Anda di halaman 1dari 19

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Al-Qur'an seperti diyakini kaum muslim merupakan kitab hidayah, petunjuk bagi manusia dalam
membedakan yang haq dengan yang batil. Dalam Al-Qur'an sendiri menegaskan beberapa sifat dan ciri
yang melekat dalam dirinya, di antaranya bersifat transformatif. Yaitu membawa misi perubahan untuk
mengeluarkan manusia dari kegelapan-kegelapan, Zhulumat (di bidang akidah, hukum, politik, ekonomi,
sosial budaya dll) kepada sebuah cahaya, Nur petunjuk ilahi untuk menciptakan kebahagiaan dan
kesentosaan hidup manusia, dunia-akhirat. Dari prinsip yang diyakini kaum muslim inilah usaha-usaha
manusia muslim dikerahkan untuk menggali format-format petunjuk yang dijanjikan bakal
mendatangkan kebahagiaan bagi manusia. Nah dalam upaya penggalian prinsip dan nilai-nilai Qur'ani
yang berdimensi keilahian dan kemanusiaan itulah penafsiran dihasilkan.

Keberadaan tafsir ini begitu populer dimasyarakat mulai dari zaman Nabi saw sendiri dan sampai
sekarang, maka ini merupakan salah satu warisan ilmu yang perlu mendapatkan perhatian serius demi
kemashlahatan umat Islam dan perlu dikembangkan sesuai dengan tuntutan ilmu pengethuan dan
teknologi zaman. Namun apakah sebenarnya tafsir itu? Untuk menjawab itu makalah ini disusun.

B. Rumusan Masalah

1. Kaitan pendidikan pada surat al-Mujadalah : 11

2. Kaitan pendidikan pada surat al-Fath : 27

3. Kaitan pendidikan pada surat an-Nahl : 79

4. Kaitan pendidikan pada surat al-Mulk : 1-4

C. Tujuan Penulisan

Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah :

1. Sebagai tugas makalah pada mata kuliah Tafsir Tarbawi

2. Menambah wawasan dan ilmu pengetahuan bagi pembaca

BAB II
‫‪PEMBAHASAN‬‬

‫‪A. Ayat-Ayat Tentang Ilmu Pengetahuan‬‬

‫‪1.‬‬ ‫‪QS. Al-Mujadalah : 11‬‬

‫ل ِإذَا آ َمنُوا الَّذِينََ أَيُّ َها َيا‬


‫س ُحوا لَ ُكمَ قِي ََ‬
‫ِس فِي تَفَ َّ‬ ‫ح فَاف َ‬
‫س ُحوا ال َم َجال ِ َ‬ ‫س َِ‬ ‫ل َو ِإذَا لَ ُكمَ ََّ‬
‫ّللاُ يَف َ‬ ‫ش ُزوا قِي ََ‬
‫ش ُزوا ان ُ‬ ‫العِل ََم أُوتُوا َوالَّذِينََ مِ ن ُكمَ آ َمنُوا الَّذِينََ ََّ‬
‫ّللاُ يَرفَ َِع فَان ُ‬
‫ّللاُ َد َر َجاتَ‬‫َخبِيرَ ت َع َملُونََ بِ َما َو ََّ‬

‫)‪ :11‬المجادلة(‬

‫‪2.‬‬ ‫‪QS. Al-Fath : 27‬‬

‫ص َدقََ لَقَ َد‬ ‫سولَ َهُ ََّ‬


‫ّللاُ َ‬ ‫الرؤيَا َر ُ‬‫ق ُّ‬ ‫ام ال َمس ِج ََد لَت َد ُخلُ ََّ‬
‫ن بِال َح َِ‬ ‫س ُكمَ ُم َح ِلقِينََ آمِ نِينََ ََّ‬
‫ّللاُ شَا ََء ِإنَ ال َح َر ََ‬ ‫ص ِرينََ ُر ُءو َ‬ ‫ل ت َعلَ ُموا لَمَ َما فَ َعل ََِم تَخَافُونََ ََ‬
‫ل َو ُمقَ ِ‬ ‫فَ َج َع ََ‬
‫ُون مِ نَ‬‫)‪ : 27‬الفتح( قَ ِريبًا فَت ًحا ذَلِكََ د َِ‬

‫‪3.‬‬ ‫‪QS. An-Nahl : 79‬‬

‫س َّخ َراتَ َّ‬


‫الطي َِر إِلَى يَ َروا أَلَ َم‬ ‫س َماءَِ َج َِو فِي ُم َ‬
‫ن َما ال َّ‬ ‫ّللاُ إِ ََّ‬
‫ل يُم ِس ُك ُه ََّ‬ ‫ن ََّ‬‫)‪ : 79‬النحل( يُؤمِ نُونََ ِلقَومَ ََليَاتَ ذَلِكََ فِي إِ ََّ‬

‫‪4.‬‬ ‫‪QS. Al-Mulk : 1-4‬‬

‫اركََ‬ ‫علَى َوه ََُو ال ُملكَُ بِيَ ِدَِه الَّذِي تَبَ َ‬


‫ل َ‬ ‫سنَُ أَيُّ ُكمَ ِليَبلُ َو ُكمَ َوال َحيَاَة َ ال َموتََ َخلَقََ الَّذِي )‪ (1‬قَدِيرَ شَيءَ كُ َِ‬
‫ل أَح َ‬
‫ع َم ً َ‬ ‫َخلَقََ الَّذِي )‪ (2‬الغَفُ َُ‬
‫ور العَ ِز َُ‬
‫يز َوه ََُو َ‬
‫سب ََع‬‫س َم َاواتَ َ‬ ‫ق فِي ت ََرى َما طِ بَاقًا َ‬ ‫ن خَل َِ‬ ‫الرح َم َِ‬ ‫ص ََر فَار ِجعَِ تَف ُ‬
‫َاوتَ مِ نَ َّ‬ ‫طورَ مِ نَ ت ََرى هَلَ البَ َ‬ ‫ص ََر ار ِجعَ ث ََُّم )‪ (3‬فُ ُ‬ ‫ن البَ َ‬‫ص َُر إِلَيكََ يَنقَلِبَ ك ََّرت َي َِ‬
‫البَ َ‬
‫ِ‬
‫)‪َ (4‬حسِيرَ َوه ََُو خَا ِسئًا‬

‫‪B.‬‬ ‫‪Terjemah Ayat‬‬

‫‪1.‬‬ ‫‪QS. Al-Mujadalah : 11‬‬


“Hai orang-orang beriman apabila dikatakan kepadamu: "Berlapang-lapanglah dalam majlis", maka
lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: "Berdirilah
kamu", maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan
orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang
kamu kerjakan.”

2. QS. Al-Fath : 27

“Sesungguhnya Allah akan membuktikan kepada Rasul-Nya, tentang kebenaran mimpinya dengan
sebenarnya (yaitu) bahwa sesungguhnya kamu pasti akan memasuki Masjidil Haram, insya Allah dalam
keadaan aman, dengan mencukur rambut kepala dan mengguntingnya, sedang kamu tidak merasa
takut. Maka Allah mengetahui apa yang tiada kamu ketahui dan Dia memberikan sebelum itu
kemenangan yang dekat”.

3. QS. An-Nahl : 79

“Tidakkah mereka memperhatikan burung-burung yang dimudahkan terbang diangkasa bebas. Tidak ada
yang menahannya selain daripada Allah. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat
tanda-tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang beriman.”

4. QS. Al-Mulk : 1-4

1. “Maha suci Allah yang di tangan-Nyalah segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu,”

2. “Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik
amalnya. dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun,”

3.” Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan
yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang.” Maka lihatlah berulang-ulang, Adakah kamu Lihat
sesuatu yang cacat?”.

4.” Kemudian pandanglah sekali lagi niscaya penglihatanmu akan kembali kepadamu dengan tidak
menemukan sesuatu cacat dan penglihatanmu itupun dalam Keadaan payah.”

C. Tafsir Mufrodat
1) QS. Al-Mujadalah : 11

َّ َ‫ تَف‬: ‫( توسعوا‬berlapanglah!)[1]
‫س ُحوا‬

‫ش ُزوا‬
ُ ‫ ان‬: ‫[الخيرات من وغيرها الصلة إلى قوموا‬2]

kata ‫ تفسحوا‬dan ‫ افسحوا‬terambil dari kata ‫ فسح‬yakni lapang. Sedang kata ‫ انشزوا‬terambil dari kata ‫نشوز‬
yakni tempat yang tinggi. Perintah tersebut pada mulanya berarti beralih ke tempat yang tinggi. Yang
dimaksud di sini pindah ke tempat lain untuk memberi kesempatan kepada yang lebih wajar duduk atau
berada di tempat yang wajar pindah. (Quraish Shihab 2002 : 79)[3]

Kata ‫ مجالس‬adalah bentuk jama’ dari kata ‫مجلس‬. Pada mulanya berarti tempat duduk. Dalam konteks
ayat ini adalah tempat Nabi Muhammad SAW memberi tuntunan agama ketika itu. Tetapi yang
dimaksud di sini adalah tempat keberadaan secara mutlak, baik tempat duduk, tempat berdiri atau
tempat berbaring. Karena tujuan perintah atau tuntunan ayat ini adalah memberi tempat yang wajar
serta mengalah kepada orang-orang yang dihormati atau yang lemah. Seorang tua non muslim
sekalipun, jika anda ( yang muda) duduk di bus, kereta sedang dia tidak mendapat tempat duduk, maka
adalah wajar dan beradab jika anda berdiri untuk memberi tempat duduk. (Quraish Shihab 2002 : 79).[4]

2) QS. Al-Fath : 27

‫ محلقين‬: ‫[ شعورها جميع‬5]

‫ مقصرين‬: ‫[ مقدرتان حالن وهما شعورها بعض‬6]

‫ قَ ِريبًا فَت ًحا‬: ‫[القابل العام في الرؤيا وتحققت خيبر بفتح هو‬7]

3) QS. An-Nahl : 79

‫ السماء جو في‬: ‫[والرض السماء بين الهواء أي‬8]

‫ يمسكهن ما‬: ‫[يقعن أن بسطها أو أجنحتهن قبض عند‬9]

4) QS. Al-Mulk : 1-4

‫ تبارك‬: ‫المحدثين صفات عن تنزه‬

‫ بيده الذي‬: ‫تصرفه في‬

‫ والحياة‬: ‫الثاني على والخلق قولن عدمها أو ضدها والموت الحساس به ما وهي الحياة لها تعرض فالنطفة الدنيا في أوهما اَلخرة في‬
‫التقدير بمعنى‬
‫ ليبلوكم‬: ‫الحياة في ليختبركم‬

‫ طباقا سماوات سبع خلق الذي‬: ‫مماسة غير من بعض فوق بعضها‬

‫ تفاوت من‬: ‫تناسب وعدم تباين‬

‫ فطور من‬: ‫وشقوق صدوع‬

‫ خاسئا البصر إليك ينقلب‬: ‫الخلل إدراك لعدم ذليل‬

‫ حسير وهو‬: ‫[خلل روية عن منقطع‬10]

· (Maha Suci Allah) Maha Suci dari sifat-sifat semua makhluk (Yang di tangan kekuasaan-Nyalah) yang
berada dalam pengaturan-Nyalah (segala kerajaan) segala kekuasaan dan pengaruh (dan Dia Maha
Kuasa atas segala sesuatu).

· (Yang menjadikan mati) di dunia (dan hidup) di akhirat, atau yang menjadikan mati dan hidup di dunia.
Nuthfah pada asalnya sebagai barang mati, kemudian jadilah ia hidup; pengertian hidup ialah karena ia
mempunyai perasaan. Pengertian mati adalah kebalikannya. Pengertian lafal al-khalqu berdasarkan
makna yang kedua ini berarti memastikan (supaya Dia menguji kalian) atau mencoba kalian di dalam
kehidupan ini (siapa di antara kalian yang lebih baik amalnya) maksudnya yang paling taat kepada Allah.
(Dan Dia Maha Perkasa) di dalam melakukan pembalasan terhadap orang yang durhaka kepada-Nya (lagi
Maha Pengampun) kepada orang yang bertobat kepada-Nya.

· (Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis) yakni sebagian di antaranya berada di atas
sebagian yang lain tanpa bersentuhan. (Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Yang Maha
Pemurah) pada tujuh langit yang berlapis-lapis itu atau pada makhluk yang lain (sesuatu yang tidak
seimbang) yang berbeda dan tidak seimbang. (Maka lihatlah berulang-ulang) artinya lihatlah kembali ke
langit (adakah kamu lihat) padanya (keretakan?) maksudnya retak dan berbelah-belah.

· (Kemudian pandanglah sekali lagi) ulangilah kembali penglihatanmu berkali-kali (niscaya akan berbalik)
akan kembali (penglihatanmu itu kepadamu dalam keadaan hina) karena tidak menemukan sesuatu
cacat (dan penglihatanmu itu pun dalam keadaan payah) yakni tidak melihat sama sekali adanya cacat.

· (Dan sesungguhnya Kami telah menghiasi langit yang dekat) yang dekat dengan bumi (dengan lampu-
lampu) dengan bintang-bintang (dan Kami jadikan bintang-bintang itu alat-alat pelempar) alat untuk
melempar dan merajam (setan-setan) bilamana mereka mencuri pembicaraan para malaikat dengan
telinga mereka; umpamanya terpisah batu meteor dari bintang-bintang itu yang bentuknya bagaikan
segumpal api, lalu mengejar setan dan membunuhnya atau membuatnya cacat. Pengertian ini bukan
berarti bahwa bintang-bintang itu lenyap dari tempatnya (dan Kami sediakan bagi mereka siksa neraka
yang menyala-nyala) yang besar apinya.
D. Asbabun Nuzul

a) QS. Al-Mujadalah : 11

Diriwayatkan oleh Qatadah yang berkata,” suatu saat diantara sahabat ada yang ketika melihat
seorang sahabat lain datang untuk ikut duduk didekat mereka, sewaktu menghadiri majelis Rasulullah
(didalam masjid), mereka lantas tidak mau melapangkan tempat duduk. Itulah sebabnya, turun ayat ini.
[11]

Ibni Abi Hatim meriwayatkan dari Muqotil bahwa ayat ini turun pada hari jum’at. Ketika itu terlihat
beberapa sahabat yang dulunya mengikuti perang badar datang kemesjid, sementara tempat duduk
yang tersedia sempit. Beberapa orang (yang lebih dulu duduk ditempat itu) kemudian terlihat enggan
untuk melapangkan tempat bagi mereka sehingga sahabat-sahabat tersebut terpaksa berdiri. Rasulullah
lantas meminta beberapa orang yang tengah duduk itu untuk berdiri kemudian menyuruh para sahabat
tadi duduk ditempat mereka. Hal ini menimbulkan perasaan yang tidak senang pada diri orang-orang
yang disuruh berdiri tadi. Allah lalu menurunkan ayat ini. [12]

Lalu kaum munafikin berkata,” bukankah kalian mengatakan bahwa sahabat kalian ini bersikap adil
diantara manusia?, demi allah kami melihatnya tidak berlaku adil kepada orang yang disuruh berdiri.

Kami menerima keterangan bahwa saat itu beliau bersabda,” semoga allah melimpahkan rahmat kepada
orang yang memberikan tempat untuk saudaranya”.setelah turun ayat ini, mereka bangkit dengan cepat
seraya memberi tempat bagi yang lain. Ayat diatas turun pada hari jumat. [13]

b) QS. Al-Fath : 27

Al-faraby dan Abdi bin Hamid, demikian Juga al-Baihaqi dalam kitab ad-Dalaa’il meriwayatkan dari
mujahid yang berkata,”ketika tengah berada di hudaibiyah, diperlihatkan kepada nabi saw., melalui
mimpi, bahwa beliau dan para sahabat akan masuk ke mekkah dengan aman dalam keadaan mencukur
dan memendekkan rambut masing-masing. Akan tetepai, Tatkala mereka terpaksa harus menyembelih
kurban mereka di hudaibiyah, beberapa sahabat lantas berkata,” wahai Rasulullah, mana realisasi dari
mimpi engkau itu?, sebagai responnya turunlah‫ ا‬ayat ini.[14]

Rasulullah saw bermimpi bahwa ia akan memasuki kota makkah dan bertawaf di baitullah, maka
rasulullah saw memberitahukan hal itu kepada para sahabatnya yang ketika itu beliau tengah berada di
madinah. Ketika mereka melakukan perjalanan ditahun hudaibiyah. Tidak ada satu kelompok pun yang
ragu akan kebenaran mimpi rasulullah. Manakala telah terjadi perjanjian hudaibiyah dan mereka
kembali ke madinah dan akan kembali tahun depan. Maka terbetiklah suatu hal di hati para sahabat
sehingga umar bin khattab r.a bertanya kepada rasulullah,” bukankah engkau telah memberitakan
kepada kami bahwa kita akan datang ke baitullah dan berthawaf padanya?”, rasulullah saw
menjawab,”betul sekali. Akan tetapi apakah aku telah memberitahukan kepadamu bahwa kamu akan
datang kepadanya tahun ini?”, umar menjawab,”Tidak”, Rasulullah saw bersabda,”maka sesungguhnya
kamu akan pasti datang kepadanya dan melakukan thawaf”. Itulah sebabnya Allah SWT menurunkan
ayat ini.[15]

E. Penafsiran Ayat Secara Umum

1. QS. Al-Mujadalah : 11

Jika riwayat diatas shahih (penjelasan asbabun nuzul) ia tetap tidak bertentangan dengan hadits-hadits
lain yang melarang seseorang menyuruh orang lain berdiri dari tempatnya agar dia dapat duduk disana.
Dalam shahihain dikatakan : “seseorang tidak boleh menyuruh orang lain bangkit dari tempatnya, lalu
dia duduk disana. Namun, hendaklah kalian bergeser dan memberi tempat bagi yang lain.” ayat diatas
hanya menganjurkan supaya memberi tempat kepada orang yang datang. Juga menganjurkan agar
mentaati perintah, jika orang yang duduk diminta beranjak, yaitu perintah yang datang dari pemimpin
yang bertanggung jawab dalam mengatur jamaah, dan hal ini bukan perintah orang yang baru datang.
[16]

Qatadah menjelaskan ,”ayat ini turun berkenaan dengan majelis-majelis zikir. Yaitu bahwa apabila
mereka melihat seseorang datang menuju tempat mereka , mereke mempersempit tempat duduk
disamping rasulullah saw, kemudian allah memerintahkan kepada mereka untuk melapangkan tempat
duduk satu sama lain.” Dan Muqatil mengatakan,”telah sampai berita kepada kami bahwa rasullah saw
bersabda: [17]

‫)شفيعي و احمد رواه( ألخيه يفسح رجل هللا رحم‬

“Allah akan menyayangi seseorang yang melapangkan tempat duduk untuk saudaranya.”

Imam Ahmad dan Syafi’i telah meriwayatkan dari ibnu umar bahwa rasulullah saw bersabda,

‫ل الرجل يقم ل‬
ََ ‫)شيخان رواه( توسعوا و تفسحوا ولكن فيه فيجلسه مجلسه من الرج‬

“tidak boleh seorangpun menyuruh berdiri orang lain dari tempat duduknya, kemudian dia duduk pada
bekasnya, akan tetapi lapangkan dan luaskanlah.”

Tujuan anjuran adalah untuk menciptakan kelapangan hati sebelum kelapangan tempat. Jika kalbu telah
terbuka, orang pun akan murah hati, toleran dan menyambut saudaranya yang datang dengan cinta dan
toleransi. Lalu dia memberikan tempat kepadanya dengan suka rela dan senang. Namun jika pemimpin
memiliki pertimbangan yang menuntut pengosongan tempat, maka perintahnya wajib diindahkan
dengan kepatuhan hati, kerelaan hati dan perasaan senang.[18]

Ayat diatas mengajarkan kepada para sahabat nabi bahwa keimananlah yang mendorong mereka
berlapang dada dan mentaati perintah. Ilmu lah yang membina jiwa, lalu dia bermurah hati dan taat.
Kemudian iman dan ilmu itu mengantarkan seseorang kepada derajat yang tinggi disisi Allah. Derajat ini
merupakan imbalan atas tempat yang diberikannya dengan suka hati dan atas kepatuhan kepada
perintah rasulullah saw. Dia memberikan balasan berlandaskan ilmu dan pengetahuan hakikat
perbuatanmu dan atas motivasi yang ada dibalik perbuatan itu.[19]

2. QS. Al-Fath : 27

Ayat ini merupakan penegasan danpenguat terhadap berita yang telah disampaikan beliau itu. Kata
“insya Allah” dalam ayat ini tidak menunjukkan bahwa hal itu belumtentu terjadi. Dan firman allah
“dalam keadaan aman”, yaitu ketika kamu dalam suasana memasuki kota makkah.

Firman Allah selanjutnya, “sedang kamu tidak merasa takut”, maka Allah menetapkan keamanan bagi
mereka dikala mereka masuk dan menghilangkan rasa takut dari mereka dikala mereka menetap di
negeri itu. Mereka tidak merasa takut kepada seseorangpun.dan ini telah terjadi didalam umrah Qadha
dibulan Zulqaidah tahun ketujuh hijriyah, nabi bersama para pelaku perjanjian hudaibiyah pergi menuju
kota makkah.

Firman Allah. “Maka Allah mengetahui apa yang tiada kamu ketahui dan Dia memberikan sebelum itu
kemenangan yang dekat”,yakni Allah mengetahui kemashalatan dari keberangkatan kamu ke kota
Makkah dan masuknya kamu ke dalamnya pada tahun itu, sebagai suatu hal yang sebelumnyatidak
pernah kamu ketahui. “Dia memberikan sebelum itu”, yakni sebelum kamu masuk seperti telah
dijanjikan kepada kamu didalam mimpi rasulullah “sebagai kemenangan yang dekat”, yaitu perjanjian
damai yang telah ditetapkan kamu dan musuh-musuh kamu dari kalangan orang-orang musyrik. [20]

3. QS. An-Nahl : 79

Tafsir jalalain:

(Tidakkah mereka memperhatikan burung-burung yang dimudahkan) terbang (di angkasa bebas) di
udara antara langit dan bumi. (Tidak ada yang menahannya) sewaktu ia melipat sayap atau
mengembangkannya sehingga ia tidak jatuh ke bawah (selain daripada Allah) yakni dengan kekuasaan-
Nya. (Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi
orang-orang yang beriman) yaitu penciptaan burung itu sehingga dapat terbang dan penciptaan udara
sehingga dapat memungkinkan bagi burung untuk terbang mengarunginya dan menahan burung untuk
tidak jatuh ke tanah.
Tafsir umum surat

Sebuah panorama berupa burung-burung yang dengan mudah terbang diangkasa bebas merupakan
pemandangan yang selalu berulang. Shingga keterbiasaan itu telah menghilangkan keajaiban yang
terkandung didalamnya . kalbu insani yidaklah mungkin mampu menangkap keajaiban kecuali jika ia
selalu sadar.

“tidak ada yang menahannya selain daripada allah”, yakni Dia menahannya dengan sunnahtullah-Nya
yang diletakkan pada insting sang burung dan kedalam fitrah alam yang ada disekitarnya. Dia membuat
burung mampu terbang dan menjadikan udara disekitarnya sesuai dengan penerbangan burung itu.
Dengan begitu, Dia menahan burung agar tidak terjatuh saat sedang terbang di angkasa.

“sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran tuhan) bagi orang-
orang yang beriman”, jadi hati seorang beriman ini laksana hati sang penyair berbakat yang mampu
menangkap berbagai keindahan den keajaiban makhluknya. Hati inilah yang bisa memahami berbagai
keajaiban alam semesta yang mampu menggetarkan rasa dan menggugah hati nurani. Lalu ia
ekspresikan cita rasanya akan keindahan semesta alam ini dalam bentuk beriman, beribadah, bertasbih
kepada-Nya.[21]

4. QS. Al-Mulk : 1-4

Yang dimaksud dengan “tangan” dalam ayat ini adalah sifat Allah, bukan nikmat dan kodrat-Nya. Dia
adalah benar-benar tangan-Nya secara hakiki, tanpa mempertanyakan bagaimana bentuknya. Tangan
yang tidak serupa dengan semua ciptaan-Nya yang akan mengelola kerajaan-Nya sesuai yang Dia
kehendaki.

Allah Ta’ala memuliakan diri-Nya sendiri dan memberitahukan bahwa kerajaan itu terletak di tangan-
Nya. Dialah Yang Mengatur semua makhluk-Nya sesuai dengan yang Dia kehendaki. Tiddak ada yang
dapat menolak ketetapan-Nya. Dan, Dia tidak akan ditanya tentang perbuatan-Nya, karena Dia adalah
Mahakuasa, Mahabijaksana, Mahaadil. Itulah sebabnya Allah Ta’ala berfirman, “Dan Dia Mahakuasa atas
segala sesuatu.”

Kemudian Allah Ta’ala berfirman, “Yang menjadikan mati dan hidup.” Ayat ini menjadi dalil bagi orang
yang mengatakan bahwa kematian itu adalah sesuatu yang wujud karena dia adalah makhluk. Adapun
makna ayat ini adalah sesungguhnya Dialah yang telah mewujudkan semua makhluk dari yang asalnya
tidak ada, dengan tujuan menguji mereka, siapakah di antara mereka yang paling bagus amalnya. Hal ini
sebagaimana firman-Nya, “Bagaimanakah mungkin kamu kafir kepada Allah, sedangkan kamu
sebelumnya adalah mati, kemudian Dia menghidupkan kamu.” Allah mengistilahkan keadaan yang
pertama, yaitu “tidak ada”, dengan kematian. Dan mengistilahkan “kejadian” ini kehidupan. Itulah
sebabnya Allah Ta’ala berfirman, “Kemudian Allah mematikan kamu kemudian menghidupkan kamu.”
Dan firman Allah SWT,”Supaya dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya,” dalam
ayat ini Allah tidak mengatakan yang paling banyak amalnya. Kemudian Allah SWT berfirman,“Dan Dia
Mahaperkasa lagi Maha Pengampun.” Yaitu Dialah Yang Mahaperkasa, Yang Mahaagung, dan zat Yang
Mahagagah. Walaupun demikian, Dia adalah Yang Maha Pengampun bagi orang yang bertaubat kepada-
Nya dan kembali setelah sebelumnya menduharkai dan menentang perintah-Nya.

Kemudian firman Allah SWT, “Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis.” Yaitu satu tingkat
demi satu tingkat. Namun, apakah mereka sambung menyambung, dengan kata lain, apakah
sebagiannya berada di atas sebagian yang lain, ataukah terpisah oleh suatu ruang yang hampa. Ada dua
pandangan mengenai masalah ini, namun yang paling kuat adalah pendapat yang kedua, sebagaimana
yang telah ditegaskan oleh hadits isra Nabi SAW. Kemudian Firman Allah Ta’ala, “Kamu sama sekali tidak
melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang.” Yaitu, padanya tidak
ikhtilaf, kesimpangsiuran, pertentengan, kekurangan, aib, dan cacat. Itulah sebabnya selanjutnya Allah
Ta’ala berfirman, “Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang?”
Yaitu, lihatlah ke langit, kemudian renungkanlah, apakah kamu melihat ada aib, kekurangan, cacat, atau
keretakan di sana?

Kemudian firman Allah SWT, “Kemudian pandanglah sekali lagi niscaya penglihatanmu akan kembali
kepadamu dengan tidak menemukan sesuatu cacat.” Yaitu, bila kamu memandang dengan berulang-
ulang sesuai dengan kehendak kamu, maka pastilah pandanganmu itu akan kembali dengan tidak
melihat suatu cacat dan aib apapun. “Dan penglihatanmu itu pun dalam keadaan payah.” Sebab, terlalu
sering mengulang-ulang pandangan dan tidak juga mendapatkan kekurangan di sana. Manakala Allah
menegaskan bahwa di sana tidak terdapat kekurangan apapun maka Allah pun segera menjelaskan
kesempurnaan dan keindahannya. Firman Allah, “Sesungguhnya Kami telah menghias langit yang dekat
dengan bintang-bintang,” yaitu bintang gemintang yang ditempatkan di sana, baik yang beredar maupun
yang tetap.

Firman Allah Ta’ala, “Dan Kami jadikan bintang-bintang itu alat-alat pelempar setan.” Maksudnya
dengan sejenis bintang, bukan dengan bintang itu sendiri, sebab setan itu tidak dilempari dengan
bintang-bintang yang ada di langit, tetapi dengan bola-bola api yang ada di bawahnya. Dan, kadang-
kadang pelempar itu merupakan pecahan dari bintang itu sendiri.

Firman Allah Ta’ala, “Dan Kami sediakan bagi mereka siksa neraka yang menyala-nyala.” Yaitu, Kami
jadikan kehinaan di dunia ini untuk setan-setan itu dan akan Kami sediakan di akhirat nanti siksa yang
menyala-nyala. Qatadah mengatakan, “Bintang-bintang ini diciptakan hanyalah untuk tiga fungsi.
Diciptakan Allah untuk menghiasi langit, melempari setan-setan, dan tanda-tanda yang dapat dipakai
sebagai petunjuk. Orang yang menakwilkan di luar dari tiga hal ini, berarti dia mengatakan berdasarkan
nalarnya saja, tersesat, menyia-nyiakan nasibnya, dan membebani diri dengan sesuatu yang tidak
diketahuinya.[22]

F. Hubungan Ayat dengan Pendidikan


1. QS. Al-Mujadalah : 11

Ilmu yang di maksud ayat di atas bukan hanya ilmu agama tetapi ilmu apapun yang bermanfaat. Dalam
QS. 35: ayat 27-28. Allah meguraikan sekian banyak mahluk Ilahi, dan fenomena alam, lalu ayat tersebut
ditutup dengan menyatakan bahwa: yang takut dan kagum kepada Allah dari hamba-hambanya
hanyalah ulama, ini menunjukkan bahwa ilmu dalam pandangan al-Qur’an bukan hanya ilmu agama. Di
sisi lain juga menunjukkan bahwa ilmu haruslah menghasilkan khasyyah yakni rasa takut dan kagum
kepada Allah, yang pada gilirannya mendorong yang berilmu untuk mengamalkan ilmunya serta
memanfaatkan untu kepentingan mahkluk, Rasul sering kali berdo’a (aku berlindung kepada-Mu dari
ilmu yang tidak bermanfaat).[23]

Abuddin Nata membuat analisa implikasi kependidikan yang terkandung dalam surat al-Mujadalah ayat
11 adalah :[24]

1. tujuan akhir pendidikan adalah agar menjadi seorang muslim yang terbina seluruh potensi dirinya
sehingga dapat melaksanakan fungsinya sebagai khalifah dalam rangka beribadah kepada Allah.

2. dalam kegiatan pengajaran, pendidik (guru) mau tidak mau harus mengajarakn ilmu pengetahuan,
karena dalam ilmu pengetahuan itulah akan dijumpai berbagai informasi, teori, rumus dan konsep-
konsep yang diperlukan mewujudkan tujuan pendidikan.

3. melalui pendidikan diharapkan pula lahir manusia yang kreatif, sanggup berpikir sendiri, sanggup
mengadakan penelitian dan penemuan.

4. pelaksanaan pendidikan harus mempertimbangkan prinsip pengembangan ilmu pengetahuan


sesuai dengan petunjuk al-Qur’an.

5. pengajaran berbagai ilmu pengetahuan dalam proses pendidikan yang sesuai dengan ajaran al-
Qur’an, akan menjauhkan manusia dari sikap takabur, sekuler dan ateistik.

6. pendidikan harus mampu mendorong anak didik agar mencintai ilmu pengetahuan, yang terlihat
dari terciptanya semangat dan etos keilmuan yang tinggi, memelihara, menambah dan mengembangkan
ilmu pengetahuan yang dimilikinya.

2. QS. Al-Fath : 27

Ayat ini menunjukkan bahwa Allah SWT memberikan kepercayaan diri terhadap rasulullah saw agar
beliau yakin bahwa Allah selalu bersamanya. Seorang penuntut ilmu tidak boleh sombong dengan ilmu
yang talah dimilikinya, karena di mata Allah, dia hanya memiliki sedikit sekali ilmu, Allah lah yang maha
mengetahui segala sesuatu.
3. QS. An-Nahl : 79

Ayat ini menggambarkan betapa luasnya kekuasaan Allah SWT melalui burung-burung yang ditundukkan
di udara antara langit dan bumi, tidak ada yang menahannya di angkasa dari jauh ke bumi, kecuali Allah
Azza wa Jalla dengan kekuasaannya yang luas. Padahal tubuhnya yang berat dan udara yang ringan
menharuskan dia untuk jatuh, karena tidak ada gantungan di atasnya dan tidak ada tiang di bawahnya.
Sekiranya saja Allah mengambil kekuatan untuk terbang yang telah Dia berikan kepadanya niscaya dia
tidak akan kuasa untuk terbang tinggi.

Ulama dahulu mengetahui adanya kerenggangan atmosfir di lapisan-lapisan atas di angkasa. Ini adalah
sebuah teori yang baru dipelajari dewasa ini di dalam ilmu-ilmu fisika. Ka’ab Al-Ahbar mengatakan,
burung terbang di angkasa setinggi dua belas mil, tidak lebih dari itu.

4. QS. Al-Mulk : 1-4

Allah SWT menerangkan bahwa Dialah yang menciptakan tujuh lapis langit; sebahagian lapisan langit itu
berada di atas lapisan yang lain di alam semesta. Tiap-tiap lapisan itu seakan-akan terapung kokoh di
tengah-tengah jagat raya, tanpa ada tiang-tiang yang menyangga dan tanpa ada tali-temali yang
mengikatnya. Tiap-tiap langit itu menempati ruangan yang telah ditentukan baginya di tengah-tengah
jagat raya dan masing-masing lapisan itu terdiri atas ratusan ribu planet yang tidak terhitung banyaknya.
Tiap-tiap planet berjalan mengikuti garis edar yang telahditentukan.

Menurut Ilmu Astronomi bahwa di jagat raya yang luasnya tiada terhingga itu, terdapat galaxi-galaxi
atau gugusan-gugusan bintang yang di dalamnya terdapat ratusan ribu bintang-bintang yang tiada
terhitung jumlahnya Bintang-bintang yang berada di dalam tiap-tiap galaxi itu ada yang kecil seperti
bumi ini dan ada pula yang besar seperti matahari, banyak yang lebih besar dari matahari. Tiap-tiap
galaxi itu mempunyai sistem yang teratur rapi, yang tiap-tiap sistem itu tidak terlepas dari sistem ruang
angkasa seluruhnya. Adanya daya tarik menarik yang terdapat pada tiap-tiap planet itu, menyebabkan
planet-planet itu tidak jatuh dan tidak berbenturan antara yang satu dengan yang lain, sehingga tetaplah
ia terapung-apung dan beredar padagaris-garisedarnya.

Bila dihubungkan pengertian ayat tersebut dengan yang dijelaskan Ilmu Astronomi itu, maka yang
dimaksud dengan lapisan-lapisan langit yang tujuh itu, ialah galaxi-galaxi yang disebut dalam Ilmu
astronomi. Sedang angka tujuh dalam bahasa Arab biasa digunakan untuk menunjukkan sesuatu yang
banyak jumlahnya. Karena itu yang dimaksud dengan lapisan langit yang tujuh itu adalah galaxi-galaxi
yang banyak terdapat di langit. Dalam pada itu ada pula ahli tafsir yang berpendapat bahwa yang
dimaksud dengan "tujuh lapisan langit" itu ialah tujuh bintang yang berada di sekitar matahari, dan ada
pula ahli tafsir yang tidak mau menafsirkannya. Mereka menyerahkannnya kepada Allah SWT karena hal
itu adalah pengetahuan Allah . Kemudian Allah SWT memerintahkan manusia memandang langit dan
bumi beserta isinya; kemudian memperhatikan masing-masingnya dan mempelajari sifat-sifat.
Perhatikanlah matahari bersinar dan bulan bercahaya, sampai di mana guna dan faedah sinar dan
cahaya itu bagi kehidupan seluruh makhluk yang ada. Perhatikanlah binatang ternak yang digembalakan
di padang rumput, tumbuh-tumbuhan yang tumbuh menghijau, gunung-gunung yang tinggi kokoh
menjulang kehijau-hijauan yang menyejukkan mata orang yang memandangnya; laut yang terhampar
luas membiru; langit dan segala isinya. Semuanya tumbuh, berkembang, tetap dalam kelangsungan
hidup dan wujudnya, serta berkesinambungan yang mempunyai sistem, hukum-hukum dan peraturan
yang sangat rapi yang tidak terlepas dari sistem hukum-hukum dan peraturan-peraturan yang lebih
besar daripadanya yaitu sistem, hukum-hukum dan peraturan yang berlaku pada seluruh alam yang fana
ini Cobalah pikirkan dan renungkan: Apakah ada sesuatu cacat atau cela pada makhluk yang diciptakan
Allah, demikian juga pada sistem, hukum-hukum dan peraturan yang berlaku padanya? Maha Besar dan
Maha Pencipta Allah, Tuhan serui sekalian alam, tiada suatu cacat atau cela pun terdapat pada makhluk
yang diciptakan Nya.

Kemudian Allah SWT melanjutkan pertanyaan-Nya kepada manusia: "Apakah kamu sekalian, hai
manusia, masih ragu-ragu tentang kekuasaan dan kebesaran-Ku? Apakah kamu masih ragu-ragu tentang
sistem, hukum-hukum dan peraturan yang Aku buat untuk makhluk-Ku, yang di dalamnya termasuk
kamu sekalian? Jika kamu sekalian masih ragu-ragu, cobalah perhatikan, renungkan dan pelajari kembali
dengan sebenar-benarnya.

G. Pelajaran yang Dapat Diambil

1. QS. Al-Mujadalah : 11

beberapa hal yang bisa diperoleh dari surah Al-Mujadalah: 11 ini antara lain :

1. Etika Dalam Majlis

Etika dalam majlis ini maksudnya adalah bahwasanya ketika berada dalam suatu majlis, hendaklah kita
memberikan kelapangan tempat duduk bagi yang baru datang. Tabiat manusia yang mementingkan diri
sendiri, membuat enggan memberikan tempat kepada orang yang baru datang, jadi dalam hal ini hati
sangat berperan.

Hal ini dapat dipahami bahwasanya sebagai orang yang beriman kita (manusia) harus melapangkan hati
demi saudaranya yang lain. Dengan kita memberikan kelapangan kepada orang lain, maka ” niscaya
Allah akan melapangkan bagimu”. Artinya karena hati telah dilapangkan terlebih dahulu menerima
sahabat, hati kedua belah pihak akan sama-sama terbuka dan hati yang terbuka akan memudahkan
segala urusan.

Jadi sekurang-kurangnya etika dalam suatu majlis adalah memberikan kelapangan tempat duduk, maka
dengan demikian Allah juga akan melapangkan pula bagi kita pintu-pintu kebajikan di dunia dan di
akhirat. Sebagaimana. Sabda Nabi :

Artinya : ”Allah akan menolong hamba-Nya, selama hamba itu mau menolong sesama saudaranya. (H.R.
Muslim, Abu Daud dan Tirmidzi)

2. Manfaat beriman dan berilmu pengetahuan

Selanjutnya dalam ayat tersebut dijelaskan ” Niscaya Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang
beriman diantaramu, dan orang –orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat”. Artinya ada
orang yang akan diangkat derajatnya oleh Allah, yaitu orang-orang yang beriman dan orang-orang yang
berilmu pengetahuan, dengan beberapa derajat.

Orang yang beriman dan berilmu pengetahuan akan menunjukkan sikap yang arif dan bijaksana. Iman
dan ilmu tersebut akan membuat orang mantap dan agung. Ini berarti pada ayat tersebut membagi
kaum beriman kepada dua kelompok besar, yang pertama sekedar beriman dan beramal saleh, dan yang
kedua beriman dan beramal saleh serta memiliki pengetahuan. Derajat kelompok kedua ini menjadi
lebih tinggi, bukan saja karena nilai ilmu yang disandangnya, tetapi juga amal dan pengajarannya kepada
pihak lain baik secara lisan, tulisan maupun dengan keteladanan. (Quraish Shihab 2002:79-80)

Kita bisa saksikan, orang-orang yang dapat menguasai dunia ini adalah orang-orang yang berilmu,
mereka dengan mudah mengumpulkan harta benda, mempunyai kedudukan dan dihormati orang. Ini
merupakan suatu pertanda bahwa Allah mengangkat derajatnya.

Dengan demikian dapat diambil kesimpulan bahwa Allah mengangkat derajat orang-orang yang beriman
dan berilmu pengetahuan jika ilmu tersebut dimanfaatkan untuk kemaslahatan umat. tetapi jika
pengetahuan yang dimiliki tersebut hanya digunakan untuk mencelakakan atau membahayakan orang
lain maka hal tersebut tidak dibenarkan.

Jadi antara iman dan ilmu harus selaras dan seimbang, sehingga kalau menajdi ulama, ia menjadi ulama
yang berpengetahuan luas, kalau ia menjadi dokter, maka akan menajadi dokter yang yang beriman dan
sebagainya.

Pada akhir ayat juga dijelaskan bahwasanya Allah itu selalu melihat apa yang kamu kerjakan, jadi tidak
ada yang samar dihadapan Allah. Dan Allah akan membalas semua apa yang kita kerjakan. Orang yang
berbuat baik akan dibalas dengan kebaikan dan yang jahat akan dibalas sesuai dengan kejahatannya.

3. Contoh semangat keilmuan

Adapun yang dapat dijadikan sebagai contoh dari semangat keilmuan adalah:
1) Rasulullah itu sendiri merupakan contoh teladan yang tidak mengenal lelah dalam mencari ilmu,
Beliau senantiasa membaca dan menimba ilmu dari alam rasa dan yang semuanya bersumber dari Allah
SWT.

2) Apabila ada suatu majlis maka bergabunglah karena pasti disana akan didapatkan suatu pengetahuan
baru yang akan menambah wawasan dan referensi sehingga kita dapat mengaplikasikan apa yang
didapatkan. Seperti contoh sahabat Nabi yang pulang dari medan perang. Beliau tetap bergabung dalam
majlis ilmu yang dilaksanakan oleh Nabi. Dalam dunia kita saat ini yaitu seringlah mengikuti kegiatan
yang dilaksanakan oleh pihak-pihak yang peduli dengan bidang-bidang keilmuan.

3) Ikutilah jejak para tokoh-tokoh agamawan, ilmuwan, tokoh pemikir yang selalu berupaya untuk
menciptakan iklim yang baru sehingga saat ini kita dapat menikmatinya dan dimasa mendatang.[25]

2. QS. Al-Fath : 27

1. Janji Allah kepada orang-orang mukmin bahwa mereka akan mendapat ampunan Allah dan pahala
yang besar.

2. Agama Islam akan mengalahkan agama-agama lain.

3. Orang pincang dan orang-orang yang sakit dibebaskan dari kewajiban berperang.

4. Berita gembira yang disampaikan Allah kepada Nabi Muhammad s.a.w. bahwa dia bersama-sama
orang mukmin akan memasuki kota Mekkah dengan kemenangan, dan hal ini memang terlaksana
setelah setahun kemudian.

5. Sikap orang-orang mukmin terhadap sesama mukmin dan sikap mereka terhadap orang-orang
kafir.

6. Janji Allah bahwa orang Islam akan menguasai daerah-daerah yang sewaktu Nabi Muhammad
s.a.w. belum dikuasai.[26]

3. QS. An-Nahl : 79

Sesungguhnya pada penundukan dan penahanan burung di angkasa benar-benar terdapat dalil, bahwa
tidak ada Tuhan selain Allah, tidak ada sekutu bagi-Nya dan bahwa patung-patung serta berhala tidak
mempunyai bagian di dalam uluhiyyah. Dalil tersebut bagi orang yang beriman kepada Allah, dan
mengakui-Nya dengan adanya apa yang terlihat oleh padanya mata dan terindra oleh indra-indra
mereka.[27]

4. QS. Al-Mulk : 1-4

“Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik
amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun,”

Sesungguhnya mati dan hidup itu kehendak Allah.Tidak ada satupun makhluk yang mati atau hidup
tanpa seizin Allah. Dunia hanyalah kehiduan sementara waktu, kehidupan yang abadi sesungguhnya
adalah akhirat. Dunia diciptakan sebagai ujian bagi setiap makhluk, akan tetapi zaman sekaran ini
banyak manusia yang terkadang melupakan kenyataan bahwa hidup di dunia hanya sementara.
Melakukan kesenangan duniawi seakan-akan mereka tidak akan pernah mati. Kenapa Allah
Menyebutkan Kematian Lebih Dahulu Baru Kehidupan? Pendapat ulama mengatakan karena kematian
itu akan kita rasakkan di dunia sedangkan kehidupan (yang sesungguhnya) adalah di akhirat. Pendapat
lain mengatakan agar mendorong manusia untuk segera beramal. Pendapat ketiga mengatakan bahwa
kehidupan di dunia itu di awali dari tidak adanya kehidupan, nutfah, mudgoh, ‘alaqah merupakan masih
dalam keadaan kematian,.

Sesungguhnya kehidupan diciptakan Allah hanya untuk menguji manusia, siapa yang baik amalnya.
“..siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya..” pada ayat tersebut tertulis “baik” bukan “banyak”
karena amalan tidak dilihat dari kuantitas akan tetapi dari kualitasya.

Ayat3-4

“Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan
Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu
lihat sesuatu yang tidak seimbang?) Kemudian pandanglah sekali lagi niscaya penglihatanmu akan
kembali kepadamu dengan tidak menemukan sesuatu cacat dan penglihatanmuitupundalam keadaan
payah.”.

Dinyatakan bahwsanya Allah menciptakan langit berlapis-lapis atau bertingkat-tingkat. Kemudian Allah
tanyakan, apakah ada sesuatu yang cacat atau retak di langit tersebut? Jawabannya tentu saja tidak.
Kemudian Allah memerintah melihatnya berulang lagi (bahkan berulang kali), apakah ada yang cacat di
langit itu? Hasilnya, jika dilihat berulang kali tidak ada cacat sama sekali pada ciptaan Allah tersebut.
Namun yang didapat adalah rasa payah karena berulangkalinya menelusuri langit itu. Disini Allah
memberikan kesempatan kepada manusia untuk dapat menjawab pertanyaan itu sesuai dengan hasil
pengamatan manusia itu sendiri, Allah tidak memaksakan jawabannya harus “Tidak ada cacat” , karena
Allah Tahu bahwa tidak ada kecacatan pada langit ciptaannya. Langit pun diciptakan dengan
keseimbangannya, jika tidak seimbang bagai mana jadinya??Syaikh As Sa’di mengatakan bahwa jika
sama sekali di langit tersebut tidak ada cacat, maka ini menunjukkan sempurnanya hasil ciptaan Allah.
Ciptaan Allah tersebut begitu seimbang dilihat dari berbagai sisi, yaitu dari warna, hakikatnya, dan
ketinggiannya. Begitu pula pada ciptaan Allah lainnya seperti matahari, rembulan dan bintang yang
bersinar.[28]
Menyadari bahwa Allah raja dari segala raja dan tiada tuhan selain Dia.Menyadari bahwa setiap yang
difirman kan Allah ada pesan tersendiri yang bermanfaat bagi manusia Sebelum ilmu manusia sampai
pada masalah galaxsi Allah telah menjelaskannya dalam Al-Quran.Al-quran adalah sumber ilmu.

BAB III

KESIMPULAN

Ø QS. Al-Mujadalah : 11

Abuddin Nata membuat analisa implikasi kependidikan yang terkandung dalam surat al-Mujadalah ayat
11 adalah :

a. tujuan akhir pendidikan adalah agar menjadi seorang muslim yang terbina seluruh potensi dirinya
sehingga dapat melaksanakan fungsinya sebagai khalifah dalam rangka beribadah kepada Allah.

b. dalam kegiatan pengajaran, pendidik (guru) mau tidak mau harus mengajarakn ilmu pengetahuan,
karena dalam ilmu pengetahuan itulah akan dijumpai berbagai informasi, teori, rumus dan konsep-
konsep yang diperlukan mewujudkan tujuan pendidikan.
c. melalui pendidikan diharapkan pula lahir manusia yang kreatif, sanggup berpikir sendiri, sanggup
mengadakan penelitian dan penemuan.

d. pelaksanaan pendidikan harus mempertimbangkan prinsip pengembangan ilmu pengetahuan


sesuai dengan petunjuk al-Qur’an.

e. pengajaran berbagai ilmu pengetahuan dalam proses pendidikan yang sesuai dengan ajaran al-
Qur’an, akan menjauhkan manusia dari sikap takabur, sekuler dan ateistik.

f. pendidikan harus mampu mendorong anak didik agar mencintai ilmu pengetahuan, yang terlihat
dari terciptanya semangat dan etos keilmuan yang tinggi, memelihara, menambah dan mengembangkan
ilmu pengetahuan yang dimilikinya.

Ø QS. Al-Fath : 27

Ayat ini menunjukkan bahwa Allah SWT memberikan kepercayaan diri terhadap rasulullah saw agar
beliau yakin bahwa Allah selalu bersamanya. Seorang penuntut ilmu tidak boleh sombong dengan ilmu
yang talah dimilikinya, karena di mata Allah, dia hanya memiliki sedikit sekali ilmu, Allah lah yang maha
mengetahui segala sesuatu.

Ø QS. An-Nahl : 79

Ayat ini menggambarkan betapa luasnya kekuasaan Allah SWT melalui burung-burung yang ditundukkan
di udara antara langit dan bumi, tidak ada yang menahannya di angkasa dari jauh ke bumi, kecuali Allah
Azza wa Jalla dengan kekuasaannya yang luas. Padahal tubuhnya yang berat dan udara yang ringan
menharuskan dia untuk jatuh, karena tidak ada gantungan di atasnya dan tidak ada tiang di bawahnya.
Sekiranya saja Allah mengambil kekuatan untuk terbang yang telah Dia berikan kepadanya niscaya dia
tidak akan kuasa untuk terbang tinggi.

Ulama dahulu mengetahui adanya kerenggangan atmosfir di lapisan-lapisan atas di angkasa. Ini adalah
sebuah teori yang baru dipelajari dewasa ini di dalam ilmu-ilmu fisika. Ka’ab Al-Ahbar mengatakan,
burung terbang di angkasa setinggi dua belas mil, tidak lebih dari itu.

Ø QS. Al-Mulk : 1-4

Allah SWT menerangkan bahwa Dialah yang menciptakan tujuh lapis langit; sebahagian lapisan langit itu
berada di atas lapisan yang lain di alam semesta. Tiap-tiap lapisan itu seakan-akan terapung kokoh di
tengah-tengah jagat raya, tanpa ada tiang-tiang yang menyangga dan tanpa ada tali-temali yang
mengikatnya. Tiap-tiap langit itu menempati ruangan yang telah ditentukan baginya di tengah-tengah
jagat raya dan masing-masing lapisan itu terdiri atas ratusan ribu planet yang tidak terhitung banyaknya.
Tiap-tiap planet berjalan mengikuti garis edar yang telahditentukan.

Menurut Ilmu Astronomi bahwa di jagat raya yang luasnya tiada terhingga itu, terdapat galaxi-galaxi
atau gugusan-gugusan bintang yang di dalamnya terdapat ratusan ribu bintang-bintang yang tiada
terhitung jumlahnya Bintang-bintang yang berada di dalam tiap-tiap galaxi itu ada yang kecil seperti
bumi ini dan ada pula yang besar seperti matahari, banyak yang lebih besar dari matahari. Tiap-tiap
galaxi itu mempunyai sistem yang teratur rapi, yang tiap-tiap sistem itu tidak terlepas dari sistem ruang
angkasa seluruhnya. Adanya daya tarik menarik yang terdapat pada tiap-tiap planet itu, menyebabkan
planet-planet itu tidak jatuh dan tidak berbenturan antara yang satu dengan yang lain, sehingga tetaplah
ia terapung-apung dan beredar padagaris-garisedarnya.

DAFTAR PUSTAKA

Abuddin Nata, Tafsir Ayat-ayat Pendidikan (Tafsir al-Ayat al-Tarbawiy). Jakarta, RajaGrafindo Persada.
2002.

Ahmad Musthafa Al-Maraghiy, Tafsir Al-Maraghiy, juz XXVIII, (semarang: CV Toha Putra, 1989).

Al-Qur’anul Karim

Jalaluddin As-Suyuti, Sebab Turunnya Ayat Al-Quran, Jakarta, Gema Insani.

Muhammad Nasib ar-Arrifa’i, Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir, Jakarta, Gema Insani, 2000.

M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah, Pesan Kesan dan Keserasian al-Qur’an, Volume XIV, Jakarta,
Lentera Hati. 2006 .