Anda di halaman 1dari 17

TUGAS 1

GEOTEKNIK

Oleh:
Shabila Gadis Halida
03411540000054

DEPARTEMEN TEKNIK GEOFISIKA


FAKULTAS TEKNIK SIPIL LINGKUNGAN DAN KEBUMIAN
INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER
SURABAYA
2018
1. Tipikal dan variasi profil tanah residu!
Berdasarkan definisi, tanah residual adalah hasil pelapukan batuan yang belum atau tidak
dipindahkan dari tempat asalnya. Tanah residual adalah hasil dari pelapukan kimiawi yang
mengubah mineral asal batuan menjadi mineral baru. Wujud dari hasil pelapukan sangat
tergantung dari faktor faktor lingkungan seperti cuaca, curah hujan, topografi, jenis batuan asal,
drainasi dan umur pelapukan Tanah residual ini sangat memberikan pengaruh pada infrastruktur
bangunan yang berada diatasnya, terutama pada daerah yang beriklim tropis. Pada daerah tropis
tingkat pelapukan sangat tinggi, itulah mengapa pada umumnya tanah di indonesia merupakan
tanah residu.
Tanah residual merupakan tanah yang terbentuk langsung akibat pelapukan kimiawi yang tetap berada
pada tempat batuan asalnya. Yang membedakan tanah residual dengan tanah sedimen adalah adanya mineral
pembentuk yang terbentuk dari proses pelapukan kimia. Jenis mineral lempung yang dihasilkan pada suatu
keadaan tertentu sangat tergantung pada batuan asal dan lingkungan pelapukan. Beberapa faktor yang
mempengaruhi kandungan mineral tersebut antara lain iklim
Tingkat pelapukan dipengaruhi oleh iklim, kondisi topografi, dan batuan induk. Klasifikasi tingkat pelapukan
batuan akibat cuaca diberikan oleh Dearman et al (1976), dimana tanah mempunyai enam tingkatan yang
berbeda yang dapat dilihat pada Tabel 2.1
Faktor terpenting adalah pengangkutan butir tanah dan kemudian pengendapannya di lain tempat seperti
laut atau danau. Proses ini diperlihatkan pada Gambar 1.1. Tanah yang terbentuk langsung akibat pelapukan
kimiawi disebut tanah residu (residual soil). Tanah ini tetap pada tempat pembentukannya di atas batuan
asalnya. Hujan menyebabkan erosi dan tanah diangkut melalui sungai sampai mencapai laut atau danau. Di
sini terjadi pengendapan lapisan demi lapisan pada dasar laut atau danau. Proses ini dapat bedangsung selama
ribuirn atau jutaan tahun. Thnah ini disebut tanah endapan (sedimentary sail) atatr tanah yang terangkut
(transported soil).

Gambar 1. Lokasi pembentukan tanah residual


Gambar 2. Klasifikasi Tingkat Pelapukan Batuan Akibat Cuaca
2. perbedaan antara tanah endapan dengan tanah residu
Perbedaan ini berasal dari cara pembentukan kedua golongan tanah tersebut. Oleh karena itu, cara
ini akan diterangkan lebih lanjut. Tanah residu terbentuk langsung dari batu asalnya, sehingga umumnya
ada hubungan erat antara sifat tanah dan jenis batu asalnya. Pada tanah endapan tidak ada hubungan antara
sifatnya dan batu asalnya. Pada tanah residu terdapat apayang disebut "struktur", yaitu butirnya teratur
ataupun terikat satu sama lain sehingga membentuk "kerangka" tanah. Akibat adanya struktur ini, sifat
tanah menjadi berbeda dengan sifat seandainya tidak ada "struktur", yaitu butirnya merupakan kumpulan
butir lepas saja. Setelah pengendapan, tanah endapan dapat mengalami perubahan lagi. Khususnya, tanah
ini mengalami pemampatan atau konsolidasi (consolidation) akibat tekanan dari lapisan-lapisan yang
kemudian mengendap di atasnya, sehingga menjadi lebih keras. Pada keadaan tertentu terjadi
uplftyaiukenaikan akibat gaya tektonik. Setelah kenaikan ini,proses erosi mulai berjalan lagr, yang
mengurangi tekanan pada tanah. Apabila ini terjadi, tanah akan mengembang sedikit. Tanah endapan yang
belum pernah mengalami pengurangan tekanan di atasnya disebut terkonsolidasi normal (normally
consolidated), sedangkan tanah yang pernah mengalami konsolidasi akibat tekanan yang lebih tinggi
daripada tekanan yang berlaku pada masa sekarang disebut terkonsolidasilebih (overconsolidated).lJrutan
tegangan yang berlaku pada tanah sejak pembentukan disebut riwalytt tegangan (stras bistory). Gambar 1.4
memperlihatkan proses-proses pembentukan yang berlaku pada kedua golongan.

Gambar 3. Faktir pembentukan yang menentukan sifat tanah endapan dan tanah residu
Cara pembentukan kedua jenis tanah ini agak rumit. Walaupun demikian, aada dua factor penting yang
menjadikan tanah endapan lebih teratur dan seragam daripada tanah residu. Fakktor factor tesebut adalah
sebagai berikut:
(a) Proses erosi, pengangkutan, dan pengendapan membuat tanah menjadi golongan-golongan tertentu.
Butir yang kasar diendapkan pada satu tempat dan butir yang halus di lain tempat. Ini menghasilkan
lapisanlapisan yang seragam.
(b) Riwayat tegangan menjadi faktor penting yang menentukan kelakuan tanah endapan. Atas dasar
riwayat tegangan, tanah endapan dibagi dalam dua golongan seperti telah diterangkan, yaitu tanah yang
terkonsolidasi normal dan tanah yang terkonsolidasi kelebihan. Kedua faktor ini tidak terdapat pada
tanah residu. Ini berarti tanah ini tidak dapat dibagi dalam beberapa golongan.
Ada baiknya dimengerti bahwa pengaruh dari proses pembentukan pada sifat kedua golongan ini saling
bertentangan, seperti diperlihatkan pada Gambar 1.5. Pelapukan pada batu mengurangi kepadatan batu
sehingga kekuatan turun. Pada batuan tetap tidak ada pori sama sekali, sedangkan pada tanah, volume pori
sering cukup besar dibandingkan volume butir. Ada jenis tanah dengan volume butir kurang dari 20%
volume total.Istilah angka pori dipakai untuk menyatakan volume pori. Definisi angka pori adalah
perbandingan volume pori terhadap volume butir. Tanah endapan mengalami pemampatan akibat berat
tanah sendiri, sehingga volume pori menurun dan tanah menjadi lebih keras. Pengaruh tekanan pada volume
pori diperlihatkan pada Gambar 1.5(a). Angka pori terus menurun akibat kenaikan tekanan, tetapi bisa naik
lagi seandainya tekanan menurun.

Gambar 4. Pembentukan tanah residu dan tanah endapan

Perbedaan utama antara tanah residu dan tanah endapan adalah sebagai berikut:

 Tanah residu umumnya kurang seragam dibandingkan dengan tanah endapan. walaupun demikian
masih ada tanah residu yang hampir seragam. Tanah merah adalah contoh tanah yang mendekati
seragam.
 Aada jenis tanah residu yang mengandung mineral lempung yang luar biasa, yang banyak
mempengaruhi sifatnya. Mineral ini tidak terdapat pada tanah endapan
 Ada jenis tanah endapan yang tidak particulate, artinya tidak terdiri atas butir tersendiri, walaupun
kelihatan seolah0olah terdiri atas butir, apabila terganggu atau dibentuk ulang, butir ini tidak hancur
dan menjadi kumpulan butir yang jauh lebih kecil.
 Riwayat tegangan tidak memengaruhi kelakuan tanah residu.
 Pengertian mengenai kelakuan yang berasal dari penelitian pada tanah endapan tidak berlaku pada
tanah residu. Misalnya, penggunaan grafik pemampatan yang memakai skala logaritmis dapat
menimbulkan salah mengerti.
 Korelasi empiris berdasarkan pada sifat tanah endapan mungkin tidak berlaku pada tanah residu.
 Keadaan tegangan air pori di atas muka air tanah menjadi faktor penting untuk memahami kelakuan
tanah residu. Keadaan dan kelakuan tanah yang paling penting dalam perencanaan projek paling
sering terdapat di atas muka air tanah.

3. Tanah lunak
Tanah lunak adalah tanah yang jika tidak dikenali dan diselidiki secara berhati-hati dapat menyebabkan
masalah ketidakstabilan dan penurunan jangka panjang yang tidak dapat ditolerir; tanah tersebut
mempunyai kuat geser yang rendah dan kompresibilitas yang tinggi. Tanah lunak terbagi menjadi dua, yaitu
tanah lempung lunak dan tanah gambut (Panduan Geoteknik 1 Proses Pembentukkan dan Sifat-Sifat Dasar
Tanah Lunak, 2002). Apabila tanah dasar yang ada berupa tanah lempung yang mempunyai daya dukung
dan kuat geser yang rendah, maka konstruksi di atasnya bisa mengalami kerusakan. Sehingga tanah dasar
haruslah bersifat keras agar sesuai dengan persyaratan teknis. Umumnya sebagian besar wilayah Indonesia
terdiri oleh tanah lempung dengan pengembangan yang cukup besar (plastisitas tinggi). Untuk memenuhi
persyaratan teknis, maka tanah dasar dapat diperbaiki, hal ini dikenal dengan nama satabilisasi tanah.

Gambar 5. Marine clay


Tanah lunak merupakan tanah kohesif yang terdiri dari sebagian besar butir-butir yang sangat kecil
seperti lempung atau lanau. Sifat tanah lunak adalah gaya gesernya kecil, kemampatannya besar, koefisien
permeabilitas yang kecil dan mempunyi daya dukug rendah jika dibandingkan dengan tanah lempung
lainnya. Tanah lempung lunak secara umum mempunyai sifat-sifat sebagi berikut:
1. Kuat geser rendah
2. Bisa kadar air bertambah, kuat gesernya berkurang
3. Bila struktur tanah terganggu, kuat gesernya berkurang
4. Bila basah bersifat plastis dan mudah mampat
5. Menyusut bila kering dan membang bila basah
6. Memiliki kompresibilitas yang besar
7. Berubah volumenya dengan bertambahnya waktu akibat rangkak pada beban yang konstan
8. Merupakan material kedap air Menurut Terzaghi (1967) tanah lempung kohesif diklasifikasikan
sebgai tanah lunak apabila mempunyai daya dukung lebih kecil dari 0,5 kg/cm2 dan nilai standard
penetration test lebih kecil dari 4 (N-value
Akibat Adanya Tanah Lunak
Penurunan Tanah Salah satu permasalahan utama pada tanah lunak dalam suatu pekerjaan konstruksi
adalah penurunan tanah yang sangat besar. Penurunan yang besar tersebut disebabkan oleh penurunan
konsolidasi pada tanah, yang akan dijelaskan pada bagian berikutnya. Ketika tanah dibebani, maka sama
dengan material lain, tanah akan mengalami penurunan. Dalam ilmu Geoteknik, dikenal tiga jenis
penurunan tanah:
1. Penurunan Seketika (Immediate Settlement)
2. Penurunan Konsolidasi/Primer (Consolidation Settlement)
3. Penurunan Rangkak/Sekunder (Creep/Secondary Settlement)
Penurunan seketika merupakan penurunan yang terjadi seketika saat beban diberikan. Pada tanah jenuh
air dan permeabilitas rendah, beban yang bekerja diterima sepenuhnya oleh tegangan air pori. Pada tanah
dengan permeabilitas tinggi, tegangan air pori yang terjadi muncul hanya sebentar karena tegangan air pori
ini terdisipasi dengan cepat. Deformasi yang terjadi pada tanah tidak disertai dengan perubahan volume.
Perhitungan untuk penurunan seketika ini didasarkan pada hukum elastisitas material (contoh, hukum
Hooke).
Penurunan konsolidasi adalah penurunan pada tanah kohesif yang diakibatkan terdisipasinya tegangan
air berlebih di dalam tanah, dan akhirnya menghasilkan perubahan dari segi volume. Jenis penurunan ini
terjadi bersama dengan waktu yang berlalu. Tegangan air pori berlebih di transfer menuju partikel tanah
menjadi tegangan efektif (σ’=σ-u). Saat tegangan air pori berlebih ini = 0, penurunan konsolidasi sudah
selesai dan tanah berada dalam keadaan Drained
Salahsatu usaha untuk mengurangi dampak dari tanah lunak adalah dengan menggunakan
Geotekstil yakni lembaran fleksibel yang tipis, fleksibel, permeable yang digunakan untuk stabilisasi dan
perbaika tanah dikaitkan dengan pekerjaan teknik sipil, dengan tujuan untuk meningkatkan factor keamanan
rencana, menambah tinggi timbunan, mencegah pergeseran timbunan selama pelaksanaan
Gambar 6. Penerapan Geosyntetics,mengurangi pergerakan tanah lunak

Gambar 7. Pencegahan kegagalan global dari timbunan dan pada pondasi tanah

Gammbar 8. Pencegahan kegagalan geser (sliding) sepanjang geosintetik


4. Perbedaan dan klasifikasi kaolinite, montmorillonite, dan illite

KAOLINITE MONTMORILLONITE ILLIT


Tebal 50 – 2000 3 30
tipikal
(nm)

Diameter 300 – 4000 100-1000 10.000


Tipikal
(nm)

Permukaan 0.015 0.8 0.08


spesifik
(km2/kg)

Struktur Unit lapisan silica dan aluminium mirip dengan struktur illite, terdiri dari lapisan-lapisan
yang diikat oleh ion hydrogen tetapi ion pemisahnya berupa ion unit silica-alumunium-
kaolinite membentuk tanah yang H2O, yang sangat mudah lepas, silica yang dipisahkan oleh
stabil karena strukturnya yang mineral ini dapat dikatakan ion K+ yang mempunyai sifat
terikat teguh mampu menahan sangat tidak stabil pada kondisi mengembang.
molekul-molekul air sehingga tergenang air, air dengan mudah
tidak masuk kedalamnya. masuk kedalam sela antar lapisan
ini sehingga mineral
mengembang, pada waktu
mengering, air diantara lapisan
juga mengering sehingga mineral
menyusut.
Struktur
Atom

Berat 2.6 2.65-2.8 2.8


Spesifik
(gs)
Kegunaan Banyak digunakan untuk Digunakan untuk lumpur Banyak digunakan untuk
barang-barang tembikar dan pengebiran dan sebagai suatu membuat agregat berbobot
keramik Cina karena tidak penutup dari lempung. Karena ringan.
adanya besi yang terkandung mineral lempung ini sangat aktif
didalamnya, digunakan pula dalam mengembang apabila
sebagai penyerap instestin untuk terdapat air dan sangat banyak
melawan infeksi, yakni obat anti digunakan dalam pemboran
diarrhea dan untuk penyakit sumur sumur minyak dan dalam
operut lainnya eksplorasi tanah.
Kapasitas 3-15 80-150 10-40
Penggantian
(meq/100g)

https://www.academia.edu/6627322/STRUKTUR_TANAH_DAN_MI

NERAL_LEMPUNG
5.a. Jelaskan Angka Pori

Gambar 9. Perbandigan volume tanah

Angka pori e merupakan perbandingan antara volume rongga (Vv) dengan volume butiran (Vs)

𝑉𝑣
:𝑛=
𝑉
5.b. buktikan hubungan antara angka pori dan porositas

Porositas (n) :
Perbandingan antara volume rongga (VV) dengan volume total (V). Nilai n dapat dinyatakan
dalam persen atau decimal.
𝑉𝑉
𝑛=
𝑉

Keterangan:
VV = Volume Pori
V = Volume tanah total ( V=Vs + VV )

Angka Pori (e)


Angka pori adalah perbandingan antara volume rongga (Vv) dengan volume butiran (Vs)

𝑉𝑣
:𝑛=
𝑉
Keterangan:
VV = Volume Pori
Vs = Volume butir ( VS = V-VV)

Hubungan Angka Pori Dengan Porositas

𝑛 Atau n=
𝑒
𝑒= 1+𝑒
1−𝑛

a. Porositas  𝑉𝑉 𝑒
𝑛= n=
𝑉 1+𝑒

Keduanya samasama dibagi dengan VS dan penyebut juga dibagi dengan VS maka akan menjadi,
𝑉𝑣 𝑉𝑣
𝑉𝑣 𝑒
𝑛= 𝑉𝑠
𝑉𝑠+𝑉𝑝  𝑛= 𝑉𝑠
𝑉𝑠 𝑉𝑣  karena, 𝑒 = maka, 𝑛=
+ 𝑉𝑠 1+𝑒
𝑉𝑠 𝑉𝑠 𝑉𝑠
𝑉𝑣 𝑉𝑉
b. Angka Pori  𝑒 = = , kemudian sama sama dibagi dengan V, pembilang
𝑉𝑠 𝑉−𝑉𝑣
dibagi dengan V dan penyebut juga dibagi denga V, maka akan menjaadi,
𝑉𝑣
𝑉 𝑉𝑉 𝑛
𝑉= 𝑉 𝑉𝑣 , karena 𝑛 = , maka 𝑒=
− 𝑉 1−𝑛
𝑉 𝑉

5.c Praktikum Specific Gravity (Gs)


Berat spesifik atau berat jenis adalah perbandingan antara berat volume butir padat,
dengan berat volume air, pada temperature 4oc
𝛾𝑆
𝐺𝑠 =
𝛾𝑊

Gs tidak berdimensi. Berat jenis dan berbagai jenis tanah berkisaran antara 2.65 sampai 2.75.
nilai berat jenis Gs= 2.67 biasanya digunakan untuk tanah-tanah tidak berkohesif. Sedang untuk
tanah kohensif tak organic berkisar antara 2.68 sampai 2.72.
Praktikum Specific Grafity (Gs)
Praktikum ini bertujuan untuk Mengetahui berat jenis tanah disturbed yang lolos saringan
no.40 dan tanah undisturbed dengan menggunakan piknometer. Peralatan yang dibutuhkan:
1. 6 buah piknometer kapasitas 50 ml.
2. Oven yang dilengkapi pengatur suhu untuk memanasi hingga 115° C.
3. Neraca dengan ketelitian 0.01 gr.
4. Thermometer ukuran 0 - 100° C dengan ketelitian 1° C.
5. Saringan no.40
6. Botol berisi aquades.
7. Kompor.
8. Bak perendam.
Gambar 10. Peralatan praktikum specific grafity
Bahan yang digunakan:
 Sample tanah yang lolosa saringan No.40 sebanyak 500 gram kering oven
 Air suling
PROSEDUR
1. Sampel tanah disturbed dan undisturbed disiapkan
2. gumpalan – gumpalan tanah disturbed ditumbuk agar butiran tanah terlepas sehingga dapat
disaring pada saringan no.40
3. sampel tanah dikeringkan dalam oven suhu 110° C selama 24 jam lalu dianginkan.
4. Cuci piknometer dan keringkan.
5. Timbang peknometer dan tutupnya lalu timbang sebagai W1.
6. Masukkan benda uji ke dalam piknometer hingga mencapai 1/3 volume,lalu timbang dan
catat sebagai W2.
7. Tambahkan air ke dalam piknometer sebanyak 1/3 volume sehingga isi piknometer menjadi
2/3 bagian.
8. Didihkan piknometer di kompor untuk mengeluarkan udara yang terjebak di dalamnya,
kemudian angkat.
9. Rendam piknometer dalam wadah/bak rendaman selama 24 jam.
10. Ukur suhu rendaman air dengan termometer.
11. Akibat perendaman, air dalam piknometer akan berkurang, tambahkan air kembali hingga
posisi 2/3 volume piknometer.
12. Keringkan bagian luar piknometer dan timbang kemudian catat sebagai W3.
13. Keluarkan isi piknometer, lalu bersihkan.
14. Isi piknometer dengan aquades hingga 2/3 volume piknometer kemudian catat sebagai W4

PERHITUNGAN
Berat jenis tanah (GS) dapat dihitung dengan rumus :
GS = ( W2 – W1 )/ ( W4-W1 ) – ( W3-W2 )
Dimana :
W1 = berat piknometer (gr)
W2 = berat piknometer + tanah (gr)
W3 = berat piknometer + tanah + air (gr)
W4 = berat piknometer + air pada temperatur (T° C) (gr)
6.Hubungan anatara Volume dengan Berat

Gambar 11. Tiga fase elemen tanah dengan volume tanah padat Vs = 1

Dari fase diatas kita bisa mengetahui hubungan antara berat volume (atau rapat masa), angka pori,
dan kadar air, yang dapat diasumsikan dimana volume butiran tanah adalah satu (Vs = 1)
sebagaimana ditunjukkan dalam Gambar 11.

Gambar 12. Elemen tanah pada kondisi jenuh air dengan volume bagian padat padat Vs=1

iika volume butiran tanah adalah satu, maka volume rongga secara numerik akan sama dengan
angka pori (e) dalam persamaan 2 Hubungan berat butiran tanah dan air dapat dituliskan dalam:
keterangan:
Gs = Berat Jenis butir Tanah
w= Kadar Air
𝛾 = Berat Volume Air

Jika sample tanah dalam keadaan jenuh air, yaitu ruang-ruang pori terisi penuh oleh air (Gambar
1.2), maka hubungan berat jenis jenuh ( saturated unit weight, γsat ) dapat dinyatakan :

Penjabaran dari titik jenuh yang bernilai satu dan telah mengetahui hubungan berat jenis jenuh
berdasarkan jabaran di atas, bisa di dapatkan dari :
Angka pori:
𝑉𝑣
𝑒=
𝑉𝑠

Kadar air:
𝑊𝑤
𝑤% =
𝑊𝑠

Berat Jenis :
𝛾𝑆
𝐺𝑠 =
𝛾𝑊
REFERENSI
https://dokumen.tips/documents/hubungan-antara-berat-volume.html

Wada, K., 1989. Allophane and Imogolite. In J. B. Dixon and S. B. Weed (eds), Chap ter 21 of
Minerals in Soit Enrtironments (2y Edition). SSSA Book Series No. 1, pp. 1051-1087.
Wesley, L. D. & Irfan, T. Y., 1997 .The classification of residual soils. In G. E. Blight (ed.),
chapter 2 of Mechanics of Residual soik. Rotterdam: A. A. Balkema.
Wesley, L. D. & Irfan, T. Y., 2012. Fundomenrols of soil Mechqnics for sedimenrory and
Residual soils. Canada