Anda di halaman 1dari 9

2.

2 Menganalisis Sifat Dan Karakteristik Sains Keperawatan, Filosofi Sains


Keperawatan, Paradigma Sains Keperawatan, Dan Konsep Sentral Yang
Menjadi Focus Garapan Disiplin Ilmu Keperawatan Serta Proses
Pengembangan Sains Keperawatan

2.2.1 Definisi Sains Keperawatan


Sains adalah ilmu yang membahas tentang kausalitas (sebab akibat) melalui
pendekatan ilmiah untuk memahami suatu realitas yang ditandai dengan observasi
pengalaman, validitasi hipotesis dan eksperimen (McEwen & Wills, 2011).
Dalam perkembangan lanjutan sains menjadi bagian kelimuan yang lebih
spesifik yang berisikan prosedur atau metode sebagai sebuah karakter untuk
memperoleh pengetahuan.
Barrett (2002) mendefinisikan ilmu/ sains keperawatan sebagai disiplin
pengetahuan khusus yang berfokus pada proses kesehatan manusia dan
lingkungannya yang diartikulasikan dalam keperawatan. Sebagai ilmu,
keperawatan sendiri memiliki bahasan yang disusun secara sistematis dan
menggunakan metode ilmiah dimana asuhan keperawatan diberikan kepada
manusia dengan keterikatannya terhadap lingkungan hidupnya. Gagasan diatas
sesuai dengan penelitian (Holzemer, 2007) bahwa tujuan dari ilmu keperawatan
adalah untuk untuk mensejahterakaan manusia.

2.2.2 Sifat-Sifat/Karakteristik Sains Keperawatan


Menurut Silva (1977, dalam McEwen dan Wills 2011) sains memiliki enam
karakteristik yaitu ilmu harus menunjukkan koherensi, ilmu berkaitan dengan
bidang tertentu pengetahuan, ilmu sebaiknya diungkapkan dalam laporan yang
bisa dipahami secara universal, laporan ilmu harus benar atau mungkin benar,
laporan ilmu harus mengandung pesan yang logis dan Ilmu harus menjelaskan
hasil penyelidikan berupa argument.
2.2.3 Filosofi Dasar Sains Keperawatan
Edwards (1997) mengatakan bahwa ada banyak pandangan mengenai filsafat
keperawatan karena perbedaan pendapat para ahli. Hal ini juga berpengaruh
kepada defenisi mengenai filsafat keperawatan itu tetapi jika merujuk pada
pemahaman bahwa filsafat adalah usaha untuk mencari tahu kebenaran yang
diyakini maka filsafat dalam keperawatan adalah usaha untuk mencari kebenaran
yang ada didalam keperawatan, hal ini sejalan dengan pernyataan Marriner-
Tomey (1994) bahwa Filsafat adalah suatu sikap untuk mencari kebenaran
kehidupan dan realitas yang berkembang dari keyakinan masing-masing perawat.
Fawcett (2005) memasukan filsafat kedalam bagian dari metaparadigma
keperawatan. Filsafat oleh Fawcett digunakan untuk membentuk model
konseptual dan teori yang terdiri atas klaim ontologis, epistemilogi dan etik.
Ontologi berisikan pendekatan bagaimana cara kita memahami 'esensi' tentang
manusia (Dahnke & Dreher, 2015). Epistemilogi adalah asumsi dasar dan
universal berupa keyakinan dan prinsip-prinsip tentang sifat pengetahuan dan
kebenaran (Reed, 1995). Epistemologi keperawatan juga dapat didefinisikan
sebagai studi tentang asal-usul pengetahuan , struktur dan metode-metode, pola
mencari pengetahuan, dan kriteria untuk memvalidasi pengetahuan Schultz dan
Meleis (1988, dalam McEwen dan Wills 2011). Etik merupakan sebuah
pelajaran tentang kehidupan mengenai apa yang benar dan yang salah, apa yang
baik dan yang berharga serta apa yang diinginkan untuk mencapai sebuah tujuan
(McKenna, 2006). Selain itu McEwen dan Wills (2011) menjelaskan bahwa
Etika merupakan gagasan yang mengacu pada kode moral sebagai bagian dari
kewajiban seorang perawat dalam memberikan layanan keperawatan

2.2.4 Falsafah Sains Keperawatan


McCrae (2011, dalam Aligood 2014) mengatakan seorang perawat harus tertarik
dalam ilmu sejarah dan falsafah, karena sebagai dasar untuk mencari tahu
kebenaran dari hasil ilmiah. Seorang perawat ketika memberikan asuhan
keperawatan harus didasarkan pada kebenaran dan harus memiliki kemampuan
untuk menfsirkan ilmu pengetahuan. Ilmu keperawatan memberikan kita
pengetahuan untuk menggambarkan, menjelaskan, dan memprediksi hasil.
Falsafah digunakan sebagai acuan penemuan pengetahuan dan kebenaran melalui
proses identifikasi mengenai yang apa berharga dan yang penting dalam suatu
gagasan (Fawcett, 2006).

2.2.5 Paradigma Sains Keperawatan dan Konsep sentral yang menjadi fokus
garapan disiplin ilmu keperawatan
Paradigma keperawatan merupakan abstrak dari cara memandang dan keyakinan
yang mendasari suatu disiplin ilmu keperawatan dalam lingkup ilmu
keperawatan, sehinngga pelayanan keperawatan mempunyai norma, memilki
standar yang jelas dan bisa dipertanggung jawabkan. Fenomena ini mencakup
manusia, lingkungan dan sehat. Fenomena keperawatan merupakan obyek
layanan keperawatan yang didasari komponen keperawatan manusia,
kesehatan, lingkungan dan keperawatan.
Kesimpulannya bahwa paradigma sains keperawatan adalah cara memandang
fenomena keperawatan yang terjadi berdasarkan keilmuan yang
berkembang. Komponen dari paradigma keperawatan sendiri pada dasarnya ada
empat seperti yang disebutkan di atas, akan tetapi perkembangannya dalam teori
sangat tergantung oleh sudut pandang masing-masing teoris. Dengan begitu,
pemaknaan masing-masing komponen paradigma tersebut bisa jadi berbeda
sehingga penjelasan yang bisa diberikan secara umum adalah arti
komponen secara lebih superfisial.
Gambaran singkat mengenai komponen tersebut adalah sebagai berikut:
1. Manusia
Manusia utuh adalah proses sepanjang hidup yang terus menerus
berubah dan berinteraksi dengan lingkungan dan berpartisipasi dalam
upaya untuk mempertahankan kesehatannya. Hal ini juga dapat diartikan
bahwa manusia bertindak dan mendasarkan tindakannya pada pemikiran
bahwa dirinya harus mempertahankan keseimbangan hidup dengan
membuat penyesuaian dengan lingkungan maupun sebaliknya yaitu
memanipulasi lingkungan untuk menciptakan keseimbangan.
Dalam konteks paradigma keperawatan ini setiap manusia dalam
hidupnya akan mengalami situasi di mana dia mampu memenuhi
kebutuhannya, membutuhkan bantuan atau bahkan membutuhkan orang
lain untuk melakukannya, dalam hal ini perawat.
2. Perawat
Perawat adalah individu yang menjalani profesi keperawatan, yaitu
seni dan pengetahuan dalam memandirikan maupun membantu klien sesuai
dengan kondisi masing-masing personal. Sebagai sebuah profesi, perawat
mendasarkan pelayanan kepada individu dan keluarga, maupun masyarakat
pada ilmu dan seni yang meliputi sikap, pengetahuan dan keterampilan
yang dimilki seorang perawat untuk membantu manusia baik dalam
keadaan sehat atau sakit. Perawat akan memberikan pelayanan yang
bersifat manusiawi yang berfokus pada pemenuhan kebutuhan manusia
untuk merawat diri, kesembuhan dari penyakit atau cedera dan
penanggulangan komplikasinya sehingga dapat meningkat derajat
kesehatannya.
3. Kesehatan
Kesehatan adalah suatu kondisi sejahtera jasmani maupun rohani yang
bersifat dinamis pada individu di mana dalam kondisi ini setiap individu
memiliki kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan perubahan
lingkungan internal maupun eksternal.
Kesehatan dapat juga diartikan sebagai hasil dari kemampuan individu atau
kelompok baik sehat maupun sakit dalam memenuhi tuntutan kebutuhan
hidup baik dengan cara menyesuaikan diri maupun dengan cara
memanipulasi lingkungan yang berperan untuk mempertahankan dan
meningkatkan fungsi dan perkembangan diri. Dengan begitu, karena
merupakan hasil maka bisa jadi tingkat keberhasilan atau tingkat kesehatan
dapat berbeda pada setiap individu karena akan sangat dipengaruhi kondisi
maupun cara memenuhi kebutuhannya.
4. Lingkungan
Lingkungan dapat diartikan sebagai tempat, situasi maupun hal-hal yang
berinteraksi dengan individu baik secara aktif maupun pasif. Bisa jadi baik
lingkungan maupun individu akan sama-sama berpikir, menganalisa, dan
membuat kesimpulan selama interaksi sesuai dengan sifat lingkungan yang
mungkin saja berupa lingkungan hidup baik individu lain maupun proses
berpikir dalam diri seseorang yang ikut mempengaruhi lingkungan internal
seseorang.
Lingkungan dapat juga diartikan sebagai kondisi terpenuhi atau tidaknya
kebutuhan seseorang/klien. Ketika kebutuhan terpenuhi akan menjadi suatu
lingkungan yang kondusif bagi individu untuk berfungsi secara optimal
dan berlaku juga hal yang berkebalikan.

2.2.6 Proses pengembangan sains keperawatan


Tujuan dari sains keperawatan adalah mengembangkan teori untuk menjelaskan,
menguraikan dan memahami hakikat dari fenomena dan mengantisipasi
timbulnya fenomena, kejadian, dan situasi yang terkait langsung atau tidak
langsung dengan asuhan keperawatan. Teori ini juga dikembangkan untuk
membantu perawat merasionalkan dan pedoman dengan cara mengontrol aspek
fenomena yang tidak diinginkan. Begitu juga dengan kerangka kerja. Hal ini
menimbulkan penejelasan dan mencerminkan pola respon dari manusia
terhadap sehat-sakit, lingkungan, tindakan, dan terhadap tenaga kesehatan
profesional. Hal-hal tersebut menggambarkan pola , cara dan kondisi serta
konteks hubungan yang sehat dan tidak sehat yang terbentuk dalam system
pelayanan kesehatan, dalam keperawatan, ilmu tentang manusia seperti deskripsi
dan penjelasan dikembangkan dalam konteks waktu, sejarah, lingkungan (sanksi
sosial dan obligasi, kondisai manusia termasuk hak manusia).
Hakikat dari sains keperawatan dan perkembangannya memerlukan hubungan
yang erat antara teori, praktik dan riset. Para theorist, praktisi dan peneliti dalam
keperawatan memiliki tujuan yang sama tentang pemahaman kebutuhan
pelayanan kesehataan meningkatkan rasa kesejahteraan, peningkatan status
kesehatan, mempermudah transisi dan meningkatkan akses serta pilihan untuk
pelayanan kesehatan yang tepat.
Meskipun ada tujuan bersama., namun ada perbedaan pendapat yang dapat
disebabkan oleh mitos dan fokus perhatian masing-masing, metode dan tujuan.
Contoh mitosnya antara lain menurut praktisi para teorist hanya bermimpi
tentang ide-ide yang tidak berhubungan antara teori dengan praktik. Dari
peneliti teorist melihat hanya fokus pada satu poin dalam proyeknya. Sehingga
tidak dapat digeneralisasi. Menurut praktisi pada peneliti dan teorist jauh dari
area praktik, sehingga tidak menggambarkan fenomena di klinik. Bagaimana
mereka dapat menjelaskan dan memprediksi hasil akhir jika mereka tidak
melihat pasien.
Para teorist menyiapkan disiplin dan secara terus menerus melakukannya.
Teorist menyiapkan berbagai disiplin fokus terhadap domain teori itu sendiri,
fokus kepada manusia, berinteraksi secara hakikat dengan klien, perawat,
lingkungan, dan kesehatan dan kesejahteraan yang prima. Tujuan dari self care,
adaptasi, homeostasis, kesadaran, keseimbangan, dan harmonisasi dengan
lingkungan diuraikan oleh para teorist. Konsep-konsep ini menjadi landasan dari
disiplin dan menjadi lebih disepakati pada tahun 1970 an.
Di sisi lain, para peneliti telah mengembangkan instrumen untuk konsep-konsep
sentral seperti penyembuhan luka, tingkat kebingungan, dukungan sosial,
intensitas nyeri, gejala dari distress. Para peneliti juga telah menguji teori yang
terkait dengan praktik klinik seperti menetapkan pengembangan dari peran
maternal, atau menetapkan pemulihan pasien-pasien kardiovaskuler.
Pada tahun 1980 an telah ada penyempurnaan siklus praktik, teori dan riset.
Secara sistematis mengidentifikasi respon terhadap perilaku. Kegiatan dalam
pengembangan teori bukanlah hal yang baru bagi perawat meskipun banyak
timbul mitos. Mereka mempelajari bagaimana mengembangkan teori pada awal
tahun 1980-an. Mereka menyadari bahwa praktisi perawat sudah berpartisipasi
dalam menetapkan konsep dari berbagai aspek domain keperawatan. Penetapan
konsep ini memperlihatkan perbedaan pendekatan dalam pengembangan teori.
Penetapan konsep ini dimulai oleh Florence Nightingale. Hubungan antara
kesehatan dengan lingkungan, hubungan antara asuhan dengan pengumpulan
data, hubungan antara hygiene dengan kesejahteraan.
Banyak pendekatan teori dikembangkan berdasarkan konsep Nightingale, tetapi
juga banyak tidak terdokumentasi. Gambaran umum yang mencirikan dalam
pengembangan teori keperawatan :
1. Mulanya ada asumsi bahwa proses pengembangan teori penting untuk
pengembangan ilmu keperawatan
2. Ada asumsi bahwa proses pengembangan teori keperawataan hal yang
baru bagi keperawatan dan perawat yang tidak berpartisipasi dalam
pengembangan teori ini. (Hardy, 1974 dalam Meleis )
3. Hampir semua penulisan tentang pengembangan teori didiskusikan apa
yang akan terjadi dan strategi yang akan digunakan.
4. Kecenderungan adalah proses penjelasan dibuat berdasarkan pengetahuan
lain dalam hal ilmu fisik dan ilmu sosial. (Dubin, 1969, Gibbs 1972)
5. Asumsi implisit adalah seharusnya menjadi satu strategi pengembangan
teori terutama kejadian pada awal penulisan teori (Hardy, 1978, acox, 1974,
Johson, 1974, Newman, 1979)
6. Asumsi implisit bahwa pengembangaan teori adalah aktivitas yang
dilakukan dalam lingkup akademik. Lebih jauh ada sumsi eksplisit oleh
praktisi bahwa apa yang terjadi di dalam lingkup akademik tidak memiliki
kesamaan dengan pekerjaan praktisi dalam kehidupan nyata.
7. Beberapa meyakini bahwa keperawatan selalu meminjam teori dan
keperawatn merupakan tempat penerapan teori. Bagi teorist, teori praktik
keperawatan tidak diperlukan karena teori dari ilmu dan etik cukup untuk
menjadi pedoman keperawatan. Karena itu pengembangan teori bukan
merupakan proses yang penting. Teorist tidak setuju bila ada pengembangan
ulang, sintesa ulang dan integrasi ulang dari teori disebut sebagai
pengembangan teori (Barnum, 1990, Walker and Avant, 1995).
Sains keperawatan harus terus dikembangkan untuk memperkaya
keilmuan keperawatan baik dalam tingkatan metatheory, grand nursing theory,
middle range theory maupun practice theory supaya ilmu keperawatan selalu
yang terbaru sesuai dengan tuntutan jaman yang tentu saja berdasarkan standar
keilmuan yang ada. Sains keperawatan itu sendiri dapat selalu dikembangkan
berdasarkan metode ilmiah yang salah satu contohnya adalah melalui riset –
riset keperawatan yang merupakan suatu proses mencari tahu dan mencari
jawaban atas fonemena yang muncul di pelayanan keperawatan .
Pada tahun 1980an, dicirikan oleh berbagai strategi pengembangan teori.
Pengembangan konsep penting bagi keperawatan dan sentral terhadap domain
keperawatan yang merupakan gambaran penting lain pada masa tersebut.
Contoh dari konsep-konsep tersebut adalah: self-neglect (Reed dan Leonard) –
1989, lingkungan (Steven, 1989), dyspnea (Carrieri, Johnson-Bjerklie dan Jacob,
1984), cachexia (Lindsey, Piper dan Scotts, 1982 dan rasa nyaman
(Neves-Arruda, Larsonj dan Meleis,1992). Tugas pengembangan teori sekarang
dan yang akan datang akan berfokus pada pengembangan lebih lanjut untuk
memulai pengembangan teori dari domain keperawatan dan misi keperawatan,
praktik serta tindakan para perawat. Konsep sentral domain keperawatan adalah
lingkungan, kesejahteraan, interaksi, coping menghadapi transisi dan
terapeutik keperawatan. Pengembangan teori juga terjadi didalam area
fungsional administrasi/ manajemen dan area belajar mengajar.

DAFTAR PUSTAKA

Barbara, K. Erb, G. Berman, A. Snider, S.J. (2004). Fundamentals of nursing : conceps,


process, and practice. (7 th ed.). New Jersey: Pearson Education, Inc. 3, 36-37.

Elly Nurachmah, Hubungan antara falsafah, paradigma, model konseptuall, teori


keperawatan dan metodologi ilmiah, FIK UI

Marilyn E Parker (2001). Nursing Theory, Philadelphia, F.A davis Company.

Marriner-Tomey, A. (2004). Nursing theorists and their work. Sixth edition. St. Louis:
Mosby Company.

Meleis, Alaf Ibrahim. (1999). Theorical nursing: development and progress. (3 rd.ed.)
Philadelphia: Lippincott-Raven Publisher. 13, 223-242.
Janice Rider , Nursing A human needs approach, Fifth edition, JB. Lippincottt company

http://currentnursing.com, Development of nursing theories, di akses tanggal 25


september 2011.

http://currentnursing.com, Introduction to Nursing Theories, di akses tanggal 25


september 2011