakan strategi yang lebih
cocok untuk pertanyaan penelitian yang mecari aspek how atau why. Penelitian
studi kasus juga sesuai degan kondisi apabila peneliti hanya memiliki sedikit
peluang untuk mengontrol peristiwa yang akan diselidiki. Selain itu, Yin
menambahkan bahwa studi kasus lebih sesuai pada penelitian yang fokus pada
masalah kontemporer di dalam konteks kehidupan nyata.
Sesuai dengan pendapat Yin, permasalahan yang diangkat dalam penelitian
ini adalah peristiwa kontemporer di mana Hizbut Tahrir Indonesia dengan
ekspansi wilayah sasaran yang lebih luas berusaha mengomunikasikan konsep
Khilafah Islamiyah di Indonesia pada era pemerintahan yang saat ini
menggunakan sistem demokrasi.Hizbut Tahrir memiliki keunikan dengan
organisasi keislaman lain di Indonesia, di mana Hizbut Tahrir menolak secara
tegas konsep demokrasi dan sistem pemerintahan lain selain Khilafah Islamiyah.

32
Sedangkan apabila kita menilik sejarah perkembangan organisasi Islam di
Indonesia, bisa dikatakan bahwa pada era demokrasilah organisasi Islam ini dapat
berkembang dengan lebih leluasa. Penyampaian ideologi organisasi Islam kini
sifatnya lebih terbuka, baik melalui komunikasi langsung ataupun bermedia.
Termasuk salah satunya adalah Hizbut Tahrir yang mendapatkan ruang gerak
cukup luas ketika era demokrasi berjalan di Indonesia. Sedangkan ketika masa
Orde Baru, organisasi Islam seperti ini cenderung dibatasi dan tidak bisa
menunjukkan eksistensinya dengan leluasa. Dengan penjelasan tersebut, penelitian
dianggap layak diteliti dengan motode studi kasus.Di samping itu, penelitian ini
menarik untuk diangkat mengingat tema tentang penelitian organisasi Islam di
Indonesia tidak banyak diangkat oleh peneliti di bidang Ilmu Komunikasi,
khususnya terkait bagaimana strategi komunikasi yang mereka gunakan untuk
menyebarluaskan ideologinya.
Unit analisis pada penelitian ini adalah strategi komunikasi yang
dijalankan oleh HTI, bukan pada dinamika organisasi yang mewadahi proses
komunikasi. Adapun tipe studi kasus yang digunakan adalah studi kasus
deskriptif. Tipe deskriptif ini lebih menekankan pada upaya pemaparan atau
menggambarkan fenomena yang diteliti. Sedangkan hasil penelitian ini nantinya
hanya berlaku pada kasus yang diselidiki karena memang tidak dimaksudkan
untuk digeneralisasi sehubungan dengan lingkupnya yang sempit. Hal ini sesuai
dengan ciri studi kasus itu sendiri.

3. Teknik Pengumpulan Data


Ada beberapa metode yang dapat digunakan untuk proses pengumpulan
data. Dalam penelitian ini, metode pengumpulan data yang digunakan adalah:
a. Wawancara
Yin (2005: 108) menjelaskan bahwa wawancara merupakan sumber
informasi yang esensial bagi studi kasus. Dalam penelitian ini, metode wawancara
dilakukan terhadap pihak-pihak yang memahami informasi mengenai obyek
penelitian. Tipe wawancara yang akan digunakan adalah tipe open-ended. Yin
menyebutkan dengan tipe open-ended ini peneliti dapat bertanya kepada

33
responden kunci tentang fakta-fakta suatu peristiwa di samping opini mereka
mengenai peristiwa yang ada. Secara lebih spesifik, wawancara akan dilakukan
kepada humas HTI atau pihak yang secara khusus ditunjuk untuk mewakili HTI
sebagai pihak yang memahami benar bagaimana cara yang ditempuh HTI untuk
mengampanyekan isu Khilafah Islamiyah beserta alasan yang dijadikan argumen
untuk menerapkan metode yang ada. Wawancara juga akan dilakukan terhadap
para aktivis HTI yang secara langsung mempraktekkan strategi kampanye di
lapangan. Dengan wawancara kepada aktivis HTI akan didapatkan gambaran
empiris sejauh mana program kampanye dijalankan, serta kendala yang dihadapi.
Dengan wawancara kepada aktivis HTI juga dapat digunakan untuk melihat
bagaimana metode penyampaian pesan yang dijalankan serta sejauh mana aspek
peranan komunikator diperhatikan oleh HTI.

b. Observasi langsung
Untuk mendapatkan data yang lebih komprehensif, peneliti melakukan
pengamatan secara langsung terhadap aktivitas dan perilaku kampanye yang
dilakukan oleh HTI. Observasi akan banyak dilakukan pada aktivitas kampanye
yang dilakukan pada aktivitas diskusi ataupun seminar-seminar yang sering
dilakukan di kampus-kampus di Yogyakarta, ataupun yang secara khusus
diprakarsai oleh DPD I HTI DIY. Hal ini mengingat kampanye HTI banyak
berkutat pada masalah transfer ideologi yang sifatnya kognitif. Bukti observasi ini
nantinya bermanfaat memberikan informasi tambahan sekaligus pembanding atas
data yang diperoleh melalui wawancara.

c. Metode dokumenter
Metode dokumenter adalah metode yang digunakan untuk menelusuri data
historis (Bungin, 2011: 124). Dengan metode ini, peneliti akan mengumpulkan
data dan informasi yang disimpan atau didokumentasikan. Adapun bahan
dokumenter yang dapat menjadi data-data penelitian meliputi: buletin, majalah,
kliping, dokumen, surat-surat, catatan-catatan, arsip, data di server dan flashdisk,
data yang tersimpan di situs web, dan sebagainya. Data yang akan dicari dengan

34
metode dokumenter ini salah satunya adalah untuk mengetahui media apa yang
sering digunakan HTI. Kemudian dari sini akan dianalisis lebih lanjut tentang
bagaimana strategi penyusunan pesan yang biasanya disesuaikan dengan sasaran
khalayak yang akan dibidik.

d. Studi Pustaka
Untuk mendukung dan memperkuat penelitian ini, peneliti mengumpulkan
data-data, teori, pendapat, maupun hasil-hasil penelitian yang tertulis dan
dianggap berkaitan atau relevan dengan penelitian ini. Sumber-sumber tersebut
dapat diperoleh melalui berbagai literatur, baik buku, jurnal, artikel, arsip,
maupun sumber-sumber online yang terpercaya. Dari studi pustaka peneliti dapat
membandingkan hasil penelitian yang diperoleh di lapangan dengan rujukan
informasi yang diperoleh dalam hasil penelitian atau pengamatan para ahli
sebelumnya. Data dari pustaka ini juga berfungsi untuk mendukung hasil
penelitian yang tidak peneliti dapatkan melalui akses wawancara ataupun
observasi langsung.

4. Metode Analisis Data


Setelah pengumpulan dan pemeriksaan data selesai dilakukan, akan
dilakukan tahapan-tahapan analisis data yang meliputi:
a. Penyusunan data dan informasi spesifik mengenai kasus ke dalam urutan
yang logis secara kronologis.
b. Pengategorisasian data dan informasi yang terkumpul berdasarkan
kelompok-kelompok konsep dan aktivitas tertentu.
c. Interpretasi data dan informasi yang terkumpul serta pengkajian penjelasan
hubungan antara data-data dan informasi dengan kasus.
d. Identifikasi pola-pola yang memberi karakteristik terhadap kasus.
e. Pengambilan kesimpulan atas seluruh proses analisis data.

35