Anda di halaman 1dari 33

KOLOSTOMI

Dosen Pembimbing
Hepta Nur Anugrahini, S.Kep.Ns.M.Kep

Disusun Oleh :
1. Alviana Rukmala Dewi P27820117041
2. Niswa Aulia Nurbaiti P27820117058
3. Icha Anggi Saputri P27820117063
4. Linda Dwi Prastiwi P27820117076

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENTRIAN


KESEHATAN SURABAYA
PRODI DIII KEPERAWATAN KAMPUS SOETOMO
TAHUN AJARAN 2018/2019

1
KATA PENGANTAR

Pertama-tama kami mengucapkan puji dan syukur kepada Tuhan YME,


atas berkat dan rahmat-NYA makalah ini dapat dibuat dan disampaikan tepat pada
waktunya.
Adapun penulisan ini bertujuan untuk memenuhi salah satu tugas
keperawatan medikal bedah 1 tentang kolostomi. Kami juga mengucapkan terima
kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam penulisan makalah ini.
Kami juga berharap dengan adanya makalah ini dapat menjadi salah satu sumber
literatur atau sumber informasi pengetahuan bagi pembaca.
Namun kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari
kesempurnaan. Oleh karena itu, kami memohon maaf jika ada hal-hal yang kurang
berkenan dan kami sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun untuk
menjadikan ini lebih sempurna. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita
semua.

Surabaya, 12 Oktober 2018

Penyusun

2
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ............................................................................................ i


DAFTAR ISI .......................................................................................................... ii
BAB 1 PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ....................................................................................1
1.2 Rumusan Masalah ...............................................................................1
1.3 Tujuan .................................................................................................2
BAB 2 PEMBAHASAN
2.1 Pengertian kolostomi ..........................................................................3
2.2 Tujuan kolostomi ................................................................................3
2.3 Jenis-jenis kolostomi...........................................................................3
2.4 Indikasi, kontraindikasi, dan komplikasi kolostomi ...........................4
2.5 Prosedur pemasangan kantong kolostomi...........................................5
2.6 Perawatan pasien setelah dilakukan kolostomi…................................8
2.7 Tujuan dilakukan perawatan kolostomi ............................................19
2.8 Makanan yang harus dihindari pasien kolostomi ..............................19
2.9 Macam – macam kolostomi bag .......................................................20
2.10 Pendidikan pada pasien kolostomi ....................................................23
2.11 Pengertian ileostomi ..........................................................................23
2.12 Indikasi ileostomi ..............................................................................24
2.13 Prosedur pemasangan kantong ileostomi ..........................................24
2.14 Evaluasi dan Dokumentasi .................................................................26
2.15 Macam – macam dari stoma .............................................................25
2.16 Hal-hal yang harus diperhatikan ........................................................27
BAB 3 PENUTUP
3.1 Kesimpulan .......................................................................................29
3.2 Saran .................................................................................................29

DAFTAR PUSTAKA ...........................................................................................30

3
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Kolostomi adalah lubang yang dibuat oleh dokter ahli bedah melalui
dinding abdomen kedalam kolon iliaka (assenden) sebagai tempat
mengeluarkan feses. Kolostomi dapat dilakukan secara permanen ataupun
temporer (sementara) yang disesuaikan dengan kebutuhan pasien. Lubang
kolostomi yang muncul di permukaan atau dinding abdomen yang berupa
mukosa kemerahan disebut stoma.
Menurut kalibjian (2013), kolostomi biasanya disebabkan oleh kanker
kolorektal, pecahnya divertikulitis, perforasi usus, trauma usus atau kerusakan
sumsum tulang belakang sehingga tidak adanya kontrol dalam buang air besar.
Dari beberapa penyebab kolostomi, penyebab tersering menurut Indonesian
Ostomy Association/INOA adalah kanker kolorektal merupakan penyakit
keganasan yang menyerang usus besar. Jenis kanker ini paling sering ditemui
terutama pada wanita atau pria yang berusia 50 tahun atau lebih.
Sebagian besar klien yang pernah melakukan kolostomi belum mengetahui
perawatan kolostomi yang tepat sehingga sering terjadi infeksi dan iritasi pada
luka kolostomi. Untuk menanggulangi hal tersebut diperlukan adanya
bimbingan bagi klien guna melakukan perawatan luka kolostomi secara
mandiri.

1.2 Rumusan Masalah


1. Apa pengertian dari kolostomi ?
2. Apakah tujuan dari dilakukannya kolostomi ?
3. Apa saja jenis-jenis kolostomi ?
4. Apa saja indikasi dan kontraindikasi dari dilakukannya kolostomi ?
5. Bagaimana prosedur pemasangan kantong kolostomi ?
6. Bagaimanakah perawatan pasien setelah dilakukan kolostomi ?
7. Apa tujuan dari perawatan kolosomi ?

4
8. Apa saja makanan yang harus dihindari pasien kolostomi ?
9. Apa saja macam – macam kolostomi bag ?

10. Bagaimana pendidikan bagi pasien kolostomi ?


11. Apa pengertian dari illeostomi ?
12. Apa saja indikasi dari illeostomi ?
13. Bagaimana prosedur perawatan pasien ileostomi ?
14. Apa saja macam – macam dari stoma ?

1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui pengertian dari kolostomi.
2. Untuk mengetahui apa tujuan dari dilakukannya kolostomi.
3. Untuk mengetahui jenis – jenis kolostomi.
4. Untuk mengetahui apa saja indikasi dan kontraindikasi dari kolostomi.
5. Untuk mengetahui prosedur pemasangan kantung kolostomi.
6. Untuk mengetahui perawatan apa saja yang dilakukan oleh pasien setelah
dilakukan kolostomi.
7. Untuk mengetahui makanan yang harus dihindari pasien kolostomi.
8. Untuk mengetahui macam – macam dari kolostomi bag.
9. Untuk mengetahui apa saja pendidikan bagi pasien kolostomi.
10. Untuk mengetahui pengertian dari ileostomi.
11. Untuk mengetahui apa saja indikasi dari pemsangan ileostomi
12. Untuk mengetahui perawatan apa saja yang dilakukan oleh pasien setelah
dilakukan ileostomi
13. Untuk mengetahui macam – macam dari stoma.

5
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Pengertian

Kolostomi adalah prosedur pembedahan yang memindahkan usus besar ke


dinding abdomen, sehingga feses dapat keluar melalui saluran usus ke kantong
yang menempel pada abdomen. Kolostomi juga didefinisikan sebagai suatu
lubang pada usus besar dan aperture (lubang) pada kulit, sehingga menciptakan
anus buatan. Prosedur kolostomi biasanya dilakukan sesudah reseksi usus atau
cidera, dilaksanakan untuk sementara atau menetap. Kolostomi biasa juga disebut
pembukaan usus atau intestinal opening.

2.2 Tujuan

Menurut Franz dan Wright (2004), kolostomi adalah sarana untuk merawat
berbagai kelainan pada usus besar seperti kanker, obstruksi, penyakit radang usus,
iskemia, atau cidera/trauma. Kolostomi temporer (sementara) dibuat untuk
memindahkan feses dari bagian usus besar yang cidera/sakit, sehingga
memungkinkan usus untuk istirahat dan melakukan penyembuhan.

2.3 Jenis-jenis kolostomi

Franz and Wright (2004) menyebutkan ada tiga macam kolostomi, sebagai
berikut:

1. Kolostomi ujung (end colostomy)


Fungsi ujung usus (potongan usus yang tersisa disambungkan ke saluran
gastrointestinal atas) dipindahkan ke permukaan abdomen dan membentuk stoma
(saluran terbuka buatan) dengan mengikatkan usus ke ujung kulit. Permukaan
stoma tampak berwarna merah muda dan lembap. Bagian distal usus (tadinya
tersambung hanya ke rektum) kemungkinan diangkat atau salurannya ditutup dan
tetap didalam abdomen. Kolostomi ujung biasanya adalah ostomi permanen
disebabkan karena trauma, kanker, atau kondisi patologis lainnya. Kolostomi

6
ujung biasanya mengeluarkan feses padat secara intermiten, hal ini dapat
menyebabkan dermatitis kontak pada kulit disekitarnya.

2. Kolostomi dengan saluran ganda (double-barrel colostomy)


Kolostomi jenis ini terbentuk dengan dua stoma yang terpisah pada dinding
abdomen. Stoma proksimal (terdekat) berfungsi sebagai ujung yang tersambung
ke saluran gastrointestinal atas dan akan menyalurkan feses; stoma distal
tersambung ke rektum dan disebut fistula mukosa, berfungsi menyalurkan
sejumlah material mukosa. Kolostomi jenis ini paling sering, merupakan
kolostomi temporer yang dilakukan untuk mengistirahatkan area usus dan
kemudian akan ditutup kembali.

3. Kolostomi lengkap (loop colostomy)


Pembedahan jenis ini memindahkan lengkungan usus ke bagian dinding
abdomen yang telah diinsisi. Lengkungan ditempatkan di luar abdomen dengan
menempatkan plastik bertangkai pada bagian bawahnya. Dilakukan insisi pada
usus untuk mengeluarkan feses melalui kolostomi lengkung. Tangkai penyangga
diangkat sekitar tujuh sampai 10 hari setelah pembedahan, hal tersebut akan
mencegah lengkungan usus tertarik ke dalam abdomen. Kolostomi lengkung
sering dilakukan untuk membuat stoma temporer, berguna untuk memindahkan
feses dari usus yang telah terblok atau ruptur.

2.4 Indikasi, kontraindikasi, dan komplikasi dilakukannya kolostomi

2.4.1 Indikasi kolostomi

Kolostomi mungkin diperlukan bagi kanker kolorektal. Prosedur ini


melibatkan pembuatan saluran antara colon dan dinding perut, dimana feses dapat
lewat. Oleh karena fungsi utama usus besar adalah untuk menyerap air, kolostomi
akan lebih mudah dirawat jika dilakukan lebih dekat colon sigmoid karena
dilokasi ini feses sudah lebih terbentuk dibandingkan pada kolon transversal atau
kolon kanan. Kolostomi dapat dilakukan dikolon assendens, transversal,
desendens, atau sigmoid dan dapat bersifat permanen atau sementara.

7
Kolostomi sementara dapat memberikan waktu istirahat bagi usus dan nanti
dapat dilakukan reanastomosis. Kolostomi sementara juga dapat digunakan untuk
menangani kanker usus yang tidak dapat dioperasi, dengan ostomi diletakkan
dibagian proksimal dari kanker. Kolostomi sementara biasanya dibuat pada
pertengahan dari kolon kiri atau kolon transversal, sementara kolostomi permanen
biasanya dibuat pada kolon sigmoid.

2.4.2 Kontraindikasi kolostomi

Kondisi apapun yang memberikan risiko bedah yang buruk bagi klien
merupakan kontraindikasi bagi prosedur kolostomi.

2.4.3 Komplikasi kolostomi

Insidens komplikasi untuk pasien dengan kolostomi sedikit lebih tinggi


dibandingkan pasien ileostomi. Beberapa komplikasi umum adalah prolaps stoma,
perforasi, retraksi stoma, impaksi fekal dan iritasi kulit. Kebocoran dari sisi
anastomotik dapat terjadi bila sisa segmen usus mengalami sakit atau lemah.
Kebocoran dari anastomotik usus menyebabkan distensi abdomen dan kekakuan,
peningkatan suhu, serta tanda shock. Perbaikan pembedahan sangat diperlukan.

2.5 Prosedur pemasangan kantong kolostomi

A. Alat
1. Tiga pasang sarung tangan nonsteril (satu pasang untuk klien, jika
dibutuhkan)
2. Wadah berskala
3. Dua alas tempat tidur kedap air sekali pakai
4. Waskom berisi air
5. Sabun lembut (tanpa minyak, parfum, atau krim)
6. Waslap dan handuk
7. Pengharum ruangan
8. Kantong stoma yang baru
9. Gunting
10. Pena atau pensil

8
11. Kaca
12. Pasta dan wafer kulit peristoma
13. Pengharum kantong stoma

B. Prosedur
No. Tindakan Rasional
1 Cuci tangan Mengurangi transfer
mikroorganisme
2 Jelaskan prosedur umum kepada Mengurangi ansietas,
klien dan kemudian jelaskan setiap menguatkan isntruksi yang
langkah, saat langkah tersebut akan dibutuhkn klien
dilakukan, izinkan klien dengan lebih terinci untuk
mengajukan pertanyaan atau melakukan perawatan diri.
melakukan setiap bagian prosedur.
3 Berikan privasi. Mengurangi rasa malu.
4 Pasang sarung tangan dan Mengurangi pajanan
tawarkan sarung tangan kepada perawat ke sekresi tubuh
klien. klien.
5 Letakkan alas kedap air sekali Melepaskan kantong yang
pakai di sekeliling kantong stoma lama untuk memasang
di dekat stoma, lepaskan kantong kantong yang baru;
yang lama, dan buang isinya; ukur mempertahankan
dengan wadah berskala; buang kebersihan lingkungan.
sarung tangan.
6 Cuci tangan dan pasang sarung Mengurangi transfer
tangan yang baru. mikroorganisme.
7 Kaji stoma dan kulit peristoma. Memberikan data
Posisikan kaca/cermin untuk pengkajian; memungkinkan
memungkinkan klien melihat klien memantau dan
prosedur. mempelajari prosedur.
8 Lakukan perawatan stoma. Menghilangkan feses yang
kotor dan meningkatkan

9
kemantapan pemasangan
kantong.
9 Letakkan bantalan kasa ke atas Melindungi kulit dan linen
lubang stoma untuk mencegah selama prosedur.
terjadinya rembesan/tetesan feses
saat mempersiapkan wafer dan
kantong.
10 Ukur stoma dengan alat pengukur, Memberikan kantong yang
gunakan alat pengukur untuk tepat dan akurat.
melacak lubang di belakang wafer
(bagian datar yang menyerupai
kepingan tanpa terpasang kantong,
yang tepat berada di atas kulit di
sekeliling stoma).
11 Biarkan plester yang utuh Memotong barier dengan
menutupi wafer barier kulit, ukuran yang tepat untuk
potong dan buat lingkaran, stoma; memungkinkan
lebihkan 3 mm untuk ditempatkan kantong ditempatkan ke
ke atas stoma. atas stoma tanpa
menempelkannya ke atas
stoma.
12 Buka bagian bawah kantong dan Mengurangi bau dan rasa
berikan sejumlah kecil pengharum malu; mencegah
kantong, jika klien kebocoran/tetesan feses.
menginginkannya; tutup kembali
kantong dengan aman.
13 Lepaskan kasa dan pasang pasta Mencegah iritasi kulit pada
stoma ke sekeliling stoma atau kulit peristoma yang tidak
berikan pasta stoma ke tepi lubang ditutupi.
di wafer.
14 Lepaskan tutup berperekat pada Menempelkan wafer
wafer barier-kulit, dan letakkan pelindung ke kulit;

10
wafer pada kulit dengan bagian menghangatkan kulit dan
tengah lubang berada di atas jari, meningkatkan
stoma; tahan selama 30 detik. kerekatan setelah wafer
bersentuhan dengan kulit.
15 Letakkan bagian tengah kantong Memfiksasi kantong untuk
ke atas stoma dan letakkan pada menampung feses.
wafer pelindung-kulit. Apabila
memasangkan kantong dua-
potong, tempelkan kantong ke
pinggiran wafer barier-kulit.
16 Lepaskan sarung tangan dan Meningkatkan kebersihan
simpan kembali atau buang semua lingkungan.
perlatan dengan tepat.
17 Semprotkan pengharum ruangan, Menghilangkan bau yang
jika perlu. tidak sedap.
18 Cuci tangan Mengurangi transfer
mikroorganisme.

2.6 Perawatan Pasien Setelah Dilakukan Kolostomi

2.6 Mengevakuasi dan membersihkan kantong kolostomi


Tujuan :
1. Mengeluarkan materi fekal dari kantong ostomi
2. Membersihkan kantong untuk dapat digunakan kembali
3. Mempertahankan integritas stoma dan kulit peristoma
4. Meningkatkan kenyamanan umum
5. Meningkatkan konsep diri yang positif

Alat :
1. Tiga pasang sarung tangan non steril (satu pasang untuk klien, jika
perlu)
2. Pispot dan wadah berskala
3. Dua alas tempat tidur kedap air sekali pakai

11
4. Pengharum ruangan
5. Dua waslap
6. Kaca/cermin
7. Handuk kertas
8. Pengharum ruangan
9. Tali karet

Pengkajian :

Pengkajian harus berfokus pada hal-hal berikut :

1) Kondisi stoma (harus berwarna pink dan lembab) dan kulit peristoma
(harus dalam kondiri baik tanpa eritema)
2) Karakteristik sampah fakal
3) Status abdomen
4) Jenis kantong ostomi (dapat digunakan kembali atau sekali pakai)
5) Kebutuhan, kemampuan, dan pilihan klien untuk mendapat penyuluhan
tentang perawatan ini
Prosedur :

No. Langkah-langkah Rasional

1. Lakukan higienis tangan Mengurangi transfer


mikroorganisme

2. Jelaskan prosedur umum kepada klien Mengurangi ansietas,


dan kemudian jelaskan setiap langkah, menguatkan isntruksi yang akan
saat langkah tersebut dilakukan, izinkan dibutuhkn klien dengan lebih
klien mengajukan pertanyaan atau terinci untuk melakukan
melakukan setiap bagian prosedur. perawatan diri.

3. Berikan privasi. Mengurangi rasa malu.

4. Posisikan cermin untuk memungkinkan Memungkinkan klien


klien melihat prosedur. mengobservasi dan mempelajari

12
prosedur.

5. Pasang sarung tangan. Mengurangi pajanan perawat ke


sekresi tubuh klien.

6. Letakkan alas kedap air sekali pakai di Mencegah tetsan atau rembesan
atas abdomen di sekitar dan di bawah feses ke kulit.
kantong.
7. Apabila menggunakan toilet, dudukkan Memposisikan klien sehingga
klien di toilet atau di kursi yang feses mengalir ke wadah.
menghadap toilet, dengan kantong di
atas toilet; jika menggunakan pispot,
letakkan kantong ke atas pispot.
8. Lepaskan klem pada bagian bawah Meningkatkan efisiensi, manset
kantong dan letakkan dalam jarak yang akan mempertahankan bagian
mudah dijangkau. bawah kantong tetap bersih,
yang membantu mencegah baud
an menjaga kebersihan tangan
selama prosedur.

9. Secara perlahan buku lipatan ujung Mengeluarkan feses dari


kantong dan biarkan feses mengalir ke kantong.
pispot atau toilet.

10. Rapatkan sisi bagian bawah kantong. Mengeluarkan feses tambahan


dari kantong.

11. Buka ujung bawah kantong dan lap Mengeluarkan kelebihan feses
dengan kertas toilet. dari ujung bawah kantong.

12. Bilas toilet atau, jika menggunakan Mengurangi rasa malu klien dan
pispot, fiksasi/tutup kembali ujung mengurangi bau rungan.
kantong dengan tali karet dan kemudian
kosongkan pispot.

13
13. Cuci klem saat di kamar mandi dan Membersihkan klem eksterior.
keringkan dengan handuk kertas.

14. Lepaskan sarung tangan, lakukan Mengurangi transfer


higienis tangan, dan pakai kembali mikroorganisme.
sarung tangan.

15. Berikan pengharum kantong ke ujung Mengurangi bau yang tidak


bawah kantong. sedap.

16. Klem kembali kantong dengan klem Mencegah kebocoran feses


yang telah dibersihkan.

17. Lap bagian luar kantong dengan waslap Menyelesaikan pembersihan


bersih yang basah; pastikan untuk kantong.
mengelap di sekitar klem pada bagian
bawah kantong.

18. Lepaskan sarung tangan dan simpan Meningkatkan kebersihan


atau buang semua peralatan dengan lingkungan.
tepat.

19. Semprotkan pengharum ruangan, jika Menghilangkan bau tidak sedap.


dibutuhkan.

20. Cuci tangan. Mengurangi transfer


mikroorganisme

2.7 Merawat Stoma Kolostomi


Tujuan :
1. Mempertahankan integritas stoma dan kulit peristoma (kulit disekitar
stoma)
2. Mencegah lesi, ulserasi/tukak, ekskoriasi, dan kerusakan kulit lainya
yang disebabkan oleh kontaminan fekal

14
3. Mencegah kenyamanan umum
4. Meningkatkan konsep diri yang positif

Alat :

1. Dua pasang sarung tangan nonsteril (tambahkan sepasang sarung tangan


untuk klien, jika dingin)
2. Wadah berskala
3. Alas tempat tidur kedap air sekali pakai
4. Waskom berisi air hangat bersabun (sbun harus ringan tanpa minyak,
parfum atau krim)
5. Waslap dan handuk
6. Kasa berukuran 4x4
7. Pengharum ruangan
8. Alat kantong stoma yang baru
9. Kaca/cermin

Pengkajian :

Pengkajian harus berfokus pada hal – berikut :

1) Kondisi stoma (harus berwarna pink dan lembab) dan kulit peristoma
(harus dalam baik)
2) Dimensi stoma untuk memastikan ukuran kantong yang benar
3) Karakteristik sampah feses
4) Status abdomen
5) Kebutuhan, kemmpuan, dan pilihan klien untuk mendapat penyuluhan
menganai perawatan diri
Prosedur :

TINDAKAN RASIONAL

1. Cuci tangan, atur peralatan, dan


persianpan kantong stoma yang baru. Mengurangi Transfor mikroorganisme :
meningkakan efisiensi

2. Jelaskan prosedur umum kepada


Mengurangi ansietas : menguatkan
pasien dan kemudian jelaskan setiap
instruksi yang akan dibutuhkan klien
langkah saat langkah tersebut
dengan lebih terperinci untuk
dilaksanakan, izinkan klien

15
mengajukan pertanyan atau melaukan melakukanperawatan diri
setiap bagian prosedur.

3. Berikan privasi
Mengurangi rasa malu

4. Posisikan cermin untuk menunjukan


area stoma pada klien Memungkinkan klien utnuk memantau
dan mempelajari prosedur

5. Pasang sarung tangan Mengurangi pajanan perawat ke sekresi


tubuh klien

6. Letakan alas kedap air sekai pakai


pada abdomen disekitar dan diawah
lubang stoma Menegah penetesan feses ke kulit

7. Secara pelahan lepaskan peralatan


kantong stoma (katong dan barier
kulit)dan letaka dalam kantong sampah
plasik (smpan tali penutup untuk
diguakan kembali): lepaskan kantong
dengan secara perlahan mengangkat
ujungnya dengan jari tangan dominan Mencegah robekan kulit :mencegah
sementara menekan kulit kebawah kebocoran saat mengganti kantong
dengan jari tangan nondminan:
lepaskan sebagian kecil pada satu
waktu sampai selurh wafer pelindung
dilepaskan. Letakan kasa beukura 4x4
di atas lubang stoma

8. Kosongkan kantong, ukur sampah


dalam wada berskala sebelum Mempertahankan pencatatan yang
membuang dan mencatatjumlah fekal akurat

16
9. Lepaskan sarung tangan, cuci
tangan, dan pakai kembali saung
angan. Mengurangi kontaminasi

10. Secara lembut bersihkan seluruh


soma dan kulit paristoma dengan kasa
dan waslap yang telah direndam dalam
air hangat besabun (jika terdapat fekal
yang sulit dihilangkan, tinggalkan kasa
atau kain basah diatas area selama Menghilangkan baha fekal dari kulit dan
beberpa menit sebelum secara perlahan lubang stoma
mengahapus materi fekal tersebut)
bilas den keringkan dengan menepuk-
nepuknya pelan.

11. Keringkan kulit secara dan pasang


peralatan kantong yang baru Melinduni kulit dari kontaminasi fekal

12. Lepaskan sarung tangan dan


simpan atu buang semua peralatan
dengan tepat Meningkatkan kebersihan lingkungan

13. Semprot pengarum ruangan jika


Menghilangkan bau yang tak sedap
perlu

Mengurangi transfer mikrorganisme dari


14. Cuci tangan
klien ke perawat

2.8 Mengirigasi kolostomi


Tujuan :

17
Memfasilitasi pengosongan kolon

Alat :
1. Tiang IV atau centelan dinding
2. Kantong irigasi dan slang irigasi
3. Konus/corong irigasi
4. Pelumas larut air
5. Toilet (atau kursi toilet)
6. Salin hangat atau air kran
7. Termometer mandi
8. Dua handuk dan dua waslap
9. Dua alas tempat tidur kedap air sekali pakai
10. Sabun lembut (tanpa minyak, parfum, atau krim)
11. Pengarum ruangan
12. Waskom atau bak mandi
13. Kantong yang baru
14. 2 pasang sarung tangan nonsteril

Pengkajian :

Pengkajian harus berfokus pada hal-hal, berikut :

1) Program dokter tentang frekuensi irigasi dan jenis jumlah larutan


2) Jenis koloskomi dan kondiri drainase
3) Kemampuan klien dan pilihan klien untuk melakukan perawatan
kolostomi
4) Kebutuhan klien untuk mendapatkan penyuluhan

Prosedur :

No. Tindakan Rasional

1. Cuci tangan dan atur peralatan. Mengurangi transfer mikroorganisme;


meningkatkan efisiensi.

18
2. Jelaskan prosedur kepada klien Mengurangi ansietas.

3. Dapatkan pencahayaan ekstra, jika Memastikan jumlah cahaya yang tepat


perlu. untuk melaksanakan prosedur.

4. Berikan kehangatan dan privasi. Meningkatkan kenyamanan dan


mengurangi rasa malu.

5. Persiapkan larutan irigasi dan


slang berikut :

a. Dapatkan kantong dan


Memungkinkan usus disesuaikan
larutan irigasi (biasanya air
dengan tekanan cairan.
hangat); gunakan 250
sampai 500 ml untuk
irigasi awal, 500 sampai
1000ml untuk irigasi
selanjutnya (jumlah
minimal
direkomendasikan)
b. Periksa suhu larutan (harus Mencegah cedera akibat larutan yang
teraba hangat tetapi tidak panas atau mencegah kram akibat
panas). Letakkan pada air larutan yang dingin.
mandi hangat jika perlu
untuk meningkatkan suhu
larutan.
c. Tutup klem slang
Memungkinkan pengontrolan aliran
cairan.
d. Isi kantong dengan air kran
atau larutan yang Mempersiapkan larutan irigasi

diprogramkan dengan suhu


yang tepat.
e. Buka klem dan keluarkan Mencegah udara memasuki usus.

udara dari slang.

19
f. Tutup klem.
Memungkinkan pengontrolan aliran
cairan.

6. Pasang sarung tangan Mencegah kontak perawat dengan


sekresi tubuh klien

7. Letakkan klien secara nyaman


dalam salah satu posisi berikut
Memberikan irigasi yang efektif
(letakkan alas kedap air sekali
pakai dibawah klien jika ditempat
tidur) :

- Toilet
- Duduk dikursi menghadap toilet
- Dalam posisi miring, miring ke
arah lubang stoma, dengan
kepala tempat tidur ditinggikan
45 derajat
- Dalam posisi terlentang

8. Secara perlahan lepaskan lepaskan Mencegah iritasi kulit atau cedera


kantong dari area stoma.

9. Kaji adanya kemerahan, Menentukan kebutuhan untuk upaya


pembengkakan, nyeri tekan, dan perawatan kulit lain
ekskoriasi di area stoma

10. Secara perlahan cuci area stoma Menghilangkan sekresi


dengan air hangat bersabun

11. Bilas dengan air jernih dan Menghilangkan sabun dan mencegah
keringkan secara menyeluruh iritasi stoma dan area kulit sekitarnya

12. Berikan manset dan sabuk irigasi. Menahan kantong irigasi untuk tetap
Lingkaran lubang dimanset sabuk ditempatnya sehingga mencegah
irigasi terpasang pas di atas stoma
kebocoran
dan sabuk terpasang pas di
pinggang klien

13. Posisikan kantong irigasi dengan Menghindari tekanan yang tidak perlu
tersambung slang) 45 cm di atas pada jaringan mukosa akibat
stoma sekitar setinggi bahu.

20
Lubrikasi ujung konus/corong semprotan air, mencegah irigasi
slang dengan jeli yang larut air jaringan stoma

14. Letakkan ujung manset irigasi ke Memberikan wadah untuk drainase


toilet atau ke pispot besar dan dan mulai mengalirkan iringan
kemudian buka klem

15. Pajankan / perlihatkan stoma Memberikan akses ke stoma untuk


melalui lubang atas manset insersi slang irigasi

16. Secara perlahan masukkan konus/ Mencegah keluarnya isi usus ke kulit
corong yang telah dilubrikasi ke
lubang stoma. Pertahankan
ujungnya tetap berada
ditempatnya dengan aman untuk
mencegah aliran balik

17. Lepaskan klem slang irigasi dan Infusi yang diperlambat dapat
biarkan larutan dimasukkan dalam mencegah kram akibat distensi
waktu 10 sampai 15 menit
berlebihan

18. Dorong klien untuk mengambil Merelaksasi klien dan mengurangi


nafas dalam yang lambat saat kram usus
larutan dimasukkan

19. Jika klien mengeluh kram, Memberikan waktu kepada usus untuk
hentikan infusi selama beberapa menyesuaikan dengan cairan
menit, kemudian lakukan kembali
infusi secara perlahan

20. Klem slang dan lepaskan setelah Menyelesaikan irigasi


semua dimasukkan ke dalam
kantong

21. Pantau keluarnya materi fekal dan Mengindikasikan efektivitas irigasi


larutan, kemudian kaji drinase

22. Lepaskan bagian bawah manset Mengembalikan kebersihan ruangan


yang berasal dari wadah drainase
dan bilas toilet atau kososngkan
dan bersihkan pispot

21
23. Keringkan bagian bawah manset Mencegah pengotoran sisi sekitar dan
dan klem mempersiapkan penampungan
drainase untuk digunakan kembali

24. Lepaskan manset dan sabuk irigasi Mengakhiri prosedur irigasi

25. Buang atau simpan peralatan Meningkatkan lingkungan yang bersih


dan teratur

26. Buang sarung tangan yang lama Mengurangi kontaminasi


dan pakai sepasang sarung tangan
yang baru

27. Cuci, bilas, dan keringkan area Membersihkan area peristoma


stoma

28. Letakkan balutan yang baru di atas Mengembalikan kantong balutan


kantong ostomi, jika perlu. ostomi, menghilang bau menusuk
Semprotkan pengharum ruangan

29. Cuci tangan dan lakukan higiene Mengurangi transfer mikroorganisme


tangan

2.7 Tujuan dilakukan perawatan kolostomi

1. Menjaga kebersihan pasien


2. Mencegah terjadinya infeksi
3. Mencegah iritasi kulit sekitar stoma
4. Mempertahankan kenyamanan pasien dan lingkungannya

2.8 Makanan Yang Harus Dihindari Oleh Pasien Kolostomi

Bagi penyandang stoma (ostomate), perhatian terhadap makanan/minuman yang


masuk ke dalam tubuhnya adalah hal yang penting dan senantiasa diperhatikan
terutama respon sensitive seseorang terhadap makanan/minuman tertentu yang akan
berdampak langsung terhadap konsistensi feses yang akan dikeluarkan (bisa terjadi
diare/konstipasi), tentu jika itu terjadi akan menyebabkan masalah tersendiri buat
ostomet. Berikut adalah prinsip diet pada ostomet:

22
1. Makanan harus mengandung serat tinggi
2. Rendah lemak
3. Bergizi
4. Dan harus disertai banyak minum

5. Dengan menerapkan prinsip tersebut diharapakan dapat meminimalkan


terjadinya masalah pada proses pengeluaran sisa makanan/feses, sehingga
pasien akan merasa aman dan nyaman dalam melakukan aktivitas sehari-
hari.
Adapun makanan yang harus dihindari adalah:

1. Makanan yang dikhawatirkan dapat menyebabkan sumbatan. Misalnya:


kelapa parut, kacang-kacangan, kulit buah, jagung.
2. Makanan yang dapat menyebabkan gas. Misalnya: brokoli, kubis, sawi,
nangka, durian, ubi-ubian dan minuman bersoda.
3. Makanan yang dapat menyebabkan kotoran/bau. Misalnya: bawang
putih, telur, ikan, lobak, susu.
4. Makanan yang menyebabkan diare. Misalnya: cabe-cabean, paprika,
rujak, asinan.

2.9 Macam-Macam Kolostomi Bag

Jenis kantong kolostomi bervariasi sesuai dengan ukuran dan bentuk. Kantong
kolostomi harus ringan dan kedap bau. Beberapa kantong juga mempunyai filter
arang yang dapat melepaskan gas secara perlahan dan membantu mengurangi bau.

A. Jenis kantong ostomi berdasarkan bentuk


kantong :

1. Drainable Pounches / Open-ended pouch :


Jenis ini memungkinkan anda untuk
membuka bagian bawah dari kantong untuk
mengalirkan output. tipe ini biasanya di tutup
dengan menggunakan klem.tipe ini biasanya
di gunakan untuk pasien dengan kolostomi
ascenden dan kolostomi transfersum.

23
2. Close Pounches/ Close-ended pouch:
Jenis kantong ini, ketika
kantong telah terisi kemudia diambil
dan dibuang, kemudian di pasang lagi
dengan yang baru. Kantong ini
biasanya digunakan oleh pasien dengan
kolostomi desenden dan sigmoid.
Output dari jenis kantong kolostomi ini tidak perlu untuk dialirkan .

3. Valve/tap closure Pounches :


Digunakan untuk menampung urin
output dari stoma urinary. Dapat digunakan
sampai beberapa hari.

B. Jenis Kantong berdasarkan Jumlah Bagian Kantong :

1. One-piece:
Kantong ini terdiri dari kantong kecil dan penghalang kulit. Penghalang
kulit mudah lengket (adesif) yang ditempatkan disekitar stoma dan ditempelkan
ke kulit sekitar stoma. Ketika kantong kecil akan diganti dengan baru, kantong
kecil baru harus di rekatkan kembali ke kulit.

24
2. Two-piece:
Kantong ini terdiri dari dua bagian : Face plate yang bersifat adesif dan
kantong penampung faeces. Face plate tetap berada dalam tempatnya saat kantong
yang telah terisi faeces di ambil dan diganti dengan kantong baru kemudian
kantong baru dihubungkan ke face plate. Kantong baru tidak perlu dilengketkan
kembali kekulit setiap kali pergantian kantong,cukup di hubungkan kembali
dengan face plate, sehingga sistem ini sangat menolong untuk pasien dengan kulit
sensitive

Gambar Panduan Memasang Kantung Kolostomi

C. Perbedaan One Piece Dan Two Piece

Menurut Setyorini (2009), ada bermacam – macam jenis kantong stoma


yang perlu diketahui, antara lain:
1.Menurut jenis “Base Plate”/“Faceplate”/Lapisan dasar yang menempel di
kulit sekitar stoma:
a. “One piece system”/sistem satu lempengan (lapisan): pada sistem ini
lapisan dasarnya ada yang seperti perekat “double tape” saja, dan ada pula
yang memiliki “skin barrier”.

25
b. “Two pieces system”/sistem dua lempengan (lapisan)”: pada sistem ini
lapisan dasarnya sudah dibekali dengan “skin barrier”, dan
pasangannya/tangkupannya sesuai dengan ukurannya masing - masing
(tidak boleh beda ukuran).

2.10 Pendidikan Pada Pasien Kolostomi

Pasien dengan pemasangan kolostomi perlu berbagai penjelasan baik sebelum


maupun setelah operasi, terutama tentang perawatan kolostomi bagi pasien yang
harus menggunakan kolostomi permanen. Berbagai hal yang harus diajarkan pada
pasien adalah

1. Teknik penggantian atau pemasangan kantong kolostomi yang baik dan benar

2. Teknik perawatan stoma dan kulit sekitar stoma


3. Waktu penggantian kantong kolostomi
4. Teknik irigasi kolostomi dan manfaatnya bagi pasien
5. Jadwal atau pola makan yang harus dilakukan untuk menyesuaikan
6. Pengeluaran feses agar tidak menganggu aktifitas pasien
7. Berbagai jenis makanan bergizi yang harus dikonsumsi
8. Berbagai aktifitas yang boleh dan tidak boleh dilakukan oleh pasien
9. Berbagi hal atau keluhan yang harus dilaporkan segera pada dokter (jika
pasien sudah dirawat dirumah)

26
10. Berobat atau control ke dokter secara teratur
11. Makan yang tinggi serat

2.11 Pengertian Ileostomi

Ileostomi berasal dari kata ileum dan stoma. Ileum merupakan bagian
terbawah bagi usus halus. Stoma berarti membuka. Ileostomi adalah bedah
pembuatan lubang antara illeum dan dinding abdomen untuk tujuan diversi fekal,
biasanya terletak dibagian bawah kanan perut. Ileostomi berbeda dengan
kolostomi dimana feses mempunyai konsistensi lebih cair, terdapat enzim
pencernaan dan aliran isinya tak terkontrol, sehingga alat penampung harus
digunakan secara kontinue. Pembedahan ileostomi dilakukan dengan dua tahap.
Operasi pertama melibatkan kolektomi abdomen, pembuatan kantung illeum,
mukosektomi rektum, anastomosis ileoanal dan membuat pengalihan ileostomi.
Operasi ke dua dilakukan untuk menurunkan ileotomi sementara dalam upaya
untuk mengembalikan kontinuitas aliran feses.

2.12 Indikasi Pada Pemasangan Ileostomi

1. Infeksi yang menyebabkan patologi usus halus (kolitis ulseratif, enteritis


regional).
2. Keganasan pada daerah usus halus.
3. Defek pada saluran cerna.
4. Trauma abdomen (reptura yeyunum atau ileum).

2.13 Prosedur Perawatan Ileostomy


1. Persiapan ALat:
a. Perlengkapan perawatan ileostomy (tanpa ban pinggang)
b. Sabun
c. Air
d. Lap mandi
e. Kasa
f. Perlindungan kulit (bubuk karaya, pasta karaya, cincin karaya,
stomahesive, dll)

27
g. Piala ginjal atau bengkok
h. Plester hipoalergis

Prosedur:
1. Mencuci tangan
2. Menjelaskan tujuan perawatan ileostomi. Menjelaskan waktu yang tepat
untuk melakukan tindakan.
3. Mengatur posisi klien sehingga klien merasa relaks dan nyaman
4. Menutup pintu atau memasang penyekat ruangan atau tirai
5. Membuka area ileostomi; membuka ikat pinggang khusus ilesotomi (bila
ada)
6. Mengatur posisi lampu; mencuci tangan
7. Membuka peralatan (kantong yang lama). Dengan berdiri pada posisi yang
memudahkan untuk melaksanakan prosedur
8. Mengisi wadah dengan cairan sesuai program medis, mengisi penetas obat
dengan cairan; meneteskan beberapa tetes cairan di antara piringan dan
kulit. Tidak menarik peralatan secara paksa
9. Membersihkan berkas plester atau piringan dengan cairan khusus dan kasa
10. Membersihkan kulit:
a. Mengangkat sisa kotoran dengan kertas toilet
b. Membersihkan kulit dengan cermat memakai lap mandi, sabun, dan air
atau menganjurkan klien untuk mandi sebelum memasang kantong
yang baru
c. Mengeringkan kulit dengan cermat setelah dibersihkan atau setelah
mandi
12. Memasang kantung bila tidak ada isitasi kulit:
a. Memasang pelindung kulit di sekitar stoma, sebelum memasang
kentung
b. Memasang pelindung kulit lainnya, beli perlu
c. Melepas penutup perekat pada piringan atau kantung ileostomi habis
pakai dan langsung di pasang pada kulit sekitar stoma
d. Menekannya selama 30 detik

28
13. Menutup kantung bagian bawah dengan menggunakan klip yang tersedia
14. Merapikan perlatan dan mencuci tangan
15. Mendokumentasikan prosedur dan respon klien pada catatan klien

2.14 Evaluasi dan Dokumentasi

1. Evaluasi
1) Kepatenan kantong kolostomi
2) Kondisi kulit disekitar stoma
3) Jumlah dan karakteristik fases
4) Respon pasien
2. Melaksanakan dokumentasi
1) Catat tindakan yang dilakukan dan hasil serta respon klien pada
lembar klien
2) Catat tanggal dan jam melakukan tindakan dan nama perawat yang
melakukan an tana tangan/paraf pada lembar catatan klien.

2.15 Macam-Macam Stoma


Stoma adalah lubang buatan pada abdomen untuk mengalirkan urine atau
feses keluar dari tubuh. Macam-macam stoma adalah:
1. Kolostomi (lubang buatan di usus besar)
2. Tracheostomy (lubang buatan di tenggorok)
3. Urostomy (Lubang buatan di kandung kemih)

A. Gastrointestinal Stoma
Pada umumnya dibuat untuk ileum (ileostomy) atau colon (coloctomy).
Terdapat 2 jenis gastrointestinal stoma:
1. Temporary (de-functioning) stomas:
Meliputi ileostomy atau colostomy yang dibuat untuk melindungi suatu
anastomosis atau dekompresi atau penyembuhan segmen usus bagian distalnya.
Stoma mempunyai 2 lubang yaitu lubang proksimal adalah tempat keluarnya feses
dan lubang distal tempat keluarnya mucus dari usus bagian distalnya.

2. Permanent stomas:

29
Lubang dinding abdomen yang dibuat secara permanen tempat menempelkan
bagian akhir dari usus pada permukaan kulit. Terdapat beberapa bentuk permanen
stoma antara lain :
a. Panproctocolectomy : ileostomy permanent yang dibuat dari ileum terminalis,
seluruh colon rectum dan anus diangkat.
b. Total colectomy: ileostomy dibuat tetapi ujung rectum tetap disalurkan ke
dinding abdomen sebagai mucus fistula.
c. Abdomenoperineal (A-P) excision: colostoly pada fossa iliaca sinistra, rectum
dan anus diangkat, sering disertai dengan pengangkatan 1/3 bagiann atas
dinding posterior vagina
d. Hartmarn’s procedure, eksisi dari sigmoid atau atas rectum colostomy dibuat
dan ujung rectum ditutup dan dibiarkan didalam pelvis
e. Pelvis exenteration: operasi radikal untuk pengangkatan organ pelvis; dibuat
colostoly dan urostomy.

2.16 Hal-Hal yang Harus Diperhatikan

A. Keadaan stoma
1. Warna stoma (normal warna kemerahan)
2. Tanda-tanda perdarahan (perdarahan luka operasi)
3. Tanda-tanda peradangan (tumor, rubor, color, dolor, fungsi laese)
4. Posisi stoma

B. Perubahan eliminasi tinja


1. Konsistensi, bau, warna feces
2. Apakah ada konstipasi / diare?
3. Apakah feces tertampung dengan baik?
4. Apakah pasien dapat mengurus feces sendiri?

C. Timbul Gangguan rasa nyeri


1. Keluhan nyeri ada/tidak
2. Hal-hal yang menyebabkan nyeri
3. Kualitas nyeri

30
4. Kapan nyeri timbul (terus menerus / berulang)
5. Apakah pasien gelisah atau tidak
6. Apakah kebutuhan istirahat dan tidur terpenuhi
7. Tidur nyenyak/tidak
8. Apakah stoma mengganggu tidur/tidak
9. Adakah faktor lingkungan mempersulit tidur
10. Adakah faktor psikologis mempersulit tidur

D. Timbul gangguan nutrisi


1. Bagaimana nafsu makan klien
2. Berat Badan normal atau tidak
3. Bagaimana kebiasaan makan pasien
4. Makanan yang menyebabkan diare
5. Makanan yang menyebabkan konstipasi

31
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

1. Kolostomi adalah prosedur pembedahan yang memindahkan usus besar


ke dinding abdomen, sehingga feses dapat keluar melalui saluran usus ke
kantong yang menempel pada abdomen.
2. Tujuan kolostomi yaitu untuk memindahkan feses dari bagian usus besar
yang cidera/sakit.
3. Jenis-jenis kolostomi antara lain : kolostomi ujung (end colostomy),
Kolostomi dengan saluran ganda (double-barrel colostomy), dan
Kolostomi lengkap (loop colostomy).
4. Kolostomi diperlukan bagi penderita kanker kolorektal adapun
kontraindikasinya yaitu kondisi apapun yang memberikan risiko bedah
yang buruk bagi klien.
5. Adapun perawatan yang dilakukan untuk pasien kolostomi yaitu ada
beberapa cara, diantaranya : mengevakuasi dan membersihkan kantong
kolostomi, merawat stoma kolostomi, dan mengirigasi kolostomi.

3.2 Saran

Diharapakan mahasiswa dapat memahami makalah ini tentang kolostomi dan


ileostomy secara keseluruhan dan mampu melaksanakan asuhan keperawatan
pada pasien kolostomi dan ileostomy dengan cermat. Apabila ada kesalahan
mohon disampaikan.

32
DAFTAR PUSTAKA

OnlineAlkes1. 2013. Perawatan Kolostomi. Diakses pada tanggal 23 Setember


2018. Pada pukul 20.00 WIB. http://onlinealkes1.blogspot.com/2013/08/
perawatan-kolostomi.html?m=1

Sodikin. 2011. Asuhan Keperawatan Anak : Gangguan Sistem Gastrointestinal


dan Hepatobilier. Jakarta: Salemba Medika.

Temple, Jean Smith. 2010. Buku Saku Prosedur Klinis Keperawatan. Jakarta:
EGC.

Keperawatan, Cianjur.2012. Kolostomi. Diakses pada tanggal 18 Oktober 2018.


Pada pukul 14.00 WIB. Tersedia di http://keperawatancianjur.blogspot
.com/2012/11/normal-0-false-false-false-en-us-x-none.html

33