Anda di halaman 1dari 21

Laporan Praktikum

Elektronika Telekomunikasi

OLEH :

NAMA ISA MAHFUDI


: Moch. Ali Wasil
NIM : 1731130069
NIM. 1141160018
KELOMPOK :2
KELAS : TT-2E

PROGRAM STUDI D-III TEKNIK TELEKOMUNIKASI


JURUSAN TEKNIK ELEKTRO
POLITEKNIK NEGERI MALANG
2018
Unit 3

Filter Aktif

1. Tujuan

1.1. Mengukur bersarnya frekuensi cut-off pada filter aktif Low Pass orde satu.
1.2. Mengukur bersarnya frekuensi cut-off pada filter aktif Low Pass orde dua.
1.3. Mengukur bersarnya frekuensi cut-off pada filter aktif Low Pass orde dua.

2. Alat dan Bahan

2.1 R1 = 1 kΩ : 1 buah
2.2 R2 = 10 kΩ : 3 buah
2.3 R3 = 22 kΩ : 1 buah
2.4 C1 = 0.01 µF : 1 buah
2.5 C2 = 0.022 µF : 1 buah
2.6 Op-amp LM 741 : 1 buah
2.7 Osiloskop dual trace : 1 buah
2.8 Power supply : 1 buah
2.9 Generator fungsi : 1 buah
2.10 Modul : 1 buah
2.11 Tes probe adapter : 1 buah
2.12 Kabel penghubung secukupnya

3. Teori dasar

Ada dua tipe rangkaian filter yaitu filter aktif dan pasif. Filter pasif menggunakan komponen
pasif yaitu : kapasitor dan induktor. Rangkaian filter aktif menggunakan komponen aktif. Komponen
aktif yang digunakan pada percobaan ini adalah Op-Amp.

Filter Pasif
Gambar 3.1 menunjukkan salah satu bentuk Low Pass Filter. Pada frekuensi rendah
reaktansi induktif dari L1 dan L2 sangat rendah. Reaktansi kapasitif dari C1 dan C2 sangat
tinggi. Kita boleh mengatakan bahwa induktor berfungsi sebagai rangkaian hubung singkat,
sementara kapasitor berfungsi sebagai rangkaian terbuka, sehingga pada frekuensi rendah :
Vout = Vin
Ketika frekuensi input bertambah, induktor mulai menunjukkan XL tinggi dan kapasitor
menunjukkan XC rendah. Pada saat frekuensi tinggi, induktor muncul sebagai rangkaian terbuka
dan kapasitor berfungsi sebagai rangkaian hubung singkat. Ketika hal ini terjadi maka V out = 0V.
Gambar 3.1 (c) menunjukkan rangkaian high pass filter. High pass filter ini bekerja
berlawanan dengan low pass filter. Jika yang dilewatkan berfrekuensi tinggi dan meredam
frekuensi rendah dinamakan high pass filter.
Gambar 3.1 (b) dan (d) menunjukkan hubungan antara keluaran filter dan masukan
frekuensi. Pada frekuensi cut off (fc), fc berada pada titik setengah daya dimana filter keluaran
adalah 3 dB “turun” dari keluaran maksimum (0,707 x puncak output). Mengingat bahwa
bandwith juga diukur dari titik setengah daya.

Gambar 3.1
(a) Low Pass Filter, (b) Kurva respons low pass,
(b) High Pass Filter, (d) Kurva respons high pass

Desibel
Desibel, 0,1 bel (B) adalah cara menggambarkan penguatan atau peredaman. Desibel
juga digunakna pada penguatan tengangan (positif atau negatif).
Penguatan dalam desibel pada rangkaian filter adalah :
A dB = 20 log AV
Dimana logaritma dasar 10 dan AV merupakan penguatan tegangan (Av = Aout/Ain)
padarangkaian filter. Jika filter mempunyai asukan 1V pada 1 KHz dan keluaran 0,707V,
penguatan tegangannya adalah
AV = Aout/Ain = 0,707/1 = 0,707
Rangkaian penguatan desibel adalah :
A dB = 20 log AV = 20 log 0,707 = 20 (-0,15) = -3 dB
Bila peredaman 6 dB, penguatan tegangan terbagi menjadi dua. Untuk masing-masing
penambahan 6 dB, penambahan menjadi dua kali lipat lihat gambar 3.2.

Gambar 3.2 Perbandingan penguatan tegangan dan penguatan dalam dB


Filter Aktif
Filter aktif mempunyai beberapa manfaat lebih dari filter pasif. Pada penggunaan Op
Amp sebagai komponen dasar filter aktif. Perubahan penggunaan filter dapat dicapai. Op Amp
juga kemungkinan menyetel range filter lebih lebar tanpa merubah respon frekuensi dan dapat
memisahkan beban dari sumber karena Zin tinggi dan Zout rendah.
Tetapi filter aktif tidak sempurna. Ada beberapa kekuranggannya. Pertama, respon
frekuensi tergantung pada penggunaan tipe Op Amp dan sebagian besar tidak mempunyai respon
frekuensi tinggi yang layak. Kedua, Op Amp keberadannya memerlukan daya operasi dimana
filter pasif tidak memerlukan daya operasi.
Rangkaian LPF aktif terlihat pada gambar 3.3 (a) dan gambar 3.3 (b) menunjukkan
respon frekuensinya.
Rangkaian ini dianggap filter orde satu karena pengurangan rata-rata 6 dB / oktaf
melewati fc. Untuk penambahan frekuensi dua kalinya, terdapat peredaman 6 dB pada sinyal
keluaran. Dengan Cin paralel dengan Rf , Xc menjadi faktor penentu pada penguatan rangkaian.
Pada frekuensi rendah Xc menjadi berkembang dan impedansi paralel Xc dan Rf akan menjadi
lebih rendah. Dengan demikian penguatan rangkaian menjadi rendah. Sehinga frekuensi masukan
mendekati terhingga, Xc mendekati 0 dan penguatan rangkaianpun juga nol. Frekuensi cut off
dari rangkaian dapat dihitung dengan :
fc = 1 / 2πRFC
Rangkaian pada gambar 3.3 terdapat pengesetan penguatan dan dapat mengontrol
frekuensi cutoff. Pengesetan nilai C menyebabkan nilai fc tercapai. Pengesetan dari R1
digunakan mengubah penguatan rangkaian.
Low Pass Filter
LPF mengalami perubahan output pada 12 dB/oktaf. Kurva respons rangkaian ini
ditunjukkan pada gambar 3.4 (b). Filter aktif telah dijelaskan pada gambar 3.4 (a). Pada
rangkaian ini 2 kapasitor mempengaruhi penguatan Op Amp.

Gambar 3.3 (a) LPF orde satu, (b) Kurva respons LPF
Salah satu yang digunakan sebagai feedback R, sebagai filter orde satu dan yang lainnya
berasal dari masukan input sampai ground. Pada frekuensi rendah, rangkaian Xc tinggi. Oleh
karena itu, C1 tidak mempengaruhi masukan dan C2 memberikan nilai Xc tinggi untu penguatan
Op Amp tinggi. Frekuensi masukan bertambah, C1 menunjukkan Xc rendah. Kemudian sinyal
input pada Op Amp berkurang. Xc pada C2 juga berkurang. Jadi penguatan rangkaian berkurang
sementara satu kapasitor sinyal masukan rendah yang lain membatasi penguatan Op Amp. Hasil
keluaran membentuk kurva filter orde satu. Frekuensi filter ini dapat dihitung dengan :
fc = 0,707/2πRc
Second Order High Pass Filter
Rangkaiannya menunjukkan pada gambar 3.5 (a) bekerja kebalikan dengan gambar 3.4
(a). Pada frekuensi rendah C1 dan C2 mempunyai Xc tinggi dan daerah-daerah sinyal Op Amp
terlihat. Pada frekuensi rendah, filter keluaran adalah nol. Frekuensi tinggi, Xc dari C1 dan C2
menjadi rendah, kebanyakan sinyal input dilewatkan. Perlewatan C1 ini untuk mengendalikan
level input dan C2 untuk mengontrol level feedback.

Gambar 3.4 (a) LPF orde dua, (b) Kurva respons


Gambar 3.5 (a) HPF orde dua, (b) Kurva respons

6. Prosedur dan Hasil Percobaan

6.1 LPF Orde Satu

Gambar 3.5 Rangkaian LPF Orde Satu

6.1.1 Hubungkan modul titik Vin pada modul dengan Function Generator
6.1.2 Hubungkan titik +15 dan -15 dengan power supply, atur power supply
agar tegangan menjadi 15 V.

Gambar 3.6 Power Supply


6.1.3 Hubungkan titik Vo pada modul pada osiloskop.

Gambar 3.7 Rangkaian LPF orde Satu


6.1.4 Besarkan Frekuensi generator fungsi ke 200 Hz dan ukur Vout (kondisi
Vin tetap) dan lengkapi tabel 3.1
6.1.5 Ulangi langkah ke-3 diatas sesuai dengan frekuensi yang ada di dalam
tabel 3.1
6.1.6 Hitug besar penguatan (Av = Vout / Vin) serta dalam bentuk dB (Av dB
= 20 log Av).
6.1.7 Gunakan hasil pengukuran untuk menggambar kurva respon frekuensi
filter (Av dB sebagai fungsi frekuensi).
berikut saya tampilkan hasil percobaan dalam :
Tabel 3.1 Pengukuran LPF Orde Satu

Frekuensi (Hz) Vin (Vpp) Vout (Vpp) AV AV (dB)


100 1V 9,6 V 9,6 V 19,64
200 1V 9,44 V 9,44 V 19,49
500 1V 9,12 V 9,12 V 19,19
1000 1V 8,16 V 8,16 V 18,23
2000 1V 5,6 V 5,6 V 14,96
5000 1V 2,88 V 2,88 V 9,18
10000 1V 1,68 V 1,68 V 4,51
12000 1V 1,6 V 1,6 V 4,08
15000 1V 1,44 V 1,44 V 3,17
18000 1V 1,36 V 1,36 V 2,67
20000 1V 1,36 V 1,36 V 2,67
6.2 LPF Orde Dua

Gambar 3.8 Rangkaian LPF Orde Dua

6.2.1 Hubungkan modul titik Vin pada modul dengan Function Generator
6.2.2 Hubungkan titik +15 dan -15 dengan power supply, atur power supply
agar tegangan menjadi 15 V.

Gambar 3.9 Power Supply

6.2.3 Hubungkan titik Vo pada modul pada osiloskop.


Gambar 3.10 Rangkaian LPF orde Dua
6.2.4 Besarkan Frekuensi generator fungsi ke 200 Hz dan ukur Vout (kondisi
Vin tetap) dan lengkapi tabel 3.2
6.2.5 Ulangi langkah ke-3 diatas sesuai dengan frekuensi yang ada di dalam
tabel 3.2
6.2.6 Hitug besar penguatan (Av = Vout / Vin) serta dalam bentuk dB (Av dB
= 20 log Av).
6.2.7 Gunakan hasil pengukuran untuk menggambar kurva respon frekuensi
filter (Av dB sebagai fungsi frekuensi).
berikut saya tampilkan hasil percobaan dalam :
Tabel 3.2 Pengukuran LPF Orde Dua

Frekuensi (Hz) Vin (Vpp) Vout (Vpp) AV AV (dB)


100 1V 1,06 V 1,06 V 0,5
200 1V 1,09 V 1,09 V 0,74
500 1V 1,06 V 1,06 V 0,5
1000 1V 0,848 V 0,848 V -1,43
2000 1V 0,344 V 0,344 V -9,26
1100 1V 0,760 V 0,760 V -2,3
1200 1V 0,696 V 0,696 V -3,14
1500 1V 0,544 V 0,544 V -5,2
1800 1V 0,424 V 0,424 V -7,45
6.3 HPF Orde Dua

Gambar 3.11 Rangkaian HPF Orde Dua

6.3.1 Hubungkan modul titik Vin pada modul dengan Function Generator
6.3.2 Hubungkan titik +15 dan -15 dengan power supply, atur power supply
agar tegangan menjadi 15 V.

Gambar 3.12 Power Supply


6.3.3 Hubungkan titik Vo pada modul pada osiloskop.

Gambar 3.10 Rangkaian HPF orde Dua

6.3.4 Besarkan Frekuensi generator fungsi ke 200 Hz dan ukur Vout (kondisi
Vin tetap) dan lengkapi tabel 3.2
6.3.5 Ulangi langkah ke-3 diatas sesuai dengan frekuensi yang ada di dalam
tabel 3.2
6.3.6 Hitug besar penguatan (Av = Vout / Vin) serta dalam bentuk dB (Av dB
= 20 log Av).
6.3.7 Gunakan hasil pengukuran untuk menggambar kurva respon frekuensi
filter (Av dB sebagai fungsi frekuensi).
berikut saya tampilkan hasil percobaan dalam :
Tabel 3.3 Pengukuran HPF Orde Dua

Frekuensi (Hz) Vin (Vpp) Vout (Vpp) AV AV (dB)


100 1V 0,528 V 0,528 V -5,5
200 1V 0,544 V 0,544 V -5,2
500 1V 0,618 V 0,618 V -4,18
800 1V 0,696 V 0,696 V -3,14
1000 1V 0,784 V 0,784 V -2,02
2000 1V 0,736 V 0,736 V -2,6
5000 1V 0,888 V 0,888 V -1,03
10000 1V 0,944 V 0,944 V -0,5
12000 1V 0,944 V 0,944 V -0,5
15000 1V 0,944 V 0,944 V -0,5
18000 1V 0,944 V 0,944 V -0,5
20000 1V 0,944 V 0,944 V -0,5

8. Analisa dan Pembahasan

8.1. Pengukuran LPF Orde Satu


Low Pass Filter memiliki cara kerja untuk meneruskan frekuensi lemah/rendah
sehingga frekuensi tinggi akan diredam.
Hasil grafik

LPF orde 1
25

20

15

AV (dB)
10

0
0 5000 10000 15000 20000 25000

8.2. Pengukuran LPF Orde Dua


aaaaaSama seperti LPF Orde Satu, namun bedanya terletak pada frekuensi cut off
pada LPF Orde Dua lebih rendah dibandingkan LPF Orde Satu.
Hasil grafik
LPF orde 2
2

0
0 500 1000 1500 2000 2500
-2

-4 AV (dB)

-6

-8

-10

8.3. Pengukuran HPF Orde Dua


High Pass Filter menahan/meredam frekuensi rendah, sehingga cara kerja HPF ini
yaitu memperlemah tegangan keluaran dibawah frekuensi cut off nya (fc).
Hasil Grafik

HPF orde 2
0
0 5000 10000 15000 20000 25000
-1

-2

-3 AV (dB)

-4

-5

-6

7. Kesimpulan

7.1. LPF dan HPF memiliki titik cut off yang sama yakni pada titik rendahnya sebesar 70,7
% atau -3 dB, perbedaan yang terdapat pada rangkaian LPF dan HPF adalah nilai
frekuensi pada titik cut off -3 dB yakni pada LPF orde satu 15 kHz, LPF orde dua 1,2
kHz dan HPF orde 2 800 Hz.
10. Lampiran

10.1. Tabel 3.4 Pengukuran LPF Orde Satu

Frekuensi Vin
Vout (Vpp)
(Hz) (Vpp)

100 1V

200 1V

500 1V

1000 1V
2000 1V

5000 1V

10000 1V

12000 1V

15000 1V
18000 1V

20000 1V

10.2. Tabel 3.4 Pengukuran LPF Orde Dua


Frekuensi Vin
Vout (Vpp)
(Hz) (Vpp)

100 1V

200 1V
500 1V

9,13

1000 1V

2000 1V

1100 1V
1200 1V

1500 1V

1800 1V

10.3. Tabel 3.4 Pengukuran HPF Orde Dua


Frekuensi Vin
Vout (Vpp)
(Hz) (Vpp)

100 1V
200 1V

500 1V

800 1V

1000 1V

2000 1V
5000 1V

10000 1V

12000 1V

15000 1V

18000 1V
20000 1V