Anda di halaman 1dari 15

Laporan Praktikum

Elektronika Telekomunikasi

OLEH :

NAMA ISA MAHFUDI


: Moch. Ali Wasil
NIM : 1731130069
NIM. 1141160018
KELOMPOK :2
KELAS : TT-2E

PROGRAM STUDI D-III TEKNIK TELEKOMUNIKASI


JURUSAN TEKNIK ELEKTRO
POLITEKNIK NEGERI MALANG
2018
Unit 4

OSILATOR PERGESERAN FASA

4.1. Tujuan

1. Mempelajari serta prinsip dasar oslilator pergeseran fasa.


2. Mengukur keluaran frekuensi dan amplitude osilator pergeseran fasa.
3. Mengetahui bentuk sinyal keluaran osilator pergeseran fasa.

4.2. Alat dan Bahan

1. R1 = 1,2 kΩ : 1 buah
2. R2 = 4,7 kΩ : 3 buah
3. R3 = 22 kΩ : 1 buah
4. RL = 22 kΩ : 1 buah
5. VR = 50 kΩ : 1 buah
6. C1 = 0.047 µF : 1 buah
7. C2 = 0.047 µF : 1 buah
8. C3 = 0.047 µF : 1 buah
9. C = 0.002 µF : 1 buah
10. Transistor FCS 9012 : 1 buah
11. Osiloskop : 1 buah
12. Multimeter : 1 buah
13. Power supply : 1 buah
14. Modul : 1 buah
15. Tes probe adapter : 1 buah
16. Kabel penghubung secukupnya

4.3. Teori dasar

Dalam tutorial penguat sebelmnya kita melihat bahwa penguat satu tahap akan
menghasilkan 180o pergeseran fasa antara keluaran dan sinyal masukannya saat dihubungkan
dalam konfigurasi tipe kelas A. Untuk osilator ke mempertahankan osilasi tanpa batas waktu,
butuh umpan balik yang memadai dari fase yang benar, yaitu "Feedback Positif" harus
disertakan bersamaan dengan penguat transistor yang digunakan yang bertindak sebagai
tahap pembalik untuk mencapai hal ini.

Gambar 4.1 Rangkaian Osilator RC

Dalam rangkaian Osilator RC , input digeser 180ᵒ melalui tahap penguat dan 180o lagi
melalui tahap pembalikan kedua yang memberi kita "180ᵒ + 180ᵒ = 360ᵒ" pergeseran fasa
yang secara efektif sama dengan 0o sehingga memberi kita umpan balik positif yang
dibutuhkan Dengan kata lain, pergeseran fasa dari loop umpan balik harus "0". Dalam sebuah
Resistansi-Kapasitasnsi Osilator atau hanya sebuah Osilator RC , kami menggunakan fakta
bahwa pergeseran fasa terjadi antara input ke jaringan RC dan output dari jaringan yang sama
dengan menggunakan elemen RC di cabang umpan balik, misalnya.

Jaringan Pergeseran-fasa RC

Gambar 4.2 Jenis – jenis Pergeseran fasa RC


Rangkaian di sebelah kiri menunjukkan jaringan resistor-kapasitor tunggal yang tegangan
outputnya "memimpin" tegangan input dengan beberapa sudut kurang dari 90ᵒ . Rangkaian
RC kutub-tunggal ideal akan menghasilkan pergeseran fasa tepat 90ᵒ , dan karena 180ᵒ
pergeseran fasa diperlukan untuk osilasi, setidaknya dua kutub-tunggal harus digunakan
dalam desain rangkaian osilator RC. Namun pada kenyataannya sulit untuk mendapatkan
tepat 90ᵒ tahap pergeseran sehingga lebih banyak tahap yang digunakan. Jumlah pergeseran
fasa aktual pada rangkaian bergantung pada nilai resistor dan kapasitor, dan frekuensi osilasi
yang dipilih dengan sudut fasa ( Φ ) diberikan sebagai:

1. Sudut Fasa Osilator RC

Dimana: XC adalah Reaktansi Kapasitif dari kapasitor, R adalah Resistansi dari


resistor, dan ƒ adalah Frekuensi. Dalam contoh sederhana di atas, nilai R dan C telah
dipilih sehingga pada frekuensi yang dibutuhkan, tegangan output menyebabkan
tegangan input dengan sudut sekitar 60ᵒ. Kemudian sudut fasa antara masing-masing
bagian RC berturut-turut meningkat sebesar 60ᵒ memberikan perbedaan fasa antara
input dan output 180ᵒ (3 x 60oᵒ) seperti yang ditunjukkan oleh diagram vektor berikut.
2. Diagram Vektor Osilator RC

Gambar 4.3Diagram Vektor Osilator Pergeseran fasa RC


Kemudian dengan menghubungkan ketiga jaringan RC tersebut secara seri, kita dapat
menghasilkan pergeseran fasa total di rangkaian 180ᵒ pada frekuensi yang dipilih dan
ini membentuk basis dari "osilator pergeseran fasa" atau dikenal sebagai rangkaian
Osilator RC. Kita tahu bahwa dalam sebuah rangkaian penguat baik dengan
menggunakan Transistor Bipolar atau Penguat Operasional, akan menghasilkan
pergeseran fasa 180ᵒ antara input dan outputnya. Jika jaringan tiga tahap pergeseran
fasa RC terhubung antara input dan output penguat ini, pergeseran fasa total yang
diperlukan untuk umpan balik regeneratif akan menjadi 3 x 60ᵒ + 180ᵒ = 360ᵒ seperti
yang ditunjukkan.

Gambar 4.4 Rangkaian Osilator RC

Tiga tahap RC mengalir bersama untuk mendapatkan kemiringan yang diperlukan


untuk frekuensi osilasi yang stabil. Pergeseran fase umpan balik adalah -180ᵒ ketika
pergeseran fasa masing-masing tahap adalah -60ᵒ. Hal ini terjadi bila ω = 2πƒ =
1.732/RC sebagai ( tan 60ᵒ = 1.732 ). Kemudian untuk mencapai pergeseran fasa yang
dibutuhkan pada rangkaian osilator RC adalah dengan menggunakan beberapa
jaringan pengubah fase RC seperti rangkaian di bawah ini.

3. Rangkaian Osilator RC Dasar

Gambar 4.5 Rangkaian Dasar Osilator pergeseran Fasa


Osilator RC dasar yang juga dikenal sebagai Pergeseran Fasa Osilator , menghasilkan
sinyal keluaran gelombang sinus menggunakan umpan balik regeneratif yang
diperoleh dari kombinasi resistor-kapasitor. Umpan balik regeneratif dari jaringan RC
ini disebabkan kemampuan kapasitor untuk menyimpan muatan listrik, (mirip dengan
rangkaian tangki LC).
Jaringan umpan balik resistor-kapasitor ini dapat dihubungkan seperti yang
ditunjukkan di atas untuk menghasilkan pergeseran fasa utama (jaringan fasa
terdepan) atau dipertukarkan untuk menghasilkan pergeseran fase tertinggal (jaringan
fase menghambat) hasilnya masih sama dengan osilasi gelombang sinus yang terjadi
hanya pada frekuensi di mana pergeseran fasa keseluruhan adalah 360ᵒ .
Dengan memvariasikan satu atau lebih resistor atau kapasitor pada jaringan
pergeseran-fasa, frekuensinya dapat bervariasi dan umumnya hal ini dilakukan dengan
menjaga resistor tetap sama dan menggunakan kapasitor variabel 3-berkelompok.
Jika semua resistor, R dan kapasitor, C pada jaringan pergeseran fasa sama nilainya,
maka frekuensi osilasi yang dihasilkan oleh osilator RC diberikan sebagai:

Dimana:
 ƒr adalah Frekuensi Output di Hertz
 R adalah Resistansi di Ohm
 C adalah Kapasitansi di Farad
 N adalah jumlah tahapan RC . (N = 3)

Rangkaian osilasi dapat di tentukan dari

1
𝑓=
2𝜋𝐶1 √6𝑅12 + 4 𝑅1 𝑅𝐿

Penguatan diperoleh dari

29 𝑅1 4𝑅𝐿
ℎ𝑓𝑒 = 23 + + +⋯
𝑅𝐿 𝑅1

Karena kombinasi resistor-kapasitor di rangkaian Osilator RC juga bertindak


sebagai atenuator yang menghasilkan pelemahan total -1/29 (Vo/Vi = β) pada tiga
tahap, gain tegangan penguat harus cukup tinggi untuk diatasi Kerugian RC ini. Oleh
karena itu, dalam jaringan RC tiga tahap di atas, gain penguat harus sama juga, atau
lebih besar dari, 29. Efek pemuatan dari penguat pada jaringan umpan balik
berpengaruh terhadap frekuensi osilasi dan dapat menyebabkan frekuensi osilator
hingga 25% lebih tinggi dari yang dihitung. Kemudian jaringan umpan balik harus
digerakkan dari sumber keluaran impedansi tinggi dan dimasukkan ke dalam beban
impedansi rendah seperti penguat transistor emitor yang umum, tapi yang lebih baik
adalah menggunakan Penguat Operasional karena memenuhi kondisi ini dengan
sempurna.

4.4. Gambar Rangkaian

Gambar 4.6 Modul Rangkaian Osilator pergeseran fasa

4.5. Prosedur dan Hasil Percobaan

1. Kondisi VR sebelum berisolasi


1. Buatlah Rangkaian seperti pada gambar 4.6.
2. Ukur power supply agar tegangan ouput dari power supply 10V.
3. Hubungkan output power supply dengan input tegangan rangkaian
menggunakan kabel banana to banana.

Gambar 4.7 Power Supply


3. Dengan menggunalan osiloskop hubungkan kutub plus pada TP1 dan
kutub min pada ground.

Gambar 4.8 Modul Rangkaian Osilator pergeseran fasa


4. Dengan menggunakan osiloskop catat hasil frekuensi, periode dan Vpp.
5. Ulangi langkah 3 pada TP1 dan TP2.
berikut saya tampilkan hasil percobaan dalam :
Tabel 4.1 Pengukuran VR sebelum berisolasi

F Periode Vpp

TP1 52,46 Hz 19,06 ms 216 mV


TP2 50,88 Hz 19,66 ms 218 mV
TP3 49,59 Hz 20,16 ms 172 mV
Vout 101,5 MHz 9,820 ns 81,2 mV

2. Dalam kondisi berisolasi


1. Buatlah Rangkaian seperti pada gambar 4.6.
2. Ukur power supply agar tegangan ouput dari power supply 10V.
3. Hubungkan output power supply dengan input tegangan rangkaian
menggunakan kabel banana to banana.
Gambar 4.9 Power Supply
3. Dengan menggunalan osiloskop hubungkan kutub plus pada TP1 dan
kutub min pada ground.

Gambar 4.10 Modul Rangkaian Osilator pergeseran fasa


4. Dengan menggunakan osiloskop catat hasil frekuensi, periode dan Vpp.
5. Putar VR hingga bentuk gelombang terlihat jelas.
5. Ulangi langkah 3 pada TP1 dan TP2.
berikut saya tampilkan hasil percobaan dalam :
Tabel 4.2 kondisi berisolasi

F Periode Vpp
TP1 105 MHz 9,520 ns 56,8 mV
TP2 103,3 MHz 9,680 ns 89,6 mV
TP3 102 MHz 9,82 ns 97,6 mV
Vout 100,3 MHz 9,920 ns 70,4 mV
3. Perbandingan Basic to collector, collector to TP2
1. Buatlah Rangkaian seperti pada gambar 4.6.
2. Ukur power supply agar tegangan ouput dari power supply 10V.
3. Hubungkan output power supply dengan input tegangan rangkaian
menggunakan kabel banana to banana.

Gambar 4.11 Power Supply


3. Dengan menggunalan osiloskop gunakan fasilitas dual trace dan
hubungkan channel A ke basis dan channel B ke kolektor. Amati dan ukur
perbedaan fasa yang terjadi. Ulangi juga jika channel A ke kolektor dan
channel B ke TP2, amati dan ukur perbedaan dan yang terjadi.

Gambar 4.12 Modul Rangkaian Osilator pergeseran fasa

4. Dengan menggunakan osiloskop catat hasil frekuensi, periode dan Vpp.


berikut saya tampilkan hasil percobaan dalam :
Tabel 4.3 Perbandinagn

F Periode Vpp
CH1 CH2 CH1 CH2 CH1 CH2
Basis to
47,43 Hz 11,89 Hz 21,08 ms 84,41 ms 240 mV 82 mV
kolektor
Basis to
1,413 Hz 68,08 Hz 707,7 µs 14,68 ms 68 mV 196 mV
TP2
TP1 to
52,22 Hz 55,59 Hz 19,15 ms 17,98 ms 176 mV 4
TP2

4.6. Analisa dan Pembahasan

1. Kondisi VR sebelum berisolasi


Perhitungan :

1
𝐹𝑜𝑠𝑖𝑙𝑎𝑡𝑜𝑟 𝑇𝑃1 =
2𝜋𝐶1√6𝑅12 + 4𝑅1 . 𝑅𝑙

1
=
2 × 3,14 × (0,047 × 10−6) √6(1.2 × 103 )2 + 4 × (1.2 × 103 ) × 22 × 103
1
=
0.29 × 10−6 √6(1.4 × 106 ) + 105.6 × 106
1
=
0.29 × 10−6 √114 × 106
1
=
3.09 × 10−3
= 323.6 𝐻𝑧

1
𝐹𝑜𝑠𝑖𝑙𝑎𝑡𝑜𝑟 𝑇𝑃2 =
2𝜋𝐶2√6𝑅22 + 4𝑅2 . 𝑅𝑙

1
=
2 × 3,14 × (0,047 × 10−6) √6(4.7 × 103 )2 + 4 × (4.7 × 103 ) × 22 × 103
1
=
0.29 × 10−6 √6(22.09 × 106 ) + 413.6 × 106
1
=
0.29 × 10−6 √546.14 × 106
1
=
6.77 × 10−3
= 147.7 𝐻𝑧
1
𝐹𝑜𝑠𝑖𝑙𝑎𝑡𝑜𝑟 𝑇𝑃3 =
2𝜋𝐶3√6𝑅32 + 4𝑅3 . 𝑅𝑙
1
=
2 × 3,14 × (0,047 × 10−6) √6(22 × 103 )2 + 4 × (22 × 103 ) × 22 × 103
1
=
0.29 × 10−6 √6(484 × 106 ) + 1936 × 106
1
=
0.29 × 10−6 √4840 × 106
1
=
20.1 × 10−3
= 49.75 𝐻𝑧

4.7. Kesimpulan

1. Dalam konsisi VR sebelum berisolasi


Perbedaaan nilai ouput frekuensi, periode dan Vpp disebabkan oleh perbedaan nilai
resistor di setiap TP nya. Sehingga nilai beban di setiap TP akan berubah sesuai nilai
R.
2. Dalam kondisi VR setelah berisolasi
Nilai outpu frekuensi, periode dan Vpp berbeda jauh dari hasil VR sebelm berisolasi.
Karena nilai beban pada TP bertambah sehingga terdapat perbedaan nilai output.
3. Nilai output cenderung lebih tinggi jika terhubung pada node kolektor.
4.8. Lampiran

1. Tabel 4.4 VR sebelum berisolasi

Ouput

TP1

TP2

TP3

output
2. Tabel 4.5 Setelah Berisolasi
Output

TP 1

TP2

TP3

3. Tabel 4.6 Perbandingan


Output

Basis to
kolektor
Kolektor
to TP2

TP1 to
TP2