Anda di halaman 1dari 8

PEMUKIMAN 02

PERMASALAHAN PEMUKIMAN DI KOTA MEDAN


D

OLEH:

TIOJAN SIBATUARA

(160320007)

JURUSAN ARSITEKTUR
FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS KATOLOK ST.THOMAS.SU


KONDISI PEMUKIMAN KAWASAN KAMPUNG HAMDAN

Daerah pemukiman perkotaan yang ada di kota Indonesia terus meningkat dengan
pesat setiap tahunya.jumlah daerah kumuh ini bertambah dengan kecepatan sekitar 1,37%
per tahun,dan telah mencapai 57.800 hektar pada tahun 2012. Apabila kondisi ini tidak segera
ditangani, diperkirakan Indonesia memiliki 67.100 hektar pemukiman kumuh pada tahun
2020.

Menurut Badan Pusat Statistik Medan, Kota Medan tepatnya pada tahun 2008
memiliki beberapa kawasan kumuh yang menyebar di 7 kecamatan dan 18 kelurahan dengan
luas sekitar 403 hektar, luas daerah kumuh di Medan mencapai 1,5 persen per tahun dari total
keseluruhan luas daerah tersebut. Daerah ini meliputi tujuh kecamatan antara lain Medan
Area dengan luas daerah kumuh 24,55 hektar dengan 1.625 penduduk miskin, Medan Denai
207.4 hektar dengan 6.849 penduduk miskin, Medan Perjuangan 14.30 hektar dengan 1.067
penduduk miskin, Medan Belawan 61.35hektar dengan penduduk miskin 17.716 warga,
Medan Deli 112.2 hektar dengan penduduk miskin 25.280 orang, Medan Labuhan 56,5 hektar
dengan penduduk miskin 20.599 dan Medan Marelan 27 hektar dengan 11.931 penduduk
miskin

Saya mengambil contoh pada kawasan kampung hamdan Seiring dengan pesatnya
pembangunan Kota Medan, memberikan pengaruh bagi perkembangan di sekitar pusat kota,
salah satunya adalah kawasan pemukiman padat Kampung Hamdan Kelurahan Hamdan
Kecamatan Medan Maimun Kota Medan

Gambar 1.2. Kondisi site

Sumber:. Google maps


Tapak kawasan ini berbatasan dengan pemukiman padat penduduk yang berada di
Utara tapak, Jalan Ir. H. Juanda di Selatan tapak, Jalan Multatuli dan Jalan Samanhudi di
sebelah Barat tapak, dan berbatasan langsung dengan Sungai Deli pada Timur tapak, dapat
dilihat pada Gambar 1.2 diatas.

1.1.ASPEK TOPOGRAFI LAHAN

Berdasarkan segi topografi, kawasan Kampung Hamdan memiliki garis kontur yang
cukup banyak menunjukkan perbedaan 1 m dari setiap levelnya

Gambar 1.4. Garis kontur pada kawasan

Sumber. Google erth

Namun walaupun kawasan ini memiliki tanah yang berkontur, pada saat musim hujan
air sungai pasti akan meluap sehingga menggenangi pemukiman warga. Hal ini dapat terjadi
karena sistem aliran dreinase dari kawasan yang kurang baik, serta kurangnya area hijau
sebagai area resapan air juga menjadi permasalahan yang cukup rumit di kawasan
pemukiman padat penduduk ini
1.2. POHON DAN TANAMAN
Area hijau yang dimiliki Kampung Hamdan ini juga bisa dikatakan sangat minim.
Pohon atau tanaman yang biasanya sengaja ditumbuhkembangkan di area pekarangan
rumah, sebahagian besar tidak tampak pada kawasan ini.

Gambar 1.5. Gambar kondisi ruang terbuka yang dijadikan tempat pembuangan sampah.

Ruang terbuka yang biasanya banyak ditanami oleh pohon-pohon rindang sebagai area
yang digunakan untuk bermain anak-anak ataupun area bercengkrama warga malah
digunakan sebagai tempat untuk menumpuk barang-barang yang tidak terpakai lagi, bahkan
sebagai tempat pembuangan sampah oleh warga, dapat dilihat pada Gambar 1.5. Hal ini
menyebabkan sirkulasi udara di sekitar kawasan menjadi kurang nyaman dan terasa sangat
panas ketika siang hari. Bukan hanya dipemukimannya saja, pinggiran sungai yang terdapat
di kawasan ini yang seharusnya ditanami banyak pohon sebagai area resapan air yang dapat
dimanfaatkan sebagai ruang terbuka hijau sehingga bisa digunakan sebagai area pendukung
dari aktivitas sosial warga masyarakat sekitar, kebanyakan pada tapak ini justru dijadikan
sebagai lahan pemukiman bagi warga. Ini menunjukkan bahwa kurangnya kesadaran
penduduk mengenai masalah lingkungan yang sehat untuk bermukim.

Gambar 1.6. Gambar kondisi perumahan di sekitar Sungai


Area bantaran sungai sangat terlihat kumuh. Pada tepian sungai juga terdapat pemukiman
liar yang tidak beraturan dan tidak memiliki pohon atau tanaman yang ditanam di area
resapan sungai, serta tepi sungai yang dipenuhi sampah yang bertumpukan, dapat terlihat
pada Gambar 1.6. Keadaan sungai yang sangat kotor dan sudah mulai dangkal merupakan
akibat sedimentasi dari sampah-sampah rumah tangga. Sebagian besar penduduk dan
masyarakat sekitar menjadikan sungai ini menjadi area pembuangan sampah.

1.3.ASPEK EKONOMI

Masyarakat Kampung Hamdan terkenal dengan industri baksonya, dapat dilihat dari
terdapatnya warung bakso yang cukup terkenal di kota Medan yaitu Bakso Amat yang
terletak di pinggiran tapak Kampung Hamdan ini.

Gambar 1.8. Gambar warung Bakso Amat yang terletak pada tapak

Keadaan ini menjadi hal penting dari kawasan, walaupun tidak sebagian besar warga
bermata pencarian sebagai tukang bakso, tapi setidaknya ada contoh kasus yang berhasil
dalam usaha bakso yang bisa dijadikan sebagai ciri khas kampung tersebut. Dapat dilihat
pada Gambar 1.8. Warung bakso ini cukup terkenal di Kota Medan dapat dilihat dari
banyaknya penikmat kuliner yang berdatangan baik yang berasal dari Kota Medan sendiri
maupun dari luar kota yang datang khusus ingin menyantap hidangan khas Kota Medan ini.

Gambar 1.9. Gambar kegiatan ekonomi yang terjadi pada pinggiran tapa
Selain usaha bakso, di kampung ini juga banyak terdapat usaha-usaha warga yang lain
seperti warung nasi, toko jajanan, warung kopi, salon, penjahit, bengkel, dan lain lain, dapat
dilihat pada Gambar 1.9. Usaha-usaha tersebut sebagian besar terdapat di pinggiran tapak
yang berorientasi ke jalan yang digunakan sebagai tempat parkir sehingga dengan keadaan ini
memicu terjadinya kemacetan yang cukup parah, ditambah lagi ruas jalan yang cukup kecil.
Penjabaran ini merupakan hal-hal besar bagaimana keadaan sosial ekonomi warga di
kampung tersebut, mulai dari kebiasaan hingga mata pencarian warga yang dominan.

1.4. KONDISI PEMUKIMAN WARGA

Mengenai masalah struktur bangunan, pemukiman warga banyak menggunakan material


seng, kayu, dan beton. Hal ini dapat mengakibatkan gangguan kenyamanan dan kesehatan
pada warga karena rumah yang menggunakan material seng untuk dinding dan atapnya akan
terasa panas di siang hari dan akan terasa sangat dingin pada malam hari, serta akan cepat
mengalami pelapukan bagi rumah yang bermaterialkan kayu karena terkena banjir. Seperti
yang kita ketahui bahwa area ini adalah area yang cukup bersahabat dengan banjir apabila
hujan turun. Ini terjadi karena kebanyakan warga Kampung Hamdan adalah warga yang
berpenghasilan menengah dan cenderung rendah. Jadi, kebanyakan warga hanya
menggunakan material-material yang murah ataupun menggunakan material bekas yang tidak
terpakai lagi

Gambar 1.10. Gambar contoh material yang digunakan mayoritas bangunan

Material seng, kayu, dan beton merupakan mayoritas material yang digunakan oleh warga
Kampung Hamdan dapat dilihat pada Gambar 1.10. Material ini banyak digunakan warga
dengan alasan harga yang lebih terjangkau oleh mayoritas warga yang berpenghasilan rendah
pada kawasan ini.
Gambaran kondisi pemukiman warga dibagi menjadi dua daerah yaitu daerah pemukiman
yang terletak di pinggiran jalan dan tengah tapak, serta pemukiman yang berada di pinggiran
sungai

Gambar 1.11. Gambar contoh bangunan yang berada di pinggir dan tengah tapak

Pada pemukiman warga yang berada di daerah pinggiran jalan dan tengah tapak,rata-rata
rumah warga sudah menggunakan bata sebagai material bangunannya, atap terbuat dari seng
dan genteng. Kondisi ini dapat dilihat pada Gambar 1.11. Selain itu lantai sudah berupa
keramik dan menggunakan pondasi batu kali.

Gambar 1.12. Gambar contoh bangunan yang berada di pinggir sungai

Mengenai pemukiman yang berada di daerah pinggiran sungai, kebanyakan rumah warga
masih menggunakan kayu dan seng sebagai material dindingnya, atap terbuat dari seng, lantai
masih berupa perkerasan atau semen, dan menggunakan pondasi batu kali, walaupun terdapat
juga rumah dengan konstruksi rumah panggung karena berbatasan langsung dengan Sungai
Deli. Kondisi ini dapat dilihat pada Gambar 1.12. Selain itu, kebanyakan jenis rumah yang
ada di Kampung Hamdan, yaitu tipe rumah deret, rumah couple, dan rumah tunggal. Tipe
bangunan yang berada di tapak ini tidak sesuai dengan standar rumah yang baik, karena
perbandingan jumlah anggota keluarga dengan luas rumah tidak sesuai dengan ketentuan
rumah yang layak huni.

1.5.KONDISI JALUR SIRKULASI WARGA

Pada kawasan Kampung Hamdan ini terdapat banyak sekali jalan kecil yang hanya bisa
dilewati oleh pejalan kaki dan sepeda motor. Bahkan becak, yang sebagian besar warga
gunakan sebagai kendaraan yang mendukung pekerjaan mereka di kawasan tersebut sebagai
penarik becak harus diparkirkan di rumah warga atau area terbuka yang berada di pinggiran
tapak yang berdekatan dengan jalan primer karena jalan di dalam tapak yang tidak dapat
dilalui akibat dari padatnya pemukiman penduduk.

Gambar 1.13. Gambar situasi jalan pada tapak

Karena terlalu banyaknya jalan kecil yang berada di kawasan ini, apabila berada di
kawasan ini bisa saja orang tersesat dan tidak tahu jalan untuk keluar. Kondisi ini dapat
dilihat pada Gambar 1.13. Perbatasan antar rumah warga pun juga bisa digunakan sebagai
jalur yang dapat ditembus untuk menuju suatu daerah. Apabila orang yang baru saja
berkunjung ke daerah ini pasti merasakan seperti ada di sebuah labirin yang tidak ketahui di
mana ujungnya karena setiap sela rumah warga pasti dapat ditembus. Jalur ke sungai pun
tidak dapat mengetahui dengan pasti, karena tertutup oleh rumah warga. Jalan primer pada
kawasan ini terletak pada jalan sekitar tapak yaitu, Jalan Ir. H. Juanda, Jalan Samanhudi, dan
Jalan Multatuli. Jalan sekundernya merupakan gang-gang kecil yang terdapat di dalam tapak
yang tidak dapat dilalui oleh kendaraan beroda empat