Anda di halaman 1dari 30

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar belakang
Pada usia lanjut terjadi perubahan anatomi-fisiologi dan dapat
timbul pula penyakit-penyakit pada sistem pernafasan. Usia harapan hidup
lansia di Indonesia semakin meningkat karena pengaruh status kesehatan,
status gizi, tingkat pendidikan, ilmu pengetahuan dan sosial ekonomi yang
semakin meningkat sehingga populasi lansia pun meningkat. Pada tahun
2010 jumlah warga lanjut usia (lansia) di Indonesia akan mencapai
19.079.800 jiwa (BAPPENAS, BPS, UNFPA. 2005) pada tahun 2014 akan
berjumlah 22.232.200 jiwa atau 9,6% dari total penduduk dan pada tahun
2025 akan meningkat sampai 414% dibandingkan tahun 2004 (WHO,
2005).
Menurut ilmu demografi Indonesia dalam masa transisi demografi
yaitu perubahan pola penduduk berusia muda ke usia tua. Infeksi saluran
nafas bagian bawah akut dan tuberkulosis paru menduduki 5 penyakit
terbanyak yang diderita oleh masyarakat. Gangguan sistem respirasi
merupakan gangguan yang menjadi masalah besar di dunia khususnya
Indonesia diantaranya adalah penyakit pneumonia, TBC, dan asma.
Menurut laporan WHO pada tahun 2006, Indonesia merupakan negara
dengan tingkat kejadian pneumonia tertinggi ke-6 di seluruh dunia.
Berdasarkan Survey Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) pada tahun 2001,
pneumonia merupakan urutan terbesar penyebab kematian pada balita.
Pneumonia dapat mengenai anak di seluruh dunia, bila diumpamakan
kematian anak-anak di seluruh dunia akibat pneumonia, maka setiap jam,
anak-anak sebanyak 1 pesawat jet penuh (230 anak) meninggal akibat
pneumonia, yang mencapai hampir 1 dari 5 kematian balita di seluruh
dunia. Insiden pneumonia di negara berkembang adalah 10-20 kasus/100
anak/tahun (10-20%). Sedangkan insiden TBC, WHO mencatat peringkat
Indonesia menurun ke posisi lima dengan jumlah penderita TBC sebesar
429 ribu orang. Lima negara dengan jumlah terbesar kasus insiden pada

1
tahun 2009 adalah India, Cina, Afrika Selatan, Nigeria dan Indonesia
(WHO, 2010).
Peningkatan insiden dan prevalensi pneumonia pada lansia juga
dikaitkan dengan penyakit komorbid yang diderita pasien, seperti diabetes
melitus, penyakit jantung, malnutrisi, dan penyakit hati kronik. Sebagai
contoh, diabetes melitus menyebabkan penurunan fungsi sistim imun
tubuh baik proses kemotaksis maupun fagositosis. Pada gagal jantung
kongestif yang disertai edema paru, fungsi clearance paru berkurang
sehingga kolonisasi kuman pernafasan mudah berkembangbiak. Pasien
yang sebelumnya sering mengonsumsi obat-obatan yang bersifat sedatif
atau hipnotik berisiko tinggi mengalami aspirasi sehingga mempermudah
terjadinya infeksi. Hal itu disebabkan kedua obat tersebut menekan
rangsang batuk dan kerja clearance mukosilier (WHO, 2010).
Dampak yang diakibatkan meliputi masa rawat yang lebih
panjang, biaya rawat yang lebih besar serta sering timbulnya komplikasi
berat sehingga menimbulkan penurunan kualitas hidup. Infeksi saluran
nafas atas dan influenza malah sering berlanjut menjadi pneumonia yang
gejala dan tanda pneumonia pada lansia sering tidak khas yang
menyebabkan keterlambatan diagnosis, belum lagi meningkatnya
resistensi mikroba terhadap antibiotika. Adapun peran kita sebagai
seorang perawat dalam mencegah ataupun menangani gangguan yang
terjadi pada sistem pernapasan lansia adalah memberikan pendidikan
kesehatan pada lansia untuk mencegah terjadinya gangguan yang lebih
kronis dan memberikan tindakan keperawatan sesuai wewenang kita
sebagai seorang perawat sesuai indikasi yang diderita oleh lansia (Geffen,
2006).
B. Tujuan penulisan
1. Tujuan umum
Mahasiswa mengetahui bagaimana konsep teori serta
asuhan keperawatan yang tepat untuk lansia dengan gangguan
sistem pernafasan.
2. Tujuan khusus
a. Untuk mengetahui konsep lansia

2
b. Untuk mengetahui perubahan anatomi dan fisiologi sistem
respirasi pada lansia
c. Untuk mengetahui asuhan keperawatan pada lansia dengan
gangguan sistem respirasi

3
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Konsep Dasar Lansia


1. Defenisi
Usia lanjut adalah suatu kejadian yang pasti akan dialami oleh
semua orang yang dikaruniai usia panjang, terjadinya tidak bisa di
hindari siapapun. Usia tua adalah periode penutup dalam rentang
hidup seseorang, yaitu periode dimana seseorang telah “beranjak
jauh” dari periode terdahulu yang lebih menyenangkan atau beranjak
dari waktu yang penuh dengan manfaat (Hurlock, 2000).
Menurut Undang-Undang RI nomor 13 tahun 1998, Depkes
(2001) yang dimaksud dengan usia lanjut adalah seorang laki – laki
atau perempuan yang berusia 60 tahun atau lebih, baik yang secara
fisik masih berkemampuan ( potensial) maupun karena sesuatu hal
yang tidak mampu berperan aktif dalam pembangunan (tidak
potensial).
Wheeler, mengungkapkan usia tua tidak hanya dilihat dari
perhitungan kronologis atau berdasarkakan kalender saja, tetapi juga
menurut kondisi kesehatan seseorang ( health age ). Sehingga umur
sesungguh nya dari seseorang merupakan gabungan dari ketiga -
tiganya (Nugroho, 2008).
Jadi dapat disimpulkan bahwa lansia adalah suatu periode
penutup dalam hidup seseorang baik laki-laki maupun perempuan
yang berusia 60 tahun atau lebih yang secara fisik masih potensial
maupun tidak potensial.
2. Batasan Lansia
Menurut Setyonegoro, dalam Nugroho ( 2008), pengelompokkan
usia lanjut adalah sebagai berikut :
a. Usia dewasa muda ( Elderly adulhood), 18 atau 20 – 25 tahun
b. Usia dewasa penuh ( middle years ) atau maturitas, 25 – 60 atau
65 tahun

4
c. Lanjut usia ( geriatric age ), lebih dari 65 atau70 tahun. Terbagi
untuk umur 70 – 75 tahun ( young old), 75– 80 tahun (old), dan
lebih dari 80 tahun ( very old ).
Sedangkan menurut WHO tahun 2005, Lanjut usia meliputi usia
pertengahan yakni kelompok usia 45-59 tahun, Lanjut usia (Elderly)
yakni 60-74 tahun, usia lanjut tua (Old) yakni 75-90 tahun, dan usia
sangat tua (very old) yakni lebih dari 90 tahun.
B. Perubahan pada usia lanjut
1. Penurunan Kondisi Fisik
Setelah orang memasuki masa lansia umumnya mulai
dihinggapi adanya kondisi fisik yang bersifat patologis berganda
( multiple pathology ), misalnya tenaga berkurang, energi menurun,
kulit makin keriput, gigi makin rontok, tulang makin rapuh dan
sebagainya. Secara umum kondisi fisik seseorang yang sudah
memasuki masa lansia mengalami penurunan secara berlipat ganda.
Hal ini semua dapat menimbulkan gangguan atau kelainan fungsi
fisik, psikologik maupun sosial, yang selanjutnya dapat
menyebabkan suatu keadaan ketergantungan kepada orang lain.
2. Penurunan Fungsi dan Potensi Seksual
Penurunan fungsi dan potensi seksual pada lanjut usia sering
kali berhubungan dengan berbagai gangguan fisik seperti :
Gangguan jantung, gangguan metabolisme, misal diabetes millitus,
vaginitis, baru selesai operasi : misalnya prostatektomi, kekurangan
gizi, karena pencernaan kurang sempurna atau nafsu makan sangat
kurang, penggunaan obat-obat tertentu, seperti antihipertensi,
golongan steroid, tranquilizer.
Factor psikologis yang menyertai lansia adalah :
a. Rasa tabu atau malu bila mempertahankan kehidupan seksual
pada lansia.
b. Sikap keluarga dan masyarakat yang kurang menunjang serta
diperkuat oleh tradisi dan budaya.
c. Kelelahan atau kebosanan karena kurang variasi dalam
kehidupannya.
d. Pasangan hidup telah meninggal.

5
e. Disfungsi seksual karena perubahan hormonal atau masalah
kesehatan jiwa lainnya misalnya cemas, depresi, pikun dan
sebagainya. (Nugroho, 2008)
3. Perubahan Aspek Sosial
Pada umumnya setelah orang memasuki lansia maka ia
mengalami penurunan fungsi kognitif dan psikomotor. Fungsi
kognitif meliputi proses belajar, persepsi, pemahaman, pengertian,
perhatian dan lain-lain sehingga menyebabkan reaksi dan perilaku
lansia menjadi makin lambat. Sementara fungsi psikomotorik
(konatif) meliputi hal-hal yang berhubungan dengan dorongan
kehendak seperti gerakan, tindakan, koordinasi, yang berakibat
bahwa lansia menjadi kurang cekatan.
4. Perubahan yang Berkaitan dengan Pekerjaan
Pada umumnya perubahan ini diawali ketika masa pensiun.
Meskipun tujuan ideal pensiun adalah agar para lansia dapat
menikmati hari tua atau jaminan hari tua, namun dalam
kenyataannya sering diartikan sebaliknya, karena pensiun sering
diartikan sebagai kehilangan penghasilan, kedudukan, jabatan,
peran, kegiatan, status dan harga diri. Reaksi setelah orang
memasuki masa pensiun lebih tergantung dari model
kepribadiannya seperti yang telah diuraikan pada point tiga di atas.
(Nugroho, 2008).
C. Perubahan anatomi fisiologi sistem pernapasan pada lansia
Berikut adalah penjelasan tentang penyakit pernapasan pada lansia
yang dimulai dengan penjelasan tentang perubahan anatomic dan
fisiologik jantung:
1. Perubahan anatomik pada respirasi
Efek penuaan tersebut dapat terlihat dari perubahan-perubahan
yang terjadi baik dari segi anatomi maupun fisiologinya. Perubahan-
perubahan anatomi pada lansia mengenai hampir seluruh susunan
anatomik tubuh, dan perubahan fungsi sel, jaringan atau organ.
Perubahan anatomi yang terjadi turut berperan terhadap perubahan
fisiologis sistem pernafasan dan kemampuan untuk mempertahankan
homeostasis. Penuaan terjadi secara bertahap sehingga saat seseorang

6
memasuki masa lansia, ia dapat beradaptasi dengan perubahan yang
terjadi. Perubahan anatomik sistem respirastory akibat penuaan adalah
sebagai berikut :
a. Paru-paru kecil dan kendur.
b. Pembesaran alveoli.
c. Penurunan kapasitas vital ; penurunan PaO2 dan residu
d. Kelenjar mucus kurang produktif
e. Pengerasan bronkus dengan peningkatan resistensi
f. Penurunan sensivitas sfingter esophagush.
g. Klasifikasi kartilago kosta, kekakuan tulang iga pada kondisi
pengembangani.
h. Hilangnya tonus otot toraks, kelemahan kenaikan dasar paru.
Penurunan sensivitas kemoreseptor. (Stanley, 2006).
2. Perubahan Fisiologik pada pernapasan
Menurut Stanley, 2006 perubahan anatomi dan fisiologi yang
terjadi pada lansia, yaitu:
a. Hilangnya silia serta terjadinya penurunan reflex batuk dan
muntah pada lansia menyebabkan terjadinya penurunan
perlindungan pada sistem respiratory. Hal ini terjadi karena
saluran pernafasan tidak akan segera merespon atau bereaksi
apabila terdapat benda asing didalam saluran pernafasan
karena reflex batuk dan muntah pada lansia telah
mengalami penurunan.
b. Penurunan kompliants paru dan dinding dada. Hal
ini menyebabkan jumlah udara (O2) yang dapat masuk ke
dalam saluran pernafasan menurun dan menyebabkan terjadinya
peningkatan kerja pernafasan guna memenuhi kebutuhan tubuh.
c. Atrofi otot pernafasan dan penurunan kekuatan otot pernafasan.
Kedua hal ini menyebabkan pengembangan paru tidak terjadi
sebagai mestinya sehingga klien mengalami kekurangan suplay
O2 dan hal ini dapat menyebabkan kompensasi penigkatan RR
yang dapat menyebabkan kelelahan otot-otot pernafasan pada
lansia.
d. Paru-paru kecil dan mengendur. Paru-paru yang mengecil
menyebabkan ruangatau permukaan difusi gas berkurang bila
dibandingkan dengan dewasa.

7
3. Faktor-Faktor Yang Memperburuk Fungsi Paru
Selain penurunan fungsi paru akibat proses penuaan,
terdapat beberapa faktor yang dapat memperburuk fungsi paru, Faktor-
faktor yang memperburuk fungsi paru antara lain :
a. Faktor merokok
Merokok akan memperburuk fungsi paru, yaitu terjadi
penyempitan saluran nafas. Pada tingkat awal, saluran nafas akan
mengalami obstruksi clan terjadi penurunan nilai VEP1 yang
besarnya tergantung pada beratnya penyakit paru. (Dharmojo dan
Martono, 2006)
b. Obesitas
Kelebihan berat badan dapat memperburuk fungsi paru
seseorang. Pada obesitas, biasanya terjadi penimbunan lemak
pada leher, dada dan (finding perut, akan dapat
mengganggu compliance dinding dada, berakibat penurunan volume
paru atau terjadi keterbatasan gerakan pernafasan (restriksi) dan
timbul gangguan fungsi paru tipe restriktif. (Dharmojo dan
Martono, 2006)
c. Imobilitas
Imobilitas akan menimbulkan kekakuan atau keterbatasan
gerak saat otot-otot berkontraksi, sehingga kapasitas vital paksa
atau volume paru akan relatif' berkurang. Imobilitas karena
kelelahan otot-otot pernafasan pada usia lanjut dapat memperburuk
fungsi paru (ventilasi paru). Faktor-faktor lain yang menimbulkan
imobilitas (paru), misalnya efusi pleura, pneumotoraks, tumor paru
dan sebagainya. Perbaikan fungsi paru dapat dilakukan
dengan menjalankan olah raga secara intensif. (Dharmojo dan
Martono, 2006)
D. Gangguan-gangguan pada sistem pernafasan lansia
1. Pneumonia
a. Pengertian
Pneumonia adalah peradangan yang mengenai parenkim
paru, distal dari bronkiolus terminalis yang mencakup
bronkiolus respiratorius, alveoli, serta menimbulkan
konsolidasi jaringan paru dan menimbulkan gangguan

8
pertukaran gas setempat. Pneumonia memiliki tanda klasik
berupa demam, batuk, sesak. Tetapi pada usia lanjut usia,
gejalanya menjadi atipikal, yaitu suhu normal, takada batuk,
status mental terganggu, nafsu makan menurun, aktivitas
berkurang. Pemeriksaan fisik didapatkan ronki, bronkofoni,
suara napas menurun. Leukosit naik, dan pada rontgen thoraks
terlihat infiltrat (Lukman, 2009).
Perubahan sistem respirasi yang berhubungan dengan
usia yang mempengaruhi kapasitasdan fungsi paru meliputi:
1) Peningkatan diameter anteroposterior dada
2) Kalsifikasi kartilago kosta dan penurunan mobilitas kosta
3) Penurunan efisiensi otot pernapasanPeningkatan rigiditas
paru
4) Penurunan luas permukaan alveoli.
b. Etiologi
1) Bakteri
Pneumonia bakteri biasanya didapatkan pada usia lanjut.
Organisme gram positif seperti streptococcus pnemonia, S.
Aureus dan S. Pyogenesis. Bakteri gram negatif seperti
Haemophilus influenza, klabsiella pneumonia dan P.
Aeruginosa.
2) Virus
Disebabkan oleh virus influensa yang menyebar melalui
transmisi droplet. Cytomegalovirus dalam hal ini di kenal
sebagai penyebab utama pnemonia virus.
3) Jamur
Infeksi yang disebabkan jamur seperti histoplasmosis
menyebar melalui penghirupan udara yang mengandung
spora dan biasanya ditemukan pada kotoran burung, tanah
serta kompos.
4) Protozoa
Menimbulkan terjadinya pneumocystis sarini pneumonia
(CPC). Biasanya menjangkiti pasien yang mengalami
imunosupresi.
c. Manifestasi klinis
1) Kesulitan dan sakit pada saat bernapas
2) Nyeri pleurutik, nafas dangkal dan mendengkur, takipnea

9
3) Bunyi napas diatas area yang mengalami konsulidasi
4) Mengecil, kemudian menjadi hilang, krekels, ronkhi,
egofoni
5) Gerakan dada tidak simetris
6) Menggigil dan demam 38,8-41,10C, delirium
7) Batuk kental, produktif
8) Sputum kuning kehijauan kemudian berubah menjadi
kemerahan/berkarat.
d. Pemeriksaan penunjang
1) Sinar X: mengidentifikasi distribusi struktural, dapat juga
menyatakan abses luas/infiltrat, emfiema (staphyococcus),
infiltrat menyebar atau terlokalisasi (bakterial), atau
penyebaran/perluasan infiltrat nodul (virus). Pneumonia
mikoplasma sinar X dada mungkin bersih
2) GDA: tidak normal mungkin terjadi, tergantung pada luas
paru yang terlibat dan penyakit paru yang ada.
3) Pemeriksaan gram/kultur sputum dan darah: diambil
dengan biopsi jarum, aspirasi transtrakheal, bronkoskopi
fiberotik atau biopsi pembukaan paru untuk mengatasi
organisme penyebab.
4) JDL: leukositosis biasanya ada, meski sel darah putih
rendah terjadi pada infeksi virus, kondisi tekanan imun
memungkinkan berkembangnya pnemonia bakterial.
5) Pemeriksaan serologi: titer virus atau legionella, aglutinin
dingin.
e. Penatalaksanaan
1) Kemoterapi
Pemberian kemoterapi harus berdasarkan petunjuk
penemuan kuman penyebab infeksi (hasil kultur sputum
dan tes sensitivitas kuman terhadap antibodi). Bila
penyakitnya ringan antibiotik diberikan secara oral,
sedangkan bila berat deberikan secara parenteral. Apabila
terdapat penurunan fungsi ginjal akibat proses penuaan,
maka harus diingat kemungkinan penggunaan antibiotik
tertentu perlu penyusaian dosis.
a) Pengobatan umum

10
b) Terapi oksigen
c) Hidrasi, bila ringan hidrasi oral, tetapi jika berat
dehidrasi dilakukan secara parenteral
d) Fisioterapi
e) Penderita perlu tirah baring dan posisi penderita
perlu diubah-ubah untuk menghindari pneumonia
hipografik, kelemahan dan dekubitus.
2. TB paru
a. Pengertian
Paru adalah penyakit menular yang disebabkan oleh
basilmikobakterium tuberkulosa tipe humanus (jarang oleh
tipe M. Bovinus). TB Paru merupakan penyakit infeksi
penting saluran napas bagian bawah. Basil mikobakterium
tuberculosa tersebut masuk kedalam jaringan paru melalui
saluran napas (droplet infeksion) sampai alveoli, terjadilah
infeksi primer (ghon). Selanjutnya menyebar ke kelenjar
getah bening setempat dan terbentuklah primer kompleks
(ranke). Tb paru adalah penyakit infeksi yang disebabkan
oleh mycobacterium tuberculosis dengan gejala yang sangat
bervariasi (harrison, 2002).
b. Etiologi
Penyebabnya adalah kuman mycobacterium teberculosa.
Sejenis kuman yang berbentuk batang dengan ukuran panjang
1-4/mm dan tebal 0,3-0,6/mm. Sebagian besar kuman terdiri
dari asam lemak (lipid). Lipid ini adalah yang membuat
kuman lebih tahan terhadap gangguan kimia dan fisik.
Kuman ini tahan hidup pada udara kering maupun dalam
keadaan dingin (dapat bertahan-tahan dalam lemari es).
c. Tanda dan gejala
1) Berkeringat
2) Batuk disetai dahak lebih dari 3 minggu
3) Sesak napas dan nyeri dada
4) Badan lemah, kurang enak badan pada malam hari walau
tanpa kegiatan
5) Berat badan menurun (penyakit infeksi TB paru dan
ekstra paru, misnadiary).

11
d. Pemeriksaan diagnostik
1) Kultur sputum adalah mikobakterium tuberkolosis positif
pada tahap akhir penyakit
2) Tes tuberkalin adalah mantolix test reaksi positif (area
indurasi 10-15 mm terjadi 48-72 jam)
3) Foto toraks adalah infiltrasi lesi awal pada area paru atas:
pada tahap dini tampak gambaran bercak-bercak seperti
awan dengan batas tidak jelas: pada aktivitas bayangan,
berupa cincin: pada klasifikasi tampak bayangan bercak-
bercak padat dengan densitas tinggi
4) Bronchografi adalah untuk melihat kerusakan bronkus
atau kerusakan paru karen Tb paru
5) Darah adalah peningkatan leukosit dan laju endapan
darah (LED)
6) Spirometriadalah penurunan fungsi paru dengan
kapasitas vital menurun.
e. Penatalaksanaan
Pengobatan tuberkolosis terbagi menjadi 2 fase yaitu: fase
intensif (2-3 bulan) dan fase lanjutan (4-7 bulan). Paduan
obat yang digunakan terdiri dari obat utama dan obat
tambahan. Jenis obat utama yang digunakan sesuai dengan
rekomendasi WHO adalah rifampisin, INH, pirasinamid,
streptomisin dan etambutol. Sedangkan jenis obat tambahan
adalah kanamisin, kulnolon, makvolide, dan amoksilin
ditambah dengan asam klavulanat, derivat rifampisin/INH.
3. Asma
a. Pengertian
Asma adalah penyakit pernapasan obstruktif yang ditandai
oleh spasme otot polos bronkiolus.
Asma adalah obstruksi akut pada bronkus yang disebabkan
oleh penyempitan yang intermiten pada saluran napas di
banyak tingkat mengakibatkan terhalangnya aliran udara.
Asma merupakan gangguan inflamasi kronik jalan napas
yang mengakibatkan berbagai sel inflamasi. Dasar penyakit
ini adalah hiperaktivitas bronkus dalam berbagai tingkat,

12
obstruksi jalan nafas dan gejala pernafasan (mengi atau
sesak).
Asma adalah gangguan pernapasan pada bronkus yang
menyebabkan penyempitan intermiten pada saluran
pernafasan.
b. Etiologi
Secara etiologis asma dibagi dalam 3 tipe :
1) Asma tipe non atopik (intrinsik)
Pada golongan ini, keluhan tidak adanya hubungan
dengan paparan (exposure) terhadap alergen dan sifat-
sifatnya adalah :
a) Serangan timbul setelah dewasa.
b) Pada keluarga tidak ada yang menderita asma.
c) Penyakit infeksi sering menimbulkan serangan.
d) Ada hubungan dengan pekerjaan dan beban fisik.
e) Rangsangan / stimuli psikis mempunyai peran untuk
menimbulkan serangan reaksi asma.
f) Perubahan-perubahan cuaca atau lingkungan yang
non spesifik merupakan keadaan yang peka bagi
penderita.
2) Asma tipe atopik (ekstrinsik)
Pada golongan ini, keluhan ada hubungannya
dengan paparan (exposure) terhadap alergen yang
spesifik. Kepekaan ini biasaanya ditimbulkan dengan uji
kulit atau provokasi bronkial. Pada tipe ini mempunyai
sifat-sifat :
a) Timbul sejak kanak-kanak
b) Pada famili ada yang mengidap asma
c) Ada eksim waktu bayi
d) Sering menderita rinitis
e) Di Inggris penyebabnya house dust mite, di USA
tepung sari bunga rumput
3) Asma Campuran (mixed)
Pada golongan ini, keluhan diperberat oleh faktor-
faktor intrinsik maupun ekstrinsik.
c. Tanda dan Gejala
1) Bising mengi (wheezing) yang terdengar dengan/tanpa
stetoskop

13
2) Batuk produktif, sering pada malam hari
3) Nafas atau dada seperti tertekan, ekspirasi memanjang
d. Pemeriksaan diagnostic
1) Pemeriksaan test kulit → untuk menunjukkan adanya
alergi dan adanya antibodi kadar Ig E yang spesifik dalam
tubuh.
2) Pemeriksaan kadar Ig E total dan Ig E serum → untuk
menyokong adanya penyakit atopi
3) Pemeriksaan analisa gas darah → dilakukan dengan
pasien asma berat
4) Pemeriksaan eosinofil damal darah → jumlah eosinofil
total dalam darah sering meningkat
5) Pemeriksaan sputum → untuk menilai adanya misellium
aspergius fumigatus
6) Radiologi → dilakukan apabila dan kecurigaan terhadap
proses patologik dipar
e. Penatalaksanaan
1) Pengobatan Medika Mentosa
a) Waktu serangan
 Bronkodilator
 Korkhosteroid
 Ekspektoransia
 Antihistamin
 Antibiotika
b) Diluar serangan
 disodium chomoglycate (DSCG)
 ketotijen
2) Pengobatan non Medika Mentosa
a) Waktu serangan
 Pemberian O2
 Pastural drainase
 Pemberian cairan
 Menghindari paparan alergen
b) Diluar serangan
 Pendidikan
 Immunoteraphy/desensitasi
 Pelayanan / kontrol emosi

Terapi awal :

1) O2 4-6 liter/menit

14
2) Agonis B2
3) Amnofium bolus IV 5 – 6 mg
4) Kortikosteroid hidrokortison
100 – 200 mg IV
4. Bronkiektasis
a. Pengertian
Bronkiektasis merupakan kelainan morfologis yang terdiri
dari pelebaran bronkus yang abnormal dan menetap disebabkan
kerusakan komponen elastis dan muscular dinding bronkus.
Bronkiektasis berarti suatu dilatasi yang tak dapat pulih
lagi dari bronchial yang disebabkan oleh episode pnemonitis
berulang dan memanjang,aspirasi benda asing, atau massa
( mis. Neoplasma) yang menghambat lumen bronchial dengan
obstruksi.
Bronkiektasis adalah dilatasi permanen abnormal dari salah
satu atau lebih cabang-vabang bronkus yang besar.
b. Etiologi
1) Infeksi
2) Kelainan heriditer atau kelainan konginetal
3) Faktor mekanis yang mempermudah timbulnya infeksi
4) Sering penderita mempunyai riwayat pneumoni sebagai
komplikasi campak, batuk rejan, atau penyakit menular
lainnya semasa kanak-kanak.
c. Tanda dan Gejala
1) Batuk yang menahun dengan sputum yang banyak terutama
pada pagi hari,setelah tiduran dan berbaring.
2) Batuk dengan sputum menyertai batuk pilek selama 1-2
minggu atau tidak ada gejala sama sekali ( Bronkiektasis
ringan )
3) Batuk yang terus menerus dengan sputum yang banyak
kurang lebih 200 - 300 cc, disertai demam, tidak ada
nafsu makan, penurunan berat badan, anemia, nyeri pleura,
dan lemah badan kadang-kadang sesak nafas dan sianosis,
sputum sering mengandung bercak darah,dan batuk darah.
4) Ditemukan jari-jari tabuh pada 30-50 % kasus..
d. Penatalaksanaan

15
Tujuan pengobatan adalah memperbaiki drainage sekret dan
mengobati infeksi.
Penatalaksanaan meliputi :
1) Pemberian antibiotik dengan spekrum luas
( Ampisillin,Kotrimoksasol, atau amoksisilin ) selama 5- 7
hari pemberian
2) Drainage postural dan latihan fisioterapi untuk
pernafasan serta batuk yang efektif untuk mengeluarkan
sekret secara maksimal
5. Efusi pleura
a. Pengertian
Efusi pleural adalah penumpukan cairan di dalam ruang
pleural, proses penyakit primer jarang terjadi namun biasanya
terjadi sekunder akibat penyakit lain. Efusi dapat berupa cairan
jernih, yang mungkin merupakan transudat, eksudat, atau dapat
berupa darah atau pus.
Efusi pleural adalah pengumpulan cairan dalam ruang
pleura yang terletak diantara permukaan visceral dan parietal,
proses penyakit primer jarang terjadi tetapi biasanya
merupakan penyakit sekunder terhadap penyakit lain. Secara
normal, ruang pleural mengandung sejumlah kecil cairan (5
sampai 15ml) berfungsi sebagai pelumas yang memungkinkan
permukaan pleural bergerak tanpa adanya friksi.
Efusi pleura adalah istilah yang digunakan bagi
penimbunan cairan dalam rongga pleura.
b. Etiologi
1) Hambatan resorbsi cairan dari rongga pleura, karena adanya
bendungan seperti pada dekompensasi kordis, penyakit
ginjal, tumor mediatinum, sindroma meig (tumor ovarium)
dan sindroma vena kava superior.
2) Pembentukan cairan yang berlebihan, karena radang
(tuberculosis, pneumonia, virus), bronkiektasis, abses
amuba subfrenik yang menembus ke rongga pleura, karena
tumor dimana masuk cairan berdarah dan karena trauma. Di
Indonesia 80% karena tuberculosis.

16
c. Tanda dan gejala
1) Adanya timbunan cairan mengakibatkan perasaan sakit
karena pergesekan, setelah cairan cukup banyak rasa sakit
hilang. Bila cairan banyak, penderita akan sesak napas.
2) Adanya gejala-gejala penyakit penyebab seperti demam,
menggigil, dan nyeri dada pleuritis (pneumonia), panas
tinggi (kokus), subfebril (tuberkulosisi), banyak keringat,
batuk, banyak riak.
3) Deviasi trachea menjauhi tempat yang sakit dapat terjadi
jika terjadi penumpukan cairan pleural yang signifikan.
4) Pemeriksaan fisik dalam keadaan berbaring dan duduk akan
berlainan, karena cairan akan berpindah tempat. Bagian
yang sakit akan kurang bergerak dalam pernapasan,
fremitus melemah (raba dan vocal), pada perkusi didapati
daerah pekak, dalam keadaan duduk permukaan cairan
membentuk garis melengkung (garis Ellis Damoiseu).
5) Didapati segitiga Garland, yaitu daerah yang pada perkusi
redup timpani dibagian atas garis Ellis Domiseu. Segitiga
Grocco-Rochfusz, yaitu daerah pekak karena cairan
mendorong mediastinum kesisi lain, pada auskultasi daerah
ini didapati vesikuler melemah dengan ronki.
6) Pada permulaan dan akhir penyakit terdengar krepitasi
pleura.
d. Pemeriksaan diagnostic
1) Pemeriksaan radiologik (Rontgen dada), pada permulaan
didapati menghilangnya sudut kostofrenik. Bila cairan lebih
300ml, akan tampak cairan dengan permukaan
melengkung. Mungkin terdapat pergeseran di mediatinum.
2) Ultrasonografi
e. Penatalaksanaan
1) Tujuan pengobatan adalah untuk menemukan penyebab
dasar, untuk mencegah penumpukan kembali cairan, dan
untuk menghilangkan ketidaknyamanan serta dispneu.
Pengobatan spesifik ditujukan pada penyebab dasar (co;
gagal jantung kongestif, pneumonia, sirosis).

17
2) Torasentesis dilakukan untuk membuang cairan, untuk
mendapatkan specimen guna keperluan analisis dan untuk
menghilangkan disneu.
3) Agen yang secara kimiawi mengiritasi, seperti tetrasiklin
dimasukkan kedalam ruang pleura untuk mengobliterasi
ruang pleural dan mencegah akumulasi cairan lebih lanjut.
4) Pengobatan lainnya untuk efusi pleura malignan termasuk
radiasi dinding dada, bedah plerektomi, dan terapi diuretic.

18
BAB III

ASUHAN KEPERAWATAN

3.1. Pengkajian
3.1.1. Identitas Klien

a. Nama : Nenek (Oma) M. Magdalena


b. Umur : 03 April 1947, 68 tahun
c. Agama : Kristen Katholik
d. Pendidikan : SKP (SMA)
e. Pekerjaan : Tukang Pijat
f. Suku/bangsa : Indonesia / Bekas orang Belanda (Holland)
g. Status marital : -
h. Tanggal pengkj : 21 April 2015
i. Ruang : Ruang 09
j. Alamat : Jl Sungki Gg. Haji Nur No.35 Cimahi.

3.1.2. Identitas Penanggungjawab

a. Nama : Ibu Istiana Riastuti


b. Umur : 34 Tahun
c. Agama : Katholik
d. Pendidikan : D1 Keperawatan
e. Pekerjaan : Pengurus Panti Wreda Karitas
f. Hub. Dgn klien : Pengurus Panti
g. Alamat : Jl. Sungki Gg. Haji Nur No. 35 Cimahi
3.1.3. Status Kesehatan Saat Ini

Kesehatan saat ini tidak terlalu baik (tangan kanan klien tidak dapat
digerakan, pada kaki kanan klien terjadi deformitas tulang, dan pada kaki
kiri klien terdapat luka cedera)

3.1.4. Riwayat Kesehatan

a. Riwayat kesehatan sekarang : Pasien mengeluh kesakitan pada saat berjalan dan
duduk akibat cedera pada kakinya.
b. Kesehatan dahulu : Pasien memiliki riwayat terkena Diabetes Melitus (DM) dan
Hipertensi.
c. Kesehatan keluarga : Tidak terkaji
3.2. Pemeriksaan Fisik
a. Keadaan umum

19
Tingkat kesadaran : Compos Mentis (Kesadaran penuh)
Penampilan : Rapih & bersih
Tanda vital : (tidak terkaji)
Tekanan Darah : (tidak terkaji)
Nadi : (tidak terkaji)
Respiratory Rate : (tidak terkaji)
Suhu : (tidak terkaji)
b.Kepala dan leher : Tidak terkaji
c. Sistem respirasi : Tidak terkaji
d.Sistem kardiovaskuler : Tidak terkaji
e. Sistem gastrointestinal : Tidak terkaji
f. Sistem genitourinaria : Tidak terkaji
g.Sistem musculoskeletal : Tidak terkaji
h.Sistem integument : Tidak terkaji
i. Sistem neurosensori : Tidak terkaji
j. Sistem endokrin : Tidak terkaji

3.3. Pengkajian Psikososial dan Spiritual


1) Psikososial
Kondisi psikososialnya baik (klien bersahabat), akan tetapi klien cenderung
menyendiri dan menarik diri.
2) Emosional : Kondisi emosional stabil.

Analisa Data
DATA ETIOLOGI MASALAH

Berdasarkan data pengkajian data


di atas diperoleh lah data
a. Klien mengalami Gangguan mobilisasi (gerak)
sebagai berikut.
deformitas tulang

1) DO: akibat kecelakaan


- Ditemukan deformitas pada beberapa tahun silam
tulang lutut klien b. Ketika mengalami
- Klien memiliki riwayat perubahan pada posisi
hipertensi tulangnya, klien tidak
DS:
- Klien mengeluh kesakitan pada ditangani oleh petugas

kakinya dan terus memegang medis (dokter)


c. Akibat posisi kaki klien
kakinya
- Klien mengeluh kesakitan yang tidak sesuai, klien

ketika berjalan. sering merasakan nyeri.


- Klien mengatakan tangan d. Pengaruh dari

kanannya sulit untuk digerakkan hipertensi yang


menyebabkan tangan

20
klien sulit digerakkan.

a. Rasa sakit yang


2) DO:
- Pada kaki kiri klien ditemukan dirasakan klien akibat
sejumlah luka
yang Gangguan Rasa Nyeri
sejumlah luka dan terdapat
balutan luka yang masih basah. disebabkan kaki klien
- Klien memiliki riwayat Diabetes terbentur. (Persepsi sensori)
Melitus (DM) b. Luka pada kaki klien
DS: sulit sembuh
- Klien mengeluh kaki kirinya
dikarenakan klien
sakit dan terus memegang
menderita DM
balutan luka. c. Kaki klien sering
- Klien mengatakan kakinya
terantuk karena kaki
sering terantuk / tersandung.
klien cedera, ditambah
3) DO:
- Klien terlihat lelah dan faktor usia.
mengantuk
DS:
- Klien berkata klien mengalami
kesulitan tidur.
a. Rasa mengantuk klien
disebabkan karena
Gangguan psikososial
klien kurang/kesulitan
(ansietas)
untuk tidur.
b. Klien sulit tidur karena
klien sering
memikirkan
keluarganya (anak dan
cucu-cucunya)

21
Tabel prioritas masalah

Diagnosa Kriteria
No Jumlah Keterangan
Keperawatan A B C D E

1. Gangguan rasa nyeri


5 4 3 2 3 17 Diagnosa 1
berhubungan
dengan trauma
jaringan akibat
jatuh

2. Gangguan mobilitas
4 3 2 3 2 14 Diagnosa 2
fisik yang
berhubungan
dengan
keterbataan
rentang gerak.

3. Ansietas (Cemas)
3 2 2 2 2 11 Diagnosa 3
berhubungan
dengan
psikososial
dengan keluarga

4. Resiko tinggi jatuh4/ 4 1 2 0 11 Diagnosa 4


cedera
berhubungan
dengan
gangguan
fisiologis
(Deformitas
tulang lutut kaki
kanan)

22
Pembobotan :

Keterangan Kriteria: 1. Sangat


rendah
A. Besar dan Seringnya masalah
2. Rendah
B. Besarnya kerugian yang ditimbulkan
3. Cukup
C. Kecukupan ilmu pengetahuan dan
teknologi 4. Tinggi

D. Ketersediaan sumber 5. Sangat

E. Kesiapan masyarakat terhadap 6. Sangat


program tinggi

2.2 Diagnosa
1. Gangguan rasa nyeri berhubungan dengan trauma jaringan akibat jatuh
2. Gangguan mobilitas fisik yang berhubungan dengan keterbataan rentang
gerak.
3. Ansietas berhubungan dengan psikososial dengan keluarga

2.3 Intervensi

1. Gangguan nyaman nyeri yang berhubungan dengan trauma jaringan akibat jatuh
Tujuan atau kriteria hasil yang diharapkan:
- Klien menyatakan nyeri terkontrol
- Klien mampu membatasi fungsi posisi dengan pembatasan kontraktur
- Klien mampu mempertahankan atau meningkatkan kekuatan dan fungsi kompensasi
tubuh.
- TTV dalam batas normal
Intervensi Keperawatan Rasional

1. Evaluasi atau lanjutkan pemantauan Tingkat aktifitas atau latihan tergantung


tingkat inflamasi atau rasa sakit dari perkembangan atau resolusi dari
pada sendi. proses inflamasi

23
2. Bantu dan ajari keluarga klien untuk Istirahat sistemik dianjurkan selama
pertahankan istirahat tirah baring eksaserbasi akut dan seluruh fase
atau duduk jika diperlukan, jadwal penyakit yang penting untuk
aktifitas untuk memberikan periode mencegah kelelahan dan
istirahat yang terus menerus dan mempertahankan kekuatan.
tidur dimalam hari yang tidak
terganggu.

Mempertahankan atau menigkatkan


3. Bantu dan ajari keluarga dengan
fungsi sendi, kekuatan otot dan
rentang gerak aktifatau pasif,
stamina umum. Catatan: latihan yang
demikian juga latihan resistif dan
tidak adekuat dapat menyebabkan
isometric jika memungkinkan.
kekakuan sendi

4. Ajari klien dan keluarga ubah posisi


Menghilangkan tekanan pada jaringan
dengan sering dengan personel
dan meningkatkan sirkulasi, tehnik
cukup serta demonstrasikan atau
pemindahan yang tepat dapat
bantu tehnik pemindahan dan
mencegah robekan abrasi kulit.
penggunaan bantuan mobilitas, mis:
trapeze.

5. Dorong klien mempertahankan Memaksimalkan fungsi sendi,


postur tegak dan duduk tinggi, mempertahankan mobilitas.
berdiri, berjalan.

Menghindari cedera akibat kecelakaan


6. Ajarkan keluarga untuk memberikan atau jatuh.

24
lingkungan yang aman, mis:
menaikkan kursi atau kloset,
menggunakan pegangan tangga
pada bak atau pancuran dan toilet,
penggunaan alat bantu mobilitas
atau kursi roda

2. Gangguan mobilitas fisik yang berhubungan dengan keterbatasan rentang gerak


Tujuan atau kriteria hasil yang diharapkan:
- Klien mampertahankan kekuatan dan ketahanan sistem muskuloskeletal dan
fleksibilitas sendi-sendi dibuktikan oleh tidak adanya kontraktur.

Intervensi Keperawatan Rasional

1. Observasi tanda dan gejala penurunan Memberikan informasi sebagai dasar dan
mobilitas sendi, dan kehilangan ketahanan pengawasan keefektifan intervensi.
2. Observasi status respirasi dan fungsi
jantung klien.

3. Observasi lingkungan terhadap bahaya-


bahaya keamanan yang potensial. Ubah
Memberikan informasi tentang status
lingkungan untuk menurunkan bahaya-
respirasi dan fungsi jantung klien.
bahaya keamanan.

4. Ajarkan tentang tujuan dan pentingnya


latiha

Mencegah risiko cedera pada lansia


5. Ajarkan penggunaan alat-alat bantu yang
tepat

25
Meningkatkan harga diri: meningkatkan
rasa kontrol dan kemandirian klien

Membantu perawatan diri dan


kemandirian pasien.

3. Ansietas berhubungan dengan psikososial dengan keluarga

Tujuan dan kriteria hasil yang diinginkan:

Intervensi Keperawatan Rasional

1. Mengkaji tingkat cemas klien 1.

2. 2. Mencatat pembatasan focus


pikiran

3. Mengobservasi pola bicara klien


apakah cepat atau lambat

4. Mendiskusikan dengan klien


tentang apa yang dicemaskan oleh
klien

5. Menanyakan mekanisme koping


yang digunakan oleh klien jika
sedang cemas

6.Mempertahankan kontak sering


dengan klien untuk mendengarkan
klien bercerita

26
27
BAB IV

PENUTUP

A. Kesimpulan
1. Usia lanjut adalah
suatu kejadian yang pasti akan dialami oleh semua orang yang
dikaruniai usia panjang, terjadinya tidak bisa di hindari siapapun. Usia
tua adalah periode penutup dalam rentang hidup seseorang, yaitu
periode dimana seseorang telah “beranjak jauh” dari periode terdahulu
yang lebih menyenangkan atau beranjak dari waktu yang penuh
dengan manfaat (Hurlock, 2000).
2. Batasan Lansia
menurut Setyonegoro, dimana usia dewasa muda ( Elderly adulhood)
20 – 25 tahun, usia dewasa penuh ( middle years ) atau maturitas
25 – 60 atau 65 tahun, lanjut usia ( geriatric age ), lebih dari 65 atau70
tahun. Terbagi untuk umur 70 – 75 tahun ( young old), 75– 80 tahun
(old), dan lebih dari 80 tahun ( very old ).
2. Menurut WHO tahun 2005, Lanjut usia
meliputi usia pertengahan yakni kelompok usia 45-59 tahun, Lanjut
usia (Elderly) yakni 60-74 tahun, usia lanjut tua (Old) yakni 75-90
tahun, dan usia sangat tua (very old) yakni lebih dari 90 tahun.
3. Tipe lansia tergantung dari karakter,
pengalaman hidup, lingkungan, kondisi fisik, mental, sosial dan
ekonomi
4. Proses penuaan merupakan konsekuensi
yang tidak bisa dihindari oleh setiap manusia. Walaupun proses
penuaan merupakan suatu proses yang normal, akan tetapi keadaan ini
lebih menjadi beban.
5. Perubahan-perubahan yang terjadi pada usia
lanjut seperti penurunan kondisi fisik, penurunan fungsi dan potensi
seksual, perubahan aspek sosial, perubahan yang berkaitan dengan
pekerjaan, dan perubahan dalam peran sosial dimasyarakat

28
6. Perubahan anatomi fisiologi sistem
pernapasan pada lansia yaitu perubahan anatomik pada respirasi,
perubahan fisiologik pada pernapasan, faktor-faktor yang
memperburuk fungsi paru, dan penyakit pernapasan pada usia
lanjut
7. Gangguan pada sistem pernafasan pada
lansia seperti pneumonia, tb paru, asma, bromkiektaksis, dan epusi
pleura
8. Asuhan keperawatan pada lansia dengan
gangguan sistem pernafasan meliputi pengkajian, diagnose, intervensi,
implementasi, dan evaluasi

29
DAFTAR PUSTAKA

Darmojo B, Martono H. 2006. Buku ajar geriatri edisi ke-3. Jakarta: balai penerbit
fakultas kedokteran universitas indonesia.

Herdman, T. Heather.2012. diagnosis keperawatan: definisi danklasifikasi 2012-


2014. Jakarta: EGC

Lukman HM. 2009. Kegawat darutanan pada pasien geriatri. In: buku ajar ilmu
penyakit dalam. Interna publishing: jakarta. Ed V jilid 1.

Stanley, Mickey, and Patricia Gauntlett Beare.2006.Buku Ajar Keperawatan


Gerontik, ed 2.Jakarta:EGC

Suddarth dan Brunner. 2002. Keperawatan Medikal Bedah, edisi 8. Jakarta : EGC.
Wood, Under J.C.E. 1996. Patologi Umum dan Sistemik. Jakarta : EGC

Nanda. 2012. Aplikasi asuhan keperawatan berdasarkan NANDA Nort American


Nursing Diagnosis Association NIC-NOC. Yogyakarta : Media Hardy

Acton, Sharon Enis & Fugate, Terry (1993) Pediatric Care Plans, AddisonWesley
Co. Philadelphia

Soeparman & Sarwono W, (1998), Ilmu penyakit dalam Jilid II Balai Penerbit
FKUI, Jakarta

Hurlock, 2000., Psikologi Perkembangan: Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang


Kehidupan. Erlangga, Jakarta

Nugroho, 2008., Keperawatan Gerontik. EGC, Jakarta

Watson, 2003., Perawatan pada Lansia. EGC, Jakarta.

30