Anda di halaman 1dari 14

KEGIATAN PENYULUHAN

KESEHATAN PESANTREN
LAPORAN KEGIATAN

PENYULUHAN KESEHATAN PESANTREN

Nama Kegiatan : Penyuluhan Pesantren

Tempat : Pondok Pesantren Sirojul Athfal, Desa Cibugel, Cisoka, Tangerang

Hari, Tanggal : Senin, 8 Oktober 2018

1. Laporan Kegiatan
A. Deskripsi Kegiatan
Hari Senin, 8 Oktober 2018, kami diberi kesempatan untuk melakukan penyuluha
ke Pondok Pesantren Sirojul Athfal tentang anemia pada remaja putri. Dua hari
sebelumnya, hal ini sudah diinstruksikan oleh pembimbing kami sekaligus kepala
Puskesmas Cisoka, dr. Endah Dwi Putrianti. Kami ditugaskan untuk membantu
program kesehatan remaja Puskesmas Cisoka untuk menjaring remaja putri dengan
anemia dan pemberian tablet tambah darah sebagai usaha dari Puskesmas Cisoka untuk
menurunkan derajat anemia pada remaja putri. Kami diinstruksikan untuk memberikan
penyuluhan tentang anemia dan melakukan pemeriksaan kadar hemoglobin pada
santriwati PP Sirojul Athfal dengan menggunakan pemeriksaan Hb Sahli. Karena
sebelumnya kami tidak pernah melakukan pemeriksaan Hb dengan menggunakan
metode tersebut, Hari Sabtu 6 Oktober 2018, kami dipersilahkan belajar pemeriksaan
tersebut dengan petugas analis di Puskesmas Cisoka.
Kami berangkat menuju PP Sirojul Athfal pukul 09.00. Jarak dari Puskesmas
Cisoka ke PP Sirojul Athfal sekitar 2,5 km. Rencana awalnya kami berangkat pukul
08.45, karena dari pihak Puskesmas Cisoka menjanjikan kami akan datang jam 09.00,
namun karen mempersiapkan peralatan pemeriksaan Hb Sahli, tablet tambah darah,
serta administrasi pencatatan untuk puskesmas, kami berangkat telat. Sesampainya di
PP Sirojul Athfal, kami langsung disambut oleh santriwati yang ditugaskan menjaga
meja penerima tamu di bagian depan pintu gerbang pesantren. Selanjutnya kami
diarahkan ke kantor pesantren untuk bertemu dengan pengasuh PP Sirojul Athfal.
Karena pengasuh PP Sirojul Athfal sedang mengisi pengajian, kami menunggu
beberapa menit. Setelah pengajian selesai, pengasuh PP Sirojul Athfal langsung
menuju kantor dan menemui kami serta pihak Puskesmas Cisoka. Kami
memperkenalkan diri serta menyampaikan maksud tujuan kedatangan kami.
Sebelumnya, pihak Puskesmas Cisoka sudah menghubungi pihak PP Sirojul Athfal
untuk rencana kegiatan hari ini.
Setelah pertemuan tersebut, pengasuh langsung mengintruksikan para santriwati
untuk menuju aula karena akan diadakan penyuluhan dan pengecekan darah. Sambil
menunggu santriwati berkumpul, kami langsung menyiapkan proyektor, laptop, serta
seperangkat pengeras suara untuk penyuluhan.
Sebelum penyuluhan, pihak Puskemas Cisoka membuka kegiatan tersebut dengan
memperkenalkan kami serta menyampaikan kembali maksud kedatangan kami.
Selanjutnya, saya dan teman saya, Mellia Wida Masitha yang ditugaskan untuk
menyampaikan penyuluhan. Sasaran audiens penyuluhan kami yakni santriwati yang
duduk di kelas 1 SMP sampai dengan 3 SMA. Para santriwati terlihat antusias untuk
mendengarkan materi penyuluhan.
Selama penyuluhan saya berusaha agar tidak hanya satu arah kami menyampaikan
materi kepada para santriwati. Beberapa kali saya mencoba menanyakan terlebih
dahulu kepada santriwati, contohnya “Ada yang tau apa itu anemia?” dan pertanyaan-
pertanyaan lain. Selama penyampaian materi para santriwati terlihat fokus, kami juga
menyontohkan beberapa tindakan yang bisa dilakukan untuk mengetahui gejala
anemia, para santiwati pun langsung menerapkan apa yang kami contohkan. Di akhir
sesi, kami berikan kesempatan kepada santriwati untuk bertanya. selanjutnya kami
tutup dengan beberapa pertanyaan untuk mengevaluasi apakah materi yang kami
sampaikan benar-benar dipahami oleh para santriwati.
Setelah penyuluhan, kami langsung mempersiapkan peralatan untuk pemeriksaan
hemoglobin dengan metode Hb Sahli. Kami instruksikan para santriwati untuk berbaris
menjadi 3 baris, dan kami berenam dibagi 3 tempat untuk pemeriksaan Hb Sahli.
Karena pemeriksaan ini cukup lama dan ada beberapa tahap, tiap 2 orang, kami
membagi tugas. Satu orang bertugas untuk mengambil sampel darah dengan pipet
mikro, satu orang bertugas untuk mencampurkan sampel dengan HCN 0,1% dan
aquades serta menginterpretasikan hasil pemeriksaan. Karena pemeriksaan ini cukup
lama dan santriwati yang diperiksa berkisar 90, maka memakan waktu yang cukup
lama.
Metode Hb Sahli cukup sering digunakan sebagai pemeriksaan laboratorium
sederhana di puskesmas. Tujuan dari pemeriksaan Hb Sahli adalah untuk mengetahui
kadar Hb seseorang dalam g/dl. Dalam pemeriksaan Hb Sahli, hemoglobin dalam darah
akan diubah menjadi hematin asam, kemudian perubahan warna yang terjadi
dibandingkan dengan standar warna dalam alat Sahli. Metode Hb Sahli dapat dilakukan
oleh petugas laboratorium maupun petugas puskesmas yang terlatih. Prinsip kerjanya
adalah hemoglobin ditetesi dengan HCl 0,1%, sehingga hemoglobin akan diubah oleh
HCl 0,1% menjadi hematin asam, selanjutnya perubahan warna yang terjadi
dibandingkan dengan standar warna dalam alat Sahli secara visual. Berikut adalah
gambar alat-alat yang diperlukan dalam pemeriksaan Hb Sahli.

Gambar 1 Alat Sahli (A)Tabung Sahli yang berfungsi sebagai tempat melarutkan
campuran HCl dan darah (B) Batang pengaduk yang berfungsi untuk mengaduk
campuran HCl dan darah dalam tabung Sahli (C) Pipet Sahli yang berfungsi untuk
menghisap darah sampai pada garis 20 µl (D) Pipet tetes yang berfungsi untuk
mengambil HCl 2
Selanjutnya, cara kejra pemeriksaan Hb Sahli adalah sebagai berikut:
1. Tabung Sahli diisi dengan larutan HCl ),1% 5 tetes
2. Darah kapiler dihisap dengan menggunakan pipet sahli hingga 20 µl
3. Darah sebanyak 20 µl dimasukkan ke dalam tabun Sahli berisi HCl 0,1% tanpa
menimbulkan gelembung udara
4. Pipet Sahli dibilas dengan cara menghisap dan mengeluarkan HCl dari dalam
pipet sebanyak 3 kali
5. Lihat perubahan warna yang terjadi (hemoglobin diubah menjadi asam
hematin)
6. Asam hematin yang terbentuk diencerkan dengan aquades setetes demi setetes
sambil diaduk dengan pengaduk gelas sampai didapat warna yang sama dengan
warna standar
7. Nilai hemoglobin dibaca di tabung Sahli dari meniskus bawah yang dibentuk
oleh cairan asam hematin di dalam tabung Sahli 2

Gambar 2 Cara kerja pemeriksaan Hb Sahli 2


Setelah dilakukan pemeriksaan Hb Sahli, santriwati diarahkan ke petugas
Puskesmas Cisoka untuk diberikan tablet tambah darah serta diedukasi untuk aturan
minumnya. Selama pemeriksaan, respon santriwati cukup antusias untuk diperiksa,
namun ada beberapa santriwati yang takut sampai menagis ketakutan, sehingga kami
perlu sedikit membujuk agar tetap mau diperiksa. Kami selesai melakukan
pemeriksaan pada seluruh santriwati sekitar pukul 13.30.
Setelah menyelesaikan pemeriksaan, kami membereskan seluruh peralatan yang
telah digunakan. Kami tidak sempat mengadakan sesi foto bersama dengan para
santriwati, dikarenakan mereka harus melanjutkan kegiatan pesantrenya. Setelah
selesai membereskan peralatan, kami berbincang kembali dengan pengasuh pesantren
mengenai beberapa masalah kesehatan santri di PP Sirojul Athfal. Setelah itu, kami
langsung berpamitan kembali ke Puskesmas Cisoka.

2. Refleksi Kegiatan
Refleksikan perbedaan antara teori dengan praktek yang dilakukan:
Menurut hasil Riskesdas tahun 2013, kejadian anemia tertinggi pada balita, yakni
28,1 % pada kelompok umur 12 – 59 bulan. Selanjutnya cenderung menurun pada
kelompok anak sekolah (5 – 14 tahun) dan dewasa muda (15 – 24 tahun), yakni masing-
masing 26,4% dan 18,4%. Dari hasil pemeriksaan yang kami dilakukan pada santriwati PP
Sirojul Athfal, dari seluruh santriwati yang diperiksa (umur 11-17 tahun), 54% didapatkan
anemia. Hasil tersebut berbeda cukup signifikan dengan kejadian anemia menurut hasil
riskesdas pada rentang umur 5 – 14 tahun dan 15 – 24 tahun, yakni 26,4% dan 18,4$. Dari
hasil tersebut, salah satu faktor yang kami duga adalah karena pesantren ini adalah
pesantren tanpa biaya dan diperuntukkan untuk anak-anak dari keluarga yang kurang
mampu. Sehingga dimungkinkan asupan nutrisi zat besi kurang. Selain itu, kami menduga
karena pemeriksaan yang dilakukan menggunakan metode Hb Sahli yang cukup subjektif
karena interpretasinya menggunakan mata dengan cara menyamakan warna sampel darah
yang dicampur dengan HCN 0,1% dan aquades sampai warnanya sama dengan warna di
indikator yang diletakkan di samping kanan-kiri tabung pengukurannya.
Hal yang menurut saya sudah dilakukan dengan baik:
Pemilihan materi yang kami sampaikan dirasa sudah sesuai dengan kebutuhan
masalah kesehatan pada santriwati PP Sirojul Athfal. Hal itu terbukti dengan tingginya
angka anemia pada santriwati PP Sirojul Athfal, yakni mencapai 54 %. Karena materi ini
dirasa penting bagi santriwati PP Sirojul Athfal, oleh karena itu, selama penyuluhan, kami
mengharapkan santriwati antusias dan dapat fokus dengan materi yang kami sampaikan.
Supaya materi yang kami sampaikan bisa diterima dengan baik oleh para santriwati, kami
berinisiatif membawa suasana penyuluhan ke dalam suasana diskusi, agar santriwati tetap
antusias dan fokus serta tidak mengantuk.
Kami mencoba dengan cara melemparkan pertanyaan-pertanyaan kepada para
santriwati sejauh mana mereka mengetahui anemia, pernahkan para santriwati mengalami
gejala-gejala anemia seperti yang dijelaskan, serta beberapa pertanyaan lain mengenai
pengetahuan tentang anemia, pencegahan serta penanggulangannya.
Setelah penyampaian materi selesai, kami juga memberi kesempatan para
santriwati untuk bertanya. Selain untuk mengevaluasi kefokusan para santriwati,
memberikan kesempatan bertanya juga diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan
tentang anemia yang mungkin belum disampaikan oleh kami. Setelah sesi tanya jawab,
kami mencoba mengevaluasi apakah materi yang kami sampaikan benar-benar dipahami
oleh santriwati. Kami menunjuk beberapa santriwati untuk menjawab beberapa pertanyaan
seperti, apa definisi anemia, berapa batas nilai normal Hb, kenapa anemia penting dipahami
bagi remaja putri, serta bagaimana pencegahan dan penanganan anemia dari segi makanan
sehari-hari. Dan dari seluruh pertanyaan yang kami lemparkan untuk mengeveluasi, hampir
seluruhnya dapat dijawab dengan tepat.

Tindakan yang saya rasakan masih kurang tepat:


Hal yang pertama harus dievaluasi dalam kegiatan ini adalah mengenai ketepatan
waktu. Dari pihak Puskesmas Cisoka awalnya menjanjikan dilaksanakan kegiatan
penyuluhan pukul 09.00, namun karena alasan persiapan alat-alat, kami pun telat kurang
lebih 15 menit untuk sampai di PP Sirojul Athfal. Hal ini ditakutkan akan menggganggu
jadwal kegiatan harian santri PP Sirojul Athfal yang sudah direncanakan dengan adanya
kegiatan penyuluhan dan pemeriksaan Hb ini.
Selain itu, dalam kegiatan ini, kami terkesan tidak melakukan tahapan-tahapan
yang seharusnya dilakukan untuk mengintervensi sebuah komunitas. Seharusnya, hal yang
pertama kali dilakukan adalah mengidentifikasi masalah kesehatan di komunitas tersebut.
Namun, karena kegiatan ini langsung diinstruksikan langsung oleh kepala Puskesmas,
maka kami langsung menuruti, karena sisi positifnya, kami tidak perlu memakan banyak
waktu lagi untuk melakukan kunjungan dalam rangka mengidentifikasi masalah kesehatan
di PP Sirojul Athfal. Dan saya sempat bertanya pada koordinator program remaja
Puskesmas Cisoka yang saat itu juga ikut mendampingi kami dalam kegiatan tersebut,
beliau menyampaikan bahwa, pesantren ini sudah pernah dikunjungi oleh Dinkes
Kabupaten Tangerang, dan dari kunjungan tersebut, Dinkes Kabupaten Tangerang
menginstruksikan Puskesmas Cisoka untuk melakukan pemeriksaan anemia pada santri-
santri PP Sirojul Athfal, salah satunya karena melihat santri-santri PP Sirojul Athfal
merupakan kalangan ekonomi bawah. Karena hal itu, kami langsung melakukan intervensi
berupa penyuluhan dan pemeriksaan Hb serta pemberian tablet tambah darah tanpa
melakukan identifikasi terlebih dahulu masalah kesehatan pada PP Sirojul Athfal.

Hal yang saya pelajari untuk perbaikan kedepannya


Sebagai calon dokter umum, yang nantinya lapangan pekerjaan saya adalah fasilitas
kesehatan primer, salah satunya puskesmas, saya merasa perlu mempelajari pemeriksaan
laboratorium sederhana yang biasa dikerjaan di puskesmas karena keterbatasan fasilitas.
Contoh pada kegiatan kali ini adalah pemeriksaan metode Hb Sahli, yang seingat saya dulu
tidak diajarkan saat preklinik. Karena faktanya, menurut data RIFASKES 2011, secara
nasional presentase puskesmas yang memiliki alat pemeriksaan Hb Sahli adalah 46,3%.3
Dari data tersebut, saya rasa dokter umum juga perlu diajarkan mengenai beberapa
pemeriksaan laboratorium sederhana yang ada di puskesmas.
Selain itu, saya juga mengamati, kepala puskesmas seringkali adalah seorang
dokter. Sehingga dalam kesehariannya, dokter yang menjadi kepala puskesmas akan lebih
banyak melakukan kegiatan yang bersifat administratif dibanding pelayanan klinis. Dalam
kapasitas dokter sabagai kepala puskesmas, diharapkan dokter tersebut memiliki
kemampuan maupun keilmuan tentang hal-hal yang menyangkut perencaan intervensi
pada komunitas. Oleh karena itu, saya merasa, calon dokter umum juga harus belajar tahap-
tahap intervensi komunitas. Tidak hanya belajar teori, namun juga belajar dari praktek dan
pengalaman di masyaraat. Dan saya merasa masih perlu mempelajari kembali teknis-teknis
mengidentifikasi masalah pada sebuah komunitas, analisis permasalahan serta planning
action yang akan dilakukan beserta target-target yang harus dicapai sampai tahan
evaluasinya.

Hal yang saya pelajari terkait dengan nilai profesionalisme

Dalam “Five Stars Docter”, seorang dokter juga harus mampu berperan sebagai
communicator. Sebagai seorang communicator, diharapkan dokter memiliki kemampuan
dasar berkomunikasi yang baik sehingga dalam penyampaian edukasi ataupun pesan
kesehatan kepada pasien atau sekelompok sasaran tertentu dapat dimengerti dengan baik.
Penyampaian pesan kesehatan dapat dilakukan salah satunya dengan penyuluhan sebab itu
seharusnya dokter sudah mengetahui cara penggunaan bahasa yang sederhana sesuai
dengan bahasa sehari-hari. Selain itu sebagai dokter muslim, dari pandangan islam seorang
muslim harus menyampaikan hal-hal yang bersifat kebaikan sama halnya seperti
berdakwah. Berdakwah yang di maksudkan termasuk didalamnya penyuluhan mengenai
kebersihan dan kesehatan. Hal ini sesuai dengan firman Allah :

“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan,
menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar ; merekalah orang-orang
yang beruntung.” (Q.S. Ali Imran [3]: 104).4
DAFTAR PUSTAKA
1. Badan penelitian dan pengembangan Kesehatan, Departemen Kesehatan RI. Riset
Kesehatan Dasar (Riskesdas), 2013.
2. Faatih M, dkk. Penggunaan Alat Pengukur Hemoglobin di Puseksmas, Polindes, dan
Pustu. Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesehatan, vol. 1. No 1,
Agustus. 2017
3. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kemenkes RI. Laporan Riset Fasilitas
Kesehatan (RIFAKES) 2011. Jakarta: 2012
4. Al-Qur’an dan Terjemahannya, Departemen Agama RI. Jakarta, 2012
LAMPIRAN DOKUMENTASI KEGIATAN

Dokumentasi Penyuluhan Anemia Pada Remaja Putri


Dokumentasi Pemeriksaan Hb Sahli pada Santriwati PP Sirojul Athfal
Dokumentasi Hasil Pemeriksaan Hb Sahli pada Santriwati PP Sirojul Athfal
Feedback dari pembimbing kampus/Puskesmas:
 Perhatikan struktur kalimat
 Satu paragraf terdiri dari satu pokok pikiran
 Pelajari kembali prinsip kerja pengukuran Hb dengan metode Hb Sahli

Nama Mahasiswa TTD


Abdir Rohman Al-Hamdany
.......................................
Nama Pembimbing dr. Aisyah, Sp PK TTD
(Pembimbing Kampus) ...........................................
dr. Endah Dwi Putrianti TTD
(Pembimbing Puskesmas) ...........................................