Anda di halaman 1dari 24

BAB I

PENDAHULUAN

Tuli mendadak atau sudden deafness atau sudden sensorineural hearing loss
(SSNHL) didefenisikan sebagai kehilangan pendengaran sensorineural yang lebih
dari 30 dB pada 3 frekuansi berturut turut dalam onset 3 hari, sering unilateral dan
bersifat idiopatik. Etiologi tuli mendadak masih belum diketahui secara pasti namun
terdapat banyak teori yang dikemukakan oleh para ahli sebagai factor risiko
terjadinya tuli mendadak.1
Prevalensi tuli mendadak 5-30 tiap 100.000 orang pertahun. Distribusi laki-
laki dan perempuan hamper sama dengan puncak usia 50-60 tahun. Diagnosis tuli
mendadak ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan audiometri. Tuli
mendadak mempunyai tiga karakteristik yaitu bersifat akut, tuli sensorineural dan
etiologi tidak diketahui.1
Karakteristik tambahan dapat berupa vertigo, tinitus dan tidak adanya
keterlibatan saraf kranialis. Penatalaksanaan tuli mendadak meliputi terapi
konservatif dengan beberapa modalitas. Penanganan harus dilakukan sedini mungkin
karena penanganan yang terlambat akan menyebabkan tuli yang permanen.2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Anatomi Telinga


Secara anatomis telinga terbagi menjadi tiga bagian yaitu telinga luar, tengah
dan dalam. Telinga luar dan tengah berperan dalam transmisi suara melalui udara
menuju telinga bagian dalam yang berisi cairan. Pada telinga dalam ini, terjadi
amplifikasi energi suara. Di sana juga terdapat dua macam sistem sensoris yaitu
koklea yang mengkonversikan gelombang suara menjadi impuls saraf dan vestibular
apparatus yang berguna untuk keseimbangan.4 Telinga luar termasuk pinna, meatus
auditori externus dan membran timpani. Pada lapisan luar memiliki tulang kartilago
dan kesemuanya ditutupi oleh kulit. Pada bagian kulit memiliki folikel rambut dan
kelenjar lilin, tetapi bagian ini tidak terdapat pada tulang meatus. Gendang telinga
yang terdapat pada bagian telinga tengah dibagi menjadi pars tensa dan pars flaccida.

Gambar 1. Anatomi Telinga


Telinga Luar, telinga luar terdiri dari pinna (telinga), meatus akustikus
eksterna dan membran timpani (eardrum). Pinna adalah struktur menonjol yang
merupakan kartilago terbalut kulit. Fungsi utamanya adalah mengumpulkan dan
menghubungkan suara menuju meatus akustikus eksterna. Karena bentuknya, pinna
secara parsial membatasi suara yang berasal dari belakang sehingga timbrenya akan
berbeda. Dengan begitu, kita dapat membedakan apakah suaranya berasal dari depan
atau belakang. Lokalisasi suara yang berasal dari kanan atau kiri ditentukan oleh dua
hal. Pertama adalah gelombang suara mencapai telinga yang lebih dekat terlebih
dahulu sebelum sampai ke telinga yang lebih jauh. Kedua adalah saat mencapai
telinga yang lebih jauh, intensitas suaranya akan lebih kecil dibandingkan telinga
yang lebih dekat. Selanjutnya, korteks auditori mengintegrasikan kedua hal tersebut
untuk menentukan lokalisasi sumber suara. Oleh karena itu, lokalisasi suara akan
lebih sulit dilakukan jika hanya menggunakan satu telinga. Jalur masuk pada telinga
luar dilindungi oleh rambut halus. Kulit yang membatasi kanal tersebut berisi kelenjar
keringat termodifikasi yang menghasilkan serumen (earwax), yang akan menangkap
partikel-partikel asing yang halus.4
Telinga tengah, telinga tengah mengirimkan pergerakan vibratori dari
membran timpani menuju cairan pada telinga dalam. Ada tiga tulang ossicle yang
membantu proses ini yaitu malleus, incus dan stapes yang meluas dari telinga tengah.
Malleus menempel pada membran timpani sedangkan stapes menempel pada oval
window yang merupakan gerbang menuju koklea yang berisi cairan. Saat membran
timpani bergetar, tulang-tulang tersebut bergerak dengan frekuensi yang sama ,
mentransmisikan frekuensi tersebut dari menuju oval window. Selanjutnya, tiap-tiap
getaran menghasilkan pergerakan seperti gelombang pada cairan di telinga dalam
dengan frekuensi yang sama dengan gelombang suara aslinya. Sistem osikular
mengamplifikasikan tekanan dari gelombang suara pada udara dengan dua
mekanisme untuk menghasilkan getaran cairan pada koklea. Pertama adalah karena
permukaan area dari membran timpani lebih besar dari oval window, tekanan
ditingkatkan ketika gaya yang mempengaruhi membran timpani disampaikan oleh
ossicle ke oval window (tekanan=gaya/area). Kedua adalah kerja dari ossicle
memberikan keuntungan mekanis lainya. Kedua hal tersebut meningkatkan gaya pada
oval window sampai 20 kali. Tambahan tekanan tersebut penting untuk menghasilkan
pergerakan cairan pada koklea. Beberapa otot tipis di telinga tengah dapat
berkontraksi secara refleks terhadap suara keras (70dB) menyebabkan membran
timpani menebal dan menyebabkan pembatasan gerakan pada rangkaian ossicle.
Pengurangan pergerakan pada struktur telinga tengah akan mengurangi transmisi dari
suara yang keras tersebut ke telinga dalam guna melindungi bagian sensoris dari
kerusakan. Refleks tersebut berlangsung relatif lambat, terjadi setidaknya sekitar 40
msec sesudah pajanan terhadap suara keras. Oleh karena itu, hanya bisa melindungi
dari suara yang berkepanjangan, bukan suara yang sangat tiba-tiba seperti ledakan. 4
Telinga dalam, koklea adalah sebuah struktur yang menyerupai siput yang
merupakan bagian dari telinga dalam yang merupakan sistem tubular bergurung yang
berada di dalam tulang temporalis. Berdasarkan panjangnya, komponen fungsional
koklea dibagi menjadi tiga kompartemen longitudinal yang berisi cairan. Duktus
koklear yang ujungnya tidak terlihat dikenal sebagai skala media, yang merupakan
kompartemen tengah. Bagian yang lebih di atasnya adalah skala vestibuli yang
mengikuti kontur dalam spiral dan skala timpani yang merupakan kompartemen
paling bawah yang mengikuti kontur luar dari spiral. Cairan di dalam skala timpani
dan skala vestibuli disebut perilimfe. Sementara itu, duktus koklear berisi cairan yang
sedikit berbeda yaitu endolimfe. Bagian ujung dari duktus koklearis di mana cairan
dari kompartemen atas dan bawah bergabung disebut dengan helikotrema. Skala
vestibuli terkunci dari telinga tengah oleh oval window, tempat stapes menempel.
Sementara itu, skala timpani dikunci dari telinga tengah dengan bukaan kecil
berselaput yang disebut round window. Membran vestibular tipis membentuk langit-
langit duktus koklear dan memisahkannya dari skala vestibuli. Membran
basilaris membentuk dasar duktus koklear yang memisahkannya dengan skala
timpani. Membran basilar ini sangat penting karena di dalamnya terdapat organ korti
yang merupakan organ perasa pendengaran. 4
2.2 Sudden Deafness
2.2.1 Definisi
Sudden Deafness adalah tuli yang terjadi secara tiba-tiba. Jenis ketuliannya
adalah sensorineural, penyebabnya tidak langsung dapat diketahui, biasanya terjadi
pada satu telinga. Para ahli otolaringologis mendefinisikan tuli mendadak sebagai
penurunan pendengaran sensorineural 30db atau lebih, paling sedikit tiga frekuensi
berturut-turut pada pemeriksaan audiometri, dalam waktu kurang dari tiga hari.1, 2

2.2.2 Epidemiologi
Dilaporkan bahwa terdapat sekitar 15.000 kasus per tahun kejadian tuli
mendadak di seluruh dunia, dengan 4.000 kasus terjadi di Amerika Serikat. Jumlah
kasus tuli mendadak diperkirakan lebih tinggi dari jumlah kasus yang dilaporkan,
karena beberapa pasien pendengarannya bisa kembali normal sebelum mendapat
tindakan medis. Tuli mendadak dapat terjadi pada semua umur, meskipun kejadian
pada anak jarang dilaporkan. Kasus tuli mendadak meningkat sesuai dengan
pertambahan umur, di Amerika Serikat terdapat 4,7 kasus tuli mendadak per 100.000
penduduk yang berusia 20-30 tahun, dan 15, 8 kasus per 100.000 penduduk yang
berusia 50-60 tahun. Secara keseluruhan tuli mendadak banyak terjadi pada usia 46-
49 tahun. Perbandingan kejadian tuli mendadak antara pria dan wanita sama. Jenis
kelamin diperkirakan bukan merupakan suatu faktor risiko. 1, 4, 5

2.2.3 Etiologi
Sebanyak 85% kasus tuli mendadak tidak diketahui penyebabnya, sementara
hanya 15% kasus yang dapat diketahui penyebabnya ini. Tuli mendadak disebabkan
oleh berbagai hal, antara lain oleh infeksi, trauma kepala, pajanan bising yang keras,
perubahan tekanan atmosfir, penyakit autoimun, obat ototoksik, penyakit meniere,
masalah sirkulatorik, neuroma akustik.1, 3
Infeksi Virus terlihat pada hampir sepertiga kasus tuli mendadak, meningitis
merupakan penyebab terbanyak tuli mendadak oleh karena infeksi virus, terutama
pada anak-anak setelah sembuh dari meningitis dianjurkan untuk dilakukan tes
audiometri. Campak dan cacar juga dihubungkan dengan tuli mendadak, pada
penderita cacar kehilangan pendengaran biasanya sedang sampai berat dan bilateral
sedangkan penderita campak dapat mengalami kehilangan pendengaran unilateral
saja.3
Cedera kepala, terutama yang dihubungkan dengan fraktur kranium dapat
mengakibatkan kehilangan pendengaran yang berat dan sering permanen. Walaupun
tidak terdapat fraktur, tuli mendadak dapat terjadi akibat cedara SSP atau pada telinga
dalam.3
Tuli mendadak dapat terjadi akibat pajanan terhadap bising yang kuat
misalnya ledakan yang kuat atau bunyi petasan dan senjata api dalam ruang tertutup.
Kerasnya suara maupun lamanya paparan memegang peranan dalam kasus ini,
Occupational Safety and Help Administration (OSHA) telah menetapkan standar
yang dipercaya menggambarkan hubungan antara ketulian dengan paparan pekerja
terhadap bising yang keras saat di tempat kerja. Tingkat bising 80 db untuk 8 jam
diperkirakan aman, maka paparan terhadap bising 110 db untuk waktu relatif singkat
dianggap berbahaya terhadap keselamatan mekanisme pendengaran.3, 4
Tuli mendadak pada operasi telinga juga dapat terjadi. Derajat risiko
tergantung berbagai faktor yaitu prosedur operasi, dan ketrampilan dari operator
sendiri.3 Gangguan vaskuler juga dikenal sebagai salah satu penyebab tuli mendadak.
Spasme, perdarahan arteri auditiva interna atau trombosis dapat mengakibatkan
iskemik koklea yang berujung pada tuli mendadak.1
Tuli mendadak juga dapat disebabkan oleh obat-obat ototoksik. Tuli ini
biasanya didahului oleh tinitus.1,3
Tabel 1. Obat-obat ototoksik

Golongan obat Contoh Obat Efek terhadap pendegaran

Salisilat Aspirin Tuli dapat terjadi pada


dosis tinggi, tetapi biasanya
reversivel

Kuinolin Klorokuin Tuli dapat terjadi pada


dosis tinggi atau pemakaian
NSAID
jangka panjang, tetapi
biasanya reversibel apabila
obat dihentikan

Loop Diuretik Bumetamid Dapat menyebabkan tuli


sementara atau permanen.
Furosemid
Jika dikombinasikan
Asam Etackrinat dengan obat-obat ototoksik
lainnya, resiko kerusakan
permanen meningkat.

Aminoglikosida Amikasin Tuli dapat terjadi pada


dosis tinggi atau pemakaian
Gentamisin
jangka panjang. Tuli dapat
bersifat permanen.

2.2.4 Patofisiologi
Terdapat 4 teori yang dipostulasikan bagi terjadinya tuli mendadak yaitu
infeksi viral labirin, gangguan vaskuler labirin, ruptur membran intrakoklear dan
penyakit telinga dalam yang berhubungan dengan imun. Suatu proses penyakit yang
melibatkan salah satu dari kemungkinan teoiritis ini dapat berakhir dengan tuli
mendadak, namun tak satupun yang dapat menjelaskan secara menyeluruh.5
Penelitian terhadap penderita tuli mendadak menunjukkan adanya suatu
prevalensi sedang penyakit viral. Juga ditemukan bukti serokonversi virus dan
histopatologi telinga dalam yang konsisten dengan infeksi virus. Beberapa penelitian
mencatat 17-33% penderita tuli mendadak baru menderita penyakit virus. Pada
pemeriksaan histopatologis tulang temporal, gambaran kehilangan sel rambut dan sel
penyokong, atrofi membrana tektoria, atrofi stria vaskularis dan kehilangan neuron
sesuai dengan kerusakan akibat virus. Pola kerusakan ini mirip dengan gambaran
yang ditemukan pada tuli sekunder akibat cacar,campak dan rubella maternal.5
Teori kedua menyangkut gangguan vaskular yang terjadi pada koklea. Koklea
merupakan suatu end organ karena suplai darahnya tidak ada kolateralnya. Fungsi
koklea sensitif terhadap perobahan suplai darah. Gangguan vaskuler koklea akibat
trombosis, embolus, penurunan aliran darah atau vasospasme adalah etiologi tuli
mendadak. Penurunan oksigenasi koklea kemungkinan akibat dari perubahan aliran
darah koklea. Perdarahan intrakoklea merupakan manifestasi awal yang diikuti
fibrosis dan osifikasi koklea. Pada suatu studi ditemukan kesamaan antara faktor
risiko koroner iskemik dan faktor risiko tuli mendadak. Penemuan keterlibatan
vaskuler dalam patogenesis tuli mendadak dapat dijadikan sebagai strategi preventif
dan terapeutik.5
Teori lainnya terjadi tuli adalah akibat ruptur membran intrakoklea. Membran
ini memisah telinga tengan dan telinga dalam. Di dalam koklea juga terdapat
membran-membran halus memisah ruang perilimfe dan endolimfe. Secara teoritis,
ruptur dari salah satu atau kedua jenis membran ini dapat mengakibatkan tuli
mendadak. Kebocoran cairan perilimfe ke ruang telinga tengah lewat round window
dan oval window telah diyakini sebagai mekanisme penyebab tuli. Ruptur membran
intrakoklea membolehkan bercampurnya perilmfe dan endolimfe dan merobah
potensi endokoklea secara efektif.5

2.2.5 Diagnosis
Diagnosis didapatkan berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik serta
pemeriksaan penunjang audiologi dan laboratorium.4
a. Anamnesis
1. Kehilangan pendengaran tiba-tiba biasanya satu telinga yang tidak jelas
penyebabnya berlangsung dalam waktu kurang dari 3 hari.1
2. Pasien biasanya mengingat dengan jelas kapan tepatnya mereka kehilangan
pendengaran, pasien seperti mendengar bunyi ”klik” atau ”pop” kemudian
pasien kehilangan pendengaran.3
3. Pusing mendadak (vertigo) merupakan gejala awal terbanyak dari tuli
mendadak yang disebabkan oleh iskemik koklear dan infeksi virus, dan
vertigo akan lebih hebat pada penyakit meniere, tapi vertigo tidak ditemukan
atau jarang pada tuli mendadak akibat neuroma akustik, obat ototoksik.3
4. Riwayat infeksi virus seperti parotis, mumps, campak, herpes zooster, CMV,
influenza B. 1
5. Riwayat penyakit metabolik seperti DM.7
6. Telinga terasa penuh, biasanya pada penyakit meniere.3
7. Riwayat berpergian dengan pesawat atau menyelam ke dasar laut.7
8. Riwayat trauma kepala dan bising keras.1, 5
b. Pemeriksaan fisik
Pada pemeriksaan fisik dengan otoskop, tidak ditemukan kelainan pada
telinga yang sakit. Sementara dengan pemeriksaan pendengaran didapatkan hasil
sebagai berikut:1
1. Tes penala :
Rinne positif, Weber lateralisasi ke telinga yang sehat, Schwabach
memendek. Kesan : Tuli sensorieural
2. Audiometri nada murni :
Tuli sensorineural ringan sampai berat.
c. Pemeriksaan penunjang 1
1. Audiometri khusus
- Tes SISI (Short Increment Sensitivity Index) dengan skor : 100% atau
kurang dari 70%
- Tes Tone decay atau reflek kelelahan negatif.
Kesan : Bukan tuli retrokoklea
2. Audiometri tutur (speech audiometry)
- SDS (speech discrimination score): kurang dari 100%
Kesan : Tuli sensorineural
3. Audiometri impedans :
- Timpanogram tipe A (normal) reflek stapedius ipsilateral negatif atau
positif sedangkan kolateral positif.
Kesan : Tuli sensorineural Koklea
4. BERA ( Brainstem Evolved Responce Audiometry)
Menunjukkan tuli sencori neural ringan sampai berat.
d. Pemeriksaan Laboratorium1
1. Hitung sel darah lengkap
2. LED
3. Faal Hemotasis dan faktor kuagalasi
4. Kultur bakterik
5. Eletrolit pada kadar glukosa
6. Kolesterol dan trigliserida
7. Uji fungsi tiroid
8. Tes autoimun seperti antibodi antinuklear dan reumatic
e. ENG ( Electtronistagmografi)4
1. Radiologi
2. Arteriografi
2.2.6 Tatalaksana
Terapi untuk tuli mendadak adalah1
1. Tiarah baring yang sempurna (total bed rest) istirahat baik fisik dan mental
selama 2 minggu untuk menghilangkan atau mengurangi stress yang besar
pengaruhnya pada keadaan kegagalan neovaskular.
2. Vasodilatansia injeksi yang cukup kuat disertai dengan pemberian tablet
vasodilator oral tiap hari.
3. Prednison 4x10 mg (2 tablet),tappering off tiap 3 hari (hati –hati pada
penderita DM)
4. Vitamin C 500 mg 1x1 tablet/hari
5. Neurobion 3x1 tablet /hari
6. Diit rendah garam dan rendah kolesterol
7. Inhalasi oksigen 4x15 menit (2 liter/menit), obat antivirus sesuai dengan
virus penyebab
Kortikosteroid merupakan obat anti inflamasi yang digunakan untuk
mengobati ketulian sensorineural mendadak idiopatik. Mekanisme kerjanya terhadap
ketulian mendadak belum diketahi dengan pasti, meskipun terjadi reduksi inflamasi
koklea dan saraf auditorius setelah pemberian obat ini. Dalam sebuah penelitian baru-
baru ini ditemukan bahwa injeksi dexamethason intratimpani efektif untuk
memperbaiki pendengran pasien yang mengalami tuli mendadak setelah sebelumnya
gagal ditatalaksana dengan terapi standar.5
Vasodilator digunakan untuk meningkatkan aliran darah ke koklea, sehingga
dapat memperbaiki oksigenasi di daerah tersebut. Untuk meningkatkan perfusi
vaskuler, mikrosirkulasi dan menurunkan viskositas darah dapat diberikan anti
koagulan seperti heparin, warfarin, bila terdapat gangguan hematologi. Sebagai terapi
penunjang dapat diberikan vitamin atau neurotropik lainnya.1, 5
Terapi inhalasi carbogen adalah pengobatan untuk tuli mendadak dengan
menggunakan gas campuran, 95% oksigen dan 5% karbondioksida untuk
memperbaiki oksigenasi di koklea. Fisch menyatakan bahwa tekanan oksigen dalam
cairan perilimfe manusia akan meningkat dengan pemberian inhalasi carbogen.5
Saat ini telah dikenal terapi oksigen bertekanan tinggi dengan teknik
pemberian oksigen hiperbarik, yaitu dengan memasukkan pasien ke dalam suatu
ruangan yang bertekanan 2 ATM.1
Definisi perbaikan pendengaran pada tuli mendadak adalah:1
1. Dikatakan sembuh bila perbaikan ambang pendengaran kurang dari 30 db pada
frekuensi 250 hz,500 hz,1000 hz dan di bawah 25 db pada frekuensi 4000 hz.
2. Perbaikan sangat baik terjadi bila perbaikannya lebih dari 30 db pada 5 frekuensi
3. Perbaikan baik bila rata-rata perbaikannya berkisar antara 10-30 db pada 5
frekuensi
4. Tidak ada perbaikan bila perbaikan kurang dari 10 db pada 5 frekuensi
2.2.7 Prognosis
Prognosis tuli mendadak tergantung pada beberapa faktorr yaitu : kecepatan
pemberian obat, respon 2 minggu pengobatan pertama, usia, derajat tuli saraf, dan
adanya faktor-faktor predisposisi.1
Pada umumnya makin cepat diberikan pengobatan makin besar kemungkinan
untuk sembuh, bila sudah lebih 2 minggu kemungkinan sembuh menjadi lebih
kecil. Penyembuhan dapat sebagian atau lengkap, tetapi dapat juga tidak sembuh,
hal ini disebabkan oleh karena faktor konstitusi pasien seperti pasien yang pernah
mendapat pengobatan obat ototoksik yang cukup lama, pasien diabetes melitus,
pasien dengan kadar lemak darah yang tinggi, pasien dengan viskositas darah yang
tinggi dan sebagainya, walaupun pengobatan diberikan pada stadium yang dini.1
Pasien yang cepat mendapat pemberian kortikosteroid atau vasodilator
mempunyai angka kesembuhan yang lebih tinggi, demikian pula dengan kombinasi
pemberian steroid dengan heparinisasi dan karbogen serta steroid dengan obat
fibrinolitik.8
Usia muda mempunyai angka perbaikan yang lebih besar dibandingkan usia
tua, tuli sensorineural berat dan sangat berat mempunyai prognosis lebih buruk
dibandingkan dengan tuli sensorineural nada rendah dan menengah. Tinitus adalah
gejala yang paling sering menyertai dan paling mengganggu disamping vertigo dan
perasaan telinga penuh. Gejala vertigo dan perasaan telinga penuh lebih mudah
hilang dibandingkan dengan gejala tinitus. Ada ahli yang berpendapat bahwa
adanya tinitus menunjukkan prognosis yang lebih baik.8
BAB III
PENYAJIAN KASUS

3.1 Anamnesis
1. Identitas
Nama : Tn. B
Jenis Kelamin : Laki-laki
Usia : 86 tahun
Pekerjaan :-
Alamat : Jl. Raya Sagatani, Sijangkung
Tanggal dikonsulkan : 6 Juli 2018
2. Keluhan Utama
Penurunan pendengaran
3. Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien merupakan konsulan dari dokter spesialis bedah dengan keluhan
penurunan pendengaran. Keluhan penurunan pendengaran dirasakan setelah
pasien post operasi vesicolitotomy. Pasien mengatakan telinga kanan dan kiri
tiba-tiba tidak dapat mendengar, awalnya pasien merasakan seperti berdenging
dan terasa tersumbat kemudian pasien mengatakan pendengaran mulai menurun
dan tidak dapat mendengar lagi.
4. Riwayat Penyakit Dahulu
a. Riwayat telinga berair tidak ada, nyeri telinga tidak ada, riwayat mengorek-
ngorek telinga tidak ada, trauma kepala tidak ada.
b. Pusing berputar tidak ada, sakit kepala tidak ada.
c. Demam, batuk, dan pilek tidak ada, riwayat bersin pagi hari tidak ada.
d. Riwayat mengkonsumsi obat-obatan jangka lama tidak ada.
Riwayat terpapar suara bising ditempat kerja dan jangka waktu lama tidak ada
e. Diabetes mellitus (+) diketahui saat masuk Rumah Sakit
f. Hipertensi (+) Diketahui saat masuk Rumah Sakit
5. Riwayat Penyakit Keluarga
Tidak ada anggota keluarga yang menderita penyakit seperti ini.

3.2 Pemeriksaan Fisik


1. Keadaan Umum
Kesadaran : Compos mentis
Keadaan umum : Baik
Tekanan darah : 160/80 mmHg
Nadi : 86 x / menit
Pernapasan : 20 x / menit
Suhu : 36,6oC
2. Status Generalis
Kepala : Normocephali
Mata : Konjungtiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-)
Leher : Pembesaran KGB (-)
Jantung : S1 S2 reguler, murmur (-), gallop (-)
Paru : SND vesikuler (+/+), rhonki (-), Wheezing (-)
Abdomen : Tidak diperiksa
Ekstremitas : Akral hangat, edema (-)
3. Status Lokalis
Telinga
Pemeriksaan Kelainan Dekstra Sinistra

Kel. Congenital Tidak ada Tidak ada

Trauma Tidak ada Tidak ada

Radang Tidak ada Tidak ada


Daun Telinga Kel. Metabolik Tidak ada Tidak ada

Nyeri tarik Tidak ada Tidak ada

Nyeri tekan tragus Tidak ada Tidak ada

Cukup lapang (N) Cukup lapang (N) Cukup lapang (N)

Sempit - -

Dinding Liang Hiperemi Tidak ada Tidak ada

Telinga Edema Tidak ada Tidak ada

Massa Tidak ada Tidak ada

Bau Tidak ada Tidak ada

Warna Coklat kekuningan Coklat kekuningan

Sekret/serumen Jumlah Sedikit Sedikit

Jenis Lunak Lunak

Membran timpani

Warna Putih Putih

Reflex cahaya Sklerotik Sklerotik

Utuh Bulging Tidak ada Tidak ada

Retraksi Tidak ada Tidak ada

Atrofi Tidak ada Tidak ada


Tes Garpu Tala

Telinga RINNE WEBER SCHWABACH

(Lateralisasi)

R - Kanan Memendek

L - Memendek

3.3 Pemeriksaan Penunjang disarankan


1. Audiometri
2. Timpanometri
3. OAE
4. BERA
3.4 Diagnosis Kerja
Sudden Deafness
3.5 Tatalaksana
1. Non medikamentosa
a. Hiperbarik Oksigen

2. Medikamentosa
a. Bed rest total
b. O2 2-4 Lpm
c. Inj Methylprednisolon 125 mg/12 jam (acc SP. PD) -> tappering off
d. Inj Neurobion 2x1 amp
3.6 Prognosis
a. Ad functionam : Dubia ad bonam
b. Ad sanactionam : Dubia ad bonam
c. Ad vitam : Dubia ad bonam
FOLLOW UP
Pasien dikonsulkan tanggal 6 Juli 2018
S: Pasien mengeluh penurunan pendengaran tiba-tiba setelah post op
vesicolitotomy.
O: Kesadaran : Compos Mentis, GDS: 319 mg/dl, TD: 160/80 mmHg
Telinga :
AD : Liang Telinga Lapang, membran timpani Intak, cairan (-)
AS : Liang Telinga Lapang, membran timpani Intak, cairan(-)
A: Sudden Deafness
P : Injeksi Methylprednisolon 125 mg/12 jam -> acc Sp.PD
Injeksi mersibion 2x1 amp

7 Juli 2018
S: Pasien mengeluh penurunan pendengaran mulai berkurang
O: Kesadaran : Compos Mentis, GDS : 257 mg/dl, TD : 150/80 mmHg
Telinga :
AD : Liang Telinga Lapang, membran timpani Intak, cairan (-)
AS : Liang Telinga Lapang, membran timpani Intak, cairan (-)
A: Sudden Deafness
P : Injeksi Methylprednisolon 62,5 mg/8 jam
Injeksi mersibion 2x1 amp

8 Juli 2018
S: Pasien mengeluh penurunan pendengaran mulai membaik
O: Kesadaran : Compos Mentis, GDS : 227 mg/dl, TD: 150/70 mmHg
Telinga :
AD : Liang Telinga Lapang, membran timpani Intak, cairan (-)
AS : Liang Telinga Lapang, membran timpani Intak, cairan (-)
A: Sudden Deafness
P : Injeksi Methylprednisolon 62,5 mg/12 jam
Injeksi mersibion 2x1 amp

9 Juli 2018
S: Pasien menngatakan penurunan pendengaran sudah tidak dirasakan
O: Kesadaran : Compos Mentis, GDS : 198 mg/dl, TD: 140/70 mmHg
Telinga :
AD : Liang Telinga Lapang, membran timpani Intak, cairan (-)
AS : Liang Telinga Lapang, membran timpani Intak, cairan (-)
A: Sudden Deafness
P : Methylprednisolon 2 x 4 mg
Injeksi mersibion 2x1 amp
BAB IV
PEMBAHASAN

Pada kasus di atas, diagnosis Sudden Deafness ditegakkan berdasarkan


anamnesis dan pemeriksaan fisik. Dari anamnesis didapatkan pasien dengan keluhan
telinga kanan dan kiri tiba-tiba tidak mendengar sejak pasien post operasi
vesicolitotomy, sebelumnya pasien merasakan tiba-tiba telinga seperti berdenging dan
terasa tersumbat kemudian tidak mendengar lagi, dimana Sudden Deafness ini
merupakan tuli yang terjadi secara tiba-tiba.7
Tuli mendadak bisa disebabkan oleh berbagai hal seperti infeksi, trauma
kepala, pajanan bising yang keras, perubahan tekanan atmosfir, penyakit autoimun,
obat ototoksik, penyakit meniere, masalah sirkulatorik, neuroma akustik. Dari
anamnesa terhadap pasien ini tidak ditemukan adanya penyebab-penyebab tersebut.
Menurut teori bahwa sebanyak 85% kasus tuli mendadak tidak diketahui
penyebabnya, sementara hanya 15% kasus yang dapat diketahui penyebabnya dan
kemungkinan pada pasien ini termasuk kasus tuli yang tidak diketahui
penyebabnya.10
Pada kasus ini terdapat beberapa faktor resiko yaitu diabetes dan hipertensi.
Pada diabetes terjadi peningkatan viskositas darah yang mengurangi kecepatan aliran
darah sehingga memudahkan terbentuknya mikrotrombus. Pada hipertensi terjadi
penebalan endotel pembuluh darah sehingga lumen pembuluh darah sempit dan
berkurangnya kelenturan pembuluh darah. Kondisi tersebut memudahkan terjadinya
oklusi pada pembuluh darah koklea yang merupakan pembuluh darah kecil, end
artery dan tidak mempunyai kolateral.5
Pada pemeriksaan fisik ditemukan membran timpani pada telinga kiri dan
kanan berwarna putih dengan sklerotik tanpa refleks cahaya. Pada tes penala
didapatkan rinne (-/-), webber lateralisasi ke kanan, swabach memendek.7
Pemeriksaan anjuran yaitu audiometri dan BERA untuk menentukan jenis tuli
dan derajatnya, sementara timpanometri dilakukan untuk menilai kondisi telinga
tengah. Dan dianjurkan pula OAE untuk menilai fungsi koklea secara objektif. 10
Terapi yang diberikan yaitu terapi bed rest total fisik dan mental selama 2
minggu untuk menghilangkan atau mengurangi stress yang besar pengaruhnya pada
keadaan kegagalan neurovaskular. Tujuan pemberian oksigen adalah untuk
memperbaiki oksigenasi di koklea. Methylprednisolon diberikan karena
kortikosteroid merupakan obat anti inflamasi yang digunakan untuk mengobati
ketulian sensorineural mendadak idiopatik. Tarontal adalah vasodilator yang
diberikan untuk meningkatkan aliran darah ke koklea, sehingga dapat memperbaiki
oksigenasi di daerah tersebut. Neurobion dan Vitamin C sebagai multivitamin dan
pada pasien dianjurkan terapi Hiperbarik Oksigen dengan tujuan meningkatkan
konsentrasi oksigen di dalam darah.9
Prognosis dan keberhasilan penatalaksanaan tuli mendadak dipengaruhi oleh
beberapa faktor diantaranya onset kehilangan pendengaran, ada tidaknya vertigo,
jenis audiogram pertama dan penyakit sistemik. Pasien yang diberikan terapi dalam
onset kurang dari 5 hari mempunyai prognosis yang lebih baik dibandingkan onset
yang lebih dari 5 sampai 15 hari. Adanya vertigo mempunyai prognosis yang lebih
buruk dibandingkan tidak disertai vertigo, begitu karena adanya vertigo berarti
kerusakan lebih luas yaitu mengenai sistem keseimbangan, demikian juga dengan
penyakit sistemik yang memperberat kerusakan yang terjadi pada pembuluh darah
koklea.10
BAB V
KESIMPULAN

5.1 Kesimpulan
Berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik, diketahui bahwa Tn. B, 86
tahun menderita sudden deafness. Tuli mendadak bisa disebabkan oleh berbagai hal
seperti infeksi, trauma kepala, pajanan bising yang keras, perubahan tekanan
atmosfir, penyakit autoimun, obat ototoksik, penyakit meniere, masalah sirkulatorik,
neuroma akustik. Pada kasus ini terdapat beberapa faktor resiko yaitu diabetes dan
hipertensi. Pada diabetes terjadi peningkatan viskositas darah yang mengurangi
kecepatan aliran darah sehingga memudahkan terbentuknya mikrotrombus. Pada
hipertensi terjadi penebalan endotel pembuluh darah sehingga lumen pembuluh darah
sempit dan berkurangnya kelenturan pembuluh darah. Kondisi tersebut memudahkan
terjadinya oklusi pada pembuluh darah koklea yang merupakan pembuluh darah
kecil, end artery dan tidak mempunyai kolateral.
Pasien mendapat terapi non-medikamentosa dan medikamentosa. Terapi non-
medikamentosa meliputi antara lain terapi bed rest total fisik dan mental selama 2
minggu untuk menghilangkan atau mengurangi stress yang besar pengaruhnya pada
keadaan kegagalan neurovaskular. Tujuan pemberian oksigen adalah untuk
memperbaiki oksigenasi di koklea. Methylprednisolon diberikan karena
kortikosteroid merupakan obat anti inflamasi yang digunakan untuk mengobati
ketulian sensorineural mendadak idiopatik. Tarontal adalah vasodilator yang
diberikan untuk meningkatkan aliran darah ke koklea, sehingga dapat memperbaiki
oksigenasi di daerah tersebut. Neurobion dan Vitamin C sebagai multivitamin dan
pada pasien dianjurkan terapi Hiperbarik Oksigen dengan tujuan meningkatkan
konsentrasi oksigen di dalam darah.
DAFTAR PUSTAKA

1. Jenny B dan Indro S. 2007. Bab Tuli mendadak dalam buku ajar ilmu kesehatan

telinga hidung tenggorokan kepala dan leher. Edisi ke 6:Jakarta:FK UI.

2. Muller C. 2009. Sudden Sensorineural hearing loss. Grand Rounds Presentation,

UTMB, Dept of Otolaryngology. Diakses dari :

http://www.utmb.edu/otoref/grnds/SuddenHearingLoss-010613/SSNHL.htm

3. Deafness Research. 2011. Sudden sensorineural hearing loss. UK. Diakses dari:

http://www.deafnessresearch.org.uk/Sudden%20sensorineural%20hearing%20los

s+1627.twl

4. Levine SC. Penyakit telinga dalam dalam buku ajar penyakit THT BOIES, edisi

ke 6. EGC Jakarta. 119-38

5. Marthur N, Carr M et al. 2012. Sudden hearing loss. Diakses dari:

http://emedicine.medscape.com/article/856313-overview#showall.

6. Malik, Ghulam H et al. 2008. Sudden idiopathic sensorineural deafness and its

treatment. The Long Island College Hospital Brooklyn, New York. Diakses dari:

http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC1749386/

7. Griffith RW. 2012. Sudden deafness on one side - is it diabetes?. Diakses dari:

http://www.healthandage.com/public/health-center/16/article-home/2926/Sudden-

Deafness-on-One-Side-Is-It-Diabetes.html

8. The prevalence and incidence of hearing loss in adults. Diakses dari:

http://www.asha.org/public/hearing/disorders/prevalence_adults.htm
9. Rauch SD. 2008. Treating Sudden deafness. A new study. Diakses dari:

http://www.hearinglossweb.com/Medical/Causes/sens_neur/sud/trial.htm

10. Indra S dkk. 2007. Bab gangguan pendengaran akibat ototoksik buku ajar ilmu

kesehatan telinga hidung tenggorokan kepala dan leher. Edisi ke 6:Jakarta:FK UI.