Anda di halaman 1dari 16

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah


Sistem anggaran sektor publik dalam perkembangannya telah menjadi instrumen
kebijakan multifungsi yang digunakan sebagai alat untuk mencapai tujuan organisasi. Hal
tersebut tercermin pada komposisi dan besarnya anggaran secara langsung merefleksikan
arah dan tujuan pelayanan masyarakat yang diharapkan. Sejak pertengahan tahun 1980-an
telah terjadi perubahan manajemen sektor publik yang cukup signifikan dari sistem
manajemen tradisional yang terkesan kaku, birokratis, dan hierarki menjadi model
manajemen sektor publik yang fleksibel dan lebih mengakomodasi pasar.
Sebagai sebuah sistem, perencanaan anggaran sektor publik juga telah mengalami
banyak perkembangan. Sistem perencanaan anggaran publik berkembang dan berubah
sesuai dengan dinamika perkembangan tuntutan yang muncul di masyarakat. Anggaran
sektor publik di buat untuk menentukan tingkat kebutuhan masyarakat, seperti air bersih,
kualitas kesehatan, pendidikan , dan sebagainya agar terjamin secara layak. Anggaran juga
merupakan alat bagi pemerintah untuk mengarahkan pembangunan sosial ekonomi,
menjamin kesinambungan, dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Anggaran
diperlukan untuk meyakinkan bahwa pemerintah telah bertanggung jawab terhadap rakyat.
Dalam hal ini anggaran publik merupakan instrumen pelaksanaan akuntabilitas publik oleh
lembaga-lembaga publik yang ada. Oleh sebab itu, makalah ini akan membahas tentang
Penganggaran Sektor Publik yang ada di Indonesia. Apa saja fungsi anggaran sektor publik,
tujuan, karakteristik, serta bagaimana penyusunannya.

B. Rumusan Masalah
Rumusan masalah penelitian ini adalah:
1. Apakah yang dimaksud dengan penganggaran sektor publik?
2. Apakah konsep penganggaran sektor publik?
3. Apa sajakah fungsi, jenis, karakteristik, tujuan serta siklus penganggaran sektor
publik?

C. Tujuan
Tujuan penelitian ini adalah:
1. Mengetahui tentang apa yang dimaksud dengan penganggaran sektor publik.
2. Mengetahui konsep yang terdapat dalam penganggaran sektor publik.

1
3. Mengetahui tentang fungsi, tujuan, jenis, karakteristik, tujuan serta siklus
penganggaran sektor public.

2
BAB II

PEMBAHASAN

A. Konsep dan Pengertian Penganggaran Sektor Publik

Anggaran merupakan pernyataan mengenai estimasi kinerja yang akan dicapai oleh
suatu organisasi dalam periode tertentu yang dinyatakan dalam ukuran moneter. Dalam
organisasi sektor publik anggaran merupakan instrumen akuntabilitas atas pengelolaan dana
publik dan pelaksanaan program-program yang dibiayai oleh uang publik. Anggaran Sektor
Publik juga merupakan perencanaan finansial tentang perkiraan pengeluaran dan
penerimaan yang diharapkan akan terjadi di masa mendatang dengan melihat data yang
diperoleh dari masa lalu sebagai acuan penetapan anggaran.

Penganggaran dalam organisasi sektor publik merupakan aktivitas yang penting


karena berkaitan dengan proses penentuan alokasi dana untuk setiap program maupun
aktivitas.

Tiga aspek yang harus tercakup dalam anggaran sektor publik meliputi:

1. Aspek Perencanaan
2. Aspek Pengendalian
3. Aspek Akuntabilitas Publik

Secara rinci, anggaran sektor publik berisi tentang besarnya belanja yang harus
dikeluarkan untuk membiayai program dan aktivitas yang direncanakan serta cara untuk
medapatkan dana untuk membiayai program dan aktivitas tersebut.

B. Pentingnya Anggaran Sektor Publik

Anggaran sektor publik dibuat untuk membantu menentukan tingkat kebutuhan


masyarakat, seperti listrik, air bersih, kualitas kesehatan, pendidikan, dan sebagainya agar
terjamin secara layak.

Merefleksikan perubahan prioritas kebutuhan dan kegiatan masyarakat, menentukan


penerimaan dan pengeluaran departemen-departemen pemerintah, pemerintah provinsi atau
pemerintah daerah. Anggaran sektor publik penting karena beberapa alasan, yaitu:

1. Anggaran merupakan alat bagi pemerintah untuk mengarahkan pembangunan


ekonomi nasional, menjamin kesinambungan, dan meningkatkan kualitas hidup
masyarakat.

3
2. Anggaran diperlukan karena adanya kebutuhan dan kegiatan masyarakat yang
tidak terbatas dan terus berkembang, sedangkan sumber daya yang ada terbatas.
Anggaran diperlukan karena adanya masalah keterbatasan sumber daya.
3. Anggaran diperlukan untuk meyakinkan bahwa pemerintah telah bertanggung
jawab terhadap rakyat. Dalam hal ini anggaran publik merupakan instrumen
pelaksanaan akuntabilitas publik oleh lembaga-lembaga publik yang ada.

C. Fungsi Anggaran Sektor Publik

Anggaran dalam akuntansi berada di dalam lingkup akuntansi manajemen.


Mardiasmo (2009) mengidentifikasi beberapa fungsi anggaran dalam manajemen sektor
publik sebagai berikut:

1. Anggaran sebagai Alat Perencanaan


Anggaran merupakan alat perencanaan manajemen untuk mencapai tujuan
organisasi sehingga organisasi akan mengetahui apa yang harus dilakukan dan ke
arah mana kebijakan akan dibuat. Anggaran sektor publik dibuat untuk
merencanakan tindakan apa yang akan dilakukan oleh pemerintah, berapa biaya yang
dibutuhkan, dan berapa hasil yang diperoleh dari belanja pemerintah tersebut.
Anggaran sebagai alat perencanaan digunkan untuk :
a. Merumuskan tujuan serta sasaran kebijakan agar sesuai dengan visi dan
misi yang diterapkan
b. Merencanakan berbagai program dan kegiatan untuk mencapai tujuan
organisasi serta alternatif pembiayaannya
c. Mengalokasikan dana pada berbagai program dan kegiatan yang telah
disusun
d. Menentukan indikator kinerja dan tingkat pencapaian strategi

2. Anggaran sebagai Alat Pengendalian


Anggaran sebagai instrumen pengendalian digunakan untuk menghindari
adanya pengeluaran yang terlalu besar, terlalu rendah, salah sasaran, atau adanya
penggunaan yang tidak semestinya. Sebagai alat pengendalian manajerial, anggaran
sektor publik digunakan untuk meyakinkan bahwa pemerintah mempunyai uang
yang cukup untuk memenuhi kebutuhannya.

4
Pengendalian anggaran sektor publik dapat dilakukan dengan empat cara,
yaitu:
a. Membandingkan kinerja akrual dengan kinerja yang dianggarkan
b. Menghitung selisih anggaran
c. Menemukan penyebab yang dapat dikendalikan dan tidak dapat
dikendalikan atas suatu varians
d. Merevisi standar biaya atau target anggaran untuk tahun berikutnya

3. Anggaran sebagai Alat Kebijakan Fiskal


Anggaran sebagai kebijakan fiskal pemerintah, digunakan untuk
menstabilkan ekonomi dan mendorong pertumbuhan ekonomi. Melalui anggaran
sektor publik dapat diketahui arah kebijakan fiskal pemerintah, sehingga dapat
dilakukan prediksi dan estimasi ekonomi.

4. Anggaran sebagai Alat Politik


Anggaran digunakan untuk memutuskan prioritas-prioritas dan kebutuhan
keuangan terhadap prioritas tertentu. Anggaran tidak sekedar masalah teknik,
melainkan diperlukan keterampilan berpolitik, membangun koalisi, keahlian
bernegosiasi, dan pemahaman tentang manajemen keuangan sektor publik yang
memadai oleh para manajer publik.

5. Anggaran sebagai alat Koordinasi dan Komunikasi


Melalui dokumen anggaran yang komprehensif, sebuah bagian atau unit kerja
atau departemen yang merupakan sub-organisasi dapat mengetahui apa yang harus
dilakukan dan apa yang akan dilakukan oleh bagian/unit kerja lainnya. Oleh karena,
anggaran dapat digunakan sebagai alat koordinasi dan komunikasi antara dan seluruh
bagian dalam pemerintahan.

6. Anggaran sebagai Alat Penilaian Kinerja


Kinerja eksekutif dinilai berdasarkan pencapaian target anggaran, efektivitas
dan efisiensi pelaksanaan anggaran. Kinerja manajer public dinilai berdasarkan
berapa hasil yang dicapai dikaitkan dengan anggaran yang telah ditetapkan.
Anggaran merupakan alat yang efektif untuk pengendalian dan penilain kerja.

5
7. Anggaran sebagai Alat Motivasi
Anggaran dapat digunakan sebagai alat untuk memotivasi manajer dan
stafnya agar dapat bekerja secara ekonomis, efektif, dan efisien dalam mencapai
target dan tujuan organisasi yang ditetapkan. Agar dapat memotivasi pegawai,
anggaran hendaknya bersifat challenging but attainable atau demanding but
achieveable. Maksudnya adalah target anggaran hendaknya jangan terlalu tinggi
sehingga tidak dapat dipenuhi, namun jangan terlalu rendah sehingga terlalu mudah
untuk dicapai.

8. Anggaran sebagai Alat untuk Menciptakan Ruang Publik


Masyarakat dan elemen masyarakat lainnya non pemerintah, seperti LSM,
Perguruan Tinggi, Organisasi Keagamaan, dan Organisasi Masyarakat lainnya harus
terlibat dalam proses penganggaran publik. Keterlibatan mereka dapat bersifat
langsung dan tidak langsung. Keterlibatan langsung masyarakat dalam proses
penganggaran dalam proses penganggaran dapat dilakukan mulai dari proses
penyusunan perencanaan pembangun maupun rencana kerja pemerintah (daerah),
sedangkan keterlibatan secara tidak langsung dapat melalui perwakilan mereka di
lembaga legislative (DPR/DPRD).

D. Tujuan Dan Karakteristik Sektor Publik

Anggaran bagi sektor public adalah alat untuk mencapai tujuan dalam rangka
memberikan pelayanan kepada masyarakat/rakyat yang tujuannya adalah untuk
meningkatkan pelayanan public dan kesejahteraan masyarakat. Perencanaan dan penggaran
merupakan proses yang terintegrasi, karena output dari perencanaan adalah penganggaran.
Berdasarkan definisi di atas dan tujuan dari anggaran sektor public, maka anggaran sektor
public memiliki karakteristik sebagai berikut:

1. Anggaran dinyatakan dalam satuan keuangan


2. Anggaran umumnya mencakup jangkauan tertentu, satu atau beberapa tahun,
jangka pendek, dan menengah atau panjang.
3. Anggaran berisi komitmen atau kesanggupan manajemen untuk mencapai
sasaran yang ditetapkan.
4. Usulan anggaran ditelaah dan disetujui oleh pihak berwenang yang lebih tinggi
dari penyusun anggaran
5. Sekali disusun, anggaran hanya dapat diubah dalam kondisi tertentu.

6
Anggaran sektor public mencakup semua aspek kehidupan masyarakat namun ada
beberapa aspek yang tidak tersentuh oleh anggaran sektor public baik nasional maupun
lokal. Oleh karena itu, dengan adanya anggaran sektor publik ini dapat membantu dalam
memenuhi kebutuhan masyarakat misalnya air bersih, listrik, kesehatan, dan pendidikan.
Keputusan pemerintah berpengaruh melalui anggaran sangat berpengaruh dalam
kesejahteraan masyarakat. Maka, anggaran sektor public menjadi penting karena:

1. Sebagai alat bagi pemerintah untuk mengarahkan pembangunan, menjalin


kesinambungan dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat.
2. Adanya kebutuhan dan keinginan masyarakat yang tidak terbatas dan terus
berkembang, sedangkan sumber daya yang ada terbatas.
3. Untuk menyakinkan bahwa pemerintah telah bertanggung jawab terhadap
rakyat, dalam hal ini anggaran berperan sebagai instrument akuntabilitas publik.

E. Prinsip-Prinsip Dalam Penganggaran Sektor Publik

Mengingat begitu pentingnya peranan dan fungsi anggaran, di perlukan prinsip-


rinsip yang menjadi pedoman bagi organisasi public atau pemerintah dalam penyusunannya.
Beberapa prinsip tersebut adalah sebagai berikut (Mardiasmo, 2009: 67 – 68):

1. Otorisasi oleh legislative.


Anggaran public harus mendapatkan otorisasi dari legislative sebelum eksekutif
dapat menggunakan anggaran tersebut.
2. Komprehensif / menyeluruh
Anggaran harus menunjukan semua menerimaan dan pengeluaran pemerintah.
Oleh karena itu, adanya dana nonbudgetair pada dasarnya menyalahi prinsip
anggaran yang bersifat komprehensif.
3. Keutuhan anggaran
Semua penerimaan dan mengeluaran pemerintah tercakup dalam dana umum
4. Nondiscretionary uppropriation
Jumlah yang di setujui oleh dewan legislative harus termanfaatkan secara
ekonomis, efisiensi, dan efektif.
5. Periodik
Anggaran merupakan suatu proses yang periodik, dapat bersifat tahunan atau
multitahunan

7
6. Akurat
Estimasi anggaran hendaknya tidak memasukan cadangan yang tersembunyi
yang dapat menyebabkan terjadinya pemborosan dan ketidak efisienan anggaran,
serta dapat mengakibatkan munculnya underestimate pendapatan dan
oferestimate pengeluaran.
7. Jelas
Anggaran hendaknya sederhana, dapat di pahami oleh masyarakat, dan tidak
membingungkan.
8. Transparan
Anggaran harus di informasikan kepada masyarakat luas.

F. Pendekatan Penganggaran Pada Sektor Publik

Anggaran sebagai alat perencanaan kegiatan public yang di nyatakan dalam satuan
moneter sekaligus dapat di gunakan sebagai alat pengendalian. Sistem perencanaan
anggaran public berkembang dan berubah sesuai dengan perkembangan managemen sektor
public dan tuntutan yang muncul dalam masyarakat. Pada dasarnya terdapat beberapa jenis
pendekatan dalam perencanaan dan penyusunan anggaran sektor public Yaitu:

1. Pendekatan tradisional
Anggaran tradisional merupakan pendekatan yang banyak di gunakan di
Negara berkembang adapun cirri-cirinya sbgai berikut;
a. Cara penyusunan anggaran berdasarkan pendekatan incrementalism
b. Struktur dan susunan anggaran yang bersifat line-item
c. Cenderung sentralisis
d. Bersifat spesifikasi
e. Tahunan
f. Menggunakan prinsip-prinsip anggota bruto

Pendekatan tradisional terdiri atas 3 proses, sebagai berikut (Nordiawan,


2006):

a. Pihak lembaga yang memerlukan anggaran mengajukan permintaan


anggaran kepada kepala eksekutif dan anggaran tersebut di perinci
berdasarkan jenis pengeluaran yang hendak di buat.

8
b. Kepala eksekutif mengumpulkan permintaan anggaran dari berbagai
lembaga, lalu anggaran ini di modifikasi oleh kepala eksekutif (di
konsolidasikan). Dari hasil modifikasi, kepala eksekutif kemudian
mengajukan permintaan secara keseluruhan untuk organisasi tersebut
kepada lembaga legislative dengan menggunakan perincian yang sama
dengan anggaran yang di ajukan sebelumnya oleh lembaga-lembaga di
bawahnya (dengan menggunakan pendekatan tradisional).
c. Setelah merevisi jumlah permintaan anggaran pihak legislative kemudian
menuliskan jumlah anggaran yang di seeetujui dengan menggunakn
pendekatan tradisional.

Masalah utama lain dalam anggaran tradisional adalah tidak di perhatikannya


konsep value for money. Akibatnya, setiap akhir tahun anggaran sering kali terjadi
kelebihan anggaran yang pengalokasiannya kemudian di paksakan kepada aktifitas-
aktifitas yang kurang penting.

2. Pendekatan New Publik Managemen


New public management berfokus pada management sektor public yang
berorientasi pada kinerja bukan pada kebijakan. Oleh karena itu, bagian dari
reformasi dari new public management adalah dengan kemunculannya management
berbasis kinerja. Fokus management berbasis kinerja adalah pengukuran kinerja
organisasi sektor public yang berorientasi pada pengukuran outcome (hasil), bukan
lagi sekedar pengukuran input atau output saja (mahmudi, 2007). Adapun
karakteristik umumnya sebagai berukit:
a. Komprehensip/komparatif
b. Terintegrasi dan lintas departemen
c. Proses pengambilan keputusan yang rasional
d. Bersifat jangka panjang
e. Spesifikasi tujuan dan pemerigkatan prioritas
f. Analisis total cost dan benefit (termasuk opportunity cost).
g. Berorientasi pada input, output, dan outcome, bukan sekedar input
h. Adanya pengawasan kinerja

9
Paradigma new public management telah melahirkan beberapa teknik
penganggaran dalam sektor public yaitu sebagai berikut:

1) Anggaran kinerja
Anggaran dengan pendekatan kinerja disusun untuk mengatasi
berbagai kelemahan yang terdapat dalam anggaran tradisional, khususnya
kelemahan yang disebabkan oleh tidak adanya tolak ukur yang dapat
digunakan untuk mengukur kinerja dalam pencapaian tujuan dan sasaran
pelayanan publik. Anggaran kinerja memiliki beberapa krakteristik sebagai
berikut:
a. Mengklasifikasikan akun-akun dalam anggaran berdasarkan
fungsi dan aktivitas serta unit organisasi dan rincian belanja.
b. Menyelidiki dan mengukur aktivitas yang diperkirakan harus di
lakukan pada periode tertentu aktivitas guna mendapatkan
efisiensi maksimum dan standar biaya
c. Mendasarkan anggaran untuk periode yang akan datang pada
biaya perunit standar dikalikan dengan jumlah unit aktivitas yang
diperkirakan harus dilakukan pada periode tersebut

Penggunaan anggaran dengan pendekatan kinerja memiliki beberapa


keunggulan, antara lain adanya pendelegasian wewenang dalam
pengambilan keputusan merangsang partisipasi dan memotivasi unit kerja,
pengalokasian dana secara optimal dengan didasarkan efisiensi unit kerja,
dan menghindari pemborosan.

Namun, anggaran kinerja juga memiliki beberapa kelemahan yaitu:

a. Hanya sedikit dari pemerintah pusat dan daerah yang memiliki


staf anggaran atau akuntansi yang memiliki kemampuan memadai
untuk mengidentifikasi unit pengukuran dan melaksanakan
analisis biaya
b. Banyak jasa dana aktivitas pemerintah tidak dapat langsung
terukur dalam satuan unit output atau biaya perunit yang dapat
dimengerti dengan mudah.
c. Akun-akun dalam pemerintahan telah secara khusus dibuat
dengan dasar anggaran yang dikeluarkan (cash basis). Hal ini

10
membuat pengumpulan data untuk keperluan pengukuran kinerja
sangat sulit, bahkan kadang kala tidak memungkinkan.
d. Aktivitas langsung diukur biayanya secara detail dan
dilakukannya pengukuran lainnya tanpa adanya pertimbangan
yang memadai apakah aktivitas tersebut perlu atau tidak

2) Program bugedting
Pendekatan ini menekankan pada efektivitas penyusunan anggaran.
Anggaran disusun berdasarkan pekerjaan atau tugas yang akan di jalankan.
Metedo penganggaran ini menekankan bahwa keputusan penganggaran harus
didasarkan pada tujuan-tujuan atau dari output-output dari aktivitas
pemerintahan dari pada input untuk menghasilkan barang dan jasa
pemerintah. Teknologi penganggaran ini tergantung pada metodologi-
metodologi dari program peramalan dan analisis sistem.

3) Zero Based Budgeting (ZBB)


Penyusunan anggaran dengan menggunakan pendekatan zero based
budgeting (ZBB) dapat mengatasi kelemahan pendekatan incrementalism
dan line-item karena anggaran diasumsikan mulai dari nol (zero-based). Line
item budget membagi pengeluaran (belanja) kedalam item-item yang rinci
dari belanja pemerintah dan tampak lebih mengutamakan pengendalian biaya
dan meningkatkan efisiensi sehingga menghasilkan disiplin fiskal. Line item
budget tidak menyediakan informasi tentang tujuan program atau
pencapaiannya, sehingga tidak memadai untuk menghubungkan pengeluaran
(pemerintah) dengan kinerja public atau untuk pembuatan pilihan antara
lokasi sumber daya alternstif. Dalam penyusunan zero based budgeting tahun
ini, tidak berdasarkan pada tahun lalu, tetapi berdasarkan kebutuhan saat ini.
Keunggulan penggunaan ZBB ini adalah dapat menghasilkan alokasi sumber
daya secara efesien, fokus pada value for money, dan memudahkan untuk
mengidentifikasi terjadinya enefisiensi dan ketidakefektifan biaya. Namun,
seperti pendekatan yang lainnya, ZBB juga memiliki beberapa kelemahan,
yaitu proses penyusunan anggaran memakan waktu yang lama, terlalu teoritis
dan tidak praktis, membutuhkan biaya yang besar dan menekankan manfaat

11
jangka pendek. Dalam mengimplementasikan ZBB kadang menimbulkan
masalah keprilakuan di dalam organisasi.

4) Planning, programming, and the budgeting system (PPBS)


Planing, programming, and the budgeting system merupakan suatu
anggaran dimana pengeluaran secara primer dikelompokkan dalam aktivitas-
aktivitas yang didasarkan pada program kerja dan secara skunder didasarkan
pada jenis atau karakter objek dan kinerja. Konsep PPBS merupakan konsep
yang memandang bahwa penyusunan anggaran merupakan bagian yang tidak
dapat dipisahkan dari proses perencanaan dan perumusan program kegiatan
suatu organisasi PPBS merupakan upaya sistematis yang memperhatikan
integrasi dari perencanaan, pembuatan program, dan penganggaran. Pada
PPBS, sasaran, manfaat, dan tujuan harus diterjemahkan secara eksplisit
sehingga program strategis yang berorientasi pada hasil dapat diidentifikasi,
sehingga akan menghasilkan informasi yang membantu dalam pengalokasian
sumber daya secara efektif. Untuk pengimplementasian PPBS, suatu
organisasi harus mengembangkan kemampuan analisisnya untuk memahami
secara mendalam tujuan organisasi, termasuk kemampuan mengembangkan
program beserta indikator hasil untuk mencapai tujuan. Kelebihan dari PPBS
adalah memudahkan dalam pendelegasian tanggung jawab dari atasan
kepada bawahan, dalam jangka panjang dapat mengurangi beban kerja, dapat
memperbaiki kualitas pelayan melalui pendekatan standart biaya dalam
perncanaan program, dan menghilangkan program yang over lapping.
Sedangkan kelemahan PPBS adalah dalam pengimplementasiannya
membutuhkan biaya yang besar, karena sistem anggaran ini membutuhkan
sistem informasi yang canggih, ketersediaan data yang lengkap, adanya
sistem pengukuran dan staf yang memiliki kapabilitas tinggi, sehingga ini
mengakibatkan sulitnya sistem untuk diimplementasikan. Penetapan tujuan
dan sasaran yang tidak jelas baik dalam organisasi atau unit organisasi
menambah kompleksitas masalah. Indicator kinerja sering kali salah
merepresentasikan capaian kinerja yang seharusnya. Atau, indicator kinerja
terlalu menyederhanakan ukuran-ukuran kinerja pelayanan sektor public
yang umumnya bersifat multidimensi.

12
G. Penganggaran Dan Standar Pelayan Minimal (SPM)

Tujuan penyusunan anggaran adalah untuk mendukung terselenggaranya penyediaan


pelayanan dasar yang bermuara pada penciptaan kesejahteraan masyarakat. Menurut
permendagri nomor 6 tahun 2007 pasal 4 pelayanan dasar adalah bagian dari pelaksanaan
urusan wajib pemerintah dan memiliki karakteristik sebagai pelayanan yang sangat
mendasar, berhak di peroleh oleh setiap warga secara minimal, dijamin ketersediaannya oleh
konstitusi dan konvensi internasional, didukung data dan informasi terbaru yang lengkap,
serta tidak menghasilkan keuntungan materi. SPM memiliki batas waktu pencapaian baik
secara nasional maupun daerah jadi, SPM merupakan bentuk dokumen teknis dari
penyediaan pelayanan dasar, sedangkan pelayanan dasar merupakan bagian dari urusan
wajib pemerintah. Pada konteks pemerintah daerah, rencana pencapaian SPM dituangkan
dalam rencana pembangunan jangka menengah daerah dan rencana strategis satuan kerja
perangkat daerah (renstra-SKPD).

Target pencapaian SPM harus dapat diukur dengan cara menetapkan gambaran dan
kondisi awal suatu daerah berdasarkan kemampuan dan potensi daerah serta profil
pelayanan dasar dan memberikan target pencapaian dalam batas waktu yang ditentukan.
Target ayng telah di capai akan menjadi dasar dalam mencapai target dimasa mendatang
target tahunan pencapaian SPM dituangkan ke dalam rencana kerja pemerintah daerah
(SKPD), rencana kerja satuan kerja perangkat daerah (renja SKPD), kebijakan umum
anggaran (KUA), rencana kerja dan anggaran satuan kerja perangkat daerah (RKA-SKPD)
sesuai klasifikasi belanja daerah dengan mempertimbangkan kemampuan keuangan daerah.
Selanjutnya RKA-SKPD yang sudah memuat berbagai program dan kegiatan terkait SPM
menjadi bahan penyusunan raperda APBD hingga penetapan perda APBD.

Dalam mengukur kemampuan keuangan, pemerintah harus mengetahui anggaran


sebelum diimplementasikannya SPM. Anggaran memiliki peran penuh dalam implementasi
SPM. Oleh karena itu, perlu untuk menghitung besarnya belanja perkapita untuk
menyediakan pelayanan publik tertentu sehingga dapat memberikan gambaran kebutuhan
anggaran yang diperlukan untuk membiayai SPM. Analisis kebutuhan anggaran ini
kemudian di selaraskan dengan target SPM yang telah di tetapkan. Setiap program yang
memuat kegiatan dapat dihitung kebutuhan anggarannya dengan menggunakan analisis
standar belanja (ASB)

13
Adapun tahapan mekanisme penganggaran kegiatan-kegiatan untuk mencapainya
SPM adalah sebagai berikut:

1. Menyelaraskan antara capaian SPM yang terdapat di RPJMD dengan program-


program urusan wajib pemerintah ke dalam kebijakan umum anggaran (KUA)
serta prioritas dan plafon anggaran sementara (PPAS).
2. Menyusun rincian kegiatan untuk masing-masing program dalam rangka
pencapaian SPM dengan mengacu pada indicator kinerja, dan batas waktu
pencapaian SPM yang telah ditetapka oleh pemerintah.
3. Menentukan urusan prioritas kegiatan-kegiatan untuk mencapai SPM. Salah
satu metode untuk menentukan prioritas kegiatan adalah dengan metode
analytic hierarchy process (AHP).
4. Menentukan besarnya plafon anggaran untuk masing-masing kegiatan dengan
menggunakan ASB.

Sebagaimana dijelaskan diatas, penganggaran memiliki peranan yang penting dalam


kesuksesan penerapan SPM. Tanpa anggaran yang memadai dan mencukupi, pemerintah
tidak dapat melaksanakan SPM sesuai dengan yang telah ditetapkan. Oleh karena itu, harus
memperhatikan prinsip-prinsip perhitungan anggaran pada SPM, meskipun menggunakan
pendekatan pembiayaan berbasis kegiatan sebagai berikut:

1. Pembiayaan mengacu kepada program atau langkah kegiatan.


2. Investasi fisik hanya untuk sarana/prasarana yang terkait langsung dengan
penerapan SPM.
3. Tidak menghitung kebutuhan belanja secara keseluruhan dan menghitung
seluruh langkah kegiatan tanpa memandang sumber biaya.
4. Perhitungan kebutuhan biaya dengan memperhatikan capaian tahun sebelumnya.
5. Tidak menghitung kebutuhan belanja perunit kerja.

14
BAB III

PENUTUP

A. KESIMPULAN

Penganggaran dalam organisasi sektor publik merupakan aktivitas yang penting


karena berkaitan dengan proses penentuan alokasi dana untuk setiap program maupun
aktivitas. Anggaran sektor publik dibuat untuk membantu menentukan tingkat kebutuhan
masyarakat, seperti listrik, air bersih, kualitas kesehatan, pendidikan, dan sebagainya agar
terjamin secara layak. Dengan anggaran, pemerintah dapat merefleksikan perubahan
prioritas kebutuhan dan kegiatan masyarakat, menentukan penerimaan dan pengeluaran
departemen-departemen pemerintah, pemerintah provinsi atau pemerintah daerah.

Adapun fungsi dari anggaran sector public yaitu sebagai alat perencanaan, alat
pengendalian, alat kebijakan fiscal, alat politik, alat koordinasi dan komunikasi, alat
penilaian kerja, alat motivasi dan alat untuk menciptakan ruang public. Anggaran bagi sector
public juga merupakan alat untuk mencapai tujuan dalam rangka memberikan pelayanan
kepada masyarakat untuk meningkatkan pelayanan public dan kesejahteraan masyarakat.
Tanpa anggaran yang memadai dan mencukupi, pemerintah tidak dapat melaksanakan
Standar Pelayanan Minimal sesuai dengan yang telah ditetapkan. Oleh karena itu dibutuhkan
mekanisme dan prinsip-prinsip penganggaran sektor public yang baik untuk mencapai SPM.

15
DAFTAR PUSTAKA

Halim, Abdul. 2013. Akuntansi Sektor Publik: Dari Anggaran Hingga Laporan Keuangan
Dari Pemerintah Hingga Tempat Ibadah. Jakarta: Salemba Empat.

16