Anda di halaman 1dari 11

SAKIATU SAHRAH (A31115050)

Rangkuman Materi Kuliah Pengauditan Internal Ke-5

CHAPTER 4:

SARBANES OXLEY-ACT (SOA)

Latar Belakang Lahirnya SOA

Sarbanes-Oxley Act atau kadang disingkat S0X atau SOA adalah hukum
federal Amerika Serikat yang ditetapkan pada 30 Juli 2002 dalam ACFE Annual
Fraud Conference ke-14 di Chicago. Undang-undang ini diprakarsai oleh Senator
Paul Sarbanes (Maryland) dan Representative Michael Oxley (Ohio), dan telah
ditandatangani oleh Presiden George W Bush pada tanggal 30 Juli 2002. Undang-
undang ini dikeluarkan sebagai respons dari Kongres Amerika Serikat terhadap
berbagai skandal yang terjadi pada beberapa korporasi besar atau perusahaan
akuntansi besar seperti: Enron, WorldCom (MCI), AOL TimeWarner, yang juga
melibatkan beberapa KAP yang termasuk dalam “the big five” seperti: Arthur
Andersen, KPMG dan PWC. Beberapa skandal tersebut merupakan contoh negatif
tentang bagaimana skema kecurangan (fraud schemes) berdampak sangat buruk dan
menyebabkan kerugian triliunan dollar bagi investor karena runtuhnya harga saham,
sehingga sangat mempengaruhi kepercayaan berbagai pihak baik perusahaan,
pegawai, invenstor, bahkan masyarakat dalam arti luas, sehingga menyebabkan
guncangan kepercayaan masyarakat terhadap pasar saham nasional bahkan dunia.
Oleh karena itu, hal inilah yang menyebabkan dikeluarkannya SOA sebagai
pembelajaran dari berbagai skandal tersebut.
Akhirnya SOA menetapkan suatu standar baru dan lebih baik bagi semua
dewan dan manajemen perusahaan publik serta kantor akuntan publik walaupun tidak
berlaku bagi perusahaan tertutup. SOA juga menuntut Securities and Exchange
Commission (SEC) dan beberapa self regulatory bodies lainnya, dapat meningkatkan

1
standar akuntabilitas perusahaan, transparansi dalam pelaporan keuangan,
memperkecil kemungkinan bagi perusahaan atau organisasi untuk melakukan dan
menyembunyikan fraud, serta membuat perhatian pada tingkat sangat tinggi terhadap
corporate governance.
Undang-undang ini juga disebut sebagai perubahan terbesar dalam pengaturan
pengelolaan perusahaan dan pelaporan keuangan sejak Undang-Undang Keuangan
pertama kali ditetapkan di tahun 1933 dan 1934. SOA mengatur tentang akuntansi,
pengungkapan dan pembaharuan tatakelola, yang mensyaratkan adanya
pengungkapan yang lebih banyak mengenai informasi keuangan, keterangan tentang
hasil-hasil yang dicapai manajemen, kode etik bagi pejabat di bidang keuangan,
pembatasan kompensasi ekskutif dan pembentukan komite audit yang independen.
Adanya SOA diharapkan akan mengefektifkan pelaksanaan corporate reporting
supply chain. Konsep dari “the corporate reporting supply chain” merupakan sebuah
model yang menggambarkan proses pembuatan laporan keuangan, hingga
penggunaan laporan tersebut untuk pengambilan keputusan. Dalam proses pembuatan
laporan keuangan, manajemen dan pimpinan dari perusahaan berada di awal dari
seluruh rangkaian proses sistem pelaporan tersebut, yakni pihak yang berada di
urutan pertama dari keseluruhan proses penyampaian laporan keuangan kepada
masyarakat, sekaligus merupakan pihak yang berada pada posisi paling dominan
dalam menentukan laporan keuangan yang akan disampaikan kepada masyarakat,
dengan kata lain pihak yang cukup dominan dalam menentukan tata kelola yang baik
(good corporate governance).
Secara Singkat beberapa hal yang mendasari munculnya Sarbanes Oxley Act
dapat diuraikan, sebagai berikut:
1.) Masalah yang terjadi pada Enron, Arthur Anderson dan WorldCom
2.) Adanya indikator yang memperlihatkan kegagalan atas tata kelola yang baik
(good corporate governance).
3.) Ditemukannya beberapa dokumen yang tidak lengkap dan penyampaian
laporan keuangan yang tidak sesuai atau misleading.

2
4.) Upaya untuk mengembalikan kepercayaan investor di pasar bursa.

Melihat dari beberapa kejadian di atas maka diperlukan peran komite audit yang
lebih baik lagi. Sebelum adanya SOA ada beberapa hal yang perlu diperhatikan
yaitu:

1.) Diadakannya meeting antara internal auditor dan external auditor untuk
melakukan review atas laporan keuangan secara quarterly dan/atau annually.
2.) Lemahnya konsep dan pengetahuan atas pengendalian internal (internal
control) yang dimiliki oleh pimpinan puncak.
3.) Pimpinan puncak sangat percaya pada auditor walau tidak didukung oleh
tingkat keyakinan yang memadai.
4.) Karena kurangnya pengetahuan akan internal control maka kurang juga
tanggung jawab nya

Maka pada tahun 2002 seorang senator Amerika Serikat, Paul Sarbanes dan
rekannya Michael Oxley membuat konsep Sarbanes Oxley Act 2002. Didukung
oleh George Bush (Presiden Amerika Serikat) pada 30 Juli 2002 yang memberikan
pernyataan mendukung bahwa:

1.) Memperketat peraturan atas auditor independen.


2.) Officer dan petinggi perusahaan harus competent dan akuntabel

Pernyataan tersebut mengandung makna bahwa:

1.) Tingkat kepercayaan di perusahaan harus dibangun oleh pimpinan


perusahaan.
2.) Auditor akan diaudit, begitu pula dengan akuntannya.
3.) Pernyataan laporan keuangan yang harus reliable dan benar.
4.) Tata kelola yang baik.
5.) Semua diatur oleh hukum

Akibat dari diberlakukannya Sarbanes Oxley Act 2002, maka yang terkena dampak
adalah:

3
1.) Perusahaan go public di Amerika Serikat berikut anak perusahaan dan
cabangnya.
2.) Perusahaan yang akan go public.
3.) Perusahaan yang akan diakuisisi atau yang akan mengakuisisi perusahaan
yang go public.

Tujuan Sarbanes Oxley Act

Adapun bebrapa tujuan SOA, yakni:

1) Meningkatkan kepercayaan publik akan pasar modal.

2) Melindungi investor melalui pengungkapan keuangan yang lebih akurat, tepat


waktu, komprehensif, dan dapat dimengerti.

3) Menerapkan tata pemerintahan dan tata kelola perusahaan yang lebih baik.

4) Menyediakan akuntabilitas yang lebih baik dengan membuatmanajemen dan


direksi bertanggung jawab akan laporan keuangan.

5) Pengawasan yang lebih ketat dengan pembentukan PCAOB.

6) Meningkatkan kualitas audit dan Pengendalian internal yang lebih baik.

7) Menempatkan penekanan yang lebih kuat pada struktur di sekitar dunia usaha
untuk mencegah, mendeteksi, menginvestigasi kecurangan dan perbuatan
tidak baik.

Public Company Accounting Oversight Board (PCAOB)


SOA menetapkan suatu lembaga semi pemerintah yang dinamakan Public
Company Accounting Oversight Board (PCAOB), yang mengawasi, mengatur,
memeriksa, dan mendisiplinkan kantor-kantor akuntan dalam peranan mereka sebagai
auditor perusahaan publik. SOA juga mengatur masalah-masalah seperti kebebasan

4
auditor, tata kelola perusahaan, penilaian pengendalian internal, serta pengungkapan
laporan keuangan yang lebih dikembangkan.
Adapun Tugas dari PCAOB adalah:
1.) Mendaftar akuntan publik yang akan melakukan pemeriksaan terhadap
perusahaan yang mencatatkan bursanya pada pasar modal.
2.) Menetapkan standar tentang audit, pengendalian mutu, etika, independensi,
dan standar yang lain terkait dengan proses penyusunan laporan audit untuk
perusahaan publik.
3.) Melakukan pengawasan terhadap kantor akuntan publik.
4.) Melakukan penyelidikan dan penegakan disiplin termasuk memberikan sanksi
jika diperlukan kepada kantor akuntan publik atau perorangan yang
berasosiasi dengan suatu kantor akuntan publik.

Legalisasi Sarbanes-Oxley Act (SOA)


Beberapa perusahaan di AS melakukan kecurangan yang sangat merugikan
investor. Menurut beberapa pengamat, penyebab jatuhnya harga saham di bursa
bukan karena accounting scandals semata, tetapi lebih dikarenakan keputusan bisnis
yang salah (bad bussiness management). Sebagai akibat dari keputusan yang salah
tersebut, kinerja perusahaan menjadi menurun dan menuntut manajemen melakukan
windowdressing untuk menutupi adanya kerugian perusahaan. Total kerugian yang
harus ditanggung investor pada saat itu tercatat mencapai triliunan dollar. Salah satu
kasus yang menyebabkan timbulnya kritik keras terhadap profesi akuntansi adalah
kasus Enron yang mulai mencuat pada tahun 2001, dalam kasus ini menegaskan
bahwa banyak “dysfunctional behavior” yang dilakukan oleh banyak auditor,
beberapa prilaku yang sering dilakukan adalah semisal creative accounting, earning
management atau income smoothing, di Indonesia sendiri bahkan seorang akuntan
disebut dengan tukang angka.
Fenomena tersebut menyebabkan pemerintah (Amerika) mengambil tindakan
yang reaktif dalam hal ini untuk melakukan pengawasan terhadap para akuntan

5
dengan mengeluarkan UU pertanggung jawaban auditor atau yang lebih dikenal
dengan nama Sarbanes Oxley Act, UU ini lahir dari kongres yang dianggotai oleh
Sarbanes dan Oxley sendiri, UU tersebut ditandatangani oleh presiden George W.
Bush pada tanggal 20 Juli 2002 di Washington, USA.
Beberapa hal penting yang disajikan dalam UU Sarbanes Oxley Act 2002, adalah:
 Tanggungjawab perusahaan
 Tanggungjawab Auditor
 Pengungkapan di perluas
 Analis saham harus dapat mengungkapkan kemungkinan konflik kepentingan
 SEC memperluas objek reviewnya terhadap laporan keuangan perusahaan.

Isi Sarbanes Oxley Act


SOA terdiri dari 11 seksi sebagai berikut :
1. TITLE I: PUBLIC COMPANY ACCOUNTING OVERSIGHT BOARD:
1.) Sec. 101. Establishment; administrative provisions.
2.) Sec. 102. Registration with the Board.
3.) Sec. 103. Auditing, quality control, and independence standards and rules.
4.) Sec. 104. Inspections of registered public accounting firms.
5.) Sec. 105. Investigations and disciplinary proceedings.
6.) Sec. 106. Foreign public accounting firms.
7.) Sec. 107. Commission oversight of the Board.
8.) Sec. 108. Accounting standards.
9.) Sec. 109. Funding.
2. TITLE II: AUDITOR INDEPENDENCE
1.) Sec. 201. Services outside the scope of practice of auditors.
2.) Sec. 202. Preapproval requirements.
3.) Sec. 203. Audit partner rotation.
4.) Sec. 204. Auditor reports to audit committees.
5.) Sec. 205. Conforming amendments.

6
6.) Sec. 206. Conflicts of interest.
7.) Sec. 207. Study of mandatory rotation of registered public accounting
firms.
8.) Sec. 208. Commission authority.
9.) Sec. 209. Considerations by appropriate State regulatory authorities.
3. TITLE III: CORPORATE RESPONSIBILITY
1.) Sec. 301. Public company audit committees.
2.) Sec. 302. Corporate responsibility for financial reports.
3.) Sec. 303. Improper influence on conduct of audits.
4.) Sec. 304. Forfeiture of certain bonuses and profits.
5.) Sec. 305. Officer and director bars and penalties.
6.) Sec. 306. Insider trades during pension fund blackout periods.
7.) Sec. 307. Rules of professional responsibility for attorneys.
8.) Sec. 308. Fair funds for investors.
4. TITLE IV: ENHANCED FINANCIAL DISCLOSURES
1.) Sec. 401. Disclosures in periodic reports.
2.) Sec. 402. Enhanced conflict of interest provisions.
3.) Sec. 403. Disclosures of transactions involving management and principal
stockholders.
4.) Sec. 404. Management assessment of internal controls.
5.) Sec. 405. Exemption.
6.) Sec. 406. Code of ethics for senior financial officers.
7.) Sec. 407. Disclosure of audit committee financial expert.
8.) Sec. 408. Enhanced review of periodic disclosures by issuers.
9.) Sec. 409. Real time issuer disclosures.
5. TITLE V: ANALYST CONFLICTS OF INTEREST
1.) Sec. 501. Treatment of securities analysts by registered securities
associations and national securities exchanges.
6. TITLE VI: COMMISSION RESOURCES AND AUTHORITY

7
1.) Sec. 601. Authorization of appropriations.
2.) Sec. 602. Appearance and practice before the Commission.
3.) Sec. 603. Federal court authority to impose penny stock bars.
4.) Sec. 604. Qualifications of associated persons of brokers and dealers.
7. TITLE VII: STUDIES AND REPORTS
1.) Sec. 701. GAO study and report regarding consolidation of public
accounting firms.
2.) Sec. 702. Commission study and report regarding credit rating agencies.
3.) Sec. 703. Study and report on violators and violations.
4.) Sec. 704. Study of enforcement actions.
5.) Sec. 705. Study of investment banks.

8. TITLE VIII: CORPORATE AND CRIMINAL FRAUD


ACCOUNTABILITY
1.) Sec. 801. Short title.
2.) Sec. 802. Criminal penalties for altering documents.
3.) Sec. 803. Debts nondischargeable if incurred in violation of securities
fraud laws.
4.) Sec. 804. Statute of limitations for securities fraud.
5.) Sec. 805. Review of Federal Sentencing Guidelines for obstruction of
justice and extensive criminalfraud.
6.) Sec. 806. Protection for employees of publicly traded companies who
provide evidence of fraud.
7.) Sec. 807. Criminal penalties for defrauding shareholders of publicly
traded companies.
9. TITLE IX: WHITE-COLLAR CRIME PENALTY ENHANCEMENTS
1.) Sec. 901. Short title.
2.) Sec. 902. Attempts and conspiracies to commit criminal fraud offenses.
3.) Sec. 903. Criminal penalties for mail and wire fraud.

8
4.) Sec. 904. Criminal penalties for violations of the Employee Retirement
Income Security Act of 1974.
5.) Sec. 905. Amendment to sentencing guidelines relating to certain white-
collar offenses.
6.) Sec. 906. Corporate responsibility for financial reports.
10. TITLE X: CORPORATE TAX RETURNS
1.) Sec. 1001. Sense of the Senate regarding the signing of corporate tax
returns by chief executive officers.
11. TITLE XI: CORPORATE FRAUD AND ACCOUNTABILITY
1.) Sec. 1101. Short title.
2.) Sec. 1102. Tampering with a record or otherwise impeding an official
proceeding.
3.) Sec. 1103. Temporary freeze authority for the Securities and Exchange
Commission.
4.) Sec. 1104. Amendment to the Federal Sentencing Guidelines.
5.) Sec. 1105. Authority of the Commission to prohibit persons from serving
as officers or directors.
6.) Sec. 1106. Increased criminal penalties under Securities Exchange Act of
1934.
7.) Sec. 1107. Retaliation against informants.

Pengaruh SOA
SOA di Amerika telah mempunyai pengaruh yang sangat besar dalam
pengembangan praktek good corporate governance. Meskipun undang-undang ini
ditujukan untuk perusahaan publik, tetapi perusahaan yang belum go publik pun
seharusnya juga diperlukan jika ingin memperbaiki tata kelola dan pengendalian
internalnya. Perusahaan yang tidak go publik juga harus belajar mengenai berbagai
aspek pengelolaan yang terjadi di perusahaan yang telah go publik dan yakin bahwa

9
praktek yang telah dijalankannya berjalan baik dan menggambarkan niatnya untuk
fokus pada integritas dan pengungkapan laporan keuangannya.
SOA sangat luas pengaruhnya, dan mengarah pada perubahan yang ekstensif
dalam sistem pengungkapan dan pelaporan keuangan, serta menyatakan beberapa
pembatasan mengenai perusahaan publik dan para akuntannya berkegiatan. Hal yang
paling berpengaruh adalah adanya ketetapan yang terpadu yang berfokus pada
masalah-masalah mendasar yang menjadi penyebab skandal akuntansi, berupa
prinsip-prinsip fundamental mengenai ethical corporate conduct, yang berisi:
1) Laporan keuangan harus menyajikan secara wajar (fairly) tentang kondisi
bisnis (Sections 401).
2) Chief Executive harus bertanggungjawab secara personal tentang akurasi
(accuracy) dan kelengkapan (completness) mengenai laporan keuangan
perusahaan (Sections 302).
3) Jasa Non-Audit yang dilakukan oleh eksternal auditor harus dibatasi untuk
menjaga adanya kemungkinan conflict of interest yang dapat menyangsikan
kemungkinan integritas sebuah pelaksanaan audit (audit integrity) (Sections
201, 202 dan 206).
4) Perusahaan harus memiliki sebuah Boards dan Komite Audit yang
independen, yang menjunjung tinggi kepentingan pemegang saham dengan
mengawasi isu-isu utama dan penting dari aktivitas manajemen dan auditor
(Sections 301 dan 305).
5) Sebuah sistem pengendalian intern yang kuat dan memadai harus ditegakkan
untuk mencegah penyalahgunaan wewenang dan fraud (Section 404).
6) Perusahaan harus menjunjung tinggi dan menunjukkan budaya etis mulai dari
pucuk pimpinan hingga ke bawah (Section 406).

SUMBER REFRENSI:

Brink’s Modern Internal Auditing 7th Edition Chapter 4: Sarbanes-Oxley and Beyond

10
http://kartikaside.blogspot.com/2011/08/sarbanes-oxley-act-sox-apa-itu.html

https://enengsolihat.wordpress.com/2012/10/06/tentang-sarbanes-oxley-act/

https://jimmyardianto.wordpress.com/2010/09/15/sejarah-sarbanes-oxley-act/

https://ugaul.wordpress.com/2012/10/27/sarbanes-oxley-act-soa/

11