Anda di halaman 1dari 30

CASE REPORT

KARSINOMA TIROID

DISUSUN OLEH

Kharisa Hana Hapsari


030.13.108

PEMBIMBING
Dr. Hengky Setyahadi, Sp.B

KEPANITERAAN KLINIK ILMU BEDAH


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TRISAKTI
RUMAH SAKIT TNI AL DR. MINTOHARDJO
MEI 2017

LEMBAR PENGESAHAN

1
LAPORAN KASUS

KARSINOMA TIROID

Diajukan untuk memenuhi syarat kepaniteraan klinik Ilmu bedah

Periode 8 Mei 2017 – 21 Juli 2017

Di Rumah Sakit Angkatan Laut Dr. Mintohardjo

Disusun oleh :

Kharisa Hana Hapsari

030.13.108

Telah diterima dan disetujui oleh Dr. Hengky Setyahadi, Sp.B, selaku dokter pembimbing

Departemen Ilmu Bedah RS AL dr. Mintohardjo

Jakarta, 2017

.................................................................

Dr. Hengky Setyahadi, Sp.B

DAFTAR ISI
Lembar Pengesahan............................................................................................... 2

2
Daftar isi…………………………………………………………………………. 3
Bab I Pendahuluan…………………………………………………………....... 4
Bab II Laporan kasus………………………………………….………………..... 6
1.1 Anamnesis............................................................................................. 6
1.2 Pemeriksaan Fisik.............................................................................. 7
1.3 Pemeriksaan Penunjang....................................................................... 9
1.4 Resume................................................................................................ 11
1.5 Diagnosa Kerja.................................................................................... 11
1.6 Diagnosa Banding................................................................................ 11
1.7 Penatalaksanaan................................................................................... 12
1.8 Follow Up Post Up................................................................................ 12
1.9 Prognosis................................................................................................ 13
Bab III Tinjauan pustaka…………………………………………………………. 14
1.1 Definisi................................................................................................... 14
1.2 Embriologi ……………………………………………………………. 14
1.3 Anatomi ……………………………………………………………..... 15
1.4 Fisiologi...............................…………………………………………... 16
1.5 Etiologi dan faktor risiko…………………………………………........ 17
1.6 Klasifikasi karsinoma tiroid…………………………………………... 18
1.7 Staging karsinoma tiroid …………………………………………...... 19
1.8 Pemeriksaan ………………………………………………………… 20
1.9 Penatalaksaan........................................................................................ 24
1.20 Faktor risiko prognostik..................................................................... 27
Bab IV Kesimpulan……………………………………………………………… 30
Daftar Pustaka …………………………………………………………………… 31

BAB I
PENDAHULUAN
Tiroid merupakan kelenjar endokrin terbesar dalam tubuh manusia yang terletak pada
bagian depan leher yang terdiri atas dua bagian yaitu, lobus kanan dan lobus kiri. Panjang
kedua lobus masing-masing 5 cm dan menyatu di garis tengah yang dihubungkan oleh ismus,

3
sehingga kelenjar tiroid berbentuk seperti kupu-kupu. Kelenjar tiroid menghasilkan hormon
tiroid yaitu tiroksin (T4) dan triiodothyronine (T3) yang sangat diperlukan untuk kegiatan
metabolisme. Hormon ini mempengaruhi matabolisme karbohidrat, lemak, protein, maupun
vitamin.1
Karsinoma tiroid merupakan neoplasma yang menyerang kelenjar tiroid. Kelenjar
tiroid termasuk bagian tubuh yang jarang mengalami keganasan, terjadi 0.8% dan 2.5% dari
seluruh keganasan pada pada pria dan wanita. Tetapi diantara kelenjar endokrin, keganasan
tiroid termasuk jenis keganasan kelenjar endokrin yang paling sering ditemukan.2
Angka kejadian karsinoma tiroid menurut data American Cancer Society diperkirakan
mencapai 44.670 kasus baru pada tahun 2010.3 Dan data terbaru dari penderita kanker tiroid
di Amerika Serikat pada tahun 2014 berjumlah 62.980 kasus baru dan terdapat 1.890
kematian diakibatkan karena kanker tiroid. 4 Di Indonesia dari registrasi Perhimpunan Dokter
Spesialis Patologi Indonesia didapatkan kanker tiroid menempati urutan ke 9 dari 10 kanker
terbanyak (4,43%).5
Terdapat dua klasifikasi tipe kanker tiroid berdasarkan tingkat keganasannya yaitu
jinak dan ganas. Kanker tiroid yang jinak tidak akan mengganggu aktivitas maupun fungsi
bagian tubuh lainya, sedangkan pada kanker tiroid yang ganas sel kanker tersebut akan
mengganggu fungsi tubuh dan akan menyebar keseluruh tubuh secara sporadik sehingga
dapat menyebabkan kematian.7 Sifat kanker tiroid pada umumnya berupa nodul tunggal,
keras, tidak rata, sedangkan fungsinya akan menjadi kurang baik jika dibandingkan dengan
fungsi jaringan tiroid sekitarnya.2
Secara klinis, antara nodul tiroid yang ganas dengan jinak sering sulit dibedakan.
Nodul tiroid baru dapat dibedakan setelah didapatkan hasil evaluasi sitologi preparat biopsy
atau histopatologi dari jaringan kelenjar tiroid yang diambil saat operasi. Tampilan klinis
karsinoma tiroid pada sebagian kasus umumnya ringan. Pada nodul tiroid yang ganas, bisa
saja nodul tiroid tersebut baru muncul dalam beberapa bulan terakhir, tetapi dapat pula sudah
mengalami pembesaran kelenjar tiroid berpuluh tahun lamanya serta memberikan gejala
klinis yang ringan saja, kecuali jenis karsinoma tiroid anaplastik yang perkembangannya
sangat cepat dengan prognosis buruk.2
Penegakkan diagnosis penting dilakukan untuk meningkatkan kualitas hidup
penderita. Selain itu, diagnosis klinis merupakan dasar dalam menentukan penatalaksanaan
selanjutnya, sehingga diperlukan pengetahuan dan ketrampilan dalam menentukan diagnosis
suatu penyakit. Penanganan pertama untuk suatu keganasan adalah kesempatan terbaik untuk
pasien mencapai tingkat kesembuhan optimal, demikian pula halnya untuk keganasan tiroid.

4
BAB II
LAPORAN KASUS
1.1. Anamnesis
Anamnesis dilakukan pada tanggal 6 Juni 2017 jam 15.00 WIB di bangsal Salawati RSAL dr.
Mintohardjo.

5
1.1.1. Identitas Penderita
Nama : Tn. A
Tanggal lahi : 8 November 1954
Umur : 62 tahun
Jenis Kelamin : Laki-laki
Pendidikan : SD
Pekerjaan : Petugas kebersihan
Agama : Islam
Alamat : Jl. Gang BB 11/104 RT.007 RW.005 kel. Tegal Parang, Kec.
Mampang Prapatan Jakarta Selatan
Status Perkawinan : Menikah
Tanggal Masuk : 5 Juni 2017
No.RM : 179347

1.1.2. Keluhan Utama


Terdapat benjolan di leher sejak kurang lebih 5 tahun SMRS.

1.1.3. Riwayat Penyakit Sekarang


Pasien datang ke poliklinik RSAL Dr. Mintohardjo dengan keluhan terdapat benjolan
di leher sejak kurang lebih 5 tahun SMRS. Ukuran benjolan awalnya kecil, pasien
mengatakan sempat berobat ke puskesmas dan benjolan sempat menghilang. Namun, kurang
lebih 3 bulan yang lalu benjolan tersebut muncul kembali dengan ukuran yang semakin lama
semakin membesar. Benjolan teraba keras dan terasa nyeri yang menjalar hingga ke belakang
telinga kanan dengan sifat nyeri seperti ditusuk-tusuk dan hilang timbul. Pasien juga
mengeluh susah untuk menolehkan kepalanya baik ke kanan maupun ke kiri. Selain itu pasien
juga merasa susah untuk menelan dan suara serak. Terdapat penurunan berat badan secara
drastis dalam waktu 3 bulan terakhir ini. Tidak terdapat keluhan batuk, pilek, sesak nafas,
jantung berdebar-debar, serta tidak terdapat keluhan pada BAK dan BAB.

1.1.4. Riwayat Penyakit Dahulu


Riwayat Hipertensi : disangkal
Riwayat DM : disangkal
Riwayat Penyakit Jantung : disangkal

6
Riwayat Asma : disangkal
Riwayat Penyakit ginjal : positif
Riwayat maag : positif
Riwayat Alergi : disangkal

1.1.5. Riwayat Penyakit Keluarga


Riwayat Hipertensi : disangkal
Riwayat DM : disangkal
Riwayat Penyakit Jantung : disangkal
Riwayat Asma : disangkal
Riwayat Alergi : disangkal

1.1.6. Riwayat Kebiasaan


Merokok : positif (2 bungkus/hari sudah 30 tahun lamanya)
Alkohol : disangkal
Konsumsi makanan berpengawet : positif (sering mengonsumsi mie instan)

1.2. Pemeriksaan Fisik


1. Status Generalis

Keadaan Umum : Tampak sakit sedang


Kesadaran : Compos mentis
Status gizi : Cukup (BB/TB 69kg/168cm)
Tanda vital : Tekanan darah: 120/80mmHg
Nadi: 62 x/menit
Respirasi: 20 x/menit
Suhu: 36,3 °C
Saturasi oksigen: 98%

Kepala dan wajah Rambut Distribusi rambut merata, dan tidak mudah dicabut
Kulit Lesi (-), rash (-), deformitas (-), sianotik (-), ikterik
(-).
Mata Konjungtiva tidak anemis, ptosis (-), sclera ikterik (-), mata
cekung (-), pupil bulat, isokor, diameter 3mm/3mm, refleks pupil
langsung dan tidak langsung (+/+).

7
Hidung Bentuk dan ukuran normal, deviasi (-), septum nasal normal
berada di tengah, mukosa hiperemis (-), benda asing (-), secret
(-), deformitas (-).
Telinga Kedua telinga tampak simetris, serumen (+), hiperemis (-), liang
telinga lapang, deformitas (-), nyeri tekan (-) benda asing (-).
Mulut Sianosis (-) deviasi lidah (-), atrofi lidah (-) lidah kotor (-).
Mukosa mulut tidak hiperemis.
Faring normal tidak hiperemis, letak uvula di tengah. Tonsil
normal, T1/T1.
Leher Pembesaran tiroid (+), pembesaran KGB leher dan
supraklavikular (+), pembesaran kelenjar parotis (-) keras (+),
hangat (+), hiperemis (+) mobile (-).
Thorax
Jantung Inspeksi Ictus Cordis tidak terlihat
Palpasi Ictus cordis (+) pada ICS V linea midclavicular
sinistra
Perkusi Batas jantung kanan : ICS III - V , linea sternalis
dextra
Batas jantung kiri : ICS V , 1 cm medial dari
linea midklavikularis sinistra
Batas atas jantung : ICS II linea sternalis sinistra
Auskultasi S1 S2 regular, murmur (-), gallop (-).
Paru Inspeksi Gerakan napas simetris tanpa adanya bagian
yang tertinggal, lesi (-), pernapasan
abdominothoracal, retraksi (-).
Palpasi Gerak simetris, vocal fremitus sama kuat pada
kedua hemithorax
Perkusi Sonor pada kedua hemithorax, batas paru-hepar
pada sela iga VI pada linea midklavikularis
dextra, dengan peranjakan 2 jari pemeriksa,
batas paru-lambung pada sela iga ke VIII pada
linea axilatis anterior sinistra
Auskultasi Vesikuler +/+, Ronki -/-, Wheezing -/-
Abdomen Inspeksi Smiling Umbilicus (-) caput medusae (-), spider
navy (-).
Auskultasi Bising usus normal (2x/menit)
Palpasi Supel, hepar dan lien tidak teraba, tidak terdapat
nyeri tekan dan tidak ada undulasi
Perkusi Timpani di seluruh lapang abdomen

8
Ekstremitas Akral hangat di ke empat ekstremitas, sianotis (-), ikterik (-),
deformitas (-), edema (-), CRT normal (<2 detik).

2. Status lokalis
 Regio coli anterior
 Inspeksi : Tampak benjolan pada leher kanan dan kiri, warna kulit
hiperemis
 Palpasi : Teraba benjolan dengan ukuran kurang lebih 3x2 cm,
konsistensi keras, permukaan berbenjol-benjol, batas tegas, nyeri (-), mobile
(-) benjolan ikut bergerak saat menelan. Terdapat pembesaran KGB di
sekitarnya.

1.3. Pemeriksaan Penunjang


 Laboratorium Darah tanggal 24 Mei 2017 :

Hemoglobin : 10.3 gr/dl


Hematokrit : 33 %
Leukosit : 5.000 / uL
Trombosit : 243.000 / uL
GDS : 119 mg/dL
Massa perdarahan : 2’00”
Massa pembekuan : 10’00”
SGPT : 16 U/l
Ureum : 86 mg/dL
Kreatinin : 3.8 mg/dL

 USG Tiroid tanggal 25 Mei 2017 :


Thyroid dextra : tampak membesar dengan ukuran 2.29 x 2.79 cm
Thyroid sinistra : tampak membesar dengan ukuran 2.35 x 2.61 cm
Struktur permukaan kedua thyroid tampak heteroechoik
Bentuk kedua thyroid bulat dengan tepi yang irregular
Pada cervical kanan dan kiri : tampak multiple nodul pada cervical dextra dengan
diameter 2.42 ; 0.78 cm dan pada cervical sinistra multiple nodul dengan diameter 1.33 ;
1.49 dan 1.46 cm
Kesan : massa padat kedua thyroid dan pembesaran KGB cervical dextra dan sinistra

9
Saran : bila perlu CT Scan Nasopharyng.

 Laboratorium Histopatologi tanggal 8 Juni 2017


Diagnosis : Ca Thyroid.
Makroskopik : dua jaringan coklat muda kenyal, ukuran : @ ± 4 x 3 x3 cm
Mikroskopik : potongan jaringan menunjukan proliferasi folikel-folikel besar kecil
dilapisi epitel kuboid selapis sampai berlapis berisi massa kuboid diantaranya tampak
kelompok-kelompok folikel dengan dilapisi sel-sel bulat oval inti pleomorfik
hiperkromatik, vesicular membentuk struktur “Ground Glass Appearance” dan nuclear
Grove disertai klasifikasi struma jaringan ikat fibrous sembab hiperemis bersebukan
limfosit histiosit.
Kesimpulan: Papillary Thyroid Carcinoma.

1.4. Resume

10
Pasien datang ke poliklinik RSAL Dr. Mintohardjo dengan keluhan terdapat benjolan
di leher sejak kurang lebih 5 tahun SMRS. Ukuran benjolan awalnya kecil, pasien
mengatakan sempat berobat ke puskesmas dan benjolan sempat menghilang. Namun, kurang
lebih 3 bulan yang lalu benjolan tersebut muncul kembali dengan ukuran yang semakin lama
semakin membesar. Benjolan teraba keras dan terasa nyeri yang menjalar hingga ke belakang
telinga kanan dengan sifat nyeri seperti ditusuk-tusuk dan hilang timbul. Pasien juga
mengeluh susah untuk menolehkan kepalanya baik ke kanan maupun ke kiri. Selain itu pasien
juga merasa susah untuk menelan dan suara serak. Terdapat penurunan berat badan secara
drastis dalam waktu 3 bulan terakhir ini. Tidak terdapat keluhan batuk, pilek, sesak nafas,
jantung berdebar-debar, serta tidak terdapat keluhan pada BAK dan BAB. Tanda vital dan
pemeriksaan fisik generalisata dalam batas normal. Pemeriksaan status lokalis ditemukan
adanya massa pada leher kanan dan kiri, warna kulit hiperemis, dengan konsistensi keras,
permukaan berbenjol-benjol, batas tegas, nyeri (-), mobile (-) benjolan ikut bergerak saat
menelan. Terdapat pembesaran KGB di sekitarnya.

1.5. Diagnosis
- Tumor tiroid curiga ganas

1.6. Diagnosis Banding


 Struma nodusa non toksik
 Limfoma malignum
 Tiroiditis subakut

1.7. Penatalaksanaan
a) Non-operatif
 IVFD Ringer Laktat 14 tetes per menit
 Inj. Ketorolac 3x1 ampul
 Inj. Ceftriaxon 2x1 gram

b)Operatif
 Total thyroidectomy

Laporan Operasi :
 Pasien telentang dalam GA
 Lakukan tindakan asepsis dan antisepsis
 Pasang duk steril pada daerah operasi
 Insisi collar dua jari di atas jugulum
 Idenditikasi tumor
 Dilakukan total tiroidektomi
 Dilakukan pengangkatan seluruh jaringan tiroid → PA
 Cuci NaCl + betadine
 Tutup luka operasi
 Operasi selesai

11
1.8. Follow UP

7 Juni 2017 8 Juni 2017


 post op hari pertama
 post op hari kedua
 nyeri luka operasi
 nyeri luka operasi
S  sesak napas post operasi
 sesak napas
 gelisah
 rasa tidak nyaman dari drain tiroid
 sulit tidur
KU : CM / TSS KU : CM / TSS
TD : 110/80 mmHg
TD : 90/70 mmHg
N : 106x/menit
N : 100 x / menit
RR : 24x/menit
RR : 26 x/menit
S : 36,6 oC
S : 36,80C
Status generalis : dalam batas normal
Status generalis : dalam batas
Status Lokalis :
O normal
regio colli
Status lokalis : regio colli
 luka operasi tertutup oleh perban dan
 luka operasi tertutup oleh
tidak tampak rembesan darah
perban dan tidak tampak
rembesan darah

Post operasi total tiroidektomi


A Post operasi total tiroidektomi hari kedua
hari pertama
 IVFD RL 14 tpm
 Inj. Ceftriaxone 2x1 gram
 IVFD RL 14 tpm  Inj. Omeprazole 2x1 amp (k/p)
 Inj. Ceftriaxone 2x1  Inj. Tramadol 2x50 mg
P
gram  Inj. Lasix 2x1 amp.
 Inj. Ketorolac 3x1 amp  Asam folat 3x1
 CaCo3 3x1
 Bicnat 3x1

1.9. Prognosis
Ad vitam : dubia ad bonam
Ad sanatioanm : dubia ad bonam
Ad fungsionam : ad malam

12
BAB III

TINJAUAN PUSTAKA

1.1. Definisi
Kanker tiroid adalah suatu keganasan pada tiroid yang timbul dari sel folikel.
Kebanyakan keganasan dikelompokkan sebagai jenis karsinoma tiroid terdiferensiasi, yang
manifest sebagai bentuk papiler, follikuler, atau campuran.

1.2. Embriologi
Kelenjar tiroid adalah kelenjar endokrin yang pertama kali tampak pada fetus, tonjolan
kelenjar ini berkembang sejak minggu ke-3 sampai minggu ke-4 dan berasal dari penebalan
entoderm dasar faring, yang kemudian perkembangannya akan memanjang ke kaudal dan
disebut divertikulum tiroid. Akibat bertambah panjangnya embrio dan pertumbuhan lidah
maka divertikulum ini akan mengalami desensus sehingga berada dibagian depan leher dan
bakal faring. Divertikulum ini dihubungkan dengan lidah oleh suatu saluran yang sempit
yaitu duktus tiroglosus yang muaranya pada lidah yaitu foramen cecum. Divertikulum ini
berkembang cepat membentuk 2 lobus yang tumbuh ke lateral sehingga terbentuk kelenjar
tiroid yang terdiri dari 2 lobus lateralis dengan bagian tengahnya disebut ismus. Pada minggu
ke-7 perkembangan embrional kelenjar tiroid ini mencapai posisinya yang terakhir pada
ventral dari trakea yaitu setinggi vertebra servikalis V, VI, VII dan vertebra torakalis I, dan
secara bersamaan duktus tiroglosus akan hilang. Perkembangan selanjutnya tiroid bergabung
dengan jaringan ultimobranchial body yang berasal dari branchial pouch V, dan membentuk
C-cell atau sel parafolikuler dari kelenjar tiroid. Pada akhir minggu ke 7 – 10 kelenjar tiroid

13
sudah mulai berfungsi, folikel pertama akan terisi koloid. Sejak saat itu fetus mulai
mensekresikan Thyrotropin Stimulating Hormone (TSH), dan sel parafolikuler pada fetus
sementara belum aktif.3

1.3. Anatomi Tiroid


Kelenjar tiroid terdiri dari dua lobus, yaitu lobus dextra dan lobus sinistra yang
dihubungkan dengan isthmus yang terletak di bagian tengah. Kadang- kadang dapat
ditemukan bagian keempat yaitu lobus piramidalis yang letaknya di atas isthmus agak ke kiri
dari garis tengah. Lobus ini merupakan sisa jaringan embrional tiroid yang masih tertinggal.3

Kelenjar tiroid mempunyai berat sekitar 25 – 30 gram dan terletak antara tiroidea dan
cincin trakea keenam. Seluruh jaringan tiroid dibungkus oleh suatu lapisan yang disebut true
capsule.

Vaskularisasi kelenjar tiroid berasal dari :

. 1) A. Tiroidea superior yang merupakan cabang dari A. Carotis Externa

2) A. Tiroidea Inferior yang merupakan cabang dari A. Subclavia

14
3) A. Tiroidea Ima yang merupakan cabang dari Arcus Aorta

Saraf yang melewati tiroid adalah Nervus Rekurens. Saraf ini terletak di dorsal tiroid
sebelum masuk ke laring.3

1.4. Fisiologi Tiroid


Kelenjar tiroid merupakan suatu kelenjar endokrin yang mensekresikan hormon
Tiroksin atau T4, triiodotironin atau T3 dan kalsitonin. Di dalam darah sebagian besar T3 dan
T4 terikat oleh protein plasma yaitu albumin, Thyroxin Binding Pre Albumin (TBPA) dan
Thyroxin Binding Globulin (TGB). Sebagian kecil T3 dan T4 bebas beredar dalam darah dan
berperan dalam mengatur sekresi TSH. Hormon tiroid dikendalikan oleh thyroid-stimulating
hormone ( TSH ) yang dihasilkan lobus anterior glandula hypofise dan pelepasannya

15
dipengaruhi oleh thyrotropine-releasing hormone ( TRH ). Kelenjar thyroid juga
mengeluarkan calcitonin dari parafolicular cell, yang dapat menurunkan kalsium serum
berpengaruh pada tulang.4

Fungsi hormon tiroid antara lain :

1) meningkatkan kecepatan metabolisme

2) efek kardiogenik

3) simpatogenik

4) pertumbuhan dan sistem saraf

1.5. Etiologi dan Faktor Risiko


Penyebab terjadinya karsinoma tiroid sampai saat ini masih belum dapat diketahui secara
pasti. Namun terdapat beberapa faktor risiko yang dipercaya dapat memengaruhi terjadinya
karsinoma tiroid, antara lain:
1. Radiasi ionisasi
Paparan radiasi merupakan faktor risiko bagi timbulnya nodul tiroid bersifat jinak
maupun ganas. Penelitian menunjukkan pada populasi terpapar faktor karsinogen seperti
sinar X dan radiasi sinar Y, insiden karsinoma papilar dan folikuler tiroid lebih tinggi.

16
2. Genetik dan Onkogen
Sebagian karsinoma medular tiroid bersifat herediter familial. Timbulnya karsinoma
medular tiroid familial berkaitan dengan mutasi gen RET pada kromosom nomor 10. Lebih
dari 95% penderita karsinoma medular tiroid familial memiliki mutasi titik proto-onkogen
RET. Penelitian menunjukkan delesi atau rearansemen gen pada lengan pendek kromosom
nomor 3 merupakan defek genetik molekular yang sering ditemukan pada karsinoma
folikular tiroid. Protein fusi hasil rearansemen, hibridisasi gen RET dan gen PAX-PPARY
mungkin berperan dalam timbulnya dan perkembangan karsinoma tiroid.
3. Faktor diet
Defisiensi iodium selama ini dianggap berkaitan dengan timbulnya tumor tiroid
termasuk karsinoma tiroid. Di daerah pegunungan yang defisiensi berat iodium, insiden
karsinoma tiroid relatif tinggi. Tetapi berdasarkan data epidemiologis menunjukkan,
meskipun di daerah pesisir yang kaya iodium karsinoma tiroid juga relatif sering terjadi. Dua
tipe utama karsinoma tiroid (tipe papilar dan tipe folikular) secara terpisah juga dipercaya
berkaitan dengan diet kaya iodium dan miskin iodium.
4. Lesi jinak tiroid
Penyakit hyperplasia jinak tiroid,seperti struma nodusa dan adenoma tiroid, dapat
bertransformasi menjadi karsinoma. Transformasi ganas adenoma berhubungan dengan tipe
patologik, adenoma folikular tipe embrional dan tipe fetal lebih mudah menjadi ganas.

1.6. Klasifikasi Karsinoma Tiroid


a. Tumor berasal dari sel folikulare dan sel C
 Sarkoma
 Limfoma malignum (dan neoplasma hematopoetik yang berhubungan)
 Neoplasma miselaneus

Karsinoma Tiroid Karsinoma Tiroid Karsinoma Tiroid Karsinoma


Papiler Folikuler Medulare Anaplastik
 Tumbuh  Tumbuh  Berasal dari sel  Tumbuh cepat
lambat lambat parafolikuler
 Diferensiasi  Diferensiasi  Terdiri dari amiloid  Invasi ke struktur
baik baik sekitar (muskulus,
trakea, dan
vaskuler)

17
 Metastasis  Metastasis  Bersifat padat,  Banyak
secara secara keras, dan nodular mengalami
limfogen hematogen mitosis dan
(paling sering metastasis jauh
ke tulang dan  Terjadi bersama  Terapi kombinasi
paru gannguan radiasi,
hormonal kemoterapi dan
(feokromositomaI operatif tidak
memberikan hasil
yang baik

Adapun penggolongan klasifikasi karsinoma tiroid berdasarkan tingkat keganasannya


yang dibagi menjadi 3 kategori yaitu:
a. Tingkat keganasan rendah: karsinoma papilare dan karsinoma folikular (dengan invasi
minimal)
b. Tingkat keganasan menengah: karsinoma folikulare (dengan invasi luas), karsinoma
medullare, limfoma maligna, karsinoma tiroid berdiferensiasi buruk
c. Tingkat keganasan tinggi: karsinoma tidak berdiferensiasi, haemangioendothelioma
maligna (angiosarcoma)

1.7. Staging Karsinoma Tiroid

T N M
(Tumor Primer) (Nodus limfe regional) (Metastasis)
Tx : Tumor primer tidak dapat Nx : Kelenjar getah bening tidak Mx : Metastasis jauh
dinilai dapat dinilai belum dapat dinilai
T0 : Tidak terbukti adanya N0 : Tidak terdapat metastasis M0 : Tidak terdapat
tumor primer ke kelenjar getah bening metastasis jauh
T1 : Tumor dengan ukuran < 1 N1 : Terdapat metastasis ke M1 : Terdapat metastasis
cm masih terbatas pada tiroid kelenjar getah bening jauh
T2 : Tumor dengan ukuran > 1 N1a : Metastasis ke kelenjar
cm tertapi < 4 cm masih getah bening cervical ipsilateral
terbatas pada tiroid
T3 : Tumor dengan ukuran > 4 N1b : Metastasis ke kelenjar
cm masih terbatas pada tiroid getah bening cervical bilateral,
midline, contralateral, atau
kelenjar getah bening
mediastinal

18
T4 : Tumor dengan ukuran
berapapun yang terlah
berekstensi keluar kapsul tiroid

Karsinoma Tiroid Papiler atau Folikuler


Usia < 45 tahun Usia > 45 tahun
Stadium I T apapun, N apapun, M0 T1, N0, M0
Stadium II T apapun, N apapun, M1 T2, atau T3, N0, M0
Stadium III - T4, N0, M0
T apapun, N1, M0
Stadium IV T apapun, N apapun, M1

Karsinoma Tiroid Anaplastik


Stadium IV Semua kasus termasuk kedalam stadium IV

Karsinoma Tiroid Medular


Stadium I T1, N0, M0
Stadium II T2, T4, N0, M0
Stadium III T apapun, N1, M0
Stadium IV T apapun, N apapun, M1

1.8. Pemeriksaan
 Anamnesis
Sebagian besar keganasan tiroid tidak memberikan gejala yang berat, kecuali
keganasan jenis anaplastik yang sangat cepat membesar bahkan dalam hitungan minggu.
Sebagian kecil pasien, khususnya pasien dengan nodul tiroid yang besar, mengeluh adanya
gejala penekanan pada esofagus dan trakea. Biasanya nodul tiroid tidak disertai rasa nyeri,
kecuali timbul perdarahan ke dalam nodul atau bila kelainannya tiroiditis akut atau subakut.
Keluhan lain pada keganasan yang mungkin ada ialah suara serak dan gangguan menelan.5
Selain itu, menanyakan asal dan tempat tinggal pasien juga penting untuk diketahui,
penderita karsinoma tiroid sering terjadi atau diketemukan di daerah pegunungan di mana
makanan yang dikonsumsi sangat tergantung pada produksi pangan setempat pada kondisi
tanah yang miskin yodium. Hal ini diduga karena lapisan paling atas dari tanah pada dataran
tinggi atau pegunungan yang mengandung yodium terkikis dari waktu ke waktu, sebaliknya
tanah di dataran rendah kemungkinan terkikis lebih kecil sehingga diduga kandungan yodium
masih normal. Pola konsumsi masyarakat juga berhubungan dengan banyaknya kejadian
tiroid di daerah pegunungan. Bahan pokok pembuat hormon tiroid adalah yodium yang

19
terdapat di alam, terutama dari bahan makanan dari laut seperti rumput laut, ganggang laut,
ikan laut dan sebagainya. Masyarakat yang tinggal di daerah pegunungan biasanya kurang
mengonsumsi makanan yang tinggi yodium dikarenakan letak tempat tinggal mereka yang
jauh dari pantai.5
Dalam hal riwayat kesehatan, banyak faktor yang perlu ditanyakan terutama
mengarah kepada ganas atau tidak penyakit itu. Seperti misalnya usia pasien saat pertama kali
nodul tiroid ditemukan, riwayat radiasi pengion saat usia anak-anak, jenis kelamin pria,
meskipun prevalensi nodul tiroid lebih rendah, tetapi kecenderungannya menjadi ganas lebih
tinggi dibandingkan pada wanita. Respons terhadap pengobatan dengan hormon tiroid juga
dapat digunakan sebagai petunjuk dalam evaluasi nodul tiroid. Riwayat karsinoma tiroid
medulare dalam keluarga, penting untuk evaluasi nodul tiroid kearah ganas atau jinak.5

 Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan fisik diarahkan pada kemungkinan adanya keganasan tiroid melalui
pemeriksaan fisik pada tiroid. Inspeksi pada tiroid akan didapatkan pembengkakan atau nodul
pada leher bagian depan dimana lokasi pembengkakkannya dapat terjadi pada lobus kanan,
kiri, ataupun ismus. Ukurannya bisa besar atau kecil dengan permukaan rata atau berbenjol-
benjol dan bentuknya dapat berupa difus atau noduler.
Dilanjutkan dengan teknik palpasi dimana posisi pasien duduk, sementara pemeriksa
berada di belakang pasien untuk meraba kelenjar tiroid dengan dua tangan. Mintalah pasien
untuk menelan. Hal yang dinilai meliputi ukuran kelenjar tiroid, batas tiroid, konsistensi,
suhu, permukaan rata atau berbenjol-benjol, ada atau tidaknya nyeri tekan, ikut gerakan
menelan atau tidak, dan pembesaran kelenjar limfe sekitar. Tumor biasanya dapat dilihat dan
dipalpasi dengan mudah. Yang khas untuk tumor tiroid adalah tumor ikut dengan gerakan
menelan. Akan tetapi, pada stadium yang telah lanjut dan telah berinfiltrasi ke jaringan
sekitar seperti karsinoma, tiroid menjadi terfiksasi dan sering kali tidak lagi bergerak pada
waktu menelan.6
 Pemeriksaan penunjang
1. Pemeriksaan Laboratorium
Keganasan tiroid bisa terjadi pada keadaan fungsi tiroid yang normal, hiper maupun
hipotiroid. Oleh karena itu perlu diingat bahwa abnormalitas fungsi tiroid tidak dengan
sendirinya menghilangkan kemungkinan keganasan.
Pemeriksaan kadar tiroglobulin serum untuk keganasan tiroid cukup sensitif tetapi
tidak spesifik, karena peningkatan kadar tiroglobulin juga ditemukan pada tiroiditis , penyakit

20
graves dan adenoma tiroid. Pemeriksaan kadar tiroglobulin sangat baik untuk monitor
kekambuhan karsinoma tiroid pasca terapi, kecuali pada karsinoma tiroid medulare dan
anaplastik, karena sel karsinoma anaplastik tidak mensekresi tiroglobulin. Pada pasien
dengan riwayat keluarga karsinoma tiroid medullare, tes genetik dan pemeriksaan kadar
kalsitonin perlu dikerjakan. Bila tidak ada kecurigaan ke arah karsinoma tiroid medullare atau
neoplasia endokrin multipel 2, pemeriksaan kadar kalsitonin tidak dianjurkan sebagai
pemeriksaan rutin. Pemeriksaan imunohistokimia biasanya juga tidak dapat membedakan lesi
jinak dari lesi ganas.
2. Pemeriksaan Ultrasonografi (USG)
Mencakup USG biasa dan dopler warna, USG merupakan cara cukup sensitif untuk
memeriksa ukuran dan jumlah tumor tiroid, dapat menunjukkan ada tidaknya tumor , sifatnya
padat atau kistik, ada tidaknya kalsifikasi dll, akurasi pemeriksaan bergantung pada
keterampilan dan pengalaman pemeriksa. Dopler warna dapat mengetahui situasi alliran
darah di dalam tumor dan kelenjar limfe, sangat membantu dalam menentukan diagnosis
banding, lesi jinak, ataupun ganas. Diperlukan untuk mendeteksi nodul yang kecil atau nodul
posterior yang secara klinis belum dapat dipalpasi. Disamping itu dapat dipakai untuk
membedakan nodul yang padat dan kistik serta dapat dimanfaatkan untuk penuntun dalam
tindakan biopsy.

Tanda Lesi Ganas Lesi Jinak


Batas Tidak tegas, irregular Tegas, regular
Internal Inhomogen, dominan hipoekoik, Homogen, hiperekoik, mutiple
tunggal
Penampakan lesi Solid, mikrokalsifikasi Kistik bercampur solid
Halo Negatif Komplit
Vaskularisasi Sentral Perifer

3. Pemeriksaan Radiologi
Dilakukan pemeriksaan foto thorax PA, untuk menilai ada tidaknyametastasis,
pendesakan trakhea, foto polos leher antero-posteriordan lateral dengan metode “soft tissue
technique” dengan posisileher hiper ekstensi, bila tumor besar. Untuk melihat ada atau
tidaknya mikrokalsifikasi (tanda-tanda kemungkinan keganasan). Esofagogram dilakukan
bila secara klinis terdapat tanda-tanda adanya infiltrasi ke esofagus. Pembuatan foto tulang
dilakukan bila ada tanda-tanda metastasis ketulang yang bersangkutan.

21
4. Sintigrafi tiroid
Sintigrafi tiroid pada keganasan hanya memberikan gambaran hipofungsi atau nodul
dingin, sehingga dikatakan tidak spesifik dan tidak diagnostik. Sintigrafi tiroid dapat
dilakukan dengan menggunakan 2 macam isotop, yaitu iodium radioaktif ( 123-I) dan
technetium pertechnatate (99m-Tc). 123-
I lebih banyak digunakan dalam evaluasi fungsi tiroid,
sedang 99m-Tc lebih digunakan untuk evaluasi anatominya. Pada sintigrafi tiroid, kurang
lebih 80-85% nodul tiroid memberikan hasil dingin (cold) dan 10-15% dari seluruh nodul
dengan kemungkinan ganas lebih rendah dari 10%.

5. Biopsi aspirasi jarum halus (BAJAH)


Pemeriksaan sitologi BAJAH nodul tiroid merupakan langkah pertama yang harus
dilakukan dalam proses diagnosis. BAJAH oleh operator yang terampil, saat ini dianggap
sebagai metode yang efektif untuk membedakan jinak atau ganas pada nodul soliter atau
nodul dominan dalam struma multinodular. Gharib et al melaporkan bahwa BAJAH
mempunyai sensivitas sebesar 83% dan spesifitas 92%. Bila BAJAH dikerjakan dengan baik,
akan menghasilkan angka negatif palsu kurang dari 5%, dan angka positif palsu hampir
mendekati 1%. Hasil BAJAH dibagi menjadi 4 kategori, yaitu : jinak, mencurigakan
(termasuk adenoma folikulare, Hurthle dan gambaran yang sugestif tetapi tidak konklusif
karsinoma papilare tiroid), ganas dan tidak adekuat.
Jenis karsinoma yang dapat segera ditentukan ialah karsinoma papilare, medulare, atau
anaplastik. Sedangkan untuk jenis karsinoma folikulare untuk membedakannya dari adenoma
folikulare, harus dilakukan pemeriksaan histopatologi yang dapat memperlihatkan adanya
invasi kapsul tumor atau invasi vaskular. Mengingat secara sitologi tidak dapat mebedakan
adenoma folikulare dari karsinoma folikulare, maka keduanya dikelompokkan menjadi
neoplasma folikulare intermediate atau suspicious. Pada kelompok suspicious, angka
kejadian karsinoma folikulare berkisar 20% dengan angka tertinggi terjadi pada kelompok
dengan ukuran nodul besar, usia bertambah dan kelamin laki-laki.
Sekitar 15-20% pemeriksaan BAJAH, memberikan hasil inadequat dalam hal material
atau sampel. Pada keadaan seperti ini dianjurkan untuk mengulang BAJAH dengan bantuan
USG sehingga pengambilan sampel menjadi lebih akurat.
Pemeriksaan potong beku (frozen section) pada saat operasi berlangsung, tidak
memberikan keterangan banyak untuk neoplasma folikulare, tetapi dapat membantuk
mengkonfirmasi diagnosis dugaan karsinoma papilare.

22
1.9. Penatalaksanaan

A. Operasi
Tiroidektomi total, bila masih memungkinkan untuk mengangkat sebanyak mungkin
tumor dan jaringan tiroid yang sehat, merupakan prosedur awal pada hampir sebagian besar
pasien karsinoma tiroid berdiferensiasi. Bila ditemukan metastasis kelenjar getah bening
regional, diteruskan dengan radical neck dissection. Untuk karsinoma anaplastik, mengingat
perkembangannya yang cepat dan umumnya diketahui setelah kondisinya lanjut, biasanya
tidak dapat dioperasi lagi.
Beberapa pertimbangan dan keuntungan pilihan prosedur operasi ini adalah sebagai
berikut:
 Fokus-fokus karsinoma papilare ditemukan di kedua lobus tiroid pada 60-85% pasien.
 Sesudah operasi unilateral (lobektomi), 5-10% kekambuhan karsinoma tiroid papillare
terjadi pada lobus kontralateral.
 Efektivitas terapi ablasi iodium radioaktif menjadi lebih tinggi.
 Spesifitas pemeriksaan tiroglobulin sebagai marker kekambuhan menjadi lebih tinggi
setelah reseksi tumor dan jaringan tiroid sebanyak-banyaknya.
Meskipun demikian kontroversi mengenai luasnya operasi masih terus berlangsung
hingga kini. Pada analisis retrospektif, dari 1685 pasien risiko rendah, angka kekambuhan 20
tahun setelah lobektomi sebesar 22% dibanding 8% pada pasien yang menjalani tiroidektomi
total. Jenis tindakan lain seperti tiroidektomi subtotal, yang menyisakan jaringan tiroid
sebesar 5g, tidak memperoleh keuntungan-keuntungan seperti disebutkan diatas.
Sebaliknya, alasan prosedur tiroidektomi unilateral (lobektomi) adalah tidak adanya
manfaat memperbaiki angka kelangsungan hidup yang nyata dari tindakan agresif, disamping
prosedur tiroidektomi unilateral dapat mengurangi risiko hipoparatiroidisme dan kerusakan
nervus laryngeus. Pada penelitian 465 pasien dengan risiko rendah, angka kekambuhan lokal
setelah follow up 20 tahun (4% vs 1%) atau angka kegagalan menyeluruh (13% vs 8%) tidak
berbeda pad 276 kasus lobektomi dan 90 kasus tiroidektomi total.
Beberapa konsensus penatalaksanaan karsinoma tiroid menyebutkan bahwa
tiroidektomi total diperlukan pada karsinoma tiroid papilare primer dengan diameter paling
tidak 1cm, khususnya bila massa telah ekstensi ke luar kelenjar tiroid, atau ditemukan
metastasis.

23
Pada karsinoma tiroid berdiferensiasi baik yang ditemukan pada saat kehamilan
berlamgsung, menurut Moosa M et al, pengelolaannya dapat ditunda hingga selesai
persalinannya. Dalam laporannya, Moosa M et al menyebutkan bahwa prognosis karsinoma
tiroid berdiferensiasi baik sama baiknya antara wanita hamil dan tidak hamil untuk kelompok
usia yang sama dan bahwa pada sebagian besar kasus, diagnosis dan pengelolaannya dapat
ditunda hingga selesai persalinan.

Thyroid Surgery Procedure Indication


Thyroid lobectomy  Solitary Nodules
 Unilateral Multinoduler disease
Subtotal thyroidectomy  Grave’s Disease
 Multinoduler Bilateral
 Plummers Disease
 Hassimotios Disease
Total thyroidectomy  Ca Thyroid
 Grave’s Disease
 Multinodular Bilateral

B. Terapi Ablasi Iodium Radioaktif


Pada jaringan tiroid yang sehat dan ganas yang tertinggal setelah operasi,
selanjutnya diberikan terapi ablasi iodium radioaktif131-I. Dosis 131-
I berkisar 80mCi
dianjurkan untuk diberikan pada keadaan tersebut, mengingat adanya uptake spesifik iodium
ke dalam sel folikulare, termasuk sel ganas tiroid yang berasal dari sel folikulare. Karsinoma
tiroid medulare dan anaplastik tidak sensitif dengan terapi ablasi 131-I. Sekali terkonsentrasi di
131
dalam sel, I akan mengalami penguraian b, mengeluarkan energi tinggi yang menginduksi

24
sitotoksisitas radiasi seperti pancaran sinar g pada sel tiroid. Ada 3 alasan terapi ablasi pada
jaringan sisa setelah operasi, yaitu:
 Merusak atau mematikan sisa fokus mikro karsinoma
 Meningkatkan spesifitas sintigrafi 131-
I untuk mendeteksi kekambuhan atau
metastasis melalui eliminasi uptake oleh sisa jaringan tiroid normal.
 Meningkatkan nilai pemeriksaan tiroglobulin sebagai petanda serum yang
dihasilkan hanya oleh sel tiroid.
Terapi ablasi iodium radioaktif umumnya tidak direkomendasikan pada pasien
dengan tumor primer soliter diameter kurang dari 1 cm, kecuali ditemukan adanya invasi
ekstratiroid atau metastasis.
Untuk memaksimalkan uptake iodium radioaktif setelah tiroidektomi total, kadar
hormon tiroid diturunkan dengan menghentikan obat L-tiroksin, sehingga TSH endogen
terstimulasi hingga mencapai kadar diatas 25-30 mU/L. Mengingat waktu paruh L-tiroksin
adalah 7 hari, biasanya diperlukan waktu 4-5 minggu untuk mencapai kadar TSH tersebut
diatas. Pasien juga perlu menghindari makanan yang mengandung tinggi iodium paling
kurang 2 minggu sebelum sintigrafi dikerjakan, karena peningkatan iodium non-radioaktif di
dalam sel tiroid menekan uptake iodium radioaktif.

C. Terapi Supresi L-tiroksin


Mengingat karsinoma tiroid berdiferensiasi baik jenis papilare maupun folikulare –
merupakan 90% dari seluruh karsinoma tiroid – mempunyai tingkat pertumbuhan yang
lambat, maka evaluasi lanjutan perlu dilakukan selama beberapa dekade sebelum dikatakan
sembuh total. Selama periode tersebut, diberikan terapi supresi dengan L-tiroksin dosis
suprafisiologis untuk menekan produksi TSH.
Supresi terhadap TSH pada karsinoma tiroid pasca operasi dipertimbangkan karena
adanya reseptor TSH di sel-sel karsinoma tiroid, sehingga bila tidak ditekan, TSH tersebut
dapat merangsang pertumbuhan sel-sel ganas yang tertinggal. Harus dipertimbangkan untuk
selalu dalam keseimbangan antara manfaat terapi supresi TSH dan efek samping terapi
tiroksin jangka panjang. Target kadar TSH pda kelompok risiko rendah untuk kesakitan dan
kematian karena keganasan tiroid adalah 0.1-0.5 mU/L, sedang untuk kelompok risiko tinggi
adalah 0.01 mU/L. Dosis L-tiroksin untuk terapi supresi bersifat individual, rata-rata 2
ug/kgBB.

25
Terapi supresi dengan L-tiroksin terhadap sekresi TSH dalam jangka panjang dapat
memberikan efek samping di berbagai organ target, seperti tulang rangka dan jantug. Banyak
penelitian akhir-akhir ini yang menghubungkan keadaan hipertiroidisme ini dengan gangguan
metabolisme tulang yaitu meningkatkan bone turnover; bone loss dan risiko fraktur tulang.
Umumnya pada kelompok usia tua lebih nyata efek sampingnya dibanding dengan usia
muda. Rata-rata efek samping yang dilaporkan terjadi setelah pemberian L-tiroksin dosis
supresi jangka panjang memberikan hasil yang bervariasi. Roti E. et al, melaporkan banyak
studi memperlihatkan penurunan densitas tulang sebagai reaksi terhadap terapi supresi terjadi
baik pada pre maupu post menopause. Salah satu penelitian pada pre menopause yang
mendapat terapi L-tiroksin dosis supresi selama kurang lebih 10.7 tahun memperlihatkan
penurunan densitas mineral tulang femoral neck yang bermakna dan pada kelompok ini bone
turnover juga meningkat. Gharib et al, melaporkan hasil yang berbeda dimana penurunan
densitas tulang tidak berbeda bermakna antara kelompok premenopause dengan normal.
Suatu studi meta-analisis yang melibatkan 239 pasien, pada kelompok pre menopause
terdapat kehilangan massa tulang sebesar 2.7% setelah 8.2 tahun, tidak berbeda dengan yang
dialami kelompok wanita normal. Sementara Schneider et al, melaporkan bahwa terapi
estrogen menghambat proses kehilangan massa tulang yang diinduksi L-tiroksin. Terapi
tiroksin yang tidak sampai menekan sekresi TSH tidak menyebabkan osteopenia.

1.20 Faktor Risiko Prognostik


Faktor risiko prognostik digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam mengambil
keputusan jenis pengobatan yang akan diberikan. Diharapkan dengan mengetahui faktor
risiko prognostik ini pengobatan dapat dilakukan lebih selektif, sehingga tidak kecolongan
pasien keganasan tiroid tertentu yang memang harus mendapat pengobatan agresif, demikian
juga pada pasien tertentu dapat terhindar dari pengobatan berlebihan yang tidak perlu. Faktor
risiko prognostik tersebut adalah sebagai berikut:
 AMES (Age, Metastasis, Extent of primary cancer, tumor Size)
Age : pria < 41 tahun, wanita < 51 tahun / pria > 40 tahun, wanita > 50 tahun.
Metastasis : metastasis jauh atau tanpa metastasis jauh
Extent : papilare intratiroid atau folikulare dengan infasi kapsul minimal / papilare
ekstratiroidal atau folikulare dengan invasi mayor
Size : 5 cm / > 5 cm.

26
Risiko rendah : - setiap usia risiko rendah tanpa metastasis
- usia risiko tinggi tanpa metastasis dan dengan ekstensi serta ukuran
tumor risiko rendah
Risiko tinggi : - setiap pasien dengan metastasis
- usia risiko tinggi dengan salah satu ekstensi atau ukuran tumor
untuk risiko tinggi
 DAMES (AMES + Pemeriksaan DNA sel tumor dengan flow cytometry)
AMES risiko rendah + DNA euploid : risiko rendah
AMES risiko rendah + DNA aneuploid : risiko sedang
AMES risiko tinggi + DNA aneuploid : risiko tinggi
 AGES (Age, tumor Grade, tumor Extent, tumor Size)
Skor prognostik : 0.05 x usiath (kecuali usia < 40th = 0), + 1 (grade 2) atau + 3 (grade 3
atau 4), +1 (jika ekstratiroidal) atau +3 (jika metastasis jauh), +0.2 x ukuran tumor
dalam cm (diameter maksimum). Skala skor prognostik : 0 – 11.65, median 2.6.
Kategori risiko : 0 – 3.99; 4 – 4.99; 5 – 5.99; > 6.

 MACIS (Metastasis, Age, Completeness of resection, Invasion, Size)


Skor prognostik : 3.1 (usia < 39th) atau 0.08 x usia (jika usia > 40th), + 0.3 x
ukuran dalam cm, + 1 (jika diangkat tidak komplit), +1 (jika invasi lokal), +3 (jika
metastasis jauh). Kategori risiko skor prognostik : 0 – 5.99; 6 – 6.99; 7 – 7.99; > 8.
Dengan pengelompokkan faktor risiko prognostik tersebut, dapat diperkirakan
angka kelangsungan pasien keganasan tiroid, seperti pada tabel.

27
Dengan pengelompokkan seperti ini, dapat disarankan, misalnya pada pasien
dengan angka kelangsungan hidup 20 tahunnya 99% , tentu tidak memerlukan
pengobatan yang intensif, sehiungga terhindar dar kemungkinan timbulnya penyulit
akibat penyakit itu sendiri.

BAB IV

KESIMPULAN

Karsinoma tiroid merupakan neoplasma yang menyerang kelenjar tiroid.


Kelenjar tiroid termasuk bagian tubuh yang jarang mengalami keganasan, terjadi 0.8% dan
2.5% dari seluruh keganasan pada pada pria dan wanita. Tetapi diantara kelenjar endokrin,
keganasan tiroid termasuk jenis keganasan kelenjar endokrin yang paling sering ditemukan.
Penyebab terjadinya karsinoma tiroid sampai saat ini masih belum dapat diketahui secara
pasti. Namun terdapat beberapa faktor risiko yang dipercaya dapat memengaruhi terjadinya
karsinoma tiroid. Sangat penting untuk melakukan anamnesis dan pemeriksaan fisik yang
teliti dan cermat untuk mengetahui ada tidaknya tanda-tanda toksisitas yang disebabkan oleh
perubahan kadar hormon tiroid dalam tubuh. Begitu juga dengan tanda-tanda keganasan yang
dapat diketahui secara dini. Dengan menegakkan diagnosis pasti maka kita dapat mnentukkan
tatalaksana yang tepat bagi klasifikasi karsinoma tiroid yang dialami oleh pasien.
28
DAFTAR PUSTAKA

1. Widjosono, Garitno, Sistem Endokrin : Buku Ajar Ilmu Bedah. Editor Syamsuhidayat
R.Jong WB, Edisi Revisi, EGC, Jakarta, 1997 : 925-952.

2. Kariadi KS Sri Hartini, Sumual A., Karsinoma Tiroid : Buku Ajar Ilmu Penyakit
Dalam, Edisi Keiga, Penerbit FKUI, Jakarta, 1996 : 757-778.

3. Sitorus, MS. Anatomi Klinis Kelenjar Thyroid . Sumatera Utara: FakultasKedokteran


Universitas Sumatera Utara, 2004.

4. Frances A. Wier, CNM, MS; Cindy L. Clinical Controversies in Screening Women for
Thyroid Disorders During Pregnancy. J Midwifery Womens Health. 2006;51(3):152-
158 http://www.medscape.com/viewarticle/532173_3

29
5. Norman SW, Bulstrode CJK, O’connell PR. Bailey & Love’s : short practice of surgery.
26th edition. Boca Raton : Taylor & Francis Group; 2013.

6. S jamsuhidajat, de jong. Buku Ajar Ilmu Bedah. Edisi 3. Jakarta: Penerbit Buku
Kedokteran EGC; 2010

30