Anda di halaman 1dari 16

PROPOSAL PENELITIAN

PENENTUAN KARAKTERISTIK BETON DENGAN METODE


GEORADAR SEBAGAI ALTERNATIF PENGUJIAN BETON NON
DESTRUKTIF

Diusulkan oleh:

Rahmi Diah Adhitya 1215011086


Setiana 1215011100
Zaina Khoirun Nissa 1215011118

UNIVERSITAS LAMPUNG
BANDARLAMPUNG
2015
RINGKASAN

Beton merupakan salah satu bahan konstruksi yang masih sering digunakan.
Dalam pembuatannya, beton harus diuji terlebih dahulu agar didapatkan kualitas
beton yang baik dan tidak mudah hancur. Pengujian konvensional yang selama ini
dilakukan hanya mampu digunakan pada beton uji dengan ukuran kecil. Seiring
berkembangnya berbagai proyek konstruksi skala besar, diperlukan metode uji
beton yang lebih efisien dan tidak merusak beton, sehingga pengujian dapat
dilakukan tidak hanya untuk pengujian awal namun juga dapat digunakan untuk
pemantauan kualitas beton secara berkala. Untuk itu diinisiasilah metode georadar
sebagai metode alternatif pengujian beton yang lebih efisien dan non destruktif.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui dan menentukan parameter yang
menunjukkan kualitas beton ketika diuji dengan georadar sehingga nantinya bisa
dijadikan acuan dasar pengujian untuk pemantauan kualitas beton.

Penelitian ini akan dilaksanakan selama tiga bulan di Laboratorium Analisa


Struktur dan Laboratorium Geofisika. Penentuan parameter kualitas beton
dilakukan dengan membuat dua jenis beton dengan kualitas yang berbeda,
kemudian diuji kekuatannya dengan CTM. Pengujian dilakukan pula dengan
metode georadar. Data yang diperoleh dari pengujian tekan dengan CTM akan
disingkronisasi dengan hasil pengujian dengan georadar, lalu dianalisa dan
ditetapkan parameter yang menunjukkan kualitas beton ketika diuji dengan
georadar.
BAB 1 – PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Beton merupakan salah satu bahan yang masih banyak digunakan oleh

masyarakat dalam konstruksi skala kecil maupun besar. Harga yang relatif

murah, kekuatan yang tinggi, dan dapat dicor sesuai dengan bentuk dan

ukuran yang dikehendaki menjadi beberapa alasan masih diminatinya bahan

ini. Dalam penggunaannya untuk konstruksi skala besar, mutu dari beton

sangat perlu diperhatikan. Kesalahan dalam membuat benda uji dan tes kuat

tekan beton dapat menyebabkan kekuatan bangunan dibawah kuat rencana,

hal ini dapat mengakibatkan keruntuhan bangunan yang mengancam

keselamatan orang banyak.

Untuk mengetahui kualitas dari beton dilakukanlah uji beton dengan CTM

sebelum beton digunakan. Metode ini dilakukan dengan memberikan tekanan

dengan kekuatan tertentu. Pengujian seperti ini hanya bisa digunakan untuk

beton uji dengan ukuran kecil dan mengakibatkan beton yang diuji menjadi

hancur. Dengan metode demikian, pengujian beton tidak bisa dilakukan

langsung pada beton insitu (beton yang dibuat langsung di tempat) namun

harus dibawa ke laboratorium uji. Seiring berkembangnya berbagai proyek

konstruksi skala besar, diperlukan metode uji beton yang lebih efisien dan

tidak merusak beton, sehingga pengujian dapat dilakukan tidak hanya untuk

pengujian awal namun juga dapat digunakan untuk pemantauan kualitas

beton secara berkala. Untuk itu kami menginisiasi untuk menggunakan


metode georadar sebagai alternatif pengujian kekuatan beton sehingga bisa

lebih efisien dan efektif. Selain itu penggunaan metode georadar juga

menghindari kerusakan pada beton karena sistem georadar adalah sistem

elektromagnetik, yang penggunannya cukup dengan scanning alat pada beton.

Belum adanya standar khusus kualitas beton yang diuji dengan georadar

menggerakkan kami untuk meneliti dan menganalisa berbagai kualitas beton

jika diuji dengan georadar. Dengan penelitian ini diharapkan mampu

memberikan alternatif metode pengujian beton yang non-destruktif dan lebih

efisien.

1.2. Rumusan Masalah

Rumusan masalah dari penelitian ini adalah:

1. Apakah pengujian dengan georadar dapat mendeteksi perbedaan kualitas

beton?

2. Apa saja parameter yang menunjukkan kualitas beton ketika diuji dengan

georadar?

3. Bagaimana gambaran struktur berbagai kualitas beton ketika diuji dengan

georadar?

1.3. Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah:

1. Mendeteksi perbedaan kualitas beton dengan metode georadar


2. Menganalisa parameter yang menunjukkan kualitas beton dengan metode

georadar.

3. Mengetahui gambaran struktur beton dengan berbagai kualitas.


BAB 2 – TINJAUAN PUSTAKA

2.1.Beton

Beton merupakan elemen pembentuk struktur yang merupakan campuran dari

semen, agregat halus, agregat kasar dan air, dengan atau tanpa bahan

tambahan lainnya (Supriyatna, 2010). Material-material ini dicampur dan

diaduk dengan jumlah dan rasio tertentu sehingga mudah dipindahkan,

ditempatkan (dituang), dipadatkan (compact), dan dibentuk (finish), dan

campuran material tersebut akan mengeras dan menghasilkan produk yang

kuat dan tahan lama. Jumlah dari masing-masing bahan yang dicampurkan

(semen, air, agregat, dll) akan mempengaruhi properti dari beton yang

dihasilkan.

1. Semen

Menurut SNI 0013-1981, Portland cement merupakan bahan perekat dalam

campuran beton hasil penghalusan kliner yang senyawa utamanya terdiri dari

material calcareous seperti limestone atau kapur dan material argillaceous

seperti oksida, serta silica dan alumina yang berupa lempung. Proses

pencampuran dilakukan did ala tempat pembakaran dengan temperature

sekitar 1300-14500C sampai membentuk kliner. Setelah didinginkan

ditambah dengan gypsum (CaSO42H2¬O) dan bahan inert pada saat

penggilingan terakhir.
2. Agregat

Agregat merupakan butiran mineral yang merupakan hasil disintegrasi alami

batu-batuan atau juga hasil mesin pemecah batu dengan memecah batu alami.

Agregat merupakan salah satu bahan pengisi pada beton namun demikian

peranaan agregat pada beton sangatlah penting. Menurut SK-SNI-T-15-1990-

03 kekasaran pasir dibagi menjadi empat kelompok menurut gradasinya, yaitu

pasir halus, agak halus, agak kasar, dan kasar. Pada umumnya pasir

mempunyai modulus halus butir antara 1,5 sampai 3,8.

3. Air

Air dalam pembuatan beton harus memenuhi syarat sebagai air minum yaitu

tawar, tak berbau, dan tidak mengandung bahan – bahan yang dapat merusak

beton, seperti minyak, asam, alkali, garam atau bahan – bahan lainnya yang

dapat merusak beton atau tulangannya (SNI 03-2847-2002).

2.2.Tes Uji Kuat Tekan ( Compression Test/Crushing Test )

Tes uji kuat tekan bertujuan untuk mengetahui kuat tekan beton karakteristik

(kuat tekan maksimum yang dapat diterima oleh beton sampai beton

mengalami kehancuran ), serta dapat menentukan waktu untuk pembongkaran

bekisting balok dan pelat lantai.

Tes uji beton dilakukan dengan mesin uji tekan yang dilakukan di batching

plant. Langkah awal, ambil benda uji dari bak perendam yang direndam 28

hari, bersihkan dengan kain untuk menghilangkan kotoran yang menempel.


Timbang berat benda uji dan menghitung luas permukaannya. Letakkan benda

uji pada mesin tekan secara sentris. Operasikan mesin tekan dengan

penambahan beban yang konstan berkisar antara 2 sampai 4 kg/cm2 per detik.

Pembebanan dilakukan sampai benda uji menjadi hancur kemudian mencatat

beban maksimum yang terjadi selama pemeriksaan benda uji.

2.3.Georadar (GPR)

Ground Penetrating Radar (GPR) atau georada rsecara harfiah berarti alat

pelacak bumi dengan menggunakan gelombang radio. Baik digunakan untuk

eksplorasi dangkal dengan ketelitian (resolusi) amat tinggi sehingga mampu

mendeteksi target bawah permukaan sampai target yang berdimensi beberapa

sentimeter sekalipun. Kelebihan GPR dibandingkan metode geofisika lainnya

adalah biaya operasional murah, cara pengoperasian di lapangan mudah,

memiliki resolusi tinggi dengan frekuensi antara 10 MHz sampai 1.5 GHz.

Selain itu, GPR merupakan metode non destruktif karena menggunakan

sumber gelombang elektromagnetik. Meskidemikian, metode ini hanya

berdaya tembus sampai puluhan meter (Renadenya, 2007).

Ground Penetrating Radar (GPR) memilikicarakerja yang samadengan radar

konvensional. GPR mengirimpulsa energy antara 10 sampai 1000 MHz

kedalamtanaholehantenapemancarlalumengenaisuatulapisanatauobjekdengans

uatukonstantadipantulkankembalidanditerimaolehantenapenerima, waktu dan

besar pulsa direkam. Seperti ditunjukan pada gambar 1 (Wahyu dkk, 2010).
/

Gambar 1.SkemaSistem Ground Penetrating Radar

Prinsip penggunaan metode ini tidak jauh berbeda dengan metode seismik

pantul, suatu sistem radar terdiri dari sebuah pembangkit sinyal, antena

pengirim (transmitter) dan antena penerima (receiver). Sinyal radar

ditransmisikan sebagai pulsa-pulsa yang berfrekuensi tinggi ≥ 500 MHz,

umumnya antara 900 MHz sampai 1 GHz.

Gelombang yang dikirimkan bergerak dengan kecepatan tinggi dan melewati

media bawah permukaan. Gelombang tersebut dapat diserap oleh media, dapat

pula dipantulkan kembali. Gelombang akan diterima oleh receiver dalam

selang waktu tertentu dalam beberapa puluh hingga ribuan nanosekon. Lama

waktu tempuh tersebut tergantung pada keadaan media yang dilewati oleh

media tersebut.

Setelahmemperoleh data GPR, maka data iniharusdiproses.Prosesing data

GPR melibatkanmodifikasisehinggadapatlebihmudahdivisualisasikandan

diinterpretasi. Teknikprosesing data meliputilangkah-langkahsebagaiberikut:


a. Konversi data kepenggunaan format digital

b. Penghilangan/minimalisasigelombang direct dangelombangudaradaridata

c. Penyesuaianamplitudopada data

d. Penyesuaianpenguatanpada data

e. Penyesuaianstatispada data

f. Filtering data

g. Velocity analisis

h. Migrasi

(Benson, 1995).

Data georadar dapat divisualisasikan untuk mengetahui struktur bawah

permukaan. Ada tigametodedalammemvisualisasi data GPR, antara lain :

Ascanadalahpenyajian 1D single profil GPR (trace), B-scan adalahpenyajian

2D rangkaian trace GPR, dan C-scan adalahpenyajian 3D rangkaian trace 2D

[1], sepertiditunjukkanpadagambar 2 (Baradello, 2000).

Gambar 2. Data GPR A-scan (1D), Bscan (2D), dan C-scan (3D)

Bagaimanapun data diprosesdandivisualisasi, sebuah unit GPR memiliki batas

penetrasi kedalaman. Ketika pulsa elektromagnetik dihamburkan seiring


kedalaman tertentu, secara cepet memudar dan menghilang. Kedalaman

penetrasi sinyal GPR bergantung pada:

a. Frekuensisumbersinyal GPR

b. Efisiensiradiasiantena GPR

Sifatelektrik material bawah permukaan (Benson, 1995).

2.4.Sifat Elektromagnetik Bahan

Sifat elektromagnet meliputi sifat kelistrikan dan sifat kemagnetan. Yang

termasuk sifat kelistrikan adalah permitivitas ε (    r  0 ) dan konduktivitas σ,

sedangkan yang termasuk sifat kemagnetan adalah permeabilitas magnet μ (

   r  0 ). Konduktivitas adalah kebalikan dari resistivitas ρ (   1  ).Tabel

1memuat nilai-nilai permitivitas relatif, konduktivitas, dan sifat penjalaran

gelombang elektromagnet pada beberapa media geologi.

Tabel 1. Permitivitas relatif, konduktivitas , kecepatan, dan atenuasi media


geologi (Annan, 1992)
Koef.
Permitivitas Konduktivitas Kecepatan 
Material Atenuasi α
relatif (mS/m) (m/ns)
(dB/m)
Udara 1 0 0.3 0
Air terdistilasi 80 0.01 0.033 2x10-3
Air segar 80 0.5 0.033 0.1
3
Air laut 80 3x10 0.01 103
Pasir kering 3-5 0.01 0.15 0.01
Pasir jenuh 20-30 0.1-1 0.08 0.03-0.3
Batugamping 4-8 0.5-2 0.12 0.4-1
Serpih 5-15 1-100 0.09 1-100
Lanau 5-30 1-100 0.07 1-100
Lempung 5-40 2-1000 0.06 1-300
Granit 4-6 0.01-1 0.13 0.01-1
Garam kering 5-6 0.01-1 0.13 0.01-1
Es 3-4 0.01 0.16 0.01
BAB 3 – METODE PENELITIAN

3.1.Waktu dan Tempat

Penelitian ini akan dilaksanakan di Laboratorium Geofisika dan Laboratorium

Analisis Struktur, Fakultas Teknik, Universitas Lampung.

3.2. Alat dan Bahan

Peralatan dan bahan yang diperlukan dalam penelitian ini adalah:

1. Georadar frekuensi tinggi

2. Alat uji kuat tekan (CTM)

3. Cetakan beton ukuran 15cm x15cm x15cm

4. Cangkul

5. Ember

6. Timbangan

7. Kontainer

8. Oven

9. Skop

10. Cetok Semen

11. Pan

12. Saringan nomor 4

13. Pasir

14. Semen

15. Air suling


16. Kerikil (agregat kasar)

3.3. Tahapan Penelitian

Tahapan penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Pemilihan Bahan

Pemilihan bahan sangat penting dalam pembuatan beton karena menjadi

salah satu parameter baik atau buruknya kualitas beton. Pada penelitian ini

bahan yang digunakan sama untuk masing-masing beton uji. Bahan utama

pembuat beton adalah pasir, kerikil, semen dan air.

2. Pembuatan Beton Uji

Beton uji yang akan dibuat untuk penelitian ini adalah beton dengan

kualitas K-225 dan K-350 dengan masing-masing berjumlah 3 sample

dengan ukuran balok 15cm x 15cm x 15 cmdanmasing-masing 1

sampeldenganukuran 100cm x 50cm x 30 cm. Umur beton yang akan

dibuat adalah setara28 hari. Pembuatan beton uji dengan kualitas yang

berbeda ini untuk melihat apakah metode georadar mampu menangkap

perbedaan kualitas ini atau tidak.

3. Pengujian Beton dengan Georadar dan CTM

Pengujian dengan CTM dan georadar akan dilakukan ketika beton telah

mencapai umur 28 hari. Pengujian akan dilakukan pada hari yang sama

agar parameter beton sama satu dengan yang lain.


4. Prosesing Data dan Analisa Kualitas Beton

Data yang didapatkan dari pengujian beton dengan CTM dan Georadar

akan di proses dan dianalisa. Etelah itu akan di analisa kualitasnya dan

dilihat pula keterkaitan antara pengujian dengan CTM dan georadar.

5. Penentuan parameter kualitas beton

Setelah beton di analisa, akan diketahui parameter yang menunjukkan

perbedaan kualitas beton saat diuji dengan georadar. Parameter inilah yang

nantinya akan menjadi standar uji untuk pengujian lainnya dengan

georadar.

3.4. Teknik Pengumpulan Data

Teknik Pengumpulan data penelitian akan dilakukan secara langsung

menggunakan metode georadar sebagai metode utama dan metode CTM

sebagai metode pendukung. Dengan metode georadar akan didapatkan

gambaran struktur beton yang kemudian akan diproses dan di analisa untuk

mendapatkan karakter dari tiap kualitas beton yang berbeda. Dengan metode

CTM akan didapatkan nilai kuat beton yang akan dibandingkan dengan hasil

scanning menggunakan georadar.


DAFTAR PUSTAKA

Anonimous, 2009.Tes Beton. http://www.ilmusipil.com/tes-beton. diakses pada


tanggal 24 September 2014 pukul 21.32 WIB

Baradello, L. 2000. Acquisition and Processing of GPR Data.http://web.


interpuntonet.it/baradello/georadar_processing.html. diaksespadatanggal2
Januari 2015pukul 05.45 WIB

Benson, A. K. (1995). Applications of ground penetrating radar in assessing


some geological hazards: examples of groundwater contamination, faults,
cavities. J. of Applied Geophysics, 33(1-3), 177-193.

Beres, M., and Haeni, F. P. (1991).Application of ground-penetratingradar


methods in hydrogeologic studies. Ground Water, 29(3), 375-386.

Renadenya. 2007. Georadar. http://digilib.itb.ac.id/files/disk1/549/jbptitbpp-gdl-


renadenyaa-27411-2-2007ta-1.pdf. diaksespadatanggal 24 September 2014
pukul 07.47 WIB

SK SNI T-15-1990-03, Tata Cara Pembuatan Rencana Campuran Beton Normal,


Yayasan LPMB, Bandung.

Smemoe, C. (1999). Geology 560 (Geophysics II) Class Notes, taught by Al


Benson

SNI 0013-1981 Mutu dan Cara Uji Semen Portland

SNI 03-2847-2002, 2002, Tata Cara Perencanaan Struktur Beton Untuk


Bangunan Gedung, Badan Standardrisasi Nasional BSN, Jakarta.

Supriyatna, Yatna. 2010. Perencanaan dan Pengendalian Mutu Beton. Majalah


Ilmiah Unikom, Vol.6, hlm. 61-68

Wahyu, Yuyudkk.2010. StudiPemrosesandanVisualisasi Data Ground


Penetrating Radar.JurnalInformatika LIPI. Hal 1-6.