Anda di halaman 1dari 4

 

MENJADI PEMIMPIN YANG EFEKTIF & STRATEGIS 


RINGKASAN SESI 2 MATA KULIAH ​STRATEGIC LEADERSHIP ​MM UGM 
Yogi Agnia Dwi Saputro - REG71/Strategic Management 
yogi.agnia.d@mail.ugm.ac.id 
 

Di  dunia  ini  banyak  pemimpin,  tapi  tidak semuanya adalah pemimpin yang efektif maupun 


strategis.  Diketahui  bahwa  pemimpin  bisnis  yang  efektif  mengubah  organisasi  secara 
fundamental  dan  memberikan  hasil  yang  memuaskan.  Masalahnya,  ​seperti  apakah 
kepemimpinan  yang  efektif  dan  strategis?  Di  sini  akan  dibahas  beberapa  pandangan 
terkait hal tersebut. 

Coleman  dalam  artikelnya,  “​What  Makes  A  Leader​”,  menyatakan  bahwa  pemimpin  bisnis 
terbaik  memiliki  EQ  atau  kecerdasan  emosional  tinggi.  Tidak  hanya  itu,  EQ  dua  kali  lebih 
berpengaruh  dalam  kesuksesan  jabatan  dibandingkan  IQ  dan  keahlian  teknis.  Kemudian 
ditemukan bahwa makin tinggi jabatan diperlukan EQ yang makin tinggi pula.  

Coleman mendefinisikan lima komponen EQ yang penting dalam pekerjaan. 

1. Kesadaran pribadi (​self-awareness​) 

Intinya  adalah  memiliki  pemahaman  terhadap  aspek-aspek  dalam  diri  sendiri 


seperti  emosi,  kekuatan,  kelemahan,  kebutuhan,  dan  motivasi.  Pemimpin  yang 
mengerti  diri  sendiri  akan  lebih  terbuka  dan  manusiawi.  Mereka  mengakui 
kesalahan dengan tersenyum, dan justru lebih diterima pengikutnya. 

2. Pengendalian diri (​self-regulation​) 

Intinya  adalah  mengontrol  respon  ketika  dihadapkan  pada  situasi  genting. 


Pemimpin  bisa  memarahi  bawahan  ketika  bisnis  kacau,  namun  hal  itu  tidak 
memperbaiki  keadaan.  Pemimpin  efektif  memilih  kata-katanya  dan mengutamakan 
penyelesaian isu dibandingkan ledakan emosi sesaat.   

 

 

 
 

3. Empati 

Intinya  adalah memahami situasi emosional orang lain dan memperlakukan mereka 
secara tepat. Ini merupakan seni ketika orang-orang merasakan emosi beragam dan 
pemimpin harus menyesuaikan. 

4. Motivasi 
Intinya  adalah  keinginan  untuk  mencapai  lebih.  Pemimpin  efektif  mengejar  bekerja 
baik  dan  lebih  baik  untuk  selanjutnya.  Selain  itu,  pemimpin  efektif  tetap  optimis 
meskipun terancam gagal 
5. Kemampuan sosial 

Intinya  adalah  membangun  dan  menjaga  hubungan  dengan  orang  lain  secara 
profesional.  Pemimpin  yang  efektif  akan  mudah  menemukan  kesamaan  dan 
menciptakan kesan di mata orang lain. 

Coleman  menyatakan  bahwa  EQ  dapat  dipelajari,  namun  bukan  dengan  seminar  singkat. 
EQ  meningkat  seiring  pengalaman  hidup,  dan  hanya  nilai-nilai  yang  diinternalisasi  yang 
menghasilkan EQ. 

Senada  dengan  Coleman,  Gofee  dan  Jones  dalam  artikelnya  “​Why  Should  Anyone  Led by 
You?​”  menyatakan  bahwa  seorang  pemimpin  bisa  berkembang.  Mantra  utamanya  yaitu 
jadilah  diri  sendiri  -  dengan  kemampuan  lebih​.  Kemudian  Gofee  dan  Jones  mengajukan  4 
karakteristik yang membuat seorang pemimpin diikuti. 

1. Menunjukkan kelemahan secara selektif 

Intinya  adalah  menunjukkan  kelemahan  untuk  membuat  diri  lebih  manusiawi  dan 
diterima.  Hanya  saja,  jangan  menunjukkan  kelemahan  fatal.  Juga  jangan 
menunjukkan kelemahan yang dibuat-buat.  

2. Memiliki intuisi kuat 

Intinya,  pemimpin  hebat  mampu  mendeteksi  perubahan  samar  dan 


mengonfirmasinya.  Selain  itu,  intuisi  yang  kuat  berarti  dapat  mengetahui  keinginan 
pihak lain dalam waktu singkat. 

 

 

 
 

3. Mengelola bawahan dengan empati keras 

Intinya,  pemimpin  perlu  berempati  dengan  bawahannya.  Namun  berikan  yang 


mereka butuhkan, bukan yang mereka inginkan. 

4. Menunjukkan perbedaan khas 

Intinya,  pemimpin  perlu  menunjukkan  kekhasan  dirinya  agar  diingat  dengan  baik 
oleh  orang.  Keaslian  atau  keotentikan  pemimpin  lah  yang  membuatnya  tak 
tergantikan orang lain. 

Hill  dan  Lineback  dalam  artikel  “​Are  You  A  Good  Boss  or  Great  One?​”  menerapkan  tiga 
imperatif untuk menjaga kualitas seorang pemimpin unggul. 

1. Kelola  diri  →  bangun  kepercayaan  sebagai  modal  memimpin,  bukan  rasa  ingin 
ditakuti atau disukai bawahan 
2. Kelola jejaring​ → jangan hindari politik, namun manfaatkan untuk mencapai tujuan 
3. Kelola  tim  →  kelola  sebagai  satu  kesatuan  dan  pastikan  masing-masing  mengerti 
tugasnya sebagai individu maupun anggota tim 

Setelah  menjadi  seorang  yang  unggul,  pemimpin  juga  perlu  menerapkan  kepemimpinan 
strategis.  Tujuannya  adalah  membuat  organisasi  lebih  adaptif,  terutama  di  sektor  bisnis 
yang  sifatnya  dinamis.  Schoemaker  dan  Krupp  dalam  artikelnya  “​Strategic  Leadership: 
The Essential Skills​” menuliskan ​framework u
​ ntuk kepemimpinan strategis. 

1. Antisipasi/​anticipate  ​→  mencari  ​insight​,  merancang skenario, mempelajari pesaing 


yang sukses maupun gagal, dan mengikuti perkembangan industri teranyar. 
2. Menerjemahkan/​interpret  →  menemukan  pola  baru dan menyediakan penjelasan 
alternatif dari hasil aktivitas bisnis 
3. Memberi  tantangan/​challenge  →  bergerak  dari  status  quo,  mempertanyakan 
asumsi dasar, mengaktifkan diskusi dengan ​devil’s advocate 
4. Memutuskan/​decide  →  menanyakan  opsi  lain,  menginformasikan  kepada 
pihak-pihak  terlibat,  hindari  keputusan  besar  dadakan  dengan  membaginya 
menjadi keputusan-keputusan kecil 

 

 

 
 

5. Menyelaraskan/​align  ​→  mengidentifikasi  dan  mengelola  ​stakeholder  ​kunci, 


mengelola penolakan 
6. Belajar/​learn  ​→  mencatat  hasil  aktivitas  bisnis  dan  hal  yang  bisa  dipelajari,  serta 
menciptakan kultur belajar dalam perusahaan 

Terakhir,  pemimpin  unggul  mampu  berkomunikasi  dengan  efektif.  Hamm  dalam 


artikelnya,  “​The  Five  Messages  Leaders  Must  Manage​”,  menunjukkan  lima  pesan  krusial 
dalam organisasi yang perlu dikelola penyampaiannya oleh pemimpin. 

1. Struktur organisasi dan hirarki 

Struktur  dan  hirarki  berhubungan  dengan  kekuasaan.  Komunikasi  efektif  perlu 


meliputi  tujuan  dan  memastikan  keamanan  posisi  pekerja.  Hasilnya  akan 
meminimalkan kebingungan karyawan dan menjaga produktivitas. 

2. Pencapaian finansial 

Intinya  adalah  menjadikan  pencapaian  finansial  sebagai alat ukur evaluasi. Jika hasil 


buruk,  yang  diperlukan  adalah  mencari  penyebab  dan mengutamakan kepentingan 
perusahaan jangka panjang. 

3. Posisi Pemimpin sebagai pengambil keputusan 

Pemimpin  sebagai  pengambil  keputusan  bukan  berarti  menyediakan  semua 


jawaban  atas  masalah  bisnis.  Pemimpin  efektif meminta jawaban dan membimbing 
bawahan untuk menemukannya. 

4. Manajemen waktu 

Waktu adalah sumber daya. Pemimpin memprioritaskan keputusan dengan batasan 
yang diketahui. 

5. Budaya korporasi 

Intinya,  budaya  perusahaan  yang  sehat  berasal  dari  tujuan  perusahaan  yang  jelas. 
Kemudian  perlu  dikembangkan  lingkungan  yang  memungkinkan  semua  orang 
berkontribusi untuk kesuksesan bersama.