Anda di halaman 1dari 15

UJI FISIOLOGI BAKTERI

LAPORAN PRAKTIKUM
disusun untuk memenuhi tugas matakuliah Mikrobiologi Lanjut
yang dibimbing oleh Prof. Dr. Dra. Utami Sri Hastuti, M.Pd.

Oleh
Kelompok 3/ Kelas B
Eka Imbia Agus Diartika 180341863054
Jessy Damayanti 180341663070
Miftahul Hasanah 180341863028
Pujo Duryat 180341863036
Vindy Aprilia Putri 180341663063

UNIVERSITAS NEGERI MALANG


PASCASARJANA
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI
OKTOBER 2018
A. Judul
Laporan Praktikum Uji Fisiologi Bakteri

B. Topik
Laporan Praktikum Uji Fisiologi Bakteri

C. Tempat dan Tanggal Praktikum


Laboratorium Mikrobiologi O5 pada tanggal 16 Oktober 2018

D. Tujuan
1. Untuk menguji kemampuan bakteri menghidrolisis amilum
2. Untuk menguji kemampuan bakteri menghidrolisis protein
3. Untuk menguji kemampuan bakteri menghidrolisis lemak

E. Dasar Teori
Mikroba memiliki sifat-sifat pertumbuhan, morfologi dan sifat fisiologi
yang dapat dipelajari dengan melakukan isolasi terlebih dahulu. Isolasi merupakan
suatu metode untuk memisahkan mikroba tertentu dari populasi campuran
sehingga memudahkan proses identitikasi. Salah satu teknik isolasi adalah isolasi
pada cawan agar untuk jenis mikroba yang dapat membentuk koloni terpisah pada
media padat yaitu bakteri dan kapang (Widjoseputro, 1998).
Uji fisiologis bakteri dilakukan untuk mengidentifikasi bakteri berdasarkan
aktivitas selnya. Terdapat beberapa bakteri spesifik yang memiliki kemampuan
menghidrolisis amilum, lemak, maupun protein. Bakteri yang dapat
menghidrolisis pati mempunyai aktivitas amilolitik, yaitu menghasilkan enzim
amilase yang dapat mengubah pati menjadi molekul gula sederhana
(monosakarida) untuk kebutuhan metabolisme sel. Aktivitas tersebut
ditandai dengan adanya zona bening di sekeliling koloni pada uji hidrolisis pati
atau amilum (Hadioetomo, 1993).
Amilum merupakan karbohidrat yang masuk dalam jenis polisakarida.
Polisakarida merupakan makromolekul, polimer dengan beberapa monosakarida
yang dihubungkan dengan ikatan glikosidik. Beberapa polisakarida berfungsi
sebagai materi simpanan atau cadangan yang nantinya ketika diperlukan akan
dihidrolisis untuk menyediakan gula bagi sel. Kemampuan untuk menghidrolisis
amilum menjadi glukosa, maltosa, dan dekstrin karena mempunyai enzim amilase.
Amilum tidak dapat langsung digunakan, sehingga bakteri harus menghidrolisis
amilum terlebih dahulu menjadi molekul sederhana dan masuk ke dalam sel
(Sukarminah, 2010). Yodium digunakan sebagai indikator adanya amilum, bila
medium yang mengandung pati atau amilum diberi iodium maka akan tampak
warna biru. Namun jika pati atau amilum tersebut telah terhidrolisis maka
warnanya akan jernih atau bening. Warna jernih tersebut mengindikasikan bahwa
pati atau amilum sudah terhidrolisis oleh eksoenzim pada bakteri (Hadioetomo,
1990).
Jenis bakteri yang dapat menghidrolisis protein adalah bakteri yang
memproduksi enzim proteinase ekstraseluler. Semua bakteri memiliki enzim
proteinase tapi tidak semuanya memiliki enzim proteinase ekstraseluler. Aktivitas
enzim ini juga dapat dibuktikan dengan adanya zona bening di sekeliling koloni
pada hasil uji (Winarno, 1980).
Bakteri penghidrolisis lemak mampu mengubah senyawa menjadi asam
lemak dan gliserol. Bakteri dengan kemampuan hidrolisis lemak akan
menimbulkan warna merah kekuningan pada bagian bawah dan sekitar koloni.
Lemak merupakan campuran trigleserida yang terdiri atas molekul gliserol yang
berikatan dengan 3 molekul asam lemak. Lemak memiliki sifat antara lain tidak
larut dalam air, bila dipanaskan akan terjadi perubahan pada titik cair, titik asap
dan titik nyala, serta plastis dan bentuknya mudah berubah bila mendapat tekanan,
bisa mengalami ketengikan dan reaksi dengan alkali akan membentuk sabun dan
gliserol. Enzim lipase mampu menghidrolisis lemak menjadi 3 molekul asam
lemak dan 1 molekul gliserol (Gaman, 1981).
F. Alat dan Bahan
1. Alat
a. Jarum inokulasi lurus f. Kaki tiga dan kasa
b. Pipet g. Lampu spiritus
c. Tabung reaksi h. Beaker glass 400 ml
d. Inkubator i. Rak tabung reaksi
e. Gelas ukur 10 ml j. Tabung durham

2. Bahan
a. Biakan murni bakteri dari lemper ayam
b. Medium Amilum Agar
c. Medium Skim Milk Agar
d. Medium NA+ minyak zaitun+ Neutral red

G. Prosedur
1. Uji Kemampuan Menghidrolisis Amilum

Disediakan medium Amilum Agar. Dibuat garis tengah pada bagian dasar
cawan petri

Diinokulasikan biakan murni bakteri pada setengah bagian medium dengan


menggunakan jarum inokulasi, sedangkan setengah bagian yang tersisa dipakai
untuk kontrol. Kemudian diinkubasikan pada suhu 37°C selama 1 x 24 jam.

Dituangkan larutan iodium ke permukaan medium dan perhatikan warna yang


terjadi di sekeliling koloni bakteri menunjukkan adanya bagian hidrolisis
amilum oleh bakteri tersebut, sedang bagian lainnya berwarna biru kehitaman.
2. Uji Kemampuan Menghidrolisis Protein

Disediakan medium Skim Milk Agar. Dibuat garis tengah pada bagian dasar cawan
petri.

Diinokulasikan biakan murni bakteri pada setengah bagian medium sedangkan bagian
yang tersisa dipakai untuk kontrol. Kemudian diinkubasikan pada suhu 37°C selama 1
x 24 jam.

Diamati warna medium. Jika bakteri mampu menghidrolisis Protein, maka


daerah di sekeliling bakteri akan jernih sedang bagian lainnya tetap berwarna
keruh

3. Uji Kemampuan Menghidrolisis Lemak

Disediakan medium Skim Milk Agar. Dibuat garis tengah pada bagian dasar cawan
petri.

Diinokulasikan biakan murni bakteri pada setengah bagian medium sedangkan


bagian yang tersisa dipakai untuk kontrol. Kemudian diinkubasikan pada suhu
37°C selama 1 x 24 jam.

Diamati warna medium. Jika bakteri mampu menghidrolisis Protein, maka


daerah di sekeliling bakteri akan jernih sedang bagian lainnya tetap berwarna
keruh

Keterangan:
Bakteri diinokulasikan
dengan arah zig-zag pada
½ bagian medium, lalu
diinkubasikan pada suhu
37°C selama 1 x 24 jam.
Medium AA Medium SMA Medium NAL

Gambar 1. Cara Inokulasi Bakteri pada Medium AA, SMA dan NAL
H. Data Hasil Pengamatan
Spesies Kemampuan Menghidrolisis
No
Bakteri
Amilum Protein Lemak

1 Koloni
+ (Banyak) − −
I

2 Koloni
− − + (Banyak)
II

Dasar warna
Zona Bening merah

Keterangan: Keterangan: Keterangan:

Gambar Bakteri Koloni I Bakteri Koloni I Bakteri Koloni II


mampu dan II tidak mampu
menghidrolisis mampu menghidrolisis lemak,
amilum, ditandai menghidrolisis ditandai dengan
dengan terbentuknya protein, karena terbentuknya warna
zona bening di tidak terbentuk merah pada bagian
sekitar koloni zona bening di dasar.
bakteri. sekitar koloni
bakteri.

Keterangan
+ = mampu menghidrolisis
− = tidak mampu menghidrolisis
I. Analisis Data
Pada uji kemampuan hidrolisis amilum, digunakan medium amilum agar
dan larutan iodium. Setelah biakan bakteri diinkubasi pada suhu 37ºC selama 1 x
24 jam, kemudian di tuangkan larutan iodium ke permukaan medium. Amilum
agar merupakan medium yang mengandung amilum yang bisa dihidrolisis oleh
bakteri amilolitik. Larutan iodium adalah indikator amilum. Apabila medium yang
mengandung amilum diberi larutan iodium, maka akan tampak warna biru.
Apabila amilum telah terhidrolisis, maka bagian yang tidak mengandung amilum
lagi akan tampak jernih. Berdasarkan pengamatan, setelah di tuangkan larutan
iodium, koloni bakteri I mampu menghidrolisis amilum dengan ditandai
terbentuknya zona bening yang banyak di sekitar koloni, sedangkan koloni II
tidak mampu menghidrolisis amilum ditandai dengan tidak terbentuknya zona
bening di sekitar koloni bakteri melainkan tetap berwarna biru kehitaman.
Pada uji kemampuan hidrolisis protein digunakan medium skim milk agar.
Skim Milk pada percobaan ini digunakan sebagai sumber substrat. Skim milk
mengandung kasein sebagai protein susu dimana akan dipecah mikroorganisme
proteolitik menjadi senyawa nitrogen sehingga pada koloni dikelilingi area bening
yang menunjukkan mikroba tersebut mempunyai aktivitas proteolitik. Biakan
bakteri pada medium skim milk agar diinkubasi pada suhu 37ºC selama 1 x 24
jam, kemudian di amati warna pada medium biakan. Berdasarkan hasil
pengamatan, koloni bakteri I maupun koloni bakteri II tidak mampu
menghidrolisis protein ditandai dengan tidak terbentuknya zona bening disekitar
koloni bakteri, melainkan tetap berwarna keruh.
Pada uji kemampuan hidrolisis lemak digunakan medium NA+ minyak
zaitun + neutral red. Biakan bakteri pada medium NA+ minyak zaitun + neutral
red diinkubasi pada suhu 37ºC selama 1 x 24 jam, kemudian di amati warna pada
medium biakan Berdasarkan hasil pengamatan, koloni bakteri I tidak mampu
menghidrolisis lemak, ditandai dengan tidak terbentuknya warna merah,
melainkan berwarna kuning pada bagian dasar. Koloni bakteri II mampu
menghidrolisis lemak ditandai dengan terbentuknya warna merah yang banyak
pada bagian dasar.
J. Pembahasan
Praktikum pada topik ini membahas tentang uji fisiologi bakteri yang
terdapat pada makanan jenis lemper. Kegiatan dilakukan dengan tujuan ntuk
keperluan identifikasi dan determinasi suatu biakan murni bakteri berdasarkan
sifat biokimia dan faktor yang mempengaruhi pertumbuhan bakteri. Beberapa
macam pengujian sifat biokimia diantaranya ialah uji hidrolisis amilum, protein,
dan lemak (Hastuti, 2015).
Memahami ciri fisiologi ataupun biokimia bakteri merupakan hal yang
amat penting dalam kegiatan identifikasi spesimen bakteri yang tak dikenal karena
secara morfologis biakan sel bakteri yang berbeda dapat tampak serupa, tanpa
hasil pengamatan fisiologis yang memadai mengenai organik yang diperiksa maka
penentuan spesiesnya tidak mungkin dilakukan. Mikroba dapat tumbuh pada
beberapa tipe media memproduksi tipe metabolit tentunya yang dideteksi dengan
interaksi mikroba dengan reagen test yang mana menghasilkan perubahan warna
reagen (Murray, 2005).
Uji fisiologi dilakukan untuk mengidentifikasi organisme yang tidak
dikenal dengan perlakuan berbeda pada setiap kegiatan uji, sel akan memberikan
respon sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya, misalnya menghasilkan
enzim katalase, enzim gelatinase atau kemampuan untuk menghidrolisis lemak
(Pelczar, 1986). Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya bahwa beberapa cara
untuk melakukan pengujian secara biokimia bakteri dapat dilakukan dengan uji
amilolitik, proteolitik, dan lipolitik. Berikut akan dijelaskan hasil pengujian
sebagai berikut.
Uji pertama yaitu uji hidrolisis amilum yang bertujuan untuk mengetahui
ada tidaknya bakteri amilolitik dalam suatu bahan yang akan diteliti. Menurut
Rugaiyah (2014) koloni bakteri yang tumbuh ditetesi dengan iodium untuk
mengetahui kemampuan bakteri terhidrolisis. Deteksi yang dilakukan dengan
terbentuknya zona bening disekitar koloni bakteri tumbuh. Isolat yang memliki
zona bening yang luas mempunyai aktivitas amilolitik yang tinggi. Berdasarkan
praktikum yang kami lakukan disimpulkan bahwa isolat bakteri yang kami
gunakan dari kedua koloni disimpulkan bahwa positif untuk koloni I yang mampu
menghidrolisis amilum, karena disekeliling koloni terbentuk zona bening. Amilum
agar merupakan medium yang mengandung amilum yang bisa dihidrolisis oleh
bakteri amilolitik. Larutan iodium gram adalah indikator amilum. Apabila
medium yang mengandung amilum diberi larutan iodium, maka akan tampak
warna biru. Apabila amilum telah terhidrolisis, maka tempat yang tidak
mengandung amilum lagi akan tampak jernih. Bakteri amilolitik mampu
menghidrolisis amilum pada medium AA menjadi zat sederhana, seperti glukosa
karena memiliki enzim amilase (Sumardjo, 2006). Berikut gambar hasil
praktikum uji hidrolisis dapat dilihat pada Gambar 2.

Gambar 2. Hasil Uji Hidrolisis Amilum Pada Medium Amilum Agar


Sumber: Dokumentasi Pribadi
Hidrolisis amilum dipengaruhi oleh enzim amilase. Pengaruh enzim
amilase menjadi molekul maltosa tidak berjalan secara spontan, tetapi bertahap
dengan hasil berupa dekstrin. Tiga buah dekstrin yang penting sebagai antara
hidrolisis amilum adalah amilodekstrin, yang dengan penambahan iodium
memberikan warna ungu, aritrodekstrin dengan iodium memberikan warna merah,
dan akrodekstrin dengan iodium tidak memberikan warna (Sumardjo, 2006).
Berikut tahap hidrolisis amilum menjadi glukosa dapat dilihat pada Gambar 3.

Gambar 3. Tahapan Hidrolisis Amilum Menjadi Glukosa


Sumber: Sumardjo, 2006
Pengujian sifat bakteri selanjutnya yaitu uji adanya hidrolisis protein. Skim
milk pada percobaan ini digunakan sebagai sumber substrat. Skim milk
mengandung kasein sebagai protein susu dimana akan dipecah mikroorganisme
proteolitik menjadi senyawa nitrogen sehingga pada koloni dikelilingi area bening
yang menunjukkan mikroba tersebut mempunyai aktivitas proteolitik. Protein
merupakan senyawa yang dihasilkan dari polimerasi asam amino melalui ikatan
peptida. Protein ini menjadi sumber asam amino yang mengandung unsur C, N, H,
dan O (Santoso, 2008).
Hasil praktikum menunjukkan negatif kedua koloni bakteri I dan II tidak
menunjukan ciri bahwa ada zona bening di sekeliling bakteri, sehingga kedua
koloni yang kami amati tidak termasuk dalam bakteri proteolitik. Bakteri tidak
bisa menghidrolisis protein yang terdapat pada medium SMA. Zona jernih yang
terbentuk merupakan hasil dari proses hidrolisis protein (kasein), yang merupakan
suspensi koloid berwarna putih “opaque”, menjadi senyawa turunan yang lebih
mudah larut dan bersifat transparan (Muchtadi & Betty, 1983). Berikut hasil
pengamatan uji hidrolisis protein dapat dilihat pada Gambar 4.

Gambar 4. Hasil Uji Hidrolisis Protein Pada Medium Skim Milk


Sumber: Dokumentasi Pribadi

Jenis bakteri yang dapat menghidrolisis protein adalah bakteri yang


memproduksi enzim proteinase ekstraseluler. Semua bakteri memiliki enzim
proteinase tapi tidak semuanya memiliki enzim proteinase ekstra seluler
(Winarno, 1980). Berikut skema tahap pemecahan protein atau hidrolisis protein
pada Gambar 5.
Gambar 5. Hidrolisis Protein Sederhana
Sumber: Sumardjo, 2006

Uji selanjutnya yaitu uji hidrolisis lemak. Pada uji kemampuan hidrolisis
lemak digunakan medium NA+ minyak zaitun + neutral red. Biakan bakteri pada
medium NA+ minyak zaitun + neutral red diinkubasi pada suhu 37ºC selama 1 x
24 jam, kemudian di amati warna pada medium biakan. Fungsi utama dari
medium NA adalah sebagai medium umum untuk pertumbuhan bakteri. Minyak
zaitun mengandung lemak yang bisa dihidrolisis oleh bakteri lipolilitik.
Pengujian ini menggunakan indikator neutral red yang mampu mendeteksi
keberadaan asam lemak yang terbentuk akibat hidrolisis lemak. Jadi, apabila
terdapat warna merah di bawah bakteri dapat diartikan bahwa
terdapat asam lemak yang dihasilkan dari aktivitas hidrolisis lemak oleh bakteri.
Berdasarkan hasil pengamatan, koloni bakteri I tidak mampu
menghidrolisis lemak, ditandai dengan tidak terbentuknya warna merah,
melainkan berwarna kuning pada bagian dasar. Koloni bakteri II mampu
menghidrolisis lemak dari minyak zaitun ditandai dengan terbentuknya warna
merah yang banyak pada bagian dasar. Hasil pengamatan pada bakteri
penghidrolisis lemak dapat dilihat pada Gambar 6.
Gambar 6. Hasil Uji Hidrolisis Amilum Pada Medium NA yang
Mengandung 1 % Minyak Zaitun
Sumber: Dokumentasi Pribadi

Bakteri pada koloni 2 mengandung enzim lipase. Lipase merupakan salah


satu enzim yang telah diaplikasikan pada proses industri baik industri pangan
maupun non pangan. Lipase dikenal sebagai lipolytic enzyme dan didefinisikan
sebagai hidrolase ester asam lemak berantai panjang. Lipase berfungsi sebagai
katalis pada reaksi hidrolisis triasilgliserol dan ester selain dari asilgliserol.
3Enzim lipase secara luas dapat ditemukan pada hewan, tanaman dan
mikroorganisme (Kasipah, 2013).
Bakteri penghidrolisis lemak mampu mengubah senyawa menjadi asam
lemak dan gliserol. Bakteri dengan kemampuan hidrolisis lemak akan
menimbulkan warna merah kekuningan pada bagian bawah dan sekitar koloni.
Lemak merupakan campuran trigleserida yang terdiri atas molekul gliserol yang
berikatan dengan molekul asam lemak (Gaman, et al, 1981). Tahapan hidrolisis
lemak menjadi asam lemak dapat dapat dilihat pada Gambar 7.

Gambar 7. Tahapan Hidrolisis Lemak Menjadi Asam Lemak


Sumber: Sumardjo, 2006
Hasil pengujian tersebut sesuai dengan bahan makanan yang digunakan,
yaitu lemper ayam. Lemper ayam dibeli di pinggir Jalan Sumbersari, yang
memungkinkan adanya bakteri masuk ke dalam makanan meskipun sudah
dibungkus oleh daun pisang. Kemungkinan lain bakteri masuk pada saat proses
pembuatan lemper itu sendiri. Selain itu, juga karena lemper ini terbuka selama
akan dilakukan proses praktikum, sehingga bakteri bisa masuk. Lemper ayam
terbuat dari bahan ketan, yang di dalamnya diisi ayam. Menurut Ramadhan
(2012), lemper ayam dibuat dengan bahan-bahan yang fresh dibeli langsung dari
pasar tradisional. Bahan lemper yaitu ½ kg ketan, 500 cc santan dari 1 butir
kelapa, 1 sendok teh garam, 2 lembar daun pandan, daun pisang untuk
pembungkus. Bahan isi meliputi ½ ekorayam (± ½kg), 1 lembar daun salam, 1
potong lengkuas, 1 batang serai, 1 sendok makan minyak goreng, 250 cc santan
dari ½ butir kelapa, bumbu yang dihaluskan, 1 sendok teh ketumbar, 4 butir
bawang merah, 3 siung bawang putih, 1 butir kemiri, sedikit asam jawa, garam
secukupnya, dan gula pasir secukupnya. Namun, dalam praktikum ini bahan yang
dimasukkan untuk uji fisiologis bakteri adalah ketannya saja, tanpa memasukkan
ayam. Dengan demikian, bakteri yang ditemukan hanyalah bakteri yang mampu
menghidrolisis amilum (koloni 1) dan lemak (koloni 2), serta tidak ditemukan
bakteri yang mampu menghidrolisis protein. Ketan merupakan bahan utama pada
lemper yang mengandung amilum. Santan dan kemiri mengandung lemak.
Amilum dan lemak tersebut bisa dihidrolisis oleh bakteri hidrolitik.

K. Kesimpulan
1. Pada praktikum ini ditemukan bakteri yang mampu menghidrolisis amilum
pada sediaan bakteri dari lemper ayam, yaitu bakteri pada koloni 1 dengan
ditandai adanya zona bening di sekeliling koloni. Bakteri penghidrolisis
amilum menghasilkan enzim amilase untuk menghidrolisis amilum menjadi
glukosa, sehingga amilum pada medium AA terhidrolisis menjadi glukosa,
sehingga menghasilkan zona bening di sekitar koloni.
2. Pada praktikum ini tidak ditemukan bakteri yang mampu menghidrolisis
protein pada sediaan bakteri dari lemper ayam, yaitu tidak ditemukan adanya
zona bening di sekeliling koloni. Bakteri penghidrolisis protein menghasilkan
enzim proteinase untuk menghidrolisis protein menjadi asam amino.
3. Pada praktikum ini ditemukan bakteri yang mampu menghidrolisis lemak pada
sediaan bakteri dari lemper ayam, yaitu bakteri pada koloni 2 dengan ditandai
ditandai dengan terbentuknya warna merah yang banyak pada bagian dasar.
Bakteri penghidrolisis lemak menghasilkan enzim lipase untuk menghidrolisis
lemak menjadi asam lemak dan gliserol sehingga minyak zaitun pada medium
terhidrolisis menjadi asam lemak dan gliserol, sehingga terbentuknya warna
merah yang banyak pada bagian dasar.

L. Diskusi
1. Adakah perubahan yang terjadi pada masing-masing pengujian?
Ada, pada uji hidrolisis amilum menggunakan medium AA dan pada uji
hidrolisis lemak menggunakan medium NAL+neutral red. Pada uji kemampuan
hidrolisis amilum dengan medium AA yang ditambah yodium, ditemukan adanya
zona bening di sekeliling koloni bakteri 1. Pada uji kemampuan hidrolisis lemak
ditemukan adanya warna merah yang banyak pada bagian dasar pada koloni
bakteri 2. Pada uji kemampuan hidrolisis protein dengan medium SMA tidak
ditemukan adanya zona bening di sekeliling koloni.
2. Bagaimanakah perubahan tersebut dapat terjadi? Jelaskan!
Perubahan tersebut disebabkan oleh aktivitas bakteri. Bakteri
penghidrolisis amilum (koloni 1) menghasilkan enzim amilase untuk
menghidrolisis amilum menjadi glukosa, sehingga amilum pada medium AA
terhidrolisis menjadi glukosa, sehingga menghasilkan zona bening di sekitar
koloni. Bakteri penghidrolisis lemak (koloni 2) menghasilkan enzim lipase untuk
menghidrolisis lemak menjadi asam lemak dan gliserol sehingga minyak zaitun
pada medium terhidrolisis, sehingga terbentuknya warna merah yang banyak pada
bagian dasar. Pada bahan makanan ini tidak terdapat bakteri penghidrolis protein,
terbukti dengan tidak ditemukan zona bening pada medium SMA.
M. Daftar Rujukan

Dwidjosaputro. 1998. Dasar-dasar mikrobiologi. Jakarta : Jambatan.


Gaman, et al. 1981. Unsur-unsur Mineral dan Air. Pengantar Ilmu Pangan Nutrisi
dan Mikrobiologi. Yogyakarta. UGM Press.
Gaman, N. 1981. Pengantar Ilmu Pangan Nutrisi dan Mikrobiologi. Yogyakarta:
Gajahmada University Press.
Hadioetomo, R. S. 1993. Mikrobiologi dasar dalam praktek. Jakarta : Gramedia.
Hastuti, U. S. 2015. Penuntun Praktikum Mikrobiologi untuk Program S2 Biologi.
Malang: Universitas Muhammadiyah Malang
Kasipah, C., et al. 2013. Isolasi Dan Karakterisasi Bakteri Penghasil Enzim
Lipase Ekstraselulerdari Lumpur Aktif Instalasi Pengolahan Air Limbah
Industri Tekstil. Jurnal Ilmiah Arena Tekstil Volume 28 No.1 – Juni 2013 :
1 – 46.
Muchtadi, D. & S. L. Betty, 1983. Petunjuk Praktek Mikrobiologi Hasil Pertanian
2. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Jakarta
Murray. 2005. Buku Ajar Mikrobiologi. Jakarta: EGC
Pelczar. 2008. Dasar-dasar Mikrobiologi. Malang: Djambatan.
Ramadhan, P. 2012. Bisnis Lemper Isi Ayam. Yogyakarta: STMIK AMIKOM.
Rugiyah, A., et al. 2014. Isolasi dan Identifikasi Bakteri Termofil Penghasil
Amilase dari Sumber Air Panas Lejja Sulawesi Selatan. Online,
http://journal.uin-alauddin.ac.id/index.php/al-kimia/article/view/1644.
Santoso, A. 2008. Rumus Lengkap Kimia SMA. Jakarta: Wahyumedia.
Sukarminah. 2010. MikrobiologiPangan. Bandung: Universitas Padjajaran.
Sumardjo, D. 2006. Pengantar Kimia: Buku Panduan Kuliah Mahasiswa
Kedokteran dan Program Strata 1 Fakultas Bioeksakta. Jakarta: EGC
Winarno, 1998. Pengantar TeknologiPangan. Jakarta : Gramedia.
Winarno, S. G.S., Fardiaz & Devardiaz. 1980. Pengantar Teknologi Pangan.
Jakarta: Gramedia.