Anda di halaman 1dari 2

Tablet adalah sediaan padat, kompak, dibuat secara kempa cetak dalam bentuk tabung

pipih atau sirkuler, kedua permukaannya rata atau cembung, mengandung satu jenis obat atau
lebih dengan atau tanpa zat tambahan. Zat tambahan yang digunakan dapat berfungsi sebagai
bahan pengisi, zat pengikat, zat pelincir, zat pengembang, zat pembasah atau zat lain yang cocok
(FI III,1979).

Menurut Anief (2006), untuk membuat tablet diperlukan zat tambahan berupa :

1. Zat pengisi (diluent) yang diasukkan untuk memperbesar volume tablet. Biasanya
digunakan Saccharum Lactis, Amylum Manihot, Calcii Phosphas, Calcii Carbonas, dan
zat lain yang cocok.
2. Zat pengikat (binder), dimaksudkan agar tablet tidak pecah atau retak, dan dapat merekat.
Biasanya yang digunakan adalah mucilago Gummi Arabici 10-20% (panas), gelatin,
methylcellulosum 5%.
3. Zat penghancur (disintegrator), dimaksudkan agar tablet dapat hancur dalam perut.
Biasanya yang digunakan adalah Amylum Manihot kering, Gelatinum, Natrium Alginat.
4. Zat pelicin (lubricant), dimaksudkan agar tablet tidak lekat pada cetakan. Biasanya
digunakan Talcum 5%, Magnesii Stearas, Acidum Stearicum.

Dalam pembuatan tablet, zat berkhasiat, zat-zat lain, kecuali zat pelicin divuat granul (butiran
kasar), karena serbuk yang halus tidak mengisi cetakan tablet dengan baik, maka dibuat granul
agar mudah mengalir (free flowing) mengisi cetakan serta menjaga agar tablet tidak retak
(capping) (Anief, 2006).

Granulasi basah yaitu memproses campuran partikel zat aktif dan eksipien menjadi partikel yang
lebih besar dengan menambahkan cairan pengikat dalam jumlah yang tepat sehingga terjadi massa
lembab yang dapat digranulasi. Metode ini biasanya digunakan apabila zat aktif tahan terhadap lembab
dan panas. Umumnya untuk zat aktif yang sulit dicetak langsung karena sifat aliran dan
kompresibilitasnya tidak baik. (Ansel,1989).

Dalam proses granulasi basah zat berkhasiat, pengisi dan penghancur dicampur homogen,
lalu dibasahi dengan larutan pengikat, bila perlu ditambahkan pewarna. Diayak menjadi granul
dan dikeringkan dalam lemari pengering pada suhu 40-50°C. Proses pengeringan diperlukan oleh
seluruh cara granulasi basah untuk menghilangkan pelarut yang dipakai pada pembentukan
gumpalan gumpalan dan untuk mengurangi kelembaban sampai pada tingkat yang optimum
(Lachman, 1994). Setelah kering diayak lagi untuk memperoleh granul dengan ukuran yang
diperlukan dan ditambahkan bahan pelicin dan dicetak dengan mesin tablet (Anief, 2006).
Menurut Lachman (1994), tablet dibuat dengan jalan mengempa adonan yang
mengandung satu atau beberapa obat dengan bahan pengisi pada mesin stempel yang disebut
pencetak. Terdapat dua jenis mesin pencetak tablet, yaitu pencetak tunggal atau single punch dan
pencetak ganda berputar atau rotary press. Mesin pencetak tablet dirancang dengan komponen
komponen dasar sebagai berikut:
1. Hopper, yaitu untuk menahan atau tempat menyimpan dan memasukkan granul yang
akan dicetak
2. Die, yang menentukkan ukuran dan bentuk tablet
3. Punch, untuk mencetak/mengempa granul yang ada di die
4. Jalur cam, untuk mengatur gerakan punch
5. Suatu mekanisme pengisian untuk menggerakan atau memindahkan granul dari hopper ke
dalam die.

Daftar Pustaka

Lachman L, Lieberman HA, Kanig JL. 1994. Teori dan Praktek Farmasi Industri. Edisi Ketiga.
Vol II. Diterjemahkan oleh Siti Suyatmi. Jakarta: UI Press.
Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 1979. Farmakope Indoneia,. edisi III. Jakarta:
Departemen Kesehatan.

Ansel, Howard C. 1989. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi Edisi Keempat. UI Press. Jakarta

Anief, Moh. 2006. Ilmu Meracik Obat. Gadjah Mada University Press.Yogyakarta

Anda mungkin juga menyukai