Anda di halaman 1dari 13

A.

KONSEP DASAR KONSEP DIRI


1. PENGERTIAN
Konsep diri adalah semua pikiran, keyakinan dan kepercayaan yang merupakan
pengetahuan individu tentang dirinya dan mempengaruhi hubungannya dengan orang
lain. Konsep diri tidak tidak terbentuk waktu lahir, tetapi dipelajari sebagai hasil
pengalaman unik seseorang dalam dirinya sendiri, dengan orang terdekat, dan realitas
dunia ( stuart, 2006)
Konsep diri atas komponen-komponen berikut ini :
a. Citra tubuh (body image)
Citra tubuh (body image) adalah kumpulan sikap individu yang didasari dan tidak
disadari terhadap tubuhnya. Termasuk persepsi serta perasaan masa lalu dan sekarang
tentang ukuran, fungsi, penampilan, dan potensi. Citra tubuh dimodifikasi secara
berkesinambungan dengan persepsi dan pengalaman baru.
Hal- hal penting yang terkait dengan gambaran diri seperti focus individu terhadap
fisik lebih menonjol pada usia remaja, bentuk tubuh tinggi badan dan berat badan
serta tanda-tanda pertumbuhan kelamin sekunder, menjadi gambarab diri, cara
individu memandang diri berdampak penting terhadap aspek psikologis, gambaran
yang realistic terhadap menerima dan menyukai bagian tubuh, akan memberi rasa
aman dalam menghindari kecemasan dan meningkatkan harga diri, serta individu
yang stabil, realistic, dan konsisten terhadap gambaran dirinya, dapat mendorong
sukses dalam kehidupan.
b. Ideal diri (self ideal)
Ideal diri adalah persepsi idividu tentang bagaimana dia seharusnya berperilaku
berdasarkan standar, aspirasi, tujuan, atau nilai personal tertentu. Sering juga disebut
ideal diri sama dengan cita-cita, keinginan, harapan tentang diri sendiri.
Hal-hal yang terkait dengan ideal diri meliputi perkembangan awal terjadi pada masa
kanak-kanak, terbentuknya masa remaja melalui proses identifikasi terhadap orang
tua , guru dan teman. Dipengaruhi oleh orang-orang yang dipandang penting dalam
memberi tuntunan dan harapan serta mewujudkan cita-cita dan harapan pribadi
berdasarkan norma keluarga dan sosial. Faktor-faktor yang mempngaruhi ideal diri
yaitu menetapkan ideal diri sebatas kemampuan, faktor kultur dibandingkan dengan
standar orang lain, hasrat melebihi orang lain, hasrat mengindari kegagalan, dan
adanya perasaan cemas dan ideal diri.
c. Identitas diri (self identifity)
Idetitas pribadi adalah prinsip perorganisasian kepribadian yang bertanggung jawab
terhadap kesatuan, kesinambungan, konsistensi, dan keunikan individu. Pembentukan
identitas dimulai pada masa bayi dan terus berlangsung sepanjang kehidupan tapi
merupakan tugas utama pada masa remaja. Menurut Sunaryo (2004) identitas diri
merupakan kesadaran akan diri pribadi yang bersumber dari pengamatan dan
penilaian, sebagai sintesis semua aspek konsep diri dan menjadi satu kesatuan yang
utuh. Hal-hal penting yang terkait dengan identitas diri, yaitu :
1) Berkembang sejak masa kana-kanak, kebersamaan dengan berkembangnya
konsep diri.
2) Individu yang memiliki perasaan identitas diri kuat akan memandang dirinya
tidak sama dengan orang lain, unik, dan tidak ada duanya.
3) Identitas jenis kelamin berkembang secara bertahap sejak bayi.
4) Identitas jenis kelamin dimulai dengan konsep laki-laki dan perempuan serta
banyak dipengaruhi oleh pandangan maupun perlakuan masyarakat.
5) Kemandirian timbul dari perasaan berharga, menghargai diri sendiri, kemampuan,
dan penguasaan diri.
6) Individu yang mandiri dapat mengatur dan menerima dirinya.
d. Peran diri (self role)
Menurut stuart (2006), peran diri merupakan serangkaian pola perilaku yang
diharapkan oleh lingkungan sosial berhubungan dengan fungsi individu di berbagai
kelompok sosial. Peran yang diterapkan adalah peran yang dijalani dan seseorang
tidak mempunyai pilihan. Peran yang diambil adalah peran yang tepilih oleh individu.
Menurt sunaryo (2004), peran diri adala pola perilaku, sikap, nilai, dan aspirasi yang
diharapkan individu berdasarkan posisinya dimasyarakat. Setiap individu disebukkan
oleh oleh berbagai macam peran yang terkait dengan posisinya.
Hal-hal penting terkait dengan peran diri, yaitu
1) Peran dibutuhkan individu sebagai aktualisasi diri.
2) Peran yang memenuhi kebutuhan dan sesuai ideal diri, menghasilkan harga diri
yang tinggi atau sebaliknya.
3) Posisi individu di masyarakat dapat menjadi stressor terhadap peran
4) Stress peran timbul karena struktur sosial yang menimbulkan kesukaran atau
tuntunan posisi yang tidak mungkin dilaksanakan.
5) Harga diri (self esteem)
Harga diri merupakan penilaian individu tentang nilai personal yang diperoleh
dengan menganalisis seberapa sesuai perilaku dirinya dengan ideal diri. Harga diri
yang tinggi adalah perasaan yang berasal dari penerimaan diri sendiri tanpa
syarat, walaupun melakukan kesalahan, kekalahan dan kegagalan, tetap merasa
sebagai seorang yang penting dan berharga (stuart,2006).

2. RENTANG RESPON
Konsep diri merupakan aspek kritikal dan dasar dari prilaku individu. Individu dengan
kosep diri yang positif yang berfungsi lebih efektif yang terlihat dari kemampuan
interpersonal, kemampuan intelektual dan penguasaan lingkungan. Konsep diri yang
negative dapat dilihat dari hubungan individu dan sosial yang maladaptive. Rentang
respon individu terhadap konseop dirinya dapat dilihat pada gambar dibawah ini.

Respon adaptif respon maladaptif

Aktualisasi diri , konsep diri positif , harga diri rendah, kerancuan identitas ,
dipersonalisasi

a. Aktualisasi diri adalah pernyataan diri tentang konsep diri yang positif dengan
latar belakang pengalaman nyata yang sukses dan dapat diterima.
b. Konsep diri positif merupakan bagaimana seseorang memandang apa yang
ada pada dirinya sendiri meliputi citra dirinya, ideal diri, harga dirinya,
penampilan peran serta identitas dirinya secara posistif. Hal ini akan
menunjukkan bahwa individu itu akan menjadi individu yang sukses .
c. Harga diri rendah merupakan perasaan negative terhadap dirinya sendiri,
termasuk kehilangan percaya diri, tidak berharga, tidak berguna, pesimis,
tidak ada harapan dan putus asa. Adapun perilaku yang berhubungan dengan
harga diri yang rendah yaitu mengkritik diri sendiri dan atau orang lain,
penurunan produktivitas, destruktif yang diarahkan kepada orang lain,
gangguan dalam berhubungan, perasan tidak mampu, rasa bersalah, perasaan
negative mengenai tubuhnya sendiri, keluhan fisik, menarik diri secara sosial,
khawatir, serta menarik diri dan realitas.
d. Kerancuan identitas merupakan suatu kegagalan individu untuk
mengintegrasikan berbagai identifikasi masa kana-kanak ke dalam
kepribadian psikososial dewasa yang harmonis. Adapun perilaku yang
berhubungan dengan kerancuan identitas yaitu tidak ada kode moral, sifat
kepribadian yang bertentangan, hubungan interpersonal ekploitatif, perasaan
hampa. Perasaan mengembang tentang diri sendiri, tingkat ansietas yang
tinggi, ketidakmampuan untuk empati terhadap orang lain.
e. Depersonalisasi merupakan suatu perasaan yang tidak realistis dimana klien
tidak dapat membedakan stimulus dari dalam atau luar dirinya. Individu
mengalami kesulitan untuk membedakan dirinya sendiri dari orang lain, dan
tubuhnya sendiri merasa tidak nyata dan asing baginya.

B. KONSEP DASAR HARGA DIRI RENDAH


1. DEFINISI
Harga diri rendah adalah perasaan tidak berharga, tidak berarti dan rendah diri
yang berkepanjangan akibat evaluasi yang negative terhadap diri sendiri atau kemapuan
diri. Adanya perasaan hilang kepercayaan diri, merasa gagal karena tidak mampu
mencapai keinginan sesuai ideal diri (Yosep, 2009)
Harga diri rendah merupakan sikap atau perasaan tidak berharga dan merasa
rendah diri karena karena evaluasi negative terhadap kemampuan dan diri sendiri
(Depkes, 2004)
Harga diri rendah adalah penilaian individu tentang nilai personal yang diperoleh
dengan menganalisis seberapa baik perilaku seseorang sesuai dengan ideal diri (Stuart
dan Sundeen, 2007)

2. KLASIFIKASI
Menurut Fitria (2009), harga diri rendah dibedakan menjadi 2, yaitu:
a. Harga diri rendah situasional adalah keadaan dimana individu yang sebelumnya
memiliki harga diri positif mengalami perasaan negatif mengenai diri dalam
berespon, terhadap suatu kejadian (kehilangan, perubahan).
b. Harga diri rendah kronik adalah keadaan dimana individu mengalami evaluasi diri
yang negatif mengenai diri atau kemampuan dalam waktu lama.

3. PATOFISOLOGI
Harga diri rendah diakibatkan oleh rendahnya cicta-cita seseorang. Hal ini
mengakibatkan berkurangnya tantangan dalam mencapai tujuan. Tantangan yang
rendah menyebabkan upaya yang rendah, selanjutnya hal ini menyebabkan
penampilan seseorang yang tidak optimal. Dalam tinjauan life span history penyebab
HDR adalah pada masa kecil sering disalahkan. Jarang di beri pujian atas
keberhasilannya saat individu mencapai masa remaja keberadaanya kurang dihargai.
Harga diri rendah muncul saat lingkungan cenderung mengucilkan atau menuntut
kemampuannya.

4. ETILOGI
a. Faktor predisposisi
1) Faktor yang mempengaruhi harga diri, meliputi penolakan orang tua, harapan
orang tua yang tidak realistis, kegagalan yang berulang, kurang memiliki
tanggung jawab personal, ketergantungan pada orang lain, dan ideal diri yang
tidak realistis.
2) Faktor yang memengaruhi performa peran adalah steriotif peran gender,
tuntutan peran kerja, dan harapan peran budaya. Nilai-nilai budaya yang tidak
dapat diikuti oleh individu.
3) Faktor yang memengaruhi identitas pribadi, meliputi ketidakpercayaan orang
tua, tekanan dari kelompok sebaya, dan perubahan struktur sosial.
b. Stresor pencetus
Stresor pencetus dapat berasal dari sumber internal dan elsternal, yaitu sebagai
berikut:
1) Trauma seperti penganiayaan seksual dan psikologis atau menyaksikan
peristiwa yang mengancam kehidupan.
2) Ketergantungan peran, berhubungand engan peran atau posisi yang
diharapkan dan individu mengalaminya seperti frustasi. Ada tiga jenis transisi
peran:
a) Transisi peran perkembangan adalah perubahan normatif yang berkaitan
dengan pertumbuhan. Perubahan ini termasuk tahap perkembangan dalam
kehidupan individu atau keluarga dan norma-norma budaya, nilai-nilai,
serta tekanan untuk menyesuaikan diri.
b) Transisi peran situasi terjadi dengan bertambah atau berkurangnya anggota
keluarga melalui kelahiran atau kematian.
c) Transisi peran sehat-sakit, terjadi akibat pergeseran dari keadaan sehat ke
keadaan sakit. Transisi ini dapat dicetuskan oleh: kehilangan bagian tubuh:
perubahan ukuran, bentuk, penampilan atau fungsi tubuh; perubahan fisik
yang berhubungan dengan tumbuh kembang normal, prosedur medis, dan
keperawatan.

5. TANDA DAN GEJALA


Tanda dan gejala dari harga diri rendah pada seseorang berbeda-beda dan bervariasi
antara individu satu dengan lainnya, tetapi biasanya dimanifestasikan sebagai berikut.
a. Perasaan malu terhadap diri sendiri akibat penyakit/ tindakan, misalnya: malu
karena alopesia setelah dilakukan tindakan kemoterapi.
b. Rasa bersalah terhadap diri sendiri, menyalahkan, mengkritik, mengejek diri
sendiri.
c. Merendahkan martabat: saya tidak bisa, saya bodoh, saya tidak tahu apa- apa,
saya tidak mampu.
d. Gangguan hubungan sosial.
e. Percaya diri kurang, sukar mengambil keputusan.
f. Mencederai diri
g. Mudah marah, mudah tersinggung
h. Apatis, bosan, jenuh dan putus asa
i. Kegagalan menjalankan peran, proyeksi (menyalahkan orang lain).
Berdasarkan pengertian, rentang respon, penyebab, dan tanda gejala harga diri
rendah di atas, maka dapat disimpulkan proses terjadinya masalah klien harga diri
rendah situasional biasanya diakibatkan oleh koping sesorang yang tidak efektif
dalam menghadapai masalah gangguan citra tubuh atau gangguan identitas
personal. Bila, sebagai contoh, seseorang mengalami perubahan fisik akibat
kecelakaan yang menimpa dirinya sehingga salah satu anggota geraknya harus
dilakukan amputasi, maka dalam situasi tersebut secara tiba-tiba klien merasa
harga diri rendah. Bila masalah tersebut tidak diatasi dengan baik oleh klien
kemungkinan akan menyebabkan seseorang merasa tidak berdaya dan timbul
keputusasaan.

C. ASUHAN KEPERAWATAN HARGA DIRI RENDAH


1. PENGANGKAJIAN FOCUS
- Data subjektif :
a. Klien mengatakan dirinya tidak berharga
b. Klien mengatakan malu untuk berhubungan dengan orang lain
c. Klien mengatakan khawatir terhadap penolakan oleh orang lain.
- Data objektif :
a. Kurang spontan ketika diajak bicara, tidak ada kontak mata
b. Apatis, ekpresi wajah kosong
c. Menurun atau tidak adanya komunikasi verbal
2. MASALAH KEPERAWATAN YANG MUNCUL
a. Harga diri rendah
b. Isolasi sosial : menarik diri
c. Koping individu yang tidak efektif
3. POHON MASALAH
Isolasi sosial : menarik diri ………..> efek

Gangguan konsep diri : HDR ………> Core problem

Koping individu tidak efektif ……….> Causa

4. DIAGNOSE KEPERAWATAN
Gangguan konsep diri : HDR

5. RENCANA KEPERWATAN

Dx
Tujuan Kriteria hasil intervensi
keperawatan
Harga diri TUM : Setelah diberikan asuhan a. BHSP dengan
rendah Klien memiliki konsep diri keperawatan selama …x… komunikasi
yang positif diharapkan interaksi terapiutik
TUK 1: dengan klien menunjukkan - Sapa klien
Klien dapat membina rasa senang, ada kontak dengan ramah
hubungan saling percaya mata, mau jabat tangan, bik verbal
dengan perawat. mau menyebutkan nama, maupun
mau menjawab salam, nonverbal
klien mau duduk - Perkenalkan diri
berdampingan dengan dengan sopan
perawat, mau - Tanyakan nama
mengutarakan masalah lengkap dan
yang dihadapi. nama panggilan
yang disukai
pasien
- Jelaskan tujuan
pertemuan
- Beri perhatian
dan perhatikan
kebutuhan dasar
klien.
TUK 2 : Setalah diberikan asuhan b. Diskusikan
Klien dapat mengidentifikasi keperawatan ….x…. dengan klien
aspek positif dan diharapkan interaksi klien tentang :
kemampuan yang dimiliki. menyebutkan : - Aspek positif
- Aspek positif dan yang dimiliki
kemampuan yang klien dan
dimiliki klien. lingkungan
- Aspek positif keluarga - Kemampuan
- Aspek positif lingkungan yang dimiliki
klien. klien

TUK 3: Setelah diberikan asuhan c. Diskusikan


Klien dapat menilai keperawatan selama dengan klien
kemampuan yang ….x…. diharapkan kemampuan
dilaksanakan interaksi klien yang dapat
menyebutkan interaksi dilaksanakan
yang dilaksanakan d. Diskusikan
kemampuan
yang dapat
dilanjutkan
pelaksanaanya.
TUK 4: Setelah diberikan asuhan e. Rencanakan
Klien dapat merencanakan keperawatan selama aktifitas klien
kegiatan sesuai dengan ….x…. diharapkan yang dapat
kemampuan yang dimiliki interaksi klien membuat dilakukan setiap
rencana kegiatan harian. hari sesuai
dengan
kemampuan
klien
f. Tingkatkan
kegiatan sesuai
kondisi klien
g. Beri contoh
pelaksanaan
kegiatan
TUK 5 : Setelah diberikan asuhan h. Beri
Klien dapat melakukan keperawatan selama kesempatan
kegiatan sesuai kondisi sakit ….x…. pertemuan pada klien
dan kemampuannya diharapkan klien dapat untuk mencoba
melakukan kegiatan sesuai kegiatan yang
keadaan dan telah
kemampuannya direncanakan
i. Beri pujian atas
keberhasilan
klien.
j. Diskusikan
kemungkinan
pelaksanaan
dirumah
TUK 6 : Setelah diberikan asuhan k. Beri pendidikan
Klien dapat memanfaatkan keperawatan selama kesehatan
system pendukung yang ada. ….x…. pertemuan tentang cara
diharapkan klien dapat merawat klien
memanfaatkan system dengan harga
pendukung yang ada di diri rendah
keluarga. l. Bantu keluarga
memberikan
dukungan
selama klien
dirawat
m. Bantu keluarga
menyiapkan
lingkungan
rumah.

6. IMPLEMENTASI
Diagnose
Tindakan keperawatan untuk pasien Tindakan keperawatan untuk keluarga
keperawatan
Harga Diri SP 1 P SP 1 K
Rendah 1. Mengidentifikasi kemampuan dan 1. Mendiskusikan masalah yang
aspek positif yang dimiliki pasien dirasakan keluarga dalam merawat
2. Membantu pasien menilai pasien
kemampuan pasien yang masih 2. Menjelaskan pengertian, tanda dan
dapat digunakan gejala harga diri rendah yang
3. Membantu pasien memilih dialami pasien beserta proses
kegiatan yang akan dilatih sesuai terjadinya
dengan kemampuan pasien. 3. Menjelaskan cara-cara merawat
4. Melatih pasien sesuai kemampuan pasien harga diri rendah.
yang dipilih
5. Memberikan pujian yang wajar
terhadap keberhasilan pasien
6. Menganjurkan pasien memasukkan
dalam jadwal kegiatan harian.
SP 2 P SP 2 K
1. Mengevaluasi jadwal kegiatan 1. Melatih keluarga mempaktekkan
harian pasien cara merawat pasien dengan harga
2. Melatih kemampuan kedua diri rendah
3. Menganjurkan pasien memasukkan 2. Melatih keluarga melakukan cara
dalam jadwal kegiatan harian perawat langsung kepada pasien
harga diri rendah

7. EVALUASI
Klien tidak mengalami harga diri rendah
DAPTAR PUSTAKA

Damaiyanti, mukhiripah. 2012. Asuhan keperawatan jiwa. Bandung : PT Refika


Aditama.
Dermawan,deden.2013. Konsep Dan Kerangka Kerja Asuhan Keperawatan
Jiwa.Yogyakarta : Gosyen Publishing.
Carpenito,Lynda juall, 2008. Buku saku diagnose keperawatan. Jakarta : EGC
Stuard and sudden .2005. Buku Saku Keperawatan Jiwa. Edisi 1. Jakarta : EGC
Fitria, N. 2009. Prinsip Dasar dan Aplikasi Penulisan Laporan Pendahuluan Dan
Strategi Pelaksanaan Tindakan Keperawatan (LP dan SP). Jakarta:
Salemba Medika.
http://dokumen.tips/documents/lp-hdr-situasional.html