Anda di halaman 1dari 26

EPIDEMIOLOGI PENYAKIT AKIBAT PENYALAHGUNAAN NARKOTIKA

Disusun Oleh

Kelompok 1

Novayanti Nur R.M.S (101511535003)

Chintya Devi (101511535013)

Nenda Puspita Sari (101511535007)

Rizky Putri Hariyani (101511535039)

FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT

UNIVERSITAS AIRLANGGA

BANYUWANGI

2017
KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas berkah dan
rahmat-Nya penulis dapat menyelesaikan makalah ini. Makalah ini disusun sebagai salah satu
tugas mata kuliah Epidemiologi Penyakit Tidak Menular. Dalam kesempatan ini penulis
mengucapkan terima kasih kepada :

1. Bapak M. Atoillah I., dr., M.Kes, sebagai dosen mata kuliah epidemiologi penyakit tidak
menular,
2. Teman-teman FKM PDD Universitas Airlangga di Banyuwangi yang selalu saling
memberikan semangat dan masukan.

Kami menyadari bahwa masih banyak kekurangan dari makalah ini, baik dari materi
maupun teknik penyajiannya. Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun sangat kami
harapkan. Demikian karya ini kami buat, semoga bermanfaat.

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Banyuwangi, 05 Mei 2017

Tim Penyusun

2
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .................................................................................................................... 2

DAFTAR ISI................................................................................................................................... 3

BAB I PENDAHULUAN ............................................................................................................... 4

1.1 Latar Belakang ...................................................................................................................... 4

1.2 Rumusan Masalah ................................................................................................................. 5

1.3 Tujuan.................................................................................................................................... 5

BAB II TINJAUAN PUSTAKA .................................................................................................... 6

2.1 Definisi Narkotika ................................................................................................................. 6

2.2 Besaran Masalah Narkotika di Indonesia .............................................................................. 7

2.3 Dampak Penggunaan Narkotika ............................................................................................ 9

BAB III PEMBAHASAN ............................................................................................................. 12

3.1 Pola Masalah Narkotika di Indonesia berdasarkan konsep epidemiologi ........................... 12

3.2 Jenis-jenis Narkotika ........................................................................................................... 17

3.3 Faktor Risiko Akibat Konsumsi Narkotika ......................................................................... 19

3.4 Penyakit Akibat Penyalahgunaan Narkotika ....................................................................... 20

3.5 Upaya Pencegahan Penyakit Akibat Konsumsi Narkotika ................................................. 22

BAB IV PENUTUP ...................................................................................................................... 25

4.1 Kesimpulan.......................................................................................................................... 25

DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................................... 26

3
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Narkotika adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman baik
sintesis maupun semi sintesis yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran,
hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan nyeri dan dapat menimbulkan
ketergantungan (adiktif). Terdapat banyak macam dan jenis-jenis narkotika yaang terdapat dalam
Undang-undang RI No.22 Tahun 1997. Dampak yang ditimbulkan akibat konsumsi narkotika
yaitu ada yang berdampak negatif dan juga positif. Apabila seseorang tersebut menggunakan
narkotika dalam jumlah yang sesuai dengan dosis yang telah dianjurkan, maka narkotika tersebut
akan berdampak positif. Namun apabila narkotika tersebut dikonsumsi dalam jumlah yang
berlebihan maka akan berdampak negatif. Narkotika yang berdampak positif seperti bisa
digunakan untuk penyembuhan atau pemulihan, terapi dan sebagai penelitian. Sedangkan yang
berdampak negatif yaitu seperti terjadi gangguan jiwa, menghambat proses pertumbuhan dan
perkembangan, halusinasi dan lain sebagainya.

Indonesia memiliki jumlah penduduk yang besar, dengan laju pertumbuhan penduduk
Indonesia sebesar 1,49% per tahun sehingga kondisi seperti itu berpotensi besar bagi peredaran
gelap narkoba di Indonesia. Pengguna narkotika saat ini juga tida lagi dikalangan tua namun
sudah beredar di kalangan remaja dan anak-anak. Hal tersebut tentunya sangat berdampak buruk
bagi perkembangan anak. Selain itu juga dengan adanya penyalahgunaan narkotika maka akan
timbul penyakit-penyakit seperti HIV dan IMS. Oleh karena itu perlu adanya proses pencegahan
dan pengendalian yang dilakukan agar jumlah pengguna narkotika tidak menjadi besar. Maka
dari itu kelompok kami ingin membuat makalah dengan judul Epidemiologi Penyakit Akibat
Penyalahgunaan Narkotika sehingga kelompok kami dapat mempelajari faktor risiko, dampak,
penyakit dan cara penanggulangannya.

4
1.2 Rumusan Masalah
1.2.1 Bagaimana pola masalah narkotika di Indonesia berdasarkan konsep epidemiologi ?

1.2.2 Apa saja jenis-jenis narkotika ?

1.2.3 Apa saja faktor risiko akibat konsumsi narkotika ?

1.2.4 Bagaimana penyakit akibat penyalahgunaan narkotika ?

1.2.5 Bagaimana upaya pencegahan penyakit akibat konsumsi narkotika ?

1.3 Tujuan
1.3.1 Mengetahui pola masalah narkotika di Indonesia berdasarkan konsep epidemiologi

1.3.2 Mengetahui jenis-jenis narkotika

1.3.3 Mengetahui faktor risiko akibat jonsumsi narkotika

1.3.4 Mengetahui penyakit akibat penyalahgunaan narkotika

1.3.5 Mengetahui upaya pencegahan penyakit akibat konsumsi narkotika

5
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi Narkotika


Beberapa definisi narkotika sebagai berikut :
a. Menurut Undang-undang RI No.22 Tahun 1997 tentang narkotika, memberikan
pengertian bahwa narkotika adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman atau
bukan tanaman baik sintesis maupun semi sintesis yang dapat menyebabkan
penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai
menghilangkan nyeri dan dapat menimbulkan ketergantungan (adiktif), yang
dibedakan ke dalam golongan- golongan sebagaimana terlampir dalam Undang-
undang ini :
a) Narkotika Golongan I adalah narkotika yang hanya dapat digunakan untuk tujuan
pengembangan ilmu pengetahuan dan tidak digunakan dalam terapi, serta
mempunyai potensi sangat tinggi mengakibatkan ketergantungan. Contoh :
heroin, kokain, ganja.
b) Narkotika Golongan II adalah narkotika yang berkhasiat pengobatan digunakan
sebagai pilihan terakhir dan dapat digunakan dalam terapi dan/atau untuk tujuan
pengembangan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi tinggi mengakibatkan
ketergantungan. Contoh : morfin, petidin, turuna/garam dalam golongan tersebut.
c) Narkotika Golongan III adalah narkotika yang berkhasiat pengobatan dan banyak
digunakan dalam terapi dan/atau tujuan pengembangan ilmu pengetahuan serta
mempunyai potensi ringan mengakibatkan ketergantungan. Contoh : kodein,
garam-garam narkotika dalam golongan.

b. Pengertian narkotika menurut Undang-Undang Nomor 35 tahun 2009 tentang


Narkotika Pasal 1 angka 1 adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan
tanaman baik sintetis maupun semi sintetis yang dapat menyebabkan penurunan atau
perubahan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri,
dan dapat menimbulkan ketergantungan, atau ketagihan yang sangat berat.

6
c. Menurut WHO pengertian narkotika merupakan suatu zat yang apabila dimasukkan
ke dalam tubuh akan memengaruhi fungsi fisik dan/atau psikologi (kecuali makanan,
air, atau oksigen)
Secara etimologis narkotika berasal dari bahasa Inggris narcose atau narcois yang berarti
menidurkan dan pembiusan. Kata narkotika berasal dari Bahasa Yunani yaitu narke yang berarti
terbius sehingga tidak merasakan apa-apa. Sedangkan narkoba dilihat dari istilah farmakologis
yang digunakan adalah kata drug yaitu sejenis zat yang bila dikonsumsi berlebihan akan
membawa efek dan pengaruh tertentu pada pemakai seperti berpengaruh pada kesadaran dan
memberikan efek ketenangan, merangsang dan menimbulkan halusinasi. Dari sekian banyak
definis narkotia, maka dapat kita simpulkan bahwa narkotika adalah zat atau obat yang berasal
dari tanaman atau bukan tanaman, baik sintetis maupun semi sintetis yang dapat menimbulkan
pengaruh tertentu bagi penggunanya. Pengaruh tersebut berupa pembiusan, hilangnya rasa sakit,
rangsangan semangat, halusinasi atau timbulnya khayalan yang menyebabkan efek
ketergantungan bagi pemakainya.

2.2 Besaran Masalah Narkotika di Indonesia


Indonesia memiliki jumlah penduduk yang besar, dengan laju pertumbuhan penduduk
Indonesia sebesar 1,49% per tahun sehingga kondisi seperti ituberpotensi besar bagi peredaran
gelap narkoba di Indonesia. Dengan maraknya peredaran gelap narkoba maka angka pemakaian
narkoba atau narkotika semakin tinggi tiap tahunnya. Berikut data prevalensi pernah pakai dan
setahun pakai narkoba. Di hasilkan data yaitu di Jakarta paling tinggi di antara provinsi lainnya
di tahun 2015. Setelah DKI Jakarta, disusul oleh daerah Yogyakarta dan Aceh. Hal yang
menarik, dari mereka yang pernah pakai narkoba di DKI Jakarta, ternyata lebih dari separuhnya
masih aktif pakai dalam setahun terakhir. Jika dibandingkan dengan di Yogyakarta, mereka yang
masih aktif pakai dalam setahun terakhir hanya sekitar seperdelapan dari yang pernah pakai.
Artinya mereka saat ini kebanyakan sudah tidak pakai narkoba lagi.

7
Rata-rata umur pertama kali pakai narkoba 19 tahun, dengan rentang tertinggi 45 tahun
dan terendah 12 tahun. Rata-rata umur pertama kali pakai narkoba tertinggi ditemukan di Papua
Barat (25 tahun), dan terendah di Jambi (15 tahun). Alasan penyalahgunaan narkoba yang paling
banyak ditemukan adalah karena ingin mencoba narkoba (65%), diajak/dibujuk teman (55%),
dan bersenang-senang (19%). Di beberapa lokasi studi seperti Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara
Timur, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, dan Maluku, salah satu alasannya semua
responden menyebutkan ingin mencoba narkoba.Jenis narkoba pertama kali yang paling banyak
digunakan adalah ganja (44%), diikuti oleh kelompok benzodiazepine (8%), shabu (6%),
trihex/THP (4%), ekstasi (3%), dan tramadol (2%). Di Papua Barat, Bali, dan Nusa Tenggara
Timur semua responden menyatakan, narkoba yang pertama kali dipakai adalah jenis ganja.
Sebagai catatan hasil di tahun 2015 ini, lebih dari seperempat responden tidak bersedia
menjawab jenis narkoba yang pertama kali dipakainya dengan alasan tidak ingat. Ganja lebih
banyak pertama kali dipakai responden di kabupaten (47%) dibandingkan di kota (43%).
Sementara itu untuk kelompok benzodiazepine dan shabu lebih banyak pertama kali dipakai di
kota, sedangkan ekstasi dan trihexyphenidyl lebih banyak di kabupaten. Tren penyalahgunaan
ganja mengalami fluktuasi dan cenderung menurun, yaitu dari 65% (2005) menjadi 44% (2015),
tetapi sempat naik menjadi 71% (2010). Ekstasi cenderung semakin turun dari 10% (2005)
menjadi 3% (2015), sedangkan shabu relatif stabil pada kisaran 6% sampai 7% per tiap survei.
Sedangkan kelompok benzodiazepine cenderung meningkat dari 1% (2005) menjadi 8% (2015)

8
2.3 Dampak Penggunaan Narkotika
Secara umum dampak ketergantungan atau kecanduan narkotika dapat terlihat pada fisik,
psikis, maupun sosial seseorang/pengguna.

9
1. Dampak Fisik :
a) Adanya gangguan pada sistem syaraf (neurologis) seperti kejang-kejang,
halusinasi, gangguan kesadaran, kerusakan syaraf tepi dan sebagainya.
b) Terjadinya gangguan pada jantung dan pembuluh darah (kardiovaskuler)
seperti infeksi akut otot jantung, gangguan peredaran darah dan
sebagainya.
c) Terjadinya gangguan pada kulit (dermatologis) seperti; penanahan (abses),
alergi, eksim dan sebagainya.
d) Terjadinya gangguan pada paru-paru (pulmoner) seperti; penekanan fungsi
pernapas an, kesulitan bernafas, pengerasan jaringan paru-paru dan
sebagainya.
e) Mengalami sakit kepala, mual-mual dan muntah, murus-murus, suhu
badan mening kat, pengecilan hati dan sulit tidur.
f) Gangguan terhadap kesehatan reproduksi berupa gangguan pada endokrin
seperti penurunan fungsi hormon reproduksi (estrogin, progesteron,
testosteron) serta gang guan fungsi seksual.
g) Gangguan terhadap kesehatan reproduksi pada wanita usia subur seperti;
perubahan siklus menstruasi/haid, menstruasi/haid yang tidak teratur dan
aminorhoe (tidak ter jadi haid).
h) Bagi pengguna narkoba melalui jarum suntik dengan cara bergantian akan
beresiko ter tular penyakit seperti; hepatitis B, C dan HIV/AIDS yang
sampai saat ini belum ada obat nya.
i) Bila terjadi melebihi dosis penggunaan narkoba maka akan berakibat fatal,
yaitu terja dinya kematian.
j) Terjadinya gangguan kurang gizi, penyakit kulit, kerusakan gigi dan
penyakit kelamin
2. Dampak Psikis :
a) Adanya perubahan pada kehidupan mental emosional berupa gangguan
perilaku yang tidak wajar.

10
b) Pecandu berat dan lamanya menggunakan narkoba akan menimbulkan
sindrom amoy fasional. Bila putus obat golongan amfetamin dapat
menimbulkan depresi hingga bunuh diri.
c) Terhadap fungsi mental akan terjadi gangguan persepsi, daya pikir, kreasi
dan emosi.
d) Bekerja lamban, ceroboh, syaraf tegang dan gelisah.
e) Kepercayaan diri hilang, apatis, pengkhayal dan penuh curiga.
f) Agitatif, bertindak ganas dan brutal diluar kesadaran.
g) Kurang konsentrasi, perasaan tertekan dan kesal.
h) Cenderung menyakiti diri, merasa tidak aman dan sebagainya.
3. Dampak Sosial :
a) Terjadinya gangguan mental emosional akan mengganggu fungsinya
sebagai anggota masyarakat, bekerja, sekolah maupun fungsi/tugas
kemasyarakatan lainnya.
b) Bertindak keliru, kemampuan prestasi menurun, dipecat/dikeluarkan dari
pekerjaan,
c) Hubungan dengan keluarga, kawan dekat menjadi renggang.
d) Terjadinya anti sosial, asusila dan dikucilkan oleh lingkungan.

11
BAB III

PEMBAHASAN

3.1 Pola Masalah Narkotika di Indonesia berdasarkan konsep epidemiologi


3.1.1 Menurut orang
a. Kelompok umur

Gambar 1 : Jumlah Tersangka Menurut Kelompok Umur Tahun 2008-2012

Gambar tersebut di atas merupakan data yang berhasil dikumpulkan dari Badan
Narkotika Nasional (BNN) – POLRI, Rumah Sakit Ketergantungan Obat (RSKO) dan
Direktorat Kesehatan Jiwa Kementerian Kesehatan.

Gambar 2 : Jumlah Pasien Narkoba di RSKO (Rumah Sakit Ketergantungan


Obat) Menurut Kelompok Umur Tahun 2009-2013

12
Gambar tersebut di atas merupakan data menurut RSKO antara tahun 2009 - 2013
tercatat jumlah terbesar pada kelompok 30 - 34 tahun.
Dalam kurun waktu 4 tahun terakhir secara berturut-turut jumlah terbesar pasien narkoba
ada pada kelompok 30 - 34 tahun yakni tahun 2009 sebanyak 128 pasien (34,04%), tahun 2010
sebanyak 93 pasien (33,7%), tahun 2011 sebanyak 169 pasien (68,98%), tahun 2012 sebanyak
195 pasien (33,56%). Namun pada tahun 2013 dari 328 pasien rawat inap RSKO karena
gangguan mental dan perilaku yang disebabkan penyalahgunaan narkoba, lebih dari sepertiganya
(36,6%) adalah pasien kelompok umur >34 tahun. Ini menunjukkan antara tahun 2012 dan 2013
terjadi pergeseran proporsi terbesar penyalah guna narkoba dari kelompok umur 30 – 34 tahun
menjadi kelompok umur >34 tahun. Pergeseran ini tentunya masih perlu diamati lagi
perkembangannya pada tahun-tahun berikutnya.

Besarnya proorsi penyalahgunaan narkoba pada kelompok umur dewasa perlu


mendapatkan perhatian terutama dalam hal pencegahan penyalahgunaan narkoba. Hal tersebut
tidak hanya dilakukan oleh pemerintah tetapi juga oleh masyarakat sekitar khususnya oleh
keluarga. Pada orang dewasa dapat dengan mudah memperoleh obat, baik di tempat umum
maupun tempat-tempat tertentu.

b. Jenis kelamin

Gambar 3 : Jumlah Tersangka Narkoba Menurut Jenis Kelamin Tahun 2008-


2012
13
Gambar tersebut di atas merupakan data dari Badan Narkotika Nasional (BNN), tercatat
sebagian besar penyalah guna narkoba adalah laki-laki.
Dari data tersebut terlihat bahwa baik WNI maupun WNA jumlah dan proporsi tersangka
narkoba didominasi laki-laki yaitu selalu di atas 80%. Dalam kurun waktu 2008 - 2012 jumlah
tersangka narkoba WNI proporsi terendah laki-laki yaitu pada tahun 2011 (89,94%) dan
tertinggi pada tahun 2008 (92,48%). Bila dilihat proporsinya pada tahun 2011 terjadi penurunan
namun pada tahun 2012 proporsinya naik menjadi 90,80%. Sedangkan pada jumlah tersangka
WNA proporsi terendah lakilaki yaitu pada tahun 2010 (83,02%) dan tertinggi pada tahun 2008
(89,80%). Bila dilihat proporsinya memang pada tahun 2010 terjadi penurunan dari 84,55%
pada tahun 2009 menjadi 83,02% pada tahun 2010, kemudian naik lagi 85,71% pada tahun
2011, terus naik lagi menjadi 88,79% pada tahun 2012. Sama halnya dengan jumlah tersangka
WNI perempuan, pada WNA perempuan cenderung terjadi kenaikan dalam kurun waktu 2008 -
2012.
3.1.2 Menurut tempat

Gambar 4 : Jumlah Kasus Narkoba Menurut Provinsi Tahun 2010-2012

14
Berdasarkan gambar tersebut di atas hampir seluruh provinsi di Indonesia dalam
tiga tahun terakhir jumlah kasus narkoba cenderung meningkat, seperti di Provinsi
Jawa Timur, Kalimantan Selatan, Sulawesi Utara. Namun pada beberapa provinsi
kasusnya juga menurun, hal ini terlihat pada Provinsi Jawa Barat, Kalimantan
Tengah, Sumatera Utara. Bila dibandingkan lima provinsi terbesar (Provinsi DKI
Jakarta, Sumatera Utara, Jawa Barat, Jawa Tengah, Sumatera Selatan).

Gambar 5 : Lima Provinsi Terbesar Jumlah Kasus Narkoba Tahun 2010-2012

Provinsi Jawa Timur dalam tiga tahun terakhir masih menempati urutan pertama
jumlah kasus narkoba berdasarkan provinsi. Begitu pula menurut jumlah tersangka
narkoba, Provinsi Jawa Timur menempati urutan pertama dan mengalami peningkatan
dari tahun 2010 – 2012 (6.395 tersangka di tahun 2010 meningkat menjadi 8.142
tersangka di tahun 2012). Beberapa provinsi mengalami peningkatan jumlah tersangka
dari tahun 2010 - 2012 antara lain Aceh (peningkatan 392 tersangka), Sulawesi Utara
(peningkatan 789 tersangka), dan Kalimantan Selatan (peningkatan 802 tersangka).

15
Gambar 6 : Jumlah Tersangka Narkoba Menurut Provinsi Tahun 2010-2012

Menurut jumlah tersangka narkoba, Provinsi Jawa Timur menempati urutan pertama
dan mengalami peningkatan dari tahun 2010 – 2012 (6.395 tersangka di tahun 2010
meningkat menjadi 8.142 tersangka di tahun 2012). Beberapa provinsi mengalami
peningkatan jumlah tersangka dari tahun 2010 - 2012 antara lain Aceh (peningkatan
392 tersangka), Sulawesi Utara (peningkatan 789 tersangka), dan Kalimantan Selatan
(peningkatan 802 tersangka).

16
3.1.3 Menurut waktu

Gambar 7 : Jumlah Kasus Narkoba Menurut Penggolongan Tahun 2008-2012


Jumlah kasus narkoba berdasarkan penggolongannya yang masuk dalam kategori narkotika terus
mengalami peningkatan, hal ini terlihat jelas pada 2008 jumlah kasus narkotika 10.008 kasus
naik pada 2009 menjadi 11.140 kasus selanjutnya naik dari 2009 ke 2010 dengan 17.898 kasus.
Dari 2010 ke 2011 naik menjadi 19.128 kasus dan menurun sedikit pada 2012 dengan 19.081
kasus.

3.2 Jenis-jenis Narkotika


1. Golongan I : Narkotika yang hanya dapat digunakan untuk tujuan ilmu pengetahuan, dan
tidak ditujukan untuk terapi serta mempunyai potensi sangat tinggi menimbulkan
ketergantungan. Narkotika golongan I contohnya :
1) Tanaman Papaver Somniferum L.
2) Opium mentah, yaitu getah yang membeku sendiri, diperoleh dari buah tanaman Papaver
Somniferum L yang hanya mengalami pengolahan sekedar untuk pembungkus dan
pengangkutan tanpa memperhatikan kadar morfinnya.
3) Opium masak terdiri dari :
a) Candu, hasil yang diperoleh dari opium mentah melalui suatu rentetan pengolahan
khususnya dengan pelarutan, pemanasan dan peragian dengan atau tanpa
penambahan bahan-bahan lain, dengan maksud mengubahnya menjadi suatu
ekstrak yang cocok untuk pemadatan.

17
b) Jicing, sisa-sisa dari candu setelah dihisap, tanpa memperhatikan apakah candu itu
dicampur dengan daun atau bahan lain.
c) Jicingko, hasil yang diperoleh dari pengolahan jicing.
4) Tanaman koka, tanaman dari semua genus Erythroxylon dari keluarga Erythroxylaceae
termasuk buah dan bijinya.
5) Daun koka, daun yang belum atau sudah dikeringkan atau dalam bentuk serbuk dari semua
tanaman genus Erythroxylon dari keluarga Erythroxylaceae yang menghasilkan kokain
secara langsung atau melalui perubahan kimia.
6) Kokain mentah, semua hasil-hasil yang diperoleh dari daun koka yang dapat diolah secara
langsung untuk mendapatkan kokaina.
7) Kokaina, metil ester-1-bensoil ekgonina.
8) Tanaman ganja, semua tanaman genus genus cannabis dan semua bagian dari tanaman
termasuk biji, buah, jerami, hasil olahan tanaman ganja atau bagian tanaman ganja termasuk
damar ganja dan hasis.
9) Tetrahydrocannabinol, dan semua isomer serta semua bentuk stereo kimianya dan
sebagainya.
2. Golongan II : Narkotika yang berkhasiat pengobatan digunakan sebagai pilihan terakhir dan
dapat digunakan dalam terapi atau tujuan pengembangan ilmu pengetahuan serta mempunyai
potensi tinggi mengakibatkan ketergantungan. Contoh narkotika golongan II :
1) Alfasetilmetadol : Alfa-3-asetoksi-6-dimetil amino-4,4-difenilheptana.
2) Alfameprodina : Alfa-3-etil-1-metil-4-fenil-4-propionoksipiperidina.
3) Alfametadol : alfa-6-dimetilamino-4,4-difenil-3-heptanol.
4) Alfaprodina : alfa-l, 3-dimetil-4-fenil-4-propionoksipiperidina.
5) Alfentanil : N-[1-[2-(4-etil-4,5-dihidro-5-okso-l H-tetrazol-1-il)etil]-4-(metok
simetil)-4-pipe ridinil]-N-fenilpropanamida.
6) Allilprodina : 3-allil-1-metil-4-fenil-4-propionoksipiperidina.
7) Anileridina : Asam 1-para-aminofenetil-4-fenilpiperidina)-4-karboksilat etil
ester.
8) Asetilmetadol : 3-asetoksi-6-dimetilamino-4, 4-difenilheptana.
9) Benzetidin : asam 1-(2-benziloksietil)-4-fenilpiperidina-4-karboksilat etil ester.
10) Benzilmorfina : 3-benzilmorfina

18
11) Betameprodina : beta-3-etil-1-metil-4-fenil-4-propionoksipipe ridina
12) Betametadol : beta-6-dimetilamino-4,4-difenil-3–heptanol dan sebagainya.
3. Golongan III : Narkotika yang berkhasiat pengobatan dan banyak digunakan dalam terapi atau
tujuan pengembangan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi ringan mengakibatkan
ketergantungan. Contoh dari narkotika golongan III :
1) Asetildihidrokodeina.
2) Dekstropropoksifena : α-(+)-4-dimetilamino-1,2-difenil-3-metil-2-butanol
propionate.
3) Dihidrokodeina.
4) Etilmorfina : 3-etil morfina.
5) Kodeina : 3-metil morfina.
6) Nikodikodina : 6-nikotinildihidrokodeina.
7) Nikokodina : 6-nikotinilkodeina.
8) Norkodeina : N-demetilkodeina.
9) Polkodina : Morfoliniletilmorfina.
10) Propiram : N-(1-metil-2-piperidinoetil)-N-2-piridilpropionamida
11) Buprenorfina : 21-siklopropil-7-α-[(S)-1-hidroksi-1,2,2-trimetilpropil]-6,14-
endo-entano-6,7,8,14- tetrahidrooripavina
12) Garam-garam dari Narkotika dalam golongan tersebut diatas
13) Campuran atau sediaan difenoksin dengan bahan lain bukan narkotika
14) Campuran atau sediaan difenoksilat dengan bahan lain bukan narkotika

3.3 Faktor Risiko Akibat Konsumsi Narkotika


Terdapat 3 (tiga) faktor yang dapat dikatakan sebagai penyebab seseorang dalam
penyalahgunaan narkotika. Ketiga faktor tersebut adalah faktor diri, faktor lingkungan, dan
faktor ketersdiaan narkotika itu sendiri, sebagai berikut :

1. Faktor diri sendiri :


a) Keingintahuan yang besar untuk mencoba, tanpa sadar atau berfikir panjang
tentang akibatnya di kemudian hari.
b) Keinginan untuk mencoba-coba karena penasaran. - Keinginan untuk bersenang-
senang.
c) Mengalami kelelahan dan menurunnya semangat belajar.

19
d) Kecanduan merokok dan minuman keras. Dua hal ini merupakan gerbang ke
arah penyalahgunaan narkotika.
e) Karena ingin menghibur diri dan menikmati hidup sepuas-puasnya. - Upaya
untuk menurunkan berat badan atau kegemukan dengan menggunakan obat
penghilang rasa lapar yang berlebihan.
f) Merasa tidak dapat perhatian, tidak diterima, atau tidak disayangi, dalam
lingkungan keluarga atau lingkungan pergaulan.
g) Ketidakmampuan menyesuaikan diri dengan lingkungan. - Ketidaktahuan
tentang dampak dan bahaya penyalahgunaan narkotika.
h) Pengertian yang salah bahwa mencoba narkotika sekali-kali tidak akan
menimbulkan masalah.
i) Tidak mampu atau tidak berani mengahadapi tekanan dari lingkungan atau
kelompok pergaulan untuk menggunakan narkotika.
2. Faktor lingkungan :
a) Keluarga bermasalah (broken home).
b) Ayah, ibu, atau keduanya atau saudara menjadi pengguna atau penyalahguna
atau bahkan pengedar gelap narkotika.
c) Lingkungan pergaulan atau komunitas yang salah satu atau beberapa atau
bahkan semua anggotanya menjadi penyalahguna atau pengedar gelap narkotika.
d) Sering berkunjung ke tempat hiburan (cafe, diskotik, karaoke, dll) atau tempat
tinggalnya yang dekat dengan tempat hiburan.
e) Putus sekolah atau menganggur sehingga banyak waktu untuk berkunjung ke
tempat hiburan.
f) Lingkungan keluarga yang kurang atau tidak harmonis.

3. Faktor ketersediaan narkotika :


a) Narkotika semakin mudah didapat dan dibeli.
b) Harga narkotika semakin murah dan dijangkau oleh daya beli masyarakat.
c) Narkotika semakin beragam dalam jenis, cara pemakaian, dan bentuk kemasan.
d) Modus operandi tindak pidana narkotika makin sulit diungkap aparat hukum
e) Masih banyak laboratorium gelap narkotika yang belum terungkap.
f) Sulit terungkapnya kejahatan komputer dan pencucian uang yang bisa membantu
bisnis perdagangan gelap narkotika.
g) Semakin mudahnya akses internet yang memberikan informasi pembuatan
narkotika.
h) Bisnis narkotika yang menjanjikan keuntungan besar.

3.4 Penyakit Akibat Penyalahgunaan Narkotika


Penyalahgunaan narkotika dan obat-obat berbahaya (narkoba) di Indonesia menjadi
masalah serius dan telah mencapai masalah keadaan yang memperihatinkan sehingga dapat

20
dikatakan sebagai masalah nasional. Korban penyalahgunaan narkoba telah meluas
sedemikian rupa sehingga melampaui batas-batas strata sosial, umur, jenis kelamin.
Merambah tidak hanya perkotaan tetapi merambah sampai pedesaan dan melampaui batas
negara yang akibatnya sangat merugikan perorangan, masyarakat, negara dan khususnya
generasi muda. Jika narkotika dipakai sesuai dengan dosis yang telah dianjurkan maka
dampak yang terjadi pada pengguna tidaklah signifikan. Tetapi banyak pihak yang
menggunakan narkotika sesuai keinginan pribadi sehingga dapat menyebabkan penyakit
akibat narkotika pada pengguna. Beberapa contoh penyakit akibat penyalahgunaan
narkotika adalah sebagai berikut :

a. Tekanan darah tinggi


b. Gangguan pada paru-paru
Misalnya : penekanan fungsi pernapasan, kesukaran bernafas, pengerasan jaringan
paru-paru
c. Gangguan pada syaraf motorik
Mulai melambat dalam melakukan suatu gerakan. Gerakan yang dilakukan kurang
responsif terhadap rangsangan yang diberikan
d. Kerusakan pada gigi dan kulit
e. HIV AIDS
Dapat ditularkan jarum suntik saat memasukkan narkotika kedalam tubuhnya secara
bergantian dengan pengguna lainnya.
f. Hepatitis dan tetanus
Sama halnya dengan cara penularan HIV AIDS, jika pengguna menggunakan jarum
suntuk da sarun suntuk yang digunakan tidak steril dapat menyebabkna penyakit
hepatitis maupun tetanus.
g. Gangguan jiwa
h. Gangguan pada system syaraf (neurologis)
Misalnya : kejang-kejang, halusinasi, gangguan kesadaran, kerusakan syaraf tepi
i. Gangguan pada kesehatan reproduksi
Penurunan fungsi hormon reproduksi (estrogen, progesteron, testosteron), serta
gangguan fungsi seksual. pada remaja perempuan antara lain perubahan periode
menstruasi, ketidakteraturan menstruasi, dan amenorhoe (tidak haid)

21
j. Over Dosis yang dapat menimbulkan kematian

3.5 Upaya Pencegahan Penyakit Akibat Konsumsi Narkotika


Upaya pengendalian penyalahgunaan narkotika dapat dilakukan melalui pendekatan -
pendekatan dan beberapa cara, antara lain :
1. Pencegahan (preventif), adalah upaya pengendalian Yang dilakukan untuk mencegah
terjadinya penyalahgunaan narkotka. Adapun upaya pencegahan dalam penanggulangan
penyalahgunaan narkotika dilakukan sebagai berikut :
a. Pencegahan Primer (primary prevention)
Upaya ini dilakukan untuk mengenali kelompok yang mempunyai resiko tinggi
penyalahgunaan narkotikadan dilakukan intervensi terhadap mereka agar tidak
menggunakan narkotika. Upaya pencegahan ini dilakukan sejak dini agar faktor anak
tidak sampai menyalahgunakan narkotika. Kegiatan - kegiatan yang dilakukan dalam
upaya pencegahan ini antara lain :
1) Penyuluhan tentang bahaya narkotika.
2) Memberikan bimbingan dan penyuluhan serta bimbingan untuk taat beragama
serta patuh terhadap hukum kepada semua lapisan masyarakat secara selektif dan
prioritas. Penyuluhan dilakukan secara bertahap sehingga masyarakat dapat
dengan mudah memahami akan dampak dari penyalahgunaan narkotika.
3) Melaksanakan bimbingan serta menyalurkan kegiatan masyarakat terutama
generasi muda yang ada kepada kegiatan positif seperti olahraga, kesenian dan
lain-lain. Dengan adanya kegiatan yang positif maka masyarakat akan sibuk
untuk produktif dan tidak keluyuran ke tempat-tempat hiburan. Mreka juga bisa
berkomunikasi atau curhat sesama teman rekan kerja sehingga dapat mengurangi
stress yang nant berdampak pada penyalahgunaan narkotika.
4) Penerangan melalui berbagai media mengenai bahaya narkotika.
5) Pendidikan tentang pengetahuan narkotika dan bahayanya di kalangan usia dini
hingga usia tua.
b. Pencegahan Sekunder (secondary prevention)
Pencegahan sekunder dilakukan pada penyalahguna pada tahap coba - coba serta
komponen masyarakat yang berpotensi menyalahgunakan narkotika. Kegiatan yang
dilakukan pada pencegahan ini antara lain:

22
1) Deteksi dini anak yang menyalahgunakan narkotika.
2) Konseling.
c. Pencegahan Tersier (tertiary prevention)
Pencegahan ini dilakukan terhadap orang yang sedang menyalahgunakan narkotika
dan yang pernah menyalahgunakan narkotika agar tidak kembali menyalahgunakan
narkotika. Kegiatan yang dilakukan antara lain:
1) Konseling dan bimbingan sosial bagi pengguna narkotika dan keluarganya serta
kelompok lingkungannya.
2) Menciptakan lingkungan yang kondusif bagi bekas pengguna.
2. Penindakan (represif), yaitu upaya pengendalian yang dilakukan untuk menindak dan
memberantas penyalahgunaan narkotika melalui jalur hukum dan berdasarkan hukum
yang dilakukan oleh aparat penegak hukum terhadap produsen, bandar, pengedar dan
pemakai narkotika.
3. Pengobatan (kuratif), yaitu upaya pengendalian yang bertujuan mengobati
ketergantungan dan menyembuhkan penyakit akibat dari pemakaian narkotika sekaligus
menghentikan pemakaian narkoba baik secara medis maupun dengan media lain.
Pemakaian narkotika sering diikuti oleh masuknya penyakit - penyakit berbahaya serta
gangguan mental dan moral. Penanganan melalui obat-obatan akan dilakukan melalui
pengawasan dokter, tergantung dari jenis narkoba yang digunakan. Pengguna narkoba
jenis heroin atau morfin, akan diberikan terapi obat seperti methadone dan buprenorfin.
Obat ini akan membantu mengurangi keinginan memakai narkoba, yang diharapkan
dapat mencegah penyakit seperti hepatitis C dan HIV hingga kematian. Pengobatan
terhadap pemakai narkoba sangat rumit dan membutuhkan kesabaran luar biasa dari
dokter, keluarga, dan penderita. Kunci sukses pengobatan adalah kerjasama yang baik
antara dokter, keluarga dan penderita.
4. Rehabilitasi (rehabilitatif), yaitu upaya pengendalian sosial yang dilakukan untuk
pemulihan kesehatan jiwa dan raga yang ditujukan kepada pemakai narkotika yang
sudah menjalani pengobatan (kuratif). Tujuannya agar ia tidak memakai lagi dan bebas
dari penyakit ikutan yang disebabkan oleh bekas pemakaian narkoba. Ada tiga tahap
rehabilitasi narkoba yang harus dijalani. Pertama, tahap rehabilitasi medis (detoksifikasi)
yaitu proses pecandu menghentikan penyalahgunaan narkoba di bawah pengawasan

23
dokter untuk mengurangi gejala putus zat (sakau). Tahap kedua, yaitu tahap rehabilitasi
non medis dengan berbagai program di tempat rehabilitasi, misalnya
program therapeutic communities (TC). Selanjutnya tahap terakhir yaitu tahap bina
lanjut yang akan memberikan kegiatan sesuai minat dan bakat. Selain itu, pencandu
yang sudah berhasil melewati tahap ini dapat kembali ke masyarakat, baik untuk
bersekolah atau kembali bekerja.

24
BAB IV

PENUTUP

4.1 Kesimpulan

Penyalahgunaan narkotika dan obat-obat berbahaya (narkoba) di Indonesia


menjadi masalah serius dan telah mencapai masalah keadaan yang memperihatinkan sehingga
dapat dikatakan sebagai masalah nasional. Korban penyalahgunaan narkoba telah meluas
sedemikian rupa sehingga melampaui batas-batas strata sosial, umur, jenis kelamin. Merambah
tidak hanya perkotaan tetapi merambah sampai pedesaan dan melampaui batas negara yang
akibatnya sangat merugikan perorangan, masyarakat, negara dan khususnya generasi muda. Jika
narkotika dipakai sesuai dengan dosis yang telah dianjurkan maka dampak yang terjadi pada
pengguna tidaklah signifikan. Tetapi banyak pihak yang menggunakan narkotika sesuai
keinginan pribadi sehingga dapat menyebabkan penyakit akibat narkotika pada pengguna.
Beberapa penyakit akibat penyalahgunaan narkotika antara lain : tekanan darah tinggi, gangguan
paru-paru, gangguan pada syaraf motorik, kerusakan pada gigi dan kulit, HIV/AIDS, hepatitis
dan tetanus, gangguan jiawa, gannguan pada kesehatan reproduksi, over dosis yang dapat
menimbulkan kematian.

Pola masalah narkotika di Indonesia berdasarkan konsep epidemiologi dapat diketahui


menurut orang, tempat dan waktu. Narkotika dapat digolongkan menjadi tiga golongan, antara
lain : Golongan I, yaitu narkotika yang hanya dapat digunakan untuk tujuan ilmu pengetahuan,
dan tidak ditujukan untuk terapi serta mempunyai potensi sangat tinggi menimbulkan
ketergantungan. Golongan II, yaitu narkotika yang berkhasiat pengobatan digunakan sebagai
pilihan terakhir dan dapat digunakan dalam terapi atau tujuan pengembangan ilmu pengetahuan
serta mempunyai potensi tinggi mengakibatkan ketergantungan. Kemudian golongan III yaitu
narkotika yang berkhasiat pengobatan dan banyak digunakan dalam terapi atau tujuan
pengembangan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi ringan mengakibatkan
ketergantungan.

25
DAFTAR PUSTAKA

Badan Narkotika Nasional. (2014). Laporan Akhir Survei Nasional Perkembangan


Penyalahgunaan Narkoba Tahun Anggaran 2014. [Online].

Badan Narkotika Nasional. (2015). Survei Prevalensi Penyalahgunaan Narkoba pada Kelompok
Rumah Tangga di 20 Provinsi Tahun 2015. [Online]. Diakses dari
http://www.bnn.go.id/_multimedia/document/20160713/hasil_lit_bnn_2015.pdf diakses
pada tanggal 02 Mei 2017

Badan Narkotika Nasional. (2016). Perbedaan Dan Jenis Narkotika dan Narkoba. [Online].
Diakses dari http://jabar.bnn.go.id/artikel/perbedaan-dan-jenis-narkotika-dan-narkoba
diakses pada tanggal 02 Mei 2017

Jayadi, Bhakti. Upaya Pencegahan Pemberantasan dan Penyalahgunaan Narkoba. [Online].


Diakses dari
https://www.academia.edu/14530762/Upaya_Pencegahan_Pemberantasan_Dan_Penyalah
gunaan_Narkoba diakses pada tanggal 05 Mei 2017

Kementerian Kesehatan RI. 2014. “Buletin Jendela Data dan Informasi Kesehatan”. Jakarta.

Muryanta, Andang. (2010). Narkoba dan Dampaknya terhadap Pengguna. [Online]. Diakses
dari http://www.kulonprogokab.go.id/v21/files/NARKOBA-DAN-DAMPAKNYA-
TERHADAP-PENGGUNA.pdf diakses pada tanggal 02 Mei 2017

No Name. (2014). Makalah tentang Narkoba. [Online]. Diakses dari


https://www.academia.edu/24561130/Makalah_Tentang_Napza_dan_Narkoba diakses
pada tanggal 05 Mei 2017

Undang-Undang tentang tentang Narkotika Undang-undang RI No.22 Tahun


1997 LN No. 35 tahun 2009

26