Anda di halaman 1dari 8

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG


Hubungan agensi dalam teori keagenan muncul ketika pemegang saham memperkerjakan
manajer untuk memberikan suatu jasa dan kemudian mendelegasikan wewenang pengambilan
keputusan kepada manajer tersebut. Hubungan antara pemegang saham dan manajer dapat
mengarah pada kondisi asimetri informasi karena manajer berada pada posisi yang memiliki
informasi yang lebih banyak tentang perusahaan dibandingkan dengan pemegang saham.
Berdasarkan asumsi bahwa individu-individu bertindak untuk memaksimalkan kepentingan
sendiri, maka dengan informasi asimetri yang dimilikinya akan mendorong manajer untuk
menyembunyikan beberapa informasi yang tidak diketahui pemegang saham. Kondisi tersebut
membuat manajer dapat mempengaruhi angka-angka akuntansi yang disajikan dalam laporan
keuangan dengan cara melakukan manajemen laba.
Sampai saat ini manajemen laba merupakan area yang paling controversial dalam
akuntansi keuangan. Bagi pihak yang kontra, manajemen laba merupakan pengurangan
keandalan informasi laporan keuangan yang dapat menyesatkan dalam pengambilan keputusan.
Namun bagi pihak yang pro, manajemen laba merupakan hal yang fleksibel untuk melindungi
diri mereka dan perusahaan dalam mengantisipasi kejadian yang tidak terduga.
Kasus skandal pelaporan akuntansi salah satunya yang terjadi di Indonesia yaitu kasus
pada PT Bank Lippo Tbk. Tindakan menurunkan laba dalam kasus ini membuktikan bahwa
praktik manajemen laba ternyata sudah mulai merambah ke dalam industry perbankan. Hal
tersebut membuat Industri perbankan menjadi menarik untuk diteliti karena industry perbankan
mempunyai regulasi yang lebih ketat dibandingkan dengan industri lain.

1.2 MASALAH PENELITIAN


1) Apakah asimetri informasi berpengaruh signifikan terhadap praktik manajemen laba
dalam industri perbankan di Indonesia?
2) Apakah struktur kepemilikan manajerial berpengaruh signifikan terhadap praktik
manajemen laba dalam industri perbankan di Indonesia?
3) Apakah leverage berpengaruh signifikan terhadap praktik manajemen laba dalam industri
perbankan di Indonesia?
1
4) Apakah asimetri informasi, struktur kepemilikan manajerial dan leverage berpengaruh
signifikan secara simultan terhadap praktik manajemen laba dalam industri perbankan di
Indonesia?

1.3 TUJUAN PENELITIAN


1) Untuk mengetahui pengaruh signifikan asimetri informasi terhadap praktik manajemen
laba dalam industri perbankan di Indonesia.
2) Untuk mengetahui pengaruh signifikan struktur kepemilikan manajerial terhadap
praktik manajemen laba dalam industri perbankan di Indonesia.
3) Untuk mengetahui pengaruh signifikan leverage terhadap praktik manajemen laba
dalam industri perbankan di Indonesia.
4) Untuk mengetahui pengaruh signifikan asimetri informasi, struktur kepemilikan
manajerial, dan leverage terhadap praktik manajemen laba dalam industri perbankan di
Indonesia.

1.4 KAJIAN PUSTAKA

Pengertian Manajemen Laba


Para pakar kurang seragam dalam mendefinisikan manajeman laba. Mulford dan
Comiskey (2010) mendefinisikan manajemen laba sebagai manipulasi akuntansi dengan tujuan
menciptakan kinerja perusahaan agar terkesan lebih baik dari yang sebenarnya. Dechow (1996)
dalam Widyaningdyah (2001) mendefinisikan manajemen laba sebagai manipulasi laba, baik di
dalam maupun di luar batas prinsip-prinsip akuntansi yang berterima umum (PABU).
Dari beberapa definisi yang telah dikemukakan oleh para pakar tersebut kami
mendefinisikan ulang manajemen laba sebagai kegiatan manipulasi laba yang akan disajikan
dalam laporan keuangan yang dilakukan oleh manajer dengan tujuan tertentu dalam batasan
PABU maupun diluar batasan PABU.

Pengertian Asimetri Informasi


Asimetri informasi merupakan suatu keadaan dimana manajer memiliki akses informasi
atas prospek perusahaan yang tidak dimiliki oleh pihak luar perusahaan. Agency
Theory mengimplikasikan adanya asimetri informasi antara manajer (agen) dengan pemilik

2
(prinsipal). Adanya pemilihan kebijakan akuntansi dalam standar yang dapat digunakan tersebut
membuat manajemen memiliki cukup keleluasaan untuk memanipulasi laporan keuangan
tersebut. pilihan metode akuntansi yang secara sengaja dipilih oleh manajemen untuk tujuan
tertentu dikenal dengan sebutan manajemen laba. Asimetri informasi dapat diantisipasi dengan
melakukan pengungkapan informasi yang lebih berkualitas.

Struktur Kepemilikan Manajerial


Struktur kepemilikan dalam suatu perusahaan akan memiliki motivasi yang berbeda
dalam hal mengawasi atau memonitor perusahaan serta manajemen dan dewan direksinya.
Struktur kepemilikan merupakan suatu mekanisme untuk mengurangi konflik antara manajemen
dan pemegang saham Faisal (2005) dalam Sabrina (2010).
Kepemilikan manajerial adalah kepemilikan saham oleh manajemen perusahaan yang
diukur dengan presentase jumlah saham yang dimiliki oleh manajemen Sujono dan Soebiantoro
(2007). Meningkatkan kepemilikan manajerial digunakan sebagai salah satu cara untuk
mengatasi masalah yang ada di perusahaan.

Pengertian Operating Leverage


Di dalam manajemen keuangan perusahaan pada umumnya dikenal dua macam leverage,
yaitu operating leverage dan financial leverage. Operating leverage dapat digambarkan secara
mudah dengan menggunakan laporan rugi laba. Leverage ini membandingkan pengaruh
pedapatan (penjualan) terhadap perubahan keuntungan operasional (Operating Income). Jika kita
ingin menerapkan proses produksi baru dengan mesin-mesin baru yang mahal dan canggih.
Sebagai konsekuensi perusahaan akan mengeluarkan uang yang banyak demi mesin tersebut dan
akan berdampak pada menurunya keuntungan operasional akan tetapi penggunaan mesin baru
akan menghemat beberapa variabel. Contoh dengan mesin baru yang berkerja lebih cepat tenaga
manusia bisa dikurangi.

Hipotesis Penelitian

Ha1: Asimetri informasi berpengaruh signifikan terhadap Praktik Manajemen Laba.

Ha2: Struktur kepemilikan manajerial berpengaruh signifikan terhadap Praktik Manajemen Laba.

Ha3: Leverage berpengaruh signifikan terhadap Praktik Manajemen Laba.


3
Ha4: Asimetri informasi, struktur kepemilikan manajerial, dan leverage berpengaruh signifikan

terhadap Praktik Manajemen Laba.

METODOLOGI PENELITIAN

2.1 LOKASI PENELITIAN


Guna memperoleh data yang diperlukan, maka penulis melakukan penelitian pada
perusahaan perbankan publik yang ada di Indonesia dan telah terdaftar di BEI (Bursa Efek
Indonesia) selama periode 2007-2009 di Bursa Efek Indonesia, Jl. Jendral Sudirman Ka 52-53
Senayan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

2.2 DATA YANG DIGUNAKAN


Data yang digunakan dalam penelitian ini merupakan data sekunder, dimana data tersebut
merupakan data yang diperoleh secara tidak langsung atau melalui media perantara seperti orang
lain atau dokumen. Data sekunder dalam penelitian ini merupakan data laporan keuangan 18
perbankan di Indonesia yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia selama peiode 2007-2009. Data
tersebut digunakan untuk mengetahui praktik manajemen laba yang terjadi di industri perbankan.

2.3 DEFINISI OPERASIONAL VARIABEL


1. Variabel Terikat (Dependent Variable)
Variabel terikat dalam penelitian ini adalah Manajemen Laba. Manajemen laba adalah
campur tangan dalam proses pelaporan keuangan eksternal dengan tujuan untuk menguntungkan
diri sendiri. Manajemen laba adalah salah satu faktor yang dapat mengurangi kredibilitas laporan
keuangan, manajemen laba menambah bias dalam laporan keuangan dan dapat mengganggu
pemakai laporan keuangan yang mempercayai angka laba hasil rekayasa tersebut sebagai angka
laba tanpa rekayasa.
2. Variabel Bebas (Independent Variable)
Variabel bebas dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

4
a) Asimetri informasi merupakan suatu keadaan dimana manajer memiliki akses informasi
atas prospek perusahaan yang tidak dimiliki oleh pihak luar perusahaan. Agency
Theory mengimplikasikan adanya asimetri informasi antara manajer (agen) dengan
pemilik (prinsipal).
b) Struktur kepemilikan dalam suatu perusahaan akan memiliki motivasi yang berbeda
dalam hal mengawasi atau memonitor perusahaan serta manajemen dan dewan
direksinya.
c) Leverage adalah segala jenis teknik untuk memultiplikasi/menggandakan keuntungan dan
kerugian. Seringkali berupa pembelian asset dengan menggunakan dana pinjaman,
dengan harapan bahwa penghasilan dari kenaikan harga asset tersebut akan jauh lebih
besar dibandingkan dengan biaya peminjaman. Hampir selalu terjadi bahwa resiko
meminjam lebih besar dari jumlah penghasilan yang didapatkan dari nilai asset tersebut,
sehingga terjadi kerugian.

2.4 ALAT ANALISIS YANG DIGUNAKAN


1. Uji Statistik Deskripsi

Statistik deskriptif digunakan untuk menggambarkan profil data sampel yang meliputi antara lain

mean, median, maksimum, minimum, dan deviasi standar. Data yang diteliti dikelompokkan

menjadi empat yaitu Asimetri Informasi, Struktur Kepemilikan Manajerial, Leverage dan

Manajemen Laba.
2. Uji Koefisien Regresi Parsial (Uji t)
Uji t digunakan untuk menguji tingkat signifikansi pengaruh variabel independen terhadap

variabel dependen secara parsial. Jika t hitung koefisien regresi lebih kecil dari t tabel, maka

variabel independen secara individu tersebut tidak berpengaruh terhadap variabel dependen.

Sebaliknya jika t hitung lebih besar dari t tabel, maka variabel independen secara individu

berpengaruh terhadap variabel dependen.


3. Uji Koefisien Regresi Serentak (Uji F)
Uji F digunakan untuk menguji tingkat pengaruh variabel independen terhadap variabel

dependen secara bersama-sama.

5
HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1 HASIL STATISTIK

Statistik Deskriptif Manajemen Laba


Tabel 1 memperlihatkan deskripsi manajemen laba dari 18 bank yang terdaftar di BEI selama
periode 2007-2009. Berdasarkan Tabel 1, nilai positif berarti perusahaan melakukan manajemen
laba dengan menaikkan laba sedangkan nilai negatif berarti perusahaan melakukan manajemen
laba dengan menurunkaan laba.
Statistik Deskriptif Asimetri Informasi
Tabel 2 diketahui mean dari asimetri informasi sebesar 1,093 dengan standar deviasi sebesar
0,392. Artinya nilai rasio hasil dari perhitungan asimetri informasi melalui alat ukur bid-ask
spread menunjukkan bahwa telah terjadi asimetri informasi. Semakin tinggi spread
mengindikasikan semakin tinggi asimetri informasi.
Statistik Deskriptif Struktur Kepemilikan Manajerial
Pada tabel 3 diketahui bahwa perbankan yang memiliki kepemilikan manajerial yaitu sebanyak
12 bank dari 52 sampel perusahaan perbankan. Dari hasil tersebut tampak bahwa rata-rata
kepemilikan saham oleh manajerial yaitu hanya sebesar 25%.
Statistik Deskriptif Leverage
Pada tabel 4 diketahui mean dari variabel Lev sebesar 0.89379 dengan standar deviasi sebesar
0.044. Artinya bahwa Rp 1 aset yang ada di perusahaan akan menjamin 0.89379 hutang
perusahaan.
Uji Koefesian Regresi Parsial (Uji – t)
Tabel 5 menunjukan bahwa variabel asumetri informs (INFASYM) mempumyai t hitug
sebesar 5,683 > t tabel 2,010 dengan nilai signifikan sebesar 0,000 < a = 0,05. Hipotesis Hal di
terima. Variabel struktur kemepmilikan manajerial (MSO) mempunyai t hitung sebesar -0,222 < t
tabel 2,010 dengan signifikan sebesar 0,825 > a =0<05. Hipotesis Ha2 ditolak. Variabel leverage
(LEV) mempunyai t hitung sebesar -2,265 > t tabel -2,-1- dengan signifikasisebesar 0,028 > a =
0,05. Hipotesis Ha3 di terima.
Pengujian Koefesian Regresi Serentak (Uji – F)

6
Pada tabel 6 di dapat hasil perhitungan regresi yang menunjukan bahwa secara simultan atau
bersama-sama variabel asimetri informasi, struktur kepemilikan manajerial dan leverage
berpengaruh terhadap manajemen laba, sehingga hipotesis 4 dalam penelitian ini diterima

3.2 PEMBAHASAN HASIL STATISTIK


Hasil uji hipotesis (Ha1) menunjukan asimetri informasi berpengaruh positif dan
signifikan terhadap manajwmwn laba. Hal ini terjadi karena manajer berada pada posisi yang
mempunyai lebih banyak informasi mengernai internal perusahaan secara keseluruhan
dibandingkan dengan pemegngan saham sehingga manajer memiliki ruang gerak yang cukup
banyak untuk menggunakan metode akuntansi yang berbeda dalam menyusun laporan keuangan
guna memaksimalkan utilitasnya. Dengan semakin tingginya asimetri informasi maka semakin
tinggi praktik manajemen laba. Sehingga informasi yang dihasilkan semakin kurang akurat
Hasil uji hipotesis (Ha2) menunjukan struktur kepemlikan manajerial tidak berpengaruh
signifikan terhadap praktik manajemen laba. Namun demikian hasil analisis menujukan adanya
hubungan terbalik antara variabel manajemen laba dengan struktur kempemilikan yang bersifat
negative. Hal ini dapat disimpulkan bahwa semakin kecil struktur kepemilikan manajerial, akan
cenderung meningkatkan praktik manajemen laba.
Hasil uji hipotesis (Ha3) menunjukan leverage berpengaruh signifikan dan memiliki sifat
negatif terhadap manajemen laba. Hasil tersebut menunjukkan bahwa terjadi penyimpangan dari
hipotesis yang telah ada sebelumnya yaitu debt to equity hyphotesis. Hal ini mungkin disebabkan
oleh pendapatan industry perbankan Indonesia tumbuh menembus rekor.
Hasil uji hipotesis (Ha4) menunjukan bahwa asimetri informasi, struktur kepemilikan
manajerial dan leverage secara bersama-sama berpengaruh signifikan terhadap praktik
manajemen laba. Semua variabel independen tersebut memberikan kontribusi sebesar 47,3%
terhadap praktik manajemen laba, dan yang dominan berpengaruh adalah variabel asimetri
informasi.

SIMPULAN DAN SARAN


Simpulan:

7
1. Asimetri informasi berpengaruh positif dan signifikan terhadap manajemen laba. Hal ini
terjadi karena manajer berada pada posisi yang mempunyai lebih banyak informasi mengenai
internal perusahaan.
2. Struktur kepemilikan manajerial tidak berpengaruh signifikan terhadap praktik manajemen
laba. Hal ini dapat disimpulkan bahwa semakin kecil struktur kepemilikan manajerial, akan
cenderung meeningkatkan praktik manajemen laba.
3. Leverage berpengaruh signifikan dan memiliki sifat negatif terhadap manajemen laba. Hal ini
terjadi karena pada masa krisis global (periode pengamatan) industri perbankan justru
mampu meningkatkan pendapatan yang signifikan.
4. Asimetri informasi, struktur kepemilikan manajemen dan leverage secara bersama -sama
berpengaruh signifikan terhadap praktik manajemen laba.

Saran :
1. Pengguna laporan keuangan (khusunya investor, kreditor, regulator dan pemerintah) harus
lebih waspada dalam membaca dan menggunakan informasi dalam laporan keuangan agar
tidak mengalami kesalahan dalam mengambilan keputusan ekonomi.
2. Pada masa krisis, perusahaan-perusahaan memiliki kecenderungan untuk melakukan
penurunan laba sehingga menyebabkan para pengguna laporan keuangan salah dalam
mengambil keputusan. Dengan demikian diharapkan manajemen sebagai pihak yang
menyusun laporan keuangan memberikan informasi perusahaan secara lebih objektif,
lengkap, transparan, relefan, dan tepat waktu. Selain itu diharapkan manajemen dapat
memilih kebijakan akuntansi yang lebih tepat terkait manajemen laba.