Anda di halaman 1dari 27

LAPORAN MINI PROJECT

Tingkat pengetahuan Guru PAUD Ar-royyan Sembuhan Wilayah


Kerja Puskesmas Minggir Sleman

Disusun Oleh:

dr. Galuh Ajeng Firsty

Pembimbing:

dr. Umi Lathifa

UPTD PUSKESMAS MINGGIR

DINAS KESEHATAN KOTA SLEMAN

2018
BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Anak adalah aset bangsa dan generasi penerus cita-cita perjungan bangsa yang akan
menentukan masa depan Bangsa dan Negara kita. Masa depan suatu bangsa tergantung pada
keberhasilan anak dalam mencapai pertumbuhan dan perkembangan yang optimal. Tahun-tahun
pertama kehidupan, terutama periode sejak janin dalam kandungan sampai anak berusia 2 tahun
merupakan periode yang sangat penting dalam pertumbuhan dan perkembangan anak. Periode ini
merupakan kesempatan emas sekaligus masa-masa yang rentan terhadap pengaruh negatif. Nutrisi
yang baik dan cukup, status kesehatan yang baik, pengasuhan yang benar, dan stimulasi yang tepat
pada periode ini akan membantu anak untuk tumbuh sehat dan mampu mencapai kemampuan
optimalnya sehingga dapat berkontribusi lebih baik dalam masyarakat.
Stimulasi dini adalah kegiatan merangsang kemampuan dasar anak usia 0-6 tahun agar anak
mencapai tumbuh kembang yang optimal sesuai potensi yang dimilikinya. Anak usia 0-6 tahun perlu
mendapatkan stimulasi rutin sedini mungkin dan terus-menerus pada setiap kesempatan. Stimulasi
yang kurang optimal dapat menyebabkan penyimpangan tumbuh kembang bahkan dapat
menyebabkan gangguan yang menetap. Stimulasi kepada anak hendaknya bervariasi dan ditujukan
terhadap kemampuan dasar anak yaitu: kemampuan gerak kasar, kemampuan gerak halus,
kemampuan bicara dan bahasa, kemampuan sosialisasi dan kemandirian, kemampuan kognitif,
kreatifitas dan moral-spiritual.
Dinas Kesehatan bekerjasama dengan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) telah menyusun
berbagai instrumen stimulasi, deteksi dan intervensi dini tumbuh kembang untuk anak umur tiga
bulan sampai dengan 72 bulan yaitu dengan kuesioner Pra Skrining Perkembangan (KPSP).
Instrumen ini ditujukan bukan hanya untuk tenaga kesehatan di Puskesmas dan jajarannya saja
(dokter, bidan, perawat, ahli gizi, penyuluh kesehatan masyarakat, dan tenaga kesehatan lainnya
yang peduli anak) tetapi juga untuk petugas sektor lainnya dalam menjalankan tugas melakukan
stimulasi dan deteksi dini penyimpangan tumbuh kembang anak. Adapun jadwal pemeriksaan KPSP
rutin adalah pada umur 3, 6, 9, 12, 15, 18, 21, 24, 30, 36, 42, 48, 54, 60, 66, dan 72 bulan. Jika anak
belum mencapai umur skrining tersebut, ibu diminta datang kembali pada umur skrining yang
terdekat untuk pemeriksaan rutin. Misalnya ibu datang ketika bayi berusia 7 bulan, maka ibu diminta
datang kembali pada saat bayi berusia 9 bulan (Depkes, 2012).
Deteksi dini penyimpangan tumbuh kembang perlu dilakukan untuk dapat mendeteksi secara
dini adanya penyimpangan tumbuh kembang balita termasuk menindaklanjut setiap keluhan orang
tua terhadap masalah tumbuh kembang anaknya. Apabila ditemukan ada penyimpangan, maka
dilakukan intervensi dini penyimpangan tumbuh kembang balita sebagai tindakan koreksi dengan
memanfaatkan plastisitas otak anak agar tumbuh kembangnya kembali normal atau
penyimpangannya tidak semakin berat. Apabila balita perlu dirujuk, maka rujukan juga harus
dilakukan sedini mungkin sesuai dengan indikasi.
Pengasuh atau guru Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) merupakan salah satu mitra tenaga
kesehatan dalam melakukan stimulasi dan deteksi dini penyimpangan tumbuh kembang anak
(Depkes, 2006). Adanya pengetahuan tentang deteksi dini dan bagaimana cara menggunakan KPSP
yang valid dan mudah diharapkan akan mendorong pengasuh dan guru PAUD untuk aktif
melakukan deteksi dengan tepat.

1.2. Rumusan Masalah


a. Bagaimana tingkat pengetahuan guru PAUD mengenai KPSP?

1.3. Tujuan
a. Tujuan Umum
 Mengetahui tingkat pengetahuan guru paud tentang KPSP di KB Ar-royyan
sembuhan
b. Tujuan Khusus
 Meningkatkan pengetahuan guru PAUD mengenai KPSP

1.4. Manfaat
a. Penulis
 Berperan serta dalam usaha peningkatan pengetahuan KPSP sebagai salah satu
usaha dalam program perbaikan tumbuh kembang anak.
 Melatih penulis untuk membuat karya tulis dan sebagai salah satu tugas dalam
menjalankan program internship.

b. Puskesmas
 Membantu mengetahui tingkat pengetahuan guru PAUD Ar-royyan sembuhan
sebagai salah satu cakupan Puskesmas Minggir
c. Masyarakat
 Meningkatkan status pertumbuhan dan perkembangan balita dan anak prasekolah
di wilayah kerja Puskesmas Minggir
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

II.1 Definisi SDIDTK


Program SDIDTK merupakan program pembinaan tumbuh kembang anak secara
komprehensif dan berkualitas melalui kegiatan stimulasi, deteksi dan intervensi dini
penyimpangan tumbuh kembang pada masa lima tahun pertama kehidupan, diselenggarakan
dalam bentuk kemitraan antara keluarga (orang tua, pengasuh anak dan anggota keluarga
lainnya), masyarakat (kader, tokoh masyarakat, organisasi profesi, lembaga swadaya masyarakat)
dengan tenaga professional (kesehatan, pendidikan dan sosial). Tujuan SDIDTK yaitu semua
balita umur 0–5 tahun dan anak prasekolah umur 5-6 tahun tumbuh dan berkembang secara
optimal.1,2

II.2 Kegiatan SDIDTK


Stimulasi dini yang memadai, yaitu merangsang otak balita agar perkembangan kemampuan
gerak, bicara, bahasa, sosialisasi dan kemandirian anak berlangsung secara optimal sesuai usia
anak. Setiap anak perlu mendapat stimulasi rutin sedini mungkin dan terus menerus pada setiap
kesempatan. Stimulasi tumbuh kembang anak dilakukan oleh ibu dan ayah yang merupakan
orang terdekat dengan anak, pengganti ibu/pengasuh anak, anggota keluarga lain dan kelompok
masyarakat di lingkungan rumah tangga masing-masing dan dalam kehidupan sehari-hari.
Kurangnya stimulasi dapat menyebabkan penyimpangan tumbuh kembang anak bahkan
gangguan yang menetap. Kemampuan dasar anak yang dirangsang dengan stimulasi terarah
adalah kemampuan gerak kasar, kemampuan gerak halus, kemampuan bicara dan bahasa, serta
kemapuan sosialisasi dan kemandirian.1
Deteksi dini penyimpangan pertumbuhan dan perkembangan, yaitu melakukan skrining atau
mendeteksi sejak dini terhadap kemungkinan adanya penyimpangan tumbuh kembang anak
balita. Dengan ditemukan secara dini penyimpangan/masalah tumbuh kembang anak, maka
intervensi akan lebih mudah dilakukan, tenaga kesehatan juga mempunyai “waktu” dalam
membuat rencana tindakan/intervensi yang tepat, terutama ketika harus melibatkan ibu/keluarga.
Bila penyimpangan terlambat diketahui, maka intervensinya akan lebih sulit dan hal ini akan
berpengaruh pada tumbuh kembang anak.1
Intervensi dini, yaitu melakukan koreksi dengan memanfaatkan plastisitas otak anak untuk
memperbaiki bila ada penyimpangan tumbuh kembang dengan tujuan agar pertumbuhan dan
perkembangan anak kembali kejalur normal dan penyimpangannya tidak menjadi lebih berat.1
Rujukan dini, yaitu merujuk/membawa anak ke fasilitas kesehatan bila masalah
penyimpangan tumbuh kembang tidak dapat diatasi meskipun sudah dilakukan intervensi dini.
Tidak semua umur anak bisa dilakukan pendeteksian. Anak bisa dideteksi ketika menginjak umur
0 bulan, 3 bulan, 6 bulan, 9 bulan, 12 bulan, 15 bulan, 18 bulan, 21 bulan, 24 bulan, 30 bulan, 36
bulan, 42 bulan, 48 bulan, 54 bulan, 60 bulan, 66 bulan, dan 72 bulan. Usia ini adalah standar
usia yang telah ditetapkan.1
Jadwal atau waktu pendeteksian anak yaitu :

- Anak umur 0 - 1 tahun = 1 bulan sekali


- Anak umur > 1 - 3 tahun = 3 bulan sekali
- Anak umur > 3 - 6 tahun = 6 bulan sekali
Jika umur si anak belum menginjak usia standar pemeriksaan maka jangan dilakukan
pendeteksian, namun tunggu si anak mencapai usia yang ditentukan.1, 2

II.3 Fungsi Kegiatan SDIDTK


Fungsi dari deteksi dini tumbuh kembang anak adalah untuk mengetahui penyimpangan
tumbuh kembang anak secara dini, sehingga upaya pencegahan, upaya stimulasi, dan upaya
penyembuhan serta pemulihan dapat diberikan dengan 1 yang jelas sedini mungkin pada masa-
masa kritis proses tumbuh kembang. Upaya-upaya tersebut diberikan sesuai dengan umur
perkembangan anak, dengan demikian dapat tercapai kondisi tumbuh kembang yang optimal.1

II.4 Jenis Kegiatan SDIDTK


Pada pelayanan dasar, terdapat 3 jenis deteksi dini tumbuh kembang yang dapat
dikerjakan, yaitu:
a. Deteksi dini penyimpangan pertumbuhan, yaitu untuk mengetahui status gizi anak, serta
lingkar kepala.
b. Deteksi dini penyimpangan perkembangan, yaitu untuk mengetahui terdapat
penyimpangan dalam perkembangan, daya lihat, dan daya dengar.
c. Deteksi dini penyimpangan mental emosional, yaitu untuk mengetatahui adanya masalah
mental emosional, autisme dan gangguan pemusatan perhatian, serta hiperaktivitas.
Berdasarkan buku Pedoman Pelaksanaan Stimulasi, Deteksi, dan Intervensi Dini Tumbuh
Kembang Anak di Tingkat Pelayanan Kesehatan Dasar, jenis deteksi dini penyimpangan tumbuh
kembang anak adalah sebagai berikut:1

Tabel 1. Jenis Deteksi Dini Penyimpangan Tumbuh Kembang Anak

(Diambil dari: Kementrian Kesehatan RI. Pedoman Pelaksanaan Stimulasi, Deteksi, dan Intervensi Dini Tumbuh Kembang Anak di
Tingkat Pelayanan Kesehatan Dasar. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI, 2013. Hal. 43)

Jenis Deteksi Tumbuh Kembang yang Harus Dilakukan


Deteksi Dini Deteksi Dini Deteksi Dini
Umur
Penyimpangan Penyimpangan Penyimpangan Mental
Anak
Pertumbuhan Perkembangan Emosional
BB/TB LK KPSP TDD TDL KMME CHAT* GPPH*
0 bulan ✔ ✔ ✔
3 bulan ✔ ✔ ✔ ✔
6 bulan ✔ ✔ ✔ ✔
9 bulan ✔ ✔ ✔ ✔
12 bulan ✔ ✔ ✔ ✔
15 bulan ✔ ✔
18 bulan ✔ ✔ ✔ ✔ ✔
21 bulan ✔ ✔ ✔
24 bulan ✔ ✔ ✔ ✔ ✔
30 bulan ✔ ✔ ✔ ✔
36 bulan ✔ ✔ ✔ ✔ ✔ ✔ ✔
42 bulan ✔ ✔ ✔ ✔ ✔
48 bulan ✔ ✔ ✔ ✔ ✔ ✔
54 bulan ✔ ✔ ✔ ✔ ✔
60 bulan ✔ ✔ ✔ ✔ ✔ ✔
66 bulan ✔ ✔ ✔ ✔ ✔
72 bulan ✔ ✔ ✔ ✔ ✔ ✔
Keterangan:

BB/TB : Berat Badan terhadap Tinggi Badan

LK : Lingkar Kepala

KPSP : Kuesioner Pra Skrining Perkembangan

TDD : Tes Daya Dengar

TDL : Tes Daya Lihat

KMME: Kuesioner Masalah Mental Emosional

CHAT : Checklist for Autism in Toddlers

GPPH : Gangguan Pemusatan Perhatian dan Hiperaktivitas

Tanda *: Tes dilakukan atas indikasi

Deteksi Dini Penyimpangan Pertumbuhan


Deteksi dini penyimpangan pertumbuhan dapat dilakukan pada semua tingkat pelayanan.
Deteksi dini ini dilakukan dengan mengukur tinggi badan, berat badan, dan lingkar kepala. Adapun
pelaksana dan alat yang digunakan adalah sebagai berikut:1

Tabel 2. Pelaksana dan Alat yang Digunakan pada Deteksi Dini Pertumbuhan

(Diambil dari: Kementrian Kesehatan RI. Pedoman Pelaksanaan Stimulasi, Deteksi, dan Intervensi Dini Tumbuh Kembang Anak di
Tingkat Pelayanan Kesehatan Dasar. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI, 2013. Hal. 44)

Tingkat Pelayanan Pelaksana Alat yang Digunakan


 Keluarga  Orang tua  KMS
 Masyarakat  Kader kesehatan  Timbangan dacin
 Petugas PAUD, BKB, TPA, dan
guru TK
 Puskesmas  Dokter  Tabel BB/TB
 Bidan  Grafik LK
 Perawat  Timbangan
 Ahli Gizi  Alat ukur tinggi badan
 Petugas Lainnya  Pita pengukur lingkar
kepala
Keterangan:
PAUD : Pendidikan Anak Usia Dini
BKB : Bina Keluarga Balita
TPA : Tempat Penitipan Anak
TK : Taman Kanak-Kanak
LK : Lingkar Kepala

Deteksi Dini Penyimpangan Perkembangan

A. Kuesioner Pra Skrining Perkembangan (KPSP)


Kuesioner ini diterjemahkan dan dimodifikasi dari Denver Prescreening Developmental
Questionnaire (PDQ) oleh tim Depkes RI yang terdiri dari beberapa dokter spesialis anak,
psikiater anak, neurolog, THT, mata dan lain-lain pada tahun 1986. Jika anak dicurigai ada
gangguan perkembangan dan perlu dirujuk atau dilakukan skrining dengan Denver II. Untuk
memperluas jangkauan skrining perkembangan, Frankenburg menganjurkan agar lebih banyak
menggunakan PDQ karena mudah, cepat murah dan dapat dikerjakan sendiri oleh orangtua,
kader, ataupun guru PAUD. Kuesioner ini sampai sekarang masih dianjurkan oleh Depkes
untuk digunakan ditingkat pelayanan kesehatan primer.3
Tujuan skrinning/pemeriksaan perkembangan anak menggunakan KPSP adalah untuk
mengetahui perkembangan anak normal atau ada penyimpangan. Jadwal skrining/pemeriksaan
KPSP rutin adalah pada umur 3, 6, 9, 12, 15, 18, 21, 24, 30,36, 42, 48, 54, 60, 66 dan 72
bulan.3
Jika anak belum mencapai umur skrining tersebut, maka guru PAUD skrining kembali
pada umur skrining yang terdekat untuk pemeriksaan rutin. Misalnya anak umur 40 bulan,
diminta kernbali untuk skrining KPSP pada umur 42 bulan. Apabila orang tua datang dengan
keluhan anaknya mempunyal masalah tumbuh kembang, sedangkan umur anak bukan umur
skrining maka pemeriksaan menggunakan KPSP untuk umur skrining terdekat yang lebih
muda.3

- Alat instrumen yang digunakan


Formulir KPSP menurut umur. Formulir ini berisi 9 — 10 pertanyaan tentang
kemampuan perkembangan yang telah dicapai anak.3
- Sasaran KPSP anak umur 0-72 bulan
Alat bantu pemeriksaan berupa: pensil, kertas, bola sebesar bola tenis, kerincingan,
kubus berukuran sisi 25 cm sebanyak 6 buah, kismis, kacang tanah, potongan biscuit kecil
berukuran 0.5 - 1 cm.3

- Cara menggunakan KPSP:


1. Pada waktu pemeriksaan/skrining, anak harus dibawa.
2. Tentukan umur anak dengan menanyakan tanggal bulan dan umur anak lebih 16
han dibulatkan menjadi 1 bulan.
3. Setelah menentukan umur anak, pilih KPSP yang sesuai
4. KPSP terdiri dari 2 macam pertanyaan, yaltu:
 Pertanyaan yang dijawab oleh ibu/pengasuh anak,
 Perintah kepada ibu/pengasuh anak atau petugas untuk melaksanakan tugas yang
tertulis pada KPSP.
5. Jelaskan kepada orangtua agar tidak ragu-ragu atau takut menjawab, oleh karena itu
pastikan ibu/pengasuh anak mengerti apa yang ditanyakan kepadanya
6. Tanyakan pertanyaan tersebut secara berurutan satu persatu. Setiap pertanyaan hanya
ada 1 jawaban. Ya atau Tidak. Catat jawaban tersebut pada formulir.
7. Ajukan pertanyaan yang berikutnya setelah ibu/pengasuh anak menjawab pertanyaan
terlebih dahulu
8. Teliti kembali apakah semua pertanyaan telah dijawab.
Tabel 3. Formulir KPSP
Interpretasi hasil KPSP:
1. Hitunglah berapa jumlah jawaban Ya.
2. Jawaban Ya, bila ibu/pengasuh anak menjawab: anak bisa atau
pernah atau sering atau kadang-kadang melakukannya.
3. Jawaban Tidak, bila ibu/pengasuh anak menjawab: anak belum pernah
melakukan atau tidak pernah atau ibu/pengasuh anak tidak tahu.
4. Jumlah jawaban ‘Ya’ = 9 atau 10, perkembangan anak
sesuai dengan tahap perkembangannya (S).
5. Jumlah jawaban ‘ Ya’ = 7 atau 8, perkembangan anak meragukan (M).
6. Jumlah jawaban ‘Ya’ = 6 atau kurang, kemungkinan ada penyimpangan
(P).
7. Untuk jawaban ‘Tidak‘, perlu dirinci jumlah jawaban tidak menurut jenis
keterlambatan(gerak kasar, gerak halus, bicara dan bahasa, sosialisasi dan
kemandirian).

Intervensi:
1. Bila perkembangan anak sesual umur (S), lakukan tindakan berikut:
a) Beri pujian kepada ibu karena telah mengasuh anaknya dengan balk.
b) Teruskan pota asuh anak sesuai dengan tahap perkembangan anak.
c) Beri stimulasi perkembangan anak setiap saat, sesering mungkin, sesuai
dengan umur dan kesiapan anak.
d) lkutkan anak pada kegiatan penimbangan dan pelayanan kesehatan di
posyandu secara teratur sebulan 1 kali dan setiap ada kegiatan Bina
Keluarga Balita (BKB). Jika anak sudah memasuki usia prasekolah (36-
72 bulan), anak dapat diikutkan pada kegiatan di Pusat Pendidikan Anak
Usia Dini (PAUD), Kelompok Bermain dan Taman Kanak-kanak.
e) Lakukan pemeriksaan/Skrinling rutin menggunakan KPSP setiap
3 bulan pada anak berumur kurang dari 24 bulan dan setiap 6 bulan
pada anak umur 24 sampal 72 bulan.

2. Bila perkembangan anak meragukan (M), lakukan tindakan berikut :


a. Beri petunjuk pada ibu agar melakukan stimulasi perkembangan pada
anak lebih sering lagi, setiap saat dan sesenng mungkin.
b. Ajarkan ibu cara melakukan intervensi stimulasi perkembangan anak
untuk mengatasi penyimpangan /mengeiar ketertinggalannya.
c. Lakukan pemeriksaan kesehatan untuk mencari kemungklnan
adanya penyakit yang menyebabkan penyimpangan
perkembangannya.
d. Lakukan penllaian ulang KPSP 2 minggu kemudian dengan
menggunakan daftar KPSP yang sesuai dengan umur anak.
e. Jika hasil KPSP ulang jawaban “Ya” tetap 7 atau 8 maka
kemungkinan ada penyimpangan (P).

3. Bila tahapan perkembangan terjadi penyimpangan (P). lakukan tindakan


berikut:
Rujukan ke Rumah Sakit dengan menuliskan jenis dan jumlah
penyimpangan perkembangan (gerak kasar, gerak halus, bicara & bahasa,
sosialisasi dan kemandirian)

3.1. Tahapan Perkembangan Anak Menurut Umur


1. Umur 0-3 bulan
 Mengangkat kepala setinggi 450
 Menggerakkan kepala dari kiri/kanan ke tengah.
 Melihat dan menatap wajah anda.
 Mengoceh spontan atau bereaksi dengan mengoceh.
 Suka tertawa keras.
 Beraksi terkejut terhadap suara keras.
 Membalas tersenyum ke ka diajak bicara/tersenyum.
 Mengenal ibu dengan penglihatan, penciuman, pendengaran,
kontak.
2. Umur 3-6 bulan
 Berbalik dari telungkup ke terlentang.
 Mengangkat kepala setinggi 900.
 Mempertahankan posisi kepala tetap tegak dan stabil.
 Menggenggam pensil.
 Meraih benda yang ada dalam jangkauannya.
 Memegang tangannya sendiri.
 Berusaha memperluas pandangan.
 Mengarahkan matanya pada benda-benda kecil.
 Mengeluarkan suara gembira bernada nggi atau memekik.
 Tersenyum ketika melihat mainan/gambar yang menarik saat
bermain sendiri.
3. Umur 6-9 bulan
 Duduk (sikap tripoid-sendiri)
 Belajar berdiri, kedua kakinya menyangga sebagian berat badan.
 Merangkak meraih mainan atau mendeka seseorang.
 Memindahkan benda dari tangan satu ke tangan yang lain.
 Memungut 2 benda, masing-masing lengan pegang 1 benda pada
saat yang
 bersamaan.
 Memungut benda sebesar kacang dengan cara meraup.
 Bersuara tanpa arti, mamama, bababa, dadada, tatata.
 Mencari mainan/benda yang dijatuhkan.
 Bermain tepuk tangan/ciluk baa.
 Bergembira dengan melempar benda.
 Makan kue sendiri.
4. Umur 9-12 bulan
 Mengangkat benda ke posisi berdiri.
 Belajar berdiri selama 30 detik atau berpegangan di kursi.
 Dapat berjalan dengan dituntun.
 Mengulurkan lengan/badan untuk meraih mainan yang diinginkan.
 Mengenggam erat pensil.
 Memasukkan benda ke mulut.
 Mengulang menirukan bunyi yang didengarkan.
 Menyebut 2-3 suku kata yang sama tanpa arti.
 Mengeksplorasi sekitar, ingin tau, ingin menyentuh apa saja.
 Beraksi terhadap suara yang perlahan atau bisikan.
 Senang diajak bermain “CILUK BAA”.
 Mengenal anggota keluarga, takut pada orang yang belum dikenali.
5. Umur 12-18 bulan
 Berdiri sendiri tanpa berpegangan.
 Membungkung memungut mainan kemudian berdiri kembali.
 Berjalan mundur 5 langkah.
 Memanggil ayah dengan kata “papa”. Memanggil ibu dengan kata
“mama”
 Menumpuk 2 kubus.
 Memasukkan kubus di kotak.
 Menunjuk apa yang diinginkan tanpa menangis/merengek, anak bisa
 mengeluarkan suara yang menyenangkan natau menarik tangan ibu.
 Memperlihatkan rasa cemburu / bersaing.
6. Umur 18-24 bulan
 Berdiri sendiri tanpa berpegangan selama 30 detik.
 Berjalan tanpa terhuyung-huyung.
 Bertepuk tangan, melambai-lambai.
 Menumpuk 4 buah kubus.
 Memungut benda kecil dengan ibu jari dan jari telunjuk.
 Menggelindingkan bola kearah sasaran.
 Menyebut 3-6 kata yang mempunyai arti.
 Membantu/menirukan pekerjaan rumah tangga.
 Memegang cangkir sendiri, belajar makan - minum sendiri.
7. Umur 24-36 bulan
 Jalan naik tangga sendiri.
 Dapat bermain dengan sendal kecil.
 Mencoret-coret pensil pada kertas.
 Bicara dengan baik menggunakan 2 kata.
 Dapat menunjukkan 1 atau lebih bagian tubuhnya ketika diminta.
 Melihat gambar dan dapat menyebut dengan benar nama 2 benda
atau lebih.
 Membantu memungut mainannya sendiri atau membantu
mengangkat piring jika diminta.
 Makan nasi sendiri tanpa banyak tumpah.
 Melepas pakiannya sendiri.
8. Umur 36-48 bulan
 Berdiri 1 kaki 2 detik.
 Melompat kedua kaki diangkat.
 Mengayuh sepeda roda tiga.
 Menggambar garis lurus.
 Menumpuk 8 buah kubus.
 Mengenal 2-4 warna.
 Menyebut nama, umur, tempat.
 Mengerti arti kata di atas, dibawah, di depan.
 Mendengarkan cerita.
 Mencuci dan mengeringkan tangan sendiri.
 Mengenakan celana panjang, kemeja baju.
9. Umur 48-60 bulan
 Berdiri 1 kaki 6 detik.
 Melompat-lompat 1 kaki.
 Menari.
 Menggambar tanda silang.
 Menggambar lingkaran.
 Menggambar orang dengan 3 bagian tubuh.
 Mengancing baju atau pakian boneka.
 Menyebut nama lengkap tanpa dibantu.
 Senang menyebut kata-kata baru.
 Senang bertanya tentang sesuatu.
 Menjawab pertanyaan dengan kata-kata yang benar.
 Bicara mudah dimengerti.
 Bisa membandingkan/membedakan sesuatu dari ukuran dan
bentuknya.
 Menyebut angka, menghitung jari.
 Menyebut nama-nama hari.
 Berpakian sendiri tanpa dibantu.
 Bereaksi tenang dan tidak rewel ketika ditinggal ibu.
10. Umur 60-72 bulan
 Berjalan lurus.
 Berdiri dengan 1 kaki selama 11 detik.
 Menggambar dengan 6 bagian, menggambar orang lengkap.
 Menangkap bola kecil dengan kedua tangan.
 Menggambar segi empat.
 Mengerti arti lawan kata.
 Mengerti pembicaraan yang menggunakan 7 kata atau lebih.
 Menjawab pertanyaan tentang benda terbuat dari apa dan
kegunaannya.
 Mengenal angka, bisa menghitung angka 5-10.
 Mengenal warna-warni.
 Mengungkapkan simpati.
 Mengikuti aturan permainan.
 Berpakaian sendiri tanpa di bantu.

3.2. Beberapa Gangguan Tumbuh-Kembang yang Sering Ditemukan


1. Gangguan bicara dan bahasa.
Kemampuan berbahasa merupakan indikator seluruh perkembangan anak.
Karena kemampuan berbahasa sensitif terhadap keterlambatan atau
kerusakan pada sistem lainnya, sebab melibatkan kemampuan kognitif,
motor, psikologis, emosi dan lingkungan sekitar anak. Kurangnya stimulasi
akan dapat menyebabkan gangguan bicara dan berbahasa bahkan gangguan
ini dapat menetap.
2. Cerebral palsy.
Merupakan suatu kelainan gerakan dan postur tubuh yang tidak progresif,
yang disebabkan oleh karena suatu kerusakan/gangguan pada sel-sel
motorik pada susunan saraf pusat yang sedang tumbuh/belum selesai
pertumbuhannya.

3. Sindrom Down.
Anak dengan Sindrom Down adalah individu yang dapat dikenal dari
fenotipnya dan mempunyai kecerdasan yang terbatas, yang terjadi akibat
adanya jumlah kromosom 21 yang berlebih. Perkembangannya lebih lambat
dari anak yang normal. Beberapa faktor seper kelainan jantung kongenital,
hipotonia yang berat, masalah biologis atau lingkungan lainnya dapat
menyebabkan keter1ambatan perkembangan motorik dan keterampilan
untuk menolong diri sendiri. 

4. Perawakan Pendek.
Short stature atau Perawakan Pendek merupakan suatu terminologi
mengenai tinggi badan yang berada di bawah persentil 3 atau -2 SD pada
kurva pertumbuhan yang berlaku pada populasi tersebut. Penyebabnya
dapat karena varisasi normal, gangguan gizi, kelainan kromosom, penyakit
sistemik atau karena kelainan endokrin.
5. Gangguan Autisme.
Merupakan gangguan perkembangan pervasif pada anak yang gejalanya
muncul sebelum anak berumur 3 tahun. Pervasif berarti meliputi seluruh
aspek perkembangan sehingga gangguan tersebut sangat luas dan berat,
yang mempengaruhi anak secara mendalam. Gangguan perkembangan yang
ditemukan pada autisme mencakup bidang interaksi sosial, komunikasi dan
perilaku.
6. Retardasi Mental.
Merupakan suatu kondisi yang ditandai oleh intelegensia yang rendah (IQ
< 70) yang menyebabkan ketidakmampuan individu untuk belajar dan
beradaptasi terhadap tuntutan masyarakat atas kemampuan yang dianggap
normal. 

7. Gangguan Pemusatan Perhatian dan Hiperaktivitas (GPPH)
Merupakan gangguan di mana anak mengalami kesulitan untuk
memusatkan perhatian yang seringkali disertai dengan hiperaktivitas.
BAB III
METODE

III.1 Desain Penelitian


Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif yang bertujuan untuk
menggambarkan pengetahuan guru PAUD mengenai KPSP

III.2 Tempat Penelitian


Tempat penelitian dilakukan di PAUD Ar-royyan Sembuhan

III.3 Waktu Penelitian


Pengumpulan data dilakukan pada tanggal 15 Maret 2018 pukul 09.00 WIB

III.4 Subjek Mini Project


a. Populasi
Populasi penelitian ini adalah seluruh guru PAUD Ar-royyan Sembuhan
b. Teknik Sampling
Teknik sampling yang digunakan adalah Convenient Sampling. Sampel
merupakan guru PAUD yang mengajar di PAUD Ar-royyan.
c. Sampel dan Besar Sampel
Sampel penelitian ini adalah guru PAUD Ar-royyan. Besar sampel yang
mengikuti penelitian ini adalah sebanyak 10 orang.

III.5 Kriteria Inklusi


Guru PAUD Ar-royyan yang datang mengajar tanggal 15 Maret 2018.

III.6 Kriteria Eksklusi


Guru PAUD Ar-royyan tidak mengisi soal pretest dan tidak hadir mengajar
tanggal 15 Maret 2018.

III.7 Pengumpulan Data


Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer yang diperoleh
melalui pengisian soal kuisioner.
Selain itu, pengumpulan data juga mengunakan data sekunder berupa data
geografis, demografis, sumber daya kesehatan, sarana pelayanan kesehatan, jumlah
balita dan sekolah yang berada di PAUD Ar-royyan. Data diperoleh dari data PAUD
Ar-royyan.

III.8 Pengolahan Data


1. Editing: Penyuntingan data dilakukan untuk memastikan kelengkapan data
yang diperoleh melalui cara melengkapi setiap kuesioner saat dilakukan
pengumpulan data.
2. Coding: Pengkodean data dilakukan dengan cara memberikan angka pada setiap
jawaban yang diperoleh dalam lembar kuesioner.
3. Data Entry: Data yang diperoleh dimasukan ke dalam program computer
4. Cleaning: Pembersihan data dilakukan untuk menghindari kesalahan pada data
entry seperti kesalahan pengetikan data ataupun data yang ganda dengan cara
menelaah kembali data yang dimasukan ke dalam program komputer.

4.1. Analisis Data


Data yang diperoleh melalui soal pre-test akan dianalisa secara deskriptif
sehingga diperoleh persentase yang menggambarkan pengetahuan guru PAUD.
BAB IV

HASIL

IV.1. Profil Puskesmas Minggir

Profil kesehatan Puskesmas Minggir bertujuan untuk memberikan


gambaran kesehatan yang menyeluruh di wilayah kerja dalam rangka
meningkatkan kemampuan manajemen secara berdaya guna dan berhasil guna.

IV.2. Data Geografis

IV.2.I Keadaan Alam Wilayah Kecamatan Minggir


Kecamatan Minggir merupakan salah satu diantara 17 Kecamatan yang ada di
kabupaten Sleman, dengan batas wilayah:
Sebelah Utara : Wilayah Kecamatan Tempel
Sebelah Selatan : Wilayah Kecamatan Moyudan
Sebelah Barat : Wilayah Kabupaten Kulon Progo
Sebelah Timur : Wilayah Kecamatan Seyegan, Kecamatan Godean
dan Kecamatan Moyudan

IV.2.II Keadaan Tanah dan Luas Wilayah


Keadaan tanah berjenis Grumusal yang kaya akan humus, subur dengan
letak ketinggian ± 165 m di atas permukaan laut. Keadaan tanah relatif datar,
kemiringan 1-2 ke arah selatan. Luas wilayah Kecamatan Minggir : 27,27
Km².

IV.3. Data Guru yang Mengikuti Penilaian pengetahuan KPSP

Terdapat 10 orang guru PAUD yang hadir untuk mengisi kuisioner.


Hasil Dan Pembahasan :

1. Pengetahuan guru terhadap KPSP

NO PERTANYAAN YA TIDAK

Frek % Frek %

1 Saya pernah mendengar tentang KPSP (kuesioner Pra skreening 60% 40%
Perkembangan)

2 Saya mengetahui tentang KPSP 60% 40%

3 Saya memahami tentang KPSP 30% 70%

4 Saya melakukan mampu pengetesan KPSP 30% 30%

5 Saya mampu menganalisa hasil test KPSP 10% 90%

6 Saya mampu menyimpulkan hasil test KPSP 20% 80%

7 Saya mampu memberikan penilain terhadap hasil test KPSP 10% 90%

8 Saya mampu menyimpulkan dan memberikan saran terhadap 10% 90%


hasil test KPSP

Dari hasil analisa tentang kemampuan pengetahuan guru terhadap KPSP secara
umum dapat disimpulkan bahwa 60% subjek pernah mendengar tentang KPSP namun
hanya 10% atau 1 dari 10 orang saja yang mampu menyimpulkan dan memberikan
saran terhadap hasil tes KPSP yang tentu saja mampu melakukan pengetesan sesuai
standar. Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan penguasaan guru terhadap KPSP
sebagai alat deteksi tumbuh kembang anak tergolong rendah.

Menurut Bloom (dalam Notoatmodjo, 2010) pengetahuan merupakan hasil dari


tahu dan terbentuk setelah seseorang melakukan penginderaan terhadap suatu objek
tertentu. Tingkatan pengetahuan mulai dari tahu, memahami, aplikasi, analisis, sintesis,
sampai dengan evaluasi. Artinya kemampuan penguasaan mengetahui sesuatu hal tidak
hanya dari salah satu aspek saja tetapi harus tersusun dari enam aspek/tingkatan
tersebut. Adanya pengetahuan yang cukup tentang deteksi dini perkembangan dan
bagaimana cara menggunakan instrumen dengan tepat akan mendorong para pengasuh
atau guru untuk lebih aktif melakukannya, tepat penggunaannya, tepat interpretasinya,
tepat juga intervensinya sehingga tercapai pula tujuan dari pemantauan perkembangan
anak.

2. Sikap guru terhadap KPSP

NO PERTANYAAN YA TIDAK

Frek % Frek %

1 Menurut saya KPSP perlu diberikan kepada anak TK sebagai 100% 0%


alat deteksi tumbuh kembang anak

2 Menurut saya semua guru TK harus memahami KPSP 80% 20%

3 Menurut saya semua guru TK harus mampu menggunakan 70% 30%


KPSP

4 Menurut saya KPSP harus diberikan diawal anak masuk 100% 0%


sekolah (TK)

Dari hasil analisis tentang sikap guru terhadap KPSP dapat diketahui bahwa
100% atau sejumlah 10 orang menyatakan bahwa KPSP perlu diberikan kepada anak
TK sebagai alat deteksi tumbuh kembang anak. Secara umum hasil analisa 87,5%
menganggap bahwa KPSP sangat penting untuk para guru PAUD. Guru PAUD harus
mampu memahami dan menggunakan KPSP sebagai alat deteksi tumbuh kembang
anak.
BAB V

KESIMPULAN

Pengetahuan guru terhadap alat deteksi tumbuh kembang anak yaitu KPSP
tergolong rendah. Hal ini dapat dilihat dari hasil analisa data yang menunjukkan bahwa
60% subjek pernah mendengar tentang KPSP namun hanya 10% atau 1 dari 10 orang
saja yang mampu menyimpulkan dan memberikan saran terhadap hasil tes KPSP yang
tentu saja mampu melakukan pengetesan sesuai standar.

Sikap guru terhadap KPSP yaitu merespon positif. Artinya guru mampu
menerima KPSP sebagai alat deteksi tumbuh kembang anak dan ingin
mengimplementasikannya. Hal ini dapat dilihat dari hasil analisa data yang
menunjukkan bahwa 100% atau sejumlah 10 orang menyatakan bahwa KPSP perlu
diberikan kepada anak TK sebagai alat deteksi tumbuh kembang anak. Kendala yang
dihadapi guru dalam mengimplementasikan KPSP ialah kurangnya
sosialisasi/informasi dan pelatihan tentang KPSP.
DAFTAR PUSTAKA

1. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Pedoman pelaksanaan stimulasi,


deteksi dan intervensi dini tumbuh kembang anak di tingkat pelayanan kesehatan
dasar. 2016.
2. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. 11,9% anak yang mengikuti sdidtk
mengalami kelainan tumbuh kembang. 2010. Diunduh dari
http://www.depkes.go.id/development/site/jkn/index.php?cid=1141&id=119%-
anak-yang-mengikuti-sdidtk-mengalami-kelainan-tumbuh-kembang.html
3. Montessori, M. 2008. The Absorbent Mind, Pikiran Yang Mudah Menyerap.
Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
4. Notoatmodjo, Soekidjo. 2010. Promosi Kesehatan (Teori dan Aplikasi). Jakarta:
RinekaCipta.