Anda di halaman 1dari 4

Konsep-Konsep Hukum dan Aliran-Aliran Hukum

1. Aliran Hukum Alam.


Menurut ajaran aliran ini bahwa yang dimaksud dengan hukum alam adalah
hukum yang berlaku universal dan abadi. Hukum alam ioni ada yang bersumber dari
Tuhan [irasional] dan ada yang bersumber dari akal [rasio] manusia. Konsepsi hukum
alam yang berasal dari Tuhan terutama dikembangkan oleh para pemikir skolastik pada
abad pertengahan antara lain Thomas Aquino Gratianus [Decretum], John Salisbury,
Dante, Piere Dubois, marsilius Padua , Johannes Haus, dan lain-lain. Sedangkan hukum
alam yang bersumber dari akal manusia pendasarnya antara lain adalah Hugo De Groot,
Grotius, Christian Thomasius, Immanuel Kant, Fichte Hegel, dan Rudolf Stammler.
Friedmann mengatakan bahwa sejarah hukum alam merupakan sejarah umat
manusia dalam usahanya dalam menemukan apa yang dikatakan keadilan yang mutlak
[absolute justice]. Tokok penting lainnya adalah Plato dan Ariatoteles yang merumuskan
tentang keadilan sebagai rekaman dialog antarta Socrates dan kaum Sofi . Dalil kaum
Sofi adalah mempertahankan penguasa karena penguasa adalah orang pilihan dimana
pada saat itu pilihan terletak pada factor darah [darah biru, bangsawan] yang patut
menjadi pemimpin/penguasa seperti raja [masa Yunani]. Socrates melihat adanya
tindakan sewenang-wenang dari raja. Sedangkan Plato berpendapat, bila mana ada
ketidakcocokan antara hukum alam dengan hukum positif, maka yang akan didahulukan
adalah hukum alam [idealis] . Kemudian Aristoteles mengatakan bila terjadi seperti hal
diatas, maka yang didahulukan adalah hukum positif [realis].
Selanjutnya Satjipto Rahardjo membedakan hukum alam sebagai metode dan
hukum alam sebagai substansi. Sebagai metode hukum alam memusatkan dirinya pada
usaha untuk menemukan metode yang bisa dipakai untuk menciptakan peraturan-
peraturan yang mampu menghadapi keadaan yang selalu berubah dan berbeda disetiap
zaman. Dengan demikian ia tidak mengandung norma-norma sendiri, melainkan hanya
member tahu tentang bagaimana membuat peraturan yang baik. Sebaliknya hukum alam
sebagai substansi [isi] berisikan norma-norma . Peraturan-peraturan dapat diciptakan dari
asas-asas yang mutlak yang lazim dikenal sebagai peraturan-peraturan hak-hak asasi
manusia.

2. Aliran Positivisme Hukum.


Aliran ini memiliki konsep bahwa hukum merupakan perintah penguasa yang
berdaulat [John Austin], dan merupakan kehendak dari Negara [Hans Kelsen]. Austin
beranggapan bahwa hukum berisi perintah, kewajiban, kedaulatan dan sanksi. Dari
pendpat diatas didalam aliran ini dikenal ada dua sub aliran, masing-masing ;
- Aliran hukum psitif yang analitis [John Austin].
- Aliran hukum positif yang murni [Hans Kelsen].
Pandangan Hans Kelsen tentang teori hukum positif yang murni sebagai barikut;
a. Hukum harus dibersihkan dari anasir-anasir yang non yuridis. Jadi harus murni
yuridis normative yang bersih dari hal-hal yang menyangkut baik buruk nilai-nilai
yang tumbuh dan berkembang dalam masyarkat, kekuasaan dan keadilan.
b. Penegakan Hukum yaitu;
-hukum ditegakkan demi kepastian hukum;
-hukum dijadikan sumber utama bagi hakim dalam memutus perkara;
-hukum tidak didasarkan kepada kebijaksanaan dalam pelaksanaannya;
-hukum itu bersifat dogmatic.
c. Hukum bersifat hierarkis yaitu hukum yamng paling bawah tidak boleh bertintang
dengan Ketentuan yang lebih tinggi.
d. Hukum dibagi dua yaitu; hukum dalam arti bentuknya formal [das sollen] dan hukum
dalam arti Isi/nyatanya/materiil [das sein].

3. Aliran Utilitarianisme.
Pendasr aliran ini adalah Jeremi Bentham, John Stuart Mill dan Rudolf Von
Jhering. Aliran ini berpendapat bahwa manusia hendaknya bertindak untuk mendapatkan
kebahagiaan yang sebesar-besarnya dan mengurangi penderitaan. Ukuran baik buruknya
suatu perbuatan manusia tergantung kepada apakah perbuatan itu mendatangkan
kebahagiaan atau tidak. Ditegaskannya bahwa pembentukan UU hendaknya dapat
melahirkan UU yang dapat mencerminkan keadilan bagi semua individu, yang berarti
perundangan itu hendaknya dapat memberikan kebahagiaan yang terbesar bagi sebagian
besar masyarakat.

4. Mazhab Sejarah.
Pendasar aliran ini adalah Carl Von Svigny yang menegaskan inti ajarannya
bahwa hukum itu tidak dibuat , tetapi tumbuh dan berkembang bersama masyarakat.
Pandangannya bertitik tolak bahwa di dunia ini terdapat banyak bangsa , dan tiap-tiap
bangsa memiliki suatu volksgeist [jiwa rakyat]. Jiwa ini berbeda baik menurut waktu
maupun tempat. Pencerminannya Nampak pada kebudayaannya masing-masing yang
berbeda-beda. Hukum bersumber dari jiwa rakyat ini, karena itu hukum akan berbeda
pada setiap waktu dan tempat. Jadi apa yang menjadi isi dari hukum itu ditentukan oleh
pergaulan hidup manusia dari masa ke masa. Hukum berkembang dari masyarakat
sederhana yang tercermin pada setiap tingkah laku individu-individu kepada masyarakat
yang kompleks, dimana kesadaran hukum masyarakat Nampak pada ucapan-ucapan para
ahli hukumnya.

5. Aliran Sociological Jurisprudence.


Aliran ini dipelopori oleh Eugen Ehrlich. Aliran ini dapat dikatakan sebagai salah
satu aliran yang lahir dari berbagai pendekatan. Ajaran pokopk dari pendirinya yang
sangat berpengaruh bertolak dari anggapan bahwa terdapat perbedaan antara hukum
positif disatu pihak dengan hukum yang hidup dalam masyarakat [living law] di lain
pihak. Dikatakannya hukum positif akan memiliki daya berlaku yang efektif apabila
berisikan atau selaras dengan hukum yang hidup dalam masyarakat terssebut. Karena itu
hukum harus dilihat sebagai suatu lembaga kemasyarakatan yang berfungsi untuk
memenuhi kebutuhan-kebutuhan social, dan hendaknya mempelajari hukum sebagai
suatu proses [law in action], yang dibedakannya dengan hukum yang tertulis [law in
books].

6. Aliran Realisme Hukum.


Aliran ini dipelopori oleh Roscoe Pound yang menegaskan bahwa hukum dapat
berperan ssebagai alat pembaharuan masyarakat . Tokoh lain aliran ini Oliver Wendell,
Holmes, Jerome Frank dan Karl Llewellyn, mereka kaum realis terssebut mendasarkan
pemikirannya pada suatu konsepsi radikal mengenai proses peradilan. Hakim itu lebih
layak disebut hukum daripada menemukannya. Hakim harus selalau melakukan pilihan
terhadap suatu yang diutamakan dan mana yang layak dimenangkan. Mereka selalu
menekankan pada aspek manusiawi. Selanjutnya dikatakan bahwa hukum adalah alat
untukmencapai tujuan social dalam situasi yang selalu berubah-ubah.
Llewellyn mengatakian cirri-ciri dari aliran realism hukum adalah
- Realisme bukanlah suatu aliran/mazhab, melainkan suatu gerakan dalam cara berfikir
dan cara bekerja terkait masalah hukum;
- Realisme adalah suatu konsepsi mengenai hukum yang berubah-ubah dan sebagai alat
untuk mencapai tujuan social, maka tiap bagiannya harus diselidiki mengenai tujuan
maupun hasilnya, sehingga keadaan social lebih cepat berubah disbanding dengan
hukum.
- Realisme mendasarkan ajarannya dengan pemisahan antara sollen dan sein dalam
rangka penyelidikan. Untuk mencapai tujuan penyelidikan tersebut harus diperhatikan
nilai-nilai dan obsevasinya dengan memposisikan diri seobyektif mungkin.
- Realisme bermaksud melukiskan situasi yang sebenarnya dari kejadian dalam
pengadilan dan sikap masyarakat, maka dirumuskan aturan-aturan yang dijadikan
pedoman sekaligus ramalan-ramalan mengenai apa yang dikerjakan pengadilan.
- Sebagai sebuah gerakan realisme menekankan bahwas pada perkembangan setiap
bagian hukum harus selalu diperhatikan berbagai kemungkinan akibat yang akan
terjadi.

7. Aliran Studi Hukum Kritis [critical legal studies].


Tokoh aliran ini adalah Ronald Drowkin menegaskan bahwa Critical legal studies
merupakan arus pemikirang hukum yang mencoba keluar dari pikiran-pikiran yang
dominan beerlaku di Amerika. Aliran ini mencoba menentang paradigm liberal yang
melekat dalam studi hukum/jurisprudence melalui metodenya yang dinamakan metode
dekonstruksi. Dengan metide ini mencoba mengintegerasikan dua paradigm yang saling
bersaing yaitu antara paradigm konflik dan paradigm consensus, pewarisan pemikiran
marxis atau kritk marxis terhadap hukum liberal yang dianggapnya hanya melayani siste
kapitalisme, dengan menggunakan metode ekletis yang membaurkan sekaligus
perspektif strukturalis fenomenologis dan neo Marxis.