Anda di halaman 1dari 12

Tanggal Praktikum :Kamis,

Judul : Pemeriksaan Protozoa Jaringan (Trichomonas vaginalis)

Tujuan :

1. Mengidentifikasi Protozoa jaringan berdasarkan ciri-ciri


morfologi yang dimiliki
2. Melakukan diagnosa laboratorium terhadap penyakit yang di
sebabkan oleh Protozoa jaringan
3. Melakukan pemeriksaan Trichomonas vaginalis dari bahan
pemeriksaan apus vagina (demonstrasi)

Landasan Teori :

A. Sejarah Trichomonas vaginalis


Trichomonas vaginalis pertama kali dideskripsikan oleh Alfred Donne pada tanggal
19 September 1836 pada saat Academy of Sciences di Paris. Pada saat itu dikatakan bahwa ia
menemuakan suatu organisme yang disebutnya sebagai animalcules dari sekret segar vagina .
Dan disepakati pada saat itu juga organism ini dinamakan Trichomonas vaginale , oleh
karena mirip dengan organism dari genus Monas dan Trichodina .(Candiani GB,1973). Dua
tahun kemudian, Ehrenberg memastikan penemuan Donne dan memberikan nama pada
protozoa ini yaitu Trichomonas vaginalis. Pada tahun 1884, Marchan menemukan
Trichomonas vaginalis pada traktus urin arius pria. Dan baru pada ahun 1916 Hoehne
melaporkan bahwa Trichomonas vaginalis adalah flagella yang patogenik karena
menemukan kolpitis yang disebabkan oleh Trichomonas vaginalis .
B. Klasifikasi Trichomonas vaginalis
Trichomonas vaginalis merupakan protozoa yang bersifat parasit, berdiameter 10-30
µm, dan memiliki flagel, anaerobik, protozoa flagellated, bentuk mikroorganisme. Parasit
mikroorganisme adalah agen penyebab trikomoniasis, dan yang paling umum infeksi
protozoa patogen manusia di negara-negara industri ataupun negara berkembang.
Berdasarkan klasifikasi umumnya maka Trichomonas vaginalis memiliki klasifikasi sebagai
berikut :
 Klasifikasi :
Class :Flagellata
Family :Trichomonadidae
Genus :Trichomonas
Speciees :Trichomonas vaginalis
 Menurut Donne 1836 klasifikasi ilmiah Trichomonas vaginalis adalah :
Domain :Eukarya
Filum :Metamonada
Kelas :Parabasalia
Order :Trichomonadida
Genus :Trichomonas
Spesies :T. vaginalis
nama binomial :Trichomonas vaginalis.
C. Morfologi
Trichomonas vaginalis merupakan protozoa dari superclass Mastigophora, class
Zoomastigophora, ordo Trichomonadina, dan family trichomonadidae. Family
Trichomonadidae ini kemudian oleh Honigberg pada tahun 1946 dibagi menjadi sub family
Trochomonadinae (dengan genus Trichomonas dan Pentatrichomonas) dan
Trichomononadinae. (Andriyani,Yunilda,2005)
Trichomonas vaginalis berbentuk oval , panjang 4 – 32 µm dan lebar 2,4 – 14,4 µm,
memiliki flagella dan undulating membran yang panjangnya hanya setengah panjang
tubuhnya. Intinya berbentuk oval dan terletak dibagian atas tubuhnya, dibelakang inti
terdapat blepharoblast sebagai tempat keluarnya 4 buah flagella yang menjuntai bebas dan
melengkung diujungnya sebagai alat geraknya yang maju mundur . (Chin J,2000)
Flagella ke 5 melekat diundulating membrane dan menjuntai ke belakang sepanjang
setengah panjang tubuhnya . Sitoplasma terdiri dari struktur yang berfungsi seperti tulang
yang disebut axostyle.
Sementara T. vaginalis tidak memiliki bentuk kista, organisme dapat bertahan hingga
24 jam dalam urin, air mani, atau bahkan sampel air. Ini memiliki kemampuan untuk
bertahan pada fomites dengan permukaan lembab selama 1 sampai 2 jam.
Trichomonas vaginalis ini memperoleh makanan secara osmosis dan
fagositosis. Makanannya adalah kuman-kuman darisel-sel vagina dan leukosit.
Trichomonas vaginalis tidak memiliki stadium kista tetapi hanya ditemui
dalam stadium Tropozoit dan ciri-cirinya adalah :
1. Bentuknya oval atau piriformis.
2. Memiliki 4 buah flagel anterior.
3. Flagel ke 5 menjadi axonema dari membran bergelombang (membranaundulant)
4. Pada ujung pasterior terdapat axonema yang keluar dari badan yang diduga
untuk melekatkan diri pada jaringan sehingga menimbulkan iritasi,
5. Memiliki 1 buah inti,
6. Memiliki sitostoma pada bagian anterior untukmengambil makanan,
7. perkembangbiakan dengan cara belah pasang

Gambar 1 : Skema Trichomonas vaginalis diambil dari; (http://1.bpblogspot.com/


gambar trichomonas vaginalis.JPG

Gambar 2. Trichomonas vaginalis pada sedimen urin diambil dari


;http://Carahackfacebook.com

D. Siklus hidup Trichomonas vaginalis

Perkembangbiakannya dengan cara berkembang biak secara belah pasang


longitudinal dan inti membelah dengan cara mitosis yang dilakukan setiap 8 sampai 12 jam
dengan kondisi yang optimum. Jadi tidak heran bila dalam beberapa hari saja
protozoa ini dapat berkembang mencapai jutaan. Tidak seperti protozoa lainnya,
trichomonas tidak memiliki bentuk kista. Sel-sel trichomonas vaginalis memiliki kemampuan
untuk melakukan fagositosis.
Untuk dapat hidup dan berkembang biak, trichomonas vaginalis membutuhkan
kondisi lingkungan yang konstan dengan temperatur sekitar 35-37˚C, hidup pada Ph diatas
5,5- 7,5. Sangat sensitif terhadap tekanan osmotik dan kelembaban lingkungan. Protozoa ini
akan cepat mati bila diletakkan di air atau di keringkan. Meskipun penularan trichomonas
vaginalis secara non-venereal sangat jarang, ternyata organisme dapat hidup beberapa jam
dilingkungan yang sesuai dengan lingkungannya.
Trichomonas vaginalis bergerak dengan cepat berputar-putar di antara sel-sel epitel
dan leukosit dengan menggerakkan flagel anterior dan membran bergelombang.
Parasit ini mati pada suhu 500C, tetapi dapat hidup selama5 hari pada suhu 00C.
Dalam biakan, parasit ini mati pada pH <4,9, (pH vagina 3,8 - 4,4) dan tahan terhadap
desinfektans dan antibiotik.
Trichomonas vaginalis dapat diidentifikasi dari sediaan sekret vagina yang masih
segar, dimana kita dapat melihat organisme ini secara jelas pergerakannya. Selain dari sekret
vagina yang masih segar lebih baik karena protozoa ini sangat sensitif dan mudah mati,
apalagi pada urine bisa terdapat sel-sel lain (seperti leukosit) yang menyulitkan kita untuk
membedakannya.
Trichomonas vaginalis berada di saluran alat kelamin perempuan bagian bawah.
Pada laki-laki berada di uretra dan prostat.Memperbanyak diri dengan pembelahan biner (
satu menjadi dua). Parasit tidak memiliki bentuk kista, dan tidak bertahan dengan baik di

lingkungan luar.Trichomonas vaginalis ditularkan di antara manusia, terutama melalui


hubungan seksual.

Gambar 3 :Siklus hidup Trichomonas vaginalis .


https://hmkuliah.wordpress.com/2013/11/27/trichomonas-vaginalis/
E. Habitat dan Epidemiologi Trichomonas vaginalis
 Epidemiologi
Trikomoniasis vagina ditemukan di mana-mana, sukar untuk menentukan frekuensi
penyakit ini di suatu daerah karena kebanyakan penelitian dilakukan pada golongan tertentu
saja seperti golongan wanita hamil (18 – 25 % di AS) dan dari klinik ginekologi ( 30 – 40 %
di Eropa timur ). Di Indonesia berdasar hasil penelitian di RSCM Jakarta terdapat 16% kasus
dari klinik kebidanan dan 25 % wanita dari klinik ginekologi ( sample sebanyak 1146 orang
). Trichomonas vaginalis biasanya ditularkan melalui hubungan seksual dan ternyata
organisme ini dapat bertahan hidup selama 45 menit di tempat dudukan toilet, pakaian mandi
dan air hangat. Penularan perinatal ditemukan sekitar 5 % dari ibu yang terinfeksi
trikomoniasis, tetapi biasanya sembuh dengan sendirinya ( self – limited ) oleh karena
metabolism dari hormon ibu.(Prasetyo H.R,2002)
Pada wanita Trichomonas vaginalis sering diketemukan pada kelompok usia 20 – 49
tahun , berkembang pada usia muda dan usia lanjut dan jarang terjadi pada anak gadis. Pada
penelitihan sekitar tahun enampuluhan angka infeksi Trichomonas vaginalis mencapai tiga
kali lipat dari infeksi candida pada wanita yang telah menikah. Dan angka ini bervariasi dapat
mencapai 15 % atau lebih terutama pada wanita yang kurang memperhatikan kualitas
kebersihan pribadinya .(Chin J,1973)
F. Penyebaran dan gejala Trichomonas vaginalis
 Penyebaran Trichomonas vaginalis
Trichomonas vaginalis disebabkan oleh sejenis parasit berukuran kecil yang
disebut Trichomonas vaginalis. Parasit ini biasanya disebarkan melalui hubungan seks tanpa
kondom atau saling berbagai alat/mainan seks. Penyakit ini tidak bisa ditularkan melalui:
Seks oral. Seks anal. Ciuman. Berbagi pemakaian alat makan, dudukan toilet, dan handuk.
Trichomonas vaginalis dapat terjadi pada wanita maupun pria . Pada wanita penularan
penyakit ini dapat terjadi secara langsung dan tidak langsung . penularan secara langsung
terutama melalui hubungan seksual dan penularan secara tidak langsung dapat terjadi pada
penggunaan fasilitas umum yang kurang terjaga kebersihannya seperti toilet , kolam renang,
pakaian dan air sungai yang telah terkontaminasi. Sedangkan pada pria biasanya hanya terjadi
penularan secara langsung yaitu melalui hubungan seksual. Gejala dari infeksi ini sangatlah
luas pada wanita, umumnya infeksi ini menyerang daerah vagina yang biasanya ditandai
dengan keputihan abnormal hingga terjadi radang pada vagina atau vaginitis , sedangkan
pada pria biasanya menginfeksi pada urethra.
T. vaginalis menyerang mukosa urogenital manusia di mana menginduksi
peradangan. Ada banyak mekanisme yang dianggap bertanggung jawab untuk sukses
kolonisasi: mengikat dan degradasi komponen dari lendir dan protein matriks ekstraseluler,
mengikat sel inang termasuk sel epitel vagina dan sel-sel kekebalan, fagositosis bakteri
vagina dan sel inang, dan endositosis protein host. T. vaginalis parasit ini juga berfungsi
sebagai vektor untuk penyebaran organisme lain, membawa patogen menempel ke
permukaan mereka ke dalam tuba tubes. Infeksi T. Vaginalis, biasanya ditularkan secara
seksual (masa inkubasi 3-28 hari). Tanda dan gejala biasanya muncul dalam waktu satu bulan
datang ke dalam kontak dengan tricomonas.
Penularan umumnya melalui hubungan kelamin, tetapi dapat juga melalui
pakaian handuk atau karena berenang / mandi di air yang telah terkontaminasi Trichomonas
vaginalis. Oleh karena itu trikomoniasis ini terutama ditemukan pada orang dengan
aktifitas seksual yang tinggi, tetapi dapat juga diketemukan pada bayi yang baru lahir
dan penderita setelah menopause. Penderita wanita lebih banyak disbanding pria karena
kurang memperhatikan kebersihan dan kelembaban alat kelaminnya. (Jawets E,2005)
Trichomonas vaginalis mampu menimbulkan peradangan pada dinding salran
urogenital dengan cara invasi sampai mencapai jaringan epitel dan sub epitel. Intensitas
infeksi, status pH , fisiologis permukaan vagina dan saluran genitourinaria lain serta floral
bakteri yang menyertai merupakan factor yang mempengaruhi patogenitas. Masa tunas rata –
rata 4 hari sampai 3 minggu . organisme tidak bertahan hidup dalam keasaman vagina normal
yaitu pada pH 3,8 – 4,4 . (Cook GC,1996)

Gambar 3 Vagina yang terinfeksi oleh Trichomonas vaginalis gambar diambil dari
;http://labkesehatan.blogspot.com
Trichomonas vaginalis masuk kedalam vagina melalui hubungan seksual, maupun
kontaminan air sungai , yang kemudian menyerang epitel squamosa vagina dan mulai
bermultiplikasi secara aktif . Hal ini menyebabkan suplai glikogen untuk
kuman lactobacillus menjadi berkurang bahkan menjadi tidak ada sama sekali . Dan
diketahui secara invitro ternyata Trichomonas vaginalis ini memakan dan
membunuh lactobacillusdan bakteri lainnya . Akibatnya jumlah lactobacillus Doderline
menjadi sedikit dan dapat hilang sama sekali sehingga produksi asam laktat akan semakin
menurun. Akibat kondisi ini , pH vagina akan meningkat antara 5,0 – 5,5 . pada suasana pH
seperti ini selain Trichomonas vaginalis berkembang semakin cepat , akan memungkinkan
untuk berkembang mikroorganisme pathogen lainnya seperti bakteri dan jamur.
Trichomonas vaginalis yang di tularkan dengan jumlah cukup ke dalam vagina dapat
berkembang biak, bila flora bakteri, pH dan keadaan fisiologi vagina sesuai. Setelah
berkembang biak ,terjadi degenerasi dan deskuamasi sel epitel vagina. Di sekitar vagina
tedapat sedikit leukosit dan parasit bercampur dengan sel epitel.
Sekret vagina mengalir keluar vagina dan menimbulkan gejala flour albus. Setelah
lewat stadium akut, gejala berkurang dan dapat reda sendiri. Pemeriksaan →in speculo,
tampak kelainan berupa vaginitis, dinding vagina dan porsio tampak merah meradang dan
pada infeksi berat →pendarahan-pendarahan kecil.Flour tampak berkumpul di belakang
porsio, encer atau sedikit kental pada infeksi campuran, berwarna putih kekuning2an atau
putih kelabu dan berbusa.
G. Gejala Klinis :
Infeksi Trichomonas vaginalis pada wanita sering menimbulkan gejala: Vaginitis
(radang vagina) dengan discharge purulen (bercak putih kekuningan) merupakan gejala
menonjol, dan dapat disertai dengan lesi vulva (tampak kelainan kulit / bibir vagina) dan
leher rahim, sakit perut, disuria (nyeri ketika berkemih), dan dispareunia (nyeri ketika
berhubungan seks).Masa inkubasi adalah 5 sampai 28 hari. Pada pria, infeksi sering
asimtomatik (tidak memunculkan gejala). Kadang-kadang : uretritis (radang uretra),
epididimitis (radang epididimis), dan prostatitis (radang prostat) dapat terjadi.
Tanda dan gejala biasanya muncul dalam waktu satu bulan datang ke dalam kontak
dengan tricomonas. Berikut tanda atau gejala yang terjadi pada perempuan dan pria.
 Perempuan:
1. Nyeri, peradangan dan gatal-gatal di sekitar vagina. Hal ini dapat
menyebabkan ketidaknyamanan ketika berhubungan seks.
2. Suatu perubahan dalam vagina – mungkin ada sedikit atau banyak, dan mungkin tebal
atau tipis, atau berbusa dan kuning. Anda juga mungkin memperhatikan bau aneh
yang mungkin tidak menyenangkan.
3. Kadang-kadang akan ada rasa sakit di daerah selangkangan, meskipun hal ini jarang
terjadi
4. Nyeri ketika buang air.
 Pria:
1. Sebuah cairan yang keluar dari penis, yang mungkin tipis dan keputihan.
2. Nyeri atau sensasi terbakar, ketika melewati urin.
3. Kenaikan frekuensi urinations disebabkan oleh iritasi infeksi
4. Peradangan kulup (ini jarang terjadi)
5. Sekitar setengah dari mereka yang terinfeksi parasit ini tidak mengalami gejala apa
pun.
H. Diagnosa
 Diagnosa Laboratorium
Ada beberapa cara pemeriksaan laboratorium yang dapat dilakukan untuk
mendiagnosis trikomoniasis. Diagnosis dapat ditegakkan melalui hal – hal berikut ini :
1. Gejala klinis.
Diagnosis ditegakkan melalui gejala klinis baik yang subyektif maupun obyektif.
Tetapi diagnosis sulit ditegakkan pada penderita pria dimana trikomoniasis pada pria hanya
dijumpai sedikit organismeTrichomonas vaginalis dibandingkan dengan wanita penderita
trikomoniasis.(Chin J,2000)
2. Pemeriksaan mikroskopik.
Pemeriksaan secara mikroskopik dapat dibedakan menjadi 2 berdasarkan sampel yang
digunakan sebagai bahan pemeriksaan yaitu :
 Sediaan sekret vagina
Pengambilan sampel sekret vagina dilakukan dengan cara – cara pap smear.
Kemudian buat sediaan lalu dilakukan pengecatan dan lihat di bawah mikroskop.
Pemeriksaan mikroskopis secara langsung dapat juga dilakukan dengan cara membuar
sediaan dari sekret vagina yang dicampur dengan satu tetes garam fisiologis diatas gelas
obyek dan langsung dilihat dibawah mikroskop.
Pemberian beberapa tetes KOH 10 – 20 % pada cairan vagina yang diperiksa , dapat
menimbulkan bau yang tajam dan amis pada 75% wanita yang positif trikomoniasis dan
infeksi bacterial vaginosis. Tetapi tidak pada mereka yang menderita vulvovaginal
kandidiasis .untuk menyingkirkan bacterial vaginosis dari infeksi trikomoniasis dapat
diketehui dengan memeriksa konsentrasi lactobacillus yang jelas berkurang pada
trikomoniasis dan pH vagina yang basa.
Pada pria , pengambilan sekret dilakukan dengan memencet gland penis sampai cairan
terkumpul diujung gland penis lalu dibuka.
Pada pemeriksaan sekret secara mikroskopik pada mereka yang terinfeksi
trikomoniasis sering dijumpai sel – sel PMN yang sangat banyak , coccobacillus , serta
organisme Trichomonas vaginalis yang pada sediaan yang segar dapat kelihatan
motil. (Mulyati Ompungsu,1995)
 Sediaan sedimen urin
Urin yang akan diperiksa, sebelumnya diputar terlebih dahulu dengan kecepatan
rendah selama 5 menit, kemudian dibuang supernatannya. Sedimen yang mengendap pada
dasar tabung tersebut diperiksa secara mikroskopis dengan lensa obyektif 10 kali atau
memakai lensa obyektif 40 kali untuk mengamatiTrichomonas vaginalis . Setelah itu segera
dilakukan pengecatan. (Gracia L.S,2006)
3. Kultur
Selain pemeriksaan secara klinis dan mikroskopis langsung, cara lain yang dapat
dilakukan adalah dengan kultur, terutama pada mereka yang sedikit jumlah
organisme Trichomonas vaginalisnya , seperti pada pria atau wanita penderita trikomoniasis
kronik. (Yunilda,2005)
4. Serologi dan Immunologi.
Pemeriksaan dengan cara ini belum menjamin dan belum cukup sensitive untuk
mendiagnosis infeksi Trichomonas vaginalis . Walaupun sudah banyak penelitihan yang
akhir – akhir ini menggunakan teknik serologi untuk mendiagnosis infeksi Trichomonas
vaginalis .(Andriyani,2005)
I. Pencegahan
penyakit yang disebebkan oleh Trichomonas vaginalis dapat dicegah dengan
berbagai cara, diantaranya yaitu:
 Hindari menggunakan pencuci vagina dengan semprot vagina (spray)
 Kenakan pakaian dalam dari katun agar mudah menyerap kelembaban, dan sirkulasi
udara di sekitar vagina terjaga. Pakaian yang tidak menyerap keringat akan menciptakan
suasana di vagina menjadi lembab dan tentu saja merangasang pertumbuhan bakteri yang
merugikan.
 Meski penampilan terlihat seksi tapi sebisa mungkin hindari celana panjang super ketat
karena dapat menimbulkan rasa hangat dan lembab.
 Ganti pembalut sesering mungkin jika sedang mengalami haid.
 Jaga kebersihan vagina baik sebelum dan sesudah behubungan seks.
 Membasuh vagina dengan bersih setiap kali membuang air besar dan keringkan dengan
tisu.
 Setelah buang air besar, bilaslah dengan air dari arah depan ke belakang. Cara ini dapat
mencegah penyebaran bakteri dari arah anus ke vagina.
 Jaga Organ intim tetap bersih dan kering.
 Jaga berat badan ideal. karena kegemukan dapat membuat paha tertutup rapat dan
membuat lingkungan vagina lembab akibat kurang sirkulasi.
 Mengkonsumsi makanan sehat bergizi, jangan terlalu banyak mengandung gula dan
tepung karena dapat mempercepat pertumbuhan bakteri merugikan.
 Hindari stress karena daya tahan tubuh bisa menurun dan dapat mengundang infeksi.
 Jangan lupa olahraga teratur agar kekebalan tubuh terjaga.
 Pencegahan infeksi yang disebabkan oleh trichomonas vaginalis dapat dilakukan dengan:
 Penyuluhan dan pendidikan terhadap pasien dan masyarakat umumnya tentang infeksi ini.
 Diagnosis dan penanganan yang tepat pada pasangan penderita tricomoniasis.
 Pemakaian kondom dapat dijadikan sebagai salah satu cara untuk mencegah tertularnya
pasangan seksual terhadap infeksi ini.
 Tidak berhubungan seksual dengan berganti-ganti pasangan. Dan apabila salah satu
pasangan menderita tricomoniasis, maka sebaiknya pengobatan diberikan kepada kedua
orang pasangan tersebut.

Keterangan gambar :
Trichomonas vaginalis trofozoit
1. Membran bergelombang
2. Inti
3. Axosyl
4. Flagelata anterior
5. Flagelata posterior
Ciri khas :
1..Memiliki 4 Flagel anterior dan 1 flagel
posterior
2.Terdapat inti yang lonjong
3.Terdapat axostyl halus
J. Bahan Diskusi :

1.Sebutkan habitat dari Trichomonas vaginalis : Vagina dan Uretra

2.Jelaskan cara mendiagnosa Trikomoniasis : Menemukan trofozoit pada sekret vagina,urine


atau feses padat . gejalanya seperti terjadi peradangan pada vagina/uretra

K. Pembahasan :

Trichomonas vaginalis hanya memiliki bentuk tropozoit,berukuran antara 15 – 20 x


10 µ, tidak berwarna dan bentuknya cuboid. Sitoplasmanya bergranula, terletak di sekitar
custa dan axostyle (kapak). Membran bergelombang, berakhir pada pertengahan tubuh
flagella bebas. Sitostoma tidak nyata dan hanya mempunyai nukleus.

Intinya berbentuk oval dan terletak dibagian atas tubuhnya, dibelakang inti terdapat
blepharoblas sebagai tempat keluarnya 4 buah flagella yang menjuntai bebas dan
melengkung, di ujungnya sebagai alat geraknya yang “maju-mundur”. Flagella kelima
melekat ke undulating membrane dan menjuntai kebelakang sepanjang setengah panjang
tubuh protozoa ini. Sitoplasma terdiri dari suatu struktur yang berfungsi seperti tulang yang
disebut sebagai axostyle. Vakuola, partikel, bakteri, virus, ataupun leukosit dan eritrosit
(tetapi jarang) dapat ditemukan di dalam sitoplasma Trichomonas vaginalis ini memperoleh
makanan secara osmosis dan fagositosis. Makanannya adalah kuman-kuman darisel-sel
vagina dan leukosit.

Perkembangbiakannya dengan cara berkembang biak secara belah pasang


longitudinal dan inti membelah dengan cara mitosis yang dilakukan setiap 8 sampai 12 jam
dengan kondisi yang optimum. Jadi tidak heran bila dalam beberapa hari saja protozoa ini
dapat berkembang mencapai jutaan. Tidak seperti protozoa lainnya, trichomonas tidak
memiliki bentuk kista. Sel-sel trichomonas vaginalis memiliki kemampuan untuk melakukan
fagositosis.

Trichomonas vaginalis dapat diidentifikasi dari sediaan sekret vagina yang masih
segar, dimana kita dapat melihat organisme ini secara jelas pergerakannya. Selain dari sekret
vagina yang masih segar lebih baik karena protozoa ini sangat sensitif dan mudah mati,
apalagi pada urine bisa terdapat sel-sel lain (seperti leukosit) yang menyulitkan kita untuk
membedakannya.
Pada wanita, Trichominiasis menyebabkan vaginitis (radang vagina) dengan fluor
albus yang berwarna putih seperti cream dan berbuih. Bagian vulva dan cervic bisa
mengalami peradangan. Sedangkan pada pria jarang menunjukkan tanda yang jelas, tetapi
dapat pula terjadi uretritis dan prostatitis. Pria biasanya mendapatkan infeksi ini dari
hubungan seksual dengan wanita yang terinfeksi trichomonas vaginalis

L. Kesimpulan :

Dari praktikum kali ini dapat disimpulkan kita dapat mengidentifikasi jenis protozoa
usus spesies Trichomonas vaginalis dengan morfologi trofozoitnya dan mengetahui bahwa
Trichomonas vaginalis hanya memiliki satu stadium saja yaitu stadium trofozoit.

M. Daftar Pustaka :
 (http://1.bpblogspot.com/ gambar trichomonas vaginalis.JPG
 http://Carahackfacebook.com
 http://labkesehatan.blogspot.com
 https://atlmkes.wordpress.com/2017/06/21/pengamatan-trichomonas-vaginalis-
pada-urine-wanita-lanjut-usia/
 Trichomonas vaginalis. Online.
http://catatananaliskesehatan.blogspot.co.id/2011/09/trichomonas-
vaginalis.html.diakses 10 september 2018