Anda di halaman 1dari 13

TUGAS 6

METALURGI LAS

SRI RAMAYANTI TEKNIK METALURGI DAN MATERIAL


UNIVERSITAS INDONESIA

1706990445
Tugas – 06

1. Jelaskan definisi kemampulasan (weldability) & faktor apa yang mempengaruhi sifat
tsb.
Jawab :
Weldability dapat didefinisikan sebagai kemapuan bahan, logam untuk dapat dilas, tanpa
mengalami penurunan sifat-sifat yang dimilikinya secara berlebihan. Logam yang dilas dapat
mengalami penurunan mutu akibat terjadinya penggetasan, cacat atau retakan. Faktor-faktor yang
mempengaruhi kemampulasan antara lain : sifat alami logam, desain pengelasan, teknik
pengelasan dan skill dari tukang las.

2. Jelaskan kemampulasan dari baja AISI 1015 dan AISI 1040. Jelaskan jenis baja karbon
yang mana yang memiliki kemampulasan terbaik.
Jawab :
Berdasarkan persamaan CEV, kemampulasan dari baja karbon berbanding terbalik dengan
kemampukerasan dari baja karbon tersebut. Hal ini dikarenakan adanya pembentukan fasa
martensit selama proses perlakuan panas. Semakin tinggi kandungan Carbon, maka akan semakin
mudah untuk terbentk martensit sehingga weldabilitynya menjadi rendah. Kemampukerasan dapat
diukur dengan melakukan Jominy Test, dimana dengan pengujian ini kita dapat mengetahui
kemampukerasan suatu material (biasanya baja).

Jika dilihat dari komposisi Carbon dari masing-masing tipe baja, maka AISI 1015 termasuk baja
karbon rendah sementara AISI 1040 termasuk baja karbon medium. Sehingga dapat dapat
disimpulkan bahwa weldability dari AISI 1015 lebih bagus dibandingkan dengan AISI 1040
karena kandungan Carbonnya. Tapi baja AISI 1040 bisa juga dilas dengan memberi pelakuan
khusus yaitu melakukan pre-heating pada 149°C - 260°C dan dilakukan PWHT pada suhu 594°C -
649°C.
Tipe Baja Fe Mn C S P
AISI 1015 99.13 – 99.57 0.30 – 0.60 0.13 – 0.18 ≤ 0. 050 ≤ 0. 040
AISI 1040 98.6 – 99 0.60 – 0.90 0.37 – 0.44 ≤ 0. 050 ≤ 0. 040

3. Jelaskan hubungan antara komposisi logam yang akan dilas dengan sensitifitas retak.
Ukuran atau parameter apa yang dipakai untuk menentukan sensitifitas retak lasan.
Sebutkan beberapa rumusan yang saudara ketahui.
Jawab :
Hubungan antara komposisi logam yang akan dilas dengan sensifitas retak dapatdinyatakan dalam
grafik karbon ekivalen dengan sensifitas retak seperti yang terlihat pada grafik di bawah ini:

AWS menyatakan bahwa untuk kandungan karbon yang setara di atas 0,40% ada potensi retak di
zona terkena panas (HAZ) pada tepi potong api dan las. Namun, standar teknik struktural jarang
menggunakan CE, tetapi membatasi persentase maksimum elemen paduan tertentu.

Rumus lain dan paling populer adalah formula Dearden dan O'Neill, yang diadopsi oleh IIW pada
tahun 1967. Formula ini telah ditemukan cocok untuk memprediksi kekuatan pengerasan dalam
sejumlah besar karbon biasa yang biasa digunakan dan baja karbon-mangan, tetapi tidak untuk baja
paduan rendah berkekuatan rendah atau baja Cr-Mo paduan rendah. Rumus didefinisikan sebagai
berikut:

Untuk persamaan ini, kemampuan las berdasarkan rentang nilai CE dapat didefinisikan sebagai
berikut
Japanese Welding Engeineering Society menadopsi paratemer kritis logam pada retak pengelasan
berdasarkan penelitian Ito dan Bessyo, yaitu :

4. Jelaskan apa yang dimaksud dengan Liquation Cracking? Pada pengelasan jenis
material (baja) apa yang sering terjadi dan sebutkan pencegahannya.
Jawab :
Liquation Cracking dapat terjadi selama fabrikasi dengan pengelasan baik di zona yang
terkena panas di material induk, atau pada logam las yang diendapkan sebelumnya selama run
berikutnya. Ini hasil dari peleburan lokal pada butir atau batas-batas lainnya, dikombinasikan
dengan strain termal yang terkait dengan pengelasan. Kemungkinan besar terjadi, pengaruh
komposisi dalam baja tahan karat austenit dan paduan nikel dipertimbangkan secara lebih
rinci. Ditekankan bahwa meskipun elemen sisa seperti S, P atau B mungkin memiliki peran
penting dalam menyebabkan atau meningkatkan efek liquasi, banyak keretakan likuidasi
dikaitkan dengan penambahan paduan kecil, seperti Nb. Pengaruh penambahan paduan yang
disengaja, dan keseimbangan komposisi, dalam membatasi pengaruh residu akan
dipertimbangkan.
Biasanya liquation cracking ini menyerang material Duplex SS (Ferralium 255 dan SAF 2205)
dan Austenitic SS (Tipe 304 dan 304L). Berikut struktur mikro jenis material ini yang
terserang liquid cracking : (ket; A = SS 304, B = SS 304L, C = Ferallium 255, D = SAF 2205).
Cara pencegahannya ialah dengan menggunakan elektroda yang sesuai dengan komposisi
logam induknya, mengatur masukan panas, dan untuk logam induk sebaiknya dipilih yang
memiliki butir halus dan kandungan impurities yang rendah.
Pada pengerjaan welding austenitic SS dan nickel alloys, minimalkan interface temperature
dibawah 150° C untuk menjaga hot cracking.

5. Jelaskan apa yang dimaksud dengan Hydrogen Induced Cracking? Pada pengelasan
jenis material (baja) apa yang sering terjadi dan sebutkan pencegahannya.
Jawab :
Hydrogen Induced Cracking disebut juga cold cracking atau delayed cracking. Fitur pembeda
utama dari jenis retakan ini adalah bahwa hal itu terjadi pada baja feritik, paling sering
langsung pada pengelasan atau waktu singkat setelah pengelasan.
Hydrogen Induced Cracking biasanya dapat dibedakan karena karakteristik berikut:
 Pada baja C-Mn, crack biasanya berasal dari zona terpengaruh panas (HAZ), tetapi
dapat meluas ke logam las
 Retak juga dapat terjadi pada weld bead, biasanya melintang ke arah pengelasan pada
sudut 45° ke permukaan las. Mereka mengikuti jalan bergerigi, tetapi mungkin tidak
bercabang.
 Pada baja paduan rendah, retakan dapat melintang ke lasan, tegak lurus dengan
permukaan lasan, tetapi tidak bercabang, dan pada dasarnya planar.
Ada tiga faktor yang bergabung menyebabkan keretakan:
 hidrogen yang dihasilkan oleh proses pengelasan
 struktur rapuh keras yang rentan terhadap retak
 tegangan tarik yang bekerja pada sambungan las
Cracking biasa terjadi pada temperature normal yang disebabkan oleh difusi hydrogen pada
tegangan yang tinggi, bagian yang paling keras pada pengelasan.
Pada baja C-Mn, karena ada risiko yang lebih besar membentuk mikrostruktur getas di
HAZ, sebagian besar retak hidrogen dapat ditemukan pada logam induk. Dengan pilihan
elektroda yang tepat, logam las akan memiliki kandungan karbon lebih rendah daripada
logam induk dan, karenanya, setara karbon lebih rendah (CE). Namun, retak logam las
melintang dapat terjadi, terutama ketika pengelasan bagian tebal komponen; risiko retak
meningkat jika kandungan karbon logam las melebihi baja induk.

Pada baja paduan rendah, karena struktur logam las lebih rentan daripada HAZ, retak dapat
ditemukan dalam weld bead.
Pencegahan hydrogen induced cracking
 hydrogen pada logam las. Asal utama dari hydrogen adalah flux, misalnya coating
pada elektroda MMA. Jumlah hydrogen yang dipengaruhi oleh tipe elektoreda.
Elektroda dasar biasanya menghasilkan lebih sedikit hydrogen dibandingkan dengan
elektroda rutil dan selulosa. Sumber hydrogen lain seperti minyak, grease, koteoran,
karat, cat dan coating dan fluida pembersih juga harus dihindari.
 komposisi material dasar
Nilai CE mempengaruhi weldability dari material, semakin tinggi nilai CE maka
risiko terjadi hydrogen cracking akan lebih mudah terjadi
 Meminimalisir joint stress
 Melakukan Pre-heat dan Post-heat yang tepat
 Memilih logam pengisi yang tepat (dapat mengacu pada klasifikasi milik AWS)
 Packaging dan Storing harus terbebas dari Hidrogen, baik itu dalam keadaan vakum
atau diberi sedikit pemanasan pada suhu rendah.

6. Jelaskan apa yang dimaksud dengan Lamelar Tearing ? Pada pengelasan jenis material
(baja) apa yang sering terjadi dan sebutkan pencegahannya.
Jawab :
Lamellar tearing dapat terjadi di bawah lasan terutama di pelat baja digulung yang memiliki
daktilitas Fitur pembeda utama dari lamellar tearing adalah bahwa hal itu terjadi pada T-butt
dan las fillet biasanya diamati pada logam induk yang sejajar dengan batas fusi las dan
permukaan pelat. Retakan dapat muncul di jari kaki atau akar lasan tetapi selalu dikaitkan
dengan titik-titik konsentrasi tegangan tinggi.

Karena lamellar tearing berhubungan dengan konsentrasi tinggi dari inklusi memanjang yang
berorientasi sejajar dengan permukaan lempeng, robekan akan menjadi transgranular dengan
tampak seperti tangga.
Pencegahan lamellar tearing :
Tearing hanya ditemui di pelat baja rolling bukan pada forging atau casting. Baja dengan
kekuatan yang lebih tinggi memiliki risiko yang lebih besar terutama ketika ketebalannya
lebih dari 25mm.
Metode pencegahannya dengan menghindari tegangan tarik yang bekerja pada arah transversal
terhadap sampel.
 Void tersebar dan terbentuk di daerah inklusi pada logam induk
 Terbentuknya “terraces” dari void-void tersebut dan saling terhubung
 Terjadi propagasi dan berujung pada shear failure
Cara pencegahan untuk lamellar tearing ini dengan memperbaiki disain pengelasan yang akan
dilakukan :
 Karena tearing lebih mungkin terjadi pada penetrasi penuh T butt joint, jika mungkin,
gunakan dua lasan fillet

 Las dua sisi lebih rentan dibandingkan dengan pengelasan satu sisi besar dan
pengelasan yang seimbang untuk mengurangi tekanan akan semakin mengurangi risiko
robek terutama di root

 Lasan fillet satu sisi yang besar harus diganti dengan lasan fillet dua sisi yang lebih
kecil,
 Merancang ulang konfigurasi joint sehingga batas fusi lebih normal ke permukaan
pelat yang lebih rentan.

Karena material dan desain sambungan adalah penyebab utama tearing, pilihan proses
pengelasan hanya memiliki pengaruh yang relatif kecil terhadap risiko. Namun, proses
input panas yang lebih tinggi yang menghasilkan tekanan yang lebih rendah melalui HAZ
yang lebih besar dan penetrasi las yang lebih dalam dapat bermanfaat.
Karena hidrogen logam lasan akan meningkatkan risiko tearing, proses hidrogen yang
rendah harus digunakan saat pengelasan baja yang rentan.
Pemanasan sebelumnya akan memiliki efek menguntungkan dalam mengurangi tingkat
hidrogen diffusible logam las. Karena itu, pemanasan harus digunakan untuk mengurangi
tingkat hidrogen tetapi harus diterapkan sehingga tidak akan meningkatkan jumlah
kontraksi di lasan.

7. Jelaskan apa yang terjadi pada daerah lasan pada material yang mengalami canai
dingin (cold rolled) dan kemudian di las. Apa pula yang terjadi jika material dilakukan
aging.
Jawab :
Proses canai dingin merupakan proses yang dilakukan pada temperatur kamar atau dibawah
temperatur rekristalisasi. Proses canai dingin menyebabkan terjadinya mekanisme penguatan
pada benda kerja yang diikuti dengan turunnya keuletan, dimana benda kerja menjadi lebih
kuat, lebih keras, lebih rapuh. Pada proses canai dingin tegangan alir benda kerja menjadi
semakin meningkat. Pada struktur mikro spesimen pasca dilakukan pengelasan akan memiliki
struktur yang berbeda-beda mulai dari logam induk, HAZ, sampai ke struktur logam las.
Perbedaan ini sesuai dengan siklus panas yang dialaminya. Perbedaan siklus panas,
menyebabkan perbedaan struktur, dan perbedaan struktur mengakibatkan perbedaan sifat
mekanik. Selanjutnya, apabila material pasca las dilakukan aging atau penuaan akan terjadi 2
kemungkinan. Apabila material baja maka akan terjadi pelunakan, dan apabila material berupa
aluminum maka akan terjadi mekanisme penguatan larutan padat. Dimana langkah-
langkahnya adalah :
 Annealing pada temperatur 723°C + 50°C untuk menciptakan vacancies agar butir
dapat bergerak
 Diquench hingga mencapai Super Saturated Solid Solution
 Tempering lagi dan diholding hingga presipitat terbentuk, dan semakin lama waktu
penuaan yang dilakukan interface-nya akan berubah dari fully coherent-semi coherent-
incoherent
Dengan melakukan tahapan aging diatas maka aluminum akan menjadi lebih kuat, begitu juga
dengan aluminum pasca las.

8. Jelaskan pengaruh faktor komposisi kimia dan ketebalan material yang akan dilas
dengan weldability-nya. Mana yang saudara harus pilih bila pada pengelasan
kemungkinan dari kedua faktor tsb. Referensi apa yang sdr pakai.
Jawab :
Mampu las material yang akan di las dipengaruhi oleh karbon ekuivalen. Sebenarnya nilai
karbon ekuivalen menunjukkan hubungan antara kepekaan baja terhadap timbulnya retak
dengan komposisi kimia baja. Jadi karbon ekuivalen pada dasarnya mengindikasikan pengaruh
unsur-unsur yang terkandung pada baja terhadap kemungkinan terjadinya retak. Berkorelasi
positif dengan kesensitifan terjadinya retak, artinya kepekaan baja terhadap retak akan turun
jika nilai karbon ekuivalen menurun.
Material logam dengan ketebalan tinggi memiliki kemampulasan yang lebih baik
dibandingkan dengan material dengan ketebalan yang lebih tipis. Hal ini berkaitan dengan
sifat ketahanan terhadap panas. Material plat tipis cenderung mudah berlubang apabila dikenai
panas terlalu lama sehingga diperlukan kontrol panas yang baik terutama untuk plat tipis.
Contoh dalam kasus baja untuk keperluan struktural. Dimana sifat material baja struktural
yang diperlukan ialah:

Hal diatas hanya menjadi dasar dalam menentukan baja yang akan digunakan dalam aplikasi
struktural. Pada kenyataannya safety dan cost menjadi 2 hal yang tidak jarang saling
menghalangi pertimbangan dalam menentukan baja yang akan dipilih. Berdasarkan literatur
yang saya gunakan yakni Jurnal “WELDING OPTIONS IN STEEL CONSTRUCTION”
karya Dr. Jayanta k Saha, yang menjabat sebagai Dy.General Manager di Institute for Steel
Development & Growth, Kolkata, India, dalam rangka cost effective karbon ekivalen menjadi
salah satu step yang diperhatikan. Dimana seperti yang telah dijelaskan pada nomor 5 tentang
HIC, faktor komposisi kimia lebih diutamakan dibanding dimensi ketebalan pelat bajanya.
Jadi saya juga prefer dengan mengutamakan komposisi kimia dibanding memprioritaskan
ketebalan dimensi pelat baja
9. Apa tujuan utama preheating dan PWHT ? beri contoh material yang dilakukan
preheating dan atau PWHT.
Jawab :
Tujuan Utama Preheating adalah :
 Mengurangi perbedaan temperatur antara daerah pengelasan dan logam dasar
 Mengurangi laju pendinginan, yang akan mengurangi kesempatan pembentukan
martensit pada baja
 Mengurangi distorsi dan tegangan penyusutan
 Mengurangi bahaya crakcing pada pengelasan
 Agar hidrogen keluar dari base metal

Tujuan utama Post-Weld Heat Treat adalah :


 Mengurangi tegangan sisa
 Mengubah martensit menjadi ferit dan karbida agar mengurangi kekerasan, mengurangi
kekuatan, meningkatkan keuletan dna ketangguhan.
Material yang dilakukan preheating dan postheat pada 0.25% carbon steel. Bisa dilihat pada weld
metal, fusion zone dan base metal pada bagian yang telah di postheat kekerasan cenderung lebih
sama.
10. Suatu baja konstruksi (carbon steel) dengan tipe A515 grade 70 untuk bejana tekan
(pressure vessel) memiliki komposisi kimia 0.35% C, 1.2% Mn, 0.4% Si. Hitunglah
karbon ekivalen (CE) dan jelaskan kemampulasan dari baja tersebut serta treatment
apa saja yang menurut saudara harus dilakukan pada pengelasan material tersebut.
Gunakan tabel dibawah untuk analisa saudara.

Preheating Requirement Based on CE


CE (%) Preheating Required
Up to 0.45 Preheat optional
0.45 to 0.60 Preheat to 93 – 205 deg C
Over 0.60 Preheat to 205 to 370 deg C
Diketahui :

Komposisi kimia dari carbon steel A515 grade 70 untuk bejana tekan :

 C = 0,35%
 Mn = 1,2%
 Si = 0,4%
 Cr = 0,25%
 Ni = 0,1%
 Cu = 0,2%
 V = 0,1%
Untuk menentukan karbon ekivalen suatu material kita dapat menggunakan rumus :
Dari hasil perhitungan CE tersebut untuk carbon steel A515 grade 70 untuk bejana tekan
didapatkan nilai CE sebesar 0.7%. Berdasarkan tabel “Preheating Requirement Based on CE”
maka untuk carbon steel A515 grade 7 untuk bejana tekan akan dilakukan preheat pada suhu
205 – 370°C. Berdasarkan kandungan karbon dari carbon steel A515 grade 70 yaitu sebesar
0.35% maka carbon steel tersebut termasuk dalam baja karbon sedang dimana untuk
menghasilkan kemampulasan yang baik diperlukan suhu preheat dan postheat yang sama yaitu
pada suhu 205 – 370°C. Pada carbon steel A515 grade 70 ini terdapat proses pengelasan yang
direkomendasikan yaitu proses pengelasan dengan low hydrogen.
Pada material A515 grade 70 ini memiliki equivalen karbon yang lebih dari 0.62 yang
tergolong besar (high carbon steel) sehingga memiliki kemampuan las yang rendah. Dengan
meningkatnya karbon ekivalen, saat terjadi pendinginan sampai rentang suhu transformasinya
mikrostruktur akan berkembang menjadi mudah terjadi HIC yang berarti pada karbon tinggi
struktur material cenderung berubah menjadi martensitic.
Untuk menghindari kecacatan yang disebabkan oleh karbon ekivalen yang tinggi maka
diperlukan:
 Proses preheat yang bertujuan untuk memperkecil kecepatan pendinginan logam induk
dan lasan sehingga membuat ulet dan tahan terhadap retak, memberi kesempatan
hydrogen keluar, memperkecil tegangan sisa dan meningkatkan ketahanan getas.
 Menggunakan elektroda yang rendah H (mengurangi resiko gas Hidrogen masuk)
 Mengendalikan suhu interpass
 Post welding treatment yang bertujuan hampir sama dengan preheat yaitu mereduksi
stress yang disebabkan karena proses manufaktur, meningkatkan ketahanan terhadap
brittle fracture dan meminimalkan potensial HIC.

Anda mungkin juga menyukai