Anda di halaman 1dari 20

Untukmu Yang Bertanya Tentang Tatacara Wudhu Yang Benar (Revisi*)

 admin
 September 13, 2013
 11 Comments
 Tags: bersuci, cara wudhu, cara wudhu sesuai tuntunan Rasulullah, hukum air,
tayammum

Oleh : Al-Ustadz Abu Ibrahim Abdullah bin Mudakir

Mengetahui bagaimana tatacara wudhu yang benar adalah perkara yang sangat
penting dikarenakan wudhu adalah ibadah yang sangat agung dan merupakan syarat
sah ibadah shalat seseorang. Di samping itu wudhu mempunyai keutamaan yang sangat
banyak dan itu dicapai dengan niat yang ikhlas dan berwudhu yang benar.

TATACARA WUDHU

Pembahasan Pertama: Pengertian Wudhu

‫ على‬،‫ على صفة مخصوصة في الشرع‬-‫وهي الوجه واليدان والرأس والرجالن‬- ‫استعمال الماء في األعضاء األربعة‬
‫وجه التعبد هلل تعالى‬

Menggunakan air pada anggota tubuh yang empat – wajah, kedua tangan, kepala dan kedua
kaki- menurut sifat (tatacara –ed) tertentu dalam syar’i dalam rangka beribadah kepada Allah

Ta’aala. (Al-Fiqh al-Muyasar, hlm 33)


Pembahasan Kedua: Keutamaan-Keutamaan Wudhu

Wudhu mempunyai keutamaan yang sangat banyak, diantaranya apa yang kami sebutkan
dalil-dalinya dibawah ini:

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

‫ت أَ ْظفَ ِار ِه‬ َ ْ‫ضأ َ فَأَح‬


َ ‫سنَ ا ْل ُوضُو َء َخ َر َجتْ َخ َطا َياهُ ِم ْن َج‬
ِ ْ‫س ِد ِه َحتَّى تَ ْخ ُر َج ِم ْن تَح‬ َّ ‫َم ْن ت َ َو‬

“Barangsiapa yang membaguskan wudhu keluarlah dosa-dosanya dari jasadnya sampai


keluar dari bawah kukunya.” (HR. Muslim no. 245)

dalam hadits yang lain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

َّ َّ‫ش َه ُد أ َ ْن الَ إِلَهَ إِال‬


ُ‫ّللا‬ ْ َ‫سبِ ُغ – ا ْل ُوضُو َء ث ُ َّم َيقُو ُل أ‬
ْ ُ‫ضأ ُ فَيُ ْب ِل ُغ – أ َ ْو فَي‬
َّ ‫َما ِم ْن ُك ْم ِم ْن أ َ َح ٍد يَت َ َو‬

‫اب ا ْل َجنَّ ِة الث َّ َمانِيَةُ يَ ْد ُخ ُل ِم ْن أَيِهَا شَا َء‬


ُ ‫سولُهُ إِالَّ فُتِ َحتْ لَهُ أَب َْو‬
ُ ‫ّللاِ َو َر‬ َ ‫َوأَنَّ ُم َح َّمدًا‬
َّ ‫ع ْب ُد‬

“Tidaklah salah seorang di antara kalian berwudhu dan sampai selesai atau
menyempurnakan wudhu kemudian membaca doa : “Aku bersaksi tidak ada ilah
(sesembahan) yang berhaq disembah kecuali Allah dan aku bersaksi bahwasanya
Muhammad adalah hamba Allah dan utusan-Nya, melainkan akan dibukakan baginya
delapan pintu surga yang dia bisa masuk dari pintu mana saja yang dia kehendaki.”

Dalam sebuah riwayat : “Aku bersaksi tidak ada ilah (sesembahan) yang berhaq disembah
kecuali Allah semata yang tidak ada sekutu bagi-Nya dan aku bersaksi bahwasanya
Muhammad adalah hamba Allah dan utusan-Nya” (HR. Muslim)

Dalam sebuah hadits dimana Utsman berkata,

َ ‫ضأ َ نَحْ َو ُوضُوئِي َهذَا ث ُ َّم‬


َ‫ص َّلى َر ْك َعتَي ِْن ال‬ َّ ‫َرأَيْتُ النَّ ِب َّي صلى هللا عليه وسلم يَت َ َو‬
َّ ‫ضأ ُ َنحْ َو ُوضُوئِي َهذَا َو َقا َل َم ْن ت َ َو‬
ْ َ
‫ّللاُ لَهُ َما تَقَ َّد َم ِم ْن ذنبِ ِه‬ َ ُ ‫سه‬
َّ ‫غفَ َر‬ َ ‫يه َما نَ ْف‬ ُ ‫يُحَد‬
ِ ِ‫ِث ف‬

“Aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berwudhu seperti wudhuku ini dan
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : ‘Barangsiapa yang berwudhu seperti
wudhuku ini kemudian shalat dua rakaat tidak berkata-kata di jiwanya (khusyu’), maka Allah
akan mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu.’” (HR. Bukhari no. 159 dan Muslim no.
423)

Pembahasan Ketiga: Syarat-syarat Wudhu

Wudhu mempunyai syarat-syaratnya yang sebagiannya merupakan syarat-syarat ibadah yang


lainnya juga. Yaitu Islam, berakal, tamyyiz, niat, menggunakan air yang suci, menghilangkan
apa yang dapat menghalangi sampainya air ke kulit seperti tanah, cat, atau yang lainnya.
(silahkan lihat ar-Raudul Murbi’: 189, al-Mulakhos al-Fiqhy: 1/41)
Penjelasannya secara singkat

1. Islam

Ini adalah syarat sahnya ibadah termasuk wudhu menurut kesepakatan (ijma’) ulama. Di
antara dalilnya adalah firman Allah Ta’aala,

ُ ‫َو َما َمنَعَ ُه ْم أ َ ْن ت ُ ْقبَ َل ِم ْن ُه ْم نَفَ َقات ُ ُه ْم إِ َّال أَنَّ ُه ْم َكفَ ُروا بِاهللِ َوبِ َر‬
‫سو ِل ِه‬

“Dan tidak ada yang menghalangi mereka untuk diterima dari mereka nafkah-nafkahnya
melainkan karena mereka kafir kepada Allah dan Rasul-Nya.” (at-Taubah: 54)

2. Berakal

Orang gila tidak diterima wudhunya karena dia orang yang tidak berakal.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

ِ ُ‫ص ِب ِى َحتَّى يَحْ تَ ِل َم َوع َِن ا ْل َمجْ ن‬


‫ون َحتَّى يَ ْع ِق َل‬ ْ َ‫ُرفِ َع ا ْل َقلَ ُم ع َْن ثَالَث َ ٍة ع َِن ال َّنائِ ِم َحتَّى ي‬
َّ ‫ست َ ْي ِق َظ َوع َِن ال‬

“Diangkat pena dari tiga orang, dari orang yang tidur sampai dia bangun, dari anak kecil
sampai dia baligh, dari orang gila sampai dia berakal.” (HR. Abu Dawud no. 4450, at-
Tirmidzi no. 1423 dan Ibnu Majjah no. 2041)

3. Tamyiiz (mampu membedakan yang baik dan yang buruk)

Anak kecil yang belum tamyyiz tidak sah wudhunya.

4. Niat

Tentang hal ini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

‫ت‬ ِ ‫ِإنَّ َما األ َ ْع َما ُل ِب‬


ِ ‫الن َّيا‬

“Sesungguhnya amalan itu tergantung dari niatnya.” (HR. Bukhari no. 1 dan Muslim no.
1907)

5. Menggunakan air yang suci

Tidak boleh berwudhu dengan air yang najis, bahkan wajib untuk berwudhu dengan air yang
suci.

6. Menghilangkan apa yang dapat menghalangi sampainya air ke kulit

Wajibnya untuk menghilangkan sesuatu yang dapat menghalangi sampainya air ke kulit agar
apat tercapai kesempurnaan wudhu.

Pembahasan Keempat: Fardhu-fardhu Wudhu


Menurut pendapat yang benar bahwasanya wajib dan fardhu mempunyai makna yang sama
tidak ada perbedaan. Fardhu-fardhu wudhu ada enam yaitu: mencuci wajah termasuk bagian
wajah berkumur-kumur dan istinsyaq, mencuci kedua tangan sampai siku, mengusap kepala
seluruhnya dan termasuk bagian kepala kedua telinga, membasuh kedua kaki, tartib
(berurutan), muwaalaat (berkesinambungan/tidak teputus). (Silakan lihat kitab Duruus al-
Muhimmah li ‘aammatil Ummah, Syaikh Ibnu Baaz Rahimahullah)

Dalilnya firman Allah Ta’aala:

‫س ُك ْم َوأ َ ْر ُجلَ ُك ْم ِإلَى‬


ِ ‫س ُحوا ِب ُر ُءو‬ ِ ‫سلُوا ُو ُجو َه ُك ْم َوأ َ ْي ِد َي ُك ْم ِإلَى ال َم َرا ِف‬
َ ‫ق َوا ْم‬ ِ ‫َيا أَيهَا الَّ ِذينَ آ َمنُوا ِإذَا قُ ْمت ُ ْم ِإلَى الصَّال ِة فَا ْغ‬
‫ا ْل َك ْعبَي ِْن‬

“Wahai orang-orang yang beriman, jika kalian hendak berdiri mengerjakan shalat, basuhlah
wajah-wajah kalian, kemudian tangan-tangan kalian sampai siku, kemudian usaplah kepala-
kepala kalian, kemudian basuhlah kaki-kaki kalian sampai kedua mata kaki.” (al-Maidah:
6)

Di antara perkara yang hukumnya wajib adalah seseorang berwudhu secara tartib, yaitu
berwudhu sesusi dengan runtutan yang diperintahkan Allah dan Rasul-Nya. Begitu juga
diantara perkara yang wajib adalah al-Muwaalaat yaitu berkesinambungan dalam berwudhu
sampai selesai tidak terhenti atau terputus.

Pembahasan Kelima: Tatacara Wudhu

1. Niat .

Yaitu berniat di dalam hatinya untuk berwudhu menghilangkan hadats atau dalam rangka
untuk mendirikan shalat. hal ini berdasarkan sebuah hadits yang diriwayatkan dari Umar bin
Khaththab radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam
bersabda,

ِ ‫إِنَّ َما األ َ ْع َما ُل بِالنِيَّا‬


‫ت‬

“Sesungguhnya amalan itu tergantung dari niatnya.” (HR. Bukhari no. 1 dan Muslim no.
1907)

Apa hukum niat dalam berwudhu?

Niat adalah syarat sah wudhu dan mandi (mandi janabah) menurut pendapat yang benar, ini
pendapatnya mayoritas ulama dari kalangan shahabat dan tabi’in, dalilnya berdasarkan hadits
yang telah disebutkan di atas.

Di mana tempatnya niat ?

Niat tempatnya di hati tidak perlu diucapkan.

Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah:


‫سانِ ِه أَجْ َزأَتْهُ النِيَّةُ ِباتِفَاقِ ِه ْم‬
َ ‫اء ؛ فَ ِإ ْن نَ َوى ِبقَ ْل ِب ِه َولَ ْم يَت َ َكلَّ ْم ِب ِل‬
ِ ‫اق ا ْلعُلَ َم‬ ُ ‫َوالنِيَّةُ َمحَلهَا ا ْلقَ ْل‬
ِ َ‫ب ِباتِف‬

“Dan niat tempatnya dihati menurut kesepakatan para ulama, jika berniat dalam hatinya
dan tidak diucapkan dengan lisannya cukup/sah sebagai niat menurut kesepakatan mereka.”
(Majmu Fatawa:18/161)

2. Tasmiyah (membaca Basmallah).

Disyariatkan ketika seseorang hendak berwudhu untuk membaca basmalah, hal ini
berdasarkan dalam sebuah hadits, dimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

‫علَ ْي ِه‬
َ ‫ّللاِ ت َ َعا َلى‬ ْ ‫صالَةَ ِل َم ْن الَ ُوضُو َء لَهُ َوالَ ُوضُو َء ِل َم ْن لَ ْم َي ْذك ُِر ا‬
َّ ‫س َم‬ َ َ‫ال‬

“Tidak ada shalat (tidak sah) orang yang shalat tanpa berwudhu dan tidak ada wudhu (tidak
sah) wudhunya seseorang yang tidak menyebut nama Allah.” (HR. Abu Dawud no. 101,
Ibnu Majjah no. 397, dan at-Tirmidzi no. 25 dan dihasankan oleh Syaikh al-Albani di Irwa’
no. 81 dari shahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)

Hukum membaca Basmallah ketika berwudhu?

Tentang hal ini para ulama berbeda pendapat, dikarenakan perbedaan dalam menentukan
shahih dan tidaknya hadits tentang masalah ini.

Jumhur (mayoritas ulama) berpendapat membaca basmalah ketika berwudhu hukumnya


sunnah. Sebagian ulama yang lain berpendapat hukumnya wajib dan sebagian yang lain
berpendapat bukan sunnah. Wallahu a’lam bish shawwab adapun kami cenderung kepada
pendapat jumhur yang mengatakan hukumnya sunnah membaca (‫ )باسم هللا‬ketika berwudhu.
Dalilnya adalah dari hadits diatas yang menunjukkan wajibnya dan hal itu dipalingkan oleh
sebuah ayat. Allah Ta’aala berfirman,

‫س ُك ْم َوأ َ ْر ُجلَ ُك ْم إِلَى‬


ِ ‫س ُحوا ِب ُر ُءو‬
َ ‫ام‬ ِ ِ‫سلُوا ُو ُجو َه ُك ْم َوأ َ ْي ِديَ ُك ْم إِلَى ال َم َراف‬
ْ ‫ق َو‬ ِ ‫يَا أَيهَا الَّ ِذينَ آ َمنُوا إِذَا قُ ْمت ُ ْم إِلَى الصَّال ِة فَا ْغ‬
‫ا ْل َك ْعبَي ِْن‬

“Wahai orang-orang yang beriman, jika kalian hendak berdiri mengerjakan shalat, basuhlah
wajah-wajah kalian, kemudian tangan-tangan kalian sampai siku, kemudian usaplah kepala-
kepala kalian, kemudian basuhlah kaki-kaki kalian sampai kedua mata kaki.” (al-Maidah:6)

Allah tidak menyebutkan pada ayat ini membaca (‫ )باسم هللا‬ketika berwudhu. Begitu juga pada
hadits-hadits yang menerangkan tentang wudhunya Rasulullah tidak disebutkan membaca
(‫ )باسم هللا‬ini menunjukkan hukumnya adalah sunnah.

Berkata Ibnu Qudamah rahimahullah:

‫وإن صح ذلك فيحمل على تأكيد االستحباب ونفي الكمال بدونها‬

“Jika shahih (hadits) itu maka dibawa kemakna atas penekanan sunnahnya dan peniadaan
kesempurnaan tanpanya.” (Mugni:1/85)
Syaikh al-Allamah Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah merajihkan sunnah
membaca (‫ )باسم هللا‬ketika berwudhu (Syarhul Mumti’:1/358). Wallahu a’lam bish shawwab.

Kapan dibaca dan bagaimana bacaannya?

Dibaca setelah ia berniat untuk berwudhu sebelum melakukan seluruhnya dan yang dibaca
adalah (‫ )باسم هللا‬sesuai dengan hadits. Wallahu a’lam.

Lalu bagaimana hukum membaca basmallah ketika berwudhu di toliet?

Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah mengatakan dibaca di dalam hati. Adapun Syaikh Ibnu
Baaz rahimahullah pernah ditanya dengan pertanyaan: “Apakah seseorang terputus
berdzikir sama sekali ketika berada di hammaam (wc) walau di dalam hatinya? Maka beliau
menjawab,

: ‫وقال الشيخ عبد العزيز بن باز‬

: ‫ وإنما المكروه في الح َّمام ونحوه‬، ‫ في الح َّمام وغيره‬، ‫الذِّكر بالقلب مشروع في كل زمان ومكان‬

‫ذكر هللا باللسان تعظيما ً هلل سبحانه إال التسمية عند الوضوء فإنه يأتي بها إذا لم يتيسر الوضوء‬

. ‫ وسنة مؤكدة عند الجمهور‬، ‫خارج الح َّمام ؛ ألنها واجبة عند بعض أهل العلم‬

” ‫ ( ” فتاوى الشيخ ابن باز‬5 / 408 )

“Dzikir di dalam hati disyariatkan pada setiap waktu dan tempat. Pada saat di wc atau
selainnya. Dimakruhkan pada saat di wc dan yang semisalnya berdzikir menyebut nama
Allah dengan lisannya sebagai pengagungan terhadap Allah -subhaanah- kecuali ketika
berwudhu, dia harus mendatangkannya (membacanya –ed) apabila tidak mudah baginya
berwudhu di luar wc; dikarenakan membaca bismillah ketika berwudhu hukumnya wajib
menurut sebagian ulama dan sunnah muakad menurut jumhur (mayoritas ulama).”
(Fatawaa’: 5/408)

3. Membasuh kedua telapak tangan.

Membasuh kedua telapak tangan sebanyak tiga kali hal ini berdasarkan banyak hadits, di
antaranya,

‫ت ث ُ َّم أَ ْد َخ َل‬
ٍ ‫ث َم َّرا‬َ َ‫سلَ ُه َما ثَال‬ َ َ‫علَى َي َد ْي ِه ِم ْن إِنَائِ ِه فَغ‬ َ ‫غ‬ َ ‫ضوءٍ َفأ َ ْف َر‬ ُ ‫عثْ َمانَ َدعَا بِ َو‬ ُ ‫عفَّانَ أَنَّهُ َرأَى‬ َ ‫عثْ َمانَ ب ِْن‬ ُ ‫ع َْن ُح ْم َرانَ َم ْولَى‬
‫س ِه ث ُ َّم‬ ْ ‫أ‬ ‫ر‬‫ب‬ ‫ح‬
َ
ِ َ ِ َ َ َّ‫س‬ ‫م‬ ‫م‬ُ ‫ث‬ ‫ا‬ ً ‫ث‬َ ‫ال‬َ ‫ث‬ ‫ْن‬
‫ي‬ َ
ِ ِْ ‫ق‬‫ف‬َ ‫ر‬‫م‬ ‫ل‬ْ ‫ا‬ ‫ى‬ َ ‫ل‬‫إ‬ ‫ه‬ ‫ي‬
ِ ِْ َ َ ‫د‬
َ ‫ي‬‫و‬ ‫ا‬ً ‫ث‬َ ‫ال‬َ ‫ث‬ ُ ‫ه‬ ‫ه‬ َ ُ َ ْ َ
َ ْ‫ُوء َّ َ َ ضَ َ ْ َقَ َ ْ َ َّ َ َ َ ج‬
‫و‬ ‫ل‬ ‫س‬ ‫غ‬ ‫م‬ ‫ث‬ ‫ر‬ ‫ث‬‫ن‬ ‫ت‬‫س‬ ‫ا‬ ‫و‬ ‫ش‬ ْ
‫ن‬ َ ‫ت‬‫س‬ ‫ا‬ ‫و‬ ‫م‬ ْ
‫ض‬ ‫م‬ َ ‫ت‬ ‫م‬ ُ ‫ث‬ ِ ‫َي ِمينَهُ ِفي ا ْل َوض‬
َ‫ضأ ُ نَحْ َو ُوضُوئِي َهذَا َوقَا َل َم ْن تَ َوضَّأ َ نَحْ َو ُوضُوئِي َهذا‬ َ َ
َّ ‫س َل ُك َّل ِرجْ ٍل ثَالَثا ث َّم قا َل َرأيْتُ النَّبِ َّي صلى هللا عليه وسلم يَتَ َو‬
ُ ً َ ‫غ‬ َ
‫ّللاُ لَهُ َما ت َقَ َّد َم ِم ْن ذَ ْن ِب ِه‬ َ ُ ‫سه‬
َّ ‫غفَ َر‬ َ ‫يه َما َن ْف‬ ُ ‫صلَّى َر ْك َعتَي ِْن الَ يُحَد‬
ِ ِ‫ِث ف‬ َ ‫ث ُ َّم‬

Dari Humran –bekas budaknya Utsman bin Affan- beliau pernah melihat Utsman meminta air
untuk wudhu, lalu beliau (Utsman) menuangkan air ke kedua telapak tangannya dari
wadah tersebut maka dibasuhlah (dicuci) sebanyak tiga kali, beliau lantas mencelupkan
tangan kanannya ke dalam air tersebut kemudian berkumur-kumur, istinsyaq (memasukkan
air ke dalam hidung) dan istinsyar (mengeluarkannya). Kemudian beliau membasuh
wajahnya sebanyak tiga kali, kemudian membasuh tangannya sampai sikunya sebanyak tiga
kali, kemudian mengusap kepalanya, kemudian membasuh (mencuci) setiap kakinya
sebanyak tiga kali. Kemudian beliau berkata : “Aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wasallam berwudhu seperti wudhuku ini dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam
bersabda : ‘Barangsiapa yang berwudhu seperti wudhuku ini kemudian shalat dua rakaat
tidak berkata-kata di jiwanya (khusyu’), maka Allah akan mengampuni dosa-dosanya yang
telah lalu.’” (HR. Bukhari no. 159 dan Muslim no. 423)

Terkadang dilakukan sebanyak dua kali atau satu kali.

Hukum membasuh telapak tangan pada permulaan berwudhu?

Para ulama ijma’ (sepakat) tentang hukumnya sunnah membasuh kedua telapak tangan dalam
permulaan berwudhu sebagaimana yang dinukilkan oleh Ibnul Mundzir dan al-Imam an-
Nawawi rahimahullah.

Berkata al-Imam Ibnul Mundzir rahimahullah:

‫أجمع كل من نحفظ عنه من أهل العلم على أن غسل اليدين في ابتداء الوضوء سنة‬

“Telah ijma’ (sepakat) setiap orang dari kalangan ahlu ilmi (para ulama) yang kami hapal
darinya bahwa membasuh kedua telapak tangan pada permulaan wudhu hukumnya sunnah.”
(Al-Ausath:1/375)

Hukum menyela-nyela jari jemari tangan dan kaki ketika berwudhu

Disyariatkan untuk menyela-nyela jari jemari tangan dan kaki ketika berwudhu, hal ini
berdasarkan pada sebuah hadits dimana

‫َاق إِالَّ أ َ ْن تَكُونَ صَائِ ًما‬ ْ ‫سبِ ِغ ا ْل ُوضُو َء َو َخ ِل ْل بَ ْينَ األَصَا ِب ِع َوبَا ِل ْغ ِفى ا ِال‬
ِ ‫ستِ ْنش‬ ْ َ‫أ‬

“Sempurnakanlah dalam berwudhu, sela-selalah jari jemari, bersungguh-sungguh dalam


beristinsyak (memasukkan air kedalam hidung dengan tarikan nafas –ed) kecuali dalam
keadaan berpuasa.” (HR. Ashabus Sunan, dan sanadnya shahih. Hadits ini tercantum pada
shahihul musnad Syaikh Muqbil rahimahullah no 1096).

Adapun tentang hukumnya para ulama berselisih pendapat. Sebagian ulama berpendapat
hukumnya sunnah menyela-nyela jari jemari tangan dan kaki ketika berwudhu. Sebagian
yang lain bependapat wajib. Adapun kami pribadi cenderung kepada pendapat yang
mengatakan hukumnya sunnah. Berkata Asy-syaikh Al-Allamah Abdullah al-Bassam
rahimahullah: “Sampainya air kejari jemari kaki tanpa disela-sela, dengan ini sampailah
pada batasan wajib (meratanya air keanggota wudhu –ed); maka yang tersisia tinggal yang
hukumnya sunnah atas kehati-hatian dalam hal itu.” (Taudihul Ahkaam:1/218)

4. Madmadhah (berkumur-kumur), Istinsyaq (memasukkan air ke dalam hidung


dengan menghirupnya) dan istinsyar (mengeluarkan air dari hidung).

Dalil tentang hal ini dalam banyak hadits di antaranya,


Yang diriwayatkan oleh Humran tentang praktek wudhu Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wasallam yang dilakukan oleh Utsman bin Affan sampai pada

‫ستَ ْنث َ َر‬


ْ ‫ق َوا‬ َ ‫ست َ ْن‬
َ ‫ش‬ ْ ‫ض َمضَ َوا‬ ِ ‫ث ُ َّم أ َ ْد َخ َل يَ ِمينَهُ فِي ا ْل َوض‬
ْ ‫ُوء ث ُ َّم تَ َم‬

“…..Beliau lantas mencelupkan tangan kanannya ke dalam air tersebut kemudian berkumur-
kumur, istinsyaq (memasukkan air ke dalam hidung) dan istinsyar (mengeluarkannya)…”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam hadits yang lain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

‫ضأ َ أ َ َح ُد ُك ْم َف ْليَجْ َع ْل ِفي أ َ ْن ِف ِه ماء ث ُ َّم ِل َي ْنث ُ ْر‬


َّ ‫ِإذَا ت َ َو‬

“Jika salah seorang dari kalian berwudhu maka hendaknya dia menghirup air ke hidung lalu
mengeluarkannya.” (HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)

Berkumur-kumur, istinsyaq dan istinsyar dilakukan terkadang sebanyak tiga kali atau dua kali
atau satu kali.

Hukum berkumur-kumur dan istinsyaq (memasukkan air ke dalam hidung) ketika


berwudhu ?

Para ulama berselisih pendapat tentang hal ini, Insya Allah pendapat yang rajih (tepilih) yang
kami pribadi cenderung kepadanya bahwasanya berkumur-kumur dan istinsyaq hukumnya
wajib. Berdasarkan sebuah hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

‫ض‬ ْ ‫ِإذَا تَ َوضَّأْتَ فَ َم‬


ْ ‫ض ِم‬

“Jika kamu berwudhu maka berkumurlah.” (HR. Abu Dawud no. 144, dishahihkan oleh
Syaikh al-Albani di shahih Abi Dawud no.131). Dan ini madzhabnya Ibnu Abi Laila,
Hammad, Ishaaq dan masyhur dari Imam Ahmad.

Bagaimana cara berkumur-kumur dan istinsyaq (memasukkan air ke dalam hidung)?

Berkumur-kumur dan istinsyaq (memasukkan air ke dalam hidung) dengan tangan kanan
kemudian istintsar (mengeluarkan air dari hidung) dengan tangan kiri. Sebagaimana dalam
sebuah hadits,

‫ ث ُ َّم‬، ‫ت‬ َ َ‫س َرى فَعَ َل َهذَا ثَال‬


ٍ ‫ث َم َّرا‬ ْ ُ‫ق َونَثَ َر بِيَ ِد ِه ا ْلي‬َ ‫ش‬ َ ‫ست َ ْن‬ ْ ‫ظ ُر إِلَ ْي ِه فَأ َ ْد َخ َل َي َدهُ ا ْليُ ْمنَى فَ َمألَ فَ َمهُ فَ َم‬
ْ ‫ض َمضَ َوا‬ ُ ‫وس نَ ْن‬ٌ ُ‫َونَحْ نُ ُجل‬
‫ور ُه‬
ُ ُ ‫ه‬ ُ
‫ط‬ ‫ا‬َ ‫ذ‬‫ه‬َ َ ‫ف‬ ‫وسلم‬ ‫عليه‬ ‫هللا‬ ‫صلى‬ ‫هللا‬ ‫ل‬‫و‬
ِ ِ ُ َ ِ ُ‫س‬ ‫ر‬ ‫ور‬ ‫ه‬ ُ
‫ط‬ ‫ى‬ َ
‫ل‬ ‫إ‬ ‫ر‬
ِ َ َ ‫ظ‬ُ ْ
‫ن‬ ‫ي‬ ْ
‫ن‬ َ ‫أ‬ ‫ه‬ َ ‫ َم ْن‬: ‫قَا َل‬
ُ َّ ‫س‬
‫ر‬

Dari Abdi Khoir berkata : “Suatu ketika kami duduk-duduk sembari melihat Ali yang sedang
berwudhu. Lalu Ali memasukkan tangan kanannya, memenuhi mulutnya (dengan air)
kemudian berkumur dan memasukkan air ke dalam hidung dan mengeluarkan air dengan
menggunakan tangan kirinya. Dia melakukan hal itu sebanyak tiga kali lantas mengatakan,
siapa yang suka untuk melihat tatacara wudhunya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam
maka inilah sifat wudhunya beliau.” (HR. ad-Darimi dari Abdi Khair, Syaikh al-Albani
mengatakan sanadnya shahih di al-Misykat 1/89)
Apakah menggabungkan dengan satu cidukan untuk berkumur-kumur dan istinsyaq
(memasukkan air kedalam hidung) atau memisahkan satu cidukan untuk berkumur-
kumur dan mengambil air lagi untuk istinsyaq?

Mayoritas ulama berpendapat menggabungkan cidukan air untuk berkumur-kumur dan


istinsyaq. Sebagaimana dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari shahabat Abdullah bin
Zaid yang mencontohkan wudhunya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: (sampai pada)

‫اح َد ٍة َففَعَ َل ذَ ِلكَ ثَالَثًا‬ ٍ ‫ست َ ْنشَقَ ِم ْن ك‬


ِ ‫َف َو‬ ْ ‫ض َوا‬ ْ ‫فَ َم‬
َ ‫ض َم‬

“Berkumur-kumur dan beristinsyaq (memasukkan air kehidung) dari satu telapak tangan
dilakukan sebanyak tiga kali.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dan ini pendapat yang benar.

5. Membasuh wajah.

Membasuh wajah adalah mulai dari tempat tumbuhnya rambut kepala menuju ke bagian
bawah kumis dan jenggot sampai pangkal kedua telinga, hingga mengenai persendian yaitu
bagian wajah yang terletak antara jengot dan telinga.

Hal ini berdasarkan firman Allah Ta’aala :

‫س ُك ْم َوأ َ ْر ُجلَ ُك ْم إِلَى‬


ِ ‫س ُحوا بِ ُر ُءو‬
َ ‫ام‬ ِ ِ‫سلُوا ُو ُجو َه ُك ْم َوأ َ ْي ِديَ ُك ْم إِلَى ال َم َراف‬
ْ ‫ق َو‬ ِ ‫يَا أَيهَا الَّ ِذينَ آ َمنُوا إِذَا قُ ْمت ُ ْم إِلَى الصَّال ِة فَا ْغ‬
‫ا ْل َك ْع َبي ِْن‬

“Wahai orang-orang yang beriman, jika kalian hendak berdiri mengerjakan shalat, basuhlah
wajah-wajah kalian, kemudian tangan-tangan kalian sampai siku, kemudian usaplah kepala-
kepala kalian, kemudian basuhlah kaki-kaki kalian sampai kedua mata kaki.” (al-Maidah:6)

Dan dalam banyak hadits diantaranya hadits yang diriwayatkan dari Humran maula (bekas
budaknya) Utsman menuturkan bahwa Utsman meminta air wudhu lalu menyebutkan sifat
wudhu Nabi shallallahu alaihi wasallam “… (sampai pada)

‫س َل َوجْ َههُ ثَالَثًا‬ َ ‫ث ُ َّم‬


َ ‫غ‬

Kemudian mencuci wajahnya sebanyak tiga kali..” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hukum membasuh wajah ketika wudhu?

Para ulama ijma’ (sepakat) tentang wajibnya membasuh wajah didalam berwudhu.
Sebagaimana dinukilkan oleh Imam At-Thahawi, Al-Maawardi, Ibnu Rusd, Ibnu Qudamah
dan An-Nawawi.

Apabila seseorang hendak membasuh wajah dan pada wajahnya ada jenggotnya
Ada perinciannya

Pertama: Apabila jengotnya lebat tidak dibasuh kecuali yang zhohir (bagian
luar/permukaan jenggot) darinya.

Kedua: Apabila jengotnya tipis, mayoritas ulama berpendapat wajib membasuhnya dan
membasuh kulitnya, mereka berdalil pada keumuman ayat

“Maka basuhlah wajah-wajah kalian” (Al-Maidah : 6).

6. Membasuh kedua tangan sampai ke siku.

Allah Subhaanahu wata’aala berfirman

‫س ُك ْم َوأ َ ْر ُجلَ ُك ْم إِلَى‬


ِ ‫س ُحوا بِ ُر ُءو‬
َ ‫ام‬ ِ ِ‫سلُوا ُو ُجو َه ُك ْم َوأ َ ْي ِديَ ُك ْم إِلَى ال َم َراف‬
ْ ‫ق َو‬ ِ ‫يَا أَيهَا الَّ ِذينَ آ َمنُوا إِذَا قُ ْمت ُ ْم إِلَى الصَّال ِة فَا ْغ‬
‫ا ْل َك ْعبَي ِْن‬

“Wahai orang-orang yang beriman, jika kalian hendak berdiri mengerjakan shalat, basuhlah
wajah-wajah kalian, kemudian tangan-tangan kalian sampai siku, kemudian usaplah kepala-
kepala kalian, kemudian basuhlah kaki-kaki kalian sampai kedua mata kaki.” (al-Maidah:6)

Dan (‫ )إلى‬pada ayat ini bermakna (bersama :‫) مع‬, maka wajib untuk memasukkan siku dalam
penyucian kedua tangan.

Dan sebuah hadits yang diriwayatkan dari Humran Maula (bekas budaknya) Utsman
menuturkan bahwa Utsman meminta air wudhu lalu mempratekkan sifat wudhu Nabi
shallallahu alaihi wasallam “… (sampai pada)

‫َو َي َد ْي ِه ِإلَى ا ْل ِم ْر َفقَي ِْن ثَالَثًا‬

mencuci kedua tangannya sampai kesiku sebanyak tiga kali…” (HR. Bukhari dan Muslim)

Membasuh tangan sampai siku dilakukan terkadang sebanyak tiga kali atau dua kali atau satu
kali.

Hukum membasuh kedua tangan sampai siku ketika berwudhu?

Para ulama sepakat (ijma’) tentang wajibnya mencuci kedua tangan sampai ke siku.
Sebagaimana dinukilkan oleh oleh At-Thahawi, Ibnu Abdil Bar, Ibnu Hazm, Ibnu Rusyd,
Ibnu Qudamah dan An-Nawawi.

Bagaimana jika seseorang tangannya atau bagian dari tangannya terpotong, masihkah
dia wajib membasuh tangannya?

Wajib baginya membasuh sisa tangan yang tersisa, yaitu jika tangannya terpotong dari bawah
siku. Dan tidak ada kewajiban untuk membasuhnya jika sudah tidak ada lagi bagian yang
dibasuh. Yaitu jika tangannya terpotong dari atas siku. Wallahu a’lam bish shawwab
7. Mengusap kepala seluruhnya termasuk telinga.

Hal ini berdasarkan firman Allah Ta’aala :

‫س ُك ْم َوأ َ ْر ُجلَ ُك ْم إِلَى‬


ِ ‫س ُحوا ِب ُر ُءو‬
َ ‫ام‬ ِ ِ‫سلُوا ُو ُجو َه ُك ْم َوأ َ ْي ِديَ ُك ْم إِلَى ال َم َراف‬
ْ ‫ق َو‬ ِ ‫يَا أَيهَا الَّ ِذينَ آ َمنُوا إِذَا قُ ْمت ُ ْم إِلَى الصَّال ِة فَا ْغ‬
‫ا ْل َك ْعبَي ِْن‬

“Wahai orang-orang yang beriman, jika kalian hendak berdiri mengerjakan shalat, basuhlah
wajah-wajah kalian, kemudian tangan-tangan kalian sampai siku, kemudian usaplah kepala-
kepala kalian, kemudian basuhlah kaki-kaki kalian sampai kedua mata kaki.” (al-Maidah:6)

Dan sebuah hadits yang diriwayatkan dari Humran Maula (bekas budaknya) Utsman
menuturkan bahwa Utsman meminta air wudhu kemudian berwudhu“… (sampai pada)

ِ ْ‫س َح بِ َرأ‬
‫س ِه‬ َ ‫ث ُ َّم َم‬

kemudian mengusap kepalanya” (HR. Bukhari dan Muslim)

Apa hukumnya mengusap kepala ketika berwudhu?

Para ulama sepakat (ijma’) tentang wajibnya mengusap kepala ketika berwudhu.
Sebagaimana dinukilkan oleh At-Thahawi, Ibnu Abdil Bar, Ibnu Rusyd, Ibnu Qudamah dan
An-Nawawi dan yang lainnya

Yang diusap sebagian kepala atau semua?

Yang benar adalah wajib mengusap seluruh kepala berdasarkan ayat diatas dan karena inilah
yang dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam banyak hadits yang
menerangkan sifat wudhu Rasullullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Dan ini madzhabnya
Imam Malik, Ahmad, Al-Mazini yang masyhur dari mereka.

Apakah hal ini untuk laki-laki saja atau juga untuk wanita?

Mengusap seluruh kepala untuk laki-laki dan wanita, sebagaimana disebutkan oleh
IbnuTaimiyyah (Majmu Fatawa : 21/23).

Diusap sekali atau tiga kali?

Para ulama berselisih pendapat tentang hal ini, dan pendapat yang raajih (terpilih) insya Allah
pendapat yang mengatakan diusap sekali, berdalil dengan hadits yang diriwayatkan oleh
Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib dan Abdullah bin Zaid dan ini pendapatnya
kebanyakan para ulama.

Apakah kedua telinga termasuk kepala dan apa hukum mungusapnya?

Kedua telinga termasuk kepala, hal ini berdasarkan sebuah hadits di mana Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

‫الرأْ ِس‬ ِ َ‫األُذُن‬


َّ َ‫ان ِمن‬
“Kedua telinga termasuk bagian dari kepala.” (HR. Ibnu Majah no 443 dan dishahihkan
Syaikh Al-Albani di dalam shahih Ibnu Majah : 375 dan Irwa’ : 84)

Adapun tentang hukumnya para ulama berbeda pendapat hal ini dikarenakan perbedaan
dalam menentukan shahih dan tidaknya hadits di atas, sebagian ulama mengatakan wajib
mengusap telinga seperti Imam Ahmad dan sebagian lagi berpandangan sunnah. Insya Allah
pendapat yang raajih (terpilih) pendapat yang mengatakan hukumnya wajib berdasarkan
dalil-dalil yang ada. Berkata Asy-Syaikh Al-Allamah Abdul ‘Aziz bin Baaz Rahimahullah:
“Fardhu-fardhu wudhu ada enam … (disebutkan di antaranya)… mengusap seluruh kepala
dan dan termasuk bagian kepala, kedua telinga.” (Duruusul Muhimmah Liaamatil Ummah :
62, beserta syarhnya)

Cara mengusapnya bagaimana?

Caranya yaitu mengusap kepala dengan kedua tangan dari depan menuju ke belakang sampai
ke tengkuk kemudian mengembalikannya ke tempat awal kemudian memasukkan jari
telunjuk ke dalam telinga dan ibu jari di belakang daun telinga (bagian luar) dan digerakkan
dari bawah daun telinga sampai ke atas.

Tentang hal ini sebagaimana hadits-hadits yang telah lalu penyebutannya yang menjelaskan
tentang sifat wudhu Rasulullah dan sebuah hadits dari Abdullah bin Amr, beliau menuturkan
tentang sifat wudhu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:

‫علَى َظا ِه ِر أُذُنَ ْي ِه‬ َ ‫سبَّا َحتَي ِْن فِى أُذُنَ ْي ِه َو َم‬
َ ‫س َح بِ ِإ ْبهَا َم ْي ِه‬ َّ ‫صبَعَ ْي ِه ال‬ ِ ْ‫س َح بِ َرأ‬
ْ ِ‫س ِه فَأ َ ْد َخ َل إ‬ َ ‫ث ُ َّم َم‬

“… Kemudian beliau mengusap kepala beliau lalu memasukkan kedua jari telunjuk beliau ke
dalam telinga dan mengusap bagian luar telinga dengan kedua ibu jari tangan beliau.” (HR.
Abu Dawud no 135, An-Nasa’i no 140, Ibnu Majjah no 422 dan dishahihkan oleh Ibnu
Hibban)

Apakah mengambil air yang baru untuk mengusap telinga?

Para ulama berselisih pendapat tentang hal ini, Insya Allah pendapat yang rajih (kuat) yang
mengatakan tidak mengambil air yang baru cukup dengan air yang digunakan untuk
mengusap kepala. Berdasarkan hadits tentang cara wudhunya Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wasallam, seperti hadits yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Amr dan Ibnu Abbas. Dan ini
pendapatnya kebanyakan ulama.

Kalau pakai imamah apakah dibolehkan mengusap imamahnya dan kalau boleh
bagaimana cara mengusapnya?

Dibolehkan mengusap imamah menurut pendapat yang benar.

Ada dua cara :

 Dengan mengusap imamahnya saja hal ini berdasarkan hadits :


‫علَى ِع َما َمتِ ِه َو ُخفَّ ْي ِه‬
َ ‫س ُح‬ َ ‫سلَ َمةَ ع َْن َج ْعفَ ِر ب ِْن‬
َ ‫ قَا َل َرأَيْتُ النَّ ِب َّي صلى هللا عليه وسلم يَ ْم‬، ‫ ع َْن أ َ ِبي ِه‬، ‫ع ْم ٍرو‬ َ ‫ع َْن أ َ ِبي‬

Dari Abi Salamah dari Ja’far bin ‘Amr, dari bapaknya berkata : “Saya melihat Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wasallam mengusap imamah dan kedua sepatu beliau.” (HR. Bukhari no
205)

Dan cara mengusapnya seperti mengusap kepala sebagaimana pendapatnya sebagian ulama di
antaranya al-Imam Ahmad.

 Mengusap ubun-ubunnya dan imamahnya hal ini berdasarkan hadits Mughirah bin
Syu’bah, beliau menuturkan :

‫علَى ا ْل ُخ َّفي ِْن‬


َ ‫علَى ا ْل ِع َما َم ِة َو‬ َ ‫ضأ َ فَ َم‬
ِ َ‫س َح بِن‬
َ ‫اصيَتِ ِه َو‬ َّ ‫ ت َ َو‬-‫صلى هللا عليه وسلم‬- ‫أَنَّ النَّبِ َّى‬.

“Bahwasanya Nabi berwudhu lalu mengusap ubun-ubun dan imamah serta kedua khufnya.”
(HR. Muslim)

Adapun peci maka tidak disyari’atkan mengusap peci menurut pendapat yang benar dan ini
pendapatnya kebanyakan ulama, mereka berdalil karena tidak dinukilkan dari Nabi
shallallahu ‘alaihi wasallam. Wallahu a’lam bish shawwab

8. Membasuh kedua kaki sampai mata kaki.

Hal ini berdasarkan Firman Allah Ta’ala :

‫س ُك ْم َوأ َ ْر ُجلَ ُك ْم إِلَى‬


ِ ‫س ُحوا بِ ُر ُءو‬
َ ‫ام‬ ِ ِ‫سلُوا ُو ُجو َه ُك ْم َوأ َ ْي ِديَ ُك ْم إِلَى ال َم َراف‬
ْ ‫ق َو‬ ِ ‫يَا أَيهَا الَّ ِذينَ آ َمنُوا إِذَا قُ ْمت ُ ْم إِلَى الصَّال ِة فَا ْغ‬
‫ا ْل َك ْع َبي ِْن‬

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah
mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu
sampai dengan kedua mata kaki…” (Qs. Al Maidah : 6)

Dan berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Utsman di dalam shahih Bukhari dan Muslim
:

‫س َل ُك َّل ِرجْ ٍل ثَالَثًا‬ َ ‫ث ُ َّم‬


َ ‫غ‬

“…kemudian mencuci kedua kakinya sebanyak tiga kali.”

Hukum membasuh kedua kaki ketika wudhu?

Membasuh kedua kaki sampai mata kaki hukumnya wajib. Dalilnya hadits sangat banyak
tentang sifat wudhunya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Dan berdasarkan hadits Ibnu
Umar, beliau berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

ِ ‫َو ْي ٌل ِلألَ ْع َقا‬


‫ب ِمنَ ال َّن ِار‬
“Celakalah tumit-tumit (yang tidak terkena basuhan air wudhu -ed) dari api neraka.” (HR.
Bukhari no 161 dan Muslim no 241)

9. At-Tartiib

Membasuh anggota wudhu satu demi satu dengan urutan yang sebagaimana Allah dan rasul-
Nya perintahkan. Hal ini berdasarkan dalil ayat dan hadits yang menjelaskan tentang sifat
wudhu. Dan juga berdasarkan hadits :

َّ َ ‫أ َ ْب َدأ ُ ِب َما َب َدأ‬


‫ّللاُ ِب ِه‬

“Mulailah dengan apa yang Allah mulai dengannya.” (HR. Muslim no 1118)

Hukumnya?

Hukumnya wajib tartiib (berurutan) dalam berwudhu menurut pendapat yang terpilih (Insya
Allah) dan ini Madzhabnya Utsman, Ibnu Abbas dan riwayat dari Ali bin Abi Thalib
radiyallahu anhum. Dan dengannya Qatadah, Abu Tsaur, Syafi’i, Ishaq bin Rahawaih
berpendapat, dan pendapat ini masyhur dari Imam Ahmad. Dan pendapat ini yang dipilih
oleh Ibnu Taimiyyah, Ibnul Qayyim, Syaikh as-Sa’di, Ibnu Baaz dan Ibnu Utsaimin
rahimahullah jamia’an.

10. Al Muwaalaat (berkesinambungan dalam berwudhu sampai selesai tidak terhenti


atau terputus)

Hal ini berdasarkan sebuah hadits :

ْ « ‫ َفقَا َل‬-‫صلى هللا عليه وسلم‬- ‫علَى قَد َِم ِه فَأ َ ْبص ََرهُ النَّبِى‬
‫ار ِج ْع‬ ُ ‫ضأ َ فَتَ َركَ َم ْو ِض َع‬
َ ‫ظفُ ٍر‬ َّ ‫ب أَنَّ َر ُجالً تَ َو‬ ِ ‫ع َم ُر ْبنُ ا ْل َخ َّطا‬
ُ ‫عن‬
َ ‫ فَ َر َج َع ث ُ َّم‬.» َ‫فَأَحْ س ِْن ُوضُو َءك‬
‫صلَّى‬

Dari Umar bin Khaththab menuturkan bahwasanya seseorang berwudhu, bagian kuku pada
kakinya tidak terkena air wudhu, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam
memandangnya maka berkata : “Kembalilah, baguskanlah wudhumu (ulangi –ed), kemudian
orang tersebut kembali berwudhu kemudian shalat.” (HR. Muslim no 243)

Hukumnya?

Pendapat yang raajih (terpilih) insya Allah yang mengatakan hukumnya wajib, dalilnya
seperti yang telah disebutkan di atas. Kalau sendainya bukan wajib tentu cukup dengan
membasuh bagian yang tidak terkena air saja setelah terhenti atau terputus, tetapi Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wasallam menyuruh untuk mengulangi wudhunya ini menunjukkan
muwaalat (berkesinambungan) hukumnya wajib. Dan pendapat yang mengatakan wajib
madzhabnya Imam Malik, pada sebuah riwayat dari Imam Ahmad, Al-Auza’i, Qatadah dan
dengannya Ibnu Umar berpendapat.

Kapan seseorang dikatakan berkesinambungan dan kapan dikatakan tidak


berkesinambungan?
Yaitu seseorang melakukan gerakan-gerakan wudhu secara berkesinambungan, usai dari satu
gerakkan wudhu langsung diikuti dengan gerakan wudhu berikutnya sebelum kering bagian
tubuh yang baru saja dibasuh. Contohnya seseorang membasuh wajah maka wajib baginya
setelah selesai dari membasuh wajah untuk segera membasuh tangan sebelum wajah
mengering dari bekas air wudhu. Adapun jika ia menunda membasuh tangan sehingga air
bekas wudhu pada wajah mengering dikarenakan urusan yang tidak ada kaitannya dengan
aktivitas wudhu maka dia dianggap tidak berkesinambungan dan wudhunya tidak sah.
Berbeda jika dia menunda karena urusan yang terkait dengan wudhu maka hal itu tidak
memutus kesinambungannya dalam wudhu. Misalnya dia pada saat wudhu melihat bagian
tangannya ada yang terkena cat sehingga dia berusaha menghilangkannya. Wallahu a’alam
bish shawwab.

11. Doa/dzikr setelah wudhu

Tentang hal ini Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda,

ُ‫سولُه‬
ُ ‫ّللاِ َو َر‬ َ ‫ّللاُ َوأَنَّ ُم َح َّمدًا‬
َّ ‫ع ْب ُد‬ َّ َّ‫ش َه ُد أ َ ْن الَ إِلَهَ إِال‬
ْ َ ‫سبِ ُغ – ا ْل ُوضُو َء ث ُ َّم َيقُو ُل أ‬ ْ ُ‫ضأ ُ فَيُ ْب ِل ُغ – أ َ ْو فَي‬
َّ ‫َما ِم ْن ُك ْم ِم ْن أ َ َح ٍد يَت َ َو‬
َ ُ ُ ‫إِالَّ فُتِ َحتْ لَهُ أَب َْو‬
‫اب ا ْل َجنَّ ِة الث َّ َمانِيَة يَ ْد ُخ ُل ِم ْن أ ِيهَا شَا َء‬

“ Tidaklah salah seorang diantara kalian berwudhu dan sampai selesai atau
menyempurnakan wudhu kemudian membaca doa: “ Aku bersaksi tidak ada ilah
(sesembahan) yang berhaq disembah kecuali Allah dan aku bersaksi bahwasannya
Muhammad adalah hamba Allah dan utusan-Nya, melainkan akan dibukakan baginya
delapan pintu surga yang dia bisa masuk dari pintu mana saja yang dia kehendaki.”

Dalam sebuah riwayat : “Aku bersaksi tidak ada ilah (sesembahan) yang berhaq disembah
kecuali Allah semata yang tidak ada sekutu bagi-Nya dan aku bersaksi bahwasannya
muhammad hamba Allah dan utusannya” (HR. Muslim)

Apa hukumnya membaca doa/dzikir diatas setelah wudhu?

Hukumnya sunnah sebagaimana diakatakan oleh Imam An-Nawawi didalam syarh shahih
Muslim.

Catatan :

Tidak boleh seseorang berlebih-lebihan dalam mengunakan air ketika berwudhu. Hal ini
menyelisihi petunjuk Rasulullah shallahu ‘alahi wasallam, sebagaimana dalam sebuah hadits
Anas Bin Malik berkata :

َّ ‫س ِة أَ ْمدَا ٍد َويَت َ َو‬


‫ضأ ُ بِا ْل ُم ِد‬ ِ َ ‫ أ َ ْو كَانَ يَ ْغت‬، ‫س ُل‬
َ ‫س ُل – بِالصَّاعِ إِلَى َخ ْم‬ ِ ‫كَانَ النَّبِي صلى هللا عليه وسلم َي ْغ‬

“ Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mandi dengan satu sha’ sampai lima mud dan berwudhu
dengan satu mud.” (HR. Mutafaqun alaihi)

1 shaa’ = 4 mud

1 mud = gabungan telapak tangan orang dewasa yang sedang (tidak besar dan kecil)
Pembahasan Keenam: Sunnah-Sunnah wudhu

1. Siwak

2. Mencuci kedua telapak tangan pada awal wudhu.

Sebagaimana yang telah diriwayatkan dari Utsman bin Affan tentang wudhu Nabi shallallahu
‘alaihi wasallam.

3. Mendahulukan anggota wudhu yang kanan dari yang kiri.

4. Melakukan sebanyak tiga kali kecuali kepala, mengusap kepala di lakukan hanya sekali.

5. Menyela-nyela jenggot

6. Menggosok-gosok

7. Menyela-nyela jari jemari tangan dan kaki

Sebagaimana haditsnya telah disebutkan diatas

8. Membaca doa setelah berwudhu

Sebagaimana haditsnya telah disebutkan di atas.

9. Shalat dua rakaat setalah berwudhu

sebagaimana haditsnya telah disebutkan diatas

wallahu a’lam bish shawwab

di tulis oleh Abu Ibrahim Abdullah bin Mudakir

alhamdulillah artikel ini sudah di perbaiki, dari sisi tulisan dan beberapa ungkapan
dari sebelumnya.

Jakarta, Syawwal 1434H/September 2013

Sumber : inginbelajarislam.wordpress.com

——————————–
*Bismillah, bagi antum sekalian yang telah ikut menyebarkan ilmu dan
kebaikan dengan memposting ulang artikel ini di blog atau website
diharapkan untuk ikut MEREVISI sesuai dengan revisi terbaru yang ada
saat ini, atas partisipasi dan kesediaannya untuk meluangkan waktu, kami
mewakili penulis mengucapkan Jazakumullah khoir. (admin darussalaf.or.id)

(86719) views

 Share




11 Comments

 arief

Mar 31, 2013

Reply

Ok, saya setuju.

 Yunus Alfarouq

Apr 02, 2013

Reply

Wudlu akan sempurna jika sesuai yg diajarkan Rosululloh shollallohu 'alaihi


wasallam

 abu haikal

Dec 08, 2013

Reply

adakah bacaan-bacaan/do'a tertentu setiap membsuh anggota badan dalam berwudhu ?

o admin

Dec 09, 2013

Reply
tidak ada.

 Rino Rahmad

Dec 16, 2013

Reply

Samina Wa'atona

 yani

Jul 15, 2014

Reply

Bagaimana jika seorang wanita yang rambut ny panjang? Apa mengusap kepala ny
hrus k seluruh rambut nya hingga ke ujung?

 taufiq

Aug 30, 2014

Reply

bolehkah saya salin dan saya edit sedikit? saya mencoba menggabungkan beberapa
artikel mengenai hal (wudlu) ini sekaligus saya sebarkan melalui blog saya.
Jazakallah..

o admin

Sep 06, 2014

Reply

Silahkan meminta izin langsung kepada penulis (ustadz Abdullah Al Jakarti)


melalui blog sumber yang tercantum di akhir artikel.

 imam

Sep 09, 2014

Reply

Alhamdullillah,,izin share

 Sahdan

Feb 17, 2015


Reply

Ustadz kalau anggota wudhu hanya disiram/dialiri air saja tanpa digosok, apakah sah
wudhunya? Kebanyakan orang2 awam wudhunya seperti itu. Syukron

 apri welda

Jan 11, 2017

Reply

bagus, sangat membantu dalam pemahaman fiqih wudhu yang benar sesuai tuntunan
Rasulullah SAW shallallahu 'alaihi wassallam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Name:

Email:

URL:

CAPTCHA Code *

Comment:

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title="">
<acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime="">
<em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

Kategori Artikel

 Aqidah (278)
 Audio/Tasjilat (97)
 Biografi (38)
 Doa (3)
 Fatwa Ulama & Tanya Jawab (273)
 Fiqih (324)
 Hadits (59)
 Hizbiyyah/Aliran (115)
 Info (8)
 Jadwal Kajian Salafi (94)
 Manhaj (243)
 Mengapa Salaf (15)
 Muslimah (143)
 Nasehat (263)
 Pesantren/Ma'had (32)
 Resensi Buku (10)
 Sirah (21)
 Tafsir (46)

Newsletter

Masukkan email Anda untuk berlangganan Artikel kami secara gratis.

Enter any V