Anda di halaman 1dari 2

Media yang paling umum adalah air, buffer dan 0,1 N HCl.

Dalam beberapa hal zat tidak larut dalam


larutan air, maka zat organik yang dapat merubah sifat ini atau surfaktan digunakan untuk
menambah kelarutan. Gunanya adalah untuk membantu kondisi “sink” sehinggan kelarutan obat di
dalam medium bukan merupakan faktor penentu dalam proses disolusi. Untuk mencapai keadaan
“sink” maka perbandingan zat aktif dengan volume medium harus dijaga tetap pada kadar 3-10 kali
lebih besar daripada jumlah yang diperlukan bagi suatu larutan jenuh.
Masalah yang mungkin mengganggu adalah adanya gas dari medium sebelum digunakan.
Gelembung udara yang terjadi dalam medium karena suhu naik dapat mengangkat tablet, sehingga
dapat menaikkan kecepatan melarut.

Kondisi Sink mengacu pada kapasitas pelarut kelebihan medium disolusi

Kondisi sink Istilah didefinisikan sebagai volume media setidaknya lebih besardari tiga
kali yang dibutuhkan untuk membentuk larutan jenuh substansi obat.Ini adalah kondisi
kerja yang wajib untuk pengujian disolusi QCkondisi tertentu yang disebut kondisi
sink, yang ketika kompartemen reseptor terus-menerusdisegarkan dengan pelarut baru
dan menghapus setiap obat yang telah menyebar ke dalam kompartemen reseptor.
Kondisi Sink relevan karena mereka mencerminkan kondisi yang ada dalamsistem
biologi, di mana ada obat akan berdifusi ke dalam dinding usus dan akan tersedia
untukpenyerapan di sisi lain dengan volume darah tinggi 5-7 L. Dalam kondisi sink,
dapat diasumsikan bahwa konsentrasi obat dalam kompartemen reseptor adalah
sekitar nol karena sedang dihapus.

Terangkan kondisi sink dalam disolusi obat. Bagaimana kondisi sink dapat tercapai dalam disolusi
obat!
Kondisi sink dalam proses disolusi obat sangat sekali dibutuhkan agar obat itu cepat teraborpsi
dalam tubuh. Biasanya kondisi sink ini terjadi pada proses difusi pasif, dimana proses ini
membutuhkan adanya gradien konsentrasi yaitu dari konsentrasi yang tinggi ke konsentrasi yang
rendah. Apabila konsentrasi sink dapat dipertahankan maka proses disolusi dan absorpsi obat akan
stabil hingga dapat menimbulkan efek.
Kondisi sink dapat tercapai dengan mempertahankan volume pelarutan agar lebih besar daripada
titik kejenuhan. Dengan kata lain Cs ( konsentrasi tersaturasi difusi) > C ( konsentrasi dalam
medium). Dengan kata lain kelarutan obat pada difusi layer juga mempengaruhi. Semakin cepat
obat terlarut maka kelarutan jenuh pada lapisan difusi cepat tercapai akan tetapi konsentrasi obat
didalam medium kecil, maka kondisi Cs > C tetap terjaga. Kelarutan obat dalam medium berair
tergantung dari interaksi antar molekul, interaksi intermolekuler dengan pelarut, dan perubahan
entropi yang berhubungan dengan penggabungan dan disolusi. Untuk obat dengan sifat elektrolit
lemah, maka kelarutannya bergantung pada pH. Obat asam lemah akan semakin meningkat
kelarutannya dengan adanya kenaikan pH. Semakin cepat obat terlarut maka kelarutan jenuh pada
lapisan difusi cepat tercapai akan tetapi konsentrasi obat didalam medium kecil.
Istilah kondisi hilang (sink condition) berasal dari pembuktian secara farmakologis bahwa
kadar obat pada kedua sisi lapisan epitel dinding saluran pencernaan mendekati kesetimbangan
dalam waktu singkat dan saluran pencernaan berfungsi penghilang alami, yaitu obat diabsorbsi
pada saat obat larut. Jadi dalam kondisi in vivo, tidak ada peningkatan kadar. Selama uji
disolusi, kondisi hilang merupakan salah satu parameter percobaan yang harus dikendalikan,
yaitu dengan senantiasa menambah media disolusi yang sama setelah pencuplikan agar kadar
zat terlarut tidak lebih dari 10-15% kelarutan maksimumnya, sehingga tidak ada perubahan
kadar dalam lapisan. (15)

Kondisi-non-sink terjadi, jika konsentrasi bahan obat di dalam volume distribusi sesuai dengan
pelarutannya dan akan menaik sampai harga maksimalnya. Dalam hal ini umumnya sejumlah prosentual
tertentu dari jumlah bahan obat total digunakan masuk ke dalam larutan pada satuan waktu tertentu
(misalnya 60% dalam 30 menit). Kondisi semacam ini terjadi jika selama proses melarutnya bahan obat
atau sediaan tetap kontak dengan keseluruhan bahan pelarut dan tidak terjadi pertukaran cairan secara
nyata (sistem tertutup).

Sebaliknya Kondisi-sink akan terjadi jika konsentrasi bahan obat dalam volume distribusi,
meskipun proses pelarutan terus berlangsung, tetap dipertahankan pada tingkat yang rendah, analog
dengan proses pada resorpsi, dimana zat aktif berpindah ke dalam volume distribusi organisme dan dari
sini akan menghilang melalui proses eliminasi. Kondisi-sink baru dibicarakan jika bahan obat terlarut
tidak melampaui 10% konsentrasi jenuhnya. Di dalam model percobaan, kondisi ini dapat dicapai
dengan mengambil larutan uji yang ada dan selanjutnya dianalisis, kemudian segera digantikan dengan
larutan uji segar volume sama banyak atau sediaan obat selama proses melarut dicuci secara kontinyu
menggunakan bahan pelarut murni (sel aliran kontinyu). Model yang bekerja atas prinsip terakhir ini,
dinyatakan sebagai system terbuka (R. Voigt, 1995).