Anda di halaman 1dari 26

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Konsep, Konstruk, dan Variabel Penelitian

2.1.1 Auditing

2.1.1.1 Pengertian Auditing

Menurut Arens et al (2012:4), pengertian auditing adalah sebagai berikut:

“Auditing is the accumulation an evaluating of evidance about information


to determine and report on the degree of correspondence between the information
and established criteria. Auditing should be done by competent, independent
person”
Definisi auditing menurut Agoes (2012:4) adalah:

“Sesuatu pemeriksaan yang dilakukan secara kritis dan sistematis, oleh


pihak yang independen, terhadap pelaporan keuangan yang telah disusun oleh
manajemen beserta catatan–catatan pembukuan dan bukti-bukti pendukungnya,
dengan tujuan untuk dapat memberikan pendapat mengenai kewajaran laporan
keuangan tersebut”.

Dari definisi di atas memberikan pernyataan bahwa auditor memeriksa

laporan keuangan yang telah disusun oleh manajemen beserta catatan-catatan

pembukuan dan bukti-bukti pendukungnya. Dalam pemeriksannya, seorang

auditor melakukan audit berdasarkan pada International Standard on Auditing

(ISA) yang akan berlaku pada tahun 2015, namun pada penelitian kali ini penulis

masih menggunakan SPAP 2011. Selanjutnya pemeriksaan dilakukan oleh pihak

yang independen, yaitu akuntan publik berasal dari luar perusahaan dan tidak

memiliki kepentingan tertentu di dalam perusahaan.

8
9

2.1.1.2 Jenis-Jenis Auditor

Jenis-jenis auditor menurut Arens et al (2012:35) dibagi ke dalam empat

kategori, yaitu:

1. Certified Public Accounting firm are responsile for auditing the published

hystorical financial statement of all publicly trades companies, most other

reasonably large companies, and many smaller companies and non

commercial organitations.

2. A goverment accountability office auditor is an auditor working fo the

goverment accountability office (GAO). Many of GAO’s audit

responsibilities are the same as those of a CPA firm.

3. Internal revenue agent (IRA) is responsible for enforcing the faderal tax

laws as they have been defined by congress and interpreted by the courts.

A mayor reponsibilities of IRA is to audit the tax payers return to

determine wheter they have complied with the tax laws.

4. Internal auditors are employed by individual companies to audit for

management.

Dari penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa jenis-jenis auditor terdiri

dari:

1. Akuntan publik bersertifikat, yang bertanggung jawab atas laporan

keuangan historis yang dibuat oleh kliennya.

2. Auditor pemerintah, yang bertanggung jawab melaksanaan fungsi audit

bagi Kongres, dan memikul banyak tanggung jawab yang sama seperti

sebuah Kantor Akuntan Publik (KAP).


10

3. Auditor pajak, yang bertanggung jawab atas penerimaan negara dari sektor

perpajakan dan penegakan hukum dalam pelaksanaan ketentuan

perpajakan.

4. Auditor internal, yang berada dalam internal organisasi dan bertanggung

jawab dalam menilai dan mengevaluasi efisiensi dan efektivitas kinerja

organisasi tersebut.

2.1.2 Kantor Akuntan Publik

2.1.2.1 Pengertian Kantor Akuntan Publik

Galih Santika B (2006: 26) mendefinisikan Kantor Akuntan Publik adalah

organisasi yang menyediakan jasa-jasa audit untuk menentukan apakah

perusahaan atau organisasi telah memenuhi kriteria-kriteria yang telah ditetapkan

dengan baik sesuai dengan prosedur serta standar yang berlaku.

SPAP (2011) 16000.1 menyatakan definisi KAP adalah:

“Organisasi yang melaksanakan jasa profesional yang dicakup oleh


Standar Profesional Akuntan Publik dan meliputi partner, principal, dan staf
profesionalnya”.

Undang-Undang No. 05 tahun 2011 mendefinisikan bahwa Kantor

Akuntan Publik (KAP) adalah:

“Badan usaha yang didirikan berdasarkan ketentuan peraturan perundang-

undangan dan mendapatkan izin usaha berdasarkan Undang-undang ini.”


11

Arens et al mengelompokan empat kategori ukuran yang digunakan untuk

menggambarkan KAP, yaitu:

1. Big Four international firms

2. National firms

3. Regional and large local firms

4. Small local firms

Mengacu pada Undang-Undang No. 05 tahun 2011, Kantor Akuntan

Publik dikelompokan menjadi empat kelompok, yaitu:

1. Perseorangan

2. Persekutuan perdata

3. Firma

4. Bentuk usaha lain yang sesuai dengan karakteristik profesi Akuntan

Publik, yang diatur dalam Undang-Undang.

2.1.2.2 Jasa Kantor Akuntan Publik

Menurut Arens et al (2012:32) jasa akuntan publik dapat terbagi menjadi

tiga bagian, yaitu (1) Assurance Services; (2) Other Assurance Services; (3)

Nonassurance services provided by CPAs. Berikut rinciannya:

1. Jasa Assurance

Jasa profesional independen yang menyediakan informasi laporan

keuangan historis guna meningkatkan mutu informasi bagi pengambil

keputusan.
12

2. Jasa Assurance lainnya

Jasa ini berbeda dengan jasa atestasi lainnya karena akuntan publik tidak

harus mengeluarkan laporan tertulis, dan kepastian itu tidak harus

mengenai reabilitas asersi pihak lain tentang ketaatan pada kriteria

tertentu.

3. Jasa Nonassurance

KAP melakukan berbagai jasa lainnya yang umumnya berada di luar

lingkup assurance. Tiga contoh diantaranya adalah jasa akuntan dan

pembukuan, jasa pajak, dan jasa konsultansi manajemen.

Berdasarkan ketiga jenis jasa akuntan publik, jasa assurance berupa audit

atas laporan keuangan merupakan jasa yang paling sering diberikan oleh KAP.

Karena jasa tersebut memberikan laporan mengenai reliabilitas suatu asersi berupa

opini atas laporan keuangan perusahaan untuk menjamin keandalan laporan

keuangan tersebut. Sedangkan jasa assurance lainnya tidak mengharuskan laporan

reliabilitas terhadap suatu asersi. Jasa yang ketiga yaitu jasa nonassurance hanya

jasa-jasa untuk membantu manajemen perusahaan dalam menyiapkan laporan

keuangan.

Undang-Undang No. 05 tahun 2011 menjelaskan bahwa jasa akuntan

publik dapat dibagi menjadi tiga bagian, yang meliputi:

1. Jasa audit atas informasi keuangan historis.

2. Jasa review atas informasi keuangan historis.

3. Jasa asurans lainnya.


13

Selain jasa asurans sebagaimana telah dijelaskan, akuntan publik atau

auditor dapat memberikan jasa lainnya yang berkaitan dengan akuntansi,

keuangan, dan manajemen sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-

undangan.

2.1.2.3 Standar Profesional Akuntan Publik

Standar Profesional Akuntan Publik (SPAP) merupakan modifikasi standar

yang diterbitkan oleh Dewan Standar Profesi Institut Akuntan Publik Indonesia

(DSPIAPI) yang dijadikan pedoman bagi akuntan publik dalam memberikan jasa

profesionalnya. SPAP disusun untuk memenuhi tuntutan peningkatan mutu jasa

yang diterbitkan (SPAP, 2011). SPAP terdiri atas enam jenis standar profesional

yaitu:

1. Standar Auditing

Merupakan panduan audit atas laporan keuangan historis, yang terdiri dari

10 standar dan dirinci dalam bentuk Pernyataan Standar Auditing (PSA).

PSA berisi ketentuan-ketentuan dan pacuan utama yang harus diikuti oleh

akuntan publik dalam melaksanakan perikatan audit. Standar auditing

tersebut dikelompokan menjadi 3 kelompok besar, yaitui:

a. Standar umum, yaitu bersifat pribadi dan berkaitan dengan persyaratan

auditor dan mutu pekerjaannya. Standar umum berbeda dari standar

yang berkaitan dengan pelaksanaan pekerjaan lapangan dan pelaporan.

Standar pribadi atau sandar umum ini berlaku sama, baik dalam bidang

pelaksanaan pekerjaan lapangan maupun laporan.


14

b. Standar pekerjaan lapangan, berisi peraturan mengenai proses

pelaksanaan tugas auditor seperti perencanaan audit dan pemahaman

tentang klien.

c. Standar pelaporan, berisi laporan-laporan auditor yang wajib diberikan

saat auditor selesai mengaudit. Maka dari itu laporan auditor harus

jelas dan dapat dimengerti.

Tafsiran resmi ini bersifat mengikat bagi anggota IAPI yang berpraktik

sebagai akuntan publik, sehingga pelaksanaannya bersifat wajib

(mandatory).

2. Standar Atestasi

Memberikan rerangka untuk fungsi atestasi jasa akuntan publik, mancakup

tingkat keyakinan tertinggi yang diberikan oleh jasa audit atas laporan

keuangan historis, pemeriksaan laporan keuangan prospektif, serta tipe

perikatan atestasi lannya. Standar atestasi terdiri dari 11 standar yang

dirinci dalam bentuk Pernyataan Standar Atestasi (PSAT). Tafsiran resmi

ini bersifat mengikat bagi anggota IAPI yang berpraktik sebagai akuntan

publik, sehingga pelaksanaannya bersifat wajib (mandatory).

3. Standar Jasa Akuntansi dan Review

Memberikan rerangka untuk fungsi nonatestasi bagi jasa akuntan publik

yang mencakup jasa akuntan dan review. Standar Jasa Akuntansi dan

review dirinci dalam bentuk Pernyataan Standar Jasa Akuntannsi dan

Review (PSAR). Tafsiran resmi ini bersifat mengikat bagi anggota IAPI
15

yang berpraktik sebagai akuntan publik, sehingga pelaksanaannya bersifat

wajib (mandatory).

4. Standar Jasa Konsultansi

Memberikan panduan bagi praktisi yang menyediakan jasa konsultansi

bagi kliennya melalui KAP. Dalam jasa konsultansi, para praktisi

menyajikan temuan, kesimpulan, dan rekomendasi. Sifat dan lingkup

pekerjaan jasa konsultansi ditentukan oleh perjanjian antara praktisi

dengan kliennya. Umumnya, pekerjaan konsultansi dilaksanakan demi

kepentingan klien.

5. Standar Pengendalian Mutu

Memberikan panduan atas perumusan kebijakan bagi KAP yang wajib

memiliki sistem pengendalian mutu dan menjelaskan unsur-unsur

pengendalan mutu dan hal-hal yang terkait dengan implementasi secara

efektif sistem tersebut.

6. Kode Etik Profesi Akuntan Publik

Bagian dari kode etik IAPI yang mengatur anggotanya dalam menjalankan

praktik akuntan publik. Aturan ini ditetapkan oleh rapat anggota IAPI dan

wajib ditaati oleh seluruh anggota serta staf profesional di suatu KAP.

Berdasarkan uraian SPAP, keenam tipe standar profesional tersebut

memberi panduan bagi praktisi dalam memberikan jasa profesionalnya sehingga

bersifat mengikat dan berkewajiban untuk mematuhi standar tersebut. Hal di atas

dapat dijelaskan bahwa Standar Auditing memberikan panduan atas laporan

keuangan historis sebuah perusahaan, Standar Atestasi memberikan tingkat


16

keyakinan tertinggi atas jasa atestasi, Standar Jasa Akuntansi dan Review

merupakan rerangka untuk fungsi jasa nonatestasinya, Standar Jasa Konsultansi

untuk para praktisinya yang menyediakan jasa-jasa konsultasi, Standar

Pengendalian Mutu berfungsi untuk mengendalikan kualitas jasa yang dihasilkan,

serta Kode Etik Profesi Akuntan Publik yang akan mengatur anggotanya dalam

menjalankan praktiknya.

2.1.3 Sistem Pengendalian Mutu

2.1.3.1Pengertian Sistem Pengendalian Mutu

Menurut Arens et al (2012:28), bahwa konsep pengendalian mutu bagi

suatu KAP dapat dijelaskan sebagai berikut:

“For a CPA Firm, quality control comprises the methods used to ensure
that the firm meets its professional responsibilities to client and others. These
method include the organizational structure of the CPA firm and the procedures
the firm established ”.

Menurut Wahyudiono (2000) menyatakan bahwa:

“Quality control atau sistem pengendalian mutu merupakan suatu proses


yang dilakukan untuk memastikan bahwa suatu output dapat memenuhi tujuan
dan spesifikasi yang telah ditetapkan sebelumnya yang diwujudkan dengan
menggunakan pedoman atau standar yang telah ditetapkan.”

Menurut SPAP (2011: 160000.1) menyebutkan bahwa kebutuhan

pengendalian sistem dalam KAP tersebut:

“Setiap Kantor Akuntan Publik wajib memiliki sistem pengendalian mutu


dan menjelaskan unsur-unsur pengendalian mutu dan hal-hal yang terkait dengan
implementasi secara efektif sistem tersebut”.
17

Berdasarkan konsep sistem pengendalian mutu dihalaman sebelumnya,

menunjukan adanya suatu kewajiban KAP untuk menetapkan sistem pengendalian

mutu pada semua jenis audit, atestasi, akuntansi, dan review, serta konsultansi

yang standarnya telah ditetapkan oleh IAPI dan dibutuhkannya auditor profesional

dalam melaksanakan pelaksanaan audit.

2.1.3.2 Tujuan Sistem Pengendalian Mutu

Tuanakotta (2013:108) menyebutkan tujuan sistem pengendalian mutu

pada KAP adalah untuk memberikan keyakinan kepada kliennya atas kinerja

auditor. Tujuan tersebut dibagi menjadi tujuan KAP dan tujuan auditor, yaitu:

1. Tujuan KAP menetapkan dan memelihara suatu QC System adalah untuk

memberikan assurance yang layak bahwa :

a. KAP dan personalianya mematuhi standar profesional serta kewajiban

hukum/ketentuan perundang-undangan yang berlaku dan kewajiban

yang ditetapkan regulator.

b. Laporan yang diterbitkan KAP atau partnernya, sudah tepat sesuai

dengan situasi yang dihadapi.

2. Tujuan auditor adalah mengimplementasi prosedur pengendalian mutu

pada tingkat penugasan yang memberikan assurance yang layak bahwa:

a. Auditnya mematuhi standar profesional serta kewajiban

hukum/ketentuan perundang-undangan yang berlaku dan kewajiban

yang ditetapkan regulator.


18

b. Laporan auditor yang telah diterbitkan, sudah tepat dalam situasi yang

dihadapi.

2.1.3.3 Elemen-elemen Sistem Pengendalian Mutu

SPAP mewajibkan KAP mempertimbangkan setiap unsur pengendalian

mutu, sejauh mana dalam praktiknya, dalam menetapkan kebijakan dan prosedur

pengendalian mutunya. Unsur-unsur dalam pengendalian mutu saling

berhubungan antara satu dengan yang lainnya. Sebagai contoh, praktik

pemekerjaan KAP akan berpengaruh terhadap kebijakan pelatihannya sedangkan

praktik pelatihan mempengaruhi kebijakan promosinya. Praktik keduanya akan

mempengaruhi kebijakan supervisi, lalu kebijakan tersebut berpengaruh pada

kebijakan pelatihan dan promosi. (SPAP, 2011:16000.2).

Pengendalian mutu Kantor Akuntan Publik (KAP) harus diterapkan oleh

setiap KAP pada semua jasa audit, atestasi, akuntansi, review, dan konsultasi yang

standarnya telah ditetapkan oleh Institut Akuntan Publik Indonesia (IAPI). Sistem

pengendalian mutu tersebut mencakup kebijakan dan prosedur pengendalian

mutu, penetapan tanggung jawab, komunikasi dan pemantauan. (SPAP, 2011:

17000.1).

Maka untuk memenuhi ketentuan yang berlaku, KAP membuat kebijakan

dan prosedur tentang elemen-elemen sistem pengendalian mutu yang

dikelompokan sebagai berikut:


19

1. Independensi

Independensi merupakan sikap mental yang bebas dari pengaruh, tidak

dikendalikan oleh pihak lain, dan tidak tergantung pada orang lain (Saragi

dan Verani, 2010). Independensi memberikan keyakinan yang memadai

bahwa setiap lapisan organisasi dan semua staf profesional

mempertahankan independensi sebagaimana diatur dalam Kode Etik

Akuntan Publik (SPAP, 2011: 17000.2)

2. Penugasan Personel

KAP harus merumuskan kebijakan dan prosedur pengendalian mutu

mengenai personel untuk memberikan keyakinan memadai bahwa

perikatan dilaksanakan oleh staf profesional yang memiliki tingkat

pelatihan dan keahlian teknis untuk perikatan tersebut. Sifat dan lingkup

supervisi dalam penugasan personel harus dipertimbangkan, di mana

apabila personel yang ditugasi semakin cakap dan berpengalaman,

supervisi secara langsung terhadap personel tersebut tidak diperlukan

(SPAP, 2011:17000.4).

3. Konsultasi

KAP harus merumusan kebijakan dan prosedur pengendalian mutu

mengenai konsultasi agar dapat memberikan keyakinan memadai bahwa

personel akan memperoleh informasi yang dibutuhkan dari orang yang

memiliki tingkat pengetahuan, kompetensi, pertimbangan, dan wewenang

yang memadai (SPAP, 2011:17000.6). Sifat konsultasi akan tergantung,


20

antara lain ukuran KAP dan tingkat pengetahuan, kompetensi dan

pertimbangan yang dimiliki oleh staf pelaksana perikatan.

4. Supervisi

KAP harus merumuskan kebijakan dan prosedur pengendalian mutu

mengenai pelaksanaan dan supervisi untuk memberikan keyakinan

memadai bahwa pelaksanaan perikatan memenuhi standar mutu yang

ditetapkan oleh KAP. Lingkup supervisi dan review tergantung pada

faktor-faktor seperti kerumitan masalah, kualifikasi staf pelaksana

perikatan, dan lingkup konsultasi yang tersedia dan yang telah digunakan

(SPAP, 2011: 17000.7).

5. Pemekerjaan

KAP harus merumuskan kebijakan dan prosedur pengendalian mutu

mengenai pemekerjaan untuk memberikan keyakinan memadai bahwa

semua orang yang dipekerjakan memiliki kualifikasi semestinya. Oleh

karena itu, mutu pekerjaan KAP tergantung pada integritas, kompetensi

dan motivasi personel yang melaksanakan dan melakukan supervisi atas

pekerjaan. Sehingga hal tersebut memungkinkan mereka melakukan

perikatan secara kompeten (SPAP, 2011:17000.9).

6. Pengembangan Profesional

KAP harus merumuskan kebijakan dan prosedur mutu mengenai

pengembangan profesional untuk memberikan keyakinan memadai bahwa

personel memiliki pengetahuan yang memadai sehingga memungkinkan

mereka memenuhi tanggung jawabnya. Pendidikan profesional


21

berkelanjutan dan pelatihan merupakan wahana bagi KAP untuk

memberikan pengetahuan memadai bagi personelnya untuk memenuhi

tanggung jawab mereka dan untuk kemajuan karier mereka di KAP

(SPAP, 2011:17000.11).

7. Promosi

Memberikan keyakinan memadai bahwa semua personel terseleksi untuk

promosi memiliki kualifikasi seperti yang telah diisyaratkan untuk

mendapat lapisan tanggung jawab yang lebih tinggi. Praktik promosi

personel akan berpengaruh terhadap mutu pekerjaan personel. Kualifikasi

personel terseleksi harus mencakup, tetapi tidak terbatas pada karakter,

intelegensi, pertimbangan (judgment) dan motivasi (SPAP,

2011:17000.14).

8. Penerimaan dan Keberlanjutan Klien

Memberikan keyakinan memadai bahwa perikatan dari klien akan diterima

atau dilanjutkan untuk meminimalis hubungan dengan klien di mana

manajemen tidak memiliki integritas. Namun, KAP tidak memiliki

wewenang untuk menentukan integritas atau keandalan klien. Sehingga

KAP harus bersandar pada prinsip pertimbangan hati-hati dalam

menentukan hubungan profesionalnya (SPAP, 2011:17000.16).

9. Inspeksi

Memberikan keyakinan memadai bahwa prosedur, mulai dari independensi

hingga penerimaan dan keberlanjutan klien, telah diterapkan secara efektf.

Prosedur direksi dapat dirancang dan dilaksanakan oleh individu yang


22

bertindak sebagai perwakilan dari kepentingan manajemen KAP (SPAP,

2011:17000.18).

Dalam penerapan sistem pengendalian mutu, kesembilan unsur tersebut

saling mempengaruhi. KAP dalam meyakinkan bahwa sistem pengendalian

mutunya telah sesuai atau tidak dengan standar audit yang ditetapkan, maka

diterapkanlah prosedur pengendalian mutu mengenai supervisi yang mana

dipengaruhi oleh faktor kerumitan masalah, kualifikasi staf pelaksana perikatan

dan lingkup konsultansi yang digunakan. Prosedur pengendalian mengenai

konsultasi juga digunakan agar staf pelaksana atau personel audit dapat

memperoleh informasi memadai sesuai yang dibutuhkan dari orang yang memiliki

tingkat pengetahuan, kompetensi, pertimbangan dan wewenang memadai.

(Nasution, 2008).

2.1.4 Kinerja Auditor

2.1.4.1 Pengertian Kinerja

Secara etimologi, kinerja berasal dari kata prestasi kerja (performance).

Sebagaimana didefinisikan oleh Mangkunegara (2005:67) bahwa istilah kinerja

berasal dari kata job performance atau actual performance (prestasi kerja atau

prestasi sesungguhnya yang dicapai seseorang) yaitu hasil kerja secara kualitas

dan kuantitas yang dicapai oleh seorang pegawai dalam melaksanakan tugasnya

sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan kepadanya.


23

Pengertian kinerja menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2002:570)

yaitu:

“Kinerja mempunyai pengertian sesuatu yang dicapai, prestasi yang


diperlihatkan, kemampuan kerja. Dalam bahasa Inggris sering diartikan sebagai
performance yang mempunyai arti pelaksanaan.”

Menurut Veithzhal Rivai (2006:309) menyebutkan bahwa:

“Kinerja merupakan perilaku yang nyata yang ditampilkan setiap orang


sebagai prestasi kerja yang dihasilkan oleh karyawan sesuai dengan perannya
dalam perusahaan.”

Simamora (2004:423) mendefinisikan kinerja (performaance) sebagai

berikut:

“Kinerja merupakan suatu pencapaian persyaratan pekerjaan tertentu yang


akhirnya secara nyata dapat tercermin keluaran yang dihasilkan oleh masing-
masing pekerja.”

Berdasarkan beberapa pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa kinerja

(prestasi kerja) adalah suatu hasil karya yang dicapai oleh seseorang dalam

melaksanakan tugas-tugas yang dibebankan kepadanya yang didasarkan atas

kecakapan, pengalaman dan kesungguhan waktu yang diukur dengan

mempertimbangkan kuantitas, kualitas dan ketepatan waktu. Kinerja (prestasi

kerja) dapat diukur melalui pengukuran tertentu (standar) di mana kualitas adalah

berkaitan dengan mutu kerja yang dihasilkan, sedangkan kuantitas adalah jumlah

hasil kerja yang dihasilkan dalam kurun waktu tertentu, dan ketepatan waktu

adalah kesesuaian waktu yang telah direncanakan. Karakteristik yang

membedakan kinerja auditor dan kinerja manajer adalah pada output yang

dihasilkan. (Simposium Nasional Akuntansi X: 2007).


24

2.1.4.2 Tujuan Penilaian Kinerja

Penilaian kinerja merupakan penentuan efektivitas operasional organisasi,

bagian organisasi dan karyawannya berdasarkan sasaran, standar dan kriteria yang

telah ditetapkan. Penilaian kinerja ini bermanfaat bagi dua kepentingan, yaitu

kepentingan karyawan dan kepentingan perusahaan. Bagi karyawan, penilaian

kinerja merupakan sarana untuk pengembangan karir mereka. Bagi pihak

perusahaan, penilaian kinerja sangat penting peranannya dalam mengambil

keputusan terhadap penempatan, kompensasi, pelatihan, pemacu motivasi kerja

karyawan dan aspek-aspek lainnya yang berguna untuk melancarkan jalan

perusahaan untuk mencapai tujuannya. (Rikawati, 2012).

Adanya penilaian kinerja adalah untuk memotivasi karyawan dalam

mencapai sasaran organisasi dan untuk mematuhi standar perilaku yang telah

ditetapkan sebelumnya agar membuahkan tindakan dan hasil yang digunakan.

(Rikawati, 2012).

Agus Dharma (2000: 150) mengemukakan tujuan dari penilaian kinerja

sebagai berikut:

1. Mengukur tanggung jawab karyawan.

2. Sebagai dasar bagi peningkatan dan pengembangan karyawan.

2.1.4.3 Pengertian Kinerja Auditor

Wibowo (2007:7) menjelaskan bahwa kinerja auditor merupakan hasil

kerja dalam mewujudkan tujuan, kepuasan pelanggan serta kontribusinya terhadap

perkembangan ekonomi masyarakat yang diukur berdasarkan ukuran kuantitatif


25

maupun kualitatif yang dapat menggambarkan tingkat pencapaian sasaran dan

tujuan.

Trianingsih (2007) menyatakan bahwa kinerja auditor sebagai suatu

keadaan di mana akuntan publik melakukan pemeriksaan (examination) secara

obyektif atas laporan keuangan suatu perusahaan dengan tujuan untuk

menentukan kewajaran laporan keuangan, baik dalam hal posisi keuangan

maupun hasil usaha perusahaan. Pengukuran kinerja dapat dilakukan dari kualitas

maupun kuantitas. Kualitas berarti mutu kerja yang dihasilkan, sementara

kuantitas adalah banyaknya pekerjaan yang dapat diselesaikan dalam kurun waktu

tertentu.

Unsur-unsur penilaian kinerja menurut Veithzal Rivai (2005:29-30) adalah

sebagai berikut:

1. Penetapan misi, tujuan dan sasaran perusahaan

2. Penetapan secara startegis dan kebijakan operasional perusahaan

3. Penetapan dan pengembangan indikator-indikator kinerja, dengan cara :

a) Pengukuran kinerja dan penilaian hasil pengukuran.

b) Pelaporan hasil-hasil secara formal.

c) Penggunaan informasi kinerja.

Larkin (1990) dalam Trianingsih (2007) menyatakan bahwa terdapat

empat dimensi personalitas dalam mengukur kinerja auditor, dimensi tersebut

adalah:
26

1. Kemampuan

Seorang auditor yang mempunyai kemampuan dalam hal auditing maka

akan cakap dalam menyelesaikan pekerjaan.

2. Komitmen Profesional

Auditor yang komitmen terhadap profesinya maka akan loyal terhadap

profesinya seperti yang dipersepsikan oleh auditor tersebut.

3. Motivasi

Motivasi yang dimiliki seorang auditor akan mendorong keinginan

individu auditor tersebut untuk melakukan kegiatan-kegiatan tertentu

untuk mencapai suatu tujuan.

4. Kepuasan Kerja

Adapun kepuasan kerja auditor adalah tingkat kepuasan individu auditor

dengan posisinya dalam organisasi secara relatif dibandingkan dengan

teman sekerja atau teman seprofesi lainnya.

2.2 Tinjauan Penelitian Terdahulu

Pencarian dari wacana penelitian terdahulu dilakukan sebagai upaya

memperjelas tentang variabel-variabel dalam penelitian ini, sekaligus untuk

membedakan peneliti ini dengan peneliti sebelumnya. Umumnya kajian yang

dilakukan oleh peneliti-peneliti dari kalangan akademis dan telah

mempublikasikannya pada beberapa jurnal cetakan dan jurnal online (internet).

Penelitian tentang standar pengendalian mutu dan kinerja auditor.


27

Terdapat perbedaan objek (KAP) yang membedakan penelitian sekarang

dengan penelitian terdahulu. Objek dalam penelitian ini dilakukan pada seluruh

Kantor Akuntan Publik di Bandung. Berikut adalah Tabel 2.1 tentang Ringkasan

Penelitian Terdahulu:

Tabel 2.1

Ringkasan Penelitian Terdahulu

No. Penulis Tahun Judul Variabel Hasil Penelitian


1. Natasya 2013 Pengaruh 1. Sistem Sistem pengendalian
Aulia Sistem pengendalian mutu berpengaruh
Ramadhani Pengendalian mutu terhadap kualitas
Mutu dan 2. Kompetensi audit. Hal tersebut
Kompetensi Auditor dapat dipahami
Auditor 3. Kualitas auditbahwa untuk
Terhadap meningkatkan
Kualitas Audit kualitas audit,
sebuah KAP perlu
sistem pengendalian
mutu.
2. Rikawati 2012 Pengaruh Peer 1. Peer review Penerapan standar
Review dan 2. Standar pengendalian mutu
Penerapan pengendalian berpengaruh kuat
Standar mutu dan signifikan. Hal
Pengendalian 3. Kinerja auditor ini menunjukan
Mutu KAP bahwa hubungan
Terhadap standar
Kinerja pengendalian mutu
Auditor KAP berada pada
tingkat “seringkali
menerapkan standar
pengendalian mutu
KAP” maka hal ini
berdampak pada
kinerja auditor.
3. Sri 2007 Independensi 1. Pemahaman 1. Pemahaman good
Trianingsih Auditor dan good governance tidak
Komitmen governance berpengruh
Organisasi 2. Gaya langsung terhadap
Sebagai kepemimpinan kinerja auditor.
Mediasi 3. Budaya 2. Gaya
28

Pengaruh organisasi kepemimpinan


Pemahaman 4. Independensi berpengruh
Good auditor langsung terhadap
Governance, 5. Komitmen kinerja auditor.
Gaya organisasi 3. Budaya organisasi
Kepemimpinan 6. Kinerja auditor berpengaruh
dan Budaya langsung terhadap
Organisasi kinerja auditor.
Terhadap
Kinerja
Auditor
4. Gusti Ayu 2013 Pengaruh 1. Penerapan Penerapan variabel
Novi Penerapan sistem independensi,
Anggraeni Sistem pengendalian penugasan
& Pengendalian mutu personel, supervisi,
I Dewa Mutu 2. Kinerja auditor dan inspeksi
Nyoman Pada Kinerja berpengaruh
Badera Auditor Di positif pada kinerja
Kantor auditor di KAP
Akuntan wilayah Provinsi
Publik Bali.
Provinsi Bali
5. Nurul 2012 Pengaruh 1. Independensi Independensi
Arifah Independensi auditor auditor, komitmen
Auditor, 2. Komitmen organisasi dan gaya
Komitmen organisasi kepemimpinan
Organisasi dan 3. Gaya berpengruh secara
Gaya kepemimpinan simultan terhadap
Kepemimpinan 4. Kinerja auditor kinerja auditor
Terhadap
Kinerja
Auditor

2.3 Kerangka Pemikiran

Setiap badan usaha pasti dituntut untuk memiliki kinerja yang baik.

Keberhasilan suatu organisasi baik besar maupun kecil bukan hanya ditentukan

oleh sumber daya alam yang tersedia, akan tetapi banyak ditentukan oleh sumber

daya manusia yang berperan merencanakan, melaksanakan dan mengendalikan


29

organisasi yang bersangkutan. Sumber daya manusia tersebut harus berkualitas

dan profesional dalam bidangnya. (Andayani, 2012)

Mangkunegara (2000:67) menjelaskan bahwa:

“Kinerja adalah hasil kerja kualitas dan kuantitas yang dicapai oleh
seorang karyawan dalam melaksanakan tugasnya sesuai dengan tanggung jawab
yang diberikan kepadanya.”

Dari pemahaman yang sudah dijelaskan, dapat disimpulkan bahwa kinerja

yang baik dapat tercapai apabila di dalamnya terdapat perumusan tujuan,

terdapatnya kerjasama, bersifat keberlanjutan, terjadi komunikasi dua arah dan

feedback atau umpan balik. Maka setiap KAP wajib memiliki pengendalian mutu

yang harus diterapkan pada semua jasa audit, atestasi, akuntansi, dan review yang

standarnya ditetapkan dalam Standar Profesional Akuntan Publik (SPAP).

Setiap penugasan jasa profesional, KAP wajib bertanggung jawab untuk

mematuhi SPAP. Dalam pemenuhan tanggung jawab tersebut, KAP wajib

mempertimbangkan integritas sifatnya, independensi terhadap kliennya,

kompetensi, objektivitas serta penggunaan kemahiran profesionalnya secara

cermat dan seksama. Oleh karena itu KAP harus memiliki sistem pengendalian

mutu yang mencakup struktur organisasi, kebijakan dan prosedur yang ditetapkan

KAP untuk memberikan keyakinan yang memadai tentang kesesuaian penugasan

profesional dengan SPAP. KAP wajib mengkomunikasikan kebijakan dan

prosedur pengendalian mutu kepada personelnya sehingga bisa meningkatkan

kinerja auditornya (Puspitasari, 2010 dalam Rikawati, 2012).

Hasil audit atas laporan keuangan akan berguna jika akuntan publik

mampu mengendalikan mutu pemeriksaan dan bertindak profesional. KAP


30

bertanggung jawab untuk mematuhi berbagai Standar Profesional Akuntan Publik

(SPAP) yang diterbitkan oleh Ikatan Akuntan Publik Indonesia (IAPI). Salah satu

standar yang berisi panduan bagi KAP dalam melaksanakan pengendalian kualitas

jasa yang dihasilkan oleh kantornya adalah standar pengendalian mutu

(SPAP,2011). Oleh sebab itu, adanya keharusan bagi setiap KAP untuk memiliki

sistem pengendalian mutu. Sistem pengendalian mutu mencakup struktur

organisasi, kebijakan dan prosedur yang ditetapkan KAP untuk memberikan

keyakinan memadai tentang kesesuaian perikatan profesional dengan SPAP

sehingga harus komprehensif dan selaras dengan struktur organisasi, kebijakan

dan sifat praktif KAP. (SPAP, 2011:16000.1).

Berdasarkan pemahaman beberapa konsep di atas, maka tujuan dari

konsep ini adalah untuk meyakinkan para pengguna jasa, bahwa akuntan publik

dalam memberikan jasanya telah memenuhi tanggung jawab profesionalnya.

Sehingga dalam sebuah proses audit, bagian yang terpenting adalah kinerja

auditor, karena hal tersebut dapat menentukan baik tidaknya pelaksanaan audit.

Larkin (1990) dalam Trianingsih (2007) menyatakan bahwa terdapat empat

dimensi personalitas dalam mengukur kinerja auditor, dimensi tersebut adalah:

1. Kemampuan

Seorang auditor yang mempunyai kemampuan dalam hal auditing maka

akan cakap dalam menyelesaikan pekerjaan.

2. Komitmen Profesional

Auditor yang komitmen terhadap profesinya maka akan loyal terhadap

profesinya seperti yang dipersepsikan oleh audititor tersebut.


31

3. Motivasi

Motivsi yang dimiliki seorang auditor akan mendorong keinginan individu

auditor tersebut untuk melakukan kegiatan-kegiatan tertentu untuk

mencapai suatu tujuan.

4. Kepuasan Kerja

Adapun kepuasan kerja auditor adalah tingkat kepuasan individu auditor

dengan posisinya dalam organisasi secara relatif dibandingkan dengan

teman sekerja atau teman seprofesi lainnya.

Dari kerangka pemikiran di atas, sistem pengendalian mutu KAP dapat

meningkatkan kinerja auditor. Jika sistem pengendalian mutu diterapkan dengan

baik, maka kinerja auditor juga akan meningkat.

Berikut ini terdapat kerangka pemikiran mengenai sistem pengendalian

mutu serta pengaruhnya terhadap kinerja auditor dapat dilihat pada Gambar 2.1

Kerangka Pemikiran:
32
33

2.4 Hipotesis

Menurut Sugiyono (2012:64) hipotesis adalah jawaban sementara terhadap

rumusan masalah penelitian, oleh karena itu rumusan masalah penelitian biasanya

disusun dalam bentuk kalimat pertanyaan.

Berdasarkan uraian di atas, maka penulis dapat merumuskan dua hipotesis

yaitu:

H0 : Sistem pengendalian mutu tidak berpengaruh tehadap kinerja auditor.

H1 : Sistem pengendalian mutu berpengaruh tehadap kinerja auditor.