Anda di halaman 1dari 50

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG


Dalam pembukaan UUD 1945 tercantum cita-cita bangsa yang sekaligus
merupakan tujuan nasional Bangsa Indonesia. Tujuan Bangsa Indonesia
tersebut adalah untuk melindungi segenap Bangsa Indonesia dan seluruh
tumpah darah Indonesia untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan
kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan
kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial.

Pada Peraturan Presiden Republik Indonesia nomor 72 Tahun 2012 Tentang


Sistem Kesehatan Nasional Pasal 1 yang dimaksud dengan Kesehatan adalah
keadaan sehat, baik secara fisik, mental, spiritual maupun sosial yang
memungkinkan setiap orang untuk hidup produktif secara sosial dan
ekonomis. Sistem Kesehatan Nasional, yang selanjutnya disingkat SKN
adalah pengelolaan kesehatan yang diselenggarakan oleh semua komponen
Bangsa Indonesia secara terpadu dan saling mendukung guna menjamin
tercapainya derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya.

Masa globalisasi menuntut adanya perkembangan dan perubahan di segala


bidang, salah satu diantaranya adalah bidang kesehatan. Dengan berbagai
inovasi yang dilakukan di bidang kesehatan, perubahan bidang ilmu
pengetahuan dan teknologi, maka terjadi peningkatan usia harapan hidup warga
Indonesia dan ini memberikan dampak tersendiri dalam upaya peningkatan
derajat atau status kesehatan penduduk.

Penyelenggaraan upaya kesehatan oleh Bangsa Indonesia untuk mencapai


peningkatan derajat hidup sehat bagi setiap penduduk adalah merupakan
hakikat pembangunan kesehatan yang termuat di dalam Sistem Kesehatan
Nasional (SKN) dengan tujuan agar dapat mewujudkan derajat kesehatan
masyarakat yang optimal, sebagai salah satu unsur kesejahteraan umum dari
tujuan nasional. Agar tujuan dapat tercapai secara optimal, diperlukan
partisipasi aktif dari seluruh anggota masyarakat bersama petugas kesehatan.

1
2

Hal ini menyatakan bahwa setiap orang berkewajiban untuk ikut serta dalam
memelihara dan meningkatkan derajat kesehatan perorangan, keluarga, dan
lingkungan.

Peningkatan taraf hidup masyarakat Indonesia diberbagai bidang kehidupan


mengakibatkan pergeseran pola kehidupan masyarakat diantaranya bidang
kesehatan. Dengan berkembangnya paradigma sehat-sakit, saat ini telah terjadi
pergeseran, antara lain perubahan upaya kuratif menjadi upaya preventif dan
promotif, dan segi kegiatan yang pasif menunggu masyarakat berobat ke unit-
unit pelayanan kesehatan menjadi kegiatan penemuan kasus yang bersifat aktif.
Hal ini akan memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada masyarakat untuk
ikut berperan serta secara aktif dalam upaya peningkatan status kesehatannya.

Masyarakat atau komunitas sebagai bagian dari subyek dan obyek pelayanan
kesehatan dan dalam seluruh proses perubahan hendaknya perlu dilibatkan
secara lebih aktif dalam usaha peningkatan status kesehatannya dan mengikuti
seluruh kegiatan kesehatan komunitas. Hal ini dimulai dari pengenalan masalah
kesehatan sampai penanggulangan masalah dengan melibatkan individu,
keluarga, dan kelompok dalam masyarakat.

Usaha untuk mencapai tujuan tersebut di atas perlu diselenggarakan dalam


upaya pembangunan yang berkesinambungan dalam rangka program
pembangunan yang menyeluruh, terarah, dan terpadu, dengan melalui
pendekatan promotif (peningkatan) kesehatan masyarakat, preventif
(pencegahan), kuratif (pengobatan), dan rehabilitatif kesehatan masyarakat,
sehingga Profesi Ners Stase Komunitas akan dapat berhasil mencapai tujuan
yang telah ditetapkan dan diharapkan, bila pembangunan kesehatan tersebut
telah dilakukan dengan sebenar-benarnya dan berdasarkan atas Sistem
Kesehatan Nasional (SKN).

Profesi Ners Stase Komunitas merupakan pencerminan dari pelaksanaan Tri


Dharma Perguruan Tinggi yang merupakan suatu bentuk kegiatan pengabdian
kepada masyarakat, agar mahasiswa memperoleh pengetahuan secara
komprehensif sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan kemampuan
mahasiswa.
3

Pada Universitas Muhammadiyah Banjarmasin, kegiatan ini harus dilakukan


oleh setiap mahasiswa yang telah selesai mengikuti mata ajaran Keperawatan
Komunitas dengan pendekatan pelayanan kesehatan utama (Primary Health
Care).

Stase Komunitas adalah suatu tatanan yang nyata dalam memberikan


kesempatan kepada peserta didik untuk menerapkan proses keperawatan
kepada keluarga atau kelompok dan masyarakat, bersama-sama dengan upaya
yang dilaksanakan di Puskesmas. Dengan demikian, maka kegiatan komunitas
dilaksanakan oleh mahasiswa Universitas Muhammadiyah Banjarmasin Tahun
Akademik 2017/2018 di wilayah kerja puskesmas dan mengikuti program-
program yang akan dan sedang digarap oleh puskesmas yang bersangkutan.

Stase komunitas ini merupakan salah satu upaya peningkatan kemampuan


dengan individu, keluarga, dan kelompok ditatanan pelayanan kesehatan
komunitas dengan menerapkan konsep kesehatan dan keperawatan komunitas,
juga mahasiswa sebagai calon tenaga kesehatan diharapkan mempunyai
pengalaman belajar dilingkup masyarakat (pedesaan) khususnya dalam
mengatasi masalah kesehatan masyarakat yang ditemui selama berada di
lapangan/lahan praktek. Selain itu juga, sebagai salah satu upaya menyiapkan
tenaga perawat profesional serta mempunyai potensi keperawatan secara
mandiri sesuai dengan kompetensi yang harus dicapai, maka mahasiswa
Program Profesi Ners A Universitas Muhammadiyah Banjarmasin kelompok 7
melaksanakan Praktek di Desa Lok Tangga Kecamatan Karang Intan
Kabupaten Banjar dengan menggunakan 2 pendekatan, yaitu pendekatan
kelompok dan masyarakat.

Pendekatan secara kelompok dilakukan dengan cara memberdayakan kader


kesehatan dan PKK serta mendayagunakan kelompok pengajian. Dengan
pendekatan masing-masing komponen diharapkan dapat memberikan hasil
yang lebih nyata kepada masyarakat. Sedangkan pendekatan masyarakat
sendiri dilakukan melalui kerja sama yang baik dengan instansi terkait dan
seluruh komponen kota untuk mengikutsertakan warga dalam upaya
pencegahan dan peningkatan kesehatan. Masyarakat diharapkan dapat
mengenal masalah kesehatan yang terjadi di wilayahnya, membuat keputusan
tindakan kesehatan bagi anggota keluarga/masyarakatnya, mampu memberikan
4

perawatan, menciptakan lingkungan yang sehat, serta memanfaatkan fasilitas


kesehatan yang ada di masyarakat.

Selain itu, selama proses belajar klinik di komunitas, mahasiswa


mengidentifikasi populasi dengan risiko tinggi dan sumber yang tersedia untuk
bekerja sama dengan komunitas dalam merancang, melaksanakan, dan
mengevaluasi perubahan komunitas dengan penerapan proses keperawatan
komunitas dan pengorganisasian komunitas. Harapan yang ada, masyarakat
akan mandiri dalam upaya meningkatkan status kesehatannya.

1.2 TUJUAN
1.2.1 Tujuan Umum
Setelah mengikuti kegiatan Profesi Ners Stase Komunitas, mahasiswa
dapat memiliki pengalaman dalam memberikan perawatan kesehatan
masyarakat dengan menggunakan metode atau pendekatan proses
keperawatan baik terhadap individu, keluarga, kelompok, dan
masyarakat.
1.2.2 Tujuan Khusus
Setelah mengikuti kegiatan Profesi Ners Stase Komunitas, mahasiswa
mampu:
a. Mengkaji kebutuhan kesehatan komunitas.
b. Merencanakan intervensi keperawatan kesehatan komunitas
berdasarkan diagnosis kesehatan komunitas dan kebutuhan
kesehatan utama dengan penekanan pada kelompok risiko tinggi
(ibu, anak, dan usia lanjut).
c. Melaksanakan keperawatan kesehatan komunitas untuk
meningkatkan kesehatan masyarakat dengan menggunakan sumber
yang ada dan potensial serta menggunakan teknik tepat guna
termasuk melakukan rujukan dan menyusun strategi pendidikan
kesehatan.
d. Melaksanakan pencatatan dan pelaporan data yang berhubungan
dengan tindakan keperawatan kesehatan komunitas.
e. Mengevaluasi pelayanan keperawatan kesehatan berdasarkan hasil
yang diharapkan atau kriteria yang telah ditetapkan.
f. Mampu menjalankan peranannya sebagai anggota tim kesehatan dan
bekerja sama secara efektif dan efisien.
5

1.3 KEGIATAN
1.3.1 Waktu Pelaksanaan
Pelaksanaan Profesi Ners Stase Komunitas dimulai dari tanggal 26 Juni
– 4 Agustus 2018.
1.3.2 Lokasi Kegiatan
Kegiatan dilaksanakan di Desa Lok Tangga Kecamatan Karang Intan
Kabupaten Banjar.
1.3.3 Kegiatan dan Jadwal kegiatan terlampir.

1.4 MANFAAT KEGIATAN


1.4.1 Untuk Mahasiswa
Manfaat yang didapat dari Praktek ini bagi mahasiswa, antara lain :
a. Dapat mengaplikasikan konsep kesehatan komunitas secara nyata
kepada masyarakat.
b. Belajar menjadi model profesional dalam menerapkan asuhan
keperawatan komunitas.
c. Meningkatkan kemampuan berpikir kritis, analitis, dan bijaksana
dalam menghadapi dinamika masyarakat.
d. Meningkatkan keterampilan komunikasi, kemandirian, dan
hubungan interpersonal.
1.4.2 Untuk Masyarakat
Manfaat yang didapat dari praktek ini bagi masyarakat, antara lain :
a. Mendapatkan kesempatan seluas-luasnya untuk berperan aktif dalam
upaya peningkatan kesehatan dan pencegahan penyakit.
b. Mendapatkan kemampuan untuk mengenal, mengerti, dan menyadari
masalah kesehatan serta mengetahui cara penyelesaian masalah yang
dialami masyarakat.
c. Masyarakat mengetahui gambaran status kesehatannya dan
mempunyai upaya peningkatan status kesehatan tersebut.
1.4.3 Untuk Institusi Pendidikan
Manfaat yang didapat dari praktek ini bagi pihak pendidikan, antara
lain:
a. Salah satu tolak ukur keberhasilan Program Profesi Ners Universitas
Muhammadiyah Banjarmasin khususnya di bidang keperawatan
komunitas.
b. Sebagai salah satu bahan pertimbangan dalam pengembangan model
praktek keperawatan komunitas selanjutnya.
6

1.4.4 Untuk Profesi Kesehatan khususnya keperawatan


Manfaat yang didapat dari praktek ini bagi profesi keperawatan, antara
lain :
a. Upaya menyiapkan tenaga perawat yang profesional, berpotensi
secara mandiri sesuai dengan kompetensi yang telah ditentukan
terutama di lingkup keperawatan komunitas.
b. Memberikan suatu model baru dalam keperawatan komunitas
sehingga profesi mampu mengembangkannya.
c. Salah satu bukti profesionalisme keperawatan yang komprehensif
telah terwujudkan.

1.5 SISTEMATIKA PENULISAN


Dalam penyusunan laporan Asuhan Keperawatan Komunitas ini, penulis
menggunakan metodologi pendekatan komprehensif melalui proses Asuhan
Komunitas yang dituangkan dalam beberapa bab yaitu sebagai berikut :
1.5.1 Bab pertama, pendahuluan yang menguraikan tentang latar belakang,
tujuan, manfaat, kegiatan, sistematika penulisan dan metodologi
penulisan.
1.5.2 Bab kedua, tinjauan teoritis yang menguraikan tentang teori-teori terdiri
dari : keperawatan kesehatan komunitas, tujuan dan fungsi keperawatan
komunitas, sasaran, ruang lingkup perawatan kesehatan komunitas,
kegiatan praktek keperawatan komunitas, prinsip dasar, model
pendekatan dan langkah-langkah proses keperawatan.
1.5.3 Bab ketiga, asuhan komunitas yang membahas tentang penerapan asuhan
keperawatan yang meliputi 2 (dua) tahapan yaitu tahap persiapan dan
tahap pelaksanaan yang terdiri dari pengkajian, analisa data, penentuan
masalah kesehatan (penapisan masalah kesehatan, prioritas masalah,
(planning of action), perencanaan kegiatan, pelaksanaan, dan evaluasi.
1.5.4 Bab keempat, penutup yang meliputi kesimpulan dan saran.

1.6 METODOLOGI PENULISAN


Metode Asuhan Keperawatan Komunitas yang digunakan dalam penulisan
laporan ini adalah melalui suatu kasus yang kemudian melaporkan langsung
hasil asuhan keperawatan yang dilaksanakan pada masyarakat atau komunitas
dengan pendekatan proses keperawatan yang meliputi : pengkajian, analisa
data, penapisan masalah, prioritas masalah, planning of action (POA),
7

perencanaan kegiatan asuhan komunitas, implementasi/pelaksanaan beserta


evaluasi.
BAB 2
TINJAUAN TEORITIS

2.1 Keperawatan Kesehatan Komunitas


Tujuan pembangunan kesehatan nasional adalah untuk mencapai hidup sehat bagi
setiap penduduk agar dapat mewujudkan derajat kesehatan masyarakat yang
optimal. Dengan demikian, pembangunan di bidang kesehatan mempunyai arti
penting dalam kehidupan nasional khususnya dalam memelihara dan
meningkatkan derajat kesehatan masyarakat yang erat kaitannya dengan
pembinaan dan pengembangan sumber daya manusia sebagai salah satu modal
dasar pembangunan nasional.

Berdasarkan pembangunan nasional yang ingin dicapai oleh pemerintah


Indonesia, maka direncanakanlah suatu strategi pendekatan untuk menggalang
potensi yang ada pada masyarakat sehingga masyarakat dapat berperan aktif
dalam upaya meningkatkan derajat kesehatannya secara mandiri melalui
perawatan kesehatan komunitas.

Proses keperawatan adalah serangkaian perbuatan atau tindakan untuk


menetapkan, merencanakan dan melaksanakan pelayanan keperawatan dalam
rangka membantu klien untuk mencapai dan memelihara kesehatannya seoptimal
mungkin. Tindakan keperawatan tersebut dilaksanakan secara berurutan, terus
menerus, saling berkaitan dan dinamis. Selanjutnya menetapkan langkah proses
keperawatan sebagai proses pengumpulan data, pengkajian, perencanaan dan
pelaksanaan (Wolf, Weitzel dan Fuerst, 1979).

Jadi, Keperawatan komunitas sebagai suatu bidang keperawatan yang merupakan


perpaduan antara keperawatan dan kesehatan masyarakat (public health) dengan
dukungan peran serta masyarakat secara aktif serta mengutamakan pelayanan
promotif dan preventif secara berkesinambungan tanpa mengabaikan perawatan
kuratif dan rehabilitatif secara menyeluruh dan terpadu yang ditujukan kepada
individu, keluarga, kelompok serta masyarakat sebagai kesatuan utuh melalui
proses keperawatan (nursing process) untuk meningkatkan fungsi kehidupan
manusia secara optimal, sehingga mampu mandiri dalam upaya kesehatan
(Mubarak, 2006).

8
9

Proses keperawatan komunitas merupakan metode asuhan keperawatan yang


bersifat alamiah, sistematis, dinamis, kontiniu, dan berkesinambungan dalam
rangka memecahkan masalah kesehatan klien, keluarga, kelompok serta
masyarakat melalui langkah-langkah seperti pengkajian, perencanaan,
implementasi, dan evaluasi keperawatan (Wahyudi, 2010).

Komunitas (community) adalah sekelompok masyarakat yang mempunyai


persamaan nilai (values), perhatian (interest) yang merupakan kelompok khusus
dengan batas-batas geografi yang jelas, dengan norma dan nilai yang telah
melembaga (Sumijatun dkk, 2006).

Proses keperawatan komunitas mencakup individu, keluarga dan kelompok


khusus yang memerlukan pelayanan asuhan keperawatan. Dalam perawatan
kesehatan komunitas keterlibatan kader kesehatan, tokoh masyarakat formal dan
informal, sangat diperlukan dalam setiap tahap pelayanan keperawatan secara
terpadu dan menyeluruh sehingga masyarakat benar-benar mampu dan mandiri
dalam setiap upaya pelayanan kesehatan dan keperawatan yang diberikan.

Keperawatan komunitas perlu dikembangkan di tatanan pelayanan kesehatan


dasar yang melibatkan komunitas secara aktif, sesuai keyakinan keperawatan
komunitas secara aktif, sesuai keyakinan keperawatan komunitas. Sedangkan
menurut American Nurses Association (ANA, 1980) didasarkan pada asumsi :

1. Sistem pelayanan kesehatan bersifat kompleks.


2. Pelayanan kesehatan primer, sekunder dan tersier merupakan komponen
pelayanan kesehatan.
3. Keperawatan merupakan sub system pelayanan kesehatan , di mana hasil
pendidikan dan penelitian melandasi praktek.
4. Fokus utama adalah keperawatan primer sehingga keperawatan komunitas
perlu dikembangkan di tatanan kesehatan utama.

Adapun unsur-unsur perawatan kesehatan mengacu kepada asumsi-asumsi dasar


mengenai perawatan kesehatan masyarakat, yaitu :

1. Bagian integral dari pelayanan kesehatan khususnya keperawatan.


2. Merupakan bidang khusus keperawatan.
10

3. Gabungan dari ilmu keperawatan, ilmu kesehatan masyarakat dan ilmu sosial
(interaksi sosial dan peran serta masyarakat).
4. Sasaran pelayanan adalah individu, keluarga, kelompok khusus dan
masyarakat baik yang sehat maupun yang sakit.
5. Ruang lingkup kegiatan adalah upaya promotif, preventif, kuratif rehabilitatif
dan resosiliatif dengan penekanan pada upaya preventif dan promotif.
6. Melibatkan partisipasi masyarakat.
7. Bekerja secara tim.
8. Menggunakan pendekatan pemecahan masalah dan perilaku.
9. Menggunakan proses keperawatan sebagai pendekatan ilmiah.
10. Bertujuan untuk meningkatkan hidup sehat dan derajat kesehatan masyarakat
secara keseluruhan.

2.2 Tujuan dan Fungsi Perawatan Kesehatan Komunitas


2.2.1 Tujuan keperawatan komunitas
Tujuan proses keperawatan dalam komunitas adalah untuk pencegahan dan
peningkatan kesehatan masyarakat melalui upaya-upaya sebagai berikut.
2.2.1.1 Pelayanan keperawatan secara langsung (direct care) terhadap
individu, keluarga, dan keluarga dan kelompok dalam konteks
komunitas.
2.2.1.2 Perhatian langsung terhadap kesehatan seluruh masyarakat
(health general community) dengan mempertimbangkan
permasalahan atau isu kesehatan masyarakat yang dapat
memengaruhi keluarga, individu, dan kelompok.

Selanjutnya, secara spesifik diharapkan individu, keluarga, kelompok,dan


masyarakat mempunyai kemampuan untuk:
1) Mengidentifikasi masalah kesehatan yang dialami;
2) Menetapkan masalah kesehatan dan memprioritaskan masalah
tersebut;
3) Merumuskan serta memecahkan masalah kesehatan;
4) Menanggulangi masalah kesehatan yang mereka hadapi;
5) Mengevaluasi sejauh mana pemecahan masalah yang mereka hadapi,
yang akhirnya dapat meningkatkan kemampuan dalam memelihara
kesehatan secara mandiri (self care).
11

2.2.2 Fungsi keperawatan komunitas


2.2.2.1 Memberikan pedoman dan bimbingan yang sistematis dan ilmiah
bagi kesehatan masyarakat dan keperawatan dalam memecahkan
masalah klien melalui asuhan keperawatan.
2.2.2.2 Agar masyarakat mendapatkan pelayanan yang optimal sesuai
dengan kebutuhannya dibidang kesehatan.
2.2.2.3 Memberikan asuhan keperawatan melalui pendekatan pemecahan
masalah, komunikasi yang efektif dan efisien serta melibatkan
peran serta masyarakat.
2.2.2.4 Agar masyarakat bebas mengemukakan pendapat berkaitan
dengan permasalahan atau kebutuhannya sehingga mendapatkan
penanganan dan pelayanan yang cepat dan pada akhirnya dapat
mempercepat proses penyembuhan (Mubarak, 2006).

2.3 Sasaran
Sasaran perawatan kesehatan komunitas adalah individu, keluarga kelompok
dan masyarakat, baik yang sehat maupun yang sakit yang mempunyai masalah
kesehatan/perawatan.
2.3.1 Individu
Individu adalah bagian dari anggota keluarga. Apabila individu tersebut
mempunyai masalah kesehatan atau keperawatan karena ketidakmampuan
merawat diri sendiri oleh suatu hal dan sebab, maka akan dapat
mempengaruhi anggota keluarga lainnya baik secara fisik, mental maupun
sosial.

2.3.2 Keluarga
Keluarga merupakan unit terkecil dari masyarakat, terdiri atas kepala
keluarga, anggota keluarga lainnya yang berkumpul dan tinggal dalam
suatu rumah tangga karena pertalian darah dan ikatan perkawinan atau
adopsi, satu dengan lainnya saling tergantung dan berinteraksi. Bila salah
satu atau beberapa anggota keluarga mempunyai masalah
kesehatan/keperawatan, maka akan berpengaruh terhadap anggota
keluarga lainnya dan keluarga-keluarga yang ada di sekitarnya.
12

2.3.3 Kelompok Khusus


Kelompok Khusus adalah kumpulan individu yang mempunyai kesamaan
jenis kelamin, umur, permasalahan, kegiatan yang terorganisasi yang
sangat rawan terhadap masalah kesehatan. Termasuk di antaranya adalah:
a. Kelompok khusus dengan kebutuhan khusus sebagai akibat
perkembangan dan pertumbuhannya, seperti: 1) ibu hamil; 2) bayi
baru lahir; 3) balita; 4) anak usia sekolah; serta 5) usia lanjut.
b. Kelompok dengan kesehatan khusus yang memerlukan pengawasan
dan bimbingan serta asuhan keperawatan, di antaranya adalah: 1)
penderita penyakit menular, seperti: TBC, lepra, AIDS, penyakit
kelamin dan lainnya; 2) penderita dengan penyakit tidak menular,
seperti: penyakit diabetes mellitus, jantung koroner, cacat fisik,
gangguan mental dan lain sebagainya.
c. Kelompok yang mempunyai risiko terserang penyakit, di antaranya: 1)
wanita tuna susila; 2) kelompok penyalahgunaan obat dan narkoba; 3)
kelompok-kelompok pekerja tertentu; dan lain-lain.
d. Lembaga sosial, perawatan dan rehabilitasi, di antaranya adalah: 1)
panti werdha; 2) panti asuhan; 3) pusat-pusat rehabilitasi (cacat fisik,
mental dan sosial); serta 4) penitipan balita.

2.3.4 Masyarakat
Masyarakat adalah sekelompok manusia yang hidup dan bekerja sama
cukup lama sehingga mereka dapat mengatur diri mereka dan menganggap
diri mereka sebagai satu kesatuan sosial dan batas-batas yang telah
ditetapkan dengan jelas. Masyarakat merupakan kelompok individu yang
saling berinteraksi, saling tergantung, dan bekerja sama untuk mencapai
tujuan. Dalam berinteraksi sesama anggota masyarakat akan muncul
banyak permasalahan, baik permasalahan sosial, kebudayaan,
perekonomian, politik, maupun kesehatan khususnya.

Penyelenggaraan pelayanan kesehatan komunitas dapat dilakukan di:


a. Sekolah atau Kampus
Pelayanan keperawatan yang diselenggarakan meliputi pendidikan
pencegahan penyakit, peningkatan derajat kesehatan dan pendidikan
seks. Selain itu perawat yang bekerja di sekolah dapat memberikan
perawatan untuk peserta didik pada kasus penyakit akut yang bukan
kasus kedaruratan misalnya penyakit influensa, batuk dll. Perawat juga
13

dapat memberikan rujukan pada peserta didik dan keluarganya bila


dibutuhkan perawatan kesehatan yang lebih spesifik.
b. Lingkungan kesehatan kerja
Beberapa perusahaan besar memberikan pelayanan kesehatan bagi
pekerjanya yang berlokasi di gedung perusahaan tersebut. Asuhan
keperawatan di tempat ini meliputi lima bidang. Perawat menjalankan
program yang bertujuan untuk:
1) Meningkatkan kesehatan dan keselamatan kerja dengan
mengurangi jumlah kejadian kecelakaan kerja
2) Menurunkan resiko penyakit akibat kerja
3) Mengurangi transmisi penyakit menular anatar pekerja
4) Memberikan program peningkatan kesehatan, pencegahan
penyakit, dan pendidikan kesehatan.
5) Mengintervensi kasus-kasus lanjutan non kedaruratan dan
memberikan pertolongan pertama pada kecelakaan (Mubarak,
2006).
c. Lembaga perawatan kesehatan di rumah
Klien sering kali membutuhkan asuhan keperawatan khusus yang dapat
diberikan secara efisien di rumah. Perawat di bidang komunitas juga
dapat memberikan perawatan kesehatan di rumah misalnya: perawat
melakukan kunjungan rumah, hospice care, home care dll. Perawat
yang bekerja di rumah harus memiliki kemampuan mendidik, fleksibel,
berkemampuan, kreatif dan percaya diri, sekaligus memiliki
kemampuan klinik yang kompeten.
d. Lingkungan kesehatan kerja lain
Terdapat sejumlah tempat lain dimana perawat juga dapat bekerja dan
memiliki peran serta tanggungjawab yang bervariasi. Seorang perawat
dapat mendirikan praktek sendiri, bekerja sama dengan perawata lain,
bekerja di bidang pendididkan , penelitian, di wilayah binaan,
puskesmas dan lain sebagainya. Selain itu, dimanapun lingkungan
tempat kerjanya, perawat ditantang untuk memberikan perawatan yang
berkualitas (Mubarak, 2006).

2.4 Ruang Lingkup Perawatan Kesehatan Komunitas


Ruang lingkup praktek keperawatan masyarakat meliputi: upaya-upaya
peningkatan kesehatan (promotif), pencegahan (preventif), pemeliharaan
kesehatan, pengobatan (kuratif), pemulihan kesehatan (rehabilitatif), dan
14

mengembalikan serta memfungsikan kembali baik individu, keluarga,


kelompok, dan masyarakat ke lingkungan sosial dan masyarakatnya
(resosialisasi).

Dalam memberikan asuhan keperawatan komunitas, kegiatan yang ditekankan


adalah upaya preventif dan promotif dengan tidak mengabaikan upaya kuratif,
rehabilitatif, dan resosiliatif.
2.4.1 Upaya Promotif
Upaya promotif dilakukan untuk meningkatkan kesehatan individu,
keluarga, keluarga, kelompok, dan masyarakat dengan jalan memberikan :
a. Penyuluhan kesehatan
b. Peningkatan gizi
c. Pemeliharaan kesehatan perseorangan
d. Pemeliharaan kesehatan lingkungan
e. Olahraga secara teratur
f. Rekreasi
g. Pendidikan seks

2.4.2 Upaya Preventif


Upaya preventif ditujukan untuk mencegah terjadinya penyakit dan
gangguan terhadap kesehatan individu, keluarga, kelompok, dan
masyarakat melalui kegiatan :
a. Imunisasi massal terhadap bayi, balita, dan ibu hamil.
b. Pemeriksaan kesehatan secara berkala melalui posyandu, puskesmas,
maupun kunjungan rumah.
c. Pemberian vitamin A dan yodium melalui posyandu, puskesmas,
ataupun di rumah.
d. Pemeriksaan dan pemeliharaan kehamilan, nifas, dan menyusui.

2.4.3 Upaya Kuratif


Upaya kuratif ditujukan untuk merawat dan mengobati anggota-anggota
keluarga, kelompok, dan masyarakat yang menderita penyakit atau
masalah kesehatan, melalui kegiatan :
a. Perawatan orang sakit di rumah (Home Nursing).
b. Perawatan orang sakit sebagai tindak lanjut perawatan dari puskesmas
dan rumah sakit.
15

c. Perawatan ibu hamil dengan kondisi patologis di rumah, ibu bersalin,


dan nifas.
d. Perawatan payudara.
e. Perawatan tali pusat bayi baru lahir.

2.4.4 Upaya Rehabilitatif


Upaya rehabilitatif merupakan upaya pemulihan kesehatan bagi penderita-
penderita yang dirawat di rumah, maupun terhadap kelompok-kelompok
tertentu yang menderita penyakit yang sama, misalnya kusta, TBC, cacat
fisik dan lainnya, dilakukan melalui kegiatan :
a. Latihan fisik, baik yang mengalami gangguan fisik seperti penderita
kusta, patah tulang, maupun kelainan bawaan.
b. Latihan-latihan fisik tertentu bagi penderita-penderita penyakit
tertentu, misalnya TBC: latihan nafas dan batuk; penderita stroke:
fisioterapi manual yang mungkin dilakukan oleh perawat.

2.4.6 Upaya Resosiliatif


Upaya resosiliatif adalah upaya mengembalikan individu, keluarga, dan
kelompok khusus ke dalam pergaulan masyarakat, di antaranya adalah
kelompok-kelompok yang diasingkan oleh masyarakat karena menderita
suatu penyakit, misalnya kusta, AIDS, atau kelompok-kelompok
masyarakat khusus seperti khusus Wanita Tuna Susila (WTS), tuna wisma,
dan lain-lain. Di samping itu, upaya resosiliatif meyakinkan masyarakat
untuk dapat menerima kembali kelompok yang mempunyai masalah
kesehatan tersebut dan menjelaskan secara benar masalah kesehatan yang
mereka derita. Hal ini tentunya membutuhkan penjelasan dengan
pengertian atau batasan-batasan yang jelas dan dapat dimengerti.

2.5 Kegiatan Praktek Keperawatan Komunitas


Kegiatan praktek keperawatan komunitas yang dilakukan perawat mempunyai
lahan yang luas dan tetap menyesuaikan dengan tingkat pelayanan kesehatan
wilayah kerja perawat, tetapi secara umum kegiatan praktek keperawatan
komunitas adalah sebagai berikut :
2.5.1 Memberikan asuhan keperawatan langsung kepada individu, keluarga,
kelompok khusus, baik di rumah (home nursing), di sekolah (school
health nursing), di perusahaan, di posyandu, di polindes, dan daerah
binaan kesehatan masyarakat.
16

2.5.2 Penyuluhan/pendidikan kesehatan masyarakat dalam rangka merubah


perilaku individu, keluarga, kelompok, dan masyarakat.
2.5.3 Konsultasi dan pemecahan masalah kesehatan yang dihadapi.
2.5.4 Bimbingan dan pembinaan sesuai dengan masalah yang mereka hadapi.
2.5.5 Melaksanakan rujukan terhadap kasus-kasus yang memerlukan
penanganan lebih lanjut.
2.5.6 Penemuan kasus pada tingkat individu, keluarga, kelompok, dan
masyarakat.
2.5.7 Sebagai penghubung antara masyarakat dengan unit pelayanan kesehatan.
2.5.8 Melaksanakan asuhan keperawatan komunitas, melalui pengenalan
masalah kesehatan masyarakat, perencanaan kesehatan, pelaksanaan dan
penilaian kegiatan dengan menggunakan proses keperawatan sebagai
suatu usaha pendekatan ilmiah keperawatan.
2.5.9 Mengadakan koordinasi di berbagai kegiatan asuhan keperawatan
komunitas.
2.5.10 Mengadakan kerja sama lintas program dan lintas sektoral dengan instansi
terkait.
2.5.11 Memberikan keteladanan yang dapat dijadikan panutan oleh individu,
keluarga, kelompok, dan masyarakat yang berkaitan dengan keperawatan
dan kesehatan.

2.6 Prinsip Dasar


Perawatan kesehatan masyarakat merupakan bidang khusus dalam ilmu
keperawatan, yang merupakan gabungan ilmu keperawatan, ilmu kesehatan, dan
ilmu sosial (WHO, 1959). Suatu bidang dalam keperawatan yang merupakan
perpaduan antara keperawatan dan kesehatan masyarakat dengan dukungan
peran serta masyarakat (Rapat Kerja Keperawatan Kesehatan Masyarakat,
1989). Dengan demikian ada 3 teori yang menjadi dasar ilmu perawatan
kesehatan masyarakat yaitu : (1). Ilmu keperawatan, (2). Ilmu kesehatan
masyarakat, dan (3). Ilmu sosial (peran serta masyarakat).
2.6.1 Ilmu keperawatan
Konsep keperawatan di karakteristikkan oleh 4 komponen konsep pokok
yang menjadi paradigma dalam keperawatan, di mana menggambarkan
hubungan teori-teori yang membentuk susunan yang mengatur teori-teori
tersebut berhubungan satu dengan lainnya, yaitu : konsep manusia,
konsep kesehatan, konsep masyarakat, dan konsep keperawatan.
(Christine Ibrahim, 1986).
17

2.6.2 Ilmu kesehatan masyarakat


Dalam mengaplikasikan praktek asuhan keperawatan dalam komunitas
diperlukan pengetahuan penunjang yang berkaitan dengan kesehatan
masyarakat, dalam melihat perspektif proses terjadinya masalah
kesehatan masyarakat yang erat kaitannya dengan ilmu epidemiologi,
ilmu statistik kesehatan sehingga masalah tersebut diketahui faktor
penyebab dan alternatif pemecahannya. Termasuk juga diperlukan
pemahaman tentang konsep puskesmas, PHC atau Posyandu, dan untuk
merubah perilaku masyarakat diperlukan pengetahuan yang berkaitan
dengan pendidikan kesehatan masyarakat. (Soekidjo Notoadmojo, 2003).

2.6.3 Ilmu sosial


Pengetahuan sosial kemasyarakatan penting untuk dipahami oleh seorang
perawat kesehatan masyarakat dalam menjalankan tugasnya, sebab akan
berhadapan dengan kelompok-kelompok sosial dalam masyarakat.
Pengetahuan sosial yang dimaksud adalah ilmu pengembangan dan
pengorganisasian masyarakat, pendekatan edukatif dan teori tentang
pendekatan perubahan perilaku. Hal ini bisa dirasakan oleh petugas
kesehatan saat menjalankan tugas, peran, dan fungsinya dalam keluarga,
kelompok, atau masyarakat dengan berbagai latar belakang agama,
budaya, pendidikan, ekonomi, norma, adat istiadat, dan aturan-aturan
yang berlaku dalam masyarakat. (Nasrul Effendi, 1999). Dengan
memahami pengetahuan ilmu sosial petugas kesehatan masyarakat dapat
melakukan pendekatan untuk merubah perilaku masyarakat ke arah yang
positif dalam memelihara kesehatan keluarga, kelompok, dan masyarakat
sehingga menuju kemandirian (self care), di mana mereka diharapkan
dapat mengenal dan merumuskan masalah kesehatan yang mereka hadapi,
memprioritaskan dan mencari alternatif pemecahan masalah melalui
perencanaan bersama, kemudian melaksanakan kegiatan bersama
berdasarkan perencanaan yang mereka buat serta menilai hasil yang telah
dicapai.

2.7 Model Pendekatan


Pendekatan yang digunakan perawat dalam memecahkan masalah kesehatan
masyarakat yang ditujukan kepada individu, keluarga, kelompok dan masyarakat
secara keseluruhan adalah pendekatan pemecahan masalah (problem solving
18

approach) yang dituangkan dalam proses keperawatan dengan memanfaatkan


pendekatan epidemiologi yang dikaitkan dengan upaya kesehatan dasar (PHC).

Pendekatan pemecahan masalah dimaksudkan bahwa setiap masalah yang


dihadapi individu, keluarga, kelompok, dan masyarakat akan dapat diatasi oleh
perawat melalui keterampilan melaksanakan intervensi keperawatan sebagai
bidang keahliannya dalam melaksanakan profesinya sebagai perawat kesehatan
masyarakat.

Bila kegiatan perawatan komunitas dan keluarga menggunakan pendekatan


terhadap keluarga binaan disebut sebagai family approach, maka bila pembinaan
keluarga berdasarkan atas seleksi kasus yang datang ke puskesmas yang dinilai
memerlukan tindak lanjut disebut dengan case approach, sedangkan bila
pendekatan yang digunakan adalah pendekatan yang dilakukan terhadap
masyarakat daerah binaan melalui survei mawas diri dengan melibatkan
partisipasi masyarakat disebut community approach.

2.8 Langkah-langkah Proses Keperawatan


Langkah-langkah dalam proses keperawatan di antaranya adalah sebagai berikut
:
(1) Proses keperawatan terbagi dalam empat tahap yaitu: identifikasi,
pengumpulan data, rencana dan kegiatan, serta penilaian (Depkes RI).
(2) Proses keperawatan terbagi dalam enam tahap yaitu: membina hubungan
saling percaya dengan klien, pengkajian, penentuan tujuan bersama,
merencanakan tindakan bersama klien, melaksanakan kegiatan sesuai
dengan rencana, dan hasil evaluasi (Freeman).
(3) Proses keperawatan terbagi dalam empat tahap yaitu: pengkajian,
perencanaan, implementasi, dan evaluasi (SG Bailon).

Dari beberapa pendapat di atas, maka dapat disimpulkan bahwa pada dasarnya
langkah-langkah dalam proses keperawatan komunitas adalah :
1. Pengkajian
2. Diagnosis keperawatan
3. Perencanaan atau intervensi
4. Pelaksanaan atau implementasi
5. Evaluasi atau penilaian
19

Langkah-langkah dalam proses keperawatan di atas akan dibahas satu persatu


dan lebih mendalam.
1. Pengkajian (assessment)
Pengkajian adalah merupakan upaya pengumpulan data secara lengkap dan
sistematis terhadap masyarakat untuk dikaji dan dianalisis sehingga
masalah yang dihadapi oleh masyarakat baik individu, keluarga, atau
kelompok yang menyangkut permasalahan pada fisiologis, psikologis,
sosial ekonomi, maupun spiritual dapat ditentukan. Kegiatan-kegiatan yang
dilakukan perawat kesehatan masyarakat dalam mengkaji masalah
kesehatan baik di tingkat individu, keluarga, kelompok, dan masyarakat
adalah :
a. Pengumpulan Data
Tujuan pengumpulan data dimaksudkan untuk memperoleh informasi
mengenai masalah kesehatan yang dihadapi individu, keluarga, kelompok
khusus, masyarakat melalui wawancara, observasi, studi dokumentasi
dengan menggunakan instrumen pengumpulan data dalam menghimpun
informasi, sehingga dapat ditentukan tindakan yang harus diambil untuk
mengatasi masalah tersebut yang menyangkut aspek fisik, psikologis, sosial
ekonomi, dan spiritual serta faktor lingkungan yang mempengaruhinya.
Oleh karena itu, data yang dikumpulkan harus akurat dan dapat dilakukan
analisa data untuk pemecahan masalah.

Pengkajian yang diperlukan adalah inti komunitas beserta faktor


lingkungannya. Elemen pengkajian komunitas menurut Anderson dan Mc
Forlane (1958) terdiri dari inti komunitas yaitu meliputi demografi,
populasi, nilai-nilai keyakinan, dan riwayat individu termasuk riwayat
kesehatan. Sedangkan faktor lingkungannya adalah lingkungan fisik,
pendidikan, keamanan dan transportasi, politik dan pemerintahan,
pelayanan kesehatan dan sosial, komunikasi, ekonomi serta rekreasi.

Jenis data secara umum dapat diperoleh dari data subjektif dan objektif.
Data subjektif adalah data yang diperoleh dari keluhan atau masalah yang
dirasakan oleh individu, keluarga, kelompok, dan komunitas yang
diungkapkan secara langsung melalui lisan. Sedangkan data objektif
merupakan data yang diperoleh melalui suatu pemeriksaan, pengamatan,
dan pengukuran.
20

Sumber data yang dikumpulkan dalam tahap pengkajian dapat berupa data
primer atau data sekunder. Data primer adalah data yang dikumpulkan oleh
pengkaji yang dalam hal ini mahasiswa atau perawat kesehatan masyarakat
dari individu, keluarga, kelompok, dan komunitas berdasarkan hasil
pemeriksaan atau pengkajian. Sedangkan data sekunder merupakan data
yang diperoleh dari sumber yang tepercaya misalnya : kelurahan, catatan
riwayat kesehatan klien, atau medical record (Wahit, 2005).

Ada berbagai cara dalam pengumpulan data yaitu sebagai berikut :


1. Wawancara atau anamnesa
Wawancara adalah kegiatan komunikasi timbal balik yang berbentuk
tanya jawab antara perawat dengan pasien atau keluarga pasien,
maupun masyarakat tentang hal yang berkaitan dengan masalah
kesehatan pasien. Wawancara harus dilakukan dengan ramah, terbuka,
menggunakan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami oleh pasien
atau keluarga pasien dan selanjutnya hasil wawancara atau anmnesa
dicatat dalam format proses keperawatan.
2. Pengamatan
Pengamatan dalam keperawatan komunitas dilakukan meliputi aspek
fisik, psikologis, dan sikap dalam rangka menegakkan diagnosis
keperawatan. Pengamatan dilakukan dengan menggunakan panca
indera dan hasilnya dicatat dalam format proses keperawatan.
3. Pemeriksaan fisik
Dalam keperawatan komunitas di mana salah satunya asuhan
keperawatan yang diberikan adalah asuhan keperawatan keluarga,
maka pemeriksaan fisik yang dilakukan dalam upaya membantu
menegakkan diagnosis keperawatan dengan cara : inspeksi (yaitu
melakukan pengamatan pada bagian tubuh pasien atau keluarga yang
sakit), palpasi (yaitu pemeriksaan fisik yang dilakukan dengan cara
meraba pada bagian tubuh yang mengalami gangguan), auskultasi
(yaitu pemeriksaan fisik yang dilakukan dengan cara mendengarkan
bunyi bagian tubuh tertentu dan biasanya perawat komunitas
menggunakan stetoskop sebagai alat bantu untuk mendengarkan
denyut jantung, bising usus, suara paru, dan sebagainya), dan perkusi
(adalah cara pemeriksaan fisik yang dilakukan dengan cara
mengetukkan jari telunjuk atau alat reflex hammer pada bagian tubuh
yang diperiksa).
21

Setelah data diperoleh, kegiatan selanjutnya adalah pengolahan data


dengan cara sebagai berikut :
(1) Klasifikasi data atau kategorisasi data dengan cara :
 Karakteristik demografi
 Karakteristik geografi
 Karakteristik sosial ekonomi
 Sumber dan pelayanan kesehatan (Anderson & MC Farlene
1988).
(2) Perhitungan presentase cakupan dengan menggunakan Telly.
(3) Tabulasi data
(4) Interpretasi data

b. Analisa Data
Analisa data adalah kemampuan untuk mengaitkan data dan
menghubungkan data dengan kemampuan kognitif yang dimiliki
sehingga dapat diketahui tentang kesenjangan atau masalah yang
dihadapi oleh masyarakat apakah itu masalah kesehatan atau masalah
keperawatan. Tujuan dari analisa data adalah sebagai berikut :
(1) Menetapkan kebutuhan komunitas
(2) Menetapkan kekuatan
(3) Mengidentifikasi pola respons komunitas
(4) Mengidentifikasi kecenderungan penggunaan pelayanan
kesehatan.

Analisa data dilaksanakan berdasarkan data yang telah diperoleh dan


disusun dalam suatu format yang sistematis. Dalam menganalisa data
memerlukan pemikiran yang kritis.

Data yang terkumpul kemudian dianalisa seberapa besar faktor stresor


yang mengancam dan seberapa berat reaksi yang timbul di komunitas.
Selanjutnya dirumuskan masalah atau diagnosa keperawatan. Menurut
Mueke (1987) masalah tersebut terdiri dari: 1) masalah sehat - sakit; 2)
karakteristik populasi; serta 3) karakteristik lingkungan.
22

c. Perumusan Masalah Kesehatan


Berdasarkan analisa data dapat diketahui masalah kesehatan dan
keperawatan yang dihadapi oleh masyarakat, sekaligus dapat dirumuskan
yang selanjutnya dilakukan intervensi. Namun demikian masalah yang
telah dirumuskan tidak mungkin dapat diatasi sekaligus. Oleh karena itu,
diperlukan prioritas masalah.

Dalam menentukan prioritas masalah kesehatan masyarakat dan


keperawatan perlu mempertimbangkan berbagai faktor sebagai kriteria,
di antaranya adalah :
1. Perhatian masyarakat
2. Prevalensi kejadian
3. Berat ringannya masalah
4. Kemungkinan masalah untuk diatasi
5. Tersedianya sumber daya masyarakat
6. Aspek politis

Prioritas masalah juga dapat ditentukan berdasarkan hierarki kebutuhan


menurut Abraham H. Maslow yaitu sebagai berikut :
1. Keadaan yang mengancam kehidupan
2. Keadaan yang mengancam kesehatan
3. Persepsi tentang kesehatan dan keperawatan

Dalam menyusun atau mengurut masalah atau diagnosis komunitas


sesuai dengan prioritas (penapisan) yang digunakan dalam keperawatan
komunitas adalah format penapisan menurut Mueke, dengan format yaitu
sebagai berikut :
23

Kriteria Penapisan
Tersedia Sumber

Kemungkinan untuk pendidikan kesehatan


Sesuai dengan peran perawat komunitas

Sesuai dengan program pemerintah


Diagnosa

Kemungkinan untuk diatasi


Keperawatan

Sumber daya peralatan


Komunitas Jumlah yang berisiko

JUMLAH SKORE
Sumber daya tempat
Sumber daya waktu

Sumber daya orang


Sumber daya dana
Minat masyarakat
Besarnya risiko

Menetapkan skala prioritas dilakukan untuk menentukan tindakan yang


lebih dahulu ditanggulangi karena dianggap dapat mengancam
kehidupan masyarakat secara keseluruhan dengan mempertimbangkan:
1) masalah spesifik yang mempengaruhi kesehatan masyarakat; 2)
kebijaksanaan nasional dan wilayah setempat; 3) kemampuan dan
sumber daya masyarakat, dan 4) keterlibatan, partisipasi, dan peran serta
masyarakat.
Kriteria skala prioritas :
1) Perhatian masyarakat, meliputi: pengetahuan, sikap, keterlibatan
emosi masyarakat terhadap masalah kesehatan yang dihadapi dan
urgensinya untuk segera ditanggulangi.
2) Prevalensi menunjukkan jumlah kasus yang ditemukan pada suatu
kurun waktu tertentu.
3) Besarnya masalah adalah seberapa jauh masalah-masalah tersebut
dapat menimbulkan gangguan terhadap kesehatan masyarakat.
4) Kemungkinan masalah untuk dapat dikelola dengan
mempertimbangkan berbagai alternatif dalam cara-cara pengelolaan
masalah-masalah yang menyangkut biaya, sumber daya, sarana yang
tersedia dan kesulitan yang mungkin timbul (Effendi Nasrul, 1995).
2. Diagnosis keperawatan
Diagnosis keperawatan adalah respons individu pada masalah kesehatan
baik yang aktual maupun potensial. Masalah aktual adalah masalah yang
diperoleh pada saat pengkajian sedangkan masalah potensial adalah
24

masalah yang mungkin timbul. Jadi, yang dimaksud dengan diagnosis


keperawatan adalah suatu pernyataan yang jelas, padat, dan pasti tentang
status dan masalah kesehatan pasien yang dapat diatasi dengan tindakan
keperawatan. Dengan demikian diagnosis keperawatan ditetapkan
berdasarkan masalah yang ditemukan. Diagnosis keperawatan akan
memberikan gambaran tentang masalah dan status kesehatan masyarakat
baik yang nyata (aktual) maupun yang mungkin akan terjadi (potensial).
Dasar penentuan masalah keperawatan kesehatan masyarakat antara lain :
1) masalah yang ditetapkan dari data umum; b) masalah yang dianalisa
dari kesenjangan pelayanan kesehatan. Diagnosis keperawatan
mengandung komponen utama yaitu sebagai berikut :

a. Problem (masalah)
Problem merupakan kesenjangan atau penyimpangan dari keadaan
normal yang seharusnya terjadi.
b. Etiologi (penyebab)
Menunjukkan penyebab masalah kesehatan atau keperawatan yang
dapat memberikan arah terhadap intervensi keperawatan yang meliputi
:
a. Perilaku individu, keluarga, kelompok, dan masyarakat.
b. Lingkungan fisik, biologis, psikologis, dan sosial.
c. Interaksi perilaku dan lingkungan.
c. Sign atau symptom (tanda dan gejala)
Merupakan informasi yang perlu untuk merumuskan diagnosa atau
serangkaian petunjuk timbulnya suatu masalah.
Perumusan diagnosis keperawatan dapat dilakukan dengan dua cara yaitu
sebagai berikut :
1) Dengan rumus PES (Problem + Etiologi + Symptom)
2) Dengan rumus PE (Problem + Etiologi)

Jadi, menegakkan diagnosa keperawatan minimal harus mengandung dua


komponen tersebut di atas, di samping mempertimbangkan hal-hal
sebagai berikut :
 Kemampuan masyarakat untuk menanggulangi masalah
 Sumber daya yang tersedia dari masyarakat
 Partisipasi dan peran serta masyarakat
25

3. Perencanaan (intervensi) keperawatan


Perencanaan keperawatan adalah penyusunan rencana tindakan
keperawatan yang akan dilaksanakan untuk mengatasi masalah sesuai
dengan diagnosis keperawatan yang telah ditentukan dengan tujuan
terpenuhinya kebutuhan pasien. Jadi, perencanaan asuhan keperawatan
kesehatan masyarakat disusun berdasarkan diagnosa keperawatan yang
telah ditetapkan dan rencana asuhan keperawatan disusun harus
mencakup: perumusan tujuan, rencana tindakan keperawatan yang akan
dilaksanakan, dan kriteria hasil untuk menilai pencapaian tujuan.
a. Perumusan tujuan
Dalam merumuskan tujuan harus memenuhi kriteria yaitu sebagai
berikut :
1. Berfokus pada masyarakat
2. Jelas dan singkat
3. Dapat diukur dan diobservasi
4. Realistik
5. Ada target waktu
6. Melibatkan peran serta masyarakat
Dalam pencapaian tujuan dengan menggunakan formulasi kriteria
yang mencakup yaitu sebagai berikut :
T = S + P + K.1 + K.2
Keterangan :
T = Tujuan
S = Subjek
P = Predikat
K.1 = Kondisi
K.2 = Kriteria
Selain itu dalam perumusan tujuan :
7. Dibuat berdasarkan goal = sasaran dibagi hasil akhir yang
diharapkan
8. Perilaku yang diharapkan berubah
9. S = Spesifik
10. M = Measurable atau dapat diukur
11. A = Attainable atau dapat dicapai
12. R = Relevant/Realistic atau sesuai
13. T = Time-Bound atau waktu tertentu
14. S = Sustainable atau berkelanjutan
26

b. Rencana tindakan keperawatan yang akan dilaksanakan


Langkah-langkah dalam perencanaan keperawatan kesehatan
masyarakat yaitu sebagai berikut :
1. Identifikasi alternatif tindakan keperawatan.
2. Tetapkan teknik dan prosedur yang akan digunakan.
3. Melibatkan peran serta masyarakat dalam menyusun perencanaan
melalui kegiatan musyawarah masyarakat desa atau lokakarya
mini.
4. Pertimbangkan sumber daya masyarakat dan fasilitas yang tersedia.
5. Tindakan yang akan dilaksanakan harus dapat memenuhi
kebutuhan yang sangat dirasakan masyarakat.
6. Mengarah kepada tujuan yang akan dicapai.
7. Tindakan harus bersifat realistik.
8. Disusun secara berurutan.
c. Kriteria hasil untuk menilai pencapaian tujuan
Penentuan kriteria dalam perencanaan keperawatan komunitas adalah
sebagai berikut :
 Menggunakan kata kerja yang tepat.
 Dapat dimodifikasikan.
 Bersifat spesifik :
1) Siapa yang melakukannya ?
2) Apa yang dilakukan ?
3) Di mana dilakukan ?
4) Kapan dilakukan ?
5) Bagaimana melakukan ?
6) Frekuensi melakukan ?

4. Pelaksanaan (implementasi) keperawatan


Pelaksanaan merupakan tahap realisasi dari rencana asuhan keperawatan
yang telah disusun. Dalam pelaksanaan tindakan keperawatan perawat
kesehatan masyarakat harus bekerja sama dengan anggota tim kesehatan
lainnya, dalam hal ini melibatkan pihak Puskesmas, bidan desa, dan
anggota masyarakat. Prinsip yang umum digunakan dalam pelaksanaan
atau implementasi pada keperawatan komunitas adalah sebagai berikut :
27

 Inovatif
Perawat kesehatan masyarakat harus mempunyai wawasan luas dan
mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan ilmu pengetahuan
dan teknologi (IPTEK) dan berdasarkan iman dan takwa (IMTAQ).
 Integrated
Perawat kesehatan masyarakat harus mampu bekerja sama dengan
sesama profesi, tim kesehatan lain, individu, keluarga, kelompok, dan
masyarakat berdasarkan asas kemitraan.
 Rasional
Perawat kesehatan masyarakat dalam melakukan asuhan keperawatan
harus menggunakan pengetahuan secara rasional demi tercapainya
rencana program yang telah disusun.
 Mampu dan mandiri
Perawat kesehatan masyarakat diharapkan mempunyai kemampuan
dan kemandirian dalam melaksanakan asuhan keperawatan serta
kompeten.
 Ugem
Perawat kesehatan masyarakat harus yakin dan percaya atas
kemampuannya dan bertindak dengan sikap optimis bahwa asuhan
keperawatan yang diberikan akan tercapai. Dalam melaksanakan
implementasi yang menjadi fokus adalah : program kesehatan
komunitas dengan strategi komunitas organisasi dan partnerships in
community.
Selain prinsip di atas, prinsip lain yang perlu diperhatikan adalah :
 Berdasarkan respons masyarakat.
 Disesuaikan dengan sumber daya yang tersedia pada masyarakat.
 Meningkatkan kemampuan masyarakat dalam pemeliharaan diri
sendiri serta lingkungannya.
 Menekankan pada aspek peningkatan kesehatan dan pencegahan
penyakit.
 Mempertimbangkan kebutuhan kesehatan dan perawatan masyarakat
secara essential.
 Memperhatikan perubahan lingkungan masyarakat.
 Melibatkan partisipasi dan peran serta masyarakat dalam pelaksanaan
perawatan.
28

Hal-hal yang harus diperhatikan dalam pelaksanaan yaitu :


1) Keterpaduan antara: biaya, tenaga, waktu, lokasi, sarana dan prasarana
dengan pelayanan kesehatan maupun lintas sektor lainnya.
2) Keterlibatan petugas kesehatan lain, kader, dan tokoh masyarakat
dalam rangka alih peran.
3) Tindakan keperawatan yang dilakukan dicatat dan didokumentasikan.
4) Adanya penyelenggaraan sistem rujukan baik medis maupun rujukan
kesehatan.

Level pencegahan dalam praktek keperawatan komunitas terdiri atas :


a) Pencegahan Primer
Pencegahan yang terjadi sebelum sakit atau ke tidak fungsinya dan
diaplikasikannya ke dalam populasi sehat pada umumnya dan
perlindungan khusus terhadap penyakit.
b) Pencegahan Sekunder
Pencegahan sekunder menekankan diagnosa diri dan intervensi yang
tepat untuk menghambat proses patologis, sehingga memperpendek
waktu sakit dan tingkat keparahan.
c) Pencegahan Tersier
Pencegahan tersier dimulai pada saat cacat atau terjadi
ketidakmampuan stabil atau menetap atau tidak dapat diperbaiki sama
sekali. Rehabilitasi sebagai pencegahan primer lebih dari upaya
menghambat proses penyakit sendiri, yaitu mengembalikan individu
kepada tingkat berfungsi optimal dari ketidakmampuannya.

5. Penilaian/Evaluasi
Evaluasi memuat keberhasilan proses dan keberhasilan tindakan
keperawatan. Keberhasilan proses dapat dilihat dengan membandingkan
antara proses dengan pedoman atau rencana proses tersebut. Sedangkan
keberhasilan tindakan dilihat dengan membandingkan antara tingkat
kemandirian masyarakat dalam perilaku kehidupan sehari-hari dan
tingkat kemajuan kesehatan masyarakat komunitas dengan tujuan yang
telah ditetapkan atau dirumuskan sebelumnya. Evaluasi dilakukan atas
respons komunitas terhadap program kesehatan. Hal-hal yang perlu
dievaluasi adalah masukan (input) pelaksanaan (proses) dan hasil akhir
(output). Penilaian yang dilakukan berkaitan dengan tujuan yang akan
dicapai, sesuai dengan perencanaan yang telah disusun semula. Ada 4
29

dimensi yang harus dipertimbangkan dalam melaksanakan penilaian


yaitu : a) daya guna; b) hasil guna; c) kelayakan; serta d) kecukupan.
Kegiatan yang dilakukan dalam penilaian menurut Narul Effendy, 1998
adalah sebagai berikut :
 Membandingkan hasil tindakan yang dilaksanakan dengan tujuan
yang telah ditetapkan.
 Menilai efektifitas proses keperawatan mulai dari tahap pengkajian
sampai dengan pelaksanaan.
 Hasil penilaian keperawatan digunakan sebagai bahan perencanaan
selanjutnya apabila masalah belum teratasi.
Perlu dipahami bersama oleh perawat kesehatan masyarakat bahwa
evaluasi dilakukan dengan melihat respons komunitas terhadap program
kesehatan. Macam evaluasi: (1) formatif dan summatif, (2) input,
procces, dan output.

Fokus evaluasi adalah :


a) Relevansi atau hubungan antara kenyataan yang ada dengan
pelaksanaan.
b) Perkembangan atau kemajuan proses.
c) Efisiensi biaya.
d) Efektivitas kerja.
e) Dampak : apakah status kesehatan meningkat/menurun, dalam jangka
waktu berapa.
Perubahan ini dapat diamati seperti gambar di bawah ini :

Gambar 2.1 Peran memandirikan klien dalam menanggulang


masalah kesehatan

Keterangan:

: Peran
Masyarakat

: Peran
Perawat
30

Pada gambar di atas dapat dijelaskan alih peran untuk memandirikan


klien dalam menanggulangi masalah kesehatan. Pada awalnya peran
perawat lebih besar dari pada klien dan berangsur-angsur peran klien
lebih besar dari pada perawat.
Kegunaan evaluasi adalah sebagai berikut :
1) Menentukan perkembangan keperawatan kesehatan masyarakat yang
diberikan.
2) Menilai hasil guna, daya guna, dan produktivitas asuhan keperawatan
yang diberikan.
3) Menilai asuhan keperawatan dan sebagai umpan balik untuk
memperbaiki atau menyusun rencana baru dalam proses keperawatan.
Dalam hasil evaluasi, terdapat tiga kemungkinan yaitu :
1) Tujuan tercapai
Apabila individu, keluarga, kelompok, dan masyarakat telah
menunjukkan kemajuan sesuai dengan kriteria yang telah ditetapkan.
2) Tujuan tercapai sebagian
Apabila tujuan itu tidak tercapai secara maksimal, sehingga perlu
dicari penyebab dan cara memperbaikinya atau mengatasinya.
3) Tujuan tidak tercapai
Apabila individu, keluarga, kelompok, dan masyarakat tidak
menunjukkan perubahan kemajuan sama sekali bahkan timbul
masalah baru. Dalam hal ini perlu dikaji secara mendalam apakah
terdapat problem dalam data, analisis, diagnosis, tindakan, dan faktor-
faktor yang lain yang tidak sesuai sehingga menjadi penyebab tidak
tercapainya tujuan.

Tujuan akhir dari perawatan komunitas adalah kemandirian keluarga


yang terkait dengan lima tugas keluarga yaitu : mengenal masalah
kesehatan, mengambil keputusan tindakan kesehatan, merawat anggota
keluarga, menciptakan lingkungan yang dapat mendukung upaya
peningkatan kesehatan keluarga serta memanfaatkan fasilitas pelayanan
kesehatan yang tersedia, sedangkan pendekatan yang digunakan adalah
pemecahan masalah keperawatan yaitu melalui proses keperawatan.

2.9. Model Konseptual Dalam Keperawatan Komunitas


Model adalah sebuah gambaran deskriptif dari sebuah praktik yang bermutu
yang mewakili sesuatu yang nyata atau gambaran yang mendekati kenyataan
31

dari konsep. Model praktik keperawatan didasarkan pada isi dari sebuah teori
dan konsep praktik (Riehl & Roy, 1980 dalam Sumijatun, 2006).

Salah satu model keperawatan kesehatan komunitas yaitu Model Health Care
System (Betty Neuman, 1972). Model konsep ini merupakan model konsep yang
menggambarkan aktivitas keperawatan, yang ditujukan kepada penekanan
penurunan stress dengan cara memperkuat garis pertahanan diri, baik yang
bersifat fleksibel, normal, maupun resisten dengan sasaran pelayanan adalah
komunitas (Mubarak & Chayatin, 2009).

Menurut Sumijatun (2006) teori Neuman berpijak pada metaparadigma


keperawatan yang terdiri dari yang terdiri dari klien, lingkungan, kesehatan dan
keperawatan.Asumsi Betty Neuman tentang empat konsep utama yang terkait
dengan keperawatan komunitas adalah:
a. Manusia, merupakan suatu sistem terbuka yang selalu mencari
keseimbangan dari harmoni dan merupakan suatu kesatuan dari variabel
yang utuh, yaitu: fisiologi, psikologi, sosiokultural, perkembangan dan
spiritual
b. Lingkungan, meliputi semua faktor internal dan eksternal atau pengaruh-
pengaruh dari sekitar atau sistem klien
c. Sehat, merupakan kondisi terbebas dari gangguan pemenuhan kebutuhan.
Sehat merupakan keseimbangan yang dinamis sebagai dampak dari
keberhasilan menghindari atau mengatasi stresor.
32

Model ini menganalisi interaksi anatara empat variabel yang menunjang


keperawatan komunitas, yaitu aspek fisik atau fisiologis, aspek psikologis, aspek
sosial dan kultural, serta aspek spiritual.

Sehat menurut Neuman adalah suatu keseimbangan bio, psiko, cultural dan
spiritual pada tiga garis pertahanan klien, yaitu garis pertahanan fleksibel,
normal dan resisten. Sehat dapat diklasifikasikan dalam delapan tahapan, yaitu:
1) Normally well, yaitu sehat secara psikologis, medis dan social
33

2) Pessimistic, yaitu bersikap atau berpandangan tidak mengandung harapan


baik (misalnya khawatir sakit, ragu akan kesehatannya, dan lain-lain)
3) Socially ill, yaitu secara psikologis dan medis baik, tetapi kurang mampu
secara social, baik ekonomi maupun interaksi social dengan masyarakat
4) Hypochondriacal, yaitu penyakit bersedih hati dan kesedihan tanpa alasan
5) Medically ill, yaitu sakit secara medis yang dapat diperiksa dan diukur
6) Martyr, yaitu orang yang rela menderita atau meninggal dari pada menyerah
karena mempertahankan agama/kepercayaan. Dalam kesehatan, seseorang
yang tidak memperdulikan kesehatannya, dia tetap berjuang untuk
kesehatan/keselamatan orang lain
7) Optimistic, yaitu meskipun secara medis dan social sakit, tetapi mempunyai
harapan baik. Keadaan ini sering kali sangat membantu dalam penyembuhan
sakit medisnya
8) Seriously ill, yaitu benar-benar sakit, baik secara psikologis, medis dan
sosial
BAB III

LAPORAN ASUHAN KOMUNITAS DALAM PRAKTIK STASE KEPERAWATAN


KOMUNITAS DI DESA LOK TANGGA, KECAMATAN KARANG INTAN
PROVINSI KALIMANTAN SELATAN

3.1 PENGKAJIAN

3.1.1 Data Demografi Desa Lok Tangga


Desa Lok Tangga berada di Kecamatan Karang Intan, Kabupaten Banjar.
Desa Lok Tangga adalah salah satu dari beberapa Desa yang ada di
wilayah Kecamatan Karang Intan, Kabupaten Banjar. Desa Lok Tangga
terdiri dari 3 RT dan memiliki jumlah penduduk jiwa yang terdiri dari
413 laki-laki dan 426 jiwa perempuan dengan jumlah 259 kepala
keluarga. (Profil Desa Lok Tangga, 2018)

3.1.2 Tabulasi Data Penduduk


Setelah dilakukan wawancara dan observasi pada pengkajian data dari
tanggal 29 Juni-5 Juli 2018 didapatkan data sebagai berikut:
JUMLAH KK : 259
JUMLAH JIWA : 839

3.1.2.1 Total Jumlah Warga Per RT


Warga Per RT Jumlah Persentase (%)
RT 1 348 41,5
RT 2 239 28,5
RT 3 252 30
Total 839 100
Berdasarkan data di atas, jumlah penduduk paling banyak adalah
RT 1 dengan jumlah penduduk 348 orang (41,5 %). Sedangkan
penduduk dengan jumlah sedikit adalah RT 2 dengan jumlah
239 orang (28,5 %)

3.1.2.2 Total Berdasarkan Jenis Kelamin


Jenis Kelamin Jumlah Persentase (%)
Pria 413 49,2
Wanita 426 50,8
Total 839 100
31

Berdasarkan data di atas, jumlah penduduk di Desa Lok Tangga


berdasarkan jenis kelamin adalah wanita dengan jumlah 428
orang (50,8%). Sedangkan jumlah pria di desa Lok Tangga
adalah 426 orang (49,2%).

3.1.2.3 Total Berdasarkan Status Perkawinan

Status perkawinan Jumlah Persentase (%)


Kawin 435 51,8
Belum kawin 339 40,4
Cerai hidup 15 1,8
Cerai Mati 50 6
Total 839 100

Berdasarkan data di atas, jumlah penduduk di Desa Lok Tangga


berdasarkan status perkawinan terbanyak adalah status kawin
dengan jumlah 435 orang (51,8%). Sedangkan persentase status
perkawinan terendah adalah Cerai Hidup dengan jumlah 15
orang (1,8%)

3.1.2.4 Total Berdasarkan Kehamilan


Kehamilan Jumlah Persentase (%)
Ya 6 2,6
Tidak 224 97,4
Total 230 100

Berdasarkan data di atas, jumlah penduduk berdasarkan data


kehamilan di Desa Lok Tangga adalah 2 orang (0,3%).

3.1.2.5 Total Distribusi Warga Berdasarkan Umur


Usia Jumlah Persentase (%)
0-5 tahun 69 8,2
6-11 tahun 79 9,4
12-16 tahun 70 8,3
17-25 tahun 128 15,3
26-35 tahun 129 15,4
36-45 tahun 132 15,7
46-55 tahun 116 13,8
56-65 tahun 78 9,3
65 tahun ke atas 38 4,5

Total 839 100


32

Berdasarkan tabel di atas, umur terbanyak adalah 36-45 tahun


yaitu 132 orang (15,7%). Sedangkan umur 65 tahun ke atas
adalah 38 orang (4,5%) dengan persentasi terendah.

3.1.2.6 Total Distribusi Warga Berdasarkan Pendidikan (Per Jiwa)

Pendidikan Jumlah Persentase (%)


Tidak Pernah Sekolah 81 9,7
Tidak Tamat SD 164 19,5
SD 309 36,8
SMP 147 17,5
SMA 114 17,6
Perguruan Tinggi 12 1,4
Tamat D1/D2/D3 12 1,4
Total 839 100

Berdasarkan tabel di atas, distribusi penduduk yang paling


banyak mempunyai pendidikan tingkat SD yaitu 309 orang
(36,8%). Sedangkan penduduk yang berpendidikan dengan
jumlah terendah dengan tingkat Perguruan Tinggi dan tamat
D1/D2/D3 adalah 12 orang (1,4%).

3.1.2.7 Total Distribusi Warga Berdasarkan Pekerjaan (Per Jiwa)

Pekerjaan Jumlah Persentase (%)


Tidak Bekerja 257 30,6
Sekolah 154 18,4
PNS/TNI/POLRI 4 0,5
Pegawai Swasta 25 3
Wiraswasta 75 8,9
Petani 250 29,8
Nelayan 3 0,4
Buruh 38 4,5
Lainnya 33 3,9
Total 839 100

Berdasarkan tabel di atas sebagian besar penduduk bekerja


sebagai Petani yaitu sebesar 257 orang (30,6%). Sedangkan
persentasi pekerjaan terendah adalah Nelayan dengan Jumlah 3
orang (0,4%).
33

3.1.2.8 Total Distribusi Warga Berdasarkan Agama (Per Jiwa)

No Agama Jumlah Persentase (%)


1 Islam 839 100
2 Kristen 0 0
3 Hindu 0 0
4 Budha 0 0
5 Katolik 0 0
Total 839 100

Berdasarkan tabel di atas mayoritas agama yang dianut oleh


penduduk Desa Lok Tangga adalah Islam yaitu sebanyak 839
orang (100%).

3.1.3 Data Kesehatan Penduduk


3.1.3.1 Total Penyakit Tuberkolosis

Diagnosis TB Jumlah Persentase (%)


Ya 7 0,8
Tidak 832 99,2
Total 839 100

BBerdasarkan data di atas dari total jumlah penduduk yang


masuk kategori, terdapat 7 orang yang pernah didiagnosis
terkena penyakit TBC (0,8%).

3.1.3.2 Total Minum Obat TB Teratur

Minum obat TB Jumlah Persentase (%)


Ya 7 100
Tidak 0 0
Total 7 100

Berdasarkan data di atas dari total jumlah penduduk yang pernah


didiagnosis TB dan telah menjalani pengobatan selama 6 bulan
sebanyak 7 orang (100%).

3.1.3.3 Total Gejala TB

Gejala TB Jumlah Persentase (%)


Ya 8 1
Tidak 831 99
Total 839 100
34

Berdasarkan data di atas dari total jumlah penduduk yang masuk


kategori yaitu 8 orang (1%) yang pernah mengalami gejala TB
seperti Batuk berdahak > 2 minggu disertai 1 atau lebih dari
satu gejala : dahak bercampur darah, berat badan menurun,
berkeringat malam hari.

3.1.3.4 Total Riwayat Penyakit Hipertensi

Diagnosis Hipertensi Jumlah Persentase (%)


Ya 66 7,9
Tidak 773 92,1
Total 839 100

Berdasarkan data di atas jumlah penduduk yang pernah


didiagnosis penyakit hipertensi adalah 66 orang (7,9%).

3.1.3.5 Total Minum Obat Hipertensi Secara Teratur

Minum Obat Hipertensi Secara


Teratur Jumlah Persentase (%)
Ya 23 34,8
Tidak 43 65,2
Total 66 100

Berdasarkan data di atas jumlah penduduk yang pernah


didiagnosis hipertensi dan minum obat hipertensi secara teratur
adalah 23 orang (34,8%) dan yang tidak minum obat dengan
teratur sebanyak 43 orang (65,2%).

3.1.3.6 Total dilakukan Pemeriksaan Tekanan Darah

Pemeriksaan Tekanan Darah Jumlah Persentase (%)


Ya 422 50.3
Tidak 417 49,7
Total 839 100

Berdasarkan data di atas jumlah penduduk yang dilakukan


pemeriksaan tekanan darah adalah 422 orang (50,3%) .Lalu
yang tidak dilakukan pemeriksaan tekanan darah adalah
sebanyak 417 orang (49,7%)
35

3.1.3.7 Hasil Pemeriksaan Tekanan Darah

Hasil Pemeriksaan Tekanan


Darah Jumlah Persentase (%)
Hipotensi 9 1,1
Normal 322 38,4
Hipertensi 91 10,8
Tidak ditensi 417 49,7

Total 839 100

Berdasarkan data di atas hasil pemeriksaan tekanan darah yang


mengalami hipertensi sebanyak 91 orang (10,8%) dan yang
mengalami hipotensi sebanyak 9 orang (1,1%).

3.1.3.8 Total Gangguan Jiwa

Gangguan Jiwa Jumlah Persentase (%)


Ya 2 0,5
Tidak 837 99,5

Total 839 100

Berdasarkan data di atas, jumlah penduduk di Desa Lok Tangga


yang mengalami gangguan jiwa dengan jumlah 2 orang (0,5%).

3.1.3.9 Total Minum Obat Jiwa

Minum Obat Jiwa Jumlah Persentase (%)


Ya 0 0
Tidak 2 100
Total 2 100

Berdasarkan data di atas, jumlah penduduk di Desa Lok Tangga


tidak ada yang minum obat jiwa dengan jumlah persentasi 2
orang (100%).

3.1.3.10 Anggota Keluarga Yang Dipasung

Anggota Keluarga Yang


Dipasung Jumlah Persentase (%)
Ya 0 0
Tidak 2 100
Total 2 100
36

Berdasarkan data di atas, dari total penduduk di Desa Lok


Tangga tidak ada anggota keluarga yang dipasung.

3.1.3.11 Kartu Jaminan Kesehatan

Kartu Jaminan Kesehatan Jumlah Persentase (%)


Ya 215 25,6

Tidak 624 74,4


Total 839 100

Berdasarkan data di atas, jumlah penduduk yang memiliki kartu


jaminan kesehatan adalah 215 orang (25,6%). Sedangkan yang
tidak memiliki kartu jaminan kesehatan adalah 624 orang
(74,4%).

3.1.3.12 Merokok

Merokok Jumlah Persentase (%)


Ya (Setiap hari,Sering/kadang- 140 16,7
kadang)
Tidak (Tidak/Sudah berhenti) 699 83,3

Total 839 100

Berdasarkan data di atas, jumlah penduduk yang merokok


adalah 140 orang (16,7%). Sedangkan yang tidak merokok
adalah 699 orang (83,3%).

3.1.3.13 Penyakit lainnya

Penyakit lainnya Jumlah Persentase (%)


Sehat 743 88,6
Diabetes Melitus 4 0,5
Asma 1 0,1
Asam Urat 5 0,6
Diare 4 0,5
Penyakit Lainnya 82 9,8
Total 839 100

Berdasarkan data di atas, sebagian besar penduduk Desa Lok


Tangga dalam kondisi sehat dengan jumlah 743 orang (88,6%).
Sedangkan persentasi paling sedikit adalah penyakit asma
dengan jumlah masing-masing 1 orang (0,1%).
37

3.1.3.14 Fasilitas Air Bersih dan Jamban Keluarga


a. Sarana Air Bersih
Sarana Air Bersih Jumlah Persentase (%)
Ya 293 34,9

Tidak 546 65,1

Total 839 100

Berdasarkan tabel di atas, sebagian besar (65,1%) penduduk


desa tidak mempunyai sarana air bersih di lingkungan rumah.

b. Sumber Air

Sumber Air Jumlah Persentase (%)


PDAM,sumur pompa, sumur 256 30,5
gali
Sumur terbuka, air sungai, 583 69,5
danau/telaga
Total 839 100

Berdasarkan tabel di atas, jumlah penduduk yang


menggunakan sumber air sungai adalah 583 orang (69,5%).

c. Jamban Keluarga

Jamban Jumlah Persentase (%)


Ya 382 45,5

Tidak 457 54,5

Total 839 100

Berdasarkan tabel di atas, dari total jumlah penduduk 839


jiwa, penduduk yang memiliki jamban keluarga di rumah
hanya sebanyak 382 (45,5%).
38

d. BAB di Jamban

BAB di Jamban Jumlah Persentase (%)


Ya 839 100
Tidak 0 0
Total 839 100

Berdasarkan tabel di atas, dari total 839 penduduk ,


keseluruhannya BAB di jamban yaitu dengan persentase
100%.

e. Jenis Jamban

Jenis Jamban Jumlah Persentase (%)


Closet,leher 334 39,8
angsa/plengsengan

Jamban tradisional 505 60,2


(sungai)
Total 839 100

Berdasarkan tabel di atas, dari total 259 kepala keluarga,


sebanyak 505 (60,2%) penduduk memiliki jamban dengan
jenis jamban tradisional (sungai) dan sebanyak 334 (39,8%)
memiliki jenis kloset, leher angsa/plengsengan.

3.1.3.15 Data Reproduksi


a. Total Penggunaan Alat Kontrasepsi

Penggunaan Alat Kontrasepsi Jumlah Persentase (%)


Ya 102 54
Tidak 87 46
Total 189 100

Berdasarkan data di atas jumlah perempuan yang masuk


kategori menggunakan alat kontrasepsi adalah 102 orang
(54%). Sedangkan jumlah persentase yang tidak
menggunakan alat kontrasepsi adalah 87 orang (46%).
39

b. Bersalin di Fasilitas Kesehatan

Bersalin Di Fasilitas
Kesehatan Jumlah Persentase (%)
Ya 21 53,8
Tidak 18 46,2
Total 39 100

Berdasarkan data di atas, seluruh ibu bersalin di fasilitas


kesehatan (Rumah sakit, PKM, Klinik bersalin Dll) adalah
sebanyak 21 orang (53,8%).

c. Asi Ekslusif (7-23 bulan)

Asi Ekslusif (7-23 bulan) Jumlah Persentase (%)


Ya 28 77,8
Tidak 8 22,2
Total 36 100
Berdasarkan data di atas, seluruh bayi diberikan ASI Ekslusif
yaitu sebanyak 28 orang (77,8%).

d. Pemantauan Balita

Pemantauan Balita Jumlah Persentase (%)


Ya 58 86,6
Tidak 9 13,4
Total 67 100

Berdasarkan data di atas dari total jumlah penduduk yang


masuk kategori balita yang dilakukan pemantauan
pertumbuhan sebanyak 58 orang (86,6).
3.2 ANALISIS DATA

No Datnbna Subyektif Data Objektif Masalah Penyebab


1 1. Saat pengkajian, ditemukan - Terdapat 66 orang (7,9%) yang pernah Kurang pengetahuan masyarakat Kurang terpapar informasi mengenai
beberapa masyarakat yang terdiagnosis hipertensi tentang penatalaksanaan penyakit penatalaksanaan penyakit (hipertensi
mengalami hipertensi dan - Dari 66 total penderita hipertensi terdapat 43 (hipertensi dan asam urat) dan asam urat)
sebagian masyarakat yang lain orang (65,2%) yang tidak mengkonsumsi
mengatakan pernah mengalami obat hipertensi secara teratur
hipertensi - Dari total 422 orang (50,3%) yang dilakukan
2. Masyarakat mengatakan tidak pengukuran tekanan darah, terdapat 91
membatasi untuk makanan yang (10,8%) orang yang mengalami hipertensi.
dikonsumsi seperti ikan asin. - Dari hasil pendataan didapatkan data bahwa
3. Masyarakat mengatakan kurang jumlah penyakit kedua tertinggi pada
tahu bagaimana cara untuk masyarakat desa Lok Tangga yaitu asam urat
mengontrol tekanan darah dan sebanyak 7 orang (1,2%).
asam urat.
4. Sebagian masyarakat mengatakan
tidak rutin dalam mengontrol
tekanan darahnya
5. Sebagian masyarakat
mengatakan jarang
memeriksakan kadar asam
uratnya

2 1. Sebagian besar masyarakat Desa - Dari hasil pendataan didapatkan data bahwa Resiko terjadi penyakit akibat Kebiasaan masyarakat yang kurang
Lok Tangga mengatakan masyarakat yang tidak memiliki sarana air lingkungan yang kurang sehat sehat
menggunakan jamban disungai bersih sebanyak 546 orang (65,1%). (Penyakit kulit, diare, dll) pada
untuk BAB/BAK - Dari hasil pendataan didapatkan masyarakat Masyarakat Desa Lok Tangga
2. Sebagian besar masyarakat Desa yang menggunakan sumber air dari sungai
Lok Tangga mengatakan sebanyak 583 orang (69,5%)
menggunakan air sungai untuk - Masyarakat di Desa Lok Tangga yang tidak
keperluan mandi, mencuci dan memiliki jamban keluarga sebanyak 457
minum. orang (54,5%).
3. Sebagian masyarakat Desa Lok - Dari hasil pendataan didapatkan masyarakat
41

Tangga mengatakan membuang yang masih menggunakan jamban


sampah ke sungai tradisional (sungai) sebanyak 505 orang
(60,2%).
3 1. Sebagian besar masyarakat desa - Dari hasil pendataan didapatkan bahwa - Kurangnya perlindungan / Kurang terpapar informasi mengenai
Lok Tangga masih belum memiliki masyarakat yang menggunakan kartu jaminan kesehatan manfaat kartu jaminan kesehatan
kartu jaminan kesehatan. jaminan kesehatan hanya berjumlah 215 masyarakat serta berisiko
2. Sebagian masyarakat desa lok orang (25,6%). Dari total penduduk. terjadi peningkatan beban
tangga mengatakan masih belum finansial dalam
mengetahui manfaat memiliki kartu menyelesaikan masalah
jaminan nasional kesehatan

4 - Sebagian masyarakat desa - Dari hasil pendataan didapatkan bahwa - Berisiko mengalami Kurangnya terpapar informasi
Lok Tangga masih belum masyarakat yang menggunakan faskes komplikasi pada saat mengenai bahaya penanganan partus
menggunakan Faskes pada sebanyak 21 orang (53,8 %) dan yang tidak melahirkan dengan menggunakan jasa orang yang
saat melahirkan menggunakan faskes 18 orang (46,2%) tidak berkompeten dalam bidangnya
- Beberapa masyarakat
mengatakan menggunakan
jasa dukun beranak pada saat
melahirkan
42

3.3 PENAPISAN MASALAH

MASALAH
NO A B C D E F G H I J K Total Prioritas
KESEHATAN L
1 Kurang 4 3 4 4 3 3 4 3 3 3 4 4 42 3
pengetahuan
masyarakat
tentang
penatalaksanaan
penyakit
(hipertensi dan
asam urat)
2 Resiko terjadi 4 4 4 5 5 3 4 5 4 4 4 4 50 1
penyakit akibat
lingkungan yang
kurang sehat
(Penyakit kulit,
diare, dll) pada
Masyarakat Desa
Lok Tangga
3 Kurangnya 4 4 3 4 3 2 4 3 3 2 2 3 37 4
perlindungan /
jaminan
kesehatan
masyarakat serta
berisiko terjadi
peningkatan
beban finansial
dalam
menyelesaikan
masalah
kesehatan
4 Risiko mengalami 4 3 4 4 3 4 4 4 3 3 3 4 43 2
komplikasi pada
saat melahirkan

Keterangan
1. Kriteria Penapisan
A. Sesuai dengan peran perawat komunitas
B. Jumlah yang berisiko
C. Besarnya risiko
D. Kemungkinan untuk pendidikan kesehatan
E. Minat masyarakat
F. Kemungkinan untuk diatasi
G. Sesuai dengan program pemerintah
H. Sumber daya tempat
I. Sumber daya waktu
J. Sumber daya dana
K. Sumber daya peralatan
L. Sumber daya orang
43

2. Keterangan pembobotan :
1. Sangat rendah
2. Rendah
3. Cukup
4. Tinggi
5. Sangat tinggi

3.4 PRIORITAS MASALAH

1. Resiko terjadi penyakit akibat lingkungan yang kurang sehat (Penyakit kulit,
diare, dll) pada Masyarakat Desa Lok Tangga
2. Risiko mengalami komplikasi pada saat melahirkan
3. Kurang pengetahuan masyarakat tentang penatalaksanaan penyakit
(hipertensi dan asam urat)
4. Kurangnya perlindungan / jaminan kesehatan masyarakat serta berisiko
terjadi peningkatan beban finansial dalam menyelesaikan masalah kesehatan
3.5 PLANNING OF ACTION (POA)

PLANNING OF ACTION (POA) ASUHAN KOMUNITAS


DI DESA ANTASAN SEGERA
KABUPATEN BARITO KUALA KALIMANTAN SELATAN

NO JENIS KEGIATAN SASARAN TEMPAT WAKTU Hari PENANGGUNG


PELAKSANAAN /Tanggal/bulan/ JAWAB
Tahun
1 MMD 1 Ketua RT Balai Desa Jam 10.00 Wita Kamis, 28 Juni Kelompok
Toga Toma 2018 dan masyarakat
Kader
Sekdes
Kepala Desa
2 Pengkajian Masyarakat Masyarakat Semua rumah RT 1 s/d 3 di - Tanggal 29 Juni – Kelompok
desa Lok Tangga 4 Juli 2018
3 Tabulasi Data - - 5,6,7 Kelompok
Juli 2018
4 Pemerikasaan gizi Balita Jam 10.00 Wita 2 dan 3 Juli Bidan Desa dan Kelompok
(mengukur TB dan BB) Rumah Kepala Desa 2018
Posyandu
Penkes tentang
Asi Ekslusif Orang Tua
5 Imunisasi Dasar
5 MMD 2 Ketua RT Madrasah Jam 20.00 Wita Minggu Kelompok
Toga Toma 8 Juli dan masyarakat
Kader 2018
Sekdes
Kepala Desa
Masyarakat Desa

48
45

6 Penkes Tentang Penggunaan Masyarakat Desa Rumah Warga Jam 16.00 Wita Juli Kelompok dan Pengelola
Air Bersih Loktangga 2018 Posyandu Lansia

7 Pemerikasaan gizi Balita Jam 10.00 Wita Juli Bidan Desa dan Kelompok
(mengukur TB dan BB) Rumah Kepala Desa 2018
Posyandu
Penkes tentang
Asi Ekslusif Orang Tua
5 Imunisasi Dasar
8 Pengukuran TD Jam 08.00 Wita Juli 2018 Kelompok dan Pengelola
Senam Lansia Lansia dan undangan Balai Desa Posyandu Lansia
Penkes tentang :
Hipertensi
Gula Darah
Asam Urat
Rematik
9 Penkes tentang 6 Langkah Siswa kelas 5 dan 6 Madrasah Ibtidayah Jam 10.00 Wita Juli Kelompok dan Petugas
cuci tangan 2018 Puskesmas
10 MMD 3 Ketua RT Basecamp Jam 16.00 Wita 2/3 Agustus Kelompok
Toga Toma Mahasiswa 2018 dan Masyarakat
Kader
Sekdes
Kepala Desa
48