Anda di halaman 1dari 33

Laporan Kasus Ujian Akhir

Hepatitis Kronis + Tumor Colli Sinistra

Diajukan Oleh :
Jessy Widiyanti
17360113

Pembimbing :
dr. Rina Kriswiastiny, Sp.PD

BAGIAN ILMU PENYAKIT DALAM


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MALAHAYATI
RS PERTAMINA BINTANG AMIN
BANDAR LAMPUNG
2017
LAPORAN KASUS

I. IDENTIFIKASI PASIEN

MR : 093100

Nama lengkap : Tn. M

Jenis kelamin : Laki-laki

Tempat Tanggal Lahir : 15-02-1955

Umur : 62 tahun

Status perkawinan : Menikah

Agama : Islam

Pekerjaan : Buruh lepas

Pendidikan : Tidak sekolah

Alamat : Merbau – Mataram

MRS : 07-12-2017 pukul 14.54 WIB

II. ANAMNESIS

Diambil dari : Alloanamnesa dan autoanamnesa

Jam : 19.00 WIB

Keluhan utama : Nyeri ulu hati berat sejak 10 hari SMRS

Keluhan tambahan : Demam, Lemas, Sakit seluruh badan, Badan kuning,

BAK berwarna seperti teh sejak kurang lebih 2 tahun

1
III. RIWAYAT PERJALANAN PENYAKIT

Anak sulung os mengatakan bahwa sejak lebih dari 10 tahun SMRS, os


sering mengalami nyeri ulu hati hilang timbul dan disertai mual, muntah
disangkal. Beliau mengatakan bahwa os sekeluarga memang memiliki sakit
maag sejak lama yang dirasakan hilang timbul, terutama jika telat makan.
Demam disangkal. Lemas disangkal. BAK dan BAB normal. Os tidak pernah
mau berobat. Os hanya mau diobati secara tradisional (dikerok) dan hanya
sesekali berobat ke mantri jika nyeri ulu hati yang dirasakannya sangat berat.

Sejak 6 tahun SMRS, os mulai sering mengkonsumsi jamu yang dikemas


dalam botol bermerek Kunci Mas setiap kali os merasa lelah atau sakit.
Menurut os jamu tersebut sangat ampuh dalam memulihkan stamina dan
kesehatan os, sehingga jamu tersebut menjadi pilihan utama os ketika sakit
dan merasa lelah. Os selalu membeli jamu tersebut jika menemukannya di
warung.

5 tahun SMRS, keluarga os sudah melarang os untuk mengkonsumsi


jamu tersebut terlalu sering setelah mengetahui bahwa jamu tersebut
dinyatakan berbahaya oleh BPOM untuk di konsumsi, karena mengandung
bahan kimia obat, namun os tidak memperdulikannya. Os baru mulai berhenti
meminum jamu tersebut sejak 2 tahun terakhir karena jamu tersebut semakin
lama sangat sulit ditemukan.

2 tahun SMRS, anak sulung os mengatakan bahwa os mulai mengalami


BAK berwana seperti teh. Nyeri saat BAK disangkal. BAK disertai darah
disangkal. BAB biasa. Demam disangkal. Nyeri ulu hati disertai mual hilang
timbul. Nafsu makan baik. Lemas dan nyeri sendi sering dirasakan hilang
timbul. Os tidak pernah mau berobat. Os hanya mau diobati secara tradisional
(dikerok) dan hanya sesekali berobat ke mantri jika keluhan yang
dirasakannya sangat mengganggu.

6 bulan SMRS, muncul benjolan 1 buah di leher sebelah kiri, noduler,


konsistensi padat, dan tidak dapat digerakkan. Benjolan mula mula berukuran

2
kecil, semakin lama semakin besar dan jumlahnya bertambah menjadi 3 buah.
Os sering merasakan tegang di leher kirinya setiap kali os merasa lelah. Nyeri
saat menelan disangkal. Demam disangkal. Nafsu makan menurun. Namun os
tidak pernah mau berobat untuk mengobati benjolan tersebut karena dirasa
tidak mengganggu. BAK berwana seperti teh masih dirasakan. Nyeri saat
BAK disangkal. BAK disertai darah disangkal. BAB biasa. Demam
disangkal. Nyeri perut terutama di ulu hati disertai mual masih sering
dirasakan hilang timbul. Nafsu makan baik. Lemas dan nyeri sendi sering
dirasakan hilang timbul. Os tidak pernah mau berobat untuk mengobati
keluhan tersebut. Os hanya mau diobati secara tradisional (dikerok) dan
hanya sesekali berobat ke mantri jika keluhan yang dirasakannya sangat
mengganggu.

1 bulan SMRS, nyeri perut hilang timbul dirasakan semakin sering


terutama di ulu hati. Mual (+) BAK berwana seperti teh masih dirasakan.
Nyeri saat BAK disangkal. BAK disertai darah disangkal. BAB biasa. Warna
tinja tidak diperhatikan. Demam disangkal. Lemas dan nyeri sendi sering
dirasakan hilang timbul. Nafsu makan menurun, os terlihat semakin kurus.
Benjolan di leher os semakin membesar. Nyeri (−). Os tidak pernah mau
berobat untuk mengobati keluhan tersebut. Nyeri dan lemas dirasakan hilang
timbul dan menghilang jika os beristirahat. Os hanya mau diobati secara
tradisional (dikerok) dan hanya sesekali berobat ke mantri jika keluhan yang
dirasakannya sangat mengganggu.
10 hari SMRS, menurut keterangan anak sulung os, kulit os mulai terlihat
berwarna kuning, warna mata dan kuku os juga terlihat kuning. Os merasakan
badan terasa sangat lemas dan lelah serta nyeri pada seluruh tubuh yang
dirasakan terus menerus. Nyeri perut dirasakan terus menerus terutama di ulu
hati. Mual (+) Tidak nafsu makan, Muntah (−), BB menurun. BAK berwarna
seperti teh. Nyeri saat BAK disangkal. BAK disertai darah disangkal. BAB
berwarna kuning pucat agak kehijauan. Demam disangkal. Sakit kepala (+)
Os sering gelisah pada malam hari. Benjolan di leher os semakin membesar.
Nyeri (−). Os hanya makan bubur semenjak 10 hari SMRS.
3
5 hari SMRS keluhan os disertai demam tinggi dan menggigil terus-
menerus. Os berobat ke mantri namun tidak ada perbaikan. 1 hari SMRS os
berobat ke puskesmas, kemudian di rujuk ke RSPBA untuk ditangani lebih
lanjut.

IV. RIWAYAT KEBIASAAN

 Os tidak pernah mengkonsumsi minuman alkohol, tetapi sering


mengkonsumsi kopi hitam, minimal 3x/hari
 Os merupakan perokok aktif sejak usia muda. Os merokok sebanyak 2
bungkus/hari dan baru berhenti 10 hari SMR
 Os juga merupakan perokok pasif karena anak Os juga perokok aktif dan
baik os maupun anak os sering merokok di dalam rumah.
 Os rajin mengkonsumsi jamu yang dikemas dalam botol bermerek kunci
Mas sejak 6 tahun SMRS, dimana jamu tersebut telah dinyatakan
berbahaya oleh BPOM sejak 5 tahun yang lalu. Os baru mulai berhenti
mengkonsumsi jamu tersebut sejak 2 tahun SMRS karena sudah sangat
sulit didapatkan
 PHBBS tidak diterapkan oleh os.
 Riwayat minum obat rutin disangkal

V. RIWAYAT LINGKUNGAN DAN TEMPAT TINGGAL

Os tinggal bersama istri dan ke-3 anaknya yang belum menikah. Rumah os
menyatu dengan usaha bengkel yang dikelola anak os, rumah os sangat kotor.
Ventilasi rumah os kurang. Rumah os bau asap rokok. Higienitas sangat buruk.

4
VI. PENYAKIT DAHULU

Batu ginjal/saluran
 Cacar - Malaria -
kemih
 Cacar air - Disentri - Burut (hernia)
- Difteri - Hepatitis - Penyakit prostat
- Batuk rejan - Tifus abdomen - Wasir
- Campak - Hipotensi - Diabetes
 Influenza - Sifilis - Alergi
- Tonsilitis - Gonore - Tumor
- Kholera - Hipertensi - Penyakit Jantung
Demam rematik Ulkus
- - - Asma Bronkhial
akut ventrikulus
- Pneumonia - Ulkus duodeni - Gagal Ginjal Kronik
- Pleuritis  Gastritis - Sirosis Hepatis
- Tuberkulosis - Batu empedu

VII. RIWAYAT PENYAKIT KELUARGA

Keadaan
Hubungan Diagnosa Penyebab Meninggal
Kesehatan
Kakek - - Umur
Nenek - - Umur
Ayah - - Umur
Ibu - - Umur
Saudara - Baik -
Anak-anak - Baik -

Anak ke 2 os mengalami hal mirip dengan os, mata tampak ikterik dan BAK
berwarna teh.
5
VIII. RIWAYAT ALERGI

Os tidak memiliki alergi terhadap makanan, cuaca lingkungan maupun obat-


obatan

IX. RIWAYAT MAKANAN

Frekuensi/ hari : 2 sampai 3 kali sehari

Jumlah/ hari : sedang

Variasi/ hari : variatif

Nafsu makan : menurun

IX. ANAMNESIS SISTEM

Kulit

- Bisul - Rambut - Keringat malam


 Kuku kotor  Kuning/ikterus - Ptekie

Kepala

- Trauma  Sakit kepala


- Sinkop - Nyeri sinus

Mata

- Nyeri  Konjungtiva anemis


- Sekret - Gangguan penglihatan
 Ikterus - Ketajaman penglihatan

6
Telinga

- Nyeri - Tinitus
- Sekret - Gangguan pendengaran
- Kehilangan pendengaran

Hidung

- Trauma - Gejala penyumbatan


- Nyeri - Gangguan penciuman
- Sekret - Pilek
- Epistaksis

Mulut

 Bibir kering  Lidah pucat


- Gusi - Gangguan pengecapan
- Selaput - Stomatitis

Tenggorokan

- Nyeri tenggorokan - Perubahan suara

Leher

- Peningkatan JVP - Nyeri leher


 Tumor

7
Dada (Jantung/Paru)

- Nyeri dada - Sesak nafas


- Berdebar - Batuk darah
- Ortopnoe - Batuk

Abdomen (Lambung/Usus)

- Rasa kembung - Perut membesar


 Mual - Wasir
- Muntah - Mencret
- Muntah darah - Tinja berdarah
- Sukar menelan  Tinja berwarna dempul
 Nyeri perut (epigastrium) - Tinja berwarna hitam
- Benjolan

Saluran kemih/ Alamat kelamin

- Disuria - Kencing nanah


- Ngompol - Kolik
- Poliuri - Oliguria
- Polaksuria - Anuria
- Hematuria - Retensi urin
- Kencing batu - Kencing menetes
- Penyakit prostat

8
Syaraf dan Otot

- Anestesi - Sukar menggigit


- Parastesi (kedua tangan) - Ataksia
 Otot lemah - Hipo/ hiper-esthesia
- Kejang - Pingsan
- Afasia - Kedutan (tiek)
- Amnesia  Pusing
- Lain-lain - Gangguan bicara (disartri)

Ekstremitas

Ekstremias superior dextra et sinistra

- Bengkak (pitting) - Deformitas


 Nyeri sendi - Sianosis
- Ptekie

Ekstremitas inferior dextra et sinistra

- Bengkak (pitting) - Deformitas


 Nyeri sendi - Sianosis
- Ptekie

9
XI. PEMERIKSAAN FISIK

Pemeriksaan Umum

Keadaan umum : tampak sakit berat

Kesadaran : compos mentis

Bentuk badan : Normal

Mobilitas (aktif/pasif) : Pasif

Berat badan rata-rata (kg) : 58 kg

Tinggi badan (cm) : 175 cm

IMT : 18,9 (Berat badan ideal)

Keadaan gizi : cukup

Tekanan darah : 110/80 mmHg

Nadi : 88 x/menit, reguler, isi, tegangan cukup

Suhu : 40⁰C

Pernapasan : 24 x/menit, reguler

Aspek Kejiwaan

Tingkah laku : wajar/gelisah/tenang/hipoaktif/hiperaktif

Alam perasaan : biasa/sedih/gembira/cemas/takut/marah

Proses pikir : wajar/cepat/gangguan waham/fobia/obsesi

10
Keadaan spesifik

Kepala

Ekspresi wajah : gelisah Simetris muka : simetris

Rambut : normal Pembuluh temporal : tidak teraba

Leher

Tekanan vena jugularis : 5 - 2 cmH2O

Tumor (+) leher kiri


- Noduler, ukuran 7cm x 5cm x 3cm
- Konsistensi padat
- Permukaan rata
- Immobile
- Nyeri (-)

Dada

Bentuk : simetris

Buah dada : normal

Sela iga : normal

Paru depan belakang

Inspeksi, Kanan : Simetris, retraksi (-), KGB (-)

Kiri : Simetris, retraksi (-), KGB (-)

Palpasi, : Vokal fremitus kanan dan kiri sama

Perkusi, : Sonor pada kedua lapang paru

Auskultasi, : Bronkhovesikuler paru kanan dan kiri

11
Jantung

Inspeksi : Ictus kordis tidak tampak

Palpasi : Ictus kordis tidak teraba

Perkusi, Atas : ics II linea parasternalis dextra

Kanan : ics II linea parasternalis dextra

Kiri : ics V linea midclavicularis sinistra

Auskultasi : BJ I-II, Gallop (-), Murmur (-)

Abdomen

Inspeksi : Asites (-), distended (-), venektasi(-), caput medusa (-), ikterik (+),

Auskultasi : Bising usus (+), 6 x/menit

Palpasi : Nyeri tekan (+) regio epigastrica dan hipocondriaca sinistra

Hati : Tidak teraba, nyeri tekan (-)

Limpa : Teraba, nyeri tekan (+) regio hipocondriaca sinistra, Schuffner III

Ginjal : Tidak teraba, nyeri ketok cva (-)

Perkusi : Timpani, shifting dullnes (-)

Ekstremitas

Ekstremitas superior dextra dan sinistra: Oedem pitting (-), Deformitas (-)

Bengkak (-), Sianosis (-)

Nyeri sendi (+) Ptekie (-)

12
Ekstremitas inferior dextra dan sinistra: Oedem pitting (-), Deformitas (-)

Bengkak (-), Sianosis (-)

Nyeri sendi (+), Ptekie (-)

XII. PEMERIKSAAN PENUNJANG

Laboratorium : 07 Desember 2017


HEMATOLOGI
PEMERIKSAAN HASIL NORMAL
Lk: 14-18 gr%
Hemoglobin 9,6
Wn: 12-16 gr%
Leukosit 2.400 4500-10.700 ul
Hitung jenis leukosit
 Basofil 0 0-1 %
 Eosinofil 0 1-3%
 Batang 1 2-6 %
 Segmen 60 50-70 %
 Limposit 23 20-40 %
 Monosit 16 2-8 %
Lk: 4.6- 6.2 ul
Eritrosit 3,7
Wn: 4.2- 5,4 ul
Lk: 50-54 %
Hematokrit 26%
Wn: 38-47 %
Trombosit 60.000 159.000-400.000 ul
MCV 83 80-96 fl
MCH 27 27-31 pg
MCHC 32 32-36 g/dl

KIMIA DARAH
PEMERIKSAAN HASIL NORMAL
SGOT 115 10-50 mg/dl
SGPT 60 Lk: 0,6-1,1 mg/dl
Wn:0,5-0,9 mg/dl
HbsAg Negatif

13
07 desember 2017

Rumple Leed test : Negative

XIII. RIWAYAT PERKEMBANGAN PASIEN DI RAWAT INAP

Hari pertama perawatan di bangsal penyakit dalam RSPBA os merasa nyeri


ulu hati menjalar ke perut kiri masih dirasakan, disertai mual dan sakit kepala. OS
mengeluh lemas dan sakit seluruh badan. Os tidak suka dirawat di rumah sakit dan
tidak mau makan apapun dan memaksa untuk segera pulang. Demam tinggi hilang
timbul sering dirasakan. Os sering terlihat gelisah. Hari kedua os mengatakan
nyeri perut dirasakan tidak berkurang, dan terasa mual. Sakit kepala, lemas dan
sakit seluruh badan masih dikeluhkan OS. Demam tinggi masih dirasakan, OS
menolak minum obat tablet yang diberikan pada siang dan malam. Os masih
menolak untuk makan. Os belum makan apapun sejak MRS.

XIV. DAFTAR MASALAH

1. Nyeri ulu hati menjalar ke perut kiri


2. Mual (+) Muntah (-)
3. Lemas
4. Sakit kepala
5. Nyeri seluruh badan
6. Ikterik
7. BAK berwarna seperti teh
8. BAB pucat
9. Benjolan multinodular di leher kiri, konsistensi padat, permukaan halus,
immobile semakin membesar, tidak nyeri sejak 6 bulan SMRS
10. Hb 9,6
11. Leukosit 2.400
12. Monosit 60.000
13. Hematokrit 26%
14. SGOT 115, SGPT 60

14
XV. DIAGNOSIS

Hepatitis kronis + Tumor colli sinistra + Anemia hemolitik + Splenomegali

XVI. DIAGNOSIS BANDING

 Hepatitis kronis + Tumor colli sinistra + Anemia ec perdarahan +


Splenomegali
 Hepatitis kronis + Tumor colli sinistra + Anemia ec autoimun + Splenomegali
 Hepatitis kronis + Tumor colli sinistra + Anemia Cronic Disease +
Splenomegali
 Hepatitis kronis + Limfadenopati colli sinistra + Anemia hemolitik +
Splenomegali
 Hepatitis kronis + Limfadenopati colli sinistra + Anemia ec perdarahan +
Splenomegali
 Hepatitis kronis + Limfadenopati colli sinistra + Anemia ec autoimun +
Splenomegali
 Hepatitis kronis + Limfadenopati colli sinistra + Anemia Cronic Disease +
Splenomegali
 Hepatitis C kronis + Tumor colli sinistra + Anemia hemolitik + Splenomegali
 Hepatitis C kronis + Tumor colli sinistra + Anemia ec perdarahan +
Splenomegali
 Hepatitis C kronis + Tumor colli sinistra + Anemia ec autoimun +
Splenomegali
 Hepatitis C kronis + Tumor colli sinistra + Anemia Cronic Disease +
Splenomegali
 Hepatitis C kronis + Limfadenopati colli sinistra + Anemia hemolitik +
Splenomegali
 Hepatitis C kronis + Limfadenopati colli sinistra + Anemia ec perdarahan +
Splenomegali

15
 Hepatitis C kronis + Limfadenopati colli sinistra + Anemia ec autoimun +
Splenomegali
 Hepatitis C kronis + Limfadenopati colli sinistra + Anemia Cronic Disease +
Splenomegali
 Sirosis Hepatis + Tumor colli sinistra + Anemia hemolitik + Splenomegali
 Sirosis Hepatis + Tumor colli sinistra + Anemia ec perdarahan +
Splenomegali
 Sirosis Hepatis + Tumor colli sinistra + Anemia ec autoimun + Splenomegali
 Sirosis Hepatis + Tumor colli sinistra + Anemia Cronic Disease +
Splenomegali
 Sirosis Hepatis + Limfadenopati colli sinistra + Anemia hemolitik +
Splenomegali
 Sirosis Hepatis + Limfadenopati colli sinistra + Anemia ec perdarahan +
Splenomegali
 Sirosis Hepatis + Limfadenopati colli sinistra + Anemia ec autoimun +
Splenomegali
 Sirosis Hepatis + Limfadenopati colli sinistra + Anemia Cronic Disease +
Splenomegali
 Suspek Malaria + Tumor colli sinistra + Anemia hemolitik
 Suspek Malaria + Tumor colli sinistra + Anemia ec perdarahan
 Suspek Malaria + Tumor colli sinistra + Anemia ec autoimun
 Suspek Malaria + Tumor colli sinistra + Anemia Cronic Disease
 Suspek Malaria + Limfadenopati colli sinistra + Anemia hemolitik
 Suspek Malaria + Limfadenopati colli sinistra + Anemia ec perdarahan
 Suspek Malaria + Limfadenopati colli sinistra + Anemia ec autoimun
 Suspek Malaria + Limfadenopati colli sinistra + Anemia Cronic Disease

16
XVII. PENATALAKSANAAN

- IVFD RL x tpm (mikro)

Ringer Laktat digunakan sebagai pengganti cairan.


- Curcuma 3x1 tab

Merupakan suplemen ekstrak temulawak (Curcuma xhantorriza)untuk

menambah nafsu makan dan memperbaiki fungsi hati

- Asam folat 3x1 tab

Asam folat diberikan sebagai multivitamin tambahan.

- Curcuma 3x1 tab

Merupakan suplemen ekstrak temulawak (Curcuma xhantorriza)untuk

menambah nafsu makan dan memperbaiki fungsi hati

- Ceftriaxon vial 1 gr + 100cc NaCl 2x1

Merupakan obat antibiotik golongan sefalosporin, untuk mengatasi infeksi

bakteri pada tubuh

- Omeprazole ampul 40 mg

Merupakan salah satu obat penghambat sekresi asam lambung, golongan

ppi

17
XVIII. RENCANA PEMERIKSAAN

- IgG anti HCV


- Bilirubin total
- Bilirubin direct
- Bilirubin indirect
- Retikulosit
- Pemeriksaan feses
- Urin Lengkap
- Comb test
- USG
- CT Scan
- Test malaria
- Foto polos abdomen
- Biopsi jaringan tumor colli

XIX. PROGNOSIS

Quo ad vitam : dubia ad bonam


Quo ad functionam : dubia ad bonam
Quo ad Sanactionam : dubia ad bonam

18
BAB II

ANALISIS KASUS

Hepatitis dapat terjadi akibat infeksi virus hepatitis maupun sebagai efek
dari konsumsi zat zat hepatotoksik seperti obat-obatan maupun jamu. Pada
kasus didapatkan bahwa sejak 6 tahun SMRS, os mulai sering mengkonsumsi
jamu yang dikemas dalam botol bermerek Kunci Mas setiap kali os merasa
lelah atau sakit. Menurut os jamu tersebut sangat ampuh dalam memulihkan
stamina dan kesehatan os, sehingga jamu tersebut menjadi pilihan utama os
ketika sakit dan merasa lelah. Os selalu membeli jamu tersebut jika
menemukannya di warung. Hal tersebut diperberat dengan temuan bahwa
sejak 5 tahun SMRS, jamu tersebut dinyatakan berbahaya oleh BPOM karena
mengandung bahan kimia obat. Keluarga os sudah melarang os untuk
mengkonsumsi jamu tersebut, namun os tidak memperdulikannya. Os baru
mulai berhenti meminum jamu tersebut sejak 2 tahun terakhir karena jamu
tersebut semakin lama sangat sulit ditemukan.

2 tahun SMRS, anak sulung os mengatakan bahwa os mulai mengalami


BAK berwana seperti teh. Nyeri saat BAK disangkal. BAK disertai darah
disangkal. BAB biasa. Demam disangkal. Nyeri ulu hati disertai mual hilang
timbul. Nafsu makan baik. Lemas dan nyeri sendi sering dirasakan hilang
timbul. Hal tersebut sesuai dengan gejala yang muncul akibat hepatitis.
Ditemukan pula bahwa os tidak menerapkan PHBS dalam kehidupannya
karena anak os sering mendapati wc tidak disiram sehabis os BAB ataupun
BAK. Os tidak pernah mau berobat. Os hanya mau diobati secara tradisional
(dikerok) dan hanya sesekali berobat ke mantri jika keluhan yang
dirasakannya sangat mengganggu, hal tersebut menyebabkan perjalanan
penyakit os menjadi kronik.

6 bulan SMRS, muncul benjolan 1 buah di leher sebelah kiri, noduler,


konsistensi padat, dan tidak dapat digerakkan. Benjolan mula mula berukuran
kecil, semakin lama semakin besar dan jumlahnya bertambah menjadi 3 buah.
Os sering merasakan tegang di leher kirinya setiap kali os merasa lelah. Nyeri
19
saat menelan disangkal. Demam disangkal. Nafsu makan menurun. Namun os
tidak pernah mau berobat untuk mengobati benjolan tersebut karena dirasa
tidak mengganggu. Hal tersebut menunjukkan os memiliki tumor colli yang
membesar progresif

10 hari SMRS, menurut keterangan anak sulung os, kulit os mulai terlihat
berwarna kuning, warna mata dan kuku os juga terlihat kuning. Os merasakan
badan terasa sangat lemas dan lelah serta nyeri pada seluruh tubuh yang
dirasakan terus menerus. Nyeri perut dirasakan terus menerus terutama di ulu
hati. Mual (+) Tidak nafsu makan, Muntah (−), BB menurun. BAK berwarna
seperti teh. Nyeri saat BAK disangkal. BAK disertai darah disangkal. BAB
berwarna kuning pucat agak kehijauan. Demam disangkal. Sakit kepala (+)
Os sering gelisah pada malam hari. Benjolan di leher os semakin membesar.
Nyeri (−). Os hanya makan bubur semenjak 10 hari SMRS. Os mulai
mengalami ikterik dan keluhan hepatitis semakin jelas.

20
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

1.1 HEPATITIS A
A. Keluhan dan Gejala
Periode inkubasi infeksi virus hepatitis A antara 10-50 hari (rata-rata 25 hari),
biasanya diikuti dengan demam, kurang nafsu makan, mual, nyeri pada kuadran
kanan atas perut, dan dalam waktu beberapa hari kemudian timbul sakit kuning.
Urin penderita biasanya berwarna kuning gelap yang terjadi 1-5 hari sebelum
timbulnya penyakit kuning. Terjadi pembesaran pada organ hati dan terasa
empuk. Banyak orang yang mempunyai bukti serologi infeksi akut hapatitis A
tidak menunjukkan gejala atau hanya sedikit sakit, tanpa ikterus (anicteric
hepatitis A). Infeksi penyakit tergantung pada usia, lebih sering dijumpai pada
anak-anak. Sebagian besar (99%) dari kasus hepatitis A adalah sembuh sendiri
(Wilson, 2001).
HAV ditularkan dari orang ke orang melalui mekanisme fekal-oral. HAV
diekskresi dalam tinja, dan dapat bertahan di lingkungan untuk jangka waktu
lama. Orang bisa tertular apabila mengkonsumsi makanan dan minuman yang
terkontaminasi oleh HAV dari tinja. Kadang-kadang, HAV juga diperoleh melalui
hubungan seksual (anal-oral) dan transfusi darah (WHO, 2010).
Hepatitis akut A dapat dibagi menjadi empat fase klinis:
1) inkubasi atau periode preklinik, 10 sampai 50 hari, di mana pasien tetap
asimtomatik meskipun terjadi replikasi aktif virus.
2) fase prodromal atau preicteric, mulai dari beberapa hari sampai lebih dari
seminggu, ditandai dengan munculnya gejala seperti kehilangan nafsu makan,
kelelahan, sakit perut, mual dan muntah, demam, diare, urin gelap dan tinja
yang pucat.
3) fase icteric, di mana penyakit kuning berkembang di tingkat bilirubin total
melebihi 20 - 40 mg/l. Pasien sering minta bantuan medis pada tahap
penyakit mereka. Fase icteric biasanya dimulai dalam waktu 10 hari gejala
awal. Demam biasanya membaik setelah beberapa hari pertama penyakit
21
kuning. Viremia berakhir tak lama setelah mengembangkan hepatitis,
meskipun tinja tetap menular selama 1 - 2 minggu. Tingkat kematian rendah
(0,2% dari kasus icteric) dan penyakit akhirnya sembuh sendiri. Kadang-
kadang, nekrosis hati meluas terjadi selama 6 pertama - 8 minggu pada masa
sakit. Dalam hal ini, demam tinggi, ditandai nyeri perut, muntah, penyakit
kuning dan pengembangan ensefalopati hati terkait dengan koma dan kejang,
ini adalah tanda-tanda hepatitis fulminan, menyebabkan kematian pada tahun
70 - 90% dari pasien. Dalam kasus-kasus kematian sangat tinggi berhubungan
dengan bertambahnya usia, dan kelangsungan hidup ini jarang terjadi lebih
dari 50 tahun.
4) masa penyembuhan, berjalan lambat, tetapi pemulihan pasien lancar dan
lengkap. Kejadian kambuh hepatitis terjadi dalam 3 - 20% dari pasien, sekitar
4-15 minggu setelah gejala awal telah sembuh (WHO, 2010).

B. Pemeriksaan Penunjang Diagnostik


Diagnosis hepatitis dibuat dengan penilaian biokimia fungsi hati (evaluasi
laboratorium: bilirubin urin dan urobilinogen, bilirubin total serum dan langsung,
ALT dan / atau AST, fosfatase alkali, waktu protrombin, protein total, albumin,
IgG, IgA, IgM, hitung darah lengkap). Diagnosis spesifik hepatitis akut A dibuat
dengan menemukan anti-HAV IgM dalam serum pasien. Sebuah pilihan kedua
adalah deteksi virus dan / atau antigen dalam faeces. Virus dan antibodi dapat
dideteksi oleh RIA tersedia secara komersial, AMDAL atau ELISA kit. Tes ini
secara komersial tersedia untuk anti-HAV IgM dan anti-HAV total (IgM dan IgG)
untuk penilaian kekebalan terhadap HAV tidak dipengaruhi oleh administrasi
pasif IG, karena dosis profilaksis berada di bawah deteksi level. Pada awal
penyakit, keberadaan IgG anti-HAV selalu disertai dengan adanya IgM anti-HAV.
Sebagai anti-HAV IgG tetap seumur hidup setelah infeksi akut, deteksi IgG anti-
HAV saja menunjukkan infeksi masa lalu (WHO, 2010).

22
C. Etiologi
Hepatitis A disebabkan oleh infeksi virus Hepatitis A (HAV). Virus ini tidak
beramplop, merupakan virus RNA untai tunggal kecil dengan diameter 27nm.
Tidak inaktifasi oleh eter dan stabil pada suhu -20 celcius, serta pH yang rendah.
Strukturnya mirip dengan enterovirus, tapi hepatitis A virus berbeda dan sekarang
diklasifikasikan dalam genus Hepatovirus, famili picornavirus (Wilson, 2001).

D. Cara Pencegahan
Menurut WHO, ada beberapa cara untuk mencegah penularan hepatitis A,
antara lain :
 Hampir semua infeksi HAV menyebar dengan rute fekal-oral, maka
pencegahan dapat dilakukan dengan hygiene perorangan yang baik, standar
kualitas tinggi untuk persediaan air publik dan pembuangan limbah saniter,
serta sanitasi lingkungan yang baik.
 Dalam rumah tangga, kebersihan pribadi yang baik, termasuk tangan sering
dan mencuci setelah buang air besar dan sebelum menyiapkan makanan,
merupakan tindakan penting untuk mengurangi risiko penularan dari individu
yang terinfeksi sebelum dan sesudah penyakit klinis mereka menjadi
apparent.
Dalam bukunya, Wilson menambahkan pencegahan untuk hepatitis A, yaitu
dengan cara pemberian vaksin atau imunisasi. Ada dua jenis vaksin, yaitu :
 Imunisasi pasif
Pasif (yaitu, antibodi) profilaksis untuk hepatitis A telah tersedia selama
bertahun-tahun. Serum imun globulin (ISG), dibuat dari plasma populasi umum,
memberi 80-90% perlindungan jika diberikan sebelum atau selama periode
inkubasi penyakit. Dalam beberapa kasus, infeksi terjadi, namun tidak muncul
gejala klinis dari hepatitis A.
Saat ini, ISG harus diberikan pada orang yang intensif kontak pasien
hepatitis A dan orang yang diketahui telah makan makanan mentah yang diolah
atau ditangani oleh individu yang terinfeksi. Begitu muncul gejala klinis, tuan
rumah sudah memproduksi antibodi. Orang dari daerah endemisitas rendah yang
23
melakukan perjalanan ke daerah-daerah dengan tingkat infeksi yang tinggi dapat
menerima ISG sebelum keberangkatan dan pada interval 3-4 bulan asalkan
potensial paparan berat terus berlanjut, tetapi imunisasi aktif adalah lebih baik.
 Imunisasi aktif
Untuk hepatitis A, vaksin dilemahkan hidup telah dievaluasi tetapi telah
menunjukkan imunogenisitas dan belum efektif bila diberikan secara oral.
Penggunaan vaksin ini lebih baik daripada pasif profilaksis bagi mereka yang
berkepanjangan atau berulang terpapar hepatitis A.

E. Cara Pengobatan
Tidak ada pengobatan khusus untuk penyakit hepatitis A, terapi yang
dilakukan hanya untuk mengatasi gejala yang ditimbulkan. Contohnya, pemberian
parasetamol untuk penurun panas. Terapi harus mendukung dan bertujuan untuk
menjaga keseimbangan gizi yang cukup. Tidak ada bukti yang baik bahwa
pembatasan lemak memiliki efek menguntungkan pada program penyakit. Telur,
susu dan mentega benar-benar dapat membantu memberikan asupan kalori yang
baik. Minuman mengandung alkohol tidak boleh dikonsumsi selama hepatitis akut
karena efek hepatotoksik langsung dari alkohol (WHO, 2010).

F. Prognosis
Prognosis hepatitis A sangat baik, lebih dari 99% dari pasien dengan hepatitis
A infeksi sembuh sendiri. Hanya 0,1% pasien berkembang menjadi nekrosis
hepatik akut fatal (Wilson, 2001).

1.2 HEPATITIS B
A. Keluhan dan Gejala
Wilson (2001) menjelaskan gambaran klinis hepatitis B sangat bervariasi.
Masa inkubasi dari 45 hari selama 160 hari (rata-rata 10 minggu). Hepatitis B akut
biasanya dimanifestasikan dalam bertahap mulai kelelahan, kehilangan nafsu
makan, mual dan rasa sakit dan kepenuhan di perut kuadran kanan atas. Pada awal
perjalanan penyakit, rasa sakit dan pembengkakan sendi serta artritis mungkin
24
terjadi. Beberapa pasien terjadi ruam. Dengan meningkatnya involvenmen hati,
ada peningkatan kolestasis dan karenanya, urin berwarna kuning gelap, dan
penyakit kuning. Gejala dapat bertahan selama beberapa bulan sebelum akhirnya
berhenti. Secara umum, gejala yang terkait dengan hepatitis B akut lebih berat dan
lebih lama dibandingkan dengan hepatitis A.
HBV terdapat dalam semua cairan tubuh dari penderitanya, baik dalam darah,
sperma, cairan vagina dan air ludah. Virus ini mudah menular pada orang-orang
yang hidup bersama dengan orang yang terinfeksi melalui cairan tubuh tadi.
Secara umum seseorang dapat tertular HBV melalui hubungan seksual,
penggunaan jarum suntuk yang bergantian pada IDU, menggunakan alat yang
terkontaminasi darah dari penderita (pisau cukur, tato, tindik), 90% berasal dari
ibu yang terinfeksi HBV, transfusi darah, serta lewat peralatan dokter (Anania,
2008).

B. Pemeriksaan Penunjang Diagnostik


Dr. Imran Lubis dalam artikelnya yang berjudul “Penyakit Hepatitis Virus”,
menjelaskan pemeriksaan hepatitis B yang paling penting adalah HbsAg. HbsAg
ini dapat diperiksa dari serum, semen, air liur, urin dan cairan tubuh lainnya.
HbsAg diperiksa pertama kali dengan metoda imunodifusi, yang mudah
dikerjakan, murah, dan spesifik, tetapi lambat dan tidak sensitif. Metoda kedua
dalam pemeriksaan HbsAg adalah dengan metoda CIEP (counter
immunoelectrophoresis) dan CF (complement fixation) yang lebih sensitif
dariimunodifusi. Metoda yang paling sensitif adalah RIA(radio immunoassay) dan
EIA-ELISA (enzyme-immunoassay). Tes ini sangat sensitif dan sangat spesifik.
Metoda EIA mampu mendeteksi HbsAg sekecil 0,5 μg/l (konsentrasi HbsAg
dalam plasma dapat mencapai 1 g/l). Tes EIA dan RIA mampu mendeteksi 95%
penderita hepatitis B. Diagnosa HBsAg buatan indonesia adalah Entebe RPHA
yang mempunyai sensitivitas 78,6% dan spesifisitas 80%.

25
C. Etiologi
Virus hepatitis B merupakan virus DNA beramplop, termasuk famili
Hepadnaviridae.virion lengkap adalah 42 nm, partikel berbentuk bola yang terdiri
dari sebuah amplop di sekitar inti 27nm. Inti terdiri dari nukleokapsid yang berisi
genom DNA. Genom virus sebagian terdiri dari DNA untai ganda dengan
potongan pendek, dan selembar untai tunggal. Ini terdiri dari 3200 nukleotida,
sehingga dikenal sebagai DNA virus terkecil (Wilson, 2001).

D. Cara Pencegahan
Beberapa cara pencegahan yang dapat dilakukan untuk mencegah hepatitis B
antara lain :
 Pemberian vaksinasi Hepatitis B adalah perlindungan terbaik. Pemberian
vaksinasi secar rutin direkomendasikan untuk semua orang usia 0-18 tahun,
bagi orang-orang dari segala usia yang berada dalam kelompok berisiko
terinfeksi HBV, dan untuk orang yang menginginkan perlindungan dari
hepatitis B.
 Setiap wanita hamil, dia harus dites untuk hepatitis B, bayi yang lahir dari ibu
yang terinfeksi HBV harus diberikan HBIG (hepatitis B immune globulin)
dan vaksin dalam waktu 12 jam lahir.
 Penggunaan kondom lateks dalam berhubungan seksual
 Jangan berbagi peralatan pribadi yang mungkin terkena darah penderita,
seperti pisau cukur, sikat gigi, dan handuk.
 Pertimbangkan risiko jika anda akan membuat tato atau menindik tubuh.
Anda mungkin terinfeksi jika alat atau pewarna tersebut terkontaminasi virus
hepatitis B.
 Jangan mendonorkan darah, organ, atau jaringan jika anda positif memiliki
HBV.
 Jangan menggunakan narkoba suntik
(Anonim, 2007)

26
E. Cara Pengobatan
Menurut Wilson (2001), hepatitis B kronis adalah penyakit yang bisa diobati.
Interferon alfa, 5-10juta U tiga kali seminggu selama 4-6 bulan, memberikan
manfaat jangka panjang dalam minoritas (sampai33%) dari pasien dengan infeksi
kronis hepatitis B. Pemberian Lamivudine (3TC) juga bisa diberikan. Lamivudine
merupakan antivirus melalui efek penghambatan transkripsi selama siklus
replikasi HBV. Pemberian lamivudine 100mg/hari selama 1 tahun dapat menekan
HBV DNA.

F. Prognosis
Sembilan puluh persen dari kasus-kasus hepatitis akut B menyelesaikan
dalam waktu 6 bulan, 0,1% adalah fatal karena nekrosis hati akut, dan sampai
10% berkembang pada hepatitis kronis. Dari jumlah tersebut, ≥ 10% akan
mengembangkan sirosis, kanker hati, atau keduanya (Wilson, 2001).

1.3 HEPATITIS C
A. Keluhan dan Gejala
Masa inkubasi hepatitis C akut rata-rata 6-10 minggu. Kebanyakan orang
(80%) yang menderita hepatitis C akut tidak memiliki gejala. Awal penyakit
biasanya berbahaya, dengan anoreksia, mual dan muntah, demam dan kelelahan,
berlanjut untuk menjadi penyakit kuning sekitar 25% dari pasien, lebih jarang
daripada hepatitis B. Infeksi HCV dapat dibagi dalam dua fase, yaitu :
1. Infeksi HCV akut
HCV menginfeksi hepatosit (sel hati). Masa inkubasi hepatitis C akut rata-
rata 6-10 minggu. Kebanyakan orang (80%) yang menderita hepatitis C akut tidak
memiliki gejala. Awal penyakit biasanya berbahaya, dengan anoreksia, mual dan
muntah, demam dan kelelahan, berlanjut untuk menjadi penyakit kuning sekitar
25% dari pasien, lebih jarang daripada hepatitis B. Tingkat kegagalan hati
fulminan terkait dengan infeksi HCV adalah sangat jarang. Mungkin sebanyak
70% -90% dari orang yang terinfeksi, gagal untuk membunuh virus selama fase
27
akut dan akan berlanjut menjadi penyakit kronis dan menjadi carrier.

2. Infeksi HCV kronis


Hepatitis kronis dapat didefinisikan sebagai penyakit terus tanpa perbaikan
selama setidaknya enam bulan. Kebanyakan orang (60% -80%) yang telah kronis
hepatitis C tidak memiliki gejala. Infeksi HCV kronis berkembang pada 75% -
85% dari orang dengan persisten atau berfluktuasi ALT kronis. Pada fitur
epidemiologi antara pasien dengan infeksi akut telah ditemukan menunjukkan
peningkatan penyakit hati aktif, berkembang dalam 60% -70% dari orang yang
terinfeksi telah ditemukan sudah menjadi penyakit hati kronis.

Hepatitis kronis dapat menyebabkan sirosis hati dan karsinoma hepatoseluler


(HCC). Sirosis terkait HCV menyebabkan kegagalan hati dan kematian pada
sekitar 20% -25% kasus sirosis. Sirosis terkait HCV sekarang merupakan sebab
utama untuk transplantasi hati. 1% -5% orang dengan hepatitis C kronis
berkembang menjadi karsinoma hepatoseluler. Pengembangan HCC jarang terjadi
pada pasien dengan hepatitis C kronis yang tidak memiliki sirosis (WHO, 2010).

Periode masa penularan dari satu minggu atau lebih sebelum timbulnya gejala
pertama dan mungkin bertahan pada sebagian besar orang selamanya.
Berdasarkan studi infektifitas di simpanse, titer HCV dalam darah tampaknya
relatif rendah. Puncak dalam konsentrasi virus tampak berkorelasi dengan puncak
aktivitas ALT. Tingkat kekebalan setelah infeksi tidak diketahui. Infeksi berulang
dengan HCV telah ditunjukkan dalam sebuah model eksperimental simpanse.
Infeksi HCV tidak menyebabkan kegagalan hati fulminan (mendadak, cepat),
namun, menjadi penyakit hati kronis seperti infeksi HBV kronis, dan dapat
memicu gagal hati (WHO, 2010).
Penularan terjadi melalui paparan perkutan terhadap darah yeng
terkontaminasi. Jarum suntik yang terkontaminasi adalah sarana penyebaran yang
paling penting, khususnya di kalangan pengguna narkoba suntikan. Transmisi
melalui kontak rumah tangga dan aktivitas seksual tampaknya rendah. Transmisi
saat lahir dari ibu ke anak juga relatif jarang (WHO, 2010).

28
B. Pemeriksaan Penunjang Diagnostik
Diagnosis Hepatitis C tergantung pada demonstrasi anti-HCV yang
terdeteksi oleh EIA. Tes belum tersedia untuk membedakan akut dari infeksi HCV
kronis. Positif anti-HCV IgM tingkat ditemukan dalam 50-93% pasien dengan
hepatitis C akut dan 50-70% dari pasien dengan hepatitis C kronis. Oleh karena
itu, anti-HCV IgM tidak dapat digunakan sebagai penanda dapat diandalkan
infeksi HCV akut (WHO, 2010).
Teknik amplifikasi menggunakan reaksi PCR (polymerase chain reaction)
atau TMA (transcription-mediated amplification) telah dikembangkan sebagai uji
kualitatif untuk mendeteksi RNA HCV, sedangkan kedua amplifikasi target
(PCR) dan sinyal teknik amplifikasi (branched DNA) dapat digunakan untuk
mengukur tingkat RNA HCV. Karena variabilitas assay, jaminan kualitas yang
ketat dan kontrol harus diperkenalkan di laboratorium klinik dalam melakukan tes
ini, dan pengujian kemampuan seyogyanya direkomendasikan. Untuk tujuan ini,
Standar Internasional Pertama untuk NAT (Nucleic Acid Amplification
Technology) tes HCV RNA telah dianjurkan untuk digunakan (WHO, 2010).
Sebuah uji EIA untuk deteksi inti-antigen HCV telah dibentuk dan terlihat
tidak cocok untuk screening donor darah skala besar, sementara penggunaannya
dalam pemantauan klinis masih harus ditentukan. Anak-anak tidak harus diuji
untuk anti-HCV sebelum usia 12 bulan sebagai anti-HCV dari ibu bisa
berlangsung sampai usia ini. Diagnosa bergantung pada penentuan tingkat ALT
dan keberadaan HCV RNA dalam darah bayi setelah bulan kedua kehidupan
(WHO, 2010).

C. Etiologi
Virus hepatitis C adalah virus RNA dari famili Flavivirus. Ia memiliki genom
yang sangat sederhana yang terdiri dari hanya tiga dan lima gen struktural
nonstruktural. Setidaknya ada enam genotipe utama, dua di antaranya telah
subtipe (1a dan b, 2a dan b). Genotipe tersebut memiliki distribusi geografis yang

29
sangat berbeda dan mungkin terkait dengan penyakit yang berbeda severities serta
respon terhadap terapi (Wilson, 2001).
D. Cara Pencegahan
Strategi yang komprehensif untuk mencegah dan mengendalikan hepatitis C
virus (HCV) infeksi dan penyakit terkait HCV :
- Pemeriksaan dan pengujian darah, plasma, organ, jaringan, dan air mani donor
- Sterilisasi yang memadai seperti bahan dapat digunakan kembali atau instrumen
bedah gigi
- Pengurangan risiko dan layanan konseling
- pengawasan terhadap jarum dan program pertukaran jarum suntik
(WHO, 2010)

E. Cara Pengobatan
Interferon telah dibuktikan untuk menormalkan tes hati, memperbaiki
peradangan hati dan mengurangi replikasi virus pada hepatitis C kronis dan
dianggap sebagai terapi baku untuk hepatitis C kronis. Saat ini, dianjurkan untuk
pasien dengan hepatitis kronis kompensasi C (anti-HCV positif, HCV deteksi
RNA, abnormal ALT tingkat atas sekurang-kurangnya 6 bulan, fibrosis
ditunjukkan oleh biopsi hati). Interferon-alpha diberikan subkutan dengan dosis 3
juta unit 3 kali seminggu selama 24 bulan. Pasien dengan aktivitas ALT dikurangi
atau tingkat HCV RNA dalam bulan pertama pengobatan lebih cenderung
memiliki respon yang berkelanjutan. Sekitar 50% dari pasien merespon interferon
dengan normalisasi ALT pada akhir terapi, tetapi setengahnya bisa kambuh dalam
waktu 6 bulan (WHO, 2010).
Terapi kombinasi dengan pegylated interferon dan ribavirin selama 24 atau 48
minggu seharusnya menjadi terapi pilihan bagi pasien yang kambuh setelah
pengobatan interferon. Tingkat kekambuhan kurang dari 20% terjadi pada pasien
kambuh diobati dengan terapi kombinasi selama setahun (WHO, 2010).
Transplantasi adalah suatu pilihan bagi pasien dengan sirosis yang nyata
secara klinis pada stadium akhir penyakit hati. Namun, setelah transplantasi, hati
donor hampir selalu menjadi terinfeksi, dan risiko pengembangan menjadi sirosis
30
muncul kembal (WHO, 2010).
Pasien dengan hepatitis C kronis dan infeksi HIV bersamaan mungkin
memiliki program akselerasi penyakit HCV. Oleh karena itu, meskipun tidak ada
terapi HCV secara khusus disetujui untuk pasien koinfeksi dengan HIV, pasien
tersebut harus dipertimbangkan untuk pengobatan. Pemberian kortikosteroid,
ursodiol, thymosin, acyclovir, amantadine, dan rimantadine tidak efektif (WHO,
2010)

F. Prognosis
Hepatitis C memiliki prognosis yang lebih buruk daripada, misalnya, hepatitis
B, karena seperti proporsi tinggi mengembangkan kasus sirosis ─ ≤ 33% dari
pasien yang terinfeksi (Wilson, 2001).

31
DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2007. Heptitis A, B, and C: Learn The Differences.


Depkes RI. 2013. Infodatin Hepatitis.
WHO. 2010. Hepatitis A, B, and C. http://www.who.org. Diakses pada tanggal 20
April 2012.
Wilson, Walter R. And Merle A. Sande. 2001. Current Diagnosis & Tratment in
Infectious Disease. The mcGraw-hill Companies, United States of
America.

32