Anda di halaman 1dari 18

LAPORAN PSIKIATRI

SKIZOFRENIA PARANOID DALAM REMISI TIDAK SEMPURNA

Disusun Oleh:
Nur Khairiani Achmad
1710221019

Pembimbing:
dr. Mardi Susanto, Sp.KJ (K)
dr. Tribowo T Ginting, Sp.KJ

KEPANITERAAN KLINIK ILMU KESEHATAN JIWA


RUMAH SAKIT UMUM PUSAT PERSAHABATAN
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL “VETERAN” JAKARTA
PERIODE 6 AGUSTUS – 8 SEPTEMBER 2018
SURAT PERNYATAAN

Laporan kasus ini diajukan oleh:


Nama : Nur Khairiani Achmad
NIM : 1710221019
Program Studi : S1 Fakultas Kedokteran
Tahun Akademik : 2018

Dengan ini menyatakan bahwa saya tidak melakukan plagiarisme dalam penulisan laporan kasus
berjudul:
SKIZOFRENIA PARANOID DALAM REMISI TIDAK SEMPURNA

Apabila suatu saat terbukti saya melakukan palgiat, maka saya akan menerima sanksi yang telah
ditetapkan.
Demikian surat pernyataan ini saya buat dengan sebenar-benarnya.

Jakarta, Agustus 2018

Nur Khairiani Achmad

2
LAPORAN KASUS

I. IDENTITAS PASIEN
Nama : Tn. AN
Usia : 36 tahun
Jenis Kelamin : Laki-laki
Agama : Islam
Status : Sudah Menikah
Pekerjaan : Pensiunan

II. RIWAYAT PSIKIATRI


Pada tanggal 15 Agustus 2018 dilakukan autoanamnesis dengan Tn. AN
pukul 11.00 WIB di Klinik Jiwa RSUP Persahabatan, Jakarta.

A. Keluhan Utama
Pasien datang ke klinik Jiwa RSUP Persahabatan dengan keluhan badan
terasa lemas, tidak bisa makan, dan tidak bisa tidur.

B. Riwayat Gangguan Sekarang


Pasien datang ke klinik Jiwa RSUP Persahabatan pukul 11.00 WIB
dengan menggunakan kendaraan umum dengan keluhan badan terasa lemas, tidak
bisa makan, dan tidak bisa tidur. Keluhan tersebut dirasakan apabila pasien tidak
mengonsumsi obat. Obat yang biasa dikonsumsi pasien saat ini sudah habis,
sehingga pasien kontrol ke rumah sakit.
Pasien merasa tidak bersemangat untuk melakukan aktivitas sehari-hari
bila tidak mengonsumsi obat-obatan. Pasien mengatakan merasa sedih dalam 2
minggu belakangan ini, dikarenakan masalah perekonomian. Kegiatan pasien
sehari-hari adalah mengajar ngaji dan mengumandangkan adzan di masjid.
Pasien diajukan beberapa pertanyaan hitung-hitungan. Pasien diminta
menjawab pertanyaan 100 dikurangi 7, pasien dapat menjawab 93. Kemudian,
ditanya kembali 93 dikurangi 7. Pasien dapat menjawab 86. Hal ini menunjukkan

3
pasien masih memiliki fungsi kognitif yang baik. Selanjutnya, pasien diberikan
pertanyaan mengenai pengetahuan umum. Pertanyaan yang diajukan adalah
“Siapa presiden negara kita yang pertama?”. Pasien menjawab “Ir. Soekarno”. ”.
Hal ini menunjukkan bahwa pengetahuan umum pasien dalam keadaan baik.
Pasien diajukan pertanyaan mengenai tempat sekolah SD, SMP, dan STM.
Pasien mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut yang menandakan
bahwa fungsi memori jangka panjang pasien dalam keadaan baik. Selanjutnya,
pasien diajukan pertanyaan mengenai hal yang dilakukan saat lebaran sebulan
yang lalu. Pasien menjawab bahwa ia berpergian ke Sukabumi yaitu ke rumah
mertuanya. Hal ini menunjukkan bahwa fungsi memori jangka menengah pasien
dalam keadaan baik. Setelah itu, pasien diajukan pertanyaan mengenai
transportasi yang digunakan pasien menuju ke rumah sakit saat itu. Pasien
menjawab bahwa pasien menuju rumah sakit dengan menggunakan kendaraan
umum, yaitu mikrolet. Selanjutnya, pasien diminta untuk mengingat nama 3
daerah yang disebutkan oleh pemeriksa, yaitu “Jakarta, Bogor dan Bekasi”,
kemudian pasien diajak berbincang kembali mengenai hal lain. Saat ditanya
kembali nama 3 daerah yang disebutkan sebelumnya, pasien dapat menjawab 3
daerah tersebut dengan benar. Hal ini menunjukkan bahwa fungsi memori segera
pasien kurang optimal. Hal ini menunjukkan bahwa memori jangka pendek pasien
dalam keadaan baik, sehingga pasien tidak memiliki masalah dengan fungsi
memorinya.
Pasien diajukan pertanyaan kembali “sekarang kita lagi dimana?”, pasien
mampu menjawab “di Rumah Sakit Persahabatan” dengan cepat. Kemudian
pasien ditanya “sekarang pagi/siang/sore/malam?”, pasien dapat menjawab “pagi
menjelang siang”. Selanjutnya, pasien diberi pertanyaan “Sekarang anda sedang
apa dan berbicara dengan siapa?”. Pasien dapat menjawab bahwa ia sedang
konsultasi dengan dokter-dokter. Hal ini menunjukkan bahwa pasien memiliki
orientasi yang baik.
Pasien mengakui masih memiliki kebiasaan merokok, namun menyangkal
menggunakan zat psikoaktif dalam setahun terakhir. Hal ini membuktikkan pasien
tidak memiliki gangguan mental dan perilaku akibat zat psikoaktif.

4
Pasien mengaku pernah mendengar suara atau bisikan, yaitu berupa suara
kakek-kakek. Suara tersebut mengatakan “Sabar… sabar…”. Suara yang didengar
pasien muncul terutama saat pasien dalam keadaan diam. Pasien juga mengatakan
melihat suatu makhluk gaib, yaitu berupa jin dan malaikat. Pasien pernah
menghidu suatu bau-bauan yang berupa bau melati dan bangkai yang tidak tahu
darimana sumbernya. Pasien merasa seperti ada yang berjalan di dalam tubuhnya.
Pasien juga mengatakan lidahnya merasakan rasa pahit walaupun pasien tidak
sedang makan apapun. Keluhan yang disampaikan pasien merupakan tanda
halusinasi, yang masing-masing terdiri dari halusinasi auditori, visual, olfaktori,
taktil, dan gustatori. Pasien juga merasa bahwa semua orang berada dalam dirinya,
semua orang tahu tentang dirinya, sehingga pasien merasa malu. Hal ini disebut
sebagai waham siar (thought of broadcasting). Pasien merasa seperti diolok-olok
oleh penyiar saat menonton televisi. Hal ini disebut sebagai waham rujukan
(delusion of reference). Pasien merasa seperti ada yang mengontrol atau
mengaturnya. Hal ini disebut sebagai delusion of control. Pasien merasa seperti
ada yang menyedot pikirannya. Hal ini disebut sebagai thought of withdrawal.
Pasien merasa seperti ada yang ingin menjahati atau menyantetnya. Hal ini
disebut sebagai waham kejar (delusion of persecution). Hal-hal tersebut
menunjukkan bahwa pasien memiliki waham. Pasien mengatakan keluhan-
keluhan diatas dirasakan sejak 12 tahun yang lalu. Keluhan dapat berkurang
secara drastis apabila pasien mengonsumsi obat.
Pasien merasa bahwa dirinya yang sekarang berbeda dengan dirinya yang
dulu dan merasa asing. Hal ini menunjukkan adanya tanda depersonalisasi pada
pasien. Pasien juga mengatakan rumahnya semakin lama semakin mengecil dan
merasa aneh pada rumahnya. Hal ini menunjukkan adanya tanda derealisasi pada
pasien ini. Pasien mengatakan merasa sedih dalam 2 minggu belakangan ini,
dikarenakan masalah perekonomian.
Pasien mengatakan bahwa pasien dilahirkan dengan jalan persalinan
normal dan tidak ada penyulit saat persalinan. Pasien tidak pernah mengalami
tinggal kelas saat sekolah. Pasien mengaku saat masa sekolah dapat bergaul

5
dengan baik dari SD sampai STM dan memiliki banyak teman. Kegiatan pasien
sehari-hari adalah mengajar ngaji dan mengumandangkan adzan di masjid.
Pasien memiliki seorang istri dan satu orang anak yang berumur tiga
tahun. Pasien tinggal di rumah milik mertuanya, di daerah Pulogadung. Pasien
sehari-sehari bekerja sebagai guru ngaji dan istri pasien membantu ibunya
berjualan nasi uduk. Kebutuhan sehari-hari pasien dapat terpenuhi yang ditunjang
dari orang tua dan adik-adiknya, namun pas-pasan. Pasien mengatakan sering
meminjam uang jika sedang tidak memiliki uang dan pasien meminjam uang
kepada saudaranya untuk keperluan pengobatan. Pasien tidak menggunakan
jaminan kesehatan apapun dengan alasan kecocokannya berobat di poli jiwa
RSUP Persahabatan. Pasien miliki 1 saudara laki-laki dan 4 saudara perempuan.
Pasien menyangkal bahwa kelurganya ada yang menderita gangguan jiwa seperti
dirinya.
Pasien diajukan pertanyaan mengenai makna pribahasa “tong kosong
nyaring bunyinya”. Pasien dapat menjawab “orang yang banyak omong, biasanya
ilmunya tidak ada”. Hal ini menunjukkan daya abstraksi pasien dalam keadaan
baik. Selanjutnya, pasien diajukan pertanyaan apa yang dilakukan pasien saat
melihat anak kecil ingin menyebrang jalan dan kebingungan. Pasien menjawab
bahwa ia akan membantu anak tersebut menyebrang. Hal ini menunjukkan bahwa
pasien memiliki uji daya nilai yang baik. Selanjutnya, pasien ditanya apakah
pasien saat ini mengalami gangguan jiwa atau tidak. Pasien mengakui kalau ia
mengalami gangguan jiwa dan memerlukan obat untuk menanganinya. Hal ini
menunjukkan bahwa pasien ini termasuk dalam tilikan 6.
Pasien diberikan pertanyaan mengenai tiga keinginan yang dimiliki
olehnya. Keinginan pasien antara lain ingin dapat membahagiakan orang tuanya,
membahagiakan istri dan anaknya, dan kehidupan pasien bisa kembali normal
atau sembuh, salah satunya dapat bekerja seperti dulu.

C. Riwayat Gangguan Sebelumnya


1. Riwayat Gangguan Psikiatri
Pasien tidak memiliki gangguan psikiatri sebelumnya.

6
2. Riwayat Penggunaan NAPZA
Pasien tidak memiliki riwayat mengonsumsi zat psikoaktif dalam setahun
belakangan.
3. Riwayat Gangguan Medik
Pasien riwayat mengalami cedera kepala dan operasi kraniotomi.
4. Riwayat Gangguan Neurologi
Pasien tidak memiliki riwayat gangguan neurologi

D. Riwayat Kehidupan Pribadi


1. Riwayat prenatal
Pasien dilahirkan dalam usia kehamilan matur dan melalui proses persalinan
normal. Tidak ada penyulit saat proses persalinan.
2. Riwayat masa kanak-kanak awal
Pertumbuhan dan perkembangan pasien sesuai dengan usia.
3. Riwayat masa kanak-kanak akhir
Pertumbuhan dan perkembangan pasien sesuai dengan usia.
4. Riwayat masa remaja
Pasien mampu bergaul dengan baik dengan teman sebayanya dan dapat
mengikuti pelajaran dengan baik selama masa sekolah.
5. Riwayat pendidikan:
Pendidikan terakhir pasien adalah STM yang setara dengan sekolah menengah
atas.
6. Riwayat pekerjaan
Pasien pernah bekerja sebagai buruh, namun berhenti. Saat ini pasien bekerja
sebagai guru ngaji.
7. Riwayat pernikahan
Pasien sudah menikah, memiliki seorang istri dan satu orang anak.
8. Riwayat beragama
Pasien beragama Islam dan rajin beribadah dan berdoa
9. Hubungan dengan Keluarga
Pasien mengatakan hubungan pasien dengan kelurganya dalam keadaan baik.

7
10. Riwayat keluhan serupa dalam keluarga:
Pasien menyangkal bahwa di keluarganya ada yang memiliki keluhan yang
sama dengan pasien
11. Situasi sosial sekarang:
Pasien seorang laki-laki berusia 36 tahun, sudah menikah. Pasien saat ini
tinggal di rumah milik mertuanya. Pasien tinggal bersama istri, mertua dan
anaknya. Pasien bekerja sebagai guru ngaji saat ini Kebutuhan sehari-hari
pasien dapat terpenuhi yang ditunjang dari orang tua, istri, dan adik-adiknya,
namun pas-pasan. Pasien mengatakan meminjam uang dari saudaranya untuk
dapat berobat. Pasien tidak menggunakan jaminan kesehatan apapun dengan
alasan kecocokannya berobat ke poli jiwa RSUP Persahabatan. Hubungan
pasien dengan keluarga dan teman-temannya dalam keadaan baik.
12. Persepsi pasien tentang dirinya dan kehidupannya
Pasien memiliki tiga keinginan, yaitu ingin dapat membahagiakan orang
tuanya, membahagiakan istri dan anaknya, dan kehidupan pasien bisa kembali
normal atau sembuh, salah satunya dapat bekerja seperti dulu.

III. STATUS MENTAL


A. Deskripsi Umum
a. Penampilan
Laki-laki usia 36 tahun, datang ke RSUP Persahabatan. Mengenakan pakaian
yang rapi dan sopan sesuai dengan usia.
Kesadaran : Compos Mentis
Kontak Psikis : Dapat berkomunikasi dengan baik
b. Perilaku dan Aktivitas Psikomotor
Cara berpakaian : Rapi dan sopan
Cara berjalan : Mampu berjalan tanpa alat bantu
Aktivitas psikomotor : Pasien kooperatif, terdapat kontak mata yang baik,
mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diberikan pemeriksa dengan
baik. Tidak tampak aktivitas pada tangan dan kaki pasien, seperti
menggoyang-goyangkan tangan atau kaki.

8
c. Pembicaraan
Kuantitas : Pasien dapat menjawab semua pertanyaan yang diajukan oleh
pemeriksa
Kualitas : Bicara spontan, volume bicara sedang, artikulasi jelas, isi
pembicaraan dapat dimengerti.
d. Sikap terhadap pemeriksa
Pasien kooperatif, mampu berkomunikasi dengan baik

B. Keadaan Afektif
Mood : Sedih
Afek : Luas
Keserasian : antara mood dan afek serasi
Persepsi : halusinasi (+)
Proses/isi pikir : koheren, waham (+), tremor (-), rigiditas (-)
Empati : Pemeriksa dapat merasakan apa yang dirasakan pasien
RTA buruk, tilikan derajat 6.

C. Fungsi Intelektual dan Kognitif


1. Taraf pendidikan, pengetahuan umum dan kecerdasan
Pendidikan terakhir pasien yaitu STM setara dengan sekolah menengah atas.
2. Daya konsentrasi
Daya konsentrasi pasien dalam keadaan baik. Pasien dapat menjawab
pertanyaan-pertanyaan baik pengetahuan umum, pertanyaan hitungan,
ataupun mengingat kejadian lampau serta kegiatan yang baru dilakukan.
3. Orientasi
Waktu : Dalam keadaan baik, pasien dapat menjawab dengan benar
waktu dilakukannya wawancara.
Tempat : Dalam keadaan baik, pasien dapat mengetahui sedang berada di
RSUP Persahabatan.
Personal : Dalam keadaan baik, pasien dapat mengetahui sedang wawancara
dengan dokter muda.

9
Situasi : Dalam keadaan baik, pasien dapat mengetahui sedang melakukan
wawancara mengenai keluhannya.
4. Daya ingat (Memori)
a. Daya ingat jangka panjang
Pasien dapat mengingat tempat sekolah SD, SMP, dan STM.
b. Daya ingat jangka menengah
Pasien dapat mengingat dengan baik hal yang dilakukan saat lebaran
sebulan yang lalu.
c. Daya ingat jangka pendek
Pasien dapat mengingat transportasi yang digunakan saat pasien menuju
ke RSUP Persahabatan.
d. Daya ingat segera
Pasien dapat mengingat 3 benda yang disebutkan, sehingga daya ingat
segera pasien dalam keadaan baik.
5. Pikiran abstrak
Awalnya, pasien diajukan pertanyaan mengenai makna ungkapan “panjang
tangan”, pasien dapat menjawab “suka mencuri”.
6. Kemampuan menolong diri sendiri
Pasien mengerjakan segala sesuatunya sendiri.

D. Gangguan Persepsi
1. Halusinasi
Halusinasi Auditorik : Ada
Halusinasi Visual : Ada
Halusinasi Taktil : Ada
Halusinasi Olfaktorik : Ada
Halusinasi Gustatorik : Ada
2. Depersonalisasi dan Derealisasi
Depersonalisasi : Ada
Derealisasi : Ada
E. Proses Pikir

10
1. Arus Pikir
Produktivitas : Baik, pasien dapat menjawab pertanyaan dengan
spontan
Kontuinitas : Pasien dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan yang
diberikan dengan baik dan sesuai dengan
pertanyaan
2. Isi Pikiran
Preokupasi : Tidak ada
Gangguan pikiran : Tidak ada

F. Pengendalian Impuls
Pasien mampu mengendalikan impuls selama wawancara

G. Daya Nilai
1. Nilai Sosial
Pasien dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitarnya dengan baik.
2. Uji Daya Nilai
Saat pasien diberikan pertanyaan apa yang dilakukannya saat melihat ada
seorang anak kecil ingin menyebrang jalan dan kebingungan, pasien
menjawab bahwa ia akan membantu anak tersebut menyebrang jalan.
3. Penilaian Realitas
Penilaian terhadap realitas tidak baik, pasien memiliki waham dan halusinasi.

H. Persepsi Pemeriksa terhadap Diri dan Kehidupan Pasien


Pasien menyadari dirinya mengalami suatu penyakit yang berhubungan dengan
kejiwaannya. Pasien memiliki keinginan dapat mengatasi penyakitnya.

I. Tilikan
Tilikan derajat 6 yaitu pasien mengakui gangguan kejiawaan yang dideritanya dan
memiliki keinginan untuk menjalani pengobatan.
J. Taraf dapat Dipercaya

11
Pemeriksa dapat menilai bahwa jawaban pasien dapat dipercaya karena pasien
konsisten dalam memberikan jawaban.

IV. PEMERIKSAAN FISIK


a. Status Generalis
 Keadaan Umum/Kesadaran : Baik, compos mentis
 Tanda Vital
 TD : 120/80 mmHg
 Nadi : 84 x/menit
 RR : 21 x/menit
 Sistem Kardiovaskuler : Tidak ada kelainan
 Sistem Muskuloskeletal : Tidak ada kelainan
 Sistem Gastrointestinal : Tidak ada kelainan
 Sistem Urogenital : Tidak ada kelainan
 Gangguan Khusus : Tidak ada kelainan

b. Status Neurologis
 Saraf Kranial : Kesan dalam batas normal
 Saraf Motorik : Kesan dalam batas normal
 Sensibilitas : Kesan dalam batas normal
 Susunan Saraf Vegetative : Tidak ada kelainan
 Fungsi Luhur : Tidak ada kelainan
 Gangguan khusus : Tidak ada kelainan

V. IKHTISAR PENEMUAN BERMAKNA

1. Pasien laki-laki usia 36 tahun datang dengan keluhan lemas, tidak bisa makan, dab
tidak bisa tidur

2. Keluhan dirasakan apabila pasien tidak mengonsumsi obat dari dokter karena obat
habis

3. Kesadaran, fungsi kognitif, pengetahuan umum, daya ingat dan orientasi pada pasien

12
dalam keadaan baik

4. Pasien tidak pernah mengonsumsi zat psikoaktif dalam setahun terakhir

5. Pasien ini memiliki tanda-tanda halusinasi visual, auditorik, olfaktori, taktil dan
gustatori. Pasien memiliki tanda-tanda waham, seperti thought of broadcasting,
waham rujukan delusion of reference, delusion of control, thought of withdrawal,
waham kejar delusion of persecution.

6. Pasien ini memiliki tanda depersonalisasi dan derealisasi.

7. Keluhan-keluhan diatas dirasakan pasien sejak 12 tahun yang lalu.

8. Pasien mengaku merasa sedih dalam dua minggu belakangan, karena masalah
perekonomian.

9. Pasien dilahirkan dalam usia kehamilan matur melalui persalinan normal, tidak ada
penyulit saat persalinan, serta tidak ada masalah dalam tumbuh kembang pasien.

10. Pendidikan terakhir pasien adalah STM yang setara dengan sekolah menengah atas.

11. Pasien memiliki riwayat cedera kepala dan operasi kraniotomi

12. Pasien sudah menikah. Pasien saat ini tinggal di rumah milik mertuanya. Pasien
tinggal bersama istri, mertua dan anaknya. Pasien bekerja sebagai guru ngaji saat ini
Kebutuhan sehari-hari pasien dapat terpenuhi yang ditunjang dari orang tua, istri, dan
adik-adiknya, namun pas-pasan. Pasien mengatakan meminjam uang dari saudaranya
untuk dapat berobat. Pasien tidak menggunakan jaminan kesehatan apapun dengan
alasan kecocokannya berobat ke poli jiwa RSUP Persahabatan. Hubungan pasien
dengan keluarga dan teman-temannya dalam keadaan baik.

13. Pasien memiliki gejala dan disabilitas yang sedang dalam kehidupannya.

VI. FORMULASI DIAGNOSTIK


Berdasarkan hasil anamnesis dan pemeriksaan yang telah dilakukan pada pasien ini
terdapat gejala atau perilaku yang secara klinis menimbulkan penderitaan (distress)
dan yang berkaitan dengan terganggunya fungsi (disfungsi). Berdasarkan hasil
tersebut, pasien dikatakan menderita Gangguan Jiwa.

13
a. Diagnosis Aksis I
▪ Berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik yang telah dilakukan tidak
terdapat penyakit yang menyebabkan disfungsi otak. Hal ini dapat dinilai dari
tingkat kesadaran, fungsi kognitif, daya ingat, dan orientasi yang tergolong
baik, sehingga pasien ini bukan penderita Gangguan Mental Organik (F.0).
▪ Dari hasil anamnesis pasien mengaku memiliki kebiasaan merokok, namun
tidak mengonsumsi zat psikoaktif dalam setahun terakhir. Hal ini menunjukkan
bahwa pasien bukan penderita Gangguan Mental dan Perilaku Akibat Zat
Psikoaktif atau Alkohol (F.1).
▪ Dari hasil anamnesis pasien memiliki gangguan dalam menilai realitas, yaitu
halusinasi yang terdiri dari halusinasi auditorik, visual, taktil, olfaktori, dan
gsutastori. Selain itu, tanda waham juga ada pada pasien ini, seperti thought of
broadcasting, waham rujukan delusion of reference, delusion of control,
thought of withdrawal, waham kejar delusion of persecution, maka pasien ini
penderita Gangguan Psikotik (F.2). Dari hasil anamnesis pasein merasakan
keluhan-keluhan diatas sejak ±12 tahun yang lalu dan dari jenis keluhan yang
dirasakan, maka pasien ini merupakan penderita Skizofrenia Paranoid
(F20.0).
▪ Pada pasien ini tidak ditemukan adanya elevasi afek atau euphoria, aktivitas
mental dan psikomotorik yang berlebihan sehingga dapat disimpulkan pasien
ini merupakan bukan penderita gangguan manik. Pada pasien ini tidak
ditemukan adanya afek depresi atau kesedihan, kehilangan minat maupun
penurunan nafsu makan sehingga pasien ini bukan merupakan penderita
gangguan depresi (F.32).

b. Diagnosis Aksis II
▪ Pasien ini mengaku pada anak-anak hingga dewasa ia dapat berkomunikasi dan
bergaul dengan teman sebayanya, serta memiliki banyak teman. Hal ini
menunjukkan bahwa pasien tidak terdapat gangguan kepribadian.
Pendidikan terakhir pasien adalah STM, fungsi kognitif pasien baik, dan
pasien mampu mengikuti pelajaran (tidak pernah tinggal kelas) sehingga pada

14
pasien tidak terdapat gangguan retardasi mental. Pasien tidak memiliki
gangguan kepribadian dan tidak terdapat gangguan retardasi mental, maka
diagnosis pada Aksis II adalah tidak ada diagnosis.

c. Diagnosis Aksis III


▪ Pasien tidak memiliki riyawat penyakit apapun. Maka aksis III tidak ada
diagnosis.

d. Diagnosis Aksis IV
▪ Hubungan pasien dengan keluarganya dalam keadaan baik. Kebutuhan
sehari-hari pasien ditunjang dari orang tua, istri, dan adik-adiknya, namun
pas-pasan. Maka diagnosis aksis IV pada pasien ini adalah masalah
ekonomi.

e. Diagnosis Aksis V
▪ Pada pasien ini didapatkan gejala sedang, disabilitas sedang dalam sosial.
Maka pada aksis V didapatkan GAF scale 60-51.

VII. EVALUASI MULTIAKSIAL


▪ Aksis I : Skizofrenia Paranoid dalam Remisi Tidak Sempurna
▪ Aksis II : Tidak ada diagnosis
▪ Aksis III : Tidak ada diagnosis
▪ Aksis IV : Masalah ekonomi
▪ Aksis V : GAF Scale 60-51

VIII. DAFTAR PROBLEM


▪ Organobiologis : tidak ada
▪ Gangguan perilaku dan psikologis : pasien merasa sulit tidur, terdapat
halusinasi, dan waham
▪ Sosio ekonomi : Ada masalah

15
IX. PROGNOSIS
a. Prognosis ke Arah Baik
 Pasien menyadari mengenai keluhan yang ia rasakan
 Pasien memiliki harapan untuk dapat mengatasi keluhan waham, halusinasi, dan
sulit tidurnya
 Pasien rutin menjalankan pengobatan ke klinik jiwa
 Respon terhadap pengobatan selama ini baik
b. Prognosis ke Arah Buruk
 Gejala dirasakan kembali apabila obat yang dikonsumsi habis atau pasien tidak
dapat minum obat.
 Saat gejala tersebut timbul, pasien tidak dapat melakukan aktivitas sehari-hari
 Masalah yang dimiliki pasien seputar perekonomian keluarga
Berdasarkan data-data diatas maka dapat disimpulkan prognosis pada pasien ini
adalah
▪ Ad Vitam : ad bonam
▪ Ad Functionam : ad bonam
▪ Ad Sanationam : dubia ad bonam

X. TERAPI
a. Psikofarmaka
 Haloperidol 3 x 5 mg
 Chlorpromazin 3 x 10 mg
 Trihexylphenidil 3 x 2 mg
b. Psikoterapi
 Edukasi mengenai penyakit yang diderita pasien dan menjelaskan untuk rutin
menjalani pengobatan.
 Lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT.
 Menerapkan sleep hygiene dengan benar
Penerapan sleep hygiene:
- Tidak boleh tidur pada siang hari, disarankan agar beraktivitas pada siang
hari

16
- Hindari menonton televisi hingga larut malam, terutama acara yang
berkaitan dengan mistis
- Tidak boleh minum minuman yang merangsang, seperti kopi, minuman
energi, dan lain-lain
- Atur suhu kamar senyaman mungkin
- Atur pencahayaan lampu di kamar menjadi redup
- Menyiapkan alas tidur atau tempat tidur yang datar dan nyaman
- Tidak memainkan dan mematikan gadget yang dimiliki
 Menciptakan suasana tidur yang senyaman mungkin.

17
DAFTAR PUSTAKA

1. Buku Ajar Psikiatri. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 2013

2. Muslim, Rusdi. Buku Saku Diagnosis Gangguan Jiwa. Jakarta. 2013

3. Muslim, Rusdi. Penggunaan Klinis Obat Psikotropika. Jakarta. 2014

18