Anda di halaman 1dari 50

Pengalaman Belajar Lapangan

RHEUMATOID ARTHRITIS

Oleh:

Ketut Ayu Manik Masyeni


(1102005157)

Pembimbing :

dr. Ketut Suardamana, Sp.PD-KAI

DALAM RANGKA MENJALANI KEPANITERAAN KLINIK MADYA


DI BAGIAN ILMU PENYAKIT DALAM RSUP SANGLAH
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS UDAYANA
2018

i
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas
berkat dan rahmat-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan Pengalaman Belajar
Lapangan (PBL) yang berjudul “Rheumatoid Arthritis” ini tepat pada waktunya. PBL ini
disusun dalam rangka mengikuti Kepaniteraan Klinik Madya di Bagian/SMF Ilmu Penyakit
Dalam FK UNUD/RSUP Sanglah Denpasar.

Dalam penulisan laporan PBL ini penulis banyak mendapatkan bimbingan maupun
bantuan, baik berupa informasi maupun bimbingan moril. Untuk itu, pada kesempatan ini
penulis ingin menyampaikan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:
1. Dr.dr. Ketut Suega, SpPD-KHOM selaku Kepala Bagian Ilmu Penyakit Dalam
Fakultas Kedokteran Universitas Udayana/RSUP Sanglah.
2. dr. Made Susila Utama, Sp.PD-KPTI selaku Koordinator Pendidikan Bagian Ilmu
Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Udayana/RSUP Sanglah.
3. dr. Ketut Suardamana, Sp.PD-KAI selaku dosen pembimbing atas segala bimbingan,
saran-saran dan bantuan dalam penyusunan laporan PBL ini.
4. Semua pihak yang turut membantu dalam penyusunan laporan PBL ini yang tidak
dapat penulis sebutkan satu persatu.

Penulis menyadari bahwa laporan PBL ini masih jauh dari kesempurnaan, oleh karena
itu, kritik dan saran yang bersifat membangun dari semua pihak sangat penulis harapkan
dalam rangka penyempurnaannya. Akhirnya penulis mengharapkan semoga laporan PBL ini
dapat bermanfaat di bidang ilmu pengetahuan dan kedokteran.

Denpasar, Juli 2018

Penulis

ii
DAFTAR ISI

Halaman

Halaman Judul i
Kata Pengantar ii
Daftar Isi iii
Daftar Tabel iv

BAB I PENDAHULUAN 1

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 3


2.1 Definisi Rheumatoid Arthritis 3
2.1 Epidemiologi Rheumatoid Arthritis 3
2.3 Faktor Resiko Rheumatoid Arthritis 4
2.4 Etiopagonesis dan Patofisiologi Rheumatoid Arthritis 6
2.5 Manifestasi Klinis Rheumatoid Arthritis 10
2.6 Pemeriksaan Penunjang Rheumatoid Arthritis 11
2.7 Diagnosis Rheumatoid Arthritis 11
2.8 Penatalaksanaan Rheumatoid Arthritis 13
2.9 Prognosis Rheumatoid Arthritis 16

BAB III LAPORAN KASUS………………………………………………….. 17


3.1 Identitas Pasien 17
3.2 Anamnesis 17
3.4 Pemeriksaan Fisik 19
3.5 Pemeriksaan Penunjang 21
3.7 Diagnosis 26
3.8 Penatalaksanaan 26
BAB IV DISKUSI HASIL KUNJUNGAN RUMAH 28
4.1 Analisis Kebutuhan 29
4.1.1 Kebutuhan Fisik-Biomedis 29
4.1.2 Kebutuhan Bio-Psiko-Sosial 30
4.2 Pemecahan Masalah 33
BAB V SIMPULAN 36

DAFTAR PUSTAKA

iii
BAB I

PENDAHULUAN

Penyakit reumatik adalah penyakit yang menyerang persendian dan struktur di


sekitarnya yang terdiri lebih dari 100 jenis. Salah satu jenis dari penyakit reumatik
adalah Rheumatoid Arthritis (Nainggolan,2009). Rheumatoid Arthritis (RA)
adalah penyakit autoimun progresif dengan inflamasi kronik yang menyerang
sistem muskuloskeletal namun dapat melibatkan organ dan sistem tubuh secara
keseluruhan, yang ditandai dengan pembengkakan, nyeri sendi serta destruksi
jaringan sinovial yang disertai gangguan pergerakan diikuti dengan kematian
prematur (Mclnnes,2011).
Dalam ilmu penyakit dalam Harrison edisi 18, insidensi dan prevalensi RA
bervariasi berdasarkan lokasi geografis dan berbagai grup etnik yang berkaitan
dengan susunan genetik. Prevalensi tertinggi dilaporkan pada masyarakat asli
Amerika, Yakima, Pima, dan suku-suku Chippewa di Amerika Utara sebesar 7%.
Namun prevalensi RA di dunia relatif konstan yaitu berkisar antara 0,5-1%
(Suarjana,2009). Estimasi prevalensi RA untuk negara dengan pendapatan rendah
dan menengah berdasarkan meta-analisis adalah di Asia Tenggara sebesar 0,4%,
Mediterania Timur sebesar 0,37%, Eropa sebesar 0,62%, dan Amerika sebesar
1,25%. Prevalensi pada laki-laki lebih rendah yaitu 0,16% dibandingkan wanita
yaitu 0,75% dan dinyatakan signifikan secara statistik. Sekitar 2,6 juta laki-laki
dan 12,21 juta wanita menderita RA pada tahun 2000 kemudian
meningkatmenjadi 3,16 juta laki-laki dan 14,87 juta wanita yang menderita RA
pada tahun 2010 (Rudan dkk, 2015).
Data epidemiologi di Indonesia tentang penyakit RA masih terbatas. Data
terakhir dari Poliklinik Reumatologi RSCM Jakarta menunjukkan bahwa jumlah
kunjungan penderita RA selama periode Januari sampai Juni 2007 sebanyak 203
dari jumlah seluruh kunjungan sebanyak 1.346 pasien. Nainggolan (2009)
memaparkan bahwa provinsi Bali memiliki prevalensi penyakit rematik di atas
angka nasional yaitu 32,6%, namun tidak diperinci jenis rematik secara detail.
Walaupun penyebab RA masih belum diketahui secara pasti, namun banyak
faktor risiko yang dapat meningkatkan angka kejadian RA. Diantaranya adalah
faktor genetik, usia lanjut, jenis kelamin perempuan, faktor sosial ekonomi, faktor

1
hormonal, etnis, dan faktor lingkungan seperti merokok, infeksi, faktor diet,
polutan, dan urbanisasi (Tobon et al,2009).
Telah diketahui bahwa RA adalah penyakit kronik dan fluktuatif sehingga
apabila tidak dilakukan penanganan yang tepat dan cepat akan menyebabkan
kerusakan sendi yang progresif, deformitas, disabilitas, dan kematian. Menurut
Fuch dan Edward, hanya 15% pasien RA yang memperoleh pengobatan secara
medis yang mengalami remisi atau berfungsi normal setelah 10 tahun sejak awal
onset dan hanya 17% dengan tanpa disabilitas. Prognosis RA sendiri dievaluasi
dari berbagai parameter seperti level remisi, status fungsional, dan derajat
kerusakan sendi (Sumariyono,2010).
Masyarakat usia dewasa yang berusia diantara 25 hingga 60 tahun masih
merupakan masa-masa produktif di kehidupannya. Tanggung jawab secara fisik,
biologis, ekonomi dan sosial sangat dibutuhkan dan berkaitan erat dengan status
kesehatannya saat ini. Banyak penyakit degeneratif yang onsetnya dimulai sejak
usia pertengahan menyebabkan produktifitas masyarakat menurun dan masa
lansia di kemudian hari menjadi kurang berkualitas. Salah satu penyakit tersebut
adalah RA dimana proses patologi imunologinya terjadi beberapa tahun sebelum
muncul gejala klinis. Walaupun angka kejadian RA banyak terjadi pada lansia
namun tidak menutup kemungkinan proses patologi telah terjadi seiring
peningkatan usia dan adanya berbagai faktor risiko yang saling berkaitan.
Banyak upaya yang dapat dilakukan guna mencegah terjadinya RA dan
memberikan pengobatan secara cepat dan tepat bagi yang telah terdiagnosis salah
satunya dengan melakukan deteksi dini pada masyarakat usia dewasa. Ada banyak
alat ukur dan kriteria yang dapat digunakan dalam mendiagnosis RA. Diantaranya
adalah berdasarkan kriteria ARA (American Rheumatism Association) yang
direvisi tahun 1987 dan kriteria ACR (American College of Rheumatology) yang
direvisi tahun 2010.

2
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi Rheumatoid Arthritis


Rheumatoid Arthritis (RA) adalah penyakit autoimun yang etiologinya belum
diketahui dan ditandai oleh sinovitis erosif yang simetris dan pada beberapa kasus
disertai keterlibatan jaringan ekstraartikular. Perjalanan penyakit RA ada 3 macam
yaitu monosiklik, polisiklik dan progresif. Sebagian besar kasus perjalananya
kronik kematian dini (Rekomendasi Perhimpunan Reumatologi Indonesia,2014).
Kata arthritis berasal dari bahasa Yunani, “arthon” yang berarti sendi, dan
“itis” yang berarti peradangan. Secara harfiah, arthritis berarti radang pada sendi.
Sedangkan Rheumatoid Arthritis adalah suatu penyakit autoimun dimana
persendian (biasanya tangan dan kaki) mengalami peradangan, sehingga terjadi
pembengkakan, nyeri dan seringkali menyebabkan kerusakan pada bagian dalam
sendi (Febriana,2015).
Penyakit ini sering menyebabkan kerusakan sendi, kecacatan dan banyak
mengenai penduduk pada usia produktif sehingga memberi dampak sosial dan
ekonomi yang besar. Diagnosis dini sering menghadapai kendala karena pada
masa dini sering belum didapatkan gambaran karakteristik yang baru akan
berkembang sejalan dengan waktu dimana sering sudah terlambat untuk memulai
pengobatan yang adekuat (Febriana,2015).

2.2 Epidemiologi Rheumatoid Arthritis


Prevalensi dan insiden penyakit ini bervariasi antara populasi satu dengan lainnya,
di Amerika Serikat dan beberapa daerah di Eropa prevalensi RA sekitar 1% pada
kaukasia dewasa, Perancis sekitar 0,3%, Inggris dan Finlandia sekitar 0,8% dan
Amerika Serikat 1,1% sedangkan di Cina sekitar 0,28%. Jepang sekitar 1,7% dan
India 0,75%. Insiden di Amerika dan Eropa Utara mencapai 20-50/100000 dan
Eropa Selatan hanya 9-24/100000. Di Indonesia dari hasil survei epidemiologi di
Bandungan Jawa Tengah didapatkan prevalensi RA 0,3% sedang di Malang pada
penduduk berusia diatas 40 tahun didapatkan prevalensi RA 0,5% di daerah
Kotamadya dan 0,6% di daerah Kabupaten. Di Poliklinik Reumatologi RSUPN

3
Cipto Mangunkusumo Jakarta, pada tahun 2000 kasus baru RA merupakan 4,1%
dari seluruh kasus baru. Di poliklinik reumatologi RS Hasan Sadikin didapatkan
9% dari seluruh kasus reumatik baru pada tahun 2000-2002 (Aletaha et al,2010).
Data epidemiologi di Indonesia tentang penyakit RA masih terbatas. Data
terakhir dari Poliklinik Reumatologi RSCM Jakarta menunjukkan bahwa jumlah
kunjungan penderita RA selama periode Januari sampai Juni 2007 sebanyak 203
dari jumlah seluruh kunjungan sebanyak 1.346 pasien. Nainggolan (2009)
memaparkan bahwa provinsi Bali memiliki prevalensi penyakit rematik di atas
angka nasional yaitu 32,6%, namun tidak diperinci jenis rematik secara detail.
Sedangkan pada penelitian Suyasa et al (2013) memaparkan bahwa RA adalah
peringkat tiga teratas diagnosa medis utama para lansia yang berkunjung ke
tempat pemeriksaan kesehatan dan pengobatan gratis di salah satu wilayah
pedesaan di Bali.

2.3 Faktor Risiko Rheumatoid Arthritis


Faktor risiko yang berhubungan dengan peningkatan kasus RA dibedakan menjadi
dua yaitu faktor risiko yang tidak dapat dimodifikasi dan faktor risiko yang dapat
dimodifikasi:
2.3.1 Tidak Dapat Dimodifikasi
1. Faktor genetik
Faktor genetik berperan 50% hingga 60% dalam perkembangan RA.
Gen yang berkaitan kuat adalah HLA-DRB1. Selain itu juga ada gen
tirosin fosfatase PTPN 22 di kromosom 1. Perbedaan substansial pada
faktor genetik RA terdapat diantara populasi Eropa dan Asia. HLA-
DRB1 terdapat di seluruh populasi penelitian, sedangkan polimorfisme
PTPN22 teridentifikasi di populasi Eropa dan jarang pada populasi
Asia. Selain itu ada kaitannya juga antara riwayat dalam keluarga
dengan kejadian RA pada keturunan selanjutnya.
2. Usia
RA biasanya timbul antara usia 40 tahun sampai 60 tahun. Namun
penyakit ini juga dapat terjadi pada dewasa tua dan anak-anak
(Rheumatoid Arthritis Juvenil). Dari semua faktor risiko untuk

4
timbulnya RA, faktor ketuaan adalah yang terkuat. Prevalensi dan
beratnya RA semakin meningkat dengan bertambahnya usia. RA
hampir tak pernah pada anak-anak, jarang pada usia dibawah 40 tahun
dan sering pada usia diatas 60 tahun.
3. Jenis kelamin
RA jauh lebih sering pada perempuan dibanding laki-laki dengan rasio
3:1. Meskipun mekanisme yang terkait jenis kelamin masih belum
jelas. Perbedaan pada hormon seks kemungkinan memiliki pengaruh.

2.3.2 Dapat Dimodifikasi


1. Gaya hidup
a. Status sosial ekonomi
Penelitian di Inggris dan Norwegia menyatakan tidak terdapat
kaitan antara faktor sosial ekonomi dengan RA, berbeda dengan
penelitian di Swedia yang menyatakan terdapat kaitan antara
tingkat pendidikan dan perbedaan paparan saat bekerja dengan
risiko RA.
b. Merokok
Sejumlah studi cohort dan case-control menunjukkan bahwa rokok
tembakau berhubungan dengan peningkatan risiko RA. Merokok
berhubungan dengan produksi dari rheumatoid factor(RF) yang
akan berkembang setelah 10 hingga 20 tahun. Merokok juga
berhubungan dengan gen ACPA-positif RA dimana perokok
menjadi 10 hingga 40 kali lebih tinggi dibandingkan bukan
perokok. Penelitian pada perokok pasif masih belum terjawab
namun kemungkinan peningkatan risiko tetap ada.
c. Diet
Banyaknya isu terkait faktor risiko RA salah satunya adalah
makanan yang mempengaruhi perjalanan RA. Dalam penelitian
Pattison dkk, isu mengenai faktor diet ini masih banyak
ketidakpastian dan jangkauan yang terlalu lebar mengenai jenis
makanannya. Penelitian tersebut menyebutkan daging merah dapat

5
meningkatkan risiko RA sedangkan buah-buahan dan minyak ikan
memproteksi kejadian RA. Selain itu penelitian lain menyebutkan
konsumsi kopi juga sebagai faktor risiko namun masih belum jelas
bagaimana hubungannya.
d. Infeksi
Banyaknya penelitian mengaitkan adanya infeksi Epstein Barr
virus (EBV) karena virus tersebut sering ditemukan dalam
jaringan synovial pada pasien RA. Selain itu juga adanya
parvovirus B19, Mycoplasma pneumoniae, Proteus, Bartonella,
dan Chlamydia juga memingkatkan risiko RA.
e. Pekerjaan
Jenis pekerjaan yang meningkatkan risiko RA adalah petani,
pertambangan, dan yang terpapar dengan banyak zat kimia namun
risiko pekerjaan tertinggi terdapat pada orang yang bekerja dengan
paparan silica.
2. Faktor hormonal
Hanya faktor reproduksi yang meningkatkan risiko RA yaitu pada
perempuan dengan sindrom polikistik ovari, siklus menstruasi
ireguler, dan menarche usia sangat muda.
3. Bentuk tubuh
Risiko RA meningkat pada obesitas atau yang memiliki Indeks Massa
Tubuh (IMT) lebih dari 30.

2.4 Etiopatogenesis dan Patofisiologi Rheumatoid Arthritis


Penyebab pasti masih belum diketahui secara pasti dimana merupakan penyakit
autoimun yang dicetuskan faktor luar (infeksi, cuaca) dan faktor dalam (usia, jenis
kelamin, keturunan, dan psikologis). Diperkirakan infeksi virus dan bakteri
sebagai pencetus awal RA. Sering faktor cuaca yang lembab dan daerah dingin
diperkirakan ikut sebagai faktor pencetus.
Patogenesis terjadinya proses autoimun, yang melalui reaksi imun komplek
dan reaksi imunitas selular. Tidak jelas antigen apa sebagai pencetus awal,

6
mungkin infeksi virus. Terjadi pembentukan faktor rematoid, suatu antibodi
terhadap antibodi abnormal, sehingga terjadi reaksi imun komplek (autoimun).
Proses autoimun dalam patogenesis RA masih belum tuntas diketahui, dan
teorinya masih berkembang terus. Dikatakan terjadi berbagai peran yang saling
terkait, antara lain peran genetik, infeksi, autoantibodi serta peran imunitas
selular, humoral, peran sitokin, dan berbagai mediator keradangan. Semua peran
ini, satu sam lainnya saling terkait dan pada akhirmya menyebabkan keradangan
pada sinovium dan kerusakan sendi disekitarnya atau mungkin organ lainnya.
Sitokin merupakan local protein mediator yang dapat menyebabkan pertumbuhan,
diferensiasi dan aktivitas sel, dalam proses keradangan. Berbagai sitokin berperan
dalam proses keradangan yaitu TNF α, IL-1, yang terutama dihasilkan oleh
monosit atau makrofag menyebabkan stimulasi dari sel mesenzim seperti sel
fibroblast sinovium, osteoklas, kondrosit serta merangsang pengeluaran enzim
penghancur jaringan, enzim matrix metalloproteases (MMPs) (Putra dkk,2013).

7
Gambar 1. Peranan Imun Adaptif dan Innate dalam Patogenesis RA
Proses keradangan karena proses autoimun pada RA, ditunjukkan dari
pemeriksaan laboratorium dengan adanya RF (Rheumatoid Factor) dan anti-CCP
dalam darah. RF adalah antibodi terhadap komponen Fc dari IgG. Jadi terdapat
pembentukan antibodi terhadap antibodi dirinya sendiri, akibat paparan antigen
luar, kemungkinan virus atau bakteri. RF didapatkan pada 75 sampai 80%
penderita RA, yang dikatakan sebagai seropositive. Anti-CCP didapatkan pada
hampir 2/3 kasus dengan spesifisitasnya yang tinggi (95%) dan terutama terdapat
pada stadium awal penyakit. Pada saat ini RF dan anti-CCP merupakan sarana
diagnostik penting RA dan mencerminkan progresifitas penyakit (Putra
dkk,2013).
Sel B, sel T, dan sitokin pro inflamasi berperan penting dalam patofisiologi
RA. Hal ini terjadi karena hasil diferensiasi dari sel T merangsang pembentukan
IL-17, yaitu sitokin yang merangsang terjadinya sinovitis. Sinovitis adalah
peradangan pada membran sinovial, jaringan yang melapisi dan melindungi sendi.
Sedangkan sel B berperan melalui pembentukan antibodi, mengikat patogen,
kemudian menghancurkannya. Kerusakan sendi diawali dengan reaksi inflamasi
dan pembentukan pembuluh darah baru pada membran sinovial. Kejadian tersebut
menyebabkan terbentuknya pannus, yaitu jaringan granulasi yang terdiri dari sel
fibroblas yang berproliferasi, mikrovaskular dan berbagai jenis sel radang. Pannus
tersebut dapat mendestruksi tulang, melalui enzim yang dibentuk oleh sinoviosit
dan kondrosit yang menyerang kartilago. Di samping proses lokal tersebut, dapat
juga terjadi proses sistemik. Salah satu reaksi sistemik yang terjadi ialah
pembentukan protein fase akut (CRP), anemia akibat penyakit kronis, penyakit
jantung, osteoporosis serta mampu mempengaruhi hypothalamic-pituitary-
adrenalaxis, sehingga menyebabkan kelelahan dan depresi (Choy, 2012).

8
Gambar 2. Patofisiologi Rheumatoid Arthritis
Pada keadaan awal terjadi kerusakan mikrovaskular, edema pada jaringan di
bawah sinovium, poliferasi ringan dari sinovial, infiltrasi PMN, dan penyumbatan
pembuluh darah oleh sel radang dan trombus. Pada RA yang secara klinis sudah
jelas, secara makros akan terlihat sinovium sangat edema dan menonjol ke ruang
sendi dengan pembentukan vili. Secara mikros terlihat hiperplasia dan hipertropi
sel sinovia dan terlihat kumpulan residual bodies. Terlihat perubahan pembuluh
darah fokal atau segmental berupa distensi vena, penyumbatan kapiler, daerah
trombosis dan pendarahan perivaskuler. Pada RA kronis terjadi kerusakan
menyeluruh dari tulang rawan, ligamen, tendon dan tulang. Kerusakan ini akibat
dua efek yaitu kehancuran oleh cairan sendi yang mengandung zat penghancur
dan akibat jaringan granulasi serta dipercepat karena adanya Pannus (Putra
dkk,2013).

9
2.5 Manifestasi Klinis, Pemeriksaan Penunjang dan Diagnosis Rheumatoid
Arthritis
2.5.1 Manifestasi Klinis
Keluhan biasanya mulai secara perlahan dalam beberapa minggu atau
bulan. Sering pada keadan awal tidak menunjukkan tanda yang jelas.
Keluhan tersebut dapat berupa keluhan umum, keluhan pada sendi dan
keluhan diluar sendi (Putra dkk,2013).
1. Keluhan umum
Keluhan umum dapat berupa perasaan badan lemah, nafsu makan
menurun, peningkatan panas badan yang ringan atau penurunan
berat badan.
2. Kelainan sendi
Terutama mengenai sendi kecil dan simetris yaitu sendi
pergelangan tangan, lutut dan kaki (sendi diartrosis). Sendi lainnya
juga dapat terkena seperti sendi siku, bahu sterno-klavikula,
panggul, pergelangan kaki. Kelainan tulang belakang terbatas pada
leher. Keluhan sering berupa kaku sendi di pagi hari,
pembengkakan dan nyeri sendi.
3. Kelainan diluar sendi
a. Kulit : nodul subukutan (nodul rematoid)
b. Jantung : kelainan jantung yang simtomatis jarang
didapatkan, namun 40% pada autopsi RA didapatkan kelainan
perikard
c. Paru : kelainan yang sering ditemukan berupa paru
obstruktif dan kelainan pleura (efusi pleura, nodul subpleura)
d. Saraf : berupa sindrom multiple neuritis akibat vaskulitis
yang sering terjadi berupa keluhan kehilangan rasa sensoris di
ekstremitas dengan gejala foot or wrist drop
e. Mata : terjadi sindrom sjogren (keratokonjungtivitis sika)
berupa kekeringan mata, skleritis atau eriskleritis dan
skleromalase perforans

10
f. Kelenjar limfe: sindrom Felty adalah RA dengan
spleenomegali, limpadenopati, anemia, trombositopeni, dan
neutropeni
2.5.2 Pemeriksaan Penunjang
1. Laboratorium
a. Penanda inflamasi : Laju Endap Darah (LED) dan C-Reactive
Protein (CRP) meningkat
b. Rheumatoid Factor (RF) : 80% pasien memiliki RF positif
namun RF negatif tidak menyingkirkan diagnosis
c. Anti Cyclic Citrullinated Peptide (anti CCP) : Biasanya
digunakan dalam diagnosis dini dan penanganan RA dengan
spesifisitas 95-98% dan sensitivitas 70% namun hubungan
antara anti CCP terhadap beratnya penyakit tidak konsisten
2. Radiologis
Dapat terlihat berupa pembengkakan jaringan lunak, penyempitan
ruang sendi, demineralisasi “juxta articular”, osteoporosis, erosi
tulang, atau subluksasi sendi.
2.5.3 Diagnosis
Terdapat beberapa kesulitan dalam mendeteksi dini penyakit RA. Hal ini
disebabkan oleh onset yang tidak bisa diketahui secara pasti dan hasil
pemeriksaan fisik juga dapat berbeda-beda tergantung pada pemeriksa.
Meskipun demikian, penelitian sebelumnya telah menunjukkan bahwa alat
ukur diagnosis RA dengan ARA (American Rheumatism Association) yang
direvisi tahun 1987 memiliki sensitivitas 91%. Hasil laboratorium yang
digunakan dalam mendiagnosis RA ditemukan kurang sensitif dan spesifik.
Sebagai contoh, IGM Rheumatoid Factor memiliki spesifisitas 90% dan
sensitivitas hanya 54%. (Bresnihan, 2002)
Berikut adalah kriteria ARA (American Rheumatism Association) yang
direvisi tahun 1987 yang masih dapat digunakan dalam mendiagnosis RA:
1. Kaku pagi hari pada sendi dan sekitarnya, sekurang-kurangnya selama
1 jam sebelum perbaikan maksimal.

11
2. Pembengkakan jaringan lunak atau persendian (arthritis) pada 3 daerah
sendi atau lebih secara bersamaan.
3. Artritis pada persendian tangan sekurang-kurangnya terjadi satu
pembengkakan persendian tangan yaitu PIP (proximal interphalangeal),
MCP (metacarpophalangeal), atau pergelangan tangan.
4. Artritis simetris, keterlibatan sendi yang sama pada kedua belah sisi
misalnya PIP (proximal interphalangeal), MCP
(metacarpophalangeal), atau MTP (metatarsophalangeal).
5. Nodul rheumatoid, yaitu nodul subkutan pada penonjolan tulang atau
permukaan ekstensor atau daerah juksta artikuler.
6. Rheumatoid Factor serum positif
7. Perubahan gambaran radiologis yang khas pada RA pada sendi tangan
atau pergelangan tangan yaitu erosi atau dekalsifikasi tulang pada sendi
yang terlibat
Diagnosa RA, jika sekurang-kurangnya memenuhi 4 dari 7 kriteria di
atas dan kriteria 1 sampai 4 harus ditemukan minimal 6 minggu. Selain
kriteria diatas, dapat pula digunakan kriteria diagnosis RA berdasarkan skor
dari American College of Rheumatology (ACR/Eular) 2010. Jika skor ≥6,
maka pasien pasti menderita RA. Sebaliknya jika skor <6 pasien mungkin
memenuhi kriteria RA secara prospektif (gejala kumulatif) maupun
retrospektif (data dari keempat domain didapatkan dari riwayat penyakit)
(Putra dkk,2013).
Distribusi Sendi (0-5) Skor
1 sendi besar 0
2-10 sendi besar 1
1-3 sendi kecil (sendi besar tidak diperhitungkan) 2
4-10 sendi kecil (sendi besar tidak diperhitungkan) 3
>10 sendi kecil 5
Serologi (0-3)
RF negatif DAN ACPA negatif 0
Positif rendah RF ATAU positif rendah ACPA 2
Positif tinggi RF ATAU positif tinggi ACPA 3

12
Durasi Gejala (0-1)
<6 minggu 0
≥6 minggu 1
Acute Phase Reactant (0-1)
CRP normal DAN LED normal 0
CRP abnormal ATAU LED abnormal 1

2.6 Tatalaksana
2.6.1 Pencegahan
Etiologi untuk penyakit RA ini belum diketahui secara pasti, namun
berdasarkan penelitian-penelitian sebelumnya, ada beberapa hal yang dapat
dilakukan untuk menekan faktor risiko:
1. Membiasakan berjemur di bawah sinar matahari pagi untuk mengurangi
risiko peradangan oleh RA. Oleh penelitian Nurses Health Study AS yang
menggunakan 1.314 wanita penderita RA didapatkan mengalami
perbaikan klinis setelah rutin berjemur di bawah sinar UV-B.
2. Melakukan peregangan setiap pagi untuk memperkuat otot sendi.
Gerakan-gerakan yang dapat dilakukan antara lain, jongkok-bangun,
menarik kaki ke belakang pantat, ataupun gerakan untuk melatih otot
lainnya. Bila mungkin, aerobik juga dapat dilakukan atau senam taichi.
3. Menjaga berat badan. Jika orang semakin gemuk, lutut akan bekerja lebih
berat untuk menyangga tubuh. Mengontrol berat badan dengan diet
makanan dan olahraga dapat mengurang risiko terjadinya radang pada
sendi.
4. Mengonsumsi makanan kaya kalsium seperti almond, kacang polong,
jeruk, bayam, buncis, sarden, yoghurt, dan susu skim. Selain itu vitamin
A,C, D, E juga sebagai antioksidan yang mampu mencegah inflamasi
akibat radikal bebas.
5. Memenuhi kebutuhan air tubuh. Cairan synovial atau cairan pelumas pada
sendi juga terdiri dari air. Dengan demikian diharapkan mengkonsumsi
air dalam jumlah yang cukup dapat memaksimalkan sisem bantalan sendi

13
yang melumasi antar sendi, sehingga gesekan bisa terhindarkan.
Konsumsi air yang disrankan adalah 8 gelas setiap hari. (Candra, 2013)
6. Berdasarkan sejumlah penelitian sebelumnya, ditemukan bahwa merokok
merupakan faktor risiko terjadinya RA. Sehingga salah satu upaya
pencegahan RA yang bisa dilakukan masyarakat ialah tidak menjadi
perokok akif maupun pasif. (Febriana, 2015).

2.6.2 Penanganan
Penatalaksanaan pada RA mencakup terapi farmakologi, rehabilitasi dan
pembedahan bila diperlukan, serta edukasi kepada pasien dan keluarga.
Tujuan pengobatan adalah menghilangkan inflamasi, mencegah deformitas,
mengembalikan fungsi sendi, dan mencegah destruksi jaringan lebih lanjut
(Kapita Selekta,2014).
1. NSAID (Nonsteroidal Anti-Inflammatory Drug)
Diberikan sejak awal untuk menangani nyeri sendi akibat inflamasi.
NSAID yang dapat diberikan atara lain: aspirin, ibuprofen, naproksen,
piroksikam, dikofenak, dan sebagainya. Namun NSAID tidak melindungi
kerusakan tulang rawan sendi dan tulang dari proses destruksi.
2. DMARD (Disease-Modifying Antirheumatic Drug)
Digunakan untuk melindungi sendi (tulang dan kartilago) dari proses
destruksi oleh Rheumatoid Arthritis. Contoh obat DMARD yaitu:
hidroksiklorokuin, metotreksat, sulfasalazine, garam emas, penisilamin,
dan asatioprin. DMARD dapat diberikan tunggal maupun kombinasi
(Putra dkk,2013).
3. Kortikosteroid
Diberikan kortikosteroid dosis rendah setara prednison 5-7,5mg/hari
sebagai “bridge” terapi untuk mengurangi keluhan pasien sambil
menunggu efek DMARDs yang baru muncul setelah 4-16 minggu.
4. Rehabilitasi
Terapi ini dimaksudkan untuk meningkatkan kualitas hidup pasien.
Caranya dapat dengan mengistirahatkan sendi yang terlibat melalui

14
pemakaian tongkat, pemasangan bidai, latihan, dan sebagainya. Setelah
nyeri berkurang, dapat mulai dilakukan fisioterapi.
5. Pembedahan
Jika segala pengobatan di atas tidak memberikan hasil yang diharapkan,
maka dapat dipertimbangkan pembedahan yang bersifat ortopedi,
contohnya sinovektomi, arthrodesis, total hip replacement, dan
sebagainya. (Kapita Selekta, 2014)
Tabel 1. DMARD untuk terapi RA
OBAT ONSET DOSIS Keterangan
Sulfasalazin 1-2 bulan 1x500mg/hari/io Digunakan sebagai lini
ditingkatkan setiap pertama
minggu hingga
4x500mg/hari
Metotreksat 1-2 bulan Dosis awal 7,5-10 Diberikan pada kasus
mg/ minggu/IV lanjut dan berat. Efek
atau peroral 12,5- samping: rentan infeksi,
17,5mg/minggu intoleransi GIT,
dalam 8-12 minggu gangguan fungsi hati dan
hematologik
Hidroksiklorokuin 2-4 bulan 400 mg/hari Efek samping: penurunan
tajam penglihatan, mual,
diare, anemia hemolitik
Asatioprin 2-3 bulan 50-150 mg/hari Efek samping: gangguan
hati, gejala GIT,
peningkatan TFH
D-penisilamin 3-6 bulan 250-750mg/hari Efek samping: stomatitis,
proteinuria, rash

2.7 Diagnosis Banding Rheumatoid Arthritis


RA harus dibedakan dengan sejumlah penyakit lainnya seperti artropati reaktif
yang berhubungan dengan infeksi, spondiloartropati seronegatif dan penyakit
jaringan ikat lainnya seperti Lupus Eritematosus Sistemik (LES), yang mungkin

15
mempunyai gejala menyerupai RA. Adanya kelainan endokrin juga harus
disingkirkan. Artritis gout jarang bersama-sama dengan RA, bila dicurigai ada
artritis gout maka pemeriksaan cairan sendi perlu dilakukan. Selain itu,
osteoartritis juga memiliki kemiripan gejala dengan RA.

2.8 Prognosis Rheumatoid Arthritis


Perjalanan penyakit dari RA ini bervariasi dan juga ditentukan dari ketaatan
pasien untuk berobat dalam jangka waktu yang lama. Lima puluh hingga tujuh
puluh lima persen penderita ditemukan mengalami remisi dalam dua tahun.
Selebihnya dengan prognosis yang lebih buruk. Kejadian mortalitas juga
meningkat 10-15 tahun lebih awal dibandingkan mereka yang tidak mengalami
RA. Khususnya pada penderita RA dengan manifestasi yang berat, kematian dapat
disebabkan oleh infeksi, penyakit jantung, gagal nafas, gagal ginjal, dan gangguan
saluran cerna. Sekitar 40% pasien RA mengalami hendaya dalam 10 tahun ke
depanya. Penggunaan DMARD kurang dari 12 minggu setelah gejala awal
menunjukkan hasil remisi yang lebih baik (Kapita Selekta, 2014). Indikator
prognostik buruk berupa banyak sendi yang terserang, LED dan CRP tinggi, RF
(+) tinggi dan anti CCP (+), erosi sendi pada awal penyakit dan sosial ekonomi
rendah.

16
BAB III
LAPORAN KASUS

3.1 IDENTITAS PASIEN


Nama : M
Umur : 49 Tahun
Jenis Kelamin : Perempuan
Suku : Jawa
Agama : Islam
Status Perkawinan : Menikah
Pendidikan Terakhir : SMP
Pekerjaan : Pedagang dan penjaga villa
Alamat : Jl. Goa Gong Br. Kutuh Unggasan Kuta
Badung
Tanggal MRS : 13 September 2015
Tanggal Pemeriksaan Pasien : 17 September 2015

3.2 KELUHAN UTAMA


Nyeri sendi

3.3 RIWAYAT PENYAKIT SEKARANG


Pasien datang sadar pada tanggal 13 September 2015 dengan keluhan nyeri
sendi di lutut kiri dan kanan sejak 2 hari sebelum masuk rumah sakit (SMRS)
sampai tidak bisa berjalan. Keluhan dikatakan oleh pasien pertama kali dirasakan
sejak 2 bulan SMRS, semakin hari semakin memberat dan terparah sejak 2 hari
SMRS. Selain itu, nyeri sendi juga dirasakan di pergelangan tangan dan jari-jari
tangan kanan dan kiri terutama pada ibu jari, jari telunjuk, dan jari tengah. Awal
mula keluhan adalah rasa kaku di pangkal jari-jari tangan dan pergelangan tangan
kanan kiri yang muncul bersamaan pada pagi hari dan berlangsung kurang dari 30
menit namun semakin hari muncul hingga lebih dari 1 jam. Semakin lama, pasien
merasa sendi jari-jarinya menjadi bengkak. Selanjutnya nyeri dirasakan pula di
kedua lutut pasien yang semakin memberat dari hari ke hari, dimana pasien masih

17
bisa menahan dan beraktivitas seperti biasa hingga nyeri yang dirasakannya
menjadi kemerahan dan bengkak sehingga tidak bisa berjalan. Kemudian pasien
juga merasakan nyeri di sendi-sendi seluruh badan. Utamanya di leher, bahu, siku,
dan pinggang. Keluhan tersebut membaik saat pasien beristirahat dan memberat
saat beraktivitas atau saat sendi digerakkan.
Pasien juga mengeluhkan lemas sejak 1 hari SMRS. Lemas dikatakan tidak
membaik dengan istirahat. Keluhan demam, sesak, diare, mual, muntah dan
kekeringan pada mata disangkal pasien. Pasien tidak merasakan adanya
penurunan nafsu makan dan berat badan dikatakan biasa saja. Riwayat BAB dan
BAK dikatakan tidak ada masalah dan dalam batas normal.

Riwayat Pengobatan
Sejak keluhan muncul, pasien sempat memeriksakan diri ke dokter klinik
sebanyak 3 kali. Saat periksa tersebut pasien dicek kadar asam uratnya dan
dinyatakan normal, pasien juga tidak dijelaskan mengenai jenis penyakit yang
dideritanya dan hanya diberikan berbagai macam obat mulai dari obat oral dan
suntik namun pasien mengatakan lupa jenis dan merk obatnya. Ketika obat habis,
pasien memeriksakan kembali keluhannya yang tidak membaik ke dokter lainnya.
Pasien juga membeli obat-obatan sendiri seperti tablet penambah stamina dan
parasetamol. Karena merasa lemas sejak satu hari SMRS, pagi hari SMRS pasien
meminum tablet penambah stamina dan beberapa saat kemudian semakin lemas
karena mengganggap mengonsumsi obat tanpa makan terlebih dahulu.

Riwayat Penyakit Dahulu


Pasien sebelumnya tidak pernah mengalami keluhan nyeri sendi dan
bengkak seperti ini. Riwayat hipertensi, penyakit jantung, penyakit ginjal, dan
lupus disangkal oleh pasien. Sekitar 2 tahun lalu pasien hanya pernah MRS di RS
Kasih Ibu karena sakit muntaber.

Riwayat Keluarga

18
Tidak ada anggota keluarga yang pernah mengalami keluhan yang sama.
Riwayat hipertensi, penyakit jantung, penyakit ginjal, dan lupus pada keluarga
disangkal oleh pasien.

Riwayat Sosial dan Pribadi


Pasien bekerja sebagai pedagang dan penjaga villa. Terkadang pasien
membuat dan berjualan krupuk di rumahnya, namun tidak sampai berkeliling
dalam menjajakan dagangannya. Setiap harinya pasien beraktivitas membersihkan
villa yang satu kawasan dengan rumahnya. Riwayat konsumsi rokok dan alkohol
disangkal oleh pasien. Pasien hanya memiliki kebiasaan minum kopi 3 gelas
setiap harinya yang diminum setiap pagi, siang, dan sore. Pasien tidak memiliki
kebiasaan khusus dalam mengonsumsi makanan karena selalu berganti-ganti
menu di setiap harinya, pasien menyangkal sering mengonsumsi daging merah.
Pasien juga tidak terlalu sering makan sayur-sayuran dan buah-buahan.

3.4 PEMERIKSAAN FISIK (17 September 2015)


Status Present
Keadaan Umum : Sedang
Kesadaran : Compos Mentis
GCS : E4V5M6
Tekanan darah : 120/80 mmHg
Nadi : 88 x/menit reguler
Respirasi : 20 x/menit
Temperatur : 36,5ºC
BB / TB : 45 kg / 152 cm
BMI : 19,47 kg/m2
Satus Gizi : Baik
VAS : 3/10 (nyeri sendi)
Status General
Mata : anemis (-/-), ikterus (-/-), refleks pupil (+/+) isokor,
edema palpebra (-/-)
THT : dalam batas normal,

19
Leher : pembesaran kelenjar limfe (-)
Thoraks : simetris
Cor: Inspeksi : iktus kordis tidak tampak
Palpasi : iktus kordis tidak teraba
Perkusi : batas atas jantung ICS II, batas kanan jantung
parasternal line dekstra, batas kiri jantung
midclavicular line sinistra ICS V
Auskultasi : S1 S2 tunggal, reguler, murmur (-)
Pulmo:Inspeksi : Simetris saat statis & dinamis, retraksi (-)
Palpasi : Vokal fremitus N|N
N|N
N|N
Perkusi : sonor | sonor
sonor | sonor
sonor | sonor

Auskultasi : vesikuler +|+, ronkhi -|-, wheezing -|-


+|+, -|-, -|-
+|+, -|-, -|-

Abdomen
Inspeksi : Distensi (-),
Auskultasi : Bising usus (+) normal
Palpasi : Nyeri tekan (-), hepar tidak teraba, lien tidak teraba
Perkusi : Timpani

Ekstremitas : Hangat +|+ edema -|-


+|+ -|-

Status Lokalis
Sendi Proximal Interphalangeal (PIP) digiti I, II, III dekstra dan sinistra
Inspeksi : eritema (-), edema (+), kontraktur(-),nodul rematoid(-)

20
Palpasi : hangat (+), nyeri tekan (+)
ROM : terbatas

Sendi Genu Dekstra dan Sinistra


Inspeksi : eritema (+), edema (+), kontraktur (-)
Palpasi : hangat (+), nyeri tekan (+), bulging (-), krepitasi (-)
ROM : terbatas

3.5 PEMERIKSAAN PENUNJANG


Darah Lengkap (13 September 2015)
Pemeriksaan Hasil Satuan Normal Remarks
WBC 13,31 103µL 4,10-11,00 Tinggi
% NEUT 81,8 % 47,00-80,00 Tinggi
% LYMPH 9,2 % 13,00-40,00 Rendah
% MONO 6,3 % 2,00-11,00
% EOS 1,6 % 0,00-5,00
% BASO 0,1 % 0,00-2,00
#NEUT 10,89 103µL 2,50-7,50 Tinggi
#LYMPH 1,23 103µL 1,00-4,00
#MONO 0,84 103µL 0,10-1,20
#EOS 0,21 103µL 0,00-0,50
#BASO 0,02 103µL 0,00-0,10
RBC 4,69 106µL 4,00 – 5,20
Hemoglobin 11,1 g/dL 12,00-16,00 Rendah
Hematokrit 38,0 % 36,00-46,00
Platelet 426 103µL 140,00-440,00
MCV 81,0 fL 80,00-100,00
MCH 23,6 Pg 26,00-34,00
MCHC 29,2 g/dL 31,00-36,00
RDW 11,4 % 11,60-14,80 Rendah
MPV 5,3 fL 6,80-10,00 Tinggi

Kimia Klinik (13 September 2015)


Pemeriksaan Hasil Satuan Normal Remarks
SGOT 11,8 U/L 11-27
SGPT 10,5 U/L 11,00-34,00 Rendah
Albumin 3,14 g/dL 3,40-4,80 Rendah
BS Acak 110 mg/dL 70,00-140,00
BUN 6 mg/dL 8,00-23,00 Rendah
Creatinin 0,54 mg/dL 0,50-0,90

21
Uric acid 2,9 mg/dL 2,00-5,70
Natrium (Na) 132 mmol/L 136-145 Rendah
Kalium (K) 3,08 mmol/L 3,50-5,10 rendah

Urinalisis (13 September 2015)


Pemeriksaan Hasil Satuan Normal Remarks
Specific gravity 1,005 Negatif
PH 7 7,35-7,45 Rendah
Leucocyte Negatif leuco/uL Negatif
Nitrite Negatif Negatif
Protein (urine) Negatif mg/dL Negatif
Glukosa (urine) Normal mg/dL Normal
KET Negatif Negatif
Urobilinogen Normal mg/dL Normal
Bilirubin (urine) Negatif mg/dL Negatif
ERY 25 (++) Ery/uL Negatif
Colour Amber p-yellow-yellow

Hematologi (13 September 2015)


Pemeriksaan Hasil Satuan Normal Remarks
LED I 30 Mm 0-2 Tinggi
LED II 60 Mm 2-11 Tinggi
Hematologi (15 September 2015)
Pemeriksaan Hasil Satuan Normal Remarks
LED I 1 Mm 0-2
LED II 14 Mm 2-11 Tinggi

Imunologi (15 September 2015)


Pemeriksaan Hasil Satuan Normal Remarks
RF (Kuantitatif) 16 <8 Tinggi

Kimia Klinik (15 September 2015)


Pemeriksaan Hasil Satuan Normal Remarks
CRP 71,4 mg/L 0,00-5,00 Tinggi
(Kuantitatif)

22
Pemeriksaan Radiologi (13 September 2015)

Foto Thorax AP:


Cor : kesan membesar
Pulmo : tak tampak infiltrat/nodul
Sinus pleura kanan kiri tajam
Diaphragma kanan kiri normal
Tulang-tulang tidak tampak kelainan
Kesan : cardiomegaly
Pulmo tak tampak kelainan

23
Foto Manus Kanan-Kiri AP/Oblique:
Tampak non-union fraktur avulsi processus styloideus os ulna kiri
Trabekulasi tulang normal
Celah dan permukaan sendi baik
Tak tampak erosi/destruksi tulang
Tak tampak soft tissue mass/swelling
Kesan : non-union fraktur avulsi processus styloideus os ulna kiri
Tulang-tulang manus kanan tak tampak kelainan

24
Foto Genu Kanan-Kiri AP/Lateral:
Aligment baik
Tampak osteophyte pada condylus lateralis et medialis dan eminentia
intercondylaris os tibia kanan-kiri, margo posteroinferior os patella kanan-
kiri
Trabekulasi tulang normal
Celah dan permukaan sendi baik
Tak tampak erosi/destruksi tulang
Tampak soft tissue swelling regio genu kanan-kiri
Kesan : osteoarthritis genu bilateral grade I (Kellgren-lawrence)
Soft tissue swelling regio genu kanan-kiri

25
Foto Pedis Kanan-Kiri AP/Lateral:
Aligment b2aik
Tak tampak garis fraktur/dislokasi
Trabekulasi tulang normal
Celah dan permukaan sendi baik
Tak tampak erosi/destruksi tulang
Tak tampak soft tissue mass/swelling
Kesan : Tulang-tulang pedis kanan-kiri tak tampak kelainan

3.6 DIAGNOSIS
- Rheumatoid Arthritis dd SLE
- Secondary Osteoarthritis Genu D et S
3.7 PLANNING
Terapi
 IVFD NS 20 tpm
 Paracetamol 4x750mg io
 Na diclofenac 3x50mg io
 Metotrexat 1x7,5mg io

26
 Diet tinggi kalori tinggi protein
 Kompres hangat
Diagnostik
 Analisis synovial fluid
Monitoring:
 Keluhan
 Tanda vital : Kesadaran, Tekanan Darah, Nadi, Suhu, Respirasi
 CM-CK
3.8 Prognosis
 Vitally : dubius ad bonam
 Functionally : dubius ad bonam
 Sanationum : dubius ad bonam

27
BAB IV
PEMBAHASAN

4.1 Alur Kunjungan


Kunjungan dilakukan pada hari Kamis tanggal 17 September 2015 ke
tempat tinggal pasien yang berada di Jalan Goa Gong, Jimbaran, Badung.
Pasien beserta keluarganya menyambut dengan baik. Prinsip-prinsip umum
pengelolaan Rheumatoid Arthritis tidak hanya terbatas pada terapi
farmakologis, namun juga memerlukan terapi non-farmakologis yaitu
pendekatan bio-psiko-sosial. Kunjungan dilakukan ke rumah pasien untuk
mengidentifikasi masalah, mengamati kondisi pasien dengan turun langsung
ke lapangan, menemukan permasalahan yang ada, serta mencari
penyelesaiannya. Saat melakukan kunjungan ke rumah pasien, keluhan pasien
sudah lebih membaik dibandingkan dengan saat di rumah sakit. Adapun
intervensi yang dilakukan yaitu:
a. Edukasi untuk meningkatkan pengetahuan dan pemahaman pasien beserta
keluarganya tentang Rheumatoid Arthritis.
b. Menyadarkan pasien beserta keluarganya akan pentingnya menjaga
kesehatan dengan memenuhi kebutuhan nutrisi serta beraktivitas dengan
baik.

4.2 Daftar Permasalahan


Adapun permasalahan yang masih menjadi kendala pasien dalam hal
menghadapi penyakitnya antara lain:
1. Pasien kurang peduli dengan masalah kesehatan yang dialaminya, dalam
hal ini penyakit Rheumatoid Arthritis yang dimilikinya. Pasien tidak
mengetahuinya sampai pasien menimbulkan gejala yang berat.
2. Pasien masih kurang paham tentang penyakitnya, meliputi faktor resiko dan
gejala-gejalanya.
3. Kepatuhan pasien dalam minum obat dan pengaturan jenis makanan sehari
– hari kurang.

28
4. Masalah biaya pengobatan pasien. Awalnya pasien bingung tentang biaya
pengobatannya, dan pasien belum sempat mengurus asuransi karena pasien
tidak memiliki KTP Bali.

4.3 Analisis Kebutuhan


4.3.1 Kebutuhan Fisik-Biomedis
1. Kecukupan Gizi
Menurut pengakuan pasien, dalam sehari pasien makan 3 kali sehari
dengan uraian menu untuk sarapan berupa nasi putih , lauk pauk ,air
dan kopi. Untuk makan siang dan malam menunya hampir sama
kecuali pada siang dan malam hari pasien tidak mengonsumsi kopi .
Pasien mengatakan lebih sering memasak sendiri karena pasien
biasanya membuka warungnya pukul 9 pagi
Menu makanan pasien berisi nasi putih sebagai sumber karbohidrat,
berisi sayur sebagai sumber serat, berisi telur ayam, daging ayam, dan
tahu tempe sebagai sumber protein. Untuk buah-buahan pasien
mengaku jarang memakan buah-buahan, pasien biasanya membeli
buah apabila ke pasar. Pasien juga jarang membeli makanan-makanan
camilan, namun kadang-kadang anak pasien membelikan makanan
untuk pasien. Pasien mengatakan tidak memiliki riwayat alergi
makanan tertentu.

 Analisis Kebutuhan Kalori

Kebutuhan kalori pasien dapat dihitung dengan menggunakan rumus


Broca dengan pertama-tama menentukan berat badan ideal.
Berat Badan Ideal (BBI) = [tinggi badan (cm) - 100] x 1 kg ± 10%
= (152 - 100) x 1 kg ± 10%
= 42-62 kg
Berdasarkan hasil pemeriksaan fisik berat badan pasien saat ini adalah
45 kg &BMI = 19,47 pasien termasuk kategori normal.

29
 Kebutuhan Kalori Basal

Jenis kelamin perempuan:


= berat badan (kg) x 25 kalori/kgBB
= 45x 25 kalori/kg
= 1125 kalori

KoreksiTingkat aktivitas sedang =20% x KKB


= 20% x 1125 kalori
= 225 kalori

 Total kebutuhan kalori per hari = (KKB - koreksi umur +

koreksi tingkat aktivitas)


kalori/hari
= (1125 – 56,25 + 225)kalori/hari
= 1293,75,5kalori/hari
Untuk Memudahkan penghitungan maka dipakai kebutuhan kalori
penderita adalah 1300 kalori/hari
 Distribusi Makanan
Jumlah kalori per hari pasien ini dibagi dalam 3 porsi makan utama
dan 2 porsi makanan selingan, yaitu:
a. Makan pagi : 20% x 1300 kalori = 260 kalori
b. Makan siang : 30% x 1300 kalori = 390 kalori
c. Makan malam : 25% x 1300 kalori = 325 kalori
d. Asupan di sela makan pagi dan siang : 15% x 1300 = 195 kalori
e. Asupan di sela makan siang dan malam : 10% x 1300 = 130 kalori

a. Distribusi makanan berdasarkan komponen makanan adalah:


Waktu Karbohidrat Protein Lemak
Total
makan (50% x kalori) (20% x kalori) (30% x kalori)
Makan Pagi 260 kalori 130 kalori 52 kalori 78 kalori

30
Makan Siang 390 kalori 195 kalori 78 kalori 117 kalori
Makan Malam 325 kalori 162,5 kalori 65 kalori 97,5 kalori
Selingan 1 195 kalori
Selingan 2 130 kalori

Perhitungan Nutrisi Pada Pasien


Jenis Jumlah Satuan Jumlah Kalori Total
Penukar
Karbohidrat
Nasi 3 piring 1 1/2 gelas 600
Roti 1 - 150
Lainnya - - -
Protein Hewani
-Telur 1 butir 1 butir 95
Protein Nabati
-Tahu 2 potong 2 biji besar 160
-Tempe 2 potong 2 potong 160
Sayur 1/2 piring sedang 200

Perhitungan jumlah nutrisi total yang dikonsumsi pasien =1365 kalori di


mana sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan energi pasien.
Kegiatan fisik
Pasien memiliki aktivitas yang tidak terlalu sibuk.Setiap hari pasien bangun pada
pukul 6.00 untuk memasak bahan dagangan dan menyiapkan sarapanj. Setelah itu
pasien dan suami sarapan bersama. Setelah itu pasien pergi ke warung-warung
yang berjarak sekitar ±2 Km dari rumah pasien untuk menitipkan barang
dagannya. Kemudian pasien melanjutkan pekerjaan rumahnya seperti menyapu,
mencuci pakaian dan menyetrika dan kemudian membantu suaminya
membersihkan villa di sebelah rumah pasien. Pasien biasanya makan siang dijeda
jam bekerjanya antara pukul 13.00 – 14.00. setelah makan siang pasien dan suami
biasanya beristirahat sejenak seperti tidur siang atau bercerita-bercerita dengan

31
suami sambil mengkonsumsi kopi. dan pukul 16.00 pasien melanjutkan
membersihkan villa. Pada malam harinya pasien dan suami mulai tidur pukul
22.00 WITA.

Lingkungan
Pasien tinggal disebuah rumah bersama suaminya. Dalam satu
pekarangan terdapat 2 kamar yaitu 1 kamar tidur dan 1 kamar lagi
dijadikan sebagai tempat penyimpanan barang-barang kerjaan pasien.
Kamar berukuran 3 x 3 m2, 1 pintu masuk setiap kamar tanpa jendela,
serta 1 dapur dan 1 kamar mandi di luar rumah. Lantai kamar terbuat dari
keramik, tembok batako, dan beratapkan genteng. Kamar pasien terkesan
tidak rapi karena memang luasnya yang sempit dan terdapat banyak
sekali barang-barang yang dimiliki pasien tetapi tidak tertata. Baju-baju
kotor dan baju berantakan disekitar kamar.Di depan kamar pasien
terdapat ruang keluargan yang berisi sebuat TV dan beraslaskan oleh
tiker. Dapur pasien menjadi satu dengan rumah pasien berisikan tempat
menaruh peralatan dapur serta kompor gas kecil, dibawahnya terdapat
tong sampah. Dapur terkesan cukup bersih dan rapi. Kamar mandi
letaknya dibelakang dapur. Sumber air MCK untuk pasien adalah dari air
PAM sedangkan sumber air minum adalah air galon. Keadaan rumah
disebelah pasien kanan dan kiri kamar pasien apabila dilihat dari luar
terkesan tidak rapi. Halaman rumah tidak begitu luas, halaman ini
dipergunakan oleh penghuni rumah sebagai tempat parkir motor. Pasien
memiliki binatang peliharaan yaitu tiga ekor burung. Pembuangan
sampah menggunakan tempat. Disekitar rumah pasien tidak ada penghuni
lain. Jarak rumah pasien menuju kawasan perumahan lain sekitar 1,5 km.
Hubungan pasien dengan tetangga lainnya terlihat baik, dimana saling
bertegur sapa dan bercanda dan pasien juga sering menitipkan barang
daganganny ke tetangganya.

4.3.2 Kebutuhan bio-psikosoial


1. Lingkungan biologis

32
Pasien dengan berat badan 45 kg dan dengan tinggi badan 152 cm,
dengan BMI pasien sebesar 19,47 kg/m2. Berat badan ideal pasien
adalah ( TB – 100 ) = 52 kg. Dari pengakuan pasien, pola makan
cenderung teratur dan baik. Menu makan pasien sehari-hari berupa
sarapan nasi putih serta lauk pauk dan kopi, makan siang dan makan
malam berupas nasi serta lauk pauk , dimana dilengkapi dengan lauk
sayur dan daging.Pasien juga mengatakan meminum air mineral yang
cukup, yaitu sekali minumnya 2 gelas, dan biasanya pasien minum
lebih dari 8 gelas setiap harinya.Pasien mengatakan selalu mencuci
tangan sebelum dan sesudah makan, namun terkadang pasien tidak
mencuci tangan dengan baik dan hanya membahsahi tangannya
sebelum makan. Pasien mencuci tangan dengan sabun apabila tangan
pasien benar-benar kotor. Dalam lingkungan biologis atau keluarga
pasien tidak ada yang pernah mengalami keluhan yang sama
sebelumnya, ataupun mengalami keluhan yang serupa dengan pasien
saat ini.
2. Faktor psikososial

Secara psikososial, pasien tidak memiliki masalah dengan lingkungan


sosial sekitarnya. Pasien memiliki hubungan harmonis dengan
keluarga, pasien selalu menyempatkan waktu untuk bercerita-bercerita
dengan keluarga pada malam hari sambil menonton TV. Hubungan
pasien dengan tetangga juga cukup baik.Berdasarkan penghasilan
keluarga dan pasien sendiri, keluarga termasuk ke dalam ekonomi
menengah.
4.2 Pemecahan Masalah dan Saran
4.4.1 Pemecahan masalah
Dari beberapa fokus permasalahan yang telah kami jabarkan pada sub bab
sebelumnya, kami mengusulkan penyelesaian masalah sebagai berikut :
1. Meningkatkan edukasi dan informasi pasien tentang penyakitnya.
Untuk mencari penyelesaian dalam masalah pertama, solusi yang
kami berikan yaitu berupa penjelasan dan pemberian informasi seputar
penyakit yang meliputi :

33
a. Gejala dari Reumatoid Atritis
 Kaku di pagi hari di persendian kurang dari 1 jam sebelum
ada perbaikan maksimal.
 Timbul artiris pada 3 daerah persendian atau lebih yang
timbul secara bersamaan dan biasanya terkenanya simetris
atau di kedua pergelangan.
 Dapat ditemukan adanya tanda-tanda peradangan pada
persendian seperti kemerahan, bengkak, panas maupun
nyeri.
 Gejala yang tidak khas seperti adanya demam, kelemahan
dan penurunan berat badan.
 Dapat di temukan adanya penonjolan di bawah kulit pada
tulang yang menonjol seperti di lutut.
b. Penyebab dan Faktor Resiko Artritis Reumatoid
 Penyebab pasti masih belum diketahui secara pasti dimana
merupakan penyakit autoimun yang dicetuskan faktor luar
(infeksi, cuaca) dan faktor dalam (usia, jenis kelamin,
keturunan, dan psikologis). Diperkirakan infeksi virus dan
bakteri sebagai pencetus awal RA. Sering faktor cuaca yang
lembab dan daerah dingin diperkirakan ikut sebagai faktor
pencetus.
 Faktor resiko dari arthritis rheumatoid ada 2 yaitu dapat
dimidifikasi seperti pekerjaan, merokok, makanan (sering
makan daging), kopi, status ekonomi. Dan yang tidak dapat
dimodifikasi seperti genetic, jenis kelamin dan usia.
c. Beberapa tindakan pencegahan yang dapat dilakukan :
 Dari manusia sebagai host
Pencegahan dapat berupa meningkatkan kondisi pertahan
tubuh/imunitas pasien dengan mengkonsumsi makanan
dengan nutrisi yang seimbang dan rajin melakukan
olahraga atau aktivitas fisik yang sesuai untuk RA.
 Dari agen penyebab RA

34
 Karena penyebab dari arthritis rheumatoid masih belum
diketahui penyebabnya
Diare paling sering diakibatkan oleh bakteri yang
mengkontaminasi makanan atau minuman yang
dikonsumsi.Memasak makanan dengan baik sebelum
dimakan, dan memasak air minum dengan benar sebelum
diminum berperan penting dalam meminimalisir
kontaminasi bakteri pada makanan dan minuman. Selain itu
kebiasaan mencuci tangan sebelum makan dapat
mengurangi resiko terjangkit penyakit diare.Tangan dapat
berisi berbagai jenis bakteri yang dapat menyebabkan
penyakit, apabila tidak dicuci dengan benar, bakteri
tersebut dapat masuk ke dalam tubuh manusia melalui
makanan yang kita pegang saat makan.
 Dari lingkungan
Memberikan penjelasan dan informasi untuk selalu
menjaga kebersihan lingkungan, termasuk kebersihan alat
makan, dan kamar mandi.

4.3.2 Kebutuhan Bio-Psiko-Sosial


a. Lingkungan Biologis
Dalam lingkungan keluarga pasien tidak ada yang mengalami
keluhan yang sama dengan pasien saat ini ataupun penyakit sistemik lain.
Kondisi rumah pasien sudah cukup terjaga kebersihannya.
Kualitas kehidupan sehari-hari pasien dikatakan cukup baik,
karena pasien bisa melakukan semua aktivitas dasar seperti makan,
minum, membersihkan diri, mengontrol BAB dan BAK tanpa ada
masalah dan tidak perlu bantuan.

b. Faktor Psikologis dan Sosial


Dalam keadaan sakit ini pasien sangat membutuhkan pengertian
dan dukungan dari keluarga dalam menjalani aktivitas sehari-hari dan

35
menjalani pengobatannya termasuk untuk minum obat setiap harinya dan
pengaturan dietnya. Pasien saat ini tinggal bersama suaminya. Dimana
suami dan anak-anak pasien sangat memperhatikan perkembangan
kondisi pasien. Pasien mengaku terkadang merasa jenuh karena
aktivitasnya yang terbatas. Hubungan pasien dengan tetangga terlihat
baik, dari cara mereka saling bertegur sapa dan bercerita satu sama lain.
4.4 Pemecahan Masalah
Dari beberapa permasalahan yang telah kami jabarkan sebelumnya,
kami mengusulkan penyelesaian masalah sebagai berikut:

2. Edukasi pasien dan keluarga tentang penyakitnya.


Pasien dijelaskan bahwa gagal ginjal kronik merupakan penyakit
seumur hidup yang terapi definitifnya adalah transplantasi ginjal. Namun,
untuk saat ini pasien harus menjalani terapi pengganti yaitu melakukan
hemodialisis reguler setiap minggu. Diberi tahu juga bahwa penyakitnya
tersebut tidak bisa sembuh karena merupakan suatu kelainan ginjal yang
bisa disebabkan oleh berbagai hal seperti genetik, infeksi, atau penyakit
sistemik lainnya, tetapi bisa dikontrol agar tidak memberat dengan
melakukan hemodialisis secara rutin. Dengan menjelaskan keadaan
penyakitnya kepada pasien, diharapkan akan meningkatkan kepatuhan
pasien dan pasien tidak bosan berobat. Memberikan penjelasan bahwa rasa
lemah yang dialami pasien adalah karena anemia yang dialami pasien.
Memberikan informasi faktor resiko yang kemungkinan terjadi pada
pasien. Tekanan darah tinggi yang berkelanjutan dapat merusak atau
mengganggu pembuluh darah halus dalam ginjal yang lama kelamaan
dapat mengganggu kemampuan ginjal untuk menyaring darah. Dengan
mengendalikan tekanan darah maka risiko terjadinya kerusakan ginjal
yang lebih parah dapat dicegah.
Memberikan informasi kepada pasien dan keluarganya bahwa
untuk dapat mengendalikan penyakitnya, diperlukan kombinasi antara
terapi gizi, medis, latihan jasmani, dan intervensi farmakologis. Pasien
juga dapat berperan aktif dalam pemantauan gula dan tekanan darahnya

36
secara mandiri serta menginformasikan kepada pasien mengenai target
pencapaian yang diharapkan.
3. Biaya Pengobatan
Karena pasien harus rutin mendapatkan hemodialisis dan obat-
obatan untuk penyakitnya, tentunya memerlukan biaya yang tidak sedikit.
Hal ini diatasi oleh pasien dengan memakai BPJS Kesehatan. Karena
pasien sudah terdaftar di BPJS Kesehatan, jadi biaya pengobatannya pun
ditanggung BPJS Kesehatan.

4. Edukasi pasien tentang kontrol dan hemodialisis


Kontrol ke RSUP Sanglah secara reguler dan teratur, dan selalu
terbuka serta rajin melaporkan perkembangan penyakit serta keluhannya
kepada dokter. Kontrol dilakukan untuk mengecek tekanan darah dan
melakukan hemodialisis. Memberikan saran pada pasien yang melakukan
hemodialisis di RSUP Sanglah agar menjaga kondisi tubuhnya, sehingga
pasien dapat menghindari terjadinya infeksi yang didapat di rumah sakit
sehingga mencegah perburukan kondisi pasien. Pasien juga harus proaktif
dalam bertanya mekanisme pemesanan jadwal hemodialisis baik itu melalui
petugas kesehatan yang bertugas di poliklinik penyakit dalam ataupun di
ruang hemodialisis.

5. Dukungan keluarga
Pasien disarankan untuk berkomunikasi secara rutin dengan
keluarganya mengenai kehidupan sehari-hari dan terutama perkembangan
penyakitnya, dengan demikian pasien mendapatkan dukungan emosional
dari keluarga dan keluarga bisa dengan sigap terhadap kondisi pasien.
Sesekali keluarga juga dapat mengajak pasien keluar jalan-jalan keluar
untuk refreshing.

6. Pola makan yang teratur


Menjelaskan pada pasien bahwa kunci keberhasilan dari
pengobatan CKD adalah dalam pengaturan pola hidup dimana didalamnya

37
termasuk juga pola makan pasien. Beri saran kepada pasien untuk tetap
menerapkan pola hidup sehat dan pola makan yang teratur sesuai dengan
diet CKD. Beri tahu juga kepada pasien dan keluarga agar mengatur
makanannya agar menjadi makanan seimbang dengan gizi yang cukup.
Pola makan yang teratur ini dengan tujuan mempertahankan kondisi
optimal dari pasien sehingga tidak muncul infeksi atau komplikasi dari
penyakitnya.

38
BAB V
SIMPULAN

Pasien laki-laki WKS berumur 57 tahun bertempat tingal di Jalan Gurita


IV gang Pari no. 21 Denpasar. Pasien terdiagnosa gagal ginjal sejak 25 Maret
2015 dan sudah menjalani hemodialisis pasien sedang menunggu hasil
pemeriksaan saat pasien kontrol kembali tanggal 15 April 2015. Pasien
merupakan seorang pensiunan PNS yang tinggal bersama seorang istri dan 3
orang anaknya.
Permasalahan yang masih menjadi kendala pasien antara lain Pasien
awalnya kurang peduli dengan masalah kesehatan yang dialaminya, pasien juga
belum memahami jika memerlukan pengobatan CKD untuk seumur hidup, pasien
masih kurang paham tentang penyakitnya, dan sebelum sakit pasien mengaku
jarang berolahraga karena tidak memiliki waktu. Maka dari itu berdasarkan
analisis kondisi pasien saat ini, penulis mengusulkan beberapa penyelesaian
masalah yakni edukasi pasien dan keluarga tentang penyakitnya, edukasi pasien
tentang kontrol kondisi kesehatan, dukungan keluarga dan pola makan yang
teratur

39
BAB IV
PEMBAHASAN

Rheumatoid Arthritis (RA) adalah penyakit autoimun progresif dengan


inflamasi kronik yang menyerang sistem muskuloskeletal namun dapat
melibatkan organ dan sistem tubuh secara keseluruhan, yang ditandai dengan
pembengkakan, nyeri sendi serta destruksi jaringan sinovial yang disertai
gangguan pergerakan. RA merupakan penyakit autoimun dimana etiologinya
masih belum jelas namun terdapat beberapa faktor risiko yang dapat memicu
terjadinya RA. Faktor risiko yang tidak dapat dimodifikasi adalah adanya faktor
genetik, jenis kelamin perempuan, dan usia diatas 40 tahun. Pada faktor risiko
yang dapat dimodifikasi, terdapat faktor gaya hidup yang meliputi sosial ekonomi
yang rendah, merokok terutama yang lebih dari 10 tahun, diet tinggi daging merah
dibanding sayur-sayuran dan buah-buahan, adanya infeksi virus maupun bakteri,
dan pekerjaan yang terpapar zat kimia utamanya silica ataupun pestisida seperti
pada petani dan pekerja tambang, dan bentuk tubuh obesitas memperburuk faktor
risiko.
Pada pasien ini merupakan perempuan berusia 49 tahun dengan faktor
predisposisi genetik yang tidak diketahui karena pasien menyangkal adanya
riwayat keluarga yang menderita keluhan yang sama dan tidak dilakukan
pemeriksaan genetika. Pasien berpendidikan akhir sebagai lulusan SMP dan
bekerja sebagai penjaga villa dan pedagang yang memiliki penghasilan pas-pasan
dalam menghidupi kebutuhan sehari-hari. Selama bekerja pasien jarang
menghirup zat kimia seperti pestisida atau zat kimia lainnya. Pasien menyangkal
memiliki kebiasaan merokok dan minum alkohol. Pasien juga memiliki kebiasaan
konsumsi makanan yang biasa saja dan menyangkal sering makan daging merah
karena keterbatasan ekonomi. Pasien mengakui jika jarang mengonsumsi buah-
buahan. Pasien memiliki status gizi cukup.
Manifestasi klinis RA meliputi keluhan umum, kelainan sendi, dan kelainan
diluar sendi. Keluhan umum dapat berupa perasaan badan lemah, nafsu makan
menurun, peningkatan panas badan yang ringan atau penurunan berat badan.

40
Keluhan sering berupa kaku sendi di pagi hari, pembengkakan dan nyeri sendi.
Terutama mengenai sendi kecil dan simetris yaitu sendi pergelangan tangan, lutut
dan kaki (sendi diartrosis). Sendi lainnya juga dapat terkena seperti sendi siku,
bahu sterno-klavikula, panggul, pergelangan kaki. Kelainan tulang belakang
terbatas pada leher. Dan kelainan diluar sendi dapat meliputi kelainan pada kulit
yaitu nodul rematoid, kelainan jantung, paru, saraf, mata, dan kelenjar limfe.
Pasien ini mengeluhkan nyeri sendi lutut kanan dan kiri hingga tidak bisa
berjalan. Pasien juga mengeluhkan kaku dan nyeri sendi di jari-jari tangan
terutama di ibu jari, jari telunjuk, dan jari tengah serta pergelangan tangan kanan
dan kiri. Nyeri dirasakan sejak 2 bulan SMRS dan semakin lama semakin
memburuk. Pasien juga mengeluhkan badan yang lemas sejak 1 hari SMRS.
Demam, sesak, diare, kekeringan pada mata, penurunan nafsu makan dan berat
badan disangkal pasien.
Pemeriksaan penunjang pada pasien RA ditemukan pada hasil laboratorium
yaitu penanda inflamasi Laju Endap Darah (LED) dan C-Reactive Protein (CRP)
meningkat. Kemudian adanya Rheumatoid Factor (RF) positif namun RF negatif
tidak menyingkirkan diagnosis. Dan Anti Cyclic Citrullinated Peptide (anti-CCP)
yang positif namun hubungan antara anti-CCP terhadap beratnya penyakit tidak
konsisten. Dari hasil pemeriksaan radiologis dapat terlihat berupa pembengkakan
jaringan lunak, penyempitan ruang sendi, demineralisasi “juxta articular”,
osteoporosis, erosi tulang, atau subluksasi sendi.
Hasil laboratorium pasien ini pada saat masuk RS (13/9/2015) menunjukkan
LED meningkat dengan hasil LED I 30mm dan LED II 60mm. Hasil CRP juga
meningkat dengan hasil 71,4 mg/L. Selain itu RF juga mengalami peningkatan
yaitu dengan hasil 16 dan tidak dilakukan pemeriksaan anti-CCP. Dari hasil
pemeriksaan radiologis didapatkan gambaran osteoarthritis dan soft tissue
swelling pada kedua sendi lutut.
Penegakan diagnosis berdasarkan kriteria ARA tahun 1987 pada pasien ini
terpenuhi karena trdapat minimal 4 kriteria dari 7 kriteria dan telah berlangsung
lebih dari 6 minggu. Sedangkan pada kriteria ACR tahun 2010, pasien ini
memenuhi kriteria karena memiliki skor lebih dari 6. Uraian masing-masing
kriteria diagnosis dijabarkan sebagai berikut:

41
No Kriteria Diagnosis ARA tahun 1987 Skor
1 Kaku pagi hari pada sendi dan sekitarnya, sekurang- √
kurangnya selama 1 jam sebelum perbaikan maksimal.
2 Pembengkakan jaringan lunak atau persendian (arthritis) √
pada 3 daerah sendi atau lebih secara bersamaan.
3 Artritis pada persendian tangan sekurang-kurangnya terjadi √
satu pembengkakan persendian tangan yaitu PIP (proximal
interphalangeal), MCP (metacarpophalangeal), atau
pergelangan tangan.
4 Artritis simetris, keterlibatan sendi yang sama pada kedua √
belah sisi misalnya PIP (proximal interphalangeal), MCP
(metacarpophalangeal), atau MTP (metatarsophalangeal).
5 Nodul rheumatoid, yaitu nodul subkutan pada penonjolan -
tulang atau permukaan ekstensor atau daerah juksta
artikuler.
6 Rheumatoid Factor serum positif, √
7 Perubahan gambaran radiologis yang khas pada RA pada -
sendi tangan atau pergelangan tangan yaitu erosi atau
dekalsifikasi tulang pada sendi yang terlibat

Kriteria Diagnosis ACR tahun 2010


Distribusi Sendi (0-5) Skor Skor Pasien
1 sendi besar 0 3
2-10 sendi besar 1
1-3 sendi kecil (sendi besar tidak diperhitungkan) 2
4-10 sendi kecil (sendi besar tidak diperhitungkan) 3
>10 sendi kecil 5
Serologi (0-3)
RF negatif DAN ACPA negatif 0 3
Positif rendah RF ATAU positif rendah ACPA 2
Positif tinggi RF ATAU positif tinggi ACPA 3

42
Durasi Gejala (0-1)
<6 minggu 0 1
≥6 minggu 1
Acute Phase Reactant (0-1)
CRP normal DAN LED normal 0 1
CRP abnormal ATAU LED abnormal 1
Total: 8

Penanganan pada penderita RA meliputi mencakup terapi farmakologi,


rehabilitasi dan pembedahan bila diperlukan, serta edukasi kepada pasien dan
keluarga. Terapi farmakologi awal dapat diberikan NSAID untuk mengurangi
nyeri dan inflamasinya. Selain itu juga diberikan DMARDs segera setelah
diagnosis RA ditegakkan untuk mengurangi atau mencegah kerusakan sendi,
mempertahankan integritas dan fungsi sendi. Dapat pula diberikan kortikosteroid
dosis rendah sambil menunggu efek DMARDs setelah 4-16 minggu.
Pada pasien ini diberikan terapi faramakologis berupa paracetamol 4x750
mg io, Na diclofenac 2x50 mg io, dan Metotrexat 1x7,5mg io. Pada terapi suportif
diberikan cairan IVFD NS 20tpm dan diet tinggi kalori dan tinggi protein. Protein
yang dipilih juga bukan berasal dari daging merah. Edukasi kepada pasien dan
keluarga juga diberikan meliputi diagnosis, penatalaksanaan baik farmakologi dan
non farmakologi serta pencegahan agar tidak terjadi kekambuhan.

43
BAB V
SIMPULAN

Rheumatoid Arthritis (RA) adalah penyakit autoimun progresif dengan


inflamasi kronik yang menyerang sistem muskuloskeletal namun dapat
melibatkan organ dan sistem tubuh secara keseluruhan, yang ditandai dengan
pembengkakan, nyeri sendi serta destruksi jaringan sinovial yang disertai
gangguan pergerakan diikuti dengan kematian prematur. Terdapat banyak faktor
risiko terjadinya RA diantaranya ada yang bersifat tidak dapat dimodifikasi
(genetik, ras, jenis kelamin, dan usia) dan yang dapat dimodifikasi (gaya hidup,
infeksi, dan bentuk tubuh). Manifestasi klinis RA dapat berupa keluhan umum,
kelainan sendi, dan kelainan diluar sendi. Dengan penegakkan diagnosis
berdasarkan kriteria ARA tahun 1987 ataupun ACR tahun 2010 dimana meliputi
dari hasil anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang. Pada pasien
perempuan 49 tahun ini didapatkan tanda tanda yang serupa dengan manifestasi
klinis artritis yang mengarah ke diagnosis rheumatoid arthritis dengan
pemeriksaan fisik dan penunjang yang mendukung. Berdasarkan prosedur
penatalaksanaan RA, saat ini pasien menjalani perawatan di rumah sakit dan
mendapatkan terapi suportif dan medikamentosa untuk menghilangkan inflamasi
dan mencegah destruksi jaringan lebih lanjut.

44
DAFTAR PUSTAKA

Aletaha D, Neogi T, Silman AJ, Funovits, Felson T, Bingham III CO et al. (2010).
Rematoid Arthritis Classification Criteria An American College of
Rheumatology/European League Against Rheumatism Collaborative
Initiative. Arthritis Rheum, vol.62, pp.2569 – 81
Bresnihan B. (2002). Rheumatoid Arthritis: Principles of Early Treatment. The
Journal of Rheumatology, vol.29, no.66, pp.9-12
Candra K. (2013). Teknik Pemeriksaan Genu Pada Kasus Osteoarthritis Dengan
Pasien Non Koperatif. Academia Edu
Choy E. (2012). Understanding The Dynamics: Pathway Involved In The
Pathogenesis Of Rheumatoid Arthritis. Oxford University Press on behalf of
the British Society for Rheumatology, vol. 51, pp.3-11
Febriana (2015). Penatalaksanaan Fisioterapi Pada Kasus Rheumatoid Arthritis
Ankle Billateral Di RSUD Saras Husada Purworejo. Fakultas Ilmu
Kesehatan Universitas Muhammadiyah Surakarta
Kapita Selekta Kedokteran/editor. Chris Tanto, et al. Ed.4.(2014). Jakarta: Media
Aesculapius, pp 835-839
McInnes, I.B., Schett, G. (2011). The Pathogenesis of Rheumatoid Arthritis. N
Engl J Med, vol. 365, pp. 2205-19
Nainggolan,Olwin. (2009). Prevalensi dan Determinan Penyakit Rematik di
Indonesia. Maj Kedokt Indon, vol.59, no.12, pp.588-594
Pradana,S.Y. (2012). Sensitifitas Dan Spesifisitas Kriteria ACR 1987 dan
ACR/EULAR 2010 pada Penderita Artritis Reumatoid di RSUP Dr. Kariadi
Semarang. Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro
Putra,T.R., Suega,K., Artana,I.G.N.B. (2013). Pedoman Diagnosis dan Terapi
Ilmu Penyakit Dalam. Bagian/SMF Ilmu Penyakit Dalam Fakultas
Kedokteran Universitas Udayana/RSUP Sanglah
Rekomendasi Perhimpunan Reumatologi Indonesia. (2014). Diagnosis dan
Pengelolaan Artritis Reumatoid. Perhimpunan Reumatologi Indonesia.
ISBN
Rudan, I., et al. (2015). Prevalence Of Rheumatoid Arthritis In Low– And
Middle–Income Countries: A Systematic Review And Analysis. Journal of
Global Health, vol.5, no.1, pp.1-10
Suarjana, I.N. (2009). Artritis Reumatoid. dalam Sudoyo, A.W., Setiyohadi, B.,
Alwi, I., Simadibrata, M., Setiati, S. (editor). Buku Ajar Ilmu Penyakit
Dalam. Edisi V, FKUI, Jakarta, pp.2495-508
Sumariyono, H.I. (2010). Predictor Of Joint Damage In Rheumatoid Arthritis.
Indonesian Journal of Rheumatology, vol.03, no.02, pp. 15-20

45
Suyasa, I.G.P.D., Krisnandari, A.A.I.W., Onajiati NWU. (2013). Keluhan-
Keluhan Lanjut Usia Yang Datang Ke Pengobatan Gratis Di Salah Satu
Wilayah Pedesaan di Bali. Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Bali, pp.42-48
Tobon, G.J., Youinou, P., Saraux, A. (2009). The Environment, Geo-
Epidemiology, and Autoimmune Disease: Rheumatoid Arthritis, Elsevier,
doi:10.1016/j.autrev.2009.11.019

46
LAMPIRAN

Foto klinis jari-jari tangan dan lutut pasien

47