Anda di halaman 1dari 9

MODUL PERKULIAHAN

ETIK UMB

Komunikasi Efektif

Program Tatap
Fakultas Kode MK Disusun Oleh
Studi Muka
FIKOM, FT Penyiaran 05 90004 Hani Yuniani, M.Ikom

Abstract Kompetensi

Komunikasi merupakan hal yang Setelah mengikuti perkuliahan ini


sangat esensial bagi mahasiswa diharapkan mampu
keberlangsungan hidup seseorang. memahami unsur-unsur
Melakukan komunikasi efektif Komunikasi, proses komunikasi, dan
terlebih dahulu harus pengertian komunikasi efektif.
memperhatikan pengertian Selanjutnya mengetahui cara
komunikasi, cara-cara melakukan komunikasi, baik bahasa
berkomunikasi, dan memahami lisan, tulisan , maupun bahasa
bahasa tubuh dengan baik. tubuh.
I. Pendahuluan

Komunikasi adalah proses penyampaian pesan kepada orang lain. Pernyataan itu
merupakan definisi, makna, arti, atau pengertian komunikasi (communication) secara praktis
atau dalam praktik kehidupan sehari-hari. Pesan (message) itu bisa berupa informasi,
pemberitahuan, keterangan, ajakan, imbauan, bahkan provokasi atau hasutan. Kata kunci
dalam komunikasi adalah pesan itu sendiri. Dari pesan itulah sebuah proses komunikasi
dimulai. Komunikasi terjadi karena ada pesan yang ingin atau harus disampaikan kepada
pihak lain.

Pengertian Komunikasi Secara Bahasa

Komunikasi berakar kata Latin, ”comunicare”, artinya "to make common" – membuat
kesamaan pengertian, kesamaan persepsi. Akar kata Latin lainnya “communis” atau
“communicatus” atau “common” dalam bahasa Inggris yang berarti “sama”, kesamaan
makna (commonness). Ada juga akar kata Latin ”communico” yang artinya membagi.
Maksudnya membagi gagasan, ide, atau pikiran.

Kamus Besar Bahasa Indonesia (1995) mengartikan komunikasi sebagai


”pengiriman dan pemerimaan pesan atau berita antara dua orang atau lebih sehingga pesan
yang dimaksud dapat dipahami”.

The Oxford English Dictionary mengartikan komunikasi sebagai “The imparting,


conveying, or exchange of ideas, knowledge, information, etc. “ (Pemberian, penyampaian,
atau pertukaran ide, pengetahuan, informasi, dsb.)

Para ahli komunikasi memiliki pemahaman yang berbeda-beda dalam


mendefinisikan komunikasi, seperti “pengalihan informasi untuk memperoleh tanggapan”
(JL. Aranguren), “koordinasi makna antara seseorang dengan khalayak” (Melvin L DeFleur),
dan “saling berbagi informasi, gagasan, atau sikap” (Wilbur Schramm).

Pengertian komunikasi paling populer datang dari Harold Lasswell, yakni “Who says what in
which channel to whom and with what effects”, siapa mengatakan apa melalui saluran mana
kepada siapa dan dengan pengaruh apa.

Model Komunikasi Berlo

Model Komunikasi David K Berlo dikemukakan pada tahun 1960. Model ini dikenal
dengan model SMCR yang merupakan kepanjangan dari Source (Sumber), Message
(Pesan), Channel (Saluran), dan Receiver (Penerima). Berikut mengenai penjelasan dari
SMCR :

Source (Sumber) : Pihak yang menciptakan pesan, baik seseorang maupun


suatu kelompok.

Message (Pesan) : Terjemahan gagasan ke dalam kode simbolik seperti bahasa


atau isyarat.

Channel (Saluran) : Medium yang membawa pesan.

Receiver (Penerima) : Orang yang menjadi sasaran komunikasi.


Pembahasan

Setiap hari, kita berinteraksi dengan orang lain. Secara sadar maupun tidak,
kita melakukan proses pengiriman pesan, menafsirkan, memberikan makna,
menyandi balik, memberikan respon, dan menerima tanggapan. Semua
berlangsung secara simultan sehingga seringkali kita tidak mau atau merasa
tidak perlu mempelajari cara kita berkomunikasi dengan orang lain. Akibatnya,
terkadang kita merasa apa yang kita ucapkan , atau apa yang kita harapkan
terjadi pada percakapan kita tidak seperti apa yang dibayangkan. Padahal,
seharusnya komunikasi meningkatkan pengetahuan, kerjasama, dan
kenyamanan bagi pesertanya.
Paul Greece (Morissan, 2013), mengemukakan seperangkat asumsi umum
yang harus dimiliki setiap percakapan untuk dapat menghasilkan percakapan
yang koheren yaitu percakapan yang logis dan mudah dimengerti. Pertama
adalah prinsip kerjasama (cooperative principle) yang menuntut peserta
percakapan memberikan kontribusinya kepada pecakapan secara patut.
Kerjasama bukan berarti harus ada ungkapan persetujuan, tetapi kerjasama
berarti adanya keinginan peserta untuk memberikan kontribusi yang sesuai
dengan tujuan percakapan.
Misalnya, jika seseorang mengajukan pertanyaan kepada Anda, maka Anda
harus menjawab atau menanggapinya dengan dengan cara yang sekurang-
kurangnya Anda menyadari pertanyaan itu ditujukan kepada Anda. Jika tidak,
maka Anda dinilai tidak sopan. Menurut Grice, kerjasama dalam percakapan
dapat dicapaimelalui empat aturan, yaitu :
1. Perkataan berkuantitas (quantity maxim).
2. Perkataan berkualitas (quality maxim).
3. Perkataan relevan (Relevant Maxim).
4. Perkataan berperilaku (manner maxim).

Kontribusi peserta pada suatu percakapan harus memberikan informasi yang


cukup dan tidak berlebihan. Dalam hal ini, Anda melanggar quantity maxim
ketika perkataan Anda tidak memberikan cukup informasi atau terlalu banyak
informasi. Perkataan yang Anda ucapkan haruslah benar. Anda melanggar
quality maxim ketika Anda secara sengaja berbohong atau berkomunikasi
dengan cara-cara yang tidak menunjukkan suatu maksud yang jujur.
Percakapan harus relevan maksudnya adalah jika Anda mengatakan sesuatu
ang tidak berhubungan. Dan Anda melanggar manner maxim ketika Anda
berbucara tidak jelas, mendua (ambigu), dan tidak teratur.

Prinsip kerjasama dan aturan tersebut sering dilangar karena satu dan
lain hal. Kadang manusia mencari situasi yang nyaman, maka ia sengaja
berbohong. Tetapi apa yang membuat prinsip kerjasama dan aturan tersebut
menjadi penting adalah bahwa pembicara tidak pernah melanggar aturan
tanpa menghentikan percakapan atau mempengaruhi peserta percakapan.
Dengan kata lain, masalah dalam percakapan ini harus ditangani bersama-
sama di antara peserta percakapan.

Salah satu cara mengelola pelanggaran ini (jika terpaksa), setidaknya


Anda memberikan petunjuk bahwa Anda melanggar peraturan namun masih
berniat bekerjasama. Misalnya, Anda dapat mengatakan ;” Saya mungin
agak sedikit berlebihan,.....”tetapi inilah yang betuk-betul saya rasakan. Atau,
mengakhiri kalimat Anda dengan : ....”Inilah maksud saya sebenarnya”.

Contoh lain misalnya pada percakapan dengan rekan kuliah Anda.


Jika ia bertanya apakah Anda sudah menyesaikan tugas Anda, dan Anda
menjawabnya sambil bergegas menuju keluar pintu keluar kelas, sambil
bekata : “Nanti saja ya, saya mau ke toilet”. Ucapan Anda melanggar
relevancy maxim. Dengan cara berdiri dan bergegas keluar, Anda ingin
menunjukkan bahwa tindakan Anda adalah pelanggaran aturan percakapan
normal, padahal Anda mencoba menghidari teman Anda yang seringkali
hanya ingin meng-copy tugas yang sudah Anda buat. Menurut teori Urutan
Percakapan, setidaknya setiap kalimat akan diikuti dan berdampingan
dengan kalimat lainnya. Yaitu dengan topik sebagai berikut :

a. Persetujuan-Persetujuan/ketidaksetujuan
b. Pertanyaan-jawaban
c. Panggilan-jawaban
d. Penutupan-penutupan
e. Permohonan-pengabulan/penolakan
f. Menyinggung-tanggapan
g. Permintaan maaf-penerimaan/penolakan
h. Ancaman/tanggapan
i. Tantangan/tanggapan
j. Tuduhan-penolakan/pengakuan
k. Menyombongkan diri-apresiasi/ejekan
I. Komunikasi Efektif
Komunikasi yang efektif, menurut Stewart L Tubbs dan Sylvia Moss (1974:9-13),
paling tidak menimbulkan lima hal ; pengertian, kesenangan, pengaruh pada
sikap, hubungan yang makin baik, dan tindakan.

1. Pengertian

Pengertian artinya penerimaan yang cermat dari sisi stimuli seperti yang
dimaksud oleh komunikator. Kegagalan menerima isi pesan secara cermat
disebut kegagalan komunikasi primer (primary breakdown in communication).
Perlu pemahaman mengenai psikologi pesan dan psikologi komunikator untuk
menghindari hal tersebut.

2. Kesenangan

Tidak semua komunikasi ditujukan untuk menyampaikan informasi dan


membentuk pengertian. Adapula komunikasi yang lazim disebut komunikasi fatis
(phatic communication) yang dimaksudkan untuk menimbulkan kesenangan.
Komunikasi inilah yang menjadikan hubungan kita hangat, akrab, dan
menyenangkan. Dalam hal ini kita perlu mempelajari psikologi tentang sistem
komunikasi interpersonal.

3. Mempengaruhi Sikap

Bisa dikatakan bahwa komunikasi yang kita jalin kebanyakan adalah untuk saling
mempengaruhi satu sama lain. Komunikasi membahasakannya dengan,
komunikasi persuasif. Komunikasi ini memerlukan pemahaman tentang faktor-
faktor pada diri komunikator, dan pesan yang menimbulkan efek pada
komunikan. Persuasif sendiri didefinisikan sebagai proses mempengaruhi
pendapat, sikap, dan tindakan orang dengan manipulasi psikologis sehingga
orang tersebut bertindak seperti atas kehendaknya sendiri. (Kamus Ilmu
Komunikasi, 1979).

5. Hubungan Sosial yang Baik

Sebagai makhluk sosial yang tak pernah bisa sendiri dalam kehidupannya,
manusia mempunyai daftar kebutuhan sosial yang akan menumbuhkan dan
mempertahankan hubungan yang memuaskan dengan orang lain dalam hal
interaksi dan asosiasi (inclusion), pengendalian dan kekuasaan (control), dan
cinta serta kasih saying (affection). Kebutuhan sosial ini hanya bisa dipenuhi
dengan komunikasi interpersonal yang efektif.

6. Tindakan

Menimbulkan tindakan nyata memang indicator yang baik untuk mengukur


seberapa besar efektivitas yang terjalin selama komunikasi berlangsung karena
untuk menimbulkan tindakan, kita harus berhasil terlebih dahulu menanamkan
pengertian, membentuk dan mengubah sikap atau menumbuhkan hubungan
yang baik. Tindakan adalah hasil kumulatif seluruh proses komunikasi. Hal ini
bukan saja memerlukan pemahaman tentang seluruh mekanisme psikologis
yang terlibat dalam proses komunikasi, tetapi juga faktor-faktor yang
mempengaruhi perilaku manusia.

Pada dasarnya, komunikasi adalah upaya bagaimana kita meraih perhatian,


cinta kasih, minat, kepedulian, simpati, tanggapan, maupun respon positif dari
orang lain. The 5 Inevitable Laws of Effective Communication menyatakan
ada lima hal yang perlu ditegakkan, agar komunikasi efektif (Prijosaksno,
Hartono, 2002 dalam pratiwi, 2009) :

1. Respect
Sikap menghargai setiap individu yang menjadi sasaran pesan yang kita
sampaikan. Rasa hormat dan saling mengahrgai merupakan hukum
pertama dalam berkomunikasi dengan orang lain. Pada dasarnya, setiap
orang ingin dihargai dan dianggap penting. Engan membangun sikap
saling menghormati dalam berkomunikasi, kita akan menghasilkan sinergi
yang akan meningkatkan efektivitas kerja, baik sebagai individu, maupun
secara keseluruhan sebagai sebuah tim.
2. Empathy
Empati adalah kemampuan kita untuk menempatkan diri pada situasi dan
kondisi yang dihadai orang lain. Rasa empati akan memampukan kita
untuk dapat menyampaikan pesan dengan cara dan sikap yang akan
memudahkan penerima pesan menerimanya. Dengan demikian, pesan
kita kan tersampaiakn tanpa adanya hambatan psikologis atau
penolakan.
3. Audible
Pesan harus disampaikan melalui delivery channel atau media yang
sesuai dengan tujuan komunikasi kita. Hukum ini mngacu ada
kemampuan kta untuk menggunakan alat bantu audio visual yang akan
membantu pesan kita tersampaikan dengan baik.

4. Clarity
Hukum ini mengacu pada kejelasan informasi yang akan kita sampaikan
kepada pihak penerima pesan. Kejelasan ini mencakup kejelasan
artikulasi (pelafalan, pengucapan), intonasi suara, dll. untuk memperjelas
informasi yang kita sampaikan. Kejelasan disini dimaksudkan agar tidak
terjadi salah penafsiran (missed Interpretation) yang akan menimbulkan
dampak yang tidak sederhana.

5. Humble
Sikap rendah hati diperlukan dalam membangun komunikasi yang efektif.
Sikap rendah hati adalah sikap yang melayani, mau mendengar dan
menerima kritik, tidak sombong dan memandang rendah orang lain.
Berani mengakui kesalahan, rela memaafkan, lemah lembut, dan penuh
pengendalian diri, serta mengutamakan kepentingan yang lebih besar.
Daftar Pustaka

Morissan, 2013, Teori komunikasi, dari Individu hingga Massa, Jakarta, Kencana Media grup
Pratiwi, dkk, Etika dan Sikap Profesionalisme Sarjana, Jakarta, Graha Ilmu.
Jalaluddin rahmat, 2010, Psikologi Komunikasi, Bandung, Remaja Rosdakarya