Anda di halaman 1dari 12

MAKALAH

ILMU FARMASI

OLEH:

QURROTA A’YUNIN
NIM. 051814153004

PROGRAM STUDI MAGISTER ILMU FARMASI


UNIVERSITAS AIRLANGGA
SURABAYA
2018
OUTLINE

1. a. Apa yg dimaksud dg ilmu farmasi?


b. Apakah farmasi adalah ilmu?
Jelaskan dan buktikan bahwa farmasi adalah ilmu !
2. a. Berikan contoh “data”
b. Berikan contoh “informasi”
c. Berikan contoh “knowledge”
note : contohnya hrs berkesinambungan

2
JAWABAN PERTANYAAN I
1. Pengertian Ilmu Farmasi
Kata ilmu berasal dari bahasa Arab “alima” dan berarti pengetahuan.
Pemakaian kata ini dalam bahasa Indonesia kita ekuivalenkan dengan istilah
“science”. Science berasal dari bahasa Latin: Scio, Scire yang juga berarti
pengetahuan.

Ilmu adalah pengetahuan. Namun, ada berbagai macam pengetahuan.


Dengan “pengetahuan ilmu” dimaksud pengetahuan yang pasti, eksak, dan betul
betul terorganisir. Jadi, pengetahuan yang berasaskan kenyataan dan tersusun
baik.

Apa isi pengetahuan ilmu itu? Ilmu mengandung tiga kategori, yaitu
hipotesis, teori, dan dalil hukum. Ilmu itu haruslah sistematis dan berdasarkan
metodologi, ia berusaha mencapai generalisasi. Dalam kajian ilmiah, kalau data
yang baru terkumpul sedikit atau belum cukup, ilmuwan membina hipotesis.
Hipotesis ialah dugaan pikiran berdasarkan sejumlah data. Hipotesis memberi
arah pada penelitian dalam menghimpun data. Data yang cukup sebagai hasil
penelitian dihadapkan pada hipotesis. Apabila data itu mensahihkan
(valid)/menerima hipotesis, hipotesis menjadi tesis atau hipotesis menjadi teori.
Jika teori mencapai generalisasi yang umum, menjadi dalil ia dan bila teori
memastikan hubungan sebab-akibat yang serba tetap, ia akan menjadi hukum.

Berikut ini macam-macam jenis ilmu.


1. Ilmu praktis, ia tidak hanya sampai kepada hukum umum atau abstraksi,
tidak hanya terhenti pada suatu teori, tetapi juga menuju kepada dunia
kenyataan. Ia mempelajari hubungan sebab-akibat untuk diterapkan dalam
alam kenyataan.
2. Ilmu praktis normatif, ia memberi ukuran-ukuran (kriterium) dan
normanorma.
3. Ilmu proktis positif, ia memberikan ukuran atau norma yang lebih khusus
daripada ilmu praktis normatif. Norma yang dikaji ialah bagaimana

3
membuat sesuatu atau tindakan apa yang harus dilakukan untuk mencapai
hasil tertentu.
4. Ilmu spekulatif ideografis, yang tujuannya mengkaji kebenaran objek dalam
wujud nyata dalam ruang dan waktu tertentu.
5. Ilmu spekulatif nomotetis, bertujuan mendapatkan hukum umum atau
generalisasi substantif.
6. Ilmu spekulatif teoretis, bertujuan memahami kausalitas. Tujuannya
memperoleh kebenaran dari keadaan atau peristiwa tertentu.

Farmasi didefinisikan sebagai profesi yang menyangkut seni dan ilmu


penyediaan bahan obat, dari sumber alam atau sintetik yang sesuai, untuk
disalurkan dan digunakan pada pengobatan dan pencegahan penyakit. Farmasi
mencakup pengetahuan mengenai identifikasi, pemilahan (selection), aksi
farmakologis, pengawetan, penggabungan, analisis, dan pembakuan bahan obat
(drugs) dan sediaan obat (medicine). Pengetahuan kefarmasian mencakup pula
penyaluran dan penggunaan obat yang sesuai dan aman, baik melalui resep
(prsecription) dokter berizin, dokter gigi, dan dokter hewan, maupun melalui
cara lain yang sah, misalnya dengan cara menyalurkan atau menjual langsung
kepada pemakai (Gennaro, A.R. 1990)

Kata farmasi diturunkan dari bahasa Yunani “pharmakon”, yang berarti


cantik atau elok, yang kemudian berubah artinya menjadi racun, dan selanjutnya
berubah lagi menjadi obat atau bahan obat. Oleh karena itu seorang ahli farmasi
(Pharmacist) ialah orang yang paling mengetahui hal ihwal obat. Ia satu-satunya
ahli mengenai obat, karena pengetahuan keahlian mengenai obat memerlukan
pengetahuan yang mendalam mengenai semua aspek kefarmasian seperti yang
tercantum pada definisi di atas.

Mengikuti perkembangan zaman, telah terjadi pula perubahan penekanan


pada pengertian dan orientasi farmasi. Pada awalnya profesi farmasi itu
dikatakan merupakan seni (arts) dan pengetahuan (science). Hal ini dapat dilihat
pada buku teks yang digunakan di perguruan tinggi farmasi pada awal

4
pertengahan abad ke-20, yang antara lain berjudul “Scoville’s The Art of
Compounding “ (Seni Meracik Obat), dan “Recepteerkunde” (Ilmu Resep)
karangan van Duin, dan van der Wielen. Definisi obat menurut Undang-Undang
No. 7 Tahun 1960 tentang Farmasi :
.. obat yang dibuat dari bahan yang berasal dari binatang, tumbuh-
tumbuhan, mineral, dan obat sintetis.

Definisi ini lebih menekankan sumber atau asal diperolehnya obat.


Perkembangan farmasi setelah itu berorientasi pada teknologi seperti tergambar
oleh buku teks yang populer pada saat itu, dan masih digunakan sampai
sekarang : “ Pharmaceutical Technology” oleh Lachman. Dalam Kebijaksanaan
Obat Nasional (KONAS, 1980) : …… obat ialah bahan atau paduan bahan
yang digunakan untuk mempengaruhi atau menyelidiki sistem fisiologi atau
keadaan patologi dalam rangka penetapan diagnosa, pencegahan,
penyembuhan, pemulihan, peningkatan kesehatan dan kontrasepsi.
Definisi obat ini lebih ditekankan pada tujuan penggunaannya.

Perkembangan farmasi sangat dipengaruhi pula oleh perkembangan


orientasi di bidang kesehatan. “World Health Organization” (WHO) yang
beranggotakan negara-negara di dunia, termasuk Indonesia, pada tahun 80-an
mencanangkan semboyan “Health for All by the year 2000”, yang merupakan
tujuan sekaligus proses yang melibatkan seluruh negara untuk meningkatkan
derajat kesehatan masyarakatnya, suatu derajat kesehatan yang memungkinkan
seluruh anggota masyarakat memperoleh kehidupan yang produktif secara
sosial maupun ekonomis. Semboyan tadi dirumuskan melalui suatu konsep
bernama “Primary Health Care” dalam konferensi internasional di Alma Atta
1978, sehingga konsep itu dikenal dengan nama Deklarasi Alma Atta. Deklarasi
ini merupakan kunci dalam pencapaian tujuan pengembangan sosio-ekonomi
masyarakat dengan semangat persamaan hal dan keadilan sosial.
Perkembangan terakhir pengembangan di bidang kesehatan pada milenium baru
ini ialah konsep “Paradigma Sehat”. Paradigma sehat, bukan paradigma sakit,
berorientasi pada bagaimana mempertahankan keadaan sehat, bukan

5
menekankan pada manusia sakit yang sudah menjadi tugas rutin bidang
kesehatan. Jadi jelas perkembangan farmasi yang menjadi bagian dari bidang
kesehatan, juga harus mengikuti perkembangan yang terjadi di bidang
kesehatan.

The American Society of Colleges of Pharmacy (AACP) mendefinisikan


farmasi sebagai ”suatu sistem pengetahuan (knowledge system) yang
merupakan bagian dari pelayanan kesehatan (health service)”. Memang agak
sulit untuk mendefinisikan farmasi secara lengkap, yang bukan saja melihatnya
dari aspek asal atau sumber obat, atau tujuan pemakaian obat. Pada Ekspose
Perkembangan Ilmu Kesehatan oleh ISFI/IDI di Jakarta bulan Maret 1986
(Wattimena, J.R. dkk. 1986) oleh suatu Tim dari Institut Teknologi Bandung
telah dikemukakan definisi Farmasi sebagai berikut :

Farmasi pada dasarnya merupakan sistem pengetahaun (ilmu, teknologi


dan sosial budaya) yang mengupayakan dan menyelenggarakan jasa kesehatan
dengan melibatkan dirinya dalam mendalami, memperluas, menghasilkan dan
mengembangkan pengetahuan tentang obat dalam arti dan dampak obat yang
seluas-luasnya serta efek dan pengaruh obat pada manusia dan hewan.
Untuk menumbuhkan kompetensi dalam sistem pengetahuan seperti
diuraikan di atas, farmasi menyaring dan menyerap pengetahuan yang relevan
dari ilmu biologi, kimia, fisika, matematika, perilaku dan teknologi;
pengetahuan ini dikaji, diuji, diorganisir, ditransformasi dan diterapkan.
Sebagian besar kompetensi farmasi ini diterjemahkan menjadi produk yang
dikelola dan didistribusikan secara profesional bagi yang membutuhkannya.
Pengetahuan farmasi disampaikan secara selektif kepada tenaga
profesional dalam bidang kesehatan dan kepada orang awam dan masyarakat
umum agar pengetahuan mengenai obat dan produk obat dapat memberikan
sumbangan nyata bagi kesehatan perorangan dan kesejahteraan umum
masyarakat.

6
Tidak dapat disangkal bahwa sistem pengetahuan farmasi, karena
penerapannya untuk tujuan kesehatan, merupakan bagian yang berarti secara
kuantitatif maupun secara kualitatif dalam setiap upaya kesehatan.

2. Farmasi adalah ilmu


Ilmu atau ”Science” ialah pengetahuan yang diperoleh melalui ”metode
ilmiah”, yaitu suatu cara yang menggunakan syarat-syarat tertentu, melalui
serangkaian langkah yang dilakukan dengan penuh disiplin. (Suryasumantri,
Y.S, 1985)
Semua bentuk pengetahuan dapat dibeda-bedakan atau dikelompokkan
dalam berbagai kategori atau bidang, sehingga terjadi diversifikasi bidang ilmu
pengetahuan atau disiplin ilmu, yang berakar dari kajian filsafat, yaitu Seni
(Arts), Etika (Ethics), dan Sains (Science). Di satu pihak Farmasi tergolong seni
teknis (technical arts) apabila ditinjau dari segi pelayanan dalam penggunaan
obat (medicine); di lain pihak Farmasi dapat pula digolongkan dalam ilmu-ilmu
pengetahuan alam (natural science).

Dalam tinjauan pengelompokan bidang ilmu atau kategori di atas


digunakan kriteria :
a. Obyek ontologis. Di sini ditinjau obyek apa yang ditelaah sehingga
menghasilkan pengetahuan tersebut. Sebagai contoh, obyek ontologis
dalam bidang Ekonomi ialah hubungan manusia dan benda atau jasa dalam
rangka memenuhi kebutuhan hidup; obyek telaah pada Manajemen ialah
kerja sama manusia dalam mencapai tujuan yang telah disetujui bersama;
obyek ontologis pada Farmasi ialah obat dari segi kimia dan fisis, segi
terapetik, pengadaan, pengolahan sampai pada penyerahannya kepada yang
memerlukan.
b. Landasan epistemologis, yaitu cara atau metode apa yang digunakan untuk
memperoleh pengetahuan tersebut. Contoh landasan Epistemologis
Matematika ialah logika deduktif; landasan epistemologis kebiasaan sehari-
hari ialah pengalaman dan akal sehat; landasan epitemologis Farmasi ialah

7
logika deduktif dan logika induktif dengan pengajuan hipotesis, yang
dinamakan pula metode logiko-hipotetiko-verifikatif.
c. Landasan aksiologis, yaitu mempertanyakan apa nilai kegunaan
pengetahuan tersebut. Nilai kegunaan pencak silat, matematika dan farmasi
sudah jelas berbeda. Dalam hal ini nilai kegunaan atau landasan aksiologis
Farmasi dan Kedokteran itu sama karena kedua-duanya bertujuan untuk
kesehatan manusia. (Suryasumantri, Y.S, 1985)

KESIMPULAN
A. Ilmu farmasi adalah pengetahuan :
- tentang penyediaan bahan obat, dari sumber alam atau sintetik yang sesuai,
untuk disalurkan dan digunakan pada pengobatan dan pencegahan penyakit,
- mengenai identifikasi, pemilahan (selection), aksi farmakologis,
pengawetan, penggabungan, analisis, dan pembakuan bahan obat (drugs)
dan sediaan obat (medicine).
- Tentang penyaluran dan penggunaan obat yang sesuai dan aman, baik
melalui resep (prsecription) dokter berizin, dokter gigi, dan dokter hewan,
maupun melalui cara lain yang sah, misalnya dengan cara menyalurkan atau
menjual langsung kepada pemakai
B. Farmasi adalah ilmu
Sebagai ilmu, Farmasi menelaah obat sebagai ”materi”, baik yang berasal dari
alam maupun sintesis (sama dengan bidang Kimia dan Fisika) dan
menggunakan metode logiko-hipotetiko-verifikatif sebagai metode telaah yang
sama seperti digunakan pada bidang Ilmu Pengetahuan Alam. Oleh karena itu,
Farmasi merupakan ilmu yang dapat dikelompokkan dalam bidang Sains.
Pustaka :

1. American Pharmaceutical Association, The National Professional Society of


Pharmacicts, “The Final Report of the Task Force on Pharmacy education,
Washington DC.
2. Gennaro, A.R. [Ed.] (1990) “ Remington’s Pharmaceutical Sciences”, Mack
Publishing Co, Easton, Pennsylvania.
3. Suryasumantri, Y.S (1985) “ Filsafat Ilmu, Suatu Pengantar Populer”, Penerbit
Sinar Harapan, Jakarta.
4. Wattimena, J.R. dkk. (1986) makalah dalam Ekspose Perkembangan Ilmu
Kesehatan oleh IDI/ISFI, Jakarta.

8
JAWABAN PERTANYAAN II
1. Pengertian Data
Menurut Pendit (1992), data adalah hasil observasi langsung terhadap suatu
kejadian, yang merupakan perlambangan yang mewakili objek atau konsep
dalam dunia nyata. Hal ini dilengkapi dengan nilai tertentu.
Menurut Ralston dan Reilly (Chamidi, 2004: 314), data didefinisikan sebagai
fakta atau apa yang dikatakan sebagai hasil dari suatu observasi terhadap
fenomena alam. Sebagai hasil observasi langsung terhadap kejadian atau fakta
dari fenomena di alam nyata, data bisa berupa tulisan atau gambar yang
dilengkapi dengan nilai tertentu. Contohnya, daftar hadir mahasiswa semester
1 Ilmu Farmasi adalah data. Daftar tersebut masih merupakan bentuk mentah
karena belum memberikan informasi apa-apa.

2. Pengertian Informasi
Menurut Pendit (1992), makna informasi adalah :
- informasi sebagai suatu proses, yaitu merujuk pada kegiatan-kegiatan
menjadi terinformasi.
- informasi sebagai pengetahuan. Di sini, informasi mengacu pada segala
kejadian di dunia (entitas) yang tak terhingga, yang tak dapat disentuh, atau
sesuatu yang abstrak. Sebagai sesuatu yang abstrak, informasi dilihat dari
makna yang terkandung dalam keseluruhan medium yang digunakan,
kemudian dapat diartikan secara berbeda antara si pengirim dan si penerima.
Informasi dianggap sebagai bagian abstrak dari pikiran manusia sesuai
dengan isi dan makna pesan yang diterima. Misalnya, si Ani berkata kepada
Budi, “Wah, pandai betul kamu.” Mungkin, maksud Ani karena jengkel
melihat si Budi yang menyontek pekerjaan temannya. Mungkin juga, Budi
mengira bahwa Ani betul-betul menganggap Budi pandai.
- informasi dianggap sebagai suatu benda atau penyajian yang nyata dari
pengetahuan. Sebagai benda yang nyata, informasi dilihat dari rangkaian
simbol-simbol dan dapat ditangkap oleh pancaindra manusia serta dapat
saling dipertukarkan. Informasi dianggap sebagai bahan mentah yang nyata,

9
yang berada di luar manusia yang memerlukan pemrosesan lebih lanjut.
Sebagai contoh, pemakai perpustakaan mencari informasi tentang penelitian
perpustakaan. Petugas perpustakaan kemudian mengambilkan buku tentang
penelitian perpustakaan karangan Sulityo-Basuki. Di sini, petugas
menganggap bahwa informasi tersebut berada dalam buku itu yang dapat
diambil dari rak dan diberikan kepada pemakai.
Menurut Gordon B. Davis (1999: 28), informasi dari sudut pandang sistem
informasi adalah data yang telah diolah menjadi sebuah bentuk yang berarti bagi
penerimanya dan bermanfaat dalam mengambil keputusan saat ini atau
mendatang.
Di samping itu, dalam Oxford English Dictionary, dijabarkan informasi sebagai
sesuatu yang dapat diberitahukan atau dijelaskan (that of which is apprised or
told), keterangan (intelligence), dan berita (news) (Zorkoczy, 1998: 9). Berita,
menurut Arifin (1997), adalah informasi yang menarik, penting, dan belum
pernah didengar. Dalam Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2008 tentang
Keterbukaan Informasi Publik, disebutkan bahwa yang dimaksud dengan
informasi dapat dilihat berikut ini :
Keterangan, pernyataan, gagasan, serta tanda-tanda yang mengandung nilai,
makna, dan pesan, baik data, fakta, maupun penjelasannya yang dapat dilihat,
didengar, dan dibaca yang disajikan dalam berbagai kemasan dan format sesuai
dengan perkembangan teknologi informasi serta komunikasi secara elektronik
ataupun nonelektronik.

3. Pengertian Knowledge (Pengetahuan)


Pengetahuan adalah sesuatu yang digunakan manusia untuk memahami dunia,
yang dapat diubah-ubah berdasarkan informasi yang diterima. Pengetahuan si
A bisa berbeda dengan pengetahuan si B, berdasarkan informasi yang sama.
Dengan demikian, informasi dan data merupakan sarana baku untuk menunjang
dan meningkatkan kegiatan bidang ilmu pengetahuan, kebudayaan, dan
teknologi.

10
Perbedaan konsep data, informasi, dan pengetahuan dijelaskan oleh Teskey
(Pendit, 1992: 80—81) seperti berikut:
- Data adalah hasil dari observasi langsung terhadap suatu kejadian. Ia
merupakan entitas (entity) yang dilengkapi dengan nilai tertentu. Entitas
ini merupakan perlambangan yang mewakili objek atau konsep dalam
dunia nyata. Data ini bisa disimpan dalam bentuk lebih konkret, misalnya
dalam bentuk tertulis, grafis, elektronik, dan sebagainya.
- Sementara itu, informasi adalah kumpulan data yang terstruktur untuk
memperlihatkan hubungan-hubungan entitas di atas.
- Pengetahuan adalah model yang digunakan manusia untuk memahami
dunia dan yang dapat diubah-ubah oleh informasi yang diterima pikiran
manusia.

Hubungan informasi dan pengetahuan lebih menekankan pada pengertian


informasi dan pengetahuan sebagai sebuah proses yang bersambungan.
Informasi tidak bisa dianggap tidak berhubungan dengan pengetahuan karena
informasi merupakan bagian dari hubungan-hubungan yang disadari oleh
manusia. Kedua konsep ini, informasi dan pengetahuan, selalu merujuk pada
suatu hubungan yang terus-menerus antara informasi yang baru diperoleh dan
pengetahuan yang masih statis pada saat informasi tersebut diterima (Nitecki
1985, dalam Pendit, 1992: 81).

11
KESIMPULAN
Dalam kehidupan sehari-hari, kita bisa melihat perbedaan data, informasi dan
pengetahuan.
- Sebagai contoh, daftar mahasiswa baru semester 1 Jurusan Ilmu Farmasi
adalah data. Kemudian, daftar tersebut disampaikan kepada para tutor
sebagai bahan absen.
- Berdasarkan data tersebut, para tutor memberi informasi kepada para
mahasiswa bahwa peserta kuliah Filsafat Ilmu berjumlah 20 yang terdiri
atas 19 mahasiswa berjenis kelamin perempuan dan 1 berjenis kelamin laki-
laki. Ini adalah informasi dari para tutor.
- Selanjutnya, salah seorang mahasiswa mempunyai gambaran pengetahuan
bahwa jumlah mahasiswa perempuan lebih banyak dibanding mahasiswa
laki-laki. Kemudian, siswa lain mempunyai pengetahuan yang berbeda
bahwa peminat jurusan Ilmu Farmasi sebagian besar adalah siswa
perempuan.
- Jadi, dari gambaran ini, berdasarkan informasi yang sama, pengetahuan
yang diterima seseorang bisa berbeda.

Pustaka :
1. Chamidi, Safrudin. (2004). “Kaitan antara Data dan Informasi Pendidikan
dengan Perencanaan Pendidikan,” Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan (48) 10,
hlm. 311—328.
2. Davis, Gordon B. (1999). Kerangka Dasar Sistem Informasi Manajemen:
Bagian I Pengantar. Jakarta: Pustaka Binaman Pressindo.
3. Pendit, Putu Laxman. (2001). Manajemen Pengetahuan dan Profesional
Informasi: Harapan, Kenyataan dan Tantangan. Makalah Kuliah Perdana
Jurusan Ilmu Perpustakaan Fakultas Sastra UI, 18 September 2001. Depok: JIP
FS Universitas Indonesia.
4. Pendit, Putu Laxman. (1992). “Makna Informasi: Lanjutan dari Sebuah
Perdebatan,” dalam Kepustakawanan Indonesia: Potensi dan Tantangannya,
eds. Antonius Bangun dkk. Jakarta: Kesaint-Blanc.

12