Anda di halaman 1dari 20

MAKALAH

EPIDEMIOLOGI PENYAKIT TIDAK MENULAR AKIBAT ZAT ADIKTIF


(SELAIN ROKOK)

KELOMPOK 3
BARA BANGUN NINGHARTO (101511535008)
APIK MILA SARI (101511535016)
FAIRUZ IMAN HARITSAH (101511535034)
MAULIDA RACHMADIYAWATI (101511535043)
YUNIAR FARAIZKA AMALIA (101511535046)

PSDKU UNIVERSITAS AIRLANGGA


DI BANYUWANGI
2017

1
DAFTAR ISI

DAFTAR ISI……………………………………………………………………….….…….2
BAB I PENDAHULUAN…………………………………………………………….….…3
1.1 LATAR BELAKANG…………………………………………………………..….3
1.2 RUMUSAN MASALAH………………………………………………………...…4
1.3 TUJUAN………………………………………………………………………..…...5
BAB II TINJAUAN PUSTAKA………………………………………………………...….6
2.1 PENGERTIAN NAPZA………………………………………………………...…6
2.2 PENGERTIAN ZAT ADIKTIF………………………………………………..…..6
2.3 JENIS OBAT YANG BERZAT ADIKTIF…………………………………..……6
2.4 DAMPAK / EFEK YANG DAPAT DITIMBULKAN ZAT ADIKTIF……..…...7
BAB III PEMBAHASAN……………………………………………………………..…….8
2.5 BESARAN MASALAH KONSUMSI ALKOHOL…………………………..…..8
2.6 DISTRIBUSI ALKOHOL DI INDONESIA………………………………….….11
2.7 FAKTOR RESIKO PENYAKIT TIDAK MENULAR ALKOHOL DI
INDONESIA………………………………………………………………………12
2.8 UPAYA PENCEGAHAN SESUAI TAHAP PENCEGAHAN PENYAKIT DAN
PENGENDALIANNYA……………………………………………………..……15
IV
PENUTUP……………………………………………………..…………………………….19
4.1 KESIMPULAN……………………………………………………..………….…..19
DAFTAR PUSTAKA………………………………………..………………………………20

2
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG


Menurut Direktorat Bina Upaya Kesehatan, pada tahun 2010 tercatat pula
sebanyak 434 pasien rawat inap di Rumah Sakit karena gangguan mental dan perilaku
yang disebabkan penggunaan alkohol. Dari jumlah tersebut, 32 pasien di antaranya
meninggal dunia. Berdasarkan laporan Rumah Sakit Ketergantungan Obat (RSKO),
pasien rawat inap mengalami peningkatan dari tahun ke tahun dalam 5 tahun terakhir.
Efek negatif narkotika dan meningkatnya jumlah penyalah guna mendesak pemerintah
untuk lebih serius dalam penanggulangannya serta menentukan strategi yang
tepat guna menanggulangi penyalahgunaan narkotika.
Masalah penyalahgunaan Narkotika, Psikotropika dan Zat Adiktif lainya
(NAPZA) atau istilah yang populer dikenal masyarakat sebagai NARKOBA (Narkotika
dan Bahan/ Obat berbahanya) merupakan masalah yang sangat kompleks, yang
memerlukan upaya penanggulangan secara komprehensif dengan melibatkan kerja sama
multidispliner, multisektor, dan peran serta masyarakat secara aktif yang dilaksanakan
secara berkesinambungan, konsekuen dan konsisten. Meskipun dalam Kedokteran,
sebagian besar golongan Narkotika, Psikotropika dan Zat Adiktif lainnya (NAPZA)
masih bermanfaat bagi pengobatan, namun bila disalahgunakan atau digunakan tidak
menurut indikasi medis atau standar pengobatan terlebih lagi bila disertai peredaran
dijalur ilegal, akan berakibat sangat merugikan bagi individu maupun masyarakat luas
khususnya generasi muda.
Maraknya penyalahgunaan NAPZA tidak hanya dikota-kota besar saja, tapi sudah
sampai ke kota-kota kecil diseluruh wilayah Republik Indonesia, mulai dari tingkat sosial
ekonomi menengah bawah sampai tingkat sosial ekonomi atas.Dari data yang ada,
penyalahgunaan NAPZA paling banyak berumur antara 15–24 tahun.Tampaknya
generasi muda adalah sasaran strategis perdagangan gelap NAPZA.Oleh karena, itu kita
semua perlu mewaspadai bahaya dan pengaruhnya terhadap ancaman kelangsungan
pembinaan generasi muda.Sektor kesehatan memegang peranan penting dalam upaya
penanggulangan penyalahgunaan NAPZA, melalui upaya Promotif, Preventif, Terapi dan
Rehabilitasi. Peran penting sektor kesehatan sering tidak disadari oleh petugas kesehatan
itusendiri, bahkan para pengambil keputusan, kecuali mereka yang berminat
dibidangkesehatan jiwa, khususnya penyalahgunaan NAPZA. Bidang ini perlu
3
dikembangkan secara lebih profesional, sehingga menjadi salah satu pilar yang kokoh
dari upayapenanggulangan penyalahgunaan NAPZA.
Minuman keras, atau biasa disingkat miras, adalah minuman beralkohol yang
mengandung etanol. Etanol adalah bahan psikoaktif dan konsumsinya menyebabkan
penurunan kesadaran. Alkohol merupakan zat aktifdalam minuman keras, yang dapat
menekan syaraf pusat. Alkohol digolongkan ke dalam Napza (narkotika, psikotropika
dan zat adiktif lainnya) karena mempunyai sifat menenangkan sistem saraf pusat,
mempengaruhi fungsi tubuh maupun perilaku seseorang, mengubah suasana hati dan
perasaan orangyang mengonsumsinya. Bila dikonsumsi berlebihan, minuman beralkohol
dapat menimbulkan efek samping gangguan mental organic (GMO), yaitu gangguan
dalam fungsi berpikir, merasakan, dan berperilaku. Timbulnya GMO tersebut disebabkan
reaksi langsung alkohol pada sel-sel saraf pusat. Karena sifat adiktif alkohol tersebut,
orang yang meminumnya lama-kelamaan tanpa sadarakan menambahtakaran/dosis
sampai pada dosis keracunan atau mabuk (Anonim, 2013).
Alkohol, seperti obat-obat terlarang lainnya menimbulkan banyak dampak negatif
pada tubuh, mental dan kehidupan sosial manusia. Yunani dan negara Eropa lainnya saat
ini menerapkan sanksi dan hukuman yang keras terhadap para peminum alkohol.
Perpecahan dalam rumah tangga pun sering ditimbulkan akibat kebiasaan meminum
alkohol. Seorang pecandu akan nekat melakukan tindakan kriminal di saat dia tidak
punya uang untuk membeli minuman beralkohol (Nurwijaya & Ikawati., 2009). Minum
minuman keras berhubungan dengan kecelakaan lalu lintas yang dapat menimbulkan
korban jiwa, perilaku seksual berisiko, perilaku bunuh diri, prestasi sekolah yang buruk,
dan risiko yang lebih besar untuk menimbulkan kecanduan dikemudian hari (Benjetetal.,
2014). Penggunaan alkohol yang berlebihan dapat menciptakan masalah kesehatan
masyarakat yang signifikan serta dapat menciptakan masalah keamanan di seluruh dunia.
Hampir 4% dari semua kematian di seluruh dunia dikaitkan dengan konsumsi alkohol,
yang juga terkait dengan banyak masalah sosial yang serius, seperti penyakit dan cedera
(Mastroianni et al.,2014).

1.2 RUMUSAN MASALAH


1.2.1. Bagaimana besaran masalah konsumsi alkohol?
1.2.2. Bagaimana distribusi alkohol di Indonesia?
1.2.3. Bagaimana faktor resiko penyakit tidak menular alkohol di Indonesia?

4
1.2.4. Bagaimana upaya pencegahan sesuai tahap pencegahan penyakit dan
pengendaliannya?

1.3 TUJUAN
1.3.1. Untuk mengetahui besaran masalah konsumsi alkohol
1.3.2. Untuk mengetahui distribusi alkohol di Indonesia
1.3.3. Untuk mengetahui faktor resiko penyakit tidak menular alkohol di Indonesia
1.3.4. Untuk mengetahui upaya pencegahan sesuai tahap pencegahan penyakit dan
pengendaliannya

5
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 PENGERTIAN NAPZA


NAPZA adalah singkatan dari narkotika, psikotropika, dan bahan adiktif lainnya,
meliputi zat alami atau sintetis yang bila dikonsumsi menimbulkan perubahan fungsi
fisik dan psikis, serta menimbulkan ketergantungan (BNN, 2004).
NAPZA adalah zat yang memengaruhi struktur atau fungsi beberapa bagian tubuh
orang yang mengonsumsinya. Manfaat maupun risiko penggunaan NAPZA bergantung
pada seberapa banyak, seberapa sering, cara menggunakannya, dan bersamaan dengan
obat atau NAPZA lain yang dikonsumsi (Kemenkes RI, 2010).

2.2 PENGERTIAN ZAT ADIKTIF


NAPZA dibagi dalam 3 jenis, yaitu narkotika, psikotropika, dan bahan adiktif
lainnya. Zat adiktif adalah istilah untuk zat-zat yang pemakaiannya dapat menimbulkan
ketergantungan fisik yang kuat dan ketergantungan psikologis yang panjang (drug
dependence). Kelompok zat adiktif adalah narkotika (zat atau obat yang berasal dari
tanaman) atau bukan tanaman, baik sintetik maupun semisintetik, yang dapat
menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, mengurangi sampai menghilangkan
rasa sakit, dan dapat menimbulkan ketergantungan.
Zat adiktif adalah obat serta bahan-bahan aktif yang apabila dikonsumsi oleh
organisme hidup dapat menyebabkan kerja biologi serta menimbulkan ketergantungan
atau adiksi yang sulit dihentikan dan berefek ingin menggunakannya secara terus-
menerus yang jika dihentikan dapat memberi efek lelah luar biasa atau rasa sakit luar
biasa.

2.3 JENIS OBAT YANG BERZAT ADIKTIF


Sesuai dengan Undang-Undang No.5 Tahun 1997 tentang Psikotropika menyebutkan
beberapa obat yang mengandung zat adiktif di antaranya adalah :
1. Amfetamin
2. Amobarbital, Flunitrazepam
3. Diahepam, Bromazepam, Fenobarbital
4. Minuman Beralkohol / Minuman Keras / Miras
5. Tembakau / Rokok / Lisong
6
6. Halusinogen
7. Bahan Pelarut seperti bensin, tiner, lem, cat, solvent, dll

2.4 DAMPAK / EFEK YANG DAPAT DITIMBULKAN ZAT ADIKTIF


1. Efek/Dampak Penyalahgunaan Minuman Alkohol
Alkohol dalam minuman keras dapat menyebabkan gangguan jantung dan otot
syaraf, mengganggu metabolisme tubuh, membuat janis menjadi cacat, impoten serta
gangguan seks lainnya.
2. Efek/Dampak Penyalahgunaan Ganja
Zat kandungan dalam ganja yang berbahaya dapat menyebabkan daya tahan
tubuh berkurang dan melemah sehingga mudah terserang penyakit dan infeksi serta
memperburuk aliran darah koroner.
3. Efek/Dampak Penyalahgunaan Halusinogen
Halusinogen dalam tubuh manusia dapat mengakibatkan pendarahan otak.
4. Efek/Dampak Penyalahgunaan Kokain
Zat adiktif kokain jika dikonsumsi dalam jangka panjang dapat menyebabkan
kekurangan sel darah putih atau anemia sehingga dapat membuat badan kurus
kering.Selain itu kokain menimbulkan perforesi sekat hidung (ulkus) dan aritma pada
jantung.
5. Efek/Dampak Penyalahgunaan Opiat / Opioda
Zat opioda atau opiat yang masuk ke dalam badan manusia dapat mengganggu
menstruasi pada perempuan / wanita serta impotensi dan konstipasi khronuk pada pria
/ laki-laki.
6. Efek/Dampak Penyalahgunaan Inhalasia
Inhalasia memiliki dampak buruk bagi kesehatan kita seperti gangguan pada
fungsi jantung,otak, dan lever.
7. Efek/Dampak Penyalahgunaan Non Obat
Dalam kehidupan sehari-hari sering kita temui benda-benda yang
disalahgunakan oleh banyak orang untuk mendapatkan efek tertentu yang dapat
mengakibatkan gangguan kesehatan. Contoh barang yang dijadikan candu antara lain
seperti bensin, thiner, racun serangga, lem uhu, lem aicaaibon. Efek dari penggunaan
yang salah pada tubuh manusia adalah dapat menimbulkan infeksiemboli

7
BAB III
PEMBAHASAN

3.1 BESARAN MASALAH KONSUMSI ALKOHOL

Pada tahun 2010 tercatat pula sebanyak 434 pasien rawat inap di rumah sakit
karena gangguan mental dan perilaku yang disebabkan penggunaan alkohol. Dari jumlah
tersebut, 32 pasien di antaranya meninggal dunia.Data jumlah pasien rawat inap di
rumah sakit karena gangguan mental dan perilaku yang disebabkan penggunaan narkoba
disajikan pada Tabel 5 diatas.
Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dalam laporan mengenai
penyalahgunaan alkohol, setiap tahunnya di dunia lebih banyak orang tewas akibat
konsumsi alkohol daripada akibat AIDS, TBC dan kejahatan dengan kekerasan. WHO
memperkirakan Sekitar 3,3 juta orang tewas di tahun 2012 berhubungan dengan
konsumsi alkohol yang berlebihan. Konsumsi alkohol yang berlebihan meningkatkan
risiko timbulnya lebih dari 200 penyakit, termasuk siroris hati, tuberkulosis, dan

8
beberapa jenis kanker.Konsumsi alkohol yang tidak bertanggung jawab merupakan salah
satu penyebab terjadinya kecelakaan dan tindak kekerasan (WHO, 2014).

Tabel 1. Jumlah rata-rata konsumsi minuman beralkohol per tahun


RATA-RATA KONSUMSI
NEGARA ALKOHOL MURNI PER
TAHUN
Jerman 11,8 liter
Eropa 10,9 liter
Amerika 8,4 liter
Jepang 6,8 liter
Sumber : WHO, 2014

Laporan WHO mengenai alkohol dan kesehatan menyebutkan sebanyak 320.000


orang usia 15-29 tahun meninggal di seluruh dunia setiap tahun karena berbagai
penyebab terkait dengan alkohol dan 5,1% kematian di dunia akibat penyakit
berhubungan dengan konsumsi alkohol (WHO, 2014). Fakta itulah yang membuat
negara-negara maju membuat regulasi ketat soal minuman keras, terutama dalam soal
peredarannya.Ketatnya regulasi itu ditunjukkan dengan sanksi pidana yang tegas bagi
para pelanggarnya.Itulah yang membuat para produsen dan penjual miras di negara-
negara maju tidak berani menjual kepada para remaja, apalagi anak-anak. Sementara,
dari sisi konsumen, para remaja juga akan mendapatkan sanksi tegas pidana, sehingga
mereka tidak pernah memiliki keberanian untuk membelinya.
Setiap negara memiliki batasan usia yang diperbolehkan untuk membeli, menjual
dan mengonsumsi minuman beralkohol. Di hampir semua negara di benua Eropa,
batasan minimum seseorang dapat membeli, menjual maupun mengonsumsi minuman
beralkohol adalah usia 18 tahun. Beberapa negara lainnya seperti Amerika Serikat,
Mesir, Indonesia, Samoa dan Pulau Solomontidak mengizinkan membeli, menjual
maupun mengonsumsi alkohol sebelum usia 21 tahun. Negara-negara yang memiliki
batasan usia dalam mengonsumsi alkohol biasanya akan lebih rendah dalam
memproduksi jenis minuman beralkohol seperti wine dan bir dibandingkan dengan
minuman dari hasil penyulingan atau destilasi (Ahlstrom & Osterberg, 2005).

9
Di Indonesia, peraturan tentang minuman keras belum mendapatkan perhatian
khusus dari pemerintah, walaupun dampak minuman keras sangat serius di kalangan
remaja. Dampak yang ditimbulkan akibat peredaran bebas dari minuman keras tersebut,
misalnya rusaknya tatanan sosial bangsa Indonesia, bahkan tidak sedikit kasus kriminal
hingga menelan korban jiwa akibat minuman keras di Indonesia. Data BPS tahun 2012
menunjukkan angka yang sangat memprihatinkan, yaitu 83,1% remaja Indonesia pernah
minum minuman beralkohol (Bahri, 2013). Di Indonesia sendiri, setiap tahunnya
diperkirakan jumlah korban meninggal akibat miras mencapai 19.000 orang (Anonim,
2013).
Meskipun pemakaian alkohol di Indonesia rendah, tetapi potensi peningkatan
penggunaan alkohol cukup besar. Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas)
tahun 2007, prevalensi konsumsi alkohol di Indonesia dari 258.366 sampel rumah tangga
pada 1 tahun terakhir sebesar 4,6%, sedangkan pada perempuan 0,7%. Selain itu
prevalensi konsumsi alkohol dalam satu bulan terakhir 3,0%, dan 0,4% pada perempuan.
Untuk kasus konsumsi alkohol di Jawa Tengah pada 1 tahun terakhir sebesar 2,2%,
sedangkan yang masih mengkonsumsi alkohol dalam satu bulan terakhir 1,1%.6
Berdasarkan data tersebut perlu adanya peningkatan pencegahan pemakaiannnya dan
perlu diusahakan sehingga tidak sampai menimbulkan masalah kesehatan yang lain
Perempuan lebih rentan terhadap efek alkohol dibandingkan lakilaki karena
perempuan memiliki proporsi lemak lebih tinggi dibandingkan air.Hal ini menimbulkan
konsentrasi alkohol dalam darah lebih tinggi setelah minum alkohol. Selain itu minum
alkohol pada fase menstruasi akan menimbulkan kadar alkohol darah yang berbeda,
paling tinggi saat ovulasi dan pramenstruasi. Pil KB dapat menurunkan metabolisme
alkohol yang berarti membutuhkan waktu lama untuk menghilangkan efek alkohol.
Tingkat konsumsi alkohol di Kanada pada tahun 2012 menunjukkan 74 %
perempuan yang berumur ≥15 tahun dilaporkan mengkonsumsi alkohol, dari 16 %
perempuan yang mengkonsumsi alkohol dalam jangka panjang dapat menimbulkan
masalah kesehatan.
Berdasarkan data survey Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) tatanan rumah
tangga Kabupaten Jepara pada tahun 2013 menunjukkan bahwa sebesar 78,94% dari
14.662 sampel mengkonsumsi minuman alkohol.7 Sedangkan pada tahun 2014
menunjukkan bahwa adanya peningkatan jumlah kasus konsumsi minuman alkohol
sebesar 91,59% dari 6.303 sampel. Dalam survey ini tidak membedakan jenis kelamin
dari sampel yang diambil.
10
3.2 DISTRIBUSI ALKOHOL DI INDONESIA
Dari penelitian di Amerika Serikat menunjukkan bahwa ada dua pertiga dari
penduduk yang berusia 18 tahun atau lebih meminum-minuman berakohol dalam acara-
acara sosial yang jumlahnya lebih dari 100 juta orang atau 40% dari jumlah penduduk.
Jumlah ini belum termasuk anak-anak dan pra remaja yang makin bertambah jumlahnya
mengikuti teladan orang tua mereka yang mengkonsumsi alkohol pada usia dini. Salah
satu penelitian yang dilakukan di Amerika Serikat oleh Merwyng Hardinge 2003,
menunjukan bahwa 80% dari orang muda berusia 15 sampai 17 tahun minum-minuman
berakohol, seperempat dari mereka meminumnya setiap minggu dan setengah dari anak-
anak SLTP telah mencoba minum-minuman berakohol.
Di Indonesia, dalam catatan Gerakan Nasional Anti Miras (Genam), setiap tahunya
jumlah korban meninggal akibat minuman keras, mencapai 18.000 orang. Berdasarkan
data dari bagian penyusunan dan program Kantor Dinas Sosial Provinsi Jawa Timur di
tahun 2009 kenakalan remaja sebesar 13.484 dan di tahun 2011 turun menjadi 12.254.
Keberadaan UPT ANKN (rehabilitasi anak nakal korban narkoba) dimaksudkan untuk
mengantisipasi, mengatasi dan memecahkan salah satu permasalahan sosial yaitu
kecanduan minum keras. Data yang di dapat dari Kepolisian Ponorogo tercatat 20
tersangka remaja dimana semuanya adalah pemakai minuman keras di kalangan remaja,
sering mengganggu ketertiban umum, dan sering meresahkan warga (Laporan kepolisian
Ponorogo bagian Reskrim, Tahun 2009 dan 2011) pemakai minuman keras paling
banyak para remaja, data dari polres menunjukan sekitar 50% remaja yang
mengkonsumsi minuman keras.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Sulawesiyanto (2007) di kota
Pontianak, menyatakan bahwa minuman beralkohol memberikan pengaruh besar
terhadap kenakalan remaja. Sebesar 20 sampel remaja yang mengkonsumsi minuman
beralkohol, 80% sampel mengaku pernah melakukan kenakalan remaja.Seseorang yang
mengkonsumsi minuman beralkohol, timbul keberanian untuk melakukan tindakan
negatif.Seperti perkelahian, dimana secara normal mereka tidak berani
melakukannya.Minuman beralkohol ini juga menyebabkan ketergantungan atau
ketagihan pada diri mereka, sehingga mereka melakukan berbagai upaya untuk
mendapatkannya, bahkan dengan melakukan tindak kejahatan pencurian.Minuman
beralkohol juga menyebabkan terganggunya otak sehingga membuat hilang rasa malu,
danmereka juga menjadi mudah tersinggung serta cepat marah (Anonim, 2007).

11
Desa Bekonang Kabupaten Sukoharjo dikenal sebagai desa penghasil Ciu
(minuman beralkohol).Di desa tersebut terdapat sekitar 50 orang pengrajin industri kecil
atau industri rumah tangga yang menghasilkan minuman beralkohol yang terbuat dari
tetes tebu. Minuman beralkohol yang dihasilkan oleh pengrajin tersebut hanya
mempunyai kadar alkohol rendah, yaitu 37%. Karena dikerjakan dengan kondisi yang
apa adanya dan sederhana, maka hasil yang diperoleh masih jauh dari harapan kadar
alkohol yang dapat dimanfaatkan untuk industri kimia. Dampak sosial yang tidak
menguntungkan dilihat dari aspek kesehatan adalah, bahwa dengan kadar yang masih
rendah itu, maka apa yang dihasilkan berupa minuman beralkohol tersebut banyak
disalahgunakan untuk mabuk-mabukan. Kondisi kesehatan dan penyebaran penyakit
diwilayah Bekonang, tidak berbeda dangan kebanyakan penyebaran penyakit di wilayah
Solo dan sekitarnya.Penyakit gangguan pernapasan, pencernaan, kordiovaskuler, dan
penyakit degeneratif lainnya merupakan penyakit yang banyak terjadi dikalangan
masyarakat Desa Bekonang. Hasil produksi “Ciu Bekonang” ini juga distribusikan ke
wilayah Surakarta dan sekitarnya (Surakarta, Boyolali, Klaten,Karanganyar, Sragen, dan
Sukoharjo) (Widodo, 2004).
Boyolali adalah salah satu wilayah pemasaran hasil dari produksi “Ciu Bekonang”,
sehingga keberadaan “Ciu Bekonang” di Boyolali secara tidak langsung menjadi salah
satu dari berbagai jenis minuman beralkohol yang dikonsumsi oleh masyarakat
pengkonsumsi minum-minuman beralkohol di wilayah Boyolali. Dampak dari hal
tersebut dapat digambarkan tentang gangguan kesehatan yang mungkin terkait dengan
minum minuman beralkohol di Kabupaten Boyolali, antara lain: jumlah kasus penyakit
jantung koroner sebanyak 1.112 kasus yang meliputi Angina pectoris (nyeri di dada)
sebanyak 250 kasus, Acute Miocard Infark (berhentinya otot jantung) sebanyak 45 kasus
dan dekompkordis (lemah jantung) sebanyak 817 kasus (Dinkes Boyolali, 2006).

3.3 FAKTOR RESIKO PENYAKIT TIDAK MENULAR ALKOHOL DI INDONESIA


Menurut Soetjiningsih (2004), faktor risiko yang menyebabkan penyalahgunaan
NAPZA antara lain faktor genetik, lingkungan keluarga, pergaulan (teman sebaya), dan
karakteristik individu.
1. Faktor Genetik
Risiko faktor genetik didukung oleh hasil penelitian bahwa remaja dari orang
tua kandung alkoholik mempunyai risiko 3-4 kali sebagai peminum alkohol
dibandingkan remaja dari orang tua angkat alkoholik. Penelitian lain membuktikan
12
remaja kembar monozigot mempunyai risiko alkoholik lebih besar dibandingkan
remaja kembar dizigot.
2. Lingkungan Keluarga
Pola asuh dalam keluarga sangat besar pengaruhnya terhadap penyalahgunaan
NAPZA.Pola asuh orang tua yang demokratis dan terbuka mempunyai risiko
penyalahgunaan NAPZA lebih rendah dibandingkan dengan pola asuh orang tua
dengan disiplin yang ketat.
Fakta berbicara bahwa tidak semua keluarga mampu menciptakan kebahagiaan
bagi semua anggotanya.Banyak keluarga mengalami problem-problem tertentu.Salah
satunya ketidakharmonisan hubungan keluarga.Banyak keluarga berantakan yang
ditandai oleh relasi orangtua yang tidak harmonis dan matinya komunikasi antara
mereka.
Ketidakharmonisan yang terus berlanjut sering berakibat perceraian.Kalau pun
keluarga ini tetap dipertahankan, maka yang ada sebetulnya adalah sebuah rumah
tangga yang tidak akrab dimana anggota keluarga tidak merasa betah.Orangtua sering
minggat dari rumah atau pergi pagi dan pulang hingga larut malam.Ke mana anak
harus berpaling?Kebanyakan diantara penyalahguna NAPZA mempunyai hubungan
yang biasa-biasa saja dengan orang tuanya.Mereka jarang menghabiskan waktu luang
dan bercanda dengan orang tuanya (Jehani, dkk, 2006).
3. Pergaulan (Teman Sebaya)
Di dalam mekanisme terjadinya penyalahgunaan NAPZA, teman kelompok
sebaya (peer group) mempunyai pengaruh yang dapat mendorong atau mencetuskan
penyalahgunaan NAPZA pada diri seseorang.Menurut Hawari (2006) perkenalan
pertama dengan NAPZA justru datangnya dari teman kelompok.Pengaruh teman
kelompok ini dapat menciptakan keterikatan dan kebersamaan, sehingga yang
bersangkutan sukar melepaskan diri.Pengaruh teman kelompok ini tidak hanya pada
saat perkenalan pertama dengan NAPZA, melainkan juga menyebabkan seseorang
tetap menyalahgunakan NAPZA, dan yang menyebabkan kekambuhan (relapse).
Bila hubungan orangtua dan anak tidak baik, maka anak akan terlepas ikatan
psikologisnya dengan orangtua dan anak akan mudah jatuh dalam pengaruh teman
kelompok. Berbagai cara teman kelompok ini memengaruhi si anak, misalnya dengan
cara membujuk, ditawari bahkan sampai dijebak dan seterusnya sehingga anak turut
menyalahgunakan NAPZA dan sukar melepaskan diri dari teman kelompoknya.

13
Marlatt dan Gordon (1980) dalam penelitiannya terhadap para penyalahguna
NAPZA yang kambuh, menyatakan bahwa mereka kembali kambuh karena ditawari
oleh teman-temannya yang masih menggunakan NAPZA (mereka kembali bertemu
dan bergaul).Kondisi pergaulan sosial dalam lingkungan yang seperti ini merupakan
kondisi yang dapatmenimbulkan kekambuhan.Proporsi pengaruh teman kelompok
sebagai penyebab kekambuhan dalam penelitian tersebut mencapai 34%.
4. Karakteristik Individu
a. Umur
Berdasarkan penelitian, kebanyakan penyalahguna NAPZA adalah mereka
yang termasuk kelompok remaja. Pada umur ini secara kejiwaan masih sangat
labil, mudah terpengaruh oleh lingkungan, dan sedang mencari identitas diri serta
senang memasuki kehidupan kelompok. Hasil temuan Tim Kelompok Kerja
Pemberantasan Penyalahgunaan Narkoba Departemen Pendidikan Nasional
menyatakan sebanyak 70% penyalahguna NAPZA di Indonesia adalah anak usia
sekolah (Jehani, dkk, 2006).
Hasil penelitian yang dilakukan oleh Siregar (2004) proporsi penyalahguna
NAPZA tertinggi pada kelompok umur 17-19 tahun (54%).
b. Pendidikan
Menurut Friedman (2005) belum ada hasil penelitian yang menyatakan
apakah pendidikan mempunyai risiko penyalahgunaan NAPZA. Akan tetapi,
pendidikan ada kaitannya dengan cara berfikir, kepemimpinan, pola asuh,
komunikasi, serta pengambilan keputusan dalam keluarga.
Hasil penelitian Prasetyaningsih (2003) menunjukkan bahwa pendidikan
penyalahguna NAPZA sebagian besar termasuk kategori tingkat pendidikan dasar
(50,7%). Asumsi umum bahwa semakin tinggi pendidikan, semakin mempunyai
wawasan/pengalaman yang luas dan cara berpikir serta bertindak yang lebih baik.
Pendidikan yang rendah memengaruhi tingkat pemahaman terhadap informasi
yang sangat penting tentang NAPZA dan segala dampak negatif yang dapat
ditimbulkannya, karena pendidikan rendah berakibat sulit untuk berkembang
menerima informasi baru serta mempunyai pola pikir yang sempit.
c. Pekerjaan
Hasil studi BNN dan Pusat Penelitian Kesehatan Universitas Indonesia
tahun 2009 di kalangan pekerja di Indonesia diperoleh data bahwa penyalahguna
NAPZA tertinggi pada karyawan swasta dengan prevalensi 68%, PNS/TNI/POLRI
14
dengan prevalensi 13%, dan karyawan BUMN dengan prevalensi 11% (BNN,
2010).

3.4 UPAYA PENCEGAHAN SESUAI TAHAP PENCEGAHAN PENYAKIT DAN


PENGENDALIANNYA
A. UPAYA PENCEGAHAN
1. Promosi kesehatan ( health promotion)
Dalam tingkat ini upaya yang dilaukan yaitu pelayanan terhadap pemeliharaan
kesehatan pada umumnya.Beberapa usaha di antaranya :
- Mendorong masyarakat khususnya para remaja agar memperoleh pendidikan
minimal 12 tahun atau hingga pendidikan tinggi untuk memperbaiki kualitas dan
kesejahteraan hidup
- Pendidikan kesehatan kepada masyarakat tentang alkohol dan bahaya yang
menyertainya
- Upaya peningkatan kesehatan jiwa agar tercapai perkembangan kepribadian yang
baik
2. Perlindungan khusus (specific protection)
Penderita alkoholisme menahun kerap kali menderita penyakit pencernaan yaitu,
radang lambung dan kerusakan usus dua belas jari (duodenitis), yang disebut juga
ulkus pepticum.Ulkus pepticum dapat menyebabkan kanker.Selain itu dapat
mengganggu jantung dan pembuluh darah.Pengambilan vitamin dari bahan
makanan berkurang, sehingga daya tahan tubuh berkurang.Akibatnya penderita
alkoholisme menahun ini mudah sekali terserang penyakit (Su’dan, 1997).Maka
upaya perlindungan spesifik dapat dilakukan dengan pemberian vitamin bagi
penderita.Sekaligus pendidikan tentang kesehatan yang berkelanjutan.
3. Diagnosis dini dan pengobatan segera (early diagnosis and prompt treatment)
Karena rendahnya pengetahuan dan kesadaran masyarakat terhadap kesehatan dan
penyakit, khususnya yang berkaitan dengan alkohol, maka sering sulit mendeteksi
penyakit-penyakit yang disebabkan oleh alkohol yang terjadi di masyarakat.Hal ini
dapat menyebabkan masyarakat tidak memperoleh pelayanan kesehatan yang
layak.Oleh sebab itu pendidikan kesehatan sangat diperlukan dalam tahap
ini.Adapun akibatpenyalahgunaan minuman keras yang mengandung alkohol yaitu:

15
a. Gangguan kesehatan fisik
Minuman keras dalam jumlah banyak menimbulkan kerusakan hati, jantung,
pankreas, lambung dan otot
b. Gangguan kesehatan jiwa
Menimbulkan kerusakan permanen dalam jaringan otak sehingga
menimbulkan gangguan daya ingat, kemampuan belajar dan gangguan jiwa
tertentu.
c. Gangguan fungsi sosial dan pekerjaan
Mudah tersinggung perhatian terhadap lingkungan, terganggu hilangnya daya
ingatan dan terganggunya kemampuan menilai mengakibatkan yang
bersangkutan dikeluarkan dari pekerjaan (Wresniwiro, 1999).

Tujuan utama dari usaha ini adalah :


1) Pengobatan yang setepat-tepatnya dan secepat-cepatnya dari setiap jenis penyakit yang
diakibatkan alkohol (hangguan kesehatan fisik maupun jiwa) sehingga tercapai
penyembuhan yang sempurna dan segera.
2) Mencegah terjadinya kecacatan yang diakibatkan penyakit.
Beberapa usaha deteksi dini di antaranya :
a) Mencari pecandu alkohol di dalam masyarakat dengan pemeriksaan kesehatan
langsung, baik fisik maupun jiwa
b) Mencari orang-orang yang berhubungan dengan pecandu alkohol untuk mengawasi
kemungkinan timbulnya penyakit agar dapat segera diberikan pengobatan dan
tindakan-tindakan lain yang perlu.
c) Pendidikan kesehatan kepada masyarakat agar mereka dapat mengenal gejala
penyakit pada tingkat awal dan segera mencari pengobatan. Masyarakat perlu
menyadari bahwa berhasil atau tindaknya usaha pengobatan, tidak hanya tergantung
pada baiknya jenis obat serta keahlian tenaga kesehatannya,melainkan juga tergantung
pada kapan pengobatan itu diberikan.
3) Pengobatan yang terlambat akan menyebabkan :
a) Usaha penyembuhan menjadi lebih sulit,bahkan mungkin tidak dapat sembuh lagi
b) Kemungkinan terjadinya kecacatan lebih besar.
c) Penderitaan si sakit menjadi lebih lama.
d) Biaya untuk perawatan dan pengobatan menjadi lebih besar.

16
4) Pembatasan cacat (disability limitation)
Oleh karena kurangnyaa pengertian dan kesadaran masyarakat tentang kesehatan dan
penyakit akibat alkohol, maka sering masyarakat tidak melanjutkan pengobatannya
sampai tuntas atau bahkan tidak peduli dengan pentingnya pengobatan. Dengan kata lain
mereka tidak melakukan pemeriksaan dan pengobatan yang komplit terhadap
penyakitnya. Pengobatan yang tidak layak dan sempurna dapat mengakibatkan orang
yang bersangkutan cacat atau ketidak mampuan.Oleh karena itu, pendidikan kesehatan
juga diperlukan pada tahap ini.
Penanganan secara tuntas utamanya dilakukan pada penyakit gangguan fisik dan jiwa.
5) Rehabilitasi (rehabilitation)
Rehabilitasi ini terdiri atas :
a. Rehabilitasi fisik
Rehabilitasi ini mengupayakan perbaikan fisik semaksimalnya, umumnya untuk
seseorang yang sembuh cacat dari suatu penyakit.Misalnya dengan latihan-latihan khusus
dan terapi medis.Termasuk membiasakan gaya dan pola hidup ke arah yang lebih sehat
dan menjauhi alkohol.
b. Rehabilitasi mental
Rehabilitasi mental bertujuan agar bekas penderita dapat menyesuaikan diri dalam
hubungan perorangan dan sosial secara memuaskan.Kegiatan yang dilakukan adalah
bimbingan kejiwaan sebelum kembali ke dalam masyarakat.Rehabilitasi ini biasanya
diwadahi oleh suatu lembaga rehabilitasi atau pemerintahan.Misalnya pada Badan
Narkotika Nasional (BNN).
c. Rehabilitasi sosial vokasional
Rehabilitasi ini bertujuan agar bekas penderita dapat menempati pekerjaan/jabatan dalam
masyarakat secara maksimal sesuai dengan kondisinya.Melalui rehabilitasi ini,
kemampuan bekas penderita/pecandu dapat bermanfaat secara optimal. Misalnya
mendorong bekas penderita/pecandu untuk aktif dalam kegiatan kemasyarakatan dan
organisasi sosial serta kegiatan yang produktif, bekerja maupun berwirausaha
Usaha mengembalikan bekas penderita ke dalam masyarakat,memerlukan bantuan
dan pengertian dari segenap anggota masyarakat untuk dapat mengerti dan memahami
keadaan mereka (fisik,mental dan kemampuannya) sehingga memudahkan mereka dalam
proses penyesuaian dirinya dalam masyarakat,dalam keadaannya yang sekarang.

17
B. UPAYA PENGENDALIAN
Pengendalian utamanya dilakukan oleh pemerintah melalui peraturan
perundang-undangan.Pengendalian dilakukan dengan mengatur dan mengawasi
produksi, peredaran, dan penjualan minuman beralkohol.

18
BAB IV
PENUTUP
4.1 KESIMPULAN
Hal lain yang perlu digarisbawahi adalah telaah berbagai hasil studi tentang
pemakai narkoba, yang mayoritas berasal dari kalangan remaja dan dewasa muda, dan
mereka mulai merokok di masa remaja. Pengakuan para pemakai narkoba ilisit di studi
tahun 2008 mengungkap bahwa rata-rata mereka mulai merokok di usia 14 tahun pada
laki-laki dan 15 tahun pada perempuan, dan dilanjutkan mengkonsumsi alkohol di sekitar
usia 15 tahun pada laki-laki dan 17 tahun pada perempuan, serta narkoba ilisit lain di usia
rata-rata 16 tahun pada laki-laki dan 17 tahun juga pada perempuan (Sabarinah, 2009).
Kemungkinan untuk berlanjut memakai narkoba ilisit lain (termasuk alkohol) setelah
merokok juga telah dilaporkan oleh Ismail (2006), di mana besarnya risiko untuk
memakai narkoba bila remaja merokok adalah empat kali dibandingkan bila remaja tidak
merokok. Beberapa studi menemukan pula bahwa mengkonsumsi rokok bersamaan
dengan zat adiktif lain ternyata akan memperlama pemakaian narkoba (Rohsenow et al.,
2005; Bechtholt dan Mark, 2002). Penelitian pada tikus percobaan yang dilakukan oleh
Bechtholt dan Mark (2002) mendukung hal tersebut di mana ditemukan bahwa nikotin
(dalam rokok) akan meningkatkan pemakaian kokain. Selain itu Doweiko (2002)
berpendapat bahwa pemakaian zat lebih dari satu macam, terutama zat yang bekerja
dengan mekanisme yang hampir sama, dapat menyebabkan toleransi silang (cross
tolerance) yaitu kebutuhan zat berdosis lebih tinggi untuk mendapatkan efek yang sama.
Jadi merokok kemungkinan dapat menjadi salah satu faktor penyulit berhentinya
pemakaian narkoba ilisit.Upaya menanggulangi permasalahan pemakaian zat
adiktif/narkoba ditujukan sesuai dengan tahapan kontinum pemakaian zat itu sendiri.
Terdapat konsep pencegahan, mulai dari primer, sekunder dan tersier yang dapat
diterapkan pada penyakit ini (Hamilton, King dan Ritter, 2004).

19
DAFTAR PUSTAKA

Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 74 Tahun 2013 Tentang Pengendalian dan
Pengawasan Minuman Beralkohol
Sriyani.2008. Tinjauan Perilaku Minum Minuman Beralkohol dan Gangguan Kondisi
Kesehatan pada Pemuda di Desa Kiringan Boyolali. Fakultas Kesehatan Masyarakat,
Universitas Muhammadiyah Surakarta.
Teguh. (n.d). Pengertian Zat Adiktif (online), diambil dari
https://www.scribd.com/doc/17633440/Pengertian-Zat-Adiktif, tanggal 7 Mei 2017.

20