Anda di halaman 1dari 148

RANGKUMAN DEMAM BERDARAH DENGUE

BAB 1. EPIDEMIOLOGI DEMAM BERDARAH DENGUE

Materi Epidemiologi penyakit Dengue membahas tentang pengertian epidemiologi, gambaran


epidemiologi (identifikasi penyakit Dengue, penyebab penyakit, distribusi penyakit, reservoir
virus dengue, cara penularan, masa inkubasi, masa penularan, kekebalan dan kerentanan) dan
ukuran epidemiologi sederhana yang berhubungan dengan penyakit dengue.

A. Pengertian Epidemiologi

Epidemiologi berasal dari kata Epi, demos dan logos. Epi berarti atas, demos berarti
masyarakat, logos berarti ilmu, sehingga epidemiologi dapat diartikan sebagai ilmu yang
mempelajari tentang kejadian di masyarakat.

Epidemiologi penyakit Dengue adalah ilmu yang mempelajari tentang kejadian dan distribusi
dan frekuensi penyakit Dengue (DD/DBD/SSD) menurut variabel epidemiologi (orang,
tempat dan waktu) dan berupaya menentukan faktor resiko terjadinya kejadian itu di
kelompok populasi. Distribusi yang dimaksud diatas adalah distribusi orang, tempat dan
waktu; sedangkan frekwensi dalam hal ini adalah Insidens, CFR, dll. Determinan faktor
risiko berarti faktor yang mempengaruhi atau faktor yang memberi risiko atas terjadinya
penyakit DD/DBD/SSD.

B. Penyebab Penyakit

Penyebab penyakit Dengue adalah Arthrophod borne virus, famili Flaviviridae, genus
flavivirus. Virus berukuran kecil (50 nm) ini memiliki single standard RNA. Virion-nya
terdiri dari nucleocapsid dengan bentuk kubus simetris dan terbungkus dalam amplop
lipoprotein.Genome (rangkaian kromosom) virus Dengue berukuran panjang sekitar 11.000
dan terbentuk dari tiga gen protein struktural yaitu nucleocapsid atau protein core (C),
membrane-associated protein (M) dan suatu protein envelope (E) serta gen protein non
struktural (NS).

Terdapat empat serotipe virus yang disebut DEN-1, DEN-2, DEN-3 dan DEN4. Ke empat
serotipe virus ini telah ditemukan di berbagai wilayah Indonesia. Hasil penelitian di
Indonesia menunjukkan bahwa Dengue-3 sangat berkaitan dengan kasus DBD berat dan
merupakan serotipe yang paling luas distribusinya disusul oleh Dengue-2, Dengue-1 dan
Dengue -4.

Terinfeksinya seseorang dengan salah satu serotipe tersebut diatas, akan menyebabkan
kekebalan seumur hidup terhadap serotipe virus yang bersangkutan. Meskipun keempat
serotipe virus tersebut mempunyai daya antigenis yang sama namun mereka berbeda dalam
menimbulkan proteksi silang meski baru beberapa bulan terjadi infeksi dengan salah satu dari
mereka

C. Penularan dan masa inkubasi


1. Vektor DBD
Virus Dengue ditularkan dari orang ke orang melalui gigitan nyamuk Aedes (Ae). Ae
aegypti merupakan vektor epidemi yang paling utama, namun spesies lain seperti
Ae.albopictus, Ae.polynesiensis dan Ae. niveus juga dianggap sebagai vektor
sekunder. Kecuali Ae.aegypti semuanya mempunyai daerah distribusi geografis
sendiri-sendiri yang terbatas. Meskipun mereka merupakan host yang sangat baik
untuk virus dengue, biasanya mereka merupakan vektor epidemi yang kurang efisien
dibanding Ae.aegypti.
Nyamuk penular dengue ini terdapat hampir di seluruh pelosok Indonesia, kecuali di
tempat-tempat dengan ketinggian lebih dari 1000 meter di atas permukaan laut.
2. Siklus penularan
Nyamuk Aedes betina biasanya terinfeksi virus dengue pada saat dia menghisap darah
dari seseorang yang sedang dalam fase demam akut (viraemia) yaitu 2 hari sebelum
panas sampai 5 hari setelah demam timbul. Nyamuk menjadi infektif 8-12 hari
sesudah mengisap darah penderita yang sedang viremia (periode inkubasi ekstrinsik)
dan tetap infektif selama hidupnya Setelah melalui periode inkubasi ekstrinsik
tersebut, kelenjar ludah nyamuk bersangkutan akan terinfeksi dan virusnya akan
ditularkan ketika nyamuk tersebut menggigit dan mengeluarkan cairan ludahnya ke
dalam luka gigitan ke tubuh orang lain. Setelah masa inkubasi di tubuh manusia
selama 3 - 4 hari (rata-rata selama 4-6 hari) timbul gejala awal penyakit secara
mendadak, yang ditandai demam, pusing, myalgia (nyeri otot), hilangnya nafsu
makan dan berbagai tanda atau gejala lainnya.
Viremia biasanya muncul pada saat atau sebelum gejala awal penyakit tampak dan
berlangsung selama kurang lebih lima hari. Saat-saat tersebut penderita dalam masa
sangat infektif untuk vektor nyamuk yang berperan dalam siklus penularan, jika
penderita tidak terlindung terhadap kemungkinan digigit nyamuk. Hal tersebut
merupakan bukti pola penularan virus secara vertikal dari nyamuk-nyamuk betina
yang terinfeksi ke generasi berikutnya.

3. Masa inkubasi
Infeksi Dengue mempunyai masa inkubasi antara 2 sampai 14 hari, biasanya 4-7 hari.
4. Host
Virus dengue menginfeksi manusia dan beberapa spesies dari primata rendah. Tubuh
manusia adalah reservoir utama bagi virus tersebut, meskipun studi yang dilakukan di
Malaysia dan Afrika menunjukkan bahwa monyet dapat terinfeksi oleh virus dengue
sehingga dapat berfungsi sebagai host reservoir.
Semua orang rentan terhadap penyakit ini, pada anak-anak biasanya menunjukkan
gejala lebih ringan dibandingkan dengan orang dewasa. Penderita yang sembuh dari
infeksi dengan satu jenis serotipe akan memberikan imunitas homolog seumur hidup
tetapi tidak memberikan perlindungan terhadap terhadap infeksi serotipe lain dan
dapat terjadi infeksi lagi oleh serotipe lainnya.
D. Faktor Risiko Penularan Infeksi Dengue
Beberapa faktor yang berisiko terjadinya penularan dan semakin berkembangnya
penyakit DBD adalah pertumbuhan jumlah penduduk yang tidak memiliki pola tertentu,
faktor urbanisasi yang tidak berencana dan terkontrol dengan baik, semakin majunya
sistem transportasi sehingga mobilisasi penduduk sangat mudah, sistem pengelolaan
limbah dan penyediaan air bersih yang tidak memadai, berkembangnya penyebaran dan
kepadatan nyamuk, kurangnya sistem pengendalian nyamuk yang efektif, serta
melemahnya struktur kesehatan masyarakat. Selain faktor-faktor lingkungan tersebut
diatas status imunologi seseorang, strain virus/serotipe virus yang menginfeksi, usia dan
riwayat genetik juga berpengaruh terhadap penularan penyakit.
Perubahan iklim (climate change) global yang menyebabkan kenaikan ratarata
temperatur, perubahan pola musim hujan dan kemarau juga disinyalir menyebabkan
risiko terhadap penularan DBD bahkan berisiko terhadap munculnya
E. Ukuran Epidemiologi
Ukuran (parameter) frekuensi penyakit yang paling sederhana adalah ukuran yang
sekedar menghitung jumlah individu yang sakit pada suatu populasi, ukuran frekuensi
tersebut bermanfaat bagi petugas kesehatan di daerah dalam mengalokasikan dana atau
kegiatan.Ukuran-ukuran epidemiologi yang sering digunakan dalam kegiatan
pengendalian DBD adalah Insidence Rate (IR), Case Fatality Rate (CFR), Attack Rate
(AR).
a. Angka Kesakitan/Insiden Rate (IR)
IR adalah ukuran yang menunjukkan kecepatan kejadian (baru) penyakit
populasi. IR merupakan proporsi antara jumlah orang yang menderita penyakit
dan jumlah orang dalam risiko x lamanya ia dalam risiko.

IR = Jumlah kasus baru penyakit


--------------------------------------------- X 100%
Jumlah orang yang berisiko

b. Angka Kematian/Cured Fatality Rate (CFR)


CFR adalah angka kematian yang diakibatkan dari suatu penyakit dalam suatu
waktu tertentu dikalikan 100%.

CFR = Jumlah kematian


----------------------- X 100%
Jumlah kasus

c. Attack Rate
Ukuran epidemiologi pada waktu terjadi KLB, untuk menghitung kasus pada
populasi berisiko di wilayah dan waktu tertentu.
AR = Jumlah kasus
------------------
Jumlah populasi berisiko pada waktu tertentu
BAB 2. SURVEILANS KASUS DBD

Surveilans kasus DBD meliputi proses pengumpulan, pencatatan, pengolahan, analisis dan
interpretasi data kasus serta penyebarluasan informasi ke penyelenggara program, instansi
dan pihak terkait secara sistematis dan terus menerus. Materi ini juga menjelaskan tentang
surveilans kasus DBD dari tingkat Puskesmas sampai dengan tingkat Provinsi

A. TUJUAN DAN PENGERTIAN SURVEILANS DBD


1. Tujuan Surveilans
Tersedianya data dan informasi epidemiologi sebagai dasar manajemen kesehatan
untuk pengambilan keputusan dalam perencanaan, pelaksanaan, pemantauan,
evaluasi program kesehatan dan peningkatan kewaspadaan serta respon kejadian luar
biasa yang cepat dan tepat .
Secara khusus tujuan surveilans DBD adalah :
a. Memantau kecenderungan penyakit DBD
b. Mendeteksi dan memprediksi terjadinya KLB DBD serta penanggulangannya
c. Menindaklanjuti laporan kasus DBD dengan melakukan PE, serta melakukan
penanggulangan seperlunya
d. Memantau kemajuan program pengendalian DBD
e. Menyediakan informasi untuk perencanaan pengendalian DBD
f. Pembuatan kebijakan pengendalian DBD.
2. Pengertian
a. Menurut WHO, Surveillans adalah proses pengumpulan, pengolahan, analisis,
dan interpretasi data, serta penyebarluasan informasi ke penyelenggara program,
instansi pihak terkait secara sistematis dan terus menerus serta penyebaran
informasi kepada unit yang membutuhkan untuk dapat mengambil tindakan
b. Berdasarkan KEPMENKES nomor 1116 tahun 2003 tentang Pedoman
Penyelenggaraan Sistem Surveilans Epidemiologi Kesehatan, Surveillans adalah
kegiatan analisis secara sistematis dan terus menerus terhadap penyakit atau
masalah-masalah kesehatan dan kondisi yang mempengaruhi terjadinya
peningkatan dan penularan penyakit atau masalah-masalah kesehatan tersebut,
agar dapat melakukan tindakan penanggulangan secara efisien dan efektif melalui
proses pengumpulan data, pengolahan dan penyebaran informasi epidemiologi
kepada penyelenggara program kesehatan.
c. Surveilans Demam Berdarah Dengue (DBD) adalah proses pengumpulan,
pengolahan, analisis, dan interpretasi data, serta penyebarluasan informasi ke
penyelenggara program, instansi dan pihak terkait secara sistematis dan terus
menerus tentang situasi DBD dan kondisi yang mempengaruhi terjadinya
peningkatan dan penularan penyakit tersebut agar dapat dilakukan tindakan
pengendalian secara efisien dan efektif.
3. Definisi Kasus Operasional
a. Suspek Infeksi dengue ditegakkan bila terdapat 2 kriteria yaitu demam tinggi
mendadak tanpa sebab yang jelas berlangsung selama 2-7 hari dan adanya
manifestasi perdarahan: sekurang-kurangnya uji tourniquet (Rumple Leede)
positif
b. Probable Demam Dengue ialah : demam disertai 2 atau lebih gejala penyerta
seperti sakit kepala, nyeri dibelakang bola mata, pegal, nyeri sendi ( athralgia ),
rash, dan manifestasi perdarahan, leucopenia ( lekosit < 5000 /mm3 ), jumlah
trombosit < 150.000/mm3 dan peningkatan hematokrit 5 - 10 % atau pemeriksaan
serologis Ig M positif.
c. Demam Berdarah Dengue (DBD) ialah demam 2 - 7 hari disertai dengan
manifestasi perdarahan, Jumlah trombosit < 100.000 /mm3, adanya tanda tanda
kebocoran plasma (peningkatan hematokrit 20 % dari nilai normal, dan atau efusi
pleura, dan atau ascites, dan atau hypoproteinemia/ albuminemia) dan atau hasil
pemeriksaan serologis pada penderita tersangka DBD menunjukkan hasil positif
atau terjadi peninggian (positif) IgG saja atau IgM dan IgG pada pemeriksaan
dengue rapid test (diagnosis laboratoris).
d. Sindrom Syok Dengue (SSD) ialah kasus DBD yang masuk dalam derajat III dan
IV dimana terjadi kegagalan sirkulasi yang ditandai dengan denyut nadi yang
cepat dan lemah, menyempitnya tekanan nadi ( 20 mmHg) atau hipotensi yang
ditandai dengan kulit dingin dan lembab serta pasien menjadi gelisah sampai
terjadi syok berat (tidak terabanya denyut nadi maupun tekanan darah).
e. Kasus adalah penderita DD, DBD atau SSD.
f. Kewaspadaan dini DBD ialah suatu kewaspadaan terhadap peningkatan kasus
dan atau faktor resiko DBD, seperti: adanya peningkatan populasi nyamuk,
penurunan ABJ <95%, adanya perubahan cuaca, dan peningkatan tempat-tempat
perindukan.
g. Laporan kewaspadaan dini DBD adalah laporan adanya peningkatan kasus dan
peningkatan faktor resiko DBD. Laporan kewaspadaan dini dimaksudkan untuk
kegiatan proaktif surveilans.
h. Kecamatan Endemis adalah kecamatan yang dalam 3 tahun terakhir, setiap tahun
ada penderita DBD
i. Kecamatan Sporadis adalah kecamatan yang dalam 3 tahun terakhir terdapat
penderita DBD tetapi tidak setiap tahun.
j. Kecamatan Potensial adalah kecamatan yang dalam 3 tahun terakhir tidak pernah
ada penderita DBD, tetapi penduduknya padat, mempunyai hubungan transportasi
yang ramai dengan wilayah yang lain dan presentase rumah yang ditemukan
jentik lebih atau sama dengan 5%.
k. Kecamatan Bebas yaitu kecamatan yang tidak pernah ada penderita DBD selama
3 tahun terakhir dan presentase rumah yang ditemukan jentik kurang dari 5%

B. SISTIM PELAKSANAAN SURVEILANS DALAM PENGENDALIAN DBD


1. Jenis dan sumber data Surveilans
Beberapa Variabel data yang berhubungan dengan pengendalian DBD adalah sbb :
a. Data kesakitan dan kematian menurut golongan umur dan jenis kelamin, kasus
DD, DBD, SSD dari Unit Pelayanan kesehatan, W1, kewaspadaan mingguan,
bulanan, dan tahunan.
b. Data penduduk menurut golongan umur tahunan.
c. Data desa, kecamatan, kabupaten, provinsi terdapat kasus DD, DBD, SSD
bulanan dan tahunan
d. Data ABJ kecamatan, kabupaten/kota, provinsi hasil dari kegiatan pengamatan
jentik.

Data tersebut diatas dapat diperoleh dari :

a. Laporan rutin DBD, mingguan, bulanan ( puskesmas, kabupaten/kota, dan


provinsi )
b. Laporan KLB/wabah /W1( puskesmas, kabupaten/kota, provinsi )
c. Laporan laboratorium dari UPK (puskesmas, RS, Labkes, dll)
d. Laporan hasil penyelidikan kasus perorangan (puskesmas, kabupaten/kota)
e. Laporan penyelidikan KLB/wabah (puskesmas, kabupaten/kota)
f. Survei khusus (pusat, provinsi, kabupaten/kota)
g. Laporan data demografi (puskesmas, kabupaten/kota, provinsi)
h. Laporan data vektor (puskesmas, kabupaten/kota, provinsi)
i. Laporan dari Badan Meteorologi & Geofisika provinsi, kabupaten/kota,
kecamatan tentang curah hujan dan hari hujan
2. Peran Unit Pelaksana
Surveilans DBD merupan surveilans rutin yang dilaksanakan di seluruh unit
pelayanan kesehatan di seluruh Indonesia. Untuk menjamin berlangsungnya
penyelenggaraan sistem surveilans kasus DBD ini, maka perlu dijabarkan peran
setiap unit penyelenggaraan surveilans kasus DBD diseluruh unit pelayanan
kesehatan secara berjenjang termasuk pusat, yaitu :
a. Pusat
1) Unit pelaksana tingkat pusat
a) Pengaturan penyelenggaraan surveilans kasus DBD nasional
b) Menyusun pedoman pelaksanaan surveilans kasus DBD nasional
c) Menyelenggarakan manajemen surveilans kasus DBD nasional
d) Melakukan kegiatan surveilans kasus DBD nasional termasuk SKDKLB
e) Pembinaan dan asistensi teknis
f) Monitoring dan evaluasi
g) Melakukan penyelidikan KLB sesuai kebutuhan nasional
h) Pengembangan pemanfaatan teknologi surveilans kasus DBD
i) Pengembangan metodologi surveilans epidemiologi
j) Pengembangan kompetensi sumber daya manusia surveilans epidemiologi
k) Menjalin kerjasama nasional dan internasional secara teknis dan sumber-
sumber dana.
l) Menjadi pusat rujukan surveilans kasus DBD regional dan nasional.
m) Kerjasama surveilans kasus DBD dengan provinsi, nasional dan
internasional.
2) Pusat Data dan Informasi
a) Koordinasi pengelolaan sumber data dan informasi kasus DBD nasional
b) Koordinasi kajian strategis dan penyajian informasi kasus DBD
c) Asistensi teknologi informasi
3) Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan
a) Melakukan penelitian dan pengembangan teknologi dan metode
surveilans kasus DBD
b) Melakukan penelitian lebih lanjut terhadap temuan dan atau rekomendasi
surveilans kasus DBD
b. Tingkat Provinsi
1) Unit Pelaksana Teknis Tingkat Provinsi
a) Melaksanakan surveilans kasus DBD di wilayah provinsi termasuk SKD-
KLB
b) Melakukan penyelidikan KLB sesuai kebutuhan provinsi
c) Membuat pedoman teknis operasional surveilans kasus DBD sesuai
dengan pedoman yang berlaku.
d) Menyelenggarakan pelatihan surveilans kasus DBD
e) Pembinaan dan asistensi teknis ke kabupaten/kota
f) Monitoring dan evaluasi
g) Mengembangkan dan melaksanakan surveilans kasus DBD dan masalah
penyakit DBD lokal spesifik.
h) Melakukan pengumpulan, pengolahan, analisis dan interpretasi data serta
desinfo secara terus menerus dan berkesinambungan.
i) Menjadi unit pengendalian bila terjadi KLB di wilayah Kabupaten/ Kota
2) Rumah Sakit Pusat dan Provinsi
a) Melaksanakan surveilans kasus DBD rumah sakit
b) Identifikasi dan rujukan kasus sebagai sumber data surveilans kasus DBD
Kabupaten/Kota, Provinsi dan Pusat.
c) Melakukan kajian epidemiologi kasus DBD dan masalah yang terkait
dengan DBD.
3) Laboratorium Kesehatan Provinsi
a) Melakukan pemeriksaan spesimen surveilans kasus DBD
c. Tingkat Kabupaten/Kota
1) Unit Teknis Kabupaten/Kota
a) Pelaksana Surveilans kasus DBD nasional diwilayah kabupaten/kota
b) Menyelenggarakan manajemen surveilans kasus DBD termasuk SKD
KLB
c) Melakukan penyelidikan dan Penanggulangan KLB DBD di Wilayah
Kabupaten/ kota yang bersangkutan.
d) Supervisi dan asistensi teknis ke puskesmas dan rumah sakit dan
komponen surveilans DBD diwilayahkan.
e) Melaksanakan pelatihan surveilans kasus DBD.
f) Monitoring dan evaluasi kasus DBD
g) Melaksanakan survelens epidemiologi kasus DBD secara spesifik lokal.
2) Rumah sakit kabupaten / kota .
a) Melaksanakan surveilans kasus DBD di rumah sakit.
b) Identifikasi dan rujukan kasus DBD sebagai sumber data surveilans kasus
DBD kabupaten/kota, propinsi dan pusat.
c) Melakukan kajian epidemiologi kasus DBD dan masalah DBD lainnya di
rumah sakit.
3) Laboratorium Kesehatan kabupaten/kota
a) Melakukan pemeriksaan spesimen kasus DBD.
d. Tingkat Kecamatan
1) Puskesmas
a) Pelaksana surveilans kasus DBD nasional di wilayah puskesmas.
b) Melaksanakan pencatatan dan pelaporan penyakit dan masalah kasus
DBD.
c) Melakukan koordinasi survailans kasus DBD dengan praktek dokter,
bidan, swasta dan unit pelayanan kesehatan yang berada diwilayah
kerjanya
d) Melakukan koordinasi surveilans kasus DBD antar puskesmas yang
berbatasan
e) Melakukan SKD-KLB dan penyelidikan KLB DBD di wilayah puskesmas
f) Melaksanakan surveilans epidemiologi kasus DBD dan masalah
kesehatan spesifik lokal .
3. Strategi Dan Pelaksanaan Surveilans Pengendalian DBD
a. Strategi Surveilans
Adapun strategi surveilans dalam program pengendalian DBD adalah sebagai
berikut :
1) Advokasi dan dukungan perundang-undangan
2) Menyediakan pembiayaan program surveilans DBD
3) Pengembangan sistem surveilans sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan
program secara nasional, provinsi dan kabupaten/kota termasuk
penyelenggaraan sistem kewaspadaan dini kejadian luar biasa penyakit dan
bencana.
4) Peningkatan mutu dan data informasi epidemiologi.
5) Peningkatan profesionalisme tenaga surveilans.
6) Pengembangan tim epidemiologi yang handal.
7) Penguatan jejaring surveilans epidemiogi.
8) Peningkatan pengetahuan surveilans epidemiologi untuk tiap tenaga
kesehatan.
9) Peningkatan pemanfaatan teknologi komunikasi dan informasi elektromedia
yang terintegrasi dan interaktif.
b. Pelaksanaan Surveilans DBD
1) Pengumpulan data Pengumpulan data kasus dilaksanakan secara berjenjang
mulai dari Pukesmas dan jejaringnya (community based), sampai Rumah
Sakit (hospital based), laboratorium kabupaten/kota dan propvinsi dengan
menggunakan form pelaporan demam berdarah yang dikoordinasi oleh dinas
kesehatan kab/kota di tingkat kab/kota atau di dinas kesehatan provinsi di
tingkat provinsi, Kemkes RI untuk masing-masing tingkatan dijelaskan
melalui pokok bahasan selanjutnya
2) Pengolahan dan penyimpanan data Dilaksanakan disetiap tingkat unit
pelaksanakan surveilans
3) Analisis data Analisis deskriptif dan analitik dilakukan disetiap unit pelaksana
surveilans sesuai dengan kemampuan masing-masing
4) Penyebarluasan informasi Dilaksakanakan disetiap unit pelaksana surveilans
kepada pihak yang membutuhkan data tersebut
c. Penentuan stratifikasi desa/kelurahan DBD
Cara menentukan stratifikasi (endemisitas) desa/kelurahan:
a) Buatlah tabel desa/kelurahan dengan menjumlahkan penderita DBD dan SSD
dalam 3 (tiga) tahun terakhir
b) Tentukan stratifikasi masing-masing desa/kelurahan menurut kriteria
stratifikasi desa/kelurahan. Contoh penentuan strata dapat dilihat pada contoh
tabel dibawah :
c) Beradasarkan Tabel 3. di atas sajikan stratifikasi desa/kelurahan tersebut
seperti pada peta (Gambar 12) di bawah ini:

d. Mengetahui distribusi penderita DBD per RW/dusun


Distribusi penderita DBD per RW/Dusun dibuat setiap tahun. Cara membuat
distribusi, yaitu dengan menjumlahkan penderita DBD dan SSD per RW/dusun
seperti contoh (Tabel 4) dibawah ini:
e. Penentuan musim penularan DBD
1) Jumlahkan penderita DBD dan SSD per bulan selama 5 tahun terakhir dan
buatlah tabel seperti contoh (Tabel 5) di bawah ini

2) Buat grafik seperti contoh (Gambar 13) di bawah ini


Saat sebelum masa penularan pada contoh ini adalah bulan September, yaitu
bulan dimana jumlah penderita DBD paling rendah, berdasarkan jumlah penderita
rata-rata per bulan selama 5 tahun, 2006-2010.

f. Mengetahui kecenderungan situasi penyakit


Mengetahui kecenderungan situasi penyakit dimaksud untuk mengetahui apakah
situasi penyakit DBD di wilayah puskesmas tetap, naik atau turun.
Caranya yaitu dengan membuat garis trend sebagai berikut:
1) Buat tabel jumlah penderita DBD dan SSD per tahun sejak kasus ditemukan
2) Buat grafik garis dengan sumbu mendatar adalah tahun dan sumbu tegak
adalah jumlah penderita DBD
3) Buat garis trend melalui grafik garis sedemikian sehingga siklus yang terdapat
di atas dan di bawah garis trend tersebut lebih kurang sama.
BAB 3. SSURVEILANS DAN PENGENDALIAN VEKTOR DBD

Surveilans Vektor DBD

Surveilans Vektor DBD meliputi proses pengumpulan, pencatatan, pengolahan, analisis dan
interpretasi data vektor serta penyebarluasan informasi ke penyelenggara program dan pihak
instansi terkait secara sistematis dan terusmenerus. Sebagai dasar untuk melakukan surveilans
vektor terlebih dahulu harus memahami tentang pengertian dan tujuan surveilans vektor
DBD, metode surveilans vektor DBD (Penentuan lokasi surveilans, Waktu pengamatan, cara
pengamatan/ pengukuran vektor DBD dan Peralatan surveilans) serta Morfologi, Identifikasi
dan Bio-ekologi vektor DBD (perilaku, distribusi dan hubungannya dengan iklim, sosial
budaya dan bersifat lokal spesifik, yang mempengaruhi terjadinya peningkatan dan penularan
penyakit DBD.

Surveilans vektor merupakan unsur penting dalam pelaksanaan program pengendalian


penyakit DBD antara lain dalam pengambilan keputusan / kebijakan dan menentukan tindak
lanjut dari data yang diperoleh dalam rangka menentukan tindakan pengendalian vektor
secara efisien dan efektif.

Pengendalian Vektor DBD

Pengendalian DBD yang tepat adalah pemutusan rantai penularan yaitu dengan pengendalian
vektornya, karena vaksin dan obat masih dalam proses penelitian. Vektor DBD sudah
menyebar ke seluruh wilayah Indonesia, hal ini disebabkan oleh adanya perubahan iklim
global, kemajuan teknologi transportasi, mobilitas penduduk, urbanisasi, dan infrastruktur
penyediaan air bersih yang kondusif untuk perkembangbiakan vektor DBD, serta perilaku
masyarakat yang belum mendukung upaya pengendalian.

DBD merupakan salah satu penyakit berbasis lingkungan, oleh karena itu pengendalian
vektornya tidak mungkin berhasil dengan baik tanpa melibatkan peran serta masyarakat
termasuk lintas sektor, lintas program, LSM, tokoh masyarakat dan penyandang dana.
Pengendalian vektor DBD harus berdasarkan pada data dan informasi tentang bioekologi
vektor, situasi daerah termasuk sosial budayanya.

Beberapa metode pengendalian vektor antara lain dengan: a) Kimiawi dengan insektisida dan
larvasida, b) Biologi dengan menggunakan musuh alami seperti predator, bakteri dll, c)
Managemen lingkungan seperti mengelola atau meniadakan habitat perkembangbiakan
nyamuk yang terkenal dengan 3 M plus atau gerakan PSN (pengendalian sarang nyamuk), d)
penerapan peraturan perundangan, e) meningkatkan peran serta masyarakat dalam
pengendalian vektor.

Pengendalian vektor terpadu atau dikenal sebagai Integrated Vector Management (IVM)
adalah pengendalian vektor yang dilakukan dengan menggunakan kombinasi beberapa
metode pengendalian vektor, berdasarkan pertimbangan keamanan, rasionalitas dan
efektivitas pelaksanaannya serta kesinambungannya.

Keunggulan Pengendalian Vektor Terpadu (PVT) adalah (a) dapat meningkatkan efektifitas
serta efisiensi berbagai metode/cara pengendalian, (b) dapat meningkatkan program
pengendalian terhadap lebih dari satu penyakit tular vektor, (c) melalui kerjasama lintas
sektor hasil yang dicapai lebih optimal dan saling menguntungkan.

Pedoman PVT diharapkan menjadi kerangka kerja dan pedoman bagi penentu kebijakan serta
pengelola program pengendalian penyakit tular vektor di Indonesia. Pedoman ini disusun
sebagai acuan dalam pelaksanaan PVT bagi para pengambil keputusan tingkat Pusat
,Propinsi, Kabupaten/kota dan sektor terkait

A. METODE SURVEILANS VEKTOR DBD


Surveilans vektor DBD adalah pengamatan vektor DBD secara sistimatis dan terus
menerus dalam hal kemampuannya sebagai penular DBD yang bertujuan sebagai dasar
untuk memahami dinamika penularan penyakit dan upaya pengendalian DBD.
Tujuan dilaksanakan surveilan vektor DBD adalah:
1. Untuk mengetahui tingkat kepadatan vektor DBD
2. Untuk mengetahui tempat perindukan potensial vektor DBD
3. Untuk mengetahui jenis larva/jentik vektor DBD
4. Untuk mengukur indek-indek larva/jentik (ABJ, CI, HI, dan BI)
5. Untuk mencari cara pengendalian vektor DBD yang tepat
6. Untuk menilai hasil pengendalian vektor
7. Untuk mengetahui tingkat kerentanan vektor DBD terhadap insektisida.

Dalam metode Surveilans Vektor DBD yang ingin kita peroleh antara lain adalah data-
data kepadatan vektor. Untuk memperoleh data-data tersebut tentulah diperlukan
kegiatan survei, ada beberapa metode survei yang kita ketahui, meliputi metode survei
terhadap nyamuk, jentik dan survei perangkap telur (ovitrap). Sebelum melakukan survei
vektor DBD diperlukan penentuan lokasi surveilans/ pengamatan, waktu pengamatan,
cara pengamatan/ pengukuran vektor DBD, persiapan peralatan dan bahan surveilans
vektor DBD, pengumpulan, pencatatan dan analisa data hasil surveilans/pengamatan.

1. Penentuan Lokasi Pengamatan


Lokasi yang akan diamati/diukur tingkat kepadatan vektor DBD adalah lokasi yang
diduga sebagai tempat perkembangbiakan/istirahat/mencari makan nyamuk Aedes sp.
yang berdekatan dengan kehidupan/kegiatan manusia, antara lain :
a. permukiman penduduk
b. tempat-tempat umum (pasar, terminal angkutan umum, rumah
makan/restoran, hotel/losmen, sekolah, tempat ibadah, perkantoran dsb).

Pengamatan/pengukuran kepadatan populasi vektor DBD dapat dilakukan pada :

a. Wilayah endemis DBD.


b. Wilayah yang pernah terjadi KLB DBD.
c. Wilayah yang menjadi sasaran pengendalian vektor DBD secara kimiawi dan
biologi.
2. Pelaksanaan Pengamatan
Pengamatan kepadatan populasi vektor DBD dilakukan mulai dari tingkat
Puskesmas sampai Pusat, sebagai berikut :
a. Kader / PKK / Jumantik Melakukan pemeriksaan jentik minimal 1 minggu
sekali disetiap rumah pada wilayah kerja jumantik. Sebaiknya dilakukan
bersamaan dengan pelaksaanaan PSN.
b. Petugas puskesmas
1) Monitoring secara berkala minimal 3 bulan sekali pada wilayah
kerja Puskesmas (PJB) dan dilakukan evaluasi pelaksaanaan PSN.
2) Pemeriksaan jentik berkala (PJB) juga dilakukan oleh masing-
masing puskesmas terutama di desa/kelurahan endemis (cross
check) pada tempat-tempat perkembang-biakan nyamuk Aedes
aegypti di 100 sampel rumah/bangunan yang dipilih secara acak
serta diulang untuk setiap siklus pemeriksaan.
3) Contoh cara memilih sampel 100 rumah/bangunan sebagai berikut:
a) Dibuat daftar RW dan RT untuk tiap desa/kelurahan
b) Setiap RT diberi nomor urut
c) Dipilih sebanyak 10 RT sampel secara acak (misalnya dengan
cara systematic random sampling) dari seluruh RT yang ada di
wilayah desa/kelurahan
d) Dibuat daftar nama kepala keluarga (KK) atau nama TTU dari
masing-masing RT sampel atau yang telah terpilih.
e) Tiap KK/rumah/TTU diberi nomor urut, kemudian dipilih 10
KK/rumah/TTU yang ada di tiap RT sampel secara acak
(misalnya dengan cara systematic random sampling).
c. Pengelola Program DBD di Dinkes Kab/Kota
Monitoring dan evaluasi PSN yang telah dilakukan oleh kader jumantik dan
Puskesmas secara berkala minimal 6 bulan sekali
d. Pengelola Program DBD di Dinkes Propinsi Monitoring dan evaluasi PSN
yang telah dilakukan oleh Dinkes Kab/Kota secara berkala minimal 6 bulan
sekali
3. Teknis Pengamatan
Dalam metode surveilans vektor DBD yang ingin kita peroleh antara lain adalah
data-data kepadatan vektor. Untuk memperoleh data-data tersebut tentulah
diperlukan kegiatan survei, ada beberapa metode survei yang kita ketahui, meliputi
metode survei telur, survei terhadap jentik dan nyamuk.
a. Survei telur
Survei ini dilakukan dengan cara memasang perangkap telur (ovitrap) yang
dinding sebelah dalamnya dicat hitam, kemudian diberi air secukupnya.
Ovitrap berbentuk tabung yang dapat dibuat dari potongan bambu, kaleng dan
gelas platik/kaca. Ovitrap diletakkan di dalam dan di luar rumah atau tempat
yang gelap dan lembab. Cara kerja ovitrap adalah padel (berupa potongan
bilah bambu atau kain yang tenunannya kasar dan berwarna gelap) yang
dimasukkan kedalam tabung tersebut berfungsi sebagai tempat meletakkan
telur nyamuk. Setelah 1 minggu dilakukan pemeriksaan ada atau tidaknya
telur nyamuk di padel, kemudian dihitung ovitrap index.
Perhitungan ovitrap index adalah:
Ovitrap Index:
Jumlah padel dengan telur
------------------------------ x 100%
Jumlah padel diperiksa
Untuk mengetahui gambaran kepadatan populasi nyamuk penular secara lebih
tepat, telur-telur padel tersebut dikumpulkan dan dihitung jumlahnya.
Kepadatan populasi nyamuk :
Jumlah telur
--------------------------------------- = ......telur per ovitrap
Jumlah ovitrap yang digunakan

b. Survei jentik
Survei jentik dilakukan dengan cara sebagai berikut:
1) Memeriksa tempat penampungan air dan kontainer yang dapat
menjadi habitat perkembangbiakan nyamuk Aedes sp. di dalam dan
di luar rumah untuk mengetahui ada tidaknya jentik.
2) Jika pada penglihatan pertama tidak menemukan jentik, tunggu kira-
kira 1/2 -1 menit untuk memastikan bahwa benar-benar tidak ada
jentik.
3) Gunakan senter untuk memeriksa jentik di tempat gelap atau air
keruh.

Metode survei jentik:

1) Single larva
Cara ini dilakukan dengan mengambil satu jentik di setiap tempat
genangan air yang ditemukan jentik untuk diidentifikasi lebih lanjut.
2) Visual
Cara ini cukup dilakukan dengan melihat ada atau tidaknya jentik di
setiap tempat genangan air tanpa mengambil jentiknya. Biasanya dalam
program DBD mengunakan cara visual.
Ukuran-ukuran yang dipakai untuk mengetahui kepadatan jentik Aedes
aegypti :
1) Angka Bebas Jentik (ABJ):
Jumlah rumah/bangunan yang tidak ditemukan jentik
---------------------------------------------------------------------- x 100%
Jumlah rumah/bangunan yang diperiksa

2) House Index (HI)


Jumlah rumah/bangunan yang ditemukan jentik
-------------------------------------------------------------------- x 100%
Jumlah rumah/bangunan yang diperiksa

3) Container Index (CI)


Jumlah container dengan jentik
------------------------------------------ x 100%
Jumlah container yang diperiksa

4) Breteau Index (BI)


Jumlah container dengan jentik dalam 100 rumah/bangunan
c. Survei nyamuk
Survei nyamuk dilakukan dengan cara menangkap nyamuk menggunakan
umpan orang di dalam dan di luar rumah, masing-masing selama 20 menit per
rumah serta penangkapan nyamuk yang hinggap di dinding dalam rumah.
Penangkapan nyamuk biasanya dilakukan dengan menggunakan aspirator.
Indeks-indeks nyamuk yang digunakan:
1) Landing rate :
Jumlah Aedes aegypti betina tertangkap umpan orang
Jumlah penangkapan x jumlah jam penangkapan
2) Resting per rumah:
Jumlah Aedes aegypti betina tertangkap pada penangkapan nyamuk
hinggap
Jumlah rumah yang dilakukan penangkapan
Apabila ingin diketahui rata-rata umur nyamuk di suatu wilayah,
dilakukan pembedahan perut nyamuk-nyamuk yang ditangkap untuk
memeriksa keadaan ovariumnya di bawah mikroskop. Jika ujung pipa-
pipa udara (tracheolus) pada ovarium masih menggulung, berarti nyamuk
itu belum pernah bertelur (nuliparous). Jika ujung pipa-pipa udara sudah
terurai/terlepas gulungannya, maka nyamuk itu sudah pernah bertelur
(parous).
Untuk mengetahui rata-rata umur nyamuk, apakah merupakan nyamuk-
nyamuk baru (menetas) atau nyamuk-nyamuk yang sudah tua digunakan
indek parity rate.
Parity rate :
Jumlah nyamuk Aedes aegypti dengan ovarium parous
------------------------------------------------------------------------- x100%
Jumlah nyamuk yang diperiksa ovariumnya

Bila hasil survei entomologi suatu wilayah, parity ratenya rendah berarti
populasi nyamuk-nyamuk di wilayah tersebut sebagian besar masih
muda. Sedangkan bila parity ratenya tinggi menunjukkan bahwa keadaan
dari populasi nyamuk di wilayah itu sebagian besar sudah tua. Untuk
menghitung rata-rata umur suatu populasi nyamuk secara lebih tepat
dilakukan pembedahan ovarium dari nyamuk-nyamuk parous, untuk
menghitung jumlah dilatasi pada saluran telur (pedikulus).
Umur populasi nyamuk = rata-rata jumlah dilatasi x satu siklus
gonotropik. Contoh: Bila jumlah dilatasi nyamuk rata-rata 3 dan siklus
gonotropiknya 4 hari, maka umur rata-rata nyamuk tersebut adalah:
3x4=12 hari. Semakin tua rata-rata umur nyamuk semakin besar potensi
terjadinya penularan di suatu wilayah.
4. Alat dan Bahan Survei
Alat dan bahan yang minimal harus tersedia untuk melaksanakan survei kepadatan
populasi vektor DBD adalah :
a. Peralatan
1) Peralatan umum
 Compound microskop, untuk memeriksa jentik dan ovarium
 Senter, untuk menerangi sasaran survei (jentik/nyamuk)
 Petridish, untuk tempat jentik atau nyamuk yang akaan
diperiksa
 Tas ransel, untuk membawa peralatan serta bahan survei
2) Peralatan survei telur
 Perangkap telur (ovitrap)
 Padel untuk tempat peletakan telur
3) Peralatan survei jentik
 Gayung, untuk mengambil jentik
 Pipet, untuk mengambil jentik
 Botol kecil (vial larva), untuk tempat larva
 Susceptibility test kit larva (1 set peralatan uji kerentanan
larva), untuk mengetahui tingkat kerentanan jentik terhadap
insektisida
4) Peralatan survei nyamuk
 Stereo mikroskop, untuk identifikasi dan membedah nyamuk
 Loupe/kaca pembesar 10 x atau 20 x, untuk identifikasi
nyamuk dan kondisi perut nyamuk
 Aspirator, untuk menangkap nyamuk
 Kotak nyamuk, untuk membawa nyamuk hidup
 Kurungan nyamuk, untuk memelihara nyamuk
 Pinset ujung runcing, untuk memegang nyamuk
 Jarum seksi untuk membedah nyamuk
 Gunting kecil, untuk memotong kain kasa dan kertas
 Susceptibility test kit untuk mengukur tingkat kerentanan
nyamuk terhadap insektisida
 Bio Assay test kit, untuk mengukur tingkat efikasi
insektisida
b. Bahan survei
1) Bahan survei umum
 Objek glass (slide glass), untuk pemeriksaan jentik dan
pembedahan ovarium
 Kaca penutup (cover glass), untuk menutup persediaan
 Kertas label, untuk pemberian etiket
 Formulir-formulir entomologi DBD, untuk pencatatan hasil
survei
 Alat-alat tulis untuk menulis hasil survei
 Kertas tissu untuk membersihkan kaca benda
2) Bahan survei telur
 Kantong plastik, untuk tempat padel
 Kantong plastik besar, untuk membawa padel
3) Bahan survei nyamuk
 Paper cup, untuk wadah nyamuk
 Kain kasa, untuk menutup paper cup
 Karet gelang, untuk mengikat kain kasa di paper cup
 Kapas untuk menutup lobang di kain kasa dan pemaakaian
kloroform
 Kloroform, untuk mematikan nyamuk
 Jarum serangga no. 3, untuk pinning nyamuk
 Jarum seksi untuk membedah abdomen nyamuk.
5. Laporan hasil survey
Pencatatan hasil pemeriksaan jentik dilakukan oleh petugas jumantik/kader dan
pelaporannya dilakukan secara berjenjang sebagai berikut :
a. Laporan hasil survei oleh Kader / PKK / Jumantik
 Hasil pemeriksaan jentik dicatat pada KARTU JENTIK RUMAH /
BANGUNAN yang ditinggalkan di rumah/bangunan.
 FORMULIR JPJ-1 digunakan untuk pelaporan ke puskesmas dan
instansi terkait.(Lampiran 11)
b. Laporan hasil survei oleh Puskesmas
Pemeriksaan jentik yang dilakukan oleh kader/PKK/Jumantik harus dilakukan
monitoring dan evaluasi oleh petugas Puskesmas secara berkala minimal 3
bulan sekali. Rekapitulasi hasil PJB dilaksanakan oleh puskesmas setiap 3
bulan dengan melakukan pencatatan hasil pemeriksaan jentik di pemukiman
(rumah) dan tempat-tempat umum pada FORMULIR PJB-1 dan dilaporkan
ke Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota.
c. Laporan hasil survei oleh Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota.
Laporan PJB yang dilakukan oleh Puskesmas kemudian dilakukan
rekapitulasi oleh Pengelola Program DBD di Dinkes Kab/Kota menggunakan
FORMULIR PJB-2 dan dilaporkan kepada Dinkes Provinsi.
d. Laporan hasil survei oleh Dinas Kesehatan Provinsi
Hasil pemeriksaan jentik dari Dinkes Kab/Kota dilakukan rekapitulasi oleh
Pengelola Program DBD di Dinkes Provinsi menggunakan FORMULIR PJB3
dan dilaporkan ke Pusat (Ditjen PP dan PL, Subdit Pengendalian Arbovirosis)

B. MORFOLOGI, IDENTIFIKASI DAN BIOEKOLOGI VEKTOR DBD


Berdasarkan Permenkes Nomor 374/Menkes/Per/III/2011 tentang pengendalian
vektor bahwa pengertian vektor adalah arthropoda yang dapat menularkan,
memindahkan dan atau menjadi sumber penular penyakit terhadap manusia.
Vektor DBD adalah nyamuk yang dapat menularkan, memindahkan dan atau menjadi
sumber penular DBD. Di Indonesia ada 3 jenis nyamuk yang bisa menularkan virus
dengue yaitu : Aedes aegypti, Aedes albopictus dan Aedes scutellaris. Seseorang
yang di dalam darahnya mengandung virus Dengue merupakan sumber penular
Demam Berdarah Dengue (DBD). Virus Dengue berada dalam darah selama 4-7 hari
mulai 1-2 hari sebelum demam.Berikut ini uraian tentang morfologi, siklus hidup, dan
siklus hidup lingkungan hidup, tempat perkembangbiakan, perilaku, penyebaran,
variasi musiman, ukuran kepadatan dan cara melakukan survei jentik.
1. Morfologi
Morfologi tahapan Aedes aegypti sebagai berikut:
a. Telur Telur berwarna hitam dengan ukuran ± 0,80 mm, berbentuk oval yang
mengapung satu persatu pada permukaan air yang jernih, atau menempel pada
dinding tempat penampung air. Telur dapat bertahan sampai ± 6 bulan di
tempat kering.
b. Jentik (larva)
Ada 4 tingkat (instar) jentik/larva sesuai dengan pertumbuhan larva tersebut,
yaitu:
1) Instar I : berukuran paling kecil, yaitu 1-2 mm
2) Instar II : 2,5-3,8 mm
3) Instar III : lebih besar sedikit dari larva instar II
4) Instar IV : berukuran paling besar 5 mm

c. Pupa
Pupa berbentuk seperti ‘koma’. Bentuknya lebih besar namun lebih ramping
dibanding larva (jentik)nya. Pupa Aedes aegypti berukuran lebih kecil jika
dibandingkan dengan rata-rata pupa nyamuk lain

d. Nyamuk dewasa Nyamuk dewasa berukuran lebih kecil jika dibandingkan


dengan ratarata nyamuk lain dan mempunyai warna dasar hitam dengan
bintik-bintik putih pada bagian badan dan kaki.
Sebenarnya yang dimaksud Vektor DBD adalah nyamuk Aedes aegypti betina.
Perbedaan morfologi antara nyamuk aedes aegypti yang betina dengan yang
jantan terletak pada perbedaan morfologi antenanya, Aedes aegypti jantan
memiliki antena berbulu lebat sedangkan yang betina berbulu agak jarang/
tidak lebat.
2. Identifikasi
a. Peralatan dan bahan terdiri dari : Stereo mikroskop, loupe, spesimen dan kunci
identifikasi.
b. Cara Identifikasi :
 Menggunakan kunci identifikasi nyamuk (kunci identifikasi bergambar
dan buku kunci dengan bentuk dikotomi).
 Mencocokkan ciri-ciri morfologi spesimen nyamuk dibawah
mikroskop.
3. Bioekologi
a. Siklus Hidup Nyamuk Aedes aegypti seperti juga jenis nyamuk lainnya
mengalami metamorfosis sempurna, yaitu: telur - jentik (larva) -pupa -
nyamuk. Stadium telur, jentik dan pupa hidup di dalam air. Pada umumnya
telur akan menetas menjadi jentik/larva dalam waktu ± 2 hari setelah telur
terendam air. Stadium jentik/larva biasanya berlangsung 6-8 hari, dan stadium
kepompong (Pupa) berlangsung antara 2ñ4 hari. Pertumbuhan dari telur
menjadi nyamuk dewasa selama 9-10 hari. Umur nyamuk betina dapat
mencapai 2-3 bulan.
b. Habitat Perkembangbiakan
Habitat perkembangbiakan Aedes sp. ialah tempat-tempat yang dapat
menampung air di dalam, di luar atau sekitar rumah serta tempat-tempat
umum.
Habitat perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti dapat dikelompokkan
sebagai berikut:
1) Tempat penampungan air (TPA) untuk keperluan sehari-hari, seperti:
drum, tangki reservoir, tempayan, bak mandi/wc, dan ember
2) Tempat penampungan air bukan untuk keperluan sehari-hari seperti:
tempat minum burung, vas bunga, perangkap semut, bak kontrol
pembuangan air, tempat pembuangan air kulkas/dispenser, barang-barang
bekas (contoh : ban, kaleng, botol, plastik, dll).
3) Tempat penampungan air alamiah seperti: lubang pohon, lubang batu,
pelepah daun, tempurung kelapa, pelepah pisang dan potongan bambu dan
tempurung coklat/karet, dll.
c. Perilaku Nyamuk Dewasa
Setelah keluar dari pupa, nyamuk istirahat di permukaan air untuk sementara
waktu. Beberapa saat setelah itu, sayap meregang menjadi kaku, sehingga
nyamuk mampu terbang mencari makanan. Nyamuk Aedes aegypti jantan
mengisap cairan tumbuhan atau sari bunga untuk keperluan hidupnya
sedangkan yang betina mengisap darah. Nyamuk betina ini lebih menyukai
darah manusia daripada hewan (bersifat antropofilik). Darah diperlukan untuk
pematangan sel telur, agar dapat menetas. Waktu yang diperlukan untuk
menyelesaikan perkembangan telur mulai dari nyamuk mengisap darah sampai
telur dikeluarkan, waktunya bervariasi antara 3-4 hari. Jangka waktu tersebut
disebut dengan siklus gonotropik (Gambar 22).

Aktivitas menggigit nyamuk Aedes aegypti biasanya mulai pagi dan petang
hari, dengan 2 puncak aktifitas antara pukul 09.00 -10.00 dan 16.00 17.00.
Aedes aegypti mempunyai kebiasaan mengisap darah berulang kali dalam satu
siklus gonotropik, untuk memenuhi lambungnya dengan darah. Dengan
demikian nyamuk ini sangat efektif sebagai penular penyakit.

Setelah mengisap darah, nyamuk akan beristirahat pada tempat yang gelap dan
lembab di dalam atau di luar rumah, berdekatan dengan habitat
perkembangbiakannya. Pada tempat tersebut nyamuk menunggu proses
pematangan telurnya.

Setelah beristirahat dan proses pematangan telur selesai, nyamuk betina akan
meletakkan telurnya di atas permukaan air, kemudian telur menepi dan
melekat pada dinding-dinding habitat perkembangbiakannya. Pada umumnya
telur akan menetas menjadi jentik/larva dalam waktu ±2 hari. Setiap kali
bertelur nyamuk betina dapat menghasilkan telur sebanyak ±100 butir. Telur
itu di tempat yang kering (tanpa air) dapat bertahan ±6 bulan, jika tempat-
tempat tersebut kemudian tergenang air atau kelembabannya tinggi maka telur
dapat menetas lebih cepat.

d. Penyebaran
Kemampuan terbang nyamuk Aedes sp. betina rata-rata 40 meter, namun
secara pasif misalnya karena angin atau terbawa kendaraan dapat berpindah
lebih jauh. Aedes aegypti tersebar luas di daerah tropis dan sub-tropis, di
Indonesia nyamuk ini tersebar luas baik di rumah maupun di tempat umum.
Nyamuk Aedes aegypti dapat hidup dan berkembang biak sampai ketinggian
daerah ± 1.000 m dpl. Pada ketinggian diatas ± 1.000 m dpl, suhu udara terlalu
rendah, sehingga tidak memungkinkan nyamuk berkembangbiak.
e. Variasi Musiman
Pada musim hujan populasi Aedes aegypti akan meningkat karena telur-telur
yang tadinya belum sempat menetas akan menetas ketika habitat
perkembangbiakannya (TPA bukan keperluan sehari-hari dan alamiah) mulai
terisi air hujan. Kondisi tersebut akan meningkatkan populasi nyamuk
sehingga dapat menyebabkan peningkatan penularan penyakit Dengue.
C. METODE PENGENDALIAN VEKTOR
Pengendalian vektor adalah upaya menurunkan faktor risiko penularan oleh vektor
dengan meminimalkan habitat perkembangbiakan vektor, menurunkan kepadatan dan
umur vektor, mengurangi kontak antara vektor dengan manusia serta memutus rantai
penularan penyakit.
Metode pengendalian vektor DBD bersifat spesifik lokal, dengan mempertimbangkan
faktor-faktor lingkungan fisik (cuaca/iklim, permukiman, habitat perkembangbiakan);
lingkungan sosial-budaya (Pengetahuan Sikap dan Perilaku) dan aspek vektor.
Pada dasarnya metode pengendalian vektor DBD yang paling efektif adalah dengan
melibatkan peran serta masyarakat (PSM). Sehingga berbagai metode pengendalian
vektor cara lain merupakan upaya pelengkap untuk secara cepat memutus rantai
penularan.
Berbagai metode PengendalianVektor (PV) DBD, yaitu:
 Kimiawi
 Biologi
 Manajemen lingkungan
 Pemberantasan Sarang Nyamuk/PSN
 Pengendalian Vektor Terpadu (Integrated Vector Management/IVM)
1. Kimiawi
Pengendalian vektor cara kimiawi dengan menggunakan insektisida merupakan salah
satu metode pengendalian yang lebih populer di masyarakat dibanding dengan cara
pengendalian lain. Sasaran insektisida adalah stadium dewasa dan pra-dewasa. Karena
insektisida adalah racun, maka penggunaannya harus mempertimbangkan dampak
terhadap lingkungan dan organisme bukan sasaran termasuk mamalia. Disamping itu
penentuan jenis insektisida, dosis, dan metode aplikasi merupakan syarat yang penting
untuk dipahami dalam kebijakan pengendalian vektor. Aplikasi insektisida yang
berulang di satuan ekosistem akan menimbulkan terjadinya resistensi serangga
sasaran.
Golongan insektisida kimiawi untuk pengendalian DBD adalah :
 Sasaran dewasa (nyamuk) adalah : Organophospat (Malathion, methyl
pirimiphos), Pyrethroid (Cypermethrine, lamda-cyhalotrine, cyflutrine,
Permethrine & S-Bioalethrine). Yang ditujukan untuk stadium dewasa yang
diaplikasikan dengan cara pengabutan panas/Fogging dan pengabutan
dingin/ULV •
 Sasaran pra dewasa (jentik) : Organophospat (Temephos).
2. Biologi
Pengendalian vektor biologi menggunakan agent biologi seperti predator/pemangsa,
parasit, bakteri, sebagai musuh alami stadium pra dewasa vektor DBD. Jenis predator
yang digunakan adalah Ikan pemakan jentik (cupang, tampalo, gabus, guppy, dll),
sedangkan larva Capung, Toxorrhyncites, Mesocyclops dapat juga berperan sebagai
predator walau bukan sebagai metode yang lazim untuk pengendalian vektor DBD.
Jenis pengendalian vektor biologi :
 Parasit : Romanomermes iyengeri
 Bakteri : Baccilus thuringiensis israelensis

Golongan insektisida biologi untuk pengendalian DBD (Insect Growth Regulator/IGR


dan Bacillus Thuringiensis Israelensis/BTi), ditujukan untuk stadium pra dewasa yang
diaplikasikan kedalam habitat perkembangbiakan vektor.

Insect Growth Regulators (IGRs) mampu menghalangi pertumbuhan nyamuk di masa


pra dewasa dengan cara merintangi/menghambat proses chitin synthesis selama masa
jentik berganti kulit atau mengacaukan proses perubahan pupae dan nyamuk dewasa.
IGRs memiliki tingkat racun yang sangat rendah terhadap mamalia (nilai LD50 untuk
keracunan akut pada methoprene adalah 34.600 mg/kg ).

Bacillus thruringiensis (BTi) sebagai pembunuh jentik nyamuk/larvasida yang tidak


menggangu lingkungan. BTi terbukti aman bagi manusia bila digunakan dalam air
minum pada dosis normal. Keunggulan BTi adalah menghancurkan jentik nyamuk
tanpa menyerang predator entomophagus dan spesies lain. Formula BTi cenderung
secara cepat mengendap di dasar wadah, karena itu dianjurkan pemakaian yang
berulang kali. Racunnya tidak tahan sinar dan rusak oleh sinar matahari.

3. Manajemen lingkungan
Lingkungan fisik seperti tipe pemukiman, sarana-prasarana penyediaan air, vegetasi
dan musim sangat berpengaruh terhadap tersedianya habitat perkembangbiakan dan
pertumbuhan vektor DBD. Nyamuk Aedes aegypti sebagai nyamuk pemukiman
mempunyai habitat utama di kontainer buatan yang berada di daerah pemukiman.
Manajemen lingkungan adalah upaya pengelolaan lingkungan sehingga tidak kondusif
sebagai habitat perkembangbiakan atau dikenal sebagai source reduction seperti 3M
plus (menguras, menutup dan memanfaatkan barang bekas, dan plus: menyemprot,
memelihara ikan predator, menabur larvasida dll); dan menghambat pertumbuhan
vektor (menjaga kebersihan lingkungan rumah, mengurangi tempat-tempat yang gelap
dan lembab di lingkungan rumah dll)

4. Pemberantasan Sarang Nyamuk / PSN-DBD


Pengendalian Vektor DBD yang paling efisien dan efektif adalah dengan memutus
rantai penularan melalui pemberantasan jentik. Pelaksanaannya di masyarakat
dilakukan melalui upaya Pemberantasan Sarang Nyamuk Demam Berdarah Dengue
(PSN-DBD) dalam bentuk kegiatan 3 M plus. Untuk mendapatkan hasil yang
diharapkan, kegiatan 3 M Plus ini harus dilakukan secara luas/serempak dan terus
menerus/berkesinambungan. Tingkat pengetahuan, sikap dan perilaku yang sangat
beragam sering menghambat suksesnya gerakan ini. Untuk itu sosialisasi kepada
masyarakat/ individu untuk melakukan kegiatan ini secara rutin serta penguatan peran
tokoh masyarakat untuk mau secara terus menerus menggerakkan masyarakat harus
dilakukan melalui kegiatan promosi kesehatan, penyuluhan di media masa, serta
reward bagi yang berhasil melaksanakannya.
a. Tujuan
Mengendalikan populasi nyamuk Aedes aegypti, sehingga penularan DBD
dapat dicegah atau dikurangi.
b. Sasaran
Semua tempat perkembangbiakan nyamuk penular DBD :
 Tempat penampungan air (TPA) untuk keperluan sehari-hari
 Tempat penampungan air bukan untuk keperluan sehari-hari (non-
TPA)
 Tempat penampungan air alamiah
c. Ukuran keberhasilan Keberhasilan kegiatan PSN DBD antara lain dapat
diukur dengan Angka Bebas Jentik (ABJ), apabila ABJ lebih atau sama
dengan 95% diharapkan penularan DBD dapat dicegah atau dikurangi.
d. Cara PSN DBD PSN DBD dilakukan dengan cara ‘3M-Plus’, 3M yang
dimaksud yaitu:
 Menguras dan menyikat tempat-tempat penampungan air, seperti bak
mandi/wc, drum, dan lain-lain seminggu sekali (M1)
 Menutup rapat-rapat tempat penampungan air, seperti gentong
air/tempayan, dan lain-lain (M2)
 Memanfaatkan atau mendaur ulang barang-barang bekas yang dapat
menampung air hujan (M3).

Selain itu ditambah (plus) dengan cara lainnya, seperti:

 Mengganti air vas bunga, tempat minum burung atau tempat-tempat


lainnya yang sejenis seminggu sekali.
 Memperbaiki saluran dan talang air yang tidak lancar/rusak
 Menutup lubang-lubang pada potongan bambu/pohon, dan lain-lain
(dengan tanah, dan lain-lain)
 Menaburkan bubuk larvasida, misalnya di tempat-tempat yang sulit
dikuras atau di daerah yang sulit air
 Memelihara ikan pemakan jentik di kolam/bak-bak penampungan air
 Memasang kawat kasa
 Menghindari kebiasaan menggantung pakaian dalam kamar
 Mengupayakan pencahayaan dan ventilasi ruang yang memadai
 Menggunakan kelambu
 Memakai obat yang dapat mencegah gigitan nyamuk
 Cara-cara spesifik lainnya di masing-masing daerah.
Keseluruhan cara tersebut diatas dikenal dengan istilah dengan ‘3M-Plus’.
e. Pelaksanaan
1) Di rumah Dilaksanakan oleh anggota keluarga.
2) Tempat tempat umum Dilaksanakan oleh petugas yang ditunjuk oleh
pimpinan atau pengelola tempat tempat umum.

5. Pengendalian Vektor Terpadu (Integrated Vektor Management)


IVM merupakan konsep pengendalian vektor yang diusulkan oleh WHO untuk
mengefektifkan berbagai kegiatan pemberantasan vektor oleh berbagai institusi. IVM
dalam pengendalian vektor DBD saat ini lebih difokuskan pada peningkatan peran
serta sektor lain melalui kegiatan Pokjanal DBD, Kegiatan PSN anak sekolah dll.

D. KEGIATAN PENGENDALIAN VEKTOR DBD


1. Kegiatan pengendalian vektor sesuai dengan tingkat administrasi
Kegiatan Pengendalian Vektor memberikan beban yang berbeda disetiap level
administratif yaitu :
a. Pusat
Sesuai dengan Tupoksi Pusat, maka Kegiatan Pengendalian Vektor (PV) lebih
diutamakan pada kegiatan penetapan kebijakan Pengendalian Vektor,
Penyusunan standarisasi, modul juklak juknis, Monitoring dan evaluasi
Pengendalian Vektor Nasional, serta Bimbingan teknis Pengendalian Vektor
Nasional.
b. Provinsi
Di tingkat propinsi, kegiatan pengendalian vektor adalah : pelaksanaan
kebijakan nasional pengendalian vektor, merencanakan kebutuhan alat, bahan
dan operasional PV, monev PV, bintek PV ke kabupaten.
c. Kabupaten
Otonomi daerah memberikan peran yang lebih luas kepada Kabupaten untuk
secara aktif dan mandiri melakukan kegiatan PV di wilayahnya sesuai dengan
kondisi spesifik lokal daerah. Untuk itu selain melaksanakan juklak/juknis dan
pedoman, merupakan tugas kabupaten untuk merencanakan dan mengadakan
alat, bahan operasional PV, monev kegiatan PV DBD, bintek kegiatan PV
DBD di Puskesmas.
d. Puskesmas
Puskesmas sebagai ujung tombak pelayanan kesehatan bertugas menjaga
kesinambungan kegiatan PV oleh masyarakat di wilayahnya, menggerakkan
peran serta masyarakat melalui kader, tokoh masyarakat, serta melakukan
kegiatan PV secara langsung di masyarakat.

2. Operasional Pengendalian Vektor


a. Pengabutan (fogging/ULV)
Pelaksana : Petugas dinas kesehatan kabupaten/kota, puskesmas dan tenaga
lain yang telah dilatih.
Lokasi : Meliputi seluruh wilayah terjangkit
Sasaran : Rumah dan tempat-tempat umum
Insektisida : Sesuai dengan dosis
Alat : Mesin fog atau ULV
Cara : Pengasapan/ULV dilaksanakan 2 siklus dengan interval satu minggu
(petunjuk fogging terlampir)
b. Pemberantasan sarang jentik/nyamuk DBD (PSN DBD)
Pelaksana : Masyarakat di lingkungan masing-masing
Lokasi : Meliputi seluruh wilayah terjangkit dan wilayah sekitarnya dan
merupakan satu kesatuan epidemiologis
Sasaran : Semua tempat potensial bagi perindukkan nyamuk : tempat
penampungan air,barang bekas ( botol aqua, pecahan gelas,ban bekas, dll)
lubang pohon/tiang pagar/pelepah pisang, tempat minum burung, alas pot,
dispenser, tempat penampungan air di bawah kulkas, dibelakang kulkas dsb, di
rumah/bangunan dan tempat umum.
Cara : Melakukan kegiatan 3 M plus. (disesuaikan dengan lokal
spesifik daerah terjangkit).

Contoh :
 Untuk daerah sulit air PSNnya tidak menguras, tetapi larvasidasi,
ikanisasi, dll).
 Untuk daerah tandus tidak mengubur namun diamankan agar tidak
menjadi tempat penampungan air.
 Untuk daerah mudah mendapatkan air menguras dengan sikat dan
sabun
 PLUS: membakar obat nyamuk, menggunakan repelen, kelambu,
menanam pohon sereh, zodia, lavender, geranium, obat nyamuk
semprot, pasang kasa dll.
c. Larvasidasi
Pelaksana : Tenaga dari masyarakat dengan bimbingan petugas
puskesmas/dinas kesehatan kabupaten/kota Lokasi : Meliputi seluruh wilayah
terjangkit
Sasaran : Tempat penampungan air (TPA) di rumah dan tempattempat umum
Insektisida : Sesuai dengan dosis. Disesuaikan dengan sirkulasi pemakaian
insektisida instruksi Dirjen PP dan PL (terlampir surat intruksi)
Cara : Larvasidasi dilaksanakan diseluruh wilayah KLB (petunjuk larvasidasi
terlampir).
3. Kegiatan pengendalian vektor pada KLB DBD
Pada saat KLB, maka pengendalian vektor harus dilakukan secara cepat, tepat dan
sesuai sasaran untuk mencegah peningkatan kasus dan meluasnya penularan.
Langkah yang dilakukan harus direncanakan berdasarkan data KLB, dengan tiga
intervensi utama secara terpadu yaitu pengabutan dengan fogging/ULV, PSN
dengan 3 M plus, larvasidasi dan penyuluhan penggerakan masyarakat untuk
meningkatkan peran serta.

E. PELAPORAN DAN EVALUASI HASIL PENGENDALIAN VEKTOR


1. Pelaporan hasil pengendalian vektor
Manfaat pelaporan untuk memantau kegiatan PV secara berjenjang dimulai dari
Puskemas, Kabupaten, Provinsi. Pelaporan memuat tentang :
a. Data kasus, data vektor dan PE (Penyelidikan Epidemiologi)
b. Metode PV yang digunakan termasuk jenis insektisida, dosis insektisida,
cara aplikasi, alat yang digunakan serta sasaran aplikasi.
c. Pemetaan dan cakupan atau luas area intervensi
2. Evaluasi hasil pengendalian vektor
Untuk mendapatkan hasil evaluasi yang tepat, maka perlu dilakukan survei
pendahuluan untuk membandingkan dengan kondisi pasca intervensi. Evaluasi
hasil pengendalian vektor terdiri dari :
a. Efektifitas untuk menilai dampak keberhasilan kegiatan PV, yang diukur
dengan larva survey (survei jentik) menggunakan indikator Index Larva,
yaitu: House Index (HI), Container Index (CI) dan Breateu Index (BI) serta
Angka Bebas Jentik (ABJ). Survei Jentik ini lazimnya dikombinasi dengan
survei PSP (Pengetahuan, Sikap dan Perilaku).
b. Operasional :
 Bioassay, dengan menggunakan pengetesan dengan spesimen
hidup pada saat penyemprotan dilakukan.
 Cakupan, dengan mengukur luas area dan atau jumlah rumah yang
diintervensi.
 Dosis, dengan mengukur luas area atau jumlah rumah dengan dosis
atau jumlah insektisida yang digunakan.
c. Langkah - langkah Pengendalian Vektor
1) Perencanaan Pengendalian Vektor
 Analisis data kasus
 Penentuan daerah sasaran intervensi
 Pemilihan metoda PV disesuaikan dengan permasalahan dan
kondisi setempat
 Perencanaan ketersediaan bahan, peralatan, SDM, dan biaya.
2) Operasional Pengendalian Vektor
 Koordinasi dengan daerah sasaran
 Penyuluhan PV termasuk penggerakan Peran serta
masyarakat
 Pengorganisian intervensi, termasuk pembagian tugas.
 Implementasi Praktek kerja Lapangan
Upaya pemberantasan DBD hanya dapat berhasil apabila seluruh masyarakat
berperan secara aktif dalam PSN DBD. Gerakan PSN DBD merupakan
bagian yang paling penting dari keseluruhan upaya pemberantasan DBD oleh
keluarga/ masyarakat.
Pengalaman beberapa negara menunjukkan bahwa pemberantasan jentik
melalui kegiatan PSN DBD dapat mengendalikan populasi nyamuk Aedes
aegypti, sehingga penularan DBD dapat dicegah atau dikurangi.
Bentuk pelaksanaan kegiatan PSN DBD disesuaikan dengan situasi dan
kondisi masing-masing daerah (kearifan lokal). Pembinaan peran serta
masyarakat dalam PSN DBD antara lain dapat dikoordinasikan oleh
POKJANAL DBD Kelurahan/Desa dan POKJANAL DBD Kecamatan,
Kabupaten/Kota dan Propinsi.
BAB 4. TATALAKSANA KASUS DEMAM DENGUE DAN DEMAM BERDARAH
DENGUE

Infeksi Dengue memiliki gambaran klini yang luas. Perjalanan klinis mulai dari asimtomatik
yang akan sembuh dengan sendirinya sampai dengan infeksi Dengue yang berat yang
ditandai dengan kebocoran plasma dengan atau tanpa perdarahan.

A. Definisi Operasional DD dan DBD


Kriteria WHO (2009) :
1. Suspek Infeksi Dengue ialah penderita demam tinggi mendadak tanpa sebab yang
jelas berlangsung selama 2-7 hari dan disertai dengan 2 atau lebih tanda-tanda : mual,
muntah, bintik perdarahan, nyeri sendi, tanda-tanda perdarahan : sekurang-kurangnya
uji tourniquet (Rumple Leede) positif, leucopenia dan trombositopenia.
Infeksi Dengue dapat bermanifestasi 2 macam yaitu infeksi Dengue Ringan dan
Berat.
Tanda-tanda yang mengarah kepada infeksi Dengue Berat adalah :
 Nyeri abdominal
 Muntah yang terus menerus
 Tanda-tanda kebocoran plasma (asites, efusi pleura)
 Perdarahan mukosa (epistaksis, gusi)
 Letargi
 Pembesaran hati > 2 cm
 Pemeriksaan Lab. : Peningkatan hematokrit dan penurunan trombosi

Catatan : DD ditegakkan setelah melewati masa kritis (saat demam turun) dengan
dasar nilai hematokrit normal atau tidak ditemukan adanya kebocoran plasma
sistematik. Pasien dapat dipulangkan setelah diobservasi dalam waktu 24 jam setelah
melewati masa kritis.

2. Demam Dengue (DD) ialah demam disertai 2 atau lebih gejala penyerta seperti sakit
kepala, nyeri dibelakang bola mata, pegal, nyeri sendi ( athralgia ), rash, mual,
muntah dan manifestasi perdarahan. Dengan hasil laboratorium leukopenia ( lekosit <
5000 /mm3 ), jumlah trombosit cenderung menurun < 150.000/mm3 dan didukung
oleh pemeriksaan serologis.
3. Demam Berdarah Dengue (DBD) ialah demam 2 - 7 hari disertai dengan manifestasi
perdarahan, Jumlah trombosit < 100.000 /mm3, adanya tanda tanda kebocoran
plasma (peningkatan hematokrit 20 % dari nilai normal, dan/atau efusi pleura,
dan/atau ascites, dan/atau hypoproteinemia/ albuminemia) dan atau hasil
pemeriksaan serologis pada penderita tersangka DBD menunjukkan hasil positif atau
terjadi peninggian (positif) IgG saja atau IgM dan IgG pada pemeriksaan dengue
rapid test (diagnosis laboratoris).
4. Sindrom Syok Dengue (SSD) ialah kasus DBD yang masuk dalam derajat III dan IV
dimana terjadi kegagalan sirkulasi yang ditandai dengan denyut nadi yang cepat dan
lemah, menyempitnya tekanan nadi ( 20 mmHg) atau hipotensi yang ditandai dengan
kulit dingin dan lembab serta pasien menjadi gelisah sampai terjadi syok berat (tidak
terabanya denyut nadi maupun tekanan darah).
B. Diagnosis DD dan DBD
1. Diagnosis Suspek Infeksi Dengue
Diagnosis Suspek Infeksi dengue ditegakkan bila terdapat 2 kriteria berikut:
 Demam tinggi mendadak tanpa sebab yang jelas berlangsung selama 2-7 hari
 Manifestasi perdarahan: sekurang-kurangnya uji tourniquet (Rumple Leede)
positif
2. Diagnosis Demam Dengue (DD)
a. Probable
1) Demam tinggi mendadak
2) Ditambah 2 atau lebih gejala/tanda penyerta:
 Muka kemerahan
 Konjungtiva kemerahan
 Nyeri kepala
 Nyeri belakang bola mata
 Nyeri otot & tulang - Ruam kulit
 Manifestasi perdarahan
 Mual dan muntah
 Leukopenia (Lekosit = 5000 /mm3)
 Trombositopenia (Trombosit < 150.000 /mm3 )
 Peningkatan hematokrit 5 - 10 %, sebagai akibat dehidrasi.
3) Dan terdapat sekurang-kurangnya satu dari kriteria berikut:
 Pemeriksaan serologi Hemaglutination Inhibition (HI) test sampel
serum tunggal; titer 1280 atau tes antibodi IgM dan IgG positif, atau
antigen NS1 positif.
 Kasus berlokasi di daerah dan waktu yang bersamaan dimana terdapat
kasus konfirm Demam Dengue/Demam Berdarah Dengue
b. Confirmed / diagnosis pasti
Kasus probable disertai sekurang-kurangnya satu kriteria berikut:
1) Isolasi virus Dengue dari serum
2) Pemeriksaan HI Test Peningkatan titer antibodi 4 kali pada pasangan
serum akut dan konvalesen atau peningkatan antibodi IgM spesifik untuk
virus dengue
3) Positif antigen virus Dengue pada serum atau cairan serebrospinal
(LCS=Liquor Cerebro Spinal) dengan metode immunohistochemistry,
immunofluoressence atau ELISA
4) Positif pemeriksaan Polymerase Chain Reaction (PCR)
3. Diagnosis Demam Berdarah Dengue (DBD)
a. Penegakan Diagnosis Untuk menegakkan diagnosis DBD diperlukan sekurang-
kurangnya:
 Terdapat kriteria klinis a dan b
 Dua Kriteria laboratorium

1) Klinis
a) Demam tinggi mendadak berlangsung selama 2-7 hari.
b) Terdapat manifestasi/ tanda-tanda perdarahan ditandai dengan:
 Uji Bendung (Tourniquet Test) positif
 Petekie, ekimosis, purpura
 Perdarahan mukosa, epistaksis, perdarahan gusi
 Hematemesis dan/ atau melena
c) Pembesaran hati ( di jelaskan cara pemeriksaan pembesaran hati )
d) Syok, ditandai nadi cepat dan lemah serta penurunan tekanan nadi ( 20
mmHg), hipotensi, kaki dan tangan dingin, kulit lembab dan pasien
tampak gelisah
2) Laboratorium
a) Trombositopenia (100.000/mm3 atau kurang)
b) Adanya kebocoran plasma karena peningkatan permeabilitas kapiler,
yang ditandai adanya: Hemokonsentrasi/ Peningkatan hematokrit 10%
dari data baseline saat pasien belum sakit atau sudah sembuh atau
adanya efusi pleura, asites atau hipoproteinemia (hipoalbuminemia).

b. Derajat Beratnya Penyakit DBD


Derajat penyakit DBD diklasifikasikan dalam 4 derajat:
 Derajat I : Demam dan satu-satunya manifestasi perdarahan ialah uji
Tourniquet positif
 Derajat II : Terdapat perdarahan spontan antara lain perdarahan kulit
(petekie), perdarahan gusi, epistaksis atau perdarahan lain. (mesntruasi
berlebihan, perdarahan saluran cerna).
 Derajat III : Derajat I atau II disertai kegagalan sirkulasi, yaitu nadi
cepat dan lambat, tekanan nadi menurun (20 mmHg atau kurang) atau
hipotensi, sianosis di sekitar mulut, kulit dingin dan lembab, dan
anak tampak gelisah.
 Derajat IV : Seperti derajat III disertai Syok berat (profound shock), nadi
tidak dapat diraba dan tekanan darah tidak terukur.

c. Gejala /tanda utama DBD


Gejala / tanda utama DBD sebagai berikut:
1) Demam
 Demam tinggi mendadak, sepanjang ahri, berlangsung 2-7 hari.
 Fase kritis ditandai saat demam mulai turun biasanya setelah hari ke 3-6,
hati-hati karena pada fase tersebut dapat terjadi syok.
2) Tanda-tanda perdarahan
 Penyebab perdarahan pada pasien DBD ialah gangguan pada
pembuluh darah, trombosit, dan faktor pembekuan. Jenis perdarahan
yang terbanyak adalah perdarahan kulit seperti uji Tourniquet positif,
petekie, purpura, ekimosis dan perdarahan konjungtiva.
 Petekie sering sulit dibedakan dengan bekas gigitan nyamuk, untuk
membedakannya: lakukan penekanan pada bintik merah yang
dicurigai dengan kaca obyek atau penggaris plastik transparan, atau
dengan meregangkan kulit. Jika bintik merah menghilang saat
penekanan/ peregangan kulit berarti bukan petekie. Perdarahan lain
yaitu epitaksis, perdarahan gusi, melena dan hematemesis. Pada anak
yang belum pernah mengalami mimisan, maka mimisan merupakan
tanda penting. Kadang-kadang dijumpai pula perdarahan konjungtiva
atau hematuria.

Cara melakukan uji Tourniquet sebagai berikut :


 Pasang manset anak pada lengan atas (ukuran manset sesuaikan
dengan umur anak, yaitu lebar manset = 2/3 lengan atas)
 Pompa tensimeter untuk mendapatkan tekanan sistolik dan tekanan
diastolik
 Aliran darah pada lengan atas dibendung pada tekanan antara sistolik
dan diastolik (rata-rata tekanan sistolik dan diastolik) selama 5 menit.
(Bila telah terlihat adanya bintik-bintik merah 10 buah,
pembendungan dapat dihentikan).
 Lihat pada bagian bawah lengan depan (daerah volar) dan atau daerah
lipatan siku (fossa cubiti), apakah timbul bintik-bintik merah, tanda
perdarahan (petekie)
 Hasil Uji Tourniquet dinyatakan positif (+) bila ditemukan 10 bintik
perdarahan (petekia), pada luas 1 inci persegi ( 2,8 cm2.)
3) Hepatomegali (pembearan hati)
 Pembesaran hati pada umumnya dapat ditemukan pada permulaan
penyakit, bervariasi dari hanya sekedar dapat diraba (just palpable)
sampai 2-4 cm di bawah lengkungan iga kanan dan dibawah procesus
Xifoideus
 Proses pembesaran hati, dari tidak teraba menjadi teraba, dapat
meramalkan perjalanan penyakit DBD. Derajat pembesaran hati tidak
sejajar dengan beratnya penyakit, namun nyeri tekan di hipokondrium
kanan disebabkan oleh karena peregangan kapsul hati. Nyeri perut
lebih tampak jelas pada anak besar dari pada anak kecil.
4) Syok
Tanda-tanda syok (renjatan):
 Kulit teraba dingin dan lembab terutama pada ujung hidung, jari
tangan dan kaki
 Capillary refill time memanjang > 2 detik
 Penderita menjadi gelisah
 Sianosis di sekitar mulut
 Nadi cepat, lemah, kecil sampai tak teraba
 Perbedaan tekanan nadi sistolik dan diastolik menurun 20 mmHg

d. Jenis-Jenis Pemeriksaan Laboratorium pada penderita DBD


Beberapa jenis pemeriksaan laboratorium pada penderita DBD antara lain:
1) Hematologi
a) Hemoglobin Penurunan Hb disertai dengan penurunan hematokrit
diduga adanya perdarahan internal.
b) Leukosit
 Jumlah leukosit normal, tetapi biasanya menurun dengan dominasi
sel neutrofil.
 Peningkatan jumlah sel limfosit atipikal atau limfosit plasma biru
(LPB) > 4% di darah tepi yang biasanya dijumpai pada hari sakit
ketiga sampai hari ke tujuh.
c) Trombosit Pemeriksaan trombosit antara lain dapat dilakukan dengan
cara:
 Semi kuantitatif (tidak langsung)
 Langsung (Rees-Ecker)
 Cara lainnya sesuai kemajuan teknologi (Hematology Cell Counter
Automatically)
Jumlah trombosit 100.000/µl biasanya ditemukan diantara hari ke 3-7
sakit. Pemeriksaan trombosit perlu diulang setiap 4-6 jam sampai
terbukti bahwa jumlah trombosit dalam batas normal atau keadaan
klinis penderita sudah membaik.

d) Hematokrit
Peningkatan nilai hematokrit menggambarkan adanya kebocoran
pembuluh darah. Penilaian hematokrit ini, merupakan indikator yang
peka akan terjadinya perembesan plasma, sehingga perlu dilakukan
pemeriksaan hematokrit secara berkala. Pada umumnya penurunan
trombosit mendahului peningkatan hematokrit. Hemokonsertrasi dengan
peningkatan hematokrit 20% (misalnya nilai Ht dari 35% menjadi
42%), mencerminkan peningkatan permeabilitas kapiler dan perembesan
plasma. Perlu mendapat perhatian, bahwa nilai hematokrit dipengaruhi
oleh penggantian cairan atau perdarahan. Namun perhitungan selisih
nilai hematokrit tertinggi dan terendah baru dapat dihitung setelah
mendapatkan nilai Ht saat akut dan konvalescen (hari ke-7).
Pemeriksaan hematrokrit antara lain dengan mikro-hematokrit centrifuge
Nilai normal hematokrit:
 Anak-anak : 33 - 38 vol%
 Dewasa laki-laki : 40 - 48 vol%
 Dewasa perempuan : 37 - 43 vol%

Untuk puskesmas yang tidak ada alat untuk pemeriksaan Ht, dapat
dipertimbangkan estimasi nilai Ht = 3 x kadar Hb.

2) Serologis Pemeriksaan serologis didasarkan atas timbulnya antibodi pada


penderita terinfeksi virus Dengue.
a) Uji Serologi Hemaglutinasi inhibisi (Haemaglutination Inhibition Test)
Pemeriksaan HI sampai saat ini dianggap sebagai uji baku emas (gold
standard). Namun pemeriksaan ini memerlukan 2 sampel darah (serum)
dimana spesimen harus diambil pada fase akut dan fase konvalensen
(penyembuhan), sehinggga tidak dapat memberikan hasil yang cepat.
b) ELISA (IgM/IgG) Infeksi dengue dapat dibedakan sebagai infeksi
primer atau sekunder dengan menentukan rasio limit antibodi dengue
IgM terhadap IgG. Dengan cara uji antibodi dengue IgM dan IgG, uji
tersebut dapat dilakukan hanya dengan menggunakan satu sampel darah
(serum) saja, yaitu darah akut sehingga hasil cepat didapat. Saat ini
tersedia Dengue Rapid Test (misalnya Dengue Rapid Strip Test) dengan
prinsip pemeriksaan ELISA.

Interpretasi Hasil Pemeriksaan Dengue Rapid Test


Dengue Rapid Test mendiagnosis infeksi virus primer dan sekunder
melalui penentuan cut-off kadar IgM dan IgG dimana cut-off IgM
ditentukan untuk dapat mendeteksi antibodi IgM yang secara khas
muncul pada infeksi virus dengue primer dan sekunder, sedangkan cut
off antibodi IgG ditentukan hanya mendeteksi antibodi kadar tinggi
yang secara khas muncul pada infeksi virus dengue sekunder (biasanya
IgG ini mulai terdeteksi pada hari ke-2 demam) dan disetarakan dengan
titer HI > 1:2560 (tes HI sekunder) sesuai standar WHO. Hanya respons
antibodi IgG infeksi sekunder aktif saja yang dideteksi, sedangkan IgG
infeksi primer atau infeksi masa lalu tidak dideteksi. Pada infeksi primer
IgG muncul pada setelah hari ke14, namun pada infeksi sekunder IgG
timbul pada hari ke-2
Interpretasi hasil adalah apabila garis yang muncul hanya IgM dan
kontrol tanpa garis IgG, maka Positif Infeksi Dengue Primer (DD).
Sedangkan apabila muncul tiga garis pada kontrol, IgM, dan IgG
dinyatakan sebagai Positif Infeksi Sekunder (DBD). Beberapa kasus
dengue sekunder tidak muncul garis IgM, jadi hanya muncul garis
kontrol dan IgG saja. Pemeriksaan dinyatakan negatif apabila hanya
garis kontrol yang terlihat. Ulangi pemeriksaan dalam 2-3 hari lagi
apabila gejala klinis kearah DBD. Pemeriksaan dinyatakan invalid
apabila garis kontrol tidak terlihat dan hanya terlihat garis pada IgM
dan/atau IgG saja.
c) Antigen NS1
Pemeriksaan Laboratorium untuk konfirmasi : • PCR (Polymerase Chain
Reaction) • Isolasi Virus
3) Radiologi
Pemeriksaan ini merupakan pemeriksaan penunjang untuk mendeteksi
adanya kebocoran plasma. Pada foto toraks posisi “Right Lateral Decubitus”
dapat mendeteksi adanya efusi pleura minimal pada paru kanan. Pada
pemeriksaan USG dapat mendeteksi adanya asites, penebalan dinding
kandung empedu dan efusi pleura minimal.

C. Tatalaksana
1. Pertolongan Pertama Penderita Demam Berdarah Dengue oleh Masyarakat
Pada awal perjalanan DBD gejala dan tanda tidak spesifik, oleh karena itu
masyarakat/keluarga diharapkan waspada jika terdapat gejala dan tanda yang
mungkin merupakan awal perjalanan penyakit tersebut. Gejala dan tanda awal DBD
dapat berupa panas tinggi tanpa sebab jelas yang timbul mendadak, sepanjang hari,
selama 2-7 hari, badan lemah/lesu, nyeri ulu hati, tampak bintik-bintik merah pada
kulit seperti bekas gigitan nyamuk disebabkan pecahnya pembuluh darah kapiler di
kulit. Untuk membedakannya kulit diregangkan bila bintik merah itu hilang, bukan
tanda penyakit DBD.
Apabila keluarga/masyarakat menemukan gejala dan tanda di atas, maka
pertolongan pertama oleh keluarga adalah sebagai berikut:
a. Tirah baring selama demam
b. Antipiretik (parasetamol) 3 kali 1 tablet untuk dewasa, 10-15 mg/kgBB/kali
untuk anak. Asetosal, salisilat, ibuprofen jangan dipergunakan karena dapat
menyebabkan nyeri ulu hati akibat gastritis atau perdarahan.
c. Kompres hangat
d. Minum banyak (1-2 liter/hari), semua cairan berkalori diperbolehkan kecuali
cairan yang berwarna coklat dan merah (susu coklat, sirup merah).
e. Bila terjadi kejang (jaga lidah agar tidak tergigit, longgarkan pakaian, tidak
memberikan apapun lewat mulut selama kejang)

Jika dalam 2-3 hari panas tidak turun atau panas turun disertai timbulnya gejala dan
tanda lanjut seperti perdarahan di kulit (seperti bekas gigitan nyamuk), muntah-
muntah, gelisah, mimisan dianjurkan segera dibawa berobat/ periksakan ke dokter
atau ke unit pelayanan kesehatan untuk segera mendapat pemeriksaan dan
pertolongan.

2. Langkah - Langkah Pemeriksaan Demam Berdarah Dengue


Penderita yang menunjukan gejala/ tanda klinis DBD maka dilakukan pemeriksaan
sebagai berikut :
a. Anamnesis (wawancara) dengan penderita atau keluarga penderita tentang
keluhan yang dirasakan, sehubungan dengan gejala DBD.
b. Observasi kulit dan konjungtiva untuk mengetahui tanda perdarahan.
Observasi kulit meliputi wajah, lengan, tungkai, dada, perut dan paha
c. Pemeriksaan keadaan umum dan tanda-tanda vital (kesadaran, tekanan darah,
nadi, dan suhu).
d. Perabaan hati dan Penekanan pada hipokondrium kanan menimbulkan rasa
sakit/nyeri yang disebabkan karena adanya peregangan kapsul hati
e. Uji Tourniquet (Rumple Leede) f. Pemeriksaan laboratorium darah rutin (Hb,
Ht, Leukosit, Trombosit).
3. Tatalaksana Rujukan Penderita DBD
Demam Berdarah Dengue termasuk salah satu penyakit menular yang dapat
menimbulkan wabah sesuai dengan Undang-Undang No. 4 th 1984 tentang Wabah
Penyakit Menular serta Peraturan Menteri Kesehatan No. 560 tahun 1989, maka bila
dijumpai kasus DBD wajib dilaporkan dalam kurun waktu kurang dari 24 jam.
Dokter atau petugas kesehatan yang menemukan kasus/tersangka DBD diwajibkan
melaporkan ke Puskesmas setempat sesuai dengan domisili (tempat tinggal) pasien
dan membuat surat pengantar untuk disampaikan kepada kepala desa/kelurahan
melalui keluarga pasien. Formulir rujukan pasien DBD dari Puskesmas dan sarana
pelayanan kesehatan lainnya menggunakan formulir Sø, atau surat tersendiri yang
memuat data, nama, jenis kelamin, umur, nama kepala keluarga, alamat, tanggal
mulai masuk dan keluar sarana pelayanan kesehatan ( Puskesmas Perawatan, Rumah
Sakit) dan pengobatan yang telah diberikan, disampaikan kepada RS rujukan.

Persiapan rujukan
Sebelum merujuk pasien DBD perlu memperhatikan :
a. Tanda vital pasien harus stabil
b. Disertakan formulir dengan hasil parameter klinis dan laboratorium serta terapi
penting yang sudah diberikan.

Penderita dirujuk ke Rumah Sakit bila ditemukan tanda-tanda berikut :

a. Letargi
b. Penurunan kesadaran,
c. Badan dingin dan lembab, terutama pada tangan dan kaki, Capillary refill time >
2 detik
d. Muntah terus menerus
e. Kejang.
f. Perdarahan berupa : mimisan, Hematemesis, Melena
g. Ada tanda-tanda kebocoran plasma (asistes, efusi pleura) h. tidak buang air kecil
dalam 4-6 jam terakhir
h. Nyeri abdomen

4. Tatalaksana
Pada dasarnya pengobatan DBD bersifat simtomatis dan suportif, yaitu mengatasi
kehilangan cairan plasma sebagai akibat peningkatan permeabilitas kapiler dan
sebagai akibat perdarahan. Pasien bermanifestasi ringan dapat berobat jalan
sedangkan pasien dengan tanda bahaya dirawat. Tetapi pada kasus DBD dengan
komplikasi diperlukan perawatan intensif. Diagnosis dini dan memberikan nasehat
untuk segera dirawat bila terdapat tanda bahaya, merupakan hal yang penting untuk
mengurangi angka kematian. Di pihak lain, perjalanan penyakit DBD sulit
diramalkan.
a. Tatalaksana Infeksi Dengue dengan manifestasi ringan
Pasien dengan manifestasi ringan dapat berobat jalan tetapi jika ada
perburukan harus dirawat. Pasien rawat jalan dianjurkan:
1) Tirah baring, selama masih demam.
2) Obat antipiretik atau kompres hangat diberikan apabila diperlukan.
3) Untuk menurunkan suhu menjadi <39oC, dianjurkan pemberian
parasetamol. Asetosal/salisilat tidak dianjurkan (indikasi kontra)
oleh karena dapat meyebabkan gastritis, perdarahan, atau asidosis.
4) Dianjurkan pemberian cairan dan elektrolit per oral, jus buah, sirop,
susu, disamping air putih, dianjurkan paling sedikit diberikan selama
2 hari.
5) Monitor suhu, urin dan tanda-tanda bahaya sampai melewati fase
kritis.
6) Monitor pemeriksaan laboratorium darah rutin berkala
Orang tua atau pasien dinasehati bila setelah demam turun didapatkan nyeri
perut hebat, buang air besar hitam, atau terdapat perdarahan kulit serta
mukosa seperti mimisan, perdarahan gusi, apalagi bila disertai berkeringat
dingin, hal tersebut merupakan tanda kegawatan, sehingga harus segera
dibawa segera ke rumah sakit.

b. Tatalaksana DBD dan SSD


1) Tatalaksana DBD
Patofisilogik utama DBD adalah kebocoran plasma karena adanya
peningkatan permeabilitas kapiler. Maka kunci tatalaksana DBD terletak
pada deteksi secara dini fase kritis yaitu saat suhu turun (the time of
defervescence) yang merupakan fase awal terjadinya kegagalan sirkulasi,
dengan melakukan observasi klinis disertai pemantauan kebocoran plasma
dan gangguan hemostasis.
Prognosis DBD terletak pada pengenalan tanda-tanda bahaya secara awal
dan pemberian cairan Larutan garam isotonik atau kristaloid sebagai
cairan awal pengganti volume plasma sesuai dengan berat ringan
penyakit. Perhatian khusus pada kasus dengan peningkatan hematokrit
yang terus menerus dan penurunan jumlah trombosit yang cepat. Secara
umum pasien DBD dapat dirawat di puskesmas perawatan atau rumah
sakit.
a) Fase Demam
Tatalaksana DBD fase demam tidak berbeda dengan tatalaksana DD,
bersifat simtomatik dan suportif yaitu pemberian cairan oral
untuk mencegah dehidrasi. Apabila cairan oral tidak dapat diberikan
oleh karena tidak mau minum, muntah atau nyeri perut yang
berlebihan, maka cairan intravena rumatan perlu diberikan.
Antipiretik kadang-kadang diperlukan, tetapi perlu diperhatikan
bahwa antipiretik tidak dapat mengurangi lama demam pada DBD.
b) Fase Kritis
Periode kritis adalah waktu transisi, yaitu saat suhu turun pada
umumnya hari ke 3-5 fase demam. Pasien harus diawasi ketat
terhadap kejadian syok yang mungkin terjadi. Pemeriksaan kadar
hematokrit berkala merupakan pemeriksaan laboratorium yang terbaik
untuk pengawasan hasil pemberian cairan yaitu menggambarkan
derajat kebocoran plasma dan pedoman kebutuhan cairan intravena.
Hemokonsentrasi pada umumnya terjadi sebelum dijumpai perubahan
tekanan darah dan tekanan nadi. Hematokrit harus diperiksa minimal
satu kali sejak hari sakit ketiga sampai suhu normal kembali. Bila
sarana pemeriksaan hematokrit tidak tersedia, pemeriksaan
hemoglobin dapat dipergunakan sebagai alternatif walaupun tidak
terlalu sensitif.

b.1) Penggantian Volume Plasma Dasar patogenesis DBD adalah


perembesan plasma, yang terjadi pada fase penurunan suhu (fase
afebris, fase krisis, fase syok) maka dasar pengobatannya adalah
penggantian volume plasma yang hilang. Walaupun demikian,
penggantian cairan harus diberikan dengan bijaksana dan berhati-
hati. Kebutuhan cairan awal dihitung untuk 2-3 jam pertama,
sedangkan pada kasus syok mungkin lebih sering (setiap 30-60
menit). Tetesan berikutnya harus selalu disesuaikan dengan tanda
vital, kadar hematokrit, dan jumlah volume urin. Secara umum
volume yang dibutuhkan adalah jumlah cairan rumatan ditambah 5-
8%.
b.2) Cairan intravena diperlukan, apabila:
1) Anak terus menerus muntah, tidak mau minum, demam tinggi
sehingga tidak mungkin diberikan minum per oral, ditakutkan
terjadinya dehidrasi sehingga mempercepat terjadinya syok
2) Nilai hematokrit cenderung meningkat pada pemeriksaan berkala.
Jumlah cairan yang diberikan tergantung dari derajat dehidrasi dan
kehilangan elektrolit, dianjurkan cairan glukosa 5% di dalam larutan
NaCI 0,45%. Bila terdapat asidosis, diberikan natrium bikarbonat
7,46%, 1-2 ml/kgBB intravena bolus perlahan-lahan.

Pada saat pasien datang, berikan cairan kristaloid/ NaCI 0,9% atau
dekstrosa 5% dalam ringer laktat/NaCI 0,9%, 6-7 ml/kgBB/jam.
Monitor tanda vital, diuresis setiap jam dan hematokrit serta trombosit
setiap 6 jam. Selanjutnya evaluasi 12-24 jam.

Apabila selama observasi keadaan umum membaik yaitu anak nampak


tenang, tekanan nadi kuat, tekanan darah stabil, diuresis cukup, dan
kadar Ht cenderung turun minimal dalam 2 kali pemeriksaan berturut-
turut, maka tetesan dikurangi menjadi 5 ml/kgBB/jam. Apabila dalam
observasi selanjutnya tanda vital tetap stabil, tetesan dikurangi menjadi
3 ml/kgBB/jam dan akhirnya cairan dihentikan setelah 24-48 jam. b.3)
Jenis Cairan - Kristaloid: Larutan ringer laktat (RL), Larutan ringer
asetat (RA), Larutan garam faali (GF), Dekstrosa 5% dalam larutan
ringer laktat (D5/RL), Dekstrosa 5% dalam larutan ringer asetat
(D5/RA), Dekstrosa 5% dalam 1/2 larutan garam faali (D5/1/2LGF)
(Catatan: Untuk resusitasi syok dipergunakan larutan RL atau RA tidak
boleh larutan yang mengandung dekstosa) - Koloid: Dekstran 40,
Plasma, Albumin, Hidroksil etil starch 6%, gelafundin

c) Fase Penyembuhan/konvalesen
Pada fase penyembuhan, ruam konvalesen akan muncul pada daerah
esktremitas. Perembesan plasma berhenti ketika memasuki fase
penyembuhan, saat terjadi reabsorbsi cairan ekstravaskular kembali
ke dalam intravaskuler. Apabila pada saat itu cairan tidak dikurangi,
akan menyebabkan edema palpebra, edema paru dan distres
pernafasan.

2) Tatalaksana SSD
Syok merupakan keadaan kegawatan. Cairan pengganti adalah pengobatan
yang utama, berguna untuk memperbaiki kekurangan volume plasma. Pasien
anak cepat mengalami syok dan sembuh kembali bila diobati segera dalam
48 jam. Pasien harus dirawat dan segera diobati bila dijumpai tanda-tanda
syok yaitu gelisah, letargi/lemah, ekstrimitas dingin, bibir sianosis, oliguri,
dan nadi lemah, tekanan nadi menyempit ( 20 mmHg) atau hipotensi, dan
peningkatan mendadak dari kadar hematokrit atau kadar hematokrit
meningkat terus menerus walaupun telah diberi cairan intravena. Pada
penderita SSD dengan tensi tak terukur dan tekanan nadi 20 mm Hg segera
berikan cairan kristaloid sebanyak 20 ml/kg BB selama 30 menit, bila syok
teratasi turunkan menjadi 10 ml/kgBB/jam

a) Penggantian Volume Plasma Segera


Cairan resusitasi awal adalah larutan kristaloid 20 ml/kgBB secara
intravena dalam 30 menit. Pada anak dengan berat badan lebih, diberi
cairan sesuai berat BB ideal dan umur, bila tidak ada perbaikan
pemberian cairan kristoloid ditambah cairan koloid. Apabila syok belum
dapat teratasi setelah 60 menit, berikan cairan koloid 1020 ml/kg BB
secepatnya dalam 30 menit. Pada umumnya pemberian koloid tidak
melebihi 30ml/kgBB/hari atau maksimal pemberian koloid 1500ml/hari,
dan sebaiknya tidak diberikan pada saat perdarahan.
Setelah pemberian cairan resusitasi kristaloid dan koloid, syok masih
menetap sedangkan kadar hematokrit turun, maka pikirkan adanya
perdarahan internal. Maka dianjurkan pemberian transfusi darah segar/
komponen sel darah merah. Apabila nilai hematokrit tetap tinggi, maka
berikan darah dalam volume kecil (10ml/kgBB/jam) dapat diulang
sampai 30ml/kgBB/24jam, Setelah keadaan klinis membaik, tetesan
infus dikurangi bertahap sesuai keadaan klinis dan kadar hematokrit.
b) Pemeriksaan Hematokrit untuk Memantau Penggantian Volume Plasma
Pemberian cairan harus tetap diberikan walaupun tanda vital telah
membaik dan kadar hematokrit turun. Tetesan cairan segera diturunkan
menjadi 10 ml/kgBB/jam dan kemudian disesuaikan tergantung dari
kehilangan plasma yang terjadi selama 24-48 jam.
Cairan intravena dapat dihentikan apabila hematokrit telah turun,
dibandingkan nilai Ht sebelumnya. Jumlah urin 1ml/kgBB/jam atau
lebih merupakan indikasi bahwa keadaaan sirkulasi membaik. Pada
umumnya, cairan dapat dihentikan setelah 48 jam syok teratasi.
Apabila cairan tetap diberikan dengan jumlah yang berlebih pada saat
terjadi reabsorpsi plasma dari ekstravaskular (ditandai dengan penurunan
kadar hematokrit setelah pemberian cairan rumatan), maka akan
menyebabkan hipervolemia dengan akibat edema paru dan gagal
jantung. Penurunan hematokrit pada saat reabsorbsi plasma ini jangan
dianggap sebagai tanda perdarahan, tetapi disebabkan oleh hemodilusi.
Nadi yang kuat, tekanan darah normal, diuresis cukup, tanda vital baik,
merupakan tanda terjadinya fase reabsorbsi.
c) Koreksi Ganggungan Metabolik dan Elektrolit
Hiponatremia dan asidosis metabolik sering menyertai pasien DBD/SSD,
maka analisis gas darah dan kadar elektrolit harus selalu diperiksa pada
DBD berat. Apabila asidosis tidak dikoreksi, akan memacu terjadinya
KID, sehingga tatalaksana pasien menjadi lebih kompleks.
Pada umumnya, apabila penggantian cairan plasma diberikan secepatnya
dan dilakukan koreksi asidosis dengan natrium bikarbonat, maka
perdarahan sebagai akibat KID, tidak akan tejadi sehingga heparin tidak
diperlukan.
d) Pemberian Oksigen
Terapi oksigen 2 liter per menit harus selalu diberikan pada semua
pasien syok. Dianjurkan pemberian oksigen dengan mempergunakan
masker, tetapi harus diingat pula pada anak seringkali menjadi makin
gelisah apabila dipasang masker oksigen.
e) Transfusi Darah
Pemeriksaan golongan darah cross-matching harus dilakukan pada setiap
pasien syok, terutama pada syok yang berkepanjangan (prolonged
shock). Pemberian transfusi darah diberikan pada keadaan manifestasi
perdarahan yang nyata. Kadangkala sulit untuk mengetahui perdarahan
interna (internal haemorrhage) apabila disertai hemokonsentrasi.
Penurunan hematokrit (misalnya dari 50% menjadi 40%) tanpa
perbaikan klinis walaupun telah diberikan cairan yang mencukupi,
merupakan tanda adanya perdarahan. Pemberian darah segar
dimaksudkan untuk mengatasi pendarahan karena cukup mengandung
plasma, sel darah merah dan faktor pembeku trombosit. Plasma segar
dan atau suspensi trombosit berguna untuk pasien dengan KID
(Koagulasi Intravascular Disseminata) dan perdarahan masif. KID
biasanya terjadi pada syok berat dan menyebabkan perdarahan masif
sehingga dapat menimbulkan kematian.
f) Monitoring
Tanda vital dan kadar hematokrit harus dimonitor dan dievaluasi secara
teratur untuk menilai hasil pengobatan. Hal-hal yang harus diperhatikan
pada monitoring adalah : (1) Nadi, tekanan darah, respirasi, dan
temperatur harus dicatat setiap 15-30 menit atau lebih sering, sampai
syok dapat teratasi. (2) Kadar hematokrit harus diperiksa tiap 4-6 jam
sekali sampai keadaan klinis pasien stabil. (3) setiap pasien harus
mempunyai formulir pemantauan, mengenai jenis cairan, jumlah, dan
tetesan, untuk menentukan apakah cairan yang diberikan sudah
mencukupi. (4) Jumlah dan frekuensi diuresis
Pada pengobatan syok, kita harus yakin benar bahwa penggantian
volume intravaskuler telah benar-benar terpenuhi dengan baik. Apabila
diuresis belum cukup 1ml/kgBB/jam, sedang jumlah cairan sudah
melebihi kebutuhan diperkuat dengan tanda overload antara lain edema,
pernapasan meningkat, maka selanjutnya furosemid 1 mg/kgBB dapat
diberikan. Jika pasien sudah stabil, maka bisa dirujuk ke RS rujukan.
g) Ruang Rawat Khusus Untuk DBD/SSD
Untuk mendapatkan tatalaksana DBD lebih efektif, maka pasien DBD
seharusnya dirawat di ruang rawat khusus, yang dilengkapi dengan
perawatan untuk kegawatan. Ruang perawatan khusus tersebut
dilengkapi dengan fasilitas laboratorium untuk memeriksa kadar
hemoglobin, hematokrit, dan trombosit yang tersedia selama 24 jam.
Pencatatan merupakan hal yang penting dilakukan di ruang perawatan
DBD. Paramedis dapat dibantu oleh orang tua pasien untuk mencatat
jumlah cairan baik yang diminum maupun yang diberikan secara
intravena, serta menampung urin serta mencatat jumlahnya.
h) Kriteria Memulangkan Pasien
Pasien dapat dipulangkan, apabila memenuhi semua keadaan dibawah
ini: (1) Tampak perbaikan secara klinis (2) Tidak demam selama 24 jam
tanpa antipiretik (3) Tidak dijumpai distres pernafasan (disebabkan oleh
efusi pleura atau asidosis) (4) Hematokrit stabil (5) Jumlah trombosit
>50.000/µl (6) Tiga hari setelah syok teratasi. (7) Nafsu makan membaik
5. Pelaporan Kasus
Laporan kasus/tersangka infeksi dengue dari Puskesmas dan Rumah Sakit Perawatan
menggunakan formulir KD-DBD dikirimkan kepada Dinas Kesehatan
Kabupaten/Kota, dengan tembusan kepada Puskesmas sesuai dengan domisili
(tempat tinggal) pasien yang bersangkutan. Pelaporan dilakukan 24 jam setelah
diagnosis kerja ditegakkan. Pelaporan hasil pemeriksaan laboratorium DBD
dilakukan oleh Balai Laboratorium Kesehatan/Bagian Mikrobiologi/bag.
laboratorium RS setempat.
BAB 5: PENYELIDIKAN EPIDEMIOLOGI, PENANGGULANGAN FOKUS, DAN
PENANGGULANGAN KLB

Demam berdarah dengue (DBD) merupakan salah satu penyakit infeksi akut dan menular
yang disebabkan oleh virus dengue yang disebarkan oleh nyamuk Aedes aegypti dan sering
menimbulkan wabah/kejadian luar biasa (KLB). Nyamuk Aedes aegypti tersebar luas di
Indonesia, sehingga penularan DBD dapat terjadi di semua tempat/wilayah yang terdapat
nyamuk penular penyakit tersebut.

Setiap diketahui adanya penderita DBD, segera ditindak lanjuti dengan kegiatan Penyelidikan
Epidemiologi (PE) dan Penanggulangan Fokus (PF), sehingga penyebarluasan DBD dapat
dibatasi dan KLB dapat dicegah.

Dalam melaksanakan kegiatan pengendalian DBD sangat diperlukan peran serta masyarakat,
baik untuk membantu kelancaran pelaksanaan kegiatan pengendalian maupun dalam
memberantas jentik nyamuk penularnya.

A. KONSEP PENANGGULANGAN EPIDEMIOLOGI (PE) DAN


PENANGGULANGAN FOKUS (PF)
1. Konsep Penyelidikan Epidemiologi (PE)
a. Pengertian Penyelidikan Epidemiologi (PE)
Penyelidikan epidemiologi (PE) adalah kegiatan pencarian penderita DBD
atau tersangka DBD lainnya dan pemeriksaan jentik nyamuk penular DBD di
tempat tinggal penderita dan rumah/bangunan sekitar, termasuk tempat-tempat
umum dalam radius sekurang-kurangnya 100 meter.
b. Tujuan Penyelidikan Epidemiologi
1) Tujuan Umum:
Mengetahui potensi penularan dan penyebaran DBD lebih lanjut serta
tindakan penanggulangan yang perlu dilakukan di wilayah sekitar tempat
tinggal penderita.
2) Tujuan khusus:
 Mengetahui adanya penderita dan tersangka DBD lainnya
 Mengetahui ada /tidaknya jentik nyamuk penular DBD
 Menentukan jenis tindakan (penanggulangan fokus) yang akan
dilakukan
c. Langkah- Langkah Pelaksanaan Kegiatan Penyelidikan Epidemiologi:
1) Setelah menemukan/menerima laporan adanya penderita DBD, petugas
Puskesmas/ Koordinator DBD segera mencatat dalam Buku catatan Harian
Penderita DBD.
2) Menyiapkan peralatan survei, seperti: tensimeter, termometer, senter,
formulir PE, dan surat tugas.
3) Memberitahukan kepada Kades/Lurah dan Ketua RW/RT setempat bahwa
di wilayahnya ada penderita DBD dan akan dilaksanakan PE.
4) Masyarakat di lokasi tempat tinggal penderita membantu kelancaran
pelaksanaan PE.
5) Pelaksanaan PE sebagai berikut:
a) Petugas Puskesmas memperkenalkan diri dan selanjutnya melakukan
wawancara dengan keluarga, untuk mengetahui ada tidaknya penderita
DBD lainnya (sudah ada konfirmasi dari rumah sakit atau unit
pelayanan kesehatan lainnya), dan penderita demam saat itu dalam
kurun waktu 1 minggu sebelumnya.
b) Bila ditemukan penderita demam tanpa sebab yang jelas, dilakukan
pemeriksaan kulit (petekie), dan uji torniquet.
c) Melakukan pemeriksaan jentik pada tempat penampungan air (TPA)
dan tempat-tempat lain yang dapat menjadi tempat perkembangbiakan
nyamuk Aedes aegypti baik di dalam maupun di luar rumah/bangunan.
d) Kegiatan PE dilakukan dalam radius 100 meter dari lokasi tempat
tinggal penderita.
e) Bila penderita adalah siswa sekolah dan pekerja, maka selain dilakukan
di rumah PE juga dilakukan di sekolah/tempat kerja penderita oleh
puskesmas setempat.
f) Hasil pemeriksaan adanya penderita DBD lainnya dan hasil
pemeriksaan terhadap penderita demam (tersangka DBD) dan
pemeriksaan jentik dicatat dalam formulir PE ( lampiran 15)
g) Hasil PE segera dilaporkan kepada kepala Dinas Kesehatan
Kabupaten/Kota, untuk tindak lanjut lapangan dikoordinasikan dengan
Kades/Lurah ( lampiran 16)
h) Bila hasil PE positif (Ditemukan 1 atau lebih penderita DBD lainnya
dan/atau ≥ 3 orang tersangka DBD, dan ditemukan jentik (≥5%),
dilakukan penanggulangan fokus (Fogging, Penyuluhan, PSN dan
Larvasidasi selektif), sedangkan bila negatif dilakukan Penyuluhan,
PSN dan larvasidasi selektif (Lampiran 17).
2. Konsep Penanggulangan Fokus
a. Pengertian Penanggulangan Fokus
Penanggulangan fokus adalah kegiatan pemberantasan nyamuk penular DBD
yang dilaksanakan dengan melakukan pemberantasan sarang nyamuk demam
berdarah dengue (PSN DBD), larvasidasi, penyuluhan dan pengabutan panas
(pengasapan/fogging) dan pengabutan dingin (ULV) menggunakan insektisida
sesuai dengan kriteria pada bagan PE. Terdapat 2 macam fogging, yaitu:
 Fogging fokus
Fogging fokus adalah pemberantasan nyamuk DBD dengan cara
pengasapan yang terfokus pada daerah tempat ditemukannya tersangka
/ penderita DBD
 Fogging massal
Fogging massal adalah kegiatan pengasapan secara serentak dan
menyeluruh pada saat terjadi KLB DBD
b. Tujuan Penanggulangan Fokus
Penanggulangan fokus dilaksanakan untuk membatasi penularan DBD dan
mencegah terjadinya KLB di lokasi tempat tinggal penderita DBD dan
rumah/bangunan sekitar serta tempat-tempat umum berpotensi menjadi
sumber penularan DBD lebih lanjut.
c. Kriteria PF :
1) Bila ditemukan penderita DBD lainnya (1 atau lebih) atau ditemukan 3
atau lebih tersangka DBD dan ditemukan jentik ≥ 5 % dari
rumah/bangunan yang diperiksa, maka dilakukan penggerakan masyarakat
dalam PSN DBD, larvasidasi, penyuluhan dan pengasapan dengan
insektisida di rumah penderita DBD dan rumah/bangunan sekitarnya
radius 200 meter sebanyak 2 siklus dengan interval 1 minggu.
2) Bila tidak ditemukan penderita lainnya seperti tersebut di atas, tetapi
ditemukan jentik, maka dilakukan penggerakan masyarakat dalam PSN
DBD, larvasidasi dan penyuluhan.
3) Bila tidak ditemukan penderita lainnya seperti tersebut di atas dan tidak
ditemukan jentik, maka dilakukan penyuluhan kepada masyarakat.
d. Langkah- Langkah Pelaksanaan Kegiatan:
1) Setelah kades/lurah menerima laporan hasil PE dari Puskesmas dan
rencana koordinasi penanggulangan fokus, meminta ketua RW/RT agar
warga membantu kelancaran pelaksanaan penanggulangan fokus.
2) Ketua RW/RT menyampaikan jadwal kegiatan yang diterima dari petugas
puskesmas setempat dan mengajak warga untuk berpartisipasi dalam
kegiatan-kegiatan penanggulangan fokus.
3) Kegiatan penanggulangan fokus sesuai hasil PE:
a) Penggerakan masyarakat dalam PSN DBD dan larvasidasi:
 Ketua RW/RT, Toma (tokoh masyarakat) dan kader
memberikan pengarahan langsung kepada warga pada waktu
pelaksanaan PSN DBD.
 Penyuluhan dan penggerakkan masyarakat PSN DBD dan
larvasidasi dilaksanakan sebelum dilakukan pengabutan dengan
insektisida. (teknis pemberian larvasida agar dicantumkan).
b) Penyuluhan
Penyuluhan dilaksanakan oleh petugas kesehatan/kader atau kelompok
kerja (Pokja) DBD Desa/Kelurahan berkoordinasi dengan petugas
puskesmas, dengan materi antara lain:
 Situasi DBD di wilayahnya.
 Cara-cara pencegahan DBD yang dapat dilaksanakan oleh
individu, keluarga dan masyarakat disesuaikan dengan kondisi
setempat.
c) Pengabutan dengan insektisida
 Dilakukan oleh petugas puskesmas atau bekerjasama dengan
dinas kesehatan kabupaten/kota. Petugas penyemprot adalah
petugas puskesmas atau petugas harian lepas terlatih.
 Ketua RT, Toma atau kader mendampingi petugas dalam
kegiatan pengabutan. (di lapangan tidak hanya mendampingi
tapi juga melakukan penyuluhan).
4) Hasil pelaksanaan penanggulangan fokus dilaporkan oleh puskesmas
kepada dinas kesehatan kabupaten/kota dengan tembusan kepada camat
dan kades/lurah setempat.
5) Hasil kegiatan pengendalian DBD dilaporkan oleh puskesmas kepada
dinas kesehatan kabupaten/kota setiap bulan dengan menggunakan
formulir K-D.

Keterangan:

1. Penderita DBD :Penderita positif DBD (hidup/meninggal) yang dinyatakan oleh dokter
rumah sakit melalui test laboratorium dengan hasil haemoglobin dan hematokrit meningkat >
20% dan penurunan trombosit kurang dari 100.000/ mm3 atau cenderung turun.

2. Suspek Infeksi Dengue : Ditemukan gejala panas yang tidak diketahui penyebabnya saat
dilaksanakan PE.
B. PENANGGULANGAN KEJADIAN LUAR BIASA
1. Definisi KLB
Penanggulangan kejadian luar biasa (KLB) adalah upaya penanggulangan yang
meliputi: pengobatan/perawatan penderita, pemberantasan vektor penular DBD,
penyuluhan kepada masyarakat dan evaluasi/penilaian penanggulangan yang
dilakukan di seluruh wilayah yang terjadi KLB.
Sesuai Permenkes Nomor 1501 tahun 2010 disebutkan 7 Kriteria KLB, tetapi
untuk pengendalian DBD hanya ada 3 kriteria yang digunakan yaitu :
a. Timbulnya suatu penyakit menular tertentu (DBD) yang sebelumnya tidak ada
atau tidak dikenal pada suatu daerah.
b. Jumlah penderita baru (kasus DBD) dalam periode waktu (satu) bulan
menunjukkan kenaikan dua kali atau lebih dibandingkan dengan angka rata-
rata per bulan dalam tahun sebelumnya.
c. Angka kematian kasus suatu penyakit (Case Fatality Rate) dalam 1 (satu)
kurun waktu tertentu menunjukkan kenaikan 50% (lima puluh persen) atau
lebih dibandingkan dengan angka kematian kasus suatu penyakit periode
sebelumnya dalam kurun waktu yang sama.

Tujuan Penanggulangan Kejadian Luar Biasa adalah membatasi penularan DBD,


sehingga KLB yang terjadi di suatu wilayah tidak meluas ke wilayah lainnya.
(mengatasi KLB di wilayah sendiri dan membatasi kasus meluas)

Adapun terjadinya KLB DBD di Indonesia berhubungan dengan berbagai faktor


risiko, yaitu:

1) Lingkungan yang masih kondusif untuk terjadinya tempat perindukan


nyamuk Aedes.
2) Pemahaman masyarakat yang masih terbatas mengenai pentingnya
pemberantasan sarang nyamuk (PSN) 4M Plus.
3) Perluasan daerah endemic akibat perubahan dan manipulasi lingkungan
yang etrjadi karena urbanisasi dan pembangunan tempat pemukiman baru.
4) Meningkatnya mobilitas penduduk.

Petugas kesehatan termasuk perawat yang menemukan kasus/pasien tersangka


DBD diwajibkan melaporkan keberadaan kasus kepada puskesmas di daerah
atau tempat pasien berdomisili, dan membuat surat pengantar untuk
disampaikan kepada kepala desa/kelurahan melalui keluarga pasien. Laporan
kasus/tersangka DBD akan diteruskan kepada Dinas Kesehatan dengan
tembusan puskesmas yang bersangkutan. Pelaporan dilakukan 24 jam setelah
diagnosis klinis ditegakkan.

Jenis formulir laporan kasus DBD dari Puskesmas dan Rumah sakit dibedakan.
Laporan dari puskesmas dan Puskesmas Perawatan menggunakan Formulir So.
dan laporan dari Puskesmas Perawatan dan Rumah sakit/unit pelayanan
kesehatan menggunakan Formulir KDRS. Laporan juga dapat menggunakan
surat tersendiri, namun, harus memuat data : Nama, Jenis kelamin, Umur, Nama
kepala keluarga, Alamat, Tanggal mulai masuk Rumah Sakit/Puskesmas
Perawatan.
2. Langkah-langkah pelaksanaan penanggulangan KLB
Bila terjadi KLB/wabah, dilakukan penyemprotan insektisida (2 siklus dengan
interval 1 minggu), PSN DBD , larvasidasi, penyuluhan di seluruh wilayah
terjangkit, dan kegiatan penanggulangan lainnya yang diperlukan, seperti:
Pembentukan posko pengobatan dan posko penangggulangan, penyelidikan KLB,
pengumpulan dan pemeriksaan spesimen serta peningkatan kegiatan surveilans
kasus dan vektor, dan lain-lain.
a. Pengobatan dan Perawatan Penderita
Penderita DBD derajat 1 dan 2 dapat dirawat puskesmas yang mempunyai
fasilitas perawatan, sedangkan DBD derajat 3 dan 4 harus segera dirujuk ke
Rumah Sakit.
b. Pemberantasan Vektor
1) Penyemprotan insektisida (pengasapan / pengabutan)
 Pelaksana : Petugas dinas kesehatan kabupaten/kota, puskesmas,
dan tenaga lain yang telah dilatih.
 Lokasi : Meliputi seluruh wilayah terjangkit
 Sasaran : Rumah dan tempat-tempat umum
 Insektisida : Sesuai dengan dosis
 Alat : hot fogger/mesin pengabut atau ULV
 Cara : Fogging/ULV dilaksanakan 2 siklus dengan interval satu
minggu (petunjuk fogging terlampir)
2) Pemberantasan sarang jentik/nyamuk demam berdarah dengue (PSN
DBD)
Salah satu bentuk pencegahan penyakit DBD adalah melalui kegiatan
Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) yang secara rutin dilakukan
seminggu sekali. Pemerintah DKI Jakarta melalui Perda No. 2 Tahun 2007
secara jelas mewajibkan warganya untuk melakukan kegiatan PSN secara
rutin dalam rangka memutuskan rantai perkembangbiakan nyamuk Aedes
aegypti. PSN adalah kegiatan pencegah penularan penyakit DBD melalui
kegiatan 4M Plus.
Empat M Plus artinya (1) menutup tempat penampungan air, (2) menguras
tempat penampungan air secara rutin minimal seminggu sekali, (3)
mengubur tempat penampungan air yang tidak terpakai, dan (4) memantau
jentik nyamuk seminggu sekali. Plus (+) disini artinya menghindari gigitan
nyamuk menggunakan repelen anti nyamuk, menanam tanaman pengusir
nyamuk, melakukan larvasidasi, dan menggunakan kelambu.
 Pelaksana : Masyarakat di lingkungan masing-masing.
 Lokasi : Meliputi seluruh wilayah terjangkit dan wilayah sekitarnya
yang merupakan satu kesatuan epidemiologis
 Sasaran : Semua tempat potensial bagi perindukkan nyamuk:
tempat penampungan air,barang bekas (botol aqua, pecahan
gelas,ban bekas, dll) lubang pohon/tiang pagar/pelepah pisang,
tempat minum burung, alas pot, dispenser, tempat penampungan
air di bawah kulkas, dibelakang kulkas dsb, di rumah/bangunan
dan tempat umum
 Cara : Melakukan kegiatan 4 M plus.
Contoh :
o Menguras dan menyikat Tempat Penampung Air (TPA)
o Menutup Tempat Penampung Air
o Memanfaatkan atau mendaur ulang barang bekas yang
dapat menjadi TPA
o Memantau jentik nyamuk seminggu sekali
PLUS :
o Menaburkan bubuk larvasida
o Memelihara ikan pemakan jentik
o Menanam pohon pengusir nyamuk (sereh, zodia, lavender,
geranium)
o Memakai obat anti nyamuk(semprot, bakar maupun oles),
o Menggunakan kelambu, pasang kawat kasa, dll.
o Menggunakan cara lain disesuaikan dengan kearifan lokal.
3) Larvasidasi
Larvasidasi adalah pemberantasan jentik dengan menaburkan bubuk
larvasida. Bila fogging dilakukan untuk memberantas nyamuk dewasa,
maka larvasidasi bertujuan untuk memberantas jentik (larva) nyamuk
terutama di tempat-tempat penampungan air yang tidak dapat dikuras atau
dibersihkan, juga dianjurkan pada daerah yang sulit air. Oleh karena itu,
larvasidasi merupakan upaya yang saling berkaitan dengan kegiatan PSN
dan fogging.
Pemakaian bahan kimia untuk memberantas larva nyamuk dikenal sebagai
larvasidasi. Bahan kimianya disebut larvasida. Pada umumnya nyamuk
membutuhkan air pada periode perkembangannya. Keuntungan pemakaian
larvasida adalah (1) Semua larva dari berbagai stadium dapat dibunuh dan
(2) Daerah yang dilarvasidasi terbatas pada tempat perindukan (breeding
places).
Sedangkan kerugiannya adalah pengaruh larvasida bersifat sementara
sehingga membutuhkan aplikasi ulangan dan beberapa larvasida
mempunyai pengaruh yang tidak menguntungkan terutama terhadap
predator complex (anti larva). Larvasidasi dilakukan pada tempat
penampungan air yang tidak dapat dikuras/ jarang dibersihkan, juga
dianjurkan pada daerah yang sulit air. Bila wadah telah diberi larvasida
maka jangan dikuras selama 2-3 bulan. Kegiatan ini tepat digunakan
apabila surveilans epidemiologi penyakit penyakit dan vektor
menunjukkan adanya periode berisiko tinggi dan di lokasi dimana KLB
mungkin timbul. Menentukan waktu dan tempat yang tepat untuk
pelaksanan larvasidasi sangat penting untuk memaksimalkan
efektivitasnya.
Kegiatan larvasidasi meliputi :
A. Larvasidasi Selektif
Larvasidasi selektif adalah kegiatan pemeriksaan tempat penampungan
air (TPA) baik di dalam maupun di luar rumah pada seluruh rumah dan
bangunan di desa/kelurahan endemis dan sporadis serta penaburan
bubuk larvasida pada TPA yang ditemukan jentik dan dilaksanakan 4
kali dalam 1 tahun (3 bulan sekali). Pelaksana larvasidasi adalah kader
yang telah dilatih oleh petugas Puskesmas. Tujuan larvasidasi selektif
adalah sebagai tindakan sweeping hasil penggerakan masyarakat dalam
Pemberantasan Sarang Nyamuk.
B. Larvasidasi Massal
Larvasidasi massal adalah penaburan bubuk larvasida secara serentak
diseluruh wilayah/daerah tertentu di semua tempat penampungan air
baik terdapat jentik maupun tidak ada jentik di seluruh bangunan
termasuk rumah, kantor-kantor dan sekolah. Kegiatan larvasidasi
massal ini dilaksanakan di lokasi terjadinya KLB.

Terdapat 2 jenis larvasidasi (insektisida) yang dapat digunakan pada


wadah yang dipakai untuk menampung air bersih (TPA) yakni :
(1) Temephos 1%
Formulasi yang digunakan adalah granules (sand granules).
Dosis yang digunakan adalah 1 ppm atau 10 gram (± 1 sdm
rata) untuk tiap 100 L air. Dosis ini telah terbukti efektif
selama 8-12 minggu (2-3 bulan).
(2) Insect Growth Regulators (Pengatur Pertumbuhan Serangga )
Insect Growth Regulators (IGRs) mampu menghalang
pertumbuhan nyamuk dimasa sebelum dewasa dengan
menghambat proses chitin synthesis selama masa jentik
berganti atau mengacaukan proses perubahan pupa menjadi
nyamuk dewasa. Contoh IGRs adalah Methroprene dan
Phyriproiphene. Secara umum IGRS akan memberikan efek
ketahanan 3-6 bulan dengan dosis yang cukup rendah bila
digunakan di dalam tempat penampungan air.
Bubuk abate yang digunakan pada kegiatan ini adalah Temephos 1% SG.
Temephos merupakan larvasida golongan organofosfat. Temephos
mempunyai sifat daya racun yang rendah terhadap binatang berdarah
panas, ikan dan organisme non target lain. LD50 terhadap tikus putih
adalah 1300mg/kg BB per oral, dan lebih dari 4000 mg/kg BB apabila
melalui kulit.
 Pelaksana : Tenaga dari masyarakat dengan bimbingan petugas
puskesmas/dinas kesehatan kabupaten/kota
 Lokasi : Meliputi seluruh wilayah terjangkit
 Sasaran : Tempat Penampungan Air (TPA) di rumah dan
Tempat-Tempat Umum (TTU)
 Larvasida : Sesuai dengan dosis
 Cara : larvasidasi dilaksanakan diseluruh wilayah KLB
4) Standar Baku Mutu Kesehatan Lingkungan
Standar Baku Mutu Kesehatan Lingkungan untuk Vektor dan Binatang
Pembawa Penyakit terdiri dari jenis, kepadatan, dan habitat
perkembangbiakan. Jenis dalam hal ini adalah nama/genus/spesies Vektor
dan Binatang Pembawa Penyakit. Kepadatan dalam hal ini adalah angka
yang menunjukkan jumlah Vektor dan Binatang Pembawa Penyakit dalam
satuan tertentu sesuai dengan jenisnya, baik periode pradewasa maupun
periode dewasa. Habitat perkembangbiakan adalah tempat berkembangnya
periode pradewasa Vektor dan Binatang Pembawa Penyakit. Standar Baku
Mutu Kesehatan Lingkungan tersebut dapat dilihat sebagaimana pada
Tabel 2.1. dan Tabel 2.2. di bawah ini.
5) Status Resistensi
Status resistensi adalah suatu keadaan yang menunjukkan tingkat
kemampuan populasi Vektor dan Binatang Pembawa Penyakit untuk
bertahan hidup terhadap suatu dosis pestisida yang dalam keadaan normal
dapat membunuh spesies Vektor dan Binatang Pembawa Penyakit
tersebut. Definisi tersebut mengindikasikan bahwa fenomena resistensi
terjadi setelah populasi Vektor dan Binatang Pembawa Penyakit itu
terpapar oleh pestisida.
Tujuan penentuan status resistensi adalah untuk menentukan resistensi
Vektor dan Binatang Pembawa Penyakit terhadap pestisida yang
digunakan, mengidentifikasi mekanisme resistensi yang berperan, dan
memberikan pertimbangan dalam menyusun strategi pengendalian Vektor
dan Binatang Pembawa Penyakit di lapangan.
Penentuan resistensi didapat berdasarkan hasil pengujian menggunakan
impregnated paper sesuai standar, CDC bottle, maupun melalui
pemeriksaan biomolekuler. Fenomena resistensi merupakan hambatan
serius bagi upaya pengendalian Vektor dan Binatang Pembawa Penyakit.
Masalah resistensi diperparah oleh karena terjadinya resistensi tidak hanya
muncul secara tunggal terhadap pestisida tertentu yang digunakan, tetapi
dapat juga terjadi secara ganda (multiple resistance) atau silang (cross
resistance).
Resistensi di lapangan ditandai oleh menurunnya efektivitas suatu
pestisida dan tidak terjadi dalam waktu singkat. Resistensi pestisida
berkembang setelah adanya proses seleksi pada serangga Vektor yang
diberi perlakuan pestisida secara terus menerus. Di alam, frekuensi alel
individu rentan lebih besar dibandingkan dengan frekuensi individu
resisten, dan frekuensi alel homosigot resisten (RR) berkisar antara 10-2
sampai 10-3. Artinya, individu-individu yang resisten sesungguhnya di
alam sangat sedikit. Adanya seleksi yang terus-menerus oleh paparan
pestisida, maka jumlah individu yang rentan dalam suatu populasi juga
menjadi semakin sedikit. Individu-individu resisten akan kawin satu
dengan lainnya sehingga menghasilkan keturunan yang resisten. Dari
generasi ke generasi proporsi individu-individu resisten dalam suatu
populasi akan semakin meningkat dan akhirnya populasi tersebut akan
didominansi oleh individu-individu yang resisten.
Faktor-faktor yang menyebabkan berkembangnya resistensi meliputi
faktor genetik, bioekologi, dan operasional. Faktor genetik antara lain
frekuensi, jumlah, dan dominansi alela resisten. Faktor bioekologi meliputi
perilaku Vektor, jumlah generasi per tahun, keperidian, mobilitas, dan
migrasi. Faktor operasional meliputi jenis dan mekanisme pestisida yang
digunakan, jenis-jenis pestisida yang digunakan sebelumnya, persistensi,
jumlah aplikasi dan stadium sasaran, dosis, frekuensi dan cara aplikasi,
bentuk formulasi, dan lain-lain. Faktor genetik dan bioekologi lebih sulit
dikelola dibandingkan dengan faktor operasional. Faktor genetik dan
biologi merupakan sifat asli serangga sehingga di luar pengendalian
manusia.
Intensitas resistensi dapat diukur melalui uji laboratorium. Prinsipnya
adalah membandingkan respon terhadap pestisida tertentu, antara populasi
yang dianggap resisten dengan populasi yang jelas diketahui masih rentan.
Upaya deteksi dan monitoring resistensi terhadap pestisida perlu dilakukan
sedini mungkin. Apabila terjadi kegagalan dalam pengendalian dengan
pestisida terhadap Vektor maka kemungkinannya terjadi karena
berkembangnya populasi resisten.
Metode deteksi dan monitoring resistensi yang dipilih adalah metode
deteksi yang cepat, dapat dipercaya untuk mendeteksi tingkatan rendah
terjadinya resistensi di populasi serangga. Metode yang sudah lama
digunakan adalah dengan bioassay, yaitu metode yang menggunakan
hewan hidup sebagai bahan uji coba (uji hayati). Apabila dari metode
bioassay tersebut diperoleh hasil resisten, maka perlu dilakukan pengujian
biokimia dan biomolekuler untuk mengidentifikasikan mekanisme
resistensi.
Metode biokimia menuntut lebih banyak peralatan yang lebih canggih dan
lebih mahal daripada metode bioassay. Berikutnya adalah metode genetika
molekuler untuk mendeteksi keberadaan gen resisten dan memastikan
kejadian resisten genetik (mutasi genetik).
Kegiatan uji resistensi meliputi:
1. menentukan jenis dan golongan pestisida uji kerentanan;
2. menyiapkan serangga/hewan uji kerentanan;
3. menetapkan metode uji kerentanan;
4. menyiapkan bahan dan perlatan uji kerentanan;
5. menentukan lokasi dan tenaga uji kerentanan;
6. pelaksanaan dan analisis uji kerentanan; dan
7. penyusunan laporan hasil uji kerentanan.
Pengujian resistensi dilakukan oleh lembaga/laboratorium yang
menyelenggarakan fungsi pemeriksaan bidang entomologi. Berdasarkan
hasil uji bioassay, status resistensi ditentukan berdasarkan persentase
kematian nyamuk uji setelah periode pengamatan/pemeliharaan 24 jam,
yang dikelompokkan menjadi rentan, resisten moderat, dan resisten tinggi.
Dinyatakan rentan apabila kematian nyamuk uji ≥98%, resisten moderat
apabila kematian nyamuk uji 90-<98%, dan resisten tinggi apabila
kematian nyamuk uji <90%. Jika hasil uji menunjukkan kematian dibawah
90% maka dicurigai adanya resisten genetik sehingga perlu dilakukan uji
lanjutan secara genetik/biokimiawi.
6) Efikasi
Efikasi adalah kekuatan pestisida atau daya bunuh pestisida yang
digunakan untuk pengendalian Vektor dewasa dan larva, serta Binatang
Pembawa Penyakit. Pemeriksaan dan pengujian efikasi pestisida dapat
dilakukan sebelum atau pada saat bahan pengendalian (pestisida)
digunakan atau diaplikasikan di lapangan. Pemeriksaan efikasi dapat
menggunakan Vektor dan Binatang Pembawa Penyakit yang berasal dari
lapangan tempat aplikasi maupun hasil pembiakan di laboratorium.
Pengujian efikasi dilakukan oleh lembaga/laboratorium yang
menyelenggarakan fungsi pemeriksaan bidang entomologi.
Penentuan efikasi pestisida berdasarkan pemeriksaan dan pengujian
efikasi. Pestisida dinyatakan efektif apabila dapat membunuh 80% atau
lebih Vektor dan Binatang Pembawa Penyakit yang digunakan untuk
pengujian.
Kegiatan pengujian efikasi meliputi:
1. menentukan jenis dan golongan pestisida;
2. menyiapkan Vektor dan Binatang Pembawa Penyakit;
3. menyiapkan bahan dan peralatan;
4. menentukan metode;
5. menentukan lokasi dan tenaga;
6. pelaksanaan dan analisis; dan
7. penyusunan laporan hasil.
7) Pengendalian Metode Fisik
Pengendalian Vektor dan Binatang Pembawa Penyakit dengan metode
fisik dilakukan dengan cara menggunakan atau menghilangkan material
fisik untuk menurunkan populasi Vektor dan Binatang Pembawa Penyakit.
Beberapa metode pengendalian Vektor dan Binatang Pembawa Penyakit
dengan metode fisik antara lain sebagai berikut.
1. Mengubah salinitas dan/atau derajat keasaman (pH) air
Metode ini digunakan terutama untuk pengendalian Vektor malaria di
daerah pantai dengan membuat saluran penghubung pada lagoon
sebagai habitat perkembangbiakan Vektor sehingga salinitas atau
derajat keasaman (pH) akan berubah dan tidak dapat menjadi tempat
berkembangbiaknya larva Anopheles spp.
Langkah-langkah kegiatan dalam metode ini meliputi:
a. memetakan habitat perkembangbiakan;
b. mengukur kadar salinitas dan/atau derajat keasaman (pH) air;
c. membuat saluran penghubung;
d. memelihara aliran saluran penghubung; dan
e. memonitor kadar salinitas dan/atau derajat keasaman (pH) air
serta keberadaan larva.
2. Penggunaan raket listrik
Raket listrik digunakan untuk pengendalian nyamuk dan serangga
terbang lainnya, dengan cara memukulkan raket yang mengandung
aliran listrik ke nyamuk/serangga lainnya.
8) Pengendalian Metode Biologi
Pengendalian metode biologi dilakukan dengan memanfaatkan organisme
yang bersifat predator dan organisme yang menghasilkan toksin.
Organisme yang bersifat predator antara lain ikan kepala timah, ikan
cupang, ikan nila, ikan sepat, Copepoda, nimfa capung, berudu katak, larva
nyamuk Toxorhynchites spp. dan organisme lainnya. Organisme yang
menghasilkan toksin antara lain Bacillus thuringiensisisraelensis, Bacillus
sphaericus, virus, parasit, jamur dan organisme lainnya. Selain itu juga
dapat memanfaatkan tanaman pengusir/anti nyamuk.
Penggunaan metode ini dianjurkan untuk dilakukan secara
berkesinambungan agar memberikan hasil yang optimal sebagai metode
yang diprioritaskan dalam pengendalian Vektor dan Binatang Pembawa
Penyakit karena tidak memberikan efek atau dampak pencemaran
lingkungan. Langkah-langkah yang dilakukan dalam metode ini meliputi:
a. Identifikasi habitat perkembangbiakan dan cara aplikasi pengendalian
Vektor dan Binatang Pembawa Penyakit;
b. Melakukan persiapan dan kesiapan alat dan bahan, operator, dan
pemetaan lokasi; dan
c. Melakukan uji efektifitas secara berkala.

Agar metode pengendalian secara biologi ini berjalan efektif harus:

1. memperhatikan tipe habitat perkembangbiakan;


2. dilakukan secara berkesinambungan; dan
3. memperhatikan rasio atau perbandingan antara luas area dan agen
biologi yang akan digunakan

9) Pengendalian Metode Kimia


Pengendalian Vektor dan Binatang Pembawa Penyakit melalui metode
kimia dengan menggunakan bahan kimia (pestisida) untuk menurunkan
populasi Vektor dan Binatang Pembawa Penyakit secara cepat dalam
situasi atau kondisi tertentu, seperti KLB/wabah atau kejadian matra
lainnya. Belajar dari pembasmian malaria yang menggunakan bahan kimia
berupa Dichloro Diphenyl Trichloroethane (DDT), di satu sisi sangat
efektif dapat menurunkan angka kesakitan dan kematian malaria, namun di
sisi lainnya penggunaan DDT secara masif tanpa adanya pengawasan
dapat menyebabkan dampak persistensi yang dapat menimbulkan
gangguan kesehatan lingkungan yang luas dan resistensi Vektor sasaran.
Penggunaan bahan kimia dalam pengendalian Vektor dan Binatang
Pembawa Penyakit merupakan elemen yang penting untuk
dipertimbangkan implementasinya dalam pengendalian penyakit tular
Vektor dan Zoonotik. Penggunaan pestisida dalam pengendalian Vektor
dan Binatang Pembawa Penyakit juga merupakan elemen penting dalam
strategi pendekatan pengendalian terpadu terhadap Vektor dan Binatang
Pembawa Penyakit yang dipilih kombinasinya dengan pengendalian
metode biologi dan pengelolaan lingkungan akan efektif penggunaannya.
Badan Kesehatan Dunia (WHO) juga mempromosikan penggunaaan bahan
kimia dalam pengendalian Vektor dan Binatang Pembawa Penyakit secara
bijaksana, mempertimbangkan keamanan, berorientasi target, dan secara
efektif.
Pengendalian pestisida dalam implementasinya akan membawa dampak
yang menguntungkan, efektif, dan efisien apabila mempertimbangkan
spesies target sasaran; biologi dan habitat sasaran; dinamika populasi
target sasaran; ketepatan dosis, metode, dan waktu pengaplikasiannya;
serta standar alat yang digunakan. Selain itu, penggunaan pestisida juga
harus selalu dimonitor dan dievaluasi secara terus menerus.
Perkembangan teknologi baru dalam formulasi dan pengaplikasian
pestisida perlu mendapatkan perhatian, baik dalam kelayakan aspek
penggunaan lokal spesifik atau secara nasional, dampak akibat
pengaplikasiannya, maupun pertimbangan lainnya.
Meskipun penggunaan pestisida rumah tangga untuk pengendalian Vektor
dan Binatang Pembawa Penyakit secara menyeluruh relatif lebih kecil
dibandingkan dengan penggunaan pestisida di bidang tanaman pangan dan
pertanian serta industri, tetapi terbukti penggunaan pestisida rumah tangga
menimbulkan dampak resistensi Vektor dan Binatang Pembawa Penyakit
terhadap satu jenis atau lebih pestisida yang digunakan. Proses terjadinya
resistensi dapat terjadi karena dipengaruhi oleh berbagai faktor yang
secara komprehensif pada sisi lain dapat menimbulkan penurunan efikasi
pestisida yang digunakan. Rekomendasi menaikkan dosis aplikasi
merupakan langkah yang semestinya tidak dianjurkan karena dapat
menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan kehidupan manusia dan
organisme bukan sasaran. Munculnya resistensi genetik, peningkatan dosis
aplikasi yang tidak dianjurkan, dan penggantian pestisida baru merupakan
langkah yang menyebabkan meningkatnya biaya, masalah logistik, dan
dampak sosiologis dalam pengendalian Vektor dan Binatang Pembawa
Penyakit.
Penggunaan pestisida harus dilakukan secara rasional, efektif, efisien, dan
dapat diterima di masyarakat, di bawah pengawasan tenaga yang memiliki
kompetensi di bidang entomologi serta merupakan upaya terakhir dalam
pengendalian Vektor dan Binatang Pembawa Penyakit.
Langkah-langkah yang dilakukan dalam metode ini meliputi:
1. melakukan uji efikasi pestisida, untuk memastikan bahwa pestisida
masih efektif mematikan Vektor dan Binatang Pembawa Penyakit;
2. melakukan uji kerentanan Vektor dan Binatang Pembawa Penyakit,
untuk memastikan bahwa Vektor dan Binatang

Pembawa Penyakit tidak resisten terhadap pestisida yang akan digunakan;

a. pemilihan cara aplikasi pengendalian Vektor dan Binatang Pembawa


Penyakit;
b. melakukan persiapan dan kesiapan alat dan bahan, tenaga, dan
pemetaan lokasi;
c. pemberitahuan kepada masyarakat lokasi aplikasi;
d. pelaksanaan aplikasi pengendalian Vektor dan Binatang Pembawa
Penyakit menggunakan pestisida;
e. pencatatan dan pelaporan;
f. evaluasi secara berkala terhadap Vektor dan Binatang Pembawa
Penyakit, efikasi pestisida, dan status kerentanan Vektor; dan
g. melakukan penggantian jenis pestisida secara berkala.

Pengendalian Vektor dan Binatang Pembawa Penyakit dalam rumah


tangga yang menggunakan pestisida rumah tangga yang dijual bebas di
pasaran harus memperhatikan aturan pakai yang tertera pada label produk
agar aman, efektif, dan efisien.

10) Pengelolaan Lingkungan


Pengelolaan lingkungan meliputi modifikasi lingkungan (permanen) dan
manipulasi lingkungan (temporer).
1. Modifikasi lingkungan (permanen)
Modifikasi lingkungan atau pengelolaan lingkungan bersifat permanen
dilakukan dengan penimbunan habitat perkembangbiakan, mendaur
ulang habitat potensial, menutup retakan dan celah bangunan,
membuat kontruksi bangunan anti tikus (rat proof), pengaliran air
(drainase), pengelolaan sampah yang memenuhi syarat kesehatan,
peniadaan sarang tikus, dan penanaman mangrove pada daerah pantai.
Langkah-langkah yang dilakukan dalam modifikasi lingkungan atau
pengelolaan lingkungan bersifat permanen meliputi:
a) melakukan kajian lingkungan dalam rangka pemetaan habitat
perkembangbiakan;
b) persiapan dan kesiapan alat dan bahan; dan
c) pengukuran kepadatan Vektor dan Binatang Pembawa Penyakit.
2. Manipulasi lingkungan (temporer)
Manipulasi lingkungan atau pengelolaan lingkungan bersifat sementara
(temporer) dilakukan dengan pengangkatan lumut, serta pengurasan
penyimpanan air bersih secara rutin dan berkala.
Langkah-langkah yang dilakukan dalam manipulasi lingkungan atau
pengelolaan lingkungan bersifat sementara (temporer) meliputi:
1) melakukan kajian lingkungan dalam rangka pemetaan habitat
perkembangbiakan;
2) persiapan dan kesiapan alat dan bahan;
3) pengukuran kepadatan Vektor dan Binatang Pembawa Penyakit;
dan
4) pemeliharaan keberlangsungan pengendalian Vektor dan Binatang
Pembawa Penyakit dengan pengelolaan lingkungan secara
sementara.
11) Pengendalian Terpadu terhadap Vektor dan Binatang Pembawa Penyakit
Pengendalian terpadu merupakan pendekatan yang menggunakan
kombinasi beberapa metode pengendalian Vektor dan Binatang Pembawa
Penyakit yang dilakukan berdasarkan azas keamanan, rasionalitas, dan
efektifitas, serta dengan mempertimbangkan kelestarian keberhasilannya.
Setiap metode pengendalian mempunyai kelebihan dan kelemahan
masing-masing. Kombinasi beberapa metode yang dilakukan secara
terpadu akan dapat menutupi kekurangan masing-masing, sehingga
kegagalan pengendalian Vektor dan Binatang Pembawa Penyakit dapat
diminimalisir. Lebih dari itu, pengendalian Vektor terpadu diharapkan
dapat mengurangi penggunakan pestisida.
Metode terpadu diaplikasikan terhadap lingkungan dengan pertimbangan:
i. sasaran Vektor dan Binatang Pembawa Penyakit, jika
memungkinkan untuk beberapa penyakit;
ii. teknologi tepat guna;
iii. efektifitas dan efisiensi;
iv. peluang kerja; dan
v. integrasi atau keterpaduan.

Penerapan metode terpadu ini dapat dilakukan dengan:

a. Biofisika, misalnya melepaskan predator dan pemasangan


perangkap;
b. Biokimiawi, misalnya melepaskan predator dan menggunakan
pestisida;
c. Bioenviro, misalnya melepaskan predator dan melakukan rekayasa
lingkungan;
d. Fisikakimiawi, misalnya pemasangan perangkap dan
menggunakan kelambu berpestisida;
e. Biofisikakimiawi, misalnya melepaskan predator, pemasangan
perangkap, dan menggunakan kelambu berpestisida;
f. Bioenvirofisikakimiawi, misalnya melepaskan predator,
melakukan rekayasa lingkungan, pemasangan perangkap, dan
menggunakan pestisida;
g. dan lain-lain.

Langkah-langkah pengendalian terpadu antara lain:

1) tentukan semua jenis pengendalian Vektor dan/atau Binatang


Pembawa Penyakit pada setiap metode (baik fisik, biologi dan
kimia);
2) tentukan semua jenis pengendalian yang dapat dilakukan dengan
mempertimbangkan sumber daya yang ada;
3) dari jenis-jenis dan metode yang terpilih lakukan perencanaan
secara matang dengan melibatkan LP/LS;
4) dari jenis-jenis dan metode yang terpilih dan telah direncanakan,
kegiatannya dilakukan dalam waktu yang bersamaan; dan
5) setelah dilakukan pengendalian terpadu, lakukan evaluasi
kepadatan Vektor dan/atau binatang penbawa penyakit secara
berkala, minimal 6 (enam) bulan sekali.

Dalam melaksanakan pengendalian terpadu dibutuhkan peran lintas


program dan/atau lintas sektor (LP/LS). Lintas sektor yang terkait dalam
pengendalian terpadu di pusat, antara lain Kementerian Koordinator
Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Kementerian Dalam Negeri,
Kementerian Kesehatan, Kementerian Pertanian, Kementerian
Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Kementerian Perhubungan,
Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Kementerian
Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal, serta kementerian lain yang
terkait. Sementara itu, lintas sektor di daerah antara lain dinas kesehatan,
dinas pendidikan, dinas pekerjaan umum, dinas pertanian, dinas
perikanan, dan dinas lain yang terkait.

12) Manajemen resistensi


Manajemen resistensi adalah semua tindakan yang dilakukan untuk
mencegah, menghambat, dan mengatasi terjadinya resistensi pada Vektor
dan Binatang Pembawa Penyakit terhadap pestisida. Manajemen resistensi
ditujukan agar pengendalian Vektor dan Binatang Pembawa Penyakit
terarah dan tepat sasaran.
Dalam melaksanakan Manajemen Resistensi harus memperhatikan prinsip-
prinsip sebagai berikut.
a. Metode penggunaan pestisida merupakan pilihan terakhir
Pengendalian Vektor dan Binatang Pembawa Penyakit dengan
metode kimia yang menggunakan pestisida merupakan pilihan
terakhir, setelah metode fisik dan biologi tidak signifikan menurunkan
populasi Vektor dan Binatang Pembawa Penyakit serta menurunkan
kasus penyakit. Hal ini dikarenakan pemakaian pestisida yang terus-
menerus dapat mempercepat terjadinya resistensi dan dapat
menimbulkan residu lingkungan yang berbahaya bagi manusia dan
lingkungan. Dengan mengurangi penggunaan pestisida maka
resistensi Vektor dan Binatang Pembawa Penyakit dapat ditekan atau
dihindari
b. Penggunaan pestisida harus sesuai dengan dosis yang tercantum pada
label petunjuk dari pabrikan
c. Pestisida dari jenis yang berbeda dari golongan yang sama ataupun
golongan yang berbeda dengan mekanisme kerja yang sama dianggap
sebagai bahan yang sama. Dalam satu golongan pestisida dapat terdiri
dari berberapa jenis, yang mempunyai mekanisme kerja yang sama
dalam mematikan Vektor dan Binatang Pembawa Penyakit sasaran,
sehingga dinyatakan sebagai bahan yang sama. Demikian juga untuk
golongan yang berbeda, tetapi memiliki mekanisme kerja yang sama
d. Melakukan penggantian golongan pestisida apabila terjadi resistensi
di suatu wilayah. Apabila terjadi resistensi Vektor dan Binatang
Pembawa Penyakit di suatu wilayah, maka penggantian pestisida
dilakukan atas dasar golongan yang berbeda, yang memiliki
mekanisme kerja yang berbeda pula. Hal ini akan membantu menekan
terjadinya resistensi Vektor dan Binatang Pembawa Penyakit.
e. Menghindari penggunaan satu golongan pestisida untuk target pada
pradewasa dan dewasa
Sifat resistensi diturunkan/diteruskan dari fase pradewasa ke dewasa,
bahkan diteruskan ke generasi berikutnya. Oleh karena itu, terjadinya
resistensi pada fase pradewasa akan tetap dibawa pada fase dewasa
apabila menggunakan pestisida dari golongan yang sama. Dengan
demikian, apabila pada pradewasa telah terjadi resisten pada golongan
tertentu, maka pengendalian fase dewasa harus dari golongan pestisida
yang berbeda

13) Pengendalian Vektor dan Binatang Pembawa Penyakit Pada Lingkungan


Dan Kondisi Tertentu
Pengendalian Vektor dan Binatang Pembawa Penyakit pada lingkungan
tertentu antara lain pada wilayah pelabuhan, bandar udara, dan pos lintas
batas darat negara, dimana merupakan pintu masuk negara yang harus
bebas Vektor dan Binatang Pembawa Penyakit sesuai dengan ketentuan
hukum internasional. Dengan demikian tujuan pengendalian Vektor dan
Binatang Pembawa Penyakit di wilayah pelabuhan, bandar udara, dan pos
lintas batas darat negara adalah untuk meniadakan Vektor dan Binatang
Pembawa Penyakit. Sedangkan kondisi tertentu antara lain kejadian luar
biasa dan kondisi matra.
Dalam rangka mencapai tujuan pengendalian Vektor dan Binatang
Pembawa Penyakit di wilayah pelabuhan, bandar udara, dan pos lintas
batas negara atau pada kondisi tertentu, perlu dilakukan surveilans secara
rutin minimal sebulan sekali atau sesuai kebutuhan. Apabila hasil
surveilans ditemukan Vektor dan Binatang Pembawa Penyakit, maka harus
dilakukan upaya pengendalian Vektor secara terpadu.
Pengendalian dan surveilans Vektor dan Binatang Pembawa Penyakit di
wilayah pelabuhan, bandar udara, dan pos lintas batas darat negara atau
pada kondisi tertentu dilakukan oleh tenaga entomolog kesehatan atau
tenaga kesehatan lainnya yang terlatih dibidang entomolog kesehatan.

14) Pengendalian Vektor dan Binatang Pembawa Penyakit oleh Kader


Kesehatan atau Penghuni/Anggota Keluarga
Pengendalian Vektor dan Binatang Pembawa Penyakit dapat dilakukan
oleh kader kesehatan atau penghuni/anggota keluarga yang terlatih,
meliputi:
i. pengamatan Vektor dan Binatang Pembawa Penyakit
ii. pengamatan habitat perkembangbiakan
iii. pengamatan lingkungan
iv. larvasidasi
v. pengendalian dengan metode fisik
vi. pengendalian dengan metode biologi dan kimia secara terbatas
sanitasi lingkungan

Yang dimaksud dengan pengendalian metode biologi dan kimia secara


terbatas adalah kegiatan pengendalian yang hanya diperbolehkan untuk
penggunaan losion anti nyamuk, pestisida rumah tangga, penaburan ikan,
dan penanaman tanaman pengusir/anti nyamuk.

c. Penyuluhan
Penyuluhan dilakukan oleh dinas kesehatan kabupaten/kota bersama
Puskesmas.
3. Evaluasi Penanggulangan Kejadian Luar Biasa (KLB)
a. Evaluasi pelaksanaan penanggulangan KLB
Penilaian operasional ditujukan untuk mengetahui persentase (coverage)
pemberantasan vektor dari jumlah yang direncanakan. Penilaian ini dilakukan
dengan melakukan kunjungan rumah secara acak dan wilayah-wilayah yang
direncanakan untuk pengabutan, larvasidasi dan penyuluhan.
Pada kunjungan tersebut dilakukan wawancara apakah rumah sudah
dilakukan pengabutan, larvasidasi dan pemeriksaan jentik serta penyuluhan.
b. Evaluasi Hasil penanggulangan KLB
Penilaian ini ditujukan untuk mengetahui dampak upaya penanggulangan
terhadap jumlah penderita dan kematian DBD.Penilaian epidemiologis
dilakukan dengan membandingkan data kasus/ kematian DBD sebelum dan
sesudah penanggulangan KLB. Data-data tersebut digambarkan dalam grafik
per mingguan atau bulanan dan dibandingkan pula dengan keadaan tahun
sebelumnya pada periode yang sama dalam bentuk laporan (Lampiran 18.)
BAB 6: PENGOPERASIAN ALAT DAN BAHAN PENGENDALIAN VEKTOR

Berdasarkan Permenkes Nomor : 374/Menkes/Per/III/2010 tentang Pengendalian Vektor,


memuat pedoman pengendalian vektor terpadu (PVT), peralatan dan bahan surveilans vektor
serta peralatan dan bahan pengendalian vektor.

Peralatan dan bahan surveilans vektor adalah semua alat dan bahan yang digunakan dalam
kegiatan surveilans vektor dalam rangka mengumpulkan data dan informasi tentang vektor
yang digunakan sebagai dasar dalam tindakan pengendalian vektor. Peralatan dan bahan
pengendalian vektor digunakan dalam rangka menekan atau menurunkan populasi vektor,
sehingga tidak berisiko untuk terjadinya penularan penyakit tular vektor di suatu wilayah.

Setiap peralatan yang dipakai dalam upaya pengendalian vektor harus memenuhi persyaratan
yang dibuktikan dengan sertifikat Standar Nasional Indonesia (SNI) atau sertifikat kesesuaian
yang dikeluarkan oleh lembaga pengujian independen yang terakreditasi dan ditunjuk oleh
Kementerian Kesehatan RI atau lembaga pengujian di negara lain yang ditunjuk, dengan
mengacu pada ketentuan spesifikasi WHO; (WHO/CDS/NTD /WHOPES /GCDPP/2006.5).

Peralatan yang digunakan dalam pengendalian vektor DBD adalah mesin pengkabut panas
(Hot Fogger), mesin pengkabut dingin (Aerosol / ULV) yang dioperasikan di atas kendaraan
pengangkut. Modul ini membahas cara pengoperasian, perawatan dan perbaikan alat
pengendalian vektor tersebut. Bahan yang digunakan dalam upaya pengendalian vektor DBD
berupa insektisida, baik sasaran terhadap nyamuk vektor dewasa maupun terhadap
larva/jentik nyamuk.

A. MESIN HOT FOGGER


Mesin penyembur insektisida dalam bentuk asap yang terbentuk dari evaporasi bahan
pembawa (minyak tanah/solar) akibat panas yang dihasilkan oleh tenaga listrik atau
pembakaran. Sampai dengan saat ini model dan jenis mesin hot fogger yang sudah
beredar di pasaran adalah :
 Portable Electric Fogger
 Handheld Pulsejet
 Truck Mounted

1. Petunjuk Teknis Pengoperasian Mesin hot fogger


a. Persiapan
 Cek mesin fog serta perlengkapannya sudah terpasang semua atau belum.
 Masukkan batu batere1,5 volt 4 buah dengan melepas baut yang ada di bawah
tangki larutan. Setelah itu, pasang kotak batere tersebut pada kedudukannya
dan kencangkan.
 Pasang dan kencangkan flow control jet pada mesin sesuai dengan ukuran yang
dikehendaki.
 Isi tangki bahan bakar dengan bensin murni yang bersih dengan menggunakan
corong yang bersih. Kemudian tutup dengan rapat cukup dengan tangan.
 Isi tangki larutan dengan larutan yang dikehendaki. Gunakan selalu corong
yang bersaring lalu pasang kembali tutup tangki larutan, eratkan cukup dengan
tangan.
b. Cara Menghidupkan Mesin hot fogger
 Periksa apakah bensin/Premium sudah terisi penuh.
 Periksa letak pemasangan batu batebre.
 Isi tangki larutan isektisida sampai penuh.
 Kencangkan tutup tangki bensin dan tangki larutan insektisida
 Pastikan bagian-bagian mesin seperti pipa larutan, air intake, tabung pengasap,
soket pengasap sudah terpasang dengan benar, kencangkan semua mur dan
baut.
 Buka buka stop booton/kran bensin secukupnya, kemudian pompa perlahan-
lahan sambil menekan tombol start, apabila mesin dalam keadaan baik akan
segera hidup.
 Tunggu beberapa saat, sampai mesin hidup dengan sempurna.
 Mesin siap dipergunakan.
c. Cara Pengoperasian Mesin hot fogger
 Biarkan mesin hidup selama ± 2 menit dengan maksud untuk mencapai
temperatur yang cukup untuk mengubah larutan menjadi asap secara penuh.
 Buka solution tap (kran larutan), maka larutan akan mengalir dan segera
tersembur dalam bentuk asap.
 Pengasapan dimulai dari rumah bagian belakang lalu depan.
 Untuk rumah bertingkat mulai dari lantai atas
 Selanjutnya di luar rumah jangan melawan arah angina
 Penyemprotan dilakukan 2 siklus interval 5-7 hari.
d. Cara Mematikan Mesin hot fogger
 Tutup solution tap/kran larutan insektisida dan biarkan beberapa saat hingga
asap benar-benar habis.
 Tutup stop botton/kran bensin dengan memutar tombolnya ke arah stop, maka
mesin akan segera mati.
 Buang tekanan dalam tangki larutan insektisida dengan membuka tutup tangki
insektisida kemudian kencangkan kembali.
 Demikian pula untuk tangki bahan bakar.
 Biarkan mesin dingin kembali.

2. Petunjuk teknis perbaikan hot fogger


a. Mesin tidak mau hidup :
Periksa apakah bensin masuk ke ruang bakar atau tidak. Kalau tidak biasanya pompa
tidak berfungsi dengan baik atau tutup tangki bensin kendor atau rusak gasketnya atau
saluran bensin tersumbat. Perbaiki kerusakannya.
Periksa apakah ada pengapian di busi, kalau tidak ada biasanya karena batu battery
lemah perlu diganti.periksa busi lalu bersihkan kemudian setel kerenggangannya 2
mm, periksa coil kalau rusak ganti, periksa kabel busi
b. Mesin hidup tapi sering mati mendadak, kemungkinan :
 Ujung resonator kotor tersumbat oleh kerak, solusinya adalah dengan
dibersihkan.
 Diafragma kotor, terlipat atau sobek, maka bersihkan kalau perlu ganti.
 Bila ruang pembakaran kotor, maka dibersihkan.
c. Mesin hidup tapi tidak keluar asap, kemungkinan :
Tidak ada tekanan di dalam tangki larutan, maka periksa tutup tangki, kalau kurang
kencang kencangkan atau gasketnya rusak, maka diganti.
Bila kran larutan tersumbat, maka dibersihkan,bila nozzle tersumbat, maka
dibersihkan.

3. Petunjuk Teknis perawatan mesin hot fogger


Perbaikan mesin hot fogger pada umumnya adalah mengganti suku cadang yang rusak
mengeratkan mur atau baut yang kendor serta mengembalikan komponen kepada bentuk
semula, misal solution pipe yang bengkok, guard, jaket dan bagian luar mesin yang
penyok serta tangki yang bocor atau penyok. Jangan perbaiki mesin dalam keadaan masih
panas dan tangki larutan belum dikeringkan.
a. Perawatan setiap selesai digunakan :
 Setelah mesin dingin, keluarkan sisa bensin dalam tengki dan sisa larutan
insektisia dalam tangki insektisida
 Bersihkan body bagian luar mesin
 Keringkan dan disimpan untuk segera dapat dipergunakan kembali.
b. Perawatan/pemeliharaan untuk disimpan dalam waktu yang cukup lama.
Bilamana operasi penyemprotan sudah selesai dan mesin akan disimpan kembali
dalam waktu yang cukup lama, lakukan perawatan/ pemeliharaan sebagai berikut :
 lakukan tindakan-tindakan sebagaimana pada ad.1 di atas.
 Kuras/kosongkan bensin dari tangkinya
 Keluarkan batu batere
 Biarkan tutup tangki larutan dan tangki bahan bakar terpasang dengan kendur.
 Simpan mesin di dalam kotaknya atau di tempat yang terlindung dengan
terlebih dahulu diberi alas papan dan ditutup terpal atau plastik.
 Sangat dianjurkan setiap bulan dilakukan pembersihan dan mesin dihidupkan
cukup 5 menit.

Perawatan mesin secara berkala perlu dilakukan, untuk menghindari terjadinya


hambatan-hambatan pada waktu fogging / pengasapan.

c. Bagian mesin yang perlu dibersihkan/dirawat :


 Bagian ujung resonator, bersihkan dari kerak yang melekat.
 Bersihkan solution socket.
 Bersihkan nozzle, solution pipe dan kran larutan.
 Bersihkan air intake, kalau diafragmanya rusak perlu diganti.
 Keringkan tangki larutan kalau perlu bilas dengan solar
 Bersihkan seluruh bagian mesin fogg dan keringkan.
B. MESIN ULTRA LOW VOLUME (ULV)
Mesin penyembur insektisida dalam bentuk kabut dingin dengan partikel yang sangat
kecil (Ultra Low Volume/ULV) dari pemecahan insektisida (pada Head NOZZLE) oleh
pusaran angin yang dihasilkan dari putaran blower. Sampai dengan saat ini model dan
jenis mesin ULV yang sudah beredar di pasaran adalah Portable (gendong) dan Truck
Mounted

1. Petunjuk Teknis Pengoperasian Mesin ULV


a. Persiapan
 Letakkan mesin ULV di kendaraan bak terbuka
 Cek oli mesin dan oli blower
 Isi tangki bahan bakar
 Isi tangki insektisida
 Periksa semua mur dan baut, bila perlu kencangkan
 Arahkan head nozzle ke arah samping kiri kendaraan pengangkut mesin
ULV dan setel head nozzle (dengan memperhatikan dan
memperhitungkan kecepatan angin) sehingga membentuk sudut
b. Cara menghidupkan mesin ULV :
 Geser switch kontak ke posisi on.
 Tekan kontak starter (bila mesin keadaan baik mesin akan langsung
hidup)
c. Cara Pengoperasian Mesin ULV
 Atur tekanan udara dengan cara menggeser tuas gas sampai 3-4,5 (dapat
dibaca di Barometer Panel pengontrol). Kemudian geser switch fog ke
posisi on.
 Putar tuas flow meter ke kiri sampai bola flow meter bergerak ke posisi
paling atas. Racun serangga dalam pipa larutan akan mengalir dan asap
pada head nozzle akan keluar.
 Baca temperatur di panel pengontrol dan tentukan posisi penunjuk
(bola) pada flow meter.
 Geser tuas flow control ke kanan (searah jarum jam) sehingga posisi
bola turun pada angka yang ditentukan.
 Setelah semuanya siap operator duduk di samping pengemudi untuk
mengendalikan jalannya mesin ULV
 Selama operasi operator harus memperhatikan, skala flow meter harus
sesuai dengan tabel flow meter.
 Jalankan kendaraan pengangkut ULV dengan kecepatan 5-8 km/jam.
d. Cara Mematikan Mesin
 Putar tuas flow control ke kanan sampai maksimal
 Geser switch fog ke off (tunggu sampai insektisida benar-benar habis)
 Geser switch machine ke off mesin akan langsung mati

2. Petunjuk teknis perbaikan mesin ULV


Perbaikan mesin ULV pada umumnya harus dilakukan oleh montir atau tehnisi
yang sudah berpengalaman, kecuali untuk kerusakan kecil seperti :
 Mengganti busi.
 Mengganti selang larutan insektisida dan selang tekanan.

Jika mesin susah dihidupkan kemungkinannya adalah sebagai berikut :


 Jika bahan bakar belum naik ke karburator, maka tuas karburator perlu
ditarik agar bahan bakar cepat naik.
 Jika sistim pengapian terganggu, maka lakukan pemeriksaan terhadap busi,
bila kotor bersihkan/ganti dengan yang baru.
 Jika bila tetap tidak ada pengapian, maka periksa coil, kemudian atur
coilnya, bila rusak, ganti yang baru.

3. Petunjuk teknis perawatan mesin ULV


 Lepaskan pipa insektisida dari tangkinya celupkan kedalam jerigen berisi
solar/alkohol sebanyak 1 liter.
 Kendurkan tutup tangki insektisida.
 Hidupkan mesin
 Geser swicth fog ke posisi on
 Biarkan solar/alkohol mengalir dan membilas semua pipa larutan.
 Matikan mesin, kemudian periksa semua mur dan baut
 Bersihkan mesin dari kotoran dan isektisida
 Ganti oli mesin setiap 25 jam kerja (1 Minggu)

Untuk mesin ULV yang akan disimpan dalam waktu yang lama, harus
memperhatikan hal-hal sebagai berikut :

 Sebelum disimpan lumasi komponen blower dan ruang bakar mesin dengan
oli SAE 40.
 Bersihkan mesin dari kotoran dan insektisida serta kosongkan tangki
insektisida dan tangki bensin.
 Simpan diruang tertutup, selimuti dengan kain atau plastic
 Sebulan sekali putar putar as mesin dengan tangan supaya mesin tidak
macet.
 Bersihkan mesin dari debu atau kotoran lain.

C. JENIS DAN APLIKASI INSEKTISIDA UNTUK PENGENDALIAN VEKTOR DBD.


Insektisida untuk pengendalian vektor DBD adalah insektisida yang digunakan untuk
pengendalian vektor DBD yang dilakukan di daerah endemis serta daerah lainnya.
1. Jenis Insektisida
Jenis-jenis insektisida untuk pengendalian vektor DBD meliputi :
a. Organofosfat (OP)
Insektisida ini bekerja dengan menghambat enzim kholinesterase. OP banyak
digunakan dalam kegiatan pengendalian vektor, baik untuk space spraying,
IRS, maupun larvasidasi. Contoh : malation, fenitrotion, temefos, metil-
pirimifos, dan lain lain.
b. Karbamat.
Cara kerja insektisida ini identik dengan OP, namun bersifat reversible (pulih
kembali) sehingga relatif lebih aman dibandingkan OP. Contoh: bendiocarb,
propoksur, dan lain lain.
c. Piretroid (SP)
Insektisida ini lebih dikenal sebagai synthetic pyretroid (SP) yang bekerja
mengganggu sistem syaraf. Golongan SP banyak digunakan dalam
pengendalian vector untuk serangga dewasa (space spraying dan IRS), kelambu
celup atau Insecticide Treated Net (ITN), Long Lasting Insecticidal Net
(LLIN), dan berbagai formulasi Pestisida rumah tangga. Contoh: metoflutrin,
transflutrin, d-fenotrin, lamda-sihalotrin, permetrin, sipermetrin, deltametrin,
etofenproks, dan lain-lain.
d. Insect Growth Regulator (IGR).
Kelompok senyawa yang dapat mengganggu proses perkembangan dan
pertumbuhan serangga. IGR terbagi dalam dua klas yaitu :
1) Juvenoid atau sering juga dikenal dengan Juvenile Hormone Analog (JHA).
Pemberian juvenoid pada serangga berakibat pada perpanjangan stadium
larva dan kegagalan menjadi pupa. Contoh JHA adalah fenoksikarb,
metopren, piriproksifen dan lain-lain.
2) Penghambat Sintesis Khitin atau Chitin Synthesis Inhibitor (CSI)
mengganggu proses ganti kulit dengan cara menghambat pembentukan
kitin. Contoh CSI: diflubensuron, heksaflumuron dan lain-lain.
e. Mikroba
Kelompok Pestisida ini berasal dari mikroorganisme yang berperan sebagai
pestisida. Contoh: Bacillus thuringiensis var israelensis (BTI), Bacillus
sphaericus (BS), abamektin, spinosad, dan lain-lain.
2. Cara aplikasi insektisida
Aplikasi insektida dalam pengendalian vektor DBD, dibagi menjadi 2 yaitu :
a. Pengendalian Larva
Dalam program pengendalian vektor, kegiatan pengendalian larva dengan
insektisida disebut sebagai larvasidasi. Larvasidasi merupakan kegiatan
pemberian insektisida yang ditujukan untuk membunuh stadium larva.
Larvasiding dimaksudkan untuk menekan kepadatan populasi vektor untuk
jangka waktu yang relatif lama (3 bulan), sehingga transmisi virus dengue
selama waktu itu dapat diturunkan atau dicegah (longterm preventive measure).
Spesies nyamuk perlu diketahui dan diidentifikasi atau dilakukan pemetaan
tempat perkembangbiakan nyamuk di tiap-tiap musim. Larvaciding akan efektif
bila tempat perkembangbiakan mudah dicapai, tempat perkembangbiakan di
area yang kecil, dan efek larvaciding hanya bertahan tidak lebih dari 2 bulan.
Larvaciding tidak menimbulkan dampak residu, namun kontrolnya perlu
diadakan setiap 2 bulan sehingga keputusan untuk melakukan intervensi ini
akan membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Dalam kenyataan, larvaciding ini
sulit dilakukan secara optimal, karena tempat perkembangbiakan biasanya
tersebar dimana-mana dan sulit untuk menentukan waktu yang tepat. Untuk
melakukan larvaciding, dibutuhkan pengetahuan tentang area tempat
perkembangbiakan vektor dan hubungannya dengan curah hujan. Untuk
memperoleh hasil yang baik dan bersinambungan, pemberantasan sarang
nyamuk harus dilakukan secara rutin dan berkesinambungan.
Terdapat tiga jenis pestisida untuk mengendalikan larva Aedes yaitu butiran
temephos, pengatur pertumbuhan serangga (Insect growth regulator/IGR) dan
Bacillus thuringiensis (Bt H-14)
b. Pengendalian Nyamuk (Adult control)
Mengingat vektor DBD pada umumnya tidak hinggap di dinding, tetapi pada
benda yang tergantung, maka pengendalian nyamuk Aedes dilakukan dengan
space spraying. Space spraying adalah knock down effect, oleh sebab itu
sasarannya adalah vektor yang sedang terbang baik didalam maupun diluar
rumah. Ada 2 macam cara space spraying yaitu : 1) Sistim panas (Thermal
fogging) dan 2) Sistim dingin (Cold spraying).
1) Thermal Fogging
Insektisida yang dipergunakan dalam system thermal biasanya dilarutkan
dalam minyak solar (light diesel oil) atau minyak tanah biasa (kerosene).
Operasional fogging:
 Sasaran fogging; rumah/bangunan dan halaman/pekarangan
sekitarnya
 Waktu operasional: pagi hari atau sore (Ae. aegypti) dan malam hari
(Anopheles atau culex)
 Kecepatan gerak fogging; seperti orang berjalan biasa (2-3 km/jam)
 Temperatur udara ideal: 18oC, maksimal 28oC.
 Fogging di dalam rumah ; dimulai dari ruangan yang paling
belakang, jendela dan pintu ditutup kecuali pintu depan untuk keluar
masuk petugas
 Fogging di luar rumah : tabung pengasap harus searah dengan arah
angin, dan petugas berjalan mundur.
 Penghuni rumah; selama rumah di fog dengan sistem thermal,
semua penghuni supaya berada diluar, Setelah fog dalam ruangan
menghilang baru para penghuni boleh masuk kembali. (15-30 menit
setelah fogging).
 Binatang peliaraan, makanan dan minuman; untuk menghindari hal-
hal yang tidak diinginkan, maka dianjurkan semua makanan, bahan
makanan dan tempat penampungan air minum agar ditutup.
 Berdasarkan pengalaman, lama fogging: dari berbagai studi dan
pengalaman selama ini untuk rumah dan halaman didaerah urban di
Indonesia memakan waktu fogging antara 2-3 menit/rumah. Output
petugas: 1 hari kerja +/_ 20-25 rumah /petugas atau disesuaikan
dengan keadaan setempat. Kebutuhan bahan bakar (bahan bakar
untuk mesin fog; setiap 10 liter larutan malathion 4,8% diperlukan
1,2 liter bahan bakar.
2) Pengabutan (ULV)
Space spraying system dingin dikenal juga sebagai system ULV, Cold
aerosols and mists. Ultra Low volume (ULV) dimaksudkan sebagai space
spraying dengan menggunakan racun serangga yang seefisien mungkin,
untuk area yang luas dan tetap efektif terhadap vektor. Oleh sebab itu pada
ULV dipergunakan pestisida dalam konsentrasi yang biasanya cukup
tinggi (lebih dari 20%) dengan jangkauan semburan yang cukup luas,
idealnya 80-100 meter. Vmd dropet size untuk ULV cold aerosolt dan
mists adalah: Vmd aerosols : 15-50u dan Vmd mists : 50-100u.
Sesuai dengan perkembangan teknologi dibidang pembuatan insektisida
kimia dan mesin sprayer, untuk ULV cold spraying digunakan pestisida
golongan organophosphate, carbamat atau syntetic pyrethroid dalam
formulasi konsentrasi yang lebih tinggi dibanding untuk pemakaian pada
thermal fogging. Sasaran fogging adalah serangga yang sedang terbang,
sehingga fogging harus meliputi seluruh target area yang terdiri dari
indoor dan outdoor. Fogging dilakukan dari luar/pinggir jalan semua pintu
dan jendela rumah/bangunan harus dibuka lebar.
Waktu operasi pada pagi atau sore hari dalam keadaan udara tidak terlalu
panas/kurang dari 28oC dan angin cukup tenang, maximum kecepatan
angin 20km/jam. Kecepatan jalan kendaraan pengangkut ULV sprayer
adalah 5-8 km/jam. Beberapa test menunjukkan bahwa jarak sembur yang
paling baik adalah 80-100 meter dangan kecepatan angin 10-15 km/jam.
Pada kecepatan angin lebih dari 20 km/jam fogging supaya dihentikan
saja. Jumlah petugas yang melayani 1 unti ULV ground sprayer mounted
adalah 3 orang, terdiri dari 1 petugas penunjuk arah, 1 petugas operasional
dan 1 orang pengemudi. Dengan out put area 10-15 ha/jam, apabila
fogging berjalan selama 3 jam (pk 07.00 s/d 10.00) maka dapat mencakup
daerah seluas 30-40 ha. Hal ini jauh lebih efisien disbanding dengan
menggunakan portable thermal machine yang hanya mampu
menyelesaikan daerah seluas 1 ha per petugas.
Dosis maksimum 500ml malathion 96% atau penitrition 95% perha, kabut
ULV cold aerosols dalam udara bebas selama 15-30 menit tidak
berbahaya bagi manusia, mamalia lain dan burung, kecuali pada ikan yang
berumur muda (benih ikan). Beberapa keuntungan ULV ground spraying
application dibanding thermal fogging yaitu:
 Polusi udara lebih kecil. Untuk target area dan efektifitas yang
sama penggunaan pestisida (dosis) dapat lebih kecil dibanding
operasional thermal foging (dapat sampai 50%nya).
 Mengurangi bahaya terhadap organisme bukan target.
 Tidak ada bahaya kebakaran, karena ULV tidak memerlukan
dorongan gas yang panas
 Tidak memberi dampak gangguan pada kesibukan kota dan
keramaian lalu lintas, karena fog ULV tidak mengganggu
pengelihatan bila dibanding dengan thermal fog
 Biaya operasional dan penggunaan bahan-bahan lebih sedikit
(efisien), namun memberi dampak bila langsung mengenai cat
minyak pada kayu dan cat mobil pada jarak <3 meter.

Berikut merupakan contoh formulasi atau cara pencampuran insektisida dengan pelarutnya :
Dalam Penyelenggaraan Pengendalian Vektor dan Binatang Pembawa Penyakit dibutuhkan
sumber daya manusia berupa tenaga entomolog kesehatan dan/atau tenaga kesehatan lain
yang memiliki keahlian dan kompetensi di bidang entomologi kesehatan. Tenaga entomolog
kesehatan memiliki kemampuan survei/pengamatan, investigasi/penyelidikan, dan
pengendalian Vektor dan Binatang Pembawa Penyakit, pemberdayaan masyarakat/keluarga
dalam pengendalian Vektor dan Binatang Pembawa Penyakit, dan evaluasi pelaksanaan
tindakan pengendalian Vektor dan Binatang Pembawa Penyakit.

Pengendalian Vektor dan Binatang Pembawa Penyakit dapat mendayagunakan kader


kesehatan terlatih atau penghuni/anggota keluarga untuk lingkungan rumah tangga. Kader
kesehatan terlatih atau penghuni/anggota keluarga merupakan anggota masyarakat yang
mendapatkan pelatihan di bidang Pengendalian Vektor dan Binatang Pembawa Penyakit oleh
dinas kesehatan daerah kabupaten/kota.

Bahan dan peralatan

1. Bahan dan Peralatan untuk Kegiatan Pengamatan


Bahan dan peralatan yang digunakan dalam Pengendalian Vektor dan Binatang
Pembawa Penyakit pada kegiatan Pengamatan dibagi dalam tiga kelompok, sebagai
berikut:
a. Peralatan optic
Peralatan optik untuk melakukan survei entomologi dipergunakan khusus untuk
pemeriksaan spesimen nyamuk maupun serangga lain baik pada stadium dewasa
maupun pradewasa untuk keperluan identifikasi.
Beberapa peralatan optic yang biasa dipergunakan untuk keperluan pengamatan
entomologi adalah sebagai berikut :
1) Kaca Pembesar/Lup/magnifier
Kaca pembesar/lup/magnifier merupakan alat optik yang paling sederhana,
lensanya bisa tunggal atau bisa juga sampai 3 lensa. Digunakan untuk
pencirian Vektor dan Binatang Pembawa Penyakit, dengan pembesaran 5x,
10x, 15x atau 20x.
2) Mikroskop Stereo
Terdiri dari 1 lensa, yang kompleks terdiri dari beberapa lensa disebut stereo
mikroskop atau mikroskop binokuler. Digunakan untuk pencirian Vektor dan
Binatang Pembawa Penyakit.
3) Mikroskop Compound
Merupakan alat optik yang paling kompleks, terdiri atas beberapa susunan
lensa. Digunakan untuk pencirian Vektor dan Binatang Pembawa Penyakit,
memeriksa hasil pembedahan nyamuk, dan lain-lain.
b. Bahan dan Peralatan untuk menangkap dan/atau menguji Vektor dan Binatang
Pembawa Penyakit
Bahan dan peralatan untuk menangkap Vektor dan Binatang Pembawa Penyakit
adalah bahan dan alat yang dipergunakan untuk mengoleksi atau mengumpulkan
Vektor dan Binatang Pembawa Penyakit, baik pada stadium pradewasa maupun
dewasanya. Contoh bahan dan peralatan tersebut antara lain chloroform, aspirator,
jaring penangkap nyamuk, ovitrap, perangkap cahaya, perangkap tikus, dan
perangkap kecoa.
Sementara itu, bahan dan peralatan untuk menguji hanya digunakan untuk Vektor
melalui uji kerentanan dan uji efikasi. Contoh bahan dan peralatan tersebut antara
lain alkohol, susceptibility test kit, impregnated paper standar WHO, CDC bottle,
dan kurungan nyamuk.
c. Peralatan untuk mengukur faktor lingkungan
Peralatan tersebut dipergunakan untuk mengukur faktor lingkungan yang
mempunyai pengaruh terhadap populasi Vektor seperti suhu, kelembaban, kadar
garam di tempat perindukan, pH, kecepatan angin, curah hujan dan ketinggian.
Jenis-jenis peralatan yang biasa dipergunakan untuk mengukur faktor lingkungan
adalah sebagai berikut.
1) Thermometer minimum-maksimum
Digunakan untuk pengukuran suhu udara minimum dan maksimum pada
waktu dilakukan penangkapan nyamuk dan pengujian serta 24 jam
pengamatan setelah nyamuk dikontak dengan racun serangga. Pembacaan
dilakukan dengan cara melihat skala yang tertera pada bagian bawah jalan
penunjuk.
2) Termometer Air
Termometer air digunakan untuk mengukur suhu air, cara penggunaannya
dicelupkan bagian ujung bawah selama beberapa saat ke dalam air, kemudian
baca suhu air.
3) Sling hygrometer
Alat untuk pengukur persentase kelembaban udara (% R.H.). Digunakan pada
waktu penangkapan nyamuk.
4) Salinity Sphectrometer
Suatu alat untuk mengukur kadar garam pada genangan-genangan air di
pantai. Digunakan pada waktu survei nyamuk pradewasa.
5) pH Indikator
Suatu kertas lakmus yang digunakan untuk mengukur keasaman air pada
waktu survei nyamuk pra-dewasa.
6) Anemometer (alat ukur kecepatan angin)
Anemometer adalah alat yang biasa dipergunakan untuk mengukur kecepatan
angin.
7) Pengukuran Curah Hujan
Digunakan untuk memperkirakan kepadatan nyamuk/waktu survei nyamuk,
sampai saat ini kita belum menggunakannya, hanya menjalin data yang ada
dari Dinas Pertanian dan Meteorologi.
8) Altimeter
Digunakan untuk mengukur ketinggian tempat dari permukaan laut.
9) Lensatic Compas
Lensatic Compas merupakan alat yang cukup penting untuk melakukan
kegiatan survei entomologi terutama untuk membantu membuat tempat
perindukan larva nyamuk. Alat ini berfungsi sebagai penunjuk arah dalam
pemetaan tempat perindukan.
2. Bahan dan Peralatan untuk Kegiatan Pengendalian
Bahan dan peralatan yang digunakan dalam Pengendalian Vektor dan Binatang
Pembawa Penyakit pada kegiatan Pengendalian yaitu sebagai berikut:
a. Pestisida
Pestisida adalah semua zat kimia, bahan lain, dan jasad renik, serta virus yang
dipergunakan untuk memberantas atau mencegah binatang-binatang yang dapat
menyebabkan penyakit pada manusia. Pestisida kesehatan masyarakat adalah
pestisida yang digunakan untuk pengendalian Vektor dan hama permukiman,
seperti nyamuk, serangga pengganggu lain (lalat, kecoak/lipas), dan tikus, yang
dilakukan di daerah permukiman endemis, pelabuhan, bandar udara, dan tempat-
tempat umum lainnya.
Aplikasi pengendalian Vektor secara umum dikenal dua jenis pestisida yang
bersifat kontak/non-residual dan pestisida residual. Pestisida kontak/non-residual
merupakan pestisida yang langsung berkontak dengan tubuh serangga saat
diaplikasikan. Aplikasi kontak langsung dapat berupa penyemprotan udara (space
spray) seperti pengkabutan panas (thermal fogging) dan pengkabutan dingin (cold
fogging)/ultra low volume (ULV). Jenis-jenis formulasi yang biasa digunakan
untuk aplikasi kontak langsung adalah emusifiable concentrate (EC), micro
emulsion (ME), emulsion (EW), ultra low volume (UL) dan beberapa pestisida
siap pakai, seperti aerosol (AE), anti nyamuk bakar (MC), liquid vaporizer (LV),
mat vaporizer (MV), dan smoke. Pestisida residual adalah pestisida yang
diaplikasikan pada permukaan suatu tempat dengan harapan apabila serangga
melewati/hinggap pada permukaan tersebut akan terpapar dan akhirnya mati.
Umumnya pestisida yang bersifat residual adalah pestisida dalam formulasi
wettable powder (WP), water dispersible granule (WG), suspension concentrate
(SC), capsule suspension (CS), dan serbuk (DP).
Pestisida yang digunakan untuk pengendalian Vektor dan Binatang Pembawa
Penyakit antara lain:
1) Golongan Organofosfat (OP)
Pestisida ini bekerja dengan menghambat enzim kholinesterase. OP banyak
digunakan dalam kegiatan pengendalian Vektor, baik untuk space spraying,
IRS, maupun larvasidasi.
2) Golongan Karbamat
Cara kerja pestisida ini identik dengan OP, namun bersifat reversible (pulih
kembali) sehingga relatif lebih aman dibandingkan OP.
3) Golongan Piretroid (SP)
Pestisida ini lebih dikenal sebagai synthetic pyretroid (SP) yang bekerja
mengganggu sistem saraf. Golongan SP banyak digunakan dalam
pengendalian Vektor untuk serangga dewasa (space spraying dan IRS),
kelambu celup atau Insecticide Treated Net (ITN), Long Lasting Insecticidal
Net (LLIN), dan berbagai formulasi pestisida rumah tangga.
4) Insect Growth Regulator (IGR)
Kelompok senyawa yang dapat mengganggu proses perkembangan dan
pertumbuhan serangga. IGR terbagi dalam dua kelas yaitu:
1. Juvenoid atau sering juga dikenal dengan Juvenile Hormone Analog
(JHA). Pemberian juvenoid pada serangga berakibat pada perpanjangan
stadium larva dan kegagalan menjadi pupa.
2. Penghambat Sintesis Khitin atau Chitin Synthesis Inhibitor (CSI)
mengganggu proses ganti kulit dengan cara menghambat pembentukan
kitin.
5) Mikroba
Kelompok pestisida ini berasal dari mikroorganisme yang berperan sebagai
pestisida. Contoh, Bacillus thuringiensis var israelensis (BTI), Bacillus
sphaericus (BS), abamektin, spinosad, dan lain-lain.
BTI bekerja sebagai racun perut, setelah tertelan kristal endotoksin larut yang
mengakibatkan sel epitel rusak dan serangga berhenti makan lalu mati.
Abamektin adalah bahan aktif pestisida yang dihasilkan oleh bakteri tanah
Streptomyces avermitilis. Sasaran dari abamektin adalah reseptor γ-
aminobutiric acid (GABA) pada sistem saraf tepi. Pestisida ini merangsang
pelepasan GABA yang mengakibatkan kelumpuhan pada serangga.
Spinosad dihasilkan dari fermentasi jamur aktinomisetes Saccharopolyspora
spinosa, sangat toksik terhadap larva Aedes dan Anopheles dengan residu
cukup lama. Spinosad bekerja pada postsynaptic nicotonic acetylcholine dan
GABA reseptor yang mengakibatkan tremor, paralisis, dan kematian serangga.
6) Neonikotinoid
Pestisida ini mirip dengan nikotin, bekerja pada sistem saraf pusat serangga
yang menyebabkan gangguan pada reseptor post synaptic acetilcholin.
7) Fenilpirasol
Pestisida ini bekerja memblokir celah klorida pada neuron yang diatur oleh
GABA, sehingga berdampak perlambatan pengaruh GABA pada sistem saraf
serangga.
8) Nabati
Pestisida nabati merupakan kelompok pestisida yang berasal dari tanaman.
9) Repelan
Repelan adalah bahan yang diaplikasikan langsung ke kulit, pakaian atau
lainnya untuk mencegah kontak dengan serangga.

b. Peralatan dan Aplikasi Pengendalian Vektor dan Binatang Pembawa Penyakit


Peralatan dan aplikasi pengendalian Vektor dan Binatang Pembawa Penyakit
antara lain:
1) Mesin pengkabut dingin (ultra low volume/ULV, mesin aerosol)
Mesin pengkabut dingin (ULV, mesin aerosol) digunakan untuk
penyemprotan ruang (space spray) di dalam bangunan atau ruang, mesin dapat
dioperasikan di atas kendaraan pengangkut, dijinjing atau digendong.
Mesin dilengkapi dengan komponen yang menghasilkan aerosol untuk
penyemprotan ruang. Ukuran partikel yang disyaratkan Volume Median
Diameter (VMD) kurang dari 30 mikron dinyatakan berdasarkan pengujian.
Apabila tingkat kebisingan melebihi 85 desibel, tanda alat pelindung
pendengaran harus dipakai selama pengoperasian, dipasang permanen pada
mesin.
2) Mesin pengkabut panas (hot fogger)
Mesin pengkabut panas digunakan untuk penyemprotan ruang di dalam
bangunan atau ruang terbuka yang tidak dapat dicapai dengan mesin
pengkabut panas yang dioperasikan di atas kendaraan pengangkut. Mesin
pengkabut panas portable harus memiliki sebuah nozzle energy panas tempat
larutan pestisida dalam minyak atau campuran dengan air dimasukkan secara
terukur. Ukuran partikel yang disyaratkan Volume Median Diameter (VMD)
kurang dari 30 mikron dinyatakan berdasarkan pengujian. Apabila tingkat
kebisingan melebihi 85 desibel, tanda alat pelindung pendengaran harus
dipakai selama pengoperasian, dipasang permanen pada mesin.
3) Mist-blower bermotor
Alat yang digunakan untuk menyemprotkan pestisida sampai rumah atau area
lain yang sulit atau tidak bias dicapai dengan alat semprot bertekanan yang
dioperasikan dengan tangan untuk tujuan residual. Berupa alat semprot yang
dilengkapi dengan mesin penggerak yang memutar kipas agar menghasilkan
hembusan udara yang kuat kearah cairan formulasi pestisida dimasukkan
secara terukur. Ukuran partikel semprot harus berkisar antara 50-100 mikron.
4) Spray-can (Compression Sprayer)
Alat semprot ini terutama digunakan umtuk penyemprotan residual pada
permukaan dinding dengan pestisida, terdiri dari tangki formulasi yang
dilengkapi dengan pompa yang dioperasikan dengan Komponen pengunci
pompa yang dapat dipisahkan dari tangki, komponen pengaman tekanan,
selang yang tersambung di bagian atas batang pengisap, trigger valve dengan
pengunci, tangkai semprotan, pengatur keluaran dan nozzle. Alat semprot
harus mempunyai tempat meletakkan tangkai semprot ketika tidak digunakan.
Jenis bahan termasuk penutup lubang pengisian harus dinyatakan secara jelas
dan harus tahan terhadap korosi, tekanan dan sinar ultra violet. Tidak boleh
terjadi kerusakan, kebocoran pada (las) sambungan atau keretakan ketika
dilakukan uji daya tahan (Fatique test).
Komponen pengatur keluaran harus terpasang dan tipenya harus dinyatakan.
Komponen pengatur keluaran harus mampu keseragaman pengeluaran dengan
deviasi +/- 5%. Tipe nozzle dan jumlah keluaran (flow rate) harus dinyatakan
dan sesuai dengan standar.
Tangki harus mampu menahan tekanan dari dalam yang besarnya 2 (dua) kali
besarnya tekanan kerja alat semprot tidak boleh mengalami kebocoran.
Ukuran partikel semprot harus berkisar antara 50-100 mikron. Jumlah
keluaran dan ukuran partikel sesuai dengan standar.

c. Alat pelindung diri (APD)


Alat pelindung diri (APD) dipakai dalam pengendalian secara kimiawi. APD yang
digunakan oleh petugas/pelaksana pengendalian Vektor sesuai dengan jenis
pekerjaannya harus mengacu pada norma-norma keselamatan dan kesehatan kerja
serta kriteria klasifikasi pestisida berdasarkan bentuk fisik, jalan masuk ke dalam
tubuh dan daya racunnya. Oleh karena itu, harus dipilih perlengkapan pelindung
diri seperti tertera pada tabel di bawah ini.
Perlengkapan pelindung dikelompokkan menjadi 4 tingkat berdasarkan
kemampuannya untuk melindungi penjamah dari pestisida, yaitu :

1) Highly-Chemical Resistance
Digunakan tidak lebih dari 8 jam kerja, dan harus dibersihkan dan dicuci
setiap selesai bekerja.
2) Moderate-Chemical Resistance
Digunakan selama 1-2 jam kerja dan harus dibersihkan atau diganti apabila
waktu pemakaiannya habis.
3) Slightly-Chemical Resistance
Dipakai tidak lebih dari 10 menit.
4) Non-Chemical Resistance
Tidak dapat memberikan perlindungan terhadap pemaparan tidak dianjurkan
untuk dipakai.

Baju terusan berlengan panjang dan celana panjang dengan kaos kaki dan sepatu
dapat berupa seragam kerja biasa yang terbuat dari bahan katun apabila
menggunakan pestisida klasifikasi II atau III. Apabila menggunakan pestisida
klasifikasi 1.a dan 1.b maka dianjurkan memakai baju terusan yang dapat menutup
seluruh badan dari pangkal lengan hingga pergelangan kaki dan leher, dengan
sesedikit mungkin adanya bukaan, jahitan atau kantong yang dapat menahan
pestisida. Baju terusan tersebut (coverall) dipakai diatas seragam kerja diatas dan
pakaian dalam.

Kaca mata yang menutup bagian depan dan samping mata atau googles dianjurkan
untuk menuang atau mencampur pestisida konsentrat atau pada kategori 1.a dan 1.b.
Apabila ada kemungkinan untuk mengenai muka maka faceshield sangat dianjurkan
untuk dipakai. Perlu juga untuk menyediakan peralatan dan bahan untuk
menanggulangi tumpahan/ceceran pestisida, antara lain kain majun, pasir/serbuk
gergaji, sekop dan kaleng/kantong plastik penampung. Kotak P3K berisi obat-
obatan, kartu emergency plan yang memuat daftar telepon penting, alamat dan nama
yang di dapat dihubungi untuk meminta pertolongan dalam keadaan
darurat/keracunan. Misalnya Pusat Keracunan (Poison center), ambulan, rumah sakit
terdekat dengan lokasi kerja, polisi, pemadam kebakaran. Penyediaan pemadam
kebakaran portable juga dianjurkan apabila bekerja dengan mesin semprot yang
dapat menimbulkan bahaya kebakaran.
BAB 7: PERENCANAAN DAN SUPERVISI PROGRAM PENGENDALIAN
PENYAKIT DBD

Materi ini menjelaskan tentang perencanaan, dan supervisi program pengendalian penyakit
Demam Berdarah Dengue. Materi ini diberikan agar pengelola program dapat melaksanakan
kegiatan pengendalian DBD sesuai dengan yang direncanakan. Dalam perencanaan akan
disampaikan tentang penentuan besarnya masalah, penentuan kegiatan program, penentuan
target kegiatan, kajian sumber daya, dan Pembuatan Rencana Operasional (POA). Sedangkan
supervisi program pengendalian DBD akan disampaikan tentang pelaksanaan supervisi dan
penilaian.

Keberhasilan pembangunan kesehatan sangat ditentukan oleh kualitas proses penyusunan


perencanaan dan supervisi. Namun hingga saat ini kedua proses tersebut belum sepenuhnya
dapat terlaksana sesuai harapan. Permasalahan yang sering dihadapi adalah :

1. Perencanaan yang tidak realistis sehingga kadang sulit untuk dilaksanakan.


2. Pengaruh politis dalam proses perencanaan terlalu besar sehingga pertimbangan-
pertimbangan teknis seringkali diabaikan.
3. Output kegiatan sering tidak tercapai karena penyusunan rencana masih belum sinergi
dan tidak terfokus.
4. Proses perencanaan antara pusat dan daerah belum sinkron.
5. Kapasitas tenaga perencana masih terbatas.
6. Kurang optimalnya supervise karena hanya dilakukan pada akhir kegiatan.

Untuk menjamin proses perencanaan dan supervisi berjalan efektif, efisien dan tepat sasaran
diperlukan integrasi berdasarkan pada pendekatan dan ketentuan peraturan perundang-
undangan yang berlaku.

A. PENENTUAN DAERAH MASALAH DBD


1. DASAR PENYUSUNAN RENCANA
a. Prioritas Pembangunan
Prioritas pembangunan kesehatan adalah peningkatan akses dan kualitas
pelayanan kesehatan yang diimplementasikan oleh Kementerian Kesehatan
menjadi 8 fokus prioritas pembangunan kesehatan yaitu :
1) Peningkatan kesehatan ibu, bayi, balita dan keluarga berencana
2) Perbaikan status gizi masyarakat
3) Pengendalian penyakit menular serta penyakit tidak menular diikuti
penyehatan lingkungan
4) Pemenuhan, pengembangan dan pemberdayaan SDM Kesehatan
5) Peningkatan ketersediaan, keterjangkauan, pemerataan, keamanan, mutu dan
penggunaan obat serta pengawasan obat dan makanan
6) Pengembangan sistem jaminan kesehatan masyarakat
7) Pemberdayaan masyarakat dan penanggulangan bencana dan krisis kesehatan
8) Peningkatan pelayanan kesehatan primer, sekunder, dan tersier.

b. Pendekatan penyusunan rencana


1) Pendekatan politik
Pendekatan ini memandang bahwa pemilihan Presiden/Kepala Daerah adalah
proses penyusunan rencana karena rakyat pemilih menentukan berdasarkan
program-program yang ditawarkan saat kampanye. Oleh karena itu rencana
pembangunan merupakan penjabaran dari agenda-agenda pembangunan
Presiden/Kepala Daerah terpilih ke dalam rencana pembangunan jangka
menengah.
2) Pendekatan teknokratik
Pendekatan ini dilaksanakan dengan menggunakan metode dan kerangka
berpikir ilmiah yang didukung dengan evidence based dan dilakukan oleh
lembaga atau satuan kerja yang secara fungsional bertugas untuk itu.
3) Pendekatan partisipatif
Pendekatan perencanaan dilaksanakan dengan melibatkan semua pihak yang
berkepentingan (stakeholders) terhadap pembangunan. Keterlibatan mereka
adalah untuk mendapatkan aspirasi dalam menciptakan rasa memiliki.
4) Pendekatan Atas-Bawah
Pendekatan dilaksanakan menurut jenjang pemerintahan. Rencana hasil
proses atas bawah diselaraskan melalui musyawarah yang dilaksanakan baik
di tingkat nasional, provinsi, kabupaten/kota, kecamatan dan desa.
5) Pendekatan Bawah-Atas
Pendekatan dilaksanakan menurut jenjang pemerintahan. Rencana hasil
proses bawah atas diselaraskan melalui musyawarah yang dilaksanakan baik
di tingkat desa, kecamatan, kabupaten/kota, provinsi dan nasional.
2. PENENTUAN DAERAH MASALAH DBD
Untuk mengawali proses perencanaan pengendalian DBD, kita perlu mengetahui wilayah
yang memiliki masalah DBD. Dalam menentukan daerah masalah DBD di suatu wilayah
diperlukan adanya kajian epidemiologi. Unit terkecil dalam melakukan kajian adalah
desa/kelurahan. Data-data yang diperlukan dalam melakukan kajian adalah sebagai
berikut:
a. Data kasus
 Data kasus penderita/tersangka DBD per desa/kelurahan (wilayah kerja
puskesmas)
 Data kematian karena DBD
 Data KLB jika pernah terjadi.
 Data kasus DBD per golongan umur dan jenis kelamin
 Data kasus kematian DBD pergolongan umur dan jenis kelamin
 Data kasus penularan setempat berdasarkan hasil penyelidikan epidemiologi
(PE)
b. Data vector
 Jenis vector
 Tempat perindukan vector
 Angka bebas jentik (ABJ) per desa/kelurahan (data kegiatan Jumantik/kader)
c. Keadaan geografis
 Daerah kota
 Daerah desa dengan transportasi cukup lancer
 Daerah tidak tertata/kumuh
Keterangan:

(1) Di isi nama Desa/Kelurahan


(2) Jumlah penduduk pada tahun terakhir
(3) Jumlah rumah pada tahun terakhir
(4) IR tertinggi pada 3 tahun terakhir
(5) CFR tertinggi pada 3 tahun terakhir
(6) Pernah ada/ditemukan KLB pada 5 tahun terakhir
(7) Ada/tidaknya vektor penular
(8) Data ABJ terakhir
(9) Stratifikasi : Endemis, Sporadis, Potensial, Bebas (terdapat pada materi Surveilans)

3. PENENTUAN URUTAN BESARNYA MASALAH


Selanjutnya menentukan urutan desa/kelurahan sesuai dengan besarnya masalah DBD.
Besarnya masalah ditentukan oleh:
a. Tingginya kasus DBD
Tingginya kasus DBD diukur apabila setiap minggu di wilayah desa/kelurahan
dilaporkan 5 kasus
b. Endemisitas DBD
Apabila dalam 3 tahun terakhir setiap tahun dilaporkan ada penderita DBD.
c. Adanya kematian karena DBD
Jika terdapat laporan kematian karena DBD berdasarkan diagnosis klinis rumah sakit
/pelayanan kesehatan.
d. Jenis dan banyaknya tempat perindukkan
Terdapat tempat perindukan yang positif jentik Aedes aegypti/albopictus dan
luasnya dapat diperkirakan.
e. ABJ <95%
Persentase rumah/bangunan yang tidak ditemukan jentik terhadap jumlah
rumah/bangunan yang diperiksa
f. Mobilitas penduduk
Pergerakan penduduk dari satu daerah ke daerah lain atau sebaliknya.
g. Keresahan masyarakat dan dukungan politik
h. Adanya prioritas atau pernyataan politik bahwa wilayah tersebut merupakan wilayah
yang perlu dilindungi, terdapat keresahan masyarakat akibat adanya penyakit DBD
di wilayah tersebut.

Besarnya masalah masing-masing desa/kelurahan diukur dengan membuat skoring dari


masing-masing item dalam tabel 2 sebagaimana berikut :

1) Situasi kasus: (Bobot=3)


a. Kasus tinggi dan atau ada peningkatan = 3
b. Kasus rendah tidak ada peningkatan = 1
2) Adanya kematian karena DBD: ( bobot =3)
a. Ditemukan adanya kematian karena DBD 1-2 tahun terakhir = 3
b. Adanya kematian >2 tahun terakhir = 2
c. Tidak ada kematian = 1
3) Tempat perindukan(bobot =2)
a. Bila ditemukan = 2
b. Tidak ditemukan = 1
4) ABJ: (bobot=2)
a. <95% = 2
b. >95% = 1
5) Pernah KLB DBD:( bobot=1)
a. Pernah terjadi KLB: 0-1 tahun yang lalu = 3
b. Pernah KLB 1-5 tahun yang lalu = 2
c. Tidak pernah ada KLB = 1
6) Mobilitas penduduk: (bobot =1)
a. Daerah urban = 3
b. Daerah rural = 1

Cara penghitungan jumlah skor adalah :

 Nilai kolom 2 x bobot + nilai kolom 3 x bobot + nilai kolom 4 x bobot + nilai kolom 5
x bobot + nilai kolom 6 x bobot
 Selanjutnya dari hasil skoring diatas, dicantumkan dalam tabel dibawah ini:
Besarnya masalah dari tabel 3 diatas sebagai berikut:

 Urutan 1: Kelurahan C
 Urutan 2: Kelurahan B
 Urutan 3: Kelurahan D
 Urutan 4: Kelurahan A

Jika terdapat desa/kelurahan dengan skor yang sama, maka untuk menentukan
desa/ kelurahan yang paling bermasalah ditentukan oleh tingginya skor variabel
dibawah ini:

 Situasi kasus
 Kematian karena DBD
 Tempat perindukan
 ABJ
 Pernah KLB
 Mobilitas penduduk

Urutan besarnya masalah penyakit DBD ini digunakan untuk menentukan


pemilihan prioritas wilayah dan alternatif intervensi kegiatan yang akan dilakukan.

B. PENENTUAN KEGIATAN PENGENDALIAN DBD


Setelah diketahui urutan besarnya masalah per wilayah, selanjutnya kita akan
menentukan jenis kegiatan apa saja yang akan dilakukan masing-masing desa/kelurahan
tersebut.
Kegiatan pokok dalam program pengendalian DBD adalah:
1. Penemuan penderita
a. Penemuan penderita secara aktif dilakukan pada saat penyelidikan
epidemiologi (PE) dengan mencari penderita DBD lainnya.
b. Penemuan penderita secara pasif dilakukan oleh puskesmas atau unit pelayanan
kesehatan lainnya.
2. Pengendalian vector
Pengendalian vektor DBD dilaksanakan berdasarkan REESA, dengan pengertian:
 Rasional: wilayah kegiatan pengendalian vektor yang diusulkan memang
terjadi penularan (ada vektor) dan tingkat penularannya memenuhi
kriteria yang ditetapkan, yaitu wilayah endemis dengan IR sesuai target
nasional dan CFR >1%.
 Efektif: dipilih salah satu metode/jenis kegiatan pengendalian vektor atau
kombinasi dua metode yang saling menunjang, dan metode tersebut
dianggap paling berhasil mencegah atau menurunkan penularan. Pemilihan
metode yang efektif perlu didukung data epidemiologi, entomologi dan
pengetahuan sikap perilaku (PSP) masyarakat.
 Efisien: diantara beberapa metode kegiatan pengendalian vektor yang
efektif harus dipilih metode yang biayanya paling murah.
 Sustainable: kegiatan pengendalian vektor yang dipilih harus dilaksanakan
secara berkesinambungan sampai mencapai tingkat yang diharapkan, dan
hasil yang sudah dicapai harus dapat dipertahankan dengan kegiatan lain
yang biayanya lebih murah.
 Acceptable: kegiatan yang dilaksanakan dapat diterima dan didukung oleh
masyarakat setempat.

Jenis kegiatan pengendalian vektor, antara lain:

a. Terhadap nyamuk dewasa


Dilakukan kegiatan Fogging Fokus, bertujuan mencegah terjadinya KLB
dengan memutuskan rantai penularan di lokasi terjadinya kasus DBD.
Yang perlu diperhatikan dalam kegiatan FF ini adalah :
1) Sasaran lokasi:
 Di rumah penderita/tersangka DBD dan lokasi sekitarnya yang
diperkirakan menjadi sumber penularan.
 Fogging dilakukan dalam radius 200 meter dan dilakukan 2
siklus dengan interval ± 1 minggu.
2) Pembagian tugas
 Petugas provinsi
Melakukan evaluasi dan bimbingan kegiatan pengendalian
vektor
 Petugas kabupaten/kota
o Membuat perencanaan kegiatan
o Melakukan pengawasan
o Melakukan pelatihan
3) Petugas puskesmas
 Melakukan pengawasan selama pelaksanaan
 Menyelenggarakan pelatihan
 Melaksanakan kegiatan
b. Terhadap larva (jentik)
1) Biological control
Penebaran ikan pemakan jentik dilakukan di desa/kelurahan yang
terdapat tempat perindukan Aedes, airnya permanen dan cocok untuk
perkembangbiakan ikan pemakan jentik.
a) Sasaran
Tempat penampungan air (seperti kolam, bak mandi, drum, dll)
dengan luas tempat perindukan jentik yang ada.
b) Pembagian tugas
 Petugas provinsi
o Evaluasi kegiatan
 Petugas kabupaten/kota dan puskesmas
o Pengusulan kegiatan
o Penentuan jumlah lokasi
o Pelaksanaan kegiatan
o Pengawasan pelaksanaan
2) Larvasidasi.
Penaburan bubuk larvasida atau pembunuh jentik guna memberantas
jentik di tempat penampungan air (TPA) untuk keperluan sehari-hari,
sehingga populasi nyamuk Aedes aegypti dapat ditekan serendah-
rendahnya.
a) Sasaran lokasi:
 Rumah/bangunan, sekolah dan fasilitas kesehatan di
desa/kelurahan endemis dan sporadic
 Dilaksanakan 4 siklus (3 bulan sekali) dengan
menaburkan larvasida pada TPA yang ditemukan jentik.
b) Pembagian tugas
 Petugas provinsi
o Evaluasi kegiatan
 Petugas kabupaten/kota dan puskesmas
o Pengusulan kegiatan
o Pelaksanaan kegiatan
o Pengawasan pelaksanaan

3) Pemeriksaan Jentik Berkala (PJB)


Kegiatan PJB dilaksanakan untuk mengetahui tingkat keberhasilan
pemberantasan sarang nyamuk (PSN) melalui 3M baik di pemukiman
maupun di tempat-tempat umum/industri (TTU/I).
a) Sasaran lokasi:
 Rumah/bangunan, sekolah dan fasilitas kesehatan di
desa/kelurahan endemis dan sporadis pada tempat-
tempat perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti di 100
sampel yang dipilih secara acak
 Dilaksanakan 4 siklus (3 bulan sekali)
b) Pembagian tugas :
 Petugas provinsi
o Evaluasi kegiatan
 Petugas kabupaten/kota dan puskesmas
o Pengusulan kegiatan
o Pelaksanaan kegiatan
o Pengawasan pelaksanaan
4) Pemberantasan sarang nyamuk (PSN) atau Bulan Bakti Gerakan 3M
Pembagian tugas :
 Petugas provinsi
o Penentuan kegiatan
o Evaluasi kegiatan
 Petugas kabupaten/kota dan puskesmas
o Pengusulan kegiatan
o Pelaksanaan kegiatan
o Pengawasan pelaksanaan

c. Evaluasi PSN
Evaluasi PSN dilakukan dengan Survai yang bertujuan untuk mengetahui
pengetahuan, sikap dan perilaku masyarakat dalam kaitannya dengan efektifitas
pengendalian vektor (fogging, larvasidasi, dan PSN) yang akan dilakukan di
wilayah tersebut atau melalui kegiatan PJB.
 Petugas provinsi :
o Penentuan kegiatan
o Evaluasi kegiatan
 Petugas kabupaten/kota dan puskesmas :
o Pengusulan kegiatan
o Pelaksanaan kegiatan
o Pengawasan pelaksanaan
d. Optimalisasi LS/LP untuk mendukung pengendalian DBD
1) Supervisi Terpadu Pokjanal
Tujuan: memantau dan membina Pokjanal dalam pelaksanaan
penggerakan PSN-DBD yang dilaksanakan oleh masyarakat. Pelaksana:
Tim Pokjanal masing-masing tingkatan
2) Pertemuan/koordinasi lintas sektor (PWS PSN-DBD)
Tujuan: memantau hasil kegiatan PSN-DBD (ABJ) dari tiap-tiap
wilayah untuk ditindaklanjuti dengan upaya peningkatan penggerakan
PSN-DBD oleh Kepala Wilayah setempat.
Pelaksanaan: dilaksanakan secara berjenjang mulai dari tingkat
desa/kelurahan, kecamatan dan kab/kota dengan menyajikan ABJ dari
masing-masing wilayah.
3) Pemantapan dan peningkatan penggerakan PSN-DBD.
Pertemuan evaluasi tahunan Pokjanal DBD secara berjenjang di
berbagai tingkatan:
a) Evaluasi di tingkat provinsi, dihadiri oleh peserta Pokjanal tingkat
kabupaten/ kota, dan dilaksanakan di provinsi
b) Evaluasi di tingkat kab/kota, dihadiri oleh Pokjanal tingkat
kecamatan, dan dilaksanakan di kabupaten/kota
c) Evaluasi di tingkat kecamatan, dihadiri oleh Pokja desa/kelurahan,
dilaksanakan di kecamatan.
e. Peningkatan kemampuan petugas (pelatihan) dan Orientasi
Tujuan: menyiapkan petugas di masing-masing tingkatan dalam manajemen
pengendalian DBD, penatalaksanaan kasus dan penggerakan PSN-DBD.
1) Pelatihan petugas/pengelola program
 Pelatihan petugas kabupaten/kota tentang komunikasi perubahan
perilaku dalam pencegahan DBD
 Pelatihan manajemen program P2DBD bagi petugas teknis
kabupaten/kota
 Dilaksanakan oleh: provinsi
 Pelatihan Kader/Jumantik dalam pencegahan dan pengendalian
DBD
 Dilaksanakan oleh kabupaten/kota atau puskesmas
2) Pelatihan dokter anak/dokter penyakit dalam dan paramedis Rumah
Sakit kabupaten/kota dalam penatalaksanaan kasus DBD Pelaksana:
dinas kesehatan provinsi
3) Pelatihan dokter dan paramedis puskesmas dalam tatalaksana kasus
DBD. Dilaksanakan oleh kabupaten/kota
4) Ceramah klinik bagi dokter dan paramedis Rumah Sakit dan Puskesmas
Pelaksana: kabupaten/kota
5) Orientasi/pengembangan sistem survailans DBD bagi petugas
kabupaten/kota
Tujuan: Membangun jaringan surveilens DBD yang cepat dan tepat
dalam rangka sistem kewaspadaan dini dan estimasi kejadian luar biasa
(KLB). Pelaksana: Provinsi
C. PENYUSUNAN RENCANA OPERASIONAL
Penyusunan rencana operasional dengan menggunakan Bagan Gantt (Gantt Chart).
Kegiatan pada kolom bagan Gantt biasanya disusun ke bawah secara berurutan.
Bagan Gantt terdiri dari 2 komponen, yaitu :
1. Komponen kegiatan
Komponen kegiatan diisi dan disusun kebawah dimana semua kegiatan ini
merupakan penjabaran aktifitas yang harus dilaksanakan demi pencapaian tujuan
program.
2. Komponen waktu
Komponen waktu diisi ke arah absis merupakan penjabaran dari waktu yang
dibutuhkan untuk melaksanakan kegiatan tersebut yang dapat dinyatakan dalam hari,
minggu, bulan maupun tahun.

Contoh membuat bagan Gantt


Dari bagan Gantt dibawah, dapat diperoleh beberapa keterangan sebagai berikut:
a. Bahwa program P2DBD di Kota Y pada kurun waktu Pebruari 2005 melaksanakan 4
kegiatan, yaitu; pelatihan Kader/Jumantik, Surveilans kasus/PE terhadap
penderita/tersangka DBD, supervisi di 5 puskesmas, dan penyuluhan di 2
puskesmas.
b. Bahwa kegiatan pelatihan Jumantik dilakukan di 5 puskesmas dilaksanakan selama 3
bulan, yaitu dari bulan Mei sampai dengan Juli.
c. Bahwa kegiatan surveilans kasus/penyelidikan epidemiologi dilaksanakan sepanjang
tahun di seluruh puskesmas di Kota Y.
d. Bahwa dari kota Y dilakukan supervisi di 5 puskesmas, kegiatan ini diadakan setiap
3 bulan sekali.
e. Kegiatan penyuluhan kepada masyarakat di 2 puskesmas dilakukan pada bulan
Maret dan April selama 2 bulan berturut-turut.
D. SUPERVISI DAN BIMBINGAN TEKNIS
1. Konsep supervisi dan Bimbingan Teknis
a. Definisi operasional
1) Supervisi DBD merupakan suatu upaya pengawasan, pemantauan atau
penilaian dalam rangka pembinaan dalam pelaksanaan program
pengendalian demam berdarah dengue (DBD) yang dilakukan secara
berjenjang di berbagai tingkatan baik Provinsi, kabupatan Puskesmas
maupun lapangan.
2) Bimbingan teknis DBD adalah rangkaian kegiatan yang dilakukan oleh
pengelola program terhadap pelaksana yang terdiri dari pengumpulan data
kinerja program dan penilaian kinerja di lapangan, penyampaian kebijakan
program, bantuan untuk menemukan permasalahan dan penyebabnya serta
bimbingan dan meningkatkan kemampuan pelaksana untuk mengatasi
masalah dan membuat rencana tindak lanjut untuk perbaikannya.
3) Biasanya kegiatan ini dilakukan dengan istilah supervisi atau monitoring,
tetapi supervisi dalam istilah sebenarnya lebih bersifat pengawasan disertai
upaya-upaya pembinaan. Sedangkan monitoring lebih berarti pemantauan
atau pengumpulan data tanpa membantu atau membimbing pelaksana
meningkatkan kemampuan.
b. Tujuan
1) Bimbingan teknis bertujuan untuk mengarahkan, membimbing serta
memecahkan masalah yang dihadapi pelaksana agar dapat menghasilkan
kinerja sesuai yang direncanakan
2) Menilai pelaksanaan Program Pengendalian DBD
c. Ruang Lingkup
1) Seluruh kegiatan meliputi perencanaan, pengorganisasian, penggerakan
pelaksanaan dan evaluasi mulai dari tingkat Provinsi, Kabupaten/Kota
sampai Puskesmas.
2) Kegiatan pengendalian DBD meliputi: surveillans kasus, penanggulangan
kasus, penatalaksanaan penderita, surveillans vektor, penanggulangan dan
penyelidikan KLB, pemberdayaan masyarakat, promosi kesehatan,
peningkatan profesionalisme sumber daya.
3) Kerjasama lintas program dan lintas sektor yang dilakukan meliputi:
a) Kewaspadaan dini DBD
b) Penanggulangan Kasus
c) Pengendalian Vektor
d) Penanggulangan dan Penyelidikan KLB
e) Peningkatan Profesionalsme SDM
f) Pemberdayaan masyarakat dan kemitraan
2. Pelaksanaan Supervisi dan Bimbingan Teknis
a. Persiapan
1) Penyiapan alat bantu supervisi dan bimbingan teknis berupa format atau
cheklist untuk mengukur kinerja pelaksana sesuai kebutuhan
2) Pengumpulan informasi kinerja pelaksana (dalam harian, mingguan, bulanan,
triwulan atau tahunan) berdasarkan arsip data informasi yang ada sesuai
format atau checklist
3) Melakukan analisis awal (membandingkan kinerja sesuai arsip data dengan
standar kinerja sesuai pedoman) dan kesimpulan awal
4) Pemberitahuan rencana supervisi dan bimbingan teknis serta informasi yang
akan dikumpulkan
5) Penyiapan surat tugas
b. Pelaksanaan
1) Perkenalan diri dan penyampaian informasi tujuan supervisi dan bimbingan
teknis
2) Pengumpulan data dan informasi tentang kinerja pelaksana dengan
menggunakan format atau checklist
3) Pencocokan data dan informasi pada sarana pelayanan (dengan mengunjungi
sampel sarana di lapangan)
4) Diskusi bersama pelaksana melakukan analisis (membandingkan kinerja
sesuai arsip data dengan standar kinerja sesuai program) dan membuat
kesimpulan sementara
5) Diskusi bersama pelaksana mencari pemecahan masalah dan menjadwalkan
kegiatannya
6) Diskusi bersama îpimpinan pelaksanaî menyepakati Rencana Tindak Lanjut
untuk pemecahan masalah
7) Memberi motivasi dan ketrampilan tertentu secara lisan dan tertulis kepada
pelaksana sesuai kebutuhan untuk meningkatkan Kinerja Program
c. Alat
Alat utama adalah format atau cheklist berisi tentang:
1) Daftar indikator penilaian kinerja program yang terdiri dari: indikator input,
indikator proses dan indikator output
2) Kesimpulan Kinerja: penilaian kualitatif (memuaskan, baik, sedang, kurang)
dan Permasalahan
3) Rencana Tindak Lanjut: Daftar kegiatan perbaikan kinerja dan peran berbagai
pihak dan penjadualan serta pembiayaan dalam rencana tindak lanjut

3. Penilaian Supervisi dan Bimbingan Teknis


a. Membuat Kesimpulan akhir kinerja pelaksana dan saran pemecahan
b. Membuat laporan Supervisi dan Bimbingan Teknis, yang meliputi:
1) Latar belakang
2) Tujuan dan sasaran
3) Waktu dan Tempat
4) Cara Pembinaan
5) Hasil yang dicapai
6) Masalah yang ditemui
7) Rencana Tindak Lanjut Pemecahan
8) Kesimpulan
c. Memberi umpan balik hasil supervisi dan bimbingan teknis kepada pelaksana
dan pihak terkait
d. Membandingkan hasil tindak lanjut dengan rencana yang dibuat
e. Bentuk tindak lanjut dalam bimbingan teknis dapat berupa:
1) Pemberitahuan tambahan informasi atau ketrampilan tentang kebijakan,
peraturan, standar dan prosedur yang dibutuhkan pelaksana
2) Perubahan alokasi sarana atau sumber daya pendukung program
(penambahan atau pengurangan)
3) Merujuk pemecahan masalah tertentu kepada pembuat keputusan yang lebih
berwenang.
BAB 8: PROMOSI KESEHATAN DALAM PROGRAM PENGENDALIAN DEMAM
BERDARAH DENGUE

Promosi kesehatan merupakan proses penyampaian informasi agar masyarakat tahu, mau dan
mampu merubah perilaku untuk mencapai derajat kesehatan yang tinggi, dengan cara
advokasi, bina suasana, gerakan masyarakat dan Kemitraan.

Untuk mendukung dan menanggulangi masalah kesehatan diperlukan kemitraan dengan


melibatkan berbagai sektor yaitu lembaga pemerintah, dunia usaha, media massa dan
organisasi masyarakat lainnya dalam upaya menanggulangi masalah kesehatan khususnya
Demam Berdarah Dengue (DBD).

Seluruh wilayah Indonesia mempunyai risiko untuk terjangkit penyakit DBD, karena virus
penyebab dan nyamuk penularnya tersebar luas diseluruh propinsi dan kabupaten/ kota. Oleh
karena itu untuk mengendalikan penyakit ini diperlukan gerakan untuk memberdayakan
masyarakat dengan gerakan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) DBD.

Guna membina Gerakan Pemberantasan Sarang Nyamuk ( PSN) DBD agar lebih efektif
maka kegiatannya perlu dikoordinasikan dalam Kelompok Kerja Operasional (POKJANAL).
Pengendalian penyakit DBD ini merupakan forum kerjasama lintas sektor di tiap jenjang
administrasi pemerintahan.

Salah satu upaya yang dilakukan untuk menanggulangi penyakit DBD adalah dengan
pendekatan metode Communication for behavioral impact (COMBI), yang merupakan suatu
proses intervensi perubahan perilaku untuk mencapai tujuan dengan memperhatikan aspek
sosial budaya setempat yang spesifik, untuk merubah masyarakat dari yang tidak tahu
menjadi tahu, dari tahu menjadi mau dan dari mau menjadi mampu untuk menanggulangi
penyakit DBD.

A. STRATEGI DASAR PROMOSI KESEHATAN

Promosi kesehatan adalah upaya untuk meningkatkan kemampuan individu, keluarga,


kelompok dan masyarakat melalui pembelajaran dari, oleh, untuk dan bersama masyarakat,
agar mereka dapat mendorong dirinya sendiri,serta mengembangkan kegiatan yang
bersumberdaya masyarakat, sesuai sosial budaya setempat dan didukung oleh kebijakan
publik yang berwawasan kesehatan.
Promosi kesehatan diharapkan dapat melaksanakan strategi yang bersifat paripurna
(komprehensif), khususnya dalam menciptakan perilaku baru. Kebijakan Nasional Promosi
Kesehatan telah menetapkan tiga strategi dasar promosi kesehatan, yaitu: Advokasi, Bina
suasana, dan Gerakan pemberdayaan yang diperkuat oleh kemitraan serta metode dan sarana
komunikasi yang tepat. Ketiga strategi ini harus dilaksanakan secara lengkap dan
berkesinambungan dalam setiap perilaku baru masyarakat yang diperlukan oleh program
kesehatan.

Dalam program pengendalian DBD strategi promosi kesehatan yang harus dilakukan adalah
(1) pemberdayaan masyarakat, (2) pembinaan susana lingkungan sosialnya, dan (3) advokasi
kepada pihak-pihak yang dapat mendukung terlaksananya program pengendalian DBD.

Melalui penerapan ketiga strategi tersebut diharapkan dapat:

(1) Memberdayakan individu, keluarga, kelompok-kelompok dalam masyarakat, baik melalui


pendekatan individu dan keluarga dalam pengerakan masyarakat untuk dapat melakukan
kegiatan-kegiatan pengendalian DBD.

(2) Membangun suasana/lingkungan yang kondusif bagi terciptanya budaya perilaku hidup
bersih dan sehat di masyarakat dalam pengendalian DBD.

(3) Mendapat dukungan dari para pengambil keputusan, penentu kebijakan dan stakeholders
lain, dalam bentuk kebijakan Pengendalian DBD, sumberdaya integrasi promkes, terjalinnya
kemitraan sinergis pusat ñ daerah ñ swasta ñ LSM, serta berbagai investasi dalam program
pengendalian DBD

1. Strategi Advokasi
Advokasi kesehatan adalah upaya secara sistimatis untuk mempengaruhi pimpinan,
pembuat/penentu kebijakan, keputusan dan penyandang dana dan pimpinan media massa
agar proaktif dan mendukung berbagai kegiatan promosi penanggulangan
Penanggulangan DBD sesuai dengan bidang dan keahlian masing-masing.
Sementara itu ada pendapat populer bahwa advokasi adalah melakukan kampanye pada
media massa atau melakukan upaya komunikasi, informasi dan edukasi.
Tujuan advokasi untuk mempengaruhi pimpinan/pengambil keputusan dan penyandang
dana dalam penyelengaraan program Pengendalian DBD, sedangkan sasaran advokasi
adalah:
 Pimpinan legislative (Komisi DPRD)
 Pimpinan eksekutif (Gubernur, Bupati, Bappeda)
 Penyandang dana
 Pimpinan media massa
 Pimpinan institusi lintas sektoral
 Tokoh Agama/Masyarakat/PKK, organisasi profesi
a. Metode Advokasi:
 Lobby
 Pendekatan Informal
 Penggunaan media massa
b. Materi Pesan
 Harus diketahui jumlah kasus DBD di wilayahnya
 Program cara pencegahan dan pengendalian DBD
 Kebijakan dalam pengendalian DBD (menyiapkan tenaga kesehatan, dan lintas
sektor lain untuk melaksanakan program bebas DBD.
c. Hasil yang diharapkan
 Adanya dukungan politis, kebijakan/keputusan dan sumber daya (SDM, dana dan
sumber daya lainnya) dalam penanggulangan DBD.
 Terbentuknya forum komunikasi/komite/pokjanal yang beranggotakan lembaga
pemerintah, swasta, LSM, Dunia Usaha, untuk membahas dan memberi masukan
dalam penanggulangan DBD

2. Strategi Bina Suasana


Bina Suasana adalah upaya menciptakan opini atau lingkungan sosial yang mendorong
individu anggota masyarakat untuk mau melakukan penanggulangan DBD. Seseorang
akan terdorong untuk mau melakukan sesuatu apabila lingkungan sosial di mana pun ia
berada (keluarga di rumah, orang-orang yang menjadi panutan/ idolanya, kelompok
arisan, majelis agama, dan lain-lain, dan bahkan masyarakat umum) memiliki opini yang
positif terhadap perilaku tersebut. Oleh karena itu, untuk mendukung proses
Pemberdayaan Masyarakat, khususnya dalam upaya mengajak para individu meningkat
dari fase tahu ke fase mau dalam Penanggulangan DBD, perlu dilakukan Bina Suasana
Tujuan dilakukan bina suasana adalah terciptanya suasana yang mendukung
terselenggaranya program pengendalian DBD, adapun sasaran dari kegiatan ini adalah
sebagai berikut:
 Kader dan Tokoh masyarakat
 Lintas program (Intern Dep. Kesehatan)
 Lintas sektor (Sektor terkait)
 Organisasi pemuda (Karang Taruna, Saka Bakti Husada, dll)
 Organisasi Profesi (misalnya IBI, IDI, dll)
 Organisasi Wanita (Dharma Wanita, IWAPI, KOWANI, dll)
 Organisasi keagamaan (Pengajian, Majelis Taklim, Ibadah Rumah Tangga)
 Organisasi Kesenian
 Lembaga Swadaya Masyarakat.

a. Metode Bina Suasana


 Orientasi
 Pelatihan
 Kunjungan lapangan
 Jumpa pers
 Dialog terbuka/interaktif diberbagai media
 Lokakarya/seminar
 Penulisan artikel di media massa
 Khotbah di tempat peribadatan
b. Materi pesan
 Waspada Nyamuk Demam Berdarah
 Gejala demam berdarah
 Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) dengan bebas jentik nyamuk di rumah
 4M Plus

Dengan menggunakan media antara lain:

 Media massa cetak & elektronik (radio, televisi, koran, majalah, situs internet, dan
lain-lain)
 Media tradisional
c. Hasil yang ingin dicapai
 Adanya opini positif berkembang di masyarakat tentang pentingnya pengendalian
DBD
 Semua kelompok potensial di masyarakat ikut menyuarakan dan mendukung
pengendalian DBD
 Adanya dukungan sumber daya (SDM, Dana, Sumber daya lain) dari kelompok
potensial di masyarakat
3. Strategi Gerakan Pemberdayaan
Gerakan pemberdayaan (empowerment) adalah proses pemberian informasi secara terus-
menerus dan berkesinambungan mengikuti perkembangan sasaran, serta proses
membantu sasaran, agar sasaran tersebut berubah dari tidak tahu menjadi tahu atau sadar
(aspek knowledge), dari tahu menjadi mau (aspek attitude), dan dari mau menjadi
mampu melaksanakan perilaku yang diperkenalkan (aspek practice).
Gerakan pemberdayaan masyarakat juga merupakan cara untuk menumbuhkan dan
mengembangkan norma yang membuat masyarakat mampu untuk pengendalian DBD
secara mandiri. Strategi ini tepatnya ditujukan pada sasaran primer agar berperan serta
secara aktif dalam pengendalian DBD.
Gerakan pemberdayaan masyarakat merupakan suatu upaya dalam peningkatan
kemampuan masyarakat guna mengangkat harkat hidup, martabat dan derajat
kesehatannya. Peningkatan keberdayaan berarti peningkatan kemampuan dan
kemandirian masyarakat agar dapat mengembangkan diri dan memperkuat sumber daya
yang dimiliki untuk mencapai kemajuan.
Tujuan dari strategi pemberdayaan adalah meningkatkan peran serta Individu, keluarga
dan masyarakat agar tahu, mampu dan mau, berperan serta dalam pengendalian DBD.
Sasaran dari kegiatan ini adalah masyarakat umum.
a. Metode
 Promosi Individu
 Promosi Kelompok
 Promosi Massa
b. Materi Pesan
 Tanda dan gejala DBD
 Cara pencegahan dan pengendalian DBD
 3 M Plus
c. Hasil yang diharapkan
 Tumbuhnya kepedulian masyarakat dalam pengendalian DBD
 Meningkatnya peran aktif masyarakat dalam pengendalian DBD
Pemberdayaan akan lebih berhasil jika dilaksanakan melalui kemitraan serta menggunakan
metode dan teknik yang tepat. Pada saat ini banyak dijumpai Lembaga-lembaga Swadaya
Masyarakat (LSM) yang bergerak di bidang kesehatan atau peduli terhadap kesehatan. LSM
ini harus digalang kerjasamanya, baik di antara mereka maupun antara mereka dengan
pemerintah, agar upaya pemberdayaan masyarakat dapat berdayaguna dan berhasil guna.
Setelah itu, sesuai dengan ciri-ciri sasaran serta situasi dan kondisi, lalu ditetapkan, diadakan
dan digunakanlah metode dan sarana komunikasi yang tepat.

Kunci keberhasilan gerakan pemberdayaan adalah membuat orang tersebut memahami bahwa
penyakit DBD adalah masalah baginya dan bagi masyarakatnya. Sepanjang orang yang
bersangkutan belum mengetahui dan menyadari bahwa sesuatu itu merupakan masalah, maka
orang tersebut tidak akan bersedia menerima informasi apa pun lebih lanjut. Manakala ia
telah menyadari masalah yang dihadapinya, maka kepadanya harus diberikan informasi
umum lebih lanjut tentang masalah yang bersangkutan.

Perubahan dari tahu ke mau pada umumnya dicapai dengan menyajikan fakta-fakta dan
mendramatisasi masalah. Tetapi selain itu juga dengan mengajukan harapan bahwa masalah
tersebut bisa dicegah dan atau diatasi. Di sini dapat dikemukakan fakta yang berkaitan
dengan para tokoh masyarakat sebagai panutan.

Bilamana sasaran sudah akan berpindah dari mau ke mampu melaksanakan, boleh jadi akan
terkendala oleh dimensi ekonomi. Dalam hal ini kepada yang bersangkutan dapat diberikan
bantuan langsung, tetapi yang seringkali dipraktikkan adalah dengan mengajaknya ke dalam
proses pengorganisasian masyarakat (community organization) atau pembangunan
masyarakat (community development).

Untuk itu, sejumlah individu yang telah mau, dihimpun dalam suatu kelompok untuk
bekerjasama memecahkan kesulitan yang dihadapi. Tidak jarang kelompok ini pun masih
juga memerlukan bantuan dari luar (misalnya dari pemerintah atau dari dermawan). Hal-hal
yang akan diberikan kepada masyarakat oleh program kesehatan sebagai bantuan, hendaknya
disampaikan pada fase ini, bukan sebelumnya. Bantuan itu hendaknya juga sesuai dengan apa
yang dibutuhkan masyarakat.

B. KEMITRAAN MELALUI POKJANAL DBD


1. Konsep Kemitraan
Kemitraan adalah hubungan (kerjasama) antara dua pihak atau lebih, berdasarkan
kesetaraan, keterbukaan dan saling menguntungkan (memberikan manfaat). Unsur
kemitraan adalah :
a. adanya hubungan (kerjasama) antara dua pihak atau lebih
b. adanya kesetaraan antara pihak-pihak tersebut
c. adanya keterbukaan atau kepercayaan (trust relationship) antara pihak-pihak
tersebut
d. adanya hubungan timbal balik yang saling menguntungkan atau memberi
manfaat.

Kemitraan di bidang kesehatan adalah kemitraan yang dikembangkan dalam


rangka pemeliharaan dan peningkatan kesehatan.

a. Tujuan Kemitraan dan Hasil yang Diharapkan

1) Tujuan umum :
Meningkatkan percepatan, efektivitas dan efisiensi upaya kesehatan dan
upaya pembangunan pada umumnya.
2) Tujuan khusus :
a) Meningkatkan saling pengertian
b) Meningkatkan saling percaya;
c) Meningkatkan saling memerlukan;
d) Meningkatkan rasa kedekatan;
e) Membuka peluang untuk saling membantu;
f) Meningkatkan daya, kemampuan, dan kekuatan;
g) Meningkatkan rasa saling menghargai;
3) Hasil yang diharapkan :
Adanya percepatan, efektivitas dan efisiensi berbagai upaya termasuk
kesehatan.

b. Pelaku Kemitraan :

Adalah semua pihak, semua komponen masyarakat dan unsur pemerintah,


Lembaga Perwakilan Rakyat, perguruan tinggi, media massa, penyandang
dana, dan lain-lain, khususnya swasta.
Contoh pelaku kemitraan :
1) Pokjanal : Merupakan wadah koordinasi pengelolaan suatu program yang
memerlukan pembinaan dari unsur pemerintah dan peran serta masyarakat
terkait DBD. POKJANAL saat ini adalah suatu kelompok kerja
Operasional yang keanggotaannya terdiri dari berbagai unsur
dinas/instansi pemerintah, LSM, swasta atau dunia usaha yang secara
fungsional mempunyai tugas meningkatkan peran serta masyarakat dalam
PSN-DBD.
2) Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) tingkat SD/MI, SMP/MTS, SMA/MA :
Telah melaksanakan program bebas jentik disekolah Oleh dokter
Kecil/jumantik dan telah masuk dalam salah satu indikator promosi
kesehatan disekolah dan telah dimasukkan dalam instrumen lomba sekolah
sehat tingkat nasional yang diadakan setiap tahun.
3) Penggerakan Kesejahteraan Keluarga (PKK) dengan dasawisma
membantu penanggulangan DBD menjadi jumantik sukarela ini sudah
masuk dalam indikator rumah tangga sehat
4) Organisasi Profesi
Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Ikatan Bidan Indonesia (IBI), Ikatan Ahli
Kesehatan Masyarakat Indonesia ( IAKMI), PPPKMI (Perkumpulan
Promosi dan Pendidikan Kesehatan Masyarakat Indonesia), PPNI
(Persatuan Perawat Nasional Indonesia)
5) Dunia usaha
 Perusahaan Obat anti nyamuk,(PT. Unilever brand Domestos
Nomos) Produsen Insektisida, Produsen Larvasida,
 Perusahaan Obat (PT. Kalbe Farma Brand Minuman Fatigon dan
Proris)
 Perusahaan Perminyakan

2. POKJANAL DBD
Gerakan PSN DBD adalah keseluruhan kegiatan masyarakat dan pemerintah untuk
mencegah penyakit DBD, yang disertai pemantauan secara terus menerus. Gerakan
PSN DBD merupakan bagian terpenting dari keseluruhan upaya pemberantasan
penyakit DBD.
Pendekatan penggerakan Peran Serta Masyarakat pada dasarnya tidak dapat
dilakukan secara parsial agar lebih optimal, peran serta masyarakat harus dibina dan
di organisasikan karena peran serta masyrakat itu melibatkan banyak pihak namun
perlu satu sistem melalui POKJANAL.

Hakekat POKJANAL saat ini adalah suatu kelompok kerja Operasional yang
keanggotaannya terdiri dari berbagai unsur dinas/instansi pemerintah, LSM, swasta
atau dunia usaha yang secara fungsional mempunyai tugas meningkatkan peran serta
masyarakat dalam PSN-DBD.
a) Dasar Pembentukan:
1) Acuan Dasar pembentukan POKJANAL Demam Berdarah Dengue :
KEPMENKES 581/VII/1992 : Tentang Pemberantasan Penyakit DBD
2) Disain Pengorganisasiannya : Dibawah dan bertanggung jawab kepada Tim
Pembina LKMD di setiap tingkatan.
3) Saat masih ada TP. LKMD ketua TP.LKMD Tingkat Pusat adalah
Mendagri, demikian seterusnya di daerah, sehingga ada rentang kendali
Pusat - Daerah yang jelas.
4) Disain pengorganisasian berdasarkan UU Nomor : 32 tahun 2004 dibawah
dan bertanggung jawab kepada Gubernur, Bupati/Walikota, Camat dan
POKJA DBD Desa/Kel Kepada kepala Desa/Lurah.
5) Peran DEPDAGRI dan Pemda:
a) Pasal 217 UU 32/2004 : PEMBINAAN
 Koordinasi pemerintahan antar susunan
 Pemberian pedoman dan standard
 Pemberian bimbingan dan supervise
 Diklat
 Manajemen pemerintahan
b) Pasal 218 UU 32/2004 : PENGAWASAN Atas penyelenggaraan
Pemerintah daerah.
c) Pasal 222 UU 32/2004 :
(1) Pembinaan dan pengawasan atas penyelenggaraan pemerintahan
daerah nasional di koordinasikan Mendagri
(2) Pembinaan & Pengawasan atas penyelenggaraan pemerintah
Kab/Kota oleh Gubernur
d) PERPRES No.7 Tahun 2005 tentang Rencana Pembangunan Jangka
Menengah Nasional (RPJMN) Tahun 2004-2009
e) Bab 28 Program Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat.

b) Organisasi POKJANAL DBD


1) Pengorganisasian
a. Penggerakan PSN DBD di desa/kelurahan di koordinasikan oleh
POKJA DBD, yaitu forum koordinasi kegiatan pemberantasan
penyakit DBD di Desa/kelurahan dalam wadah lembaga ketahanan
Masyarakat
b. Pembinaan Pokja DBD desa/kelurahan dilaksanakan oleh
POKJANAL DBD Tingkat kecamatan, Kabupaten/Kodya, provinsi
dan tingkat Pusat, secara berjenjang. POKJANAL DBD merupakan
forum koordinasi lintas program/sektoral dalam pembinaan upaya
pengendalian penyakit DBD, dan berada di bawah serta bertanggung
jawab kepada Ketua harian Tim Pembina LKMD.
2) Tugas pokok dan Fungsi POKJANAL
a. Menggerakkan peran serta masyarakat dalam PSN-DBD.
b. Menyiapkan data dan informasi
c. Menganalisa masalah & membuat (MUSRENBANG desa - Pusat)
d. Melakukan bimbingan, pembinaan, fasilitasi, advokasi, pemantauan dan
evaluasi rutin.
e. Menyampaikan berbagai data, informasi dan masalah kepada
instansi/lembaga terkait
f. Melaporkan hasil pelaksanaan kegiatan program kepada Menteri atau
Ketua badan/Lembaga di Pusat dan kepada Gubernur dan Bupati/
Walikota di daerah.
C. PENYULUHAN KESEHATAN

Tujuan akhir penyuluhan kesehatan masyarakat adalah terjadinya perubahan perilaku sasaran.
Perubahan perilaku tersebut dapat berupa pengetahuan, sikap maupun tindakan atau
kombinasi dari ketiga komponen tersebut. Agar kegiatan penyuluhan dapat mencapai hasil
maksimal, maka metode dan teknik penyuluhan perlu mendapat perhatian yang besar pula.