Anda di halaman 1dari 34

Bab 4

Integrasi Kompleks

A. Kompetensi Dasar
Memahami integrasi kompleks dan menguasai teorema dan teknik integrasi serta mampu
menggunakannya untuk menyelesakan masalah baik dalam matematika maupun ilmu lain.

B. Indikator Hasil Belajar

1. menentukan parameterisasi dari suatu kontur;

2. menghitung integral kompleks;

3. menghitung integral sepanjang suatu kontur;

4. mengestimasi nilai suatu integral menggunakan teorema ML;

5. menghitung nilai integral menggunakan prinsip kebebasan lintasan;

6. menggunakan teorema anulus untuk menghitung nilai integral;

7. menggunakan teorema Cauchy untuk menghitung integral kompleks;

8. menghitung nilai integral kompleks dengan formula integral Cauchy.

C. Uraian Materi

4.1 Kontur
Dalam bagian ini dibahas kurva mulus yang meliputi dua objek, yaitu busur mulus
(smooth arc) yang mempunyai titik-titik ujung yang berbeda dan kurva tertutup mulus
(smooth closed curve) yang titik-titik ujungnya berimpit. Dalam bab ini, jika dituliskan kurva
mulus, maka itu bisa berarti busur mulus atau kurva tertutup mulus.
Suatu busur C adalah himpunan titik z = (x, y) pada bidang kompleks sedemikian sehingga

x = x(t), y = y(t), a≤t≤b

67
Analisis Kompleks 68

dengan x(t) dan y(t) fungsi kontinu dengan parameter riil t. Busur C dapat disajikan sebagai
persamaan
z = z(t) = x(t) + iy(t) (4.1.1)

yang kontinu sebab x(t) dan y(t) keduanya kontinu.


Busur C disebut busur sederhana atau busur Jordan bila busur tersebut tidak memotong
diri sendiri, yakni C sederhana jika z(t1 ) 6= z(t2 ) bila t1 6= t2 . Jika busur C sederhana tetapi
z(b) = z(a), maka C disebut kurva tertutup sederhana atau kurva Jordan.

Contoh 4.1.1. Garis poligonal



t + it, 0 ≤ t ≤ 1

z(t) =
1≤t≤2

t + i,

yang tersusun oleh ruas garis dari 0 ke 1 + i diikuti oleh ruas garis dari 1 + i ke 2 + i merupakan
busur sederhana. Lingkaran satuan z(t) = cos (t) + i sin (t), 0 ≤ t ≤ 2π merupakan kurva
sederhana tertutup. ♣♣♣

Fungsi bernilai kompleks pada persamaan (4.1.1) dikatakan terdiferensialkan jika x(t) dan
y(t) keduanya terdiferensialkan dan z 0 (t) = x0 (t) + iy 0 (t), a ≤ t ≤ b.

Definisi 4.1.1. Suatu busur C yang dideskripsikan oleh persamaan (4.1.1) disebut busur mulus
jika memenuhi kondisi berikut:

(i) z(t) mempunyai turunan kontinu pada [a, b];


(ii) z 0 (t) tidak pernah nol pada [a, b];

Busur C disebut kurva tertutup mulus jika memenuhi kondisi (i) dan (ii) serta kondisi berikut:

(iii) z(b) = z(a) dan z 0 (b) = z 0 (a).

Hubungan fungsional z = z(t), a ≤ t ≤ b, yang menyatakan kurva C, tidak tunggal.


Dengan mengambil nilai a dan b yang berbeda diperoleh deskripsi yang lain untuk kurva yang
sama. Misalnya, ruas garis yang menghubungkan 0 dan 1 + i dapat diberikan oleh fungsi-fungsi
berikut:

z1 (t) = t + it, (0 ≤ t ≤ 1),

z2 (t) = (1 − 2t) + i(1 − 2t), (0 ≤ t ≤ 1/2),

z3 (t) = tan t + i tan t, (0 ≤ t ≤ π/4)

2010 Universitas Pendidikan Ganesha


Analisis Kompleks 69

Setiap fungsi z(t) yang mendeskripsikan kurva mulus C disebut parameterisasi dari C, variabel
t disebut parameter, dan interval [a, b] disebut interval parametrik.
Jika C suatu kurva mulus yang dinyatakan oleh parameterisasi z(t), a ≤ t ≤ b, maka titik
pada kurva C yang bersesuaian dengan t = a disebut titik awal dari C; titik yang berkorespon-
densi dengan t = b disebut titik terminal dari C.
Jika titik awal dan titik terminal kurva C berimpit, maka C disebut kurva tertutup; jika
tidak disebut kurva terbuka. Jika suatu kurva tidak memotong dirinya sendiri, maka kurva
itu disebut kurva sederhana; jika tidak disebut kurva ganda. Lihat Gambar 4.1.2.

Gambar 4.1.2

Contoh 4.1.2. Tentukan parameterisasi dari setiap kurva mulus berikut:

(a) ruas garis yang menghubungkan −2 − 3i dan 5 + 6i;

(b) lingkaran berpusat di 1 − i dengan jari-jari 2;

(c) grafik dari fungsi y = x3 , 0 ≤ x ≤ 1.

Solusi.

(a) Diberikan dua titik berbeda z1 dan z2 , setiap titik pada ruas garis yang menghubungkan
z1 dan z2 berbentuk z1 + t(z2 − z1 ), 0 ≤ t ≤ 1. Dengan demikian kurva yang diberikan
mempunyai parameterisasi dalam bentuk

z(t) = −2 − 3i + t(7 + 9i), 0 ≤ t ≤ 1.

(b) Lingkaran satuan dapat dituliskan dalam parameterisasi yang berbentuk z(t) = eit , 0 ≤
t ≤ 2π. Untuk mendapatkan parameterisasi dari lingkaran yang ditanyakan, kita geser
pusat lingkaran satuan dan kalikan dua jari-jarinya sehingga didapat

z(t) = 1 − i + 2eit , 0 ≤ t ≤ 2π.

(c) Ambil x = t dan y = f (t) sehingga grafik y = x3 mempunyai parameterisasi berikut

z(t) = t + it3 , 0 ≤ t ≤ 1.

2010 Universitas Pendidikan Ganesha


Analisis Kompleks 70

♣♣♣
Perhatikan Gambar 4.1.3 yang menyajikan ruas garis yang digambar dari 0 ke 1 + i.

Gambar 4.1.3 Gambar 4.1.4


Fungsi parameterisasi z1 (t) = (1 + i)t, 0 ≤ t ≤ 1 dan z2 (t) = (1 + i) tan t, 0 ≤ t ≤ π/4 konsisten
dengan arah ruas garis dalam Gambar 4.1.3. Tetapi, z3 (t) = −(1 + i)t, −1 ≤ t ≤ 0 berlawanan
arah; parameterisasi ini menyatakan garis dari 1 + i ke 0.
Secara umum, jika z = z(t), a ≤ t ≤ b adalah parameterisasi yang konsisten dengan salah
satu arah, maka z = z(−t), −b ≤ t ≤ −a selalu berkorespondensi dengan arah yang berlawanan.
Beberapa kurva mulus berarah dapat digabungkan dengan menghubungkan ujung-ujungnya
sehingga terbentuk objek baru yang disebut kontur seperti dalam definisi berikut.

Definisi 4.1.2. Suatu kontur C adalah rangkaian kurva mulus berarah (C1 , C2 , . . . , Cn ) yang
banyaknya berhingga sedemikian sehingga titik akhir dari Ck berimpit dengan titik awal dari Ck+1
untuk setiap k = 1, 2, . . . , n−1. Dalam hal ini, C dapat dituliskan sebagai C = C1 +C2 +· · ·+Cn .

Gambar 4.1.5
Masing-masing kurva pembangun kontur pada Definisi 4.1.2 merupakan komponen-komponen
kontur. Parameterisasi kontur merupakan gabungan dari parameterisasi komponen-komponennya.
Fungsi z = z(t), a ≤ t ≤ b adalah parameterisasi dari kontur C = (C1 , C2 , . . . , Cn ) jika terdapat
pembagian interval [a, b] menjadi n subinterval [τ0 , τ1 ], [τ1 , τ2 ], . . . , [τn−1 , τn ] dengan

a = τ0 < τ1 < τ2 < · · · < τn−1 < τn = b

sedemikian sehingga pada setiap subinterval [τk−1 , τk ] fungsi zk (t) adalah parameterisasi dari
kurva mulus Ck yang konsisten dengan arah Ck . Karena titik-titik ujung dari Ck terhubungkan
dengan sempurna, z(t) haruslah kontinu pada [a, b]. Akan tetapi, z 0 (t) mungkin mempunyai
diskontinu loncat pada titik-titik τk . Parameterisasi kontur dari suatu titik adalah fungsi kon-
stan.

2010 Universitas Pendidikan Ganesha


Analisis Kompleks 71

Contoh 4.1.3. Dapatkan parameterisasi dari kontur pada Gambar 4.1.6 pada interval [0, 1].

Gambar 4.1.6

Solusi. Kontur pada Gambar 4.1.6 berbentuk segitiga yang dibangun oleh busur mulus C1 ,
C2 , dan C3 dengan arah seperti pada gambar. Parameterisasi untuk C1 , C2 , dan C3 – konsisten
dengan arah mereka – diberikan oleh

C1 : z1 (t) = t, 0 ≤ t ≤ 1,

C2 : z2 (t) = 1 + t(i − 1), 0 ≤ t ≤ 1,

C3 : z3 (t) = i − ti, 0≤t≤1

sehingga 
3t, 0 ≤ t ≤ 31






z(t) = 1 + 3(t − 1 )(i − 1), 1 ≤ t ≤ 2
 3 3 3



i − 3(t − 2 )i, 2
3 ≤t≤1

3

merupakan parameterisasi dari kontur. ♣♣♣


Sebagian besar istilah untuk kurva mulus berarah berlaku untuk kontur. Jika kontur C
dibangun oleh kurva C1 , C2 , . . . , Cn , maka titik awal dari C adalah titik awal dari C1 dan
titik terminal dari C adalah titik terminal dari Cn . Jadi C dapat dipandang sebagai lintasan
yang menghubungkan titik-titik ini. Jika arah pada semua komponen dari C dibalik, maka
diperoleh kontur yang berlawanan dan ditulis −C (lihat Gambar 4.1.7). Lebih tegasnya hal
ini didefinisikan sebagai berikut.

Definisi 4.1.3. Misalkan kontur C mempunyai parameterisasi z = z(t), a ≤ t ≤ b. Kontur


yang arahnya berlawanan dengan C, dinotasikan −C, adalah kontur yang diberikan oleh z1 (t) =
z(−t), −b ≤ t ≤ −a.

2010 Universitas Pendidikan Ganesha


Analisis Kompleks 72

Gambar 4.1.7
Kontur C disebut kontur tertutup atau loop jika titik awal dan titik terminalnya berimpit;
jika tidak disebut kontur terbuka. Suatu kontur tertutup sederhana adalah kontur ter-
tutup tanpa titik ganda selain titik awal dan titik terminalnya. Gambar 4.1.4 adalah contoh
kontur tertutup.
Secara intuitif jelas bahwa kontur tertutup sederhana haruslah membagi bidang kompleks
atas dua daerah. Hal ini dinyatakan dalam teorema kurva Jordan sebagai berikut.

Teorema 4.1.1. Setiap kontur tertutup sederhana C membagi bidang menjadi dua bagian yang
saling asing. Bagian dalam C, Int(C), merupakan himpunan terbuka dan terbatas; bagian luar
C, Ext(C), merupakan himpunan terbuka dan tak terbatas. Kontur C merupakan batas antara
Int(C) dan Ext(C).

Jika diberikan kontur tertutup sederhana C, maka arah sepanjang C ditentukan dengan
melihat domain mana (interior atau eksterior) yang terletak di sebelah kiri dari pengamat
yang menelusuri kontur. Bila interior terletak di sebelah kiri, maka dikatakan C mempun-
yai orientasi positif (cco) atau berlawanan arah jarum jam; jika tidak, maka dikatakan C
mempunyai orientasi negatif (co) atau searah jarum jam.
Untuk kontur terbuka, orientasinya positif bila ditelusuri dari titik awal ke titik terminal
dan jika ditelusuri dari titik terminal ke titik awal diperoleh orientasi negatif.

Panjang Kurva

Sekarang kita bahas panjang dari suatu kurva. Pandang kurva mulus γ dengan
parameterisasi z = z(t), a ≤ t ≤ b. Misalkan s(t) menyatakan panjang busur dari γ yang
ditelusuri dari titik z(a) ke titik z(t). Kita akan mencari formula untuk ds/dt. Untuk itu kita
pandang s(t + ∆ t) − s(t) yang menyatakan panjang kurva antara z(t) dan s(t + ∆ t) (lihat
Gambar 4.1.8).

2010 Universitas Pendidikan Ganesha


Analisis Kompleks 73

Karena kurva tersebut mulus, busur antara z(t) dan s(t + ∆ t) terletak sangat dekat ke tali
s(t+∆ t)−s(t)
busur yang menghubungkan kedua titik ini. Dan limit dari rasio |z(t+∆ t)−z(t)| adalah 1 bila ∆ t
berkurang menuju nol. Dengan demikian kita mempunyai

ds(t) s(t + ∆ t) − s(t)


= lim
dt ∆ t→0+ ∆t
s(t + ∆ t) − s(t) |z(t + ∆ t) − z(t)|
= lim
∆ t→0+ |z(t + ∆ t) − z(t)| ∆t

dz(t)
= 1 · .
dt

Panjang dari kurva mulus, ditulis `(γ), didapat dengan mengintegralkan ds/dt sehingga
Z b Z b
ds dz
`(γ) = dt = dt
a dt
dt
a

atau s
Z b
Z b  2  2
dz dx dy
`(γ) = dt =
dt + dt. (4.1.2)
a a dt dt
Jadi, panjang kurva γ : [a, b] → C diberikan oleh formula
Z b
`(γ) = |γ| = |γ 0 (t)|dt.
a

Misalnya panjang dari γ(t) = eit , 0 ≤ t ≤ 2π adalah


Z 2π Z 2π
it
|ie |dt = dt = 2π.
0 0

Panjang dari kontur didefinisikan sebagai jumlah panjang dari kurva-kurva komponennya.

4.2 Integral Kontur


Dalam kalkulus, integral tentu dari fungsi bernilai riil f pada interval [a, b] didefinisikan
sebagai limit dari jumlah Riemann, yaitu
Z b n
X
f (x)dx = lim f (x∗k )(xk − xk−1 )
a k=1

2010 Universitas Pendidikan Ganesha


Analisis Kompleks 74

dengan a = x0 < x1 < · · · < xn = b adalah partisi dari [a, b] dan setiap x∗i terletak di antara
xi−1 dan xi . Limit ini ada asalkan f kontinu pada [a, b].
Kita akan menggunakan konsep jumlah Riemann ini untuk mendefinisikan integral tentu
dari fungsi bernilai kompleks f sepanjang kontur C di bidang.

Pandang fungsi f = u + iv yang terdefinisi pada kurva mulus berarah γ dengan titik awal
α dan titik terminal β (yang mungkin berimpit dengan α).
Untuk setiap bilangan bulat positif n, kita definisikan partisi Pn dari γ sebagai sejum-
lah berhingga titik-titik z0 , z1 , . . . , zn pada γ sedemikian sehingga z0 = α, zn = β, dan zk−1
mendahului zk pada γ untuk k = 1, 2, . . . , n (lihat Gambar 4.2.1).
Misalkan zk∗ , k = 1, 2, . . . , n adalah sembarang titik pada γ sedemikian sehinga zk∗ terletak
di antara zk−1 dan zk . Hitung nilai f pada titik zk∗ dan bentuk hasil kali f (zk∗ )(zk − zk−1 ) untuk
setiap k. Jumlah S(Pn ) yang didefinisikan oleh

S(Pn ) = f (z1∗ )(z1 − z0 ) + f (z2∗ )(z2 − z1 ) + · · · + f (zn∗ )(zn − zn−1 )

disebut jumlah Riemann untuk fungsi f yang bersesuaian dengan partisi Pn . Jika zk − zk−1 =
∆ zk , maka persamaan ini menjadi
n
X n
X
S(Pn ) = f (zk∗ )(zk − zk−1 ) = f (zk∗ ) ∆ zk .
k=1 k=1

Di lain pihak, dengan menggunakan f = u + iv kita memperoleh

f (zk∗ ) ∆ zk = u(x∗k , yk∗ ) + iv(x∗k , yk∗ ) ∆ xk + i∆ yk


 

= u(x∗k , yk∗ )∆ xk − v(x∗k , yk∗ )∆ yk + i v(xk ∗, yk∗ )∆ xk + u(x∗k , yk∗ )∆ yk




sehingga jumlah Riemann menjadi


n
X n
X n
X
f (zk∗ ) ∆ zk = u(x∗k , yk∗ )∆ xk − v(x∗k , yk∗ )∆ yk + i v(x∗k , yk∗ )∆ xk + u(x∗k , yk∗ )∆ yk


k=1 k=1 k=1

2010 Universitas Pendidikan Ganesha


Analisis Kompleks 75

Dengan mengambil limit kedua ruas untuk n → ∞ didapat


Z Z Z
f (z) dz = u(x, y) dx − v(x, y) dy + i v(x, y) dx + u(x, y) dy.
γ γ γ

Dengan demikian kita mempunyai definisi berikut.

Definisi 4.2.1. Misalkan γ kurva mulus dengan parameterisasi z(t) = x(t) + iy(t), t ∈ [a, b].
Misalkan f = u + iv fungsi bernilai kompleks yang didefinisikan sepanjang γ. Maka integral dari
f sepanjang γ diberikan oleh
Z Z Z
f (z)dz = u dx − v dy + i v dx + u dy (4.2.1)
γ γ γ
Z b Z b
= (ux0 − vy 0 )dt + i (vx0 + uy 0 )dt. (4.2.2)
a a

dengan u = u(x(t), y(t)), v = v(x(t), y(t)), x0 = x0 (t), y 0 = y 0 (t).

Teorema 4.2.1. Jika f dan g terintegralkan sepanjang γ, maka berlaku


R  R R
1. γ f (z) ± g(z) dz = γ f (z) dz ± γ g(z) dz
R R
2. γ c f (z) dz = c γ f (z) dz, c konstanta kompleks
R R
3. −γ f (z) dz = − γ f (z) dz
R R R
4. γ f (z) dz = γ1 f (z) dz + γ2 f (z) dz dengan γ = γ1 + γ2

Seperti telah kita pelajari dalam kalkulus, tidak semua fungsi terintegralkan. Akan tetapi,
jika f kontinu, maka integralnya pasti ada seperti dinyatakan dalam teorema berikut.

Teorema 4.2.2. Jika f kontinu pada kurva mulus γ, maka f terintegralkan sepanjang γ.

Untuk menghitung integral fungsi kompleks, sangat memudahkan jika kita dapat
menyatakan integral kompleks dalam integral riil. Hal ini dinyatakan dalam definisi berikut.

Definisi 4.2.2. Misalkan f (t) = u(t) + iv(t) fungsi bernilai kompleks yang kontinu pada [a, b].
Integral tentu dari f pada [a, b] didefinisikan oleh
Z b Z b Z b
f (t) dt = u(t) dt + i v(t) dt (4.2.3)
a a a

Persamaan (13) menyatakan integral kompleks dalam dua integral riil. Integral ini mem-
punyai sifat-sifat berikut.

2010 Universitas Pendidikan Ganesha


Analisis Kompleks 76
Z b  Z b Z b 
1. Re f (t) dt = u(t) dt = Re f (t) dt.
a a a
Z b  Z b Z b 
2. Im f (t) dt = v(t) dt = Im f (t) dt.
a a a
Z b Z b
3. c f (t) dt = c f (t) dt, c konstanta kompleks
a a
Z b Z a
4. f (t) dt = − f (t) dt.
a b

5. Misalkan f = u + iv dengan u dan v kontinu pada [a, b]. Maka


Z b Z b

f (t) dt ≤ |f (t)| dt. (4.2.4)

a a

Rb
Bukti. Kita hanya membuktikan sifat nomor 5. Dari (13) kita tahu bahwa a f (t) dt adalah
Rb
bilangan kompleks. Jika a f (t) dt 6= 0, maka kita misalkan
Z b
f (t) dt = r cis θ (4.2.5)
a

dengan
b b
Z Z 

r = f (t) dt dan θ = arg f (t) dt . (4.2.6)
a a

Selanjutnya,
Z b Z b
[cis (−θ)]f (t) dt = cis (−θ) f (t) dt
a a

= r. (4.2.7)

Tetapi r ∈ R dan r > 0. Jadi,


Z b 
r = Re [cis (−θ)]f (t) dt dengan (4.2.7)
a
Z b
= Re [cis (−θ)f (t)] dt
a
Z b
≤ Re [cis (−θ)f (t)] dt
a
Z b Z b
≤ |cis (−θ)f (t)| dt = |f (t)| dt. (4.2.8)
a a
Rb
Dengan demikian, (4.2.6) dan (4.2.8) memberikan (4.2.4). Jika a f (t) dt = 0, maka
Z b


f (t) dt = 0.

a

2010 Universitas Pendidikan Ganesha


Analisis Kompleks 77
R
Contoh 4.2.1. Hitung C f (z) dz jika

(a) kontur C adalah bagian dari parabola y = x2 dari (0, 0) ke (1, 1) dan f (z) = 3z;
(b) kontur C adalah sisi-sisi segitiga yang titik-titik sudutnya (0, 0), (1, 0), (1, 2) dengan ori-
entasi berlawanan arah jarum jam dan f (z) = z 2 ;
(c) kontur C adalah lingkaran satuan |z| = 1 dengan orientasi berlawanan arah jarum jam
dan f (z) = x + 2iy.

Solusi.

(a) Parameterisasi dari C diberikan oleh x = t, y = t2 , t ∈ [0, 1] sehingga x0 = 1, y 0 = 2t.


Juga, u = 3x = 3t dan v = 3y = 3t2 . Dengan (4.2.2) didapat
Z Z 1 Z 1
3
3z dz = (3t − 6t )dt + i (3t2 + 6t2 )dt = 3i.
C 0 0

(b) Perhatikan gambar berikut.

Gambar 4.2.2

Dari Gambar 4.2.2 terlihat bahwa C = C1 + C2 + (−C3 ) dengan parameterisasi diberikan


oleh

C1 : x= t, y = 0, t ∈ [0, 1]

C2 : x = 1, y=t t ∈ [0, 2]

C3 : x= t, y = 2t t ∈ [0, 1].

Dan f (z) = z 2 = x2 − y 2 + 2xyi. Untuk masing-masing kurva C1 , C2 , dan C3 , dengan


(4.2.2) kita mempunyai
Z Z 1
1
z 2 dz = t2 dt =
C1 0 3
Z Z 2 Z 2
2
z 2 dz = (−2t) dt + i (1 − t2 ) dt = −4 − i
C2 0 0 3
Z Z 1 Z 1
11 2
z 2 dz = (−11t2 ) dt + i (−2t2 ) dt = − − i.
−C3 0 0 3 3

2010 Universitas Pendidikan Ganesha


Analisis Kompleks 78

Jadi,
Z Z Z Z
2 2 2 22 4
z dz = z dz + z dz + z 2 dz = − − i.
C C1 C2 −C3 3 3
(c) Silakan mencoba. ♣♣♣

Jika f (t) mempunyai antiturunan F (t) = U (t)+iV (t), maka U 0 = u, V 0 = v, dan persamaan
(13) memberikan generalisasi dari teorema fundamental kalkulus.

Teorema 4.2.3. Jika fungsi bernilai kompleks f kontinu pada [a, b] dan F 0 (t) = f (t) untuk
semua t ∈ [a, b], maka
Z b
f (t) dt = F (b) − F (a).
a

Contoh 4.2.2. Hitung integral 0 eit dt.

Solusi. Karena F (t) = eit /i antiturunan dari f (t) = eit , dengan Teorema 4.2.3 didapat
Z π π
it eit eiπ ei0 −2
e dt = = − = = 2i.
0 i 0 i i i
♣♣♣
Dalam teorema dan korolari berikut diberikan cara menghitung integral garis (kompleks)
dari f sepanjang kurva mulus berarah γ.

Teorema 4.2.4. Misalkan f fungsi kontinu pada kurva mulus berarah γ. Jika z = z(t), a ≤ t ≤ b
adalah parameterisasi dari γ yang konsisten dengan arahnya, maka
Z Z b
f (z) dz = f (z(t)) z 0 (t) dt. (4.2.9)
γ a

Karena (4.2.9) valid untuk semua parameterisasi yang sesuai bagi γ dan karena integral
dari f sepanjang γ tidak bergantung pada parameterisasi, kita memperoleh korolari berikut.

Corollary 4.2.5. Misalkan f kontinu pada kurva mulus berarah γ. Jika z = z1 (t), a ≤ t ≤ b
dan z = z2 (t), c ≤ t ≤ d adalah sembarang dua parameterisasi dari γ yang konsisten dengan
arahnya, maka
Z b Z d
f (z1 (t)) z10 (t) dt = f (z2 (t)) z20 (t) dt.
a c

Contoh 4.2.3. Misalkan γ menyatakan ruas garis dari 1 ke 1 + i dengan parameterisasi γ(t) =
1 + it, 0 ≤ t ≤ 1. Integral f (z) = z sepanjang γ adalah
Z Z 1 Z 1
z dz = (1 + it)i dt = (i − t)dt
γ 0 0
 1
t2

1
= it − =i− .
2 0 2

2010 Universitas Pendidikan Ganesha


Analisis Kompleks 79

Jika parameterisasi ruas garis tersebut adalah γ1 (t) = 1 + (t − 1)i, 1 ≤ t ≤ 2, maka didapat
Z Z 2
z dz = (1 + (t − 1)i)i dt
γ1 1
Z 2
1
= (i − (t − 1)) dt = i − .
1 2
Ternyata kedua parameterisasi ini memberikan nilai integral yang sama. ♣♣♣

(z − z0 )n dz, dengan n bilangan bulat dan Cr lingkaran


R
Contoh 4.2.4. Hitung integral Cr

|z − z0 | = r yang ditelusuri sekali berlawanan arah jarum jam (lihat Gambar 4.2.3).

Gambar 4.2.3
Solusi. Parameterisasi untuk Cr diberikan oleh z(t) = z0 + reit , 0 ≤ t ≤ 2π. Ambil f (z) =
(z − z0 )n sehingga

f (z(t)) = (z0 + reit − z0 )n = rn eint dan z 0 (t) = ireit .

Jadi, dengan (4.2.9) didapat


Z Z 2π Z 2π
n n int it n+1
(z − z0 ) dz = (r e )(ire ) dt = ir ei(n+1)t dt.
Cr 0 0

Integral yang terakhir dihitung berdasarkan atas 2 kasus. Jika n 6= −1, didapat
Z 2π 2π
i(n+1)t
 
n+1 i(n+1)t n+1 e n+1 1 1
ir e dt = ir = ir − = 0,

0 i(n + 1) i(n + 1) i(n + 1)
0

sedangkan jika n = −1 diperoleh


Z 2π Z 2π
n+1 i(n+1)t
ir e dt = i dt = 2πi.
0 0

Jadi, terlepas dari nilai r, nilai integral adalah



0, n 6= −1
Z 
(z − z0 )n dz = (4.2.10)
Cr
n = −1.

2πi,

♣♣♣
Integral sepanjang kontur dihitung berdasarkan teorema berikut.

2010 Universitas Pendidikan Ganesha


Analisis Kompleks 80

Teorema 4.2.6. Misalkan C kontur yang terdiri dari kurva-kurva mulus berarah (γ1 , γ2 , . . . , γn )
dan misalkan f fungsi kontinu pada C. Maka integral kontur dari f sepanjang C, ditulis
R
C f (z) dz, didefinisikan oleh
Z Z Z Z
f (z) dz = f (z) dz + f (z) dz + · · · + f (z) dz. (4.2.11)
C γ1 γ2 γn
R
Contoh 4.2.5. Hitung C 1/(z − z0 ) dz dengan C lingkaran |z − z0 | = r yang ditelusuri dua
kali berlawanan arah jarum jam mulai dari titik z0 + r.

Solusi. Misalkan Cr menyatakan lingkaran yang ditelusuri satu kali berlawanan arah jarum
jam, berarti C = (Cr , Cr ). Jadi, dari (4.2.10) pada Contoh 4.2.3 diperoleh
Z Z Z
dz dz dz
= + = 2πi + 2πi = 4πi.
C (z − z 0 ) Cr (z − z 0 ) Cr (z − z0 )
♣♣♣

z̄ 2 dz sepanjang kontur tertutup sederhana C seperti Gambar 4.2.4.


R
Contoh 4.2.6. Hitung C

Gambar 4.2.4
Solusi. Berdasarkan Teorema 4.2.6 kita mempunyai
Z Z Z Z
2 2 2
z̄ dz = z̄ dz + z̄ dz + z̄ 2 dz.
C γ1 γ2 γ3

Parameterisasi untuk ruas garis γk diberikan oleh

γ1 : z1 (t) = t, 0 ≤ t ≤ 2,

γ2 : z2 (t) = 2 + ti, 0 ≤ t ≤ 2,

γ3 : z3 (t) = −t(1 + i), − 2 ≤ t ≤ 0,

dan dengan Teorema 4.2.4 kita mempunyai


Z Z 2 Z 2
2 2 0 8
z̄ dz = z1 (t) z1 (t) dt = t2 dt = ,
γ1 0 0 3
Z Z 2 Z 2
2 16
z̄ 2 dz = z2 (t) z20 (t) dt = i(2 − ti)2 dt = 8 + i
γ2 0 0 3
Z Z 0 Z 0
2 8
z̄ 2 dz = z3 (t) z30 (t) dt = − t(1 − i)2 − (1 + i) dt = −(1 + i)(1 − i)2 .
 
γ3 −2 −2 3

2010 Universitas Pendidikan Ganesha


Analisis Kompleks 81

Jadi,  
Z
2 8 16 28
z̄ dz = + 8 + i + −(1 + i)(1 − i)
C 3 3 3
yang setelah dihitung memberikan 16/3 + 32i/3. ♣♣♣
Karena kontur merupakan gabungan dari kurva mulus, sifat-sifat dari integral sepanjang
kurva mulus juga valid untuk integral sepanjang kontur. Misalnya, jika f dan g terintegralkan
sepanjang C, maka
Z Z Z

f (z) ± g(z) dz = f (z) dz ± g(z) dz (4.2.12)
C Z CZ C

α f (z) dz = α f (z) dz, α konstanta kompleks (4.2.13)


ZC ZC
f (z) dz = − f (z) dz (4.2.14)
−C C

dengan −C menyatakan kontur berlawanan arah dengan C. Demikian pula, persamaan (4.2.9)
juga berlaku untuk kontur C, yaitu
Z Z b
f (z) dz = f (z(t)) z 0 (t) dt
C a

dengan z = z(t), a ≤ t ≤ b parameterisasi untuk kontur C.


Seringkali suatu integral sangat sulit dihitung secara eksak. Juga sering terjadi nilai suatu
integral tidak diperlukan meskipun integralnya dapat dihitung secara eksak. Dalam hal ini yang
diperlukan hanyalah batas atas dari integral. Batas atas ini dapat dihitung berdasarkan teorema
berikut.

Teorema 4.2.7. (Teorema ML). Jika f kontinu pada kurva γ dan jika |f (z)| ≤ M untuk
semua z pada γ, maka Z

f (z) dz ≤ M L (4.2.15)

γ

dengan L menyatakan panjang kurva γ.

Bukti. Dengan menggunakan (4.2.9) kita mempunyai


Z Z b
0

f (z) dz = f (γ(t))γ (t) dt

γ a
Z b
≤ |f (γ(t))||γ 0 (t)| dt
a
Z b
≤M |γ 0 (t)| dt = M |γ| = M L.
a

2010 Universitas Pendidikan Ganesha


Analisis Kompleks 82

ez /(z 2 +1) dz| dengan γ adalah lingkaran |z| = 2


R
Contoh 4.2.7. Tentukan batas atas untuk | γ

ditelusuri satu kali berlawanan arah jarum jam.

Solusi. Lintasan pengintegralan mempunyai panjang L = 4π. Kita cari batas atas M untuk
fungsi ez /(z 2 + 1) bila |z| = 2. Tuliskan z = x + iy, kita mempunyai

p
|ez | = |ex+iy | = ex ≤ e2 untuk |z| = x2 + y 2 = 2,

dan dengan ketaksamaan segitiga didapat

|z 2 + 1| ≥ |z|2 − 1 = 4 − 1 = 3 untuk |z| = 2.

Jadi, |ez /(z 2 + 1)| ≤ e2 /3 untuk |z| = 2 dan dengan Teorema 4.2.7,
z e2
Z
e

2
dz ≤ · 4π.
Γ (z + 1) 3

♣♣♣

4.3 Kebebasan Lintasan


Dalam situasi tertentu integral dari suatu fungsi tidak bergantung pada lintasan tertentu
yang menghubungkan titik awal dan titik terminal. Hal ini dijamin oleh suatu teorema. Namun,
terlebih dahulu diberikan definisi daerah terhubung sederhana.

Definisi 4.3.1. Misalkan D domain di R2 . Domain D adalah daerah terhubung sederhana


(simply connected domain) jika dan hanya jika D mempunyai sifat jika C sembarang kurva
tertutup sederhana yang termuat di dalam D, maka Int(C) terletak seluruhnya dalam D.

Secara mudahnya, daerah terhubung sederhana tidak akan mempunyai ”lubang” sebab jika
ada lubang dalam D, maka loop yang mengitari lubang ini tidak bisa diciutkan menjadi titik
tanpa meninggalkan D. Dalam topologi telah ditunjukkan bahwa interior dari kontur tertutup
sederhana adalah daerah terhubung sederhana. Hal ini memudahkan kita untuk mengenali
beberapa daerah terhubung sederhana.

2010 Universitas Pendidikan Ganesha


Analisis Kompleks 83

Teorema 4.3.1. Misalkan f (z) analitik pada daerah terhubung sederhana D. Misalkan pula
Rz
z1 dan z2 adalah dua titik dalam D. Maka z12 f (z) dz tidak bergantung pada lintasan γ yang
menghubungkan z1 dan z2 asalkan γ terletak seluruhnya dalam D.

R
Jika antiturunan dari fungsi f (z) diketahui, maka γ f (z) dz dapat dihitung dengan teorema
berikut.

Teorema 4.3.2. Teorema Fundamental untuk Integrasi Kontur. Misalkan fungsi f (z)
kontinu dalam domain D dan mempunyai antiturunan F (z) di seluruh D, yakni F 0 (z) = f (z)
pada setiap z dalam D. Maka untuk sembarang kontur γ yang terletak dalam D dengan titik
awal γ(a) = z1 dan titik terminal γ(b) = z2 berlaku
Z
f (z) dz = F (z2 ) − F (z1 ), (4.3.16)
γ

yakni nilai integral tak bergantung pada kontur γ sepanjang z1 ke z2 .

Bukti. Pertama perhatikan bahwa

d
F (γ(t)) = F 0 (γ(t))γ 0 (t) = f (γ(t))γ 0 (t).
dt

Selanjutnya,
Z Z b
f (z) dz = f (γ(t))γ 0 (t) dt
γ a
Z b
d
= F (γ(t)) dt
a dt
= F (γ(b)) − F (γ(a)) = F (z2 ) − F (z1 )

dan bukti selesai.


Jika kontur γ mulus bagian demi bagian, yakni tersusun atas sub-sub lintasan yang mulus,
maka teorema berlaku pada setiap sub lintasan dan hasil akhirnya akan sama seperti yang
dinyatakan dalam teorema.

R
Contoh 4.3.1. Hitung integral C cos z dz dengan C adalah kontur pada Gambar 4.3.1.

2010 Universitas Pendidikan Ganesha


Analisis Kompleks 84

Gambar 4.3.1
Solusi. Kita tidak perlu mencari parameterisasi dari C sebab integran mempunyai antiturunan
F (z) = sin z untuk semua z. Jadi, dengan Teorema 4.3.1 nilai integral dapat ditentukan dengan
menggunakan hanya titik-titik ujung dari C:
Z 2+i
cos z dz = sin z = sin (2 + i) + sin 1.

C −1

♣♣♣

(3z 2 −2z) dz dengan C = γ1 +γ2 adalah kontur pada Gambar


R
Contoh 4.3.2. Hitung integral C

4.3.2.

Gambar 4.3.2
Solusi. Tanpa Teorema 4.3.1 harus ditentukan dulu parameterisasi dari γ1 dan γ2 yang tentu
saja akan memakan waktu. Tetapi karena integran f (z) = 3z 2 − 2z analitik dalam sembarang
daerah terhubung sederhana yang memuat titik z1 = −1 dan z2 = 1, Teorema 4.3.1 memu-
ngkinkan kita untuk memilih lintasan sembarang dari z1 ke z2 . Jelas, yang termudah adalah
ruas garis ` : y = 0, −1 ≤ x ≤ 1 sehingga
Z Z 1
2
(3z − 2z) dz = (3x2 − 2x) dx = 2.
C −1

♣♣♣
Karena titik awal dan titik akhir kontur tertutup adalah sama, Teorema 4.3.1 memberikan
konsekuensi berikut.

Corollary 4.3.3. Jika f kontinu dalam domain D dan mempunyai antiturunan di seluruh D,
maka untuk semua kontur tertutup C yang terletak dalam D berlaku
Z
f (z) dz = 0.
C

4.4 Teorema Integral Cauchy


Teorema 4.4.1. (Teorema Integral Cauchy) Jika f analitik dalam daerah terhubung sederhana
D dan C kontur tertutup yang seluruhnya terletak dalam D, maka
Z
f (z) dz = 0. (4.4.17)
C

2010 Universitas Pendidikan Ganesha


Analisis Kompleks 85

Kebalikan teorema ini tidak selalu benar. Misalkan f (z) = 1/z 2 mempunyai integral yang
nilainya nol tetapi f (z) tidak analitik di z = 0.
Dari teorema Cauchy diturunkan teorema deformasi kontur yang sangat bermanfaat seperti
berikut.

Teorema 4.4.2. (Teorema Annulus) Misalkan f (z) analitik pada annulus tertutup yang diten-
tukan oleh dua kontur tertutup sederhana γ1 dan γ2 . Maka
Z Z
f (z) dz = f (z) dz
γ1 γ2

asalkan γ1 dan γ2 ditelusuri dengan orientasi yang sama.

Bukti. Perhatikan Gambar ... Buat irisan lintasan yang menghubungkan zA ∈ γ1 dengan
zB ∈ γ2 seperti ditunjukkan pada Gambar ... Pandang kontur tertutup sederhana C = γ1 ∪
[zA , zB ] ∪ (−γ2 ) ∪ [zb , zA]. Fungsi f (z) analitik pada dan di dalam C sehingga dengan Teorema
Integral Cauchy didapat
Z
f (z) dz = 0
C

yaitu
Z Z Z Z
f (z) dz + f (z) dz + f (z) dz + f (z) dz = 0.
γ1 [zA ,zB ] −γ2 [zB ,zA ]

Tetapi,
Z Z
f (z) dz = − f (z) dz = 0
[zA ,zB ] [zB ,zA ]

dan dari sini diturunkan bahwa


Z Z
f (z) dz = f (z) dz
γ1 −γ2

berdasarkan Teorema 4.2.1 Bagian 3.


Teorema Annulus tidak menuntut fungsi f agar analitik dalam Int(γ2 ). Jika f analitik
dalam Int(γ2 ), maka berlaku Teorema Integral Cauchy, yaitu
Z Z
f (z) dz = f (z) dz = 0.
γ1 γ2

2010 Universitas Pendidikan Ganesha


Analisis Kompleks 86
R
Contoh 4.4.1. Hitung C dz/(z − i) sepanjang lintasan C seperti Gambar 4.4.2.

Gambar 4.4.2

Solusi. Satu-satunya titik singular dari integran adalah z = i. Jika dipilih lingkaran K berpusat
di z = i dengan jari-jari cukup kecil sehingga K seluruhnya terletak dalam Int(C), maka Teorema
Annulus bisa diterapkan. Jadi, f (z) = 1/(z − i) analitik pada annulus tertutup yang ditentukan
oleh C dan K. Dengan Teorema Annulus didapat
Z Z
dz dz
= = 2πi.
C z−i K z−i

♣♣♣

1/z dz dengan C adalah elips x2 + 4y 2 = 1 yang ditelusuri satu kali


R
Contoh 4.4.2. Hitung C

berlawanan arah jarum jam seperti Gambar 4.4.3.

Gambar 4.4.3

Solusi. Integran 1/z analitik di bidang dengan titik asal dihilangkan. Kita dapat memilih
kontur berupa lingkaran satuan C0 dengan orientasi yang sama. Jadi,
Z Z
1 1
dz = dz = 2πi.
C z C0 z

♣♣♣

Contoh 4.4.3. Hitung


ez
I
dz.
|z|=2 z2−9
Solusi. Notasi yang digunakan menunjukkan bahwa kontur dalam integral ini adalah lingkaran
|z| = 2 yang ditelusuri satu kali berlawanan arah jarum jam. Integran ez /(z 2 − 9) analitik di
mana-mana kecuali di z = ±3. Dengan Teorema Integral Cauchy didapat nilai integral adalah
nol. ♣♣♣

2010 Universitas Pendidikan Ganesha


Analisis Kompleks 87

4.5 Formula Integral Cauchy


Teorema Cauchy adalah salah satu alat yang paling mendasar dalam teori fungsi kompleks.
Beberapa konsekuensinya antara lain formula integral Cauchy, teorema Liouville, teorema fun-
damental aljabar, dan maximum modulus principle. Dalam bagian ini akan diuraikan formula
integral Cauchy yang dirumuskan dalam teorema berikut.

Teorema 4.5.1. (Formula Integral Cauchy) Misalkan γ kurva tertutup sederhana dengan
orientasi positif. Jika f analitik dalam suatu daerah terhubung sederhana D yang memuat γ
dan z0 sembarang titik di dalam γ, maka
Z
1 f (z)
f (z0 ) = dz. (4.5.1)
2πi γ (z − z0 )

Perhatikan bahwa f (z) analitik dalam Int(γ) dan f (z)/(z − z0 ) mempunyai titik singular
dalam Int(γ), yaitu titik z = z0 .
Bukti. Definisikan fungsi g(z) sebagai berikut:

 f (z)−f (z0 ) ,

z 6= z0
z−z0
g(z) =
f 0 (z ),

z = z0 .
0

Fungsi g(z) analitik untuk z 6= z0 dan limz→z0 g(z) ada sebab f analitik. Jadi, dengan Teorema
Integral Cauchy
Z
g(z) dz = 0.
γ

Di lain pihak

f (z) − f (z0 )
Z Z
g(z) dz = dz
γ γ z − z0
Z Z
f (z) f (z0 )
= dz − dz = 0
γ z − z0 γ z − z0

sehingga
Z Z
f (z) f (z0 )
dz = dz.
γ z − z0 γ z − z0
Tetapi
Z
dz
dz = 2πi
γ z − z0
sehingga
Z
f (z0 )
dz = 2πif (z0 ).
γ z − z0

2010 Universitas Pendidikan Ganesha


Analisis Kompleks 88

Jadi,
Z
f (z)
dz = 2πif (z0 )
γ z − z0
atau
Z
1 f (z)
f (z0 ) = dz.
2πi γ z − z0

Contoh 4.5.1. Hitung integral


ez + sin z
Z
dz,
C z
dengan C adalah lingkaran |z − 2| = 3 yang ditelusuri satu kali berlawanan arah jarum jam.

Solusi. Fungsi f (z) = ez + sin z analitik di dalam dan pada C dan titik z0 = 0 terletak di
dalam lingkaran. Jadi, dengan Formula Integral Cauchy nilai integral ini adalah 2πif (0) = 2πi.
♣♣♣
Meskipun Formula Integral Cauchy bisa menghitung banyak integral, namun beberapa
integral tidak dapat dihitung secara langsung dengan formula ini. Misalnya integral
I
sin (z)
dz
|z|=1 z2

tidak dapat dihitung secara langsung dengan Formula Integral Cauchy. Untuk mengatasi
masalah ini, kita gunakan ”diferensiasi di bawah tanda integral”. Dengan Formula Integral
Cauchy kita mempunyai
I
sin (z)
dz = 2πi sin (z0 )
|z|=1 z − z0
untuk semua z0 di dalam lingkaran satuan. Jika ini diturunkan terhadap z0 diperoleh
I
sin (z)
dz = 2πi cos (z0 )
|z|=1 (z − z0 )2

untuk semua z0 . Secara umum kita mempunyai

Teorema 4.5.2. (Formula Integral Cauchy yang Diperumum) Jika f analitik pada dan
di dalam kurva tertutup sederhana dengan orientasi positif dan jika z sembarang titik di dalam
γ, maka
Z
n n! f (w)
f (z) = dw, n = 0, 1, 2, . . . (4.5.2)
2πi γ (w − z)n+1

Contoh 4.5.2. Hitung integral


ez + z 3
Z
dz,
C (z + πi)3
dengan C : z = 7eit , 0 ≤ t ≤ 2π.

2010 Universitas Pendidikan Ganesha


Analisis Kompleks 89

Solusi. Ambil f (z) = ez + z 3 , z0 = −πi, dan n = 2. Karena f (z) fungsi utuh dan z0 ∈ Int(C),
dengan Formula Integral Cauchy yang Diperumum diperoleh
ez + z 3
Z
2πi 00
3
dz = f (−πi) = 6π 2 − πi.
C (z + πi) 2!
♣♣♣

Teorema 4.5.3. (Ketaksamaan Cauchy) Misalkan f analitik pada himpunan buka S dan
C adalah lingkaran dengan jari-jari r dan pusat a yang seluruhnya terletak dalam S. Jika
|f (z)| ≤ M untuk semua z ∈ C, maka
M n!
|f (n) (a)| ≤ .
rn
Teorema 4.5.4. (Teorema Liouville) Misalkan f terdiferensialkan pada seluruh C dan ter-
batas, yakni terdapat bilangan M sedemikian sehingga |f (z)| ≤ M untuk semua z ∈ C. Maka,
f adalah fungsi konstan.

Teorema Liouville ini sangat bertolak belakang dengan analisis riil. Dalam analisis riil,
terbatas tidak berarti konstan, misalnya fungsi sin. Fungsi ini terdiferensialkan pada seluruh R
dan | sin x| ≤ 1 untuk semua x ∈ R tetapi bukan fungsi konstan.
Bukti. Untuk membuktikan fungsi itu konstan, akan ditunjukkan bahwa f (α) = f (0) untuk
sembarang α. Jadi harus ditunjukkan bahwa |f (α) − f (0)| = 0 untuk setiap α ∈ C. Misalkan
α ∈ C. Misalkan R ≥ 2|α| dan γ(t) = e2πit untuk 0 ≤ t ≤ 1 adalah lingkaran dengan jari-jari R
dan pusat titik asal. Maka,
Z Z
1 f (z) 1 f (z)
|f (α) − f (0)| = dz − dz
2πi γ z − α 2πi γ z
Z  
1 1 1
= f (z) − dz
2πi γ z−α z
Z
1 f (z)α
= dz
2π γ z(z − α)

 
1 α
≤ M sup L(γ)
2π z∈γ z(z − α)
1 |α|
≤ M · 2πR
2π R(R − |α|)
M |α|
= .
R − |α|
Tetapi R sembarang sehingga jika R → ∞, maka ruas kiri mendekati 0. Mengingat f (α) dan
f (0) keduanya tiak bergantung pada R, haruslah f (α)−f (0) = 0. Jadi, tertunjukkan f konstan.

2010 Universitas Pendidikan Ganesha


Analisis Kompleks 90

Teorema 4.5.5. (Teorema Maximum Modulus Principle) Misalkan f : D → C adalah


fungsi yang terdiferensialkan dan γ kontur tertutup sedemikian sehingga Int(γ) ⊂ D. Jika
|f (z)| ≤ M untuk semua z ∈ γ, maka |f (w)| ≤ M untuk semua w ∈ Int(γ).

Teorema ini menyatakan bahwa modulus suatu fungsi dalam interior kontur tidak pernah
melebihi modulus fungsi itu pada kontur. Dengan kata lain, modulus maksimum terjadi pada
batas daerah.
Bukti. Kita terapkan formula integral Cauchy pada w ∈ Int(γ) dan f [k] (w) dengan k bilangan
asli:
f [k] (z)
Z
1
f [k] (w) = dz.
2πi γ z−w
Definisikan jarak dari w ke γ oleh

d = d(γ, w) = inf {|z − w| : z ∈ γ}.

Jelas bahwa |z − w| ≥ d untuk semua z ∈ γ sehingga

1 Mk
|f [k] (w)| ≤ L(γ)
2π d

karena
|f [k] (w)| Mk
≤ pada γ.
|z − w| d
Dengan demikian,
 1/k
L(γ)
|f (w)| ≤ M.
2πd
Sekarang gunakan fakta bahwa limk→∞ x1/k = 1 untuk semua x > 0. Jadi, untuk k → ∞
didapat |f (w)| ≤ M .

Teorema 4.5.6. (Teorema Fundamental Aljabar) Setiap polinomial p(z) = z n +an−1 z n−1 +
· · · + a1 z + a0 , n ≥ 1 mempunyai akar di C.

Bukti. Kita buktikan dengan kontradiksi. Misalkan p(z) tidak mempunyai akar berarti
p(z) 6= 0 untuk semua z ∈ C. Karena itu, fungsi f yang didefinisikan oleh f (z) = 1/p(z)
terdiferensialkan pada seluruh C. Untuk z 6= 0,

p(z)
= 1 + an−1 + · · · + a0 → 1


zn untuk |z| → ∞.
z zn

Jadi, terdapat R sedemikian sehingga |z| ≥ R mengakibatkan |p(z)/z n | ≥ 1/2. Ini berarti,

1
|f (z)| =
≤ 2 ≤ 2 untuk |z| > R.
p(z) |z n | Rn

2010 Universitas Pendidikan Ganesha


Analisis Kompleks 91

Menggunakan maximum modulus principle yang diterapkan pada f dengan γ menyatakan lingkaran
baku dengan jari-jari R dan pusat titik asal, diturunkan

2
|z| < R =⇒ |f (z)| ≤ pada seluruh C.
Rn

Dengan teorema Liouville, berarti f konstan dan karenanya p juga konstan. Ini kontradiksi
dengan asumsi bahwa p(z) mempunyai derajat paling rendah 1. Jadi paling sedikit terdapat
satu nilai z yang memenuhi p(z) = 0.

D. Rangkuman

1. Suatu busur C adalah himpunan titik z = (x, y) pada bidang kompleks sedemikian se-
hingga
x = x(t), y = y(t), a≤t≤b

dengan x(t) dan y(t) fungsi kontinu dengan parameter riil t. Busur C dapat disajikan
sebagai fungsi kontinu
z = z(t) = x(t) + iy(t)

Busur C disebut busur sederhana atau busur Jordan bila busur tersebut tidak memotong
diri sendiri, yakni C sederhana jika z(t1 ) 6= z(t2 ) bila t1 6= t2 . Jika busur C sederhana
tetapi z(b) = z(a), maka C disebut kurva tertutup sederhana atau kurva Jordan.

2. Fungsi z(t) = x(t) + iy(t) dikatakan terdiferensialkan jika x(t) dan y(t) keduanya terdifer-
ensialkan dan z 0 (t) = x0 (t) + iy 0 (t), a ≤ t ≤ b.

3. Suatu busur C yang dideskripsikan oleh persamaan z(t) = x(t) + iy(t) disebut busur
mulus jika z(t) mempunyai turunan kontinu pada [a, b] dan z 0 (t) 6= 0 pada [a, b]. Jika
z(t) juga memenuhi kondisi z(b) = z(a) dan z 0 (b) = z 0 (a), maka busur C disebut kurva
tertutup mulus.

4. Setiap fungsi z(t) yang mendeskripsikan kurva mulus C disebut parameterisasi dari C,
variabel t disebut parameter, dan interval [a, b] disebut interval parametrik. Parame-
terisasi ini tidak tunggal.

Jika C suatu kurva mulus yang dinyatakan oleh parameterisasi z(t), a ≤ t ≤ b, maka
titik pada kurva C yang bersesuaian dengan t = a disebut titik awal dari C; titik yang
berkorespondensi dengan t = b disebut titik terminal dari C.

2010 Universitas Pendidikan Ganesha


Analisis Kompleks 92

Jika titik awal dan titik terminal kurva C berimpit, maka C disebut kurva tertutup; jika
tidak disebut kurva terbuka. Jika suatu kurva tidak memotong dirinya sendiri, maka
kurva itu disebut kurva sederhana; jika tidak disebut kurva ganda.
5. Jika z = z(t), a ≤ t ≤ b adalah parameterisasi yang konsisten dengan salah satu arah,
maka z = z(−t), −b ≤ t ≤ −a selalu berkorespondensi dengan arah yang berlawanan.
6. Suatu kontur C adalah rangkaian kurva mulus berarah (C1 , C2 , . . . , Cn ) yang banyaknya
berhingga sedemikian sehingga titik akhir dari Ck berimpit dengan titik awal dari Ck+1
untuk setiap k = 1, 2, . . . , n − 1. Dalam hal ini, C dapat dituliskan sebagai C = C1 + C2 +
· · · + Cn .
7. Parameterisasi suatu kontur merupakan gabungan dari parameterisasi kurva-kurva pem-
bentuk kontur tersebut. Oleh karena itu terminologi kurva mulus berarah berlaku untuk
kontur. Kontur C disebut kontur tertutup atau loop jika titik awal dan titik terminal-
nya berimpit; jika tidak disebut kontur terbuka. Suatu kontur tertutup sederhana
adalah kontur tertutup tanpa titik ganda selain titik awal dan titik terminalnya.
8. Jika kontur C mempunyai parameterisasi z = z(t), a ≤ t ≤ b, maka kontur yang arahnya
berlawanan dengan C, dinotasikan −C, adalah kontur yang diberikan oleh z1 (t) = z(−t),
−b ≤ t ≤ −a.
9. Setiap kontur tertutup sederhana C membagi bidang menjadi dua bagian yang saling
asing. Bagian dalam C, Int(C), merupakan himpunan terbuka dan terbatas; bagian luar
C, Ext(C), merupakan himpunan terbuka dan tak terbatas. Kontur C merupakan batas
antara Int(C) dan Ext(C).

Jika suatu kontur tertutup sederhana C ditelusuri sehingga interiornya terletak di se-
belah kiri dari penelusur, maka dikatakan C mempunyai orientasi positif (cco) atau
berlawanan arah jarum jam; jika tidak, maka dikatakan C mempunyai orientasi negatif
(co) atau searah jarum jam.

Untuk kontur terbuka, orientasinya positif bila ditelusuri dari titik awal ke titik terminal
dan jika ditelusuri dari titik terminal ke titik awal diperoleh orientasi negatif.
10. Panjang kurva γ : [a, b] → C diberikan oleh formula
Z b
`(γ) = |γ| = |γ 0 (t)|dt.
a

dengan γ(t) adalah parameterisasi dari kurva. Panjang kontur merupakan jumlah dari
panjang kurva-kurva penyusunnya.

2010 Universitas Pendidikan Ganesha


Analisis Kompleks 93

11. Misalkan γ kurva mulus dengan parameterisasi z(t) = x(t) + iy(t), t ∈ [a, b]. Misalkan
f = u + iv fungsi bernilai kompleks yang didefinisikan sepanjang γ. Maka integral dari f
sepanjang γ diberikan oleh
Z Z b Z b
0 0
f (z)dz = (ux − vy )dt + i (vx0 + uy 0 )dt.
γ a a

dengan u = u(x(t), y(t)), v = v(x(t), y(t)), x0 = x0 (t), y 0 = y 0 (t).


12. Jika f dan g terintegralkan sepanjang γ, maka berlaku
R  R R
(a). f (z) ± g(z) dz = γ f (z) dz ± γ g(z) dz
γ
R R
(b). γ c f (z) dz = c γ f (z) dz, c konstanta kompleks
R R
(c). −γ f (z) dz = − γ f (z) dz
R R R
(d). γ f (z) dz = γ1 f (z) dz + γ2 f (z) dz dengan γ = γ1 + γ2

13. Jika f (t) = u(t) + iv(t) fungsi bernilai kompleks yang kontinu pada [a, b], maka integral
tentu dari f pada [a, b] dapat dihitung dengan formula berikut:
Z b Z b Z b
f (t) dt = u(t) dt + i v(t) dt
a a a

dengan sifat-sifat sebagai berikut


Z b  Z b Z b

(a). Re f (t) dt = u(t) dt = Re f (t) dt.
a a a
Z b  Z b Z b

(b). Im f (t) dt = v(t) dt = Im f (t) dt.
a a a
Z b Z b
(c). c f (t) dt = c f (t) dt, c konstanta kompleks
a a
Z b Z a
(d). f (t) dt = − f (t) dt.
a b
Z b Z b

(e).
f (t) dt ≤ |f (t)| dt.
a a
14. Jika fungsi bernilai kompleks f kontinu pada [a, b] dan F 0 (t) = f (t) untuk semua t ∈ [a, b],
maka
Z b
f (t) dt = F (b) − F (a).
a

15. Jika f fungsi kontinu pada kurva mulus berarah γ dan z = z(t), a ≤ t ≤ b adalah
parameterisasi dari γ yang konsisten dengan arahnya, maka
Z Z b
f (z) dz = f (z(t)) z 0 (t) dt
γ a

dan hasil ini berlaku untuk semua parameterisasi dari γ.

2010 Universitas Pendidikan Ganesha


Analisis Kompleks 94

16. Jika kontur C tersusun oleh kurva mulus berarah (γ1 , γ2 , . . . , γn ) dan f fungsi kontinu
R
pada C, maka integral kontur dari f sepanjang C, ditulis C f (z) dz, diberikan oleh
Z Z Z Z
f (z) dz = f (z) dz + f (z) dz + · · · + f (z) dz.
C γ1 γ2 γn

Karena kontur merupakan gabungan dari kurva mulus, sifat-sifat dari integral sepanjang
kurva mulus juga valid untuk integral sepanjang kontur.
17. Teorema ML. Jika f kontinu pada kurva γ dan jika |f (z)| ≤ M untuk semua z pada γ,
maka Z

f (z) dz ≤ M L

γ
dengan L menyatakan panjang kurva γ.
18. Jika f (z) analitik pada daerah terhubung sederhana D serta z1 dan z2 adalah dua titik
Rz
dalam D, maka z12 f (z) dz tidak bergantung pada lintasan γ yang menghubungkan z1
dan z2 asalkan γ terletak seluruhnya dalam D.
19. Jika fungsi f (z) kontinu dalam domain D dan mempunyai antiturunan F (z) di seluruh
D, maka untuk sembarang kontur C yang terletak dalam D dengan titik awal z1 dan titik
terminal z2 berlaku
Z
f (z) dz = F (z2 ) − F (z1 ).
C
Jika kontur C tertutup, maka
Z
f (z) dz = 0.
C
20. Teorema Anulus. Jika f (z) analitik pada anulus tertutup yang ditentukan oleh dua
kontur tertutup sederhana γ1 dan γ2 dengan orientasi yang sama, maka
Z Z
f (z) dz = f (z) dz.
γ1 γ2

21. Teorema Integral Cauchy. Jika f analitik dalam daerah terhubung sederhana D dan
C kontur tertutup yang seluruhnya terletak dalam D, maka
Z
f (z) dz = 0.
C

Konvers dari pernyataan ini tidak selalu benar.


22. Formula Integral Cauchy. Jika γ kurva tertutup sederhana dengan orientasi positif dan
f analitik dalam suatu daerah terhubung sederhana D yang memuat γ serta z0 sembarang
titik di dalam γ, maka
Z
1 f (z)
f (z0 ) = dz.
2πi γ (z − z0 )

2010 Universitas Pendidikan Ganesha


Analisis Kompleks 95

23. Formula Integral Cauchy yang Diperumum. Jika f analitik pada dan di dalam
kurva tertutup sederhana dengan orientasi positif dan jika z sembarang titik di dalam γ,
maka
Z
n n! f (w)
f (z) = dw, n = 0, 1, 2, . . . .
2πi γ (w − z)n+1

E. Daftar Pustaka
Brown, J. W. dan Churchill, R. V. 1996. Complex Variables and Applications, Sixth Edition.
New York: McGraw-Hill, Inc.
Spiegel, M. R. 1990. Complex Variables. New York: McGraw-Hill.
Krantz, S. G. 2008. Complex Variables: A physical approach with applications and MATLABr .
Boca Raton: Chapman & Hall/CRC.

2010 Universitas Pendidikan Ganesha


Analisis Kompleks 96

F. Latihan

1. Tentukan parameterisasi untuk kurva berikut yang konsisten dengan arahnya.

(a). ruas garis dari z = 1 + i ke z = −2 − 3i

(b). lingkaran |z − 2i| = 4 ditelusuri sekali searah jarum jam mulai dari titik z = 4 + 2i.

(c). busur lingkaran |z| = R yang terletak di kuadran II dari z = Ri ke z = −R.

(d). gambar

2. Untuk setiap kurva berikut, gambarkan kurvanya, tentukan titik awal dan titik akhir, serta
tentukan arahnya. Tuliskan persamaan kurva dalam bentuk rektangular.

(a). x = t2 − 1, y = t, −1 ≤ t ≤ 1.

(b). x = 3 cos t, y = 2 sin t, 0 ≤ t ≤ π.

(c). z = −i + eit , −π ≤ t ≤ π.

(d). z = t2 − 1 + i(t + 4), 1 ≤ t ≤ 3.

3. Hitung integral berikut.


R1
(a). 0 (2t + it2 ) dt
R0
(b). −2 (1 + i) cos (it) dt
R2 t
(c). 0 (t2 +i)2 dt
R 1/2
(d). 0 cosh (it) dt
R
4. Hitung C f (z) dz jika f dan C diberikan berikut ini.

(a). kontur C adalah lingkaran |z| = 2 yang ditelusuri tiga kali searah jarum jam dan
f (z) = z̄. (0, 0) ke (1, 1) dan f (z) = 3z.

(b). kontur C adalah jalur poligonal berawal di −i ke −1 − i lalu ke −1 dan berakhir di


i serta f (z) = y.

(c). kontur C adalah z(t) = t + it3 , 0 ≤ t ≤ 1 dan f (z) = |z 2 |.

(d). kontur C adalah setengah lingkaran satuan bagian atas dan f (z) = |z − 1|2 .

(x − 2xyi) dz sepanjang kontur C : z = t + it2 , 0 ≤ t ≤ 1 dengan x = Re z dan


R
5. Hitung C

y = Im z.

2010 Universitas Pendidikan Ganesha


Analisis Kompleks 97

(|z − 1 + i|2 − z) dz sepanjang setengah lingkaran z = 1 − i + eit , 0 ≤ t ≤ π.


R
6. Hitung C

7. Hitung
Z  
6 2 2
+ + 1 − 3(z − i) dz,
C (z − i)2 z − i
dengan C adalah lingkaran |z − i| = 4 yang ditelusuri sekali berlawanan arah jarum jam.

8. Tunjukkan bahwa

(a). jika C adalah busur lingkaran |z| = 2 dari z = 2 ke z = 2i yang terletak di kuadran
I, maka Z
dz π
≤ ;

C z2 − 1 3
(b). jika C adalah ruas garis dari z = 0 ke z = i, maka
Z
sin z

e dz ≤ 1.

C

9. Tentukan daerah keanalitikan dari fungsi berikut dan jelaskan mengapa


I
f (z) dz = 0.
|z|=1

(a). f (z) = Ln (z + 2)

(b). f (z) = ze−z


1
(c). f (z) = z 2 +2z+2

10. Misalkan C1 menyatakan lingkaran |z| = 4 dengan orientasi positif dan C2 menyatakan bu-
jur sangkar yang sisi-sisinya pada garis x = ±1, y = ±1 dengan orientasi positif. Jelaskan
mengapa
Z Z
f (z) dz = f (z) dz
C1 C2

bila

z+2
(a). f (z) = sin (z/2) .
z
(b). f (z) = 1−ez .

11. Integralkan (2z − 1)(z 2 − z)−1 dengan orientasi berlawanan arah jarum jam sepanjang
lingkaran (a). |z − 1| = 1, (b). |z − 3| = 1.

2010 Universitas Pendidikan Ganesha


Analisis Kompleks 98
R
12. Hitung C f (z) dz bila

(a). f (z) = Re(z), C adalah bagian parabola y = x2 dari 0 ke 1 + i.


(b). f (z) = 4z − 3, C adalah ruas garis dari i ke 1 + i.
(c). f (z) = ez , C adalah keliling persegi dengan titik-titik sudut 0, 1, 1 + i, dan i (searah
jarum jam).
(d). f (z) = Im(z 2 ), C adalah lingkaran dengan titik sudut 0, 1, dan i dengan orientasi
positif.

13. Misalkan C adalah keliling bujursangkar dengan orientasi berlawananan jarum jam. Sisi-
sisi bujursangkar dibentuk oleh garis-garis x = ±2, y = ±2. Hitung

dz
R
(a). C z− π i
2
dz
R
(b). C z(z 2 +8)
R cosh z
(c). C z4
dz
R zdz
(d). C 2z+1 dz

14. Misalkan C kontur tertutup sederhana dengan orientasi positif. Tentukan nilai integral
berikut.
R ex cis y dz
(a). C z−πi dengan πi ∈ Int(C).
R ex cis y dz
(b). C z−πi dengan πi ∈ Ext(C).
dz
R
(c). C z 2 +π 2 dengan πi ∈ Int(C) dan −πi ∈ Ext(C).
dz
R
(d). C z 2 +π 2 dengan πi dan −πi keduanya di dalam Int(C).

15. Integralkan fungsi berikut sepanjang lingkaran |z| = 3, ditelusuri berlawanan arah jarum
jam

(a). Ln (z − 4i).
ez
(b). z3
.

(c). iz−3 .
sin z
(d). 1 .
(z 2 + 2 )2
1
(e). (z+4)(z 2 +1)
.

2010 Universitas Pendidikan Ganesha


Analisis Kompleks 99

16. Hitung integral berikut, gunakan nilai utama dari z i .

z i dz dengan γ1 (t) = eit , − π2 ≤ t ≤ π2 .


R
(a). γ1

π 3π
z i dz dengan γ1 (t) = eit ,
R
(b). γ2 2 ≤t≤ 2 .

17. Misalkan γr adalah lingkaran berpusat di 2i dengan jari-jari r, orientasi berlawanan arah
jarum jam. Hitung
Z
dz
.
γr z2 +1

18. Misalkan γr adalah lingkaran berpusat di 0 dengan jari-jari r, orientasi berlawanan arah
jarum jam. Hitung
Z
dz
γr z 2 − 2z − 8
untuk r = 1, r = 3, dan r = 5.

19. Misalkan C adalah lingkaran |z| = 3 dengan orientasi positif. Tunjukkan bahwa jika

2z 2 − z − 2
Z
g(w) = dz, |w| =
6 3,
C z−w

maka g(2) = 8πi. Berapakah nilai g(w) bila |w| > 3?

20. Misalkan f : C → C terdiferensialkan. Dengan menentukan nilai integral


Z 
2 1
+ 1 + 2 f (z) dz
γ z z

dengan γ merupakan lingkaran satuan, hitung nilai integral


Z 2π
f (eit )(1 + cos(t)) dt
0

dinyatakan dalam f (0) dan f 0 (0).


R
21. Hitung integral Γ 1/z dz dengan (a) Γ adalah kontur pada Gambar 4.1.a dan (b) C adalah
kontur pada Gambar 4.1.b.

Gambar 4.1.a Gambar 4.1.b

2010 Universitas Pendidikan Ganesha


Analisis Kompleks 100
2 − z) dz
R
22. Hitung Γ (3z − 2)/(z dengan Γ adalah kontur tertutup sederhana seperti Gambar
4.2.

Gambar 4.2

1/(z 2 − 1) dz dengan Γ seperti Gambar 4.3.


R
23. Hitung Γ

Gambar 4.3

24. Hitung integral


Z
dz
C z(z + πi)
dengan C : z = −3i + eit , 0 ≤ t ≤ 2π.

25. Hitung integral


Z
2z + 1
dz
C z(z − 1)2
sepanjang kontur C seperti Gambar 4.4.

Gambar 4.4

2010 Universitas Pendidikan Ganesha