Anda di halaman 1dari 26

PERTUKARAN GAS PADA MOTOR 4 LANGKAH,

PEMBILASAN PADA MOTOR 4 LANGKAH, SUPERCHARGING

Disusun oleh:

NAMA :YUDA ANDI PRAYOGO


NRP : 1121600041
MATA KULIAH : MOTOR BAKAR TORAK
DOSEN : MATSUANI,S.Pd, M.Pd

PROGRAM STUDI TEKNIK MESIN


INSTITUT TEKNOLOGI INDONESIA
SERPONG
2018
KATA PENGANTAR

Dengan memanjatkan puji syukur ke hadirat Tuhan YME dan dengan rahmat dan
karunianya, makalah motor bakar ini dapat kami buat sebagai tugas kami.Sebagai bahan
pembelajaran kami dengan harapan dapat di terima dan di pahami secara bersama.

Makalah ini diajukan guna memenuhi tugas mata kuliah motor bakar torak. Kami
mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu sehingga makalah ini dapat
diselesaikan tepat pada waktunya. Makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu kami
mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi kesempurnaan makalah ini.

Akhirnya kami dengan kerendahan hati meminta maaf jika terdapat kesalahan dalam
penulisan atau penguraian MAKALAH kami Dengan Harapan dapat di terima oleh bapak dan
dapat di jadikan sebagai acuan dalam proses pembelajaran kami.

Serpong, 10 oktober 2018

Yuda Andi Prayogo


DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR......................................................................................................................................... i
DAFTAR ISI ................................................................................................................................................ ii
BAB I PENDAHULUAN................................................................................................................................... 1
1.1 Latar Belakang Masalah........................................................................................................... 1
1.2 TUJUAN…………………………………………………………………………………………………………………………………2

BAB II PEMBAHASAN ................................................................................................................................... 3


2.1 Prinsip Kerja Motor Diesel 4 Langkah…………………………………………………..3
2.2. Klasifikasi Motor Diesel Menurut Posisi Silindernya ........................................................ 4
2.3. Klasifikasi Motor Diesel Menurut Ruang Bakar........…………………………………5
2.2.1. Aliran udara dan gas buang …….……………………………………………………6
2.2.2 Pembilasan…………………………………………………………………………...7
2.2.3 RUMUS……………………………………………………………………….….…...8
2.3.1 CONTOH SOAL……………………………………………………………………………...9
2.3.2 JENIS PEMBILASAN……………………………………………………………………….10
2.3.3 PEMBILASAN MELINTANG………………………………………………………………11
2.3.4 PEMBILASAN MEMBALIK………………………………………………………………..12
2.3.5 PEMBILASAN MEMUTAR…………………………………………………………………13
BAB III PENUTUP………………………………………………………………………………14
3.1 KESIMPULAN…………………………………………………………………….….15
3.2 SARAN………………………………………………………………………………..15
DAFTAR PUSTAKA…………………………………………………………………………......16
BAB I
Pendahuluan

1.1 Latar Belakang Masalah


Sebagai efek dari semakin ketatnya peraturan terhadap pencemaran lingkungan hidup,
mesin diesel menjadi salah satu pilihan dalam pemakaian sistem internal-combustion engine.
Internalcombustion engine ini kita temui dalam sistem mobil, kapal, alat pembangkit listrik
portable, bus, traktor dan lain-lain. Salah satu keunggulan mesin diesel adalah sistem
pembakarannya menggunakan Compression-ignition ( pembakaran-tekan), yang tidak
memerlukan busi. Pada Motor Bakar Diesel salah satu system terpenting adalah system aliran
Bahan Bakar

Sistem bahan bakar adalah proses mengalirnya bahan bakar dari dalam tangki hingga
masuk kedalam system. Oleh karena itu perlunya pemahaman tentang jalur aliran bahan bakar
tersebut dan cara kerja dari komponen yang ada Pada Sistem bahan bakar juga terdapat beberapa
komponen-komponen penting yang menunjang kelancaran aliran bahan bakar.

1.2 TUJUAN

Apabila terdapat masalah pada sistemnya maka dapat mengganggu kerja dari mesin, maka
penting juga untuk dapat menganalisis, memperbaiki dan melakukan pengujian terhadap proses
kerja dari masing-masing komponen sistem bahan bakar motor diesel terbagi menjadi tiga yaitu
yang pertama yaitu sistem injeksion in-line,yang kedua sistem injeksion distributor,dan yang
terakhir yaitu sistem yang terbaru yaitu dengan sistem common-rail yaitu menggunkan sistem
Elektronik Control Unit (ECU) sistem ini banyak digunakan pada engine diesel yang baru karna
sistem elektronik yang lebih menjamin keakuratan untuk mendapatkan daya mesin yang
optimum,pemakain bahan bakar yang hemat serta tingkat emisi yang rendah. Pengaturan
injeksion yang sangat akurat menjamin proses pembakaran lebih sempurna dengan tingkat emisi
yang lebih rendah dibandingkan sistem konvensional. Common rail layaknya seperti konsep
hidup.
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Prinsip Kerja Motor Diesel 4 Langkah


Siklus 4 langkah pada dasarnya adalah piston melakukan 4 kali langkah dan crankshaft
melakukan 2 kali langkah untuk menghasilkan satu kali tenaga atau satu kali pembakaran. Untuk
lebih jelasnya, gambar berikut adalah prinsip kerja motor diesel 4 langkah.

1. Langkah Hisap

Pada langkah hisap, udara dimasukkan ke dalam silinder. Piston membentuk kevakuman
didalam silinder seperti pada mesin bensin, piston bergerak kebawah dari TMA menuju TMB.
Terjadinya vakum ini menyebabkan katup hisap terbuka dan memungkinkan udara segar masuk
kedalam silinder. Sedangkan katup buang menutup selama melakukan langkah hisap.

2. Langkah Kompresi

Pada langkah kompresi, piston bergerak dari TMB menuju TMA. Pada saat ini kedua katup
hisap dan buang tertutup. Udara yang dihisap selama langkah hisap kemudian ditekan pada 8º-
12º sebelum piston mencapai titik TMA bahan bakar dikabutkan maka terjadilah pembakaran.

3. Langkah Kerja

Energi pembakaran mengekspansikan dengan cepat sehingga piston terdorong kebawah.


Gaya yang mendorong piston kebawah diteruskan ke connecting rod dan poros engkol dirubah
menjadi gerak putar untuk memberi tenaga pada mesin.

4. Langkah Buang

Pada saat piston menuju TMB, katup buang terbuka dan gas sisa hasil pembakaran
dikeluarkan melalui katup buang pada saat piston bergerak ke atas lagi. Gas akan terbuang habis
pada saat piston mencapai TMA.
2.2. Klasifikasi Motor Diesel Menurut Posisi Silindernya
Cara pengaturan silinder motor juga sering digunakan untuk mengklasifikasikan motor
diesel. Yang paling popular adalah motor diesel tegak atau vertikal, dimana silinder motor diatur
dalam satu baris silinder motor. Jenis lain adalah dimana silinder motor dibuat baris yang
berseberangan bertolak belakang. Pada motor ini mungkin semua silinder motor dibuat pada satu
sisi poros engkol. Dengan jumlah silinder yang sama pada masing-masing sisi dikenal motor
datar bersilinder bertolak belakang atau pun motor bersilinder V. Motor diesel dengan
pengaturan baris membentuk V perlu dijelaskan besarnya sudut V untuk baris silinder yang
bervariasi seperti : 45, 50, 55, 60 atau 90 derajat. Sudut V bergantung kepada jumlah silinder dan
desain poros engkol.

2.3. Klasifikasi Motor Diesel Menurut Ruang Bakar

Pada umumnya ada 2 macam ruang bakar motor diesel yaitu: ruang bakar injeksi
langsung (direct injectioncombustion chamber) dan ruang bakar tidak langsung (in-direct
injection combustion chamber).
2.2.1 Aliran udara dan gas buang
Udara masuk kedalam silinder dapat dijelaskan sbb :

a. Untuk musim - musim kecil dan jenis 4 tak, udara masuk kedalam silinder hanya oleh
perantaraan toraknya sendiri saat langkah pemasukan, dimana toraknya bergerak kebawah.
Udara yang dihisap oleh torak mempunyai tekanan lebih kecil dari pada tekanan udara luar (
tekanan udara luar = 1 atm )

b. Untuk motor – motor kecil jenis 2 tak, udara masuk kedalam silinder dengan perantaraan alas
torak dan bak engkol sebagai pompa pembilas yang akhir ini disebut pembilasan bak engkol (
carter spoeling ).

c. Unutk motor – motor ukuran sedang jenis 4 tak dengan medium speed atau high speed
menggunakan perantaraan turbo charged untuk memasukkan udara dalam silinder.

d. Untuk motor – motor ukuran besar jenis 2 tak, selain menggunakan pompa bilas tersendiri,
digabung juga dengan turbo akarging untuk memasukkan udara dalam silinder.

2.2.2 Pembilasan
Pembuangan gas bebas ( gas buang ) dari silinder setiap kali sesudah pembakaran, dan
menggantikannya dengan udara baru adalah bagian yang penting dari proses 2 tak. Bagian ini
desebut pembilasan, dan biasanya diselenggarakan selama 10 % terakhir dari langkah usaha dan
10 % pertama dari langkah kompresi.

Yang dimaksud dengan pembilasan suatu proses pengeluaran gas buang dari dalam silinder oleh
gesekan udara baru yang masuk kedalam silinder. Untuk mengeluarkan gas buang dari silinder
dan mengisinya lagi dengan udara baru, mula – mula dipakai klep – klep yang ditempatkan pada
kepala silinder ( cylinder head ).

Kerugian cara ini adalah saat langkah buang poros engkol naik, ternyata klep – klep tadi tidak
cukup memberi keluasan bagi gas – gas buang untuk keluar dari dalam silinder. Karenanya
kecepatan gas buang menjadi terlampau tinggi, hingga mengakibatkan gesekan – gesekan atau
hambatan – hambatan besar yang berarti tenaga motor berkurang. Juga karena kecepatan udara
baru yang masuk kedalam silinder akan tercampur dengan gas buang, mengakibatkan pengisian
silinder tidak dapat dikatakan bersih.

Pembuatan pintu – pintu bilas pada dinding silinder adalah suatu upaya perbaikan, walaupun
disana sini masih ada juga kerugiannya. Pada motor – motor yang memakai pintu – pintu
pembilas pada dinding silinder, toraknya harus dibuat panjang, hingga pembukaan dan
penutupan pintu – pintu tersebut dapat diatur dengan baik oleh toraknya sendiri.

Tinggi pintu – pintu buang adalah 20 % dari langkah torak, sedang tinggi pintu bilas adalah 10 %
dari langkah torak. Berhubung dengan ini, maka kompresinya baru mulai, sesudah 20 % dari
permulaan langkah, hingga pada akhir langkah dalam silinder terdapat udara yang 20 %
berkurang, jika dibandingkan dengan motor 4 takt dengan volume langkah yang sama. Hal ini
disebabkan karena pada motor 4 takt tersedia satu langkah penuh untuk kompresinya, seperti
telah diketahui bahwa banyaknya udara dalam ruang bakar akan menentukan banyaknya bahan
bakar yang dapat dibakar, sedangkan pembakaran ini akhirnya akan berpengaruh terhadap tenaga
motor yang diberikan pada tiap-tiap langkah usaha.

Dengan demikian maka motor 4 takt memberikan tenaga 100 % - 20 % = 80 % atau 0,


8 lebih besar dari pada motor 4 takt pada ukuran – ukuran yang sama atau karena pada putaran
poros engkol yang sama, jumlah proses usaha motor 2 takt dua kali jumlah proses usaha motor 4
takt, maka sesungguhnya motor 2 takt dapat memberikan tenaga 2 x 0, 8 = 1, 6 sebesar tenaga
motor 4 takt pada ukuran – ukuran yang sama. Untuk memperoleh pembilasan yang sempurna
umumnya dipakai pompa bilas torak atau berupa

rotasi yang digerakkan oleh poros engkol motornya atau digerakkan oleh motor listrik sendiri.
Dengan menggunakan pompa ini udara pembilas dapat dimanfaatkan hingga 1,1 – 1, 4 atm.
Pembilasan tersebut terjadi saat lubang buang dan lubang bilas sama – sama terbuka. Lubang –
lubang tersebut diatur oleh gerakan toraknya sendiri. Saat kedua lubang – lubang tersebut sama –
sama terbuka, disaat itulah terjadi pembilasan, dimana udara baru mendorong gas buang ke luar
silinder. Setelah lubang bilas tertutup, terjadi proses kompresi udara dalam silinder hingga 40
atm, sedangkan suhu udara kompresi 6000 C. Sesaat sebelum torak mencapai TMA, bahan
bakar disemprotkan kedalam silinder dalam bentuk kabut melalui pengabut tekan, hal ini akan
menimbulkan pembakaran dalam silinder.
Pada motor 4 takt, terjadi juga pembilasan yaitu saat katub masuk dan katub buang terbuka
bersama – sama ( over lapping ), dimana udra baru mendorong gas buang keluar silinder.
Pembilasan pada motor 4 takt terjadi cepat sekali (pembilasan 2 takt lebih lama ), karena
ruang silinder motor 4 takt lebih bersih dari pada silinder 2 takt atau karena pembukaan dan
penutupan katub – katub masuk dan buang tidak diatur oleh torak, tetapi diatur oleh camshaft,
sehingga motor 4 takt lebih bersih dibandingkan silinder motor 2 takt. Pembilasan pada motor 4
takt, diutamakan dengan tujuan untuk membersihkan ruang pembakaran dan untuk pendingin
pembilasan dengan menggunakan pompa pembilas disebut SUPER CHARGING. Pada motor –
motor yang modern super charging ini disempurnakan dengan memakai senuah turbin gas buang
yang dipergunakan menggerakkan blower untuk menghasilkan udara yang tersebut akhir ini
disebut TURBO CHARGING.

Pada motor – motor 4 takt dan 2 takt dewasa ini selalu dilengkapi dengan SUPER CHARGING
atau TURBO CHARGING yang menghasilkan udara yang diperlukan untuk pembakaran yang
sempurna. Dengan demikian Rendemen volumentris motor – motor tersebut menjadi lebih besar.
Yang dimaksud dengan Rendemen volumentris ialah perbandingan volume udara yang hisap
dengan volume langkah atau

V = √S Sedangkan

VS + VC Dimana : VS = volume langkah

 = VS + VC VE = volume akhir kompresi

VC = perbandingan kompresi


V = Rendemen volumetris
Pengisian udara tanpa Supercharging disebut pengisian isap, sedang pengisian
udara dengan Supercharging disebut pengisian tekan ( pressure charging)

Pengisian tekan lebih menguntungkan dari pada pengisian isap, hal ini dapat dijelaskan sbb

1 m3 udara dari 150 C bertekanan 0, 9 atm, beratnya = 1, 07 kg.

1 m3 udara dari 150 C bertekanan 1, 3 atm, beratnya = 1, 55 kg.

Untuk motor yang volume silindernya 1 m3, maka dengan pengisian isap, silinder
ini dapat diisi dengan 1, 07 kg udara, sedangkan dengan pengisian tekan dapat diisi 1, 55
kg udara. Jadi dengan pengisian tekan silinder tadi dapat diisi udara  45 % lebih berat dari
pada pengisian isap, yang mengakibatkan pada pengisian tekan bahan bakar dapat dibakar
45 % lebih banyak dan tenaga motor menjadi 45 % lebih besar dari pada pengisian isap.
2.3.1 Rumus Waktu pembilasan

Bila pembilasan berlangsung selama  0 lingkaran engkol dan putaran motor adalah n,
maka waktu pembilasan adalah t, sehingga :

t =  6n

t = adalah waktu pembilasan dalam detik



 = sudut pembilasan dalam derajat
n = RPM

Contoh soal :

Putaran sebuah motor = 100 RPM, pintu bilas terbuka dan tertutup, bila poros engkol
berputar 300 sebelum dan sesudah TMB. Hitunglah waktu pembilasannya.

Penyelesaian

 = 300 + 300 = 600

t = detik
n 6.100 600 10
2.3.2 Jenis – Jenis Pembilasan

Jenis – jenis pembilasan adalah tergantung dari arah jalannya udara yang mendesak gas
buang dari dalam silinder.

Jenis – jenis pembilasan tersebut adalah :

a. Pembilasan memanjang ( uniflow scavenging )

b. Pembilasan melintang ( cress scavenging )

c. Pembilasan membalik ( loop scavenging )

d. Pembilasan memutar / melingkar ( round scavenging )

a. Pembilasan memanjang

Pembilasan memanjang adalah pembilasan dimana jalannya udara bilas memanjang


silinder untuk mendorong gas, diperlihatkan gambar pembilasan memanjang.

Udara bilas masuk dalam silinder dapat melalui :

1) Lubang – lubang bilas dipasang pada bagian bawah silinder, sedangkan gas buang
dibuang melalui katub buang yang dipasang dibagian atas silinder.

Contohnya : Werk spoor, Balnes, Fiat, Go to verkam dan Harland.


Katub masuk dipasang dibagian katub silinder, sedang gas buang melalui lubang

– lubang buang yang dipasang dibawah silinder.


Gambar2.1
2 Lubang bilas dipasang dibawah silinder, sedang lubang buang dipasang diatas silinder

Gambar 2.2
Keuntungan pembilasan memanjang
1) Pembilasan lebih sempurna, karena tidak terjadi sudut – sudut mati. ( sudut mati = bagian
silinder yang tidak dialiri udara bilas)
2) Volume udara bilas lebih banyak, karena pembukaan dan penutupan katub bilas dan buang
secara bersamaan
3) Rendemen pembilasan lebih baik
4) Kecepatan torak rata – rata besar.

Kerugiannya
1) Dibawah lubang bilas, pembilasan kurang sempurna.
2) Konstruksinya lebih berat, karena adanya katub buang dan penggerakny, jadi harganya mahal.
3) Katub buang akan bocor
Gambar 2.3

2.3.3. Pembilasan melintang


Pembilasan melintang ialah pembilasan dimana jalannya udara bilas melintang silinder
untuk mendorong gas. Lubang – lubang bilas dan buang dipasang saling berhadapan dibagian
bawah silinder, bagian dasar lubang sama tinggi, sedang bagian atasnya tidak sama tinggi atau
lubang buang lebih tinggi dari pada lubang bilas.
Keuntungannya
- Konstruksi lebih sederhana, karena tidak ada katub buang
Kerugiannya
1) Terjadi kerugian singkat, karena lubang bilas dan buang saling berhadapan.
2) Volume udara kompresi berkurang, karena lubang buang tertutup terlebih dahulu dari pada
lubang bilas.
2.3.4 Pembilasan membalik
Pembilasan membalik ialah pembilasan dimana jalannya udara bilas membalik kearah
masuknya udara bilas untuk mendorong gas buang. Lubang – lubang bilas dan buang dipasang
pada satu sisi silinder, dimana letak posisi lubang bilas dibawah, sedang lubang buang setelah
atasnya.
Keuntungan
- Konstruksi sederhana, karena tidak ada katub buang.
Kerugian
1) Volume udara kompresi berkurang.
2) Pembilasan kurang sempurna

2.3.5 Pembilasan memutar / melingkar


Pembilasan memutar ialah pembilasan dimana jalannya udara bilas memutar didalam
silinder untuk mendorong gas buang. Lubang – lubang bilas dan buang dipasang berhadapan
disisi silinder dengan penuntun saluran udara bilas yang dibuat bersudut dengan maksud agar
udara bilas memutar pada dinding silinder, sehingga menimbulkan arah gerakan memutar. Letak
lubang buang lebih tinggi dari pada lubang masuk ( bilas ), sedang bagian bawahnya lubang –
lubang tersebut dibuat sama tingginya
Keuntungan
1) Pembilasan lebih sempurna, karena tidak ada sudut – sudut mati.
2) Aliran udara merupakan garis ulir dalam silinder.
Kerugian
- Volume udra pembilasan berkurang, karena pintu buang tertutup lebih lama dari pada lubang
bilas
2.4.1 Pompa pembilas
Sebagaimana telah diketahui, bahwa pompa pembilas dipergunakan untuk melaksanakan
pembilasan silinder motor. Udara bilas yang diberikan oleh pompa tersebut sesungguhnya
melaksanakan 3 macam tugas sekaligus yaitu :

a. sebagai pendingin.

b. Sebagai pembilasan.

c. Mengisi silinder dengan udara baru.

Pembilasan tersebut harus diselesaikan dalam waktu sesingkat – singkatnya dan


diusahakan sedapat mungkin supaya gas buang yang tercampur dengan udara baru dapat
diatasi sekecil – kecilnya. Pompa pembilas hanya dipakai pada motor – motor 2 takt saja.

Pompa pembilas dapat dibagi sebagai berikut :

a. Pompa pembilas bertorak terdiri dari :

- Pompa kerja tunggal

- Pompa kerja ganda

- Pompa tandem

b. Pompa pembilas rotasi terdiri dari :

- Ventileter centrifugal yang digerakkan secara mekanis.

- Roots blower.

- Turbo blower ( turbo compressor ) yang digerakkan dengan perantaraan turbin


gas ( turbo charged )

Untuk dapat membedakan ventilator – ventilator centrifugal dengan turbo blower


dapat dijelaskan sbb :
a. Ventilator centrifugal digerakkan secara mekanis dengan perantaraan rantai atau
roda gigi.

b. Turbo blower adalah juga ventilator centrifugal, tetapi satu poros dengan turbin gas
buang, dimana sudut – sudut turbinya digerakkan oleh gas buang motornya (

turbo charged )

Pada gambar 31 diperlihatkan pompa pembilas bertorak. Pompa tersebut digerakkan


oleh batang penggerak dari motornya

2.4.2 Aliran udara bilas


Pada motor – motor 2 takt bertenaga besar, aliran udara bilas masuk kedalam silinder
dibagi dalam beberapa sistem, yaitu :
a. Sistem Serie, dimana udra dihisap melaui Turbo charged, ditekan ke sebuah pompa bilas,
selanjutnya dari pompa bilas ditekan ke dalam silinder motor melaui air coobr ( pendingin udara
). Jadi aliran udaranya : turbo charged – pompa bilas – air coobr – cylinder. Udara yang masuk
kedalam silinder tekanannya diperbesar setelah melalui pompa bilas. Pompa bilas ini bisa dari
bagian bawah torak kerja, atau dipasang
pompa bilas tersendiri yang digerakkan oleh motornya atau bagian kepala silang ( Croshead )
sebagai pompa bilas.

b. Sistem paralel, dimana udara dihisap melalui turbo charged ditekan ke dalam air Receiver (
bejana udara ) sedangkan pompa bilas menghisap udara melalui tempat lain dan menekannya
juga ke air Receiver.
Selanjutnya udara yang sudah terkumpul di air Receiver, ditekan ke cylinder motor.
Jelasnya aliran udara sbb :
1. Dari turbo charged - air Receiver.
2. Dari pompa bilas - air Receiver.
3. Dari air Receiver - cylinder motor.

c. Sisitem Serie – Paralel, adalah gabungan sistem serie dan paralel. d. Siatem Serie by pass. e.
Siatem paralel by pass. f. Siatem Serie – Paralel by pass.
Aliran gas buang Pada aliran gas buang, kita membedakan :
a. Sistem tekanan rata ( coustant pressure ).
b. Sistem denyutan ( impulse system )

a. Pada sistem tekanan rata ( sama ), gas buang dialirkan dari silinder – silinder motor kedalam
sebuah bejana ( Receiver ), dimana akan terjadi tekanan yang sama atau tetap. Pada receiver
tersebut gas buang mempunyai energi potensial yang dialirkan kedalam turbin gas buang. Pada
sistem ini turbin gas buang mendapat aliran gas tang tetap dengan tekanan yang hampir tetap.
Jumlah turbin gas buang hanya 1 buah untuk melayani semua silinder motor.

b. Pada sistem denyutan, gas buang dialirkan langsung ke turbin gas buang melalui pipa – pipa
gas buang yang pendek. Dengan cara demikian energi kinetis dari denyutan gas yang keluar dari
silinder dimanfaatkan didalam turbin gas buang. Tetapi pada sistem ini hanya jumlah silinder
yang terbatas dapat menjalankan 1 turbin atau dengan lain perkataan tidak semua silinder dapat
dihubungkan dengan 1 turbin, berarti memerlukan lebih dari satu turbin gas buang. Hal ini akan
lebih baik bila gas buang dari 3 silinder dihubungkan pada 1 turbin. Berarti bila motor tersebut
mempunyai jumlah silinder sebanyak 6 lt, diperlukan 2 buah turbin gas buang. Agar aliran gas
buang tidak terputus – putus masuk turbin gasbuang, maka pipa – pipa gas buang yang
dihubungkan ke turbin diambil berdasarkan urutan pembakaran dari motor tersebut.
2.4.3 Pengisian udara tekan ( Super charging )
Yang dimaksud dengan pengisian tekan ( turbo charging ) adlah pemasukkan udara
kedalam silinder dengan menggunakan peralatan tembahan, sehingga tekanan udara masuk
silinder lebih besar dari pada tekanan udara luar atau lebih besar dari pada 1 atm.
Peralatan tambahan tersebut disebut turbo charging. Gas buang yang keluar dari silinder motor,
dimanfaatkan untuk memutar sebuah turbin gas buang melalui sudu – sudu turbin. Dinying rotor
turbin dipasang blower atau kompressor. Dengan berputarnya rotor turbin, berarti blower juga
turut berputar yang mengisap udara dari keluar mesin dan ditekan masuk kedalam silinder –
silinder motor. Sebelum udara tersebut masuk ke dalam silinder – silinder motor, terlebih dahulu
didinginkan dengan maksud agar udara menjadi lebih padat, berarti juga molekul – molekul
oksigen dari udara tersebut lebih banyak, sehingga saat dibutuhkan untuk proses pembakaran
sempurna, dengan demikian tenaga motor akan lebih besar.

Untuk memperbesar tenaga motor, tanpa merubah ukuran – ukuran motor seperti diameter,
jumlah silinder, langkah torak dan putaran, dapat ditempuh berbagai cara seperti :
a. Membuat motor bekerja 2 takt.
b. Membuat motor bekerja ganda.
c. Membuat motor dilengkapi turbo charging.

Untuk point C, dapat dibuktikan seperti tersebut dibawah ini :

Ne1 = 0, 785 D12. S1. n1. Z1. Pe1

60 . 75

Ne2 = 0785 D22. S2 . n2 . Z2. Pe2


60 . 75

karena : D1 = D2 , S1 = S2 , n1 = n2 , dan Z1 = Z2 sedang pe2 lebih besar dari pe1 berarti

: Ne2 lebih besar dari Ne1.

Motor dilengkapi turbo charging mempunyai tenaga 1 ½ kali lebih besar dari pada motor
tanpa turbo charging. Dalam tabel dibawah ini dapat dilihat :

URAIAN TENAGA MOTOR

Motor 4 takt tanpa turbo charged 1 PK


Motor 4 takt dengan turbo charged 1 x 1, 5 PK
Motor 2 takt tanpa turbo charged 2 PK
Motor 2 takt dengan turbo charged 2 x 1½ PK = 3 PK
Mesin uap 2 PK
Keuntungan motor dilengkapi turbo charged ialah :

a. Tenaga motor lebih besar pada ukuran – ukuran yang sama.

b. Rendemen mekanis lebih besar

c. Rendemen theknis lebih besar

d. Pemakaian bahan bakar kecil.

Kerugian

a. Harga motor lebih mahal.

b. Memerlukan perawatan tambahan terhadap turbo charged.


BAB III
PENUTUP

3.1 KESIMPULAN

1. Pembilasan yang menggunakan pompa pembilas untuk memasukkan gas baru (udara)
dengan tekanan lebih dari 1 atmosfir

2. Supercharging pada motor 4 langkah hanya bertugas memasukkan udara baru ke dalam
silinder motor saja, karena pembilasan gas - gas bekas pada motor ini dilakukan oleh torak
sendiri.

3.2 SARAN
Dalam makalah ini membahas tentang pembilasan yang terjadi pada motor bakar, karena
terbatasnya pengetahuan penulis. dan penulis juga meminta pembaca untuk memberikan
komentar yang membangun ataupun saran dalam mengoreksi makalah ini
DAFTAR PUSTAKA

1. Arismunandar, Wiranto. Motor Diesel Putaran Tinggi. Pradnya Paramita,


Jakarta, 2004

2. Arismunandar, Wiranto. Penggerak Mula Motor Bakar Torak . Edisi kelima.


Penerbit : ITB Bandung,1988

3. Heywod, Jhon B. Internal Combustion Engine Fundamentals. McGraw Hill


Book Company, New York, 1988

4. Kristyadi, MS. Penggunaan Butana Sebagai Bahan Bakar Alternatif Untuk


Motor Bensin. Proceeding Seminat Tahunan Teknik Mesin ITB. 2002

Anda mungkin juga menyukai