Anda di halaman 1dari 37

MAKALAH

“TRAUMA MEDULA SPINALIS”

Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah keperawatan medikal bedah II

Dosen Pengampu :Ns. Asnah, S.Kep.,M.Pd

Disusun oleh:

MELITA RAMADHANI P07220116104

MIRANDA P07220116105

MUKHLIS ABDI SYAHBANI P07220116106

NENENG SEPTIANI P07220116107

NILA AYU SEPTIANI P07220116108

NUR AINUN P07220116109

PRODI D-III KEPERAWATAN KELAS BALIKPAPAN


POLITEKNIK KESEHATAN KEMENTRIAN KESEHATAN
KALIMANTAN TIMUR
TAHUN AJARAN2017/2018
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena
dengan rahmat dan karunianya saya dapat menyelesaikan penyusunan makalah
Keperawatan Medikal Bedah II. Makalah ini membahas tentang “Trauma medula
spinalis”. Saya berterima kasih kepada ibu Ns. Asnah,S.Kep.,M.Pd selaku dosen mata
kuliah Keperawatan Medikal Bedah II yang telah memberikan tugas sehingga saya dapat
memahami dan mempelajari materi yang ada.
Saya sangat menyadari bahwa terdapat banyak kekurangan dalam pembuatan
makalah ini. Oleh karena itu saran dan kritik saya harapkan demi kesempurnaan
makalah saya selanjutnya. Saya harap makalah ini dapat bermanfaat bagi para
pembacanya.

Balikpapan, 12 Agustus 2018

Penyusun

1
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI...............................................................................................................ii

BAB I............................................................................................................................1

PENDAHULUAN.......................................................................................................1

A. Latar Belakang....................................................................................................1

B. Tujuan...................................................................................................................2

C. Sistematika penulisan .........................................................................................2

BAB II..........................................................................................................................4

PEMBAHASAN..........................................................................................................4

A. Penggertian.............................................................................................................4

B. Anatomi Fisiologi....................................................................................................4

C. Etiologi..................................................................................................................10

D. Patofisiologi..........................................................................................................12

E. Patoflow diagram.................................................................................................14

F. Tanda dan gejala...................................................................................................14

G. Pemeriksaan Penunjang......................................................................................15

H. Penatalaksanaan medis.......................................................................................17

I. Komplikasi.............................................................................................................21

KONSEP DASAR KEPERAWATAN .....................................................................21

A. Pengkajian............................................................................................................21

B. Diagnosa................................................................................................................25

C. Intervensi..............................................................................................................25

BAB III......................................................................................................................31

PENUTUP................................................................................................................31
2
A. Kesimpulan...........................................................................................................31

DAFTAR PUSTAKA................................................................................................33

3
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Trauma pada tulang belakang adalah cidera mengenai servikalis,vertebralis dan


lumbalis,akibat dari suatu trauma yang mengenai tulang belakang, seringkali oleh
kecelakaan lalu lintas. Semua trauma tulang belakang harus dianggap suatu trauma
yang hebat,sehingga sejak awal pertolongan dan transportasi ke rumah sakit penderita
harus diperlakukan secara hati-hati trauma pada tulang belakang dapat mengenai
jaringan lunak pada tulang belakang yaitu ligamen, dan diskus tulang belakang sendiri
dan sumsum tulang belakang. (Suzanne C. Smeltzer :2008).

Apabila cedera itu mengenai daerah L1-2 dan atau dibawahnya maka dapat
mengakibatkan hilangnya fungsi motorik dan sensorik serta kehilangan fungsi defekasi
dan berkemih. Cidera medulla spinalis diklasifikasikan sebagai komplet dan tidak
komplet. Cidera medulla spinalis adalah masalah kesehatan mayor yang mempengaruhi
150.000 orang di Amerika Serikat, dengan perkiraan 10.000 cedera baru yang terjadi
setiap tahun. Kejadian ini lebih dominan pada pria usia muda sekitar lebih dari 75% dari
seluruh cedera. Data dari bagian rekam medik Rumah Sakit Umum Pusat Fatmawati
didapatkan dalam 5 bulan terakhir terhitung dari Januari sampai Juni 2003 angka
kejadian angka kejadian untuk fraktur adalah berjumlah 165 orang yang di dalamnya
termasuk angka kejadian untuk cidera medulla spinalis yang berjumlah 20 orang
(12,5%). Pada usia 45-an fraktur banyak terjadi pada pria di bandingkan pada wanita
karena olahraga, pekerjaan, dan kecelakaan bermotor. Tetapi belakangan ini wanita lebih
banyak dibandingkan pria karena faktor osteoporosis yang di asosiasikan dengan
perubahan hormonal (menopause). (Medical Surgical Nursing, Charle :2008).

Klien yang mengalami cidera medula spinalis membutuhkan perhatian lebih diantaranya
dalam pemenuhan ADL dan dalam pemenuhan kebutuhan untuk mobilisasi pada L2-
membutuhkan perhatian lebih diantaranya dalam pemenuhan kebutuhan ADL dan
dalam pemenuhan kebutuhan untuk mobilisasi. Selain itu klien juga beresiko mengalami

1
komplikasi cedera spinal seperti syok spinal, trombosis vena profunda, gagal napas :
pneumonia dan hiperfleksia autonomic. Maka dari itu sebagai perawat merasa perlu
untuk dapat membantu dalam memberikan asuhan keperawatan pada klien dengan
cidera medulla spinalis dengan cara promotif, preventif,kuratif,dan rehabilitatif sehingga
masalahnya dapat teratasi dan klien dapat terhindar dari masalah yang paling buruk.
(Medical Surgical Nursing, Charle :2008).

B. Tujuan

1. Tujuan Umum

Untuk memberikan pengalaman nyata tentang asuhan keperawatan dengan kasus


cidera medula spinalis

2. Tujuan khusus

Mampu mengidentifikasi data yang menunjang

Mampu menetukan diagnosa keperawatan

Mampu menulis definisi diagnosa keperawatan

Mampu menjelaskan rasional diagnosa keperawatan

Mampu memprioritaskan diagnosa keperawatan

Mampu menyusun rencana keperawatan

C. Sistematika Penulisan

BAB I : Pendahuluan yang terdiri dari latar belakang, tujuan dan sistematika
penulisan

BAB II : Tinjauan teori yang terdiri dari pengertian, anantomi fisiologi, etiologi,
patofisiologi, patflow diagram, tanda dan gejala, pemeriksaan penunjang,

2
penatalaksanaan medis, komplikasi, konsep dasar keperawatan yaitu pengkajian,
diagnosa dan intervensi

BAB III : Penutup yang terdiri atas kesimpulan dan daftar pustaka

3
BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian

Medulla spinalis (spinal cord) merupakan bagian susunan saraf pusat yang
terletak di dalam kanalis vertebralis dan menjulur dari foramen magnum ke bagian atas
region lumbalis. Trauma pada medulla spinalis dapat bervariasi dari trauma ekstensi
fiksasi ringan yang terjadi akibat benturan secara mendadak sampai yang menyebabkan
transeksi lengkap dari medulla spinalis dengan quadriplegia (Fransiska B. Batticaca
2008).
Cedera torako-lumbal bisa disebabkan oleh trauma langsung pada torakal atau
bersifat patologis seperti pada kondisi osteoporosis yang akan mengalami fraktur
komprresi akibat keruntuhan tulang belakang (Arif Muttaqin 2008).
Cidera medula spinalis adalah suatu kerusakan fungsi neurologis yang
disebabkan oleh benturan pada daerah medulla spinalis (Brunner & Suddarth 2008).
Cidera medullan spinalis adalah suatu kerusakan fungsi neurologis yang
disebabkan sering kali oleh kecelakaan lalu lintas. Apabila cedera itu mengenai daerah
servikal pada lengan, badan dan tungkai mata penderita itu tidak tertolong. Dan apabila
saraf frenitus itu terserang maka dibutuhkan pernafasan buatan, sebelum alat pernafasan.
(diane c baughmen 2007).
Trauma pada medula spinalis adalah cedera yang mengenai servikalis, vertebra,
dan lumbal akibat trauma, seperti jatuh dari ketinggian, kecelakaan lalu lintas,
kecelakaan olahraga, dan sebagainya. (Arif Muttaqin, 2005, hal. 98)

B. Anatomi fisiologi

Menurut Mahadewa dan Maliawan (2009, hlm. 3) medula spinalis adalah


bagian dari susunan saraf pusat yang seluruhnya terletak dalam kanalis vertebralis,
dikelilingi oleh tiga lapis selaput pembungkus yang disebut meningen. Lihat pada
gambar 2.1 dibawah ini:

4
mbar 2.1 Anatomi Medula Spinalis

(Mahadewa, 2009, hlm. 136)


Lapisan-lapisan dan struktur yang mengelilingi medula spinalis dari luar ke
dalam antara lain : Dinding kanalis vertebralis (terdiri atas vertebrae dan ligamen),
Lapisan jaringan lemak (ekstradura) yang mengandung anyaman pembuluh-pembuluh
darah vena, Duramater, Arachnoid, Ruangan subaraknoid (cavitas subarachnoidealis)
yang berisi liquor cerebrospinalis, Piamater, yang kaya dengan pembuluh-pembuluh
darah dan yang Iangsung membungkus permukaan sebelah luar medula spinalis
Berikut ini dijelaskan segmen-segmen medula spinalis menurut Mahadewa dan
Maliawan (2009, hlm. 4) seperti pada gambar 2.2 dibawah ini:

5
Gambar 2.2 Segmen-segmen Medula Spinalis
(Mahadewa dan Maliawan, 2009, hlm. 4)

Medula spinalis terbagi menjadi sedikitnya 30 segmen, yaitu 8 segmen


servikal (C), 12 segmen thorax (T), 5 segmen lumbar (L), 5 segmen sacral (S), dan
beberapa segmen coccygeal (Co). Dari tiap segmen akan keluar beberapa serabut saraf.
Medula spinalis Iebih pendek daripada kolumna vertebralis sehingga segmen medula
spinalis yang sesuai dengan segmen kolumna vertebralis terletak diatas segmen
kolumna vertebralis tersebut (Mahadewa dan Maliawan, 2009, hlm. 6)
Dibawah ini dijelaskan mengenai penampang melintang medula spinalis
menurut Mahadewa dan Maliawan (2009, hlm. 7), lihat pada gambar 2.3 dibawah ini:

6
Gambar 2.3 Penampang melintang medula spinalis
(Mahadewa dan Maliawan, 2009, hlm. 7)
Columna Vertebralis adalah pilar utama tubuh yang berfungsi melindungi medula
spinalis dan menunjang berat kepala serta batang tubuh, yang diteruskannya ke lubang-
lubang paha dan tungkai bawah. Masing-masing tulang dipisahkan oleh disitus
intervertebralis.

Vertebralis dikelompokkan sebagai berikut :

Vetebrata Thoracalis (atlas).

Vetebrata Thoracalis mempunyai ciri yaitu tidak memiliki corpus tetapi hanya berupa
cincin tulang. Vertebrata cervikalis kedua (axis) ini memiliki dens, yang mirip dengan
pasak. Veterbrata cervitalis ketujuh disebut prominan karena mempunyai prosesus
spinasus paling panjang.

Vertebrata Thoracalis.

Ukurannya semakin besar mulai dari atas kebawah. Corpus berbentuk jantung,
berjumlah 12 buah yang membentuk bagian belakang thorax.

Vertebrata Lumbalis.

Corpus setiap vertebra lumbalis bersifat masif dan berbentuk ginjal, berjumlah 5 buah
yang membentuk daerah pinggang, memiliki corpus vertebra yang besar ukurnanya
sehingga pergerakannya lebih luas kearah fleksi.
7
Os. Sacrum.

Terdiri dari 5 sacrum yang membentuk sakrum atau tulang kengkang dimana ke 5
vertebral ini rudimenter yang bergabung yang membentuk tulang bayi.

Os. Coccygis.

Terdiri dari 4 tulang yang juga disebut ekor pada manusia, mengalami
rudimenter.Lengkung koluma vertebralis.kalau dilihat dari samping maka kolumna
vertebralis memperlihatkan empat kurva atau lengkung antero-pesterior : lengkung
vertikal pada daerah leher melengkung kedepan daerah torakal melengkung kebelakang,
daerah lumbal kedepan dan daerah pelvis melengkung kebelakang.

Persarafan Medula Spinalis

Perjalanan serabut saraf dalam medula spinalis terbagi menjadi dua, jalur desenden dan
jalur asenden. Jalur desenden terdiri dari traktus kortikospinalis lateralis, traktus
kortikospinalis anterior, traktus vetibulopsinalis, traktus rubrospinalis, traktus
retikulospinalis, traktus tektospinalis, fasikulus longitudinalis medianus (Mahadewa dan
Maliawan, 2009, hlm.7).

Jalur asenden antara lain sistem kolumna dorsalis, traktus spinothalamikus, traktus
spinocerebellaris dorsalis, traktus spinocerebellar ventralis, dan traktus spinoretikularis.

Terdapat banyak jalur saraf (traktus) di dalam medula spinalis. Jalur saraf tersebut dapat
dilihat pada gambar 2.5 dibawah ini :

8
Gambar 2.5 Jalur persyarafan dalam medula spinalis

(Mahadewa dan Maliawan, 2009, hlm. 8)

Peredaran darah di medula spinalis

Menurut Mahadewa & Maliawan (2009, hlm. 11) medula spinalis diperdarahi oleh 2
susunan arteria yang mempunyai hubungan istimewa. Arteri - arteri spinal terdiri dari
arteri spinalis anterior dan posterior serta arteri radikularis. Dapat lihat pada gambar 2.6
dibawah ini:

9
Gambar 2.6 Vaskularisasi medula spinalis servikalis

(Mahadewa dan Maliawan, 2009, hlm. 11)

a. Arteri spinalis anterior dibentuk oleh cabang kanan dan dari segmen intrakranial
kedua arteri vertebralis.

b. Arteri spinalis posterior kanan dan kiri juga berasal dari kedua arteri vertebralis.

c. Arteria radikularis dibedakan menjadi arteria radikularis posterior dan anterior.

d. Sistem anastomosis anterior adalah cabang terminal arteria radikularis anterior.


Cabang terminal tersebut berjumlah dua, satu menuju rostra dan yang lain menuju ke
caudal dan kedua-duanya berjalan di berjalan di garis tengah permukaan ventral medula
spinalis.

C. Etiologi

Adapun etiologi dan factor resiko terjadinya trauma medulla spinalis adalah

a. mengkonsumsi alkohol

b. mengkonsumsi obat-obatan saat mengendarai mobil atau sepeda motor.

Sedangkan cedara modulas spinalis dikelompokan akibat trauma dan non trauma
misalnya :

a. kecelakaan lalu lintas

b. terjatuh

c. kegiatan olahraga

d. luka tusuk atau tembak

Adapun non trauma sebagai berikut:

10
a. spondilitis serfikal

b. ruang miolopati

c. myelitis

d. osteoporosis

e. tumor.

Mekanisme Terjadinya Cedera Medula Spinalis

Menurut Arif Muttaqin (2005, hal. 98-99) terdapat enam mekanisme terjadinya Cedera
Medula Spinalis yaitu : fleksi, fleksi dan rotasi, kompresi vertikal, hiperekstensi, fleksi
lateral, dan fraktur dislokasi. Lebih jelasnya akan dijelaskan dibawaha ini:

a. Fleksi.

Trauma terjadi akibat fleksi dan disertai dengan sedikit kompresi pada vertebra.

b. Fleksi dan rotasi.

Trauma jenis ini merupakan trauma fleksi yang bersama-sama dengan rotasi.

c. Kompresi vertikal (aksial).

Trauma vertikal yang secara langsung mengenai vertebra akan menyebabkan kompresi
aksial. Nukleus pulposus akan memecahkan permukaan serta badan vertebra secara
vertikal.

d. Hiperekstensi atau retrofleksi.

Biasanya terjadi hiperekstensi sehingga terjadi kombinasi distraksi dan ekstensi

e. Fleksi lateral.

Kompresi atau trauma distraksi yang menimbulkan fleksi lateral akan menyebabkan
fraktur pada komponen lateral, yaitu pedikel, foramen vertebra, dan sendi faset.

f. Fraktur dislokasi.

11
Trauma yang menyebabkan terjadinya fraktur tulang belakang dan dislokasi pada tulang
belakang.

Gangguan lain yang dapat menyebabkan cedera medulla spinalis seperti spondiliosis
servikal dengan mielopati, yang menghasilkan saluran sempit dan mengakibatkan cedera
progresif terhadap medulla spinalis dan akar ; mielitis akibat proses inflamasi infeksi
maupun non infeksi ; osteoporosis yang di sebabkan oleh fraktur kompresi pada vertebra
; siringmielia ; tumor infiltrasi maupun kompresi ; dan penyakit vascular.

D. Patofisiologi

Kerusakan medulla spinalis berkisar dari kamosio sementara (pasien sembuh sempurna)
sampai kontusio, laserasi dan kompresi substansi medulla, (lebih salah satu atau dalam
kombinasi) sampai transaksi lengkap medulla (membuat pasien paralisis).Bila hemoragi
terjadi pada daerah medulla spinalis, darah dapat merembes ke ekstradul subdural atau
daerah suaranoid pada kanal spinal, segera sebelum terjadi kontusio atau robekan pada
Trauma, serabut-serabut saraf mulai membengkak dan hancur.

Sirkulasi darah ke medulla spinalis menjadi terganggu, tidak hanya ini saja tetapi proses
patogenik menyebabkan kerusakan yang terjadi pada Trauma medulla spinalis
akut.Suatu rantai sekunder kejadian-kejadian yang menimbulkan iskemia, hipoksia,
edema, lesi, hemorargi.

Trauma medulla spinalis dapat terjadi pada lumbal 1-5

 Lesi L1 : Kehilangan sensorik yaitu sama menyebar sampai lipat paha dan
bagian dari bokong

 Lesi L2 : Ekstremitas bagian bawah kecuali 1/3 atas dari anterior paha.

 Lesi L3 : Ekstremitas bagian bawah.

 Lesi L4 : Ekstremitas bagian bawah kecuali anterior paha.

 Lesi L5 : Bagian luar kaki dan pergelangan kaki.

12
Menurut (Fransisca B. Batticaca 2008).

Cedera medulla spinalis kebanyakan terjadi sebagai akibat cedera pada vertebra.
Medulla spinalis yang mengalami cedera biasanya berhubungan dengan akselerasi,
deselerasi, atau kelainan yang diakibatkan oleh berbagai tekanan yang mengenai tulang
belakang. Tekanan cedera pada medulla spinalis mengalami kompresi, tertarik, atau
merobek jaringan. Lokasi cedera umumnya mengenai C1 dan C2,C4, C6, dan T11 atau
L2. Mekanisme terjadinya cedera medulla spinalis:

Fleksi-rotasi, dislokasi, dislokasi fraktur, umumnya mengenai serviikal pada C5 dan C6.
Jika mengenai spina torakolumbar, terjadi pada T12 dan L1. Fraktur lumbal adalah
fraktur yang terjadi pada daerah tulang belakang bagian bawah. Bentuk cidera ini
mengenai ligament, fraktur vertebra, kerusakan pembuluh darah, dan mengakibatkan
iskemia pada medulla spinalis.

Hiperekstensi. Jenis cedera ini umumnya mengenai klien dengan usia dewasa yang
memiliki perubahan degenerative vertebra, usia muda yang mendapat kecelakaan lalu
lintas saat mengendarai kendaraan, dan usia muda yang mengalami cedera leher saat
menyelam. Jenis cidera ini medulla spinalis bertentangan dengan ligementum flava dan
mengakibatkan kontusio kolom dan dislokasi vertebra. Transeksi lengkap dari medulla
spinalis dapat mengikuti cedera hiperekstensi. Lesi lengkap dari medulla spinalis
mengakibatkan kehilangan pergerakan volunteer menurun pada daerah lesi dan
kehilangan fungsi refleks pada isolasi medulla spinalis.

Kompresi. Cedera kompresi sering disebabkan karena jatuh atau melompat dari
ketinggian, dengan posisi kaki atau bokong (duduk). Tekanan mengakibatkan fraktur
vertebra dan menekan medulla spinalis. Diskus dan fragmen tulang dapat masuk ke
medulla spinalis. Lumbal dan toraks vertebra umumnya akan mengalami cedera serta
menyebabkan edema dan perdarahan. Edema pada medulla spinalis mengakibatkan
kehilangan fungsi sensasi.

13
E. Patoflow diagram

F. Tanda dan gejala

Adapun tanda dan gejala adalah sebagai berikut :

1. Tergantung tingkat dan lokasi kerusakan

14
Tanda dan gejala trauma medula spinalis tergantung dari tingkat kerusakan dan lokasi
kerusakan. Dibawah garis kerusakan terjadi misalnya hilangnya gerakan volunter,
hilangnnya sensasi nyeri, temperature, tekanan dan propriosepsi, hilangnya fungsi bowel
dan bladder dan hilangnya fungsi spinal dan refleks autonom.

2. Perubahan reflex

Setelah traumamedula spinalis terjadi edema medula spinalis, sehingga stimulus reflex
juga terganggu misalnya reflex pada bladder, aktivitas visceral, reflex ejakulasi.

3. Spasme otot

Gangguan spasme otot terutama terjadi pada trauma komplit trans versal, di mana pasien
terjadi ketidak mampuan melakukan pergerakan.

4. Tanda dan gejala

Tanda dan gejala spinal shock meliputi flacid para lisis di bawah garis kerusakan,
hilangnya sensasi, hilangnya releks reflex spinal, hilangnya tonus vasomotor yang
mengakibatkan tidak stabilnya tekanan darah, tidak adanya keringat di bawah garis
kerusakan dan inkontinensia urine dan retensi fases.

5. Autonomic dysreflesia

Autonomic dysreflesia terjadi pada cedera thorakal enam ke atas, di mana pasien
mengalami gangguan reflex autonom seperti terjadinya bradikardia, hipertensi
paroksimal, distensi bladder.

6. Gangguan fungsi seksual

Banyak kasus memperlihatkan pada laki-laki adanya impotensi, menurunnya sensasi dan
kesulitan ejakulasi. Pasien dapat dapat ereksi tetapi tidak dapat ejakulasi

G. pemeriksaan penunjang

Pemeriksaan diagnostik yang dapat dilakukan pada pasien fraktur lumbal menurut
Mahadewa dan Maliawan, (2009, hlm148) adalah :

15
a. Foto Polos

Pemeriksaan foto polos terpenting adalah AP Lateral dan Oblique view. Posisi lateral
dalam keadaan fleksi dan ekstensi mungkin berguna untuk melihat instabilitas ligament.
Penilaian foto polos, dimulai dengan melihat kesegarisan pada AP dan lateral, dengan
identifikasi tepi korpus vertebrae, garis spinolamina, artikulasi sendi facet, jarak
interspinosus. Posisi oblique berguna untuk menilai fraktur interartikularis, dan
subluksasi facet.

b. CT Scan

CT scan baik untuk melihat fraktur yang kompleks, dan terutama yang mengenai elemen
posterior dari medulla spinalis. Fraktur dengan garis fraktur sesuai bidang horizontal,
seperti Chane fraktur, dan fraktur kompresif kurang baik dilihat dengan CT scan aksial.
Rekonstruksi tridimensi dapat digunakan untuk melihat pendesakan kanal oleh fragmen
tulang, dan melihat fraktur elemen posterior.

c. MRI

MRI memberikan visualisasi yang lebih baik terhadap kelainan medula spinalis dan
struktur ligamen. Identifikasi ligamen yang robek seringkali lebih mudah dibandingkan
yang utuh. Kelemahan pemakaian MRI adalah terhadap penderita yang menggunakan
fiksasi metal, dimana akan memberikan artifact yang mengganggu penilaian.

Kombinasi antara foto polos, CT Scan dan MRI, memungkinkan kita bisa melihat
kelainan pada tulang dan struktur jaringan lunak (ligamen, diskus dan medula spinalis).
Informasi ini sangat penting untuk menetukan klasifikasi trauma, identifikasi keadaan
instabilitas yang berguna untuk memilih instrumentasi yang tepat untuk stabilisasi
tulang.

d. Elektromiografi dan Pemeriksaan Hantaran Saraf

Kedua prosedur ini biasanya dikerjakan bersama-sama 1-2 minggu setelah terjadinya
trauma. Elektromiografi dapat menunjukkan adanya denervasi pada ekstremitas bawah.

16
Pemeriksaan pada otot paraspinal dapat membedakan lesi pada medula spinalis atau
cauda equina, dengan lesi pada pleksus lumbal atau sacral.

Sedangkan menurut Arif Mutaqim, (2005, hal. 110) pemeriksaan radiologi yang dapat
dilakukan adalah sebagai berikut:

1) Pemeriksaan Rontgen. Pada pemeriksaan Rontgen, rnanipulasi penderita harus


dilakukan secara hati-hati. Pada fraktur C-2, pemeriksaan posisi AP dilakukan secara
khusus dengan membuka mulut. Pemeriksaan posisi AP secara lateral dan kadang-
kadang oblik dilakukan untuk menilai hal-hal sebagai berikut.

2) Diameter anteroposterior kanal spinal.

3) Kontur, bentuk, dan kesejajaran vertebra.

4) Pergerakan fragmen tulang dalam kanal spinal.

5) Keadaan simetris dari pedikel dan prosesus spinosus Ketinggian ruangan diskus
intervertebralis Pembengkakanjaringan lunak.

6) Pemeriksaan CT-scan terutama untuk melihat fragmentasi dan pergeseran fraktur


dalam kanal spinal.

7) Pemeriksaan CT-scan dengan mielografi.

8) Pemeriksaan MRI terutama untuk melihat jaringan lunak, yaitu diskus


intervertebralis dan ligamentum flavum serta lesi dalam sumsum medulla spinalis.

H. Penatalaksanaan medis

Menurut Muttaqim, (2008 hlm.111) penatalaksanaan pada trauma tulang belakang yaitu :

1) Pemeriksaan klinik secara teliti:

a) Pemeriksaan neurologis secara teliti tentang fungsi motorik, sensorik, dan refleks.

b) Pemeriksaan nyeri lokal dan nyeri tekan serta kifosis yang menandakan adanya
fraktur dislokasi.

17
c) Keadaan umum penderita.

2) Penatalaksanaan fraktur tulang belakang:

a) Resusitasi klien.

b) Pertahankan pemberian cairan dan nutrisi.

c) Perawatan kandung kemih dan usus.

d) Mencegah dekubitus.

e) Mencegah kontraktur pada anggota gerak serta rangkaian rehabiIitasi lainnya.

1) Terapi dilakukan untuk mempertahankan fungsi neurologis yang masih ada,


memaksimlkan pemulihan neurologis, tindakan atas cidera lain, yang menyertai,
mencegah, serta mengobati komplikasi dan kerusakan neural lebih lanjut. Reabduksi
atas subluksasi (dislokasi sebagian pada sendi di salah satu tulang-ed). Untuk
mendekompresi koral spiral dan tindakan imobilisasi tulang belakang untuk melidungi
koral spiral.

2) Operasi lebih awal sebagai indikasi dekompresi neural, fiksasi internal, atau
debrideben luka terbuka.

3) Fikasi internal elekif dilakukan pada klien dengan ketidakstabilan tulang belakang,
cidera ligaemn tanpa tanpa fraktur, deformitas tulang belakang progresif, cidera yang tak
dapat direbduksi, dan fraktur non-union.

4) Terapi steroid, nomidipin, atau dopamine untuk perbaiki aliran darah koral spiral.
Dosis tertinggi metil prednisolon/bolus adalah 3mg/kgBB diikuti 5,4 mg/kgBB/jam
untuk 23 jam berikutnya. Bila diberikan dalam 8 jam sejak cedera akan memperbaiki
pemulihan neurologis. Gangliosida mungkin juga akan memperbaiki pemulihan setelah
cedera koral spiral.

5) Penilaian keadaan neurologis setiap jam, termasuk pengamatan fungsi sensorik,


motorik, dan penting untuk melacak deficit yang progresif atau asenden.

6) Mempertahankan perfusi jaringan yang adekuat, fungsi ventilasi, dan melacak


keadaan dekompensasi.
18
7) Pengelolaan cedera stabil tanpa deficit neurologis seperti angulasi atau baji dari
bahan luas tulang belakang, fraktr psoses transverses, spinosus, dan lainnya,
tindakannya simptomatis (istirahat baring hingga nyeri berkurang), imobilisasi dengan
fisioterapi untuk pemulihan kekuatan otot secara bertahap.

8) Cedera tak stabil disertai deficit neurologis. Bila terjadi pergeseran, fraktur
memerlukan reabduksi dan posisi yang sudah baik harus dipertahankan.

a) Metode reabduksi antara lain :

 Transaksi memakai sepit (tang) metal yang dipasang pada tengkorak. Beban 20kg
tergantung dari tingkat ruas tulang belakang, ulai sekitar 2,5 kg pada fraktur C1.

 Manipulasi dengan anestesi umum

 Reabduksi terbuka melalui operasi

b) Metode imobilisasi antara lain :

 Ranjang khusus, rangka, atau selubung plester.

 Transaksi tengkorak perlu beban sedang untuk memperahankan cedera yang sudah
direabduksi.

 Plester paris dan splin eksternal lain.

 Operasi.

9) Cedera stabil disertai deficit neurologis. Bila fraktur stabil, kerusakan neurologis
disebabkan oleh:

a. Pergeseran yang cukup besar yang terjadi saat cedera menyebabkan trauma
langsung terhadap koral spiral atau kerusakan vascular.

b. Tulang belakang yang sebetulnya sudah rusak akibat penyakit sebelumnya seperti
spondiliosis servikal.

c. Fragmen tulang atau diskus terdorong ke kanal spiral.

19
10) Pengelolaan kelompok ini tergantung derajat kerusakan neurologis yang tampak
pada saat pertama kali diperiksa:

1. Transeksi neurologis lengkap terbaik dirawat konservatif

2. Cedera di daerah servikal, leher di mobilisasi dengan kolar atau sepit (kapiler) dan
di beri metal prednisolon.

3. Pmeriksaan penunjang MRI.

4. Cedera neurologis tak lengkap konservatif.

5. Bila terdapat atau didasari kerusakan adanya spondiliosis servikal, ttraksi


tengkorak, dan metal prednisolon.

6. Bedah bila spondiliosis sudah ada sebelumnya.

7. Bila tak ada perbaikan atau ada perbaikan tetapi keadaan memburuk maka lakukan
mielografi.

8. Cedera tulang tak stabil.

9. Bila lesinya total, dilakukan reabduksi yang diikuti imobilisasi. Melindungi


imobiisasi seperti penambahan perawatan paraplegia.

10. Bila deficit neurologis tak lengkap, dilakukan reabduksi, diikuti imobilisasi untuk
sesuai jenis cederanya.

11. Bila diperlukan operasi dekompresi kanal spiral dilakukan pada saat yang sama.

12. Cedera yang menyertai dan komplikasi:

 cedera mayor berupa cedera kepala atau otak, toraks, berhubungan dengan
ominal, dan vascular.

 cedera berat yang dapat menyebabkan kematian, aspirasi, dan syok. (Fransisca B.
Batticaca 2008).

I. Komplikasi

20
1. Neurogenik shock.

2. Hipoksia.

3. Gangguan paru-paru

4. Instabilitas spinal

5. Orthostatic Hipotensi

6. Ileus Paralitik

7. Infeksi saluran kemih

8. Kontraktur

9. Dekubitus

10. Inkontinensia blader

11. Konstipasi

KONSEP DASAR KEPERAWATAN

A. Pengkajian

a) Aktifitas /Istirahat

Kelumpuhan otot (terjadi kelemahan selama syok pada bawah lesi. Kelemahan umum
/kelemahan otot (trauma dan adanya kompresi saraf).

b) Sirkulasi

Hipotensi, Hipotensi posturak, bradikardi, ekstremitas dingin dan pucat.

c) Eliminasi

Retensi urine, distensi abdomen, peristaltik usus hilang, melena, emisis berwarna seperti
kopi tanah /hematemes

d) intregitas ego

berhubungan dengan tingkat ego dari kecemasan pasien

21
e) Takut, cemas, gelisah, menarik diri.

tingkat stres seseorang mempengarui kesehatan seseorang

f) Makanan /cairan

Mengalami distensi abdomen, peristaltik usus hilang (ileus paralitik)

g) Higiene

Sangat ketergantungan dalam melakukan aktifitas sehari-hari (bervariasi)

h) Neurosensori

Kelumpuhan, kelemahan (kejang dapat berkembang saat terjadi perubahan pada syok
spinal).

Kehilangan sensasi (derajat bervariasi dapat kembaki normak setelah syok spinal
sembuh).

Kehilangan tonus otot /vasomotor, kehilangan refleks /refleks asimetris termasuk tendon
dalam. Perubahan reaksi pupil, ptosis, hilangnya keringat bagian tubuh yang terkena
karena pengaruh trauma spinal.

i) Nyeri /kenyamanan

Mengalami deformitas, postur, nyeri tekan vertebral.

j) Pernapasan

Pernapasan dangkal /labored, periode apnea, penurunan bunyi napas, ronki, pucat,
sianosis.

k) Keamanan

Suhu yang berfluktasi *(suhu tubuh ini diambil dalam suhu kamar).

l) Seksualitas

Ereksi tidak terkendali (priapisme), menstruasi tidak teratur.

(Marikyn E. Doengoes, 2008; 338-339)

22
2. PEMERIKSAAN FISIK B1-B6

Keadaan umum : (Arif muttaqin 2008)

Pada keadaan cidera tulang belakang umumnya tidak mengalami penurunan kesadaran.
Adanya perubahan pada tanda-tanda vital, meliputi bradikardi dan hipotensi.

B1 (BREATHING)

Perubahan pada sistem pernapasan bergantung pada gradasi blok saraf parasimpatis
klien mengalami kelumpuhan otot otot pernapasan dan perubahan karena adanya
kerusakan jalur simpatetik desending akibat trauma pada tulang belakang sehingga
mengalami terputus jaringan saraf di medula spinalis, pemeriksaan fisik dari sistem ini
akan didapatkan hasil sebagai berikut inspeksi umum didapatkan klien batuk
peningkatan produksi sputum, sesak napas.dst

B2 (BLOOD)

Pengkajian pada sistem kardiovaskuler didapatkan rejatan syok hipovolemik


yang sering terjadi pada klien cedera tulang belakang. Dari hasil pemeriksaan
didapatkan tekanan darah menurun nadi bradikardi dan jantung berdebar-debar. Pada
keadaan lainnya dapat meningkatkan hormon antidiuretik yang berdampak pada
kompensasi tubuh.

B3 (BRAIN)

Pengkajian ini meliputi tingkat kesadaran, pengkajian fungsi serebral dan


pengkajian saraf kranial.

Pengkajian tingkat kesadaran : tingkat keterjagaan klien dan respon terhadap


lingkungan adalah indikator paling sensitif untuk disfungsi sistem persyarafan.

Pengkajian fungsi serebral : status mental observasi penampilan, tingkah laku


nilai gaya bicara dan aktivitas motorik klien

Pengkajian sistem motorik : inspeksi umum didapatkan kelumpuhan pada


ekstermitas bawah, baik bersifat paralis, paraplegia, maupun quadriplegia

23
Pengkajian sistem sensori : ganguan sensibilitas pada klien cedera medula
spinalis sesuai dengan segmen yang mengalami gangguan.

B4 (BLADDER)

Kaji keadaan urine meliputi warna ,jumlah,dan karakteristik urine, termasuk


berat jenis urine. Penurunan jumlah urine dan peningkatan retensi cairan dapat terjadi
akibat menurunnya perfusi pada ginjal. Bila terjadi lesi pada kauida ekuina kandung
kemih dikontrol oleh pusat (S2-S4) atau dibawah pusat spinal kandung kemih akan
menyebabkan interupsi hubungan antara kandung kemih dan pusat spinal.

B5 (BOWEL)

Pada keadaan syok spinal, neuropraksia sering didapatkan adanya ileus paralitik,
dimana klinis didapatkan hilangnya bising usus, kembung,dan defekasi, tidak ada. Hal
ini merupakan gejala awal dari tahap syok spinal yang akan berlangsung beberapa hari
sampai beberapa minggu.

B6 (BONE)

Paralisis motorik dan paralisis organ internal bergantung pada ketinggian lesi
saraf yang terkena trauma. Gejala gangguan motorik sesuai dengan distribusi segmental
dari saraf yang terkena.disfungsi motorik paling umum adalah kelemahan dan
kelumpuhan.pada saluran ekstermitas bawah. Kaji warna kulit, suhu, kelembapan, dan
turgor kulit dst.

B. Diagnosa

1) Ketidak efektifan pola pernapasan yang berhubungan dengan kelemahan /paralisis


otot-otot abdomen dan intertiostal dan ketidakmampuan untuk membersihkan sekresi.

2) Kerusakan mobilitas fisik yang berhubungan dengan kerusakan fungsi motorik dan
sesorik.

3) Resiko terhadap kerusakan integritas kulit yang berhubungan dengan penurunan


immobilitas, penurunan sensorik.

24
4) Retensi urine yang berhubungan dengan ketidakmampuan untuk berkemih secara
spontan.

5) Konstipasi berhubungan dengan adanya atoni usus sebagai akibat gangguan


autonomik.

6) Nyeri yang berhubungan dengan pengobatan immobilitas lama, cedera psikis dan
alat traksi

(Diane C. Boughman, 2008 : 90)

C. Intervensi

1) Tujuan : Meningkatkan pernapasan yang adekuat

Kriteria hasil : Batuk efektif, pasien mampu mengeluarkan seket, bunyi napas normal,
jalan napas bersih, respirasi normal, irama dan jumlah pernapasan, pasien, mampu
melakukan reposisi, nilai AGD : PaO2 > 80 mmHg, PaCO2 = 35-45 mmHg, PH = 7,35 –
7,45

Rencana Tindakan

a) Kaji kemampuan batuk dan reproduksi sekret

R/ Hilangnya kemampuan motorik otot intercosta dan abdomen berpengaruh terhadap


kemampuan batuk.

b) Pertahankan jalan nafas (hindari fleksi leher, brsihkan sekret)

R/ Menutup jalan nafas.

c) Monitor warna, jumlah dan konsistensi sekret, lakukan kultur

R/ Hilangnya refleks batuk beresiko menimbulkan pnemonia.

d) Lakukan suction bila perlu

R/ Pengambilan secret dan menghindari aspirasi.

e) Auskultasi bunyi napas

R/ Mendeteksi adanya sekret dalam paru-paru.

25
f) Lakukan latihan nafas

R/ mengembangkan alveolu dan menurunkan prosuksi sekret.

g) Berikan minum hangat jika tidak kontraindikasi

R/ Mengencerkan secret

h) Berikan oksigen dan monitor analisa gas darah

R/ Meninghkatkan suplai oksigen dan mengetahui kadar oksigen dalam darah.

i) Monitor tanda vital setiap 2 jam dan status neurologi

R/ Mendeteksi adanya infeksi dan status respirasi.

2) Tujuan : Memperbaiki mobilitas

Kriteria Hasil : Mempertahankan posisi fungsi dibuktikan oleh tak adanya kontraktur,
footdrop, meningkatkan kekuatan bagian tubuh yang sakit /kompensasi,
mendemonstrasikan teknik /perilaku yang memungkinkan melakukan kembali aktifitas.

Rencana Tindakan

a) Kaji fungsi-fungsi sensori dan motorik pasien setiap 4 jam.

R/ Menetapkan kemampuan dan keterbatasan pasien setiap 4 jam.

b) Ganti posisi pasien setiap 2 jam dengan memperhatikan kestabilan tubuh dan
kenyamanan pasien.

R/ Mencegah terjadinya dekubitus.

c) Beri papan penahan pada kaki

R/ Mencegah terjadinya foodrop

d) Gunakan otot orthopedhi, edar, handsplits

R/ Mencegah terjadinya kontraktur.

e) Lakukan ROM Pasif setelah 48-72 setelah cedera 4-5 kali /hari

R/ Meningkatkan stimulasi dan mencehag kontraktur.


26
f) Monitor adanya nyeri dan kelelahan pada pasien.

R/ Menunjukan adanya aktifitas yang berlebihan.

g) Konsultasikan kepada fisiotrepi untuk latihan dan penggunaan otot seperti splints

R/ Memberikan pancingan yang sesuai.

3) Tujuan : Mempertahankan Intergritas kulit

Kriteria Hasil : Keadaan kulit pasien utuh, bebas dari kemerahan, bebas dari infeksi pada
lokasi yang tertekan.

Rencana Tindakan

a) Kaji faktor resiko terjadinya gangguan integritas kulit

R/ Salah satunya yaitu immobilisasi, hilangnya sensasi, Inkontinensia bladder /bowel.

b) Kaji keadaan pasien setiap 8 jam

R/ Mencegah lebih dini terjadinya dekubitus.

c) Gunakan tempat tidur khusus (dengan busa)

R/ Mengurangi tekanan 1 tekanan sehingga mengurangi resiko dekubitas

d) Ganti posisi setiap 2 jam dengan sikap anatomis

R/ Daerah yang tertekan akan menimbulkan hipoksia, perubahan posisi meningkatkan


sirkulasi darah.

e) Pertahankan kebersihan dan kekeringan tempat tidur dan tubuh pasien.

R/ Lingkungan yang lembab dan kotor mempermudah terjadinya kerusakan kulit

f) Lakukan pemijatan khusus / lembut diatas daerah tulang yang menonjol setiap 2
jam dengan gerakan memutar.

R/ Meningkatkan sirkulasi darah

g) Kaji status nutrisi pasien dan berikan makanan dengan tinggi protein

R/ Mempertahankan integritas kulit dan proses penyembuhan.


27
h) Lakukan perawatan kulit pada daerah yang lecet / rusak setiap hari

R/ Mempercepat proses penyembuhan

4) Tujuan : Peningkatan eliminasi urine

Kriteria Hasil : Pasien dpat mempertahankan pengosongan blodder tanpa residu dan
distensi, keadaan urine jernih, kultur urine negatif, intake dan output cairan seimbang

Rencana tindakan

a) Kaji tanda-tanda infeksi saluran kemih

R/ Efek dari tidak efektifnya bladder adalah adanya infeksi saluran kemih.

b) Kaji intake dan output cairan

R/ Mengetahui adekuatnya gunsi gnjal dan efektifnya blodder.

c) Lakukan pemasangan kateter sesuai program

R/ Efek trauma medulla spinalis adlah adanya gangguan refleks berkemih sehingga perlu
bantuan dalam pengeluaran urine.

d) Anjurkan pasien untuk minum 2-3 liter setiap hari

R/ Mencegah urine lebih pekat yang berakibat timbulnya.

e) Cek bladder pasien setiap 2 jam

R/ Mengetahui adanya residu sebagai akibat autonomic hyperrefleksia

f) Lakukan pemeriksaan urinalisa, kultur dan sensitibilitas

R/ Mengetahui adanya infeksi

g) Monitor temperatur tubuh setiap 8 jam

R/ Temperatur yang meningkat indikasi adanya infeksi.

5) Tujuan : Memperbaiki fungsi usus

Kriteria hasil : Pasien bebas konstipasi, keadaan feses yang lembek, berbentuk.

28
Rencana tindakan

a) kaji pola eliminasi bowel

R/ Menentukan adanya perubahan eliminasi

b) Berikan diet tinggi serat

R/ Serat meningkatkan konsistensi feses

c) Berikan minum 1800 – 2000 ml/hari jika tidak ada kontraindikasi

R/ Mencegah konstipasi

d) Auskultasi bising usus, kaji adanya distensi abdomen

R/ Bising usus menentukan pergerakan perstaltik

e) Hindari penggunaan laktasif oral

R/ Kebiasaan menggunakan laktasif akan tejadi ketergantungan

f) Lakukan mobilisasi jika memungkinkann

R/ Meningkatkan pergerakan peritaltik

g) Berikan suppositoria sesuai program

R/ Pelunak feses sehingga memudahkan eliminasi

h) Evaluasi dan catat adanya perdarah pada saat eliminasi

R/ Kemungkinan perdarahan akibat iritasi penggunaan suppositorium.

6) Tujuan : Memberikan rasa nyaman

Kriteria hasil : Melaporkan penurunan rasa nyeri /ketidak nyaman, mengidentifikasikan


cara-cara untuk mengatasi nyeri, mendemonstrasikan penggunaan keterampilan relaksasi
dan aktifitas hiburan sesuai kebutuhan individu.

Rencana tindakan

a) Kaji terhadap adanya nyeri, bantu pasien mengidentifikasi dan menghitung nyeri,
misalnya lokasi, tipe nyeri, intensitas pada skala 0 – 1-
29
R/ Pasien biasanya melaporkan nyeri diatas tingkat cedera misalnya dada / punggung
atau kemungkinan sakit kepala dari alat stabilizer

b) Berikan tindakan kenyamanan, misalnya, perubahan posisi, masase, kompres hangat


/ dingin sesuai indikasi.

R/ Tindakan alternatif mengontrol nyeri digunakan untuk keuntungan emosionlan, selain


menurunkan kebutuhan otot nyeri / efek tak diinginkan pada fungsi pernafasan.

c) Dorong penggunaan teknik relaksasi, misalnya, pedoman imajinasi visualisasi,


latihan nafas dalam.

R/ Memfokuskan kembali perhatian, meningkatkan rasa kontrol, dan dapat


meningkatkan kemampuan koping

d) kolaborasi pemberian obat sesuai indikasi, relaksasi otot, misalnya dontren


(dantrium); analgetik; antiansietis.misalnya diazepam (valium)

R/ Dibutuhkan untuk menghilangkan spasme /nyeri otot atau untuk menghilangkan-


ansietas dan meningkatkan istrirahat.

BAB III
30
PENUTUP

A. Kesimpulan
Cedera medulla spinalis adalah suatu kerusakan fungsi neurologis yang disebabkan
oleh benturan pada daerah medulla spinalis. Penyebabnya antara lain trauma dan
kelainan pada vertebra (seperti atrofo spinal, fraktur patologik, infeksi, osteoporosis,
kelainan congenital, dan gangguan vascular). Instabilitas pada vertebra
mengakibatkan penekanan saraf di medulla spinalis sehingga terjadi gangguan.
Hal ini menyebabkan gangguan fungsi organ-organ yang hipersarafi yaitu usus,
genetalia, urinaria, rectum, dan ekstremitas bawah. Penatalaksanaan ditujukan untuk
mencegah akibat lanjut dari cedera tersebut.
Trauma medula spinalis adalah suatu kerusakan fungsi neurologis yang disebabkan
oleh benturan pada daerah medulla spinalis (Brunner & Suddarth, 2001).Penyebab
dari Trauma medulla spinalis yaitu :kecelakaan otomobil, industri terjatuh, olah-raga,
menyelam ,luka tusuk, tembak dan tumor.
Bila hemoragi terjadi pada daerah medulla spinalis, darah dapat merembes ke
ekstradul subdural atau daerah suaranoid pada kanal spinal, segera sebelum terjadi
kontusio atau robekan pada Trauma, serabut-serabut saraf mulai membengkak dan
hancur. Sirkulasi darah ke medulla spinalis menjadi terganggu, tidak hanya ini saja
tetapi proses patogenik menyebabkan kerusakan yang terjadi pada Trauma medulla
spinalis akut. Suatu rantai sekunder kejadian-kejadian yang menimbulakn iskemia,
hipoksia, edema, lesi, hemorargi.
Penatalaksanaan pasien segera ditempat kejadian adalah sangat penting, karena
penatalaksanaan yang tidak tepat dapat menyebabkan kerusakan kehilangan fungsi
neurologik.Pada kepala dan leher dan leher harus dipertimbangkan mengalami
Trauma medula spinalis sampai bukti Trauma ini disingkirkan. Memindahkan
pasien, selama pengobatan didepartemen kedaruratan dan radiologi,pasien
dipertahankan diatas papan pemindahan.
Asuhan Keperawatan yang diberikan pada pasien dengan Trauma medula spinalis
berbeda penanganannya dengan perawatan terhadap penyakit lainnya,karena kesalah
dalam memberikan asuhan keperawatan dapat menyebabkan Trauma semakin
komplit dan dapat menyebabkan kematian.

31
DAFTAR PUSTAKA

http://eldepratamamehagamedan.blogspot.co.id/2012/07/askep-trauma-medula-
spinalis.html

https://nurse87.wordpress.com/2013/10/01/asuhan-keperawatan-pada-pasien-dengan-
gangguan-sistem-neurologi-cedera-kepala/

32
Batticaca ,B. Fransisca.2008.Asuhan Keperawatan dengan Gangguan Sistem Persaraan.
Jakarta: Salemba Medika

https://mikimikiku.wordpress.com/2014/03/22/asuhan-keperawatan-pasien-dengan-
cedera-medula-spinalis-sistem-neurobehaviour/

Brunner & Suddarth, 2008. Buku AjarKeperawatan Medikal Bedah, Edisi 8 Vol. 3
.Jakarta :EGC.

Carpenito, L. T, 2007. Buku Saku Diagnosa Keperawatan. Edisi 6. Jakarta ; EGC.

Doengoes, M. E, 2008, Rencana Asuhan Keperawatan Pedoman untuk Perencanaan


danPendokumentasian Perawatan Pasien. Edisi 3. Jakarta ; EGC.

Muttaqin, arif. 2008. Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan Sistem Persarafan.
Jakarta. Salemba Medika.

Batticaca, F. 2008. Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan Sistem Persarafan.


Jakarta. Salemba Medika.

Riyawan.com | Kumpulan Artikel & Makalah Farmasi Keperawatan

Tarwato, dkk. 2007. Keperawatan Medical Bedah Gangguan Sistem Persarafan.


Jakarta: Sagung Seto.

( http://ayupoltekkes.blogspot.com/2013/11/trauma-medulla-spinalis.html)

Tambayong, J, 2000. Patofisiologi untuk Keperawatan. Jakarta: EGC.


(http://ayupoltekkes.blogspot.com/2013/11/trauma-medulla-spinalis.html)

Widagdo, wahyu. 2008. Asuhan keperawatan pada klien dengan gangguan sistim
persarafan , Jakarta: TIM (http://ayupoltekkes.blogspot.com/2013/11/trauma-medulla-
spinalis.html)

33